Anda di halaman 1dari 5

1.

Derajat luka bakar

Jawab :

a. Pada luka bakar derajat 1(superficial burn), kerusakan hanya terjadi di permukaan
kulit. Kulit akan tampak kemerahan, tidak ada bulla, sedikit oedem dan nyeri, dan
tidak akan menimbulkan jaringan parut setelah sembuh.

b. Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn) mengenai sebagian dari ketebalan
kulit yang melibatkan semua epidermis dan sebagian dermis. Pada kulit akan ada
bulla, sedikit oedem, dan nyeri berat.

c. Pada luka bakar derajat 3 (full thickness burn), kerusakan terjadi pada semua
lapisan kulit dan ada nekrosis. Lesi tampak putih dan kulit kehilangan sensasi
rasa, dan akan menimbulkan jaringan parut setelah luka sembuh.
d. Luka bakar derajat 4 disebut charring injury. Pada luka bakar ini kulit tampak
hitam seperti arang karena terbakarnya jaringan. Terjadi kerusakan seluruh kulit
dan jaringan subkutan begitu juga pada tulang akan gosong. (Di Maio, V.J.M. &
Dana, S.E. Fire and Thermal Injuries, in: Di Maio, V.J.M. & Dana, S.E.(eds)
Hand Book of Forensic Pathology. USA: Landes Bioscience; 1998.)

2. Tanda dan derajat dehidrasi

a. Dehidrasi ringan

Lesu, haus, lelah

b. Dehidrasi sedang

Gelisah

Mata cekung

c. Dehidrasi berat

Mata cekung, bibir kering dan pucat (menurut who )


3. Penilaian luas luka bakar

Pada deawas

a. Kepala dan leher 9%


b. Exstermitas atas kiri 9%
c. Exstermitas atas kanan 9%
d. Tubuh bagian belakang 18%
e. Tubuh bagian depan 18%
f. Genitalia 1%
g. Exstermitas bawah kiri kanan 18%
100%
(saferi wijaya andar dan mariza putri yessie. 2013. Keperawatan Medikal Bedah
(keperawatan dewasa). Jakarta : EGC)

4. Klasifikasi derajat luka bakar

a. Ketebalan persial superfisial (derajat I)

Jaringan yang kena : kerusakan epitel minimal

Karakteristik : kering tidaak ada lepuh, merah muda, puacat bila di tekan dengan
ujung jari bereisi kembali bila tekanan di lepas penye,buhan sekitar 5 hari

d. Ketebelan persial dangkal (derajat II)


 Jaringan yang kena : epidermis dan minimal dermis
 Karakteristik : lembab, merah, berbentuk lepuh sebagian memucat,
penyembuhansekitar 24 hari jaringan parut minimal
e. Ketebalan persial dermal dalam (derajat III)
 Jaringan yang kena : seluruh epidermis, sebagian dermis, lapisan rambur,
epidermal, dan kelenjar keringat
 Karakteristik : kering pucat berlilin tidak pucat penyembuhan lama,
jaringan parut hipertropik akhir, pembentukan dan kontraktur jelas.
f. Ketebalan penuh (derajat IV)
 Jaringan yang kena : semua yang di atas dan bagian lemak subkutan, dapat
mengenai jaringan ikat, otot, tulang
Karakteristik : kering disertai kulit memngelupas, pembuluh darah seperti arang terlihat
dibawah kulit yang terkelupas, penyembuhan tidak bergenerasi sendiri, perlu
pencangkokan. (saferi wijaya andar dan mariza putri yessie. 2013. Keperawatan
Medikal Bedah (keperawatan dewasa). Jakarta : EGC)

5. Komplikasi luka bakar

a. Dekubitus
b. Sepsi
c. Peneumonia
d. Gagal ginjal akut
e. Deformitas
f. Kontraktur dan hipertrifi jaringan parut
Komplikasi yang jarang terjadi adalah edema paru akibat kelebihan beban cairan ataau
sindrom gawat panas akut, sindrom ini di akibatkan oleh kerusakan kapiler paru dan
kebocoran cairan kedalam ruang interstisial paru. (saferi wijaya andar dan mariza
putri yessie. 2013. Keperawatan Medikal Bedah (keperawatan dewasa). Jakarta :
EGC)

6. Fase luka bakar

yaitu fase emergency/resusitasi, fase akut, dan fase rehabilitasi.


a. Fase akut/syok yakni menghindarkan pasien dari sumber penyebab luka bakar,
evaluasi ABC, periksa apakah terdapat trauma lain, resusitasi cairan, pemasangan
kateter urine, pemasangan nasogastric tube (NGT), tanda vital dan laboratorium,
serta manajemen nyeri.
b. Fase sub-akut dimulai ketika pasien secara hemodinamik telah stabil. Penanganan
fase akut berupa mengatasi infeksi, perawatan luka, dan nutrisi.
c. Fase lanjut dilakukan rehabilitasi yang bertujuan meningkatkan kemandirian
melalui pencapain perbaikan fungsi yang maksimal.
(Moenajat, Yefta. Luka Bakar : Pengetahuan Klinis Praktis. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003)

7. FASE-FASE PENYEMBUHAN LUKA BAKAR :

Fisiologi penyembuhan luka secara alami akan melewati beberapa fase, yaitu fase
haemostasis, fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase maturasi. (Majewska I,
Gendaszewska-Darmach E. Proangiogenic Activity of Plant Extracts in Accelerating
Wound Healing ─ A New Face of Old Phytomedicines. Acta Bio-chimica Polonica.
2011; 58(4): 449-460.)

9. PENGOBATAN KOMPLEMENTER :

a. Ada beberapa alternatif terapi komplementer luka bakar grade II yaitu dengan
bobok daun petai cina dan daun jarak pagar. Penggunaan terapi ini lebih efektif
karena tidak mengurangi kandungan yang ada di dalam daun petai cina maupun
daun jarak pagar serta dapat di minimalisir efek sampingnya sedangkan pada
pengekstrakan melewati beberapa proses salah satunya proses pengeringan yang
mana dalam proses ini dilakukan pemanasan dengan menggunakan suhu tinggi
agar didapatkan ekstrak tanaman. Proses pengeringan dengan metode pemanasan
dapat mengurangi kandungannya serta dalam proses pengekstrakan biasanya
dicampur dengan bahan lain seperti etanol. Yang mana apabila ada proses
pencampuran dengan bahan lain juga akan mempengaruhi efektif atau tidaknya
pengobatan herbal yang digunakan. (Tirtajaya, I., D. Sofia, L. Ratnawati & H.
F. Lien. 2004. Pengaruh Suhu Pengeringan Terhadap Komponen Sineol
Dalam Daun Kayu Putih. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan 2 (2).

b. Menggunakan ekstrak kulit buah naga merah. Hal ini karena buah naga
mengandung senyawa flavonoid (senyawa polifenol) seperti phloretin-2-O-
glucoside dan myricetin-3-O-galactopyranoside. Komponen fitokimia pada buah
naga dapat menjadi kemopreventif kanker, anti mikroba, dan sebagai anti
inflamasi yang bekerja pada sel hidup (Liaotrakoon, 2013). Aktifitas farmakologis
dari flavonoid adalah sebagai anti inflamasi, analgesik pada endometriosis sebagai
respon terhadap peningkatan dosis ekstrak kulit buah naga merah yang diberikan
sebagai terapi komplementer. (Pujiastutik. 2017. Effect of Hylocereus
Polyrhizus Rind Extract Toward Interleukin-1β, Vascular Endothelial
Growth Factor Expression, Endometriosis Implant Area. International
Journal of Pharmaceutical and Clinical Research
http://impactfactor.org/PDF/IJPCR/9/ IJPCR,Vol9, Issue8, Article8.pdf)