Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS EVA (ECONOMIC VALUE ADDED/EVA)

UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PT. SEPATU BATATbk

Attri Wahyuni
1793142058
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Makassar
Email: wahyuniattri@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan Pada PT. Sepatu
Bata, Tbk selama periode tahun 2015-2017 dengan menggunakan metode analisis EVA
(Economic Value Added) adalah alat untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan.
Komponen-komponen yang digunakan adalah komponen-komponen EVA yang terdri dari
NOPAT, Biaya Modal, Biaya Hutang, Tingkat Modal, Tingkat Modal/Ekuitas, Tingkat Pajak,
Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang, Modal yang diinvestasikan. Metode penelitian yang
digunakan adalah analisis dengan metode economic Value Added (EVA). Penelitian ini
Menggunakan data skunder berupa laporan keuangan PT. Sepatu Bata, Tbk pada tahun 2015
s/d 2017 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil penelitian menyebutkan bahwa
nilai EVA yang diperoleh PT.Sepatu Bata, Tbk selama tiga tahun bernilai pada tahun 2015
bernilai negatif dan 2016- 2017 bernilai positif. Nilai EVA negatif menunjukan bahwa tidak
terjadi proses nilai tambah ekonomis perusahaankarena perusahaan belum membayarkan
kewajibannya kepada kredtur dan pemegang saham sedangkan nilai eva yang positif
menunjukan nilai eva yang positif hal itu berarti terjadi proses nilai tambah pada perusahaan
karena laba yang tersedia dapat memenuhi harapan dan penyadangan dana atau investor.

Kata kunci: Kinerja keuangan dan Economic Value Added (EVA)

PENDAHULUAN

Setiap perusahaan selalu menginginkan adanya prestasi dalam pencapaian usahanya,


bukan hanya perolehan laba atau keuntungan semata, tetapi juga adanya peningkatan nilai
perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan tidak hanya memperhatikan kepentingan pemilik
(owner) saja. Keberadaan stakeholder lainnya seperti karyawan, kreditor, investor, pemasok,
masyarakat sekitarnya, dan pemerintah menjadi bagian penting dari perusahaan yang tidak
dapat diabaikan kepentingannya. Dari sudut pandang investor, nilai perusahaan merupakan
persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan
harga saham. Pada kasus perusahaan publik nilai perusahaan dikaitkan dengan nilai (harga)
saham yang beredar di pasar (Lisa Linawati Utomo, 1999:29). Harga saham yang tinggi
membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar
percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini tetapi juga pada prospek perusahaan di
masa datang.
Dilihat dari Kondisi perekonomian di Indonesia yang selalu berubah dan tidak tetap
dengan adanya perkembangan teknologi menjadikan suatu perusahaan terus bersaing untuk
mempertahankan keberadaan perusahaannya. Kondisi ini yang menuntut suatu perusahaan
untuk melakukan perbaikan diberbagai bidang. Salah satunya adalah dibidang keuangan.
Setiap perusahaan yang didirikan bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba dan
memaksimalkan kekayaan dari pemegang sahamnya. Disamping itu juga bertujuan untuk
menjaga kelangsungan hidup perusahaan dengan baik agar perusahaan dapat berkembang
sesuai dengan kegiatan yang dijalankan pada waktu yang akan datang. Adanya harapan
tersebut maka perusahaan diharuskan dan dituntut untuk dapat mengambil tindakan dan
kebijakan yang tepat dalam segala aktivitasnya termasuk aspek keuangan. Salah satu cara
yang dapat dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu dengan mengukur
kinerja keuangan perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan perusahaan sangat diperlukan
untuk menentukan keberhasilan yang telah dicapai perusahaan. Fahmi (2012:2)
mendefinisikan bahwa kinerja keuangan merupakan gambaran dari pencapaian keberhasilan
perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai aktivitas yang telah
dilakukan.
Dapat dijelaskan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk
melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-
aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Salah satu cara mengukur kinerja
keuangan perusahaan yaitu dengan metode Economic Value Added (EVA). Analisis data
dimulai dari perhitungan biaya modal, biaya saham, struktur permodalan, menentukan
NOPAT, WACC dan terahir EVA. Hasil dari penelitiaan ini diperoleh nilai EVA penjelasan
bahwa perusahaan tersebut telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Economic Value Added (EVA)
Menurut Brigham & Houstan (2006:68), EVA adalah nilai yang ditambahkan oleh
manajemen kepada pemegang saham selama satu tahun tertentu. EVA mencerminkan laba
residu yang tersisa setelah biaya dari seluruh modal termasuk modal ekuitas dikurangkan. Hal
ini sesuai dengan pendapat Endri (2005:157) yang mendefenisikan EVA sebagai sisa laba
(residual income) setelah semua penyedia kapital diberi kompensasi yang sesuai dengan
tingkat pengembalian yang dibutuhkan atau setelah semua biaya kapital yang digunakan
untuk menghasilkan laba tersebut dibebankan. Sedangkan Warsono (2003:48) menyatakan
bahwa EVA adalah perbedaan antara laba operasi setelah pajak dengan biaya modalnya.
Dengan demikian EVA adalah suatu bentuk estimasi laba ekonomis yang relevan atas suatu
bisnis selama tahun tertentu. Berdasarkan analisis EVA dapat dilihat berapa nilai tambah
yang bisa dihasilkan oleh perusahaan setelah semua komponen biaya dikurangkan. Saat
perusahaan berhasil menciptakan nilai tambah ekonomis berarti kinerja keuangan perusahaan
tersebut positif.
Peningkatan nilai EVA suatu perusahaan membutuhkan suatu strategi tertentu.
Menurut Nasser (2003:28) ada 3 (tiga) strategi yang digunakan untuk menaikkan nilai
economic value added (EVA) suatu perusahaan, yaitu:
1. Strategi penciptaan nilai dengan mencapai pertumbuhan keuntungan (profitable
growth). Hal ini bisa dicapai dengan menambah modal yang diinvestasikan pada
proyek dengan tingkat pengembalian yang tinggi.

2. Strategi penciptaan nilai dengan meningkatkan efisiensi operasi (operating


efficiency). Dalam hal ini meningkatkan keuntungan tanpa menggunakan tambahan
modal.

3. Strategi penciptaan nilai dengan rasionalisasi dan keluar dari bisnis yang tidak
menjanjikan (rationalize and exit unrewording business). Ini berarti menarik modal
yang tidak produktif dan menarik modal dari aktivitas yang menghasilkan return yang
rendah dan menghapus unit bisnis yang tidak menjanjikan hasil.

EVA (Economic Value Added)


“Economic Value Added (EVA) merupakan suatu alat yang digunakan untuk
mengukur tingkat profitabilitas tahun operasi suatu perusahaan secara nyata juga mengukur
kinerja manajemen berdasarkan besar kecilnya nilai tambah yang diciptakan dalam periode
tertentu” (Brigham dan Houston, 2001:52).
Rudianto (2006:348) dalam EVA, penilaian kinerja keuangan diukur dengan
ketentuan:
1. Jika EVA > 0, maka kinerja keuangan perusahaan dapat dikatakan baik, sehingga
terjadi proses perubahan nilai ekonomisnya.
2. Jika EVA = 0, maka kinerja keuangan perusahaan secara ekonomis dalam keadaan
impas.
3. ika EVA < 0, maka kinerja keuangan perusahaan tersebut dikatakan kurang bagus
karena laba yang diperoleh tidak memenuhi harapan penyandang dana, sehingga
tidak terjadi penambahan nilai ekonomis pada perusahaan.
Setiap perusahaan tentunya menginginkan nilai EVA akan naik terus menerus, karena
EVA adalah tolak ukur fundamental dari tingkat pengembalian modal (return of capital). Ada
beberapa cara untuk meningkatkan nilai EVA perusahaan yaitu,Widayanto (1993:32-33):
1. Meningkatkan keuntungan (profit) tanpa menambah modal.
2. Menurangi pemakaian modal.
3. Melakukan investasi pada proyek-proyek dengan tingkat pengembalian tinggi.
B. Keunggulan dan Kelemahan Economic Value Added (EVA)
Salah satu keunggulan EVA sebagai penilaian kinerja perusahaan adalah dapat
digunakan sebagai penciptaan nilai (Value Creation).
1. Keunggulan EVA (Economic Value Added)
Menurut Iramani & Febrian (2010) ada beberapa keunggulan EVA dalam penilaian
kinerja perusahaan yaitu :
a. Economic Value Added (EVA) dapat digunakan secara mandiri tanpa
membutuhkan data pembanding seperti standar industri atau data dari perusahaan
lain, sebagaimana konsep penilaian dengan menggunakan analisis rasio.
b. Economic Value Added (EVA) memfokuskan penilaiannya pada nilai tambah
dengan memperhitungkan biaya modal sebagai konsekuensi investasi.
c. Perhitungan Economic Value Added (EVA) relatif mudah dilakukan, hanya yang
menjadi persoalan adalah perhitungan biaya modal yang memerlukan data yang
lebih banyak dan analisis yang lebih mendalam.
2. Kelemahan EVA (Economic Value Added)
Menurut Iramani & Febrian (2010) ada beberapa kelemahan EVA yaitu :
a. EVA hanya mengukur hasil akhir (Result), konsep ini tidak mengukur
aktivitas penentu seperti loyalitas dan referensi konsumen.
b. EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan
pendekatan fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual
atau membeli saham tertentu.
c. Konsep ini sangat bergantung pada transparansi internal dalam perhitungan
Economic Value Added (EVA) secara tepat dan akurat, tetapi dalam kenyataannya
perusahaan dalam prakteknya kurang transparan dalam mengemukakan kondisi
internal perusahaan.
3. Ukuran Penilaian Kinerja Keuangan dalam EVA
Menurut Wijayanto dalam Fatimah (2011) penilaian EVA dapat dinyatakan sebagai
berikut :
a. Jika EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang menunjukkan telah terjadi proses nilai
tambah ekonomis pada perusahaan.
b. Jika EVA = 0, menunjukkan posisi impas atau Break Even Point.
c. Jika EVA < 0, yang berarti EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai
tambah ekonomis pada perusahaan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis penelitiaan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang
bertujuan untuk memberikan gambaran kinerja keuangan perusahaan. Penelitiaan ini
bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana kinerja keuangan perusahaan dengan
menggunakan analisis EVA. Hasil dari gambaran tersebut kemudian akan dijadikan suatu
tolak ukur mengenai waktuatau besaran tingkat pengembaliaan yang dapat diberikan oleh
perusahaan dengan nilai EVA yang ada.
METODE ANALISIS DATA
EVA dilandasi pada konsep bahwa dalam pengukuran laba suatu perusahaan harus
adil dengan mempertimbangkan harapan-harapan setiap penyandang dana (kreditur dan
pemegang saham). Young dan O’Bryne (2001:32) memformulasikan EVA sebagai berikut:
EVA = Laba operasi bersih setelah pajak (NOPAT) – CAPITAL CHARGES

NOPAT = EBIT x (1-PAJAK)


EBIT = LABA SEBELUM BUNGA DAN PAJAK
Tax = BEBAN PAJAK / LABA BERSIH SEBELUM PAJAK x 100%

Untuk menghitung CC Capital charges (Terdiri dari WACC x IC)


Capital charges (CC)= WACC x IC
WACC = Weighted average cost of capital
IC = Invested Capital
 Untuk menghitung WACC
WACC = (D x Rd)(1-tax) + (E x Re)
D= Total Utang / Total utang dan eqiuitas x 100%
Re= Beban bunga /Total utang jangka panjang x 100%
E= Total Equitas /Total utang dan equitas x 100%
Re= Laba bersih setelah pajak / Total Equitas x 100%
Tax= Beban pajak / laba bersih sebelum pajak x 100%
 Untuk menghitung IC (Investment Capital)
IC= (Utang total + equitas)-Utang jangka pendek
 Untuk menghitung Capital charges (CC)
WACC x IC
 Untuk menghitung EVA
NOPAT– CAPITAL CHARGES

HASIL DAN PEMBAHASAN


EVA berfungsi untuk mengukur nilai tambah yang di hasilkan suatu perusahaan
dengan cara mengurangi laba operasi setelah pajak dengan beban biaya modal dimana bagian
biaya modal menggambarkan tingkat risiko perusahaan.
Net Operating Profit After Tax (Nopat)
Rumus :
NOPAT = EBIT x (1-PAJAK)
2012 = 5.530.646 x (1-0,26)
= 5.530.646 x 0,74
= 4.092.678,04

Tahun EBIT (1-Pajak) NOPAT


2015 141,444,243 0,55 78,344,333
65,302,022
2016 0,64 41,793,294
79,524,179
2017 0,67 53,281,199
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, nilai NOPAT PT Sepatu bata Tbk dari
tahun 2015 s/d tahun 2017 menunjukkan penurunan dan tahun 2016-2017 menunjukkan
kenaikan dari tahun sebelumnya. Penurunan NOPAT dari tahun 2016 s/d 2017 disebabkan
menurunnya biaya bunga melebihi kenaikan EBIT. Sedangkan Kenaikan NOPAT tahun 2015
disebabkanoleh adanya kenaikan pada sisi EBIT maupun (1-Pajak).
Invested Capital (IC)
Rumus:
IC= total aset- hutang lancar

Hutang
Tahun Total Aset IC
Lancar
2015 795,257,974 210,931,517 584,326,457
2016 804,742,917 207,734,690 597,008,227
2017 855,691,231 230,497,528 625,193,703
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, nilai IC PT sepatu bataTbk dari tahun 2015
dan tahun 2017 menunjukkan trend yang menarik dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini
disebabkan oleh adanya kenaikan pada total hutang & ekuitas melebihi kenaikan pada hutang
lancar (tahun 2015 dan 2017) dan penurunan pada sisi total hutang & ekuitas yang lebih kecil
dibandingkan penurunan pada sisi hutang lancar (tahun 2016).
Proporsi Modal Hutang (D)

Tahun Bebab Bunga Total hutang Kd

2015 115,692 248,070,766 0,0004


2016 981,399 247,587,638 0,0039
2017 380,710 276,382,503 0,3229
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, proposi modal hutang PT Sepatu bata Tbk
mengalami kenaikan pada tahun 2015 dan 2017, Kenaikan pada tahun 2015-2017 disebabkan
adanya rasio kenaikan pada total hutang yang lebih besar dibandingkan rasio kenaikan total
hutang & ekuitas.
Cost of Debt (wd)
Rumus:
Beban bunga / TOTAL HUTANG x 100%

Tahun Total hutang Total Aset Wd

2015 248,070,766 795,257,974 0,3119


2016 247,587,638 804,742,917 0,3076
2017 276,382,503 855,691,231 0,3229
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, cost of debt (biaya hutang) PT Sepatu Bata Tbk
mengalami kenaikan pada tahun 2016 dari tahun sebelumnya. Penurunan dari tahun 2015
disebabkan oleh terjadinya rasio penurunan biaya bunga lebih besar dibandingkan rasio
penurunan pada total hutang. Sedang kenaikan pada tahun 2016 disebabkan oleh terjadinya rasio
kenaikan biaya bunga yang lebih besar dibandingkan dengan rasio kenaikan total hutang.
Proporsi Modal Ekuitas (E)
Rumus :
E= Equitas total / utang dan equitas total x 100%

Tahun eat Total Ekuitas Ke


2015 129,519,446 547,187,208 0,0757
2016 42,231,663 557,115,279 0,2367
2017 53,654,376 579,308,728 0,0926

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, proporsi modal ekuitas PT Sepatu Bata Tbk
dari tahun 2015 s/d 2017 mengalami kenaikan terjadinya rasio kenaikan total ekuitas lebih
besar dibandingkan dengan rasio kenaikan total hutang & ekuitas, dan tahun 2015 sampai
2017 terjadinya kenaikan total ekuitas sementara total hutang & ekuitas naik juga
Cost of Equity (we)
Rumus :
We = total ekuitas/total aset =100%

Tahun Total ekuitas Total aset We


2012 547,187,208 795,257,974 0,6880
2013 557,115,279 804,742,917 0,6923
2014 579,308,728 855,691,231 0,6770

Tingkat Pajak (T)


Rumus :
Tax= Beban pajak / laba bersih sebelum pajak x 100%

Tahun Beban Pajak EBIT T


2016 6,359,375 141,444,243 0,0446
65,302,022
2017 23,070,359 0,3532
79,524,179
2018 25,869,803 0,3235
Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas, tingkat pajak PT Gudang Garam Tbk mengalami
trend yang menurun pada tahun 2014 dan 2015, dan mengalami kenaikan pada tahun 2016
dari tahun sebelumnya. Penurunan tingkat pajak tahun 2014 dan 2015 disebabkan rasio
kenaikan beban pajak lebih kecil dibanding rasio kenaikan EBIT. Sedangkan kenaikan pada
tahun 2016 disebabkan rasio kenaikan beban pajak lebih besar dibanding rasio kenaikan
EBIT.
Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Rumus :
WACC = (Kd x Wd)(1-t) + (Ke x we)

Tahun Kd Wd 1-Tax KE We WACC


2015 0,0004 0,3119 0,55 0,0757 0,6880 1,1183
2016 0,0039 0,3076 0,64 0,2367 0,6923 0,0531
2017 0,3229 0,3229 0,67 0,0926 0,6770 0,0628

Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas, rata-rata biaya modal (WACC) PT Sepatu Bata
Tbk mengalami penurunan di tahun 2016-2017, dan mengalami kenaikan pada tahun 2015.
Penurunan WACC tahun 2016- 2017 WACC disebabkan terjadinya penurunan pada proporsi
modal hutang dan biaya hutang. Sedangkan Kenaikan WACC ditahun 2015 disebabkan oleh
terjadinya kenaikan proporsi modal hutang, biaya hutang, pajak, proporsi modal ekuitas dan
biaya ekuitas.
Capital Charge (CC)
Rumus :
Capital charges (CC)= WACC x IC

Tahun WACC IC CC
2015 1,1183 584,326,457 653,452,276
2016 0,0531 597,008,227 31,701136
2017 0,0628 625,193,703 39,262,164
Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas, capital charge PT Sepatu Bata Tbk mengalami
penurunan di tahun 2016 d, dan mengalami kenaikan pada tahun 2015-2017. Penurunan CC
tahun 2016 disebabkan oleh penurunan pada WACC. Sedangkan Kenaikan CC dari tahun
2015-2017 disebabkan terjadinya kenaikan pada invested capital yang diiringi oleh kenaikan
WACC.

Economic Value Added (EVA)


Rumus :
Tahun NOPAT CC EVA Tolok Ukur
2015 78,344,333 653,452,276 -575,107,943 <0
2016 41,793,294 31,701136 10,092,158 >0
2017 53,281,199 39,262,164 14,019,035 >0
Jika diketahui bahwa nilai EVA > 0, atau positif berarti telah terjadi nilai tambah
ekonomis lebih setelah perusahaan membayarkan semua kewajiban. Dan Jika EVA < 0, yang
berarti EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah ekonomis pada
perusahaan, sehingga pada perusahaan PT. Sepatu Bata Tbk pada tahun 2015 menunjukkan
nilai yang negatif yang berarti tidak terjadi proses nilai tambah pada perusahaan karena laba
yang tersedia tidak dapat memenuhi harapan para penyandang dana atau investor. Pada tahun
2016- 2017 menunjukan nilai eva yang positif hal itu berarti terjadi proses nilai tambah pada
perusahaan karena laba yang tersedia dapat memenuhi harapan dan penyadangan dana atau
investor.
KESIMPULAN

• Berdasarkan hasil analisis selama periode 2015-2017 dengan menggunakan metode


EVA, maka dapat diambil kesimpulan kinerja PT Sepatu Bata , Tbk cukup baik dalam
artian hampir memuaskan, hal ini dikarenakan oleh EVA yang mengalami trend naik
turun di setiap tahunnya. Pada tahun 2015 EVA sebesar Rp. 575,107,943 2016 Rp
10,092,158 2017 14,019,035
• Selama 3 tahun terakhir (2015-2017) berdasarkan metode EVA PT Sepatu Bata, Tbk
berhasil memperoleh EVA positif dimana perusahaan sudah menunjukkan kemampuan
untuk menciptakan nilai tambah yang sangat berpengaruh bagi para kreditur dan
pemegang saham untuk menanamkan modalnya.
SARAN
1. Bagi investor, diharapkan melalui hasil penelitian ini, investor kiranya dapat
mempertimbangkan dan juga mampu untuk memilih lebih cermat dalam mengambil
keputusan untuk berinvestasi. Langkah awal yang baik bagi investor untuk berinvestasi yaitu
dengan melakukan penilaian kinerja keuangan yang ada pada perusahaan.

2. Bagi perusahaa, dengan nilai EVA bernilai positif dan negatif yang terdapat pada beberapa
perusahaan sangat diharapkan untuk meningkatkan kinerjanya sehingga dapat menciptakan
nilai tambah ekonomis bagi perusahaan dimasa yang akan dating. Sedangkan untuk
perusahaan yang memiliki nilai EVA positif agar mempertahankan dan menciptakan nilai
yang lebih tinggi sehingga mampu menghasilkan nilai tambah ekonomis bagi perusahaan
dimasa yang akan dating.

3. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai referensi untuk
mengembangkan penelitian sejenis dimasa yang akan datang terkait dengan EVA sebagai alat
ukur kinerja keuangan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.gudanggaramtbk.com/media/uploads/files/LK_Audited_GGRM_Desember13.pdf

Riyanti Rahmi. 2007.”Studi Analisis pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Rokok di BEI”

Iramani dan Febrian, E., (2010). Financial Value Added Suatu Pradigma dalam Pengukuran
Kinerja dan Nilai Tambah Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan : Vol.
Tujuh No. Satu Mei 2010.

Sungdjaja, R. S., Dan Inge, B., (2011). Manajemen Keuangan : Jilid dua, Edisi empat,
Literata Lintas Media.

Utama, S., (2010). Economic Value Added Pengukur Penciptaan Nilai Perusahaan.
Usahawan No. 4 April