Anda di halaman 1dari 40

GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA MAHASISWA TINGKAT

PERTAMA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS


KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA.

OLEH :

Ns. Putu Ayu Emmy Savitri Karin, S.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmatNya penelitian yang berjudul “Gambaran Tingkat Depresi Pada
Mahasiswa Tingkat Pertama Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana” dapat diselesaikan pada waktunya.
Penelitian ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya dukungan dari
berbagai pihak. Untuk itu melalui kesempatan ini peneliti mengucapkan terima
kasih kepada:
1) Prof. dr. Ketut Tirtayasa, MS.AIF sebagai Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah
memberikan ijin untuk melakukan penelitian.
2) Angkatan 2016 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana yang bersedia menjadi responden pada penelitian ini.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna. Saran dari pembaca
untuk perbaikan penelitian ini sangat diperlukan dan tidak lupa saya ucapkan
terima kasih.

Denpasar, 24 April 2017

Peneliti

ii
DAFTAR ISI

COVER …………………………...……………….............................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 3
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum .................................................................................. 3
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................................. 3
1.4 Manfaat
1.4.1 Pemerintah ........................................................................................ 3
1.4.2 Masyarakat ....................................................................................... 3
1.4.3 Mahasiswa ........................................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ...................................................................................................... 5
2.2 Etiologi ...................................................................................................... 5
2.3 Patofisiologi .............................................................................................. 7
2.4 Epidemiologi ............................................................................................. 8
2.5 Teori Patofisiologi Depresi ....................................................................... 9
2.6 Jenis Depresi ............................................................................................. 11
2.7 Klasifikasi dan Diagnosis Gangguan Depresi .......................................... 11
2.8 Alat Ukur Depresi dan Tingkat Depresi Skala Hamilton ......................... 12
BAB III METODE MASALAH
3.1 Jenis Penelitian ......................................................................................... 14
3.2 Waktu dan Lokasi .................................................................................... 14
3.3 Populasi dan Sample ................................................................................. 14
3.4 Kriteria Inklusi .......................................................................................... 14
3.5 Kriteria Ekslusi ......................................................................................... 15
3.6 Cara Kerja ................................................................................................. 15

iii
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Tingkat Depresi Mahasiswa tingkat pertama PSIK FK Unud
...................................................................................................................... 16
4.2 Karakteristik Responden........................................................................ 16

BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ............................................................................................... 23
5.2 Saran ..................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DOKUMENTASI

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Depresi merupakan penyebab utama tindakan bunuh diri dan urutan
ke-6 penyebab kematian utama di Amerika Serikat (Hawari, 2010). World
Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa depresi akan menjadi
penyakit dengan beban global kedua terbesar di dunia setelah penyakit
jantung iskemik pada tahun 2020. Pravalensi depresi yang terjadi di dunia
diperkirakan 5-10% per tahun dan life time prevalence bisa mencapai dua kali
lipatnya dan prevalensi kejadian depresi di dunia berdasarkan hasil survei di
14 negara menunjukkan bahwa depresi merupakan masalah kesehatan dengan
urutan ke-4 terbesar di dunia yang mengakibatkan beban sosial Sedangkan
pravalensi depresi di Indonesia sekitar 17-27% (Hidianto, dkk, 2014).
Berdasarkan data terakhir dari WHO, lebih dari 300 juta orang saat ini hidup
dengan depresi dan meningkat 18% antara 2005 hingga 2015.
Berdarkan faktor penyebabanya, depresi dapat dibagi menjadi faktor
biologi, faktor genetik, dan faktor psikososial. Dari faktor biologi, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik di
dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood. Dari
faktor genetik, pengaruh genetik terhadap depresi tidak disebutkan secara
khusus, hanya disebutkan bahwa terdapat penurunan dalam ketahanan dan
kemampuan dalam menanggapi stres. Dari faktor psikososial, menurut Freud
dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah kehilangan objek
yang dicintai. Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi:
peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika,
kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Haryanto,
2016).
Pada penelitian yang dilakukan terhadap 182 mahasiswa berbagai
fakultas di Amerika, dilaporkan sebanyak 11,1% mahasiswa dan 13,2%
mahasiswi mengalami depresi. Hal ini juga sesuai dengan hasil survei yang
dilakukan Maulida (2012) yang menyatakan bahwa prevalensi depresi yang
terjadi pada mahasiswa lebih tinggi dibandingkan populasi pada umumnya.

1
Rata-rata mahasiswa semester awal sampai dengan semester akhir mengalami
masalah yang mengakibatkan kondisi stres dan dapat berubah menjadi
depresi (Susilowati dan Hasanat, 2011). Tingginya gejala depresi pada tahun
pertama disebabkan oleh perubahan lingkungan belajar yang baru, jadwal
yang padat dan homesickness karena banyaknya mahasiswa yang merantau
dan tinggal jauh dari orang tuanya. (Hidianto, dkk, 2014). Selain itu kesulitan
beradaptasi terhadap lingkungan baru pada mahasiswa yang tinggal sendiri
juga dapat menjadi penyebab munculnya depresi. Selain itu dukungan orang
tua, masyarakat termasuk teman, dan keluarga juga berpengaruh terhadap
timbulnya depresi pada mahasiswa (Krisdianto dan Mulyanti, 2015).
Depresi sendiri memberikan dampak pada tiap individu seperti
menyebabkan penurunan status kesehatan, berkurangnya motivasi, emosi, dan
kemampuan kognitif yang menyebabkan individu dengan depresi menjadi
tidak dapat berfungsi secara efektif sehingga terdapat ketergantungan,
kehilangan percaya diri, termasuk penurunan kemampuan berkomunikasi
hingga terjadi gangguan sosial yang dapat memperburuk kondisi
kesehatannya, terutama bagi penderita penyakit kronis dan berulang. Depresi
juga dapat memperparah penyakit, distress, dan meningkatkan disabilitas
(Sari, 2013).
Beberapa penelitian mengenai penanganan depresi telah dilakukan,
yaitu ”Pengaruh Expressive Writing terhadap Penurunan Depresi pada
Remaja SMK di Surabaya” yang diteliti oleh Reyza Dahlia Murti dan
Hamidah (2012), namun hasilnya tidak ada pengaruh yang signifikan
Expressive Writing terhadap penurunan depresi pada remaja SMK di
Surabaya. Namun, pada penelitian Theresia Genduk Susilowati dan Nida Ul
Hasanat (2011) mengenai “Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman Emosional
Terhadap Penurunan Depresi Pada Mahasiswa Tahun Pertama” didapatkan
hasil bahwa terapi menulis pengalaman emosional pada penelitian ini terbukti
dapat menurunkan depresi pada mahasiswa tahun pertama.
Berdasarkan uaraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian
mengenai gambaran tingkat depresi pada mahasiswa tingkat pertama Program
Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

2
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran tingkat depresi pada mahasiswa tingkat pertama
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tingkat depresi pada mahasiswa tingkat
pertama Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tingkat depresi mahasiswa tingkat pertama
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana berdasarkan usia.
2. Untuk mengetahui tingkat depresi mahasiswa tingkat pertama
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana berdasarkan jenis kelamin.
3. Untuk mengetahui tingkat depresi mahasiswa tingkat pertama
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana berdasarkan yang tinggal dengan orang tua.
4. Untuk mengetahui tingkat depresi mahasiswa tingkat pertama
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana berdasarkan yang tinggal sendiri
1.4 Manfaat
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang terlibat dalam
pengembangan pelayanan keperawatan khususnya keperawatan jiwa di
komunitas. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan manfaat
bagi :
1.4.1. Manfaat Aplikatif
Penelitan diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan dan
memberikan informasi serta meningkatkan pengetahuan pada
mahasiswa mengenai depresi yang dapat disebabkan karena
beberapa faktor sehingga kasus depresi pada mahasiswa dapat
diminimalisir.

3
1.4.2. Manfaat Keilmuan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah keilmuan keperawatan
jiwa dalam mengembangkan langkah awal untuk identifikasi pada
pencegahan depresi remaja di tingkat perguruan tinggi serta
menjadi acuan untuk penelitian dalam lingkup yang lebih luas.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi,
anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri
(Kaplan, 2010).
2.2 Etiologi
Etiologi dari depresi dapat dibagi menjadi beberapa faktor yang
mempengaruhi sehingga seseorang dapat dikategorikan sebagai depresi,
faktor – faktor tersebut adalah sebagai berikut:
A. Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin
biogenik, seperti 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA
(Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di
dalam darah, urin, dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood.
Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin
dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi (Kaplan,
2010). Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun. Hal
tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin
seperti respirin dan penyakit dengan konsentrasi dopamin menurun seperti
Parkinson. Kedua penyakit tersebut disertai gejala depresi. Obat yang
meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan
bupropion, menurunkan gejala depresi (Kaplan, 2010). Adanya
disregulasi neuroendokrin. Hipotalamus merupakan pusat pengaturan
aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung
neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien depresi ditemukan adanya
disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi
neuron yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang
mengaktivasi aksis Hypothalamic- Pituitary-Adrenal (HPA) dapat

5
menimbulkan perubahan pada amin 4 biogenik sentral. Aksis
neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan
aksis hormon pertumbuhan. Aksis HPA merupakan aksis yang paling
banyak diteliti. Hipersekresi Cortisol Releasing Hormone (CRH)
merupakan gangguan aksis HPA yang sangat fundamental pada pasien
depresi. Hipersekresi yang terjadi diduga akibat adanya defek pada sistem
umpan balik kortisol di sistem limbik atau adanya kelainan pada sistem
monoaminogenik dan neuromodulator yang mengatur CRH (Kaplan,
2010). Sekresi CRH dipengaruhi oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut
dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang
merupakan organ utama pada sistem endokrin dan fungsinya diatur oleh
sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan
peningkatan sekresi CRH. (Kaplan, 2010).
B. Faktor genetik
Penelitian genetik dan keluarga menunjukkan bahwa angka resiko di
antara anggota keluarga tingkat pertama dari individu yang menderita
depresi berat (unipolar) diperkirakan 2 sampai 3 kali dibandingkan
dengan populasi umum. Angka keselarasan sekitar 11% pada kembar
dizigot dan 40% pada kembar monozigot (Kaplan, 2010).
C. Faktor psikososial
Menurut Freud dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah
kehilangan objek yang dicintai (Kaplan, 2010). Faktor psikososial yang
mempengaruhi depresi meliputi peristiwa kehidupan dan stresor
lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori
kognitif, dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Peristiwa kehidupan yang
menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan
mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa
kehidupan memegang peranan utama dalam depresi. Klinisi lain
menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas
dalam onset depresi. Stresor lingkungan yang paling berhubungan dengan
onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010).
Stresor psikososial yang bersifat akut, seperti kehilangan orang yang

6
dicintai, atau stresor kronis misalnya kekurangan finansial yang
berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal, ancaman keamanan
dapat menimbulkan depresi. Dari faktor kepribadian, beberapa ciri
kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian
dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk
terjadinya depresi, sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid
mempunyai resiko yang rendah (Kaplan, 2010)
2.3 Patofisiologi
Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa
neurotransmiter aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah
serotonin. Konduksi impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau
kekurangan neurotransmiter di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas
pada reseptor neurotransmiter tersebut di post sinaps sistem saraf pusat. Pada
depresi telah di identifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin yaitu reseptor
5HTIA dan 5HT2A. Kedua reseptor inilah yang terlibat dalam mekanisme
biokimiawi depresi dan memberikan respon pada semua golongan anti
depresan. Beberapa peneliti menemukan bahwa selain serotonin terdapat pula
sejumlah neurotransmiter lain yang berperan pada timbulnya depresi yaitu
norepinefrin, asetilkolin dan dopamin. Sehingga depresi terjadi jika terdapat
defisiensi relatif satu atau beberapa neurotransmiter aminergik pada sinaps
neuron di otak, terutama pada sistem limbik. Oleh karena itu teori biokimia
depresi dapat diterangkan sebagai berikut :
1. Menurunnya pelepasan dan transport serotonin atau menurunnya
kemampuan neurotransmisi serotogenik.
2. Menurunnya pelepasan atau produksi epinefrin, terganggunya regulasi
aktivitas norepinefrin dan meningkatnya aktivitas alfa 2 adrenoreseptor
presinaptik.
3. Menurunnya aktivitas dopamin.
4. Meningkatnya aktivitas asetilkolin.
Teori yang klasik tentang patofisiologi depresi ialah menurunnya
neurotransmisi akibat kekurangan neurotransmitter di celah sinaps. Ini
didukung oleh bukti-bukti klinis yang menunjukkan adanya perbaikan depresi

7
pada pemberian obat-obat golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake
Inhibitor) dan trisiklik yang menghambat re-uptake dari neurotransmiter atau
pemberian obat MAOI (Mono Amine Oxidasi Inhibitor) yang menghambat
katabolisme neurotransmiter oleh enzim monoamin oksidase.
Belakangan ini dikemukakan juga hipotesis lain mengenai depresi yang
menyebutkan bahwa terjadinya depresi disebabkan karena adanya aktivitas
neurotransmisi serotogenik yang berlebihan dan bukan hanya kekurangan
atau kelebihan serotonin semata. Neurotransmisi yang berlebih ini
mengakibatkan gangguan pada sistem serotonergik, jadi depresi timbul
karena dijumpai gangguan pada sistem serotogenik yang tidak stabil.
Hipotesis yang belakangan ini dibuktikan dengan pemberian anti depresan
golongan SSRE (Selective Serotonin Re-uptake Enhancer) yang justru
mempercepat re-uptake serotonin dan bukan menghambat. Dengan demikian
maka turn over dari serotonin menjadi lebih cepat dan sistem neurotransmisi
menjadi lebih stabil yang pada gilirannya memperbaiki gejala-gejala depresi.
Mekanisme biokimiawi yang sudah diketahui tersebut menjadi dasar
penggunaan dan pengembangan obat-obat anti depresan.
2.4 Epidemiologi
Depresi dapat terjadi pada setiap orang baik anak-anak, usia dewasa
sampai usia lanjut dengan berbagai macam latar belakang atau pencetus.
Gejala awal depresi yang tidak mudah dikenali menyebabkan meningkatnya
kejadian depresi dengan gejala berat sehingga dapat menimbulkan disabilitas
dalam kehidupan ataupun kejadian bunuh diri. Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) mencatat sekitar 350 juta orang di dunia saat ini mengalami depresi.
Sebagian besar penderita salah satu gangguan kesehatan jiwa itu adalah
perempuan. Hal tersebut merupakan salah satu catatan kritis WHO dalam
rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day 2016) yang
jatuh pada 10 Oktober 2016. WHO memperkirakan bahwa depresi akan
menjadi penyakit dengan beban global kedua terbesar di dunia setelah
penyakit jantung iskemik pada tahun 2020.
Prevalensi depresi di Indonesia cukup tinggi, yakni sekitar 17-27%.
Prevalensi depresi di dunia diperkirakan 5-10% per tahun. Hasil survei di 14

8
negara tahun 1990 menunjukkan depresi merupakan masalah kesehatan
dengan urutan ke-4 terbesar di dunia yang mengakibatkan beban sosial.
(Kemenkes, 2012). Prevalensi kejadian depresi cukup tinggi dan merupakan
penyakit dengan peringkat ke-4 di dunia menurut WHO. Kejadian depresi
lebih sering pada wanita (10-25%) dibanding pada pria (5-12%)4,6. Kejadian
depresi juga lebih tinggi pada usia produktif dibanding pada usia anak remaja
maupun lanjut usia. Gangguan depresi mayor usia 30 – 44 tahun memiliki
prevalensi 19,8%, usia 18 – 29 tahun 15,4% sedangkan pada usia ≥ 60 tahun
hanya 10,6%2,7. Bertambahnya usia tidak berkaitan dengan peningkatan
kejadian depresi, bahkan semakin tinggi usia makin rendah angka kejadian
depresi. Akan tetapi, depresi pada lanjut usia dapat menyebabkan efek yang
lebih berat, sehingga menimbulkan gejala depresi lebih besar (20%) dari pada
usia lebih muda (10%)( Riskesdas, 2013).
Berdasarkan data yang dihimpun CDC pada tahun 2007-2010,
prevalensi depresi paling tinggi diderita oleh kelompok usia 40-59 tahun,
yakni sebesar 9,45%. Angka tertinggi kedua diperoleh oleh kelompok usia
18-39 tahun, yakni sebesar 8%, disusul dengan kelompok usia 12-17 tahun
sebesar 6,3%.3 Dua kelompok terakhir merupakan kelompok usia ideal
seseorang memasuki masa pendidikan di universitas, atau lebih tepatnya
menjadi mahasiswa. Usia rata-rata orang memasuki universitas di Indonesia
ialah 17-21 tahun, atau bisa 2 dikategorikan sebagai masa remaja akhir. Masa
remaja awal (11-13 tahun), pertengahan (14-16 tahun), dan akhir (17-20
tahun) dibedakan berdasarkan kematangan psikoseksual (Riskesdas, 2013).
2.5 Teori Patofisiologi Depresi
1. The Biogenic Amine Hypothesis
2. The Reseptor Sensitivity Hypothesis
3. The Permissive Hypothesis
Hipotesis Amina
a. Teori Amina Biogenik menyatakan bahwa depresi disebabkan karena
kekurangan (defisiensi) senyawa monoamina, terutama: nor adrenalin dan
serotonin.

9
b. Karena itu, menurut teori ini depresi dapat dikurangi oleh obat yang dapat
meningkatkan ketersediaan serotonin dan noradrenalin misalnya MAO
inhibitor atau antidepresan trisiklik.
c. Namun, teori ini tidak dapat menjelaskan fakta mengapa onset obat-obat
antidepresan umumnya lama (6-8 minggu), padahal obat-obat tadi bisa
meningkatkan ketersediaan neurotransmittersecara cepat.
d. Munculah hipotesis sensitivitas reseptor. Hipotesis Sensitivitas Reseptor
e. Teori : depresi merupakan hasil perubahan patologis pada reseptor yang
diakibatkan karena terlalu kecilnya stimulasi oleh monoamin.
f. Saraf post-sinaptik akan ber-respon sebagai kompensasi terhadap besar
kecilnya stimulasi oleh neurotransmiter.
g. Jika stimulasi terlalu kecil, saraf akan menjadi lebih sensitif
(supersensitivity) atau jumlah reseptor meningkat (up-regulasi).
h. Jika stimulasi berlebihan saraf akan mengalami desensitasi atau down
regulasi.bat-obat antidepresan umumnya bekerja meningkatkan
neurotransmiter meningkatkan stimulasi saraf menormalkan kembali
saraf yang super sensitif.
i. Proses ini membutuhkan waktu menjelaskan mengapa aksi obat
antidepresan tidak terjadi secara segera.
Hipotesis permisif
Menurut teori ini, kontrol emosi diperoleh dari keseimbangan antara
serotonin dan noradrenalin. Serotonin memiliki fungsi regulasi terhadap
noradrenalin menentukan kondisi emosi depresi atau manik, Kadar serotonin
yang rendah dapat menyebabkan (permit) kadar noradrenalin menjadi tidak
normal yang dapat menyebabkan gangguan mood. Jika kadar noradrenalin
rendah depresi. Jika kadar noradrenalin tinggi manik. Menurut postulat ini,
meningkatnya kadar 5-HT akan memperbaiki kondisi sehingga tidak muncul
“bakat” gangguan mood.
Atrofi sel saraf di hippocampus
Berdasarkan MRI 3 dimensi terhadap volume otak, terjadi atrofi sel
saraf pengurangan volume hippocampus. Selain itu juga ada trend
berkurangnya reseptor 5 HT di hippocampus. Hippocampus yaitu bagian otak

10
dimana terdapat progenitor sel saraf yang terus membelah dan membentuk sel
saraf yang baru.
2.6 Jenis Depresi
a. Depresi melankolis : termasuk berat, terjadi sepanjang waktu, responsif
terhadap obat.
b. Depresi musiman (seasonal) : timbul pada saat/musim tertentu (puncak di
musim dingin, sembuh di musim semi atau panas).
c. Depresi post partum : onset terjadi dalam jangka waktu 1 bulan setelah
melahirkan bisa ringan (blue baby syndrome) atau berat (post partum
major depression).
2.7 Klasifikasi dan Diagnosis Gangguan Depresi
A. Gangguan depresi mayor
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders,
Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR), suatu episode depresi mayor
ditandai dengan munculnya lima atau lebih gejala dibawah ini selama
suatu periode 2 minggu:
1) Mood yang depresi hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari
2) Penurunan kesenangan atau minat secara drastis dalam semua atau
hampir semua aktivitas
3) Kehilangan berat badan atau penambahan berat badan yang
signifikan atau suatu penambahan atau penurunan selera makan
4) Mengalami insomnia atau hipersomnia
5) Agitasi yang berlebihan atau melambatnya respon gerakan hampir
setiap hari
6) Perasaan lelah atau kehilangan energi setiap hari
7) Berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi
B. Gangguan distimik.
Perbedaan utama antara gangguan distimik dengan gangguan depresi
mayor adalah bahwa gangguan distimik adalah depresi kronis yang
memiliki gejala yang lebih ringan. Keparahan dari depresi kronis ini
berfluktuasi. Banyak penderita gangguan distimik yang juga mengalami
gangguan depresi mayor. Gangguan distimik tampaknya disebabkan oleh

11
perkembangan kronis yang seringkali bermula pada masa kanak-kanak
atau masa remaja. Orang dengan gangguan distimik merasakan
keterpurukan sepanjang waktu, namun mereka tidak mengalami depresi
yang sangat parah seperti yang dialami oleh orang dengan gangguan
depresi mayor. Meskipun gangguan distimik lebih ringan daripada
gangguan depresi mayor, mood tertekan dan self esteem rendah yang
terus-menerus dapat mempengaruhi fungsi pekerjaan dan sosial orang
tersebut.
2.8 Alat Ukur Depresi dan Tingkat Depresi skala Hamilton
Tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan Hamilton Rating
Scale for Anxiety (HRS-A) yang sudah dikembangkan oleh kelompok
Psikiatri Biologi Jakarta (KPBJ) dalam bentuk Anxiety Analog Scale (AAS).
Validitas AAS sudah diukur oleh Yul Iskandar pada tahun 1984 dalam
penelitiannya yang mendapat korelasi yang cukup dengan HRS A (r = 0,57 –
0,84).
Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut
alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale).
Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada
munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut
skala HARS terdapat 14 syptoms yang nampak pada individu yang
mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor
antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe).
Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan
oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran
kecemasan terutama pada penelitian trial clinic. Skala HARS telah
dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan
pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan
menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable.
Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan
kategori:
0 = tidak ada gejala sama sekali

12
1 = Satu dari gejala yang ada
2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada
3 = berat/lebih dari ½ gejala yang ada
4 = sangat berat semua gejala ada

Interpretasi ( rentang nilai 0-50)


Nilai keseluruhan ≤ 7 : normal
Nilai keseluruhan 8 – 13 : depresi ringan
Nilai keseluruhan 14 – 18 : depresi sedang
Nilai keseluruhan 19 – 22 : depresi berat
Nilai keseluruhan ≥ 23 : depresi sangat berat
(Hawari,2008)
Jadi, skala Hamilton dapat dibagi menjadi empat yaitu, depresi ringan,
depresi sedang, depresi berat dan depresi sangat berat.

13
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan untuk mencari gambaran tingkat depresi
mahasiswa tahun pertama di Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unud
adalah analisa deskriptif kuantitatif.
3.2 Waktu dan Lokasi
Tanggal pelaksanaanya penelitian adalah pada 20 April 2017. Penelitian
akan di lakasanakan dalam kurun waktu satu hari saja, atau kurang lebih 2
samapai 3 jam pertemuan dengan responden yaitu satu kali pertemuan
saja. Lokasi penelitian adalah di ruang kuliah 401 gedung timur Fakultas
Kedokteran Universitas Udayanan, yang beralamat di jalan Jl. P.B.
Sudirman Denpasar.
3.3 Populasi dan Sample
Populasi penelitian mahasiswa aktif tahun pertama di Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Sample
penelitian adalah mahasiswa aktif tahun pertama yang tinggal sendiri di
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana.
3.4 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah mahasiswa aktif tahun pertama. Instrument
penelitian yang digunakan adalah adanya data pribadi yang berisikan
identitas responden yaitu nama, umur, alamat dan pendidikan serta
kuisioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A), yaitu skala depresi
yang sudah digunakan secara luas, memiliki 24 pernyataan dengan
masing-masing mempunyai skor 0-2 atau 0-4 dan skor total 0-50.
Penilaian dilakukan dari wawancara klinis dengan penderita, dimana skor
≤7 adalah normal (N), skor 8-13 depresi ringan (DR), skor 14- 18 depresi
sedang (DS), skor 19-22 depresi berat (DB), dan skor ≥23 termasuk
depresi sangat berat (SB).

14
3.5 Kriteria Ekslusi
Kriteria ekskusi tidak kami masukan dalam proses penelitian ini, karena
dalam penelitian yang kami lakukan hanya menggunakan metode analisa
kuantitatif untuk mencari gambaran tingkat depresi mahasiswa aktif tahun
pertama.
3.6 Cara Kerja
Cara kerja pengolahan data penelitian ini adalah melalui pengisian data
pribadi, pengisian persetujuan penelitian, pengisian Kuesioner Hamilton
Rating Scale for Anxiety (HRS-A) serta penilaian Hamilton Rating Scale
for Anxiety (HRS-A) oleh peneliti, pengolahan hasil masing-masing
interpretasi skala secara statistic, analisa data serta pengumpulan data
dilakukan menggunakan kuesioner penelitian. Data yang telah
dikumpulkan, dilakukan cleaning, coding, dan tabulasi data, lalu
dimasukkan ke dalam software komputer. Hasil disajikan dalam bentuk
tabel maupun grafik serta data disajikan secara deskriptif.

15
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Tingkat Depresi pada Mahasiswa Tingkat pertama Program Studi


Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Normal Depresi Depresi Depresi Depresi
ringan sedang berat sangat berat

(n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%)

2 3,44% 8 13,79% 16 27,58% 15 25,86% 17 29,31%

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat hasil gambaran tingkat


depresi pada mahasiswa tingkat pertama PSIK FK Unud 2016 yaitu
normal dialami oleh 2 orang (3,44%), depresi ringan dialami oleh 8 orang
(13,79%), depresi sedang dialamai oleh 16 orang (27,58%), depresi berat
dialami oleh 15 orang (25,86%), dan depresi sangat besar dialami oleh 17
orang (29,31%). Mahasiswa tingkat pertama PSIK FK Unud 2016 paling
banyak mengalami depresi sangat besar yaitu sebanyak 17 orang.

4.2 Karakteristik Responden


A. Usia

Tinggal dengan
Tinggal sendiri Tingkat Depresi
Karakteristi orang tua
k Responden
(n = % (n = % Depresi
Depresi Depresi Depresi
(Usia) 58) 58) Normal Sangat
Ringan Sedang Berat
Berat

17 tahun 1 1,72% 0 0 0 0 1 0 0

18 tahun 11 18,96% 16 27,58% 1 3 9 6 8

19 tahun 13 22,41% 12 20,68% 0 4 3 9 9

20 tahun 0 0 4 6,89% 1 0 2 1 0

21 tahun 0 0 1 1,72% 0 1 0 0 0

16
Berdasarkan tabel di atas, distribusi yang tinggal dengan orang tua
terbanyak adalah usia 19 tahun yaitu 13 orang (22,41%), sedangkan
kelompok usia terkecil adalah usia 20 tahun dan 21 tahun sebanyak 0%.
Distribusi yang tinggal sendiri terbanyak adalah usia 18 tahun yaitu
16 orang (27,58%), sedangkan kelompok usia terkecil adalah usia 17
tahun sebanyak 0%.
Mahasiswa tingkat pertama PSIK FK UNUD yang mengalami
depresi/normal sebanyak 2 orang yaitu pada usia 18 tahun dan 20 tahun,
yang mengalami depresi ringan sebanyak 8 orang yaitu pada usia 18
tahun (3 orang), usia 19 tahun (4 orang) dan usia 21 tahun (1 orang),
yang mengalami depresi sedang sebanyak 15 orang yaitu pada usia 17
tahun (1 orang), usia 18 tahun (9 orang), usia 19 tahun (3 orang), usia 20
tahun (2 orang), yang mengalami depresi berat sebanyak 16 orang yaitu
pada usia 18 tahun (6 orang), usia 19 tahun (9 orang) dan usia 20 tahun
(1 orang) serta yang mengalami depresi sangat berat sebanyak 17 orang
yaitu pada usia 18 tahun (8 orang) dan 19 tahun (9 orang).
Berdasarkan karakteristik responden dapat diketahui bahwa
mayoritas responden berumur 17-21 tahun, dengan jumlah responden
terbanyak usia 18 tahun yaitu 27 orang dan paling banyak mengalami
depresi yaitu 26 orang baik dari depresi ringan sampai depresi sangat
berat pada usia tersebut. Usia ini tergolong periode dewasa awal yang
merupakan peralihan dari remaja. Hal ini sejalan dengan Sarwono (2011)
dalam Amelia (2016) yang menyatakan bahwa populasi paling banyak
yang mendapat risiko depresi adalah golongan usia muda. Hal ini juga
sejalan dengan Rohmah, 2014 yang menyatakan bahwa pada usia dewasa
awal (mahasiswa tingkat pertama) rentan mengalami depresi karena
banyaknya tantangan hidup yang harus dijalani oleh individu, misalnya
tugas-tugas kuliah yang banyak, karir, menjalani hubungan percintaan
yang serius, keuangan, keluarga dan lain sebagainya.

17
B. Jenis kelamin
Jenis Kategori (%)
Kelamin
Normal Depresi Depresi Depresi Depresi
ringan sedang berat sangat
berat

P (n=49) 2 (4%) 7 (14,4%) 13 12 15


(26,5%) (24,5%) (30,6%)

L (n=9) 0 (0%) 1 3 (33,33 3 2


(11,11%) %) (33,33%) (22,22%)

Total 2 8 16 15 17

Dari data diatas dapat dilihat bahwa mayoritas yang mengalami


gangguan psikologis berupa depresi adalah perempuan, dimana yang
terbanyak yaitu pada kategori depresi sangat berat sebanyak 15 (30,6%).
Sedangkan pada laki-laki nilai tertinggi dari tingkat depresinya yaitu
pada kategori depresi sedang dan berat dengan nilai 3 (33,33%). Hasil ini
sesuai dengan jurnal penelitian dari Darmayanti (2015), dengan judul,
“Meta‐Analisis: Gender Dan Depresi Pada Remaja”.Hasil meta‐analisis
ini mendukung mengenai perbedaan depresi di antara remaja perempuan
dan remaja laki‐laki, dan studi ini juga menyimpulkan bahwa ada
perbedaan depresi antara remaja perempuan dengan remaja laki‐laki.
Remaja perempuan cenderung lebih depresif dibandingkan dengan
remaja laki‐laki. Kondisi tersebut disebabkan karena :

1. Perempuan kurang asertif dan cenderung memiliki skor yang lebih


rendah dalam hal kemampuan kepemimpinan daripada anak
laki‐laki,

18
2. Anak perempuan lebih sering menggunakan koping ruminatif
dibanding dengan anak laki‐laki. Koping ruminatif adalah
membiarkan diri untuk memikirkan betapa berat apa yang dirasakan,
mencemaskan konsekuensi situasi stressfull atau keadaan emosional
yang dirasakan, secara berulang membicarakan seberapa buruk hal
yang dialami tanpa mengambil tindakan apapun untuk
mengubahnya. Perempuan lebih memusatkan perhatiannya pada
simtom‐simtom depresi yang dialaminya tersebut. Sebaliknya, anak
laki‐laki cenderung mengalihkannya pada beberapa aktivitas fisik,
seperti menonton TV, berperilaku agresif, dan

3. Anak perempuan kurang dominan dan agresif baik secara fisik


maupun verbal dalam berinteraksi dengan kelompoknya.

C. Tinggal Dengan Orang Tua


Katagori Tinggal dengan orang tua
N= 25 (presentase 100%)

Jumlah Presentase

Tidak 0 0%
depresi/normal

Depresi ringan 4 16%

Depresi sedang 6 24 %

Depresi berat 7 28 %

Depresi sangat berat 8 32%

Total 25 orang 100%

Dari tabel diatas, tingkat depresi pada mahasiswa PSIK FK UNUD


2016 yang tinggal dengan orang tua dengan total 25 orang mengalami
keadaan normal yang berjumlah 0%, depresi ringan yaitu 16% sebanyak 4

19
orang, depresi sedang sebanyak 24% sebanyak 6 orang, depresi berat
sebannyak 28% yaitu 7 orang dan depresi sangat berat 32% sebanyak 8
orang .

Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutjiato,
Margareth,G. D. Kandou & A. A. T. Tucunan (2015) yang meneliti
Hubungan Faktor Internal dan Eksternal dengan Tingkat Stress pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado yang
dilihat dari indikator antara tinggal sendiri dengan tinggal bersama orang
tua didapatkan hasil bahwa data menunjukkan bahwa dari 40 responden
yang kost, 20,7% mengalami stress berat sedangkan yang stress ringan
25,3%. Data juga menunjukkan bahwa dari 47 responden yang tinggal
dengan keluarga, 25,3% mengalami stress ringan sedangkan sebanyak
28,7% stress berat. Dilihat dari nilai signifikansi sebesar 1,000 dengan
demikian probabilitas (signifikansi) lebih besar dari 0,05 (1,000>0,05),
maka ada tidak ada hubungan antara tempat tinggal dengan stress
mahasiswa. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang
kost belum tentu lebih mudah mengalami stress dibandingkan yang tinggal
dengan keluarga. Hal ini dikarenakan di tempat kost banyak teman-teman
sebaya yang bisa menolong atau memberikan masukkan saat ada masalah
di kampus. Begitupun dengan responden yang tinggal dengan keluarga
belum tentu mereka tidak akan mengalami stress. Bisa jadi justru dirumah,
mereka mengalami banyak tekanan yang di dapat dari orang tua yang
terlalu memberikan banyak tekanan. Belum juga lingkungan sekitar rumah
yang tidak mendukung selama masa perkuliahan. Mahaiswa yang tinggal
bersama orang tua meskipun mendapat dukungan keluarga sebagai sumber
kekuatan bagi mahasiswa dalam menghadapai tekanan dan beratnya
beban yang dihadapi namun seperti penelitian Susilowati dan Hasanat
(2011), yang menyebutkan bahwa masa transisi yang dialami mahasiswa
baru mengakibatkan mahasiswa mengalami mood negatif dan hambatan
untuk melakukan penyesuaian psikologis sampai akhir semester pertama.
Selain itu, hal ini juga dapat disebabkan karena adanya kemungkinan
bahwa mahasiswa yang tinggal dengan keluarga justru mendapat
20
paksaan, desakan, atau tuntutan untuk memperoleh nilai yang bagus
bahkan nilai tertinggi saat proses perkuliahan. Hal itulah yang
menyebabkan tingkat depresi pada mahasiswa yang tinggal bersama orang
tua menjadi cukup tinggi.

D. Tinggal Sendiri
No Kategori Tinggal Sendiri
N = 33 (persentase 100%)
Jumlah Persentase
1 Tidak depresi/normal 2 6%
2 Depresi ringan 4 12,1 %
3 Depresi sedang 9 27,3 %
4 Depresi berat 9 27, 3 %
5 Depresi sangat berat 9 27,3 %
TOTAL 33 100%

Dari tabel diatas mengenai hasil gambaran tingkat depresi mahasiswa


PSIK FK Unud 2016 yang tinggal sendiri didapatkan hasil yaitu mahasiswa
yang tinggal sendiri tidak depresi/ normal dialami oleh 2 mahasiswa yaitu
6%. Mahasiswa yang depresi ringan dialami oleh 4 mahasiswa yaitu 12,1 %.
Mahasiswa yang depresi sedang, depresi berat dan sangat depresi dialami
oleh masing - masing 9 mahasiswa yaitu sebanyak 27,3%.
Tingkatan depresi tertinggi yang dialami mahasiswa PSIK FK Unud
adalah depresi dalam kategori sedang, berat dan sangat berat yang
mendapatkan hasil persentase yang sama untuk ketiganya yaitu masing –
masing sebesar 27,3%. Penyebaran kuisioner pada mahasiswa baru
mendapatkan hasil sebagain besar mahasiswa mengalami depresi. Hal ini
sehubungan dengan hasil studi pendahuluan di PSIK UMY angakatan 2015
pada bulan Desember 2015 dengan melakukan observasi dan wawancara
kepada 10 mahasiswa yang tinggal dengan orang tua dan yang tinggal
sendiri, didapatkan hasil bahwa 8 mahasiswa yang tinggal sendiri dan 6
mahasiswa yang tinggal dengan orangtua mengatakan bahwa pernah merasa
kesepian, kemurungan, tertekan, sedih, putus asa, kurang mendapat
21
perhatian, kasih sayang, dukungan dan bimbingan langsung dari orang tua.
Menurut Maulida (2012) mahasiswa paling banyak mengalami gejala
depresi sejak awal kuliah dengan berbagai penyebab, seperti masalah
akademik, kesendirian, masalah ekonomi dan sulit membangun hubungan.
Tingginya gejala depresi pada tahun pertama disebabkan oleh perubahan
lingkungan belajar yang baru, jadwal yang padat dan homesickness karena
banyak mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua. Beberapa faktor
penyebab dari depresi yaitu faktor biologis, faktor genetika dan faktor
psikososial (Nilasari, 2013). Stresor psikososial dapat berupa perpisahan
dengan orang tua, sahabat, perpindahan tempat tinggal, perubahan sistem
pendidikan, dan pertentangan sistem nilai (Susilowati dan Hasanat, 2011).
Mekanisme koping yang maladaptif dapat memberi dampak yang buruk
bagi seseorang seperti isolasi diri, berdampak pada kesehatan diri, bahkan
terjadinya resiko bunuh diri. Kurangnya perhatian dan dukungan keluarga
juga menjadi penyebab depresi pada mahasiswa (Anggraini, 2014).

22
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Dari penelitian ini diperoleh simpulan bahwa,
5.2.1 Berdasarkan gambaran tingkat depresi pada seluruh mahasiswa
tingkat pertama PSIK FK Unud 2016, Tingkatan depresi
tertinggi yang dialami mahasiswa berada pada katagori depresi
sangat berat. Dimana, mahasiswa tingkat pertama rentan
mengalami depresi karena banyaknya tantangan hidup yang
harus dijalani misalnya, tugas-tugas kuliah yang banyak, karir,
menjalani hubungan percintaan yang serius, keuangan, keluarga
dan lain sebagainya.
5.2.2 Berdasarkan jenis kelamin, wanita lebih banyak mengalami
depresi yaitu berada pada katagori depresi sangat berat. Dimana
wanita memang cenderung lebih mudah depresi dibandingkan
dengan laki‐laki. Salah satunya disebabkan oleh wanita lebih
memusatkan perhatiannya pada simtom‐simtom depresi yang
dialaminya.
5.2.3 Jumlah Mahasiswa yang tinggal bersama orang tua paling tinggi
berada pada katagori depresi sangat berat. Tingkat depresi pada
mahasiswa yang tinggal bersama orang tua menjadi cukup tinggi
biasanya disebabkan karena mahasiswa selalu mendapat tuntutan
atau desakan mendapat nilai yang tinggi pada proses
perkuliahan.
5.2.4 Jumlah mahasiswa yang tinggal sendiri lebih banyak
mengaalami depresi pada katagori depresi sedang, berat dan
sangat berat. Gejala depresi pada mahasiswa yang tinggal sendiri
disebabkan oleh perubahan tempat tinggal, proses beradaptasi
dengan lingkungan yang kurang efektif yang menyebabkan
kecemasan sampai depresi.

23
5.3 Saran
5.3.1 Institusi Pendidikan Tinggi
Diharapkan institusi khususnya pendidikan tinggi agar lebih
memperhatikan kondisi psikologis mahasiswa dalam proses
pembelajaraan sehingga kejadian depresi pada mahasiswa dalam kategori
rendah.

5.3.2 Mahasiswa Baru


Mahasiswa baru diharapkan agar tetap mempertahankan manajeman
koping yang baik dalam menghadapi lingkungan baru sehingga tidak
timbul depresi bahkan sampai menyebabkan perilaku maladaptif yaitu
bunuh diri.

24
25
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, D. I. (2014). Hubungan Depresi dengan Status Gizi. Jurnal Medula.


Vol. 2, No. 2, Februari 2014.

Darmayanti, N. (2015). Meta‐Analisis : Gender Dan Depresi Pada Remaja.


Jurnal Psikologi, 35(2), 164-180.

Depkes. (2012). Riset Kesehatan Dasar. Retrieved from


p://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%
02013.pdf http://dokumen.tips/documents/etiologi-dan-patofisiologi-
depresi.html diakses pada 23 April 2017
Depkes. (2013). Mendengarkan Dan Berkomunikasi Dalam Keluarga Adalah
Pencegahan Depresi Yang Paling Utama. Retrieved from
http://www.depkes.go.id/article/print/2085/mendengarkan-dan-
berkomunikasi-dalam-keluarga--adalah-komponen-pencegah-depresi-
yang-utama-.html diakses pada 23 April 2017
Hawari, D. (2008). Manajemen Cemas dan Depresi. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hawari, D. (2010). Psikopatologi Bunuh Diri. Jakarta: Balai Penerbit FK UI
Haryanto., Wahyuningsih, H. D., & Nandiroh, S. (2015). Sistem Deteksi
Gangguan Depresi Pada Anak-Anak Dan Remaja. Jurnal Ilmiah Teknik
Industri. Vol. 14, No. 2, Des 2015.
Hidianto, H., Tarigan, J., & Andriani, R. (2014). Prevalensi Dan Faktor-Faktor
Risiko Yang Berhubungan Dengan Tingkat Gejala Depresi Pada
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura. Pontianak: Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura
Kaplan, J. B., & Sadock, T, C. (2010). Sinopsis: Psikiatri Ilmu Pengetahuan
Perilaku. Psikiatri Klinis Edisi Ketujuh. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Krisdianto, M.A., & Mulyanti. (2015). Mekanisme Koping Berhubungan dengan
Tingkat Depresi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Jurnal Ners dan
Kebidanan Indonesia Vol. 3, No. 2, Tahun 2015, 71-76

26
Larastiti, A.P. (2014). Persoalan Depresi Pada Remaja. Retrieved from:
eprints.undip.ac.id/.../Adinda_Putri_Larastiti_22010110130171_. diakses
pada tanggal 14 April 2017.
Maulida, A. (2012). Gambaran Tingkat Depresi Pada Mahasiswa Program
Sarjana Yang Melakukan Konseling Di Badan Konseling Universitas
Indonesia. Skripsi. Jakarta: Universitas Indonesia
Murti, R. D., & Hamidah. (2012). Pengaruh Expressive Writing terhadap
Penurunan Depresi pada Remaja SMK di Surabaya. Jurnal Psikologi
Klinis dan Kesehatan Mental. Vol. 1 No. 02, Juni 2012
Nilasari, S. (2013). Positive Psychotherapy Untuk Menurunkan Tingkat Depresi.
Jurnal Sains dan Praktik Psikologi. Vol. 1, No.2 Hal. 179- 189 Tahun
2013.
Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Radiopelitakasih. (2016). WHO 350 Juta Orang Di Dunia Mengalami Depresi.
Retrieved from http://radiopelitakasih.com/wp/blog/2016/10/11/who-350-
juta-orang-di-dunia-mengalami-depresi/ diakses pada 14 April 2016
Sari, Y. P. (2013). Tinjauan Pustaka. Retrieved from.
eprints.undip.ac.id/44205/3/Yan_G2A009075_bab2KTI.pdf diakses pada
12 April 2017
Susilowati, T.G ., & Hasanat, U.N. (2011). Pengaruh Terapi Menulis Pengalaman
Emosional Terhadap Penurunan Depresi Pada Mahasiswa Tahun Pertama.
Jurnal Psikologi. Vol. 38, No. 1, Juni 2011: 92-107
Sutjiato, Margareth,G. D. Kandou & A. A. T. Tucunan.2015. Hubungan Faktor
Internal dan Eksternal dengan Tingkat Stress padaMahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado .JIKMU, Vol, 5. No, 1
Januari 2015
Yulianadha. (2015). Etiologi Dan Patofisiologi Depresi. Retrieved from
http://dokumen.tips/documents/etiologi-dan-patofisiologi-depresi.html
diakses pada 14 April 2017

27
Lampiran

FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN

(INFORMED CONSENT)

SURAT PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : ...........

Umur : ...........

Alamat : ...........

Setelah mendapatkan keterangan secukupnya dari peneliti serta menyadari manfaat dari
penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul :

GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA.

Dengan sukarela dan tanpa paksaan menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian ini dengan
catatan bila suatu saat merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan persetujuan
ini serta berhak untuk mengundurkan diri.

Denpasar, 20 April 2017

Mengetahui Saksi Menyetujui

(…….................……) (....…………......…….) (..…………...............)


KUESIONER

Tanggal Pengisian :
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin : (L/P)
Tempat Tinggal : (tinggal sendiri/dengan orang tua)*
Prodi :
Semester :

*Coret yang tidak perlu


Berikan tanda centang (√) pada bobot nilai jawaban sesuai dengan persepsi saudara/I pada
setiap pernyataan!

No. Daftar Pernyataan Nilai


0 1 2 3 4
1 Keadaan perasaan sedih (sedih, putus asa,
tak berdaya, tak berguna):
(0) Selama kuliah, saya tidak ada merasakan
perasaan sedih, putus asa, tak berdaya dan tak
berguna
(1) Saya hanya akan menungkapkan keadaan
perasaan sedih saya apabila ditanya saja
(2) Ketika saya dalam keadaan perasaan
sedih, saya mengungkapkan perasaan tersebut
spontan secara verbal
(3) Ketika saya dalam keadaan perasaan
sedih, saya mengungkapkan perasaan tersebut
secara non verbal
(4) Ketika saya dalam keadaan perasaan
sedih, saya mengungkapkan perasaan tersebut
spontan secara verbal dan non verbal
2 Perasaan bersalah:
(0) Selama kuliah, saya tidak ada merasakan
perasaan bersalah
(1) Ketika ada perasaan bersalah, saya
menyalahkan diri sendiri dan merasa telah
mengecewakan orang lain
(2) Saya ada ide-ide bersalah atau renungan
tentang perbuatan salah atau berdosa pada
masa lalu
(3) Saya merasa sakit ini merupakan suatu
hukuman. Delusi bersalah
(4) Saya mendengar suara-suara tuduhan atau
kutukan dan/atau mengalami halusinasi
penglihatan yang mengancam
3 Bunuh diri:
(0) Saya tidak pernah memiliki niat dan
keinginan untuk bunuh diri
(1) Saya pernah merasa bahwa hidup ini tidak
berharga
(2) Saya pernah memiliki keinginan dan
pemikiran untuk mengakhiri hidup ini
(mengharapkan kematian)
(3) Saya pernah memiliki ide untuk
melakukan percobaan bunuh diri
(4) Saya pernah melakukan percobaan bunuh
diri
4 Insomnia (early):
(0) Saya tidak pernah merasa kesulitan untuk
tidur
(1) Saya kadang-kadang pernah merasa sulit
tidur dalam durasi lebih dari 15 menit
(2) Saya sulit tidur setiap malam
5 Insomnia (Middle):
(0) Saya tidak pernah ada kesulitan saat tidur
(1) Saya pernah merasa gelisah dan terganggu
saat tidur
(2) Saya pernah terjaga sepanjang malam
6 Insomnia (late):
(0) Saya tidak ada kesulitan bangun pagi
(1) Saya pernah bangun terlalu pagi namun
dapat tertidur kembali
(2) Bila saya telah terbangun dari tidur, saya
tidak dapat tertidur kembali
7 Gejala Somatik:
(0) Saya tidak pernah merasakan gangguan
mood, kelalahan dan nyeri pada bagian tubuh
(1) Saya merasakan anggota gerak
punggung dan kepala berat
(2) Saya merasakan nyeri kepala, punggung,
otot, kelahan, kepala berat, tidak punya
tenaga
8 Gejala Genital:
(0) Saya tidak merasakan adanya gangguan
pada hasrat seksual dan tidak ada gangguan
menstruasi
(1) Saya merasakan ada gangguan ringan
pada hasrat seksual dan ada gangguan
menstruasi
(2) Saya merasa tidak memiliki hasrat
seksual dan terjadi gangguan menstruasi yang
berat
9 Variasi diurnal:
(0) Saya tidak pernah merasa tertekan pada
pagi atau pun sore hari
(1) Saya pernah merasa tertekan pada pagi
ataupun sore hari
(2) Saya merasa tertekan berat pada pagi
ataupun sore hari
10 Depersonalisasi dan derealisasi (misalnya:
merasa tidak nyata, ide nihilistik):
(0) Saya tidak pernah merasa tidak ada dan
tidak berarti di dunia ini
(1) Saya pernah merasa tidak ada dan tidak
berarti di dunia ini
(2) Saya pernah merasa tidak ada dan tidak
berarti hingga saya sering merasa sendiri
(3) Saya sering merasa tidak ada dan tidak
berarti didunia in hingga sering merasa
dikucilkan oleh orang lain
(4) Saya merasa tidak ada dan tidak berarti
didunia ini sampai menyalahkan diri sendiri.
11 Perasaan negatif:
(0) Saya tidak pernah merasakan perasaan
gelisah, takut ataupun khawatir
(1) Saya jarang merasa gelisah, takut ataupun
khawatir
(2) Saya sering dan selalu merasa gelisah,
takut ataupun khawatir
12 Ketidakberdayaan:
(0) Saya tidak pernah merasakan perasaan
ketidakberdayaan
(1) Saya mengungkapkan perasaan
ketidakberdayaan hanya saat ditanya saja
(2) Saya mengungkapkan perasaan
ketidakberdayaan secara spontan
(3) Saya merasakan ketidakberdayaan
sehingga memerlukan dorongan atau
bimbingan untuk menyelesaikan suatu hal.
(4) Saya tidak berdaya melakukan segala
sesuatu.
13 Keputusasaan:
(0) Saya tidak pernah merasakan perasaan
putus asa
(1) Saya sering merasa ragu bahwa keadaan
akan membaik, tetapi masih dapat
ditentramkan.
(2) Saya merasa putus asa secara konsisten
tetapi masih dapat menerima penentraman
(3) Saya mengekspresikan perasaan putus asa
dan pesimis tentang masa depan, yang tidak
dapat dihilangkan
(4) Saya memiliki keteguhan dan keyakinan
yang kuat dengan mengatakan "saya tidak
akan pernah bisa membaik"
14 Perasaan tidak berharga:
(0) Saya tidak pernah merasakan perasaan
tidak berharga
(1) Saya menunjukkan perasaan tidak
berharga hanya bila ditanya
(2) Saya menunjukkan perasaan tidak
berharga secara spontan
(3) Saya mengatakan secara sukarela bahwa
saya dalam keadaan tidak baik dan rendah
diri.
(4) Saya menyepadankan diri saya dengan
sampah yang tidak ada gunanya
15 Agitasi (kegelisahan, keresahan):
(0)Saya tidak pernah merasa resah atau
gelisah
(1)Saya biasanya memainkan tangan dan
rambut saat gelisah
(2)Saya meremas tangan, menggigit kuku,
menarik kuku, menggigit bibir jika gelisah
16 Ansietas psikis (kecemasan psikis):
(0)Saya merasa tidak kesulitan dalam
menangani kecemasan
(1)Saya mudah tersinggung jika sedang
cemas
(2)Saya sering menguatkan hal – hal kecil
yang ada saat saya cemas
(3)Saya selalu menunjukan kecemasan
dengan ekspresi wajah
(4)Saya menampilkan wajah ketakutan saat
merasa cemas
17 Gejala paranoid:
(0) Saya tidak pernah merasa mencurigai
sesuatu dengan berlebihan
(1) Saya merasa mencurigai sesuatu dengan
berlebihan
(2) Saya merasa mencurigai sesuatu dengan
berlebihan dan merasakan gambaran yang
buruk mengenai diri sendiri
(3) Saya merasa mencurigai sesuatu dengan
berlebihan dan meyakini akan adanya motif-
motif tersembunyi dari orang lain
(4) Saya mencurigai sesuatu dengan
berlebihan dan terus menerus menanggung
dendam yaitu dengan tidak memaafkan
kerugian, cedera atau kelalaian
18 Kerja dan aktivitas:
(0)Saya tidak merasa kesulitan dalam
beraktivitas
(1)Saya memikirkan dan perasaan dalam
kapasitas, kelelahan atau kelemahan yang
terkait dengan kegiatan,pekerjaan atau hobi
(2) Saya merasa kehilangan minat dalam
kegiatan; hobi atau pekerjaan
(3) Saya mengalami penurunan waktu aktual
yang dihabiskan dalam kegiatan atau
menurunkan produktivitas
(4) Saya berhenti beraktivitas waluapun tidak
sakit
19 Retardasi (keterlambatan):
(0) Saya berbicara normal dengan orang lain
(1) Saya sedikit lambat dalam
menyampaikan sesuatu
(2) Saya sangat lambat dalam menyampaikan
sesuatu
(3) Saya sangat sulit menyampaikan sesuatu
(4) Saya sulit untuk berkomunikasi dan
cendurung mudah tertidur
20 Ansietas somatik:
(0) Saat cemas saya tidak pernah merasakan
berkeringat, sering buang air kecil, sakit
kepala dan menghela nafas panjang.
(1) Saat cemas saya merasa sedikit
berkeringat, sering buang air kecil, sakit
kepala dan menghela nafas panjang.
(2) Saat cemas saya merasakan berkeringat,
sering buang air kecil, sakit kepala dan
menghela nafas panjang.
(3) Saat cemas saya sangat merasa
berkeringat, ingin buang air kecil, sakit
kepala dan menghela nafas panjang.
(4) Saat cemas saya tidak mampu
mengontrol berkeringat, ingin buang air kecil,
sakit kepala dan menghela nafas panjang.
21 Gejala somatik gastrointestinal:
(0) Saya tidak memiliki gangguan nafsu
makan
(1) Saya tidak ada nafsu makan, dapat makan
tanpa dorongan orang lain.Perut terasa penuh

(2) Saya sulit makan tanpa dorongan orang


lain, meminta atau membutuhkan
pencahar/obat – obatan untuk buang air besar/
obat- obat gejala masalah pencernaan

Kehilangan berat badan:


22
(0) Selama kuliah saya tidak ada kehilangan
berat badan
(1) Kemungkinan berat badan saya
berkurang sehubungan dengan sakit saya
sekarang
(2) Selama kuliah berat badan saya jelas
berkurang kehilangan berat badan

Tilikan:
23
(0) Saya mengetahui saat diri saya sakit
(1) Saya mengetahui diri saya sakit tetapi
disebakakan oleh makanan yang buruk,
iklim, kerja berlebihan, virus, dan perlu
istirahat
(2) Saya menyangkal sepenuhnya bahwa diri
saya sakit
Hipokondriasis (Merasa ada penyakit
24 dalam diri namun tidak sesuai dengan
hasil medis yang menyatakan tidak ada
masalah)
(0) Saya tidak mengalami hipokondriasis
(1) Saya pernah merasakan hipokondriasi
namun tidak saya ungkapkan pada orang lain

(2) Saya terfokus lama pada kesehatan diri


saya sendiri
(3) Saya mengalami hipokondriasis sehingga
sering mengeluh meminta pertolongan dan
lain – lain .
(4) Saya meyakini diri saya beanar – benar
sakit.
Dokumentasi

Gb. Penjelasan Kuesioner

Gb. Pembagian dan Pengisian Kuesioner