Anda di halaman 1dari 6

5.

KEKUATAN LABA DAN PERAMALAN UNTUK TUJUAN PENILAIAN

a. Kekuatan Laba

Kekuatan Laba (earning Laba) mengacu pada tingkat laba perusahaan yang diharapkan akan
terjadi pada masa depan. Dengan sedikit pengecualian, kekuatan laba di akui sebagai faktor
utama dalam penilaian perusahaan. Model penilain berbasis akuntansi mencakup kapitalisasi
kekuatan laba, dimana kapitalisasi ini melibatkan penggunaan suatu faktor atau penggandaan
yang mencerminkan biaya modal dan taksiran risiko dan pengembalian masa depan. Banyak
analisis laba dan laporan keuangan yang ditujukan untuk menentukan kekuatan laba.

 Mengukur Kekuatan Laba

Kekuatan laba merupakan konsep yang berasal dari analisis keuangan, bukan akuntansi.
Konsep ini melihat stabilitas dan daya tahan laba serta komponen laba. Laporan keuangan
digunakan untuk menghitung kekuatan laba. Perhitungan ini membutuhkan pengetahuan,
penilain, pengalaman, dan perspektif. Laba merupakan pengukuran yang paling handal dan
relevan untuk tujuan penilain. Meskipun penilaian berorientasi masa depan, kita harus
mengakui relevansi kinerja perusahaan saat ini dan sebelumnya untuk mengestimasi kinerja
masa depan. Laba periode akhir yang melampaui siklus usaha mencerminkan kinerja
opersional aktual dan memberikan kita suatu perspektif atas aktivitas operasi dimana kita
adapat mengestimasi kinerja masa depan. Penilaian sangat penting untuk beberapa keputusan
(seperti investasi, pemberian pinajaman, perencanaan apajak, keputusan pengendalaian atas
peselisihan penilaian). Karenanya, estimasi penilaian harus kredibel dan harsu dipertahankan,
dan kita harus meneliti jika terdapat penyimpangan dari norma.

 Rentang Waktu kekuatan Laba

Periode satu tahun seringkali terlalu singkat untuk mengukur laba dengan andal. Hal ini
disebabkan karena sifat aktivitas investasi dan aktivitas pendanan yang sebagian besar jangka
panajang, dampak siklus usaha, dan adanya berbagai faktor yang tidak berulang. Pengukuran
terbaik kekuatan laba suatu perusahaan adalah dengan menggunakan laba rata-rata (komulatif)
selama beberapa tahun. Rentang waktu untuk menghitung laba rata-rata umumnya adalah 5
tahun (biasanya hingga 10 tahun). Perpanjangan periode ini menugurangi distrosi,
ketidakteraturan , dan dampak sementara lainnya yang mengurangi relevansi laba satu athun.
Perhitungan laba lima tahun sering kali menekankan pengalaman terakhir sekaligus
menghindar kinerja yang tidak relevan.

Tren Laba merupakan faktor penting dalam perhitungan kekuatan laba. Jika laba
memperlihatkan tren yang bertahan, kita dapat menyesuaikan proses rata-rata untuk
memberikan bobot yang lebih berat atas laba terkini.

 Menyesuaikan Laba per Saham

Kekuatan laba dihitung dengan menggunakan seluruh komponen laba. Setiap pos pendapatan
dan beban merupakan bagian dari pengalaman operasi perusahaan. Masalahnya adalah pada
tahun yang mana kita menempatkan pose tersebut saat menghitung kekuatan laba. Pada kasus
tertentu analisis laba kita mungkin terbatas pada jangka pendek, pos-pos pada serangkaian
laba jangka pendek disesuaikan jika lebih terakait pada periode sebelumnya.

Jika hal ini dilakukan dengan basis per saham, setiap pos harus disesuaikan terhadap dampak
pajak dengan menggunakan tarif pajak perusahaan kecuali jika terdapat tarif pajak tertentu.
Seluruh pos juga harus dibagi dengan jumlah saham yang digunakan untuk menghitung laba
per saham.

b. Peramalan Laba

Bagian utama analisis laporan keuangan dan penilaian adalah peramalan laba. Dari perpektif
analisis, evaluasi tingkat laba sangat terkait dengan peramlan laba. Hal ini disebabkan
ramalan laba yang relevan melibatkan analisis komponen laba dan penilaian mereka di masa
depan. Peramalan laba mengikuti analisis komponen laba dan melibatkan pembuatan
pembuatan estimasi laba masa depan.

 Mekanisme Peramalan Laba

Permalan mengharuskan kita untuk menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara
efektif, termasuk laba periode sebelumnya. Peramalan juga mendapatkan manfaat dari
pemisahan (disaggregation). Pemisahan melibatkan penggunaan laba berdasarkan lini produk
atau segmen dan teruatam berguna jika segmen tersebut memiliki perbedaan risiko,
profitabilitas, atau pertumbuhan.
Penelitian anlisis mengungkapkan berbagai karakteristik statistik dalam laba. Peretumbuhan
laba tahunan sering kali bergerak secara acak. Bagi beberapa pengguna hal ini berarti
pertumbuhan laba tidak dapat diramalkan, tetapi penelitian ini mencerminkan prilaku
keseluruhan dan bukan perilaku perusahaan individu. Peramalan laba yang andal tidak dapat
dihasilkan dari ekstrapolasi sesderhana dari pertumbuhan atau tren laba masa lalu. Namun
dilakukan dengan mengananlisi komponen laba dan mempertimbangkan seluruh informasi
yang tersedia, baik kauntitatif. Juag melibatkan peramalan komponen ini dan spekulasi
mengenai kondisi usaha masa depan.

 Elemen Peramalan Laba

Elemen pada peramalan laba adalah memeriksa kewajaran ramalan. Untuk tujuan ini sering
kali digunakan angka pengembalian investasi modal. Jika ramalan laba menghasilkan
pengembalian yang sangat berbeda dengan pengembalian masa lalu atau pengembalian
industri, kita harus menilai kembali ramalan dan prosesnya. Perbedaan pengembalian
ramalan dengan yang sewajarnya terjadi harus dijelaskan. Pengembalian investasi modal
tergantung dari laba, sementara laba merupakan produk kualitas produk manajemen dan
manajemen aktiva.

 Kualitas manajemen. Dibutuhkan manajemen yang memilki akses ke berbagai


sumber daya untuk menghidupkan aktiva melalui penggunaan yang efesien dan
menguntungkan. Stabilitas hubungan dan tren dapat diasumsikan stabil jika
menunjukkan tidak ada perubahan besar atas keahlian, kedalaman, dan kelangsungan
manajemen. Disamping itu juga, menunjukkan tidak adanya perubahan yang besar
pada jenis usaha yang sesuai dengan keahlian manajemen.

 Manajemen aktiva. Perusahaan membutuhkan aktiva untuk mengembangkan operasi.


Kelangsungan keberhasilan dan ramalan pertumbuhan bergantung pada sumber
pendanaan dan dampaknya terhadap laba.

Kondisi keuangan suatu perusahaan merupakan elemen peramalan laba lainnya. Kurangnya
likuiditas dapat membatasi keberhasilan manajemen dan struktur modal yang berisiko dapat
membatasi tindakan manajemen. Semua ini disertai faktor-faktor seperti ekonomi, industri,
dan faktor kompetitif lain, merupakan hal yang relevan terhadap peramalan laba.

 Melaporkan Peramalan Laba

Peramalan manajemen berbeda dengan peramalan yang dilakukan analis keuangan.


Kendalan peramalan tergantung pada akses informasi dan asumsinya. SEC menyarankan agar
peramalan dilakukan dengan “itikad baik” dengan landasan yang layak. SEC merekomendasi
agar peramalan disajikan dalam format laporan keuangan dan disertai dengan informasi yang
cukup bagi investor untukm menilai kendalan. SEC memiliki aturan safe harbor yang
melindungi perusahaan dari tuntutan hukum jika prediksi mereka tidak menjadi kenyataan.

c. Laporan interim untuk pengawasan dan revisi estimasi laba

Menilai kekuatan atau permalan laba suatu perusahaan bergantung pada estimasi kondisi
masa depan yang tidak dapat dibuktikan. Analis harus terus mengawasi kinerja perusahaan
dengan membandingkannya peramalan dan asumsi terkini. Analis harus merevisi peramalan
secara teratur dengan mempertimbangkan kondisi perusahaan saat ini.

Penyesuaian akuntansi akhir tahun

Menentukan hasil operasi untuk periode satu tahun membutuhkan beberapa penyesuaian
akrual dan estimasi. Penyesuaian untuk periode interim sering kali kurang lengkap dan
menggunakan informasi yang kurang andal dibandingkan dengan laporan akhir tahun. Hal ini
kemungkinan menghasilkan menghasilkan ukuran laba periode interim yang kurang akurat.

Aktivitas usaha musiman

Beberapa perusahaan memiliki aktivitas usaha musiman. Penjualan, produksi, dan aktivitas
operasi lain sering kali tidak dapat dibagi sama antar periode interim. Hal ini dapat
mendistorsi perbandingan laba interim. Selain itu, hal ini juga akan menimbulkan masalah
pada alokasi biaya yang sifatnya diskresioner (pilihan). Jika beban ini berubah mengikuti
penjualan, biaya ini biasanya dibebankan berdasarkan taksiran penjualan selama satu tahun.
Masalah pelaporan juga bertambah dengan adanya alokasi biaya tetap sepanjang periode
interim.
Metode peramalan menyeluruh

Laporan interim umumnya dilaporkan dengan cara yang konsisten dengan persyaratan
pelaporan tahunan. Dengan mengadopsi pandangan bahwa laporan kuartalan merupakan
bagian dari keseluruhan satu tahun dan bukannya periode diskrit, kebiasaan umum
mensyaratkan pengakuan pendapatan dan beban selama periode interim. Hal ini mencakup
penyusutan persediaan, diskon atas kuantitas, dan piutang tak tertagih.

Kerugian biasanya tidak ditangguhkan melewati periode interim saat terjadinya, dan pos luar
biasa dilaporkan pada periode interim pada saat terjadinya. Namun, penangguhan biaya iklan
tidak dapat dilakukan karena manfaatnya tidak dapat diantisipasi. Likuidasi persediaan LIFO
tidak dicakup dalam periode interim dan hanya penurunan nilai persediaan permanen yang
dicatat pada laporan interim. Sebaliknya, pajak penghasilan dibebankan dengan
menggunakan taksiran pajak efektif untuk periode satu tahun.

Persyaratan pelaporan interim SEC

SEC sangat tertarik pada pelaporan interim. SEC mensyaratkan laporan kuartalan, pelaporan
pengembangan terkini, pengungkapan terpisah hasil kuartalan keempat, dan perincian
penyesuaian akhir tahun. Beberapa persyaratan pelaporan interim diwajibkan oleh SEC
seperti:

 Laporan interim komparatif dan laporan keuangan hingga tanggal dapat diberi judul
tidak diaudit tetapi harus dimasukkan dalam laba tahunan.

 Neraca komparatif

 Laporan arus kas hingga hari ini

 Informasi proforma mengenai penggabungan usaha yang dicatat sebagai pembelian

 Kesesuaian dengan prinsip akuntansi berlaku umum dan pengungkapan perubahan


akuntansi, termasuk surat auditor yang menyatakan perubahan tersebut memang lebih
baik

 Análisis naratif manajemen mengenai hasil operasi, dengan penjelasan perubahan


pendapatan dan beban sepanjang periode interim.
Pengungkapan ini dianggap dapat membantu pengguna untuk lebih memahami aktivitas
usaha perusahaan, dan dianggap dapat membantu pengguna untuk mengestimasi tren
aktivitas usaha sepanjang periode dengan tepat waktu.

Analisis implikasi laporan interim

Analis harus waspada terhadap kesalahan estimasi dan diskresi yang melekat pada laporan
interim. Terbatasnya keterlibatan auditor pada laporan interim mengurangi keandalan laporan
interim relatif terhadap laporan tahunan yang diaudit. Oleh karena itu, analisis sering kali
menekankan pendapatan interim sebagai pengukuran kinerja interim. Masalah musiman
tertentu pada laporan interim dapat diatasi dengan menghitung angka kumulatif hingga saat
ini, termasuk hasil kuartalan terakhir

Anda mungkin juga menyukai