Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayat,
serta inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
Bisnis Global mengenai “Pengaruh Sosial dan Budaya Terhadap Bisnis
Global” ini tanpa halangan apapun dan tepat pada waktunya.

Disusunnya makalah ini dengan maksud mempermudah para pembaca


untuk mengetahui tentang apa pengaruh dari social budaya terhadap bisnis global,
maupun menyangkut hal – hal apa saja yang berkaitan tentang berbisnis secara
global.
Pada kesempatan ini tak lupa kami mengucapkan terimakasih yang
sebanyak – banyaknya kepada Bapak Dr. Saefudin Zuhdi. Drs., MM. selaku dosen
pengampu mata kuliah Bianis Global yang telah membimbing, mengarahkan dan
memberi dukungan dalam pembuatan makalah ini, dan tak lupa kepada teman –
teman kelompok yang telah bekerja keras dalam menyelesaikan tugas makalah
ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari sempurna, dan
masih banyak kekurangan, untuk itu kami tetap mengharapkan masukan –
masukan baik berupa kritik yang membangun mapun saran – saran kontruktif
demi peningkatan makalah yang lebih baik di masa mendatang.

Bogor, 16 November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ......................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................ 3
1.3 Tujuan Penulisan .................................................... 3
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perdagangan Internasional .................... 4
2.2 Manfaat Perdagangan Internasional ...................... 4
2.3 Faktor Pendorong Perdagangan Internasional ....... 5
2.4 Pengaruh Budaya Terhadap Bisnis Internasional .. 5
2.5 Elemen Budaya Mempengaruhi Pemasaran Internasiol 7
2.6 Pengaruh Budaya Dalam Menentukan Strategi Marketing
MixdiPemasaranInternasional………………………… 9
BAB III : KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan ............................................................. 12
3.2 Saran ....................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu Ekonomi Internasional atau Global adalah cabang ilmu ekonomi


yang mempelajari segala sesuatu mengenai hubungan ekonomi antar negara.
Hubungan ekonomi tersebut mencakup tiga bentuk hubungan, pertama berupa
pertukaran hasil atau output negara satu dengan negara lain, kedua berupa
pertukaran atau aliran sarana produksi atau faktor produksi, dan ketiga berupa
hubungan utang piutang antar negara atau hubungan kredit.

Bentuk hubungan tersebut merupakan permasalahan ekonomi


internasional, yang secara garis besar menyangkut aspek: pola atau bentuk
perdagangan, harga ekspor dan impor barang dagangan/barang modal, manfaat
perdagangan, pengaruh pendapatan nasional, mekanisme neraca pembayaran,
politik perdagangan luar negeri, persekutuan perdagangan, modal luar negeri
(investasi) dan transfer teknologi.

Perdagangan atau pertukaran berarti proses tukar-menukar yang dilakukan


atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak yang terlibat. Pada
kenyataannya, dalam memenuhi kebutuhannya suatu negara belum mampu
memproduksi barang sendiri tanpa menerima bantuan dari negara lain. Seiring
dengan berkembangnya teknologi, memungkinkan suatu negara mengadakan
hubungan dagang dengan negara lain atau mengadakan kegiatan ekspor dan
impor. Oleh karena proses tukar-menukar tersebut dilakukan antar negara, maka
disebut dengan perdagangan internasional.

Dari uraian di atas, perdagangan internasional (international trade) dapat


didefinisikan sebagai kegiatan transaksi dagang antara satu negara dengan negara
lain, baik mengenai barang ataupun jasa-jasa, dan dilakukan melewati batas
daerah suatu negara. Misalnya Indonesia mengadakan hubungan dagang dengan
Prancis, Japan, China, Amerika Serkat, Singapura, Malaysia, dan lain-lain.

Pemasaran internasional merupakan salah satu bentuk pemasaran yang


telah lama dilakukan oleh orang-orang terdahulu, banyak sejarah mencatat bahwa
perdagangan antar wilayah dilakukan melalui jalur laut maupun darat, dan para
saudagar yang terkenal dan menjadi pemain utama dalam perdagangan di masa itu
diantaranya saudagar Cina, Arab maupun dari barat seperti spanyol dan portugis.
namun saat itu pemasaran masih dilakukan secara sederhana dan tradisional, tidak
ada strategi-strategi pemasaran khusus dan kompleks dalam pelaksanaan kegiatan
usahanya.

Kini pemasaran internasional telah jauh mengalami perubahan. Setiap


pelaku usaha harus faham mengenai seluk beluk daerah pemasarannya agar
kegiatan usahanya dapat bertahan dan sukses melakukan kegiatannya secara
global, saat ini daerah pemasaran internasional sudah semakin berkembang dan

1
menjadi lebih kompleks serta luas, karena daerah pemasaran internasional
dibedakan berdasarkan batas wilayah negara yang memiliki karakteristik yang
berbeda satu sama lainnya. Sehingga perusahaan yang akan sukses dan berhasil
dalam melakukan pemasaran internasional adalah perusahaan yang dapat
mengetahui seluk-beluk daerah pemasarannya dengan baik.
Salah satu aspek yang paling berpengaruh dalam pemasaran internasional
adalah faktor budaya. Pemasar internasional harus mengetahui pengaruh budaya
dan harus menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan dihadapi
akibat adanya aspek budaya ini. Hal ini karena setiap daerah dan batas wilayah
memiliki budaya yang berbeda-beda. Sehingga Dalam membuat produk, budaya
merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi karakteristik produk
tersebut.

Di sisi lain hubungan bisnis antara pihak-pihak yang terlibat dalam


kegiatan bisnis juga sangat dipengaruhi oleh faktor budaya atau kebangsaan yang
berbeda. sehingga pemasaran internasional memiliki tantangan tersendiri dalam
ke dinamisan faktor budaya internasional tersebut. Salah sat tantangan yang harus
dihadapai oleh perusahaan global dalah karakteristik perilaku konsumen yang
semakin kompleks. Hal ini karena perilaku pembelian dan kebutuhan konsumen
didorong oleh norma-norma budaya. Latar belakang budaya juga mempengaruhi
konsumen dalam mengolah informasi dan faktor yang memotivasi konsumen
dalam melakukan pembelian. Perusahaan yang melakukan bisnis global berarti
berhubungan dengan konsumen, mitra strategis, distributor dan pesaing dengan
pola pikir budaya yang berbeda.

Oleh karena itu aspek budaya menjadi aspek yang harus diperhatikan bagi
perusahaan yang akan melakukan kegiatan bisnisnya secara global, sehingga
aspek budaya dapat dijadikan landasan perusahaan dalam melakukan kegiatan
pemasarannya.

Setiap tahun, selama tujuh tahun terakhir para eksekutif senior dari 250
perusahaan di California selatan telah disurvei mengenai kegiatan bisnis
internasional perusahaan mereka (Aigner dan Kraemer 1994-2000). Di tahun -
tahun ini para eksekutif telah mengidentifikasi “Perbedaan Budaya” sebagai
masalah yang paling serius mempengaruhi penjualan dan operasi bisnis
internasional mereka. Peraturan pemerintah negara lain juga konsisten disebutkan
sebagai masalah.

Tantangan utamanya adalah yang terkait dengan perbedaan budaya bagi


para eksekutif Amerika dalam mengelola perusahaan bisnis internasional mereka.
Seperti yang disebutkan di atas, hambatan budaya sering tersembunyi tapi
berepengaruh langsung pada bisnis internasional. Kabar baik dari survey tersebut
adalah bahwa semua hambatan tampaknya mulai berkurang. Hasil riset dengan
teknik wawancara menunjukkan bahwa internet membantu mengatasi waktu dan
hambatan jarak dalam berkomunikasi, bahkan yang lintas budaya lebih efisien.
Budaya memiliki dampak luas pada manajemen sumber daya manusia (Adler
1997). Budaya mempengaruhi bagaimana para pekerja menanggapi gaji dan

2
insentif non-bayar, bagaimana mengatur perusahaan, dan bahkan bagaimana
eksekutif menyusun dan menerapkan strategi bisnis internasionalnya.

Selama dekade terakhir penelitian dan literatur tentang etika bisnis


mengalami peningkatan signifikan. Ini tidaklah mengherankan mengingat betapa
kompleksnya etika bisnis dalam organisasi – organisasi dan pentingnya etika
bisnis dalam ajang internasional. Situasi – situasi etika bisnis menjadi kompleks,
mencakup hal – hal seperti pengharapan sosial, kompetisi yang jujur,
perlindungan dan hak – hak legal, serta tanggung jawab sosial. Etika bisnis juga
menimbulkan konsekuensi potensial bagi banyak pihak, seperti konsumen,
pegawai, pesaing usaha, dan masyarakat umum. Dalam ajang internasional,
pesatnya globalisasi usaha semakin banyak menimbulkan pertanyaan – pertanyaan
tentang etika dalam lingkungan baru dan berbeda (Hyan, 2001).

Hingga saat ini, banyak penelitian empiris yang diarahkan untuk meneliti
faktor – faktor penentu perilaku etis. Faktor – faktor penentu yang paling banyak
diteliti antara lain atribut – atribut personal (seperti agama, kewarganegaraan,
jenis kelamin, dan usia). Pendidikan serta pengalaman kerja, kepribadian, nilai –
nilai dan keyakinan. Kelompok – kelompok referen seperti pengaruh kelompok
seprofesi, pengaruh manajemen puncak, serta penghargaan dan sangsi (Hyan,
2001).

Meneliti faktor -faktor penentu etika berperilaku merupakan langkah yang


penting karena dapat menambah pengetahuan tentang faktor – faktor yang terkait
dengan etika bisnis dan pengambilan keputusan yang etis. Penelitian etika bisnis
lebih banyak dilakukan di negara – negara maju terutama di negara - negara barat
dimana hasil penelitiannya belum dapat diterapkan di negara - negara berkembang
misalnya negara – negara Asia.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas paper ini memiliki rumusan


masalah sebagai berikut:

 Bagaimana pengaruh social dan budaya terhadap bisnis global?

1.2 Tujuan Penulisan

Paper ini memiliki tujuan sebagi berikut:

 Untuk mengetahui pengaruh dari faktor social dan budaya terhadap bisnis
global?

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah kegiatan tukar menukar atau


perdagangan barang atau jasa yang dilakukan antara individu dengan
individu, individu dengan pemerintah, atau pemerintah dari suatu negara
dengan pemerintah negara yang lain di pasar dunia atau global. Skema
perdagangan internasional dapat digambarkan sebagai berikut.

2.2 Manfaat Perdagangan Internasional.

a. Sumber Devisa
Jika kita mengekspor suatu komoditi, kita mendapat mata
uang asing seperti dolar, yen atau mata uang yang lainnya. Mata uang
asing ini disebut devisa. Devisa dapat digunakan untuk, misalnya,
mengimpor barang modal dan konsumsi.
b. Perluasan Kesempatan Kerja
Perdagangan internasional, terutama kegiatan ekspor, memberi
kesempatan untuk memperluas kesempatan kerja karena untuk
menghasilkan barang yang diekspor, dibutuhkan tenaga kerja.
c. Stabilisasi Harga
Jika harga suatu jenis barang dalam negeri mahal atau jumlahnya kurang
dan tidak memenuhi permintaan pasar, maka barang tersebut harus
diimpor. Dengan adanya impor, harga barang jenis tersebut akan stabil
dan permintaan pun d apat terpenuhi.
d. Peningkatan Kualitas Konsumsi
Melalui perdagangan internasional, penduduk dapat membeli barang-
barang yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri atau mutunya
belum sebaik produk luar negeri. Perdagangan internasional dapat
memacu industri dalam negeri untuk meningkatkan kualitas produk yang
dihasilkan agar dapat bersaing di pasar internasional.
e. Percepatan Alih Teknologi
Untuk menggunakan barang-barang yang diimpor dari luar negeri,
dibutuhkan pengetahuan atau keterampilan tertentu sehingga perlu
pelatihan atau bimbingan. Hal seperti itu akan mempercepat alih
teknologi. Alih teknologi memungkinkan suatu negara untuk mempelajari
teknik produksi yang lebih modern.
f. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
Banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap
negara, misalnya: kondisi geografis, iklim, tingkat penguasaan IPTEK.
Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu
memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
g. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi.

4
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh
keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara
dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang
diproduksi negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut
mengimpor barang dari luar negeri. Dengan mengadakan spesialisasi dan
perdagangan, setiap negara dapat memperoleh keuntungan.
h. Memperluas pasar dan menambah keuntungan.
Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan
mesin-mesinnya tanpa takut kelebihan produksi karena dapat menjual ke
luar negeri.

2.3 Faktor – Faktor Pendorong Perdagangan Internasional

a. Perbedaan sumber daya alam


Sumber daya alam yang dimiliki setiap negara berbeda. Untuk
mendapatkan sumber daya alam yang dibutuhkan dan tidak dimiliki suatu
negara, diperlukan pertukaran antar negara yang menyebabkan terjadinya
perdagangan internasional.
b. Selera
Penduduk suatu negara lebih menyukai produk negara lain, sehingga harus
mengimpor produk itu.
c. Penghematan biaya produksi (Efisiensi)
Perdagangan internasional memungkinkan suatu negara dapat memasarkan
hasil produksinya pada banyak negara. Negara tersebut
berproduksi dalam jumlah besar sehingga dapat menurunkan
biaya produksi. Masalah efisiensi juga menjadi alasan tidak diproduksinya
barang berteknologi tinggi oleh negara berkembang.
d. Perbedaan teknologi
Negara yang menggunakan teknologi maju dapat menjual barang dengan
harga murah pada negara yang teknologinya sederhana.
e. Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri.
f. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara.
g. Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk
menjual produk tersebut.
h. Keinginan membuka kerjasama, hubungan politik dan dukungan dari
negara lain.
i. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat
hidup sendiri.

2.4 Pengaruh Budaya Terhadap Bisnis Internasional

Berikut beberapa case study mengenai pentingnya mempertimbangkan


budaya dalam praktik bisnis. Di Jepang Procter & Gamble (P&G) menggunakan
suatu iklan untuk sabun camay, dimana seorang pria yang menemui seorang
wanita untuk pertama kalinya membandingkan kulit wanita tersebut dengan
boneka porselen yang indah. Meskipun iklan itu berhasil baik di Amerika Selatan
& Eropa, namun iklan tersebut dianggap menghina orang jepang. Bagi seorang

5
pria Jepang mengatakan sesuatu seperti itu kepada wanita Jepang menunjukkan
bahwa ia bodoh/kasar”, kata seorang ahli periklanan yang bekerja untuk klien di
Jepang. Menariknya P&G telah menggunakan iklan tersebut meskipun mendapat
peringatan dari agren periklanan itu.

Kesalahan lain yang dilakukan P&G dalam mengelola bisnis


internasionalnya adalah berkaitan dengan promosi produk sabun camay, Iklan
camay yang gagal di jepang adalah iklan yang memperliatkan seorang wanita
Jepang yang sedang mandi ketika suaminya masuk ke kamar mandi. Wanita
tersebut mulai menceritakan kepada suaminya tentang sabun kecantikannya yang
baru, tetapi suaminya mengelus pundak wanita itu, mengisyaratkan bahwa busa
sabun bukanlah apa yang dia pikirkan. Meskipun iklan itu diterima dengan baik di
Eropa, namun sangat gagal di Jepang, karena di Jepang memandang campur
tangan suami atas istrinya adalah sikap yang tidak baik.

P&G juga telah melakukan kesalahan karena kurang memiliki


pengetahuan mengenai budaya bisnis. Perusahaan itu memperkenalkan deterjen
cheer dengan memberikan potongan harga, tetapi hal ini merendahkan reputasi
merek sabun tersebut, kata seorang pesaing. Potongan harga di Jepang memiliki
arti berbeda dengan di Eropa & Amerika Serikat, di Jepang sekali anda
memberikan diskon atas produk anda sulit sekali untuk menaikkan kembali
harganya. Para pedagang besar di Jepang mereka terbiasa menghasilkan uang
yang lebih sedikit karena akibat dari margin yang kecil. Selain itu, tampaknya
P&G tidak menyadari bahwa ibu -ibu rumah tangga di Jepang tidak memiliki
mobil keluarga untuk membawa belanjaan, sehingga mereka berbelanja di
warung- warung sekitar tempat tinggalnya. Para pedagang eceran kecil ini,
menjual sekitar 30% dari semua deterjen yang diperdagangkan di Jepang, dengan
toko yang memiliki ruang rak yang terbatas, hal tersebut yang membuat mereka
tidak suka menyimpan produk- produk yang didiskon, karena laba yang diperoleh
lebih rendah.

Berdasarkan case studi dari P&G di Jepang, dapat disimpulkan pentingnya


memahami budaya negara yang dituju dalam menjalankan bisnis internasional.
Dan dari case studi tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya memiliki pengaruh
terhadap bisnis internasional. Kesimpulan tersebut sesuai dengan hasil penelitian
dari (Aigner dan Kraemer 1994-2000). Para eksekutif telah mengidentifikasi
“Perbedaan Budaya” sebagai masalah yang paling serius mempengaruhi penjualan
dan operasi bisnis internasional mereka.

Karena perbedaan budaya terdapat di seluruh negara, sebuah pemahaman


dari pengaruh budaya dalam perdagangan internasional merupakan hal penting
untuk diketahui manajemen internasional. Jika manajer internasional tidak
mengetahui sesuatu tentang budaya dari Negara lain yang mereka tuju untuk
berbisnis, maka hal tersebut akan menimbulkan bencana bagi perusahaan

6
Berikut beberapa karakteristik kebudayaan yang perlu diperhatikan bagi
manajer yang menjalankan bisnis internasional, karena karakteristik ini
mempunyai relevansi dengan bisnis internasional:
a) Kebudayaan mencerminkan perilaku yang dipelajari (learned behaviour)
yang ditularkan dari satu anggota masyarakat yang lainnya.
b) Unsur- unsur kebudayaan saling terkait (interrelated).
c) Kebudayaan sanggup menyesuaikan diri (adaptive), artinya kebudayaan
berubah sesuai dengan kekuatan- kekuatan eksternal yang mempengaruhi
masyarakat tersebut.
d) Kebudayaan dimiliki bersama (shared) oleh anggota - anggota
masyarakata tersebut dan tentu saja menentukan keanggotaan masyarakat
itu. Orang-orang yang sama-sama memiliki suatu kebudayaan adalah
anggota suatu masyarakat, orang - orang yang tidak memilikinya berada
diluar batas - batas masyarakat, berikut beberapa pendapat lain tentang
karakteristik budaya, adalah sebagai berikut:
a. Dipelajari: Budaya tidak diwariskan atau bersifat biologi, budaya
diperoleh dari pembelajaran dan pengalaman.
b. Dibagi: Masyarakat adalah anggota dari kelompok organisasi atau
pembagian budaya masyarakat, budaya tidak spesifik pada
perorangan dan individu.
c. Perubahan generasi: Budaya bersifat kumulatif, melewati dari
generasi yang satu ke generasi yang lainnya.
d. Symbolic: Budaya berdasarkan pada kapasotas manusia untuk
memberi tanda atau menggunakan sesuatu untuk menggambarkan
yang lain.
e. Diteladani: Budaya mempunyai struktur dan terintegrasi,
perubahan dari 1 bagian akan membawa perubahan pada bagian
lain.
f. Penyesuaian: Budaya berdasarkan pada kapasitas manusia untuk
berubah & menyesuaikan diri.

2.5 Elemen Budaya yang Mempengaruhi Pemasaran Internasional.

Budaya terdiri dari banyak komponen yang saling berhubungan satu sama
lain. Pengetahuan tentang budaya memerlukan pemahaman yang mendalam
dari bagian-bagian yang berbeda. adapun elemen-elemen budaya yang
memiliki pengaruh terhadap pemasaran internasional adalah: materi hidup
(Material Life), bahasa, interaksi sosial, estetika, agama, pendidikan, dan
nilai-nilai.

 Materi Hidup (Material life)


Komponen utama dari kebudayaan adalah aspek materialnya. Kehidupan
material terutama mengacu pada teknologi yang digunakan untuk
memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi barang dan jasa
dalam masyarakat. Perbedaan dalam lingkungan material menjelaskan
mengenai perbedaan dalam tingkat dan jenis permintaan barang konsumsi.
Untuk menjembatani perbedaan materi lingkungan hidup, pemasar sering

7
dipaksa untuk beradaptasi penawaran produk mereka. misalnya, industri
minuman ringan. Di banyak negara di luar Amerika Serikat, toko – toko
memiliki ukuran rak yang sangat terbatas, dan lemari es dengan kapasitas
jauh lebih kecil dibandingkan dengan Amerika Serikat. Akibatnya
minuman, ringan di jual dalam ukuran yang lebih kecil seperti stengah liter
dan satu liter, berbeda dengan yang dijual di amerika yang biasa menjual
kemasan 2 liter.

 Bahasa (Language)
bahasa merupakan tantangan yang dihadapi oleh pemasaran internasional.
Bahasa sering digambarkan sebagai elemen yang paling penting dalam
melakukan interaksi sosial. Bahasa merupakan sarana yang digunakan
untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dalam lingkukang. Dua aspek
bahasa menjadi dasara bagi pemasaran internasional adalah (1)
penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi dalam budaya dan (2)
keragaman besar bahasa di seluruh dunia.

 Interaksi sosial
Sebuah aspek penting dari budaya adalah interaksi sosial antara orang-
orang. Interaksi sosial mengacu pada cara di mana anggota masyarakat
berhubungan satu sama lain. Mungkin ungkapan yang paling penting dari
interaksi sosial adalah konsep kekerabatan. Konsep ini bervariasi secara
dramatis di seluruh masyarakat. Sebagai contoh Dalam budaya Cina,
guanxi merupakan bentuk penting dari interaksi sosial dalam konteks
bisnis. Guanxi, yang kira-kira berarti koneksi, sangat penting dalam
berbagai situasi seperti untuk melakukan kesepakatan negosiasi, distribusi,
mendapatkan izin usaha serta mendirikan usaha patungan. Oleh karena itu
sangat penting untuk membangun Guanxi di Cina melalui program
pendidikan eksekutif, di mana eksekutif senior dari berbagai industri dan
kota dapat bertemu dan berinteraksi.

 Estetika
Estetika mengacu pada ide-ide dan persepsi bahwa budaya sangat
menjunjung tinggi keindahan dan rasa yang baik. Di wilayah Asia-Pasifik,
ekspresi estetika didorong oleh tiga prinsip: (1) kompleksitas dan dekorasi
(berbagai bentuk, bentuk, dan warna), (2) harmoni dan pandangan
mengenai alam (misalnya, pegunungan, bunga, pohon-pohon). Estetika
memainkan peran utama dalam merancang visual dari produk, termasuk
komponen seperti kemasan dan logo. Serangkaian studi tentang desain
logo merek di Singapura dan China menyarankan bahwa perusahaan harus
memilih desain logo yang rumit (kompleks, mendalam, aktif), harmonis
(simetri, keseimbangan), dan natural. Disisi lain Warna juga memiliki arti
yang berbeda dan banding estetika.

 Agama
Agama memainkan peran penting dalam banyak masyarakat. Ketika
agama adalah bagian penting dari kehidupan konsumen, perusahaan harus
dapat menyadarinya. Dalam masyarakat Islam, perusahaan dapat

8
memperluas daya tarik merek mereka dan mengembangkan bisnis mereka
dengan terlibat dengan konsumen Muslim dengan memastikan bahwa
produk-produk yang dijual adalah halal dan menempelkan logo halal pada
setiap produk yang akan di pasarkan.

 Pendidikan
Pendidikan adalah salah satu instrumen utama untuk penyaluran budaya
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dua aspek pendidikan yang
penting bagi pemasar internasional adalah tingkat pendidikan dan kualitas
pendidikan tersebut. Sangat penting bagi perusahaan untuk memperhatikan
kualitas dari pendidikan. Pendidikan merupakan suatu jembatan untuk
memenuhi kebutuhan bisnis. Contohnya 51 perusahaan teknologi yang
beroperasi di India menghadapi masalah, dimana Perguruan tinggi di India
menghasilkan banyak lulusan teknik, tetapi 85 persen dari mereka menurut
sebuah perkiraan tidak siap untuk bekerja setelah lulus.

 Sistem Nilai
Semua budaya memiliki sistem nilai yang membentuk masyarakat norma
dan standar. Norma-norma mempengaruhi sikap masyarakat terhadap
obyek dan kode perilaku. Dari sudut pandang pemasaran internasional,
sistem nilai masyarakat memiliki kedudukan yang sangat penting. Sikap
lokal terhadap budaya asing akan mendorong posisi produk dan keputusan
dalam melakukan desain produk. Di banyak negara, barang yang memiliki
karekter Amerika sangat dihargai. Perusahaan-perusahaan AS mampu
memanfaatkan sentimen tersebut dengan menggunakan karakter
Americana sebagai instrumen penjualan. McIlhenny menjual Tabasco
dengan label produk yang sama di seluruh dunia menekankan karakter
Amerika dalam setiap produk yang dijualnya.

2.6 Pengaruh Budaya Dalam Menentukan Strategi Marketing Mix di


Pemasaran Internasional.

Untuk dapat memahami seluk-beluk pasar luar negeri, penting untuk


mendapatkan pemahaman yang lebih dalam perbedaan budaya. Dari
perspektif pemasaran global, lingkungan budaya penting karena dua alasan
utama. Pertama dan terpenting, kekuatan budaya merupakan faktor utama
dalam membentuk pemasaran global. Kedua, analisis budaya seringkali
mempertemukan titik-titik peluang pasar. Perusahaan yang mengenali
norma-norma budaya di bandingkan pesaing mereka akan lebih di
untungkan dan sering memperoleh keunggulan kompetitif.

Dalam pemasaran dikenal adanya istilah marketing mixyang di


dalamnya memformulasikan strategi pemasaran yang harus dilakukan
seorang pelaku usaha kedalam 4P yaituproduct, price, place dan promotion.
Dalam pemasaran internasional aspek budaya sangat mempengaruhi strategi
para pemasar untuk merumuskan strategi marketing mix tersebut, agar
kegiatan pemasaran produk yang dilakukan dapat sukses dan berhasil di

9
lingkungan internasional yang sangat dinamis. Oleh karena itu perlu disusun
program marketing mix yang baik di dasarkan pada kriteria berikut ini:

Product
Dalam Pemasaran internasional, pelaku usaha harus dapat menciptakan
produk yang sesuai dengan target pasar mereka. Dan budaya merupakan
suatu instrumen yang sangat penting untuk digunakan dalam menciptakan
produk dalam perspektif global. Karena setiap daerah pemasaran
membutuhkan produk yang berbeda serta pendekatan yang berbeda dalam
penciptaan produk tersebut. Produk tertentu, khususnya, makanan,
minuman, dan pakaian memiliki hubungan dan ikatan budaya yang sangat
kental dibandingkan dengan produk lainnya seperti mobil dan sepeda motor.
Produk atau jasa juga dapat dilarang atau dibatasi karena alasan budaya.
Pada bulan Maret 2004, pemerintah Arab Saudi melarang impor dan
penjualan ponsel yang menggunakan kamera setelah adanya laporan
tindakan pelanggaran (memotret perempuan) oleh pemilik ponsel tersebut.
Di China Pepsi menciptakan produk dengan kemasan berwarna merah untuk
menarik perhatian pembeli dengan alasan warna merah merupakan warna
keberuntungan bagi masyarakat China.

Price
Kesediaan pelanggan untuk membayar produk yang dipasarkan akan
bervariasi pada daerah yang memiliki budaya yang berbeda. Produk yang
dianggap memiliki nilai yang baik dalam satu budaya, mungkin memiliki
nilai lebih dan dihargai lebih mahal dibandingkan dalam budaya lain. Di
China penetapan harga barang sering menggunakan angka 8. Misalnya 20
dollar sering dibuat dengan angka 19.8 dollar dari pada menggunakan angka
19.9 dollar yang biasa dilakukan pada pasar secara luas di dunia. Hal ini
karena Dalam budaya Cina, angka 8 dikaitkan dengan kemakmuran dan
keberuntungan. Simbolisme ini berasal dari fakta bahwa pengucapan 8
memiliki kesamaan dalam pengucapan kata kaya.

Place (Distribusi)
Variabel budaya juga dapat menentukan strategi distribusi. Hal ini
bergantung dari gaya hidup masing-masing dan budaya masing-masing
daerah. Sebagai contoh Avon, pembuat kosmetik dari Amerika
menggunakan pendekatan distribusi yang berbeda dengan cara penjualan
langsung kepada pelanggannya yang biasa di lakukan di Amerika. untuk
pangsa pasar Taiwan dan China, Avon bereksperimen dengan alternatif
distribusi untuk menjual produk-produknya dengan penggunaan kios,
counter kecil di department store, internet, dan menjual produk di rumah-
belanja saluran TV. Hal ini lebih menarik konsumen Taiwan dan China
untuk melakukan pembelian. Contoh lain adalah pendekatan distribusi yang
di lakukan oleh Mc Donald. Di beberapa negara McDonald sekarang
menawarkan layanan antar untuk setiap produk yang di beli oleh
konsumennya. Model ini berjalan efektif untuk daerah perkotaan yang telah
maju dengan tingkat kesibukan penduduknya yang tinggi serta ketersediaan

10
tenaga pengantar yang masih relatif murah. Di Mesir, sistem layanan antar
menyumbangkan 27 persen dari pendapatan Mc Donald.

Promotion
Dari empat unsur bauran pemasaran, promosi adalah salah satu yang paling
menonjol. Budaya biasanya akan memiliki pengaruh besar pada strategi
komunikasi perusahaan. Peristiwa penting dari kalender budaya suatu negara
(misalnya, Tahun Baru Cina, Ramadhan) sering menciptakan peluang
pemasaran utama dengan komunikasi pemasaran yang berbeda. Promosi
menjadi sangat penting dalam strategi pemasaran internasional karena Cara
di mana pelanggan memproses komunikasi pemasaran seringkali bergantung
pada nilai-nilai budaya mereka. Oleh karena itu pelaku pemasaran
internasional harus berhati-hati melakukan komunikasi pemasaran melalui
strategi promosi iklan dan advertising lainnya, hal ini karena gaya iklan
yang efektif dalam budaya tertentu dapat menjadi kontraproduktif dalam
budaya lain. Dalam konteks budaya tinggi (misalnya, Spanyol, Italia,
Jepang), gaya komunikasi cenderung lebih langsung dan halus. Dalam
konteks budaya rendah (misalnya, Jerman, dan negara skandinavia) iklan
menggunakan data faktual, dan menyertakan alasan agar kegiatan promosi
lebih efektif.

Oleh karena itu para pelaku pemasaran internasional harus faham mengenai
strategi pemasaran khususnyamarketing mix dalam memformulasikan
strategi pemasan yang paling cocok dengan target market pasar internasional
yang sangat dinamis, sehingga adanya kesesuaian antara strategi pemasaran
dan budaya setempat akan berdampak pada kelanggengan bisnis dan
keberhasilan memasarkan produk yang dilakukan oleh para pemasar
internasional.

11
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
1. Kebudayaan adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan dan
sikap yang membedakam suatu masyarakat dari yang lainnya. Kebudayaan
suatu masyarakat menentukan ketentuan - ketentuan yang mengatur
bagaimana perusahaan dijalankan dalam masyarakat tersebut.
2. Kebudayaan dimiliki bersama (shared) oleh anggota – anggota masyarakat
tersebut dan tentu saja menentukan keanggotaan masyarakat itu, orang –
orang yang sama - sama memiliki suatu kebudayaan adalah anggota suatu
masyarakat, orang - orang yang tidak memilikinya berada diluar batas -
batas masyarakat, berikut beberapa pendapat lain tentang karakteristik
budaya adalah sebagai berikut:
a. Dipelajari: Budaya tidak diwariskan atau bersifat biologi,
budaya diperoleh dari pembelajaran dan pengalaman.
b. Dibagi: Masyarakat adalah anggota dari kelompok
organisasi atau pembagian budaya masyarakat, budaya
tidak spesifik pada perorangan dan individu.
c. Perubahan generasi: Budaya bersifat kumulatif, melewati
dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya.
d. Symbolic: Budaya berdasarkan pada kapasitas manusia
untuk memberi tanda atau menggunakan sesuatu untuk
menggambarkan yang lain.
e. Diteladani: Budaya mempunyai struktur dan terintegrasi,
perubahan dari 1 bagian akan membawa perubahan pada
bagian lain.
f. Penyesuaian: Budaya berdasarkan pada kapasitas manusia
untuk berubah & menyesuaikan diri.

3. Para ahli sangat bervariasi dalam memahami apa yang mereka anggap
komponen budaya sosiokultural, antara lain: Estetika, Sikap dan
kepercayaan. Sikap terhadap waktu, sikap terhadap pencapaian pekerjaan,
sikap terhadap perubahan atau ide baru.
4. Faktor budaya merupakan salah satu aspek yang memiliki pengaruh yang
sangat besar dalam kegiatan pemasaran internasional. Budaya adalah salah
satu pondasi utama yang di jadikan landasan bagi para pelaku bisnis untuk
melakukan kegiatan usahanya. Hal ini karena budaya pada level
internasional sangat beragam, berbeda-beda dan dinamis sehingga
memerlukan cara, strategi dan pendekatan yang berbeda-beda pula untuk
memasarkan produk tersebut. Oleh karena itu dalam penyusunan program

12
pemasaran yang tepat para pemasar di tingkat intenasional harus dapat
memformulasikan strategi pemasaran, salah satunya dengan menggunakan
konsep marketing mix atau bauran pemasaran yang di sesuaikan dengan
daerah pemasarannya. Tentu dalam penysusunan marketing mix tersebut
harus memperhatikan aspek budaya. Sehingga pendekatan dan
strategi marketing mix yang meliputi product, price,
placedan promotion di satu daerah dapat di sesuaikan dengan budaya
setempat sehingga strategi pemasaran tersebut dapat berhasil dan tidak
bertentangan atau kontradiktif pada budaya setempat yang menyebabkan
kegagalan seorang pemasar dalam melakukan kegiatan usahanya.
5. pendekatan teori menurut Von der Embse dan R.A. Wagley dalam
artikelnya di Advance Managemen Journal (1988): utilitarian approach,
individual right approach, dan justice approach bisa dijadikan bagi
perusahaan khususnya manajer internasional sebagai pedoman untuk
berperilaku ethis dalam menjalankan bisnis internasional.

1.2 Saran
1. Perusahaan khususnya manajer internasional diharapkan memahami
pentingnya faktor budaya dalam bisnis internasional. Baik saat
menentukan produk yang akan dijual maupun cara promosi produknya,
agar tidak bentrok dengan budaya negara setempat, sehingga produk yang
dipasarkan bisa ditrima dan berhasil dinegara yang dituju untuk berbisnis.
2. Perusahaan diharapkan memiliki persiapan khusus ketika mau masuk
kepasar negara lain, khususnya dalam konteks budaya. Seperti merekrut
SDM setempat untuk mengetahui cara yang paling efektif masuk pasar ke
negara tersebut.
3. Perusahaan yang ingin mencatat sukses dibisnis internasional
membutuhkan tiga hal pokok, yakni: produk yang baik dan berkualitas,
manajemen yang baik dan Manajemen yang memiliki etika. Produk yang
baik dan berkualitas memiliki pengertian agar produk yang ditawarkan
kekonsumen tidak hanyak baik secara fisik tetapi harus berkualitas
sehingga produk tersebut tidak berbahaya baik jangka pendek maupun
jangka panjang. Manajemen yang baik dan memiliki etika menjadi hal
penting yang harus diperhatikan perusahaan. Agar Manajemen tidak hanya
mementingkan kepentingan perusahaan seperti profit yang besar, tetapi
juga mementingkan keselamatan baik konsumen, pekerja, dan Bumi.
4. Penting bagi perusahaan agar menerapkan etika dalam berbisnis. Terutama
perusahaan yang berbisnis di negara lain, karena tren konsumen saat ini
jika ada perusahaan yang melanggar etika maka baik konsumen maupun
pemerintah akan memboikot produk dari perusahaan tersebut. Seperti
kasus pada Indome dan perusahaan Nike.
5.

13
Daftar Pustaka

http://ahdasaifulaziz.blogspot.sg/2011/06/pengaruh-kebudayaan-terhadap-
bisnis.html
Donal A Ball, Dkk. 2001. Intenational Bisnis buku 1. Salemba Empat: Jakarta
Griffin, Ricky W. Michael W Pustay. 2005. Bisnis Internasional jilid 1. PT Ideks
kelompok Gramedia: Jakarta
http://ahdasaifulaziz.blogspot.sg/2011/06/pengaruh-kebudayaan-terhadap-
bisnis.html

14
“Pengaruh Sosial Budaya Terhadap
Bisnis Global atau Bisnis
Internasional”
Tugas Bisnis Global

Windia Riswanti 170210062

Vigi Astuti Agustina 170210063

Sinta Anggraeni 170210073

V AKT D3 B/PAGI

INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA KESATUAN

BOGOR

November, 2019

15