Anda di halaman 1dari 6

Nama : Rahayu Windasari

NPM : 1706104584
Absen : 17

SUPERKONDUKTOR

Pengertian Superkonduktor

Superkonduktivitas diamati pertama kali pada tahun 1911 oleh fisikawan Belanda H.K.
Onnes. Superkonduktivitas adalah suatu sifat yang dimiliki oleh bahan konduktor / penghantar
yang dapat menghantarkan arus listrik dengan nilai kerapatan arus yang sangat besar per satuan
luasnya, serta dengan harga resistivitas yang mendekati nol. Superkonduktor merupakan bahan
material yang memiliki hambatan listrik bernilai nol pada suhu yang sangat rendah. Keadaan
superkonduktivitas bisa dicapai dengan mendinginkan suatu bahan logam tertentu sampai
temperature mendekati nol mutlak atau temperature kritisnya.

Suhu Kritis

Perubahan sifat bahan dari keadaan normal ke keadaan superkonduktor dapat dianalogikan
misalnya dengan perubahan fase air dari keadaan cair ke keadaan padat. Perubahan sifat seperti ini
sama-sama mempunyai suatu suhu transisi. Pada transisi superkonduktor suhu ini disebut sebagai
suhu kritis Tc. Besaran fisis yang berkaitan dengan transisi superkonduktor adalah resistivitas
bahan. Resistivitas suatu bahan logam akan naik bila temperaturnya naik

Gambar 1. Grafik hubungan antara resistivitas terhadap suhu

Pada suhu T > Tc, bahan dikatakan berada dalam keadaan normal, ia memiliki resistansi
listrik. Untuk suhu T < Tc, bahan berada dalam keadaan superkonduktor. Resistivitas suatu bahan
bernilai nol jika dibawah suhu kritisnya. Karakteristik dari bahan Superkonduktor adalah medan
magnet dalam superkonduktor bernilai nol dan mengalami Efek Meissner.
Nama : Rahayu Windasari
NPM : 1706104584
Absen : 17

Efek Meissner

Sifat kemagnetan superkonduktor diamati oleh Meissner dan Ochsenfeld pada tahun 1933,
ternyata superkonduktor bersifat seperti bahan diamagnetik sempurna. Jika sebuah superkonduktor
ditempatkan pada medan magnet, maka tidak akan ada medan magnet dalam superkonduktor. Hal
ini terjadi karena superkonduktor menghasilkan medan magnet dalam bahan yang berlawanan arah
dengan medan magnet luar yang diberikan. Efek yang sama dapat diamati jika medan magnet
diberikan pada bahan dalam suhu normal kemudian didinginkan sampai menjadi superkonduktor.
Pada suhu kritis, medan magnet akan ditolak. Efek ini dinamakan Efek Meissner. Apabila medan
magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan material akan kehilangan sifat
superkonduktivitasnya.

Tetapi pada tahun 1935, London bersaudara melalui penelitian sifat elektrodinamik
superkonduktor mendapatkan bahwa intensitas medan magnet masih dapat menembus bahan
superkonduktor walaupun hanya sebatas permukaan saja, ordenya hanya beberapa ratus angstrom.
Sifat penetrasi ini dinyatakan oleh parameter λ yang disebut kedalaman penetrasi London. Medan
magnet ternyata berkurang secara eksponensial terhadap kedalaman.

B (x) = Bo exp -(x / λ )

Bo adalah medan di luar, x adalah jarak dari permukaan dan λ adalah kedalamannya. λ membesar
dengan naiknya suhu. Di Tc harga λ tak berhingga, sehingga medan magnet mampu menerobos ke
seluruh bagian bahan tersebut atau dengan kata lain sifat superkonduktor telah hilang digantikan
dengan keadaan normalnya. Teori London ini juga memberikan kesimpulan bahwa dalam bahan
supekonduktor arus listrik akan mengalir di bagian permukaannya saja.

Sifat Kelistrikan Superkonduktor

Ketika medan listrik diberikan pada bahan, elektron akan mendapat percepatan. Medan
listrik akan menghamburkan elektron ke segala arah dan menumbuk atom-atom pada kisi. Hal ini
menyebabkan adanya hambatan listrik pada logam konduktor. Pada bahan superkonduktor terjadi
juga interaksi antara elektron dengan inti atom. Namun elektron dapat melewati inti tanpa
mengalami hambatan dari atom kisi. Efek ini dapat dijelaskan oleh Teori BCS. Teori ini
dikemukakan oleh Barden, Cooper dan Schrieffer pada tahun 1975. Dalam teori ini dikatakan
Nama : Rahayu Windasari
NPM : 1706104584
Absen : 17

bahwa elektron-elektron dalam superkonduktor selalu dalam keadaan berpasang-pasangan dan


seluruhnya berada dalam keadaan kuantum yang sama. Ketika elektron melewati kisi, inti yang
bermuatan positif menarik elektron yang bermuatan negatif dan mengakibatkan elektron bergetar.
Jika ada dua buah elektron yang melewati kisi, elektron kedua akan mendekati elektron pertama
karena gaya tarik dari inti atom-atom kisi lebih besar. Gaya ini melebihi gaya tolak-menolak antar
elektron sehingga kedua elektron bergerak berpasangan. Pasangan ini disebut Cooper Pairs. Efek
ini dapat dijelaskan dengan istilah phonon. Phonon adalah kuantum energi getaran kerangka
(lattice) kristal bahan. Ketika elektron pertama pada Cooper Pairs melewati inti atom kisi. Elektron
yang mendekati inti atom kisi akan bergetar dan memancarkan phonon. Sedangkan elektron
lainnya menyerap phonon. Pertukaran phonon ini mengakibatkan gaya tarik menarik antar
elektron. Pasangan elektron ini akan melalu kisi tanpa gangguan dengan kata lain tanpa hambatan.

Jika suhu suatu bahan dinaikan, maka getaran elektron akan bertambah sehingga banyak
phonon yang dipancarkan. Ketika mencapai suhu kritis tertentu, maka phonon akan memecahkan
Cooper Pairs dan bahan kembali ke keadaan normal.

Perbandingan perilaku elektron dalam keadaan normal dan superkonduktif

Normal Superkonduktif
Pembawa muatan elektron bebas Pasangan elektron Cooper Pairs
Diameter elektronnya 10-15 Diameter CP 10-7
Jarak atom kisi kristal 10-10 Jarak atom kisi kristal > 10-10
Panjang gelombang < jarak kisi Panjang gelombang > jarak kisi
Elektron konduksi dihamburkan dalam arah Tidak terjadi hamburan (energi yang tersedia
tak menentu, akibatnya timbul resistansi tidak mencukupi) akibatnya resistansi elektron
elektris menjadi nol

Tipe – tipe Superkonduktor

Berdasarkan interaksi dengan medan magnetnya, maka superkonduktor dapat dibagi menjadi dua
tipe yaitu Superkonduktor Tipe I dan Superkonduktor Tipe II.
Nama : Rahayu Windasari
NPM : 1706104584
Absen : 17

1. Superkonduktor Tipe I (Soft type semiconductor)


Superkonduktor tipe I menurut teori BCS (Bardeen, Cooper, dan Schrieffer) dijelaskan
dengan menggunakan pasangan elektron (yang sering disebut pasangan Cooper). Pasangan
elektron bergerak sepanjang terowongan penarik yang dibentuk ion-ion logam yang
bermuatan positif. Akibat dari adanya pembentukan pasangan dan tarikan ini arus listrik
akan bergerak dengan merata dan superkonduktivitas akan terjadi. Superkonduktor yang
berkelakuan seperti ini disebut superkonduktor jenis pertama yang secara fisik ditandai
dengan efek Meissner, yakni gejala penolakan medan magnet luar (asalkan kuat medannya
tidak terlalu tinggi) oleh superkonduktor. Bila kuat medannya melebihi batas kritis, gejala
superkonduktivitasnya akan menghilang. Maka pada superkonduktor tipe I akan terus –
menerus menolak medan magnet yang diberikan hingga mencapai medan magnet kritis.
Kemudian dengan tiba-tiba bahan akan berubah kembali ke keadaan normal.
Contohnya tembaga, perak dan golongan alkali.

2. Superkonduktor Tipe II (Hard type semiconductor)


Superkonduktor tipe II ini tidak dapat dijelaskan dengan teori BCS karena apabila
superkonduktor jenis II ini dijelaskan dengan teori BCS, efek Meissner nya tidak terjadi.
Abrisokov berhasil memformulasikan teori baru untuk menjelaskan superkonduktor jenis
II ini. Ia mendasarkan teorinya pada kerapatan pasangan elektron yang dinyatakan dalam
parameter keteraturan fungsi gelombang. Abrisokov dapat menunjukkan bahwa parameter
tersebut dapat mendeskripsikan pusaran (vortices) dan bagaimana medan magnet dapat
memenetrasi bahan sepanjang terowongan dalam pusaran-pusaran ini. Lebih lanjut ia pun
dengan secara mendetail dapat memprediksikan jumlah pusaran yang tumbuh seiring
meningkatnya medan magnet. Superkonduktor tipe II akan menolak medan magnet yang
diberikan. Namun perubahan sifat kemagnetan tidak tiba-tiba tetapi secara bertahap. Pada
suhu kritis, maka bahan akan kembali ke keadaan semula. Superkonduktor Tipe II memiliki
suhu kritis yang lebih tinggi dari superkonduktor tipe I.
Contohnya kombinasi unsur molybdenum (Mo), niobium (Nb), timah (Sn), vanadium (V),
germanium (Ge), indium (In) atau galium (Ga).
Nama : Rahayu Windasari
NPM : 1706104584
Absen : 17

Medan Magnet Kritis

Medan magnet kritis adalah batas kuatnya medan magnet sehingga bahan superkonduktor
memiliki medan magnet. Tinggi rendahnya suhu transisi Tc dipengaruhi banyak faktor. Seperti
tekanan yang dapat menurunkan titik beku air, suhu kritik superkonduktor juga bisa turun dengan
hadirnya medan magnet yang cukup kuat. Kuat medan magnet yang menentukan harga Tc ini
disebut medan kritis (Hc). Medan kritisnya ini dapat dinyatakan dengan persamaan :

Hc(T) = Hc (0) [ 1 - (T/Tc)2 ]

Hc (0) adalah harga maksimum Hc yaitu harga pada suhu 0 K. Medan kritis ini tidak harus
berasal dari luar, tapi juga bisa ditimbulkan oleh medan internal, yaitu jika ia diberi aliran arus
listrik. Untuk superkonduktor berbentuk kawat beradius r, arus kritisnya dinyatakan oleh aturan
Silsbee :

Ic = 2 π . r . Hc

Jadi pada suhu tertentu ( T < Tc ) , bahan superkonduktor memiliki ketahanan yang terbatas
terhadap medan magnet dari luar dan arus listrik yang bisa diangkutnya. Kalau harga-harga kritis
ini dilampaui, sifat superkonduktor bahan akan lenyap dengan sendirinya.

Aplikasi superkonduktor dalam bidang tenaga listrik

1. Generator superkonduktor
Kapasitas daya dari mesin listrik adalah fungsi dari tegangan, arus, dan beda fasa antar
keduanya. Besar tegangan ditentukan oleh laju pemotongan fluksi terhadap konduktor,
sedangkan arus dibatasi oleh disipasi ohmic pada belitannya. Superkonduktor
memungkinkan pertambahan nilai bagi keduanya, nilai rapat fluksi maupun kemampuan
menghantarkan arus dengan rugi-rugi ohmic yang kecil. Dengan demikian, generator
superkonduktor mempunyai dimensi lebih kecil, lebih ringan dan efisien. Generator
bekerja sesuai prinsip pada umumnya. Pada generator ini, lilitan medan dibuat
superkonduktif dengan mengalirkan helium cair untuk menurunkan temperature bahan
superkonduktor pada lilitan tersebut, sedangkan lilitan jangkar tetap dibuat pada
temperature kamar.
Nama : Rahayu Windasari
NPM : 1706104584
Absen : 17

2. Transformator superkonduktor
Transformator superkonduktor tidak memiliki bagian yang bergerak, sehingga sistem
pendinginannya maupun sistem isolasi termalnya menjadi lebih mudah. Kekurangannya,
pemindahan daya listrik dari lilitan primer ke lilitan sekunder terjadi secara magnetis
sehingga rapat fluksi magnetik yang diperlukan besar sekali, sehingga :
- Tetap diperlukan inti dari bahan magnetik. Saat pendinginan, kemampuan menampung
rapat fluksi bahan inti malah berkurang, bahan cepat jenuh, rugi-rugi histeristis
membesar. Keadaan ini menyebabkan inti besi harus tetap dijaga pada temperature
kamar, sehingga desain pendinginan menjadi sulit.
- Penetrasi fluksi ke bawah permukaan konduktor mengakibatkan rugi-rugi arus Eddy
dan arus yang tidak merata.

3. Kabel superkonduktor
Energi listrik tidak akan mengalami disipasi karena hambatan pada bahan superkonduktor
bernilai nol. Maka penggunaan energi listrik akan semakin hemat. Salah satu jenisnya
adalah kabel kriogenik. Kabel ini merupakan bentuk pengembangan kabel bawah tanah,
dengan meningkatkan kapasitas penyaluran daya dengan jalan memberikan pendinginan.
Perbedaannya terletak pada cairan pendinginnya, yaitu cairan kriogenik yang mempunyai
kemampuan pendinginan lebih baik sehingga kemampuan hantar arusnya meningkat.
Cairan kriogenik yang digunakan adalah helium, hidrogen,dan nitrogen. Kabel kriogenik
mempunyai volume yang kecil dan dapat menghantarkan arus yang sangat besar serta
dengan rugi-rugi hantaran yang sangat kecil.
Kabel kriogenik terbagi dalam 2 jenis, yaitu :
- Jenis superkonduktif dengan resistivitas mendekati nol
- Jenis krio-resistif

Referensi :

Setiabudy, Rudy. 2007. Material Teknik Listrik. Jakarta: UI Press.

Pikatan, Sugata. 1989. Kristal no.3 (diakses pada 26 May 2018, 14:34:30)
https://www.scribd.com/document/51454595/MENGENAL-SUPERKONDUKTOR