Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

DM DENGAN KOMPLIKASI NEUROPATI

Disusun Oleh :

Dewi Puspita Sari NIM: PO.62.20.1.16.131


Diah AyuMulyani NIM: PO.62.20.1.16.132
Ernawati NIM: PO.62.20.1.16.138
Krisdayanti NIM: PO.62.20.1.16.149
M.Dilah Rasit NIM: PO.62.20.1.16.152
Tria Wulandary NIM: PO.62.20.1.16.164

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA TERAPAN

KELAS REGULER III

2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan :DM Dengan Komplikasi Neuropati

Sasaran : Penderita DM dengan komplikasi

Tempat :

Hari/Tanggal : November 2019

Waktu : 1 x 30 menit

Penyuluh : Mahasiswa Dipolma IV Keperawatan Poltekkes Palangka


Raya

I. TUJUAN
A. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan, masyarakat memahami
tentang Diabetes Melitus Dengan Komplikasi neuropati.

B. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan masyarakat diharapkan
mampu:
1. Menyebutkan pengertian Diabetes Melitus dengan Komplikasi
neuropati
2. Menyebutkan penyebab Diabetes Melitus dengan Komplikasi
neuropati
3. Mengetahui tanda dan gejala Diabetes Melitus dengan Komplikasi
neuropati
4. Mengetahui pencegahan Diabetes Melitus dengan Komplikasi
neuropati
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostik DM dengan komplikasi
neuropati
6. Mengetahui penanganan DM dengan komplikasi neuropati
II. SASARAN
Penderita DM dengan komplikasi

III. MATERI
(Terlampir)

IV. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

V. ALAT & MEDIA


1. Alat
Alat yang digunakan dalam Penyuluhan Kesehatan ini adalah:
a. LCD
b. Laptop
c. Proyektor
d. Mikrofon
e. Meja
f. Kursi
g. Speaker

2. Media
Media yang digunakan dalam Penyuluhan Kesehatan ini adalah:

a. Leaflet
b. Slide
VI. KEGIATAN PENYULUHAN

No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta

1. 3 Pembukaan :

Menit  Membuka kegiatan dengan  Menjawab salam


mengucapkan salam.
 Memperkenalkan diri
 Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari
 Memperhatikan
penyuluhan
 Menyebutkan materi yang akan
diberikan  Memperhatikan
2. 15 Pelaksanaan :

Menit  Menggali pengetahuan peserta  Memperhatikan

tentang DM dan
komplikasinya  Memperhatikan

 Menjelaskan pengertian DM
dengan komplikasi neuropati  Bertanya dan

 Menyebutkan penyebab menjawab

terjadinya DM dengan pertanyaan yang

komplikasi neuropati diajukan

 Menyebutkan tanda dan gejala  Memperhatikan

 Menjelaskan pencegahan DM  Bertanya dan

dengan komplikasi neuropati menjawab

 Menjelaskan pemeriksaan pertanyaan yang

penunjang diajukan

 Menjelaskan penatalaksanaan

3. 10 Evaluasi :

Menit  Menanyakan kepada peserta  Menjawab


tentang materi yang telah pertanyaan
diberikan, dan reinforcement
kepada masyarakat yang dapat
menjawab pertanyaan.
4. 2 Terminasi :

Menit  Mengucapkan terimakasih atas  Mendengarkan


peran serta peserta.
 Mengucapkan salam penutup
 Menjawab salam

VII. PENGORGANISASIAN
Pamateri : Mahasiswa D IV Keperawatan

VIII. EVALUASI
1. Prosedur: Pre test dan post test
2. Jenis Test: Lisan
3. Butir Soal:
a. Jelaskan pengertian DM dengan komplikasi neuropati!
b. Jelaskan penyebab terjadinya DM dengan komplikasi neuropati!
c. Sebutkan tanda dan gejala DM dengan komplikasi neuropsti !
d. Sebutkan pencegahan DM dengan komplikasi neuropati!
e. Sebutkan pemeriksaan penunjang DM dengan komplikasi
neuropati !
f. Sebutkan penatalaksanaan DM dengan komplikasi neuropati!
LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian
Defenisi neuropati diabetika adalah adanya gejala dan / atau tanda
dari disfungsi saraf perifer dari penderita diabetes tanpa ada penyebab lain
selain diabetes. ( Sjahrir, 2006 ; Boulton dkk, 2005 )
Neuropati diabetik adalah adanya gejala dan atau tanda dari
disfungsi saraf penderita diabetes tanpa ada penyebab lain selain Diabetes
Melitus (DM) (setelah dilakukan eksklusi penyebab lainnya) (Sjahrir,
2006). Apabila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil
diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak dinding
pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi
kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik (Tandra, 2007).

B. Etiologi

Neuropati diabetik disebabkan oleh gabungan dari beberapa faktor.


Faktor yang paling berperan pada gangguan saraf ini adalah kadar gula
darah yang tinggi dalam waktu lama yang membuat dinding pembuluh
darah (kapiler) menjadi lemah sehingga tidak bisa memberi asupan
oksigen dan gizi pada saraf. Pada akhirnya, sel saraf menjadi rusak.

Sedangkan faktor lain yang berperan dalam neuropati diabetik


adalah faktor genetik, peradangan saraf yang disebabkan oleh respon
autoimun, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok, yang
menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah.

C. Tanda Dan Gejala


Gejala bergantung pada tipe neuropati dan saraf yang terlibat.
Gejala bisa tidak dijumpai pada beberapa orang. Kesemutan, tingling atau
nyeri pada kaki sering merupakan gejala pertama. Gejala bisa melibatkan
sistem saraf sensoris, motorik atau otonom. (Dyck & Windebank, 2002)
a. Neuropati perifer
Neuropati Perifer merupakan kerusakan saraf pada lengan dan
tungkai. Biasanya terjadi terlebih dahulu pada kaki dan tungkai
dibandingkan pada tangan dan lengan. Gejala neuropati perifer
meliputi:
1. Mati rasa atau tidak sensitif terhadap nyeri atau suhu
2. Perasaan kesemutan, terbakar, atau tertusuk-tusuk
3. Nyeri yang tajam atau kram
4. Terlalu sensitif terhadap tekanan bahkan tekanan ringan
5. Kehilangan keseimbangan serta koordinasi

Gejala-gejala tersebut sering bertambah parah pada malam hari.


Neuropati perifer dapat menyebabkan kelemahan otot dan hilangnya
refleks, terutama pada pergelangan kaki. Hal itu mengakibatkan perubahan
cara berjalan dan perubahan bentuk kaki, seperti hammertoes. Akibat
adanya penekanan atau luka pada daerah yang mengalami mati rasa, sering
timbul ulkus pada kaki penderita neuropati diabetik perifer. Jika tidak
ditangani secara tepat, maka dapat terjadi infeksi yang menyebar hingga
ke tulang sehingga harus diamputasi.

b. Neuropati autonom
Neuropati autonom adalah kerusakan pada saraf yang mengendalikan
fungsi jantung, mengatur tekanan darah dan kadar gula darah. Selain
itu, neuropati autonom juga terjadi pada organ dalam lain sehingga
menyebabkan masalah pencernaan, fungsi pernapasan, berkemih,
respon seksual, dan penglihatan.
c. Neuropati proksimal
Neuropati proksimal dapat menyebabkan rasa nyeri di paha, pinggul,
pantat dan dapat menimbulkan kelemahan pada tungkai.
d. Neuropati fokal
Neuropati fokal dapat menyebabkan kelemahan mendadak pada satu
atau sekelompok saraf, sehingga akan terjadi kelemahan pada otot
atau dapat pula menyebabkan rasa nyeri. Saraf manapun pada bagian
tubuh dapat terkena, contohnya pada mata, otot-otot wajah, telinga,
panggul dan pinggang bawah, paha, tungkai, dan kaki.
D. Faktor Risiko
Faktor resiko terjadinya neuropati diabetika adalah : ( Duby, 2004 )
1. Hiperglikemi
2. Lamanya menderita DM
3. Umur
4. Merokok
5. Konsumsi alkohol
6. Hipertensi
7. Hipokolestrolemia
E. Pencegahan
Cara utama untuk mencegah neuropati diabetik adalah mencegah diabetes,
yaitu dengan:
1. Mengonsumsi makanan rendah kalori dan lemak, serta tinggi serat,
seperti buah dan sayur.
2. Rutin berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari, misalnya
jogging, berenang, atau bersepeda.
3. Mengurangi berat badan bila Anda mengalami berat badan berlebih.
Untuk penderita diabetes, pencegahan neuropati diabetik dan
komplikasinya dapat dilakukan dengan:
1. Rutin mengontrol kadar gula darah.
2. Menjaga kaki tetap bersih dan tidak kering.
3. Tidak berjalan dengan bertelanjang kaki, sekalipun di dalam rumah.
4. Mengenakan sepatu yang pas dan nyaman.
5. Memeriksa kaki setiap hari, dan segera ke dokter bila terdapat luka di
kaki.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Konsensus San Antonio
Penegakan neuropati diabetik dapat ditegakkan berdasarkan
konsensus San Antonio. Pada konsensus tersebut telah
direkomendasikan bahwa paling sedikit 1 dari 5 kriteria dibawah ini
dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis neuropati diabetika, yani:
a. Symptom scoring;
b. Physical examination scoring;
c. Quantitative Sensory Testing (QST)
d. Cardiovascular Autonomic Function Testing (cAFT)
e. Electro-diagnostic Studies (EDS).
2. Diabetic Neuropathy Examination (DNE)
Alat ini mempunyai sensitivitas sebesar 96% dan spesifisitas sebesar
51%. Skor Diabetic Neuropathy Examination (DNE) adalah sebuah
sistem skor untuk mendiagnosa polineuropati distal pada diabetes
melitus. DNE adalah sistem skor yang sensitif dan telah divalidasi
dengan baik dan dapat dilakukan secara cepat dan mudah di praktek
klinik. Skor DNE terdiri dari 8 item, yaitu: A) Kekuatan otot: (1)
quadrisep femoris (ekstensi sendi lutut); (2) tibialis anterior
(dorsofleksi kaki). B) Relfeks: (3) trisep surae/ tendo achiles. C)
Sensibilitas jari telunjuk: (4) sensitivitas terhadap tusukan jarum. D)
Sensibilitas ibujari kaki: (5) sensitivitas terhadap tusukan jarum; (6)
sensitivitas terhadap sentuhan; (7) persepsi getar ; dan (8) sensitivitas
terhadap posisi sendi.
Skor 0 adalah normal; skor 1: defisit ringan atau sedang (kekuatan
otot 3-4, refleks dan sensitivitas menurun); skor 2: defisit berat
(kekuatan otot 0-2, refleks dari sensitivitas negatif/ tidak ada). Nilai
maksimal dari 4 macam pemeriksaan tersebut diatas adalah 16.
Sedangkan kriteria diagnostik untuk neuropati bila nilai > 3 dari 16
nilai tersebut.
3. Skor Diabetic Neuropathy Symptoms (DNS)
Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) merupakan 4 poin yang bernilai
untuk skor gejala dengan prediksi nilai yang tinggi untuk menyaring
polineuropati pada diabetes. Gejala jalan tidak stabil, nyeri neuropatik,
parastesi atau rasa tebal. Satu gejala dinilai skor 1, maksimum skor 4.
Skor 1 atau lebih diterjemahkan sebagai positif polineuropati diabetik.
4. Pemeriksaan Elektrodiagnostik
Elektromiografi (EMG) adalah pemeriksaan elektrodiagnosis untuk
memeriksa saraf perifer dan otot. Pemeriksaan EMG adalah obyektif,
tak tergantung input penderita dan tak ada bias. EMG dapat memberi
informasi kuantitatif funsi saraf yang dapat dipercaya. EMG dapat
mengetahui denervasi parsial pada otot kaki sebagai tanda dini
neuropati diabetik.
5. Visual Analoque Scale (VAS)
Banyak metode yang lazim diperkenalkan untuk menentukan derajat
nyeri , salah satunya adalah Visual Analoque Scale (VAS). Skala ini
hanya mengukur intensitas nyeri seseorang.
G. Penatalaksanaan
Langkah manajemen terhadap pasien adalah untuk menghentikan
progresifitas rusaknya serabut saraf dengan kontrol kadar gula darah
secara baik. Mempertahankan kontrol glukosa darah ketat, HbA1c,
tekanan darah, dan lipids dengan terapi farmakologis dan perubahan pola
hidup. Komponen manajemen diabetes lain yaitu perawatan kaki, pasien
harus diajar untuk memeriksa kaki mereka secara teratur (Sjahrir, 2006).
DAFTAR PUSTAKA

Duby, et all. Diabetic neuropaty : an intensive review, Am J Health – syst Pharm . 2004 : 61
(12 ); 160 -176
Boulton , et al . Diabetic Somatic Neuropathies. Diabetes Care. 2004 : 27 ; 1458 – 1486.
Aring, et all. Evaluation an Prevention of Diabetic Neuropathy. Am Fam Physician . 2005 :
71 ; 2123 - 2128
Mendel JR, Sahenk Z. Painful S ensory Neuropathy. N Engl J Med. 2003: 384 ; 1243 -1255
Burgos AO. Autonomic Function Test. Clinical Application and Examples. Internal
Medicine. 2006
Chowdhury D. Approach to a Case of Autonomic
Peripheral Neuropathy. Japi. 2006 : 54
Vinik. Recognizing and treating diabetic autonomic
neuropathy. Cleveland Clinic Journal Of Medicine. 2001 ; 929