Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI

PRAKTEK PENGELANTANGAN II

Praktek 1
Proses Hilang Kanji dan Pemasakan Pada Kain Rayon Viskosa Secara Perendaman

NAMA : ABED ROZAQ


NIM : 184001

Program Study Kimia Tekstil

AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA


2019
A. TUJUAN PRAKTEK
1. Menghilangkan kanji pati pada kain rayon viskosa dengan menggunakan enzim.
2. Menghilangkan kotoran luar pada kain rayon viskosa, sehingga diperoleh kain yang
bersih.

B. DASAR TEORI
Proses pengelantangan serat-serat buatan (sintetis) dan campurannya meliputi
proses-proses persiapan penyempurnaan pada serat rayon, polyester, campuran
polyester-kapas (T/C) dan campuran polyester-rayon viskosa (T/R). Seperti halnya
pengerjaan proses persiapan pada serat-serat alam, maka serat-serat buatan dan
campuran perlu pula dilakukan proses-proses seperti: Hilang kanji (Desizing),
Pemasakan (Scouring) dan Pengelantangan (Bleaching). Ketiga proses tersebut
dilakukan terutama untuk serat-serat tekstil yang nantinya akan diproses pencelupan,
pencapan maupun penyempurnaan khusus/finish good. Khusus pengerjaan dengan
sisitem semi kontinyu maupun kontinyu maka untuk serat sintetis yang bahan dasarnya
bukan dari alam ditambah satu proses lagi yaitu heat setting (panas pemantapan). Untuk
praktek kali ini serat rayon viskosa hanya diproses hilang kanji dan pemasakan saja.

Hilang Kanji (Desizing)


Penganjian adalah proses yang dilakukan dengan tujuan untuk menambah
kekuatan bahan dalam menahan gesekan-gesekan yang terjadi selama proses
pertenunan. Kanji yang tidak dihilangkan dapat menghalang penyerapan zat-zat pada
proses pencelupan, pencapan, dan penyempurnaan. Pada saat ini kecepatan mesin-
mesin modern makin meningkat untuk seluruh tahappengerjaan kapas, hal ini
mengekibatkan fiksi dan abrasi menjadi permasalahan yang besar. Oleh karena itu
penggunaan kanji untuk proses pertenunan makin banyak untuk menghindari hal-hal
tersebut. Penambahan kanji dapat diberikan sampai 20% dari berat bahan, beragamnya
jenis, macam dan jumlah kanji yang diberikan merupakan masalah bagi proses
penghilangan kanji.

Semakin majemuknya penggunaan zat-zat yang digunakan untuk proses tekstil


ini maka cara dan metode yang digunakan menjadi makin bervariasi, sehingga
diberikan suatu tinjauan khusus untuk hal-hal tersebut.

Proses penghilangan kanji bertujuan untuk menghilangkan kanji yang terdapat


pada benang lusi yang semula penting untuk proses pertenunan. Sebagian besar kanji
akan dapat dihilangkan dengan pencucian setelah penggelembungan, sebagian yang
lain memerlukan enzim untuk pemecah rantai molekul kanji. Sebelum proses
penghilangan kanji perlu diketahui terlebih dahulu jenis kanji dan jenis serat yang
digunakan, karena jenis serat dan jenis kanji akan mempengaruhi proses dan zat-zat
yang akan digunakan nantinya. Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi kanji, antara
lain:
- Test Kalium Iodida (KI) untuk menunjukkan kanji pati.
- Tes dengan menggunakan larutan Biru Methylen untuk menunjukkan kanji
CMC.
- Dabbing test untuk menunjukkan kanji PVA

Penghilangan kanji yang terbuat dari serat regenerasi selulosa dilakukan seperti
yang dikerjakan pada kain kapas, disesuaikan dengan jenis kanji yang digunakan.
Apabila penganjian pada benang lusi digunakan kanji alam, proses penghilangan
kanjinya yang terbaik adalah menggunakan enzim, karena pengerjaannya mudah dan
aman. Sedangkan apabila digunakan kanji sintetis cara penghilangan kanjinya dapat
dilakukan dengan bantuan sabun atau detergen panas atau menggunkan zat-zat
oksidator seperti persulfate, peroksida dan sebagainya.

Umumnya penganjian benang lusi dari serat sintetis dan campuran menggunakan
kanji-kanji sintetis atau campuran dari pada kanji sintetis, semi sintetis dan alam. Hasil
penganjian menggunakan kanji sintetis lebih baik dari pada menggunakan kanji alam,
selain itu cara penghilangannya dari bahan tekstil juga lebih mudah. Namun perlu
diketahui bahwa harga kanji sintetis jauh lebih mahal disbanding dengan kanji alam.

Kanji-kanji sintetis yang sering digunakan untuk proses penganjian serat sintetis
dan campuran adalah: Kanji Polyester, PVA (Polyvinil Alkohol), CMC (Carboxyl
Methyl Cellulosa) dan Akrilik. Daya rekat dari pada kanji sintetis lebih baik disbanding
dengan kanji alam dan penghilangan kanjinya lebih mudah, dimana umumnya
menggunakan :
1. Air panas atau detergen (Tenside Desizing)
Penghilangan kanji dengan air panas atau detergen digunakan untuk kanji
sintetis yang mudah larut. Penghilangan kanji dengan cara ini bisa dilakukan
bersama-sama dengan proses pemasakan.
2. Oksidator
Penghilangan kanji dengan oksidator ini digunakan untuk kanji-kanji yang
sukar larut. Oksidator yang erring digunakan: H2O2 dan garam dari asam caro
(H2SO)
Adapun karakteristik dan pengggolongan kanji berdasaarkan asalnya adalah
sebagai berikut :
Tabel 1. Karakteristik Kanji

Karakteristik Zat Penghilang Kanji Jenis Kanji


Mudah didegradasi Enzim Starch
Oksidator Modifikasi strach
Larut dalam air Penggelembungan Akrilat, PVA, CMC
Spec; modifikasi starch
Tahan air Netralisasi dan dispersi Spec; modifikasi
akrilat/PES
(Sumber: Lubis, 1995)
Penggolongan kanji berdasarkan bahan pembentuk (asalnya)

Kanji Alam
- Tepung kanji : kentang, jagung, gandum, beras,sagu, tapioca
- Resin
- Gums : gum arab
senegal gum tragacanth : galactomannans
locust bean gum
- Moos dan algae

Kanji Modifikasi
- Pektin
- Turunan tepung kanji : tepung kanj yang larut dalam air
gum inggris
tepung kanji eter : tepung kanji hidroetil
tepung kanji hidropropil.
tepung kanj iester : tepung kanji karboksimetil
tepung kanj pospat
starch karbamat
- Turunan selulosa : ester selulosa : karboksimetil
metil selulosa
Binatang
- Glue
- Gelatin
- Casein
Sintetik
- Polivinil : saponifikasi polivinil asetat parsial
saponifikasi polivinil asetat parsial dengan asam
kroton
kopolimers dengan vinil asetat
- Poliakrilat : dengan asam akrilat
dengan asam metakrilat
dengan ester asam akrilat
dengan akrilonitril + ester asam akrilat
- Kopolimer : dengan stirene
asam maleic dengan etil vinil eter
dengan butandina
- Kopolimer : dengan asam isophtalic
polietilena glikol
(Sumber: Lubis, 1995)
Pemasakan (Scouring)
Tujuan pemasakan pada serat-serat sintetis dan campuran adalah menghilangkan
zat-zat yang ditambahkan pada serat saat proses pembuatan benang atau pada
pertenunan. Zat-zat tersebut misalnya: zat pelemas, zat anti statik, sisa kanji dan
sebagainya. Demikian juga tegangan-tegangan yang dialami benang pada pemintalan,
pertenunan dan perajutan perlu dihilangkan. Pemasakan serat rayon seperti halnya
semua serat buatan, bahan-bahan yang menyebabkan kotoran serat, dapat dihilangkan
dengan pencucian ringan. Pada pemasakan serat rayon ini, disamping menghilangkan
zat-zat yang ditambahkan/menempel kemudian, juga dapat menghilangkan kanji yang
diberikan pada benang lusi.

Proses pemasakan serat sintetik merupakan proses pendispersian kotoran-kotoran


yang menempel pada serat dengan menggunakan sabun sebagai zat pemasaknya. Proses
ini bisa dilakukan bersama-sama proses hilang kanji.

Serat rayon viskosa dapat dimasak menggunakan larutan detergen non-ionik atau
anionic sebanyak 1-1,5 gr/L dengan menambahkan alkali lemah 1 gr/L pada suhu
mendidih atau hamper mendidih selama 20-30 menit. Penggunaan ammonia dan suhu
yang rendah ini diperlukan untuk menghindarkan terhidrolisanya gugus asetil dari serat.

Ditinjau dari metode yang digunakan, proses pemasakan dapat dilakukan dengan
cara kontinyu (contohnya pemasakan dengan mesin Padd Roll Artos dan Roller Bed)
semi kontinyu maupun tidak kontinyu (contohnya pemasakan dengan bak, mesin
Jigger, mesin Haspel, mesin Clapau, mesin Kier Ketel) tergantung pada mesin yang
tersedia. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah hubungan antara waktu reaksi,
suhu dan konsentrasi alkali.

Sedangkan ditinjau dari tekanan mesin yang digunakan, proses pemasakn dibagi
menjadi 2 macam, yaitu pemasakan tanpa tekanan misalnya menggunakan mesin
Jigger,Haspel, Clapbau, J-Box, dan L-Box dan pemasakan dengan tekanan, misalnya
menggunakan mesin Kier Ketel dan Jigger Tertutup.

Detergent
Detergent adalah garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari natrium
(RSO3-Na+ dan ROSO3-Na+)
1. Adalah sulfaktan anionic berupa garam alkali (Na) dari Sulfonat atau Sulfat
yang berantai panjang (alifatik/aromatik)
2. Detergent yang pertama kali digunakan adalah P-Alkilbenzenasulfonat
(dengan gugus alkil yang sangat bercabang) sifat tidak biodegradabel.
3. Tahun 1965 dibuat detergent biodegradabel diantaranya :

CH3(CH2)11 O SO3-Na+ CH3(CH2)11OSO3-Na+


Natrium P-Dodesilbenzena Sulfonat Natrium Lauril Sulfat
4. Detergen yang dibuat dalam bentuk puder, terdiri atas :
40% bahan aktif
60% sisanya terdiri atas :
a. ZP. Optik
b. Builders (menambah daya pembersih)
Na – Tripoly Fosfat
Tetra Na Piro Sulfat
c. Filler (menambah kekuatan pembentuk suspensi dan mencegah kotoran
mengendap kembali)
Na – Karboksil Metil Sellulosa
d. Na2SiO3 (mengurangi sifat korosit terhadap mesin cuci dari alumunium)

Contoh detergent
1. Na Lauril Alfat, CH3 - (CH2)10 – CH2OSO3 – Na
2. Alkil Aril Sulfonat, R O SO3Na
Keunggulan dari detergent adalah tidak mengendap pada air sadah/mengandung logam
2C17H35OSO3Na + Ca (HCO3)2 (C17H35OSO3)2Ca + 2NaHCO3
Sabun dan detergent dikelompokkan berdasarkan muatannya :
1. Anionik : sabun/detergent yang gugus liofobnya mempunyai muatan negatif berupa
gugus COO-, SO32-, SO42-
2. Kationik : sabun/detergent yang gugus liofobnya mempunyai muatan positif berupa
gugus NH2+, NH4+
3. Nonionik : sabun/detergen yang gugus liofobnya tidak mempunyai muatan (bersifat
netral)

C. ALAT dan BAHAN


Alat : Bahan :
1. Mesin jigger 1. Kain rayon viskosa
2. Timbangan analitik 2. Rapidese
3. Beker glass 3. Pembasah
4. Kompor gas 4. Na2CO3
5. Pengaduk 5.Squester – T
6. Pipet ukur, dll 6. Detergent

D. PROSEDUR dan PEMBUATAN BAHAN PRAKTEK


 R1 / Hilang Kanji
- Rapidese = 1 Cc/L
- Pembasah = 1 Cc/L
- Suhu = 60 – 70oC
- Waktu = 30 menit
- Vlot = Buat 4 L

 R2 / Pemasakan
- Na2CO3 = 3 gr/L
- Pembasah = 1 Cc/L
- Squester – T = 0,5 gr/L
- Suhu = 85oC
- Waktu = 60 menit
- Vlot = Buat 4 L
 R3 / Pemasakan
- Detergent = 3 gr/L
- Squester – T = 0,5 gr/L
- Suhu = 80oC
- Waktu = 60 menit
- Vlot = Buat 4 L
 R4 / Pencucian Panas
- Suhu = 70 – 80oC
- Waktu = 10 menit
- Vlot =4L

Perhitungan :
Berat bahan = 73,483 gr 73,5 gr
 R1 / Hilang Kanji
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟 4000 𝐶𝑐
1. Vlot = =
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 73,5 𝑔𝑟
= 1 : 54
2. Rapidese = 1 Cc/L x 4 L
= 4 Cc
3. Pembasah = 1 Cc/L x 4 L
= 4 Cc
 R3 / Pemasakan
Pada praktek kali ini saya melakukan proses pemasakan dengan menggunakan
detergen.
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟 4000 𝐶𝑐
1. Vlot = =
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 73,5 𝑔𝑟
= 1 : 54
2. Detergent = 3 gr/L x 4 L
= 12 gr
3. Squester – T = 0,5 gr/L x 4 L
= 2 gr

E. FUNGSI ZAT BANTU dan ZAT KIMIA


1. Rapidese : Untuk memecah kanji pati menjadi glukosa / maltosa.
2. Pembasah : Sebagai zat aktif permukaan. Untuk menurunkan tegangan antar muka
pada kain dan larutan proses sehingga kain mudah menyerap larutan proses.
3. Squester – T : Untuk mengikat ion – ion logam berat yang ada di dalam air, sehingga
tidak mengganggu berlangsungnya proses.
4. Na2CO3 : Sebagai zat pemasak pada kain rayon viskosa dengan cara menghidrolisa
kotoran agar larut di dalam air.
5. Detergent : Sebagai zat pemasak pada kain rayon viskosa dengan cara mengangkat,
mendispersi, mengemulsi kotoran dan untuk menghilangkan kotoran luar pada kain
rayon viskosa.

F. PROSEDUR / CARA PRAKTEK


Proses Hilang Kanji (enzim) :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian timbang kain yang akan
dilakukan proses hilang kanji menggunakan timbangan analitik kemudian catat
hasilnya.
2. Tes kain menggunakan larutan KI dan larutan Biru Methylen, pastikan kanji sudah
hilang. Jika ditetesi dengan larutan KI kain berwarna biru kehitaman, menunjukkan
bahwa ada kanji pati. Jika ditetesi dengan larutan Biru Methylen kain berwarna biru
merata, menunjukkan bahwa tidak ada kanji CMC.
3. Jahit kedua sisi kain masing-masing dengan plastik yang nantinya untuk dikaitkan
pada roll mesin jigger agar kain dapat terendam oleh larutan zat yang digunakan.
4. Pastikan alat dalam keadaan bersih dan cuci menggunakan sabun sebelum
menggunakanya. Pasang kain pada roll mesin jigger dengan mengaitkan masing-
masing ujungnya pada roll mesin jigger dengan dilewatkan roll yang bawah agar
terendam oleh larutan zat.
5. Setelah itu ambil air sebanyak 3 L kemudian masukkan pada mesin jigger. Ambil
lagi 1 L air untuk dimasukkan ke dalam beker glass. Perhatikan minikus permukaan
zat cair.
6. Ambil pembasah sebanyak 4 Cc menggunakan pipet ukur sesuai yang dibutuhkan.
Perhatikan minikus permukaan zat cair lalu masukkan ke dalam beker glass dan
aduk menggunakan pengaduk hingga tercampur merata.
7. Ambil repidese sebanyak 4 Cc menggunakan pipet ukur sesuai yang dibutuhkan.
Perhatikan minikus permukaan zat cair lalu masukkan ke dalam beker glass dan
aduk kembali menggunakan pengaduk hingga tercampur merata. Kemudian
masukkan ke mesin jigger.
8. Nyalakan kompor, sembari menunggu suhu nya (60-70oC) mesin jigger dinyalakan
dan dioperasikan dengan menggeser tuasnya agar kain dapat tergulung pada roll
depan dan roll belakang. Setelah suhu yang di inginkan sudah tercapai maka hitung
waktu selama 30 menit. Perhatikan selalu suhunya agar tidak kurang dari 60oC dan
lebih dari 70oC.
9. Selanjutnya jika sudah selesai. Matikan mesin dan buang larutan dengan membuka
kran yang ada di bawah mesin jigger.Bilas mesin jigger dengan sedikit air agar sisa-
sisa larutan pada dasar mesin dapat terbuang semua.
10. Tutup kembali kran lalu dilanjutkan dengan proses pencucian panas dan bilas.
- Pencucian panas : Ambil air sebanyak 4 L, perhatikan minikus permukaan
zat cair. Kemudian masukkan pada mesin jigger. Nyalakan mesin jigger dan
operasikan seperti tadi dengan suhu 70-80oC selama 10 menit. Selanjutnya
jika sudah selesai. Matikan mesin dan buang larutan dengan membuka kran
yang ada di bawah mesin jigger. Bilas mesin jigger dengan sedikit air agar
sisa-sisa larutan pada dasar mesin dapat terbuang semua. Tutup kembali
kran lalu dilanjutkan dengan proses pencucian sabun.
- Bilas : Ambil air sebanyak 4 L, perhatikan minikus permukaan zat cair.
Kemudian masukkan pada mesin jigger. Nyalakan mesin jigger dan
operasikan seperti tadi selama 5 menit. Selanjutnya jika sudah selesai.
Matikan mesin dan buang larutan dengan membuka kran yang ada di bawah
mesin jigger. Bilas mesin jigger dengan sedikit air agar sisa-sisa larutan
pada dasar mesin dapat terbuang semua. Tutup kembali kran lalu
dilanjutkan dengan proses pemasakan.

Proses Pemasakan (detergent)


1. Setelah itu ambil air sebanyak 3 L kemudian masukkan pada mesin jigger. Ambil
lagi 1 L air untuk dimasukkan ke dalam beker glass. Perhatikan minikus
permukaan zat cair.
2. Ambil detergent sebanyak 12 gr sesuai yang dibutuhkan menggunakan timbangan
analitik lalu masukkan ke dalam beker glass dan aduk hingga tercampur merata.
3. Ambil squester-T sebanyak 2 gr sesuai yang dibutuhkan menggunakan timbangan
analitik lalu masukkan ke dalam beker glass dan aduk menggunakan pengaduk
hingga tercampur merata.
4. Lalu masukkan ke dalam mesin jigger, nyalakan mesin dan operasikan mesin
jiggernya hingga suhu mencapai 80oC. Setelah suhu yang di inginkan sudah
tercapai maka hitung waktu selama 60 menit.
5. Selanjutnya jika sudah selesai. Matikan mesin dan buang larutan dengan membuka
kran yang ada di bawah mesin jigger.Bilas mesin jigger dengan sedikit air agar
sisa-sisa larutan pada dasar mesin dapat terbuang semua.
6. Tutup kembali kran lalu dilanjutkan dengan proses pencucian panas dan bilas.
- Pencucian panas : Ambil air sebanyak 4 L, perhatikan minikus permukaan
zat cair. Kemudian masukkan pada mesin jigger. Nyalakan mesin jigger dan
operasikan seperti tadi dengan suhu 70-80oC selama 10 menit. Selanjutnya
jika sudah selesai. Matikan mesin dan buang larutan dengan membuka kran
yang ada di bawah mesin jigger. Bilas mesin jigger dengan sedikit air agar
sisa-sisa larutan pada dasar mesin dapat terbuang semua. Tutup kembali
kran lalu dilanjutkan dengan proses pencucian sabun.
- Bilas : Ambil air sebanyak 4 L, perhatikan minikus permukaan zat cair.
Kemudian masukkan pada mesin jigger. Nyalakan mesin jigger dan
operasikan seperti tadi selama 5 menit. Selanjutnya jika sudah selesai.
Matikan mesin dan buang larutan dengan membuka kran yang ada di bawah
mesin jigger. Bilas mesin jigger dengan sedikit air agar sisa-sisa larutan
pada dasar mesin dapat terbuang semua. Tutup kembali kran lalu lepas kain
dari mesin jigger.
7. Keringkan kain dengan sinar matahari lalu lakukan pengondisian dengan cara menaruh
kain dalam ruang lab ±2 jam, timbang berat bahan setelah dilakukan proses dan lakukan
evaluasi uji daya serap.
8. Evaluasi Uji daya serap.
- Potong kain dengan lebar searah benang lusi 10 cm dan panjang searah
benang pakan 2,5 cm. Kemudian garis lebarnya 1 cm untuk bagian yang
tercelup larutan dan 1 cm untuk menentukan berapa detik/cm larutan dapat
terserap.
- Potong sebanyak 7 biji.
- Kemudian siapkan beker glass yang sudah berisi larutan kapiler, lalu pegang
kain yang sudah dipotong tadi dengan 1 cm tercelup larutan sambal
menyalakan stopwatch dan ketika larutan tersebut menyentuh garis 1 cm
berikutnya ,berhentikan stopwatch, angkat kain, catat waktunya dan
seterusnya.
- Kemudian di rata-rata hasil waktu yang sudah diperoleh tersebut.
2,5 cm searah benang pakan

10 cm searah
benang lusi
1 cm

1 cm

G. FLOW PROSES
Timbang berat
Uji kanji pati dan CMC
Kain R.Viskosa Hilang kanji Pencucian
(suhu 60-70oC, t: 30’) - panas
. - bilas

Pengeringan Pencucian Pemasakan


. - panas (suhu 80oC, t: 60’)
. - bilas

Pengkondisian Evaluasi
(± 2 jam di lab) - Penurunan % berat
. - Daya serap
H. HASIL PRAKTEK
Tabel 1. Hasil Penurunan Berat
Penurunan Berat (%)
Nama Mahasiswa
dengan Na2CO3
1. Annisa.E.N – Erika.P 3,25 %
2. Lestari.S – Ajik Indras.L 3,54 %
Rata-rata 3,4 %
Penurunan Berat (%)
Nama Mahasiswa
dengan Detergen
3. Abed.R – Exa Exodus.S 4,16 %
4. Dhani.A.K – Hilbram.A 4,24 %
Rata-rata 4,2 %

% Penurunan Berat
𝐵𝐴−𝐵𝐾
Abed Rozaq = x 100 %
𝐵𝐴
73,483 𝑔𝑟 −70,422 𝑔𝑟
= x 100 %
73,483 𝑔𝑟
= 4,16 %

Tabel 2. Hasil Uji Daya Serap

Nama Mahasiswa det/cm


(dengan Na2CO3)
1. Annisa.E.N – Erika.P x = 6,15
2. Lestari.S – Ajik Indras.L x = 6,22
Rata-rata x = 6,18 det/cm
Nama Mahasiswa det/cm
(dengan Detergent)
3. Abed.R – Exa Exodus.S x = 4,54
4. Dhani.A.K – Hilbram.A x = 4,65
Rata-rata x = 4,6 det/cm

I. DISKUSI ANALISA

Proses penghilangan kanji bertujuan untuk menghilangkan kanji yang terdapat


pada benang lusi yang semula penting untuk proses pertenunan. Sebagian besar kanji
akan dapat dihilangkan dengan pencucian setelah penggelembungan, sebagian yang
lain memerlukan enzim untuk pemecah rantai molekul kanji. Sebelum proses
penghilangan kanji perlu diketahui terlebih dahulu jenis kanji dan jenis serat yang
digunakan, karena jenis serat dan jenis kanji akan mempengaruhi proses dan zat-zat
yang akan digunakan nantinya.
Tujuan pemasakan pada serat-serat sintetis dan campuran adalah menghilangkan
zat-zat yang ditambahkan pada serat saat proses pembuatan benang atau pada
pertenunan. Zat-zat tersebut misalnya: zat pelemas, zat anti statik, sisa kanji dan
sebagainya. Demikian juga tegangan-tegangan yang dialami benang pada pemintalan,
pertenunan dan perajutan perlu dihilangkan.

Proses pemasakan serat sintetik merupakan proses pendispersian kotoran-kotoran


yang menempel pada serat dengan menggunakan sabun sebagai zat pemasaknya. Proses
ini bisa dilakukan bersama-sama proses hilang kanji.

Dari hasil praktek diperoleh hasil yang berbeda-beda.


1. % Penurunan Berat
a. Dari praktek diatas cara pemasakan menggunakan Na2CO3 secara perendaman
memperoleh hasil penurunan berat rata-rata sebesar 3,4 %
b. Sedangkan cara pemasakan menggunakan detergen secara perendaman
memperoleh hasil penurunan berat rata-rata sebesar 4,2 %

Cara pertama (Na2CO3) memperoleh hasil yang kurang baik, karena mengalami
penurunan berat yang kecil dibandingkan dengan menggunakan detergent yaitu sebesar
3,4%. Karena Na2CO3 merupakan alkali lemah dan hanya mempunyai daya pelarutan
terhadap zat pelumas serta bisa bekerja karena adanya hidrolisa terhadap kotoran-
kotoran yang mengakibatkan proses pemasakan kurang optimal, sehingga
daya/kekuatan untuk menghidrolisa, menggelembungkan serat serta mengemulsi
kotoran pada serat lebih kecil yang mengakibatkan tidak sepenuhnya kotoran bisa
terangkat keluar (zat pelemas, zat anti statik, sisa kanji dan sebagainya) dan menjadikan
% penurunan berat tidak banyak.
Cara kedua (detergent) memperoleh hasil yang bagus, karena detergent
mempunyai banyak kelebihan, seperti:
- Mempunyai daya pembasah
- Mempunyai daya emulsi
- Mempunyai daya dispersi
- Mempunyai daya penarikan kotoran dari sub serat
Sehingga kotoran yang ada pada serat dapat tertarik keluar secara optimal dan
menjadikan penurunan berat menjadi lebih banyak dibanding dengan menggunakkan
Na2CO3.

2. Uji Daya Serap


a. Pada pemasakan menggunakan Ca2CO3 mempunyai daya serap yang kurang
baik, rata-rata sebesar 6,18 det/cm (perlu diuji terlebih dahulu sebelum
digunakan dalam proses pencelupan secara kontinyu), karena Ca2CO3
merupakan alkali lemah dan hanya mempunyai daya pelarutan terhadap zat
pelumas serta bisa bekerja karena adanya hidrolisa terhadap kotoran-kotoran
yang mengakibatkan proses pemasakan kurang optimal, sehingga
daya/kekuatan untuk menghidrolisa, menggelembungkan serat serta
mengemulsi kotoran pada serat lebih kecil yang mengakibatkan tidak
sepenuhnya kotoran bisa terangkat keluar dari kain dan menghalangi proses
penyerapan pada kain (proses penyerapan menjadi lambat).

b. Pada pemasakan menggunakan detergent mempunyai daya serap yang baik,


rata-rata sebesar 4,6 det/cm, karena detergent mempunyai daya pembasah, daya
emulsi, daya dispersi dan daya penarikan kotoran dari sub serat secara langsung
serta dapat mencegah kembalinya kotoran saat proses pemasakan sedang
berlangsung (kotoran tidak bisa kembali lagi ke dalam serat)
Detergent juga memiliki keunggulan tidak mengendap pada air
sadah/mengandung logam sehingga proses pemasakan dapat bekerja secara
optimal yang mengakibatkan banyaknya kotoran yang dapat dihilangkan. Jadi
% penurunan berat menjadi lebih besar dan menjadikan daya serap bagus.
Semakin banyaknya kotoran yang hilang, daya serapnya tinggi, karena proses
penyerapan tidak terhalangi oleh kotoran yang mempunyai sifat menghalangi
proses penyerapan (proses berhasil)

J. KESIMPULAN
1. Dari proses hilang kanji kain rayon viskosa menggunakan enzim memperoleh
hasil yang bagus.
2. Dari kedua zat pemasakan (scouring) serat rayon viskosa diperoleh hasil yang
berbeda.
3. Cara pemasakan (scouring) serat rayon viskosa menggunakan detergent diperoleh
hasil yang paling bagus dibanding dengan menggunakan Na2CO3

K. DAFTAR PUSTAKA
Sumber Referensi dari buku
Lubis, H. Arifin , Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung : STTT. 1994
Suprapto Agus, Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung : STTT. 2005
EVALUASI

Anda mungkin juga menyukai