Anda di halaman 1dari 8

PRA PROPOSAL

PENGEMBANGAN MAP REKAM MEDIS DENGAN PENERAPAN KODE


WARNA DI RSUD RAA SOEWONDO PATI

Pra Proposal ini dibuat untuk memenuhi persyaratan menyusun Proposal Karya
Tulis Ilmiah Diploma III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Diajukan Oleh :
Ihda Rizqiyatul Afifah
(P1337437116008)

PRODI DIII REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN


JURUSAN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (UU No.44,
2009). Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, rumah sakit sebagai
fasilitas pelayanan kesehatan harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi
pasiennya salah satunya dengan cara menyelenggarakan rekam medis seperti
yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 034 / BIRHUP / 1972
tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit.
Berkas rekam medis menurut Permenkes 269/MenKes/Per/III/2008
adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan,pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien. Tujuan pengolahan rekam medis di rumah sakit adalah untuk
menunjang tercapainya tertib admistrasi dalam rangka upaya mencapai tujuan
rumah sakit, yaitu peningkatan mutu pelayananan kesehatan di rumah sakit.
Oleh sebab itu, dalam mengelola rekam medis, setiap rumah sakit harus selalu
mengacu kepada pedoman atau petunjuk teknis pengelolaan rekam medis yang
di buat oleh rumah sakit yang bersangkutan. Di setiap sarana pelayanan
kesehatan, termasuk rumah sakit harus melaksanakan manajemen pelayanan
rekam medis yang meliputi kegiatan menjaga, memelihara rekam medis baik
secara manual atau elektronik hingga menyajikan data kesehatan (UU No. 55,
2013). Sehingga pelaksanaan rekam medis, juga harus memenuhi aspek
dokumentasi (Sudra, 2013).
Secara umum, komponen dalam rekam medis terdiri dari formulir
rekam medis, clip atau fastener untuk menyatukan kertas, pembatas kertas
antara formulir satu dengan formulir yang lainnya dan folder (sampul) rekam
medis. Semua formulir rekam medis harus disimpan dalam folder rekam medis
(WHO, 2006). Penggunaan map (folder) dilakukan dalam upaya memelihara
keutuhan susunan lembaran-lembaran rekam medis, melindungi formulir
rekam medis, serta mencegah terlepas atau robeknya formulir sebagai akibat
dari sering dibolak-balik tersebut. Sampul yang sering dipakai adalah sampul
pelindung, map, amplop. Jika menggunakan map, bagian tengah map harus
diberi lipatan sehingga memungkinkan bertambah tebalnya lembaran-
lembaran yang tersimpan di dalamnya (Depkes RI, 1997).
Perancangan Map (folder) rekam medis ditinjau dari aspek fisik
meliputi warna, bentuk, ukuran, bahan dan kemasan (Huffman, 1997). Warna
yang digunakan
Oleh karena itu baik formulir maupun map berkas rekam medis harus
dirancang dengan baik agar tidak menyebabkan pengumpulan data tidak
memadai, kesalahan pengumpulan data, dokumentasi menjadi lamban,
kesalahan informasi, dan ketidakefektifan pekerjaan yang dilakukan. Map
rekam medis sebaiknya dirancang secara efektif dan efisien demi kelancaran
komunikasi dalam pelayanan kesehatan sehingga menghasilkan informasi
yang sesuai dengan pelayanan kesehatan yang diberikan.
Berdasarkan hasil observasi tehadap map (folder) berkas rekam medis
rawat jalan saat praktik lapangan pada tanggal 19 Oktober 2018 di Unit Rawat
Jalan RSUD RAA Soewondo Pati, diperoleh hasil pengamatan bahwa sistem
penyimpanan berkas rekam medis menggunkan desentralisasi, yaitu pemisahan
antara berkas rawat jalan dan berkas rawat inap di ruangan yang berbeda pula.
Pada saat observasi, ditemukan kesenjangan antara SPO dengan pelaksanaanya
terutama pada unit rawat jalan terkait label warna. Label warna digunakan
untuk mempermudah dalam penyimpanan dan pencarian berkas rekam medis
pasien. Unit rawat jalan pernah menerapkan penggunaan label warna dan sudah
mengadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi mengatakan bahwa tidak efisien
apabila diterapkan pada unit rawat jalan, salah satu alasannya adalah karena
bahan map (folder) rekam medis. Selain itu, ditemukan pula map (folder)
rekam medis yang rusak/ robek. Hal ini disebabkan karena frekuensi
pengambilan berkas rekam medis rawat jalan yang sangat tinggi, sehingga
berkas seringkali diambil dan dikembalikan dalam jangka waktu yang cepat.
Dampaknya, isi dalam map rekam medis juga tidak terjaga dan terkendali,
padahal isi tersebut penting dan rahasia.
Sebagai sumber informasi utama mengenai proses asuhan dan
perkembangan pasien, rekam medis ditujukan agar informasi khususnya
informasi medis dapat berkesinambungan antar episode perawatan sehingga
dapat meningkatkan kepuasan pasien serta tingkat kesembuhan pasien dari
penyakit yang diderita. Dapat disimpulkan bahwa rekam medis merupakan
media komunikasi yang penting. Sebagai media komunikasi, perlu adanya alat
pengendali agar penyampaian komunikasi tersebut dapat berjalan sesuai
dengan aturan yang ada. Aturan atau panduan tersebut berupa SPO (Standar
Prosedur Operasional).
Menurut KARS (2012), SPO merupakan suatu perangkat
instruksi/langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja
rutin tertentu. Tujuan adanya SPO agar proses kerja rutin terlaksana dengan
efisien, efektif, konsisten, seragam, dan aman, dalam rangka meningkatkan
mutu pelayanan melalui pemenuhan standar yang berlaku. Berhubungan
dengan SPO, di RSUD RAA Soewondo Pati belum terdapat SPO yang
mengatur tentang pengisian map rekam medis. Namun, terdapat beberapa
temuan masalah seperti penulisan data pada map rekam medis menggunakan
bolpoin.
Hal ini juga mengacu pada standar manajemen rumah sakit bab 6
Manajemen Informasi dan Rekam Medis (MIRM) dalam SNARS (Standar
Nasional Akreditasi Rumah Sakit). Pada standar MIRM 9 disebutkan bahwa
setiap pasien memiliki rekam medis yang formatnya selalu diperbaharui
(terkini) dengan maksud agar informasi yang dihasilkan berguna dan
mendukung asuhan pasien berkelanjutan secara tepat dan cepat. Dimana pada
akreditasi sebelumnya map rekam medis tidak dinilai sehingga adanya
pendokumentasian data dalam map rekam medis kurang terkontrol.
Oleh karena itu, pemaparan diatas menjadi latar belakang peneliti untuk
membuat rancangan map rekam medis sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan
serta SPO pengisiannya di rumah sakit. Perancangan menekankan pada aspek
fisik, isi, dan anatomi. peneliti mengambil judul “Desain Map (Folder) Rekam
Medis Rawat Jalan dan Prosedur Pengisian di RSUD RAA Soewondo Pati”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Bagaimana desain map (folder) rekam medis rawat jalan
dan prosedur pengisiannya yang dapat menunjang pelayanan dan sesuai dengan
kebutuhan di RSUD RAA Soewondo Pati?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Merancang map (folder) rekam medis dan prosedur pengisiannya di
RSUD RAA Soewondo Pati
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi kondisi map rekam medis saat ini di RSUD RAA
Soewondo Pati
b. Mengidentifikasi pertimbangan perancangan map rekam medis dan
prosedur pengisian map rekam medis yang sesuai dengan kebutuhan
di RSUD RAA Soewondo Pati
c. Merancang map (folder) rekam medis rawat jalan di RSUD RAA
Soewondo Pati
d. Merancang SPO (Standar Prosedur Operasional) pengisian map rekam
medis di RSUD RAA Soewondo Pati

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan atau
digunakan sebagai acuan dalam perancangan map (folder) rekam medis
rawat jalan dan SPO pengisiannya di RSUD RAA Soewondo Pati dalam
rangka meningkatkan mutu kualitas pelayanan kesehatan.
2. Manfaat Praktis
Menambah pengalaman dan pengetahuan secara langsung mengenai
perancangan map (folder) rekam medis rawat jalan dan SPO pengisiannya
di suatu instansi pelayanan kesehatan, mengetahui perbandingan antara
teori yang telah dipelajari dengan keadaan secara nyata di lapangan serta
menerapkan ilmu di bidang rekam medis yang didapatkan diperguruan
tinggi untuk menyelesaikan permasalahan yang diteliti.

E. Keaslian Penelitian
1. Ahadia Dini Yunisar (2015)
2. Rizki Suci Amalia (2018)
3. Nurhidayah (2017)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Rumah Sakit
2. Rekam Medis
3. Desain
4. Aturan dalam Mendesain Formulir
5. Unsur dalam Desain
6. Prinsip-Prinsip Komposisi Desain
7. Penyimpanan Rekam Medis
8. Aspek-Aspek Formulir
9. Map (folder) Rekam Medis
10. Standar Prosedur Operasional

B. Pertanyaan Penelitian
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif
kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk membuat deskripsi atau
gambaran untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain
(Moleong, 2010: 6).

B. Subjek dan Objek Penelitian


Subyek dalam penelitian ini adalah petugas di unit rawat jalan RSUD
RAA Soeowondo Pati. Dan objek penelitian adalah 1 petugas pendaftaran
sebagai Koordinator Unit Rawat Jalan, 2 petugas filing rawat jalan dengan
kualifikasi SMA dan DIII RMIK serta 1 petugas rekam medis dengan
kualifikasi perawat. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik purposive
sampling.

C. Metode dan Cara Pengambilan Data


Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi,
wawancara dan studi dokumentasi.

D. Teknik dan Analisis Data


1. Editing (Penyuntingan data)
2. Coding
3. Klasifikasi
4. Data Entry

E. Waktu dan Lokasi Penelitian


1. Waktu Penelitian : Januari – Maret 2019
2. Lokasi Penelitian : RSUD RAA Soewondo Pati

Anda mungkin juga menyukai