Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

PERENCANAAN SUMBER DAYA HUTAN


ACARA II
PENAKSIRAN POTENSI PRODUKSI
DAN PERKIRAAN BESARNYA ETAT

Oleh :

Nama : Ghina Wardah Hania Putri


NIM : 16/393948/KT/08185
Co.Ass : Elham Petio Wempi
Shift : Selasa, 15.30 WIB

LABORATORIUM PERENCANAAN PEMBANGUNAN HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
ACARA II
PENAKSIRAN POTENSI PRODUKSI
DAN PERKIRAAN BESARNYA ETAT

I. Tujuan
Tujuan praktikum ini, meliputi :
a. Memahami adanya perkembangan cara penetapan etat berdasarkan
perkembangan struktur tegakannya.
b. Memahami dan dapat menghitung etat dari struktur tegakan yang masih ada
hutan alamnya dan yang terdiri dari hutan tanaman semuanya.
c. Menganalilsis struktur tegakannya serta menganalisis kelemahan dan
kelebihan cara penetapan etatnya

II. Dasar Teori


Perencanaan hutan adalah suatu upaya dalam bentuk rencana, dasar
acuan dan pegangan bagi pelaksanaan berbagai kegiatan dalam rangka
mencapai tujuan pengusahaan hutan yang bertolak dari kenyataan saat ini dan
memperhitungkan pengaruh masalah dan kendala yang memungkinkan terjadi
selama proses mencapai tujuan tersebut (Rahmawaty, 2006). Perencanaan
merupakan tahapan penting dalam mewujudkan tujuan dari pengelolaan hutan
lestari. Perencanaan yang baik menjadikan pengelolaan hutan terarah dan
terkendali, baik dalam awal pengelolaan hutan maupun kegiatan monitoring
dan evaluasi kegiatan (Zaitunah, 2004).

Dalam kegiatan pengelolaan dibedakan pengertian pertumbuhan


tegakan dan hasil tegakan. Pertumbuhan tegakan adalah perubahan ukuran
dari sifat terpilih tegakan ( dimensi tegakan ) yang terjadi selama periode
tertentu. Hasil tegakan adalah banyaknya dimensi tegakan yang dapat
dipanen yang dikeluarkan pada waktu tertentu. Perbedaan antara
pertumbuhan dan hasil tegakan terletak pada konsepsinya, yaitu produksi
biologis untuk pertumbuhan tegakan dan pemanenan untuk hasil tegakan.
Pengelolaan hutan berada pada keadaan kelestarian hasil, apabila besarnya
hasil sama dengan pertumbuhannya dan berlangsung terus menerus. Secara
umum dapat dikatakan bahwa jumlah maksimum yang dapat diperoleh dari
hutan pada suatu waktu tertentu adalah jumlah kumulatif pertumbuhan
sampai waktu itu, sedangkan jumlah maksimum hasil yang dapat dikelurkan
secara terus menerus setiap priode sama dengan pertumbuhn dalam priode
waktu itu (Dafis dan Jhonson, 1987 ). Riap dan Etat Dipandang dari priode
waktu yang dipakai dasar dalam perhitungannya, pertumbuhan dan hasil
dapat mengandung dua arti, yaitu tingkat (level) dan laju. Pertumbuhan dan
hasil dalam arti, total menunjukkan jumlah sampai priode waktu tertentu,
biasanya dinyatakan untuk setiap tahun. Laju pertumbuhan tegakan disebut
sebagai riap tegakan ( m3 / ha / tahun ) , sedangkan banyaknya volume kayu
maksimum yang dipanen per priode (tahun) disebut etat hasil. Pengelolaan
akan berada pada tingkat kelestarian hasil apabila besarnya etat sama dengan
besarnya riap tegakan (Vanclay, 1994 ).

Selama ini, perhitungan potensi produksi yang dilakukan oleh Perum


Perhutani didasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 143/
KPTS/DJ/I/1974 atau dikenal dengan Instruksi 1974. Berdasarkan pada
instruksi tersebut taksiran potensi produksi (volume kayu) dari hutan
tanaman pada kelas umur didasarkan pada tabel tegakan normal yang dibuat
oleh Wolf von Wulfing (Tabel WvW) dengan mempertimbangkan faktor: (1)
umur tebang rata-rata yang dihitung pada seluruh tegakan, (2) bonita rata-rata
yang dihitung pada tiap-tiap kelas umur, dan (3) Kerapatan Bidang Dasar
(KBD) rata-rata yang dihitung pada tiap-tiap kelas umur. Berdasarkan ketiga
faktor tersebut, taksiran potensi produksi selama daur dihitung untuk satu
umur yaitu pada umur tebang rata-rata (UTR). Kelas umur (KU) I, II, III, dan
seterusnya (dengan bonita rata-rata dan KBD rata-rata tiap kelas umur) akan
ditaksir potensinya pada UTR. Luasan yang digunakan untuk penaksiran
potensi tersebut didasarkan pada kondisi hasil risalah tanpa
memperhitungkan faktor koreksi atau resiko selama daur (dianggap tetap
sampai akhir daur). Pada kondisi hutan yang tidak normal, perhitungan etat
dengan metode tersebut akan menimbulkan over cutting, sebagai akibat dari
adanya over estimate dalam penaksiran potensi produksi pada perhitungan
etat. Over estimate tersebut antara lain karena adanya faktor resiko selama
daur yang tidak diperhitungkan dalam perhitungan etat, misalnya resiko
karena pencurian, kegagalan tanaman, dan lain-lain (Rohman, 2008).
Salah satu metode pengaturan hasil hutan yang mempertimbangkan
faktor resiko (casualty per cent) adalah metode Brandis yang diterapkan pada
tahun 1856 dalam pengelolaan hutan jati Pegu di Birma. Pengaturan hasil
dengan metode Brandis diterapkan berdasarkan jumlah dan ukuran pohon.
Salah satu syarat penerapan metode Brandis adalah adanya pengetahuan
tentang casualty per cent tiap kelas diameter yang menunjukkan persentase
jumlah pohon tiap kelas yang mati, dicuri, atau ditebang dalam rangka
penjarangan (Osmaston, 1968).

III. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini :
a. Alat tulis
b. Microsoft excel/kalkulator

Bahan yang digunakan pada praktikum ini meliputi :

a. Ikhtisar Kelas Hutan


b. Daftar Susunan Kelas Hutan
c. Tabel Tegakan Tanaman Jati (Tabel WvW)
d. Alat tulis

IV. Cara Kerja


Melakukan perhitungan dengan instruksi 1938 (mencari Vst, Volume
per hektar, dan Volume total)

Melakukan perhitungan etat pada seluruh hutan alam

Menghitung hutan alam yang berubah menjadi hutan tanaman

Melakukan perhitungan dengan instruksi 1974 (mencari UTR, Vst,


Volume per hektar, dan Volume total)

Menghitung KU selamat

Menghitung Taksiran Potensi Produksi CPC

Menghitung Etat CPC


Penjelasan :

Pertama, dilakukan perhitungan taksisan produksi Instruksi 1938


dengan menentukan fk yang digunakan dari masing-masing NIM pratikan.
Setelah itu, mencari Vst dengan cara interpolasi tabel WvW. Lalu, mencari
volume per hektar dengan rumus : Vst x KBD x fk dan mencari Volume total
dengan rumus : Vol per Ha x Luas.

Kedua, menghitung etat luas eluruh hutan alam dengan rumus :


(Jumlah Luas produktif + L HJMR)/Daur dan menghitung etat volume
seluruh hutan alam dengan rumus : (Jumlah Volume produktif + Vol HA (vol
x L HJMR))/Daur.

Ketiga, menghitung etat hutan alam yang akan berubah menjadi hutan
alam yaitu dengan menghitung masa benah (MB) yang meliputi Masa Benah
Luas (MBL), Masa Benah Volume (MBV), dan Masa Benah Luas dan
Volume (MBLV). MBL dihitung dengan rumus: L HJMR/etat luas seluruh
hutan. MBV dihitung dengan rumus : L HJMR/etat volume seluruh hutan.
MBLV dihitung dengan rumus : (MBL + MBV)/2. Setelah itu, menghitung
etat luas dengan rumus : L HJMR/MBLV dan etat volume dengan rumus :
Vol HA/MBLV.

Keempat, dilakukan perhitungan taksiran potensi produksi berdasarkan


instruksi 1974. Hal yang dilakukan pertama kalai yaitu menentukan UTR.
UTR dapat diperoleh dengan rumus : ½ Daur + UKP. UKP dapat diperoleh
dengan rumus : jumlah (umur x luas)/jumlah luas. Lalu, mencari Vst dengan
cara interpolasi tabel WvW. Lalu, mencari volume per hektar dengan rumus :
Vst x KBD x fk dan mencari Volume total dengan rumus : Vol per Ha x
Luas. Kemudian etat luas dicari dengan rumus : jumlah luas/ Daur dan etat
volume dengan rumus jumlah volume total/Daur.

Kelima, dilakukan perhitungan luas KU yang selamat dengan


melakukan perhitungan perubahan luas, menghitung perubahan lua KU
dengan rumus : (perubahan luas (ha)/luas jangka awal) x 100%, menghitung
rerata asli dengan rumus : jumlah % perubahan luas per KU/(Total jangka
risalah – 1), menghitung C % yang dilakukan dari bawah ke atas dengan
rumus : (rerata mutlak + (C% sesudah x (100 – rerata mutlak)))/100.
Kemudian, menghitung KU Selamat sampai UAD . Luas : 100 – C% dan
Luas (ha) dengan rumus : (Luas % sesudah : 100) jangka risalah terskhir KU
tersebut.

Keenam, dilakukukan perhitungan taksiran potensi produksi


berdasarkan CPC. Lalu, mencari Vst dengan cara interpolasi tabel WvW.
Lalu, mencari volume per hektar dengan rumus : Vst x KBD x fk dan
mencari Volume total dengan rumus : Vol per Ha x Luas. Langkah terakhir
yaitu menghitung etat luas dicari dengan rumus : jumlah luas/ Daur dan etat
volume dengan rumus jumlah volume total/Daur.
Davis , L. S. and K. N. jhonson . 1987. Forest Management . Third Edition. McGraw –Hill Book
Company, New York.

JMHT Vol. XIV, (2): 54-60, Agustus 2008 Artikel Ilmiah ISSN: 0215-157X rohman 2008 jurnal
manajemen hutan tropika

Osmaston, F.C. 1968. The Management of Forest. George Allen and Unwin Ltd, London. 384hlm

Rahmawaty.2006. Perencanaan Pengelolaan Hutan di Indonesia. USU Repository. Medan.

Vanclay, J.K. 1994. Modelling Forest Growth and Yield . Applica tions to Mixed Tropical Forets . CAB
International, Guildford.

Zaitunah, A., 2004. Perencanaan Pengelolaan Hutan dalam Panduan Praktik Umum Kehutanan
(PUK) 2004. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian USU. Medan.