Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala

limpahan rahmat, kemudahan, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan Laporan Imuno-Serologi II yang berjudul “Pemeriksaan

Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO)” dapat diselesaikan.Terlepas dari semua

itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi

susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka

saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaiki

laporan ini.

Akhir kata penulis berharap semoga Laporan ini dapat bermanfaat untuk

masyarakan maupun inpirasi terhadap pembaca.

Gorontalo, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 2
1.3 Tujuan Praktikum ............................................................................. 2
1.4 Manfaat Praktikum ........................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
2.1 Pengertian Antistreptolisin-O (ASO) ................................................ 3
2.2 Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO)............................................. 3
2.3 Patogenesis ....................................................................................... 5
BAB III METODE PRAKTIKUM ................................................................. 8
3.1 Waktu dan Tempat ........................................................................... 8
3.2 Metode .............................................................................................. 8
3.3 Prinsip Kerja ..................................................................................... 8
3.4 Pra Analitik ...................................................................................... 8
3.5 Analitik ............................................................................................. 8
3.6 Pasca Analitik ................................................................................... 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 10
4.1 Hasil ................................................................................................. 10
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 10
BAB V PENUTUP ............................................................................................ 14
5.1 Kesimpulan....................................................................................... 14
5.2 Penutup ............................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO) ........................................ 10

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Streptolisin O adalah suatu antibody yang dibentuk oleh tubuh terhadap

suatu enzim proteolitik. Streptolisin O yang diproduksi oleh hemolitik

Streptococcus grup A mempunyai aktivitas biologi yang merusak dinding sel

darah merah serta mengakibatkan terjadinya hemolisis. Streptolisin O adalah

toksin yang merupakan dasar sifat organism ini (Harti, 2006).

Anti streptolisin O merupakan antibody yang paling dikenal dan paling

sering digunakan untuk indikator terdapatnya infeksi Streptococcus. Kurang

lebih 80% penderita demam reumatik/ penyakit jantung reumatik akut

menunjukkan adanya kenaikan titer ASTO (Harti, 2006).

Anti streptolisin O bisa digunakan secara klinis untuk menegaskan

infeksi yang baru saja. Antibody itu tidak merusak kuman dan tidak

mempunyai dampak perlindungan tetapi adanya antibody itu di dalam serum

menunjukkan bahwa di dalam tubuh baru saja terdapat Streptococcus yang

aktif (Harti, 2006).

Pemeriksaan anti streptolisin O merupakan suatu uji laboratorium untuk

menentukan ada atau tidaknya antibody streptolisin O dalam serum baik

secara kualitatif maupun kuantitatif. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri

Streptococcus Beta Hemolytic. Streptolisin O ini merupakan salah satu

eksotoksin yang dilepaskan oleh bakteri yang merangsang pembentukan

antibody streptolisin O. Pemeriksaan ASTO (Anti Streptolisin O) merupakan

suatu pemeriksaan darah yang berfungsi untuk mengukur kadar antibody

1
terhadap streptolisin O. reagen lateks ASTO merupakan suspense yang stabil

dari partikel lateks polystiren yang telah dilapisi oleh streptolisin O. Ketika

lateks ini dicampur dengan serum yang mengandung antibody streptolisin O,

maka akan terjadi aglutinasi. Sensitivitas dari reagen ASTO ini telah

disesuaikan untuk menghasilkan aglutinasi ketika nilai antibody lebih besar

dari 200 IU/ml (Harti, 2006).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara pemeriksaan Anti Streptolisin O metode lateks aglutinasi

dan bagaimana hasil dari pemeriksaan anti streptolisin O?

1.3 Tujuan

1. Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengetahui

bagaimana cara pemeriksaan anti streptolisin O

2. Mengetahui hasil yang didapatkan pada pemeriksaan anti streptolisin O

ini.

1.4 Manfaat

1. Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengetahui

bagaimana cara pemeriksaan anti streptolisin O dan

2. Mengetahui hasil yang didapatkan pada pemeriksaan anti streptolisin O

ini.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Antistreptolisin-O (ASO)

Anti streptolisin O adalah suatu antibodi yang dibentuk oleh tubuh

terhadap suatu enzim proteolitik. Streptolisin O yang diproduksi oleh β-

hemolitik Streptococcus A group A dan mempunyai aktivitas biologic

merusak dinding sel darah merah serta mengakibakan terjadinya hemolisis

(Bratawidjaya.2012).

Streptolisin O adalah toksin yang merupakan dasar sifat β-hemolitik

organisme ini. Streptolisin O ialah racun sel yang berpotensi mempengaruhi

banyak tipe sel termasuk netrofil, platelets dan organel sel, menyebabkan

respon imun dan penemuan antibodinya (Jawetz. 2010)

Anti-Streptolisin O bisa digunakan secara klinis untuk menegaskan

infeksi yang baru saja. Antibodi itu tidak merusak kuman dan tidak

mempunyai dampak perlindungan, tetapi adanya antibody itu dalam serum

menunjukkan bahwa didalam tubuh baru saja terdapat streptococcus yang

aktif. Antibody yang dibentuk adalah Antistreptolysin-O (ASO),

Antihialuronidase (AH), Antistreptokinase (anti SK), anti desoksiribo

nuklease B (AND B), dan antinikotinamid adenine dinukleotidase (anti-

NADase) (Bratawidjaya.2012).

2.2 Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO)

Menurut Kresno (2010) pemeriksaan ASTO (anti streptolisin O)

merupakan suatu pemeriksaan darah yang berfungsi untuk mengukur kadar

3
antibodi terhadap streptolisin O, suatu zat yang dihasilkan oleh bakteri

Streptococcus grup A. Ada dua prinsip dasar penetuan ASTO, yaitu:

1. Netralisasi/penghambat hemolisis

Streptolisin O dapat menyebabkan hemolisis dari sel darah merah, akan

tetapi bila Streptolisin O tersebut di campur lebih dahulu dengan serum

penderita yang mengandung cukup anti streptolisin O sebelum di

tambahkan pada sel darah merah, maka streptolisin O tersebut akan di

netralkan oleh ASO sehingga tidak dapat menibulkan hemolisis lagi.

Pada tes ini serum penderita di encerkan secara serial dan di tambahkan

sejumlah streptolisin O yang tetap (Streptolisin O di awetkan dengan

sodium thioglycolate). Kemudian di tambahkan suspensi sel darah merah

5%. Hemolisis akan terjadi pada pengenceran serum di mana kadar/titer

dari ASO tidak cukup untuk menghambat hemolisis tidak terjadi pada

pengencaran serum yang mengandung titer ASO yang tinggi.

2. Aglutinasi pasif

Streptolisin O merupakan antigen yang larut. Agar dapat menyebabkan

aglutinasi dengan ASO. Maka Streptolisin O perlu disalutkan pada

partikel-partikel tertentu. Partikel yang sering dipakai yaitu partikel lateks.

Sejumlah tertentu Streptolisin O (yang dapat mengikat 200 IU/ml ASO) di

tambahkan pada serum penderita sehingga terjadi ikatan Streptolisin O –

anti Strepolisin O (SO – ASO).

Bila dalam serum penderita terdapat ASO lebih dari 200 IU/ml, maka

sisa ASO yang tidak terikat oleh Streptolisin O akan menyebabkan

aglutinasi dari streptolisin O yang disalurkan pada partikel – partikel latex

4
. Bila kadar ASO dalam serum penderita kurang dari 200 IU / ml , maka

tidak ada sisa ASO bebas yang dapat menyebabkan aglutinasi dengan

streptolisin O pada partikel – partikel latex.

Tes hambatan hemolisis mempunyai sensitivitas yang cukup baik,

sedangkan tes aglutinasi latex memiliki sensitivitas yang sedang. Tes

aglutinasi latex hanya dapat mendeteksi ASO dengan titer di atas 200

IU/ml.

Penetapan ASO umumnya hanya memberi petunjuk bahwa telah terjadi

infeksi oleh streptokokus. Yang lebih penting diperhatikan adanya

kenaikan titer. Meskipun semula titer rendah tetapi bila terjadi peningkatan

dan tetap tinggi pada pemeriksaan berikutnya, adanya infeksi oleh

streptokokus.

2.3 Patogenesis

Streptococcus adalah bakteri gram positif yang khasnya berpasangan atau

membentuk rantai selama pertumbuhannya. Spesies yang virulen mungkin

menghasilkan kapsul yang terdiri dari acid hialuronik dan protein M, habitat

dari spesies ini ialah saluran pernapasan atas (rongga hidung dan faring).

Antar infeksi-infeksi yang di sebabkan oleh spesies ini adalah demam scarlet,

faringitis, impetigo, demam rheumatic, dan lain-lain (Utari. 2016).

Penyakit demam rematik diawali dengan infeksi bakteri Streptococcus

beta-hemolyticus golongan A pada kerongkongan. Infeksi ini menyebabkan

penderita mengeluh nyeri kerongkongan dan demam (Utari. 2016).

Jika infeksi tidak segera diobati, bakteri Streptococcus yang ada akan

melakukan perlengketan yang kuat (adherence) di daerah sekitarnya dan

5
merangsang pengeluaran antibodi (Ig-G). Antibodi yang dihasilkan akan

mengikat kuman Streptococcus dan membentuk suatu kompleks imun dan

akan menyebar ke seluruh tubuh, terutama ke jantung, sendi, dan susunan

saraf.

1. Demam Rematik pada jantung

kompleks imun ini akan menimbulkan reaksi peradangan atau

inflamasi yang bermanifestasi sebagai peradangan otot jantung

(myocarditis), peradangan lapisan jantung (pericarditis), dan peradangan

katup-katup jantung (valvulitis) (Soemarno. 2010).

Bila proses penyebaran penyakit telah menyerang jantung, penderita

akan mengalami kelainan jantung (carditis), ditandai dengan batuk-batuk,

kesulitan bernapas, berdebar-debar, serta adanya tanda-tanda pembesaran

jantung (Soemarno. 2010).

2. Demam Rematik menyerang pada sendi

Keluhan yang paling sering muncul pada fase ini adalah gangguan

sendi berupa rasa nyeri dan pembengkakan yang biasanya berpindah-

pindah dari satu sendi ke sendi lainnya (polyartritis migran), kesulitan

menggerakkan sendi dan berjalan (Soemarno. 2010).

3. Demam Rematik menyerang susunan saraf

kelainan ini menyebabkan gangguan pergerakan dan kepribadian serta

psikologis berupa kepribadian yang agresif, depresi, dan obsessive-

compulsive (Soemarno. 2010).

Jika Asto menyerang susunan saraf dan menimbulkan ketidakstabilan

emosi, gerakan-gerakan involunter tangan yang tidak teratur, kesulitan

6
menulis dan berbicara, kecemasan, dan perilaku agresif (Soemarno.

2010).

7
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilakukan pada tanggal 15 April 2019 pada pukul 13.00

WITA, dan bertempat di lingkungan STIKES Bina MAndiri Gorontalo

khususnya di laboratorium Fitokimia.

3.2 Tujuan

Untuk mengetahui cara pemeriksaan ASO dilakukan menggunakan

metode aglutinasi Lateks.

3.3 Metode

Adapun metode yang digunakan dalam praktikum pemeriksaan

Antistreptolisin-O (ASO) yaitu metode aglutinasi Lateks.

3.4 Prinsip Kerja

Reagen AS Direct Latex adalah sebuah suspense partikel Lateks

Polystirence yang telah disensitisasi dengan Streptolisin-O. Ketika reagen

dicampur dengan serum yang mengandung antibody anti-SLO, terjadi sebuah

reaksi Ag-Ab yang dapat dilihat secara visual karena timbulnya aglutinasi.

3.5 Pra Analitik

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan ASO ini yaitu

Tabung vakum, Centrifuge, Dispo 5 ml, Torniquet, Mikropipet, Tip, KIT

Streptolisin-O (ASO), Serum/plasma, Kapas alkohol dan kering.

3.6 Analitik

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

8
2. Mengambil darah vena dengan menggunakan holder dan disposable

kemudian dimasukkan darahnya pada tabung tutup merah.

3. Masukkan kedalam centrifuge dan diputar selama 15 menit.

4. Keluarkan dari dalam centrifuge, kemudian letakkan 40 ul serum yang

tidak diencerkan keatas area hitam pada slide.

5. Campur dengan baik LR dan tambahkan 1 tetes ke atas tetesan serum.

6. Campur dengan batang pengaduk kedua tetesan tersebut diatas dan

miringkan slide.

7. Perhatikan ada tidaknya aglutinasi dalam waktu tidak lebih dari 3 menit.

3.7 Pasca Analitik

a) Positif (+) : Terjadi aglutinasi.

b) Negatif (-) : Tidak terjadi aglutinasi.

9
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dari proses praktikum yang telah dipraktikumkan hasil pemeriksaan Aso

didapatkan sebagai berikut:

Pasien Reagen Sampel Aglutinasi Keterangan

Serum Negative (-)


Tidak terjadinya
Aso
aglutinasi baik pada
Ny P.D Kontrol (+) Negative (-)
Latex sampel, kontrol (+),
maupun kontrol (-)
Kontrol (-) Negative (-)

Tabel. 4.1 Hasil Pemeriksaan Anti Streptolisin - O


(Sumber : Data Primer, 2019)

4.2 Pembahasan

Pemeriksaan ASTO adalah tata cara pemeriksaan laboratorium untuk

menentukan kadar Anti streptolisin O secara kualitatif / semi kuantitatif.

ASTO ( anti-streptolisin O) merupakan antibodi yang paling dikenal dan

paling sering digunakan untuk indikator terdapatnya infeksi streptococcus.

Lebih kurang 80 % penderita demam reumatik / penyakit jantung reumatik

akut menunjukkan kenaikkan titer ASTO ini; bila dilakukan pemeriksaan atas

3 antibodi terhadap streptococcus, maka pada 95 % kasus demam reumatik /

penyakit jantung reumatik didapatkan peninggian atau lebih antibodi

terhadap streptococcus.

Prinsip percobaan praktikum ini yaitu, terbentuknya aglutinasi sebagai

hasil reaksi antara serum yang mengandung antibody ASTO dengan suspensi

10
latex yang mengandung partikel yang dilapis dengan streptolysin O yang

dimurnikan dan distabilkan

Uji Laboratoriom berguna untuk diagnose penyakit demam rematik

(ASTO) perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, di antaranya berupa

pemeriksaan kadar LED (laju endap darah), CRP (C reaktive protein), dan

ASTO (anti-streptolysin titer O). Pemeriksaan tambahan lain yang dapat

dilakukan adalah pemeriksaan sinar X, EKG, dan echocardiography.

Penyakit demam rematik diawali dengan infeksi bakteri Streptococcus

beta-hemolyticus golongan A pada kerongkongan. Infeksi ini menyebabkan

penderita mengeluh nyeri kerongkongan dan demam. Jika infeksi tidak

segera diobati, bakteri Streptococcus yang ada akan melakukan perlengketan

yang kuat (adherence) di daerah sekitarnya dan merangsang pengeluaran

antibodi (Ig-G). Antibodi yang dihasilkan akan mengikat kuman

Streptococcus dan membentuk suatu kompleks imun dan akan menyebar ke

seluruh tubuh, terutama ke jantung, sendi, dan susunan saraf.

Salmonella memiliki sedikitnya 5 macam anti gen, yaitu :1. Antigen o

(antigen somatik), yang terletak pada lapisan luar pada tubuh kuman. Bagian

ini tahan terhadap panas dan alcohol tetapi tidak terhadap formaldehid.

Lipopolisakarida dari antigen O terdiri dari 3 regio sebagai berikut : 1)

Region I, mengandung antigen O spesifik atau antigen dinding sel dan

merupakan polimer dari unit oligosakarida yang berulang-ulang. Antigen O

ini berguna untuk pengelompokan serologis. 2) Region II, terikat pada

antigen O dan terdiri dari core polysaccharide serta merupakan sifat yan

konstan dalam suatu genus Enterobacteriaceace tetapi berbeda antara genera.

11
3) Region III, mengandung lipid yang terikat pada core polysaccharide yang

merupakan bagian yang toksik dari molekul. Lipid A menempelkan

lipopolisakarida pada membran permukaan sel. 2. Antigen H (antigen

flagela), yang terletak pada flagella, fimbrie atau pili dari kuman. Antigen ini

mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid

tetapi tidak tahan terhadap panas dan alcohol. 3. Antigen Vi, yang terletak

pada kapsel (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap

fagositosis. Ketiga macam antigen tersebut diatas, didalam tubuh penderita

akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibody yang lazim tersebut

agglutinin. 4. Outer membrane protein (OMP), antige n OMP S.typhi

merupakan bagian dari didin sel yang terletak di luar membrane sitoplasma

lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya.

OMP berfungsi sebagai barier fisik yang mengendalikan masuknya zat dan

cairan kedalam membrane sitoplasma, dan berfungsi sebagai reseptor untuk

bakteriofag dan bakterisin. 5. Heat hock protein (HSP) atau stress protein

Heat hock protein adalah protein yang memproduksi oleh jasad renik dalam

lingkungan yang terus berubah, terutama yang menimbulkan stress pada

jasad renik tersebut dalam usahanya mempertahankan hidupnya.Pemeriksaan

laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi,urinalis, kimia klinik.

imunoserologi, dan biologi molekuler.

Pemeriksaan menunjukan untuk membantu menegakkan diagnosis

(adalkalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis,

memantau perjalanan penyakit dan hasi pengobatan serta timbulnya penyulit.

Pada praktikum ini yang dilakukan hanya ASTO kualitatif. Tahapan pertama

12
yaitu meneteskan diatas slide 50 ul serum ditambah 50 ul reagen latex yang

sudah dihomogenkan pada slide plastik kemudian dicampur dengan stick /

pengaduk. Di tetapkan slide di atas rotator, goyang dan putar pada kecepatan

70 rpm secara berlahan selama 2 menit dengan menggunakan tangan atau

angular rotator. Di amati terjadinya aglutinasi tepat 2 menit dibawah cahaya

lampu yang terang. hasil positif ditandai dengan terbentuknya aglutinasi atau

penggumpalan, dan saat dibilas pada object glass terdapat penempelan bercak

putih. Jika hasil positif, dilakukan pemeriksaan kuantitatif, jika hasil negative

tidak perlu pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil percobaan diperoleh hasil negatif pada setiap sampel dari 3

sampel yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa pasien dalam keadaan sistem

imun nya normal. Dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil negative (-) atau

tidak terjadi aglutinasi pada pemeriksaan yang menunjukan bahwa pasien

tidak mengalami demam typoid atau sama sekali belum pernah mengalami

demam typoid. Apabila diperoleh pasien dngan hasil ASTO positif,

penanganannya demam rematik meliputi menghilangkan penyebabnya yaitu

kuman streptokokus dengan menggunakan antibiotik, penanganan kompikasi

pada jantung, sendi dan saraf serta pemberian makanan yang bergizi untuk

membantu memulihkan tubuh. Untuk pengobatan pada anak sebaiknya

berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung anak, dan pada orang dewasa

dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Secara herbal dapat yang bisa

membantu penyakit ini, tapi sebaiknya di konsultasi kan langsung.

13
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

pemeriksaan anti streptolisin O menggunakan metode lateks aglutinasi

dengan prinsipnya yaitu terbentuknya aglutinasi sebagai hasil reaksi antara

serum yang mengandung antibody streptolisin O dengan suspense lateks yang

mengadung partikel yang dilapisi dengan streptolisin O sehingga membentuk

aglutinasi.

Hasil yang didapatkan pada praktikum ini yaitu didapatkan hasil negatif

(-) yang menandakan bahwa serum tidak mengandung antibody

Streptococcus grup A.

5.2 Saran

Sebaiknya reagen yang digunakan pada pemeriksaan ASTO ini sebelum

digunakan biarkan di suhu ruang 20-25oC, dan harus di homogenkan agar

partikel yang ada pada reagen tercampur.

14
DAFTAR PUSTAKA

Bratawidjaya K G, 2012. Imunologi Dasar Edisi ke-10. Jakarta: Badan Penerbit


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Harti, A.S. 2006. Imunologi Serologi II. Surakarta: Fakultas Biologi DIII Analis
Kesehatan USB.

Jawetz, Melnick. 2010. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.


Kresno S B, 2010. Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Soemarno. 2010. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinis. Yogyakarta: Akademi
Analis Kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Utari, D., Mudiharso., Nurindah, T. 2016. Imunoserologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Anda mungkin juga menyukai