Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hati merupakan salah satu organ terbesar yang terdapat didalam tubuh

manusia dengan bobot 1,5 atau 3-5 % dari total berat berat badan dan

meruapakan salah satu alat ekskresi pada manusia yang memegang peranan

penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh yang berupa

karbohidrat, protein dan lemak. Tempat sintesa dari berbagai komponen

protein, pembekuan darah, kolesterol, ureum dan zat-zat lain yang sangat

vital.

Hati memiliki fungsi yang luas maka kita melakukan beberapa tes faal hati

pun beraneka ragam sesuai dengan apa yang hendak dinilai. Antara lainnya

yaitu pemeriksaan SGOT dan SGPT dimana kita melakukan pemeriksaan

ketika sel-sel atau jaringan hati mengalami kerusakan sehingga dapat

dilakukan pemeriksaan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase)

yang merupakan suatu enzim yang sebagian besar terdapat dalam otot jantung

dan hati, sebagian lagi ditemukan dalam otot rangka, ginjal dan pancreas.

Sedangkan SGPT (Serum Glutamic PiruvicTransaminase) merupakan suatu

enzim yang banyak ditemukan terutama pada sel-sel hepar, efektif dalam

mendiagnosa kerusakan hepatoseluler. Dimana pada pelepasan enzim yang

tinggi dalam serum menunjukkan adanya kerusakan terutama pada jaringan

jantung dan hati.

Pada praktikum ini kita akan menentukan kadar SGOT dan SGPT dalam

darah. yang mana setelah diketahui hasilnya, kita akan menginterpretasikan


kemudian penyimpulkan apakah kadar SGOT dan SGPT dalam darah dalam

keadaan normal atau abnormal.

1.2 Rumusan Masalah

Metode apa yang digunakan dalam pemeriksaan SGOT dan SGPT dalam

darah dan berapa kadar dari SGOT dan SGPT dalam darah seseorang?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui metode yang

digunakan dalam pemeriksaan SGOT dan SGPT, mengetahui kadar dari

SGOT dan SGPT dalam darah

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini yaitu memberikan informasi tentang metode

yang digunakan dalam pemeriksaan SGOT dan SGPT, mengetahui kadar

SGOT dan SGPT dalam darah seseorang.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hati

Hati merupakan organ besar dan secara metabolisme paling kompleks di

dalam tubuh. Dengan bobot sekitar 2 kg, hati mempunyai tugas penting yang

rumit demi kelangsungan seluruh fungsi kesehatan tubuh. Organ hati terletak

dalam rongga abdomen di bawah diafragma. Unsur strukural utama hati

adalah sel-sel hati atau hepatosit. Sel-sel ini berkelompok dalam lempengan-

lempengan yang saling berhubungan sedemikan rupa, membentuk bangunan

yang disebut lobules hati.

Hati tersusun oleh sel hati hepatosit berbentuk heksagonal dimana selsel

parenkimnya tersusun radier terhadap vena sentralis. Parenkim hati

dipisahkan oleh sinusoid. Pada sinusoid terdapat selapis endotel yang tidak

kontinyu sehingga darah bisa langsung berhubungan dengan sel hati dan

dapat terjadi pertukaran metabolit antara darah dengan sel hati. Selain itu hati

juga mempunyai sel kupfer yang berfungsi memfagositosis bakteri dan benda

asing dalam darah.

Dasar unit fungsional hati adalah lobulus hati. Lobulus hati sendiri terdiri

dari banyak lempeng-lempeng sel hati. Sinusoid vena dibatasi oleh dua jenis

sel yaitu sel endotel dan sel kupffer besar yang merupakan sel retikuloendotel

yang mampu memfagositosis bakteri dan benda asing dalam darah. Sel

kupffer dapat memfagosit 99% bakteri dalam darah vena porta. Sel kupffer

mempunyai sifat sitologis yang nyata seperti vakuola yang jenih, lisosom dan
reticulum endoplasma granula yang terbesar di seluruh sitoplasma yang

membedakan mereka dari sel-sel endotel (Junquieira et al. 1998).

Hati memiliki dua sumber suplai darah, dari saluran pencernaan dan

limpa melalui vena porta dan dari aorta melalui vena hepatika. Vena porta

membawa darah penuh makanan yang diserap dari usus dan organ tertentu,

sedangkan arteri hepatika memberi darah pada sel-sel hati dengan darah

bersih yang membawa oksigen. Cabang-cabang dari kedua pembuluh darah

mengikuti jaringan ikat interlobularis.

2.2 Fungsi Hepar

Hati (hepar) merupakan kelenjar tubuh yang paling besar dan khas karena

memiliki multifungsi yang kompleks, misalnya ekskresi berupa hasil

metabolit, sekresi dengan hasil produk seperti cairan empedu, penyimpanan

lipid, vitamin A, vitamin B, dan glikogen, mensintesis fibrinogen, globulin,

albumin, dan protrombin, fagositosis benda asing yang ada di dalam tubuh,

detoksifikasi obat yang larut dalam lipid, konjugasi zat atau senyawa

beracun, dan hormon steroid esterifikasi yaitu pengubahan asam lemak bebas

menjadi trigliserida, metabolisme protein, lemak, hemoglobin, dan obat

(Dellmann et al.1992).

Fungsi hati adalah sebagai pusat metabolisme. Hati mempunyai struktur

seragam yang terdiri dari dari kelompok sel sel yang saling dipersatukan oleh

sinusoid. Semua darah vena dari systema digestorium akan mengalir kedalam

sinusoid ini. Sel sel hati mendapat suplai darah dari vena portae hepatis yang

kaya makanan, tidak mengandung oksigen. Karena mempunyai sistem

peredaran darah yang tidak biasa ini, maka sel sel hepar mendapat darah yang
relatif kurang oksigen. Keadaan ini dapat menjelaskan mengapa sel hepar

lebih rentan terhadap kerusakan dan penyakit.

Menurut Sloane (1994), hepar memiliki fungsi yaitu sebagai berikut.

1. Sekresi, hepar memproduksi empedu yang berperan dalam

emulsifikasi dan absorpsi lemak.

2. Metabolisme protein, lemak dan karbohidrat tercerna. Hepar berperan

penting dalam mempertahankan homeostatik kadar gula dalam darah,

mengurai protein dari sel-sel tubuh dan sel-sel darah yang rusak,

membentuk urea dariasam amino berlebih dan sisa nitrogen,

menyintesis lemak dari karbohidrat dan protein dan terlibat dalam

penyimpanan dan pemakaian lemak, mensintesis protein plasma dan

faktor-faktor pembekuan darah serta mensintesis bilirubin dari produk

penguraian hemoglobin dan mensekresikannya ke dalam empedu.

3. Penyimpanan, hepar menyimpan mineral seperti zat besi dan

tembaga, serta vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E dan K dan

hati menyimpan toksin tertentu serta obat yang tidak dapat diuraikan

dan diekskresikan.

4. Detoksifikasi, hepar melakukan inaktivasi hormon dan detoksifikasi

toksin dan obat. Hepar juga memfagosit eritrosit dan zat asing yang

terdisintegrasi dalam darah.

5. Produksi panas, hepar sebagai sumber utama panas tubuh.

6. Penyimpanan darah, hepar bersama limfa mengatur volume darah.

2.3 Hepatosit
Hepatosit adalah sel yang terdapat di dalam organ hati. Sel hepatosit

adalah sel parenkimal utama yang terdapat di dalam hati yang mempunyai

peran dalam metabolisme. Sel hepatosit memiliki berat 80% dari berat hati

dan memiliki inti sel baik tunggal maupun ganda. Hepatosit sangat aktif

mensintesis protein dan lipid untuk disekresi, dan memiliki banyak retikulum

endoplasma dan badan golgi. Dimana retikulum endoplasma dan badan golgi

berperan aktif dalam memodifikasi dan mensistesis protein. Hepatosit

dipisahkan oleh sinusoid yang tersusun dengan melingkari efferent vena

hepatica dan duktus hepatikus. Darah yang masuk ke dalam hati melalui

arteri hepatikadan vena porta serta yang akan menuju ke vena sentralis akan

mengalami pengurangan oksigen secara bertahap. Di dalam organ hati,

hepatosit terletak berhadapan dengan sinusoid yang mempunyai banyak

mikrofil. Sinusoid hati memiliki lapisan endothelial berpori yang dipisahkan

dari hepatosit oleh ruang disse atau ruang yang berada diantara dinding

sinusoid dengan sel parenkim hati (Julio et al.2013).

Sel hati (hepatosit) yang berbentuk polihedral, intinya bulat terletak

ditengah, nukleulus dapat satu atau lebih dengan kromatin yang menyebar.

Sering tampak adanya dua inti, sebagai hasil pembagian yang tidak sempurna

dari sitoplasma setelah terjadi pembelahan inti. Sitoplasma hepatosit agak

berbutir, tetapi dapat tergantung pada perubahan nutrisi serta fungsi seluler.

Mitokondria relatif banyak dan aparatus golgi terletak dekat kanalikuli

empedu. Selain itu hepatosit juga dapat menyerap bilirubin (pigmen empedu)

dari darah, dilakukan konjugasi dan diekskresikan sebagai salah satu

komponen empedu (Dellmann et al.1992).


2.4 Hepatoksisitas

Menurut Departemen Kesehatan RI (2007), beberapa penyakit hepar adalah

sebagai berikut.

2.4.1 Hepatitis

Istilah "hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada

hepar. Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai

dengan obatobatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis

terdiridari beberapa jenis: hepatitis A, B, C, D, E, F dan G. Manifestasi

penyakit hepatitis akibat virus bisa akut tergolong hepatitis A, kronik

tergolong hepatitis B dan C atau pun dapat menjadi kanker hati.

2.4.2 Sirosis

Setelah terjadi peradangan dan bengkak, sel hepar mencoba

memperbaiki dengan membentuk bekas luka atau parut kecil. Parut ini

disebut fibrosisyang membuat hepar lebih sulit melakukan fungsinya.

Sewaktu kerusakan berjalan, semakin banyak parut terbentuk dan

menyatu, dalam tahap selanjutnya disebut sirosis. Pada sirosis, area

hepar yang rusak dapat menjadi permanen. Darah tidak dapat mengalir

dengan baik pada jaringan hepar yang rusak dan hepar mulai menciut,

serta menjadi keras. Sirosis hepar dapat terjadi karena virus hepatitis

B, alkohol, perlemakan hepar atau penyakit lain yang menyebabkan

sumbatan saluran empedu.

2.4.3 Kanker Hati


Kanker hati yang banyak terjadi adalah Hepato Cellular

Carcinoma(HCC). HCC merupakan komplikasi akhir yang serius dari

hepatitis kronis, terutama sirosis yang terjadi karena virus hepatitus B,

C dan hemochromatosis.

2.4.4 Perlemakan Hati

Perlemakan hati mengenai terjadi bila penimbunan lemak melebihi

5% dari berat hati atau lebih dari separuh jaringan sel hati. Perlemakan

hati ini sering berpotensi menjadi penyebab kerusakan hati dan sirosis

hati.

2.4.5 Kolestasis dan Jaundice

Kolestasis merupakan keadaan akibat kegagalan produksi dan atau

pengeluaran empedu. Lamanya menderita kolestasis dapat

menyebabkan gagalnya penyerapan lemak dan vitamin A, D, E, K oleh

usus, juga adanya penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol

di hati. Jaundice adalah kelebihan bilirubin dalam sirkulasi darah dan

penumpukan pigmen empedu pada kulit, membran mukosa dan bola

mata pada lapisan sklera.

2.4.6 Hemochromatosis

Hemochromatosis merupakan kelainan yang terjadi di hati

dimana proses metabolisme zat besi terganggu yang ditandai dengan

adanya pengendapan zat besi secara berlebihan di dalam jaringan.

Penyakit ini bersifat genetik atau keturunan.

2.4.7 Abses Hati


Abses hati dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau amuba.

Kondisi ini disebabkan karena bakteri berkembang biak dengan cepat,

menimbulkan gejala demam dan menggigil.

2.5 SGOT dan SGPT

SGOT-SGPT merupakan dua enzim transaminase yang dihasilkan

terutama oleh sel-sel hati. Bila sel-sel liver rusak, misalnya pada kasus

hepatitis atau sirosis, biasanya kadar kedua enzim ini meningkat. Makanya,

lewat hasil tes laboratorium, keduanya dianggap memberi gambaran adanya

gangguan pada hati

Adanya enzim-enzim pelaku detoksifikasi pada hati menyebabkan enzim-

enzim tersebut dapat digunakan sebagai parameter kerusakan hati. Dua

macam enzim aminotranferase yang sering digunakan dalam diagnosis klinik

kerusakan sel hati adalah Aspartat Aminotransferase yang disebut SGOT dan

Alanin Aminotransferase yang juga disebut dengan SGPT.

Transaminase dan Aminotransaminase adalah sekelompok enzim yang

bekerja sebagai katalisator dalam proses pemindahan gugus amino dari suatu

asam alfa amino kepada suatu asam alfa keto.

2.5.1 SGOT (Glutamic Oxaloacetic Transaminase)

SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase,

sebuah enzim yang secara normal berada disel hati dan organ lain.

SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak. Level SDOT

darah kemudian dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti

serangan virus hepatitis. SGOT juga disebut aspartate

aminotransferase (AST).
SGOT merupakan suatu enzim dalam tubuh yang segera terdeteksi

dalam sirkulasi perifer. Apabila terjadi trauma atau nekrosis pada suatu

jaringan, kadar SGOT pada pemeriksaan laboratoris dapat digunakan

untuk menilai seberapa luas kerusakan hati namun SGOT juga banyak

ditemukan pada jaringan selain hati seperti jantung. Perubahan kadar

SGOT pada umumnya sering dikaitkan dengan penyakit hati namun

tidak menutup kemungkinan perubahan SGOT juga terjadi akibat

penyakit jantung.

Aspartate transaminase (AST) atau serum glutamic oxaloacetic

transaminase (SGOT) adalah enzim yang biasanya terdapat dalam

jaringan tubuh, terutama dalam jantung dan hati; enzim itu dilepaskan

ke dalam serum sebagai akibat dari cedera jaringan, oleh karena itu

konsentrasi dalam serum (SGOT) dapat meningkat pada penyakit

infark miokard atau kerusakan aku pada sel-sel hati.

2.5.2 SGPT

SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamik Piruvat

Transaminase , SGPT atau juga dinamakan ALT (Alanin

Aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel

hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoselular. Enzim

ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot

rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada

SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada

proses kronis didapat sebaliknya.


ALT/SGPT suatu enzim yang ditemukan terutama pada sel-sel

hepar, efektif dalam mendiagnosa kerusakan hepatoseluler. Kadar ALT

serum dapat lebih tinggi sebelum ikretik terjadi. Pada ikretik dan ALT

serum>300 unit, penyebab yang paling mungkin karena gangguan

hepar dan tidak gangguan hemolitik.

SGPT merupakan enzim yang akan keluar dari sel hepar apabila sel

hepar mengalami kerusakan sehingga dengan sendirinya akan

menyebabkan peningkatan kadarnya dalam serum darah. Organ hepar

memiliki kapasitas tinggi mengikat bahan kimia dan menetralkan

racun yang masuk ke dalam tubuh. Pemeriksaan fungsi hepar salah

satunya yaitu Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Enzim

ini akan keluar dari sel hepar apabila sel hepar mengalami kerusakan

sehingga dengan sendirinya akan menyebabkan peningkatan kadarnya

dalam serum darah. SGPT adalah suatu enzim yang berfungsi sebagai

katalis berbagai fungsi tubuh. SGPT dianggap lebih spesifik untuk

menilai kerusakan hepar dibandingkan SGOT.

2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan

2.6.1 Faktor Pra Analitik

Tahap pra analitik adalah tahap persiapan awal, tahap ini sangat

menentukan kualitas sampel yang nantinya akan mempengaruhi hasil

pemeriksaan yang termasuk tahap pra analitik yaitu :

1. Pemahaman intruksi dan pengisian formulir

2. Persiapan pasien sebelum uji laboratorium yaitu puasa 8-10 jam

3. hanya bisa minum air putih dan tidak beraktifitas berat


4. Pengambilan sampel plasma dan serum harus dilakukan secara

tepat,

5. volume yang sesuai, gunakan alat dan bahan yang benar berkualitas

baik

6. Komposisi antikoagulan yang tidak sesuai

7. Hemolisis spesimen darah dapat mempengaruhi temuan

laboratorium

8. Injeksi per IM dapat meningkatkan kadar ALT serum

9. Obat tertentu yang meningkatkan kadar ALT serum dapat

mempengaruhi temuan pengujian

10. Komsumsi alkohol

2.6.2 Faktor Analitik

Tahap analitik adalah tahapan pengerjaan pengujian sampel

sehingga diperoleh hasil pemeriksaan, yang termasuk faktor analitik

yaitu : Kalibrasi alat laboratorium, pemeriksaan sampel, kualitas

reagen, ketelitian dan ketepatan.

2.6.3 Faktor Pasca Analitik

Pasca analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan

untuk meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar-

benar valid, yang termasuk faktor pasca analitik yaitu : Pencatatan

hasil pemeriksaan, interpretasi hasil dan pelaporan hasil pemeriksaan


2.7 Metode Pemeriksaan

2.7.1 Metode Kinetik Enzimatik

Metode yang digunakan untuk pemeriksaan SGPT adalah metode

kinetik enzimatik sesuai IFCC dilakukan menggunakan alat semi

automatik merek photometer 4010. Alat ini adalah salah satu alat yang

digunakan di laboratorium klinik untuk menilai kimia darah. Alat ini

dikeluarkan oleh Perusahaan Boehringer Manheim Jerman.

Pemeriksaan berdasarkan reaksi kinetik enzimatik umumnya

dipengaruhi oleh pH, suhu, waktu, dan jenis substrat (Sardini, 2007).

Prinsip metode ini adalah Alanine aminotransferase (ALT)

mengkatalis transaminase dari L-Alanine dan 2-oxoglutarate

membentuk L-Glutamate dan pyruvate direduksi menjadi D-Lactate

oleh enzim lactic dehydrogenase (LDH) dan niconamide adenine

dinucleotide (NADH) teroksidase menjadi NAD. Banyaknya NADH

yang teroksidase berbanding langsung dengan aktivitas ALT dan

diukur dengan photometer 4010 pada panjang gelombang 340 nm,

temperatur 370C, standar 1745 U/L, pengukuran pada blanko udara dan

reagen Diasys. Cara kerja alat ini adalah 1000 µl reagen kerja

dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 100 µl serum

dicampur dengan baik, inkubasi selama 1 menit pada suhu 370C,

diproses dan dibaca dengan alat photometer 4010 pada panjang

gelombang 340 nm
2.7.2 Metode Automatik

Pemeriksaan SGPT juga bisa dilakukan menggunakan alat

automatik analyser kimia klinik merek Selecta Pro Series. Prinsip kerja

alat ini adalah pemipetan serum dan reagen dikerjakan secara otomatis

dan reaksinya berlangsung dalam rotor. Setelah itu alat secara otomatis

membaca absorban dari larutan menggunakan lampu halogen sebagai

sumber cahaya dan dibaca oleh photo diode. Nilai absorban tersebut

dikonversikan menggunakan rumus yang sudah ditentukan untuk

setiap parameternya dengan menggunakan faktor. Hasil akan

ditampilkan pada layar monitor.


BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum yang berjudul “Pemeriksaan Bilirubin Total dalam Darah”

dilaksanankan pada hari Senin, 7 Oktober 2019 bertempat di Laboratorium

Kimia Stikes Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Metode

Metode yang digunakan dalam pemeriksaan bilirubin total yaitu metode

Jendrasik- Grof DSA (diazotized sulphanilic acid)

3.3 Prinsip Kerja

Bilirubin bereaksi dengan DSA (diazotized sulphanilic acid) dan

membentuk senyawa azo yang berwarna merah. Daya serap warna dari

senyawa ini dapat langsung dilakukan terhadap sampel bilirubin pada panjang

gelombang 546 nm. Bilirubin glukuronida yang larut dalam air dapat

langsung bereaksi dengan DSA

3.4 Pra Analitik

Pra analitik adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang pengambilan,

persiapan sampel maupun alat dan bahan :

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu serum,

tabung reaksi, rak tabung, mikropipet, tip, sentrifuge, dispo, kapas alkohol,

reagen bilirubin total, reagen T-Nitrit.

3.5 Analitik

Analitik adalah segala sesuatu yang menyangkut cara kerja pemeriksaan

trigliserida dalam darah :


1. Alat serta bahan yang akan digunakan disiapkan,

2. Kemudian dipipet kedalam tabung reaksi reagen bilirubin total sebanyak 1000

µl,

3. Ditambahkan reagen T-Nitrit sebanyak 1 tetes, dihomogenkan dengan baik

kemudian diinkubasi selama 5 menit.

4. Kemudian ditambahkan serum (darah yang telah disentrifuge) sebanyak 100

µl dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi reagen

5. Larutan dihomogenkan dengan menggunakan mikropipet dan di inkubasi

selama 15 menit menit pada suhu 370c.

6. Kemudian blanko diperiksa terlebih dahulu dan diikuti pembacaan

sampel pada alat humalyzer.

7. Dibuat program untuk tes bilirubin total dimana tes berjalan secara automatik.

8. Dibaca hasil yang diperoleh secara fotometrik.

3.6 Pasca Analitik

Pasca analitik adalah kegiatan akhir dari proses analisis suatu sampel.

Kegiatan pasca analitik meliputi pembacaan hasil.

Nilai Rujukan Pemeriksaan Bilirubin: 0,2-1,2 mg/dl (Arianda, 2016)


4.1 Pembahasan
Darah merupakan cairan yang didalam tubuh manusia yang terdiri
dari 96 % air dan 4 % zat-zat metabolisme lainnya yang dimana memiliki
fungsi untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh
jaringan tubuh, sebagai tempat pertahanan tubuh terhadap virus atau
bakteri serta untuk mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme.
Hati merupakan salah satu organ terbesar yang berada didalam
tubuh yang memiliki fungsi mengatur komposisi darah terutama jumlah
gula, protein, dan lemak yang masuk dalam peredaran darah dan hari
juga sebagai penjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Pada percobaan ini akan dilakukan pemeriksaan SGOT dan SGPT
dalam serum darah. Serum merupakan bagian dari plasma darah tanpa
fibrinogen. Aspartat Aminotransferase (AST) yang disebut SGOT (Serum
Glutamic Oxaloasetic Transaminase) adalah suatu enzim yang terdapat
pada sel darah merah, otot jantung, otot skelet, ginjal dan otak,
sedangkan Alanin Aminotransferase (ALT) yang juga disebut SGPT
(Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) merupakan enzim yang
ditemukan pada hati.
Pada praktikum ini memiliki tujuan yaitu untuk menentukan dan
menghitung kadar SGOT danSGPT dalam serum darah dan
menginterpretasikan datanya.
Pada percobaan pertama-tama dilakukan penyiapan serum dengan
cara disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Kemudian darah
dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge dan disentrifuge selama ± 15
menit dengan kecepatan 6000 rpm. Diambil serum darah, dan
dimasukkan kedalam tabung reaksi.
Kemudian di lakukan pengukuran absorban blanko dengan cara,
disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu Kemudian dipipet 100 µL
aquadest ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 1000 µL reagen 1 SGOT,
lalu homogenkan. Setelah Diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37 °C.
Ditambahkan 250 µL reagen 2 SGOT, homogenkan. Dipindahkan larutan
kedalam kuvet kemudian diukur absorban pada panjang gelombang 365
nm dengan spektrofotometer. Dicatat nilai absorbansinya.
Kemudian pada pengukuran absorban sampel dengan cara,
disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu kemudian dipipet 100 µl serum
ke dalam tabung reaksi, homogenkan. Lalu tambahkan 1000 µl reagen 1
SGOT, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37°C. setelah itu tambahkan
250 µl reagen 2 SGOT dan homogenkan. Lalu diukur absorbannya pada
panjang gelombang 365 nm dengan menggunakan spektrofotometer.
Kemudian diukur lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3, dan ke-4, lalu
dicatat nilai absorbansinya.
Pada pemeriksaan SGOT, reagen I yang digunakan berisi TRIS pH
7,65 110 mmol/liter, L-Aspartat 320 mmol/liter, MDH (Malat
Dehidrogenase) ≥800 U/liter, LDH (Laktat Dehidrogenase) ≥1200 U/liter.
TRIS pH 7,65. Dan Reagen II yang digunakan ini berisi 2-oksoglutarat 65
mmol/liter dan NADH 1 mmol/liter.
Pada pemeriksaan SGPT pada pengukuran absorban blanko
dengan cara, disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu kemudian dipipet
100 µl aquadest ke dalam tabung reaksi, homogenkan. Lalu tambahkan
1000 µl reagen 1 SGPT, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37°C.
setelah itu tambahkan 250 µl reagen 2 SGPT dan homogenkan. Lalu
diukur absorbannya pada panjang gelombang 365 nm dengan
menggunakan spektrofotometer.
Selanjutnya pengukuran absorban sampel dengan cara, disiapkan
alat dan bahan terlebih dahulu kemudian dipipet 100 µl serum ke dalam
tabung reaksi, homogenkan. Lalu tambahkan 1000 µl reagen 1 SGPT,
diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37°C. setelah itu tambahkan 250 µl
reagen 2 SGPT dan homogenkan. Lalu diukur absorbannya pada panjang
gelombang 365 nm dengan menggunakan spektrofotometer. Kemudian
diukur lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3, dan ke-4, lalu dicatat
nilai absorbansinya.
Pada poraktikum ini kita menggunakan metode spektrofotometri
untuk mengukur kadar SGOT dan SGPT dalam serum, alasannya
digunakan metode ini karena metode ini sangat cepat dan mudah, tapi
dapat juga menghasilkan hasil yang tidak akurat. Dimana digunakan
spektrofotometri dengan panjang gelombang 365 nm karena pada
panjang gelombang tersebut sampel akan memberikan serapan yang
maksimum.
Sedangkan alasan menggunakan reagen SGOT karena reagen
SGOT juga merupakan reagen yang spesifik untuk pengukuran SGOT
dan dilakukan inkubasi selama beberapa menit, hal ini dimaksudkan agar
reagen dan sampel dapat bercampur dengan baik. Sedangkan digunakan
reagen SGPT karena reagen SGPT juga merupakan reagen yang spesifik
untuk pengukuran SGPT dan dilakukan inkubasi selama beberapa menit,
hal ini dimaksudkan agar reagen dan sampel dapat bercampur dengan
baik.
Adapun alasan darah disentrifuge adalah untuk memisahkan antara
serum (lapisan atas) dan plasma (lapisan bawah). Alasan digunakannya
serum yaitu karena serum tidak lagi mengandung fibrinogen, dimana
fibrinogen ini terdapat pada plasma dan dapat mengakibatkan
pengukuran absorban meningkat 3-5 %. Dan alasan diinkubasi yaitu agar
seluruh reagen dapat bereaksi sempurna dengan sampel.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil pada
pemeriksaan SGOT untuk kelompok 1 yaitu 86,718 U/L dan pada
kelompok 2 mengahasilkan SGOT yaitu 98,940 U/Ldimana hasilnya tidak
masuk kedalam range karena nilai normal SGOT untuk perempunan : 0-
32 U/L. Sedangkan pada pemeriksaan SGPT untuk kelompok 3 yaitu
75,078U/L dan kelompok 4 yaitu 50,0578 UL, dimana hasilnya tidak
masuk dalam range karena hasilnya diatas range nilai normal SGPT
untuk perempuan : 0-31 U/L.
DAFTAR PUSTAKA

Prasetiyo, mohammad. 2015. Efek Pemberian Vitamin E Terhadap Kadar Sgot Dan
Sgpt Serum Darah Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Jantan Galur Wistar Yang
Diberi Aktivitas Fisik. Skripsi. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Semarang

Chairani. 2017. Gambaran Histologi Dan Fungsi Hati (Sgpt & Sgot) Mencit Jantan
(Mus Musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Metanol Biji Pare (Momordica
Charantia L.) Dan Depo Medroksi Progesteron Asetat (Dmpa). Skripsi. Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara Medan.

Kusumobroto, O Hernomo. 2007. SirosisHati, dalamBuku Ajar Ilmu Penyakit Hati


Edisi I. Jakarta : Jayabadi.

Reza dan Rachmawati. 2017. Perbedaan Kadar Sgot Dan Sgpt Antara Subyek Dengan
Dan Tanpa Diabetes Mellitus. Jurnal Kedokteran Diponegoro. Volume 6,
Nomor 2, April 2017

Reak, Aryan dkk. 2016. Hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada
obesitas sentral. Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember
2016

Nurminha, 2013. Gambaran Aktifitas Enzim SGOT dan SGPT Pada Penderita
Demam Berdarah Dengue di RSUD Dr. Hi. Abdoel Moeloek Bandar
Lampung. Jurnal Analis Kesehatan: Volume 2, No. 2, September 2013

Faiziyah, Ageng. 2015. Uji Aktivitas Hematoprotektiv Ekstrak Air Brung Sarang
Walet Putih Terhadap Aktivitas SGOT dan SGPT Pada Tikus Putih Jantan
Galur. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Jakarta

Anda mungkin juga menyukai