Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sifilis dimasa lalu, merupakan salah satu penyakit yang dikatakan dalam

masyarakat sebagai penyakit kutukan karena tubuh penderita akan digrogoti

oleh kuman sifilis ini dan sulit untuk dilakukan pengobatan jika sudah

terkena. Penyebaran dari penyakit sifilis terjadi dengan kontak langsung

dengan penderita salah satunya adalah dengan seks. Orang-orang yang

termasuk rentan untuk penyakit sifilis adalah para pekerja seks seperti gigolo

dan wanita pekerja seks, namun tidak menutup kemungkinan juga pada orang

yang sering bergonta-ganti pasangan.

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema

pallidum, yang merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik. Selama

perjalanan penyakit ini dapat menyerang seluruh organ tubuh. Selain itu

penyakit sifilis ini juga bersifat laten dan kronis, juga dapat kambuh lagi

sewaktu-waktu.

Insiden sifilis telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, dilaporkan

53.000 kasus pada tahun 1996, sedangkan pada tahun 1992 113.000 kasus.

Namun, jumlah kasus sifilis primer dan sekunder meningkat pada tahun

2000-2007.Pada tahun 2007, 11.466 kasus dilaporkan kepada US Centers for

Disease Control and Prevention.Sebagian besar dari peningkatan ini terjadi

pada pria, terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria lain.

Keseluruhan kasus yang dilaporkan pada wanita menurun. Lebih dari 80%

1
kasus yang dilaporkan di selatan Amerika Serikat. Kecenderungan untuk

kasus sifilis kongenital terjadi penurunan selama sepuluh tahun terakhir.

Namun pada abad modern seperti sekarang ini sudah ditemukan obat

dari sifilis sehingga penderita sifilis dapat berkurang secara signifikan,

namun tidak hilang. Selama penderita melakukan kontak langsung (seks)

dengan pasangan-pasangannya sifilis tidak dapat dikatakan sudah tertangani

sepenuhnya. Dari pembahasan diatas maka penulis mencoba memberikan

pemahaman lebih mengenai penyakit sifilis mulai dari definisi, tanda terkena

penyakit sifilis (gejala), diagnosis, dan khususnya cara penularannya yaitu

dengan kontak langsung.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan sifilis.?

2. Bagaimanakah cara sifilis menular.?

3. Apa saja stadium yang dilalui oleh penyakit sifilis.?

4. Bagaimana gejala dari penyakit sifilis.?

5. Bagaimana cara mencegah penyakit sifilis.?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan penyakit sifilis

2. Untuk mengetahui cara dan proses penularan dari penyakit sifilis

3. Untuk mengetahui stadium-stadium yang dilalui oleh penyakit sifilis

4. Untuk mengetahui gejala-gejala awal dari penyakit sifilis

5. Untuk mengetahui cara mencegah penyakit sifilis

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengartian Sifilis

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri

spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya

melalui kontak seksual, infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin

selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis

kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh

Treponema pallidum termasuk yaws (subspesies pertenue), pinta (sub-

spesies carateum), dan bejel (sub-spesiesendemicum) (Hartono Olivia R,

2008: 2).

Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang

kompleks, disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Perjalanan

penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik. Hampir semua alat tubuh

dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan saraf. Selain itu wanita

hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya ke janin sehingga

menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyababkan kelainan bawaan

atau bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi dan diobati, sifilis dapat

disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak diobati, sifilis dapat

berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian tubuh lain di luar alat

kelamin (Daili, S.F., 2007).

Asal penyakit ini tidak jelas. Sebelum tahun 1492, penyakit ini belum

dikenal di Eropa. Ada yang berpendapat bahwa penyakit ini berasal dari

penduduk indian yang dibawa oleh anak buah Christopher Colombus sewaktu

3
mereka kembali ke Spanyol dari benua Amerika pada tahun 1492. Pada tahun

1494 terjadi epidemi di Napoli, Italia. Pada abad ke 18 baru diketahui bahwa

penyebaran sifilis dan gonore terutama disebabkan oleh senggama dan

keduanya dianggap sebagai infeksi yang sama. Dengan berjalannya waktu,

akhirnya diketahui bahwa kedua penyakit itu disebabkan oleh jenis kuman

yang berbeda dan gejala klinisnyapun berlainan (Hartono Olivia R, 2008: 2).

2.2 Penularan Sifilis

Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau selama

kehamilan dari ibu ke janinnya, spiroseta mampu menembus membran

mokusa utuh atau ganguan kulit. Oleh karena itu dapat ditularkan melalui

mencium area di dekat lesi, serta seks oral, vaginal, dan anal. Sekitar 30

sampai 60% dari mereka yang terkena sifilis primer atau sekunder akan

terkena penyakit tersebut (Daili, S.F., 2009)

Contoh penularannya, seseorang yang disuntik dengan hanya 57

organisme mempunyai peluang 50% terinfeksi. Sebagian besar (60%) dari

kasus baru di United States terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks

dengan laki-laki. Penyakit tersebut dapat ditularkan lewat produk darah.

Namun, produk darah telah diuji di banyak negara dan risiko penularan

tersebut menjadi rendah. Risiko dari penularan karena berbagi jarum

suntik tidaklah banyak. Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet,

aktifitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian (Daili,

S.F., 2009).

4
2.3 Stadium Sifilis

Penyakit sifilis memiliki empat stadium yaitu primer, sekunder, laten dan

tersier. Tiap stadium perkembangan memiliki gejala penyakit yang berbeda-

beda dan menyerang organ tubuh yang berbeda-beda pula (Hakim, L., 2009).

1. Stadium Dini (primer)

Tiga minggu setelah infeksi, timbul lesi pada tempat masuknya

Treponema pallidum. Lesi pada umumnya hanya satu. Terjadi afek primer

berupa penonjolan-penonjolan kecil yang erosif, berkuran 1-2 cm,

berbentuk bulat, dasarnya bersih, merah, kulit disekitarnya tampak

meradang, dan bila diraba ada pengerasan. Kelainan ini tidak nyeri. Dalam

beberapa hari, erosi dapat berubah menjadi ulkus berdinding tegak lurus,

sedangkan sifat lainnya seperti pada afek primer. Keadaan ini dikenal

sebagai ulkus durum. Sekitar tiga minggu kemudian terjadi penjalaran ke

kelenjar getah bening di daerah lipat paha. Kelenjar tersebut membesar,

padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, tunggal dan dapat digerakkan

bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium 1

kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat pula di

bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus. Tanpa pengobatan, lesi

dapat hilang spontan dalam 4-6 minggu, cepat atau lambatnya bergantung

pada besar kecilnya lesi (Hakim, L., 2009).

2. Stadium II (sekunder)

Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I

sudah sembuh. Waktu antara sifilis I dan II umumnya antara 6-8 minggu.

Kadang-kadang terjadi masa transisi, yakni sifilis I masih ada saat timbul

5
gejala stadium II. Sifat yang khas pada sifilis adalah jarang ada rasa gatal.

Gejala konstitusi seperti nyeri kepala, demam, anoreksia, nyeri pada

tulang, dan leher biasanya mendahului, kadang-kadang bersamaan dengan

kelainan pada kulit. Kelainan kulit yang timbul berupa bercak-bercak atau

tonjolan-tonjolan kecil. Tidak terdapat gelembung bernanah. Sifilis

stadium II seringkali disebut sebagai The Greatest Immitator of All Skin

Diseases karena bentuk klinisnya menyerupai banyak sekali kelainan kulit

lain. Selain pada kulit, stadium ini juga dapat mengenai selaput lendir dan

kelenjar getah bening di seluruh tubuh (Hakim, L., 2009).

3. Sifilis Stadium III

Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah

infeksi. Guma umumnya satu, dapat multipel, ukuran milier sampai

berdiameter beberapa sentimeter. Guma dapat timbul pada semua jaringan

dan organ, termasuk tulang rawan pada hidung dan dasar mulut. Guma

juga dapat ditemukan pada organ dalam seperti lambung, hati, limpa, paru-

paru, testis dll. Kelainan lain berupa nodus di bawah kulit, kemerahan dan

nyeri (Hakim, L., 2009).

4. Sifilis Stadium Tersier

Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah sifilis kardiovaskuler

dan neurosifilis (pada jaringan saraf). Umumnya timbul 10-20 tahun

setelah infeksi primer. Sejumlah 10% penderita sifilis akan mengalami

stadium ini. Pria dan orang kulit berwarna lebih banyak terkena. Kematian

karena sifilis terutama disebabkan oleh stadium ini. Diagnosis pasti sifilis

ditegakkan apabila dapat ditemukan Treponema pallidum. Pemeriksaan

6
dilakukan dengan mikroskop lapangan gelap sampai 3 kali (selama 3 hari

berturut-turut) (Hartono Olivia R, 2008:2).

2.4 Gejala-gejala Penyakit Sifilis

Tanda dan gejala sifilis bervariasi bergantung pada fase mana penyakit

tersebut muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara

umum ditandai dengan munculnya chancre tunggal (ulserasi keras, tidak

menimbulkan rasa sakit, tidak gatal di kulit), sifilis sekunder ditandai dengan

ruam yang menyebar yang seringkali muncul di telapak tangan dan tumit kaki,

sifilis laten biasanya tidak memiliki atau hanya menunjukkan sedikit gejala,

dan sifilis tersier dengan gejalagumma, neurologis, atau jantung (Hutapea,

N.O., 2009).

Namun, penyakit ini telah dikenal sebagai "peniru ulung" karena

kemunculannya ditandai dengan gejala yang tidak sama. Diagnosis biasanya

dilakukan melalui tes darah; namun, bakteri juga dapat dilihat melalui

mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya

dengan suntikan penisilin G (yang disuntikkan untuk neurosifilis),

ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi berat terhadap

penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral atau

diminum (Hutapea, N.O., 2009).

1. Fase Primer

Sifilis primer umumnya diperoleh dari kontak seksual secara langsung

dengan orang yang terinfeksi ke orang lain. Sekitar 3 sampai 90 hari

setelah awal kedapatan (rata-rata 21 hari) luka di kulit dinamakan chancre,

tampak pada saat kontak. Lesi ini biasanya (40 % dari waktu) tunggal,

7
kokoh, tanpa rasa sakit, pemborokan kulit tanpa rasa gatal dengan dasar

yang bersih serta berbatasan tajam antara ukuran 0,3 dan 3,0 cm. Walau

bagaimanapun luka bisa dikeluarkan hampir dalam bentuk apapun. Pada

bentuk yang umum, luka baerkembang dari maculeke papule dan akhirnya

ke erosion atau ulcer. Kadang-kadang, lesi ganda mungkin muncul

(~40%). Lesi ganda lebih umum ketika koinfeksi dengan HIV. Lesi

mungkin nyeri atau perih (30%), dan bisa terjadi di luar kelamin (2–7%).

Letak paling umum pada wanita adalah di cervix (44%), penis laki-laki

heteroseksual (99%), dan anal serta rektal umumnya secara relatif (laki-

laki yang berhubungan seks dengan laki-laki) (34%). Pelebaran nodus

limfa;(80%) sering kali terjadi di sekitar daerah infeksi, terjadi selama 10

hari setelah pembentukan tukak. Lesi dapat bertahan selama tiga hingga

enam minggu tanpa pengobatan (Hutapea, N.O., 2009)

2. Fase Skunder

Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang

muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa

berlangsung hanya sebentar atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak

diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi beberapa minggu atau bulan

kemudian akan muncul ruam yang baru. Pada fase sekunder sering

ditemukan luka di mulut. Sekitar 50% penderita memiliki pembesaran

kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya dan sekitar 10% menderita

peradangan mata. Peradangan mata biasanya tidak menimbulkan gejala,

tetapi kadang terjadi pembengkakan saraf mata sehingga penglihatan

menjadi kabur (Hutapea, N.O., 2009).

8
3. Fase Laten

Setelah penderita sembuh dari fase sekunder, penyakit akan memasuki

fase laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa

berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan

sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksi

kembali muncul (Hutapea, N.O., 2009)

4. Fase Tersier

Sifilis tersier bisa terjadi kira-kira 3 hingga 15 tahun setelah infeksi

awal, dan bisa dibagi kedalam tiga bentuk berbeda; sifilis gummatous

(15%), akhir neurosifilis (6.5%), dan kardiovaskular sifilis (10%). Tanpa

pengobatan, ketiga dari orang yang terinfeksi berkembang ke penyakit

tersier. Orang dengan sifilis tersier adalah bukan penular. Sifilis

gummatous atau sifilis akhir benign biasanya terjadi 1 hingga 46 tahun

setelah infeksi awal, dengan rata-rata 15 tahun. Fase ini ditandai oleh

pembentukan gummakronik, yang lembut,mirip peradangan bola tumor

yang bisa bermacam-macam dan sangat signifikan bentuknya gumma

umumnya mempengaruhi kulit, tulang, dan liver, tetapi bisa terjadi

dimanapun. Neurosifilis merujuk pada infeksi yang melibatkan sistem

saraf pusat yang bisa terjadi dini, menjadi tak bergajala atau dalam bentuk

dari meningitis sifilistik yang berhubungan dengan keseimbangan yang

lemah dan nyeri kilat pada ekstrimitas lebih rendah. Akhir neurosifilis

umumnya terjadi 4 hingga 25 tahun setelah infeksi awal. Siflis

meningovaskular umumnya muncul dengan apati dan sawan, serta telah

umum dengan demensia dan dorsalis. Juga di sana mungkin terdapat

9
pupil Argyll Robertson, tempat pupil kecil bilateral menyempit ketika

orang fokus pada objek dekat, tapi tidak menyempit ketika terkena cahaya

terang. Sifilis kardiovaskular biasanya terjadi 10-30 tahun setelah infeksi

awal. Komplikasi yang paling umum adalah syphilitic aortitis, yang dapat

mengakibatkan pembentukan aneurisme (Hutapea, N.O., 2009)

2.5 Pencegahan Penyakit Sifilis

Tidak ada vaksin yang efektif untuk pencegahan. Berpantang dari kontak

fisik intim dengan orang yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan

sifilis, seperti penggunaan yang tepat dari kondom lateks. Namun,

penggunaan kondom, tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Oleh karena

itu, Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan hubungan

jangka panjang dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi dan menghindari

zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya yang dapat meningkatkan risiko

perilaku seksual (Hakim, L., 2009)

Sifilis bawaan pada bayi dapat dicegah dengan penapisan ibu selama

awal kehamilan dan mengobati mereka yang terinfeksi. United States

Preventive Services Task Force (USPSTF) sangat merekomendasikan

penapisan universal pada semua wanita hamil, sedangkan Organisasi

Kesehatan Dunia menyarankan agar semua wanita dites pada kunjungan

pertama antenatal dan sekali lagi pada trimester ketiga. Jika mereka positif,

mereka menganjurkan agar pasangan mereka juga dirawat. Meskipun

demikian, sifilis bawaan masih banyak terjadi di negara berkembang, karena

banyak wanita yang sama sekali belum menerima perawatan antenatal, dan

bahkan perawatan lain sebelum melahirkan yang diterima tidak termasuk

10
penapisan, dan ini terkadang masih terjadi di negara maju, karena mereka

yang kemungkinan besar tertular sifilis (melalui penggunaan obat-obatan

terlarang, dll.) adalah yang paling sedikit menerima perawatan selama

kehamilan. Beberapa langkah untuk meningkatkan akses ke tes tampaknya

efektif untuk mengurangi tingkat sifilis bawaan di negara berpendapatan

rendah sampai menengah (Hakim, L., 2009)

Sifilis adalah penyakit yang harus dilaporkan di beberapa negara,

termasuk di Kanada Uni Eropa , dan Amerika Serikat. Ini berarti penyedia

layanan kesehatan diwajibkan untuk memberitahukan kepada

otoritas Kesehatan Masyarakat, yang idealnya nanti akan

memberikan pemberitahuan pasangan kepada pasangan pasien. Dokter juga

dapat mendorong pasien untuk mengirim pasangan pasien untuk mencari

perawatan kesehatan. CDC merekomendasikan laki-laki yang aktif secara

seksual yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki dites sekurang-

kurangnya sekali dalam setahun (Hakim, L., 2009).

11
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Pelaksanaan praktikum Imunologi-serologi dilaksanakan pada hari jumat

tanggal 12 april 2019. Bertempat dilaboratorium Fitokimia STIKES Bina

Mandiri Gorontalo.

3.2 Metode

Metode yang digunakan pada pemeriksaan Sifilis yaitu menggunakan Tes

Sifilis ( rapid test ).

3.3 Prinsip

Rapid tets strip immunoassay untuk mendeteksi antibody (IgG dan IgM)

Troponema Palidum dalam serum. Antigen sifilis yang terdapat pada daerah

test akan bereaksi dengan antibody sifilis yang terdapat pada serum.

Campuran ini akan bergerak secara kromatografi sepanjang garis test dan akan

bereaksi dan menimbulkan garis warna pada strip.

3.4 Pra Analitikik

1. Persiapan Pasien : Tidak memerlukan pesiapan khusus

2. Pesiapan sampel : Darah vena

3. Persiapan alat dan bahan : alat test, pipet tetes, dan serum

3.5 Analitik

1. Siapkan alat dan bahan

2. Pipet serum dan masukan kedalam bantalan sampel sebanyak 3 tetes

serum

3. Masukan 4 tetes reagen anti sifilis

12
4. Tunggu selama 5-20 menit

3.4 Pasca Analitik

(+) : Terbentuk 2 garis merah pada daerah control (C) dan test (T)

atau sumur

(-) : Hanya 1 garis merah muncul pada bagian control (C)

Invalid : Tidak timbul garis merah sama sekali atau timbul hanya pada

daerah test

13
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didaptkan hasil sebagai berikut :

Pasien Umur Hasil Keterangan


Hanya 1 garis merah

muncul pada bagian


Nn. EY 20 thn Negatif (-)
control (C)

Tabel 1. Hasil pemeriksaan Sifilis

4.2 Pembahasan

Pada praktikum pemeriksaan Sifilis ini menggunakan rapid test. Rapid

test ini adalah alat yang dapat mendeteksi sifilis dengan sangat cepat karena

hanya diperlukan waktu kurang dari 20 menit. Prinsip dari Rapid test ini

adalah imunokromatografi dengan prinsip serum/plasma yang diletakan

dengan pada bantalan sampel bereaksi dengan partikel yang telah dilapisi

dengan anti sifilis (antibody). Campuran ini selanjutnya akan bergerak

sepanjang strip membrane untuk berikatan dengan antibody positif pada

daerah test (T), sehingga akan menghasilkan garis warna. Garis warna pada

daerah control (C) dan test (T) menandakan sampel positif, apabila garis

warna hanya muncul pada daerah control (C) maka sampel tersebut negative

dan apabila tidak terdapat garis pada daerah control dan test menandakan

invalid atau pun dia muncul garis merah tetapi hanya pada bagian test.

Pada praktikum ini yang dilakukan pertama yaitu menyampling dengan

menggunakan tabung vakum yang berpenutup merah. Karena tabung vakum

14
dengan penutup warna merah ini tidak terdapat zat additive (antikoagulan),

sehingga darah cepat untuk membeku. Setelah itu diamkan darah selama

beberapa menit sampai darah menggumpal. Hal ini bertujuan untuk

mendapatkan serum yang baik. Ciri-ciri serum yang baik yaitu berwarna

kuning bening, setelah didiamkan selama beberapa menit, sampel tersebut

disentrifuge selama 10 menit. Sentrifuge ini berfungsi untuk memisahkan

serum dengan plasma. Setelah disentrifuge letakan sampel pada rak tabung,

kemudian buka alat test dari pembungkusnya, selanjutnya ambil serum

dengan menggunakan pipet micron, kemudian masukan 3 tetes pada bantalan

sampel, setelah itu tambahkan 4 tetes reagen anti sifilis, setelah itu tunggu

sampai beberapa menit sampai muncul garis merah pada strip test.

Berdasarkan hasil yang telah didapatkan dari Nn. EY yaitu negative

karena hanya terbentuk garis warna pada daerah control. Adapun beberapa

faktor yang dapat mempengaruhi hasil laboratorium yaitu Serum atau plasma

ikterik, hemolisis, atau lipemik dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.

15
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil negative

sifilis karena hanya muncul 1 garis pada daerah control. Garis warna pada

daerah control (C) dan test (T) menandakan sampel positif, apabila garis

warna hanya muncul pada daerah control (C) maka sampel tersebut negative.

5.2 Saran

Sebelum melakukan praktikum sebaiknya praktikan memperhatikan

alat, bahan, dan reagen agar pada saat melakukan praktikum tidak salah dalam

mengeluarkan hasil yang akan diperiksa.

16
DAFTAR PUSTAKA

Daili, S.F., 2007. Tinjauan Penyakit Menular Seksual (PMS). In: Djuanda, A.,
Hamzah, M., and Aisah, S., Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 5th ed.
Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 363-365.

Daili, S.F., 2009. Gonore. In: Daili, S.F., et al., Infeksi Menular Seksual. 4th ed.
Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 65-76.

Hakim, L., 2009. Epidemiologi Infeksi Menular Seksual. In: Daili, S.F., et al.,
Infeksi Menular Seksual. 4th ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 3-16.

Hutapea, N.O., 2009. Sifilis. In: Daili, S.F., et al., Infeksi Menular Seksual. 4th
ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI, 84-102.

Hartono Olivia R, 2008. Treponema Pallidium. Forum Penelitian, 1 (1) : 2.

17