Anda di halaman 1dari 7

2.

10 Streptococcus

Streptococcus adalah suatu bakteri yang memiliki bentuk seperti rangkaian

rantai. Streptococcus berasal dari kata “strepto” yang berarti rantai dan

“coccus” yang berarti bulat. Sebagian besar bakteri yang masuk dalam

kelompok Streptococcus dapat hidup di lingkungan beroksigen ataupun tanpa

oksigen.

Infeksi Streptococcus dapat menyerang siapa saja, dari anak-anak hingga

dewasa dan lanjut usia. Bakteri Streptococcus menyebabkan infeksi yang

bervariasi dari ringan hingga berat, dari infeksi tenggorokan ringan hingga

radang paru-paru dan selaput otak (Aini, 2016).

Infeksi Streptococcus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri

Streptococcus. Bakteri Streptococcus terbagi menjadi dua tipe, yakni tipe A dan

tipe B. Bakteri ini pada dasarnya merupakan jenis bakteri yang dapat hidup dan

tumbuh di tubuh manusia, serta tidak menimbulkan penyakit yang serius.

Namun, pada keadaan tertentu, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi yang

menimbulkan gejala, mulai dari ringan hingga serius.

a. Bakteri Streptococcus tipe A.

Bakteri ini dapat hidup di kulit dan tenggorakan, dan ditularkan

melalui kontak langsung, misalnya melalui sentuhan kulit.

b. Bakteri Streptococcus tipe B.

Bakteri ini dapat hidup di usus, vagina, dan bagian akhir dari usus

besar (rektum), serta tidak menimbulkan masalah. Terdapat faktor pemicu


yang mempengaruhi, seperti umur dan kondisi kesehatan, sehingga bakteri

ini dapat menimbulkan masalah.

2.11 Gambaran Klinis Streptococcus

1. Streptococcus tipe A

Berikut ini merupakan gejala yang muncul berdasarkan penyakit yang

disebabkan oleh bakteri Streptococcus tipe A:

1) Radang tenggorokan : Faringitis biasanya terjadi 2 sampai 4 hari setelah

terpapar patogen, ditandai dengan munculnya sakit di tenggorokan

secara mendadak, demam, malaise, dan sakit kepala. Faring posterior

terlihat merah dengan adanya eksudat disertai limfadenopathy kelenjar

leher yang mencolok.

2) Demam Scarlet : Terdapat garis-garis merah di sekitar ketiak, siku, dan

lutut, Terdapat bercak merah, putih, atau kuning pada tenggorokan,

Demam, Amandel membengkak, Mual dan muntah, Sakit kepala, Kulit

di sekitar bibir pucat, Wajah memerah, Lidah bengkak dan

bergelombang.

3) Demam reumatik : Ditandai dengan reaksi inflamasi yang melibatkan

jantung, sendi, pembuluh darah, dan jaringan subkutan. Manifestasi

pada jantung berupa pankarditis (endokarditis, perikarditis dan

miokarditis) dan sering dihubungkan dengan nodul subkutan. Dapat

terjadi kerusakan progresif dan kronis pada katub jantung. Manifestasi

pada sendi berkisar dari atralgia hingga artrits, dengan keterlibatan sendi

secara multipel dengan pola yang berpindah-pindah.


4) Impetigo: Terdapat luka seperti lepuhan di tubuh, umumnya di area

wajah, Luka tersebut cepat membesar dan menyebar ke area tubuh lain,

dan juga cepat pecah serta meninggalkan bekas berupa kerak berwarna

coklat keemasan. Impetigo merupakan infeksi kulit bernanah yang

berbatas, biasanya timbul pada area yang terpapar (wajah, lengan, kaki).

Infeksi terjadi oleh karena adanya kolonisasi S. pyogenes akibat kontak

langsung dari orang yang terinfeksi. Organisme masuk ke jaringan

subkutan melalui kerusakan kulit seperti garukan dan gigitan serangga.

5) Glomerulonephritis: Ditandai dengan adanya inflamasi akut dari

glomerulus ginjal yang ditandai adanya lesi glomerulus yang proliferatif

dan difus dan secara klinis disertai edema, hipertensi, hematuria dan

proteinuria.Penyakit ini merupakan komplikasi nonsupuratif lambat dari

infeksi di faring atau infeksi kulit oleh strain tertentu dari Streptokokus

Grup A yang nefritogenik dalam jumlah yang terbatas. Serotipe M-12

merupakan serotipe tersering yang menyebabkan glomerulonefritis akut

setelah infeksi faringitis atau tonsilitis, sedangkan serotipe M-49

merupakan jenis yang sering dari nefritis yang disebabkan oleh

pyoderma. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis serta

adanya bukti infeksi S.pyogenes sebelumnya.

2. Streptococcus tipe B

Infeksi bakteri Streptococcus tipe B dapat terjadi pada orang dewasa

dan bayi. Pada orang dewasa, bakteri Streptococcus tipe B dapat

menimbulkan kondisi berikut:


1) Infeksi kulit dan jaringan halus

2) Infeksi paru (pneumonia)

3) Infeksi saluran kemih

4) Meningitis atau radang selaput otak

5) Sepsis

2.12 Diagnosis Laboratorium

1. Deteksi Antigen

Streptokokus secara defenitif diidentifikasi berdasarkan karbohidrat

spesifik grup melalui uji deteksi antigen langsung. Berbagi macam tes

imunologi yang menggunakan antibodi yang akan bereaksi dengan

karbohidrat spesifik grup pada dinding sel bakteri dapat digunakan untuk

mendeteksi Streptokokus grup A secara langsung dari usap

tenggorokan.Tes ini menggunakan metode kimiawi atau enzimatik untuk

mengekstraksi antigen dari swab, kemudian menggunakan enzyme

immunoassay (EIA) atau uji aglutinasi dari partikel lateks untuk melihat

keberadaan antigen.Ekstrasi antigen dari spesimen menggunakan nitrous

acid atau pronaseselama 5 menit.5 Uji ini dapat diselesaikan dalam

beberapa menit atau beberapa jam sejak spesimen didapat, dengan

sensitifitas 60-90% dan spesifisitas 98-99% jika dibanding dengan

metode kultur.2 Metode deteksi langsung S. pyogenes dari spesimen

dengan sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi dapat diperoleh melalui

pemeriksaan dengan probe asam nukleat.5


2. Deteksi Antibodi

Pasien yang mengalami infeksi S. pyogenes memproduksi antibodi

terhadap banyak enzim yang spesifik.Diantaranya anti-Streptolisin O

(ASO), khususnya untik infeksi di saluran nafas, anti-DNase, dan

antihialurodinase pada infeksi kulit, antistreptokinase, antibodi anti M

spesifik. Meskipun antibodi terhadap protein M diproduksi dan penting

untuk mempertahankan imunitas, namun antibodi ini munculnya lambat

dalam perjalanan penyakit dan bersifat spesifik. Sebaliknya pengukuran

antibodi terhadap Streptolysin O (uji ASO) bermanfaat untuk

mengkonfirmasi kondisi demam rematik atau glomerulonefritis akut yang

dihasilkan dari infeksi faring oleh streptokokus yang baru dialami.

Antibodi ini muncul 3-4 minggu setelah paparan awal organisme dan

kemudian menetap, namun peningkatan titer ASO ini tidak dijumpai pada

pasien dengan pyoderma. Produksi antibodi yang lain terhadap enzim

streptokokus, khususnya DNase B telah dilaporkan pada pasien dengan

faringitis maupun pyoderma oleh streptokokus. Uji anti-DNase B

sebaiknya dilakukan jika ada kecurigaan terhadap glomerulonefritis

karena streptokokus.

2.13 Pencegahan infeksi Streptococcus

Pencegahan infeksi Streptococcus berbeda-beda, tergantung usia dan tipe

infeksi. Pada infeksi Streptococcus tipe A, pencegahan dapat dilakukan dengan

menghindari terjadinya penularan, seperti:

1. Mencuci tangan setelah beraktivitas.


2. Tidak berbagi pakai peralatan makan, seperti sendok, piring, atau gelas.

3. Menggunakan masker, terutama penderita infeksi, saat bersin atau batuk

4. Membersihkan barang-barang yang mungkin terkontaminasi.

Sedangkan untuk mencegah infeksi Streptococcus tipe B pada bayi baru

lahir, ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin, agar penanganan dapat

segera dilakukan apabila terdeteksi adanya infeksi. Pemeriksaan dapat dilakukan

pada minggu ke-35 hingga ke-37 umur kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan

dapat berupa prosedur usap vagina atau rektal untuk mengambil sampel cairan

tubuh.

Penggunaan antibiotik selama masa persalinan bagi wanita hamil atau

mereka yang memiliki risiko terinfeksi bakteri Streptococcus tipe B, dapat

mencegah penyebaran infeksi Streptococcus tipe B dan mengurangi potensi

terjadinya gejala dini pada bayi.


Sandra Agna Setyo Budi, Widura, Wenny Waty. 2014. Prevalensistreptococcus Beta-
Hemolyticus Group Apada Apus Tenggorok Mahasiswa Fakultaskedokteran
Gigi Universitas Kristen Maranatha.
Jawetz, Melnick, Adelberg. Medical Microbiologi. 24 th ed. Mc Graw-Hill, 2005. p :
233-39

Murray PR (ed in chief). Manual of Clinical Microbiology. 9th ed. ASM Press. 2007.
p : 412-29

Willey J, Sherwood L, Woolverton C. Microbiology Prescott, Harley, and Klein’s.


7th ed. McGraw-Hill. 2008. p : 125-30

Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA. Medical Microbiology. 5 th ed. Elsevier
Mosby. 2005. p : 237-46

Mandell GL, Bennett JE, Dolin R. Mandell, Douglas, and Bennett’s.Principles and
Practise of Infectious Diseases. 6th ed. Elsevier Churchill Livingstone. 2005. p
: 2364-87

Aini, Fadila. 2016. Identifikasi Carrier Bakteri Streptococcus β hemolyticus Group A


pada Murid SD Negeri 13 Padang Berdasarkan Perbedaan Umur dan Jenis
Kelamin. Jurnal Kesehatan. Hal:145-148.