Anda di halaman 1dari 9

TEKA TEKI KEHIDUPAN: EDUCATION

Berkembang dan majunya sebuah wilayah bahkan negara tidak terlepas dari kata
pendidikan. Akar masalah semua permasalahan selalu dikembalikan pada sebuah
pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat sebagai bagian dari sebuah wilayah.
Begitulah kurang lebih apa yang didapatkan ketika belajar di prodi Perencanaan
Wilayah dan Kota. Maka berbicara mengenai dunia pendidikan tidak akan pernah
ada habisnya dan perlu perlu perhatian khusus. Karena pendidikan adalah
tanggung jawab kita bersama.

Semua berawal dari coretan kecil semasa kuliah (lihat gambar 1), waktu itu saya
menuliskan apa yang ditargetkan untuk ditanamkan kepada anak-anak dan remaja
serta proses pencapaian target tersebut. Selain itu, kekhawatiran-kekhawatiran
yang muncul pada diri ini mendorong saya untuk mencoba terjun pada dunia
pendidikan. Pembentukan akhlak dan karakter pada anak adalah harapan yang
terlintas dalam hati pada waktu itu. Dan harapan selanjutnya dalam relung hati
yang paling dalam mengambil kutipan buku karya Mohammad Fauzil Adhim,
Positive Parenting.

“Jika anak-anak kita tumbuh dengan berpijak pada pesan-pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang mulia ini, in syaa Allah pada zaman mereka kelak kemenangan dan
kekuasaan atas dunia ini ada di tangan mereka. Dunia berada dalam genggaman.
Mereka berkuasa atasnya, tetapi tidak tenggelam di dalamnya. Sementara akhirat, ada di
hati mereka. Apa pun yang mereka kerjakan, ke akhiratlah ujungnya”.

Gambar 1 Coretan Kecil

Jejak Awal

Garut. Kota intan parahyangan. Kota sejuta kenangan. Tempat yang dapat
menjadi daya tarik para wisatawan apabila wilayah ini dikembangkan. Ya, saya
tinggal di kota ini. Tepatnya dimana kemacetan sering terjadi di wilayah kecil ini,
khususnya ketika hari raya besar Islam, Idul Fitri. Lebih tepatnya berada di
belakang Pasar Limbangan, Kampung Sindang Anom. Limbangan ini dapat
dikatakan sebagai zona pendidikan, dimana fasilitas pendidikan berkumpul disini
dari mulai tingkat kanak-kanak sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Termasuk di lingkungan sekitar rumah saya, anak-anak dan remaja tidak pernah
luput dari pandangan saya setiap hari.

Madrasah Diniyah (Madin) Yapinur. Salah satu fasilitas pendidikan non formal
dalam bidang pendidikan agama Islam yang berada di Kampung Sindang Anom,
Limbangan. Madrasah atau sekolah yang mempunyai moto, “Berpikir, Berhati
dan Beramal”. Berharap melahirkan generasi pengisi nusantara yang berpikir
sebelum bertindak, beramal dengan ikhlas dan berjuang yang tidak mengharapkan
balasan, harus dengan niat yang bersih (amal yang tidak diselimuti riya). Sekolah
non formal yang setara dengan Sekolah Dasar (SD) ini mempunyai enam kelas.
Namun, hanya mempunyai empat tenaga pengajar. Sehingga ada dua guru yang
memegang dua kelas. Oleh karena itulah, hati ini tergerak untuk ikut mengajar
disini sambil menunggu pekerja yang sesuai dengan passion saya. Karena waktu
itu saya baru saja menyelesaikan studi S1 saya.

Obrolan dan Kekhawatiran. “Pak, saya coba megang madin 4. Sambil


menunggu pekerjaan yang cocok.”, ucap saya kepada pemilik Madrasah Diniyah
Yapinur ketika di tengah obrolan kami (saya, pemilik madrasah dan salah satu
guru madin) waktu itu. Keputusan itu diambil ketika saya sedang magang kerja di
Bandung. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan magang dan akhirnya
mendapat amanah untuk menjadi wali kelas madin 4 (kelas 4) di Madrasah
Diniyah Yapinur. Khawatir, yang dirasakan waktu itu ketika mendengarkan
obrolan dari kedua guru madin Yapinur. Walaupun ilmu belum memadai, tapi
keinginan untuk memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar selalu tertanam
dalam hati sanubari. Berpegang pada kalimat, “Sebaik-baik manusia adalah yang
bermanfaat bagi manusia lainnya”. Bismillah saya memulai untuk berkontribusi
menjadi tenaga pengajar di Madin Yapinur.

Pembiasaan Santri. Terdapat beberapa kegiatan yang biasa dilakukan oleh siswa
dan siswi disini. Sebelum pembelajaran dimulai, dilakukan berdo’a bersama dari
mulai kelas satu sampai kelas enam. Setelah selesai berdo’a dengan beberapa do’a
yang biasa mereka bacakan, mereka membaca beberapa hafalan. Hafalan yang
menjadi pegangan mereka diantaranya Al-Mahfudzat (mutiara hadits), tauhid
(sifat wajib bagi Allah dan rasul), Surat Yasin, Do’a-do’a wudhu dan shalat,
nadzoman subul iman, juz ‘amma dan asmaul husna. Setiap hari punya jadwal
bacaan dan hafalan sendiri, hal itu dilakukan agar membantu siswa dalam
menghafal hafalan-hafalannya. Setelah membaca hafalan, semua siswa masuk ke
masing-masing kelas dan mulai pembelajaran. Pembelajaran disini masih bersifat
tradisional, guru biasanya menulis pelajaran sesuai jadwal pelajaran di papan tulis.
Selama pembelajaran, sambil anak menulis, anak juga setor hafalannya sesuai
dengan hafalan masing-masing dan mengaji Al-Qur’an kepada gurunya.
Kemudian setelah pembelajaran dilakukan shalat berjamah ashar, dan setiap anak
mendapatkan jadwal untuk menjadi imam baik putra mapupun putri. Sebelum
pulang, biasanya siswa menyetor kembali hafalan lainnya ke masing-masing guru
dan sebagian santri melaksanakan piket kebersihan.
Kesan Pertama. Setelah memutuskan untuk membantu mengajar di sekolah ini,
ini pertama kalinya bagi saya mengajar. Ketika hari pertama mengajar, saya
diperkenalkan oleh guru lain bahwa saya yang akan mengajar mereka. Ya, seperti
dua orang yang baru saling mengenal, harus pedekate dulu dan lain-lain. Saya
melakukan apa yang menjadi kebiasaan belajar mengajar disini. Ketika kegiatan
belajar mengajar dimulai, dan saya menulis bahan ajar di papan tulis. Setelah
selesai menulis, tidak seperti yang saya bayangkan. semua anak akan menulis
sampai selesai. Kemudian setor hafalan dengan mandiri tanpa di perintah. Hafal
hafalannya dengan lancar, tanpa terbata-bata. Duduk rapi di tempat masing-
masing.

Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya. Ada beberapa anak yang lama menulisnya
bahkan tidak selesai, tidak semua setor hafalan harus di suruh-suruh. Ketika
menulis, malah ada beberapa yang lari kesana kemari, bercanda dan ngobrol
dengan temannya sehingga menulisya tidak selesai, masuk keluar kelas ketika
belajar. Dan masih banyak lagi, ditambah karakter anak yang kurang baik melekat
pada beberapa anak. Masya Allah, luar biasa sekali rasanya menjadi seorang guru.
Kesal, pusing, ingin marah sejadi-jadinya. Kesan pertama yang didapatkan saat
pertama kali mengajar. Apalagi kamu yang bergolongan darah A, yang segala
halnya harus serba teratur dan sesuai dengan yang seharusnya.

Perubahan. Beberapa hari mengajar, ada motivasi tersendiri untuk menyemai


harapan yang sempat terlintas dalam hati. Saya mulai berpikir dan mencoba
beberapa metode pembelajaran dari hasil pemikiran pribadi, membaca,
pengalaman yang pernah dilalui dan melihat kondisi di lapangan juga (karakter
anak dan lingkungan). Bagi seorang guru ada kebanggaan tersendiri ketika anak
didiknya perlahan berubah menuju karakter yang lebih baik. Namun, untuk
mencapai hal itu perlu usaha yang maksimal, karena setiap anak tidaklah sama.
Maka, hal pertama yang saya lakukan adalah Meluruskan Niat. Niat yang baik
merupakan langkah awal agar menghasilkan baiknya amal, karena setiap amal
perbuatan tergantung pada apa yang diniatkannya. Apabila seseorang berniat
mengajar hanya untuk mengisi waktu luang, maka amalnya juga hanya mengisi
waktu luang tanpa ada nilai plus lainnya. Namun, apabila seorang guru
mempunyai niat yang kuat karena Allah, ingin menghasilkan generasi penerus
yang lebih baik dari dirinya sehingga agama-Nya tegak berdiri menguasai dunia.
Dengan melahirkan generasi seperti itu, keridhaan Allah pun in Syaa Allah
diraihnya. Maka hasil amalnya pun (mengajarnya) akan amazing, generasi
penerus yang baik juga akan terlahir melalui tangan dirinya.

Sebagaimana cerita awal, saya mempunyai harapan untuk membentuk akhlak dan
karakter anak, sehingga menghasilkan generasi agama yang berakhlakul karimah
dan berkarakter. Setelah benar-benar meluruskan niat, kemudian saya mencoba
menerapkan beberapa metode pembelajaran yang telah saya pikirkan. Saya sedikit
lupa apa yang diterapkan pertama kali, tapi kurang lebih seperti ini: hal yang
dilakukan waktu itu yaitu membina akhlak mereka, bagaimana mereka
menghormati seorang guru, orang yang lebih tua dari mereka dan mempunyai
akhlak yang baik. Mengapa hal itu yang saya coba terapkan waktu itu? Karena
kunci keberkahan ilmu terletak pada bagaimana seorang murid memuliakan
pemilik ilmu yaitu seorang guru.

Bagaimana caranya?. Saya mencoba menerapkan apa yang saya dapatkan selama
saya mondok di pesantren khusunya waktu saya pesantren di Tasikmalaya ketika
saya berada di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pertama memberikan
aturan atau tata cara bagaimana mereka menyalami seorang guru ketika guru
tersebut sedang duduk. Saya coba terapkan ketika mereka pulang, pertama kali
memang mereka susah untuk melakukannya. Tapi, secara berkala mereka terbiasa.
Kemudian, saya selalu menegur mereka, ketika mereka berjalan di depan saya
atau guru lain yang sedang duduk. Selain itu, saya memberikan hukuman
sederhana sesuai dengan kesepakatan dengan anak, untuk anak yang tidak
berperilaku baik.

Selanjutnya, yang saya lakukan adalah menjadi inspirasi bagi anak didik saya. Be
Inspiring Teacher. Ya, kurang lebih sebutannya seperti itu. Saya mencoba
memberikan cerita mengenai diri saya sendiri yang bisa memotivasi dan
menyemangati mereka. Atau kisah-kisah yang dapat menjadi inspirasi bagi
mereka. Dengan pemberian motivasi dan semangat, In Syaa Allah anak akan
semangat dalam belajar dan mencapai apa yang dicitakan. Dalam buku positive
parenting yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim, sebuah cerita yang
menginspirasi meyadarkan mereka bahwa ada yang harus mereka kerjakan dan
pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-Nya. Karakter bangsa banyak
dipengaruhi oleh cerita yang mereka dengar saat kecil, pernyataan tersebut
merupakan hasil penelitian David McClelland yang masih dijelaskan dalam buku
positive parenting.

Kenapa seperti itu? Ya, karena Guru, di Gugu dan ditiRu. Apa yang diucapkan
oleh gurunya pasti mereka akan mendengarkan. Adik saya pun begitu, apa-apa
“kata bunda..”, melakukan ini “kata bunda”, dia berkata “da kata bunda juga”, ya
karena nasihat dan perbuatan seorang guru lebih didengar dari pada ibunya
sendiri. Maka dari itu jadilah guru yang menginspirasi, dan memberi teladan yang
baik. Oleh sebab itu, tambahkan pemberian contoh secara langsung, Kita tidak
bisa hanya menasihati, tanpa kita memberi contoh secara langsung. Bagaimana
anak bisa mengerti dan mendengarkan kita, kalau kita sendiri tidak melakukannya
juga. Salah satu metode mendidik anak yang dijelaskan dalam buku prophetic
parenting yaitu dengan menampilkan suri teladan yang baik.

Selain menjadi Inspiring Teacher, yang saya lakukan yaitu penerapan Disiplin
pada setiap kegiatan anak. Mencoba melatih sedikit demi sedikit anak untuk
menerapkan disiplin pada semua kegiatannya. Dari mulai masuk, pengucapan
salam. Memberi tahu anak bagimana melakukannya? memberi langkah-
langkahnya dan bagaimana cara melakukannya. Dalam mendisiplinkan mereka
baik dalam kegiatan pembelajaran, shalat berjamaah dan kegiatan lainnya di
sekolah, saya mencoba membuat aturan dan kesepakatan dengan anak. Aturan dan
kesepakatan tersebut diantaranya:
1. Setor hafalan. Siswa siswi biasanya menyetor hafalannya setelah selesai
menulis dan membaca Al-Qur’an. Mereka berebut untuk setor hafalan
kepada gurunya, sehingga tidak beraturan dan tidak terkontrol bagaimana
perkembangan hafalan anak satu per satu. Saya mencoba dengan
memberikan aturan untuk siswa yang akan menyetor hafalannya, berbaris
tentunya sambil duduk berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan). Dengan metode itu, akhirnya anak dapat belajar disiplin dan
benar-benar terkontrol satu per satu perkembangan setiap anak.
2. Menulis. Dalam mengatasi anak yang kebiasaanya tidak menyelesaikan
tulisannya, saya mencoba memberikan batas waktu bagi mereka untuk
menyelesaikan tulisannya. Selain mendisiplinkan anak, saya berharap
anak-anak lebih gesit dan cepat dalam menyelesaikan kewajibannya.
Dengan itu, mereka dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin,
juga menjadi ‘agile’ (kalau istilah dalam program RKMENTEE, program
mentorship dengan prof. Rhenald Kasali). Agile yaitu kata sifat yang
mengandung arti cerdas; gesit; lincah; tangkas; cekatan. Hal tersebut
sebagai bekal untuk melangkah pada setiap tangga dalam menggapai
mimpi mereka.
3. Reward and Punishment. Saya mencoba untuk memberi poin seratus
kepada setiap anak. Setiap anak yang melakukan kesalahan, maka poin
yang mereka miliki akan berkurang sesuai dengan kesepakatan.
Sebaliknya, apabila anak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka
dapat menambahkan poin yang mereka miliki. Selain dikurangi poin,
apabila mereka melakukan, mereka juga terkadang mendapat hukuman
lain dari saya untuk mendidik mereka agar menjadi lebih baik dan
memiliki akhlakul karimah. Sebagaimana nasihat Luqman kepada
anaknya, “Orang tua yang memukul anaknya, sama seperti pupuk untuk
tanaman”. Dengan metode itu, anak lebih semangat dan dapat berubah ke
arah yang lebih baik dengan perlahan. Karena anak akan lebih tertantang
dan semangat, ketika kita kasih hadiah atau hukuman apabila melakukan
sesuatu hal atau tidak melakukannya.

Saya pun mencoba metode-metode mengajar yang dapat menyenangkan anak


untuk belajar, membuat anak semangat dan antusias untuk mendengarkan
pelajaran yang disampaikan. Seperti dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits,
biasanya kami menghafal surat dan terjemahnya bersama, kemudian saya
menunjuk anak secara acak. Apabila anak tersebut tidak dapat menjawabnya,
maka medapat hukuman sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat di awal.
Ketika mata pelajaran bahasa arab, sesekali saya kemas dalam bentuk cerdas
cermat. Begitu pun dalam mata pelajaran lainnya, saya mencoba memberikan
pengajaran yang membuata anak antusias dan semangat dalam belajar. Setiap
penyampaian semua mata pelajaran, kami biasanya duduk melingkar. Dengan
duduk melingkar, saya dapat memperhatikan setiap anak satu per satu.
Hal yang paling utama dari itu semua dalah Ikhlas. Mencoba terus belajar ikhlas
dalam setiap amal. Walaupun terasa sulit, dengan pembiasaan In Syaa Allah hati
kita akan terlatih. Degan ikhlas, secapek apa pun kegiatan kita, kita akan terus
bahagia dalam melakukannya, kita pun akan selalu sehat jiwa dan raga. Dengan
mencoba melakukan hal itu semua, setelah saya setahun mengajar disini, ada rasa
haru dan bangga tersendiri. Semua anak didik telah berubah lebih baik.
Karakternya menjadi baik dan berakhlakuk karimah, disiplin dan mandiri. Semua
anak menulis dengan cepat dan tepat waktu, ketika belajar, semua belajar dengan
seksama hanya perlu menegur sedikit. Hafalan mereka luar biasa, sudah terlatih
menghafal, diberikan beberapa hafalan langsung disantapnya dengan baik.

Guru lain pun memuji mereka karena kedisiplinan mereka sampai mereka bisa
lebih baik dari kakak-kakak kelasnya. Huhu, sedih rasanya. Selain itu, saya punya
target lain yaitu membuat anak percaya diri dan bisa menceritakan kembali apa
yang sudah dijelaskan kepada mereka, berani bertanya dan menjawab. Dan semua
itu, alhamdulillah tercapai, dari anak yang susah menghafal dan lambat menjadi
seorang anak yang mudah cepat hafal dan semangat. Dari anak yang malu
berbicara, bertanya dan menjawab menjadi anak yang luar biasa percaya diri.
Semua anak berinteraksi dengan baik ketika pembelajaran, menjawab dan
bertanya berdasarkan argumen anak. Alhamdulillah, rasa senang muncul dalam
hati ketika anak menjadi mandiri, disiplin dan kritis.

Simpangan Jalan

Kembali pada harapan yang pernah terlintas dalam hati sanubari. Selain mengajar
di Madrasah Diniyah, saya mencoba mengajak anak-anak untuk belajar hal
lainnya selain ilmu agama yang tentunya wajib untuk dicari dan dipelajari. Belajar
ilmu umum yang dipelajari di Sekolah Dasar (SD), belajar bahasa inggris,
matematika, dan mata pelajaran lainnya sesuai dengan permintaan mereka. Karena
saya sudah berjanji untuk memenuhi permintaan mereka untuk belajar bersama
sesuai dengan mata pelajaran yang mereka ingin pelajari. Dalam kegiatan
tersebut, saya terus mencoba untuk menanamkan nilai-nilai Islam. Sebelum
dimulai kegiatan tersebut, kami berdoa dan membaca Al-Qur’an beserta artinya.
Mencoba memahami bersama makna yang terkandung dalam Al-Qur’an,
mengenalkan tokoh-tokoh islam dan nilai-nilai Islam dengan permainan dan
membaca buku bersama. Semua kegiatan itu biasanya kami lakukan pada hari
Minggu.

Kemudian, Raudhatul Athfal (RA) atau setingkat TK. Selang beberapa waktu,
saya mendapat amanat untuk membantu mengajar di RA. Karena pada waktu itu
kebetulan kekurangan satu bunda untuk mengajar. Berbeda dengan anak-anak di
tingkat SD, mereka begitu polos. Nilai-nilai keislaman dan hal-hal positif
sebaiknya ditanamkan dalam usia ini. Hal yang membedakan TK ini dengan TK
lainnya menurut saya, membiasakan mereka menulis secara perlahan artinya dari
tahap yang mudah sampai mereka terbiasa untuk menulis serta penanaman nilai-
nilai Islam yang begitu luar biasa. Ketauhidan; kecintaan pada Allah dan rasul;
cara berhubungan baik dengan Allah, Rasul-Nya dan lingkungan sekitarnya yaitu
orang tua, teman, tanaman, hewan (Hablum minallah wa hablum minannas); dan
tentu saja mereka diberikan materi yang melatih aspek kognitif, fisik, bahasa dan
sosio-emosional mereka sesuai porsinya. Walaupun terletak di tengah
perkampungan dengan fasilitas sederhana, dari tahun ke tahun semakin banyak
orang tua dari daerah yang jauh sekalipun yang mempercayakan anaknya untuk
dididik di sekolah ini.

Berbicara mengenai pendidikan di usia dini, saya sangat tertarik tulisan yang
ditulis oleh Mbak Dewi Nur Aisyah, beliau penulis buku Awe-Isnpiring dan
Salihah Mom’s Diary. Tulisan yang ada di blognya berjudul, “Catatan PhD
Mom: Belajar dari Sistem Pendidikan Nursery di Inggris”. Beliau menjelaskan
bagaimana sistem pendidikan di Inggris, disana setiap anak memiliki guru
pembimbing dimana satu guru pembimbing memegang 5-8 anak. Sebelum masuk
pembelajaran awal tahun, biasanya guru pembimbing main ke rumah untuk
mengetahui kebiasaan dan karakter anak, juga tentunya agar lebih kenal dengan
guru pembimbingnya. Pendidikan disana lebih mementingkan untuk membangun
self-confidence and independence terlebih dahulu, sebelum mereka dapat
membaca dan menulis. Disana tidak ada sistem ranking dan tidak ada istilah tidak
naik kelas, yang dapat membangun mental, rasa percaya diri dan kemampuan atau
bakat yang dimilikinya. Kemudia raport di Inggris itu deskriptif, bukan
berdasarkan nilai. Selain itu, terdapat poin-poin perkembangan berdasarkan usia.
Guru disana merekam perkembangan anak dari waktu ke waktu serta
dokumentasinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di:
https://dewinaisyah.wordpress.com/2017/07/23/catatan-phd-mom-belajar-dari-
sistem-pendidikan-nursery-di-inggris/.

Setelah membaca tulisan tersebut dan mendapatkan pengalaman untuk mengajar


anak usia dini, walaupun hanya sebentar. Sebenarnya ada beberapa poin yang
kurang lebih sama, dan ada beberapa poin yang perlu kita pertimbangan untuk
merubah sistem pendidikan kita pada anak usia dini. Ketika beberapa tahun ke
belakang, di RA ini setiap guru memegang maksimal delapan anak didik,
tujuannya sama agar lebih fokus memperhatikan perkembangan setiap anak.
Namun beberapa tahun kemudian sampai saat ini, semakin banyak orang tua yang
ingin menyekolahkan anaknya di sekolah ini alhasil dengan jumlah guru yang
tidak bertambah, setiap guru memegang maksimal 12 orang anak. Sebenarnya,
saya belum faham betul mengenai aturan yang ditetapkan oleh pemerintah
mengenai hal ini. Kemudian ketika saya selesai mengisi raport, kemudian
membaca tulisan tersebut. Format raport yang diisi untuk RA sebenarnya hanya
deskriptif, kurang lebih sama dengan apa yang dituliskan di tulisan tersebut.
Namun, ada penambahan format raport yang diisi oleh angka. Selain itu,
sebenarnya setiap guru wajib mengumpulkan hasil karya anak baik aspek kognitif
dan aspek lainnya untuk melihat perkembangan setiap anak. Akan tetapi,
terkadang guru tidak melakukannya secara rutin, hanya dilakukan di awal saja.
Mungkin, boleh jadi karena banyaknya administrasi kelas yang harus diselesaikan
atau gurunya belum mampu untuk menjalankan kewajibannya dengan baik.
Wallohu a’lam…

Berbeda dengan anak usia dini dan anak setingkat SD. Remaja atau setingkat
SMP dan SMA. Menurut saya, lebih sulit untuk mendidik dan mengajarinya
dibandingkan mereka (anak-anak). Pengalaman tersebut saya dapatkan ketika saya
mendapatkan amanah untuk menyampaikan materi keagamaan atau hanya sekedar
sharing di sekitar lingkungan rumah. Karena kekhawatiran saya akan
permasalahan remaja yang ada di lingkungan saya (seperti pergaulan remaja,
lunturnya semangat menimba ilmu agama, merokok dan lain-lain), saya
memotivasi mereka akan pentingnya memiliki sebuah cita-cita bukan hanya
bermain atau sekedar menikmati masa remaja yang dinina bobokan dengan
gadget, internet dan lainnya. Menasihati mereka bagaimana cara mereka bergaul
dengan lawan jenis, dan permasalahan-permasalahan lainnya. Saya pikir mereka
bisa menerima nasihat dengan mudah dan bisa berubah karena sudah cukup
dewasa untuk menentukan sikap yang baik dan buruk, namun ternyata tidak
seperti anak-anak yang mudah dibentuk dan diarahkan karakternya. Oleh sebab
itu, terkadang saya kesal dan menasihati mereka dengan agak sedikit marah. Tapi,
tetap saja tidak membuahkan hasil. Saya berharap ada salah satu dari mereka yang
dapat bekerjasama untuk bisa membangun komunitas remaja di lingkungan ini,
memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Namun, ternyata tetap harus
didorong-dorong dan belum ada kesadaran dari mereka sendiri akan pentingnya
hal tersebut.

Setelah saya merenung dan membaca serta mendapatkan pencerahan dari sebuah
diskusi di whatsapp. Psikolog anak remaja suka dijadikan sahabat, menciptakan
suasana dimana anak remaja memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapat,
keinginan dan pengalamannya tanpa rasa malu atau takut. Hal yang paling penting
dijelaskan dalam sebuah diskusi adalah menguasai cara dan strategi dalam
menciptakan suasana nyaman untuk komunikasi dengan remaja. Suasana nyaman
dapat tercipta apabila lawan bicaranya nyambung dengan kosa kata mereka. Irwati
Istadi dalam bukunya Membimbing Remaja dengan Cinta: Karena Remaja Hari
ini adalah Pemimpin di Masa Depan menjelaskan, apabila orang tua memaksakan
kehendaknya kepada remaja, semakin tinggi pula tingkat kejengkelan remaja, dan
akan semakin sulit untuk mengajak otak mereka bekerja. Tidak ada ajalan lain,
kecuali jika orang tua mau bersabar dan berkompromi dengan anak remajanya.
Mengajak mereka berdiskusi dari hati ke hati untuk menetapkan segala sesuatu
yang menyangkut diri mereka. Apabila jalan dialog tidak membuahkan hasil,
memberi kesempatan kepada mereka untuk mempraktikkan argumen mereka
sambil diberi batasan-batasan secukupnya adalah cara yang dapat dilakukan
selanjutnya. Mungkin, cara-cara tersebut yang sebaiknya saya lakukan. Saya
sudah melakukan untuk mengajak dialog atau diskusi, tapi mungkin belum cukup
untuk bisa menjadi sahabat mereka. Kembali ke pembahasan awal bahwa
kesabaran dan keikhlasan adalah hal yang harus ditanamkan oleh pendidik agar
melahirkan generasi yang diharapkan.
Sebagai penutup saya mengambil kutipan dari buku prophetic parenting: cara
nabi saw mendidik anak dan positive parenting.

“Kebanyakan orang belum menyadari bahwa anak-anak adalah salah satu unsur umat
ini. Hanya saja dia bersembunyi di balik tabir kekanak-kanakannya. Apabila singkapkan
tabir itu, pasti kita temukan dia berdiri sebagai salah satu tiang penyangga bangunan
umat ini. Akan tetapi, ketentuan Allah pasti berjalan, yaitu bahwa tabir tersebut tidak
akan tersingkap selain dengan bimbingan dan pendidikan secara berkala, sedikit demi
sedikit. Oleh karena itu, harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan
bertahap.
-As-Syaikh Muhammad al-Khidhr Husain rohimahullah

“Tak ada yang bisa kita lakukan dengan kecerdasan kita kalau jiwa yang menjadi tempat
berkembangnya amat rapuh. Bukan cemerlangnya otak yang menjadikan orang-orang
besar memberi warna pada sejarah. Bukan cepatnya berpikir pula yang menjadikan
sebagian negeri lebih disegani daripada negeri-negeri lain. Pada bangsa-bangsa yang
amat disegani itu boleh jadi otak milik anak-anak mereka tak secemerlang anak-anak
kita. Akan tetapi, mereka memiliki karakter yang kuat. Sangat kuat. Begitu kuatnya
karakter mereka sebagai pribadi dan sebagai bangsa sehingga mereka siap menentukan
sikap. Tidak ragu-ragu. Tidak gamang. Tidak pula gemetar saat menjatuhkan sikap.
-Mohammad Fauzil Adhim

Beri Nilai