Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM METODE ANALISIS INSTRUMEN

PERCOBAAN 1
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF BAHAN BAKU
PARASETAMOL DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-SINAR TAM-
PAK

Disusun Oleh :
Kelompok 3/A
Yosi Alviani Lestari (10060316089)
Ahmad Sofyan (10060316090)
Alya Maula Gebina (10060316091)
Fakhrur Razid (10060316092)
Rizki Riyanto (10060316093)
Mubarik Ahmad (10060316094)

Asisten : Miftahul Jannah, S.Farm


Tanggal Praktikum : 05 Maret 2019
Tanggal Pengumpulan: 12 Maret 2019

LABORATURIUM FARMASI TERPADU A


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2019440 H
I. Tujuan Percobaan
1. Melakukan analisis kualitatif bahan baku dengan metode spektrofotometri
UV-sinar tampak.
2. Melakukan analisis kuantitatif bahan baku dengan metode spektrofotome-
tri UV-sinar tampak.
3. Menyimpulkan mutu bahan baku dengan data spektrum UV-sinar tampak
dan hasil penetapan kadar.

II. Teori Dasar


A. Spektrofotometer
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran
menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan
spektrofotometri (Basset,1994).
Spektrofotometer menghasilkan sinar dan spektrum dengan panjang ge-
lombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsi. Spektrofotometer dibandingkan dengan fotometer
adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh
dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter
dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang ge-
lombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelom-
bang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang
benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seper-
ti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang
kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel blanko dan suatu
alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pem-
banding. Sinar yang melewati suatu larutan akan terserap oleh senyawa-senyawa
dalam larutan tersebut. Intensitas sinar yang diserap tergantung pada jenis senya-
wa yang ada, konsentrasi dan tebal atau panjang larutan tersebut. Makin tinggi
konsentrasi suatu senyawa dalam larutan, makin banyak sinar yang diserap
Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, se-
mentara sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang antara 400-750
nm. Warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya
(Gandjar dan Rohman, 2008). Radiasi di daerah UV/Vis diserap melalui eksitasi
elektron-elektron yang terlibat dalam ikatan-ikatan antara atom-atom pembentuk
molekul sehingga awan elektron menahan atom-atom bersama-sama mendistri-
busikan kembali atom-atom itu sendiri dan orbital yang ditempati oleh elektron-
elektron pengikat tidak lagi bertumpang tindih (Watson, 2007).

B. Jenis-jenis Spektrofotometri
Spektrofotometri terdiri dari beberapa jenis berdasarkan sumber cahaya
yang digunakan. Diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Spektrofotometri Vis (Visible)
Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber si-
nar/energy dalah cahaya tampak (Visible). Cahaya visible termasuk spec-
trum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang
gelombang sinar tampak adalah 380-750 nm. Sehingga semua sinar yang
dapat dilihat oleh mata manusia, maka sinar tersebut termasuk kedalam si-
nar tampak (Visible).
b. Spektrofotometri UV (Ultra Violet)
Berbeda dengan spektrofotometri Visible, pada spektrofometri UV
berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki pan-
jang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lam-
pu deuterium. Deuterium disebut juga heavy hydrogen. Dia merupakan
isotop hydrogen yang stabil tang terdapat berlimpah dilaut dan didaratan.
Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata manusia maka senyawa
yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak
memiliki warna. Bening dan transparan.
c. Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri
UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber
cahaya UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih
canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV
dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator. Penye-
rapan sinar uv dan sinar tampak oleh molekul, melalui 3 proses yaitu:
1. Penyerapan oleh transisi electron ikatan dan electron anti ikatan.
2. Penyerapan oleh transisi electron d dan f dari molekul kompleks
3. Penyerapan oleh perpindahan muatan.
Interaksi antara energy cahaya dan molekul dapat digambarkan sbb :
E = hv

Dimana : E = energy (joule/second) h = tetapan plank v = frekuensi foton


d. Spektrofotometri IR (Infra Red)
Spektrofotometri ini berdasar kepada penyerapan panjang gelom-
bang Inframerah. Cahaya Inframerah, terbagi menjadi inframerah dekat,
pertengahan dan jauh. Inframerah pada spektrofotometri adalah adalah in-
framerah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-
1000 mikrometer. Hasil analisa biasanya berupa signalkromatogram hub-
ungan intensitas IR terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, sig-
nal sampel akan dibandingkan dengan signal standard.
Jika absorbsi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang ge-
lombang, suhu, kondisi pelarut yang sama; dan absorbansi masing-masing
larutan diplotkan terhadap konsentrasinya, maka suatu garis lurus akan
teramati sesuai dengan persamaan A = ɛbc. Grafik ini disebut dengan plot
hukum Lambert-Beer dan jika garis yang dihasilkan merupakan suatu garis
lurus maka dapat dikatakan bahwa hukum Lambert-Beer dipenuhi pada
kisaran konsentrasi yang teramati. Cara lain untuk menetapkan kadar sam-
pel adalah dengan menggunakan perbandingan absorbansi sampel dengan
absorbansi baku atau dengan menggunakan persamaan regresi linier yang
menyatakan hubungan konsentrasi baku dengan absorbansinya (Gandjar
dan Rohman, 2008).

Secara garis besar spektrofotometer terdiri dari 4 bagian penting yaitu :


a. Sumber Cahaya
Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki panca-
ran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi cahaya
yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah dekat
adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari wolfram
(tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa, daerah panjang
gelombang (l ) adalah 350– 2200 nanometer (nm).
b. Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya
polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang terten-
tu(monokromatis) yang bebeda (terdispersi).
c. Cuvet
Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai tempat
contoh atau cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet biasanya terbuat dari
kwars, plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi pan-
jang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai cu-
vet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat dipakai
sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat dipakai un-
tuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible).
d. Detektor
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya
pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya men-
jadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data
dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital.
Dengan mengukur transmitans larutan sampel, dimungkinkan untuk
menentukan konsentrasinya dengan menggunakan hukum Lambert-Beer. Spektro-
fotometer akan mengukur intensitas cahaya melewati sampel(I),dan membanding-
kan ke intensitas cahaya sebelum melewati sampel(Io).Rasio disebut transmit-
tance, dan biasanya dinyatakan dalam persentase (% T) sehingga bisa dihitung
besar absorban (A) dengan rumus A = -log %T.

C. Paracetamol
Rumus Kimia : C8H9NO2
Sinonim : Acetaminofen (N-Acetyl–p–aminophenol)
Kandungan : Paracetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih
dari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat
Pemerian : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam
13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian
propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida (Anonim,
1979). Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidoksida 1 N;
mudah larut dalam etanol
Khasiat : Paracetamol merupakan derivat dari asetanilida yang merupakan
metabolit dari fenasetin yang dahulu banyak digunakan sebagai an-
algetikum, tapi pada tahun 1978 ditarik dari peredaran karena efek
sampingnya berupa nefrotoksisitas dan karsinogen. Khasiat dari pa-
racetamol ini adalah sebagai analgesik dan antipiretik, tetapi tidak
untuk antiradang. Dewasa ini paracetamol dianggap sebagai zat
antinyeri yang paling aman juga untuk swamedikasi (pengobatan
sendiri) (Tjay dan Rahardja., 2008).
Spektrum Serapan UV : Larutan asam 245 nm 245 (A11=668a); larutan alkali
257 nm (A11=715a) (Moffat, et al., 2004)
III. MSDS
1. Parasetamol
Gambar 3.1 Struktur Parasetamol

a) Pemerian : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit.


b) Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1
N; mudah larutan dalam etanol.
c) Panjang gelombang : 249 nm
(Dirjen POM, 2014: 984-985)
2. Metanol
a) Pemerian : Cairan tidak berwarna, bau seperti alkohol.
b) Kelarutan : Mudah larut dalam air dingin, dan air panas.
(Sciencelab, 2013: 1-3)
3. Asam Klorida
a) Pemerian : Cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika dien-
cerkan dengan 2 bagian volume air, asap hilang. Bobot jenis lebih kurang
1,18.
b) Kelarutan : Bercampur dengan air, larut dalam dietil eter, etanol 95% dan
methanol.
(Dirjen POM, 2014 : 149; Rowe, 2009 : 308)
IV. Alat dan Bahan
Tabel 4.1 Alat dan Bahan
No. Alat Bahan

1 Batang pengaduk Aquadest


2 Gelas kimia Bahan baku parasetamol
3 Gelas ukur Baku pembanding parasetamol
4 Pipet tetes HCl 0,1 N dalam metanol
5 Pipet volume Metanol
6 Labu takar Perkamen
7 Neraca analitik Tissue
8 Spatel
9 Spektrum UV-Vis
10
11
12
13

V. Prosedur
5.1. Analisis Kualitatif Larutan Standar
Baku pembanding parasetamol ditimbang 25 mg dan masukkan ke dalam
labu takar 50 ml. Kemudian dilarutkan didalam HCl 0,1 N dalam metanol (1 da-
lam 100). Larutan dikocok hingga homogen. 1,0 ml larutan tersebut dipipet
kedalam labu takar 10 ml. Kemudian diencerkan dengan HCl 0,1 N dalam meta-
nol (1 dalam 100). 1,0 ml larutan tersebut dipipet dan diencerkan hingga 10 ml
didalam labu takar 10 ml.
5.2. Analisis Kualitatif Larutan Standar
Baku pembanding parasetamol ditimbang 25 mg dan masukkan ke dalam
labu takar 50 ml. Kemudian dilarutkan didalam HCl 0,1 N dalam metanol (1 da-
lam 100). Larutan dikocok hingga homogen. 1,0 ml larutan tersebut dipipet
kedalam labu takar 10 ml. Kemudian diencerkan dengan HCl 0,1 N dalam meta-
nol (1 dalam 100). 1,0 ml larutan tersebut dipipet dan diencerkan hingga 10 ml
didalam labu takar 10 ml.
Spektrum UV larutan standard an larutan uji dibandingkan. Spektrum UV
larutan standar dan larutan uji harus menunjukkan panjang gelombang (λ) yang
memberikan absorbansi maksimum dengan nilai yang sama.
5.3. Analisis Kuantitatif Larutan Standar
15 mg baku pembanding parasetamol ditimbang dengan seksama kedalam
labu takar 50 ml. 5 ml metanol ditambahkan kedalam labu takar tersebut.
Kemudian diencerkan dengan air destilasi hingga tanda batas. Larutan dikocok
hingga homogen (larutan stok pembanding 300 ppm). Larutan 1; 1,5 ; 2 ; 2,5 ; 3 ;
3,5 ; dan 4 ml larutan stok baku pembanding dipipet masing-masing kedalam labu
takar 50 ml. Kemudian diencerkan dengan air destilasi hingga tanda batas. Di-
peroleh satu seri larutan standar dengan konsentrasi masing-masing 3 ; 4,5 ; 6 ;
7,5 ; 9 ; 10,5 ; 12 ppm.
5.4. Analisis Kuantitatif Larutan Uji
37,5 mg bahan baku parasetamol yang akan ditentukan kadarnya ditim-
bang dengan seksama. Kemudian dimasukkan kedalam labu takar 50 mL. 5 ml
metanol ditambahkan kedalamnya, kemudian diencerkan dengan air destilasi
hingga tanda batas. Larutan dikocok hingga homogen. 0,5 ml larutan dipipet dan
diencerkan hingga 50 ml.
5.5. Penentuan Kadar Parasetamol
a) Cara Kurva Kalibrasi
Pada panjang gelombang absorban maksimumnya, absorbansi setiap laru-
tan pembanding dan juga larutan sampel diukur. Dengan menggunakan kurva
kalibrasi atau persamaan garis, kadar larutan sampel dihitung (jangan lupa
faktor pengencerannya).
b) Cara One Point
Absorban salah satu larutan pembanding diambil kemudian digunakan un-
tuk menghitung kadar larutan sampel dengan menggunakan metode “One
Point” (jangan lupa faktor pengencerannya ).
𝐀𝐮
𝐂𝐮 = 𝐱 𝐂𝐬
𝐀𝐮
Keterangan :
Cu = Konsentrasi larutan uji
Au = Absorbansi larutan uji
As = Absorbansi larutan standar
Cs = Konsentrasi larutan standar
Kedua hasil penetapan kadar tersebut dibandingkan.

VI. Data Pengamatan dan Perhitungan


A. Analisis Kualitatif
1. Larutan standar
HCl dalam methanol (2:200)
Bobot standar = 25 mg setara dengan 50 mg
Perhitungan konsentrasi standar
50 𝑚𝑔 10 𝑚𝑔
𝑥 = 500 = 500 𝑝𝑝𝑚
100 𝑚𝐿 10 1𝐿
Pengenceran
V1. N1 = V2.N2
1 mL .500 = 100.N2
N2 = 5 ppm

2. Larutan uji
Bobot uji = 25 mg setara dengan 50 mg
Perhitungan konsentrasi standar
50 𝑚𝑔 10 𝑚𝑔
𝑥 = 500 = 500 𝑝𝑝𝑚
100 𝑚𝐿 10 1𝐿
Pengenceran
V1. N1 = V2.N2
1 mL .500 = 100.N2
N2 = 5 ppm
λ Standar = 246,6 nm
λ Uji = 246,4 nm
λ Teoritis = 244/ 243/ 249 nm

B. Analisis Kuantitatif
1. Larutan standar
Bobot standar = 15 mg setara dengan 30 mg
Peerhitungan konsentrasi
30 𝑚𝑔 10 𝑚𝑔
𝑥 = 300 = 300 𝑝𝑝𝑚
100 𝑚𝐿 10 1𝐿
Pengenceran
a. V1. N1 = V2.N2
1 mL .300 = 100.N2
N2 = 3 ppm

b. V1. N1 = V2.N2
1,5 mL .300 = 100.N2
N2 = 4,5 ppm

c. V1. N1 = V2.N2
2 mL .300 = 100.N2
N2 = 6 ppm

d. V1. N1 = V2.N2
2,5 mL .300 = 100.N2
N2 = 7,5 ppm

e. V1. N1 = V2.N2
3mL .300 = 100.N2
N2 = 9 ppm
f. V1. N1 = V2.N2
3,5 mL .300 = 100.N2
N2 = 10,5 ppm

g. V1. N1 = V2.N2
4 mL .300 = 100.N2
N2 = 12 ppm

2. Larutan uji
Bobot uji = 37,5 mg setara dengan 75 mg
Perhitungan konsentrasi
75 𝑚𝑔 10
𝑥 = 750 𝑝𝑝𝑚
100 𝑚𝐿 10
Pengenceran
V1. N1 = V2.N2
1 mL .750 = 100.N2
N2 = 750 ppm (Kadar Teoritis)
Cara Kurva Kalibrasi
y = absorbansi uji = 0,422 (Au)
x = konsentrasi uji (Cu)
y = 0,0399 x – 0,0031
0,422 = 0,0399 x – 0,0031
0,0399 = 0,422 + 0,0031
0,0399 x = 0,4251
0,4251
x= = 10,65 𝑝𝑝𝑚
0,0399
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑢𝑗𝑖
% kadar = 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 𝑥100%
10,65
𝑥100% = 142%
7,5
Metode “One Point”
𝐴𝑢
𝐶𝑢 = 𝑥 𝐶𝑠
𝐴𝑠
0,422
𝐶𝑢 = 𝑥 10,5 = 10,78 𝑝𝑝𝑚
0,411
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑢𝑗𝑖
% kadar = 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 𝑥100%
10,78
𝑥100% = 143,73%
7,5

VII. Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif dan
kuantitatif bahan baku parasetamol dengan menggunakan metode spektrofotome-
tri UV-Vis. Spektrofotometri UV-Vis merupakan suatu metode atau teknik ana-
lisis spektroskopi yang menggunakan sumber radiasi elektromagnetik dan sinar
tampak dengan menggunakan instrumen sehingga menyebabkan eksitasi molekul
dari tingkat dasar ke tingkat energi yang paling tinggi (Sumar, 1994: 135). Prinsip
kerja dari spektroskopi molekul adalah terjadinya interaksi antara senyawa atau
molekul dengan radiasi elektromagnetik di daerah UV 200-350 nm dan sinar tam-
pak350-800 nm yang menyebabkan terjadinya eksitasi elektronik pada molekul yg
menyerap sinar UV-Vis. Instrumen yang digunakan berupa spektrofotometer UV-
Vis. Metode penggunaan spektrofotometri yang digunakan pada praktikum kali
ini adalah metode eksternal, hal ini dikarenakan senyawa yang digunakan sama
yaitu parasetamol sedangkan konsentrasi yang digunakan berbeda karena dil-
akukannya proses pengenceran.
Parasetamol dapat dianalisis menggunakan metode sprktrofotometri UV-
sinar tampak dengan alat spektrofotometer karena pada struktur parasetamol
terdapat gugus kromofor. Gugus kromofor merupakan gugus tidak jenuh berikatan
kovalen yang dapat mengabsorpsi radiasi sehingga dapat diidentifikasi atau
dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer dengan mengukur panjang
gelombang maksimumnya. Selain itu pada struktur kimia parasetamol juga
terdapat gugus auksokrom. Gugus ausokrom ini mengandung pasangan elektron
bebas, namun tidak mengabsorsi radiasi tetapi jika terdapat dalam molekul dapat
meningkatkan absorpsi kromofor atau merubah panjang gelombang absorpsi jika
terikat dengan kromofor sehingga bisa menghasilkan pajang gelombag yang
panjang.

Gugus Kromofor
Gugus
Auksokrom

Gugus Kromofor
Gugus Au-
sokrom
Gambar 7.1. Struktur Parasetamol

Analisis kualitatif, data yang teramati yaitu spektrum UV yang menunjuk-


kan panjang gelombang maksimum dan memberikan absorbansi yang maksimum.
Sehingga hasil pengamatan yang diperoleh berupa panjang gelombang maksimum
bahan baku parasetamol. Suatu zat dapat dianalisis menggunakan metode spektro-
fotometri UV-Vis apabila zat tersebut berbentuk larutan. Oleh karena itu, bahan
baku parasetamol dibuat terlebih dahulu menjadi larutan uji, selain itu dibuat pula
larutan standar parasetamol yang digunakan sebagai pembanding.
Pada analisis kualitatif dilakukan pembuatan larutan uji dan larutan
standar, langkah pertama yang dilakukan yaitu bahan baku dan baku pembanding
parasetamol ditimbang. Kemudian dilarutkan dengan pelarut metanol yang di da-
lamnya terkandung HCl 0,1 N. Metanol digunakan sebagai pelarut dikarenakan
berdasarkan data kelarutan parasetamol yang tercantum di dalam Farmakope In-
donesia Edisi IV, bahwa parasetamol larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1
N; mudah larut dalam etanol oleh karena itu metanol digunakan sebagai pelarut.
Selain itu ditambahkan pula HCl 0,1 N ke dalam metanol, hal ini bertujuan untuk
menjaga kesetimbangan asam agar kepolarannya sama. Tujuan dari penambahan
bahan tersebut adalah untuk mencegah terjadinya batokromik (pergeseran puncak
ke kanan) akibat adanya perbedaan kepolaran dan hipsokromik (pergeseran pun-
cak ke kiri) akibat adanya perubahan pH (suasana asam/basa). Lalu dikocok
hingga homogen agar semua larutan tercampur karena semakin dikocok ukuran
partikel parasetamol akan semakin kecil dan memperbesar luas permukaan
sehingga semakin larut secara merata. Selanjutnya masing-masing larutan di-
encerkan sebanyak dua kali. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya hip-
sokromik dan hipokromik pada puncak yang dihasilkan, selain itu untuk mencapai
kesesuaian dengen hukum Lambert-Beer maka larutan harus dibuat menjadi en-
cer. Kemudian hasil pengenceran larutan uji dan larutan standar diukur panjang
gelombang maksimumnya menggunakan spektrofotomerer UV-Vis. Alasan
pemilihann alat spektrofotometer UV-Vis karena spektrofotometer UV-Vis
merupakan analisis instrumen yang tidak rumit, selektif serta kepekaan dan
ketelitiannya tinggi. Selain itu, senyawa parasetamol yang akan dianalisis
memiliki gugus kromofor pada strukturnya berupa ikata rangkap terkonjugasi dan
juga merupakan senyawa aromatik. Karena parasetamol memiliki gugus aromatik
sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan
spektrofotometri. Hasil panjang gelombang larutan uji yaitu 246,4 nm dan pan-
jang larutan standar parasetamol yaitu sebesar 246,6 nm. Kedua panjang gelom-
bang larutan parasetamol menunjukkan hasil yang hampir sama, hal ini dapat
menunjukkan bahwa proses preparasi larutan sudah cukup baik. Ketika hasil
pengamatan panjang gelombang parasetamol dibandingkan dengan panjang ge-
lombang parasetamol menurut literatur hampir mendekati. Karena panjang ge-
lombang parasetamol menurut Farmakope Indonesia Edisi ke V yaitu sebesar 249
nm, sehingga dapat dikatan panjang gelomban larutan uji dan larutan standar
masih memasuki rentang.
Pada analisis kuantitatif ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya
parasetamol dengan cara menghitung %kadar parasetamol yang terdapat pada sua-
tu sampel, sehingga dapat diketahui mutu dari sampel tersebut. Hasil dari uji
kuantitatif ini berupa persentase kadar parasetamol yang akan didapatkan dari ab-
sorbansi senyawa sebagai parameternya. Seperti halnya pada analisis kualitatif, uji
kuantitatif ini masih menggunakan instrumen yang sama yakni spektrofotometer
UV-Visible. Pada spektrofotometer UV-vis yang digunakan ini hanya memiliki
sistem optik ganda atau double beam, proses kerja akan lebih cepat karena cahaya
monokromik akan melewati chopper sehingga cahaya dapat dipecah, sebagian
cahaya dipancarkan kepada kuvet berisi sampel dan sebagaian cahaya dipancarkan
kepada kuvet yang berisi larutan standar dan dibaca oleh detektor.
Pada analisis kuantitatif ini, pertama kali dilakukan adalah pembuatan
larutan standar. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya telah
diketahui dan dibuat dalam berbagai konsentrasi mulai dari konsentrasi rendah
sampai konsentrasi tinggi dari konsentrasi larutan stok. Pembuatan larutan standar
ini sama dengan pembuatan pada larutan uji kualitatif. Penambahan methanol ber-
tujuan untuk meningkatkan kelarutan parasetamol. Dimana parasetamol terdiri
dari gugus polar dan non polar sehingga apabila hanya dilarutkan dalam air maka
hanya bagian polar saja yang dapat larut. Oleh karena itu ditambahkan metanol
karena metanol memiliki gugus polar dan non polar sama seperti parasetamol. Se-
hingga bagian polar dan non polar akan terlarut sempurna. Kemudian larutan di-
encerkan sampai tanda batas dengan aquades untuk melarutkan metanol yang
sudah terlebih dahulu melarutkan parasetamol, dan dikocok sampai larut dan ho-
mogen atau dalam keadaan tersebar merata. Larutan stok tersebut diencerkan
sampai didapatnya beberapa seri pengenceran. Dilakukannya pengenceran ini di-
maksudkan untuk mendapatkan hasil yang akurat, dan menghindari keadaan
hiperkromik dimana akan terjadi apabila larutan terlalu pekat yang ditunjukkan
dengan nilai absorbansi diatas 0,8, pengenceran ini tetap dikontrol agar tidak ter-
jadi hipokromik dimana keadaan ini akan terjadi apabila larutan terlalu encer yang
ditunjukkan nilai absorbansinya dibawah 0,2. Hal ini akan menyebabkan pen-
gukuran %kadar tidak akurat. Selanjutnya yaitu membuat larutan uji sama halnya
dalam pembuatan larutan standar. Setelah dibuatnya larutan standar dan larutan
uji, tahap berikutnya adalah pengukuran absorbansi pada tiap larutannya. Pen-
gukuran absorbansi yang pertama kali dilakukan adalah pada larutan standar, seri
larutan standar diukur mulai dari larutan yang berkonsentrasi rendah sampai yang
berkonsentrasi tinggi (3; 4,5; 6; 7,5; 9; 10,5; dan 12 ppm). Setiap pengukuran ab-
sorbansi, kuvet selalu dibilas dengan dengan menggunakan larutan yang akan di-
analisis, hal ini bertujuan untuk meminimalisir terhadinya kesalahan pengukuran
yang disebabkan karena adanya zat pengganggu lain yang memungkinkan ko-
tornya kuvet atau sisa dari larutan sebelumnya. Hasil pengukuran absorbansi pada
seri larutan standar adalah berturut-turut 0,116; 0,180; 0,232; 0,297; 0,359; 0,411;
dan 0,479. Dari hasil yang didapatkan 2 konsentrasi di bawah 0,2 hal ini mungkin
disebabkan oleh proses pemipetan belum semuanya terpipet, dalam proses pen-
imbanganya kurang, selain itu pada saat ad terlalu banyak, dan 3 konsentrasi
lainya dikatakan baik karena masih masuk dalam rentang nilai absorbansi baik
yaitu 0,2-0,8. Selanjutnya, absorbansi larutan uji diukur dengan cara yang sama.
Absorbansi larutan uji yang didapat adalah sebesar 0,422. Hal ini menujukkan
hasil yang baik karena masih masuk pada rentang nilai absorbansi yang baik yaitu
0,2-0,8.
Penentuan kadar parasetamol pada larutan uji dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu dengan kurva kalibrasi atau dengan one point method. Kedua cara ini
bertumpu pada hukum Lambert-Beer dimana absorbansi akan berbanding lurus
dengan konsentrasi, artinya semakin tinggi konsentrasi maka absorbansi yang
dihasilkan akan semakin tinggi dan begitu pula sebaliknya. Hubungan antara ab-
sorbansi terhadap konsentrasi akan linear apabila nilai absorbansi larutan antara
0,2-0,8 atau sering disebut dengan hukum lambert-Beer.
Di dalam pembuatan kurva kalibrasi atau penentuan kadar dengan cara
kurva kalibrasi, digunakannya hasil pengukuran absorbansi dari masing-masing
larutan standar yang telah dibuat pada panjang gelombang maksimumnya. Sumbu
X sebagai konsentrasi dan sumbu Y sebagai absorbansinya, kemudian ditentukan
kelinearitasannya dengan rumus regresi linear. Didapatkanlah a = 0,0030 ; b =
0,0399 ; dan r = 0,9993 maka dapat diketahui persenn kadar parasetamol pada
larutan uji adalah sebesar 142%.
Penentukan kadar dengan one point method dilakukan dengan
menggunakan panjang gelombang maksimum, pelarut dan peralatan yang sama.
Larutan uji dibandingkan dengan larutan standar yang kadar dan kemurniannya
diketahui. Pada percobaan kali ini konsentrasi larutan uji sebesar 10,65 ppm, se-
hingga seri larutan standar yang dipilih adalah larutan yang memiliki konsentrasi
10,5 ppm. Absorbansi larutan uji sebesar 0,422 dan absorbansi larutan standar
adalah sebesar 0,411. Untuk mengkonversinya kedua data ini menjadi % kadar
parasetamol maka persamaan yang digunakan yaitu :
𝐴𝑢
𝐶𝑢 = 𝑥 𝐶𝑠
𝐴𝑠
Dimana, Cu adalah konsentrasi uji, Au adalah absorbansi uji, As adalah
absorbansi standar, dan Cs adalah konsentrasi standar. Maka dengan one point
method ini didapatkanlah %kadar sebesar 143,73%.
Dari kedua cara penentuan kadar parasetamol ini dihasilkan %kadar pada
kurva kalibrasi yaitu 142%, dan pada one point method ini didapatkan 143,73%.
Hasil tersebut jauh dari ketentuan literatur karena banyaknya kontaminan yang
terkandung, dalam proses pengambilan/pemipetan dari larutan induk untuk di-
encerkan kurang akurat, dan kemungkinan alat yang digunakan kurang bersih se-
hingga penyerapan cahaya monokromatik terganggu atau adanya penyerapan oleh
pelarut. Menurut British Pharmacopeia, zat kering yang dinyatakan sebagai para-
setamol harus mangandung 99.0% - 101.0% parasetamol murni (C8H9NO2).
Alasan perhitungan kadar dilakukan dengan kedua cara tersebut dimaksudkan un-
tuk mehasilkan data yang akurat, dimana dari hasil kurva kalibrasi dan one point
method saling mendukung dan berhubungan. Mutu dari bahan baku parasetamol
dinyatakan kurang baik karena tidak memenuhi syarat kadar menurut British
Pharmacopeia (99.0% - 101.0%), hal ini kemungkinan disebabkan masih banyak
kontaminan yang terkandung, dan dalam proses pemipetan kurang akurat.
VIII. Kesimpulan
1. Hasil data dari analisis kuantitatif spektrum UV yang diperoleh yaitu pan-
jang gelombang uji 246,4 nm, hampir sama dengan panjang gelombang
standar 246,6 nm, dan masih masuk pada rentang panjang gelombang teor-
itis yaitu 249 nm.
2. Hasil data dari analisis kuantitatif diperoleh %Kadar bahan baku para-
setamol dengan cara kurva kalibrasi sebesar 142%, sedangkan dengan cara
one point method sebesar 143,73%, kedua hasil ini jauh dari literatur
menurut British Pharmacopeia, zat kering yang dinyatakan sebagai para-
setamol harus mangandung 99.0% - 101.0% parasetamol murni .
3. Mutu dari bahan baku parasetamol dinyatakan kurang baik karena tidak
memenuhi syarat kadar menurut British Pharmacopeia (99.0% - 101.0%).
Daftar Pustaka
Basset. J., R.C. Denny, G.H. Jeffrey, J. Mendham, (1994). Kimia Analisis Kuanti-
tatif Anorganik. Jakarta: EGC.
Day, R. A. (1990). Analisis Kimia Kuantitatif edisi keempat. Jakarta. Erlangga.

Dirjen POM. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI.
Dirjen POM. (2014). Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. (2008). Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Harmita, (2004). Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara


Perhitungannya. Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia.

Hoan Tjay, Tan dan Kirana Rahardja. (2002). Obat-Obat Penting. Elex Media
Komputindo. Jakarta.
Sciencelab. (2013). “MSDS Methyl alcohol” pada www.sciencelab.com/msds.
Rowe, R.C. et Al. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed. The
Pharmaceutical Press, London.
Sumar, Hendayana. (1994). Kimia Analitik Instrumen. Semarang : IKIP Semarang
Press.
World Health Organization. (2006). The International Pharmacopoeia Ed. 4th.
World Health Organization.