Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

TUNA GRAHITA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Pendidikan Inklusi

Oleh :
Uci Rahmawati Utami ( P2.06.37.0.17.038)

POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN TASIKMALAYA
2017
i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan berkah
dan karunia-Nya dan atas ridho-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini untuk
memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pendidikan Inklusif.

Makalah ini disusun dengan tujuan supaya dapat membantu mendalami dan memahami
bagaimana keadaan anak gifted and talented. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
karena keterbatasan waktu dan kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu dengan segala
kerendahan hati, kami mohon kepada para pembaca atau bapak/ibu dosen untuk memberikan
saran dan kritik yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan makalah selanjutnya.

emoga makalah ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi para pembaca
pada umumnya, Aamiin.

Tasikmalaya, 19 September 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB IPENDAHULUAN ........................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................................. 2
BAB IIPEMBAHASAN ............................................................................................................ 3
A. Definisi Tunagrahita ....................................................................................................... 3
B. Karakteristik Tunagrahita ............................................................................................... 4
C. Teknik Deteksi atau Identifikasi ..................................................................................... 7
D. Intervensi atau Treatment Tunagrahita ........................................................................... 8
BAB IIIPENUTUP .................................................................................................................. 10
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 10
B. Saran ............................................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata yang
terjadi pada saat masa perkembangan dan memiliki hambatan dalam penilaian adaptif.
Secara harafiah kata tuna adalah merugi, sedangkan grahita adalah pikiran, dengan
demikian ciri utama dari anak tunagrahita adalah lemah dalam berpikir atau bernalar.
Kurangnya kemampuan belajar dan adaptasi sosial berada di bawah rata-rata (Mulyono
Abdulrachman, 1994: 19). Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, anak
tunagrahita diberikan cara pelayanan pendidikan yang berbeda dengan anak normal dan
harus disesuaikan dengan taraf kelainannya. American Association On Mental Deliciency
(AAMD) dalam Mumpuniarti (2007 : 13) mengatakan klasifikasi tunagrahita adalah
tunagrahita ringan dengan IQ berkisar 50-70, tunagrahita sedang dengan IQ berkisar 30-
50 dan tunagrahita berat dan sangat berat dengan IQ berkisar < 30. Dari ketiga jenis taraf
ketunagrahitaan tersebut, salah satunya adalah kelompok tunagrahita ringan. Anak
tunagrahita ringan adalah anak yang mengalami hambatan dalam berbagai aspek,
diantaranya dalam kemampuan mental, bahasa, motorik, emosi dan social. Menurut Edgar
Dole dalam Moh Efendi (2006 : 89) mengatakan bahwa sesorang dikatakan tunagrahita
jika (1) secara social tidak cakap, (2) secara mental di bawah anak 2 normal sebayanya,
(3) Kecerdasannya terhambat sejak lahir atau pada usia muda dan (4) kematangannya
terhambat. Layanan pendidikan bagi anak tunagrahita ringan harus disesuaikan dengan
karakteristik dan kemampuan anak. Layanan tersebut dapat dilaksanakan di sekolah
berupa rancangan program pembelajaran yang diberikan dalam bentuk mata pelajaran
umum dan mata pelajaran khusus. Mata pelajaran umum seperti pelejaran Agama, Bahasa
Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, Pendidikan
Kewaraganegaraan, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan sedangka untuk mata pelajaran
khusus adalah Pembelajaran Bina Diri.
B. RumusanMasalah

1. Apakah yang dimaksuddengantunagrahita?

2. Bagaimanakahkarakteristikanaktunagrahita?

3. Bagaimanadeteksi atau identifikasi tunagrahita?

4. Bagaimanaintervensi atau treatmenttunagrahita

1
C. Tujuan
1. Untukmengetahuipengertianmengenaitunagrahita.
2. Untuk mengetahui karakteristik pada anak tunagrahita.
3. Untukmengetahuideteksi atau identifikasi tunagrahita.
4. Untukmengetahuiintervensi atau treatmenttunagrahita.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DefinisiTunagrahita
Tunagrahita adalah keterbatasan dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai
dengan terbatasnya kemampuan fungsi kecerdasan yang terletak dibawah rata -rata (IQ
50-70) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku adaptif minimal di 2
area atau lebih. (tingkah laku adaptif berupa kemampuan komunikasi, merawat diri,
menyesuaikan dalam kehidupan rumah, keterampilan sosial, pemanfaatan sarana umum,
mengarahkan diri sendiri, area kesehatan dan keamanan, fungsi akademik, pengisian
waktu luang, dan kerja) disebut Tunagrahita bila manifestasinya terjadi pada usia
dibawah 18 tahun.
Banyak istilah yang digunakan dalam bahasa inggris tentang tunagrahita yaitu mental
retardation, mental disorder, mentally retarded, mental deficiency, feeblemindedness,
mental defective, down sydrom.Istilah tunagrahita dalam bahasa Indonesia yaitu lemah
ingatan,terbelakang mental, lemah pikir, lemah otak dan sebagainya.
Adapun pengertian tunagrahita menurut AAMD (American Association on Mental
Deficiency) “Mental retardaction refers to significantly subaverage general Intellectual
functioning resulting in or adaptive behavior and manifested during the developmental
period”. Artinya, ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara
nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan
dalam tingkah laku penyesuaian diri dan semua ini berlangsung (termanifestasi) pada
masa perkembangannya.
AAMR (American Association on Mentak Retardation) dalam Woolfolk (2009)
mendefinisikan Tunagrahita, retardasi mental adalah disabilitas yang ditandai oleh
keterbatasan signifikan pada fungsi intelektual dan perilaku adaptif seperti yang
diekspresikan dalam keterampilan konseptual, sosial dan adaftif praktis. Disabilitas ini
muncul sebelum usia 18 tahun.
Sementara pendapat lain menurut (Friend, Marilyn, 2005; Abdurrahman dan Sudjadi,
1994; Hardman, at.al, 1990 dalam jurnal Asep Supena) menyatakan,anak tunagrahita
merupakan salah satu jenis dari kelompok anak berkebutuhan khusus. Mereka mengalami
hambatan atau keterbelakangan fungsi kecerdasan atau intelektual secara signifikan,
sehingga membutuhkan suatu layanan pendidikan yang khusus untuk bisa
mengembangkan potensi–potensi yang ada dalam dirinya secara optimal.

3
Sementara menurut dalam jurnal Armatas, (2009) keakuratan dan kekonsistenan
definisi dari keterbelakangan mental sangat penting karena dampaknya terhadap
prevalensi, atau menghitung, pada orang-orang yang mental retarded. Namun, meskipun
pentingnya konsistensi, mental retarded tidak selalu didefinisikan dengan cara yang sama
di seluruh penelitian atau layanan instansi, bahkan di dalam negara yang sama. Sementara
beberapa definisi lain dengan mengandalkan atau menentukan nilai IQ yang berbeda
untuk mengklasifikasikan individu dengan mental retarded, beberapa klasifikasi hanya
menggunakan adaptif perilaku untuk, dan orang lain termasuk kedua IQ keterampilan
nilai dan tindakan adaptif.

B. KarakteristikTunagrahita
Adapun karakteristik tunagtahita menurut Mumpuniarti (2000):
1. KarakteristikTunagrahitaRingan
a. Karakteristikkognitif
1) Mempunyai IQ berkisar 50-70.
2) Kapasitasbelajarnyasangatterbatasterutamauntukhal-hal yang abstrak,
makalebihbanyakbelajardengancaramembeo (rote learning)
bukandenganpengertian.
3) Kemampuanberpikirrendah, lambatperhatiandaningatannyarendah.
4) Masihmampuuntukmenulis, membaca, menghitung.
5) Mengalamikesulitandalamkonsentrasi, sukaruntukdiajakfokus.
6) Umurkecerdasannyaapabilasudahdewasasamadengananak normal yang berusia
12 tahun.
b. Karakteristikfisik
Anaktunagrahitaringannampaksepertianak normal,
hanyasedikitmengalamikelambatandalamkemampuansensomotorik.
c. Karakteristiksosial/perilaku
Anak tunagrahita ringan mampu bergaul, menyesuaikan di lingkungan yang
tidak terbatas pada keluarga saja, namun ada yang mampu mandiri dalam
masyarakat, mampu melakukan pekerjaan yang sederhana dan melakukannya
secara penuh sebagai orang dewasa.
d. Karakteristikemosi
Anak tunagrahita ringan sukar berpikir abstrak dan logis, kurang memiliki
kemampuan analisis, asosiasi lemah, fantasi lemah, kurang mampu
mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi, kepribadian kurang harmonis
karena tidak mampu menilai baik
buruk.Tidakmampumendeteksikesalahanpadadirinya, sehinggaacuhtakacuh.
e. Karakteristikmotoric

4
Anak tunagrahita ringan mengalami kelambatan dalam kemampuan
sensorimotorik.Dalam berbicaranya banyak yang lancar, tetapi perbendaharan kata
masih minim.
2. KarakteristikTunagrahitaSedang
a. Karakteristikkognitif
1) Mempunyai IQ berkisar 30-50.
2) Anaktunagrahitasedangsangatsulitbahkantidakdapatbelajarsecaraakademiksepe
rtibelajarmenulis, membacadanberhitungtetapidapatdilatihdalamhal yang
sederhanasekedardiperkenalkanmembacadanmenulisnamanyasendiridanmenge
nalangka.
3) Rendahnyaperhatiananakdalambelajarakanmenghambatdayaingat.
Merekamengalamikesukarandalammemusatkanperhatian, cepatberalih.
4) Kurangtangguhdalammenghadapitugas,
pelupadansukarmengungkapkaningatandanmudahbosan.
5) Mudahberalihperhatiannyakehal yang
dianggapnyalebihmenarikdanketerbatasannyadalamkemampuanintelektualnyas
ehinggakemampuandalambidangakademiksangatbersifatsederhana.
6) Padaumurdewasaanaktunagrahitabarumencapaikecerdasansetarafanak normal
umur 7 tahunatau 8 tahun.
b. Karakteristikfisik
Penampilannya menunjukkan sebagai anak terbelakang, lebih menampakkan
kecacatannya.
c. Karakteristiksosial/ perilaku
1) Banyak diantara anak tunagrahita sedang yang sikap sosialnya kurang baik,
rasa etisnya kurang dan nampak tidak mempunyai rasa terima kasih, rasa belas
kasihan dan rasa keadilan.
2) Masih mampu untuk mengurus, memimpin, memelihara dirinya sendiri dan
bersosialisasi dengan lingkungannya, walaupun butuh proses yang lama.
Contohnyamandi, makan, minum, berpakaian.
3) Sangattergantungpada orang lain.
4) Bersikapkekanak-kanakan, seringmelamunatauhiperaktif.
5) Mampu melindungi diri dari bahaya dan dapat bekerja ringan tetapi tetap
dalam pengawasan karena tanpa pengawasan akan bekerja secara asal.
d. Karakteristikemosi
1) Dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat
ketunagrahitaannya.Kehidupan emosinya sangat lemah, mereka jarang sekali
menghayati perasaan tanggung jawab dan hak sosialnya.
2) Memilikiimajinasi yang tinggi.
e. Karakteristikmotorik
Kurangmampuuntukmengkoordinasikangeraktubuhnya.Tangan-tangannyakaku.

5
3. KarakteristikTunagrahitaBerat
Anaktunagrahitaberatmemiliki IQ di bawah 30.
Anakinisepanjanghidupnyamemerlukanpertolongan dan bantuan orang lain,
sehinggaberpakaian, ke WC, dan sebagainyaharusdibantu.
Merekatidaktahubahayaatautidakbahaya. Kata-kata dan ucapannyasangatsederhana.
Kecerdasannyasampaisetinggianak normal yang berusiatigatahun.

Berdasarkan klasifikasi AAMR sebagaimana yang tertuang dalam Wibowo,


Tunagrahita bisa di golongkan sebagai berikut:
1) Golongan Tunagrahita Ringan
Mereka mereka yang masih bisa dididik pada masa dewasanya kelak, usia
mental yang bisa mereka capai setara dengan anak usia 8 tahun hingga usia 10
tahun 9 bulan. Dengan rentang IQ antara 55 hingga 69. Pada usia 1 hingga 5 tahun,
mereka sulit dibedakan dari anak-anak normal, seperti ketika mereka menjadi besar.
Biasanya mampu mengembangkan keterampilan komunikasi dan mampu
mengembangkan ketrampilan sosial. Kadang-kadang pada usia dibawah 5 tahun
mereka menunjukkan sedikit kesulitan sensorimotor.
Pada usia 6 hingga 21 tahun, mereka masih bisa mempelajari ketrampilan-
ketrampilan akademik hingga kelas 6 SD pada akhir usia remaja, pada
umumnya sulit mengikuti pendidikan lanjutan, memerlukan pendidikan khusus.
2) Tunagrahita Golongan Sedang
Mereka yang masih bisa dilatih . Kecerdasannya terletak sekitar 40 hingga 51,
pada usia dewasa usia mentalnya setara anak usia 5 tahun 7 bulan hingga 8
tahun 2 bulan. Biasanyaantara usia 1 hingga usia 5 tahun mereka bisa berbicara atau
bisa belajar berkomunikasi, memiliki kesadaran sos ial yang buruk,
perkembangan motor yang tidak terlalu baik, bisa diajari untuk merawat diri
sendiri, dan bisa mengelola dirinya dengan super vivi dari orang dewasa. Pada
akhir usia remaja dia bisa menyelesaikan pendidikan hingga setara kelas 4 SD
bila diajarkan secara khusus.
3) Tunagrahita Golongan Berat
Sering disebut sebagai Tunagrahita yang mampu latih tapi tergantung pada orang
lain. Rentang IQnya terletak antara 25 hingga 39. Pada masa dewasanya dia
memiliki usia mental setara anak usia 3 tahun 2 bulan hingga 5 tahun 6 bulan.
Biasanya perkembangan motoriknya buruk, bicaranya amat minim, biasanya

6
sulit dilatih agar bisa merawat diri sendiri (harus dibantu), seringkali tidak
memiliki keterampilan berkomunikasi.

Selain itu, karakteristik yang lebih mudah dilihat meliputi:


1. Penampilanfisiktidakseimbang,misalnyakepalaterlalukecil/besar
2. Tidakdapatmengurusdirisendirisesuaiusia
3. Perkembanganbicara/bahasaterlambat
4. Tidakada/kurangsekaliperhatiannyaterhadaplingkungan (pandangankosong)
5. Koordinasigerakankurang(gerakanseringtidakterkendali)
6. Seringkeluarludah(cairan)darimulut

Faktor ketunagrahitaan menurut penyelidikan para ahli (tunagrahita) dapat terjadi


pada:
a. Prenatal (sebelumlahir)
Yaituterjadipadawaktubayimasihadadalamkandungan, penyebabnyaseperti
:campak, diabetes, cacar, virus tokso, rubella, herpes jugaibuhamil yang
kekurangangizi, pemakaiobat-obatan (napza) danjugaperokokberat.
b. Natal (waktulahir)
Proses melahirkan yang sudah terlalu lama dapat mengakibatkan kekurangan
oksigen pada bayi, juga tulang panggul ibu yang terlalu kecil dapat menyebabkan
otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak (anoxia), juga proses
melahirkan yang menggunakan alat bantu (penjepit, tang).
c. Pos Natal (sesudahlahir)
Pertumbuhan bayi yang kurang baik seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi
yang disertai kejang-kejang, kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat
menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).

C. Teknik Deteksi atau Identifikasi


Menurut Armatas, (2009) cara mengidentifikasi ketunagrahitaan terdiri dari:
1. Melihat riwayat keluarga. Apakah ada riwayat keluarga yang tunagrahita atau tidak.
2. Kondisi ibu selama kehamilan. Seperti ibu yang mengonsumsi obat yang tidak
diresepkan oleh dokter, alkohol, tembakau, pernah cedera parah, mempunyai riwayat
penyakit menular.

7
3. Proses kelahiran bayi, seperti prematur atau normal, lamanya proses kelahiran.
4. Setelah kelahiran, diukurnya lingkaran kepala serta panjang kepala bayi dan
disesuaikan dengan grafik. Selain itu, proses bayi ketika menelan, menghisap, pola
tidur bayi, kejang-kejang pada bayi, perkembangan mental pada bayi.
5. Serta tes intelegensi.

D. Intervensi atau Treatment Tunagrahita


Sebagaimana yang diuraikan oleh Wibowo (2002) bahwa penanganan bagi
tunagrahita sudah sepantasnya pendidik terutama orangtua untuk memberikan
penerimaan terhadap kondisi penyandang tunagrahita. Karena pada dasarnya anak
tunagrahita itu bisa masih mungkin dilatih, dibimbing, diberi kesempatan dan
didukung agar mereka mengembangkan potensi-potensinya agar mampu membantu
dirinya sendiri dan memiliki harga diri yang sama seperti orang-orang lainnya yang
lebih beruntung. Pada intinya, supaya anak dapat memaksimalkan potensi-potensi yang
dimiliki serta dapat menjalani hidup yang lebih bermartabat.
Biasanya, treatment untuk tunagrahita berupa terapi-terapi seperti terapi gerak yang
berfungsi untuk melatih anggota gerak dari gerakan kasar ke gerakan halus. Terapi
bermain seperti bagaimana bermain jual beli, memberi pelajaran hitungan. Dan yang
paling penting adalah terapi merawat diri, dengan diajarkan bagaimana makan, minum,
berpakaian atau kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain. Kemudian, terapi
keterampilan hidup seperti mengayam, melukis, bermusik.
Selain itu, karena anak tunagrahita juga memerlukan pendidikan, maka sebaiknya
anak tunagrahita mengikuti beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan
untuk anak tunagrahita yaitu:
1. Kelas Transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk
anak tunagrahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada disekolah reguler, sehingga
pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi
merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD
dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
2. Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1)
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah
Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru
khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan
belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan
dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di
SLB-C1.
3. Pendidikan terpadu

8
Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak
tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan
bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai
kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru
Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber.
Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita
ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai
kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban
belajar (Slow Learner).
4. Program sekolah di rumah
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti
pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram
dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal
ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
5. Pendidikan inklusif
Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak
tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan
guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang
guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk
memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai
kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta
kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap
rintisan.
6. Panti (Griya) Rehabilitasi
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang
mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki
kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih
terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal:
a. Pengenalan diri
b. Sensorimotor dan persepsi
c. Motorik kasar dan ambulasi (pindah dari satu temapt ke tempat lain)
d. Kemampuan berbahasa dan dan komunikasi
e. Bina diri dan kemampuan sosial.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tunagrahita adalah keterbatasan dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai
dengan terbatasnya kemampuan fungsi kecerdasan yang terletak dibawah rata -rata (IQ
50-70) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku adaptif minimal di 2
area atau lebih. Tunagarahita dibagi atas tiga tingkatan yaitu, Golongan Tunagrahita
Ringan dengan rata-rata IQ 55-69, Tunagrahita Golongan Sedang rata-rata IQ 40-51,
dan Tunagrahita Golongan Berat rata-rata IQ 25-29. Mereka mempunyai ciri-ciri yang
berbeda tergantung pada tingkatan ketunagrahitaannya. Namun, jika ada yang IQ dibawah
50 jangan langsung mendiagnosis karena tunagrahita diikuti dengan munculnya masalah
perilaku adaftif, kemandiriannya serta aktivitas sosialnya.
Tunagrahita bisa diidentifikasi ketika prenatal, natal dan postnatal. Sementara
treatment bagi penyandang tunagrahita yaitu dengan mengajarkan merawat diri,
menghaluskan anggoa gerak, pembendaharaan kata.

B. Saran
1. Bagi penyandang tunagrahita, sebaiknya tetap semangat menjalani hidup. Karena
semuanya sama, mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Belajarlah
untuk mandiri, jangan menyerah.
2. Bagi orangtua penyandang tunagrahita, sebaiknya untuk selalu memberikan kasih
sayang dan kesabaran yang penuh karena penyandang tunagrahita membutuhkan
dukungan untuk belajar lebih mandiri lagi.
3. Bagi pendidik penyandang tunagrahita, sebaiknya membimbing dengan kesabaran
supaya mengangkat derajat penyandang tunagrahita pada kemandirian yang penuh
dan melepaskan label bahwa penyandang tunagrahita itu idiot dan sama sekali tidak
bisa diajak berkomunikasi.

10
DAFTAR PUSTAKA
Amin, M. 1955. OrtopedagogikAnakTunagrahita. Bandung:
DepartemenPendidikandanKebudayaanDirektoratJenderalPendidikan.
Armatas, V. 2009. Mental retardation: definitions, etiology, epidemiology and
diagnosis. Journal of Sport and Health Research.1(2):112-122.
Delphie, P. 2006. PembelajaranAnakBerkebutuhanKhusus (dalam SettingPendidikanInklusi).
Bandung: PT. RefikaAditama.
Kuntojojo. 2009. Psikologi Abnormal. Kediri.
Mumpuniarti. (2000). PenangananAnakTunagrahita
(KajiandarisegipendidikanSosialPsikologidanTindakLanjutUsiaDewasa).Yogyakarta:
UNY.
Supena, Asep. 2009. Model Pendidikan Inklusi Bagi Anak Tunagrahita Di Sekolah Dasar.
jurnal pendidikan dasar,vol.10 no. 1,Maret 2009 (9-18).
Wibowo, Sutji Martiningsih. Penanganan Anak Tuna Grahita. semi-loka ” Penata laksanaan
Anak-anak Tuna Grahita” Di Rumah Sakit Santosa, Bandung.
Woolfolk, Anita. 2009. Educational Psychology Active Learning Edition. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

11