Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, shalawat serta salam senantiasa
tercurah kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Berkat kuadrat dan idratnya
akhirnya kamu dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang “Kajian Q.S
Ma'idah/5:48 dan hadits tentang memaksimalkan potensi menuju kompetitor terbaik” ini
merupakan salah satu tugas mata pelajaran pendidikan agama Islam.

Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberi bantuan, dorongan, bimbingan, dan arahan kepada penyusun.

Dalam makalah ini kami menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala saran
dan kritik guna perbaikan dan kesempurnaan sangat kami nantikan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi penyusun dan para pembaca pada umumnya.

DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah Swt mengutus para nabi dan menurunkan
syariat kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kepada manusia sepanjang sejarah.
sebagian dari ajaran-ajaran mereka disembunyikan atau diselewengkan. Sebagai ganti
ajarah para nabi, mereka membuat ajaran sendiri yang bersifat khurafat dan khayalan.
Sementara ayat ini menyinggung kedudukan tinggi al-Quran sebagai pembenar kitab-kitab
samawi, juga menyebutnya sebagai penjaga kitab-kitab tersebut. Dengan menekankan
terhadap dasar-dasar ajaran para nabi terdahulu, al-Quran juga sepenuhnya memelihara
keaslian ajaran itu dan menyempurnakannya.

1.2 Rumusan Masalah

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kajian Q.S Al-Ma’idah/5:48 tentang kompetisi dalam kebaikan


surat al-maidah (5) ayat 48

Artinya :

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran,


membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)
dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka
menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka
dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat
diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji
kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat
kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya
kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Isi kandungannya dan assabun nuzul :

Yang ditekankan dalam ayat ini adalah mengingatkan umat islam agar jangan sampai
bersikap dan berperilaku seperti umat terdahulu, misalnya umat Nabi Musa a.s. dan
umat Nabi Isa a.s. yang tidak mengamalkan dan menegakkan apa yang terkandung
dalam kitab suci yang diturunkan kepada mereka. Sikap yang benar terhadap kitab suci
adalah menaati dan mengamalkan, bukan mencari-cari alasan agar dapat mengelabui,
mengubahnya, atau hanya ingin menuruti hawa nafsu.

Setiap umat memiliki syariat tersendiri. Seiring dengan berjalannya waktu dan
perkembangan masyarakat, maka syariat juga mengalami perubahan. Aspek yang tidak
berubah adalah dasar dari landasan agama, yakni tauhid atau keimanan. Taurat, Injil,
dan Al-Qur’an memiliki ciri khas masing-masing di bidang keimanan dan pengabdian,
yaitu hanya kepada Allah SWT.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran bila dibandingkan dengan kitab-kitab samawi terdahulu memiliki kemuliaan


dan keistimewaan.

2. Bahaya yang mengancam para tokoh masyarakat ialah ketidakpedulian terhadap


hakikat ilahi demi menarik simpati manusia, serta menuruti keinginan mereka yang tidak
pada tempatnya.

3. Salah satu dari sarana cobaan Allah ialah adanya perbedaan agama di sepanjang
sejarah, sehingga dapat memperjelas siapa gerangan yang bisa menerima kebenaran,
serta siapa yang ekstrim dan keras kepala.

2.2 Kajian Hadist tentang Berkompetisi dalam Kebaikan

1. Terjemah Hadits

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Segera beramal sebelum


datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari, seorang laki-laki
dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari, seorang laki-laki dalam
keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang
kenikmatan dunia.” (HR.Muslim).

2. Isi dan Kandungan Hadits


a. Perintah untuk bersegera untuk melakukan amal sholeh sebelum hilang

kesempatan.

b. Informasi bahawa fitnah itu berkonotasi kegelapan dan kesesatan, seperti

gelapnya malam tanpa pelita yang membuat manusia mudah tersesat.

c. Keimanan manusia itu bersifat fluktuatif (pasang-surut),tidak stabil,terkadang


menguat dan terkadang melemah. Pada saat iman melemah, perhiasan dunia
menjadi paling berharga di matanya sehingga akhirat terlupakan (ditukar dengan
kenikmatan duniawi).

2.3 Makna Kompetisi dalam Kebaikan

1. Pengertian Kompetisi dan Kebaikan

Kata ‘kompetisi’ menurut KBBI artinya persaingan. Kebaikan, artinya sifat baik;
perbuatan baik; sifat manusia yang dianggap baik menurut sistem norma dan
pandangan umum yang berlaku.

Kata ‘kebaikan’ menurut ajaran islam dapat diartikan sebagai ‘amal sholeh’. Jadi,
kompetisi dalam kebaikan adalah melakukan persaingan atau berlomba untuk
melakukan kebaikan atau amal sholeh. Secara terminologis, amal sholeh adalah
segala perbuatan yang tidak merusak atau menghilangkan kerusakan. Amal
sholeh juga adalah perbuatan yang mendatangkan maslahat atau sesuatu yang
mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

2. Kriteria Perbuatan Baik atau Amal Sholeh.

a. Adanya niat yang ikhlas karena Allah SWT.

b. Benar dalam melaksanakannya, sebagaimana yang telah ditentukan oleh


Allah SWT dan Rasul-Nya.
c. Bertujuan hanya mencari ridha Allah SWT.

3. Macam-macam Perbuatan Baik atau Amal Sholeh.

a. Perbuatan baik atau amal sholeh yang berkaitan dengan Allah SWT.

b. Perbuatan baik atau amal sholeh yang berkaitan dengan diri sendiri.

c. Perbuatan baik atau amal sholeh yang berkaitan dengan sesama.

d. Perbuatan baik atau amal sholeh yang berkaitan dengan lingkungan.

4. Keuntungan Berbuat Kebaikan atau Beramal Sholeh.

a. Dianugrahi kehidupan yang baik, sebagaimana firman ALLAH SWT. Berikut


ini.

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun


perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An-
Nahl/16: 97)

b. Memiliki rasa senang, sebagaimana firman ALLAH SWT berikut ini.

Artinya: ”Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan


kebajikan, kelak (ALLAH) Yang Maha Pengasih akan menanankan rasa
kasih sayang (dalam hati mereka).”(QS. Maryam/19: 96)

c. Memproleh pahala yang besar, sebagaimana firman ALLAH SWT berikut ini:

Artinya: ”Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali


lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang
dengan kejahatan. Mereka sedikit tidak dirugikan (dizalimi).”(QS. Al-
An’am/6: 160)

d. Memperoleh kekuasaan atau kesuksesan di muka bumi. Firman ALLAH


SWT:
Artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu
yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orangn sebelum mereka berkuasa.....” (QS.An-Nur/24: 55)

e. Memperoleh ampunan, sebagaimana firman ALLAH SWT berikut ini.

Artinya: “Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,


mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS.Al-Hajj/22:
50)

f. Memperoleh jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi dan


memperoleh rezeki yang tidak disangka-sangka. Firman ALLAH SWT:

Artinya: “......Barangsiapa bertaqwa kepada ALLAH, niscaya Dia akan


membuka jalan keluar baginya (2) Dan Dia memberikannya rezeki dari
arah yang tidak disangka-sangkanya (3)......”(QS.At-Talaq/65: 2-3)

g. Mendapatkan tempat yang baik di akhirat.

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka


mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”(QS.Ar-Ra’d/13:
29)

h. Memperoleh petunjuk dari ALLAH SWT sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan


kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya.
Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir dibawah
sungai-sungai.” (QS.Yunus/10: 9)
2.4 Contoh Perilaku yang Manampilkan Kompetisi dalam Kebaikan

1. Mampu memiliki 5 kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual, intelektual, sosial,


emosional, dan fisik.

2. Mampu menjadi model atau usuwa, inofator, pemberi inspirasi, transformator,


motivator, dan educator dalam kehidupan.

3. Mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar.

4. Seseorang yang memiliki kebiasaan berkataqaulan sadida (QS. An-Nisa : 9), qaulan
karima(QS.Al-Isra’ : 23), qaulan baliga (QS.An-Nisa : 63), qaulan maisura (QS.Al-Isra’ : 28)
dan qaulan layyina (QS.Taha : 44).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah bahwa kita harus mencapai prestasi setinggi tingginya tak
peduli sesulit apapun. Termasuk untuk kita generasi muda, kita lah yang wajib mengangkat
derajat bangsa ini dimata dunia baik berprestasi dalam bidang politik atau pun olahraga dan
lain lain.

3.2 Saran
Penulis hanya bisa menyarankan semoga para pembaca dapat lebih termotivasi untuk
menggapai prestasi setinggi tingginya. Taka da yang sulit jika kita punya motivasi dan semangat
yang cukup,lakukan segalanya sesuai kemampuan dan tak usah memaksakan diri jika memang
tak mampu untuk meraih itu, berprestasilah dibidang yang kalian minati karena pada
hakikatnya manusia adalah individu ciptaanTuhan yang maha esa yang memiliki potensi diri
yang berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga prestasi diri setiap orang tentu tidak akan
sama. Itu sebabnya para ahli berpendapat bahwa setiap siswa adalah individu yang unik.