Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN TEORI

1.1 TEORI DAN MODEL KONSEPTUAL DALAI KEPERAWATAN


KOMUNITAS
Keperawatan komunitas memberikan perhatian terhadap pengaruh faktor
lingkngan meliputi fisik, biologis, psikologis, sosial, dan kultural serta spiritual,
terhadap kesehatan masyarakat dan memeberi prioritas pada strategi pencegahan,
peningkatan, dan pemeliharaan dalam upaya mencapai tujuan.
A. Model Sistem Imogene M.King (1971)
Komunitas merupakan suatu sistem dari sub sistem keluarga dan supra
sistemnya adalah sistem sosial yang lebih luas. Adanya gangguan atau
stresor pada salah satu subsistem akan mempengaruhi komunitas,
misalnya adanya gangguan salah satu subsistem pendidikan, dimana
masyarakat akan kehilangan informasi atau ketidaktauan.
B. Model Adaptasi Callista Roy (1976)
Aplikasi dari model adaptasi pada keperawatan komunikasi tujuannya
adalah untuk mempertahankan perilaku adaptif dan merubah perilaku mal
adaptif pada komunitas. Adapun upaya pelayanan keperawatan yang
dilakukan adalah untuk meningkatkan kesehatan dengan cara
mempertahankan perilaku adaptif.
C. Model “SELF CARE” (1971)
Model ini tepat digunakan untuk keperawatan keluarga karena tujuan
akhir dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalai
melakukan upaya kesehatan yang terkait dengan lima tugas kesehatan
keluarga yaitu: mengenang masalah, mengambil keputusan untuk
mengatasi masalah, merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan
kesehatan, memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang kesehatan,
dan menggunakan fasilitas kesehatan secara tepat.
Pengertian keperawatan mandiri adalah salah satu kemampuan dasar
manusia dalai menjaga fungsi tubuh dan kehidupan yang harus
dimilikinya. Menurut “OREM” keperawatan mandiri adalah pelaksanan
kegiatan yang di prakasai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk
memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai keadaan sehat sakit (OREM,1990). Individu :
integrasi keseluruhan fisik, mental, psikologis, dan sosial dengan berbagai
variasi tingkat kemampuan keperawatan mandiri. “Self Care” : referensi
untuk mengkaji kebutuhan dan pilihan yang teliti bagaimana untuk
memenuhi kebutuhan.

1
Keperawatan : pelayanan terhadap manusia, proses interpersonal dan
tekhnikal merupakan tindakan khusus. Tindakan keperawatan untuk
meningkatkan keperawatan mandiri dan kemampuan perawatan mandiri
yang terapeutik. Asuhan keperawatan mandiri dapat digunakan dalai
praktik keperawatan keluarga.
Sasaran :
1. Menolong klien atau keluarga untuk keperawatan mandiri secara
terapeutik.
2. Menolong kloen bergerak kearah tindakan asuhan mandiri.
3. Membantu anggota keluarga merawat anggota keluarga yang
mengalami gangguan.
Fokus Asuhan Keperawatan :
1. Aspek interpersonal : hubungan di dalam keluarga
2. Aspek sosial : hubungan keluarga dengan masyarakat yang berada
sekitar
3. Aspek procedural : melatih keterampilan dasar keluarga sehingga
mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi
4. Aspek teknis : mengajarkan keluarga teknik-teknik dasar yang
mampu dilakukan keluarga di rumah misalnya : mengompres
dengan baik dan benar
System keperawatan adalah membatu klien dalai meningkatkan atau
melakukan keperawatan mandiri. System keperawatan mandiri dibagi tiga
kategori bantuan sebagai berikut :
a. Wholly comphensatory, bantuan secara keseluruhan dibutuhkan
untuk klien yang tidak mampu mengontrol dan memantau
lingkungan dan tidak berespon terhadap rangsangan.
b. Partially comphensatory, bantuan sebagian dibutuhkan oleh klien
yang mengalami keterbatasan gerak karena skit, misalnya
kecelakan.
c. Supportive-educative, dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien
yang membutuhkan bantuan untuk mempelajari agar melakukan
keperawatan mandiri.
D. Model “HEALTH CARE SYSTEM” BETTY NEUMAN
Asumsi yang dikemukakan Neuman tentang empat konsep utama dari
paradigma keperawatan yang terkait keperawatan komunitas adalah
sebagai berikut :
1. Manusia
Merupakan suatu sistem terbuka, yang selalu mencari
keseimbangan dari harmoni dam merupakan satu kesatuan dari

2
variable-variable : fisiologis, psikologis, sosiokultural,
perkembangan dan spriritual.
2. Lingkungan Sehat Keperawatan
Sehat menurut model Neumen adalah suatu keseimbangan
biopsiko – sosio – cultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan
klien yaitu fleksibel, normal dan resisten. Keperawatan ditujukan
untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus
pada empat intervensi yaitu : intervensi yang bersifat promosi
dilakukan apabila gangguan yang terjadi pada garis pertahanan
resisten terganggu.
Keperawatan sebagai ilmu dan kiat, mempelajari tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar klien (individu, keluarga, kelompok,
dan komunitas) yang berhubungan dengan ketidakseimbangan
yang terjadi pada garis pertahanan yaitu fleksibel, normal, dan
resisten serta berupaya membantu mempertahanka keseimbangan
untuk sehat.
Intervensi yang dilakukan terhadap klien ditujukan pada
garis pertahanan yang mengalami gangguan :
1. Intervensi bersifat promosi untuk gangguan pada garis
pertahanan fleksibel.
2. Intervensi bersifat prevensi untuk gangguan pada garis
pertahanan normal.
3. Intervensi bersifat kurasi dan rehabilitasi untuk gangguan pada
garis pertahanan resisten.

E. Aplikasi Model Neuman Pada Komunitas


Sesuai dengan teori Neuman, kelompok atau komunitas dilihat
sebagai klien dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu komunitas yang
merupakan klien dan pengunaan proses keperawatan sebagai pendekatan
yang terdiri dari 5 tahapan yaitu : pengkajian, diagnosa keperawata,
perencanaan, implementasi, evaluasi.
Model ini sangat cocok diterapkan pada masyarakat. Dalam model
ini Neuman menekankan pada setiap bagian. Pengkajian merupakan
kegiatan awal yang perlu dilakukan oleh seorang perawat komunitas.
Melalui pengkajian yang baik akan didapatkan data yang baik dan
memadai untuk menuju ketahapan berikutnya.
Diagnosa keperawatan sebagai tahapan setelah pengkajian
merupakan upaya lanjutan yang dilakukan perawat untuk mengetahui dan
menentukan arah dari permasalahan yang ada pada masyarakat. Diagnosa

3
ini akan bagus jika langkah awal atau pengkajian mendapatkan data yang
benar dan lengkap.
Tahapan berikutnya adalah perencanaan, pada tahapan ini perawat
akan merencanakan tindakan apa saja yang akan dilakukan berdasarkan
pengkajian dan diagnosa yang telah dibiat. Pada tahap ini harus dilakukan
dengan seksama, mempertimbangkan berbagai hal yang mungkin terjadi.
Hal yang perlu diperhatikan juga dalam tahapan ini adalah melibatkan
pihak-pihak yang akan memanfaatkannya agar perencanaan sesuai dengan
sasaran.
Implementasi dan evaluasi, merupakan tahapan yang penting.
Dalam tahapan implementasi perawat harus memahami kondisi klien atau
masyarakat agar tidak terjadi masalah atau benturan yang tidak di
inginkan. Tahap ini sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan sungguh-
sungguh agar hasilnya maksimal.
Tahap evaluasi dilakukan agar apa yang telah direncanakan dan di
implementasikan dapat diukur sejauhmana keberhasilan, evaluasi
dilakukan secara menyeluruh agar dapat diketahui kekurangan dari
program yang dijalankan utuk nantinya dulakukan perbaikan.

2.1 ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITS TENTANG FUNGSI, ETIKA


DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS
A. Konsep Etika
1. Definisi
Etik (ethics) berasal dari bahasa yunani ethos yang berati adat, kebiasaan,
perilaku, atau karakter. Sedangkan menurut kamus Webster, etik adalah
ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secra moral. Dari
pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu tentang
kesusilaan yang menentukan bagaiaman harusnya manuasi hidup di dalam
masyrakat, yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang
menentukan tingkah laku yang benar, yaitu baik dan buruk, serta kwajiban
dan tanggung jawab. Jadi etika berhubungan dengan pertimbangan membuat
keputusan terhadapa suatu perbuatan karena tidak ada undang-undang dan
peraturan yang menegaskan apa yang harus dilakukan moral. Etika
keperawatan merupakan alat untuk mengukur perilaku moral dalam
keperawatan. Keputusan perawat seharusnya berdasarkan kode etik sebagai
standar yang dapat diukur dan di evaluasi melalu perilaku moral
perawat.Sementara itu, etika keperawatan kesehatan komunitas adalah etika
pengambilan keputusan berdasarkan moral, pengetahuan tentang hak klien,
dan tanggung jawab profesi. Hak klien atas kesehatan merupakan hak yang
bersifat alami, dimana tiap masyarakat berhak memperoleh derajat

4
kesehatan seoptimal mungkin. Hak atas pelayanan kesehatan merupakan hak
untuk mendapatkan pelayanan atas barang dan jasa kesehatan yang berupa :
a. Hak untuk mendapatkan pelayanan yang terhormat
b. Memperoleh informasi pengobatan yang lengkap
c. Informasi untuk suatu persetujuan
d. Penolakan pengobatan
e. Minta dilayani
f. Penolakan partisipasi riset
g. Kesinambungan pelayanan
h. Informasi tentang peraturan
2. Dasar pemikiran etika
Etika adalah kode perilaku yang berhubungan dengan apa yang baik dan
tidak baik dengan kewajiban moral. Prinsip benar dan salah dalam suatu
tindakan didasarkan perilaku yang bersumber pada moral sanksi yang
diberikan, bukan sanksi hukum, tetapi sanksi moral.
1) Tujuan etika profesi keperawatan
Tujuan dibuatnya etika pada profesi keperawatan adalah sebagai
berikut:
a. Menciptakan kepercayaan klien pada perawat
b. Menciptakan kepercayaan pada sesame perawat
c. Menciptakan kepercayaan masyarakat pada profesi perawat
2) Aliran yang berhubungan dengan etika
a. Aliran deskriptif, yaitu aliran yang memberi gambaran dan
penjelasan tentang bagaimana manusia harus berprilaku
dalam lingkungan atau dalam masyarakat untuk memperoleh
suatu tujuan
b. Aliran normatif, yaitu aliran yang mengukur perilaku yang
benar atau salah dengan norma. Deontology yang berfokus
pada formalitas dan teologikal di mana etika menjadi
pedoman perilaku yang berfokus pada penggunaannya
c. Aliran pluralism, yaitu suatu tindakan etika diukur
berdasarkan komleksitas situasi yang dihadapi. Prinsip-
prinsip aliran ini, antara lain :
 Etika merupakan cabang ilmu falsafah yang objeknya
adalah perilaku manusia, di mana etika disebut
filsafah moral
 Etika memberi keputusan tentang tindakan yang
dianggap besar, tepat, atau bermoral
 Keperawatan adalah pelayanan vital terhadap manusia
dengan latar belakang yang dalam berinteraksi

5
mempunyai tingkah laku yang berbeda, sehingga
perlu disusun suatu pedoman untuk bertindak,
berlaku, dan tanggung jawab, yaitu kode etik.
3. Kode etik keperawatan, prinsip, dan fungsi kode etik
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang
menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan
kesehatan masyarakat. Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun
oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui
Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
Kode etik Keperawatan Indonesia tersebut terdiri atas 4 bab 16 pasal, yaiytu
sebagai berikut:
a. Bab 1
Terdiri atas 4 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap individu, keluarga, dan masyarakat. Dalam pemberian
pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga atau komunitas,
perawat sangat memerlukan etika keperawatan yang merupakan
filsafat yang mengarah tanggungjawab moral yang mendasar
terhadap pelaksanaan praktik keperawatan. Oleh karena itu, fokus
dari etika ditunjukan terhadap sifat manusiayang unik untuk
memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, diperlukan
peraturan tentang hubungan antara perawat dengan masyarakat, yaitu
sebagai berikut:
 Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya harus selalu
berpedoman pada tanggungjawab yang bersumber dari
adanya kebutuhan terhadap keperawatan individu, keluarga,
dan masyarakat.
 Perawat dalam melaksanakan pengabdian di bidang
keperawatan, memelihara suasana lingkungan yang
menghormati nilai-nilai budaya, adat-istiadat, serta
kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga, dan
masyarakat.
 Perawat dalam melaksanakan kewajiban terhadap individu,
keluarga, dan masyarakat selalu dilandasi rasa tulus ikhlas
sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.
 Perawat menjalin hubungan kerja sama dengan individu,
keluarga, dan masyarakat. Khususnya dalam mengambil
prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan, serta upaya
kesejahteraan sebagai bagian dari tugas dan kewajiban bagi
kepentingan masyarakat.

6
b. Bab 2
Terdiri atas 5 pasal, yang menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat terhadap tugas, yaitu sebagai berikut:
 Perawat memelihara mutu prlayanan keperawatan yang
tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan
pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
 Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya,
kecuali jika diperlukan oleh pihak yang berwenang sesuai
dengan ketentuan hukum yang berlaku.
 Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan
keterampilan keperawatan yang dimilikinya untuk tujuan
yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
 Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajiban selalu
berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh
oleh peetimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit,
usia, jenis kelamin, aliran politik, agama yang dianut, dan
kedudukan sosial.
 Perawat mengutamakan perlindungan dan keselamatan
pasien atau klien dalam melaksanakan tugas
keperawatannya serta matang dalam mempertimbangkan
tanggung jawab yang ada hubungannya dengan
keperawatan.
c. Bab 3
Terdiri atas dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain, yaitu
sebagai berikut:
 Perawat memiliki hubungan baik dengan sesama perawat
dan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara
keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam
lainnya, baik mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh.
 Perawat menyebar luaskan pengetahuan, keterampilan dan
pengalamannya kepada sesama perawat. Serta menerima
pengetahuan dan pengalaman dari profesi dalam rangka
meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
d. Bab 4
Terdiri atas empat pasal menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat terhadap profesi keperawatan, yaitu sebagai berikut:

7
 Perawat berupaya meningkatkan kemampuan profesional,
baik secara mandiri maupun bersama-sama dengan jalan
menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan
keperawatan.
 Perawat menjungjung tinggi nama baik profesi
keperawatan dengan menunjukkan perilaku dan sifat-sifat
pribadi yang luhur.
 Perawat berperan dalam menentukan pembakuan
pendidikan dan pelayanan keperawtan, serta menerapkan
dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan.
 Perawat secara bersama-sama membina dan memelihara
mutu organisasi profesi keperawatan sebagai sarana
pengabdian
e. Bab 5
Terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggungjawab
perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air, yaitu sebagi
berikut:
 Perawat melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai
kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pemerintah dalam
bidang kesehatan dan keperawatan.
 Perawat berperan secara aktif dalam menyumbangkan
fikiran kepada pemerintah dalam meningkatkan pelayanan
kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat.
4. Sedangkan kode etik keperawatan menurut ANA (1976) adalah sebagai
berikut.
a) Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi
martabat kemanusiaan dan keunikan yang tidak dibatasi oleh
pertimbangan-pertimbangan status sosial atau ekonomi, atribut
personal, dan jenis masalah kesehatannya.
b) Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang
teguh informasi yang bersifat rahasia.
c) Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan
keselamatannya terancam oleh praktik seseorang yang tidak
berkompeten, tidak etik atau ilegal.
d) Perawat memikul tanggungjawab atas pertimbangan dan tindakan
perawatan yang dijalankan masing-masing individu.
e) Perawat memelihara kompetensi keperawatan
f) Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan
menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu sebagai kriteria

8
dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab, dan
melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.
g) Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan
pengetahuan profesi.
h) Perawat turut serta dalam upaya profesi untuk melaksanakan dan
meningkatkan standar keperawatan.
i) Perawat turut serta dalam upaya profesi untuk membentuk dan
membina kondisi kerja yang mendukung pelayanan keperawatan
yang berkualitas.
j) Perawat turut serta dalam upaya untuk melindungi publik terhadap
informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan
integritas perawat.
k) Perawat berkerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau
warga masyarakat lainnya dalam meningkatkan upaya-upaya
masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan
publik.
5. Selain itu, ICN juga telah mengatur kode etik kepeawatan. ICN adalah
suatu profesi penghimpuanan perawat nasional diseluruh dunia yang
didirikan pada tanggal 1 juli 1899 oleh: Mrs. Bedford Fenwich di Hanover
Square, London dan direvisi pada tahun 1973. Uraian kode etik menurut
ICN diuraikan sebagai berikut:
 Tanggung jawab utama perawat
a) Meningkatkan kesehatan
b) Mencegah timbulnya penyakit
c) Memelihara kesehatan
d) Mengurangi penderitaan
 Untuk melaksanakan tanggungjawab utama tersebut, perawat harus
meyakini bahwa:
a) Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai
tempat adalah sama
b) Pelaksanaan praktik keperawatan dititikberatkan pada
penghargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan
menjungjung tinggi hak asasi manusia.
c) Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan atau
keperawatan kepada individu, kelompok, dan masyarakat
perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.
6. Perawat individu dan anggota kelompok masyarakat
Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan
sesuai kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas
perawat perlu meningkatkan keadaan lingkungann kesehatan dengan

9
menghargai nilai-nilai di masyarakat, menghargai adat kebiasaan, serta
kepercayaan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menjadi
pasien atau kliennya. Perawat dapat memegang teguh rahasia pribadi
(privasi) klien dan hanya dapat memberikan keterangan bila diperlukan
oleh pihak yang berkepentingan atau pengadilan
7. Perawat dan pelaksanaan praktik keperawatan
Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan
standar praktik keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai
dengan standar pendidikan keperawatan. Perawat dapat mengembangkat
pengetahuan yang dimilikinya secara aktif untuk menopang perannya
dalam situasi tertentu. Perawat sebagai anggota profesi setiap saat dapat
mempertahankan sikap sesuai dengan standar profesi keperawatan.
8. Perawat dan lingkungan masyarakat
Perawat dapat memprakarsai pembaharuan, tanggapan, mempunyai
inisyatif, dan dapat berperan serta aktif dalam menentukan masalah
kesehatan dan sosial yang terjadi di masyarakat.
9. Perawat dan sejawat
Perawat dapat menopang hubungan kerjasama dengan teman sejawat, baik
tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain di luar keperawatan.
Perawat dapat melindungi dan menjamin seseorang bila dalam masa
perawatannya merasa terancam.
10. Perawat dan profesi keperawatan
Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan
standar praktik keperawatan dan pendidikan keperawatan. Perawat
diharapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuan dalam
menopang pelaksanaan perawatan secara profesional. Perawat sebagai
anggota organisasi profesi, berpartisifasi dalam memelihara kestabilan
sosial dan ekonomi sesuai dengan kondisi pelaksanaan praktik
keperawatan.

B. Prinsip Dasar Kode Etik


Prinsip dasar kode etik adalah menghargai hak dan martabat manusi. Apabila
menghadapi suatu situasi yang melibatkan keputusan yang bersifat etik dan
moralitas, perawat hendaknya bertanya pada diri sendiri mengenai hal-hal sebagai
berikut:
 Bagaiman pengaaruh tindakan saya pada klien?
 Bagaimana pengaruh tindakan saya terhadap tim kerja?
 Bagaiman pengaruh tindakan saya terhadap diri sendiri?
 Bagaiman pengaruh tindakan saya terhadap profesi?

10
C. Fungsi Kode Etik
Fungsi kode etik dalam sistem pelayanan kesehatan dan praktik keperawatan
(Kozier & Erb, 1990), anatar lain sebagai berikut:
a. Etika berhubungan dengan standar profesi untuk melindungi perawat dan
klien
b. Kode etik sebagai alat menyusun standar praktik professional, memperbaiki,
dan memelihara standar tersebut
c. Kode etik merupakan pedoman dalam melaksanakan tindakan dan harus
diterima sebagai nilai pribadi bagi anggota professional
d. Kode etik memberi kerangka pikir pada anggota profesi untuk membuat
keputusan
e. Kode etik keperawatan sebagai kearangka pikir perawat untuk mengambil
keputusan dan tanggung jawab kepada masyarakat, anggota tim kesehatan
lain, dan profesi (ANA, 1976)
1. Perilaku personal perawat yang berkaitan dengan kode etik. Pribadi perawat yang
sesuai dengan kode etik adalah sebagai berikut :
a. Perawat melaksanakan pelayanan dengan menghargai derajat manusia dan
tidak membedakan kebangsaan
b. Perawat melindungi hak klien dan melibatkan diri hanya terhadap hal yang
relavan dengan asuhan keperawatan
c. Perawat mempertahankan komptensinya dalam praktik keperawatan, mengenal,
serta menerima tanggung jawab untuk kegiatan dan keputusan yang diambil
d. Perawat mempertimbangkan orang lain dengan kriteria tertentu apabilan akan
mendelegasikan tugas / menunjuk seseorang untuk melakukan kegiatan
keperawatan
e. Perawat melindungi klien bila keperawatan dan keselamataannya diganggu
oleh orang yang tidak berwenang, tidak etis dan illegal
f. Perawat berpartisipasi dalam kegiatan riset bila hak individu yang menjadi
subjek dilindungi
g. Perawat berpartisipasi dalam uasah profesi dalam meningkatkan standar praktik
dan pendidikan keperawatan
h. Perawat bertindak melalu organisai profesi, berperan serta dalam mengadakan
dan mempertahankan kondisi pekerjaan yang memungkinkan kualitas asuhan
keperawatan yang tinggi
i. Perawat bekerja sama dengan anggota profesi kesehatan dan oranglain dalam
upaya peningkatan kesehatan masyarakat
j. Perawat menolak tawaran untuk subjek advertensi atau promosi komersial
2. Tanggung jawab perawat berhubungan dengan etik. Berikut ini adalah tanggung jawab
yang berhubungan dengan klien
a. Tanggung jawab terhadap tugas, berupa upaya promotif dan rehabilitatif

11
b. Tanggung jawab terhadap orang lain, yaitu menghargai anggota masyarakat
c. Tanggung jawab terhadap masyarakat, yaitu sebagai anggota masyarakat
d. Tanggung jawab terhadap profesi, yaitu selalu mengembangkan profesi
3. jawab profesi
a. Kewajiban terhadap kode etik adalah sebagai berikut
b. Kejujuran (veracity), bagaimana apabila dengan informasi yang jujur akan
menimbulkan kecemasan pada klien?
c. Kerahasian, menjaga kerahasian dengan cara mengendalikan diri untuk tidak
terbuka terhadap informasi-informasi klien yang sensitive pada orang lain,
untuk menghindari terjadinya konflik dengan kewajiban lain
d. Advokasi (advocacy), pembelaan terhadap hak-hak klien
e. Akuntabilitas, yaitutanggung jawab terhadap apa yang dilakukan untuk
memberikan pelayanan

D. Prinsip Etika
Prinsip- prinsip dasar dan etika dalam kesehatan komunitas. Berikut ini akan
dijelaskan mengenai prinsip-prinsip dasar dan etika dalam kesehatan komunitas,
sebagai berikut :
1) Keluarga adalah unit utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat
2) Empat tingkat sasaran dalam pelayanan perawatan kesehatan masyarakat, yaitu :
individu, keluarga, dan kelompok. Dalam hal ini kelompok khusu dan
masyarakat.
3) Perawat komunitas selalu mengikut sertakan partisipasi masayarakat dalam
menanggulangi kesehatan mereka sendiri
4) Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang diberikan lebih menekanankan pada
upaya promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan) dengan tidak
melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
5) Dasar utama pelayanan kesehatan masyarakat adalah menggukanan pendekatan
pemecahan masalah yang dituangakan dalam proses keperawatan
6) Kegiatan utamanya yaitu,masyarakat secara keseluruhan baik yang sehat
maupun yang sakit.
7) Tujuannnya yaitu meningkatkan fungsi kehidupan, sehingga dapat menigkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
8) Penekanan pada upaya pembinaan perilaku sehat masyarakat
9) Bekerja secara tim bukan individu
10) Selalu melakukan kegiatan peningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit,
melayani masyarakat yang sehat dan sakit, penduduk yang sakit dan tidak
berobat ke puskesmas, serta klien yang baru kembali dari rumah sakit
11) Kunjungan rumah sangat diperlukan dalam membantu mengatasi masalah
kesehatan atau perawatan pada klien

12
12) Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama
13) Pelaksanaan kesehatan masyarakat mengacu pada sistem pelayanan kesehatan
yang ada
14) Pelaksanaan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat dilakukan di
puskesmas, panti, sekolah dan keluarga sebagai unit pelayanan
E. Beberapa prinsip dalam melaksanakan keperawatan komunitas
Prinsip dalam melaksanakan keperawatan antara lain :
1) Kemanfaatan
Intervensi atau pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan harus
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada
keseimbangan antara manfaat dan kerugian.
2) Otonomi
Dalam keperawatan komunitas, masyarakat diberikan kebebasan untuk
melaksanakan atau memilih alternatif terbaik yang disediakan
3) Keadilan
Hal ini menunjukan bahwa upaya atau tindakan yang dilakukan sesuai dengan
kemampuan atau kapasitas komunitas

3.1 PERAN FUNGSI PERAWAT DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS


A. Peran Perawat
Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang
sesuai dengan kedudukan dan system, dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan
social baik dari profesi perawat maupun dari luar profesi keperawatan yang
bersifat konstan.
1. Pemberi Asuhan Keperawatan
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu klien
mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan.
Perawat memfokuskan asuhan pada kebutuhan kesehatan klien secara
holistic, meliputi upaya untuk mengembalikan kesehatan emosi, spiritual
dan sosial. Pemberi asuhan memberikan bantuan kepada klien dan
keluarga klien dengan menggunakan energy dan waktu yang minimal.
Selain itu, dalam perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat
memberikan perawatan dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar
manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan
dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan
diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan
yang tepat dan sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian
dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan
keperawatannya dilakukan dari yang sederhana sampai yang kompleks.
2. Pembuat Keputusan Klinis

13
Membuat keputusan klinis adalah inti pada praktik keperawatan.
Untuk memberikan perawatan yang efektif, perawat menggunakan
keahliannya berfikir kritis melalui proses keperawatan. Sebelum
mengambil tindakan keperawatan, baik dalam pengkajian kondisi klien,
pemberian perawatan, dan mengevaluasi hasil, perawat menyusun rencana
tindakan dengan menetapkan pendekatan terbaik bagi klien. Perawat
membuat keputusan sendiri atau berkolaborasi dengan klien dan keluarga.
Dalam setiap situasi seperti ini, perawat bekerja sama, dan berkonsultasi
dengan pembe ri perawatan kesehatan professional lainnya (Keeling dan
Ramos,1995).
3. Pelindung dan Advokat Klien
Sebagai pelindung, perawat membantu mempertahankan
lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan serta melindungi klien dari kemungkinan
efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostic atau pengobatan.
Contoh dari peran perawat sebagai pelindung adalah memastikan bahwa
klien tidak memiliki alergi terhadap obat dan memberikan imunisasi
melawat penyakit di komunitas. Sedangkan peran perawat sebagai
advokat, perawat melindungi hak klien sebagai manusia dan secara
hukum, serta membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila
dibutuhkan.
Contohnya: perawat memberikan informasi tambahan bagi klien yang
sedang berusaha untuk memutuskan tindakan yang terbaik baginya. Selain
itu, perawat juga melindungi hak-hak klien melalui cara-cara yang umum
dengan menolak aturan atau tindakan yang mungkin membahayakan
kesehatan klien atau menentang hak-hak klien. Peran ini juga dilakukan
perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpetasikan
berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya
dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan
kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-
hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan
nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
4. Manager Kasus
Dalam perannya sebagai manager kasus, perawat mengkoordinasi
aktivitas anggota tim kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi
fisik, ketika mengatur kelompok yang memberikan perawatan pada klien.
Berkembangnya model praktik memberikan perawat kesempatan untuk
membuat pilihan jalur karier yang ingin ditempuhnya. Dengan berbagai
tempat kerja, perawat dapat memilih antara peran sebagai manajer asuhan

14
keperawatan atau sebagai perawat asosiat yang melaksanakan keputusan
manajer (Manthey, 1990). Sebagai manajer, perawat mengkoordinasikan
dan mendelegasikan tanggung jawab asuhan dan mengawasi tenaga
kesehatan lainnya.
5. Rehabilitator
Rehabilitasi adalah proses dimana individu kembali ke tingkat
fungsi maksimal setelah sakit, kecelakaan, atau kejadian yang
menimbulkan ketidakberdayaan lainnya. Seringkali klien mengalami
gangguan fisik dan emosi yang mengubah kehidupan mereka. Disini,
perawat berperan sebagai rehabilitator dengan membantu klien beradaptasi
semaksimal mungkin dengan keadaan tersebut.
6. Pemberi Kenyamanan
Perawat klien sebagai seorang manusia, karena asuhan
keperawatan harus ditujukan pada manusia secara utuh bukan sekedar
fisiknya saja, maka memberikan kenyamanan dan dukungan emosi
seringkali memberikan kekuatan bagi klien sebagai individu yang
memiliki perasaan dan kebutuhan yang unik. Dalam memberi
kenyamanan, sebaiknya perawat membantu klien untuk mencapai tujuan
yang terapeutik bukan memenuhi ketergantungan emosi dan fisiknya.
7. Komunikator
Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga,
antar sesame perawat dan profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan
komunitas. Dalam memberikan perawatan yang efektif dan membuat
keputusan dengan klien dan keluarga tidak mungkin dilakukan tanpa
komunikasi yang jelas. Kualitas komunikasi merupakan factor yang
menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan
komunitas.
8. Penyuluh
Sebagai penyuluh, perawat menjelaskan kepada klien konsep dan
data-data tentang kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti aktivitas
perawatan diri, menilai apakah klien memahami hal-hal yang dijelaskan
dan mengevaluasi kemajuan dalam pembelajaran. Perawat menggunakan
metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan klien
serta melibatkan sumber-sumber yang lain misalnya keluarga dalam
pengajaran yang direncanakannya.
9. Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim
kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dan lain-lain
dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang

15
diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk
pelayanan selanjutnya.
10.Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan,
sehingga terjadi perubahab perilaku dari klien setelah dilakukan
pendidikan kesehatan.
11. Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah
atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan
atas permintaan klien tehadap informasi tentang tujuan pelayanan
keperawatan yang diberikan.
12. Pembaharuan
Peran sebagai pembaharuan dapat dilakukan dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
B. Fungsi Perawat
Definisi fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan
sesuai dengan perannya. Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan
yang ada. dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai
fungsi diantaranya:
1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang
lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara
sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam
rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan
kebutuhan fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi,
pemenuhan kebutuhan aktivitas dan lain-lain), pemenuhan kebutuhan
dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan
kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya
atas pesan atau instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan
pelimpahan tugas yang diberikan. Hal ini biasanya silakukan oleh
perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke
perawat pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling
ketergantungan di antara satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat

16
terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerja sama tim dalam
pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada
penderita yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat
diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun
lainnya, seperti dokter dalam memberikan tindakan pengobatan
bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi onat yang telah
diberikan.
Peranan perawat sangat menunjukkan sikap kepemimpinan dan
bertanggung jawab untuk memelihara dan mengelola asuhan keperawatan
serta mengembangkan diri dalam meningkatkan mutu dan jangkauan
pelayanan keperawatan.

4.1 PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS


Keperawatan kesehatan komunitas berorientasi pada pemecahan masalah
yang dikenal dengan proses keperawatan (nursing proses), yaitu suatu metode
ilmiah dalam keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai cara
terbaik dalam memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai respons manusia
dalai menghadapi masalah kesehatan. Langkah- langkah dalai proses keperawatan
kesehatan komunitas adalah pegkajian, diagnosis,perencsnaan, pelaksanaan,
komunikasi.dalam pnerpaan proses terjadi proses alih peran dari tenaga
keperawatankepada klien (sasaran )
Secara bertahap dan berkelanjutan untuk menapai kemandirian sasaran dalam
menyeleaikan maslah kesehatannya ( DepkesRI 2006).
1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS
Pengkajian keperawatan komunitas dilakukan untuk
mengidentivikasi factor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan
masyarakat (Anderson&Mc.Farlane,2011). Pengkajian komunitas
dilakukan dengan mengaplikasikan beberapa teori dan konsep model
keperawatan yang relevan.informasi atau data ini dapat diperoleh secara
langsung atau tidak langsung di komunitas.
 JENIS DATA KOMUNITAS
Dalam pengkajian komunitas ada beberapa data yang perlu dikumpulkan
meliputi data :
A. Data inti komunitas
Data inti komunitas yang dikaji terdiri dari : sejarah/riwayat
(riwayat daerah ini,perubahan daerah ini), demografi(usia,
karakteristik jenis kelamin, distribusi ras dan distribusi etnis), tipe
keluarga (keluarga/bukan keluarga, kelompok), status perkawinan
(kawin, janda/duda, single), statistic vital (kelahiran, kematian

17
kelompok usia dan penyebab kamatian), nilai-nilai dan keyakinan,
dan agama.
B. Data subsistem Komunitas
Data subsistem yang perlu dikumpulkan dalam pengkajian
komunitas meliputi :
1) Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik : kualitas air, pembuanga limbah, kualitas
udara, flora, ruang terbuka, perumahan, daerah hijau,
musim, binatang, kualitas makanan dan akses.
2) Pelayanan kesehatan dan social
Pelayanan kesehatan dan social perlu dikaji di komunitas :
puskesmas, klinik, rumah sakit, pengobatan tradisiona,
agen pelayanan kesehatan dirumah, pusat emergency,
rumah perawatan, fasilitas pelayanan social, pelayanan
kesehatan mental, apakah ada yang mengalami skit akut
atau kronis.
3) Ekonomi
Data yang perlu dikumpulkan terkait dengan ekonomi
meliputi karakteristik keuangam keluarga dan individu,
status pekerja, kategori pekerjaan dan jumlah penduduk
yang tidak bekerja, lokasi industry, pasar dan pusat bisnis.
4) Transportasi dan keamanan
Data yang perlu dikumpulkan terkait dengan transportasi
dan keamanan meliputi alat transportasi pendududuk dating
dan keluar wilayah, transportasi umum (bus, taxy,angkot
dan transportasi privat). Pelayanan perlindungan
kebakaran, polisi dan kualitas udara
5) Politik dan pemerintah
Data yang perlu dikumpulkan meliputi : pemerintahan
(RT,RW,kelurahan,kecamatan). Politik (kegiatan politik
yang ada di wilayah tersebut dan peran peserta partai
politik dalam pelayanan kesehatan).
6) Komunikasi
Data yang dikumpulkan terkaid dengan komunikasi dapat
dikelompokan menjadi dua yaitu : a. komunikasi formal
meliputi sirat kabar, radio dan televise, telpon dan internet,
b. komunikasi informal meliputi papan pengumuman,
poster, brosur, pengeras suara dari masjid.
7) Pendidikan

18
Data terkait dengan pendidikan meliputi sekolah yang ada
dikomunitas tipe pendididkan, perpustakaan, pendidikan
khusus, pelayanan kesehatan di sekolah, program makan
siang di sekolah, akses pendidikan yang lebih tinggi.
8) Rekreasi
Data terkait rekreasi yang perlu dikumpulkan meliputi :
taman, area bermain, perpustakaan, rerekreasi umum dan
privat, fasilitas khusus.
C. Data Persepsi
Data persepsi yang perlu dikaji:
1) Persepsi Masyarakat
Yang dikaji terkait tempat tinggal yaitu bagaimana perasaan
masyarakat tentang kehidupan bermasyarakat yang dirasakan
dilingkungan tempat tinggal mereka, apa yang menjadi
kekuatan mereka, permaslahan, tanyakan pada masyarakat
dalam kelompok yang berbeda (misalnya, lansia, remaja,
pekerja professional, ibu rumah tangga,dll)
2) Persepsi Perawat
Persepsi perawat berupa peryataan umumtentang kondisi
kesehatan dari masyarakat apa yang menjadi kekuatan,apa
masalah atau potensial masalah yang dapat di identifikasi.
 Tabel Contoh Analisa Data
Katageri data Ringkasan laporan Kesimpulan
Vital Statistik
Angka Kematian
Bayi/ IMR 42/1000 kelahiran Angka kematian bayi
Desa A hidup didesa A lebih tinggi
Desa B 38/1000 kelahiran dari desa B dan
Kabupaten Mekar hidup kabupaten Mekar Baru
Baru 34/1000 kelahiran
hidup
Pentebab kematian: Penyakit jantung Penyebab kematian
Desa A 23,2% paling besar adalah
Tuberkolosis 25,3% tuberculosis dan
Desa B Kanker 18,2% kanker di desa B
Kabupaten Mekar Penyakit jantung 22,3
Baru %
Tuberkolosis 28,3%
Kanker 24,2%
Penyakit kanker 20,3%

19
Kanker 1,5%

2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN KOMUNITAS


Sesuai hasil Munas IPKKI ll di Yogyakarta ditetapkan formulasi diagnosis
keperawatan menggunakan ketentuan Diagnosis Kperawatan NANDA
(2015-2017) dan ICNP. Formulasi diagnosis tersebut digunakan tanpa
menulikan sesuai dengan NANDA (2015-2017) mencankup diagnosis
actual, promosi kesehatan/sejahtera atau risiko.
3. PERENCANAAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Perencanaan diawali dengan merumuskan tujuan yang ingin
dicapai serta rencana tindakan untuk mengatasi masalah yang ada. Tujuan
dirumuskan untuk mengatasi atau meminimalkan stresor dan intervensi
dirancang berdasarkan tiga tingkat pencegahan. Pencegahan primer untuk
memperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk
memperkuat garis pertahanan normal, dan pencegahan tersier untuk
memperkuat garis pertahanan resisten (Anderson & McFarlane, 2010).
Tujuan terdiri atas tujuan jangka panjang dan tujuan jangka
pendek. Penetapan tujuan jangka panjang (tujuan umum/TUM) mengacu
pada bagaimana mengatasi problem/masalah (P) di komunitas, sedangkan
penetapan tujuan jangka pendek (tujuan khusus/TUK) mengacu pada
bagaimana mengatasi etiologi (E). Tujuan jangka pendek harus SMART
(S= spesifik, M= measurable/dapat diukur, A= achievable/dapat dicapai,
R= reality, T= time limited/ punya limit waktu).

4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN KOMUNITAS


Implementasi merupakan langkah yang dilakukan setelah
perencanaan program. Program dibuat untuk menciptakan keinginan
berubah masyarakat. Sering kali, perencanaan program yang sudah baik
tidak diikuti dengan waktu yang cukup untuk merencanakan
implementasi. Implementasi melibatkan aktivitas tertentu sehingga
program yang ada dapat dilaksanakan, diterima, dan direvisi jika tidak
berjalan. Implementasi keperawatan dilakukan untuk mengatasi masalah
kesehatan komunitas menggunakan strategi proses kelompok, pendidikan
kesehatan, kemitraan (partnership), dan pemberdayaan masyarakat
(empowerment). Perawat komunitas menggali dan meningkatkan potensi
komunitas untuk dapat mandiri dalam memelihara kesehatannya.
Tujuan akhir setiap program di masyarakat adalah melakukan
perubahan masyarakat. Program dibuat untuk menciptakan keinginan
berubah dari anggota masyarakat. Perubahan nilai dan norma di
masyarakat dapat disebabkan oleh faktor eksternal, seperti adanya undang-

20
undang, situasi politik, dan kejadian kritis eksternal masyarakat.
Dukungan eksternal ini juga dapat dijadikan daya pendorong bagi
tindakan kelompok untuk melakukan perubahan prilaku masyarakat.
Organisasi ekternal dapat menggunakan model social planning dan
locality development untuk melakukan perubahan, menggalakkan
kemitraan dengan memanfaatkan sumber daya internal dan sumber daya
eksternal.
Perawat komunitas harus memiliki pengetahuan yang memadai
agar dapat memfasilitasi perubahan dengan baik, termasuk pengetahuan
tentang teori dan model berubah. Perubahan yang terjadi di masyarakat
sebaiknya dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, dan sistem
di masyarakat. Ada beberapa model berubah (Ervin, 2002), yaitu :
1. Model berubah Kurt Lewin
Proses berubah terjadi pada saat individu, keluarga, dan komunitas
tidak lagi nyaman dengan kondisi yang ada. Model ini terdiri dari :
a. Unfreezing, bila ada perasaan butuh untuk berubah baru
implementasi dilakukan, dengan tujuan membantu komunitas
menjadi siap untuk melakukan perubahan.
b. Change yaitu intervensi mulai diperkenalkan kepada
kelompok
c. Refreezing meliputi bagaimana membuat suatu program
menjadi stabil melalui pemantauan dan evaluasi.
Contoh : pada kasus flu burung, saat unfreezing berubah
menjadi refreezing, perawat komunitas perlu mempertahankan
kondisi yang ada dengan melakukan kemitraan tentang
bagaimana kebiasaan masyarakat yang sudah bagus dapat
dipertahankan dan kebiasaan masyarakat yang kurang
mendukung kesehatan tidak lagi terjadi, seperti kebiasaan tidak
melakukan cuci tangan.
2. Strategi berubah Chin & Benne
Strategi berubah ini sangat cocok digunakan oleh perawat
komunitas dalam mengkaji status individu, kelompok, dan masyarakat
dalam membuat keputusan untuk berubah. Strategi ini merupakan
strategi untuk melakukan perubahan di komunitas, bukan tahap proses
berubah. Menurut model ini untuk melakukan perubahan diperlukan
strategi perubahan yaitu :
a. Rational empiris, dikatakan bahwa untuk melakukan
perubahan di komunitas, perlu terdapat fakta dan
pertimbangan tentang seberapa besar keuntungan yang
diperoleh dengan adanya perubahan tersebut. Contoh :

21
adanya kebiasaan merokok yang banyak terjadi di
masyarakat, terutama remaja, diperlukan peran perawat
komunitas untuk memfasilitasi perubahan dengan
memberikan promosi kesehatan bahaya merokok melalui
media,seperti poster, leaflet, modul data kejadian kesakitan
dan kematian akibat merokok atau mengajak melihat
langsung kondisi korban akibat rokok. Dengan adanya
fakta, diharapkan terjadi perubahan pada individu.
b. Normative reedukatif yaitu pertimbangan tentang
keselarasan perubahan dengan norma yang ada di
masyarakat.
c. Power coercive yaitu strategi perubahan yang
menggunakan sanksi baik politik maupun sanksi ekonomi.
Misalnya sanksi terhadap perokok yang merokok di tempat
umum berupa denda atau kurungan.
3. First order and second order change
Menurut model ini first order bertujuan mengubah substansi atau
isi di dalam sistem, sedangkan pada second order, perubahan ditujukan
pada sistemnya. Contoh : Adasnya resiko pergaulan bebas yang saat
ini marak di kalangan remaja,perawat komonitas perlu mengubah
substansi yang ada dalam system (frist order) seperti membentuk dan
melihat kader kesehatan remaja (KKR) di sekolah dan dimasyarakat,
melakukan promosi kesehatan kepada siswa, guru, orang tua dan
masyarakat melakukan dukungan lintas –sektor dan lintas-program
kepada aparat terkait program melalui jaringan kemitraan, dsb.selain
itu ,diperlukan juga perubahan pada system (second order) termasuk
fasilitas yang ada, seperti menyediakan klinik remaja, revitalisasi UKS
di sekolah, kebijakan pemerintah terkait remaja.
Mengukur adanya perubahan masyarakat pada tingkat induvidu,
dapat diketahui dari tingkat kesadaran individu terhadap perubahan,
bagaimana individu mengerti tentang masalah yang dihadap, tingkat
partisipasi individu, dan adanyan perubahan dalam bentuk tingkah
laku yang ditampilkan. Adanya role model yang ada dimasyarakat
dapat dijadikan pendorong untuk mengubah norma dan praktik
individu dalam perubahan masyarakat. Pada tingkat masyarakat,
perubahan lebih difokuskan pada kelompok dan organisasi, termasuk
adanya perubahan kebijakan yang berhubungan dengan masalah yang
terjadi di masyarakat, adanya dukungan dan partisipasi dalam kegiatan
masyarakat serta aktivitas lain yang berhubungan dengan penyelesaian
masalah. Perubahan dimasyarakat dapat dievaluasi melalui

22
pengembangan koalisi, partisipasi masyarakat dalam dukungan untuk
mencapai tujuan, dan perubahan nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat.
Setiap akan melakukan kegiatan dimasyarakat /implementasi
program,sebaiknya dibuat dahulu laporan pendahuluan (LP) kegiatan
asuhan keperawatan komonitas yang meliputi:
 Latar belakang yang berisi kriteria komonitas, data yang
perlu dikaji lebih lanjut terkait implementasi yang akan
dilakukan,dan masalah keperawatan komonitas yang terkait
dengan implementasi saat ini.
 Proses keperawatan komonitas yang berisi diagnose
keperawatan komonitas, tujuan umum, dan tujuan khusus.
Implementasi tindakan keperawatan, yang berisi topik kegiatan,
target kegiatan, metode, strategi kegiatan, media dan alat bantu yang
dipergunakan ,waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, pengorganisasian
petugas kesehatan beserta tugas, susunan acara, setting tempat acara.
Kriteria evaluasi, yang berisi evaluasi struktur, evaluasi proses, dan
evaluasi hasil dengan menyebutkan target persentase pencapaian hasil
yang diinginkan.

5. EVALUASI KEPERAWATAN KOMUNITAS


Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan. Evaluasi
merupakan sekumpulan informasi yang sistemik berkenaan dengan
program kerja dan efektivitas dari serangkaian program yang digunakan
masyarakat terkait program kegiatan, karakteristik, dan hasil yang telah
dicapai (patton, 1986 dalam Helvie, 1998). Program evaluasi dilakukan
untuk memberikan informasi kepada perencanaan program dan pengambil
kebijakan tentang efektivitas dan efisiensi program. Evaluasi merupakan
sekumpulan metode dan ketrampilan untuk menentukan apakah program
sudah sesuai dengan rencana dan tuntutan masyarakat. Evaluasi digunakan
untuk mengetahui beberapa tujuan yang diharapkan telah tercapai dan
apakah itervensi yang dilakukan efektif untuk masyarakat setempat sesuai
dengan kondisi dan situasi masyarakat, apakah sesuai dengan rencana atau
apakah dapat mengatasi masalah masyarakat. Evaluasi ditunjukan untuk
menjawab apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan program apa yang
dibutuhkan masyarakat, apakah media yang digunakan tepat , ada tidaknya
program perencanaan yang dapat di implementasikan, apakah program
dapat menjangkau masyarakat, siapa yang yang menjadi target sasaran
program, apakah program yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat. Evaluasi juga bertujuan mengidentifikasi masalah dalam

23
perkembangan program dan penyelesaian. Program evaluasi dilaksanakan
untuk memastikan apakah ada hasil program sudah sejalan dengan sasaran
dan tujuan, memastikan biaya program sumber daya, dan waktu
pelaksanaan program yang telah dilakukan. Evaluasi juga diperlukan
untuk memastikan apakah prioritas program yang disusun sudah
memenuhi kebutuhan masyarakat, dengan membandingkan perbedaan
program terkait keefektifannya.
Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur, proses, dan hasil. Evaluasi
program merupakan proses mendapatkan dan menggunakan informasi
sebagai dasar proses pengambilan keputusan, dengan cara meningkatkan
pelayanan kesehatan. Evaluasi proses difokuskan pada urutan kegiatan
yang dilakukan untuk mendapatkan hasil. Evaluasi hasil dapat diukur
melalui perubahan pengetahuan ( knowledge), sikap ( attitude), dan
perubahan prilaku masyarakat.
Evaluasi terdiri atas evaluasi formatif, menghasilkan informasi
untuk umpan balik selama program berlangsung. Sementara itu, evaluasi
sumatif dilakukan setelah program selesai dan mendapatkan informasi
tentang efektifitas pengambilan keputusan. Pengukuran efektifitas
program dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi kesuksesan dalam
pelaksanaan program. Pengukuran efektivitas program dikomonitas dapat
dilihat berdasarkan:
a. Pengukuran komunitas sebagai klien. Pengukuran ini
dilakukan dengan cara mengukur kesehatan ibu dan anak,
mengukur kesehatan komonitas.
b. Pengukuran komonitas sebagai pengalaman Pembina
hubungan. Pengukuran dilakukan dengan cara melakukan
pengukuran social dari determinan kesehatan.
c. Pengukuran komonitas sebagai sumber. Ini dilakukan
dengan mengukur tingkat keberasilan pada kluarga atau
masyarakat sebagai sumber informasi dan sumber
intervensi kegiatan.

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Keperawatan komunitas memberikan perhatian terhadap pengaruh faktor lingkngan meliputi fisik,
biologis, psikologis, sosial, dan kultural serta spiritual, terhadap kesehatan masyarakat dan
memeberi prioritas pada strategi pencegahan, peningkatan, dan pemeliharaan dalam upaya
mencapai tujuan.
Etika keperawatan merupakan alat untuk mengukur perilaku moral dalam keperawatan. Keputusan
perawat seharusnya berdasarkan kode etik sebagai standar yang dapat diukur dan di evaluasi
melalu perilaku moral perawat. Sementara itu, etika keperawatan kesehatan komunitas adalah etika
pengambilan keputusan berdasarkan moral, pengetahuan tentang hak klien, dan tanggung jawab
profesi.
Norma juga merupakan sesuatu yang mengikat dalam sebuah kelompok masyarakat,. Norma pada
dasarnya adalah bagian dari kebudayaan, karena awal dari sebuah budaya itu sendiri adalah
intraksi antara manusia pada kelompok tertentu yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang
disebut norma. budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

3.2 Saran
Bagaimana seorang perawat mampu teori konseptual dalam ke[erawatan komunitas, memahami
proses keperawatan sehingga mampu menerapkan prinsip etika keperawatan dalam asuhan
keperawatan komunitas. Serta dapat memahami proses asuhan keperawatan dalam perawatan
komunitas.

25
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, Kozier . 2010. Fundamental Keperawatan, konsep, proses, & praktik, Jakarta: EGC
Doengoes, Marilyann E Dkk. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan. Jakarta :
Mubarak, Wahit Iqbal dan Chayatin, Nurul. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas 1 Pengantar dan
Teori. Jakarta : Salemba Medika
Potter & Perry. 2006. Fundamental Keperawatan, konsep, proses, & praktik, Jakarta : buku
Kedokteran EGC
Efendi, Ferry . 2009 . Keperawatan kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam Keperawatan
Jakarta. Salemba Medika
Henny, Achjar Komang Ayu . 2011 . Asuhan Keperawatan Komunitas : Teori dan praktek .
Jakarta : EGC

26