Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN PERUBAHAN PSIKOSOSIAL DAN

SPIRITUAL

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik

yang di bimbing oleh NS.HJ. HADIJA HM S,Kep.M,Kes

DISUSUN OLEH

ELISABETH TRISNA WATI MENTIRA B

YETHA YAKOMINA IWANGGIN WAHDANIA RA

KARTIVA PENINA TURALELY WARHAMNI ARPIN

MAGDALENA BATMOMOLIN SITTI RAJA

MARTINA RAHANGSERANG HERIANI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN FAMIKA MAKASSAR 2019/2020


LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR TEORI


1. Konsep Teori Lansia
Psikogeriatri atau psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran yang
memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan psikologis atau
psikiatrik pada lanjut usia. Saat ini disiplin ini sudah berkembang menjadi suatu
cabang psikiatrik, analaog dengan psikiatrik anak. Diagnosis dan terapi gangguan
mental pada lanjut usia memerlukan pengetahuan khusus, karena kemungkinan
perbedaan dalam manisfestasi klinis, pathogenesis dan patofisiologi gangguan mental
antara pathogenesis dewasa muda dan lanjut usia. Faktor penyulit pada pasien lanjut
usia juga perlu dipertimbangkan, antara lain sering adanya penyakit dan kecacatan
medis kronis penyerta, pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan peningkatan
kerentanan terhadap gangguan kognitif.
Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut, perlu mulai
dipertimbangkan adanya pelayanan psikogeriatrik di rumah sakit yang cukup besar.
Bangsal akut, kronis dan day hospital, merupakan tiga layanan yang mungkin harus
sudah mulai difikirkan.
Spiritual merupakan kompleks yang unik pada tiap individu dan tergantung pada
budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang
kehidupan seseorang (Mauk dan Schmidt, 2004 cit Potter Perry, 2009). Mickley
(1992) menguraikan spiritualitas sebagai suatu yang multidimensi, yaitu dimensi
eksistensial dan dimensi agama. Stoll (1989) menguraikan bahwa spiritualitas sebagai
konsep dua dimensi yaitu dimensi vertical dan dimensi horizontal.
Menurut Burkhardt (1993), spiritualitas meliputi aspek sebagai berikut :
a. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam
kehidupan.
b. Menemukan arti dan tujuan hidup.
c. Menyadari kemampuan untuk menggunakkan sumber dan kekuatan diri
sendiri.
d. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri dan dengan Yang Maha Tinggi
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau
mengambalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kbutuhan untuk
mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa
percaya dengan tuhan
a. Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Lanjut Usia meliputi:
1) Usia pertengahan (Middle Age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
2) Lanjut usia (Elderly) ialah kelompok usia antara 60 dan 74 tahun.
3) Lanjut usia tua (Old) ialah kelompok usia antara 75 dan 90 tahun.
4) Usia sangat tua (Very Old) ialah kelompok di atas usia 90 tahun.
b. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa
dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahapan ini berbeda baik secara
biologis maupun secara psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami
kemunduran secara fisik maupun secara psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan
kulit yang mengendor, rambut putih, penurunan pendengaran, penglihatan
menurun, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas
emosional meningkat.

2. Teori Kejiwaan Lansia


a. Aktifitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang
aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola hidup)
dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara
sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
b. Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini
merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan
yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe
personaliti yang dimiliki.
c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni:
1) Kehilangan Peran
2) Hambatan Kontak Sosial
3) Berkurangnya Kontak Komitmen
3. Teori Psikologi
Teori Tugas Perkembangan
Havigurst (1972) menyatakan bahwa tugas perkembangan pada masa tua
antara lain adalah:
1) Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
2) Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan
3) Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
4) Membentuk hubungan dengan orang-orang yang sebaya
5) Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
6) Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes
Selain tugas perkembangan diatas, terdapat pula tugas perkembangan yang
spesifik yang dapat muncul sebagai akibat tuntutan:
1) Kematangan fisik
2) Harapan dan kebudayaan masyarakat
3) Nilai-nilai pribadi individu dan aspirasi
Menurut teori ini, setiap individu memiliki hirarki dari dalam diri, kebutuhan
yang memotivasi seluruh perilaku manusia (Maslow 1954).

3. Teori Psikososial Lansia


1. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri yang
utuh. Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat lansia
berusaha menuntun generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan sudut
pandangnya. Lansia yang tidak mencapai integritas diri akan merasa putus asa dan
menyesali masa lalunya karena tidak merasakan hidupnya bermakna (Anonim,
2006). Sedangkan menurut Erikson yang dikutip oleh Arya (2010) perubahan
psikososial lansia adalah perubahan yang meliputi pencapaian keintiman, generatif
dan integritas yang utuh.
1) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial Lansia
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan psikososial
lansia menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
a) Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi
adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology),
misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi
makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik
seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara
berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan
fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam
kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka
perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik
maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi
kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu
mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan
bekerja secara seimbang.
b) Penurunan Fungsi dan Potensial Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti:
1) Gangguan jantung
2) Gangguan metabolisme, misal diabetes mellitus
3) Vaginitis
4) Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
5) Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu
makan sangat kurang
6) Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid,
tranquilizer
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain:
1) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada
lansia.
2) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat
oleh tradisi dan budaya .
3) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
4) Pasangan hidup telah meninggal
5) Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan
jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
c) Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara
fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian
lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe
kepribadian lansia sebagai berikut:
1) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe
ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat
tua.
2) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada
masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan
otonomi pada dirinya
3) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini
biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak,
tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang
ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit
dari kedukaannya.
4) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini
setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya,
banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara
seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-
marit.
5) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe
ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu
orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.
d) Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun
tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau
jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya,
karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan,
kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah
orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya
seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
e) Perubahan Dalam Peran Sosial Di Masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak
fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan
kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran
sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu
mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
f) Masalah Keperawatan Psikologi dan Psikososial pasien depresi
a. Pengertian depresi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu rnakan, psikomotor,
konsentrasi, keielahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh
diri (Kap'an dan Sadock, 1998
2. Karakteristik Depresi Pada Lanjut Usia
Meskipun depresi banyak terjadi dikalangan lansia,- depresi ini sering
di diagnosis salah atau diabaikan. Rata-rata 60-70% lanjut usia yang
mengunjungi praktik dokter umum adalah mereka dengan depresi, tetapi ;
acapkali tidak terdeteksi karena lansia lebih banyak memfokuskan pada
keluhan badaniah yang sebetulnya ; adalah penyerta dari gangguan emosi
(Mahajudin, 2007).
Samiun (2006) menggambarkan gejala-gejala depresi pada lansia :
a) Kognitif
Sekurang-kurangnya ada 6 proses kognif pada lansia yang
menunjukkan gejala depresi. Pertama, individu yang mengalami depresi
memiliki self-esteem yang sangat rendah. Mereka berpikir tidak adekuat,
tidak mampu, merasa dirinya tidak berarti, merasa rendah diri dan merasa
bersalah terhadap kegagalan yang dialami. Kedua, lansia selalu pesimis
dalam menghadapi masalah dan segala sesuatu yang dijalaninya menjadi
buruk dan kepercayaan terhadap dirinya (self-confident) yang tidak
adekuat. Ketiga, memiliki motivasi yang kurang dalam menjalani
hidupnya, selalu meminta bantuan dan melihat semuanya gagal dan sia-sia
sehingga merasa tidak ada gunanya berusaha. Keempat, membesar-
besarkan masalah dan selalu pesimistik menghadapi masalah. Kelima,
proses berpikirnya menjadi lambat, performance intelektualnya berkurang.
Keenam, generalisasi dari gejala depresi, harga diri rendah, pesimisme dan
kurangnya motivasi.
b) Afektif
Lansia yang mengalami depresi merasa tertekan , murung, sedih, putus
asa, kehilangan semangat dan muram. Sering merasa terisolasi, ditolak dan
tidak dicintai. Lansia yang mengalami depresi menggambarkan dirinya
berada dalam lubang gelap yang tidak dapat terjangkau dan tidak dapat
keluar dari sana.
c) Somatik
Masalah somatik yang sering dialami lansia yang mengalami depresi
seperti pola tidur yang terganggu ( insomnia ), gangguan pola makan dan
dorongan seksual yang berkurang. Lansia lebih rentan terhadap penyakit
karena sistem kekebalan tubuhnya melemah, selain karena aging proces
juga karena orang yang mengalami depresi menghasilkan sel darah putih
yang kurang (Schleifer et all, 1984 ; Samiun, 2006).
d) Psikomotor
Gejala psikomotor pada lansia depresi yang dominan adalah retardasi
motor. Sering duduk dengan terkulai dan tatapan kosong tanpa ekspresi,
berbicara sedikit dengan kalimat datar dan sering menghentikan
pembicaraan karena tidak memiliki tenaga atau minat yang cukup untuk
menyelesaikan kalimat itu. Dalam pengkajian depresi pada lansia, menurut
Sadavoy et all (2004) gejala-gejala depresi dirangkum dalam SIGECAPS
yaitu gangguan pola tidur (sleep) pada lansia yang dapat berupa keluhan
susah tidur, mimpi buruk dan bangun dini dan tidak bisa tidur lagi,
penurunan minat dan aktifitas (interest), rasa bersalah dan menyalahkan
diri (guilty), merasa cepat lelah dan tidak mempunyai tenaga (energy),
penurunan konsentrasi dan proses pikir (concentration), nafsu makan
menurun (appetite), gerakan lamban dan sering duduk terkulai
(psychomotor) dan penelantaran diri serta ide bunuh diri (suicidaly)
3. Penyebab Depresi Pada Lanjut Usia
Menurut Samiun (2006) ada 5 pendekatan yang dapat menjelaskan
terjadinya depresi pada lansia yaitu :
1. Pendekatan Psikodinamik
Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan mencintai dan
dicintai, rasa aman dan terlindung, keinginan untuk dihargai, dihormati
dan lain-lain.
Strategi adaptasi yang seringkali digunakan lansia yang mengalami
depresi adalah strategi pasif (defence mcanism) seperti menghindar,
menolak, impian, displacement dan lain-lain (Coyne ett all, 1981 ;
Samiun, 2006).
2. Pendekatan Perilaku Belajar
Salah satu hipotesis untuk menjelaskan depresi pada lansia adalah
individu yang kurang menerima hadiah (reward) atau penghargaan dan
hukuman (punishment) yang lebih banyak dibandingkan individu yang
idak depresi (Lewinsohn, 1974 ; Libet & Lewinsohn, 1997 ; Samiun,
2006). Dampak dari kurangnya hadiah dan hukuman yang lebih banyak
ini mengakibatkan lansia merasakan kehidupan yang kurang
menyenangkan, kecenderungan memiliki self-esteem yang kurang dan
mengembangkan self-concept yang rendah. Hadiah dan hukuman
bersumber dari lingkungan (orang-orang dan peristiwa sekitar) dan dari
diri sendiri. Situasi akan bertambah buruk jika seseorang menilai hadiah
yang diterima terlalu rendah dan hukuman yang diterima terlalu tinggi
terutama untuk tingkah laku mereka sendiri, sehingga mengakibatkan
ketidakseimbangan antara nilai reward dan punishment itu. Peran hadiah
dan hukuman terhadap diri sendiri yang tidak tepat dapat menimbulkan
depresi (Rehm, 1997 ; Wicoxon, et all, 1997 ; Samiun 2006).
Faktor lain dari lingkungan yang berkenaan dari hadiah dan hukuman
adalah seseorang jika pindah ke tempat lain yang dapat mengakibatkan
kehilangan sumber-sumber hadiah dan perubahan dari tingkah laku yang
mendapat hadiah sehingga aktifitas yang sebelumnya dihadiahi menjadi
tidak berguna. Standar untuk hadiah dan hukuman yang meningkat
menyebabkan performansi yang diperlukan untuk mendapat hadiah lebih
tinggi. Kehilangan hadiah yang sebelumnya diterima dapat menyebabkan
depresi apabila sumber alternatif untuk mendapat hadiah tidak ditemukan.
3. Pendekatan Kognitif
Menurut Beck (1967 ; 1976), Samiun (2006), seseorang yang
mengalami depresikarena memiliki kemapanan kognitif yang negatif
(negative cognitive sets) untuk menginterpretasikan diri sendiri, dunia dan
masa depan mereka. Misalnya, seseorang yang berhasil mendapatkan
pekerjaan akan mengabaikan keberhasilan tersebut dan
menginterpretasikan sebagai suatu yang kebetulan dan tetap memikirkan
kegagalannya. Akibat dari persepsi yang negatif itu, individu akan
memiliki self-concept sebagai seorang yang gagal, menyalahkan diri,
merasa masa depannya suram dan penuh dengan kegagalan. Masalah utam
pada lansia yang depresi adalah kurangnya rasa percaya diri (self-
confidence) akibat persepsi diri yang negatif (Townsend, 1998).
4. Pendekatan Humanistik
Teori humanistic dan eksistensial berpendapat bahwa depresi terjadi
karena adanya ketidakcocokan antara reality self dan ideal self. Individu
yang menyadari jurang yang dalam antara reality self dan ideal self dan
tidak dapat dijangkau, sehingga menyerah dalam kesedihan dan tidak
berusaha mencapai aktualisasi diri.
Menyerah merupakan factor yang penting terjadinya depresi. Individu
merasa tidak ada lagi pilihan dan berhenti hidup sebagai seeorang yang
real. Pada lansia yang gagal untuk bereksistensi diri menyadari bahwa
mereka tidak mau berada pada kondisinya sekarang yang mengalami
perubahan dan kurang mampu menyesuaikan diri, sehingga kehidupan
fisik mereka segera berakhir. Kegagalan bereksistensi ini merupakan suatu
kematian simbolis sebagai seseorang yang real.
5. Eksitensial Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis menerangkan bahwa depresi terjadi karena aktivitas
neurologis yang rendah (neurotransmiter norepinefrin dan serotonin) pada
sinaps-sinaps otak yang berfungsi mengatur kesenangan. Neurotransmitter
ini memainkan peranan penting dalam fungsi hypothalamus, seperti
mengontrol tidur, selera makan, seks dan tingkah laku motor (Sachar,
1982; Samiun, 2006), sehingga seringkali seseorang yang mengalami
depresi disertai dengan keluhan-keluhan tersebut.
Pendekatan genetic terhadap kejadian depresi dengan penelitian
saudara kembar. Monozogotik Twins (MZ) berisiko mengalami depresi
4,5 kali lebih besar (65%) daripada kembar bersaudara (Dizigotik
Twins/DZ) yang 14% (Nurberger & Gershon, 1982; Samiun, 2006).
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa secara genetic depresi itu
diturunkan.
6. Depresi Lanjut Usia Pasca Kuasa (POST POWER SYNDROME)
Depresi pada pasca kuasa adalah perasaan sedih yang mendalam yang
dialami seseorang setelah mengalami pension. Salah satu factor penyebab
depresi pada pasca kuasa adalah karena adanya perubahan yang berkaitan
dengan pekerjaan atau kekuasaan ketika pension.
Menurut Hawari (1996) orang yang mempunyai jabatan adalah orang
yang mempunyai kekuasaan, wewenang, dan kekuatan (power). Orang
yang kehilangan jabatan berarti orang yang kehilangan kekuasaan dan
kekuatan (powerless), artinya sesuatu yang dimiliki dan dicintai kini telah
tiada (loss of love object).
4. Faktor-faktor yang menyebabkan depresi pada lanjut usia yang tinggal di
Institusi
Terjadinya depresi pada lanjut usia yang tinggal dalam institusional seperti
tinggal di panti wreda (Endah dkk, 2003) :
a. Faktor Psikologis
Motivasi masuk panti wreda sangat penting bagi lanjut usia
untuk menentukan tujuan hidup dan apa yang ingin dicapainya dalam
kehidupan di panti. Tempat dan situasi yang baru, orang0orang yang
belum dikenal, aturan dan nilai-nilai yang berbeda, dan keterasingan
merupakan stressor bagi lansia yang membutuhkan penyesuaian diri.
Adanya keinginan dan motivasi lansia untuk tinggal dipanti akan
membuatnya bersemangat meningkatkan toleransi dan kemampuan
adaptasi terhadap situasi baru.
Rasa kurang percaya diri atau tidak berdaya dan selalu
menganggap bahwa hidupnya telah gagal karena harus menghabiskan
sisa hidupnya jauh dari orang-orang yang dicintai mengakibatkan
lansia memandang masa depan suram dan selalu menyesali diri,
sehingga mempengaruhi kemampuan lansia dalam beradaptasi
terhadap situasi baru tinggal di institusi.
b. Faktor Psikososial
Kunjungan keluarga yang kurang, berkurangnya interaksi
social dan dukungan social mengakibatkan penyesuaian diri yang
negative pada lansia. Menurunnya kepasitas hubungan keakraban
dengan keluarga dan berkurangnnya interaksi dengan keluarga yang
dicintai dapat menimbulkan perasaan tidak berguana, merasa
disingkirkan, tidak dibutuhkan lagi dan kondisi ini dapat berperan
dalam terjadinya depresi. Tinggal di institusi membuat konflik bagi
lansia antara integritas, pemuasan hidup dan keputusasaan karena
kehilangan dukungan social yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk memelihara dan mempertahankan kepuasan hidup dan self-
esteemnya sehingga mudah terjadi depresi pada lansia (Stoudemire,
1994).
c. Faktor Budaya
Perubahan social ekonomi dan nilai social masyarakat,
mengakibatkan kecenderungan lansia tersisihkan dan terbengkalai
tidak mendapatkan perawatan dan banyak yang memilih untuk
menaruhnya di panti lansia (Darmojo & Martono, 2004). Pergeseran
system keluarga (family system) dari extendend family ke nuclear
family akibat industrialisasi dan urbanisasi mengakibatkan lansia
terpinggirkan. Budaya industrialisasi dengan sifat mandiri dan
individualis menggangap lansia sebagai “trouble maker” dan menjadi
beban sehingga langkah penyelesainnya dengan menitipkan di panti.
Akibatnya bagi lansia memperburuk psikologisnya dan mempengaruhi
kesehatannya.

4. Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia


Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang terhadap
lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai
dengan gejala yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi depresi, harus
dilakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan
dapat dipercayai serta valid dan memang dirancang untuk diujikan kepada
lansia. Salah satu yang paling mudah digunakan untuk diinterprestasikan
di berbagai tempat, baik oleh peneliti maupun praktisi klinis adalah
Geriatric Depression Scale (GDS). Alat ini diperkenalkan oleh Yesavage
pada tahun 1983 dengan indikasi utama pada lanjut usia, dan memiliki
keunggulan mudah digunakan dan tidak memerlukan keterampilan khusus
dari pengguna. Instrument GDS ini memiliki sensitivitas 84 % dan
specificity 95 %. Tes reliabilitas alat ini correlates significantly of 0,85
(Burns, 1999).
5. Upaya Penanggulangan Depresi Pada Lansia
Ada beberapa upaya penanggulangan depresi dengan eclectic holistic
approach, diantaranya:
a. Pendekatan Psikodinamik
Focus pendekatan psikodinamik adalah penanganan terhadap
konflik-konflik yang berhubungan dengan kehilangan dan stress.
Pendekatan keagaman (spiritual) dan budaya sangat dianjurkan
pada lansia. Pemikiran-pemikiran dari ajaran agama apapun
mengandung tuntunan bagaimana dalam kehidupan di dunia ini
manusia tidak terbebas dari rasa cemas, tegang, depresi, dan
sebagainya. Demikian pula dapat ditemukan dalam doa-doa yang
paada intinya memohon kepada Tuhan agar dalam kehidupan ini
manusia diberi ketenangan, kesejahteraan dan keselamatan baik di
dunia dan di akhirat (Hawari, 1996).
b. Pendekatan Perilaku Belajar
Menurut Samiun (2006), ada tiga hal yang p[erlu diperhatikan
dalam pemberian hadiah dan hukuman, yaitu tugas dan teknik yang
diberikan terperinci dan spesifik untuk aspek hadiah dan hukuman dari
kehidupan tertentu dari individu. Teknik ini dapat untuk mengubah
tingkah laku supaya meningkatkan hadiah dan mengurangi hukuman,
serta individu harus diajarkan keterampilan yang diperlukan untuk
meningkatkan hadiah dan mengurangi hukuman.
c. Pendekatan Kognitif
Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah pandangan dan pola
pikit tentang keberhasilan masa lalu dan sekarang dengan cara
mengidentifikasi pemikiran negative yang mempengaruhi suasana hati
dan tingkah laku, menguji individu untuk menentukan apakah
pemikirannya benar dan menggantikan pikiran yang tidak tepat dengan
yang lebih baik (Beck, et al, 1979; Samiun, 2006). Dasar dari
pendekatan ini adalah kepercayaaan (belief) individu yang terbentuk
dari rangkaian verbalisasi diri (self-talk) terhadap
peristiwa/pengalaman yang dialami yang menentukan emosi dan
tingkah laku diri.
d. Pendekatan Humanistik Eksistensial
Tugas utama pendekatan ini adalah membantu individu
menyadari kebaradaannya didunia ini dengan memperluas kesadaran
diri, menemukan dirinya kembali dan bertanggung jawab terhadap arah
hidupnya. Dalam pendekatan ini, individu yang harus berusaha
membuka pintu menuju dirinya sendiri, melonggarkan belengu
deterministic yang menyebabkan terpenjara secara psikologis (Corey,
1993; Samiun, 2006). Dengan mengeksplorasi alternative ini membuat
pandangan menjadi real, individu menjadi sadar siapa dia sebelumnya,
sekarang dan lebih mempu menetapkan masa depan.
e. Pendekatan Farmakologis
Dari berbagai jenis upaya untuk gangguan depresi ini, maka
terapi psikofarmaka (farmakoterapi) dengan obat anti depresan
merupakan pilihan alternative. Hasil terapi dengan obat anti depresan
adalah baik dengan dikombinasikan dengan upaya psikoterapi.
a. Pengkajian Status Sosial/ Emosi
APGAR keluarga
No. Fungsi Uraian Skor
1. Adaptasi Saya puas bahwa saya dapat kembali pada
keluarga (teman-teman) saya untuk membantu
pada waktu sesuatu menyusahkan saya
2. Hubungan Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)
saya membicarakan sesuatu dengan saya dan
mengungkapkan masalah dengan saya
3. Pertumbuhan Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya
menerima dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas atau arah baru
4. Afeksi Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)
saya mengekspresikan afek dan berespon
terhadap emosi-emosi saya, seperti marah, sedih
atau mencintai
5. Pemecahan Saya puas dengan cara teman-teman saya dan
saya menyediakan waktu bersama-sama
Analisa hasil :
Skor : 8-10 : fungsi sosial normal
Skor : 5-7 : fungsi sosial cukup
Skor : 0-4 : fungsi sosial kurang/suka menyendiri
Bagaimana dengan kondisi status mental klien: apakah lansia mudah tersinggung,
bagaimana dengan emosi lansia labil/stabil.
b. Pengkajian Status Psikologis
Skala Depresi Yesavage
Skala Depresi geriatrik Yesavage, bentuk singkat
Apakah pada dasarnya Anda puas dengan kehidupan
Anda?(ya/tidak)
Sudahkah Anda mengeluarkan aktifitas dan minat Anda? (ya/tidak)
Apakah Anda merasa bahwa hidup Anda kosong?(ya/tidak)
Apakah Anda sering bosan?(ya/tidak)
Anda mempunyai semangat yang baik setiap waktu?(ya/tidak)
Apakah Anda takut sesuatu akan terjadi pada Anda?(ya/tidak)
Apakah Anda merasa bahagia di setiap waktu?(tidak/tidak)
Apakah Anda lebih suka tinggal di rumah pada malam hari,
daripada pergi dan melakukan sesuatu yang baru? (ya/tidak)
Apakah Anda merasa bahwa Anda mempunyai lebih banyak masalah
dengan ingatan Anda daripada yang lainnya?(ya/tidak)
Apakah Anda berfikir sangat menyenangkan hidup sekarang
ini?(ya/tidak)
Apakah Anda merasa saya sangat tidak berguna dengan keadaan
Anda sekarang? (tidak)
Apakah Anda merasa penuh berenergi? (ya/tidak)
Apakah Anda berfikir bahwa situasi Anda tak ada
harapan?(ya/tidak)Apakah Anda berfikir bahwa banyak orang yang
lebih baik daripada Anda? (ya)
Analisa hasil :
Jika jawaban pertanyaan sesuai indikasi dinilai poin 1. (nilai poin 1 untuk setiap
respons yang cocok dengan jawaban ya atau tidak setelah pertanyaan)
Nilai 5 atau lebih dapat menandakan depresi.
c. Pengkajian Keseimbangan
KRITERIA NILAI
Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan
Bangun dari tempat duduk (dimasukkan analisis) dengan mata terbuka
Tidak bangun dari tempat tidur dengan sekali gerakan, akan tetapi
mendorong tubuhnya ke atas dengan tangan atau bergerak ke bagian depan
kursi terlebih dahulu, tidak stabil pada saat berdiri pertama kali
Duduk ke kursi (dimasukkan analisis) dengan mata terbuka menjatuhkan
diri ke kursi, tidak duduk di tengah kursi
Bangun dari tempat duduk (dimasukkan analisis) dengan mata tertutup
Tidak bangun dari tempat tidur dengan sekali gerakan, akan tetapi usila
mendorong tubuhnya ke atas dengan tangan atau bergerak ke bagian depan
kursi terlebih dahulu, tidak stabil pada saat berdiri pertama kali
Duduk ke kursi (dimasukkan analisis) dengan mata tertutup menjatuhkan
diri ke kursi, tidak duduk di tengah kursi
Ket: kursi harus yang keras tanpa lengan
Menahan dorongan pada sternum (3 kali) dengan mata terbuka
menggerakkan kaki, memegang objek untuk dukungan, kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya
Menahan dorongan pada sternum (3 kali) dengan mata tertutup
klien menggerakkan kaki, memegang objek untuk dukungan, kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya
Perputaran leher (klien sambil berdiri)
Menggerakkan kaki, menggenggam objek untuk dukungan kaki: keluhan
vertigo, pusing atau keadaan tidak stabil
Gerakan mengapai sesuatu
Tidak mampu untuk menggapai sesuatu dengan bahu fleksi sepenuhnya
sementara berdiri pada ujung jari-jari kaki, tidak stabil memegang sesuatu
untuk dukungan
Membungkuk
Tidak mampu membungkuk untuk mengambil objek-objek kecil (misalnya
pulpen) dari lantai, memegang objek untuk bisa berdiri lagi, dan
memerlukan usaha-usaha yang keras untuk bangun
Komponen gaya berjalan atau pergerakan
Minta klien berjalan ke tempat yang ditentukan ragu-ragu, tersandung,
memegang objek untuk dukungan
Ketinggian langkah kaki
Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten (menggeser atau menyeret
kaki), mengangkat kaki terlalu tinggi (> 5 cm)
Kontinuitas langkah kaki
Setelah langkah-langkah awal menjadi tidak konsisten, memulai
mengangkat satu kaki sementara kaki yang lain menyentuh lantai
Kesimetrisan langkah
Langkah tidak simetris, terutama pada bagian yang sakit
Penyimpangan jalur pada saat berjalan
Tidak berjalan dalam garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi
Berbalik
Berhenti sebelum mulai berbalik, jalan sempoyongan, bergoyang,
memegang objek untuk dukungan
Keterangan:
0 – 5 resiko jatuh rendah
6 – 10 resiko jatuh sedang
11 – 15 resiko jatuh tinggi
d. Pengkajian Spiritual
1) Berkaitan dengan keyakinan agama yang dimiliki dan sejumlah makna
keyakinan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari lansia.
2) Hal-hal yang perlu dikaji:
 Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan
agamanya.
 Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan
keagamaan.
Misalnya: pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir miskin.
 Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah dengan
berdoa.
 Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakal

B. DIAGNOSA
a. Gangguan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori, degenerasi
neuron irreversible
b. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi fisiologis dan kognitif
c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi
dan atau integrasi sensori ( defisit neurologis )
d. Kurang perawatan diri : hygiene nutrisi, dan atau toileting berhubungan dengan
ketergantungan fisiologis dan atau psikologis
e. Potensial terhadap ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan
pengaruh penyimpangan jangka panjang dari proses penyakit

C. RENCANA KEPERAWATAN
a. Gangguan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori, degenerasi
neuron irreversible
1) Kaji derajat gangguan derajat kognitif, orientasi orang, tempat dan waktu
2) Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang
b. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi fisiologis dan kognitif
1) Pertahankan tindakan kewaspadaan
2) Hadir dekat pasien selama prosedur atau pengobatan dilakukan
c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi
dan atau integrasi sensori ( defisit neurologis )
1) Kaji derajat sensori/ gangguan persepsi
2) Mempertahankan hubungan orientasi realita dan lingkungan
d. Kurang perawatan diri : hygiene nutrisi, dan atau toileting berhubungan dengan
ketergantungan fisiologis dan atau psikologi
1) Identifikasi kesulitan dalam berpakaian/ perawatan diri
2) Identifikasi kebutuhan akan kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai
kebutuhan
e. Potensial terhadap ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan
pengaruh penyimpangan jangka panjang dari proses penyakit
1) Berikan dukungan emosional
2) Rujuk keluarga ke kelompok pendukung
DAFTAR PUSTAKA

Martono Hadi dan Kris Pranaka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI. Jakarta:
Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS INDONESIA
Depkes R.I. 1999. Kesehatan keluarga, Bahagia di Usia Senja. Jakarta: Medi Media
Nugroho Wahyudi. 1995. Perawatan Usia Lanjut. Jakarta: EGCS