Anda di halaman 1dari 11

Hubungan Usia Penyapihan Dengan Status Gizi Anak Balita Usia 24-

59 Bulan di Kelurahan Karang Pule Tahun 2017

Diah Ulfa Hidayati1, Susilo Wirawan2


Program Studi Diploma IV Kebidanan Jurusan Kebidanan Kementerian Republik Indonesia Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Mataram Tahun Akademik 2016/2017
Korespondensi Penulis: diahulfa16@gmail.com

Abstrak

Latar Belakang : Indonesia masih mengalami berbagai masalah gizi antara lain
masalah kurang gizi pada balita. Kelurahan Karang Pule merupakan wilayah kerja
Puskesmas Karang Pule dengan sasaran balita sebanyak 1.072 orang pada bulan
Januari 2017. Dari jumlah sasaran tersebut, 38 orang atau 3,54% dari jumlah sasaran
balita mengalami gizi buruk. Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita
adalah praktek pemberian ASI (Air Susu Ibu), dimana pada praktek pemberian ASI
tersebut terdapat usia penyapihan.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan
usia penyapihan dengan status gizi anak balita usia 24-59 bulan di Kelurahan Karang
Pule tahun 2017.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional
analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua ibu yang memiliki anak balita usia 24-59 bulan di Kelurahan Karang Pule
yaitu sebanyak 749 orang. Besar sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan
rumus Slovin, sehingga didapatkan jumlah sampel yaitu 89 orang yang akan diambil
secara acak (simple random sampling). Analisis bivariat dalam penelitian ini
menggunakan uji statistik chi square (X2) dalam program SPSS (Statistical Product
and Service Solutions).
Hasil : Sebagian besar anak balita usia 24-59 bulan di Kelurahan Karang Pule ( 74,2
%) sudah disapih pada umur penyapihan yang tepat yaitu ≥ 2 tahun. Sebagian besar
anak balita (77,3%) memiliki status gizi yang baik berdasarkan indeks BB/U. Anak
balita yang disapih pada usia < 2 tahun (25,8%) paling banyak memiliki status gizi
kurang (47,8%).
Kesimpulan :Terdapat hubungan antara usia penyapihan dengan status gizi anak
balita usia 24-59 bulan di Kelurahan Karang Pule tahun 2017.

Kata kunci : Usia Penyapihan, Status Gizi

1
The Relationship Between Weaning Age with Nutritional Status of
Children Aged 24-59 Months at Karang Pule Village on 2017

Diah Ulfa Hidayati1, Susilo Wirawan2


Diploma IV Program of Midwifery Departement Midwifery Ministry of Health Republic Indonesia Polytechnic of
Health Ministry of Health Mataram Academic Year 2016/2017
Corresponding author: diahulfa16@gmail.com

Abstract

Background : Indonesia is still experiencing various nutritional problems such as


malnutrition in children under five. Karang Pule village is a working area of Karang
Pule Public Health Center with the target of infants as many as 1,072 people in
January 2017. From that, 38 people or 3.54% of the number of children under five
suffered malnutrition. One of the factors that influence the nutritional status of
children under five is the practice of breastfeeding (Breast Milk Mother), where the
practice of breastfeeding is the age of weaning.
Objectives : This study aims to determine the relationship between weaning age
with nutritional status of children aged 24-59 months at Karang Pule village on 2017
Method : This research uses analytic observational research with cross sectional
approach. The population in this study were all mothers with children aged 24-59
months in Karang Pule village as many as 749 people. The sample size in this study
was calculated using Slovin formula, so that the number of samples was 89 people
who will be taken randomly (simple random sampling). Bivariate analysis in this
study used chi square statistical test (X2) in SPSS (Statistical Product and Service
Solutions) program.
Result : Most children aged 24-59 months in Karang Pule Village (74.2%) had been
weaned at the appropriate weaning age of ≥ 2 years. Most children under five
(77.3%) had a good nutritional status based on the BB / U index. Toddlers weaned at
age <2 years (25.8%) had the most nutritional status (47.8%).
Conclusion : There is correlation between age weaning with nutritional status of
children aged 24-59 months in Karang Pule Village in 2017
Keywords: Weaning Age, Nutritional Status

Pendahuluan menghadapi berbagai masalah


Balita merupakan kelompok anak kesehatan. Salah satu masalah
yang berada dalam proses kesehatan yang dihadapi adalah
pertumbuhan dan perkembangan yang masalah kurang gizi.1
bersifat unik, artinya memiliki pola Salah satu faktor yang
pertumbuhan dan perkembangan fisik mempengaruhi status gizi balita
contohnya koordinasi motorik halus adalah pola pengasuhan, dimana pada
dan motorik kasar juga kecerdasan pola pengasuhan terdapat praktek
yang sesuai dengan tingkat memberi makan pada anak dan
pertumbuhan dan perkembangan pemberian ASI. ASI memiliki
yang dilalui oleh anak. Indonesia kelebihan sangat banyak sehingga
sebagai negara berkembang masih dianjurkan diberikan kepada bayi

2
sampai usianya 2 tahun dan balita usia 24-59 bulan di Kelurahan
dianjurkan selama 6 bulan bayi Karang Pule tahun 2017.
diberikan ASI eksklusif.2
Menghentikan pemberian ASI Metode
kepada bayi atau dengan istilah Penelitian ini menggunakan jenis
menyapih, merupakan masa yang penelitian observasional analitik,
paling kritis dalam kehidupan anak. dengan rancangan penelitian cross
Penyapihan yang terlalu awal bisa sectional dimana data yang
meningkatkan risiko infeksi, terutama menyangkut variabel bebas dan
penyakit diare. Hal ini disebabkan variabel terikat akan dikumpulkan
bayi kurang mengkonsumsi ASI yang dalam waktu yang bersamaan.
mengandung faktor anti infeksi. Penelitian dilakukan di Kelurahan
Penyakit infeksi merupakan penyakit Karang Pule Kecamatan Sekarbela
yang banyak berhubungan dengan Kota Mataram, yang merupakan
terjadinya kekurangan gizi di negara wilayah kerja Puskesmas Karang Pule
berkembang.3 pada bulan April 2017.
Berdasarkan hasil survey Populasi dalam penelitian ini
Pemantauan Status Gizi (PSG) Kota adalah semua ibu yang memiliki anak
Mataram tahun 2013 menunjukkan balita usia 24-59 bulan di Kelurahan
bahwa dari 44.612 sasaran balita, Karang Pule yaitu sebanyak 749 orang.
balita dengan status gizi buruk di Kota Pengambilan sampel pada penelitian
Mataram sebesar 4,13%.4 ini dilakukan secara acak (random)
Berdasarkan laporan bulanan dengan simple random sampling. Besar
Puskesmas Karang Pule tentang sampel dalam penelitian ini ditentukan
penimbangan balita kelompok umur 0- berdasarkan rumus pengambilan
59 bulan pada bulan Januari 2017, sampel menurut Slovin yaitu sebanyak
jumlah sasaran balita di Kelurahan 89 orang.
Karang Pule adalah 1.072 orang. Variabel bebas (independen) dalam
Jumlah balita yang mengalami gizi penelitian ini adalah usia penyapihan
buruk adalah 38 orang atau 3,54% dari dan variabel terikatnya (dependen)
jumlah balita.5 adalah status gizi anak balita 24-59
Dari hasil wawancara yang bulan di Kelurahan Karang Pule. Pada
dilakukan dengan kader di masing- penelitian ini dilakukan analisa
masing posyandu di Kelurahan univariat dan bivariat. Analisis
Karang Pule, sebagian besar balita univariat digunakan untuk
disapih pada usia kurang dari 2 tahun. manggambarkan karakteristik masing-
Hal ini disebabkan karena ibu-ibu masing variabel yang dijabarkan
balita tersebut sibuk bekerja, sehingga dalam tabel distribusi frekuensi.
mereka harus menitipkan anaknya Analisis bivariat dilakukan untuk
kepada kakek, nenek atau keluarga mengidentifikasi ada tidaknya
lainnya. hubungan antara dua variabel yaitu
Berdasarkan uraian di atas, maka variabel bebas dengan variabel terikat.
penulis tertarik untuk melakukan Uji statistik yang digunakan adalah uji
penelitian mengenai hubungan usia Chi-Square (X2), dengan tingkat
penyapihan dengan status gizi anak kepercayaan 95%.

3
Hasil Tabel 4. Distribusi Anak Balita Usia
Tabel 1. Distribusi Responden 24-59 Bulan Berdasarkan
Menurut Kelompok Umur Jenis Kelamin di Kelurahan
di Kelurahan Karang Pule Karang Pule Tahun 2017.
Tahun 2017 Jenis Kelamin Frekuensi %
Umur Frekuensi % Laki-laki 50 56,18
17-25 22 24,72 Perempuan 39 43,82
26-35 50 56,18 Total 89 100
36-45 12 13,48
46-55 3 3,37 Berdasarkan Tabel 4, sebagian
56-65 2 2,25 besar anak balita usia 24-59 berjenis
Total 89 100 kelamin laki-laki yaitu sebanyak 50
orang (56%).
Berdasarkan Tabel 1, diperoleh
hasil bahwa responden terbanyak
Tabel 5. Distribusi Anak Balita Usia
berada pada kelompok umur 26-35 24-59 Bulan Menurut
tahun sebanyak 50 orang (56,2%). Kelompok Umur di
Kelurahan Karang Pule
Tabel 2. Distribusi Responden Tahun 2017.
Berdasarkan Tingkat Umur Frekuensi %
Pendidikan di Kelurahan 24-36 Bulan 48 53,93
Karang Pule Tahun 2017. 37-48 Bulan 34 38,20
Tingkat Pendidikan Frekuensi % 49-60 Bulan 7 7,87
Tidak Sekolah 1 1,12 Total 89 100
Tidak Tamat SD 3 3,37
Tamat SD 12 13,48 Berdasarkan Tabel 5, sebagian
Tamat SMP 18 20,22
besar anak balita berumur 24-36 bulan
Tamat SMA 48 53,93
Tamat Akademik 7 7,87
yaitu sebanyak 48 orang (54%).
Total 89 100
Tabel 6. Distribusi usia penyapihan
Berdasarkan Tabel 2, diperoleh anak balita usia 24-59 bulan
responden terbanyak memiliki di Kelurahan Karang Pule
pendidikan terakhir SMA yaitu Tahun 2017.
Usia Penyapihan Frekuensi %
sebanyak 48 orang (53,9%).
Sesuai 66 74,16
Tidak Sesuai 23 25,84
Tabel 3. Distribusi Responden Total 89 100
Berdasarkan Status
Pekerjaan di Kelurahan Berdasarkan Tabel 6, diperoleh
Karang Pule Tahun 2017. usia penyapihan anak balita usia 24-59
Status Pekerjaan Frekuensi %
terbanyak pada kategori sesuai (≥2
Bekerja 25 28,09
Tidak Bekerja 64 71,91 tahun) yaitu sebanyak 66 orang
Total 89 100 (74,2%).

Berdasarkan Tabel 3, diperoleh


responden terbanyak yaitu tidak
bekerja dengan jumlah 64 orang (72%).

4
Tabel 7. Distribusi status gizi anak (25,8%) menyapih anaknya pada
balita usia 24-59 bulan di usia < 2 tahun.
Kelurahan Karang Pule Beberapa hal yang dapat
Tahun 2017. mempengaruhi waktu penyapihan
Status Gizi Frekuensi % antara lain pekerjaan ibu,
Baik 59 66,29
pengetahuan ibu, dan
Kurang 24 26,97
Buruk 6 6,74
pengalaman. Bagi seorang ibu
Total 89 100 yang sibuk bekerja akan
berpengaruh pada kurangnya
Berdasarkan Tabel 7, diperoleh waktu dalam menyusui anak
status gizi anak balita usia 24-59 sehingga cenderung akan
terbanyak pada kategori baik yaitu melakukan penyapihan lebih awal.
sebanyak 59 orang (66,3%). Kesibukan pada ibu yang bekerja
akan melakukan penyapihan lebih
Tabel 8. Hubungan usia penyapihan dini dengan alasan untuk
dengan status gizi anak mempermudah sang ibu dalam
balita usia 24-59 bulan di bekerja serta tidak adanya waktu
Kelurahan Karang Pule untuk menyusui.6
Tahun 2017. Pengetahuan seorang ibu
tentang ASI dan waktu yang tepat
untuk menyapih anaknya akan
berpengaruh pada perilaku dalam
penyapihan nantinya. Hal yang
mempengaruhi pengetahuan
adalah tingkat pendidikan
Berdasarkan Tabel 8, seseorang, dimana sebagian besar
menunjukkan hasil analisis hubungan ibu yang menyusui anaknya lebih
usia penyapihan dengan status gizi dari 18 bulan cenderung ibu yang
anak balita usia 24-59 bulan, diperoleh terpelajar. Pada ibu yang
hasil bahwa sebagian besar anak balita mempunyai pengetahuan yang
pada usia penyapihan yang sesuai (≥2 baik tentang manfaat ASI selama 2
tahun) memiliki status gizi yang baik tahun bagi sang anak,
(77,3%) dan hanya sebagian kecil yang dimungkinkan akan
memiliki status gizi buruk (3%). Hasil mempengaruhi waktu penyapihan
uji statistik chi-square didapatkan nilai pada anaknya. Pendidikan
p value = 0,001 < nilai α = 0,05. Hal ini diperkirakan ada kaitannya
menunjukkan ada hubungan antara dengan pengetahuan ibu
usia penyapihan dengan status gizi. menyusui dalam memberikan ASI,
hal ini dihubungkan dengan
Diskusi tingkat pengetahuan ibu bahwa
A. Analisis Univariat
seseorang yang berpendidikan
Berdasarkan penelitian yang
lebih tinggi akan mempunyai
telah dilakukan, dari total 89
pengetahuan yang lebih luas
responden, terdapat 66 responden
dibandingkan dengan tingkat
(74,2%) menyapih anaknya pada
pendidikan yang rendah.7
usia ≥ 2 tahun, dan 23 responden

5
Pengalaman disini berkaitan mempengaruhi waktu
dengan umur dan pendidikan penyapihan. 8

individu. Pengalaman pribadi Dari 89 responden, 48


dapat digunakan sebagai upaya responden (53,9%) memiliki
memperoleh pengetahuan. pendidikan terakhir SMA.
Pengalaman orang lain juga dapat Pendidikan berkaitan dengan
dijadikan sumber pengetahuan. pengetahuan yang dimiliki,
Seseorang yang memberikan sehingga ibu yang memiliki
informasi dengan benar tentang pendidikan terakhir SMA
penyapihan akan berpengaruh kemungkinan memiliki
pada ibu dalam menentukan pengetahuan yang lebih baik
waktu penyapihan pada anaknya tentang waktu penyapihan dari
karena pengalaman. Faktor lain yang berpendidikan SD atau SMP.
yang dapat mempengaruhi usia Mereka akan lebih mengerti
penyapihan adalah keadaan anak manfaat pemberian ASI sampai
yang sedang tumbuh gigi. usia 2 tahun bagi anak mereka baik
Sebagian besar anak telah tumbuh dengan cara mencari informasi
gigi pada usia 6 bulan.2 sendiri (misalnya dari media
Dari 89 responden, sebagian massa) atau menggali informasi
besar responden (71,9%) tidak dari orang lain. Sehingga banyak
bekerja. Mereka hanya diam di dari mereka yang melakukan
rumah mengerjakan pekerjaan penyapihan saat anak telah berusia
rumah tangga dan mengurus anak 2 tahun atau lebih.
mereka sehingga mereka memiliki Sebagian besar responden
waktu luang yang lebih banyak (56,2%) berumur 26-35 tahun
untuk menyusui anaknya. Hal ini (dewasa awal). Pada umur
terbukti dengan banyaknya ibu tersebut, responden tentunya
yang menyapih anaknya pada usia telah banyak mendapat
≥ 2 tahun. Apabila ibu bekerja, pengalaman tentang penyapihan
tentunya ibu akan sibuk dengan baik dalam kehidupan sehari-hari
pekerjaannya dan harus membagi maupun dari pendidikan yang
waktu antara pekerjaan dan pernah diperoleh. Selain itu, ibu-
mengurus anak di rumah, ibu yang telah memiliki anak lebih
sehingga peran sebagai seorang dari satu juga tentunya memiliki
ibu tidak dapat dijalankan secara pengalaman yang lebih banyak
optimal. Hal ini juga dapat dalam menyapih anaknya
mengganggu proses menyusui dibandingkan ibu yang baru
apabila ibu tidak dapat membagi memiliki anak pertama. Apabila
waktu dengan baik. Pada ibu yang mereka belum memiliki
bekerja, proses penyapihan dapat pengalaman sendiri tentang
dilakukan lebih cepat dengan penyapihan anak, mereka dapat
alasan ibu sibuk bekerja sehingga menggali informasi dari orang lain
tidak ada waktu untuk menyusui yang memiliki pengalaman
anaknya. Hal ini menunjukkan tentang penyapihan. Mereka dapat
pekerjaan ibu dapat menentukan waktu penyapihan
dari pengalaman yang telah

6
mereka dapatkan sebelumnya. gizi kurang dan 6 anak (6,7%)
Selain itu, terdapat responden memiliki status gizi buruk.
yang berada pada kelompok umur Beberapa faktor yang dapat
46-55 tahun dan 56-65 tahun. mempengaruhi status gizi balita
Responden ini adalah nenek balita antara lain pendapatan keluarga,
yang bertindak sebagi pengasuh pengetahuan ibu, dan pekerjaan
balita tersebut dengan alasan ibu. Umumnya, jika pendapatan
karena ibu-ibu balita tersebut naik, jumlah dan jenis makanan
bekerja ke luar negeri sebagai cenderung ikut membaik juga.
Tenaga Kerja Wanita (TKW). Tingkat penghasilan ikut
Pengasuh yang berumur 46-55 menentukan jenis pangan apa
tahun dan 56-65 tahun ini tentunya yang akan dibeli dengan adanya
memiliki pengalaman yang tambahan uang. Semakin tinggi
berbeda dengan responden yang penghasilan, semakin besar pula
berumur 26-35 tahun. Mereka juga persentase dari penghasilan
masih sangat meyakini mitos- tersebut dipergunakan untuk
mitos yang berkembang dahulu membeli buah, sayur-mayur dan
terkait penyapihan seperti balita berbagai jenis bahan pangan
akan menjadi rewel bila disapih lainnya. Selain itu, pengetahuan
terlalu lama. Sehingga hal ini gizi yang baik akan menyebabkan
dapat menyebabkan penyapihan seseorang mampu menyusun
dini. menu yang baik untuk
Sebagian besar anak balita dikonsumsi. Semakin banyak
berumur 24-36 bulan (53,9%). Hal pengetahuan gizi seseorang, maka
ini menunjukkan sebagian besar ia akan semakin
balita sudah tumbuh gigi. Tumbuh memperhitungkan jenis dan
gigi ini dapat mempercepat waktu jumlah makanan yang
penyapihan karena alasan ibu diperolehnya untuk dikonsumsi.9
yang merasa kesakitan saat Selain pendapatan keluarga
menyusui akibat gigitan bayi pada dan pengetahuan ibu, pekerjaan
puting ibu. Tetapi beberapa ibu juga merupakan faktor penting
responden juga menganggap yang mempengaruhi status gizi
tumbuhnya gigi bayi bukan balita. Ibu yang sudah mempunyai
merupakan masalah saat pekerjaan penuh tidak lagi dapat
menyusui sehingga mereka tetap memberikan perhatian penuh
menyapih anaknya sampai usia 2 terhadap anak balitanya, apalagi
tahun atau lebih. untuk mengurusnya. Meskipun
Berdasarkan penilaian status tidak semua ibu bekerja tidak
gizi dengan menggunakan tabel mengurus anaknya, akan tetapi
standar menurut BB/U pada balita kesibukan dan beban kerja yang
usia 24-59 bulan di Kelurahan ditanggungnya dapat
Karang Pule, diketahui dari 89 menyebabkan kurangnya
anak sebagai sampel sebanyak 59 perhatian ibu dalam menyiapkan
anak (66,3%) memiliki status gizi hidangan yang sesuai untuk
baik, 24 anak (27%) memiliki status balitanya. Status gizi juga
dipengaruhi oleh kebutuhan gizi

7
setiap orang yang berbeda-beda. kebutuhan gizi anak mereka. Pada
Kebutuhan gizi juga ditentukan keluarga yang berpendapatan
oleh jenis kelamin. Laki-laki kurang pun, bila ibu memiliki
memiliki kebutuhan gizi yang pengetahuan tentang gizi yang
lebih banyak dibandingkan baik, ia akan mampu memilih
dengan perempuan. Sehingga makanan yang murah dan
dalam penentuan status gizi, sederhana namun bermanfaat
antara laki-laki dan perempuan untuk memenuhi kebutuhan gizi
menggunakan table standar berat anak mereka. Masih kurangnya
badan menurut umur yang pengetahuan tentang gizi
berbeda.3 menyebabkan masalah gizi buruk
Status gizi dapat dipengaruhi dan gizi kurang karena mereka
oleh pendapatan keluarga. Masih tidak mengetahui menu yang baik
terdapat masalah gizi kurang dan untuk pemenuhan gizi anak
gizi buruk di Kelurahan Karang balita.
Pule kemungkinan dapat Pekerjaan ibu juga merupakan
disebabkan oleh pendapatan faktor yang mempengaruhi status
keluarga yang masih rendah, gizi anak balita. Ibu-ibu yang
sehingga kebutuhan pangan untuk bekerja berpotensi untuk
anak mereka belum terpenuhi meningkatkan pendapatan
guna memperoleh gizi yang baik. keluarga mereka, sehingga
Hal ini ditunjukkan dengan kebutuhan pangan juga dapat
banyaknya responden yang tidak terpenuhi dengan baik. Namun,
bekerja (71,9%). Mereka hanya pada ibu-ibu yang bekerja,
bekerja sebagai ibu rumah tangga. mereka akan sibuk dengan
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan mereka sehingga
pekerjaan suami belum tentu kurang memiliki waktu luang
cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk dapat menyiapkan menu
sehari-hari, sehingga mereka juga makanan yang baik untuk
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak mereka.
kebutuhan pangan. Mereka tidak Mereka akan lebih sering membeli
dapat membeli kebutuhan pangan makanan di luar yang belum
yang seimbang untuk memenuhi tentu sehat untuk dikonsumsi
nutrisi bagi anak mereka, sehingga daripada memasak makanan
anak-anak tersebut mengalami sendiri di rumah karena
masalah gizi seperti gizi kurang kesibukan bekerja. Sebagian besar
dan gizi buruk. responden (71,9%) tidak bekerja,
Banyaknya balita yang sehingga mereka lebih sering
memiliki status gizi baik menyiapkan sendiri menu
menunjukkan bahwa sebagian makanan untuk anak balita
besar responden sudah memiliki mereka. Mereka juga memiliki
pengetahuan yang baik tentang waktu luang yang lebih banyak
gizi. Apabila mereka memiliki untuk mencoba menu-menu
pengetahuan yang baik tentang makanan yang bernutrisi bagi
gizi, mereka mampu mengatur anak mereka. Sehingga anak-anak
menu seimbang untuk memenuhi tersebut dapat terpenuhi

8
kebutuhan gizinya dan memiliki cenderung memiliki status gizi
status gizi yang baik. yang kurang.
Sebagian besar anak balita usia Pada anak usia 24-59 bulan
24-59 dalam penelitian ini berjenis merupakan kelompok umur yang
kelamin laki-laki dan sebagian sangat perlu diperhatikan akan
besar (66,7%) yang mengalami kebutuhan gizinya. Bayi dan anak
masalah gizi buruk adalah balita balita sangat membutuhkan
laki-laki. Hal ini dapat makanan untuk pertumbuhan dan
dikarenakan cakupan gizi yang perkembangannya. Makanan yang
harus dipenuhi oleh anak laki-laki diberikan pada anak balita juga
cenderung lebih banyak harus disesuaikan dengan
dibandingkan dengan anak kemampuan mencernanya.
perempuan karena anak laki-laki Beberapa penelitian menyatakan
seringkali lebih aktif dalam bahwa status gizi pada bayi sangat
kegiatan sehari-hari. Anak balita dipengaruhi oleh pemberian ASI.
usia 24-59 bulan merupakan ASI pada tahun pertama anak
kelompok konsumen pasif, maka menjadi makanan yang utama
perhatian orang tua terhadap sehingga disarankan untuk tidak
pemenuhan kebutuhan gizi menyapih anak pada usia kurang
termasuk pemberian ASI dan dari 1 tahun karena pada usia 6
makanan tambahan anak bulan sampai dengan 1 tahun lebih
khususnya anak laki-laki harus dari 60% kebutuhan gizi anak
lebih intensif.2 diperoleh dari ASI.10
Pada usia penyapihan ≥ 2
B. Analisis Bivariat tahun ASI hanya bisa memenuhi
Berdasarkan hasil penelitian, 30% dari kebutuhan anak sehingga
penyapihan yang dilakukan pada lebih ditekankan untuk memberi
usia ≥ 2 tahun yaitu sebanyak 66 makanan tambahan bagi anak,
balita (74,2%), diantaranya karena ASI sudah tidak bisa
memiliki status gizi yang baik diandalkan sebagai makanan
yaitu sebanyak 51 balita (77,3%), utama bagi anak. Memasuki usia 1
gizi kurang sebanyak 13 balita tahun, system pencernaan anak
(19,7%), dan gizi buruk sebanyak 2 telah siap menerima makanan
balita (3%). Hal ini menunjukkan bukan cair, karena gigi telah
bahwa anak balita yang disapih banyak yang tumbuh dan lidah
pada usia ≥ 2 tahun cenderung tidak lagi menolak makanan
memiliki status gizi yang baik. padat. Di samping itu lambung
Pada penyapihan yang dilakukan juga telah lebih baik mencerna
pada usia < 2 tahun yaitu makanan padat.11
sebanyak 23 balita (25,8%), Penelitian ini sejalan dengan
diantaranya memiliki status gizi penelitian Hastuti (2016) tentang
yang baik yaitu sebanyak 8 balita hubungan umur penyapihan dan
(34,8%), gizi kurang sebanyak 11 pola asuh makan terhadap status
balita (47,8%), dan gizi buruk gizi anak balita usia 25-36 bulan.
sebanyak 4 balita (17,4%). Hal ini Hasil penelitian menunjukkan
menunjukkan bahwa anak balita bahwa terdapat hubungan yang
yang disapih pada usia < 2 tahun
9
signifikan antara usia penyapihan kandungan ASI tetap lebih tinggi
dengan status gizi anak balita usia daripada kandungan susu
25-36 bulan. Dari 36 anak balita formula. Banyaknya anak yang
yang status gizinya normal mengalami masalah gizi kurang
tersebut ternyata 32 diantaranya pada usia penyapihan < 2 tahun
disapih pada umur ≥ 24 bulan. Hal kemungkinan dapat disebabkan
ini membuktikan bahwa umur oleh masalah infeksi seperti diare
penyapihan yang tepat dapat karena anak sudah tidak mendapat
mempengaruhi status gizi anak ASI lagi yang kaya akan zat anti
balita sehingga anak balita dapat infeksi.
memiliki status gizi normal.12
Masih terdapat balita yang Simpulan
mengalami masalah gizi kurang Berdasarkan pengolahan data dari
dan gizi buruk pada usia hasil penelitian dan pembahasan
penyapihan ≥ 2 tahun. Hal ini diatas, maka dapat disimpulkan :
kemungkinan dikarenakan oleh 1. Usia penyapihan anak balita usia
faktor lain yang mempengaruhi 24-59 terbanyak pada kategori
status gizi anak balita seperti sesuai (≥2 tahun) yaitu sebanyak
adanya penyakit infeksi atau pola 66 orang (74,2%).
pengasuhan terhadap pemberian 2. Status gizi anak balita usia 24-59
makanan berkualitas yang kurang terbanyak pada kategori baik yaitu
diperhatikan oleh orang tua. Pada sebanyak 59 orang (66,3%).
masa penyapihan, pemberian 3. Terdapat hubungan antara usia
makanan tambahan harus lebih penyapihan dengan status gizi
intensif karena berfungsi anak balita usia 24-59 bulan di
menggantikan ASI yang tidak lagi Kelurahan Karang Pule tahun 2017
diberikan. Sehingga dengan
pemberian makanan yang Ucapan Terima Kasih
bernutrisi diharapkan dapat Ucapan terima penulis
memenuhi kebutuhan gizi balita. sampaikan kepada semua pihak yang
Terdapat anak yang memiliki telah membantu penelitian ini,
status gizi baik pada usia sehingga penelitian ini dapat
penyapihan < 2 tahun (34,8%). Hal terlaksana sesuai dengan yang
ini kemungkinan dikarenakan direncanakan.
anak sudah mendapatkan
makanan berkualitas setelah Daftar Pustaka
menginjak usia 6 bulan. Selain itu 1. Kementerian Kesehatan RI. 2010.
meskipun anak disapih pada usia Pedoman Pelaksanaan Stimulasi,
kurang dari 2 tahun, orangtua Deteksi dan Intervensi Dini
cenderung memberikan susu Tumbuh Kembang Anak di
formula sebagai pengganti ASI Tingkat Pelayanan Kesehatan
sehingga kebutuhan gizi anak Dasar. Jakarta: Badan Penelitian
terus terpenuhi karena susu dan Pengembangan Kesehatan
formula diproduksi dengan Kemenkes RI.
kandungan yang menyerupai ASI. 2. Zulfa, Nasikhatul. 2014. Perbedaan
Meskipun demikian, nilai biologi Status Gizi Anak Balita Usia 1-3
Tahun Berdasarkan Usia
10
Penyapihan di Desa Sambirejo Kesehatan, Vol. 1 No. 3, Desember
Kecamatan Bringin Kabupaten 2013: 152-157.
Semarang. Skripsi Program Studi 8. Abdullah, MT, Maidin, A. 2013.
D-IV Kebidanan STIKES Ngudi Kondisi Fisik, Pengetahuan,
Waluyo. Semarang Pendidikan, Pekerjaan Ibu dan
3. Ambartana, IW, IA Eka Padmiari, Lama Pemberian ASI Secara
NM Yuni Gumala. 2011. Status Penuh. Jurnal Kesehatan
Gizi Balita Berdasarkan Pola Masyarakat Nasional, Vol. 8 No. 5,
Penyapihan dan Karakteristik Juni 2013: 210-214.
Keluarga di Kelurahan Gianyar 9. Manalu, Ade. 2009. Pola Makan
Kabupaten Gianyar Provinsi Bali. dan Penyapihan Serta
Jurnal Skala Husada, Vol. 8 No. 2, Hubungannya Dengan Status Gizi
September 2011: 200-206. Batita di Desa Palip Kecamatan
4. Dinas Kesehatan Kota Mataram. Silima Pungga-Pungga Kabupaten
2014. Profil Dinas Kesehatan Kota Dairi. Tesis Program Pascasarjana
Mataram Tahun 2014. Mataram Kesehatan Masyarakat Universitas
5. Laporan Bulanan Puskesmas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Karang Pule. Laporan 10. Arini. 2012. Mengapa Seorang Ibu
Penimbangan Balita di Posyandu Harus Menyusui. Yogyakarta:
Bulan Januari 2017. FlashBooks
6. Djaiman, SPH, Sihadi. 2009. 11. Arisman. 2009. Gizi Dalam Daur
Besarnya Peluang Usia Kehidupan. Jakarta : EGC
Penyapihan Anak Baduta di 12. Hastuti, Rahayu Dwi. 2016.
Indonesia dan Faktor yang Hubungan Umur Penyapihan dan
Mempengaruhinya. Jurnal Media Pola Asuh Makan Terhadap Status
Litbang Kesehatan, Vol. 19 No. 1, Gizi Anak Balita Usia 25-36 Bulan
September 2009: 1-8. di Desa Purwosari Kabupaten
7. Oktoviyanda, VD, Helwiyah, Ropi. Wonogiri. Skripsi Program Studi
2013. Hubungan Tingkat Ilmu Gizi Universitas
Pendidikan, Pekerjaan, dan Paritas Muhamadiyah Surakarta.
Ibu dengan Usia Penyapihan pada Surakarta.
Balita. Jurnal Media Litbang

11