Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal

oleh penyebab kematian yang terkait dengan gangguan kehamilan atau

penanganannya (tidak termasuk kasus kecelakaan atau kasus insidentil) selama

kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas tanpa memperhitungkan lama

kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Indikator ini secara langsung

digunakan untuk memonitor kematian terkait dengan kehamilan, bersalin dan

nifas. AKI dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk status kesehatan secara

umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan (BPS,

2014).

Angka kematian ibu (AKI) Indonesia sampai saat ini masih tinggi dan ini

merupakan suatu problem kesehatan yang sampai saat ini belum dapat diatasi

secara tuntas. Berdasarkan SDKI tahun 2012, AKI di Indonesia sebesar 359

per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan

dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN seperti Thailand hanya 44

per 100.000 kelahiran hidup, Malaysia 39 per 100.000 kelahiran hidup, dan

Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu pada tahun 2012

Kemenkes RI meluncurkan program Expanding Maternal dan Neonatal

Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan neonatal

sebesar 25% (SDKI, 2012).

1
Angka Kematian Ibu (AKI)di Indonesia bervariasi. Di Provinsi Nusa

Tenggara Barat, ditemukan angka kematian ibu sebesar 99 per 100.000

kelahiran hidup pada tahun 2008, tahun 2009 menjadi 130 per 100.000

kelahiran hidup dan tahun 2010 sebesar 114 per 100.000 kelahiran hidup, tahun

2011 meningkat menjadi 130 per 100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2012

menurun kembali menjadi 100 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes NTB,

2012).

SDKI tahun 2012 menyebutkan bahwa penyebab langsung kematian ibu

yang utama adalah perdarahan (30,3%). Sebab lainyaituhipertensi dalam

kehamilan (HDK) (27,1%), infeksi (7,3%), partus lama (5%), dan abortus

(5%). Berdasarkan audit maternal perinatal tahun 2010 dan hasil analisis yang

dilakukan dari rekapitulasi review kematian ibu, diketahui bahwa proporsi

kematian ibu di Pulau Lombok disebabkan oleh penyebab obstetri langsung

yaitu perdarahan 30,23%, preeklampsi/eklampsi 23,7%, infeksi dan emboli air

ketuban, sedangkan penyebab tidak langsung menyumbang 42,1% dari

kematian ibu yaitu penyakit jantung 26,3 %, TBC paru, malaria dan hepatitis

(Dinkes NTB, 2012).

Perdarahan postpartum merupakan penyebab kematian maternal

terbanyak. Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian yaitu perdarahan

postpartum primer dan perdarahan postpartum sekunder. Perdarahan

postpartum primer yaitu perdarahan pasca salin yang terjadi dalam 24 jam

pertama kelahiran, sedangkan perdarahan postpartum sekunder yaitu

2
perdarahan pasca persalinan yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran

(Manuaba, 2012).

Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2012, perdarahan

postpartum primer masih menjadi kontributor yang terpenting dalam

morbiditas dan mortalitas ibu yaitu berkisar 5%-15% dari seluruh persalinan.

Perdarahan postpartum primer yang menyebabkan kematian ibu adalah

terbanyak terjadi dalam 2 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan

postpartum primer salah satunya karena atonia uteri. Atonia uteri merupakan

kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus

dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidak mampu

menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Perdarahan dari atonia uteri

berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta

yang lepas sebagian atau lepas keseluruhan (Manuaba, 2012).

Berdasarkan studi pendahuluan di ruang bersalin RSUD Provinsi NTB,

laporan pada tahun 2013 menunjukkan jumlah kejadian perdarahan post

partum sebanyak 201 kasus dari 1025 persalinan (19,6%), menurun menjadi

198 kasus dari 1044 persalinan (18,9%) pada tahun 2014 dan meningkat

kembali menjadi 205 kasus dari 1134 persalinan (25,1%) pada tahun 2015,

yang salah satu penyebab perdarahan post partum tersebut oleh karena atonia

uteri. Adapun kejadian atonia uteri di ruang bersalin RSUD Provinsi NTB pada

tahun 2013 sebanyak 91 kasus, pada tahun 2014 sebanyak 88 kasus dan tahun

2015 sebanyak 94 kasus atonia uteri. Kejadian atonia uteri dipengaruhi oleh

beberapa faktor antara lain peregangan uterus yang berlebihan seperti pada

3
gemeli, makrosomia, polihidramnion, faktor persalinan lama, persalinan yang

terlalu cepat ( partus presipitatus), persalinan dengan induksi atau akselerasi

oksitosin, infeksi intrapartum, paritas tinggi, umur risiko tinggi, jarak

kelahiran, akibat anastesi dan riwayat atonia sebelumnya (Wiknjosastro, 2010).

Berdasarkan uraian latar belakang, maka masalah dari penelitian adalah

masih tingginya kejadian perdarahan postpartum primer di RSUD Provinsi

NTB terutama yang disebabkan oleh atonia uteri dengan berbagai faktor

predisposisi, sehingga dipandang perlu dilakukan penelitian dengan judul

“Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Atonia Uteri pada Ibu bersalin di

RSUD Provinsi NTB Tahun 2013-2015”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti ingin menganalisa “

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kejadian atonia uteri pada ibu

bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015”.

C. Tujuan

a. Tujuan umum
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian atonia uteri pada

ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


b. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi ibu bersalin yang mengalami kejadian atonia

uteri berdasarkan peregangan uterus berlebihan (gemeli, polihidramnion,

makrosomia), umur, paritas, jarak persalinan, partus lama, partus

presipitatus, persalinan dengan induksi oksitosin, persalinan

buatan/tindakan (SC/vakum ekstraksi), kehamilan lewat waktu (postterm)

dan anemia di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.

4
b. Menganalisa hubungan antara peregangan uterus berlebihan

(gemeli, polihidramnion, makrosomia) dengan kejadian atonia uteri di

RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


c. Menganalisa hubungan antara umur dengan kejadian atonia uteri di

RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


d. Menganalisa hubungan antara paritas dengan kejadian atonia uteri

di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


e. Menganalisa hubungan antara jarak persalinan dengan kejadian

atonia uteri di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


f. Menganalisa hubungan antara partus lama dengan kejadian atonia

uteri di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


g. Menganalisa hubungan antara partus presipitatus dengan kejadian

atonia uteri di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


h. Menganalisa hubungan antara persalinan dengan induksi oksitosin

dengan kejadian atonia uteri di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


i. Menganalisa hubungan antara persalinan buatan/tindakan (SC/

vakum ekstraksi) dengan kejadian atonia uteri di RSUD Provinsi NTB

tahun 2013-2015.
j. Menganalisa hubungan antara persalinan dengan kehamilan lewat

waktu (postterm) dengan kejadian atonia uteri di RSUD Provinsi NTB

tahun 2013-2015.
k. Menganalisa hubungan antara anemia dengan kejadian atonia uteri

di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.

D. Ruang Lingkup Penelitian

1. Ruang lingkup materi


Batasan materi yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah

faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian atonia uteri pada 3 (tiga) tahun

terakhir yaitu tahun 2013-2015.


2. Ruang lingkup masalah

5
Ruang lingkup masalah yang diteliti adalah masalah perdarahan yang

disebabkan oleh kejadian atonia uteri pada ibu bersalin di RSUD Provinsi

NTB.
3. Ruang lingkup metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi

cross sectional survey dengan menganalisa data sekunder yang didapatkan

dari rekam medik pasien.


4. Ruang lingkup waktu
Penelitian ini dilakukan dari penyusunan proposal mulai bulan Juli sampai

dengan hasil penelitian bulan Oktober 2016.


5. Ruang lingkup tempat
Penelitian ini dilakukan di RSUD Provinsi NTB.

E. Manfaat penelitian

1. Praktis

a. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, diharapkan sebagai

masukan untuk lebih meningkatkan upaya preventif guna mencegah dan

mengatasi perdarahan dengan salah satunya mensukseskan program

gerakan keluarga berencana (KB) dengan membatasi jumlah kehamilan

dan menjarangkan jarak persalinan, serta memberikan arahan kepada

bidan-bidan yang berada di puskesmas dalam hal deteksi dini faktor-

faktor yang mempengaruhi kejadian perdarahan terutama yang

disebabkan oleh atonia uteri.


b. Bagi pembuat kebijakan di RSUD Provinsi NTB, diharapkan

sebagai bahan kajian kepada pihak manajemen pengelola RS mengenai

faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian atonia uteri , sehingga dapat

6
digunakan sebagai bahan dasar dalam perencanaan strategis untuk

pencegahan perdarahan karena atonia uteri atau Standar Operasional

Pelayanan (SOP) sebagai acuan dalam penatalaksaan kasus perdarahan

khususnya perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri


c. Bagi bidan Puskesmas rujukan, diharapkan dapat membantu

mensukseskan program KB dengan memberikan edukasi kepada

masyarakat khususnya wanita usia subur untuk membatasi jumlah

kehamilan dan menjarangkan jarak persalinan, melakukan rujukan

terhadap ibu hamil dengan distensi uterus, mengurangi persalinan yang

ditolong oleh dukun serta melakukan tatalaksana rujukan yang sudah

sesuai dengan standar rujukan khususnya untuk kasus perdarahan yang

disebabkan oleh atonia uteri.


d. Bagi peneliti, diharapkan untuk menambah pengetahuan dan

pengalaman bagi peneliti tentang faktor-faktor yg mempengaruhi

kejadian atonia uteri, tindakan pencegahan dan metode penatalaksanaan

perdarahan karena atonia uteri.


e. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat

digunakan sebagai salah satu referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bukti empiris yang berkaitan

dengan faktor-faktor penyebab kejadian atonia uteri serta dapat digunakan

sebagai bahan bacaan, bahan evaluasi, dan tambahan kepustakaan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

7
F . Keaslian Penelitian
Tabel 1. Keaslian penelitian
N PENEL JUDUL TUJUAN METODE HASIL
o. ITI PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN
Lucinda Hubungan Mengetahui dan Penelitian ini Hasil penelitian
(2010) karakteristik ibu menganalisa merupakan didapatkan angka
bersalin dengan adanya penelitian deskriptif kejadian atonia
kejadian hubungan antara analitik dengan uteri di RSUD
perdarahan karakteristik ibu desain penelitian Kota Bekasi
postpartum bersalin dengan case control. Metode selama periode
karena atonia kejadian pengambilan sampel Januari 2009-
uteri di RSUD perdarahan untuk kelompok Desember 2010
Kota Bekasi postpartum kasus dan kelompok adalah sebanyak
Periode Januari karena atonia kontrol adalah 31 pasien dari
2009- Desember uteri di RSUD simple random 2.436 persalinan
2010 Kota Bekasi sampling. (1,27 yang
menunjukan
bahwa terdapat
hubungan yang
bermakna antara
paritas risiko
tinggi (p=0,002,
OR=6,905) dan
kadar HB
kelompok anemia
(p=0,000,
OR=1,816)
dengan atonia

8
uteri.

2. Maida Analisis faktor- Untuk Rancangan Hasil analisa


Pardosi faktor yang mengetahui penelitian yang menunjukan
(2005) berhubungan faktor-faktor digunakan adalah bahwa faktor-
dengan dominan dan studi deskriptif faktor yang
perdarahan upaya analitik dengan berhubungan
pasca persalinan penurunan desain penelitian yaitu faktor ibu;
dan upaya atonia uteri di cross sectional umur, pendidikan,
penurunannya di wilayah kerja survey dengan kadar HB/anemia,
wilayah kerja puskesmas kota melakukan analisis konsumsi zat besi,
Puskesmas Kota Medan. lebih lanjut terhadap lama partus, lama
Medan data sekunder. lepas plasenta,
dan pengetahuan.
Faktor pelayanan
kesehatan
meliputi faktor
fasilitas
kesehatan,
Lanjutan Tabel 1. Keaslian Penelitian penolong
persalinan, umur ,
pendidikan,
pengalaman
penolong
persalinan di
tempat bersalin.

3. Roslyan Faktor risiko Mengetahui Dilakukan penelitian Hasil analisa data


a (2011) terbesar yang faktor risiko dengan rancangan menunjukan
menyebabkan terbesar yang case control dengan bahwa induksi
kejadian atonia menyebabkan perbandingan 1:1 dan stimulasi
uteri atonia uteri di dengan jumlah oksitosin,
RSUD subyek penelitian 54 preeklampsi dan
Sukadana kasus dan kontrol 54 eklampsia,
Lampung yang telah dilakukan anemia, ketuban
matching pecah dini dan
berdasarkan tingkat paritas > 3
pendidikan. Analisa merupakan faktor
data menggunakan risiko paling
chi square dan dominan
multivariate berkontribusi
regression logistic terhadap kejadian
atonia uteri.

4. Veiny Faktor-faktor Mengetahui Penelitian ini Hasil Diperoleh

9
Anggrai yang faktor apa saja menggunakan desain bahwa jumlah
ni mempengaruhi yang penelitian observasi kejadian atonia
(2012) kejadian atonia mempengaruhi analitik dengan uteri di RSUP
uteri kejadian atonia pendekatan case NTB tahun 2012
uteri control sebanyak 92 ibu
kepada sejumlah 204 (45,1%) dan non
populasi ibu yang atonia uteri
mengalami sebanyak 112 ibu
perdarahan (54,9%).
postpartum di Jumlah kejadian
RSUP NTB periode atonia uteri yang
Januari – Desember disebabkan oleh
2012, peregangan
, didapatkan uterus
sejumlah 92 Berlebihan 21
kelompok kasus ibu ibu (10,3%),
yang mengalami umur < 20 tahun
atonia dan > 35 tahun 17
uteri dan 112 ibu ibu (8,3%),
sebagai control yang paritas
tidak mengalami grandemultipara
atonia uteri. Analisis 16 ibu (7,8%),
data menggunakan persalinan
analisis univariat, tindakan 56 ibu
analisis bivariat dan (27,5%),
analisis multivariat drip oksitosin 21
menggunakan ibu (10,3%) dan
regrasi logistic. , anemia 56 ibu
(27,5%). Dari
hasil analisa
statistic dengan
menggunakan Uji
Chi Square
diperoleh bahwa
faktor
peregangan uterus
berlebihan
(p=0,102), umur
(p=0,225), paritas
(p=0,189),
dan anemia
(p=0,238) tidak
berhubungan
terhadap kejadian
atonia uteri dan

10
hanya merupakan
faktor resiko.
Sedangkan drip
oksitosin
(p=0,003) dan
persalinan
tindakan
(p=0,001)
memiliki
hubungan yang
signifikan
terhadap
kejadian atonia
uteri. Dari hasil
analisa
multivariate
faktor yang
paling
dominan
menyebabkan
kejadian atonia
uteri adalah drip
oksitosin dengan
p=
0,012 dan OR
4,650. Artinya
ibu yang
persalinannya
diberikan
stimulasi drip
oksitosin
kemungkinan
4,650 kali terjadi
atonia uteri
dibandingkan
dengan ibu
yang
persalinannya
tidak diberikan
stimulasi drip
oksitosin.

5. Zuberi Uterine Atony at Untuk Penelitian ini Hasil penelitian


dan a Tertiary Care mengidentifikasi dilakukan dengan menunjukan
feerasta Hospital in faktor risiko rancangan case bahwa faktor

11
(2007) Pakistan: A atonia uteri control yang yang
Risk setelah dilakukan di Rumah menyebabkan
Factor Analysis persalinan per Sakit The Aga Khan atonia uteri pada
vaginam dengan Universitas Karachi , saat kala III
tindakan atau Pakistan . Kelompok persalinan yang
tanpa tindakan kasus didefinisikan terbukti secara
sebagai semua signifikan adalah
wanita dengan atonia hanya kejadian
uteri dalam waktu 24 kala II lama pada
jam dengan multipara,
persalinan tindakan sedangkan
atau tanpa tindakan. diabetes pada
Kelompok kontrol kehamilan, paritas
didasarkan pada dan umur tidak
wanita bersalin tanpa signifikan sebagai
atonia uteri dengan faktor penyebab
persalinan atonia uteri
tindakan /tanpa
tindakan. Data
dikumpulkan dari
rekam medis ;
disesuaikan Odds
Rasio diperkirakan
dengan regresi
logistik ganda.

6. Luisa A Risk Factors for Untuk Penelitian ini Hasil dari


Wetta Uterine mengidentifikasi merupakan penelitian ini
(2013) Atony/Postpartu faktor risiko penelitian analitik adalah di antara
m Hemorrhage atonia uteri atau dengan 1.798 wanita
Requiring perdarahan menggunakan uji secara acak ,
Treatment after coba secara acak - bahwa faktor
Vaginal double-blind dengan penyebab atonia
Delivery pemberian uteri paling tinggi
oksitosin untuk adalah
mencegah atonia preeklampsi dan
uteri setelah korioamnionitis
persalinan pada kelompok
pervaginam . bangsa Hispanik (
Data dianalisa OR 2,1 ; 95 % CI
menggunakan . 1,3-3,4 ) dan
regresi logistik untuk kelompok bangsa
mengidentifikasi non
faktor risiko variabel Hispanik ( OR 1,6
independent sebagai

12
model ; 95 % CI 1,0-2,5
yang telah
ditentukan.

7. Sugi Determinants Untuk Rancangan Hasil penelitian


purwant factors mengetahui penelitian yang menunjukan
i (2015) haemoragic hubungan antara digunakan adalah bahwa umur
post partum umur ibu, survey kuantitatif responden
because atony paritas ibu, dengan pendekatan berisiko sebesar
uterine. pembesaran case control. Analisis 36.2%, paritas
uterus terhadap data yaitu analisis responden
perdarahan post univariat berisiko sebesar
partum karena menggunakan 29.4%,
atonia uteri distribusi frekuensi pembesaran
dan analisis bivariat uterus berisiko
menggunakan chi sebesar 12.5%.
square Adanya hubungan
antara umur dan
paritas terhadap
perdarahan post
Lanjutan Tabel 1. Keaslian Penelitian partum karena
atonia

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

13
A. Tinjauan Teori
1. Atonia Uteri

Sebagian besar perdarahan pada masa nifas (75-80%) adalah akibat

adanya atonia uteri. Sebagaimana kita ketahui bahwa aliran darah

uteroplasenta selama masa kehamilan adalah 500-800ml/menit, sehingga bisa

kita bayangkan ketika uterus itu tidak berkontraksi selama beberapa menit

saja, maka akan menyebabkan kehilangan darah yang sangat banyak

sedangkan volume darah manusia hanya berkisar 5-6 liter saja (Manuaba,

2012).

Beberapa definisi tentang atonia uteri:

a. Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah uterus tidak

berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri

(plasenta telah lahir) (Wiknjosastro, 2010).


b. Ketidakmampuan uterus untuk berkontraksi sebagaimana mestinya

setelah plasenta lahir. Perdarahan postpartum secara fisiologis dikontrol

oleh kontraksi serat-serat miometrium terutama yang berada disekitar

pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta.

Atonia uteri terjadi ketika miometrium tidak dapat berkontraksi (Chapman,

2006).
c. Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus otot/kontraksi rahim

yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari

tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir (Wiknjosastro,

2010).

14
d. Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat

berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat

melekatnya plasenta menjadi tidak terkendali (Manuaba, 2012 ).

2. Penyebab Atonia Uteri

Kasus atonia uteri penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Namun

demikian ada beberapa faktor predisposisi yang biasa dikenal (Wiknjosastro,

2010) :

a. Peregangan uterus yang berlebihan

Otot-otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu,

setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi. Penyebab peregangan

uterus yang berlebihan antara lain:

1) Kehamilan ganda (gemeli)

Kehamilan ganda dapat didefinisikan sebagai suatu kehamilan dimana

terdapat dua atau lebih embrio atau janin sekaligus.

2) Polihidramnion

Suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari

normal, biasanya lebih dari 2000 cc.

3) Makrosomia janin (janin besar)

Makrosomia adalah bayi yang berat badannya pada saat lahir lebih dari

4.000 gram.

Peregangan uterus yang berlebihan karena sebab-sebab tersebut

akan mengakibatkan uterus tidak mampu berkontraksi segera setelah

plasenta lahir (Oxorn, 2010).

15
b. Umur
Umur individu terhitung mulai saat dilahirkan hingga waktu umur

tersebut dihitung (Oxort, 2010).

Umur reproduksi terbagi :

1) Masa menunda kehamilan yakni umur < 20 tahun)


2) Masa menjarangkan kehamilan yakni umur 20-35 tahun
3) Masa mengakhiri kehamilan yakni umur > 35 tahun.

Seorang ibu hamil/bersalin dikatakan berisiko jika < 19 tahun atau > 35

tahun (Manuaba, 2012). Remaja berumur antara 15 sampai 19 tahun

memiliki kemungkinan lebih besar mengalami anemia dan berisiko lebih

tinggi memiliki janin yang pertumbuhannya terhambat, persalinan prematur,

dan angka kematian bayi yang tinggi. Ibu hamil yang berumur 35 tahun atau

lebih, mengalami perubahan pada alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak

lentur lagi (Chapman, 2006).

Menurut Puji Rochyati dan Hebert (2010), umur ibu hamil atau bersalin

yang termasuk risiko tinggi yaitu primipara muda kurang dari 16 tahun dan

primipara tua berusia lebih dari 35 tahun. Bertambahnya usia wanita

berhubungan dengan menurunnya fungsi dan kemampuan adaptasi organ-

organ tubuh secara keseluruhan sehingga meningkatkan risiko timbulnya

kelainan-kelainan seperti: hipertensi, diabetes melitus, tromboembolisme,

perdarahan postpartum primer yang secara keseluruhan akan meningkatkan

risiko morbiditas dan mortalitas ibu selama kehamilan dan persalinan

(Chapman, 2006).

c. Paritas

16
Paritas adalah keadaan seorang wanita sehubungan dengan kelahiran

anak yang dapat hidup. Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan

janin hidup atau mati, bukan jumlah janin yang dilahirkan. Paritas adalah

jumlah kehamilan yang mencapai usia viabilitas dan bukan jumlah janin

yang dilahirkan. Paritas adalah seorang perempuan yang pernah melahirkan

bayi yang dapat hidup atau viable (Chapman, 2006).

Beberapa tingkatan paritas adalah:

1) Nullipara adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan

bayi viable.
2) Primipara adalah seorang wanita yang telah melahirkan bayi viable

sebanyak satu kali.


3) Multipara adalah seorang wanita yang telah melahirkan bayi viable

sebanyak 2 kali atau lebih.


4) Grandemultipara adalah seorang wanita yang telah melahirkan bayi

viable lebih dari empat kali.


Paritas seorang ibu hamil/bersalin dikatakan berisiko tinggi

berdasarkan komplikasi obstetrik yaitu primipara primer atau sekunder

dan grandemultipara (Manuaba, 2012). Pada kehamilan seorang ibu

yang berulang kali (grande multipara), maka uterus juga akan berulang

kali teregang. Hal ini akan menurunkan kemampuan berkontraksi dari

uterus segera setelah plasenta lahir. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi

angka kematian maternal, karena kasus perdarahan meningkat dengan

bertambahnya jumlah paritas. Ibu-ibu dengan kehamilan lebih dari satu

kali atau yangtermasuk multipara mempunyai risiko lebih tinggi

17
terhadap terjadinya perdarahan pasca persalinan dibanding ibu-ibu yang

termasuk golongan primipara.


Primipara dan paritas tinggi (grande multipara) mempunyai angka

kejadian perdarahan pasca persalinan lebih tinggi. Pada paritas yang

rendah (primipara), ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan

yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil

dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan

dan nifas. Sedangkan pada paritas tinggi (grande multipara), fungsi

reproduksi mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadi

perdarahan pasca persalinan menjadi lebih besar (Manuaba, 2010).


d. Jarak Persalinan
Jarak persalinan yang kurang dari 2 tahun mengakibatkan kelemahan

dan kelelahan otot rahim, sehingga cenderung akan terjadi perdarahan

postpartum (Manuaba, 2010). Bila jarak kelahiran dengan anak sebelumnya

kurang dari 2 tahun, kondisi rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan

baik, sehingga cenderung mengalami partus lama, atau perdarahan

postpartum. Disamping itu, persalinan berturut-turut dalam jarak waktu

singkat mengakibatkan uterus menjadi fibrotik, sehingga mengurangi daya

kontraksi dan retraksi uterus. Kondisi seperti ini yang berakibat terjadinya

perdarahan postpartum (Manuaba, 2012).


e. Partus lama
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam

(Manuaba, 2012). Pada primigravida persalinan dikatakan lama bila

berlangsung 24 jam dan lebih dari 18 jam untuk multigravida yang disertai

komplikasi ibu maupun janin (Wiknjosastro, 2010). Penyebab persalinan

lama adalah kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan kekuatan his

18
dan mengejan, terjadi ketidakseimbangan sefalopelvik, pimpinan persalinan

selama proses persalinan yang salah dan primipara primer atau sekunder

berusia tua. Lamanya persalinan menyebabkan adanya gangguan yang

terjadi pada kekuatan his yang lemah, frekuensi his yang berkurang,

lamanya kekuatan his berlangsung, koordinasi tidak teratur. Sehingga

dampak dari kegagalan his tersebut menyebabkan persalinan berjalan lambat

dan lama serta menyebabkan terjadinya kelelahan pada otot uterus untuk

berkontraksi (Manuaba, 2012).


Penatalaksanaan yang tidak sesuai dengan tahapan persalinan juga

dapat mempengaruhi terjadinya persalinan lama. Menurut Gulardi (2008),

fase-fase persalinan tiap paritas berbeda yaitu :


1) Fase laten memanjang
- Primipara berlangsung lebih dari 18 jam
- Multipara berlangsung lebih dari 12 jam

2) Fase aktif memanjang


- Primipara berlangsung lebih dari 12 jam
- Multipara berlangsung lebih dari 6 jam
3) Kala II lama
- Primipara berlangsung lebih dari 2 jam
- Multipara berlangsung lebih dari 1 jam.
Persalinan yang berlangsung lama dapat menimbulkan komplikasi

baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan akan meningkatkan angka

kematian ibu dan anak (Gulardi, 2008).


f.Kehamilan dengan mioma uterus
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma. Hal ini disebabkan karena

tingginya kadar estrogen pada kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke

uterus yang kemungkinan dapat mempercepat terjadinya pembesaran mioma

uteri ( Manuaba, 2010). Adapun pengertian mioma antara lain :

19
1) Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan

jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga

leiomioma, fibromioma, atau fibroid (Wiknjosastro, 2010).


2) Leiomyoma atau mioma uteri adalah tumor jinak uterus yang

berbatas tegas, disebut juga fibroid, fibroma, dan fibromioma (Oxord,

2010).
3) Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan

ikatnya, sehingga dapat dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya

dominan dan lunak serta otot rahimnya dominan (Manuaba, 2012).


4) Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan

jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga

leiomioma, fibromioma, atau fibroid. Pertumbuhan mioma dapat

mencapai berat lebih dari 5 kg. Jarang sekali mioma ditemukan pada

wanita berumur 20 tahun, paling banyak berumur 35-45 tahun (25%).

Pertumbuhan mioma diperkirakan memerlukan waktu 3 tahun agar dapat

mencapai ukuran sebesar tinja, akan tetapi beberapa kasus ternyata

tumbuh cepat. Mioma uteri lebih sering ditemui pada wanita nulipara

atau yang kurang subur (Cunningham, 2011).

Mioma yang paling sering menjadi penyebab perdarahan

postpartum adalah mioma intra mular, dimana mioma berada di

dalammiometrium sehingga akan menghalangi uterus berkontraksi

(Oxorn, 2010).

g. Persalinan buatan/tindakan (SC dan vakum ekstraksi)


Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi, yang mampu

hidup, dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan adalah

20
pengeluaran produk konsepsi yang dapat hidup melalui jalan lahir biasa.

Persalinan buatan adalah proses persalinan dengan bantuan dari tenaga luar

(Wiknjosastro, 2010). Ada beberapa macam persalinan buatan:


1) Sectio Caesaria
a) Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan

sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.


b) Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin

dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding

rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin

diatas 500 gram.


2) Vakum Ekstraksi
a) Vakum ekstraksi adalah suatu persalinan buatan, janin

dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) dikepalanya.


b) Vakum ekstraksi adalah tindakan obstetrik yang bertujuan

untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga

mengejan ibu dan ekstraksi pada bayi.


c) Vakum ekstraksi adalah suatu persalinan buatan dengan

prinsip antara kepala janin dan alat penarik mengikuti gerakan alat

vakum ekstraktor.
d) Vakum ekstraksi adalah suatu tindakan obstetrik yang

bertujuan untuk mempercepat persalinan pada keadaan tertentu

dengan menggunakan vacum ekstraktor. Persalinan buatan

mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera mengeluarkan buah

kehamilan dengan segera sehingga pada pasca salin menjadi lelah

dan lemah untuk berkontraksi (Oxorn, 2010).

h. Persalinan dengan kehamilan lewat waktu (postterm)

21
Persalinan dengan kehamilan lewat waktu (postterm) yaitu persalinan

yang terjadi pada ibu dengan kehamilan lewat waktu (Manuaba, 2012).

Definisi kehamilan lewat waktu (postterm) adalah kehamilan yang

melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu dihitung dari hari pertama haid

terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari

(Wiknjosastro, 2010).

Postterm menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir

telah melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan

beberapa komplikasi. Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah

294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah

ovulasi. Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang sudah melewati 42

minggu. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan

secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin.

Adapun pengaruh dari kehamilan lewat waktu yaitu

morbiditas/mortalitas ibu dapat meningkat sebagai akibat dari makrosomia

janin dan tulang tengkorak menjadi lebih keras yang menyebabkan terjadi

distosia persalinan, partus lama, dan perdarahan postpartum akibat bayi

besar sehingga menjadikan otot uterus lelah dan lemah untuk berkontraksi

(Wiknjosastro, 2010).

i. Infeksi intrapartum

Infeksi intrapartum ialah suatu keadaan infeksi yang terjadi pada

kehamilan viable pada saat persalinan berlangsung. Infeksi intrapartum

22
biasanya terjadi pada keadaan KPD khususnya bila KPD telah terjadi lama.

Kriteria infeksi intapartum:

1) Leukosit > 15.000


2) Suhu tubuh > 38 C

Korioamnionitis adalah infeksi dari korion saat intrapartum yang

potensial akan menjalar pada otot uterus sehingga menjadi infeksi dan

menyebabkan gangguan untuk melakukan kontraksi (Manuaba, 2012).

j. Partus presipitatus (persalinan yang cepat)

Partus presipitatus merupakan persalinan yang berlangsung sangat cepat,

dimana terjadi kemajuan cepat dari persalinan yang berakhir kurang dari 3

jam dari kelahiran (Wiknjosastro, 2010). Kadang-kadang pada multipara

dan jarang sekali pada primipara terjadi persalinan yang terlalu cepat

sebagai akibat his yang kuat dan kurangnya tahanan dari jalan lahir.

Sehingga sering petugas belum siap untuk menolong persalinan dan ibu

mengejan kuat tidak terkontrol, kepala janin terjadi defleksi terlalu cepat.

Keadaan ini akan memperbesar kemungkinan terjadi laserasi perineum.

Penyebab partus presipitatus diantaranya adalah adanya his `yang terlalu

kuat dan terlalu sering yang disebut tetania uteri, kurangnya tahanan jalan

lahir pada saat proses persalinan (Manuaba, 2012).

Partus presipitatus jarang disertai dengan komplikasi maternal yang

serius jika serviks mengadakan penipisan serta dilatasi dengan mudah,

vagina sebelumnya sudah teregang dan perineum dalam keadaan lemas

(relaksasi). Namun demikian, kontraksi uterus yang kuat disertai serviks

yang panjang serta kaku, vagina dan vulva atau perineum yang tidak

23
teregang dapat menimbulkan ruptur uteri atau laserasi yang luas pada

serviks, vagina, vulva atau perineum. Mortalitas dan morbiditas perinatal

akibat partus presipitatus dapat meningkat cukup tajam karena beberapa hal:

Pertama, kontraksi uterus yang amat kuat dan sering dengan interval

relaksasi yang sangat singkat akan menghalangi aliran darah uterus dan

oksigenasi darah janin. Kedua, tahanan yang diberikan oleh jalan lahir

terhadap proses ekspulsi kepala janin dapat menimbulkan trauma

intrakranial meskipun keadaan ini seharusnya jarang terjadi. Ketiga, pada

proses kelahiran yang tidak didampingi, bayi bisa jatuh ke lantai dan

mengalami cidera atau memerlukan resusitasi yang tidak segera tersedia.

Persalinan cepat mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera

mengeluarkan buah kehamilan dengan segera sehingga pada pasca salin

menjadi lelah dan lemah untuk berkontraksi (Cunningham, 2011).

k. Kelainan plasenta

Plasenta akreta, plasenta previa dan plasenta lepas premature

mengakibatkan gangguan uterus untuk berkontraksi. Adanya benda asing

yang menghalangi kontraksi untuk memicu terjadinya perdarahan

(Wiknjosastro, 2010).

l. Anastesi atau analgesik yang kuat

Obat anastesi atau analgesi dapat menyebabkan otot uterus menjadi

dalam kondisi relaksasi yang berlebih, sehingga saat dibutuhkan untuk

berkontraksi menjadi tertunda atau terganggu. Demikian juga dengan

Magnesium Sulfat (MgSo4) yang digunakan untuk mengendalikan kejang

24
pada preeklampsi/eklampsi yang berfungsi sebagai sedativa atau penenang

(Oxorn, 2010).

m. Persalinan dengan induksi oksitosin

Induksi persalinan adalah pencetusan persalinan buatan. Augmentasi

persalinan menggunakan teknik dan obat yang sama dengan induksi

persalinan, tetapi dilakukan setelah kontraksi dimulai secara spontan.

Biasanya induksi persalinan hanya dilakukan jika ibu memiliki masalah

kebidanan atau jika ibu maupun bayinya memiliki masalah medis. Pada

induksi persalinan biasanya digunakan oksitosin, yaitu suatu hormon yang

menyebabkan kontraksi rahim menjadi lebih kuat. Hormon ini diberikan

melalui infus sehingga jumlah obat yang diberikan dapat diketahui secara

pasti. Selama induksi berlangsung, denyut jantung janin dipantau secara

ketat dengan menggunakan alat pemantau elektronik. Jika induksi tidak

menyebabkan kemajuan dalam persalinan, maka dilakukan operasi SC.

Pada augmentasi persalinan diberikan oksitosin sehingga kontraksi

rahim bisa secara efektif mendorong janin melewati jalan lahir. Kadang

terjadi kontraksi yang terlalu kuat, terlalu sering atau terlalu kuat dan

terlalu sering. Keadaan ini disebut kontraksi disfungsional hipertonik dan

sulit untuk dikendalikan. Jika hal ini terjadi akibat pemakaian oksitosin,

maka pemberian oksitosin segera dihentikan. Diberikan obat pereda nyeri

atau terbutalin maupun ritodrin untuk membantu menghentikan maupun

memperlambat kontraksi. Obat-obatan uterotonika yang digunakan untuk

25
memaksa uterus berkontraksi saat proses persalinan mengakibatkan otot

uterus menjadi lelah (Cunningham, 2011).

n. Anemia

Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Tarwoto dan Wasnidar

(2013), adalah sebagai berikut:

1) Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat

kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu keperluan zat besi

untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan

adalah pemberian tablet besi.


2) Anemia megaloblastik adalah anemia karena kekurangan asam

folat, jarang sekali terjadi anemia karena kekurangan Vitamin B12 dan

Air.
3) Anemia hipoplastik/aplastik adalah anemia yang disebabkan oleh

hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru.


4) Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan penghancuran

atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.

Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah,

kelelahan, kelemahan.
5) Anemia akibat gangguan fungsi ginjal yaitu gangguan atau gagal

ginjal kronis dapat menyebabkan terjadi penurunan dari produksi

eritropoetin (EPO), sehingga produksi sel darah merah pun akan menjadi

turun.
6) Anemia akibat anormalitas sel darah merah atau anemia bulan sabit

(Sickle Cell) adalah kondisi serius di mana sel-sel darah merah berbentuk

seperti bulan sabit, atau seperti huruf C. Sulit bagi sel darah merah

26
berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah terutama di bagian

pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini akan

tersangkut dan terjadilah penggumpalan, akibatnya umur sel darah merah

menjadi terlampau pendek, yaitu sekitar 10 - 20 hari, sehingga sel darah

merah yang beredar dalam tubuh akan selalu kekurangan dan akan

menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan organ tubuh.


7) Anemia akibat pengeluaran darah yang berlebih, perdarahan baik

akut maupun kronis dapat mengakibatkan terjadinya anemia. Contoh

pada perdarahan akut antara lain dapat disebabkan oleh trauma,

persalinan, contoh pada perdarahan kronis antara lain, batuk darah

kronis, menstruasi yang berkepanjangan.


Klasifikasianemia menurut Depkes RI (2011):
1) Tidak anemia : ≥ 11 gr%
2) Anemia : < 11 gr% )

Klasifikasi anemia menurut WHO:

1) Normal : ≤ 11 gr %

2) Anemia ringan : 9-10 gr %

3) Anemia sedang : 7-8 gr%

4) Anemia berat :< 7 gr%

Klasifikasi menurut Manuaba (2010):

1) Tidak anemia : Hb 11 gr %)

2) Anemia ringan : Hb 9-10 gr %

3) Anemia sedang : Hb 7-8 gr %

4) Anemia berat : Hb < 7 gr %

27
Anemia penyebab gangguan pembekuan darah yang mengakibatkan

tonus uterus terhambat untuk berkontraksi.

o. Salah pimpinan kala III

Kala III merupakan periode waktu dimulai setelah bayi lahir dan

berakhir pada saat plasenta seluruhnya sudah dilahirkan. Otot uterus

(miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus

setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya

ukuran tempat perlekatan plasenta. Tempat perlekatan menjadi semakin

mengecil, ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat,

menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta

akan turun ke bagian bawah uterus atau ke dalam vagina. Setelah plasenta

lahir, dinding uterus akan berkontraksi danmenekan semua pembuluh

darah sehingga akan menghentikan perdarahan dari tempat melekatnya

plasenta. Sebelum uterus berkontraksi, dapat terjadi kehilangan darah 350-

560 cc/menit dari tempat pelekatan plasenta.

Salah pimpinan kala III terjadi jika rahim di pijat-pijat untuk

mempercepat lahirnya plasenta. Kesalahan manajemen kala tiga

persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum

terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak

ritmik, pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat

menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta (Oxorn, 2010).

28
3. Tanda Dan Gejala

Tanda dan gejala atonia uteri adalah:

a. Perdarahan pervaginam
Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia uteri sangat banyak dan darah

tidak merembes.Yang sering terjadi adalah darah keluar disertai gumpalan,

hal ini terjadi karena tromboplastin sudah tidak mampu lagi sebagai anti

pembeku darah.
b. Konsistensi rahim lunak

Gejala ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang membedakan

atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya.

c. Fundus uteri naik

Disebabkan adanya darah yang terperangkap dalam kavum uteri dan

menggumpal.

d. Terdapat tanda-tanda syok

Tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin,

gelisah, mual dan lain-lain (Wiknjosastro, 2010).

4. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata

perdarahan masih aktif dan banyak, bergumpal dan pada palpasi didapatkan

fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek.

Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri didiagnosis, maka pada saat

itu juga masih ada darah sebanyak 500-1.000 cc yang sudah keluar dari

pembuluh darah, tetapi masih tertangkap dalam uterus dan harus

diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah pengganti.

29
5. Manajemen Atonia Uteri

a. Resusitasi

Apabila terjadi perdarahan postpartum banyak, maka penanganan awal

yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring

tanda-tanda vital, monitoring jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen.

Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk

persiapan transfusi darah.

b. Masase dan kompresi bimanual

Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang

akan menghentikan perdarahan. Pemijatan fundus uterus segera setelah

lahirnya plasenta (maksimal 15 detik).

1) Jika uterus berkontraksi

Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung,

periksa apakah perineum atau vagina dan serviks mengalami laserasi

dan jahit atau rujuk segera.

2) Jika uterus tidak berkontraksi maka :


a) Bersihkan bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina &

lubang serviks.
b) Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong.
c) Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
d) Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit,

keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan

ketat.
e) Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga

untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan

tangan perlahan-lahan; Berikan ergometrin 0,2 mg/IM (jangan

30
diberikan jika hipertensi), Pasang infus menggunakan jarum ukuran

16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500

ml pertama secepat mungkin, Ulangi KBI jika uterus berkontraksi,

pantau ibu dengan seksama selama kala IV. Jika uterus tidak

berkontraksi maka rujuk segera.

c. Uterotonika

Oksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus

posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya

meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya

reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan

meningkatkan frekuensi, tetapi pada dosis tinggi menyebabkan tetania

uteri.

Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif

diberikan lewat infus dengan ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi

kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek

samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan

vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.

Metilergonovin maleat merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat

menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan

secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum

1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan

(IM) atau IV bolus 0,125 mg. Obat ini dikenal dapat menyebabkan vaso

spasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan

31
vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.

Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil

prostaglandin F2alfa. Dapat diberikan secara intramiometrikal,

intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuskular, dan rektal.

Pemberian secara IM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai

dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk

mengatasi perdarahan postpartum (5 tablet 200 μg = 1 g). Prostaglandin ini

merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek

samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala,

hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus,

bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang

menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan

peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi

oksigen.

d. Operatif

Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka

keberhasilan 80-90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang

berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika

dilakukan SC, ligasi dilakukan 2-3 cm dibawah irisan segmen bawah

rahim.

1) Ligasi arteri Iliaka Interna

Identifikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk

melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral

32
paralel dengan garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke

medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka

interna dan eksterna. Hindari trauma pada vena iliaka interna.

Identifikasi denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan

sebelum dan sesudah ligasi. Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma

vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam melakukan

tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien.

2) Teknik B-Lynch

Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh

Christopher B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternatif untuk

mengatasi perdarahan postpartum akibat atonia uteri.

3) Histerektomi

Histerektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan

jika terjadi perdarahan postpartum masif yang membutuhkan tindakan


FAKTOR RISIKO ATONIA UTERI
operatif. Insidensi mencapai 7-13 per 10.000 kelahiran, dan lebih

banyak terjadi pada persalinan abdominal dibandingkan vaginal

(Cunningham, 2011).

B. Kerangka Teori 1. Peregangan uterus


berlebihan (gemeli,
Peregangan uterus berlebihan
Perdarahan Postpartum polihidramnion, makrosomia)
2. Umur
- Umur 3. Paritas
Etiologi 4. Jarak persalinan
- Paritas
Atonia Uteri 5. Partus lama
Atonia uteri 6. Partus presipitatus
- Persalinan buatan/tindakan 7. Persalinan dengan induksi
- Inversion oksitosin
uteri 8. Persalinan buatan/tindakan
- Retensio 33 (SC dan vakum ekstraksi)
9. Persalinan dengan kehamilan
plasenta
- Perdarahan lewat waktu (postterm)
10. Anemia
akibat trauma jalan
lahir
- Drip oksitosin

- Anemia

- Patus lama

- Kehamilan dengan mioma

uterus

- Persalinan lewat wakru

- Persalinan yang cepat 11. Kehamilan dengan


mioma
12. Infeksi intrapartum
13. Kelainan plasenta
14. Anastesi/analgesik kuat
15. Salah pimpinan kala III

Sumber : Modifikasi dari Gary Cunningham (2011) dan Hanifa Wiknjosastro


(2010)
FAKTOR RISIKO ATONIA UTERI

Gambar 1. Kerangka Teori

1. Peregangan uterus
berlebihan (gemeli,
polihidramnion, makrosomia)
C. KERANGKA
2. UmurKONSEP
3. Paritas
4. Jarak persalinan
5. Partus lama
6. Partus presipitatus
7. Persalinan dengan induksi
oksitosin
8. Persalinan buatan/tindakan
(SC dan vakum ekstraksi)
9. Persalinan dengan34
kehamilan lewat waktu
(postterm)
10 Anemia
ATONIA
UTERI

11.Kehamilan dengan
mioma
12. Infeksi Intrapartum
13. Kelainan plasenta
14. Anastesi/analgesik
kuat
15. Salah pimpinan

Keterangan
: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

Gambar 2. Kerangka Konsep

D. HIPOTESIS PENELITIAN

35
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara

terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang

terkumpul. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Ada hubungan antara peregangan uterus yang berlebihan (gemeli,

polihidramnion, makrosomia) dengan kejadian atonia uteri pada ibu

bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


2. Ada hubungan antara umur dengan kejadian atonia uteri pada ibu

bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


3. Ada hubungan antara paritas dengan kejadian atonia uteri pada ibu

bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


4. Ada hubungan antara jarak persalinan dengan kejadian atonia uteri

pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


5. Ada hubungan antara partus lama dengan kejadian atonia uteri

pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


6. Ada hubungan antara partus presipitatus dengan kejadian atonia

uteri pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


7. Ada hubungan antara persalinan dengan induksi oksitosin dengan

kejadian atonia uteri pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun

2013-2015.
8. Ada hubungan antara persalinan buatan/tindakan (SC dan vakum

ekstraksi) kejadian atonia uteri pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB

tahun 2013-2015.
9. Ada hubungan antara persalinan dengan kehamilan lewat waktu

(postterm) dengan kejadian atonia uteri pada ibu bersalin di RSUD

Provinsi NTB tahun 2013-2015.


10. Ada hubungan antara dan anemia dengan kejadian atonia uteri

pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.

36
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain

cross sectional survey. Penelitian observasional adalah penelitian dimana

37
peneliti hanya melakukan pengamatan tanpa melakukan intervensi terhadap

subyek penelitian (Sastroasmoro, 2010), sedangkan penelitian analitik adalah

suatu penelitian yang menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan

itu terjadi, kemudian dilakukan analisis dinamika korelasi antar fenomena

atau antara faktor risiko dengan faktor efek (Notoatmodjo, 2010).


Desain penelitian ini adalah cross sectional survey yaitu suatu desain

penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko

yaitu peregangan uterus berlebihan (gemeli, polihidramnion, dan

makrosomia), umur, paritas, jarak persalinan, partus lama, partus presipitatus,

persalinan dengan induksi oksitosin, persalinan buatan/tindakan (SC/vakum

ekstraksi), persalinan dengan kehamilan lewat waktu (postterm) dan anemia

dengan faktor efek yaitu atonia uteri dengan cara observasi atau

pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010).

Adapun jalannya penelitian sebagai berikut :

Ibu bersalin dengan


Perdarahan
Kejadian Atonia uteri

Faktor risiko Faktor risiko


(+) (-)

Gambar 3. Desain Penelitian

B. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi

38
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang mengalami

perdarahan di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015 sebanyak 604 kasus.


2. Sampel
Dari 604 kasus populasi terdapat 273 kasus ibu bersalin yang mengalami

perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri. Sehingga jumlah sampel

kasus dalam penelitian ini sebanyak 273 responden yang diambil

menggunakan teknik purposive sampling.

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi sampel pada penelitian ini adalah

sebagai berikut :
1) Kriteria inklusi
a) Seluruh ibu bersalin yang mengalami perdarahan di RSUD

Provinsi NTB tahun 2013-2015.


2) Kriteria eksklusi
a) Ibu bersalin dengan penyakit-penyakit sistemik seperti

penyakit TBC, jantung, asma, ginjal dan diabetes melitus.


C. Waktu dan Tempat
1. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2016.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Provinsi NTB dengan pertimbangan

yaitu RSUD Provinsi NTB merupakan rumah sakit rujukan dengan angka

kejadian perdarahan masih tinggi di tahun 2013 sebanyak 201 kasus dari

1025 persalinan (19,6%), pada tahun 2014 sebanyak 198 kasus dari 1044

persalinan (18,9%) dan sebanyak 205 kasus dari 1134 persalinan (25,1%)

pada tahun 2015.

D. Variabel Penelitian

39
Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda

terhadap sesuatu (benda, manusia dan lain-lain). Variabel adalah ukuran atau

ciri yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang

dimiliki oleh kelompok yang lain (Notoatmojo, 2010).


Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu :
1. Variabel bebas (Independent)
Variabel bebas/independent adalah variabel yang nilainya menentukan

variabel lain. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah faktor

peregangan uterus berlebihan (gemeli, polihidramnion, dan makrosomia),

umur, paritas, jarak persalinan, partus lama, partus presipitatus, persalinan

dengan induksi oksitosin, persalinan buatan/tindakan (SC/vakum

ekstraksi), persalinan dengan kehamilan lewat waktu (postterm) dan

anemia.
2. Variabel tergantung (Dependent)
Variabel tergantung/dependent adalah variabel yang nilainya ditentukan

oleh variabel lain. Dalam penelitian ini variabel dependent adalah kejadian

atonia uteri.
E. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud,

atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo,

2010).

Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian


NO VARIABEL DEFINISI PARAMETER SKALA
. OPERASIONAL DATA
1. Atonia uteri Ketidakmampuan uterus 1 = Atonia uteri Nominal
untuk berkontraksi 0 = Tidak atonia
sebagaimana mestinya pada uteri
kala IV setelah plasenta
lahir.
Data atonia uteri diperoleh
berdasarkan diagnosa

40
dokter yang tercatat dalam
rekam medik pasien tahun
2013-2015.

2. Peregangan Peregangan uterus yang 1 = Peregangan Nominal


uterus berlebih berlebihan oleh karena uterus
(gemeli, adanya polihidramnion, berlebihan
polihidramnion gemeli atau makrosomia. 0 = Tidak
dan makrosomia) Pengukuran variabel ini ya peregangan
jika pada status pasien uterus
ditemukan peregangan berlebihan
uterus yang berlebihan oleh
karena polihidramnion atau
gemeli atau makrosomia.
Kategori peregangan uterus
berlebihan diambil salah
satu baik gemeli,
polihidramnion dan
makrosomia yang sudah
disesuaikan dengan SOP di
RSUD Provinsi NTB
berkaitan dengan
kehamilan/persalinan risiko
tinggi. Data tercatat dalam
rekam medik pasien tahun
2013-2015.

3. Umur Umur ibu yang tercatat 1 = Berisiko (< 20 Nominal


pada rekam medik dalam tahun atau >
satuan tahun saat 35 tahun)
melahirkan. 0 = Tidak berisiko
Kategori umur ibu sesuai (20-35 tahun)
dengan SOP di RSUD
Provinsi NTB berkaitan
dengan
kehamilan/persalinan risiko
tinggi. Data umur tercatat
dalam rekam medik pasien
Lanjutan Tabel 2. Definisi Operasional
tahun 2013-2015.Variabel Penelitian

4. Paritas Paritas ibu adalah jumlah 1= Berisiko (1


persalinan yang sudah atau ≥ 4)
terjadi pada ibu termasuk 0= Tidak berisiko
persalinan yang baru (2 dan 3)
dialami yang tercatat dalam

41
status pasien.
Kategori paritas sesuai
SOP di RSUD Provinsi
NTB. Data tercatat dalam
rekam medik pasien tahun
2013-2015.

5. Jarak persalinan Jarak waktu persalinan 1 = < 2 tahun Nominal


yang dialami sekarang 0 = ≥ 2 tahun
dengan persalinan
sebelumnya dgn melihat
tanggal, bln dan tahun
kelahiran anak yang
terakhir yang tercatat dalam
rekam medik dengan
persalinan sebelumnya.
Kategori jarak persalinan
sesuai dengan SOP di
RSUD Provinsi NTB
berkaitan dengan kehamilan
risiko tinggi. Data tercatat
dalam rekam medik pasien
tahun 2013-2015.

6. Partus lama Persalinan yang 1 = Partus lama Nominal


berlangsung lebih dari 24 (> 18 jam)
jam untuk primigravida dan 0 = Partus tidak
atau lebih dari 18 jam untuk lama (≤ 18
multigravida. Cara jam)
menghitung lamanya
persalinan adalah dihitung
dari saat ibu merasakan
tanda-tanda awal persalinan
yaitu adanya rasa sakit
disekitar pinggang, blood
slym, pembukaan serviks,
sampai lahirnya bayi yang
tercatat pada status pasien.
- Fase laten : dimulai saat
ada kontraksi yang teratur
sampai pembukaan
serviks > 4 cm
(berlangsung ± 8 jam).
- Fase aktif : dimulai saat
pembukaan 4 cm sampai

42
Lanjutan Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
pembukaan 10 cm
(berlangsung ± 6 jam.
Pada primi 1 cm/jam,
multi 2 cm/jam)
- Kala II : dimulai dari
pembukaan 10 cm sampai
saat bayi lahir (primi
berlangsung ± 2 jam,
multi ± ½ jam).
Kategori partus lama sesuai
dengan SOP di RSUD
Provinsi NTB berkaitan
dengan
kehamilan/persalinan risiko
tinggi. Data partus lama
tercatat dalam rekam medik
pasien tahun 2013-2015.

7. Partus Persalinan yang terjadi ibu 1=Partus Nominal


presipitatus yang sangat cepat yakni presipitatus (<
kurang dari 3 jam dari 3 jam)
pembukaan 3 cm sampai 0=Tidak partus
bayi lahir yang tercatat pada presipitatus (≥
status pasien. 3 jam)
Kategori partus presipitatus presipitatus
sesuai dengan SOP di
RSUD Provinsi NTB
berkaitan dengan
kehamilan/persalinan risiko
tinggi. Data tercatat dalam
rekam medik pasien tahun
2013-2015.

8. Persalinan Proses persalinan yang 1 = Persalinan Nominal


dengan induksi berlangsung menggunakan dengan induksi
oksitosin induksi dengan oksitosin oksitosin
untuk menambah aktivitas 0 = Persalinan
uterus agar didapatkan tanpa induksi
pendataran, dilatasi serviks oksitosin
dan penurunan bagian (persalinan
terendah janin lebih normal)
progresif.
Data persalinan dengan
induksi oksitosin sesuai
dengan SOP di RSUD

43
Provinsi NTB dan tercatat
dalam rekam medik pasien
tahun 2013-2015.
Lanjutan Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

9. Persalinan Proses persalinan pada ibu 1= Persalinan Nominal


buatan/tindakan dengan bantuan dari tenaga buatan/tindaka
(SC/ vakum luar yaitu SC dan atau n (SC/VE)
ekstraksi) vakum ekstraksi yang 0= Persalinan
tercatat pada status pasien. spontan
Kategori persalinan
buatan/tindakan sesuai
dengan SOP di RSUD
Provinsi NTB berkaitan
dengan
kehamilan/persalinan risiko
tinggi. Data persalinan
buatan/tindakan tercatat
dalam rekam medik pasien
tahun 2013-2015.

10. Persalinan Persalinan yang terjadi pada 1 = Persalinan > Nominal


dengan kehamilan lewat waktu 42 minggu
kehamilan lewat (postterm) yaitu melewati (postterm)
waktu (postterm) 294 hari atau lebih dari 42 0 = Persalinan ≤
minggu. 42 minggu
Data persalinan dengan (aterm)
kehamilan postterm sesuai
SOP di RSUD Provinsi
NTB berkaitan dengan
kehamilan/persalinan risiko
tinggi. Data tercatat dalam
rekam medik pasien tahun
2013-2015.

11 Anemia Anemia adalah kadar 1=Anemia (kadar Nominal


hemoglobin ibu saat masuk Hb < 11 gr/dl)
RS < 11 gr/dl. Adapun 0= Tidak anemia
kriteria anemia yaitu tidak (≥ 11 gr/dl)
anemia : ≥ 11 gr% dan
anemia : < 11 gr% ).
Kategori anemia sesuai
dengan SOP di RSUD
Provinsi NTB berdasarkan
kehamilan/persalinan risiko

44
tinggi dan
tercatat dalam rekam medik
pasien tahun 2013-2015.

F. Instrumen dan Bahan penelitian


Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah format

pengumpulan data yang mencakup: nomor responden, nomor rekam medik,

peregangan uterus berlebihan (gemeli, polihidramnion, makrosomia), umur,

paritas, jarak persalinan, partus lama, partus presipitatus, persalinan dengan

induksi oksitosin, persalinan buatan/tindakan (SC/vakum ekstraksi),

persalinan dengan kehamilan lewat waktu (postterm) dan anemia.


G. Jenis dan Cara pengumpulan data
1. Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang

diambil dari catatan rekam medik (RM) ibu bersalin dengan perdarahan

karena atonia uteri di RSUD Provinsi NTB tahun 2013-2015.


2. Cara pengumpulan data
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data yaitu dengan:
a. Mengidentifikasi nomor rekam medik ibu bersalin dengan

perdarahan di RSUD Provinsi NTB.


b. Melihat rekam medik ibu bersalin yang mengalami atonia uteri di

RSUD Provinsi NTB.


c. Melakukan pencatatan data yang dibutuhkan dengan menggunakan

format pengumpulan data.


d. Melakukan pengolahan dan analisis data serta penyusunan laporan

hasil penelitian setelah seluruh data yang diperlukan dari seluruh

subyek terkumpul.
H. Prosedur penelitian
1. Langkah awal

45
Sebelum mengumpulkan data di lapangan, dilakukan persiapan penelitian

sebagai berikut :
a. Permintaan surat ijin penelitian dari Ketua Jurusan Kebidanan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta yang ditujukan kepada direktur

RSUD Provinsi NTB sebagai lokasi penelitian.


b. Membuat ethical clearance yang didapat dari Komite Etik

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.


c. Persiapan format pengumpulan data yang digunakan sebagai alat

ukur untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian

atonia uteri pada ibu bersalin di RSUD Provinsi NTB.


d. Kunjungan ke rumah sakit lokasi penelitan untuk menjelaskan

maksud penelitian kepada direktur, kabid Diklat, dokter SPOG dan

kepala ruang bersalin.


e. Meminta rekomendasi kepada direktur RSUD Provinsi NTB untuk

bagian rekam medik sehingga dapat mengumpulkan data

menggunakan format pengumpulan data yang diambil dari rekam

medik pasien.
f. Mengumpulkan data di rekam medik dengan bantuan tim peneliti

yang merupakan teman sejawat bidan berjumlah 3 (tiga) orang.

I. Manajemen Data
1. Pengolahan data
Langkah pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Editing (memeriksa data), yaitu memeriksa kelengkapan data dan

kebenaran data yang dicatat dalam format pengumpulan data. Peneliti

melakukan koreksi pada ketidaklengkapan ataupun kesalahan

pencatatan data berdasarkan data pada rekam medis.

46
b. Coding (memberikan kode), yaitu memberi kode pada data dengan

cara memberi angka pada faktor efek yaitu kejadian atonia uteri,

maupun pada faktor risiko yaitu peregangan uterus berlebihan

(gemeli, polihidramnion, makrosomia), umur, paritas, jarak persalinan,

partus lama, partus presipitatus, persalinan dengan induksi oksitosin,

persalinan buatan/tindakan (SC/vakum ekstraksi), persalinan dengan

kehamilan lewat waktu (postterm) dan anemia sebagai berikut :


1) Faktor peregangan uterus berlebihan
1 = Peregangan uterus berlebihan
0 = Tidak terdapat peregangan uterus berlebihan
2) Faktor umur
1 = Berisiko (< 20 tahun atau >35 tahun)
0 = Tidak berisiko (20-35 tahun)
3) Faktor paritas
1 = Berisiko (paritas 1 atau ≥ 4 )
0 = Tidak berisiko (paritas 2 dan 3)
4) Faktor jarak persalinan
1 = < 2 tahun
0 = ≥ 2 tahun
5) Faktor partus lama
1 = Partus lama (> 18 jam)
0 = Partus tidak lama (≤ 18 jam)
6) Faktor partus presipitatus
1 = Partus presipitatus (< 3 jam)
0 = Tidak partus presipitatus (≥ 3 jam)
7) Faktor persalinan dengan induksi oksitosin
1 = Persalinan dengan induksi oksitosin
0 = Persalinan tidak dengan induksi oksitosin (persalinan

normal)
8) Faktor persalinan buatan/tindakan (SC/vakum ekstraksi)
1 = Persalinan buatan/tindakan (SC/vakum ekstraksi)
0 = Persalinan spontan
9) Faktor persalinan dengan kehamilan lewat waktu
1 = Persalinan dengan kehamilan lewat waktu ( > 42 minggu

)
0 = Persalinan aterm (≤ 42 minggu)
10) Faktor anemia
1 = Anemia (kadar Hb < 11 gr/dl)

47
0= Tidak anemia (≥ 11 gr/dl)
c. Transfering (memindahkan data), yaitu memindahkan data

kedalam master tabel selanjutnya dientri dengan menggunakan program

komputer yang sudah baku.


d. Tabulating (menyusun data), adalah penataan data kemudian

menyusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.


2. Analisis data
Analisis data ini dilakukan dengan menggunakan program komputer yang

meliputi analisis univariat dan bivariat


a. Analisis Univariat
Analisis data secara univariat dilakukan untuk melihat gambaran

distribusi frekuensi masing-masing variabel penelitian, baik variabel

independent maupun variabel dependent dengan menggunakan

persentase dengan melihat gambaran distribusi frekuensinya dalam

bentuk tabel.
b. Analisis Bivariat
Analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkolerasi yang bertujuan untuk mengetahui apakah

ada hubungan antara variabel independent dan variabel dependent yang

diteliti (Notoatmodjo, 2010).


Uji statistik yang dilakukan adalah uji beda proporsi dengan

menggunakan chi-Square (X²) dengan tingkat kepercayaan 95% untuk

melihat hubungan bermakna atau tidak bermakna antara variabel

independent dan variabel dependent pada batas kemaknaan α = 0,05

dengan pengertian apabila P-value < 0,05 hubungan bermakna,

sedangkan apabila P-value > 0,05 hubungan tidak bermakna secara

statistik.
J. Etika Penelitian

48
Menurut Suyatno, Kepala Bidang Analisis Budaya dan Etika Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi, dalam paparannya menyampaikan 10 asas

penelitian, antara lain honesty, social responsibility, carefulness, legality,

openness, freedom, mutual respect, credit, efficiency, education (Kementrian

Riset dan Teknologi, 2012).


Adapun penjelasan mengenai etika dalam penelitian ini meliputi 10 asas

yang telah disebutkan di atas, antara lain :


1. Honesty (kejujuran)
Kejujuran dalam penelitian ini meliputi tidak ada plagiarism (dinyatakan

dalam keaslian penelitian), pelaksanaan penelitian tidak dilaksanakan jauh

dari metode penelitian yang sudah dijelaskan secara lengkap, tidak

mengubah data, dan tidak menggunakan data fiktif.


2. Social responsibility (tanggung jawab sosial)
Tanggung jawab sosial dalam penelitian ini meliputi peneliti meneliti

permasalahan yang menonjol di tempat peneliti bekerja yaitu RSUD

Provinsi NTB dan mengikutsertakan teman sejawat dalam penelitian ini.


3. Carefulness (ketelitian)
Ketelitian dalam penelitian ini meliputi menyamakan persepsi tentang

maksud dan tujuan dari penelitian dalam tim penelitian dan tidak

menggunakan sampel dengan catatan medik yang tidak lengkap.


4. Legality (legalitas)
Legalisasi dalam penelitian ini akan diperoleh dengan cara mengikuti semua

prosedur penelitian, antara lain penyusunan proposal dengan bimbingan dari

pembimbing, kemudian selanjutnya hasil penyusunan proposal akan diuji di

depan Dewan Penguji, sehingga akan mendapat ethical clearance dari

Komite Etik Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, dan akan mendapatkan ijin

dari tempat penelitian (RSUD Provinsi NTB).


5. Openness (keterbukaan)

49
Penelitian ini bersifat Overt Research (penelitian terbuka), artinya penelitian

dilakukan secara terbuka untuk umum dan semua orang tahu siapa kita dan

apa yang kita lakukan dalam penelitian tersebut (Rahardjo, 2012).


Penelitian ini menggunakan data sekunder melalui buku register dan laporan

kasus di ruang bersalin RSUD Provinsi NTB, dan catatan rekam medik

pasien. Sehingga untuk memenuhi asas ini, peneliti akan menyampaikan

maksud dan tujuan prosedur penelitian kepada institusi tempat penelitian

yaitu RSUD Provinsi NTB dan hasil penelitian akan diinformasikan melalui

naskah publikasi.
6. Freedom (kebebasan)
Untuk memenuhi asas kebebasan, dalam penelitian ini peneliti akan

mengambil data atas ijin institusi tempat penelitian (RSUD Provinsi NTB).

Dan apabila dalam proses penelitian ini, rumah sakit merasa dirugikan,

maka boleh menolak kelanjutan dari penelitian ini.


7. Mutual respect (saling menghormati)
Penelitian ini akan dilakukan dengan cara saling menghormati dan

merahasiakan identitas maupun informasi yang diperoleh dari catatan medik

pasien. Dan data yang diambil hanya sesuai dengan data yang diperlukan

dalam penelitian tanpa mengambil informasi yang bersifat sensitif yang

dapat merugikan rumah sakit (Rahardjo, 2012).


8. Credit (bahan masukan)
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan referensi

untuk penelitian selanjutnya.


9. Efficiency (efisien)
Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan studi cross sectional

untuk mencari faktor yang paling dominan yang mempengaruhi kejadian

atonia uteri dari beberapa faktor yang ada. Desain tersebut dipertimbangkan

berdasarkan jarangnya insiden faktor kasus maupun faktor efek, sehingga

50
penulis menggunakan data sekunder agar lebih efisien, mengingat

keterbatasan waktu dan tenaga untuk melakukan penelitan prospektif pada

kasus tersebut.
10. Education (pendidikan)
Hasil penelitian ini akan bernilai pendidikan, karena informasi yang

disajikan bersifat ilmiah dan verifikatif (mendukung/membuktikan teori),

tanpa ada unsur himbauan terhadap perilaku negatif.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2014. Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2014.
Jakarta. www.bps.go.id. Diunduh Juni 2016.

B-Linch, Christoper., Louis G. Keith, Andre B Lalonde., Mahantesh Karoshi.


2006. A Text Book of Postpartum Hemorrhage. United Kingdom:
Sapiens Publishing.

Chapman, Vicky.2006. The Midwife’s Labour & Birth Handbook. Jakarta:


EGC.

Cunningham, F. Gary., Gant, Norman F., Leveno, Kenneth J., Gilstrap III,
Larry C.,Hauth, John C., Wenstrom, Katharine D. 2011. Obstetri
Williams.Vol.7. Edisi 21. Jakarta: EGC.

Depkes RI .2014. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014. www.depkes.go.id.


Di unduh Mei 2016.

Dinkes Prov. NTB. 2012. Profil Kesehatan Dinkes NTB dalam Upaya
Percepatan Penurunan AKI dan AKB di NTB. NTB: Dinas Kesehatan
Provinsi Nusa Tenggara Barat.

51
Gulardi, H. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar
(PONED). Jakarta: JNPK-KR.

JNPKR-KR. 2007. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: EGC.

Kementrian Riset dan Teknologi. 2012. Pedoman Etika Penelitian untuk


Meningkatkan Kualitas Peneliti. www.ristek.go.id. Diunduh Juni 2016.

Lucinda.2010. Hubungan Karakteristik Ibu Bersalin dengan Kejadian


Perdarahan Postpartum karena Atonia Uteri.
www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/207311090/Abstrak.pdf.
Diunduh tanggal Mei 2016.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Ed. 2. Jakarta: EGC.

Manuaba, I.B.Gde., I.A, Chandranita. 2012. Gawat Darurat Obstetri-


Ginekologi & obstetric-ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta:
EGC.

Mousa HA, Blum J, Abou El Senoun G, Shakur H, Alfirevic Z. 2014.


Treatment for primary postpartum haemorrhage. Cochrane Database Syst
Rev. 2014 Feb 13; (2):CD003249. Epub 2014 Feb 13.

Notoatmojo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi.


Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Oxorn, Harry. 2010. Ilmu Kebidanan: Fisiologi dan Patologi Persalinan.


Jakarta: Yayasan Essentia Medica (YEM).

Pardosi, Maida. 2005. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan


perdarahan pasca-persalinan dan upaya penurunannya. Medan. USU
Institutional Repository (USU-IR).
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19654/1/pan-jul2006-
%20%286%29.pdf .

Praptisari, ayu., Idayani., Putu, Nita. 2012. Atonia Uteri kala III. Yogyakarta:
http://cahyatoshi12.com/2012/01/atonia-uteri.html. Diunduh Mei 2016.

52
Purwanti. 2015. Determinan penyebab perdarahan karena atonia uteri. Jurnal
Prada. ISSN 2087-6874 volume VI nomor 1 Juni 2015.

Rahardjo, Mudjia. 2012. Etika Penelitian. www.mudihardjo.com. Diunduh Juni


2016.

Roslyana, Sri., Sofwal, Widad. 2011. Risk Factors Early Postpartum


Haemorrhage at Sukadana Hospital, District East Lampung. The Faculty
of Medicine publishes journals. April 29, 2016 - Views: 2.http://obgin-
ugm.co,/wp/content/uploads/201207/Sri-Roslyana-naskah- publikasi.pdf .

Sastroasmoro, Sudigdo. 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.


Edisi-4. Jakarta: EGC.

Tarwoto., Wasnidar. 2013. Buku Saku Anemia pada Ibu Hamil, Konsep dan
Penatalaksanaan. Jakarta: Trans Info Media.

Trisnawati, Yuli. 2015. Pengaruh Umur dan Jarak Kehamilan Terhadap


Kejadian Perdarahan karena Atonia Uteri. Purwokerto.
http://seminarlppm.ump.ac.id/index.php/semlppm/article/view/187.
Diunduh Mei 2016.

Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Vol. 1 Edisi 4. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.

Wetta, Luisa A., Jeff, Szychowski. 2013. Risk Factors for Uterine
Atony/Postpartum Hemorrhage Requiring Treatment after Vaginal
Delivery. Birmingham. Am J Obstet Gynecol. 2013 Jul;209(1):51.e1-6.
doi: 10.1016/j.ajog.2013.03.011. Epub 2013 Mar 15.

Wiknjosastro, Hanifa. 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Wiknjosastro, Hanifa. 2010. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo.


Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Zuberi, Nadeen F. 2007. Uterine Atony at a Tertiary Care Hospital in


Pakistan: A Risk Factor Analysis Uterine Atony at a Tertiary Care Hospital
in Pakistan: A Risk Factor analysis. Pakistan: Journal of Pakistan Medical

53
Association. Department of Obstetrics and Gynaecology, The Aga
Khan University Karachi. April. jpma.org.pk/full_article_text.php?
article_id=3005.

54
LAMPIRAN

LAMPIRAN 4

RENCANA ANGGARAN PENELITIAN

No Kegiatan BAHAN DAN ALAT BIAYA


1. Penyusunan proposal skripsi Penggandaan, penjilidan dan Rp 200.000
transportasi
2. Seminar proposal skripsi Penggandaan, penjilidan Rp 100.000
3. Revisi proposal skripsi Penggandaan dan penjilidan Rp 100.000
4. Perijinan penelitian Biaya penelitian Rp 500.000
5. Persiapan penelitian Persiapan bahan Rp 100.000
6. Pelaksanaan penelitian Transportasi dan akomodasi Rp 500.000
7. Laporan skripsi Pengetikan dan penjilidan Rp 150.000
8. Sidang skripsi Penggandaan Rp 50.000
9. Revisi skripsi Pengetikan dan penjilidan Rp 100.000
10. Biaya tak terduga Rp 150.000
JUMLAH Rp 1.950.000

55
LAMPIRAN 2

FORMAT PENGUMPULAN DATA

No. Responden :
No. RM :
Nama Responden :
Tanggal/jam MRS :

NO VARIABEL KETERANGAN
1. Jenis kehamilan

1. Jenis kehamilan (Tunggal/gameli)

2. Berat badan lahir bayi

56
3. Jumlah air ketuban
1= Polihidramnion (> 2000 cc)
0 = Normal (≤ 2000 cc)

4. Umur ibu
1 = Berisiko (< 20 tahun atau > 35 tahun)
0 = Tidak berisiko (20-35 tahun)

5. Paritas
1 = Berisiko (paritas 1 atau lebih dari 4)
0 = Tidak berisiko (paritas 2 dan 3)

6. Jarak persalinan dengan anak terakhir`


1 = < 2 tahun
0 = ≥ 2 tahun

7. Tahapan persalinan
a. Fase laten
- Tanggal : ……………………………, Jam : ……..
- Pembukaan : ……….cm
b. Fase aktif
- Tanggal : ……………………………, Jam : ……..
- Pembukaan : ……….cm
c. Fase persalinan
- Tanggal : ……………………………, Jam : ……..

LAMPIRAN 2 (lanjutan)

8. Partus presipitatus
1 = Mulai inpartu sampai kala II/persalinan < 3 jam
0 = Mulai inpartu sampai kala II/persalinan ≥ 3 jam
9. Persalinan dengan induksi oksitosin
1 = Persalinan dengan induksi oksitosin
0 = Persalinan tidak dengan induksi oksitosin

10 Jenis persalinan (Spontan/SC/VE)


1 = Persalinan tindakan/buatan(SC/VE)
0 = Persalinan normal/ spontan
11.Perkiraan umur kehamilan saat persalinan
1 = ≥ 42 minggu
0 = < 42 minggu
12. Status anemia
1 = Anemia (kadar Hb < 11 gr/dl)
0 = Tidak anemia (kadar Hb ≥ 11 gr/dl)

57
58