Anda di halaman 1dari 19

KARYA TULIS

“MUSEUM MERAPI SEBAGAI PENDIDIKAN KEBENCANAAN”


Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
Yang Diampu oleh :
Anggoro Putranto, S.Pd., M.Sc

Oleh :
1. Mahda Safitri (12209173038)
2. Ella Nur Afifah (12209173086)
3. Aufa Nur Fahmidah (12209173093)
4. Vitri Diasukmawat i (12209173096)

PROGRAM STUDI TADRIS IPS


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puja dan puji
syukur penulis panjatkan kehadirat-Nya sehingga penulis dapat merampungkan penyusunan
Karya Ilmiah dengan judul “Museum Merapi sebagai Pendidikan Kebencanaan ” tepat pada
waktunya. Penulisan karya ilmiah ini ini telah semaksimal mungkin penulis upayakan dan
didukung bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancarkan dalam penyusunannya.
Untuk itu tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam pembuatan makalah.

Namun tidak lepas dari semua itu penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang
dada penulis membuka pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi
memperbaiki makalah ini. Akhirnya penulis sangat mengharapkan semoga dari makalah
sederhana ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan penulis dapat menginspirasi para
pembaca untuk mengangkat permasalahan lain yang berkaitan pada makalah-makalah
selanjutnya.

Tulungagung, November 2019

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................................ii
BAB I..........................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.......................................................................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................................................................1
C. Tujuan..............................................................................................................................................2
BAB II.........................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN.........................................................................................................................................3
A. Sejarah Museum Gunung Merapi....................................................................................................3
B. Manajemen Kebencanaan Menghadapi Bencana Gunung Merapi...................................................4
C. Mitigasi Bencana.............................................................................................................................7
D. Peran Sistem Informasi Geografi Dalam Bidang Kebencanaan.......................................................8
E. Partisipatif Masyarakat dalam kegiatan Mitigasi Bencana...............................................................9
F. Recovery Pasca Bencana Meletusnya Gunung Merapi..................................................................10
G. Tata Ruang Wilayah Pada Kawasan Rawan Bencana....................................................................11
H. Strategi Penghidupan.....................................................................................................................13
BAB III......................................................................................................................................................15
PENUTUP.................................................................................................................................................15
A. Kesimpulan....................................................................................................................................15
B. Saran.................................................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................16

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Museum Gunung Merapi terdapat di Yogyakarta tepatnya Jln. Boyong, Dusun


Banteng, Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta [1]
sekitar lima kilometer dari kawasan objek wisata Kaliurang. Museum Gunung Merapi
telah diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro. Dengan luas bangunan sekitar 4,470 yang
berdiri di atas tanah seluas 3,5 hektare, museum yang ke depan juga akan dilengkapi
dengan taman, area parkir, dan plasa ini ingin dikenal masyarakat sebagai Museum
Gunungapi Merapi dengan semboyan Merapi Jendela Bumi
Museum Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan,
penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi
lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk
memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan
lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya.
Museum Gunungapi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang
sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam
upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan
kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan
gunungapi serta bencana geologi lainnya

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah berdirinya Museum Gunung Merapi?


2. Bagaimana Manajemen Kebencanaan Meletusnya Gunung Merapi?
3. Bagaimana mitigasi bencana meletusnya Gunung Merapi?
4. Apa peran sistem informasi geografis dalam bidang kebencanaan?
5. Bagaimana partisipatif masyarakat terkait kebencanaan?
6. Bagaimana recovery pasca bencana?
7. Bagaimana tata ruang wilayah pada kawasan rawan bencana?
1
8. Bagaimana strategi penghidupan daerah yang rawan bencana?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Museum Gunung Merapi?


2. Untuk mengetahui Manajemen Kebencanaan Meletusnya Gunung Merapi?
3. Untuk mengetahui mitigasi bencana meletusnya Gunung Merapi?
4. Untuk mengetahui peran sistem informasi geografis dalam bidang kebencanaan?
5. Untuk mengetahui partisipatif masyarakat terkait kebencanaan?
6. Untuk mengetahui recovery pasca bencana?
7. Untuk mengetahui tata ruang wilayah pada kawasan rawan bencana?
8. Untuk mengetahui strategi penghidupan daerah yang rawan bencana?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Museum Gunung Merapi

Museum Gunung Merapi didirikan sebagai wahana edukasi konservasi yang


berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan
bencana alam lainnya. Juga sebagai sebuah wahana wisata lokal baru yang berada
dikawasan lereng Merapi, Museum ini terletak di Dusun Banteng, Desa Hargobinangun,
Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Bangunan museum yang berbentuk limasan
segitiga tidak beraturan dibangun sesuai filosofi bangunan Jawa (Yogyakarta) serta
wilayah Gunung Merapi yang berwujud kombinasi teknologi dan budaya yang
disesuaikan dengan aturan adat (Pakem) mengikuti garis lurus, Terdiri dari gunung
Merapi, Tugu Yogyakarta, Kraton Yogyakarta serta laut selatan.
Memasuki pintu masuk, pengunjung akan dihadapkan pada sebuah miniature
Gunung Merapi berukuran besar yang terus menerus mengeluarkan asap dan
memuntahkan magma. Tak ketinggalan pula terdengar bunyi gemuruh yang menggelegar
dari gunung tersebut. Selain itu, terdapat tiga tombol yang masing-masing
bertuliskantahun 1969, 1994, dan 2006. Jika Anda memencet salah satu tombol, maka
secara otomatis sebaran aliran magma akan berubah sesuai dengan kejadian yang terjadi
pada tahun tersebut.
Selanjutnya memasuki zona dunia gunung api. Di zona ini terdapat berbagai foto
dokumentasi dan alat peraga tentang fenomena kegunungapian yang ada di seluruh dunia.
Foto-foto dan alat peraga tersebut disajikan lengkap dengan keterangan dalam dua
bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Selanjutnya menuju zona khusus Gunung Merapi. Menyajikan informasi
eksklusif tentang Gunung Merapi. Mulai dari fenomena pertumbuhan kubah Gunung
Merapi, mitos seputar Gunung Merapi, pos pengamatan Gunung Merapi dari era Belanda
hingga era modern, dan masih banyak lagi. Semua disajikan dalam gambar dan foto yang

3
menarik. Tak hanya itu, di zonatersebut juga ditunjukkan bagaimana caranya
menyelamatkan diri dari ancaman bahaya gunung api yang meletus.
Dan satu hal lagi yang semakin menarik, bahwa setelah erupsi merapi tahun 2010
lalu, Museum merapi mempunyai tambahan koleksi baru, yaitu 2 ( buku tamu mbah
Maridjan , dan kopian layang kekancingan)dari pihak Kraton kepada Mbah Maridjan
sebagai juru kunci Gunung Merapi.
Bahkan yang belum banyak diketahui bahwa wisatawan yang berkunjung ke
museum ini juga sekaligus dapat menikmati dan melihat secara langsung panorama
gunung Merapi, tepatnya di lantai dua sebelah belakang. Bahkan ditempat tersebut juga
disediakan teropong bagi wisatawan yang ingin memanfaatkannya. Di hadapan
kemegahan Gunung Merapi, museum ini didirikan dengan niat untuk didedikasikan
sebagai perekam jejak gunung api tua ini. Memori dari tiap letusan tersimpan rapi,
bahkan gemuruh suaranyanya pun dapat didengar berkali-kali. Di museum ini, Gunung
Merapi dikagumi sebagai pemberi pelajaran berarti.
Museum Gunung Merapi merupakan salah tempat yang dibangun untuk menjadi
sarana pembelajaran tentang gunung teraktif di dunia ini. Di museum ini pengunjung
dapat mempelajari banyak hal mengenai Gunung Merapi. Baik dari sisi legenda, kearifan
lokal, sejarah panjang letusannya, bahkan sampai melihat sisa-sisa efek dasyat letusan
yang membuat merinding. Sebagai negara yang berada di lokasi paling aktif dari ring of
fire vulkanik bumi, tentu pemahaman kebencanaan geologi adalah hal yang penting untuk
diberikan kepada masyarakat. Salah satu langkah untuk memberikan pemahaman
pentingnya upaya mitigasi bencana, maka dibangunlah Museum Gunung Merapi
ini.Terletak di kaki Merapi yang sejuk, Museum Gunung Merapi memiliki arsitektur
bangunan yang khas, berupa segitiga yang menyerupai gunung. Saat cuaca cerah,
pengunjung bisa menyaksikan gunung merapi nan gagah dari pelataran museum.1

B. Manajemen Kebencanaan Menghadapi Bencana Gunung Merapi

1. Pengurangan Pencegahan ( Mitigation )


Dalam tahap mitigation BPBD Kabupaten Sleman melakukan upaya pengurangan
resiko dan dampak dari erupsi Merapi dengan melakukan pembuatan talud banjir,

1 Dinas kebudayaan daerah istimewa yogyakarta,koleksi unggulan museum yogyakarta.,2014,Indonesia.

4
pembuatan kantong lahar atau dam, pemasangan Early Warning System (EWS) atau
dikenal dengan sistem peringatan dini dan pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi.
Namun dalam pelaksanannya kegiatan dalam bidang mitigation masihmengalami kendala
yaitu kendala anggaran.
2. PerencanaanPersiapan ( Preparedness )
Perencanaan kegiatan atau yang disebut Rengiat dilakukan oleh Seksi
Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sleman dengan didasarkan pada hasil analisis resiko
kemudian disusun kegiatan yang memang diperlukan untuk memperkuat kapasitas
masyarakat dalam menghadapi erupsi Gunung Merapi. Perencanaan ini juga dilakukan
untuk menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia serta untuk menyesuaikan dengan
bidang-bidang yang lain karena dalam pelaksanaannya upaya preparedness melibatkan
personil lintas bidang.
Dan juga Kegiatan persiapan menghadapi erupsi Gunung Merapi dilakukan oleh
BPBD Kabupaten Sleman dengan berbagai kegiatan seperti pemantauan di Gunung
Merapi yang dilakukan oleh BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kegunungapian dan Geologi) berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman untuk
kemudian diinformasikan kepada masyarakat, pelatihan atau simulasi erupsi,
pembentukan Desa Tanggap Bencana (Destana), pembentukan Sekolah Siaga Bencana
(SSB) dan pembentukan Sister School.
3. PenyelamatanPertolongan ( Response )
BPBD Kabupaten Sleman telah menyusun Skenario Rencana Penanggulangan
Erupsi Gunung Api Merapi. Skenario evakuasi warga dan ternak dibedakan berdasarkan
tipe letusan Merapi, yaitu letusan Efusif dan letusan Eksplosif. Selain itu, di Desa
Tangguh Bencana jugamemiliki dokumen Draft Rencana Kontijensi Gunung Api Merapi
dan Rencana Kontijensi Penanganan Ternak Untuk Penanggulangan Bencana Erupsi
Merapi sebagai panduan apabila Merapi mengalami erupsi. Selain itu, dalam upaya
evakuasi ternak BPBD Kabupaten Sleman juga bekerjasama dengan Dinas Peternakan.
Sedangkan Dalam memberikan pertolongan kepada korban bencana, pada saat
pengungsi telah berada di barak pengungsian, maka BPBD Kabupaten Sleman mulai
dilakukan distribusi logistik dengan terlebih dahulu melakukan pendataan jumlah
pengungsi, menghitung kebutuhan pengungsi, mendirikan posko darurat, dan penanganan
korban bencana yang diatur dalam SOP Barak dan Logistik. Namun, dalam prakteknya
tahap response yang berkaitan dengan penyelamatan ini belum dilaksanakan karena
5
setelah BPBD Kabupaten Sleman terbentuk pada tahun 2011, hingga September 2015 ini
Gunung Merapi tidak mengalami erupsi. Meskipun belum melaksanakan respons
terhadap erupsi, Seksi Kedaruratan dan Operasional Bencana beserta Seksi Penanganan
Pengungsi dan Logistik Bencana telah melakukan kegiatan pelatihan kebencanaan yaitu
Pengelolaan Barak dan Dapur Umum. Pelatihan ini diikuti oleh berbagai elemen
masyarakat mulai dari perangkat desa, BPD, LPMD, tokoh masyarakat, remaja dan kader.
Dalam pelatihan tersebut, BPBD Kabupaten Sleman melibatkan berbagai pihak seperti
Dinas Kesehatan, PMI, dan Polisi untuk memberikan materi pelatihan. Namun dalam
pelaksanaannya kegiatan tersebut dihadapkan pada kendala utama yaitu anggaran. Di
dalam pengelolaan barakpengungsi belum terdapat anggaran untuk membuat kamar
mandi dan penggantian lampu. Dalam tahap ini, apabila erupsi yang terjadi merupakan
erupsi ringan, maka yang pertama terjun adalah Tim Reaksi Cepat (TRC) yang
beranggotakan PNS 6 orang dan non PNS 27 orang, sedangkan apabila skala erupsi
adalah sedang atau besar, maka pemerintah membentuk Tim Komando Tanggap Darurat
yang beranggotakan berbagai macam elemen pemerintah dan masyarakat.
4. PemulihanPengawasan ( Recovery )
Setelah terjadinya erupsi, Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten
Sleman menyusun rencana aksi (Renaksi) rehabilitasi dan rekonstruksi. Kegiatan yang
dilakukan oleh bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi adalah pembuatan shelter bagi
korban erupsi Gunung Merapi, pembangunan hunian tetap, penggantian ternak, bantuan
modal usaha dan bantuan sapi perah. Luas dari hunian tetap adalah 100 m², dengan
anggaran tiap huntap adalah Rp. 30.000.000,-. Didalam huntap sendiri terdapat berbagai
fasilitas, seperti adanya tempat ibadah, balai warga, kandang komunal, dan lapangan.
Namun dalam pelaksanaannya, rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan juga
mengalami kendala. Salah satu kendala tersebut adalah waktu pelaksanaan dan jumlah
personil yang terbatas. Hal ini karena pelimpahan dana dari BPBD DIY ke BPBD
Kabupaten Sleman dilakukan pada pertengahan tahun 2012 yaitu bulan Juli sedangkan
dana yang dikelola sangat banyak yaitu Rp. 189.361.367.000,00 yang berarti
pemanfaatannya hanya dalam waktu 6 bulan saja.2

2 Kurmalawati.dinna,museum merapi.jurnal citra visual dan pengalaman ruang.2002,hal 1- 41

6
C. Mitigasi Bencana

Mitigasi didefinisikan sebagai tindakan yang diambil sebelum bencana terjadi


dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan dampak bencanaterhadap
masyarakat dan lingkungan. Tujuan mitigasi bencana adalah Mengurangi dampak yang
ditimbulkan, khususnya bagi penduduk, Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan
pembangunan, Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta
mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja
dengan aman. Ada 2 jenis mitigasi yaitu mitigasi structural dan mitigasi non structural.
Mitigasi structural adalah upaya untuk meminimalkan bencana yang dilakukan dengan
cara membangun berbagai prasarana fisik dan menggunakan teknologi. Misalnya dengan
membuat waduk untuk mencegah banjir, membuat alat pendeteksi aktivitas gunung
berapi, membuat bangunan yang tahan gempa, atau menciptakan early warning
system untuk memprediksi gelombang tsunami.mitigasi non structural adalah upaya
untuk mengurangi dampak bencana selain dari cara-cara di atas, seperti membuat
kebijakan dan peraturan. Contohnya, UU PB atau Undang-Undang Penanggulangan
Bencana sebagai upaya non struktural dalam bidang kebijakan, pembuatan tata ruang
kota, atau aktivitas lain yang berguna bagi penguatan kapasitas warga.
Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat
didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair
atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan
bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang
dikeluarkan pada saat meletus. Suatu gunung berapi merupakan bentukan alam dari
pecahan yang terjadi di kerak dari benda langit bermassa planet, seperti Bumi. Patahan
tersebut mengakibatkan lava panas, abu vulkanik dan gas bisa keluar dari dapur
magma yang terdapat di bawah permukaan bumi. Dalam buku managemen bencana
disebutkan upaya-upaya mitigasi bencana gunung berapi:
a. Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan
alat pencatatan gempa (seismograf)
b. Tanggap Darurat, yaitu mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim
tanggap darurat, mengirimkan tim ke loksi, melakukan pemeriksaan secara
terpadu.

7
c. Pemetaan, peta kawasan rawan bencana gunung berapi dapat menjelaskan
jenis dan bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan
diri, lokasi pengungsi, dan pos penanggulangan bencana.
d. Penyelidikan gunung berapi menggunakan metode geologi, geofisika,
geokimia.
e. Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah serta
masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. 3

Mitigasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi


dampak yang di timbulkan akibat suatu bencana. Dalam pelaksanaan mitigasi bencana
erupsi gunung berapi yang berbasis masyarakat, pemerintah seharusnya mengikut
sertakan masuyarakat dam berbagai komunitas dalam kegiatan mitigasi. Namun ada
mitigasi yang belum mengikutsertakan masyarakat dan komunitas dalam berbagai
masyarakat seperti pemetaan kawasan rawan bencana sehingga terjadi penolakan
terhadap kebijakan tersebut.

D. Peran Sistem Informasi Geografi Dalam Bidang Kebencanaan

Dalam bidang mitigasi bencana seharusnya sistem informasi geografis mampu


memberikan peringatan luas paa masyarakat luaspada umumnya dan pemerintah,
khususnya tentang peringatan dini daerah-daerah rawan bencana di saat-saat tertentu.
Penanggulangan bencana alam disuatu wilayah dapat dimulai dengan mengidentifikasi
kerentanan serta resiko wilayah tersebut. Daerah rawan bencana dapat dipetakan dengan
menggunakan Sistem Informasi Geografis ini. Peta bencana berbasis GIS ini merupakan
suatu sistem yang dapat diaplikasikan untuk memperoleh, menyimpan, menganalisis, dan
mengelola datayang berkaitan dengan data secara spasial.
a. Menandai titik wilayahyang mungkin rawan bencana, hal ini sebagai upaya
pencegahan.
b. SIG meminimalkan dampak atau korban bencana, dengan memetakan daerah
rawan bencana.

3 Nur Isnainiati “KAJIAN MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI KECAMATAN CANGKRING
KABUPATEN SLEMAN”, Jurnal Administrasi Publik, hal 4
8
c. SIG dapat memindahi sejauh mana kesukaran dan seluas apa bencanayang telah
terjadi.
d. Data dari SIG dapat digunakan untuk menentukan zoan aman untuj merangcang
perancangan tempat pengungsian bagi para korban.
e. SIG juga dapat digunakan untuk melakukan kajian keruskan dan dampak bencana
serta melakukan analisis keutuhan komunikasi korban bencana. 4

E. Partisipatif Masyarakat dalam kegiatan Mitigasi Bencana

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebencanaan merupakan peran serta secara


aktif masyarakat dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Partisipasi masyarakat
dalam upaya pengurangan risiko bencana ada beberapa tahap yang pertama, Partisipasi
masayarakat dalam tahap identifikasi masalah. Partisipasi masyarakat dalam tahap
identifikasi masalah merupakan kegiatan awal masyarakat dalam merencanakan upaya
mitigasi bencana yang akan dilaksanakan. Sebagian besar masyarakat sekitar Gunung
Merapi menyadari bahwa mereka berada di Kawasan Rawan Bencana yang mempunyai
banyak masalah kebencanaan yang harus dihadapi,nyatanya belum sepenuhnya terlibat
secara aktif dalam mengidentifikasi masalah kebencanaan yang ada di daerahnya. Kedua,
Partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan. Partisipasi masyarakat dalam tahap
perencanaan kegiatan mitigasi bencana menunjukkan bahwa masyarakat terlibat aktif dan
peduli bahwa permasalahan bencana merupakan tanggungjawab bersama. perencanaan
tergolong dalam klasifikasi rendah, hal tersebut disebabkan karena masyarakat yang
terlibat dalam kegiatan perencanaan mitigasi bencana baik struktural maupun non-
struktural biasanya orang-orang tertentu contohnya perangkat desa beserta seluruh kepala
dusun dan tokoh masyarakat, yang dipandang memiliki kemampuan dan pengetahuan
lebih luas sehingga diharapkan dapat mewakili aspirasi dan kepentingan seluruh
masyarakat sekitar Gunung Merapi. Ketiga, Partisipasi masyarakat dalam tahap
pelaksanaan Kegiatan pelaksanaan mitigasi bencana baik struktural maupun non
struktural di setiap daerah membutuhkan dukungan dari semua lapisan masyarakat.
Tingkat partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan kegiatan mitigasi bencana
tergolong dalam tingkatan yang sedang karena masyarakatnya masih menjaga nilai
4 . IlmuGeografi.com,https://ilmugeografi.com/geografi-teknik/manfaat-sig-dalam-bidang-mitigasi-bencana.
Diakses pada 13 November pukul 20:19.
9
gotong royong dan kerjasama sehingga mereka tidak merasa terpaksa terlibat dalam
kegiatan pelaksanaan mitigasi bencana baik struktural.
Keempat, Partisipasi Masyarakat dalam Tahap Pemanfaatan dan Pemeliharaan,
Masyarakat wajib ikut serta dalam pemeliharaan berbagai upaya mitigasi bencana baik
struktural maupun non-struktural yang dilaksanakan di daerahnya. Berdasarkan penelitian
yang telah dilaksanakan, seluruh masyarakat terlibat dalam pemanfaatan berbagai
kegiatan mitigasi bencana maupun non-struktural. Sebagian besar masyarakat tingkat
partisipasinya tinggi karena mereka sadar bahwa berbagai upaya mitigasi bencana harus
dijaga dan dipelihara agar memberikan manfaat yang lebih lama. Kelima, Partisipasi
Masyarakat dalam Tahap Evaluasi, Partisipasi masyarakat dalam tahap evaluasi
merupakan tahap dimana masyarakat terlibat dalam kegiatan mitigasi bencana untuk
memberikan penilaian terhadap berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan, apakah sudah
sesuai dengan kebutuhan atau masih ada yang harus diperbaiki. Keterlibatan masyarakat
pada tahap evaluasi, tujuannya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
menilai kesesuaian maupun kekurangan terhadap hasil kegiatan mitigasi bencana, apakah
sesuai kebutuhan ataukah belum. Apabila belum maka kegiatan evaluasi ini, dapat
digunakan sebagai pedoman perencanaan kegiatan mitigasi bencana di masa depan agar
lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.5

F. Recovery Pasca Bencana Meletusnya Gunung Merapi

Kerusakan akibat Bencana erupsi akhir Merapi pada tahun 2010berdampak pada
sektor permukiman, insfrasruktur, sosial, ekonomi yang mengakibatkan terganggunya
aktivitas dan layanan umum di daerah sekitar Gunung Merapi, sehingga pemerintah
mengeluarkan kebijakan program pemulihan pascabencana Gunung Merapi akan
dilaksanakan sampai 2013. pemerintah kabupaten telah memulai upaya pemulihan
melalui rehabilitasi dan rekonstruksi pascaerupsi Merapi, dan ini memerlukan dukungan
semua pihak, karena tidak mungkin dilakukan sendiri, mengingat keterbatasan sumber
daya yang ada. Pokok kebijakan Recovery atau bisa disebut juga rehabilitasi dan
rekonstruksi pascabencana erupsi Gunung Merapi a) Rencana tata ruang wilayah, sebagai

5 Susanti, E., & Khotimah, N. PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MITIGASI BENCANA DI KAWASAN
RAWAN BENCANA III GUNUNG MERAPI DESA MRANGGEN.( Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi
Kegeografian, 14(1). 2016). Hal 70-73
10
dasar penetapan lokasi yang aman untuk pemukiman; b) rancangan/design rumah bagi
korban bencana, baik bagi yang akan direlokasi maupun ditempat semula, dengan
pendekatan pengurangan risiko bencana; c) rencana pembangunan sarana dan prasarana
yang terkait dengan penanganan dan pengendalian bencana; d) skema bantuan
pemerintah terkait dengan penanganan dan pengendalian bencana; d) skema bantuan
pemerintah terkait dengan tingkat kerusakan rumah dan relokasi pemukiman; e) skema
pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat dan f) mekanisme koordinasi pembiyayaan dan
implementasi rencana aksi di lapangan.6

G. Tata Ruang Wilayah Pada Kawasan Rawan Bencana

Menurut Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang,


menekankan bahwa secara garis besar penyelenggaraan tata ruang diharapkan:
1) Dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta
mampu mendukug pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
2) Tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang.
3) Tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
Dengan demikian tentunya penataan ruang dalam mempertimbangkan potensi,
kondisi, permasalahan, prospek suatu daerah dan berbagai tantangan yang dihadapi
termasuk pula memperhatikan daerah rawan bencana sebagai basis dalam
mengembangkan dan mengelola suatu daerah. Penataan ruang dapat menjakankan peran
penting dalam penetapan rencana pemanfaatan ruang yang aman dari dampak bencana
alam. Karena setidaknya dalam penataan ruang sudah dimunculkan kriteria lokasi rawan
bencana alam dan sebaran lokasi kawasan kritis dan kawasa yang beresiko bencana.
Penataan ruang dapat memunumalisasi dampak bencana karena premis penataan ruang
adalah keseimbangan lingkungan hidup. Atau dapat dikatakan, pemanfaatan suatu
kawasan untuk berbagai kegiatan disesuaikan dengan kemampuan daya dukung
lingkungannya. Patut digaris bawahi bahwa sesungguhnya penyelenggaraan penataan
ruang adalah sama dengan usaha mitigasi bencana. Dalam konteks identifikasi kawasan
rawan bencana, maka hal ini merupakan upaya mendukung penataan ruang dengan
memberikan informasi yang berkaitan dengan kerentanan wilayah terhadap bencana
sehingga resiko bencana dapat dicermati dan diantisipasi dalam pola ruang. Dengan kata

6 https://bnpb.go.id/uploads/migration/pubs/448.pdf. Diakses12/11/2019 20:45


11
lain, identifikasi kawasan rawan bencana berguna untuk menentukan struktur ruang dan
pola ruang suatu wilayah.7
Dalam penataan ruang untuk mengkaji sistem peanggulangan bencana memiliki
beberapa faktor penting yaitu faktor empiris dan geografis, kondisi lingkungan yang
merupakan suatu daerah rawan terdampak letusan Gunung Merapi. Perencanaan tata
ruang sangat diperlukan dalam rangka memberikan pengaturan atas penggunaan dan
pengelolaan bumi, air, dan kekayaan alam lain yang terkandung didalamnya sehingga
terciptanya suatu kesinambungan, antara pembangunan, lingkungan, serta pemanfaatan
suatu ruang. Salah satu tahapan yang perlu dilakukan dalam menyusun prosedur tentang
rencana umum tata ruang adalah pengumpulan data yang paling sedikit memuat tentang
data daerah rawan bencana dan peta dasar rupa bumi dan peta tematik yang dibutuhkan
termasuk peta penggunaan lahan, peta peruntukan ruang, dan peta daerah rawan
bencana.8 Pengaturan mengenai tata ruang dalam Undang-Undang No. 7 tahun 2007
tentang penataan ruang meliputi tiga aspek yaitu proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang yang merupakan suatu proses yang dilakukan untuk menentukan
struktur ruang.
Pada November 2010 lalu Gunung Merapi meletus dan menyebabkan perubahan
struktur dan pola ruang di area terdampak letusan. Dengan demikian, penataan ruang
yang sebelumnya sudah diatur harus diubah dan disesuaikan dengan kondisi geografis
yang baru. Dalam kawasan rawan bencana Merapi dibagi menjadi 3 zona berdasarkan
tingkat kerawanan, yaitu zona kawasan bencana merapi I, II, III. Pada kawasan ke III
kepentingan sosial budaya dibatasi, tujuannya untuk mencegah penggunaa ruang yang
terlalu bebas. Selain itu letaknya juga dekat dengan sumber bahaya yang sering terlanda
awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat. Dalam
hal ini pemerintah memiliki dasar hukum yang terdapat pada Peraturan Daerah Sleman
No.12 Tahun 2012 tentang rencana tata ruang wilayah Sleman yang melarang
mengembangkan hunian hidup dan penambahan sarana dan prasarana pada kawasan
terdampak langsung, dan Pasal 56 Peraturan Presiden No.70 Tahun 2014 tentang Tata
Ruang Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi yang menyatakan bahwa kawasan

7LindaTodobala, “PEMAHAMAN TENTANG KAWASAN RAWAN BENCANA DAN TINJAUAN TERHADAP


KEBIJAKAN DAN PERATURAN TERKAIT”. Jurnal Sabua Vol.3, No.1, Mei 2011 (58-63)

8Ibrahim R. “Pengaturan Sistem, Penanggulangan Bencana Dalam Penataan Ruang di Kabupaten Klungkung”.
12
tersebut dilarang adanya kegiatan yang mengubah bentang alam, walaupun tidak
dijelaskan secara eksplisit dalam aturan tersebut.9

H. Strategi Penghidupan

Strategi penghidupan (livelihood) merupakan kemampuan, aset, dan kegiatan


yang diperlukan untuk menjalani kehidupan. Tipologi strategi yang terbentuk ini tidak
terlepas dari sumberdaya yang dimiliki dan kondisi lingkungan yang menghasilkan
kombinasi hubungan antar komponen dan pilihan strategi penghidupan (Baiquni, 2007).
Untuk itu perlu dikaji pula latar belakang lingkungan fisik dan keberadaan sumberdaya
pada wilayah yang dihuni, dan bagaimana upaya-upaya yang dilakukan masyarakat untuk
mengolah sumberdaya sebagai bentuk hubungan antara masyarakat dengan lingkungan
fisiknya. Hubungan timbal balik antara masyarakat dengan kondisi lingkungan dalam
pembentukan strategi penghidupan selain memberikan informasi untuk pengelolaan
kebencanaan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan dalam rencana
pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan.
Bencana erupsi Gunungapi Merapi pada tahun 2010 telah menyebabkan
kerusakan lahan pertanian masyarakat yang bertempat tinggal pada lereng baratdaya
Gunungapi Merapi di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang. Kerusakan lahan
pertanian terutama terjadi akibat material piroklastik jatuhan berupa abu gunungapi.
Material tersebut menimbun lahan pertanian beserta tanaman budidaya yang sebagian
besar berupa salak pondoh, palawija, dan sayuran. Bencana erupsi menyebabkan
kerusakan lahan pertanian milik masyarakat baik kerusakan tanaman pada lahan
pertanian, maupun kerusakan lahan secara keseluruhan. Petani yang mengalami
kerusakan lahan akibat timbunan pasir dan abu vulkanik melakukan perbaikan lahan
dengan membabat tanaman kemudian mengeruk pasir yang menimbun lahan. Adapun
petani yang mengalami kerusakan tanaman melakukan perbaikan tanaman lama dengan
membabat tanaman yang rusak dan membiarkan tumbuh kembali secara alami. Pada
lahan dengan kerusakan tanaman yang lebih parah, petani juga melakukan penggantian
tanaman dengan tanaman baru. Bahkan ada pula petani yang mengganti salak pondoh

9Yahya Abdullah. “Pengedalian Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Rawan Bencana Merrapi III Kab. Slema”.
Hal. 4
13
dengan tanaman sayuran. Umumnya proses pemulihan tanaman membutuhkan waktu
hingga lebih dari satu tahun. Selama kurun waktu untuk perbaikan tanaman tersebut,
beberapa petani memanfaatkan lahan di sela-sela tanaman salak yang sedang tumbuh
dengan menanam jenis sayuran. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan kembali
penghidupan seperti pada saat sebelum terjadi bencana erupsi bervariasi yaitu berkisar
antara dua hingga lima tahun tergantung pada tingkat kerusakan tanaman, dengan rata-
rata selama tiga tahun. Wawancara yang dilakukan terhadap 100 orang petani
menunjukkan 76% responden memperoleh kembali penghidupan setelah tiga tahun.
Kepemilikan aset atau sumberdaya penghidupan merupakan faktor yang sangat
penting dalam menentukan tipologi strategi penghidupan masyarakat. Baiquni (2007)
menjelaskan strategi penghidupan merupakan pilihan yang dibentuk oleh aset, akses, dan
aktivitas yang dipengaruhi pula oleh kapasitas seseorang atau rumah tangga untuk
melakukannya. Strategi penghidupan berkaitan dengan bagaimana rumah tangga
mengelola dan memanfaatkan aset sumberdaya dan modal yang dikuasainya melalui
kegiatan tertentu yang dipilih. Terdapat tiga aspek dalam strategi penghidupan rumah
tangga yaitu kapabilitas, aset, dan aktivitas. Kapabilitas menyangkut kemampuan
mendayagunakan sumberdaya misalnya penggunaan tenaga kerja dan modal serta
teknologi.10

10Nurhadi, dkk, “Strategi Penghidupan Masyarakat Pasca Erupsi 2010 Kaitannya Dengan Kesiapsiagaan
Menghadapi Bencana Berikutnya”,Majalah Geografi Indonesia Vol. 32, No.1, Maret 2018 (59 - 67)
14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Museum Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan,


penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi
lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk
memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan
lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya.

B. Saran

Dengan Adanya karya ilmiah ini semoga bermanfaat bagi pembaca dan jika ada
kekurangan datang dari penulis dan jika ada kelebihan datangnya dari Allah.

15
DAFTAR PUSTAKA

Dinas kebudayaan daerah istimewa yogyakarta,2014koleksi unggulan museum


yogyakarta.Indonesia.

ISNAINIATI, Nur; MUSTAM, Muchammad; SUBOWO, Ari. 2014.Kajian Mitigasi Bencana


Erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Journal of
Public Policy and Management Review, 3.3: 25-34.

Ibrahim R. “Pengaturan Sistem, Penanggulangan Bencana Dalam Penataan Ruang di


Kabupaten Klungkung”.

Kurmalawati.dinna.2002,museum merapi.jurnal citra visual dan pengalaman ruang

LindaTodobala, 2011.“PEMAHAMAN TENTANG KAWASAN RAWAN BENCANA DAN


TINJAUAN TERHADAP KEBIJAKAN DAN PERATURAN TERKAIT”. Jurnal Sabua
Vol.3, No.1, Mei 2011 (58-63)

Nurhadi, dkk,2018 “Strategi Penghidupan Masyarakat Pasca Erupsi 2010 Kaitannya Dengan
Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Berikutnya”,Majalah Geografi Indonesia Vol. 32,
No.1, Maret 2018

Susanti, E., & Khotimah, N.2016. PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MITIGASI


BENCANA DI KAWASAN RAWAN BENCANA III GUNUNG MERAPI DESA
MRANGGEN.( Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian, 14(1). 2016)

Yahya Abdullah. “Pengedalian Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Rawan Bencana Merrapi
III Kab. Slema”.

https://bnpb.go.id/uploads/migration/pubs/448.pdf.

16