Anda di halaman 1dari 43

SKRIPSI

HUBUNGAN POLA KONSUMSI BUAH DAN SAYUR


DENGAN MORBIDITAS PADA SISWA DI PONDOK
PESANTREN ILMU AL-QUR’AN DI KECAMATAN CIOMAS,
KABUPATEN BOGOR

MI NA

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER


INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul.


Hubungan Pola Konsumsi Buah dan Sayur dengan Morbiditas pada Siswa
di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an di Kecamatan Ciomas, Kapubaten
Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicaantumkan dalam Daftar
Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.

Bogor, April 2017

Mi Na
NIM I14118001




























ABSTRAK

MI NA. Hubungan pola konsumsi buah dan sayur dengan morbiditas pada siswa
di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an, kecamatan Ciomas, kabupaten Bogor.
Dibimbing oleh IKEU TANZIHA.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan pola konsumsi


buah dan sayur dengan morbiditas pada siswa di pondok pesantren Imu Al-
Qur’an, di kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah cross sectional study yang melibatkan 44 anak berusia 12-14
tahun. Metode penarikan contoh yang digunakan adalah purposive sampling.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pola konsumsi buah dan sayur pada siswa di PPIQ tergolong
rendah (84.1% untuk buah ; 81.8% untuk sayur). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat 22 orang (50%) yang tergolong morbiditas tinggi. Hasil analisis
uji spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pola konsumsi buah
dan sayur dengan morbiditas (p=0.483 untuk buah; p=0.808 untuk sayur).

Kata kunci : Pola konsumsi buah, pola konsumsi sayur, morbiditas, lama sakit,
frekuensi sakit.

ABSTRACT

MI NA. Correlation of Fruit and Vegetable Consumption With Morbidity on


Adolescent at Ilmu Al-Qur’an Boarding School in Ciomas town, Bogor District.
Supervised by IKEU TANZIHA
The study aims to analyze the correlation of fruit and vegetable
consumption with the morbitidy of adolescent in boarding school at Ciomas
town.. The design of this study was a cross sectional study. Which involves 44
adolescent. The sampling method was purposive sampling. The study was
conducted on March-April 2016. The resulted that consumption of fruits and
vegetables of the student in PPIQ was low (84.1% for fruit; 81.8% for
vegetables). There are 22 people (50%) were classified as high morbidity.
Spearman test analysis indicated that there was no correlation between fruit and
vegetable consumption with the morbidiy (p = 0.483 for fruit; p = 0.808 for
vegetables).

Keywords: Fruit consumption, vegetable consumption, morbidity, disease


duration, frequency of disease.






HUBUNGAN POLA KONSUMSI BUAH DAN SAYUR


DENGAN MORBIDITAS PADA SISWA DI PONDOK
PESANTREN ILMU AL-QUR’AN DI KECAMATAN CIOMAS,
KABUPATEN BOGOR

MI NA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Gizi
dari Program Studi Ilmu Gizi pada
Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017




Judul Skripsi: Hubungan Pola Konsumsi Buah dan Sayur dengan Morbiditas pada
Siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an di Kecamatan Ciomas,
Kabupaten Bogor.
Nama : Mi Na
NIM : I14118001

Disetujui oleh

Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS


Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Rimbawan
Ketua Departemen

Tanggal disetujui:

PRAKATA

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga usulan penelitian yang berjudul “ Hubungan Pola
Konsumsi Buah dan Sayur dengan Morbiditas Pada Siswa di Pesantren PPIQ
Bogor, di Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor” dapat diselesaikan. Selain itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Allah SWT yang senantiasa selalu memberikan kenikmatan, kelancaran,
dan kemudahan hingga saat ini.
2. Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS selaku pembimbing akademik dan skripsi
yang telah membimbing dan memberikan arahan dalam kegiatan
akademik dan penulisan skripsi ini.
3. Ibu Anna Vipta R. M. MGizi selaku dosen pemandu seminar dan penuji
yang telah memberikan ulasan dan saran untuk perbaikaan tugas akhir ini.
4. Tim enumerator Gerakan Konsumsi Buah dan Sayur di Pesantren sebagai
Upaya Preventif terhadap Risiko Penyakit Tidak Menular yaitu Mba Risti,
Intan, Nadia, Aliffia, Umiyati, Kafa, Rulia, Algi, dan Yanti atas
bantuannya dalam pengumpulan data.
5. Paling Utama Ismael Hoanh Dusos (ayah), Amiroh (ibu), Mi La (adik)
dan seluruh keluarga besar penulis yang telah memberikan kesayangan,
doa, perhatian, dukungan, dan motivasinya untuk penyusunan tugas akhir
ini.
6. Bapak M. Fadhol selaku wakilan beasiswa IDB di Indonesia yang telah
perhatian penulis selama studi di Institut Pertanian Bogor.
7. Beasiswa Islamic Development Bank (IDB) yang telah memberi
kesempatan untuk penulis mejalani studi di Institut Pertanian Bogor.
8. Dena Aulia, S.Gz yang telah membantu dan memberi saran dan dukungan
ke pada penulis selama menuliskan skripsi ini.
9. Kakak-kakak kelas (Kak Sani, Kak Phiro, Kak didza, Kak Asnaquy, Kak
Alpy), kawan-kawan (Pha Hy Thah, Salam, Sisas, Firna), dan adik-adik
kelas (Umo dan Noriyah) yang telah dukungan, semangatkan, bantuan
dan doa selama penulis studi di Institut Pertanian Bogor.
10. Chau Abdoul Cariem S.T (tunangan) yang selalu memberikan semangat ,
dukungan, dan motivasi selama studi di Institut Pertanian Bogor.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, April 2017

MI NA

















































xiii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI xiii


DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR LAMPIRAN xiv
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan penelitian 3
Tujuan Umum 3
Tujuan Khusus 3
Hipotesis Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
KERANGKA PEMIKIRAN 4
METODE 6
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian 6
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh 6
Jenis dan Cara Pengumpulan data 6
Pengolahan dan Analisis Data 7
Definisi Operasional 7
HASIL DAN PEMBAHASAN 8
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 8
Usia dan Jenis Kelamin Contoh 9
Pengetahuan Gizi Terhadap Buah dan Sayur 9
Sikap Gizi Terhadap Buah dan Sayur 10
Pola Konsumsi Buah dan Sayur 10
Preferensi dan Jenis Pengolahan Buah 11
Preferensi Buah 11
Jenis Pengolahan Buah 13
Preferensi dan Jenis Pengolahan Sayur 13
Preferensi Sayur 13
Jenis Pengolahan Sayur 14
Morbiditas 15
Hubungan Antar Variabel 18
Hubungan Karakteristik Contoh dengan Pola Konsumsi Buah 18
dan Sayur
Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Pola Konsumsi Buah dan 19
Sayur
Hubungan Sikap Gizi dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur 19
Hubungan Preferensi Buah dengan Pola Konsumsi Buah 20
Hubungan Morbiditas dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur 21
Hubungan Lama Sakit dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur 21
Hubungan Frekuensi Sakit dengan Pola Konsumsi Buah dan 22
Sayur
SIMPULAN DAN SARAN 23
Simpulan 23
Saran 23
xiv

DAFTAR PUSTAKA 24
LAMPIRAN 31

DAFTAR TABEL

1 Variabel, jenis, dan cara pengumpulan data 7


2 Pengetahuan gizi buah dan sayur 9
3 Sikap gizi buah dan sayur 10
4 Frekuensi pola konsumsi buah dan sayur 11
5 Preferensi buah 12
6 Jenis buah yang disukai oleh responden 12
6 Jenis buah yang disukai oleh responden (lanjutan) 13
7 Jenis pengolahan buah 13
8 Jenis sayur yang disukai oleh responden 14
9 Jenis sayur olahan yang disukai oleh responden 14
10 Jenis pengolahan sayuran 15
11 Kejadian penyakit-penyakit pada responden 17
12 Morbiditas terhadap lama sakit dan frekuensi sakit 17
12 Morbiditas terhadap lama sakit dan frekuensi sakit (lanjutan) 18
13 Morbiditas gabungan pada responden 18
14 Uji statistik usia dengan pola konsumsi buah dan sayur 18
15 Uji Statistik jenis kelamin dengan pola konsumsi buah dan 19
sayur
16 Uji statistik pengetahuan dengan pola konsumsi buah dan sayur 19
17 Uji statistik sikap gizi dengan pola konsumsi buah dan sayur 20
18 Uji statistik preferensi buah dengan pola konsumsi buah 21
19 Uji statistik morbiditas dengan pola konsumsi buah dan sayur 21
20 Uji statistik lama sakit dengan pola konsumsi buah dan sayur 22
21 Uji statistik frekuensi sakit dengan pola konsumsi buah dan 22
sayur

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa
ini, sistem reproduksi mulai berfungsi ditandai dengan terjadinya menstruasi pada
perempuan. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan hormonal, perubahan
hormonal ini yang juga mempercepat proses pertumbuhan. Proses pertumbuhan
yang terjadi secara cepat pada masa remaja perlu ditunjang dengan asupan gizi
yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Asupan gizi remaja yang
terganggu akan berpengaruh terhadap kualitas remaja di masa yang akan datang
terutama jika masalah gizi ini tidak segera diperbaiki (Febri et al. 2013). Masalah
gizi yang menimpa remaja adalah masalah gizi kurang dan juga masalah gizi
lebih. Masalah gizi kurang merupakan masalah gizi yang disebabkan oleh asupan
gizi yang rendah yang dapat menyebabkan status gizi kurus yang berpengaruh
terhadap penurunan daya tahan tubuh dan juga mudahnya terkena penyakit
infeksi, sedangkan asupan gizi yang berlebih dapat menyebabkan status gizi lebih
yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif.
Kebutuhan gizi remaja perlu dipenuhi untuk menunjang pertumbuhan dan
perkembangan tubuh remaja. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan pada
masa remaja merupakan proses tercepat kedua setelah masa pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Oleh karena itu, asupan gizi yang optimal sangat diperlukan
untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada remaja yang
akan berdampak pada masa sekarang maupun masa yang akan datang (Khomsan
2004). Zat-zat gizi yang diperlukan pada masa remaja diantaranya protein,
kalsium, seng, zat besi, vitamin dan serat. Selain pemenuhan zat gizi makro, juga
diperlukan zat gizi mikro untuk remaja terutama asupan serat dan vitamin. Faktor
yang dapat berpengaruh terhadap asupan gizi remaja adalah lingkungan seperti
keluarga, sekolah dan teman sebaya (peer group) (Wulansari 2009 dalam Farisa
2012).
Indonesia merupakan negara yang kaya buah dan sayur namun asupan buah
dan sayur pada remaja sekolah masih kurang dari angka kecukupan yang
dianjurkan. Menurut laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, prevalensi
penduduk yang kurang mengonsumsi buah dan sayur pada kelompok umur 10
hingga 14 tahun sebesar 93.6% di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada
tahun 2013 menunjukkan bahwa penduduk usia 10 tahun ke atas yang kurang
mengonsumsi buah dan sayur di Provinsi Jawa Barat adalah sebesar 96.4%.
Prevalensi penduduk yang kurang mengonsumsi buah dan sayur di Kabupaten
Bogor sebesar 97.9%, sedangkan di Kota Bogor sebesar 96.7% (Riskesdas 2007).
Tingginya prevalensi penduduk yang mengonsumsi buah dan sayur di bawah
angka yang dianjurkan menunjukkan bahwa permasalahan ini perlu mendapat
perhatian terutama pada kelompok remaja. Hal ini disebabkan karena kualitas
sumber daya manusia pada masa yang akan datang ditentukan oleh kualitas
generasi muda masa kini, sehingga untuk menunjang tercapainya kualitas tersebut
diperlukan asupan gizi seimbang pada para generasi muda (Wulansari 2009).
2

Pentingnya konsumsi buah dan sayur masih kuran disadari oleh penduduk
Indonesia. Selain itu, menurut WHO (2005) masalah yang paling umum terjadi
dari perilaku konsumsi pada kelompok remaja adalah kurangnya konsumsi buah
dan sayur. Kurangnya konsumsi sayur dan buah pada remaja usia sekolah akan
menimbulkan resiko gangguan kesehatan di masa yang akan datang. Berbagai
penelitian mengenai konsumsi buah dan sayur dapat beresiko dalam
perkembangan penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan
kanker (WHO 2003). Hal ini sejalan dengan penelitian Hung et al. (2004)
terhadap 110.000 pria dan wanita selama 14 tahun menunjukkan bahwa rata-rata
orang yang mengonsumsi tinggi buah dan sayur dapat menurunkan perkembangan
penyakit seperti penyakit kardiovaskuler.
Rendahnya konsumsi buah dan sayur pada remaja yang kemudian sering
diikuti dengan tingginya mengonsumsi fast food dapat meningkatkan resiko
terjadinya obesitas. Buah dan sayur memiliki kandungan vitamin, mineral, serat
dan fitokimia. Zat-zat ini berfungsi untuk menjaga kesehatan tubuh yaitu
menghambat proses penuaan serta mencegah terjadinya kanker. Selain itu, buah
dan sayur juga berfungsi untuk melancarkan sistem pencernaan, orang yang
mengonsumsi buah dan sayur di bawah angka yang dianjurkan akan mengalami
gangguan sistem pencernaan seperti terjadinya sembelit (Dewantari & Widiani
2011).
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang terdiri dari 5
elemen pokok, yaitu asrama, masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri, dan
kyai. Di Indonesia, pondok pesantren berperan dalam kemajuan pendidikan Islam
dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan hasil pendataan tahun
2011-2012, jumlah pondok pesantren yang tersebar di Indonesia sebanyak 27 230.
Persentase keberadaan pondok pesantren terbanyak ialah di provinsi Jawa Barat,
yaitu 7 624 (28%) (Kemenag 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Hermina et
al. (1996) menunjukkan bahwa di pesantren tradisional di daerah Ciamis hanya
25% santri yang megonsumsi buah tiap harinya, bahkan di daerah Jombang hanya
sekitar 16% santri yang mengonsumsi buah tiap harinya. Hal tersebut dipengaruhi
oleh faktor ketersediaan buah dan keadaan uang saku santri yang terbatas.
Penelitian yang dilakukan oleh Rafsanjani (2014) menunjukkan bahwa
pengetahuan terkait dengan konsumsi buah dan sayur pada para santri di Pondok
Pesantren Al-Hikmah Semberejo Karangmojo Gunungkidul sebagian besar
termasuk ke dalam kategori rendah sebelum diberikan intervensi.
Pemenuhan konsumsi buah dan sayur untuk para siswa (santri) merupakan
hal penting yang perlu diperhatikan oleh pengelola pondok pesantren. Hal ini
karena konsumsi sayur dan buah merupakan salah satu faktor yang dapat
mencegah terjadinya morbiditas. Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan pola konsumsi buah dan
sayur dengan morbiditas pada siswa pesantren. Penelitian ini akan dilaksanakan di
Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PPIQ) yang letak di Kecamatan Ciomas,
Kebupaten Bogor.

Perumusan Masalah

Berdasarkan hal telah menyebutkan dalam latar belakang, maka perumusan


masalah pokok yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut:
3

1. Bagaimana karakteristik siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an


Bogor?
2. Bagaimana konsumsi buah dan sayur pada siswa di Pondok Pesantren
Ilmu Al-Qur’an Bogor?
3. Bagaimana morbiditas pada siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an
Bogor?
4. Bagaimana hubungan antara pola konsumsi buah dan sayur dengan
mordibias?

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola konsumsi buah
dan sayur dengan morbiditas pada siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an di
Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi karakteristis siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an,
Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor .
2. Mengidentifikasi pengetahuan gizi tentang buah dan sayur pada siswa di
Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor.
3. Mengidentifikasi Sikap gizi tentang buah dan sayur pada siswa di Pondok
Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor.
4. Mengidentifikasi pola konsumsi buah dan sayur pada siswa di Pondok
Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor.
5. Mengidentifikasi morbiditas pada siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-
Qur’an, Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor.
6. Menganalisis hubungan antara konsumsi buah dan sayur dengan
morbiditas pada siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Kecamatan
Ciomas, Kapubaten Bogor.

Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:


1. Terdapat hubungan pola konsumsi buah dan sayur dengan morbiditas pada
siswa di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Kecamatan Ciomas,
Kapubaten Bogor.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pola


konsumsi buah dan sayur, mengidentifikasi morbiditas, menganalisis pengetahuan
gizi dan sikap gizi buah dan sayur di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an,
Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor.

KERANGKA PEMIKIRAN

Saat ini anak-anak cenderung tidak menunjukkan peningkatan perilaku


konsumsi yang signifikan terhadap buah dan sayur, padahal buah dan sayur sangat
bermanfaat sebagai sumber pemenuhan kebutuhan gizi yang baik. Mereka jarang
mengonsumsi menu makanan yang justru sangat penting bagi tubuh seperti buah-
buahan dan sayuran. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sebagian besar
anak-anak kurang mengonsumsi buah dan sayur dan berdampak terhadap
meningkatnya konsumsi pangan tinggi karbohidrat yang berkaitan dengan
kejadian obesitas. Hal tersebut yang mengakibatkan anak-anak rentan akan
terkena morbiditas seperti penyakit infeksi, demam, diare, dll.
Karakteristik contoh atau karakteristik siswa di Pondok Pesantren PPIQ
Bogor yang meliputi usia, jenis kelamin. Usia dan jenis kelamin mempengaruhi
kebiasaan makan. Namun kebiasaan makan yang baik akan mengakibatkan
tercukupinya kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh sekomlpok usia, baik itu
zat gizi makro (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) maupun zat gizi mikro
(vitamin dan mineral). Kecukupan zat gizi mikro akan membantu mencukupi
kebutuhan gizi. Terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi
buah dan sayur yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri
dari pengetahuan gizi dan sikap gizi. Sedangkan factor eksternal terdiri dari jenis
dan jumlah buah dan sayur yang tersedia di Pondok Pesantren Ilmu Al Qur’an
(PPIQ) Bogor akan mempengaruhi kecukupan konsumsi buah dan sayur.
Demikian pula dengan harga juga berpengaruh dalam pemilihan manakan, namun
harga sering dikesampingkan oleh pertimbangan prestis, rasa, dan kemudahan
dalam hal penyiapannya, sehingga harga bukanlah faktor utama dalam hal
pemilihan makanan (Setiawati 2000). Kerangka pemikiran dari penelitian ini
disajikan pada Gambar 1.
5

Karakteristik contoh:
- Usia
- Jenis Kelamin

Faktor Eksternal: Faktor Internal:


- Jenis dan jumlah buah - Pengetahuan gizi
dan sayur yang tersedia. - Sikap
- Harga pangan

Karakteristik contoh:
- Berat badan
- Tinggi badan

Konsumsi Buah dan Sayur:


- kuantitas Status gizi
- Frekuensi
- Jenis

Morbiditas

Gambar 1 Bagan kerangka pemikiran hubungan pola konsumsi buah dan sayur
dengan morbiditas

Keterangan:

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti


Keterangan:

: Hubungan yang diteliti

: Hubungan yang tidak diteliti


METODE

Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study, yaitu


pengumpulan data dalam waktu yang bersamaan. Tempat dan contoh penelitian
dipilih secara purposive, yaitu siswa-siswi di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an
(PPIQ), Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Pengumpulan data penelitian
dilakukan pada bulan Maret – April 2016.

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

Contoh penelitian ditentukan secara purposive sampling. Penentuan jumlah


contoh minimal pada penelitian ini menggunakan rumus Lemeshow et al. (2011)
sebagai berikut :

n= (z1-α)2 (p) (1-p)


d2

n= (1.96)2 (0.865) (1-0.865)


(0.12)2

n = 31.2 = 31 orang

Keterangan:
n : jumlah contoh minimal
z1-α : tingkat kepercayaan 95% = 1.96
p : proporsi status gizi malnutrisi (IMT/U) usia 13-15 tahun = 86.5%
d : presisi (12%)

Subjek penelitian berjumlah 44 orang memenuhi besar sampel minimal,


yang telah ditepatkan dari rumus di atas. Contoh penelitian ini adalah siswa-siswi
SMP kelas 7 dan kelas 8 berusia 12-14 tahun di Pondok Pesantren Ilmu Al-
Qur’an, Kecamatan Ciomas, Kapubaten Bogor yang bersedia berpartisipasi, serta
dapat diwawancarai.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh melalui
wawancara menggunakan alat bantu kuesioner dan pengamatan secara langsung
kepada siswa-siswi di Pondok Pesantren PPIQ. Data primer meliputi karakteristik
siswa-siswi, pengetahuan gizi, sikap gizi, pola konsumsi buah dan sayur,
morbiditas. Cara pengumpulan data disajikan pada tabel 1.
7

Tabel 1 Variabel, jenis, dan cara pengumpulan data


No Variabel data Cara pengumpulan data Pustaka
1 Karakteristik siswa- Pengisian kuesioner
siswi (usia, jenis
kelamin)
2 Pengetahuan Gizi Wawancara dan mengamati Maria A.C.
langsung (2014)
3 Sikap Gizi Wawancara dan mengamati Maria A.C.
langsung (2014)
4 Pola konsumsi buah SFFQ(Food Frequence Satibi (2015)
dan sayur
5 Morbiditas Pengisian kuesioner

Pengolahan dan Analisis Data

Proses pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft


Excel 2013 for Windows dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for
windows versi 16.0 meliputi analisis uji statistik korelasi. Tahapan pengolahan
data dimulai dari editing, coding, entry, cleaning, dan analisis.
Data karakteristik siswa-siswi terdiri dari usia, jenis kelamin. Data jenis
kelamin dikategorikan menjadi 2, yaitu laki-laki dan perempuan. Usia contoh
dikelompokkan berdasarkan sebaran usia.
Data konsumsi buah dan sayur terdiri dari jumlah buah dan sayur yang
dikonsumsi, jenis buah dan sayur. Menurut PGS tahun 2014, jumlah konsumsi
buah dan sayur dikelompok untuk dua kelompok umur yaitu untuk anak dan dan
remaja, dewasa. Khusus untuk penelitian ini data yang difokuskan yaitu konsumsi
buah dan sayur bagi kelompok umur remaja dan dewasa. Jumlah konsumsi buah
dan sayur dikategorikan menjadi 3 yaitu, buah dan sayur 400-600 gram/ hari
untuk remaja dan dewasa, konsumsi buah 150 gram/hari untuk remaja dan
dewasa, kategori terakhir yaitu mengkonsumsi sayur sebesar 250 gram/hari untuk
remaja dan dewasa.
Morbiditas ditentukan dari frekuensi, lama serta kejadian sakit dengan
menanyakan apakah pernah mengalami sakit seperti demam tinggi, batuk, pilek,
diare, dan lain-lain dan ditanya frekuensi dan lama sakit dari masing-masing jenis
penyakit. Untuk keperluan analisis, data morbiditas dilihat dari nilai median
masing-masing jenis penyakit atau gabungan semua jenis penyakit (Untoro.et al,
2005).
Data yang diperoleh dari hasil pengolahan disajikan dalam bentuk tabel,
kemudian dianalisis secara statistik. Hubungan antara umur, jenis kelamin,
pengetahuan gizi, sikap gizi serta morbiditas dengan pola konsumsi buah dan
sayur.

Definisi Operasional

Buah dan sayur berwarna merah adalah jenis buah dan sayur yang memiliki
warna merah (tomat, strawberry, semangka, pepaya, bit ).
Buah dan sayur berwarna hijau adalah jenis buah dan sayur yang memiliki
warna hijau (alpukat, anggur hijau, selada, casin)
8

Buah dan sayur berwarna kuning dan jingga adalah jenis buah dan sayur yang
memiliki warna kuning dan jinggan (pisang, mangga, jeruk, belimbing)
Buah dan sayur berwarna biru dan ungu adalah jenis buah dan sayur yang
memiliki warna biru dan ungu ( blueberry, anggur)
Buah dan sayur berwarna putih adalah jenis buah dan sayur yang memiliki
warna putih (duku, kelengkeng, pir, sawi putih, lobak, kol)
Frekuensi sakit adalah jumlah keterjadian sakit pada contoh dalam 3 bulan
terakhir.
Karakteristik contoh atau induvidu adalah data sampel meliputi umur, jenis
kelamin, uang saku, berat badan, tinggi badan)
Lama Sakit adalah period sakit terhadap penyakit demam, batuk, pilek, diare dan
jenis-jenis penyakit lain.
Morbiditas adalah tingkat kesakitan responden. Morbiditas ditentukan di
penelitian ini berdasarkan jenis-jenis penyakit ini, yaitu, demam, batuk,
pilek, thypus, diare, maag dan lain-lainnya.
Pola konsumsi buah adalah asupan jenis-jenis buah yang dikonsumsi oleh
sampel dalam satu hari dalam bentuk gram/kap/hari.
Pola komsumsi sayur adalah asupan jenis-jenis sayur yang dikonsunsi oleh
sampel dalam satu hari dalam bentuk gram/kap/hari
Remaja adalah kelompok usia yang pertumbuhan dari usia anak sekolah dan
mejelang ke period dewasa.
Usia adalah umur sampel pada saat penelitian dilakukan yang dinyatakan dalam
tahun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Pondok Pesantren Imu Al-Qur’an (PPIQ) terletak di Perumahan Bukit Asri,


Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Pondok pesantren ini
dibangun oleh Almarhum Almaghfuriah KHM Jusuf Djunaedi Al-Hafidz pada
tahun 1950. Luas area pesantren yaitu 9000 m2 , pondok pesantren ini terdiri dari
tiga bangunan utama, yaitu gedung Madrasah Tsnawiyah-Aliyah, komplek asrama
putri, dan komplek asrama putra. Program pengajaran di Lembaga PPIQ adalah
pendidikan dan pengajaran dalam bidang Hifdzil Qur’an dan Qiro’atul Qur’an.
Selain itu, di PPIQ juga terdapat pendidikan formal di kelas Madrasah
Tsanawiyah-Aliyah yang sudah terakreditasi A. Kegiatan-kegiatan
ekstrakulikuler yang terdapat di PPIQ, yaitu bahasa inggris, komputer, bahasa
arab, paskibra, dan pramuka.
Kegiatan pembelajaran di PPIQ dilaksanakan dari hari sabtu hingga hari
kamis, sedangkan pada hari jumat kegiatan pembelajaran di kelas diliburkan.
Pembelajaran di PPIQ dimulai dari pukul 8.00 wib sampai dengan pukul 12.00
wib. Sebagian besar siswa-siswi tinggal di asrama. Setiap komplek asrama
9

mempunyai dapur masing-masing untuk penyelenggaran makanan. PPIQ


memiliki empat dapur yang digunakan untuk menyediakan konsumsi siswa-siswi.

Usia dan Jenis Kelamin Contoh

Menurut Papilia & Olds (2001) masa remaja merupakan masa transisi
perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang pada umumnya
dimulai dari usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau
awal dua puluh tahun. Contoh pada penelitian ini termasuk ke dalam kelompok
remaja dengan rentang usia 12-14 tahun. Jumlah contoh yang digunakan dalam
penelitian sebesar 44 contoh. Sampel terdiri atas 30 orang perempuan (68.2%) dan
14 orang laki-laki (31.8%). Sebagian besar responden berusia 13 tahun yaitu
terdiri atas 19 orang (43.2%), sedangkan responden yang berusia 14 tahun
sebanyak 15 orang (34.1%) dan responden yang berusia 12 tahun sebanyak 10
orang (22.7%).

Pengetahuan Gizi Terhadap Buah dan Sayur

Pengetahuan dapat mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Menurut


Aswatini et al. (2008) konsumsi buah dan sayur dipengaruhi oleh berbagai macam
faktor antara lain kemampuan ekonomi, ketersediaan, dan pengetahuan terkait
manfaat konsumsi buah dan sayur. Penelitian yang dilakukan oleh Schroeder et al.
(2007) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara pengetahuan
gizi dengan konsumsi buah dan sayuran hijau.
Pengetahuan gizi pada penelitian ini diperoleh melalui kuesioner dengan
bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 12 pertanyaan meliputi manfaat buah dan
sayur, kandungan zat gizi pada buah dan sayur, anjuran konsumsi buah dan sayur,
serta dampak kekurangan konsumsi buah dan sayur. Sebagian besar responden
pada penelitian ini memiliki pengetahuan gizi yang sedang terkait buah dan sayur
(40.9%) sedangkan yang lainnya termasuk ke dalam kategori baik (31.8%) dan
kurang (27.3%).
Tingkat pengetahuan gizi pada siswa-siswi di pondok pesantren Ilmu Al-
Qur’an termasuk dalam kategori sedang diduga karena terdapat pertanyaan-
pertanyaan yang spesifik pada beberapa jenis buah dan sayur tertentu, sedangkan
contoh belum dapat membedakan fungsi masing-masing dari tiap jenis buah dan
sayuran yang biasanya fungsi berdasarkan pada pigmen yang berbeda. Sebaran
pengetahuan gizi dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Pengetahuan gizi buah dan sayur


Kategori n %
Kurang(<60) 12 27.3
Sedang (60-80) 18 40.9
Baik (>80) 14 31.8
Total 44 100
10

Sikap Gizi Terhadap Buah dan Sayur

Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih


tertutup terhadap suatu stimulus atau objek dan belum merupakan suatu tindakan
atau aktivitas. Sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt
behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah
fasilitas faktor dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo 2003). Sikap gizi
merupakan kecenderungan seseorang untuk setuju atau tidak terhadap suatu
pernyataan yang diberikan. Sikap ini sering kali berpengaruh terhadap perilaku
seseorang walaupun sikap belum merupakan perilaku seseorang yang
sesungguhnya. Sikap responden terhadap buah dan sayur pada penelitian ini
diukur melalui kuesioner yang terdiri atas 10 pernyataan. Pernyataan-pernyataan
yang diajukan meliputi manfaat buah dan sayur, anjuran konsumsi buah dan sayur
serta kandungan gizi buah dan sayur. Sikap gizi dibagi ke dalam tiga kategori
yaitu baik, sedang dan kurang. Sikap gizi yang baik dapat mendorong perilaku
seseorang dalam memilih makanan yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan
sebagian besar responden memiliki sikap terhadap konsumsi buah dan sayur yang
baik (79.5%), sedangkan responden yang lainnya termasuk ke dalam kategori
sedang (15.9%) dan kurang (4.5%). Tingkat sikap gizi pada siswa-siswi di pondok
pesantren Ilmu Al-Qur’an cukup tinggi, karena siswa-siswi cukup mengerti
manfaat konsumsi sayur dan buah untuk kesehatan. Sebaran persentase sikap gizi
dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 Sikap gizi buah dan sayur


Kategori n %
Kurang(<60) 2 4.5
Sedang (60-80) 7 15.9
Baik (>80) 35 79.5
Total 44 100

Pola Konsumsi Buah dan Sayur

Pola Konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah di pondok pesatren
tergolong rendah, hal ini dilihat pada tabel 4. Menurut PGS (2014) anjuran
konsumsi buah untuk remaja adalah 150 gram/hari dan sayur untuk remaja yaitu
250 gram/hari. Jumlah responden mengonsumsi buah sesuai dengan anjuran di
atas 150 gram/hari terdapat 7 orang (15.9%) dan jumlah konsumsi buah kurang
dari 150 gram per hari yaitu 37 orang (84.1%). Sedangkan jumlah responden
konsumsi sayur yang masih kurang dari ajuran yaitu 250 gram/hari adalah 36
orang dengan persentase sebesar 81.8% dan jumlah responden konsumsi sayur di
atas 250 gram/hari yaitu 8 orang (18.2%). Penelitian ini menunjukkan bahwa
terdapat banyak responden yang mengonsumsi buah dan sayur tidak sesuai
dengan anjuran yang diberikan. Jarangnya siswa mengonsumsi buah dapat
disebabkan karena ketersediaan buah yang rendah di pesantren. Selain itu, faktor
lain yang juga berpengaruh adalah faktor kebiasaan dan ekonomi yang
menyebabkan konsumsi buah dan sayur rendah pada siswa-siswi. Hasil penelitian
menunjukkan minimum konsumsi buah adalah 0 gram/hari, dan minimum
11

konsumsi sayur adalah 7.1 gram/hari, sedangkan maksimum konsumsi buah


adalah 1082.9 gram/hari dan maksimum konsumsi sayur adalah 484.3 gram/hari.
Sebaran tingkat konsumsi buah dan sayur dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Frekuensi pola konsumsi buah dan sayur


Pola Konsumsi Buah Pola Konsumsi Sayur
Kategori
n % n %
Kurang 37 84.1 36 81.8
Baik 7 15.9 8 18.2
Total 44 100 44 100
Median(min,max) 53.6(0,1082.9) 56.8(7.1,484.3)

Menurut WHO (2005) apabila kemampuan dalam ketersediaan buah dan


sayur untuk dikonsumsi kurang, maka hal ini akan menyebabkan
ketidakmampuan seseorang untuk mengonsumsi buah dan sayur. Hal ini
membentuk kebiasaan konsumsi buah dan sayur pada seseorang dan sulit untuk
diubah meskipun telah melakukan peningkatan edukasi gizi. Penelitian yang
dilakukan oleh Story (2002) mengatakan bahwa konusmsi buah dan sayur pada
masyarakat dapat dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu faktor individu (pengetahuan
dan perilaku konsumsi buah dan sayur), faktor lingkungan sosial (keluarga,
sekolah, tempat sekitar), faktor lingkungan fisik dan faktor media massa
(pemasaran). Berdasarkan hasil penelitian menujukkan bahwa konsumsi buah dan
sayur pada siswa-siswi di PPIQ masih tergolong rendah, jika kekurangan
konsumsi buah dan sayur terjadi secara terus-menerus, maka akan berisiko
terkena berbagai penyakit degeneratif. Menurut WHO (2003) masyarakat yang
kurang megonsumsi buah dan sayur akan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk
terkena penyakit degeneratif seperti obesitas, PJK (Penyakit Jantung Kroner),
diabetes, hipertensi, kanker usus besar dan lain-lain. Buah dan sayur memiliki
banyak sekali manfaat bagi tubuh manusia, konsumsi buah dan sayur dalam
jumlah cukup dapat mengontrol kadar kolesterol darah sehingga dapat
mengurangi resiko terjadi penyakit degeneratif serta bagi remaja akan membantu
proses pertumbuhan (Almatsier 2003).

Preferensi dan Jenis Pengolahan Buah

Preferensi Buah
Anak-anak yang menyukai buah lebih mungkin mengonsumsi buah lebih
banyak. Hampir seluruh responden pada penelitian ini menyukai buah (95.5%),
hanya terdapat dua responden yang tidak menyukai buah. Alasan responden yang
tidak menyukai buah disebabkan responden tidak terbiasa mengonsumsinya. Hal
ini yang dapat menyebabkan anak menjadi tidak terbiasa mengonsumsi buah dari
kecil. Selain itu, ketersediaan juga dapat menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan preferensi pada seseorang. Ketersediiaan buah yang rendah akan
membuat orang-orang menjadi tidak terbiasa mengonsumi buah. Sebaran
persentase yang menyukai buah, dapat dilihat pada tabel 5.
12

Tabel 5 Preferensi buah


Kategori n %
Suka 42 95.5
Tidak Suka 2 4.5
Total 44 100

Jenis buah yang paling banyak disukai oleh responden adalah buah jeruk
(59.1%) dan buah mangga (56.8%). Penelitian yang dilakukan oleh Wulansari
(2009) di Bogor menunjukkan bahwa buah yang paling disukai oleh remaja
adalah buah jeruk. Hal ini diduga karena buah jeruk dan mangga mengandung
vitamin c yang tinggi, memiliki rasa yang manis dan warna yang menarik serta
harga yang relatif murah. Jeruk mempunyai rasa yang manis, kandungan air yang
banyak dan memiliki kandungan vitamin C yang tinggi (berkisar 27-49 mg/100
gram daging buah). Sari buah jeruk manis mengandung 40-70 mg vitamin C per
100 ml, tergantung jenis jeruknya. Makin tua buah jeruk, umumnya kandungan
vitamin C semakin berkurang, tetapi rasanya semakin manis. Sedangkan mangga
termasuk jenis buah musiman yang menjadi komoditas andalan sektor pertanian
dan dikonsumsi secara lokal di Indonesia. Indonesia termasuk Negara produsen
mangga teratas dengan produksi 1 620 000 ton setiap tahun (FAO 2007). Vitamin
C bermanfaat sebagai antioksidan dalam tubuh, yang dapat mencegah kerusakan
sel akibat aktivitas molekul radikal bebas (Kusuma retno et al. 2013). Vitamin C
adalah vitamin yang tergolong vitamin yang larut dalam air. Sumber Vitamin C
sebagian besar tergolong dari sayur-sayuran dan buah-buahan terutama buah-
buahan segar. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 30 sampai 100 mg vitamin C
yang dianjurkan untuk orang dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan dalam
individu yang berbeda (Sweetman 2005). Sedangkan, dari hasil penelitian terdapat
buah yang paling jarang disukai oleh responden adalah buah leci dan buah
sarikaya (11.4%). Hal ini diduga karena buah leci dan sarikaya merupakan buah-
buahan yang jarang ditemukan di pasaran sehingga anak-anak menjadi tidak
terbiasa mengonsumsinya. Sebaran jenis buah yang disukai dapat dilihat di tabel
6.

Tabel 6 Jenis buah yang disukai oleh responden


Jenis Buah n %
Jeruk 26 59.1
Mangga 25 56.8
Anggur 19 43.2
Apel 19 43.2
Manngis 17 38.6
Duren 15 34.1
Pisang 13 29.5
Alpukat 12 27.3
Pir 12 27.3
Melon 11 25.0
Jambu biji 9 20.5
Rambutan 9 20.5
Kelengkeng 8 18.2
Pepaya 8 18.2
13

Tabel 6 Jenis buah yang disukai oleh responden (lanjutan)


Jenis Buah n %
Naga 7 15.9
Strawberry 7 15.9
Kiwi 6 13.6
Kurma 6 13.6
Nangka 6 13.6
Sawo 6 13.6
Semangka 6 13.6
Sirsak 6 13.6
Leci 5 11.4
Sarikaya 5 11.4

Jenis Pengolahan Buah


Buah merupakan makanan yang dapat dimakan langsung ataupun diolah
terlebih dahulu. Jenis pengolahan buah yang paling umum dilakukan adalah
dijadikan sebagai jus. Pada penelitian ini responden yang mengonsumsi buah
secara langsung yaitu sebanyak 25 responden (56.8%), 18 responden (40.9%)
menyukai buah yang diolah menjadi jus, dan 1 responden (2.3%) menyukai buah
yang diolah menjadi jus serta buah yang dimakan langsung. Alasan untuk
responden memilih buah dalam bentuk segar atau cara makan langsung antara lain
karena lebih segar, enak, lebih banyak mengandung zat gizi seperti vitamin
dibandingkan jika diolah terlebih dahulu. Buah yang dikonsumsi dalam bentuk jus
juga dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi tubuh karena mudah
dicerna. Sebaran persentase cara mengonsumsi buah yang disukai oleh responden
dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7 Jenis pengolahan buah


Kategori n %
Makan langsung 25 56.8
Jus 18 40.9
Makan langsung
dan Jus 1 2.3
Total 44 100

Preferensi dan Jenis Pengolahan Sayur

Preferensi Sayur
Seluruh responden pada penelitian menyukai konsumsi sayur-sayuran. Hal
ini karena pengetahuan gizi dan sikap gizi terhadap konsumsi buah dan sayur pada
responden cukup baik. Jenis sayuran yang paling disukai oleh responden adalah
bayam dengan jumlah 32 orang (72.7%) dan kangkung sebanyak 25 orang
(56.8%). Hal ini diduga karena bayam dan kangkung merupakan salah satu menu
yang sering ditemui oleh anak-anak pada waktu makan dan memiliki rasa yang
enak sehingga sering dikonsumsi. Kangkung merupakan tanaman yang kaya zat
gizi antara lainnya adalah vitamin A, vitamin B1, vitamin C, kalsium, fosfor, zat
besi, karoten, hentriakontan dan sitisterol. Sayuran kangkung sangat bermanfaat
bagi kesehatan, karena bisa menjadi pengobatan dan sebagai antiracun. Kangkung
14

digunakan untuk mencegah penyakit diabetes mellitus, obat sakit kepala,


menenangkan otak, melelapkan tidur, dan menyembuhkan insomnia (Suprato
2012). Sedangkan bayam merupakan tanaman daun yang dapat tumbuh di dataran
rendah maupun tinggi, dan berbentuk tumbuhan semak (Supriata 2007). Bayam
adalah salah satu sayuran yang paling bergizi, bermanfaat mencegah berbagai
penyakit karena melindungi dan memperkuat tubuh melalui berbagai cara (Sellby
2010).
Berdasarkan penelitian ini juga didapatkan hasil bahwa daun singkong
dan kol merupakan sayuran yang paling banyak tidak disukai oleh responden,
hanya terdapat 1 (2.3%) responden yang menyukai sayuran-sayuran ini. Hal ini
diduga karena sayur-sayuran ini memiliki rasa yang pahit dan jarang disediakan
sehingga mereka tidak terbiasa mengonsumsi sayuran ini. Sebaran jenis sayur
yang disukai dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8 Jenis sayur yang disukai oleh responden


Kategori n %
Bayam 32 72.7
Kangkung 25 56.8
Tauge 6 13.6
Wortel 6 13.6
Brokoli 2 4.5
Jagung 2 4,5
Kacang panjang 2 4.5
Kentang 2 4.5
Labu siam 2 4.5
Daun Singkong 1 2.3
Kol 1 2.3

Selain sayur utuh yang dapat disukai, sayur olahan juga dapat disukai oleh
banyak responden. Hasil penelitian menunjukkan sayur sop dan sayur asem
merupakan sayur olahan yang paling disukai oleh responden yaitu 50% untuk
sayrur sop, dan 31.8% untuk sayur asem. Sedangkan, sayur lodeh dan sayur
bening merupakan sayur olahan paling sedikit disukai, dengan persentase 9.1%
untuk sayur lodeh, dan 2.3% untuk sayur bening. Sebaran jenis sayur olahan yang
disukai dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9 Jenis sayur olahan yang disukai oleh responden


Kategori n %
Sayur Sop 22 50
Sayur Asem 14 31.8
Sayur Lodeh 4 9.1
Sayur Bening 1 2.3

Jenis Pengolahan Sayur


Sayuran merupakan salah satu makanan yang dijadikan menu dalam waktu
makan besar (pagi, siang dan malam). Pengolahan sayuran dapat dibagi menjadi
macam-macam olahan yaitu, sayuran berkuah bening, sayuran bersantan, sayuran
ditumis, serta sayuran direbus. Sebagian besar responden pada penelitian ini
15

memilih sayuran berkuah bening sebagai pengolahan sayur yang paling disukai
yaitu sebanyak 20 responden (45.5%), dan 19 responden menyukai sayuran yang
ditumis (43.2%). Cara konsumsi sayur yang paling sedikit disukai yaitu sayuran
bersantan dengan jumlah responden yang menyukai hanya sebanyak 3 responden
(6.8%), sedangkan 2 responden lainnya (4.5%) menyukai semua semua jenis
pengolahan sayuran. Cara konsumsi sayuran yang direbus tidak disukai oleh
seluruh responden. Cara konsumsi sayur dalam bentuk kuah bening dapat banyak
disukai oleh responden disebabkan karena enak, kuah yang terasa segar dan tidak
menghilangkan banyak kandungan gizi pada sayur. Pemilihan cara konsumsi
sayuran dengan cara ditumis karena rasa lebih enak, gurih dan lezat, selain itu
pengolahan sayuran dengan cara ditumis merupakan cara yang paling baik apabila
sayuran tersebut digunakan sebagai sumber vitamin A. Sebaran persentase jenis
cara konsumsi sayur disukai dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10 Jenis pengolahan sayur


Kategori n %
Berkuah Bening 20 45.5
Tumis 19 43.2
Bersantan 3 6.8
Berkuah Bening, Tumis,
dan Bersantan 2 4.5
Total 44 100

Morbiditas

Penilaian derajat kesehatan di suatu wilayah biasanya menggunakan


indikator yang umum dan telah disepakati baik scara nasiontal maupun
internasional seperti angka kematian (mortalitas) dan angka kesakitan
(morbiditas). Morbiditas adalah kondisi seseorang dikatakan sakit apabila
keluhan kesehatan yang dirasakan mengganggu aktivitas sehari-hari yaitu tidak
dapat melakukan kegiatan seperti sekolah, bekerja, mengurus rumah tangga dan
kegiatan lain secara normal (BPS RI 2009). Pengambilan data pada penelitian ini
adalah dengan menggunakan metode wawancara langsung dan memakai
kuesioner penelitian sebagai alat pembantu, responden ditanyakan apakah pernah
sakit dalam tiga bulan terakhir, kemudian ditanyakan terkait dengan frekuensi dan
lama sakit pada masing-masing penyakit yang pernah diderita selama tiga bulan
terakhir.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat 40 orang (90,9%) yang
mengatakan pernah sakit dalam tiga bulan terakhir. Penyakit yang paling umum
terjadi pada penelitian ini antara lain panas (demam), batuk, pilek, diare, thypus,
dan maag (penyakit lambung). Demam adalah suatu keadaan dimana suhu rektal
lebih dari 38oC (Schwartz 1996). Pada umumnya, ketika suhu tubuh naik
pembuluh dara di dalam kulit membesar dan kulit menjadi merah dan terasa panas
(Sears W dan sears M 2007). Hasil dari penelitian menunjukkan jumlah contoh
yang pernah demam dalam tiga bulan terakhir adalah 24 orang (54.5%). Batuk
merupakan ekspirasi eksplosif yang menyediakan mekanisme protektif normal
untuk membersihkan cabang trakeobronkial dari secret dan zat-zat asing.
Masyarakat cenderung untuk mencari pengobatan apabila batuknya
16

berkepanjangan sehingga mengganggu aktivitas seharian atau mencurigai kanker


(Weinberger 2005). Menurut Dicpinigaitis (2009) batuk secara definisinya bisa
diklasifikasikan mengikut waktu yaitu batuk akut yang berlangsung selama
kurang dari tiga minggu, batuk sub-akut yang berlangsung selama tiga minggu
hingga delapan minggu dan batuk kronis berlangsung selama lebih dari delapan
minggu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 27 orang (61.4%)
menderita batuk dan 17 orang (38.6%) tidak menderita batuk dalam tiga bulan
terakhir. Commond cold (pilek) merupakan rhinitis akut yang disebabkan oleh
virus “selesma”. Rhinitis berarti “iritasi hidung” dan adalah derivative dari rhino,
berarti “hidung”. Selaput lender pada hidungyang terkena iritasi atau radang akan
memproduksi lebih banyak lender dan mengembang, sehingga hidung menjadi
tersumbat dan pernafasan jadi sulit (Admin 2011). Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa ter dapat 28 orang (63.6%) yang menderita pilek dalam tiga
bulan terakhir, dan 16 orang (36.4%) yang tidak pernah pilek dalam tiga bulan
terakhir ini. Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
frekuensi lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari dan
konsistensinya lembek atau cair. Diare dapat disebabkan oleh infeksi (bakteri,
virus), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan lain-lain namun
penyebab yang sering ada di lapangan yaitu infeksi dan keracunan. Diare
dikategorikan menjadi dua antara lain diare akut atau diare yang berlangsung
kurang dari 14 hari dan diare kronis atau diare yang berlangsung lebih dari 14 hari
(Depkes 2011). Hasil dari tabel menunjukkan bahwa jumlah contoh pernah diare
adalah 12 orang (27.3%) dan jumlah contoh tidak pernah diare adalah 32 orang
(72.3%). Alergi adalah reaksi hipersentivitas yang diperantarai oleh mekanisme
imunologi. Pada keadaan normal mekanisme pertahanan tubuh baik humoral
maupun selular tergantung pada aktivasi sel B dan sel T. Aktivasi berlebihan oleh
antigen atau gangguan mekanisme ini akan menimbulkan suatu keadaan
imunopatologik yang disebut reaksi hipersensitivitas. Hipersensitivitas sendiri
berarti gejala atau tanda yang secara objektif dapat ditimbulkan kembali dengan
diawali oleh pajanan terhadap suatu stimulus tertentu pada dosis yang ditoleransi
oleh individu yang normal. Menurut Gell dan Coombs, reaksi hipersensitivitas
dapat dibagi menjadi 4 tipe, yaitu tipe I, II, III dan IV (WAO, 2003). Hasil dari
tabel menunjukkan bahwa jumlah contoh pernah alergi adalah 7 orang (15.9%)
dan jumlah contoh tidak pernah alergi adalah 37 orang (84.1%). Tipes atau thypus
adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran darah
yang disebabkan oleh Bakteri Salmonella typhosa atau Salmonella paratyp hi A,
B dan C, selain ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (radang lambung).
Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus, tetapi
dalam dunia kedokteran disebut Typhoid fever atau Thypus abdominalis karena
berhubungan dengan usus di dalam per, 2002). Typus abdominalis adalah
penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala
demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran
(Sudoyo, 2009). Berdasarkan hasil penelitian terdapat 13.6% contoh yang
mengatakan pernah menderita thypus dan 86.4% penderita tidak pernah thypus.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa contoh yang pernah menderita maag
yaitu 5 orang (11.4%) dan 39 orang (88.6%) tidak pernah sakit maag. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa contoh yang pernah menderita maag yaitu 5
orang (11.4%) dan 39 orang (88.6%) tidak pernah sakit maag. Hasil penelitian
17

juga menunjukkan bahwa terdapat beberapa penyakit-penyakit yang sedikit


contoh menderita, yaitu sakit gigi dengan 4 penderita (9.1%), penyakit cacar
dengan 2 penderita (4.5%), terdapat 1 (2.3%) contoh yang menderita asma dan
usus. Dibawah adalah sebaran contoh yang menderita sakit.

Tabel 11 Kejadian penyakit-penyakit pada responden


Jenis Penyakit n %
Pilek 28 63.6
Batuk 27 61.4
Demam 24 54.5
Diare 12 27.3
Alergi 7 15.9
Thypus 6 13.6
Maag 5 11.4
Gigi 4 9.1
Cacar 2 4.5
Asma 1 2.3
Usus 1 2.3

Indikator morbidtas lainnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah


frekuensi dan lama sakit. Menurut Untoro et al. (2005) frekuensi dan lama sakit
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tinggi dan rendah. Frekuensi dan lama
sakit yang tergolong tinggi adalah yang memiliki nilai > dari median, sedangkan
yang tergolong ke dalam kategori rendah adalah yang memiliki nilai ≤ dari
median. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa persentasi responden
terbesar yang termasuk ke dalam kategori morbiditas tinggi berdasarkan lama
sakit adalah batuk (47.7%) dan demam (47.7). Sedangkan, berdasarkan frekuensi
sakit persentasi responden yang termasuk ke dalam kategori morbiditas tinggi
paling banyak adalah sakit pilek (29.5). Selain masing-masing penyakit,
penelitian ini juga menghitung frekuensi dan lama sakit berdasarkan seluruh
penyakit yang pernah dialami oleh responden (penyakit digabungkan).
Berdasarkan penyakit gabungan tersebut, didapatkan yang termasuk ke dalam
morbiditas tinggi berdasarkan lama sakit adalah 22%, sedangkan berdasarkan
frekuensi sakit yang termasuk ke dalam morbiditas tinggi adalah 22%. Sebaran
contoh menurut lama sakit berdasarkan jenis penyakit disajikan pada tabel 12.

Tabel 12 Morbiditas terhadap lama sakit dan frekuensi sakit


Jenis Kategori Lama Sakit Kategori Frekuensi Sakit
Penyakit Nilai ≤ median > median Nilai ≤ median > median
median (rendah) (tinggi) median (rendah) (tinggi)
n % n % n % n %
Batuk 3 23 52.3 21 47.7 1 32 72.7 12 27.3
Demam 3 35 79.5 9 20.5 1 33 75 11 25
Pilek 2 23 52.3 21 47.7 1 31 70.5 13 29.5
Diare 0 32 72.7 12 27.3 0 32 72.7 12 27.3
Alergi 0 37 84.1 7 15.9 0 37 84.1 7 15.9
Thypus 0 38 86.4 6 13.6 0 38 86.4 6 13.6
Maag 0 39 88.6 5 11.4 0 39 88.6 5 11.4
18

Tabel 12 Morbiditas terhadap lama sakit dan frekuensi sakit (lanjutan)


Jenis Kategori Lama Sakit Kategori Frekuensi Sakit
Penyakit Nilai ≤ median > median Nilai ≤ median > median
median (rendah) (tinggi) median (rendah) (tinggi)
n % n % n % n %
Gigi 0 40 90.9 4 9.1 0 40 90.9 4 9.1
Cacar 0 42 95.5 2 4.5 0 42 95.5 2 4.5
Asma 0 43 97.7 1 2.3 0 43 97.7 1 2.3
Usus 0 43 97.7 1 2.3 0 43 97.7 1 2.3

Hasil penelitian menunjukkan morbiditas pada contoh di pondok pesantren


Ilmu Al-Qur’an termasuk ke dalam kategori tinggi, yaitu terdapat 22 orang (50%)
yang memiliki nilai gabungan antara lama sakit dengan frekuensi sakit yang
tinggi. Sebaran contoh menurut morbiditas gabungan disajikan pada tabel 13.

Tabel 13 Morbiditas gabungan pada responden


Kategori n %
Tinggi 22 50.0
Rendah 22 50.0
Total 44 100

Hubungan Antar Variabel

Hubungan Karakteristik Contoh dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur


Hasil Uji Spearman pada penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara usia dengan konsumsi buah dan sayur (p>0.05).
Hal ini diduga karena seluruh responden masih dalam rentang umur yang sama.
Kelompok usia ini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan pada
usia ini remaja cenderung lebih menyukai jajanan cepat saji dibandingkan dengan
sayur dan buah. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mohammad & Madanijah (2015) yang menunjukkan bahwa umur contoh tidak
berhubungan signifikan dengan konsumsi buah dan sayur menggunakan Uji
Spearman. Seberan nilai p antara konsumsi buah dan sayur dengan usia dapat
dilihat di tabel 14.

Tabel 14 Uji statistik usia dengan konsumsi buah dan sayur


Pola konsumsi buah Pola konsumsi sayur
Pengetahuan
Kurang Baik p Kurang Baik p
gizi
n % n % n % n %
12 tahun 10 22.7 0 0.0 9 20.5 1 2.3
13 tahun 15 34.1 4 9.1 0.059 13 29.5 6 13.6 0.489
14 tahun 12 27.3 3 6.8 14 31.8 1 2.3
Jumlah 37 84.1 7 15.9 36 81.8 8 18.2

Hasil Uji Spearman pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kebiasaan konsumsi sayur
dan buah (p>0.05). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mandira (2013) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
19

signifikan antara jenis kelamin dengan konsumsi buah sayur dengan nilai p-value
0.118. Penilitian yang dilakukan oleh Bahria & Triyanti (2010) juga menunjukkan
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan
konsumsi buah dan sayur. Hal ini diduga karena responden laki-laki cenderung
lebih memilih makanan yang berkalori tinggi. Seberan nilai p antara konsumsi
buah dan sayur dengan jenis kelamin dapat dilihat di tabel 15.

Tabel 15 Uji statistik jenis kelamin dengan konsumsi buah dan sayur
Pola konsumsi buah Pola konsumsi sayur
Jenis
Kurang Baik p Kurang Baik p
kelamin
n % n % n % n %
Perempuan 27 61.4 3 6.8 24 54.5 6 13.6
0.474 0.960
Laki-laki 10 22.7 4 9.1 12 27.3 2 4.5
Jumlah 37 84.1 7 15.9 36 81.8 8 18.2

Hasil dari penelitian ini mengatakan tidak ada hubungan signifikan antara
konsumsi buah dan sayur dengan karakteristik individu contoh. Hal ini tidak
sejalan dengan teori Ramussen et al. (2006) yang menunjukkan bahwa buah dan
sayur berhubungan dengan karakteristik induvidu contoh meliputi jenis kelamin
dan usia contoh.

Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur


Hasil Uji Spearman pada penelitian menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan kebiasaan konsumsi
sayur (p=0.004). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Farisa
(2012) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
pengetahuan gizi dengan konsumsi buah dan sayur pada siswa SMPN 8 Depok
dengan nilai p-value 0.012. Menurut Farisa (2012) tingkat pengetahuan seseorang
akan mempengaruhi pemilihan makanannya. Hasil penelitian ini juga sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohammad & Madanijah (2015) yang
menyatakan bahwa pengetahuan gizi anak berhubungan positif dengan konsumsi
buah dan sayur. Sedangkan hasil Uji Spearman menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan kebiasaan konsumsi
buah (p=0.984). Hal ini diduga karena di PPIQ tidak tersedia buah sehingga
tidak terdapat hubungan meskipun responden memiliki nilai pengetahuan gizi
yang baik mengenai konsumsi buah dan sayur. Sebaran nilai p antara konsumsi
buah dan sayur dengan pengetahuan gizi dapat dilihat di tabel 16.
Tabel 16 Uji statistik pengetahuan gizi dengan pola konsumsi buah dan sayur
Pola konsumsi buah Pola konsumsi sayur
Pengetahuan
Kurang Baik p Kurang Baik p
gizi
n % n % n % n %
Kurang 8 18.2 4 9.1 10 22.7 2 4.5
Sedang 18 40.9 0 0.0 0.984 15 34.1 3 6.8 0.004(*)
Baik 11 25 3 6.8 11 25 3 6.8
Jumlah 37 84.1 7 15.9 36 81.8 8 18.2
(*) signifikan, uji korelasi
20

Hubungan Sikap Gizi dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur


Pada penelitian ini sikap gizi merupakan kecenderungan seseorang untuk
menyetujui atau tidak menyetujui pola perilaku konsumsi buah dan sayur. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sikap gizi berhubungan dengan frekuensi
konsumsi sayur (p=0.002). Hal ini sejalan dengan penelitian Farisa (2012) bahwa
terdapat hubungan signifikan antara sikap gizi dengan konsumsi buah dan sayur
dengan p-value 0.003. Sedangkan, hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa
sikap gizi tidak berhubungan siginifikan dengan kebiasaan konsumsi buah
(p=0.241). Hasil ini tidak sejalan dengan teori Klama (2013) yang menunjukkan
bahwa perilaku konsumsi buah dan sayur berhubungan secara langsung dengan
sikap gizi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Vereecken et al. (2005) yang
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi buah
dengan sikap gizi. Hasil ini juga sejalan dengan Mohammad & Madanijah (2015)
menujukkan tidak ada hubungan signifikan antara konsumsi buah dengan sikap
gizi, hal ini berarti bahwa sikap gizi yang baik belum menentukan baiknya
konsumsi buah dan sayur. Hal ini juga diduga karena rendahnya ketersediaan
buah di PPIQ sehingga responden sulit untuk mengonsumsi buah sehingga tidak
terdapat hubungan antara konsumsi buah dengan sikap gizi. Seberan nilai p antara
konsumsi buah dan sayur dengan sikap gizi dapat dilihat di tabel 17.

Tabel 17 Uji statistik sikap gizi dengan pola konsumsi buah dan sayur
Pola konsumsi buah Pola konsumsi sayur
Sikap
Kurang Baik p Kurang Baik p
gizi
n % n % n % n %
Kurang 2 4.5 0 0.0 2 4.5 0 0.0
Sedang 5 11.4 2 4.5 0.241 7 15.9 0 0.0 0.002(*)
Baik 30 68.2 5 11.4 27 61.4 8 18.2
Jumlah 37 84.1 7 15.9 36 81.8 8 18.2
(*) signifikan, uji korelasi

Hubungan Preferensi Buah dengan Pola Konsumsi Buah


Uji Spearman pada penelitian ini menunjukkan bahwa kesukaan terhadap
buah dan sayur tidak berhubungan dengan frekuensi konsumsi buah (p=0.867).
Hal ini sejalan dengan penelitian Farisa (2012), yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara preferensi dengan konsumsi buah dan sayur pada
sis SMP di Depok. Akan tetapi hasil peneelitian ini tidak sejalan dengan hasil
penelitian Annur (2014), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara preferensi dengan konsumsi buah dan sayur. Hal tersebut karena
sebagian besar respoden menyukai sayuran segar (55.9%). Menurut Blanchette
dan Brug (2005) jika ketersediaan bauh dan sayur kurang maka paparan buah dan
sayur pada responden juga terbatas, sehingga akan mengurangi kesukaan terhadap
buah dan sayur, dan sebaliknya jika ketersediaan buah dan sayur cukup maka
paparan buah dan sayur pada anak juga tinggi, sehingga akan meningkatkan
kesukaan terhadap buah dan sayur. Preferensi makanan anak-anak sangat terkait
dengan pola konsumsi mereka. Makanan kaya lemak dan makanan dengan
kandungan gula yang tinggi sering kali lebih disukai oleh anak-anak dibandingkan
dengan makanan yang rendah kalori dan kaya mikronutrien seperti buah-buahan
dan sayuran (Lakkakula 2011). Kemudian, jika seorang anak tidak menyukai
21

sejenis buah dan sayur maka ia cenderung akan menghindari apa yang tidak sukai.
Rasa yang disukai oleh anak adalah manis dan asin sedangkan rasa yang tidak
disukai adalah pahit dan asam (Brug et al 2008). Seberan nilai p antara pola
konsumsi buah dengan preferensi buah dapat dilihat di tabel 18.

Tabel 18 Uji statistik preferensi buah dengan pola konsumsi buah


Pola konsumsi buah
Preferensi
Kurang Baik p
buah
n % n %
Tidak suka 2 4.5 0 0.0
0.867
Suka 35 79.5 7 15.9
Jumlah 37 84.1 7 15.9

Hubungan Morbiditas dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur


Menurut Slavin & Lloyd (2012) sayur dan buah memiliki berbagai zat
fitokimia antara lain polifenol, phytoestrogen dan antioksidan yang berfungsi
untuk mencegah tubuh dari berbagai macam penyakit. Uji Spearman pada
penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan dengan pola konsumsi buah dan
sayur dengan morbiditas yang meliputi gabungan antara variabel frekuensi sakit
dengan variabel lama sakit. Hal ini diduga karena konsumsi buah dan sayur
bukan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi penyakit infeksi, juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti cuaca, contoh terlalu capek, dan
kurang beraktivitas fisik seperti olahgara. Akan tetapi konsumsi buah dan sayur
kurang dalam jangka panjang akan berpengaruh bagi kesehatan dalam masa depan
yang akan terjadinya penyakit kronis. Menurut Ruwaidah (2007), apabila kurang
konsumsi buah dan sayur akan mandapatkan gangguan anatara lain meningkatkan
kolesterol darah, gangguan penglihatan/mata, menurunkan kekebalan tubuh,
meningkatkan resiko kegemukan. Seberan nilai p antara pola konsumsi buah dan
sayur dengan gabungan lama sakit dapat dilihat di tabel 19.

Tabel 19 Uji statistik morbiditas dengan pola konsumsi buah dan sayur
Pola konsumsi buah Pola konsumsi sayur
Morbiditas Kurang Baik p Kurang Baik p
n % n % n % n %
Tinggi 19 43.2 3 6.8 18 40.9 4 9.1
0.483 0.808
Rendah 18 40.9 4 9.1 18 40.9 4 9.1
Jumlah 37 84.1 7 15.9 36 81.8 8 18.2

Hubungan Lama Sakit dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur


Uji Spearman pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
antara frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan lama sakit pada tiap-tiap
penyakit. Hal ini diduga karena adanya faktor-faktor lain yang berpengaruh
terhadap lama sakit seperti perubahan cuaca ataupun karena konsumsi makanan
yang tidak dianjurkan ketika sakit yang dapat memperlambat proses
penyembuhan. Seberan nilai p antara pola konsumsi buah dan sayur dengan
gabungan lama sakit dapat dilihat di tabel 20.
22

Tabel 20 Uji statistik lama sakit dengan pola konsumsi buah dan sayur
Kategori Lama Konsumsi buah Konsumsi sayur
Sakit p p
Demam 0.439 0.255
Batuk 0.324 0.159
Pilek 0.528 0.530
Diare 0.743 0.725
Thypus 0.069 0.407
Maag 0.646 0.559
Alergi 0.377 0.489
Gigi 0.720 0.462
Cacar 0.766 0.154
Asma 0.845 0.669
Usus 0.366 0.413

Hubungan antara Frekuensi Sakit dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur
Uji Spearman pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
antara frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan frekuensi sakit. Hal ini diduga
karena ada faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan kejadian sakit selain
karena asupan buah dan sayur seperti aktifitas fisik yang rendah setelah kejadian
penyakit sebelumnya sehingga imunitas tubuh menjadi menurun, ataupun dapat
disebabkan karena mengonsumsi jajanan yang tidak higienis. Seberan nilai p
antara pola konsumsi buah dan sayur dengan frekuensi sakit dapat dilihat di tabel
21.

Tabel 21 Uji statistik frekuensi sakit dengan pola konsumsi buah dan sayur
Kategori Frekuensi Sakit Konsumsi Konsumsi sayur
buah
p p
Demam 0.072 0.799
Batuk 0.656 0.593
Pilek 0.980 0.567
Diare 0.743 0.725
Thypus 0.069 0.407
Maag 0.646 0.559
Alergi 0.367 0.622
Gigi 0.776 0.531
Cacar 0.737 0.160
Asma 0.845 0.669
Usus 0.366 0.413

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Jumlah seluruh responden pada penelitian ini adalah 44 orang. Responden


yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada responden dengan jenis
kelamin laki-laki, terdapat 30 orang perempuan (68.2%) dan 14 orang laki-laki
(31.8%). Responden pada penelitian ini merupakan remaja dengan rentang usia
12-14 tahun. Proposi besar responden berusia 13 tahun yaitu 43.2%, sedangkan
responden yang berusia 14 tahun sebanyak 34.1% dan responden yang berusia 12
tahun sebanyak 22.7%.
Proposi besar responden memiliki pengetahuan gizi yang sedang yaitu
sebanyak 40.9%. Sikap responden terhadap buah dan sayur sebagian besar
termasuk ke dalam kategori baik yaitu sebanyak 35 orang (79.5%). Hampir
seluruh responden menyukai buah dan sayur. Sebagian besar responden
mengonsumsi buah (84.1%) dan sayur (81.8%) dalam kategori kurang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 orang (50%) yang memiliki
morbiditas tinggi.
Uji hubungan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan
(p>0.05) antara usia dengan pola konsumsi buah dan sayur (p=0.059 untuk buah;
p=0.489 untuk sayur). Variabel pengetahuan gizi dan sikap gizi berhubungan
signifikan dengan pola konsumsi sayur (p=0.004 untuk pengetahuan gizi; p=0.002
untuk sikap gizi), tetapi tidak ada hubungan dengan pola konsumsi buah (p=0.984
untuk pengetahuan gizi; p= 0.241 untuk sikap gizi). Hasil uji spearman juga
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara morbiditas dengan pola konsumsi
buah dan sayur (p=0.483 untuk buah; p=0.808 untuk sayur).

Saran

Untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur diperlukan kerja sama antara
pihak pondok pesantren dengan pengelola kantin agar dapat menyediakan buah
dan sayur untuk konsumsi secara kuantitatif maupun kualutatif dengan harga
murah. Selain itu, diperlukan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong untuk
meningkatkan konsumsi buah dan sayur pada para siswa/siswi.

DAFTAR PUSTAKA


Admin. 2011. Dinas Kesehatan Kota Balikpapan UPT laboratorium dan
Radiologi. [Internet]. [Diunduh pada 20 Februari 2017]. Tersedia pada:
http://laboratoriumbpn.blogspot.com/2011/04/trombosit-adalah-fragmen
atau-kepingan.html
Ali Hasan Rafsanjani. 2014. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap
Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Pondok Pesantren Al-
Hikmah Semberejo Karangmojo GunungKidul. Yogyakarta (ID): Naskah
Pubilkasi
Almatsier S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta (ID)
Almatsier S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka
Utama.
Almatsier S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka
Utama.
Almatsier S. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta (ID):
Gramedia Pustaka Utama.
Annur DR. 2014. Hubungan Faktor Individu Dan Lingkungan Dengan Konsumsi
Buah Dan Sayur Pada Siswa SMPN 19 Jakarta Tahun 2014. Skripsi. FKM,
Gizi, Universitas Indonesia.
Arisman. 2008. Buku Ajar Ilmu Gizi: Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta (ID):
Buku Kedokteran EGC.
Astawan M. 2008. Sehat dengan Buah: Panduan Lengkap Menjaga Kesehatan
dengan Buah. Jakarta (ID): Dian Rakyat.
Aswatini, Noveria M, Fitranita. 2008. Konsumsi Sayur dan Buah di Masyarakat
dalam Konteks Pemenuhan Gizi Seimbang. Jurnal Pusat Penelitian
Kependudukan–Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 3(2).
Ayu I. 2010. Manfaat Buah-buahan dan Sayur-sayuran. Denpasar (ID):
Politeknik Kesehatan Depkes RI.
[BKKBN] Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 1998.
Gerakan Keluarga Berencana Sejahtera. Jakarta (ID): BKKBN
[BPS RI] Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2009. Statistik Perdagangan
Luar Negeri Indonesia Jilid 1 2008. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik
Republik Indonesia.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Sensus Kependudukan. [internet]. [Diunduh
pada 15 April 2016]. Tersedia pada: www.Sp2010.bps.go.id.
Bahria, Triyanti. 2010. Faktor-faktor yang terkait dengan Konsumsi Buah Dan
Sayur pada Remaja di 4 SMA Jakarta Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat.
4 (2): 63-71.

Baker, Anna, Wardle J. 2003. Sex Differences in Fruit and Vegeteble Intake in
Older Adults. Appetite. 40: 269-275.
Bere, Elling, Klepp KK. 2005. Changes in Accessibility and Preferences Predict
Children’s Future Fruit and Vegetable Intake. International Journal of
Behaviorial Nutrition and Physical Activity. 2:15.
Blanchette L, Brug J. 2005. Determinants of Fruit and Vegetable Consumption
among 6-12 Year Old Children and Effective Interventions to Increase
Consumption. Journal Human Nutrition Diet. 18(6): 431-43.
Broto W. 2003. Teknologi Penanganan Pascapanen Buah untuk Pasar. Jakarta
(ID): Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian.
Brown, Judith E. 2005. Nutrition Through the Life Cycle. USA (US): Thomson
Wadworth.
Brug J, Tak NI, TeVelde SJ, Bere E, deBourdeaudhuij I. 2008. Taste Preferences,
Liking and Other Factors Related to Fruit and Vegetable Intakes among
Schoolchildren: result from Observational Studies. British Journal of Fruit
99 (1): S7-S14.
[DEPKES] Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan
Dasar Indonesia (Riskesdas) Tahun 2007. Jakarta (ID): Badan Penelitian
dan Pengembangan Depkes RI.
[DEPKES] Departemen Kesehatan RI. 2011. Buku Saku Diare Edisi 2011.
Jakarta (ID): Departemen Kesehatan RI.
Dewantari NM dan Widiani A. 2011. Fuits and Vegetables Consumtion Pattern in
School Children. Jurnal Skala Husada. Vol. 8. No.2:119-125.
Digpinigaitis PV. 2009. Acute Cough: A Diagnostic and Therapeutic Challenge,
USA. [internet]. [Diunduh pada 29 Maret 2017]. Tersedia pada:
http://www.coughjournal.com/content/5/1/11.
Farisa S. 2012. Hubungan Sikap, Pengetahuan, Ketersediaan dan Keterpaparan
Media Massa dengan Konsumsi Buah dan Sayur pada Siswa SMPN 8
Depok Tahun 2012. [Skripsi]. Depok (ID): Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Indonesia.
Febry AB, Pujiastuti N, Fajar I. 2013. Ilmu Gizi untuk Praktisi Kesehatan.
Yogyakarta (ID): Graha Ilmu.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2007. World Watch List for Domestic
Animal Diversity 3rd Ed. Rome (CI): FAO.
Gibson RS. 2005. Principal of Nutritional and Assessment. Newyork (UK):
Oxford University Press.
Gusti S. 2004. Gambaran Konsumsi Sayuran pada Penghuni Asrama Mahasiswa
Universitas Indonesia Tahun 2004. [Skripsi]. Depok (ID): Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
Hermina, Trintrin T, Mudjianto, Ernaa Luciasari, Tjetjep S, Hidayat, Djoko
Susanto. 1996. Pola Konsumsi Makanan Santri di Lima Pesantren di

Kabupaten Ciamis dan Jombang. Bogor (ID): Pusat Penelitian Dan


Pengembangan Gizi.
Hidayati S, Irwan R, Hidayat B. 2010. Obesitas pada Anak. [internet]. [Diunduh
pada 01 April 2016]. Tersedia pada:
http://www.pediatrik.com/buletin/06224113652-048qwc.pdf.
Hudha L. 2006. Hubungan antara Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan
Obesitas. Semarang (ID): Universitas Negeri Semarang.
Hung HC, Joshipura KJ, Jiang R, Hu FB, Hunter D, Smith-Warner SA, Colditz
GA, Rosner B, Spiegelman D, Willett WC. 2004. Fruit and Vegetable
Intake and Risk of Major Chronic Disease. Natl Cancer Inst. 96 (21): 1577-
84.
[KBBI] Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2014. Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI). [internet]. [Diunduh pada 15 April 2016]. Tersedia pada:
http://kbbi.web.id/
[Kemenag] Kementrian Agama. 2012. Analisis Statistik Pendidikan Islam.
[internet]. [Diunduh pada 23 Maret 2016]. Tersedia pada:
https://www.pendis.kemenag.go.id.
[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Gizi
Seimbang (Pedoman Teknis bagi Petugas dalam Memberikan Penyuluhan
Gizi Seimbang). Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA KKR.
Khomsan A. 2000. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Khomsan A. 2003. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta (ID): PT Raja
Grafindo Persada.
Khomsan A. 2004. Peranan Pangan Dan Gizi Untuk Kualitas Hidup. Jakarta
(ID): PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Khomsan A. 2009. Rahasia Sehat dengan Makanan Berkhasiat. Jakarta (ID): PT
Kompas Medium Nusantara.
Klama. 2013. Predicting Fruit and Vegetable Intake With The Theory of Planned
Behavior. The Florida State University DigiNole Commons. 23
Klepp KI, Rodrigo CP, Bourdeauhuij ID, Due P, Elmadfa I, Haraldsdottir J,
Konig J, Sjostrom M, Thorsdottir I, Almeida MDVD, Yngve A, Brug J.
2005. Promoting Fruit and Vegetable Consumption Among European
Schoolchildren: Rationale, Conceptualization and design of The Pro
Children Project. Annals of Nutrition and Metabolism. 49: 212-220.
Kusuma YTC, S Suwasono, S Yuwanti. 2013. Pemanfaatan biji kakao inferior
campuran sebagai sumber antioksidan dan antibakteri. Berkala Ilmiah
Pertanian, 1(2): 33-37
Lemeshow S, Anderson S, Gooze RA, Robert C. 2011. Qulity of Child-Maternal
Relationship an Risk of Adolescent Obesity. American Academy of
Pedialtrics, 129: 132-40

Mandira, F. 2013. Konsumsi Buah Dan Sayur Menurut Karakteristik Responden,


Pengaruh Teman Sebaya, Ketersediaan, Dan Keterpaparan Media Massa
Pada Siswa Di SMA Negeri 115 Jakarta Tahun 2013.Skripsi.FKM, Gizi,
Universitas Indonesia.
Mohammad A, Madanijah S. 2015. Konsumsi Buah Dan Sayur Anak Usia
Sekolah Dasar Di Bogor. Jurnal GiziPangan. 10(1).: 71-76.
Nainggolan A. 2005. Diet Sehat dengan Serat. Jakarta (ID): Cermin Dunia
Kedokteran.
Noia JD, Isobel RC. 2010. Fruit and Vegetable Enables Adolescent Consumption
That exceeds National Average. Nutritional Research. 30: 396-402.
Notoatmodjo S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta (ID): PT
Rineka Cipta.
Notoatmodjo S. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta (ID): PT
Rineka Cipta.
Notoatmodjo S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta (ID): PT
Rineka Cipta.
Nurmalina R. 2011. Pencegahan dan Manajemen Obesitas. Bandung (ID): Elex.
Papalia O. (2001). Perkembangan Pada Remaja. Jakarta (ID): Rineka Cipta.
Pardede N. 2008. Tumbuh kembang Anak dan Remaja. Jakarta (ID): CV Sagung
Seto.
[PGS] Pedoman gizi seimbang 2014. [Internet] [Diunduh pada 16 April 2016].
Tersedia pada: http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2
Rasmussen BM, Vessby B, Uusitupa M, Berglund L, Pedersen E, Riccardi G,
Rivellese AA, Tapsell L, Hermansen K. 2006. Effect of Dietary Saturated,
Monounsaturated, and n-3 Fatty Acid on Blood Pressure in healthy
Subjects. American Journal of Clinical Nutrition. 83 (2): 221-226
Reynolds, Kim D, Knut-Inge K, Amy LY. 2004. Strategi Gizi Kesehatan
Masyarakat untuk Intervensi di Tingkat Ekologis. Jakarta (ID): EGC.
Sandvik C, de Bourdeaudhuij I, Due P, Brug J, Wind M, Bere E, Perez-Rodrigo
C, Wolf A, Elamdfa I, Thorsdottir I, Almeida MDVD, Yngve A, Klepp KI.
2005. Personal, Social and Environmental Factors regarding Fruit and
Vegetable Intake among Schoolchildren in Nine European Countries.
Annals of Nutrition Metabolism. 49: 255-266.
Santoso S, Ranti AL. 2004. Kesehatan dan Gizi. Jakarta (ID): PT Asdi
Mahasatya.
Schroeder JW. 2007. Mastitis Control Programs: Bovine Mastitis and Milking
Management. [internet]. [Diunduh pada 28 Maret 2017]. Tersedia pada:
http://www.ag.ndsu.edu/pubs/ansci/dairy/as1129.pdf.
Setiawati, D. L. 2000. Mortalitas Larva Culex dengan Ekatrak Umbi Gadung
(Dioscorea hispida Dennst) di Laboratorium. Skripsi. Fakultas Biologi.
UGM. Tidak Diterbitkan.

Sears W, Sears M. 2007. The Baby Book. Jakarta (ID): PT. Serambi Ilmu
Semesta.
Sediaoetama AD. 2000. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi di Indonesia Jilid
II. Jakarta (ID): Dian Rakyat.
Shelby A. 2010. Makanan Berkhasiat: 25 makanan bergizi super untuk kesehatan
prima. Jakarta (ID): Erlangga
Silalahi J. 2006. Fats and Oils: Modification and Substitution. Medan (ID):
Universitas Sumatera Utara.
Slavin JL, Lloyd B. 2012. Health benefits of fruits and vegetables. Adv Nutr. 3:
506–516.
Stanton, William J. 2000. Prinsip-prinsip Pemasaran. Jakarta (ID): Erlangga,
Story M, Sztainer DN, French S. 2002. Individual and Enviromental Influence on
Adolescent Eating Behaviors. J Am Diet Assoc. 102: 40-51.
Sudoyo. 2009. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta (ID): Interna Publising.
Sumoprastowo. 2000. Memilih dan Menyimpan Sayur Mayur, Buah-buahan dan
Bahan Makanan. Jakarta (ID): Bumi Aksara.
Sunarjono, Hendro. 2010. Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Supariasa IDY. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta (ID): Buku Kedokteran EGC.
Supariasa IDY. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta (ID): Penerbit Kedokteran
EGC.
Supriatna N. 2007. Bercocok Tanam Sayuran. Jakarta (ID): Azka Mulia Media.
Suprapto, Anggoro. 2012. 20 Faedah dan Manfaat Kangkung. [Internet] [Diunduh
pada 20 Februari 2017]. Tersedia pada:
http://obyektif.com/tekno/read/20_faedah_dan_manfaat_kangkung.

Sutopo. 2011. Penanganan Panen dan Pasca Panen Buah Jeruk. [internet].
[Diunduh pada 29 Maret 2017]. Tersedia pada:
http://www.kpricitrus.wordpress.com.
Sweetman GSC. 2005. Martindale The Extra Pharmacopoeia. 34th Edition.
London (UK): Pharmaceutical Press.
Untoro J, Karyadi E, Wibowo L, Erhardt MW, Gross R. 2005. Multiple
Micronutrient Supplements Improve Micronutrient Status and Anemia but
Not Growth and Morbidity of Indonesian Infants. J Nutr. 135: 639S-645S.
Vereecken, C.A., J. Inchley, S.V. Subramanian, A. Hublet and L. Maes. 2005.
The relative influence of individual and contextual socio-economic status on
consumption of fruit and soft drinks among adolescents in Europe. Eur J
Public Health. 15 (3): 224-232.
Von Elbe, J. H. dan S.J. Schwartz. 1996. Colorants. Di dalam Fennema. Marcel
Dekker Inc. Food Chemistry. New York (US). 651-723

[UNICEF] United Nations Children’s Fund. 2006. Adolescent Development:


Perspectives and Frameworks. [internet]. [Diunduh pada 23 Maret
2016]. Tersedia pada: https://www.unicef.org
Wardlaw GM, Margareth WK. 2002. Perspectives in Nutrition. Fifth edition.
Newyork (US): The McGraw-Hill Companies.Inc.
Weinberger SE. 2005. Principles of Internal Medicine. 16th ed. USA (US):
McGraw Hill.
WHO/WAO. 2003. Prevention of allergy and allergic asthma [Internet].
[Diunduh pada 10 Februari 2017]. Tersedia pada:World Allergy
Organization
[WHO] World Health Organization. 2003. Fruit and Vegetable Promotion
Initiative Report of The Meeting. Geneva (US): WHO.
[WHO] World Health Organization. 2005. Nutrition in adolescence: Issues and
chalanges for the health sector: Issues in adolescent health and
development. Geneva (US): WHO Press.
Widoyono. 2002. Penyakit Epidemiologi. Jakarta (ID): Erlangga
Winarto. 2004. Memanfaatkan Tanaman Sayur Untuk Mengatasi Anek Penyakit.
Jakarta (ID): Agromedia Pustaka.
Wirakusumah ES. 2005. Buah dan Sayur Untuk Terapi. Jakarta (ID): Penebar
Swadaya.
[WNPG] Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi. 2004. Ketahanan Pangan dan
Gizi Era Otonomi Daerah dan Globalisasi. Jakarta (ID): LIPI.
Worthington-Roberts, Bonnie S. 2000. Nutrition Throughout The Life Cycle (4th
Edition). Singapore (SG): McGraw-Hill Book co.
Wulansari, Natalia D. 2009. Konsumsi Serta Preferensi Buah dan Sayur pada
Remaja SMA dengan Status Sosial Ekonomi yang Berbeda di Bogor.
[Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Yayasan Institut Danone, Nakita. 2010. Sehat dan Bugar Berkat Gizi Seimbang.
Jakarta (ID): Kompas Gramedia.