Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LATAR BELAKANG

Sebagai bagian dari program pembelajaran, penilaian (assessment) digunakan sebagai


umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses
pencapaian indikator, mengukur sejauh mana kemampuan siswa serta sebagai umpan balik bagi
guru dalam memperbaiki metode, pendekatan , kegiatan dan sumber belajar yang digunakan
dalam proses pembelajaran.

Penilaian pendidikan mencoba mengungkap potensi siswa bukan hanya melalui hasil
pembelajaran, tetapi juga proses pembelajaran. Bentuk penilaian dalam pendidikan dapat berupa
tes (objektif, uraian, lisan, kinerja) atau berupa non tes (tugas, laporan, wawancara, portofolio,
komunikasi pribadi). Keberadaan alat penilaian (assessment) yang beragam diharapkan dapat
memberikan informasi yang jujur dan lengkap tentang kemampuan siswa yang berkaiatan erat
dengan keefektifan proses belajar mengajar yang telah berlangsung. Dengan demikian, penilaian
merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar dan penilaina merupakan salah atu tugas
utama guru untuk melihat unjuk kerja siswanya, untuk mengukur mana kemampuan yang
diterima oleh siswa tersebut.

Pada dasarnnya, suatu sistem penilaian yang baik adalah tidak hanya mengukur apa yang
hendak diukur, namun juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih
bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari, sehingga penilaian menjadi bagian integral
dari pembelajaran dan meletakan aktivitas nyata yang dilakukan oleh siwa yang dikenali oleh
kemampuan siswa untuk menciptakan atau mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapat
dari ranah yang lebih luas. Oleh karena itulah, sistem evaluasi belajar pun mulai berkembang
dari sistem yang bersifat tradisional menjadi yang lebih nyata.penilaian unjuhank kerja
merupakan kata lain dari penilaian nyata yang diangap mampu untuk lebih mengukur secara
keseluruhan hasil belajar sari siswa karena penilaian ini menilai kemajuanbelajara bukan melalui
hasil tetapi jua proses dan dengan berbagai cara.

Meskipun tes pilihan ganda dapat merupakan indikator atau prediktor yang valid
mengenai penampilan akademik, seringkali tes ini mengalihkan perhatian (mislead) dosen dan
mahasiswa tentang jenis keterampilan yang seharusnya dikuasai mahasiswa. Norma bukan
merupakan standar; butir soal bukanlah masalah yang sebenarnya; dan jawaban yang benar
bukanlah rationale (dasar pemikiran, alasan). Mereka yang mempertahankan tes tradisional tidak
melihat bahwa bentuk tesnya, bukannya isi tes yang merugikan proses belajar. Mahasiswa
merasa bahwa belajar itu menyesakkan, dosen percaya bahwa tes itu adalah pencari fakta,
pemaksaan yang terdiri atas susunan pertanyaan, yang sebenarnya tidak relevan dengan tujuan
dan keberhasilan belajar mahasiswa. Baik dosen maupun mahasiswa digiring pada keyakinan
bahwa jawaban yang benar itu lebih penting daripada kebiasaan berpikir, dan justifikasi
pendekatan serta hasil pekerjaan seseorang.

Karena itu pendekatan terhadap tugas dan hasil yang otentik dapat meningkatkan proses
pengajaran dan belajar; mahasiswa memperoleh kejelasan yang lebih besar tentang kewajiban
mereka (dan diminta mengerjakan tugas yang lebih menarik hati), dan dosen akan percaya bahwa
hasil asesmen itu lebih berarti dan lebih berguna dalam meningkatkan proses pembelajaran.
Apabila tujuan dosen hanya untuk memonitor kinerja mahasiswa, maka tes konvensional
mungkin sudah memadai. Tetapi apabila tujuan dosen ialah meningkatkan kinerja ke arah yang
lebih baik, maka tes itu hendaknya terdiri atas tugas yang dapat dijadikan contoh, kriteria dan
standar.

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan pengembangan tentang” Penilaian


Rubik dan Task” diharapkan dengan adanya pengembangan penilaian rubik dan task ini
dijadikan salah satu bentuk penilaian guna mengatasi masalah praktik dalam pembelajaran yang
selama ini dipandang kurang efektif dan dijadikan suatu langkah baru dalam mengetahui
kemampuan siswa dalam pemahamansuatu konsep kimia yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rubik
2.1.1. Pengertian penilaian rubrik
Rubrik merupakan panduan penilaian yang menggambarkan kriteria yang diinginkan guru
dalam menilai atau memberi tingkatan dari hasil pekerjaan siswa Rubrik perlu memuat
daftarkarakteristik yang diinginkan yang perlu ditunjukkan dalam suatu pekerjaan siswa disertai
dengan panduan untuk mengevaluasi masing-masing karakteristik tersebut.
Rubrik menurut beberapa pandangan para ahli adalah:
 Menurut Arens : “Rubrik adalah Deskripsi terperinci tentang tipe kinerja tertentu dan
kriteria yang akan digunakan untuk menilainya “
 Menurut Bernie Dodge dan Nancy Pickett : “Rubrik adalah dalah alat skoring untuk asesmen
yang bersifat subjektif, yang didalamnya terdapat satu set kriteria dan standar yang
berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang akan diases ke anak didik.”
 Menurut Nitko : “Rubrik adalah suatu alat yang berisi seperangkat aturan yang digunakan
untuk mengases kualitas dari performansi/kinerja mahasiswa/ peserta didik ”.
 Menurut Heidi Goodrich Andrade : “Rubrik adalah suatu alat penskoran yang terdiri dari
daftar seperangkat kriteria atau apa yang harus dihitung.”
 Rubrik menurut Kenneth Wolf† dan Ellen Stevens (2007) adalah panduan penilaian multi
guna untuk menilai produk atau karya dan kinerja peserta didik. Panduan ini mencantumkan
kriteria khusus untuk produk atau karya dan kinerja peserta didik. Kriteria tersebut
membantu peserta didik untuk memiliki pemahaman dan visualisasi konkret tentang "apa
yang penting". Setiap kriteria juga mencakup skala gradasi kualitas. Skala penilaian bisa
berupa numerik, kualitatif, atau kombinasi dari keduanya.
 Rubrik menurut Brookhart (2013:4) adalah seperangkat kriteria yang koheren untuk
pekerjaan peserta didik yang mencakup deskripsi tingkat kualitas kinerja berdasarkan
kriteria. Dalam bentuk aslinya, rubrik lebih bersifat deskriptif dan bukan evaluatif. Tentu saja
rubrik bisa digunakan untuk mengevaluasi, tapi prinsip operasinya adalah kesesuaian dengan
deskripsi dan bukan menilainya.
 Hafner dan Hafner (2003) kata 'rubrik' umumnya dipahami untuk mengkonotasi alat
penilaian sederhana yang menggambarkan tingkat kinerja pada tugas tertentu dan ini
digunakan untuk menilai hasil kinerja peserta didik dalam konteks TK sampai perguruan (K-
16). Rubrik, dalam hal ini, memberitahu instruktur dan peserta didik tentang apa yang
dianggap penting dan apa yang harus dicari ketika menilai (lihat Arter dan McTighe, 2001).

2.1.2. Kinerja yang Dinilai dengan Rubrik


Dalam bidang penilaian, tujuan utama dari rubrik adalah untuk menilai kinerja. Penilaian
kinerja membutuhkan rubrik karena dua alasan berikut. Pertama, penilaian kinerja dari peserta
didik harus dinilai secara langsung dalam dalam bentuk pengamatan proses unjuk kerja dan atau
pengamatan suatu produk atau karya yang dihasilkan oleh peserta didik. Berikut ini disajikan tipe
kinerja.
Tipe Kinerja (performance) Contoh
Proses
(1) keterampilan fisik  memainkan suatu alat musik
(2) mendemontrasikan  melakukan senam ritmik
(3) memerankan  percobaan di laboratorium
(4) menggunakan alat  menyiapkan slide untuk microscope
(5) komunikasi lisan  memberikan pidato, sambutan, pengumuman
(6) kebiasaan kerja  bermain peran
 membaca indah
 bekerja secara mandiri
Produk
(1) objek (benda) yang dibuat,  rak buku dari kayu
dibangun, disusun, dirangkai,  lukisan cat air
dsb  laporan praktik di laboratorium
(2) tulisan esai, laporan, makalah  makalah hasil studi pustaka
(3) produk akademis lainnya yang  peta konsep
menunjukkan pengertian  diagram batang, diagram garis
konsep  tabel rangkuman data
Kedua, pengamatan proses kinerja atau produk hasil karya peserta didik rentan dengan
subjektivitas penilai. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, seperti (1) kedekatan hubungan
antara penilai dan peserta didik yang dinilai, (2) suasana hati penilai yang mudah berubah, dan
(3) menghindari penilaian yang berdasarkan kesan umum atau common sense dan menghindari
fakta.

2.1.3. Kelebihan dan Keterbatasan Rubrik bagi Penilai dan Peserta Didik

Bagi pengajar yang akan menilai kinerja peserta didik, rubrik penilaian memberikan
struktur, tuntunan, atau panduan untuk pengamatan sehingga pengajar dapat fokus pada aspek-
aspek dari kinerja maupun produk yang dinilai. Sebaliknya, bagi peserta didik, rubrik menjadi
acuan dalam merencanakan bahan yang diperlukan, langkah-langkah kerja, dan melaksanakan
unjuk kerjanya, maupun dalam menghasilkan produk. Selain itu, mencocokkan pengamatan
dengan kinerja atau karya peserta didik dengan deskripsi yang ada di rubrik, membuat pengajar
dapat menepis sisi subjektivitas dari pengamatan.
Menurut Anders Jonsson dan Gunilla Svingby (2007), rubrik memperbaiki pengajaran,
memberikan umpan balik kepada siswa, berkontribusi terhadap penilaian yang lebih baik, dan
merupakan sumber informasi penting untuk perbaikan program, dan meningkatkan kualitas
pembelajaran. Pandangan tersebut selaras dengan pandangan Kenneth Wolf† and Ellen Stevens
(2007) yang menyajikan empat kelebihan penggunaan rubrik, yakni berkontribusi pada
peningkatan kualitas pembelajaran dengan adanya target pembelajaran yang lebih jelas,
memandu desain dan penyampaian instruksional, membuat proses penilaian lebih akurat dan
adil, dan memberikan peserta didik alat untuk penilaian diri dan umpan balik rekan. Namun
demikian Porath (2010) menyuarakan bahwa di samping kelebihan dari rubrik ini, terpampang
kelemahannya, yakni membatasi kreativitas peserta didik hanya seperti yang terdapat dalam
rubrik.

2.1.4. Komponen dan Format Rubrik


Sebagai suatu panduan pengamatan1 dalam menilai kinerja dan produk2, rubrik dibuat
dengan mengacu pada tes kinerja yang berisi deskripsi tugas. Deskripsi tugas tersebut memuat
proses kerja atau spesifikasi produk hasil kerja, yang harus diperlihatkan oleh peserta didik, baik
dalam melakukan, membuat, mendemonstrasikan, memperagakan, atau menggunakan sesuatu.
Deskripsi tugas dapat berupa salah satu dari proses kerja atau produk hasil kerja atau bahkan
keduanya. Dalam deskripsi tugas dapat pula diuraikan bahan, alat, langkah-langkah, dan waktu
pelaksanaannya.
Suatu rubrik paling tidak memiliki kelengkapan komponen berikut: (1) aspek yang
diamati untuk dinilai, (2) skala atau kategori penilaian untuk menandai tingkatan kualitas
pelaksanaan kinerja atau produk, (3) deskripsi dari setiap aspek dalam setiap tingkat skala atau
kategori penilaian, dan (4) penghitungan nilai akhir.

Skala penilaian

Komponen dan Format Rubrik

Aspek/Dimensi Skala
1 2 3 4
Aspek 1
Aspek 2
Aspek 3
Aspek 4
Aspek ke-N

Aspek penilaian Deskripsi setiap aspek dalam setiap


level atau tingkat skala

1
Aktivitas dalam observasi atau pengamatan dapat berwujud melihat, mencermati, membaca, mendengarkan,
merasakan, membaui, atau gabungan dari beberapa atau semuanya.
2
Sebenarnya pengamatan dan rubrik sudah lebih dahulu digunakan untuk menilai sikap. Sekarang ini penilaian
kinerja dapat diintegrasikan dengan penilaian sikap yang melekat dan terlihat dalam proses kinerja, seperti sikap
tanggungjawab, keseriusan, kerjasama, percaya diri, dan sebagainya.
Aspek (dimensi) adalah bagian-bagian esensial dari proses kinerja dan atau produk yang
menjadi objek amatan. Oleh karena itu, di dalam suatu rubrik, bagian-bagian esensial tersebut
dapat terdiri atas beberapa aspek. Jumlah aspek amatan bergantung dari kompleksitas kinerja
yang dilakukan dan atau produk yang dihasilkan. Berdasarkan pengalaman, jumlah aspek
esensial yang ideal antara 3 sampai dengan 5 aspek. Apabila kurang dari 3 dikawatirkan kurang
dapat mewakili penilaian secara keseluruhan dan apabila lebih dari 5 dikawatirkan justru
membebani penilai.
Skala atau kategori adalah rentang capaian penilaian yang memperlihatkan gradasi
kualitas kinerja atau produk yang dihasilkan peserta didik. Skala dapat berupa angka 1, 2, 3, dan
4 sedangkan kategori dapat berupa sebutan baik, cukup, kurang atau selalu, sering, kadang-
kadang, jarang. Dapat pula berupa daftar cek list dengan sebutan ya atau tidak, yang apabila
diwujudkan dalam bentuk skor setara dengan 1 atau 0.
Deskripsi dari setiap skala atau kategori adalah uraian kemampuan atau karakteristik
yang diperlihatkan oleh peserta didik pada tingkatan tersebut. Desripsi ini menjadi dasar
penetapan skor capaian. Deskripsi tersebut harus jelas dan berbeda pada setiap aspek dan
tingkatan skala. Deskripsi kinerja dapat berupa tingkat gradasi kualitas kinerja dari tinggi ke
rendah, seperti seluruh langkah dilakukan, sebagian besar langkah dilakukan, hanya sebagian
kecil langkah yang dilakukan, tidak melakukan apa-apa. Deskripsi dapat pula berwujud
kelengkapan aspek yang diperlihatkan, seperti memakai seluruh perlengkapan: jas lab, masker,
kaca mata, dan sarung tangan; hanya memakai 3 perlengkapan; hanya memakai 2
perlengkapan; hanya memakai 1 perlengkapan.
Berikut ini diberikan contoh rubrik penilaian untuk pengukuran kinerja peserta didik
yang melakukan percobaan di laboratorium. Aspek yang akan diamati pengajar antara lain: (1)
kelengkapan keselamatan kerja (K3), (2) kepatuhan terhadap prosedur kerja atau SOP dari
laboratorium, (3) kebersihan alat, dan (4) penyimpanan alat. Skala penilaian terentang dari angka
1 hingga 4. Masing-masing sel, yang merupakan interseksi antara aspek dan skala, berisi
deskripsi kualitas kinerja pada tingkat itu atau pemenuhan karakteristik yang bisa diperlihatkan
oleh peserta didik.
Skor masksimal capaian peserta didik untuk kinerja percobaan di laboratorium perlu ditetapkan.
Dalam rubrik di atas, skor maksimal untuk masing-masing aspek adalah 4. Skor keseluruhan
untuk keempat aspek adalah 16 yang diperoleh dengan rumus:

Jumlah skor capaian dalam 4 aspek


---------------------------------------------- x 100 = skor kinerja percobaan di
laboatorium
Jumlah skor maksimal

Penilai juga dapat memberikan bobot yang berbeda pada aspek tertentu yang memang dipandang
lebih esensial daripada yang lain, misalnya aspek 1 diberi bobot 1, aspek 2 diberi bobot 2, aspek
3 diberi bobot 1, dan aspek 4 diberi bobot 1. Dengan demikian skor keseluruhan untuk kinerja
peserta didik di laboratorium adalah 20. Berikut ini adalah instrumen kelengkapan rubrik yang
digunakan oleh penilai dalam pengamatan kinerja seluruh peserta didik di laboratorium.
Instrumen ini terdiri atas komponen nama pada kolom 1, aspek pada kolom 2 sampai dengan
kolom 5, dan skor pada kolom 6.

2.1.5. Tipe-tipe Rubrik


Menurut Brookhart (2013: 6), rubrik dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar
berdasarkan aspek penyusunannya. Pertama, berdasarkan perlakuan terhadap aspek atau dimensi
dari kinerja atau produk yang diamati, terdapat rubrik analitik dan rubrik holistik. Kedua,
berdasarkan sasaran penilaiannya, terdapat rubrik umum dan rubrik tugas spesifik.
Pada klasifikasi pertama, rubrik analitik mendeskripsikan suatu kinerja secara rinci pada
masing-masing aspek atau dimensi secara terpisah. Selanjutnya, rubrik holistik mendeskripsikan
suatu kinerja secara global pada semua aspek atau dimensi pada saat yang sama. Penilaian
dengan rubrik analitik lebih baik digunakan untuk penilaian formatif karena peserta didik dapat
melihat aspek-aspek apa dari kinerjanya yang membutuhkan perhatian. Sementara itu, rubrik
holistik lebih baik digunakan untuk menilai kualitas kinerja peserta didik secara lebih cepat.
Berikut ini diberikan kelebihan dan kekurangan dari rubrik analitik dan rubrik holistik, seperti
yang diuraikan oleh Brookhart (2013: 7).

Rubrik Analitik vs Rubrik Holistik

Tipe Pengertian Kekuatan Kekurangan


Rubrik
Analitik Masing-masing  Memberikan informasi  Membutuhkan
dimensi atau aspek diagnostik kepada pengajar. waktu lebih
dievaluasi secara  Memberikan umpan balik lama untuk
terpisah. formatif kepada peserta memberikan
didik. skor.
 Lebih mudah mengaitkan
dengan pembelajaran dari
pada rubrik holistik.
 Baik untuk penilaian
formatif; dapat disesuaikan
untuk penilaian sumatif.
Holistik Semua dimensi atau  Pemberian skor lebih cepat  Satu skor
aspek dievaluasi daripada rubrik analitik tunggal yang
secara serentak atau  Baik untuk penilaian sumatif. menyeluruh
bersamaan. kurang dapat
mengkomunikas
ikan tentang
kemajuan
peserta didik.
 Kurang sesuai
untuk tes
formatif.
Pada klasifikasi kedua, rubrik umum menggunakan aspek dan deskripsi-deskripsi kinerja
yang bersifat menggeneralisasi dan bisa juga digunakan untuk tugas-tugas yang berbeda. Namun
demikian, tugas-tugas yang berbeda itu memiliki capaian pembelajaran yang sama atau mirip.
Selanjutnya, rubrik tugas spesifik menggunakan aspek dan deskripsi-deskripsi kinerja yang
bersifat spesifik dan khusus. Rubrik ini hanya berlaku untuk satu penilaian tugas tertentu dan
tidak dapat digunakan untuk menilai tugas yang memiliki capaian pembelajaran yang berbeda.
Dengan demikian, setiap kali menilai suatu kinerja, pengajar harus membuat rubrik untuk
penilaian. Berikut ini diberikan kelebihan dan kekurangan dari rubrik umum dan rubrik tugas
spesifik, yang diadopsi dari Brookhart (2013: 8).

Rubrik Umum vs Rubrik Tugas Spesifik

Tipe Pengertian Kekuatan Kekurangan


Rubrik
Umum Aspek atau dimensi  Dapat berbagi dengan peserta  Membutuhkan
yang diamati lebih didik, secara eksplisit latihan yang
umum sehingga menghubungkan penilaian lebih karena
bisa untuk beberapa dan pembelajaran kriteria kurang
tugas kinerja  Rubrik dapat digunakan rigit.
sejenis kembali untuk tugas kinerja
yang sejenis.
 Membantu peserta didik
untuk evaluasi diri.
Khusus Aspek atau dimensi  Penentuan skor menjadi lebih  Rubrik tidak
yang diamati lebih mudah karena kriteria per bisa digunakan
spesifik hanya aspeknya rigit untuk tugas
untuk tugas kinerja kinerja yang
tertentu. sejenis
Berikut ini diberikan beberapa contoh rubrik untuk memperjelas perbedaan tipe-tipe di atas.

Berikut ini diberikan contoh lain untuk rubrik umum untuk menilai laporan proyek secara
tertulis. Pada rubrik ini, aspek yang diamati dari laporan proyek yang dibuat peserta didik ada
tiga, yakni isi (content), penalaran dan pembuktian (reasoning dan evidence), serta kejelasan
(clarity).
2.1.6. Macam-Macam Penilaian Rubrik
 Jangkar Penampilan : Konsisten dan fokus
Menandai salah satu tugas dari sekian tumpukan tugas yang banyak sebagai salah satu
cara untuk fokus pada pekerjaannya. Beberapa orang menggunakan trik dengan menempelkan
permen karet pada setiap satu tugas yang telah diselesaikan dari sekian jumlah tugas-tugas yang
telah disusun (ditumpuk). Melalui rubrik kita bisa memfokuskan perhatian pada tugas yang kita
pikirkan sebagai tugas terbaik atau terburuk.
 Menyokong Feed back yang detail dan formatif
Dengan rubric kita bias melakukan pekerjaan lebih cepat karena tidak perlu menuliskan
catatan-catatan ekstensif pada setiap makalah tugas. Karena hanya dengan mencentang atau
membuat lingkaran pada rubric, atau menuliskan satu atau dua kata pada rubric panduan
penilaian.
Kunci dari penilaian rubrik adalah cek, lingkaran dan kata-kata terpilih, memudahkan dan
mempercepat proses penilaian sambil tetap memberikan feedback yang detail dan formatif.
Pilahan – pilhan itu tergantung jenis rubrik yang dipakai, seperti :
a. Rubrik tiga sampai lima level menggunakan kotak untuk dicenteng
b. Rubrik tiga sampai lima level menggunakan lingkaran pada teks (lingkaran)
c. Rubrik panduan penilaian untuk feedback naratif.
Rubrik tiga sampai lima level menggunakan kotak untuk dicenteng dalam proses
pembuatannya membutuhkan waktu yang banyak, tetapi membutuhkan waktu sedikit dalam
penggunaannya.
Rubrik tiga sampai lima level menggunakan kotak untuk dicenteng merupakan rubrik
yang dianggap paling tepat untuk menilai Sesutu yang membutuhkan feedback detail dan
kecepatan presentasi oral. Rubrik tiga sampai lima level sangat menghemat waktu dalam
penilaiannya.
 Feedback yang fleksibel dan individual (rubrik panduan penilaian)
Rubrik dengan skala level tiga sampai lima level baik yang dicentang atau dilingkari
ketika memberikan penilaian mampu melakukan penghematan waktu dan ketika memberikan
feedback kepada siswa dan kaya akan informasi. Rubrik tiga samapai lima level memudahkan
penggunaanya tetapi susah pembuatannya. Hal ini berbeda dengan rubrik panduan penilaian.
Rubrik panduan penilaian mudah dalam pembuatannya tetapi lebih lama dalam melakukan
penilaian aktual terhadap siswa. Akan tetapi rubrik panduan penilaian pada prakteknya ternyata
terkadang lebih menghemat waktu, selain itu rubrik panduan penilaian memiliki manfaat ganda,
yaitu individualisasi dan fleksibelitas yang lebih besar dalam penilaian.
Rubrik panduan penilaian dapat digunakan untuk menilai kegiatan siswa dimana siswa
bebas berkreasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam rubrik panduan penilaian
dimungkinkan adanya catatan-catatan terhadap karya siswa pada rubrik. Catatan itu merupakan
komentar terhadap kriteria (level) kemampuan siswa dalam berbagai dimensi.
 Menampilkan feedback sumatif : Menetapkan Nilai.
Apabila pada masing – masing dimensi pada rubrik telah ditetapkan, maka penyimpulan
dapat menjadi latihan matematis. Setiap dimensi dalam rubrik diberi nilai sebagai point, dan
siswa dinilai dari seberapa banyak mereka menempuh point-point yang terdapat dalam rubrik.
 Menilai metode pengajaran sendiri
Selain digunakan untuk menilai siswa, rubrik juga bisa digunakan untuk menilai diri
sendiri, untuk feedback pribadi. Kita bisa melihat pekerjaan siswa untuk mengukur hasil
pekerjaan diri sendiri.

2.1.7. Langkah Pengembangan Rubrik

Dalam pengembangan rubrik, perlu diperhatikan beberapa langkah. Donna Szpyrka dan
Ellyn B. Smith (1995) menyebutkan bahwa langkah-langkah pengembangan rubric adalah
sebagai berikut :
 Menentukan konsep, keterampilan atau kinerja yang akan diasesmen.
 Merumuskan atau mendefinisikan dan menentukan urutankonsep atau keterampilan yang
akan diasesmen ke dalam rumusan atau definisi yang menggambarkan aspek kognitif dan
aspek kinerja.
 Menentukan konsep atau keterampilan yang terpenting dalam tugas yang harus
diasesmen.
 Menentukan skala yang akan diasesmen.
 Mendeskripsikan kinerja mulai dari yang diharapkan sampai dengan kinerja yang tidak
diharapkan (secara gradual). Deskripsi konsep atau keterampilan kinerja tersebut dapat
diikuti dengan memberikan angka pada setiap gradasi atau member deskripsi gradasi.
 Melakukan uji coba dengan membandingkan kinerja atau hasil kerja dengan rubric yang
telah dikembangkan.
 Berdasarkan hasil penilaian terhadap kinerja atau hasil kerja dari uji coba tersebut
kemudian dilakukan revisi terhadap deskripsi kinerja maupun konsep dan keterampilan
yang akan diasesmen.
 Memikirkan kembali tentang skala yang digunakan.
 Merevisi skala yang digunakan.

Walaupun suatu rubric telah diupayakan untuk disusun dengan sebaik-baiknya tetapi
harus disadari bahwa tidak mungkin rubric yang tersusun itu merupakan sesuatu yang sempurna
atau dianggap sebagai satu-satunya kriteria untuk menialai kinerja siswa dalam satu kegiatan

2.1.8. Berbagai Variasi Penggunaan Rubrik


Rubrik tiga sampai lima level dan rubrik panduan penilaian merupakan jenis rubrik yang
sering digunakan dalam penilaian. Akan tetapi ternyata dalam kelas – kelas khusus seperti lab,
managemen, desain grafis dan studio seni perlu dibuat jenis rubrik yang lain, walaupun secara
essensi tidak berbeda dengan rubrik yang baku.
Perbedaannya terletak pada proses pengembangan dan isi rubrik dalam menetapkan
kegiatan tugas, variasi ini kemudian membutuhkan sedikit format sedikit berbeda, tetapi
sebenarnya tidak berbeda dari rubrik yang telah di bahas sebelumnya. Karena semua variasi dari
rubrik ini menyertakan komponen dasar dari skala, dimensi, dan deskripsi dimensi yang diatur
dalam sebuah table.
1. Rubrik Bertahap,
Untuk tugas yang dikerjakan bertahap rubrik ini dipakai untuk menilaia dimanaproses
pembuatan tugas sama pentingnya dengan hasil akhir. Rubrik ini bisa digunakan untuk
waktu lama, sehingga bisa menjadi alat monitoring siswa. Rubrik ini memberikan
pengetahuan penambahan pengetahuan siswa tentang penyelesaian tugas sambil juga
memberikan feedback cepat terhadap apa saja yang sudah diperolehnya sejak awal.
Kelemahan dari rubrik ini yaitu tidak dapat sespesifik rubrik akhir (yang merupakan
rubrik tak bertahap). Namun, rubrik bertahap ini tidak hanya menunjukkan kepada siswa
tentang langkah-langkah yang sudah diselesaikan, tetapi juga langah-langkah yang harus
dipenuhi.

2. Rubrik Makalah Riset


Digunakan biasanya untuk proyek yang perlu waktu lama. Rubrik ini memiliki kesamaan
dari rubrik bertahap, karena terdapat elemen dari rubrik bertahap yang bisa diambil, akan
tetapi rubrik ini juga bisa menjadi panduan siswa untuk memulai penelitian dan juga
menjadi bahan refleksi mengenai apa yang harus dilakukan, semacam pengalaman.

3. Rubrik Rangka
Rubrik ini dipakai untuk merencanakan penaksiran atau perkiaraan di bandingkan untuk
menilai. Rubrik ini digunakan untuk menilai – pada akhirnya dipakai sebagai alat penilan
juga – tugas yang kompleks. Pendekatan portofolio rangkap menyatukan semua bagian-
bagian dasar dari rubrik sederhana, tetapi menciptakan rubrik-rubrik khusus untuk setiap
dimensinya.

2.1.9. Manfa’at Penilaian Rubrik


Adapun manfa’at atau kegunaan dari penilaian rubric adalah sebagai berikut :
 Rubrik menjelaskan deskripsi tugas
 Rubrik memberikan informasi bobot penilaian
 Siswa memperoleh umpan balik yang cepat dan akurat
 Penilaian lebih objektif dan konsisten
 Para peserta didik jadi pembelajar aktif
 Para peserta didik memperoleh "content knowledge" dan "procedural knowledge".
 Para peserta didik dapat menilai kinerja kelompoknya sendiri
 Baik pendidik maupun peserta didik memperoleh alat refleksi yang efektif tentang
proses pembelajaran yang telah berlangsung.
 Sebagai alat atau pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja mahasiswa.

2.2. Task atau Tugas

Kegiatan siswa yang terllibat dalam tugas-tugas dimana mereka akan terlibat langsung
dalam kehidupan diluar kelas atau suaukegiatanseperti para ilmuan yang sesuai dengan data yang
dikumpulkan. Tugas yang diberikan kepada siswa yang dirancang untuk menilai kemampuan
mereka untuk menerapkan pengetahuan danketerampilanstandar didorong untuk tantangan dalam
dunia nyata. Mueller (2006) tugas meminta siswa untuk melakukankinerja ketika : Siswa diminta
untukmembangun respon merekasendiri daripada memilih dari apa yang disajikan. Tugas
diberikansebagai tantangan yang dihadapi di dunia nyata.

Tugas yang bisa diberikan kepada siswa memiliki unsur 1) konteks ; pengantar tugas yang
mendefinisikan pengaturan tugas atau yang memberikan komponen pemersatu tugas antara
sebuah tema atau pertanyaan. 2) komponen tugas; semua kegiatan dan pertanyaan yang
membentuk tugas penilaian, dibagi menjadi komponen yang spesifik. Komponen tugas
mengandung informasi yang dibuat oleh guru sebelum diberikan kepada siswa (NGSS,2014)

2.1.1. Karakteristik Tugas


Penilaian otentik merupakan pelengkap dari penilaian tradisional. Cara lain bahwa penilaian
otentik umumnya dibedakan dari penilaian tradisional adalah dalam hal atribut yang digunakan.

Traditional ——————————————- Authentic

Selecting a Response ——————————Performing a Task

Contrived ————————————————-Real-life

Recall/Recognition —————————-Construction/Application

Teacher-structured ——————————- Studenst structured

Indirect Evidence —————————————-DirectEvidence

Memilih Respon – Melakukan Tugas: Pada penilaian tradisional, siswa biasanya diberikan
beberapa pilihan (misalnya, a, b, c atau d; benar atau salah) dan diminta untuk memilih jawaban
yang tepat. Sebaliknya, penilaian otentik meminta siswa untuk menunjukkan pemahaman dengan
melakukan tugas yang lebih kompleks biasanya mewakili aplikasi yang lebih bermakna.Dibuat-
buat-Kehidupan Nyata: Tugas dibuat untuk penilaian dalam waktu singkat. Sedangkan tugas
penilaian otentik siswa diminta untuk menunjukkan kemahiran dengan melakukan sesuatu yang
terjadi dalam kehidupan nyata.Mengingat/ Mengenal – Membangun Pengetahuan /Penerapan :
Penilaian tradisional (yaitu, tes dan kuis) dapat secara efektif menentukan apakah siswa telah
atau tidak dalam memperoleh pengetahuan. Penilaian otentik meminta siswa untuk menganalisis,
mensintesis dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari, menciptakan makna baru dalam
proses.Berpusat pada guru- Berpusat pada siswa: Penilaian tradisional siswa hanya dapat
menunjukkan yang telah dirancang khusus oleh orang atau guru yang mengembangkan tes.
Perhatian seorang siswa akan dimengerti difokuskan pada apa yang telah disediakan guru dan
terbatas pada apa yang ada di tes. Sebaliknya, penilaian otentik memungkinkan lebih banyak
pilihan siswa dan mengkonstruksi dalam menentukan apa yang disajikan sebagai bukti
kemampuan mereka. Bahkan ketika siswa tidak dapat memilih topik mereka sendiri atau format,
biasanya ada beberapa rute yang dapat diterima ke arah pembangunan sebuah produk atau
kinerja.Bukti tidak langsung -Bukti Langsung: Bukti tidak langsung dalam penilaian tradisional
meminta siswa untuk menganalisis atau menerapkan fakta untuk situasi baru bukan berdasarkan
bukti langsung. Situasi dunia nyata dalam penilaian otentik, di sisi lain, menawarkan lebih
banyak aplikasi bukti langsung dan konstruksi pengetahuan siswa dapat secara efektif untuk
mengkritik argumen orang lain. Meminta siswa untuk menulis kritik harus memberikan bukti
lebih langsung dari keterampilan daripada meminta siswa memilih jawaban dari serangkaian
pilihan ganda untuk pertanyaan analitis.

2.1.2. Tipe Tugas Otentik


Tugas penilaian kinerja dapat diwijudkan dalam berbagai bentuk:
Computer adaptive testing (tidak berbentuk test objektif) yang menuntut peserta tes
mengekspresikan untuk menunjukkan kemampunannya.Tes pilihan ganda diperluas, disediakan
dengan memberi alasan jawaban yang dipilihExtended response atau Open ended questionGroup
performance assesment (tugas kelompok) atau Individual performance assesment (tugas
individu)Interview berupa pertanyaan lisanObservasi parsifatifPortofolio sebagai kumpulan hasil
karyaProyek atau demosntrasiConstructed response siswa mengkonstruk sendiri
jawaban.Langkah-langkah Penilaian Tugas otentikMengidentifikasi standar standar merupakan
pernyataan yang harus diketahui dan dapat dilakukan oleh siswaMemilih suatu tugas otentik
dalam memilih tugas otentik terlebih dahulu mengkaji standar yang digunakan dan mengkaji
kenyataan (dunia) yang sesungguhnyaMengidentifikasi kriteria untuk tugas. Kriteria tidak lain
adalah indikator-indikator dari kinerja yang baik pada sebuah tugas. Karakteristik kriteria yang
baik adalah:Pernyataan jelassingkat;Dapat Teramati/tampakMenyatakan perilakuDitulis dalam
bahasa yang dimengerti oleh siswa

Selain itu, pastikan setiap kriteria berbeda. Meskipun kriteria untuk satu tugas akan dimengerti
berhubungan satu sama lain, tidak boleh terlalu banyak tumpang tindih. Jumlah kriteria untuk
sebuah tugas adalah :

Batasi jumlah kriteria, hanya pada unsur-unsur yang esensial dari suatu tugas ( 3-4. Dibawah
10)Tidak perlu mengukur setiap detil tugasKriteria yang lebih sedikit untuk tugas-tugas yang
sederhana

Hubungan dari beberapa bentuk-bentuk tugas penilaian untuk tujuan pendidikan sains yang
tidak jelas. Misalnya, kemampuan siswa untuk memperoleh dan mengevaluasi informasi ilmiah
mungkin diukur dengan menggunakan tes jawaban singkat. Sebuah metode alternatif dan lebih
otentik adalah meminta siswa untuk mencari informasi dan mengembangkan beberapa rujukan
atau referensi dan penilaian tentang kualitas ilmiah informasi. Dalam penilaian tugas otentik
harus memperhatikan hal sebagai berikut:

Assesmen tugas harus sesuai dengan tahapan perkembangan, harus diatur dalam konteks yang
akrab dengan siswa, tidak harus memerlukan keterampilan membaca atau kosakata harus bebas
dari bias bentuk pilihan penilaian harus konsisten dengan apa yang diinginkan untuk mengukur
dan menyimpulkan. Praktek penilaian harus adil.Assesmen tugasharus ditinjau untuk
penggunaan stereotip, untuk asumsi yang mencerminkan perspektif atau pengalaman dari
kelompok tertentuAssesmen skala besar harus menggunakan teknik statistik untuk
mengidentifikasi potensi bias di antara sub-sub kelompok.Assesmen tugas harus dimodifikasi
untuk mengakomodasi kebutuhan siswa dengan cacat fisik, kesulitan belajar, atau terbatas
kemampuan bahasa Inggris.Assesmen tugas harus diatur dalam berbagai konteks, akan menarik
siswa dengan minat dan pengalaman yang berbeda, dan tidak harus mengasumsikan perspektif
atau pengalaman dari jenis kelamin tertentu, ras, atau kelompok etnis.Kriteria Penilaian (Rubrik)
BAB III

KESIMPULAN

Tugas digunakan untuk mengukur kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan


atau keterampilan yang digunakan sebagai wahana belajar siswa. Misalnya, ketika disajikan
dengan masalah dunia nyata untuk memecahkan masalah, siswa belajar dalam proses
pengembangan solusi, guru memfasilitasi proses, dan siswa mencari solusi untuk masalahnya
yang menjadi penilaian seberapa baik siswa dapat menerapkan konsep.

Performance taskserangkaian petunjuk, siswa membangun kinerja, membangun


substansial, produk nyata yang mengungkapkan pemahaman mereka tentang konsep-konsep
tertentu dan keterampilan dan / atau kemampuan mereka untuk menerapkan, menganalisis,
mensintesis atau mengevaluasi konsep-konsep dan keterampilan. Masing-masing tugas tersebut
ditetapkan dengan menggunakan kriteria penilaian yaitu rubrik. Rubrik penilaian kinerja terdiri
dari dua jenis yaitu rubrik holistik dan analitik. Rubrik analitik yaitu setiap kriteria (dimensi,
sifat) dievaluasi secara terpisah sedangkan rubrik holistik semua kriteria (dimensi, sifat)
dievaluasi secara bersamaan

Sehingga Penilaian rubik dan task untuk evaluasi pembelajaran sains sudah dapat
digunakan sebagai alat evalusi pembelajran yang baik. Dan dapat membantu guru untuk
mengetahui perkembangan siswa pada ranah psikomotorik. Penilaian rubik dan task menjadi alat
evalusai yang inovatif sehingga memberikan kesempatan bagi siwa untukmengembangkan
kemempuan dan keterampilan siswa
Referensi :

Anders Jonsson dan Gunilla Svingby. 2007. “The use of scoring rubrics: Reliability, validity and
educational consequences” dalam Educational Research Review 2, p. 130–144.
Arter, J. & McTighe, J. 2001. Scoring Rubrics in the Classroom. Thousand Oaks, CA: Corwin
Press.
Brookhart, Susan M. 2013. How to Create and Use Rubrics for Formative Assesment and
Grading. USA: Ascd.
Hafner, J. C., & Hafner, P. M. 2004. “Quantitative analysis of the rubric as an assessment tool:
An empirical study of student peer-group rating” dalam International Journal of Science
Education, 25(12), 1509-1528
Miller, David M., Robert L. Linn, dan Norman E. Gronlund. 2009. Measurement And Assesment
in Teaching. Ohio: Pearson.
Mueller, Jon. (2006). “ Authentic Assesment”. North Central College.
Tersedia: http://jfmueller.faculty.noctrl.edu/toolbox/index.htm
National Research Council. (1996). “Assessment in Science Education.” In National Science
Education Standards .Washington, DC: The National Academies
Press. https://www.nap.edu/read/4962/chapter/7
Next Generation Science Standard. (2014). “NGSS/CCSS-M Sample Classroom Assessments
Tasks” . Tersedia: http://www.nextgenscience.org/sites
Nuryani Y, Rustaman. Tanpa Tahun. Penilaian Otentik(Authentic Assesment) dan
Penererapannya dalam Pendidikan Sains. FMIPA dan SPS Universitas Pendidikan
Indonesia.Tersedia: File.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/

Porath, Suzanne L. 2010. “6-Traits Writing Rubric: Things That Make Us Smart Can Also Make
Us Dumb” dalam Wisconsin English Journal. Volume 52, Number 2
Ülkü Ayhan dan M. Uğur Türkyılmaz. 2015. “Key of Language Assessment: Rubrics and Rubric
Design” dalam International Journal of Language and Linguistics Vol. 2, No. 2; June.
Wolf†, Kenneth., and Ellen Stevens. 2007. “The Role of Rubrics in Advancing and Assessing
Student Learning” dalam The Journal of Effective Teaching, Vol. 7, No. 1, p. 3-14.