Anda di halaman 1dari 49

PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Bab 1 PERGUMULAN DAN PERMASALAHAN YANG DIHADAPI GEREJA DAN PAK DI


INDONESIA

1. GEREJA DAN PAK DI INDONESIA:

Gereja sadar bahwa dunia ini kini terlibat pula dalam suatu krisis yang hebat. Umat manusia seakan-
akan berlomba-lomba untuk saling membinasakan. Tenaga-tenaga pemusnah bertambah besar
kuasanya diantara bangsa-bangsa dibumi ini. Gereja sadar akan kelemahannya sendiri. Gereja
seolah-olah kehilangan daya dan semangat untuk membarui dirinya sendiri senantiasa. Seakan-akan
tak sanggup lagi melahirkan anak-anak Tuhan yang sejati, yang hidup dalam percaya dan yang
mempengaruhi lingkungannya karena kuasa Roh Kudus yang mendiami mereka itu. [1]

Gereja-gereja kita di Indonesia pada umumnya tampak sudah melaksanakan secara mandiri
kegiatan-kegiatan seperti ibadah, katekisasi, Pendidikan Agama Kristen dan Pastoral. Namun
pemahaman-pemahaman teologis yang diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan tersebut masih banyak
yang tradisional dan belum cukup digumuli secara kritis dan realistis. Untuk melaksanakan
kesaksian dan pelayanan kepada sesame ditengah-tengah masyarakat majemuk serta berkembang
dengan cepat, gereja-gereja di Indonesia sebenarnya harus banyak mengembangkan kegiatan-
kegiatannya, baik dalam jumlah maupun dalam ragamnya. [2]

Bagian terbesar gereja-gereja di Indonesia berada di pedesaan, dimana kedudukan dan peran
kebudayaan tradisional masih kuat. Kebudayaan selain berperan positif dalam kehidupan bergereja
juga berdampak negatif, sehingga kurang memampukan gereja untuk membaca tanda-tanda
zaman.[3]

Dalam konteks Indonesia, PAK menjadi amat penting terutama karena penganut agama Kristen
adalah minoritas ditengah-tengah masyaarakat. Sekalipun katanya di Indonesia memiliki hak dan
kebebasan beragama tetapi di daerah-daerah tertentu tidak mengijinkan untuk adanya
pembangunan gedung Gereja (apalagi dengan ajarannya) dan bahkan ada Gereja yang di bakar
contohnya seperti yang terjadi di Aceh. Pendidikan Agama Kristen juga sering kali bahkan sama
sekali tidak mendapat tempat di sekolah-sekolah Negeri yang berada didaerah-daerah mayoritas
non Kristen contohnya seperti di Jawa, karena ada ormas-ormas tertentu (contohnya FPI) yang
memang secara sengaja atau tidak mengijinkan PAK di ajarkan di Sekolah-sekolah Negeri yang ada
di daerah tersebut sekalipun ada yang beragama Kristen di sana. Dan bahkan mungkin saja ada
pembiaran oleh pemerintah sehingga Geraja tidak dapat didirikan di daerah-daerah tertentu
seperti yang sudah disebutkan diatas begitu pula dengan PAK tidak dapat di ajarkan bagi mereka
yang mengaanut agama Kristen yang berada di sekolah-sekolah Negeri yang mayoritasnya adalah
non Kristen.

Inilah yang menjadi tantangan dari Gereja & PAK. Untuk menanggulangi hal ini harusnya ada kerja
sama berbagai pihak untuk keadilan bagi pemeluk agama yang lain, diantaranya yaitu pemerintah &
bimas Kristen yang ada.

PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

1
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

BAGAIMANAKAH SIKAP SEORANG KRISTEN TERHADAP

MASYARAKAT MAJEMUK?

PENGEMBANGAN MODEL PAK

DENGAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL

A. Meregangkan Wilayah Kajian PAK

Pendidikan dan teologi Kristen itu sebenarnya sangat simple. Terlepas dari sisi mana dan untuk
tujuan apa kita menjelaskannya, sebenarnya pondasi PAK berdasarkan substansi pengajarannya
hanya soal percaya kepada Yesus adalah Tuhan dan juruslamat semua umat manusia satu-satunya.

Meyakini atau mengimani dan menerima bahwa Alkitab adalah Firman yang Allah yang hanya
diilhamkan olehNy sendiri dalam proses. Pemmberian di saat pertamanya. Tetapi Ia tidak pernah
mengajarkan seperti itu. Siapa saja tidak pernah disuruh untuk menjadi agama Kristen, dan Ia
juga tidak pernah mengatakan demikian, karena Ia juga bukan Kristen, dan tidak pernah
mengatakan bahwa hanya Tuhannya orang Kristen.

Jika di posisikan ke dalam realitas zaman dan spirit edukasi PAKnya, han itu tidak lagi hanya
sesederhana itu, ketika berbicara soal sosio-praksisnya. Kita sedang hidup dalam realitas
masyarakat yang multicultural, dan cara beragama dan berTuhan atau berteologi yang plural.

Dimensi pendidikan multicultural itu bukan hanya dari sisi teologis dan endukasinya PAKnya saja.
Di zaman kebangkitan dan kesadaran etnik ini penjelasan yang terakhirlah yang mendesak
dianalisasis khususnya setting sosial Indonesia. Menurut pengamatan dari Andrew Jakson, bahwa
PAK sedang membutuhkan evolusi dan progresivitas secara kritis dengan pendidikan kritis
pendidikan multikulturalisme dan hanya itulah metodologi ker ja akademiknya, ini sangat penting
untuk menghasilkan kesepahaman dan kesaling berterimaan untuk sanggup hidup bersama dalam
arti yang sebenarnya di antara Islam dan Kristen.

Jika kita bisa melihat dari banyak dimensi pengajaran PAK dalam PL. secara general bahkan tidak
mengakui pendidikan multicultural ini, bahkan terjadinya multikulturalisme kalau itu adalah
karena hukuman Allah, kesombongan manusia, bukan karena perjanjian atau Covenant dengannya.
Di dalam pihak, sesuai dengan spirit dan system pemerintahan di kala itu, bangsa Israel dilarang
keras untuk kawin mawin dan hidup bersama, dan berdampingan bersama dengan bangsa Samaria,

2
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

dan di luar Israel kala itu, apa lagi jika sudah berbicara soal urusan teologi, keTuhanan dan cara-
caranya ini menjadi pertimbangan kritis dan krusial ketika berbicara pendidikan multicultural dan
plura lewat kacamata teologos PAK. Seperti pernyataan dari James 4. Banks oleh karena itu kita
penting merekonstruksi pengajaran PAK soal multikulturalisme dan pluralism, bagian mana saja
yang bisa digarap dan urgent menjadi wilayah kajian PAK.

PAK perlu memberikan konstruksi sosial dan dimensi pendidakan multikulturalisme. Pendidikan
multicultural dari sisi PAK akan bisa membantu banyak orang memahami konsep-konsep,
paradigm, dan penjelasan lengkap yang diperlukan untuk menjadi praktisi yang lebih efektif
budaya, bahasa rasial beragam dan kelas. PAK juga sering terpanggil untuk membenat
memberikan pemahaman perkembangan teoritis, konseptual dan penelitian baru dilapangan.
Melihat kompleksitasnya persoalan pendidikan multicultural, memang tampaknya PAK seharusnya
bisa memberikan kontribusi setidaknya untuk lingkungan PAK. Untuk itu memang PAK sedang
mengalami kekosongan ahli dan peneliti yang mampu menggunakan beragam desain.

B. BUKAN LAGI PAK TETAPI AKP (AGAMA KRISTEN PENDIDIK)

Secara administratif Pendidikan Agama Kristen seolah-olah menjadi self-centerd (berpusat pada
diri sendiri), ini jelas-jelas egois. Jika tidak sadar diri dan sadar akademik hal ini hanya akan
dipekerjakan untuk mengurusi diri sendiri dan hanya soal Agama Kristen itu sendiri.

Ketika berbicara soal realita soal Agama perlu AKP maksudnya adalah cara-cara dimana
agama kristen dipekerjakan untuk mendidik atau mengedukasi dan mengedukasi masyarakat
lainnya disamping itu dirinya sendiri.

Pada point ini mendevenisikan agama dengan cara yang lain. Agama adalah ragam atau multi tata
cara atau aktifitas ritus, kepercayaan atau keyakinan valuasi, dan validasi sosial, ilusi, nilai atau
dimensi yang utama yang memang ada realitasnya yang diungkapkan atau diekspresikan dalam
ragam multi realitas dalam bervariasi simbol, tindakan, perilaku, perasaan sebagai sebuah respon
yang tepat yang dilakukan oleh orang, kelompok atau komunitas dan masyrakatnya secara sengaja
dengan tujuan untuk menegaskan nilai-nilai yang tidak dibatasi.

Ilmu dalam hal ini sebuah tindakan atau upaya yang disengaja secara metodologi
prosedural atau cara yang sistematis untuk mengkacinya PAK, sehingga dengan begitu maka
agama kristen itu dijadikan sebagai proses edukasi menjadi eduaksi untuk mendidik komunitas
masyarakat beragamanya. Harapannya dengan memberi pengalaman seperti itu maka siswa dan
mahasiswa, jemaat, atau masyarakat dalam hal beragama dan agamanya yang kristen itu menjadi
tegas dan jelas, intinya agama tidak lagi hanya diposisikan sebatas doktirn atau pandangan
mhidup semata tetapi juga ilmu secara akademik untuk meningkatkatkan kualitas keyakinan,
kimanan, teologis, sosiologis dan intelektual. Pemahaman komprehensip inilah yang bisa
berkontribusi untuk menigkatkan kualitas kristen dalam arena sosial yang lebih luas.

Ditjen bimas kristen protestan Depak R.I. Tahun 1995 tujuan pendidikan teologi yakni :

3
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

1. Untuk memperlengkapi mahasiswa dengan kemampuan akademis, etis, moral spiritual, untuk
berfungsi dalam panggilan Tuhan baik dalam gereja mupun dalam masyarakat

2. Untuk mengembangkan ilmu kristen dalam kerangka kesaksian dan pelayanan gereja
ditengah-tengah masyarakat. Prinsip-prinsip pendidiknya dilakukan untuk pembinaan dalam segi-
segi spiritual, akademis, dan social sehingga terjadi dialog antara firman Allah dan masyarakat
sehingga mempercayainya dan menampakkannya dalam realitas hidup spiritual, social dan
intelektualnya.

3. Untuk mengembangkan ke ilmuan dan kelembagaan Kristen dan pengabdian masyarakat atau
tindakan dan tanggungjawab sosial. Untuk membina mahasiswa dan keterampilan dalam pelayanan
dan masyarakat.

Kita dituntut sadar bisa akademik, dan sadar keterbatasan khususnya bahasa, serta sadar bahwa
selama ini kita belum banyak yang berani secara fundramental atau radikal untuk kuliah secara
lintas lembaga lintas dosen. Hal seperti baru hanya dilakukan diantara forum-forum dialog
kerukunan umat beragama yang sudah bisa dilaksanakan. Dan tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Sementara yang diharapkan “Pendidikan Kristen Yang sanggup mengajarkan hidup
bersama dengan cara “Partnership” Equal, and “Within Difference” Partnership, serta meskipun
berbeda. Dalam penulisan ini untuk mengeksplorasi makna dibalik tindakan masyarakat Kristen
dan teologinya dan cara beragama dan bermasyarakat. Hal ini akan bisa dan tatap dikelola dengan
kita bertanya dan mengkritisi secara akademik apa yang telah terjadi dan apa yang sedang
terjadi didalam pendidikan agama dan teologi Kristen serta realitas masyarakat Kristen terkini.

Agar bisa sampai kesana tentulah fokusnya dengan cara mengeksplorasi dengan cara-cara yang
baru dan segar makna, niliai-nilai, gaya dan pandangan hidup dari hasil tindakan, perbuatan,
aktivitas, aksi yang ditampilkan oleh orang kristen itu setiap hari. Dalam hal inilah dituntut
kesadaran diri dan rasa sebagai kristen yang kuat, kemauan untuk mengkritisi diri sendirir ini.
Dengan demikian memperluas horison teori, pemikiran dan sosio praksis, keilmuan PAK, dan cara
kita mengeksplorasi sesuatu tentang hidup kristen yang belum kita ketahui.

Jika sudah demikian, maka seharusnya keilmuan PAK perlu konsentrasi juga kedimensi manusia
dengan pendekatan sosiologisnya, atau keilmuan PAK soal masyarakatanya dan ilmu untuk
mengelola masyarakatnya yang sebanyak itu. Fokusnya adalah orang didalamnya dijadikan sebagai
subjek atau aktor kunci untuk membantu membaca dan memaknai masalah sosial, sehingga ada
transmisi dan trasformasi kehidupan kristen didalam dunia saat ini disegala bidang. Dengan
demikian maka kontribusi dan tanggungjawab PAK sangat ditunggu disini menjadi instrumen yang
bisa dipekerjakan untuk mengedukasi pendidikan kristen itu sendri, mengedukasi komunitas
masyarakat kristen agar dengan cara-cara yang multi sungguh-sungguh mensosialisasikan Tuhan
Allah Dalam Masyarakat yang multikultural dan Agama yang plural agar “Klik” atau “Fit” dengan
setting sosial dimana ia menempatkan dan memposisikan kristen.

C. Tinggalkan Islamologi Masuki Islamic Studies

Arti Islamologi dikenal dengan istilah “ usuluddin “ artinya ilmu tentang dasar-dasar
Islam, yang menyangkut iktikad ( keyakinan ), ibadah kepada Allah, Rasul, kitab suci, soal-soal
gaib misalnya seperti hari kiamat, sorga, dan neraka, atau ilmu tauhid, dari sisi ilmu teologi Islam.

4
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Ini ilmu kajian yang sistematis soal Agama difondasi intelektual keagamaan,
intelektualitas, budaya, peradaban, dan dimensi sosial dari kebangkitan islam, sejak dari dunia
Arab klasiskal, medieval, modern atau kotemporer. Artinya berbicara soal teori pemikiran dan
sosio-praksis keislaman dalam segala dimensi. Ilmu teologi seperti ini perlu disegarkan dan
dibarukan karena dikonstruksi berdasarkan perasaan superior dan membatasi ruang gerak dan
cara-cara modern untuk mensosialisasikan Kristus dan Kristen mulai sekarang ini.

Salah satu cara untuk terlibat dalam misi ini bisa dikerjakan keilmuan PAK untuk meningkatkan
kualitas sikap teologis dan aksisosiologi. Mahasiswa dan Dosen kristen yang bisa diperoleh
secara akademik lewat proses pendidikan, yakni dari edukasi menjadi eduakasi, termasuk
pendidikan Tinggi Teologi. Lewat proses ini semua orang mengakui masih sebagai satu alternatif
yang ampuh untuk membangun dan mendidik suatu bangsa. Teolohi memang sudah harus
diposisikan menjadi ilmu, secara artikulatif tanpa mengungkapkan sebagai yang diderifikasi dari
teologi sebagai dogma. Hal itu hanya bisa dirangkuh lewat proses pendidikan baik dalam sistem
persekolahaan dan perkuliahan formal dan non formal, juga dengan informal.

Dalam hal ini pendidikan Tinggi Teologi dan keagamaan kristen bisa diposisikan sebagai instrumen
analisis sosial kelembagaan dan instrumen sosialisai intelektualitas dari hasil proses edukasinya
kedalam dan kedalam masyarakat luarnya. Dalam hal ini memang kita harus mempekerjakan
metodologi keilmuan objektif, dan operasional kongkrit bukan lagi yang abstraksif dan subjektif,
sehingga semua tindakan kita menjadai argumentatif atau memiliki alasan-alasan yang bisa
dipertanggungjawabkan secara akademik. Ilmu seperti itulah yang menjadi pendekatan dan yang
kita butuhkan ketika berteologi dan berproses dalam belajar dan mengajarkan teologi sebagai
muatan isi dan materinya, sehingga ilmu teologinya menjadi efektif dan akurat. Artinya ia bisa
diposisikan untuk mensupport pembangunan atau pendidian manusia atau masyarakat, yang kini
telah menjadi tema utama dunia.

Menurut Ali Shariati 23 November 1933 ada empat cara untuk mengikuti cara berpikir islam
yang mempertahankan Islamologi yaitu :

1. Seseorang haru menjadi quranoloist ahli yang bisa menjelaskan dan mempraksiskan elemen
dari dalamnya secara esensial setting sosial masyarakatnya dalam semangat menyingkapkan sosial
keislamannya.

2. Seseorang harus menjadi prophetologist, yang ahli memakai biografi Nabi Muhammad SAW
dan seluruh nabi lainnya.

3. Seseorang harus menjadi familiar secara komprehensif tentang sejarah islam, dan
mempenyai level pengetahuan yang tinggi tentang keimamatan, dan kekerabatan dalam keluarga
dan kenegaraan dan struktur sosial kemasyarakatan dan sistem asosiasi dan interelasi didalam
islam itu sendiri.

4. Seseorang harus ahli dalam hal peradaban islam dan memiliki spesifikasi kajian islam,
philsafat, islam hukum dan sejarah keislaman lainnya.

Dalam hal ini kristen didorong untuk membuang pandangan fanatikisme dan stigmatisasisme
terhadap muslim demikian juga sebaliknya, supaya muslim sebagai umat islam ditantang untuk
belajar dari kitab suci Alkitab dan Alquran. Hanya itulah cara satu-satunya refensi yang paling
tepat yang memberikan penjelasan soal Yesus. Sehinnga kalau sudah saling mempelajari isi,

5
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

materi dan metodologi pendidikan teologi masing-masing khususnya islam dan kristen, kita tidak
bisa mengatakan bahwa Agama Islam salah atau juga sebaliknya.

D. Lupakan Pedagogi:Gunakan Andragogi.

Selama ini ilmu pak dipakai untuk mengajar orang kristen baru sebatas ilmu teologi dan psikologi
akibatnya kurikulum,isi,muatan dan materi yang selama ini diterima hanya bersifat
indoktrinasi,teologi dan psikilogi.Sehingga pelajaran yang diterima selama mengikuti pengajaran
PAK itu berasal dari psikologi umum.tetapi pembelajaran PAK mulai dari
gereja,Sd,smp,bahkan,samapai perguruan tinggi hanya menggunakan ilmu pedagogi padahal ilmu
pedagogi itu hanya rancangan atau dipakai untuk mengajar anak-anak dengan pelajaran seperti ini
cuman mengantarkan anak-anak untuk mengertinkemampuan beradaptasi sosial sedangkan
pengalaman sosiololgi pengalaman teologis belum diatukalalasikan dalam pemahaman lain nya
beragam dan memakai agama itu berdasarkan sebuah pada kenyataannyadipengaruhi olehkita
hidup sekarang ini ndi bawah sosial yang nyata bukan semua agama-agama padahal tidak ada suatu
pun manusia didunia ini dipengaruhi oleh pribadinya tetapi dipengaruhinoleh pribadi-pribadi dari
luar yang ada disekelilingnya(lingkungan sosial) artinya cara kita beragama,berteologi bertuhan
selalu koralatif dan interaksi sosial kita setiap hari sedangkan pemahaman itu sangat penting
untuk menuntun PAK agar dilakukan juga secara komprehensi dan profesional karena ini penting
untuk kemajuan pendidikan Kristen itu sendiri bukan lagi dengan semangat kristenisasi ilmu
apalagi dengan labelisasi saja.karena asumsi yang selama ini secara sadar dan tidak sadar baru
hanya dibangun diatas sistem nilai dan cara pandang dari teologis sesisi saja vrancis fatalis JR
mengatakan bahwa ada tiga dasar asumsi yang di bangun diatas PAK dalam ilmu pedagogi pertama
PAK memposisikan peserta belajar menjadi obyek belajar Pak mencari-cari identitas dan
perkembangan kerohanian kedua PAK sebagai obyek pelayanan sehingga peserta belajar dianggap
orang-orang yang mencari kepastian masalah rohani sehingga pelajaran teologi dan agama menjadi
satu-satu tempat yang paling tepat.ketiga PAK menjadikan peserta belajar sebagai orang fdyang
dsangat membutuhkan pengetahuan teologis yang benar tentang makna,nilai-nilai,gaya pandang
kristen sehingga dengan demikianmaka pendidikan dianggap instrumen yang paling ampuh dan
dijadikan alat utama untuk mentranformasikan peradaban dan memperbaiki sistem sosial tetapi
dizaman postmodernisasi seperti sekarang ini bahwa asumsi dan pendekatan sempit seperti itu
semakin menguat saja.tampaknya hal itu terjadi hanya nkarena terkurung dan dikurung dalam
asumsi dan paradigma teologis kristen sesisi semata atau orientasi sektarian dan denominasional
tetapi tujuan dari PAK untuk mendidik seluruh kehidupan masyarakat dengan pendekatan seperti
ini ilmu pedagogi PAKnya hanya kuat pada dimensi teologis,psikologis sehingga tidak mencapai
tujuan akhirnya jika hal itu saja yang kita pertahankan maka kita pertlantarkan tindakan
mengintelektuaalisasi dan memikul tanggung kehidupan sosial kristen yang lebih luas.oleh karena
itu kita tidak lagi memposisikan PAK seperti itu-itu saja tetapi penting untuk mengkalaim ulang
kebenaran PAK dalam tanggung jawab teologis dan spiritualitas dengan demikian seharusnya Pak
itu menghasilkan pribadi kristen yang cerdas,agaamis,teologis dan intelektual dan memeliki
kontribusi bagi agama kristen maupun masyarakat sekiling supaya hal itu tercapai harus
membetulkan ilmu pendidikannya.Dalam metode mengajar sitem pedagogi peserta belajarnya
hanya untuk menyesuaikan diri dengan dunia diluar dirinya.karena kurikulum yang dirancang
didalam pengajaran seperti itu diakui sendiri dan bersifat intruksi semata.berbeda dengan ilmu
pendidikan andragogi cara pembelajarannya peserta belajarnya yang menempatkan mereka

6
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

sebagai orang yang dewasa dan mandiri yang telah memiloki pengalaman sebatas usia dan
selengkap pengalaman yang mereka miliki.Intinya andragogi terdiri dari srategi atau cara belajar
orang dewasa .artinya sangat khusus sesuai dengan karakteristik orang itu karena mereka
diposisikan telah memiliki pengalaman hidup dan pengalaman belajar dari hidupnya.oleh karena itu
ilmu andragogi Pak konsentrasi untuk membelajarkan dan mendewasakan pembelajarnya baik
kedewasaan spiritualnya,sosial dan intelektual.sehingga kita melihat kompleksitasnya persoalan
dalam masyarakat multikultural dan agama plural dibutuhkan pengembangan dan meningkatkan
kualitas layanan,proses pendidikan PAK .PAK bisa dikerjakan sebagai jembatan refleksi antara
dunia teologis yang sering abstark dengan dunia sosial yang sangat rill.inilah yang membuat PAK
dengan realitas masyarakat sesungguhnya.

BAB 2

BAGAIMANAKAH SESUNGGUHNYA FUNGSI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI


INDONESIA

I. PENDAHULUAN
Alkitab mengungkapkan bahwa Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu dengan bersabda. Ia
menciptakan dari tidak ada menjadi ada, atau secara Cretio Ex-nihilo. Sedangkan manusia
diciptakan Tuhan Allah dengan Tangan-Nya, kemudian Ia menghembuskan nafas hidup kepadanya.
Kejadian 1:1-2:7; 2 :18-25, menunjukkan Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan
rupa-Nya. Manusia diciptakan dengan perbedaan gender dengan maksud, berbeda dari makhluk-
makhluk lain; sebagai pribadi yang mempunyai hubungan dengan-Nya; sebagai mitra kerja
Allah dalam menatalayani dunia; memiliki kebebasan dan tanggung jawab penuh terhadap
pengelolaan hidupnya kepada Tuhan Allah.
Akan tetapi, segala kemudahan dan keindahan yang dimiliki manusia tersebut menjadi rusak
ketika mereka jatuh ke dalam dosa. Dosa menjadikan seluruh atau semua manusia (Rom 3:26, 5:12,
6:23), hanya Yesus yang tidak berdosa, Ibr 4:15. Akibat dosa, dalam hubungan dengan Tuhan Allah,
manusia tidak layak menghadap Tuhan Allah; manusia tidak sanggup melakukan kehendak Tuhan
Allah.
Setelah peristiwa Menara Babel, manusia terpisah satu sama lain sesuai kesamaan bahasanya.
Mereka mengembara dan menemukan wilayah untuk membangun komunitas serta mengembangkan
hidup dan kehidupan. Keadaan itu terus berlangung sampai pada akhirnya manusia di dunia -
masyarakat dunia- terbagi atau terpisah secara geografis dan politik, kebudayaan, budaya, tradisi,
adat, bahasa, bangsa dan suku bangsa, suku dan sub suku, golongan, etnis, dan lain-lain. Dan dalam
perkembangan kemudian manusia membentuk serta membangun kerajaan atau pemerintahan-
kekuasaan dengan raja sebagai pusat kekuasaan.

II. PAK SEBAGAI BAGIAN DARI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL


Melalui proses yang cukup panjang dari masayakat dunia pada masa lalu, muncullah bangsa
dan masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia juga penuh dengan pelbagai perbedaan dan latar
belakang. Manusia Indonsia juga termasuk umat manusia yang telah berdosa kehilangan kemuliaan
Tuhan Allah. Kehadiran Gereja atau Agama Kristen di Indonesia gereja-gereja di Eropa dan

7
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Amerika melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Pada perkembangan kemudian Gereja-
gereja di Indonesiapun melakukan hal yang sama dengan gereja-gereja di seluruh dunia.
Salah satu tugas gereja di Indonesia adalah melakukan pendidikan agama kristen (PAK)
kepada orang Kristen. PAK yang dilakukan oleh Gereja sebagai bagian untuk mencapai tujuan
Pendidikan Nasional Indonesia. Tujuan pendidikan nasional, sesuai UU R.I No.2 Thn 1989 tentang
sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 4, adalah, “mencerdasakan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan”
PAK dapat sebagai bagian tujuan pendidikan nasional yang menjadikan manusia yang beriman
dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. Oleh sebab itu, PAK menyangkut seluruh unsur pertumbuhan dan
perkembangan manusia, yaitu aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial, serta mental-spiritual, dan
lain-lain.

III. PAK SEBAGAI SALAH SATU ALAT PEMBENTUK DAN PEMERSATU BANGSA
Bangsa Indonesia, seperti bagsa-bangsa yang di dunia, penuh dengan pelbagai perbedaan.
Semua perbedaan itu seringkali menjadikan pertantangan yang menjurus pada perpecahan dan
permusuhan, bahkan pertikaian serta pertumbuhan darah. Oleh sebab itu, PAK di Indonesia harus
memimalisir semua hal tersebut, dengan berbagai cara. Dengan demikian PAK harus membimbing
peserta didik agar mampu memahami adanya bermacam-macam agama -khususnya Agama Kristen-
di Indonesia; mencapai kedewasaan iman sesuai terang Injil; mampu menerapkan Firman Allah
dalam semua aspek hidup dan kehidupan sehari-hari; membentuk jati dirinya sebagai manusia
Indonesia yang berwawasan kebangsaan, menjungjung tinggi persatuan dan kesatuan, serta
mewujudnyatakan kesetiakawanan sosial.
Ini berarti PAK yang dilakukan di sekolah dasar sampai perguruan tinggi harus dilakukan
dengan memperhatikan aspek-aspek yang menyangkut hidup dan kehidupan bangsa Indonesia;
unsur-unsur yang ada dalam kurikulum pendidikan nasional; konteks masyarakat Indonesia, dan lain
–lain.
PAK di Indonesia tidak boleh menjadikan peserta didiknya menjadi “anti nasional” sehingga
tidak menganggap dirinya sabagai bagian dari rakyat dan bangsa Indonesia. PAK tidak hanya
menciptakan hasil orang Kristen yang mengasihi diri sendiri, tetapi juga sesamanya. PAK di
Indonesia juga harus menjadikan manusia Indonesia aktif di Indonesia, dan mengupayakan
kedamaian di tengah masyarakat.
Dengan demikian sangatlah tepat apabila PAK tidak berhenti menciptakan terhadap tujuan
akhir yaitu “menjadikan semua bangsa murid-Ku”.

IV. PAK SEBAGAI SALAH SATU ALAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS MANUSIA
INDONESIA
Salah satu fungsi orang tua (ayah-ibu) di rumah adalah sebagai pendidik. Oleh sebab itu,
sebagai pendidik, mereka juga harus berupaya mengetahui prinsp-prinsip peningkatan kualitas
belajar dan mengajar seperti dimiliki para pendidik (guru) disekolah dan pendeta serta majelis
gereja. Pendidik bukan hanya bertugas untuk menyampaikan informasi (bahan ajaran) kepada
peserta didik, tetapi harus berupaya agar peserta didik sungguh-sungguh belajar dalam arti

8
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

mengerti, memahami makna, dan menerima apa yang diajarkan, bahkan mempraktekannya dalam
kehidupan. Pendidik harus mendorong peserta didik memahami apa yang dibicarakan di kelas atau
diluarnya. Untuk itu, memerlukan suatu proses yang berkelanjutan, karena belajar merupakan
proses. Proses yang dinamis dan mengarah pada terjadinya perubahan. Perubahan akibat hasil
belajar menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotoris.
Untuk mencapai semua ranah itu, maka proses belajar mengajar harus memperhatikan teori
belajar dan gaya belajar, yaitu belajar sebagai kemampuan manusia menyimak apa yang diminati
dan dipelajarinya; belajar sebagai pengembangan daya-daya dalam diri manusia; belajar sebagai
pembentukan tingkah laku.

KESIMPULAN
Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu dengan bersabda. Ia menciptakan dari tidak ada
menjadi ada, juga dalam keadaan baik dan sempurna. Manusia diciptakan Tuhan Allah
dengan Tangan-Nya, sebagai mitra kerja Allah dalam menatalayani dunia serta memiliki kebebasan
dan tanggung jawab penuh terhadap pengelolaan hidupnya kepada Tuhan Allah.
Dosa menjadikan apa yang indah dan biak serta sempurna itu menjadi rusak. Dosa juga
menjadikan seluruh atau semua manusia (Rom 3:26, 5:12, 6:23), hanya Yesus yang tidak berdosa,
Ibr 4:15. Juga menjadikan manusia terpisah satu sama lain, mengembara dan menemukan wilayah
untuk membangun komunitas serta mengembangkan hidup dan kehidupan.
Manusia Indonsia juga termasuk umat manusia yang telah berdosa kehilangan kemuliaan
Tuhan Allah. Kehadiran Gereja atau Agama Kristen di Indonesia gereja-gereja di Eropa dan
Amerika melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Pada perkembangan kemudian Gereja-
gereja di Indonesiapun melakukan hal yang sama dengan gereja-gereja di seluruh dunia. Salah satu
tugas gereja di Indonesia adalah melakukan pendidikan agama kristen (PAK) kepada orang Kristen.
PAK yang dilakukan oleh Gereja sebagai bagian untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional
Indonesia.
PAK dapat sebagai bagian tujuan pendidikan nasional yang menjadikan manusia yang beriman
dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.

1. Baker, D. L. 1993,Satu Alkitab, Dua Perjanjian: Suatu Studi tentang Hubungan Teologis antara PL
dan PB, Jakarta: Gunung Mulia,.
2. Barr, J. 1997, Alkitab di dunia modern (diterjemahkan oleh I. J. Cairns), Jakarta: Gunung Mulia.
3. Darmaputera, Eka, 1988, Konteks berteologi di Indonesia: Buku penghormatan untuk HUT ke-70
Prof. Dr. P. D. Latuihamallo,Jakarta: BPK-GM
4. de Jonge, C. 1985 Kontekstualisasi sebagai sejarah (Pidato Dies Natalis STT Jakarta ke-52),
Jakarta: STT Jakarta.
5. Kahin, G. Mc Turnan, Refleksi pergumulan lahirnya Republik NASIONALISME DAN REVOLUSI DI
INDONESIA (diterjemahkan oleh Nin Bakdi Soemanto), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
6. Lempp, W. 1974, Tafsiran Kejadian (32:1-36:43): Kej. IV/bag. 2, Jakarta: BPK-GM.

9
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

7. Sidjabat, B. Samuel, M.Th., Ed.D, Strategi Pendidikan Kristen: Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis
(Edisi Revisi), Yogyakarta : Yayasan ANDI

Bab 2. SEKOLAH DAN PAK DI INDONESIA

KURIKULUM PAK, MUTU DAN KUALITAS GURU, SARANA PRASANA

Dalam Undang-undang Pendidikan Nasional yang di tetapkan oleh pemerintah, pendidikan agama
mendapat tempat penting dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga
perguruan tinggi. Diberi waktu (2) dua jam pelajaran per minggu untuk penyelenggaran pendidikan
agama. Kesempatan ini merupakan peluang berharga yang harus di manfaatkan sebagai pembinaan
mental spiritual peserta didik. Saat ini sudah tersusun Kurikulum Pendidikan Agama Kristen mulai
dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi,

Mutu dan kualitas PAK di sekolah di tentukan oleh berbagai faktor seperti : mutu dan kualitas
guru, mutu kurikulum, kemampuan peserta didik, sarana dan prasarana, serta pereturan perundang-
undangan yang berlaku dan tidak kalah penting dukungan yang di berikan oleh sekolah dimana PAK
tersebut di selenggarakan. Berikut ini akan di uraikan pergumulan penyelenggaraan PAK di sekolah.

1. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen

Kurikulum Pendidikan Agama Kristen sudah beberapa kali mengalami perubahan sesuai dengan
kebijakan pendidikan yang telah di tetepkan pemerintah. Mulai dari kurikulum tahun 1974,2004,
dan saat ini muncul Kurikulum Berbasis Kompentensi, meskipun masih dalam taraf uji coba. [4] PAK
disekolah di Indonesia diselenggarakan dengan dasar hukum UUD 1945 BAB XI, pasal 29 no.2, UU
no 4 tahun 1950 No 12 tahun 1954 BAB 9 ayat 1, kep. Bersama Mentri Agama dan Menteri P & K
tahun 1953, intruksi no 51 / 1967, kep. Bersama Mendikbud dan Menag tahun 1985, dan GBHN
1983 serta 1993.[5]

Keberhasilan PAK tidak hanya terletak pada tersusunnya materi kurikulum yang baik, tetapi juga
ditentukan oleh faktor-faktor lain. Jika kurikulum baik tetapi mutu guru tidak baik maka hasilnya
juga tidak akan baik. Kurikulum baik, guru baik tetapi sarana dan prasarana tidak baik, hasilnyapun
tidak akan maksimal.

2. Mutu dan Kualitas Guru PAK

Terutama di sekolah-sekolah pemerintah dan swasta umum, Pendidikan Agama Kristen masih amat
memprihatinkan. Kurangnya guru-guru agama Kristen menjadi hambatan utama, karna formasih
pengangkatan guru agama Kristen jauh dari kebutuhan-kebutuhan yang ada. Banyak peserta didik
yang beragama Kristen tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karna tidak tersedianya
guru yag mengajar.

3. Sarana dan Prasarana Penyelenggaraan PAK di Sekolah

Keprihatinan lain adalah terbatasnya sarana dan prasarana penyelenggaraan PAK di sekolah. Sering
di temui bahwa sekolah tidak enyediakan sarana yang memadai untuk penyelenggaraan PAK. Kadang

10
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

guru harus mengajar PAK di perpustakaan sekolh, atau di salah satu ruang kecil saja, bahkan ada
yang mengajar di gang yang terdapat di sekolah.

4. Suatu Kontradisi

Peraturan perundang-undangan menyatakan bahwa setiap siswa berhak mendapatkan pendidikan


sesuai dengan agama dan kepercayaannya dan sekolah wajib menyediakan sarana dan prasarana
untuk itu.

5. Perlu Keterlibatan Semua Pihak

Dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut perlu keterlibatan semua pihak. Pemerintah


hendaknya menerbitkan peraturan yang dapat melindungi semua pesrta didik dalam hal
mendapatkan pendidikan agama yang sungguh-sungguh.

Bab 3. PAK DALAM KONTEKS MASYARAKAT INDONESIA

PAK DAN HETEROGENITAS, KEMANDIRIAN IMAN, KETERBUKAAN.

PAK dan Heterogenitas

Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap,
kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang
dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan.[6] Secara khusus Pendidikan agama Kristen menurut Andar Ismail adalah usaha
sengaja dari gereja untuk membina dan mendidik semua warganya baik anak, remaja, pemuda,
dewasa, pria dan wanita untuk mencapai tingkat kedewasaan dalam iman, pengharapan, dan kasih,
guna melaksanakan misinya di dunia ini sambil menantikan kedatangan kedua dari Tuhan Yesus
Kristus.[7]

Heteronegitas adalah keanekaragaman.[8]Keanekaragaman yang dimaksud adalah agama,


budaya, suku, maupun pekerjaan.Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen, hal itu dapat
dibuktikan salah satunya dengan keberagaman agama. Sebagai Negara yang mengakui banyak agama
( Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan Katolik ), setiap warga dituntut untuk menjaga relasi dengan
umat beragama lainnya.Dengan memperhatikan realitas konteks bangsa Indonesia ini, Pendidikan
Agama Kristen harus memainkan peranan yang sangat penting karena generasi muda yang dididik
baik di gereja maupun di sekolah adalah generasi yang hidup dalam konteks heterogenitas.

Pendidikan Agama Kristen di sekolah haruslah mengarahkan pada keterbukaan. Ada empat
prinsip utama dari Pendidikan Agama Kristen yaitu:

a. Learning to know

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan kepada peningkatan pengetahuan yaitu pengetahuan
akan Allah dan segala firman-Nya, sesama, diri sendiri, maupun lingkungannya. Peserta didik
haruslah diarahkan kepada pemahaman atas keutuhan ciptaan, bahwa sejak semula Allah telah
menciptakan manusia, makhluk-makhluk, dan alam yang saling ketegantungan dan semuanya itu
harus dijaga agar tetap harmoni sesuai dengan rancana Allah dalam penciptaan manusia.

b. Learning to be

11
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki jati dirinya dan mampu
menyatakan keberadaan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.Sehingga peserta didik tidak pesimis,
melainkan optimis serta tidak negatif tapi positif dan menyadari bahwa dirinya sangat berharga di
mata Tuhan. Dengan demikian, ia mampu untuk menyatakan segala potensi yang telah diberikan
Tuhan kepadanya untuk kepentingan sesamanya. Peserta didik akan mampu memahami bahwa ia
hidup bukan hanya untuk dirinya saja, tetapi bagi sesama dan lingkungannya.

c. Learning to live together

Pendidikan Agama Kristen harus diarahkan agar peserta didik menyadari betul bahwa hidup tidak
mungkin sendirian.Keberhasilan tidak dapat diraih sendirian, kesehjateraan harus dilakukan secara
bersama-sama.Harus dapat dihayati bahwa penerapan dan aplikasi kasih Kristus melampaui batas-
batas manusiawi, batas-batas agama maupun batas-batas etnis. Inti iman Kristen yang
sesungguhnya ialah bahwa ia dapat hidup dan menjadi berkat bagi sesamanya.

d. Learning to do:

pendidikan agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki keterampilan dalam
mempraktekkan imannya di tengah-tengah kemajemukan masyarakatnya, bukan menjadi batu
sandungan melainkan menjadi berkat bagi sesame dan lingkungannya, bukan menjadi menutup diri,
melainkan dapat menempatkan dirinya bersama-sama dengan orang lain untuk menghadirkan syalom
Allah di tengah-tengah dunia ini.

Kemandirian Iman

Dalam konteks kemajemukan masyarakat dalam berbagai bentuk kehidupan, PAK harus
diarahkan kepada kemandirian iman. Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan dalam masyarakat
baik dalam hal agama maupun etnis akan saling bersentuhan. Sentuhan- sentuhan itu amat kuat dan
jika tidak memiliki kemandirian iman maka akan kalah. Perpindahan agama yang semakin
lazim terjadi di tengah-tengah masyarakat, yang disebabkan karena sentuhan-sentuhan
heterogenitas agama tidak bisa dihindarkan. Iman dan keselamatan yang telah diterima dari Yesus
Kristus tidak dapat ditukarkan dengan apapun di dunia ini.Namun, dipihak lain, iman itu harus
didemonstrasikan lewat hidup pribadi kepada siapapun.Kasih Yesus melampaui batas-batas agama
dan batas-batas manusiawi. Orang-orang beriman harus mampu bergaul dengan semua penganut
agama lain dan bekerja sama dengan mereka untuk membangun kesehjateraan umat manusia tanpa
kecuali. Karena Kristus pun mengasihi semua orang, bahkan mengasihi dunia dan segala isinya.

Keterbukaan

Pendidikan Agama Kristen haruslah mampu membawa peserta didik pada


keterbukaan.Maksudnya ialah sikap iman bukanlah Introvert tapi ektrovert.Iman Kristen siap
untuk dilihat dan diselidiki.Iman Kristen justru hidup jika diaplikasikan dalam perbuatan-
perbuatan. Keterbukaan akan menghindarkan diri dari menjelek-jelekan agama lain, tetapi melihat
secara positif bahwa dalam agama lain pun terdapat ajaran-ajaran baik yang dapat diterapkan
dalam kehidupan bersama. Keterbukaan memungkinkan peserta didik dapat melihat orang lain bukan
sebagai musuh tetapi sebagai sahabat dalam kehidupan terutama dalam perbuatan – perbuatan
kebajikan. Keterbukaan memungkinkan orang-orang Kristen dapat menjadi berkat bagi sesamanya.

12
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Di Indonesia, keadaan seperti itu seharusnya tidak merupakan kejutan. Ribuan tahun
masyarakat Indonesia berpengalaman hidup sebagai masyarakat yang beranekaragam.Oleh karena
itu, perlu sekali dibicarakan siapa mereka yang berbeda agama. Maksudnya, dari sudut iman kristani
orang – orang yang beragama lain itu harus dipahami sebagai teman dan bukan saingan, rekan bukan
ancaman, sebagai saudara sendiri dan bukan musuh.[9]

Setiap agama memiliki ajaran yang berbeda, dan setiap agama tidak mengajarkan
kejahatan.Dalam keberadaan itu orang Kristen harus dapat memahaminya.Seperti yang
dikemukakan Pdt. Eka Darmaputera yang dikutip oleh Daniel Stefanus, bahwa saat orang Kristen
hidup di tengah-tengah orang-orang yang beragama lain, orang Kristen jangan menjadi orang
Kristen yang eksklusif.[10]

Bab 4. PEMAHAMAN PAK

PENGERTIAN, HAKIKAT PAK, RUANG LINGKUP PAK, TUJUAN PAK

Pendidikan agama Kristen merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan dalam rangka
membimbing seseorang pada pengenalan akan Allah sehingga boleh bertumbuh dalam iman kepada
Yesus Kristus Alkitab dan atas penyertaan Roh Kudus boleh mewujudnyatakan imannya melalui
tindakan sehari-hari yang berdasarkan pengajaran Alkitab.

HAKIKAT PAK

PAK wajib menyampaikan warisan rohani gereja, yang telah diamanatkan oleh Tuhan sendiri. Anak2
muda biasanya tidak mulai mempelajari agama Kristen dengan cara belajar seperti yang dipakai di
sekolah, melainkan dalam rumah tangga orangtuanya sejak kelahirannya mereka didik dalam suasana
Kristen dan belajar mengasihi Tuhan Yesus dan percaya kepadannya. Dengan sendirinya dengan
berangsur-angsur mereka diperkenalkan dengan isi dan praktek kepercayaan kita secara orang
Kristen. Kemudian, apabila mereka sudah lebih besar, barulah mereka akan dididik lebih lanjut
dengan jalan dengan pengajaran tentang Alkitab dan pengakuan resmi dari Gereja .[11] Hakikat PAK
adalah usaha yang dilakukan secara kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa
agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus
Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan
hidupnya.

RUANG LINGKUP PAK

Dalam buku Robert P Borong, “Berakar didalam Dia dan dibangun diatas Dia” ruang lingkup
Pendidikan agama kristen adalah mencakup: semua bentuk pelayanan pendidikan dan atau
pembinaan kristen utuk semua lapisan usia yang menjadi tanggung jawab dan diselenggarakan oleh
gereja secara teratur, bertujuan dan terus- menerus. Mata pelajaran agama kristen disekolah dan
perguruan tinggi hanyalah sebagian kecil dari PAK, namun mejangkau massa yang sangat
besar.[12] Dengan demikian secara besar ruang lingkup PAK meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Allah Tritunggal (Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan karya-Nya, 2. Nilai-nilai kristiani

TUJUAN PAK

Tujuan dari PAK adalah untuk:

13
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

- melibatkan semua warga jemaat, khususnya yang muda, dalam rangka belajar teratur dan
tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam firman Yesus Kristus yang
memerdekakan mereka disamping memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khusunya
pengalaman berdoa, firman tertulis, Alkitab, dan rupa-rupa kebudayaan sehinnga mereka mampu
melayani sesamanya termasuk masyarakat dan Negara.

- mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen, yaitu Gereja. PAK
juga bertujuan untuk mengajak, membantu, dan mengahantar seseorang untuk mengenal kasih Allah
yang nyata dalam Yesus Kristus, sehingga dengan pimpinan Roh Kudus ia datang kedalam
persekutuan yang hidup dengan Tuhan.

Bab 5. REALITAS PLURALISME MASYARAKAT INDONESIA

Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya
“kemajemukan” atau “keanekaragaman” dalam suatu kelompok masyarakat. Kemajemukan yang
dimaksud misalnya dilihat dari segi agama, suku, ras, adat istiadat, dll. Segi-segi inilah yang
biasanya menjadi dasar pembentukan aneka macam kelompok lebih kecila, terbatas dan khas, serta
yang mencirikhaskan dan membedakan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dalam suatu
kelompok masyarakat yang majemuk dan yang lebih besar atau lebih luas. Misalnya masyarakat
indonesia yang majemuk, yang terdiri dari berbagai kelompok umat beragama, suku dan ras yang
memiliki aneka macam budaya atau adat istiadat.

Menerima kemajemukan berarti menerima adanya perbedaan. Menerima perbedaan bukan berarti
menyamaratakan, tetapi justru mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak sama. Menerima
kemajemukan ( misalnya dalam bidang agama ) bukanlah berarti membuat “penggabungan”, dimana
kekhasan masing-masing terlebur atau hilang. Kemajemukan juga bukan berarti “tercampurbaur”.
Justru didalam pluralisme atau kemajemukan, kekhasan yang membedakan hal ( agama ) yang satu
dengan yang lain tetap ada dan tetap dipertahankan.

Dasar Pluralisme (Penerimaan Kemajemukan)

Dasar Filosofis Kemanusiaan

Penerimaan kemajemukan dalam pluralisme adalah sesuatu yang mutlak, tidak dapat ditawar-tawar.
Hal ini merupakan konsekuensi dari kemanusiaan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang
mempunyai harkat dan martabat yang sama, mempunyai unsur-unsur essensial (intisari) serta
tujuan atau cita-cita hidup terdalam yang sama, yakni damai sejahtera lahir dan batin. Namun dari
sisi lain manusia berbeda satu sama lain, baik secara individual atau perorangan maupun komunal
atau kelompok, dari segi eksistensi atau perwujudan pengungkapan diri, tata hidup dan tujuan
hidup.

Sedangkan secara faktual dan historis, manusia yang sama secara essensial dan berbeda secara
eksistensial itu pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang hidup bersama saling membutuhkan,
dan saling tergantung satu sama lain, baik secara perorangan/individual maupun secara
kelompok/komunal.

Adanya kemajemukan merupakan suatu fakta sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang tidak
dapat ditolak dalam sejarah hidup manusia, baik secara lokal maupun nasional dan internasional.

Dasar Sosial Kemasyarakatan dan Budaya

14
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Karena kemajemukan merupakan konsekuensi dari hakekat manusia sebagai makhluk sosial, yang
dari satu segi memiliki kesamaan essensial tetapi dari lain segi ada perbedaan eksistensial, maka
pada hakekatnya identitas suatu kelompok masyarakat (entah lokal, nasional dan internasional)
akan hilang bila tidak ada kemajemukan. Jadi, kemajemukan merupakan unsur penentu bagi adanya
kekhasan suatu masyarakat. Oleh sebab itu, dalam sejarah pembentukan dan kehidupan setiap
kelompok masyarakat senantiasa ada kesadaran dan pengakuan akan adanya kemajemukan, serta
ada komitmen untuk menerima dan tetap mempertahankan kemajemukan secara konsekuen dan
konsisten.

Dasar Teologis

Dalam suatu masyarakat agamawi seperti masyarakat Indonesia, kendati ada berbagai macam
agama yang berbeda dalam berbagai aspek atau unsur-unsurnya, namun kemajemukan seyogyanya
harus diterima, sebagai konsekuensi dari nilai-nilai luhur dan gambaran “Sang Ilahi” (Allah) yang
maha baik serta cita-cita atau tujuan mulia dari setiap agama dan para penganutnya.

Bhineka Tunggal Ika adalah suatu semboyan nasional yang berarti “berbeda-beda tapi tetap satu.
Semboyan ini lahir sebagai refleksi atas realitas kemajemukan bangsa, sekaligus sebagai jawaban
agar kemajemukan itu tidak memicu disintegrasi, tetapi justru menjadi tiang-tiang penyangga bagi
hadirnya sebuah bangsa yang kukuh. Dalam nafas Bhineka Tunggal Ika itu keragaman dipahami
sebagai asset yang berharga, sehingga menjadi bagian-bagian indah dalam mosaik keindonoesiaan.
Keragaman Indonesia terlihat dengan jelas pada aspek-aspek geografis, etnis, sosio kultural dan
agama. Jumlah pulau yang amat banyak, suku-suku dengan bahasa, budaya, adat istiadat dan agama
yang berbeda-beda menampilkan kekayaan Indonesia yang tidak ternilai harganya. Kebinekaan yang
menjadi warna dari masyarakat dan bangsa Indonesia tetap mampu menonjolkan keikaannya, karena
adanya nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas bangsa kita, yaitu gotong-royong, kekeluargaan,
musyawarah, tenggang rasa, yang kesemuanya memperkukuh semangat toleransi dan kerukunan di
kalangan masyarakat dan bangsa kita.[13]

Bab 6. PLURALISME MASYARAKAT INDONESIA

Indonesia adalah negeri yang penuh kontradiksi. Indonesia adalah sebuah negeri pemeluk Islam di
dunia. Masyarakatnya dikenal agamis dan religius termasuk juga gereja-gerejanya. Namun,
meskipun beragam Indonesia adalah satu dan memegang teguh falsafah “Bhineka Tunggal Ika”.

Indonesia menyadari bahwa keanekaragaman ini dapat menjadi potensi kekuatan tetapi juga
menjadi ancaman dan sumber malapetaka bangsa. Untuk itulah persatuan dan kesatuan bangsa
harus terus diperjuangkan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ini adalah tugas seluruh bangsa
Indonesia yang terdiri dari berbagai golongan, suku, ras dan agama. [14]

Kemajemukan Aliran Keagamaan

Indonesia kaya akan aliran-aliran keagamaan yang di akui oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga
keagamaan. Di Islam misalnya ada NU, Muhammadyah, Persis dan lain-lain. di Kristen ada Protestan,
Metodhist, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Pentakosta, Injili dan Kharismatik. Ini adalah
realitas yang kita temukan pada masyarakat Indonesia. Supaya semua dapat rukun bersama dalam
wadah kesatuan RI, maka pemerintah pun mengatur pergaulan antar agama. Kita mengenal Trilogi

15
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Kerukunan Umat Beragama yaitu kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat
beragama, dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Semua itu dilakukan agar
heterogenitas agama-agama di Indonesia dapat hidup rukun dan damai.[15]

Kesetiaan dan kepatuhan nilai hidup religius atau keagamaan menjadi jiwa atau semangat dasar
sumber inspirasi, motivasi, dan tonggak pedoman arah bagi manusia dalam menentukan dan
mengambil sikap yang tepat dan benar terhadap setiap perkembangan dan kemajuan yang ada.
Agama-agama di indonesia, melalui doktrin-doktrin imannya mengajarkan bahwa dalam hubungan
dengan sesama, manusia senantiasa berusaha menciptakan sebuah relasi sosial yang harmonis.
Manusia menjadi sesama bagi orang lain, yang ditunjukan lewat sikap saling menghormati dan
menghargai, saling membantu dan melayani serta saling mencintai.

Dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar, setiap agama mengajarkan agar manusia senantiasa
berusaha mengolah dan memelihara kelestariannya. Kesalehan hidup religius dan kesetiaan pada
komitmen moral menjadi kompas kehidupan bagi manusia indonesia di tengah amukan dan arus
masyarakat global.

Kebhinekaan agama (islam, protestan, hindu, budha, katolik, konghucu ) merupakan kenyataan hidup
dalam masyarakat indonesia setiap agama itu mempunyai ajaran dan cara mengungkapkan diri yang
berbeda dalam kehidupan konkret, namun semuanya mempunyai satu tujuan, yakni mau membimbing
dan menuntun manusia kepada hidup yang lebih baik. Setiap agama-agama melalui imannya tidak
pernah membenarkan dan mengamini setiap perbuatan dan tindakan manusia yang dapat merugikan
dan menghancurkan kehidupan sesama dan lingkungannya, melainkan senantiasa mengajarkan
manusia untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama dan lingkungan.

Sensitivitas Keagamaan

Dalam pengalaman bangsa Indonesia, dari semua bidang kehidupan masyarakat, masalah agama
adalah yang paling sensitif dan paling mudah menimbulkan konflik. Berbagai kejadian yang terjadi
baik dilingkungan intern umat beragama maupun antar umat beragama, sensitivisme keagamaan
sering menimbulkan konflik, baik ditingkat lokal maupun regional. Dinegara ini, orang paling mudah
tersinggung jika sudah menyangkut masalah-masalah keagamaan. Oleh karena itu, di Indonesia di
larang untuk menjelek-jelekkan, menghina atau melecehkan agama lain, dilarang memaksakan agama
kepada orang yang sudah beragama, tidak boleh terlibat dan ikut ibadah-ibadah ritual agama lain.
perpindahan agama sering mendapat tekanan yang luar biasa meskipun sebenarnya memilih dan
memeluk suatu agama adalah Hak Asasi Manusia.

Tercatat ada enam agama yang diakui di Indonesia yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha
dan Konghucu. Apabila pluralitas ini tidak dijaga dengan baik, maka akan menimbulkan rasa sensitif
yang menyebabkan konflik destruktif. Dimana konflik destruktif bisa memecah belah persatuan
agama-agama dan ada kemungkinan pula memecah belah substansi Bhineka Tunggal Ika.

Menurut Budiono, sensitif ialah peka. Adapun sensitivitas ialah perasaan yang peka atau yang lekas
timbul.[16] Oleh karena itu, rasa sensitif bisa muncul dalam dua bentuk yaitu sensitif positif dan
sensitif negatif.Sensitif positif tidak menimbulkan konflik destruktif, sedangkan sensitif negatif
bisa menyebabkan konflik destruktif. Adapun contoh dari sensitif positif dalam kehidupan sehari-
hari yaitu empati dan simpati pada orang yang baru tertimpa musibah. Sedangkan contoh sensitif
negatif yaitu penyerangan atas nama agama kepada pemeluk agama lain.

16
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Oleh karenaitu, umat agama apapun perlu kembali merenungkan kembali esensi agama-agama yang
mereka anut. Agama apapun itu baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu tidak
pernah mengajarkan kepada pemeluknya untuk membunuh umat lain yang berbeda agama tanpa ada
alasan yang jelas. Setiap agama tentunya punya nilai-nilai substantif berupa kasih sayang, toleransi,
tolong menolong, dsb. Nilai-nilai itulah yang harusnya diambil ketika seseorang hidup di tengah
masyarakat yang plural dan majemuk.

Menurut beberapa kajian, rasa sensitif (sensitivitas) beragama muncul dikarenakan kembali pada
dogma dan dengan oposisi biner, hitam-putih, salah-benar. Mereka yang termasuk hitam adalah
mereka yang salah dan disebutnya sebagai setan jahat, sementara yang putih adalah mereka yang
benar termasuk anak Tuhan.[17]

Rasa sensitif yang menyebabkan konflik dan kekerasan atas nama agama atau Tuhan lebih
disebabkan oleh karena pemeluk semua agama tidak konsisten dengan keyakinannya sendiri.
Hubungan antar pemeluk berbeda agama atau berbeda paham keagamaan, akan bisa dikembangkan
oleh manusiawi, dialogis dan konstruktif. Semua pemeluk agama bisa bekerja sma saling
menguntungkan, baik bagi kepentingan agama itu sendiri atau bagi keuntungan manusia dalam arti
luas.[18]

Yang perlu diingat, bahwasannya setiap komunitas mempunyai keyakinan tersendiri dalam
beberapa hal tertentu. Hendaknya perbedaan tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk
menebarkan kekerasan diantara satu kelompok terhadap kelompok lain. Intinya, keyakinan
kelompok tertentu harus dihargai dan dihormati. [19] Untuk itu, kalangan agamawan mempunyai
tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan untuk menghilangkan rasa sensitif negatif yang
berlebihan. Sebab, pada hakikatnya setiap agama membawa misi perdamaian.[20]

Bab 7. PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Kebebasan beragama di negara Indonesia,mengacu pada UUD 1945. Jika kita merujuk pada pasal
28E ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi : Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut
agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali dan Pasal 28E
ayat (2) menyatakan. “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan
pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya ”.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan, disebutkan bahwa: pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga
kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama (Pasal 2 ayat 1). [21]

Dasar Teologis PAK dalam Masyarakat Majemuk

Ada lima dasar teologis kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat majemuk yaitu sebaagai
berikut:

1. Allah sebagai pencipta dan manusia sebagai ciptaan

Dasar teologis yang pertama adalah apa yang kita baca terutama dalam kitab Kejadian pasal 1-11,
tetapi juga dalam banyak bagian Alkitab yang lain, yaitu pengakuan iman bahwa Allah adalah

17
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

penciptaan alam semesta dan manusia adalah makhluk ciptaan-Nya. Dalam peristiwa penciptaan,
sesudah Allah menciptakan Adam, Allah menempatkan manusia di taman Eden dan berfirman: “tidak
baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong yang sepadan dengan dia” -
(Kej 2:18). Diciptakannya manusia laki-laki dan perempuan adalah awal dari kemajemukan dalam
kehidupan manusia. Dari situ jelas bahwa kemajemukan itu adalah suatu yang baik serta merupakan
kehendak Allah bagi manusia.

2. Manusia sebagai makhluk fana yang dapat mati

Manusia sering kali disebut sebagai “daging”. Maksudnya, bukan pertama-tama mengungkapkan
aspek kejasmanian manusia, melainkan aspek kerapuhannya sebagai mahluk fana yang dapat mati.
Oleh karena itu, pokok mengenai manusia sebagai makhluk fana yang dapat mati dapat menjadi
dasar teologis kebersamaan dalam masyarakat majemuk.

3. Umat Allah sebagai pelayan kebersamaan manusia

Dasar Teologis yang ketiga adalah pemahaman mengenai umat Allah. Pokok ini sering dianggap
sebagai sesuatu yang eksklusif sifatnya. Abraham dipanggil keluar dari Ur supaya menjadi cikal
bakal umat Israel, sedangkan umat Israel dipangil keluar supaya menjadi umat kesayangan Tuhan.
Dalam Zefanya 3:12 umat Israel yang luput dari hukuman Tuhan akan dibiarkan menjadi “suatu
umat yang rendah hati dan lemah”. Maksudnya umat yang tidak bisa membanggakan status mereka
sebagai umat terpilih.

4. Gambaran Kristus sebagai Hamba-Mesias

Dasar teologis yang keempat adalah bagaimana kita memandang Kristus. Umumnya kita menganggap
bahwa pembicaraan mengenai Kristus dalam dialog antara agama selalu akan mengalami jalan buntu
karena agama lain tidak dapat menerima keilahian Kristus. Gambaran Kristus yang kita warisi adalah
Kristus sebagai penguasa dan penakluk dunia. Namun, gambaran ini tidak sesuai kalau diterapkan
pada keberadaan agama-agama lain. Kalau Kristus adalah Hamba-Mesias maka ia bukanlah
penakluk dan peniada dari mereka yang lain. Kristus adalah pengenap, begitu yang dikatakan dalam
Injil Matius. Tetapi, tentu saja Kristus bukan sekedar pengenap saja melainkan pembaru juga.
Sebagai hamba, Ia menggenapi segala sesuatu yang baik dan yang datang untuk
menttransformasikan segala sesuatu.

5. Makna keselamatan dalam kehidupan bersama dengan yang lain

Pokok keselamatan yang menjadi dasar teologis yang kelima dalam pembicaraan ini, ternyata adalah
sesuatu yang sangat sensitive bagi orang-orang Kristen di Indonesia dalam percakapan yang
berkaitan dengan kemajemukan agama. Keselamatan dalam Alkitab tidak bisa diartikan hanya
mutlak bersifat partikularistik. Didalam Alkitab juga jelas bahwa keselamatan juga mengandung
makna universalistik. Di sini tidak ada maksud untuk merelatifkan keselamatan dengan merumuskan
bahwa Kristus menyelamatkan semua orang di semua agama. Kita memiliki dasar Alkitab yang kuat
kalau kita berpindah dari pemahaman keselamatan yang eksklusif ke pemahaman keselamatan yang
inklusif.[22]

Peran PAK dalam Masyarakat Majemuk

PAK Sebagai Bagian dari Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan agama Kristen adalah salah
satu tugas gereja sebagai bagian untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia . Dalam
Undang-Undang R.I No. 20 Thn 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3

18
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

disebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk


watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Oleh sebab itu menyangkut
seluruh unsur pertumbuhan dan perkembangan manusia, yaituaspek fisik, psikologis, intelektual,
sosial, mental spiritual, dan lain-lain.

PAK Sebagai Salah satu Alat Pembentuk dan Pemersatu Bangsa. Di tengah perbedaan yang
ada, baik di Indonesia maupun di Negara-negara di seluruh dunia, seringkali terjadi pertentangan
yang menjurus pada perpecahan dan permusuhan, bahkan pertikaian serta pertumpahan darah.
Oleh sebab itu kehadiran PAK penting artinya dalam rangka meminimalisir semua persoalan
tersebut. PAK harus dapat membimbing peserta didik untuk dapat memahami kemajemukan yang
ada di tengah masyarakat, memahami perbedaan agama, suku, ras, golongan, dsb. PAK harus mampu
menerapkanfirman Allah dalam semua aspek hidup dan kehidupan sehari-hari, membentuk jati
dirinya sebagai manusia Indonesia yang berwawasan kebangsaan, menjunjung tinggi persatuan dan
kesatuan serta mewujudnyatakan kesetiakawanan social. Hal ini berarti PAK yang dilaksanakan di
sekolah, baik di tingkat dasar, menengah maupun pendidikan tinggi, perlu diberikan muatan materi
dengan memperhatikan aspek-aspek yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat majemuk.
PAK bukan hanya menghasilkan orang Kristen yang mengasihi dirinya sendiri tetapi juga sesamanya,
bukan hanya sesama yang seiman tapi juga dengan orang lain yang berbeda keyakinan, dsb. PAK
harus dapat mengupayakan kedamaian di tengah masyarakat.

PAK sebagai salah satu alat untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Salah satu
fungsi orang tua (ayah-ibu) di rumah adalah sebagai pendidik. Oleh sebab itu, sebagai pendidik
mereka juga harus berupaya mengetahui prinsip-prinsip peningkatan kualitas belajar dan mengajar
seperti dimiliki para pendidik (guru) di sekolah, dan pendeta/guru agama/majelis di gereja.
Pendidik bukan hanya bertugas ubtuk menyampaikan informasi (bahan ajar) kepada peserta didik,
tetapi harus berupaya agar peserta didik sungguh-sungguh belajar dalam arti mengerti, memahami
makna, dan menerima apa yang diajarkan bahkan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidik harus mendorong peserta didik memahami apa yang dibicarakan di kelas atau di luar.
Untuk itu perlu suatu proses yang berkelanjutan, proses yang dinamis dan mengarah pada
terjadinya perubahan. Perubahan yang menyangkut ranah kognitif, afektin dan psikomotorik. [23]

Bab 8. PAK DAN KETERBUKAAN

PAK Bukan Untuk Mengajarkan Suatu Doktrin Gereja

Keberadaan siswa disekolah berasal dari berbagai organisasi dan aliran gereja. hal tersebut adalah
kenyataan yang harus diterima dan harus diakui oleh setiap guru PAK. Oleh karena itu, tidak boleh
ada tendensi yang dilakukan guru PAK mengajarkan doktrin gerejannya kepada peserta didik. Isi
pengajaran harus bertujuan mengajarkan iman Kristen yang dinyatakan di dalam Alkitab. Kurikulum
PAK yang ada saat ini sudah disusun sedemikian rupa, sehingga materi-materi pengajaran lebih
menekankan kepada ajaran-ajaran pokok organisasinya. Seorang guru PAK hendaknya melepaskan
organisasinya, alirannya dan dengan tulus berpusat kepada pokok-pokok pengajaran iman Kristen.
Guru PAK tidak boleh membeda-bedakan gereja atau membenarkan gerejannya sendiri sebagai
gereja yang terbaik dan gereja lain kurang baik. Guru PAK harus berada diantara dan bersama-

19
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

sama semua gereja yang ada. Prioritas utama bagi guru PAK adalah membawa peserta didik
mengalami perjumpaan dengan Kristus, mengalami pertumbuhan iman dan hidup dengan ketaatan
kepada Allah dan mampu mengaplikasikan imannya dalam hidupnya pribadi maupun bersama-sama
dengan orang meskipun berbeda agama, gereja, suku, dan budaya.

PAK Tidak Melakukan Fungsi Gerejawi

Dalam gereja Kristen ada fungsi-fungsi pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh gereja
dan tidak lazim dilakukan oleh pelayanan-pelayan di luar gereja. hal ini dimaksudkan adalah untuk
menjaga ketertiban dan kesakralan upacara Kristen tersebut dan menghindarkan kekacauan dalam
melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Perjamuan Kudus dan Baptisan adalah dua sakramen
yang diakui oleh gereja. pelaksanaannya dilakukan oleh gereja, bukan oleh pribadi-pribadi sekalipun
ia dinyatakan sebagai guru agama Kristen. Oleh karena itulah, Perjamuan Kudus dan Baptisan adalah
menjadi tanggung jawab gereja. Seorang guru PAK yang mengajar disekolah tidak memiliki
wewenang untuk melakukan Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus dalam kapasitasnya sebagai guru.
Ia harus mengarahkan peserta didik untuk ambil bagian digereja masing-masing. Tugas guru PAK
adalah memberi pengajaran tentang arti dan makna Perjamuan Kudus dan Baptisan sesuai dengan
firman Allah, sehingga peserta didik dapat mengerti arti sebenarnya. Sangat disayangkan jika ada
beberapa guru PAK di sekolah yang melakukan Perjamuan Kudus dan Baptisan disekolah atau diluar
sekolah, sekalipun ia sendiri sebagai pelayan di gerejannya. Hal ini terjadi karena sekolah dilihat
sebagai cabang atau pos pelayanan gereja.

Menghargai Keanekaragaman Gereja

Guru PAK di sekolah harus menghargai dan menjunjung tinggi keanekaragaman gereja dari setiap
peserta didik. Tidak boleh ada usaha sengaja ataupun tidak sengaja untuk mempengaruhi peserta
didik untuk masuk ke dalam satu organisasi gereja tertentu, termasuk gereja guru yang
bersangkutan. Gereja-gereja yang adalah merupakan arak-arakan bersama di dunia dalam
melaksanakan amanat agung Tuhan Yesus. Peserta didik harus diarahkan untuk dapat menerima
saling perbedaan organisasi gereja dan aliran diantara mereka. Guru PAK tidak boleh menjelek-
jelekkan satu organisasi gereja harus dikatakan bahwa itu bukan tugas dan fungsi guru PAK. Adalah
merupakan tugas guru PAK memberi contoh kepada peserta didik bahwa ia sendiri memberi
penghargaan yang tinggi atas keanekaragaman gereja yang ada. Jika memungkinkan guru PAK dapat
memperkenalkan kepada peserta didika beberapa keragaman gereja dilingkungannya dengan
melakukan peninjauan atau wawancara atau mengikuti kebaktian yang dilakukan dengan didampingi
oleh guru yang bersangkutan. Dengan demikian peserta didik lebih mengenal dan menghayati
keanekaragaman tersebut. Gereja-gereja yang ada diijinkan Tuhan untuk melakukan pelayanan
sesuai visi yang disampaikan oleh Tuhan kepada mereka. sejarah gereja di Indonesia telah menjadi
bukti bagi kita atas keanekaragaman tersebut. [24]

Bab 9. PRINSIP PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

. Ada dua hal yang harus diperhatikan PAK dalam kemajemukan masyarakat :

1. Kemandirian Iman

Dalam konteks kemajemukan masyarakat dalam berbagai bentuk kehidupan, PAK haruslah menjadi
salah satu usaha pembentukan kemandirian iman. Tidak disangkal bahwa perbedaan-perbedaan

20
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

dalam masyarakat baik dalam hal agama maupun etnis akan saling bersentuhan. Sentuhan-sentuhan
itu amat kuat dan jika tidak memiliki kemandirian iman maka akan kalah. Sentuhan-sentuhan
heteroginitas agama tidak bisa dihindari oleh karena itu PAK haruslah menjadi salah satu usaha
pembentukan kemandirian iman. Bahwa peserta didik mampu memiliki ketetapan iman maupun
ketetapan hati meskipun di lingkungan yang amat berbeda. Peserta didik memiliki kemampuan
menempatkan dirinya ditengaah-tengaah pergaulan sekolah dengan luwes, tidak kaku namun tetap
menjaagaa kemandiriaan imannya. Ia mampu menolak segala tren-tren kehidupan yang
bertentangan dengan nilai-nilai iman yang dianutnya.

2. Keterbukaan

Pendidikan Agama Kristen haruslah mampu membawa peserta didik kepada keterbukaan.
Maksudnya sikap iman bukanlaah intropert tapi ekstropert. Iman Kristen siap untuk dilihat dan
diselidiki. Iman Kristen justru hidup jika diaplikasikan dalam perbuatan-perbuatan. Keterbukaan
akan menghindarkan diri dari menjelek-jelekkan agama lain tetapi melihat secara positif bahwa
dalam agama lain pun terdapat ajaran-ajaran baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan bersama.
Keterbukaan memungkinkan peserta didik dapat melihat orang lain bukan sebagai musuh tetapi
sebagai sahabat dalam kehidupan terutama ddalam perbuatan-perbuatan kebajikan. Keterbukaan
memungkinkan orang-orang Kristen dapat menjadi berkat bagi sesamanya.

Dari hal ini kita bisa melihat bahwa PAK mengajarkan bagaimana bersikap terbuka bagi
masyarakat, artinya kita tidak perlu menutup diri dari lingkungan bahkan kita tidak boleh
memandang remeh agama lain dan menganggap agama kitalah yang paling benar. Melainkan
sebaliknya, kita harus ramah dan menerima keberadaan agama lain, dan menghargai ajaran-ajaran
mereka. Mungkin ajaran-ajran yang baik dalam agama mereka dapat kita jadikan contoh untuk
dapat diterapkan dalam kehidupan bersama.

Bab 10. SIKAP YANG PERLU DIHINDARI DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Sikap dan kebiasaan yang perlu kita hindari dalam masyarakat majemuk ialah :

- Jangan bersikap eksklusif terhaddap yang lain atau merasa agama kita adalah agama yang
paling benar. Eksklusif adalah pandangan yang mengatakan bahwa kebenaran dan keselamatan
hanya ada di dalam agama Kristen, sedangkan tradisi agama lain di luar Kristen tidak mendatangkan
keselamatan.[25]

- Hindari senssitivismee keagamaan yang negative karena dapat mengakibatkan terjadinya


sebuah konflik

- Hindari dari menjelek-jelekkan atau menghina atau melecehkan agama yang lain

- Hindari egoisme keagamaan

Kecendrungan pola keagamaan di Indonesia adalah tingginya egoisme keaagamaan dianggap


bahwa agama sendirilah yang dianggap benar sedangkan agama lain ddi anggaap sesat. Agama lain

21
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

harus dikalahkan dan agama sendiri harus menjaadi pemenang. Egoisme keaagamaan ini telah
banyak menimbulkan masalah di tengah masyarakat yang ada. Oleh sebab itulah egoisme keagamaan
ini harus dihindari.[26]

Sikap yang harusnya kita lakukan ddalam kehidupan bermasyarakat majemuk ialah :

- Belajar Hidup dalam Perbedaan

Pengembangan sikap toleran, empati, dan simpati haruslah terus dibangun sebagai pra syarat
eksistensi keragaman agama yang ada. Menerima realitas keanekaragaman adalah untuk
menanamkan sikap toleran sejak dini dari perbedaan yang kecil hingga perbedaan yang besar tanpa
mengkompromikan apa yang tidak bisa dikompromikan.

- Membangun Saling Percaya

Membangun saling percaya adalah modal penting dalam membangun suatu masyarakat yang
heterogenitas. Jika tidak maka akan terjadi berbagai konlik dalam masyarakat. Agama haruslah
menjadi pondasi utama untuk membangun saling percaya terus menerus bagi masyarakat.mengapa
jalur agama menjadi pondasi yang amat penting? Hampir seluruh proses kehidupan baik batin
maupun perbuatan selalu diwarnai oleh keyakinan agama. Peraturan-peraturan yang mengatur
kehidupan agama-agama yang dikeluarkan oleh pemerintah haruslah mengarah untuk membangun
saling peercaya dan bukan untuk membangun saling curiga.

- Memelihara Saling Pengertian

Saling pengertian bukan berarti menyetujui perbedaan. Banyak orang tidak mau memahami atau
mengerti penganut keyakinan lain, sebab ia dapat dituduh sebagai orang yang menyetujui keyakinan
lain tersebut atau bersifat kompromi terhadap perbedaan yang ada. Saling pengertian adalah
kesadaran bahwa nilai-nilai yang di anut oleh orang lain memang berbeda,tetapi mungkin dapat
saling melengkapi dengan nilai-nilai yang kita anut serta member kontribusi terhadap hubungan
yang harmonis.

- Sikap Saling Menghargai

Sikap saling menghargai adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat kesetaraan. Menghargai
sesama manusia adalah sifat dasar yang diajarkan semua agama. Menjaga kehormatan diri bukan
berarti harus mengorbankan atau mengalahkan harga diri orang lain. [27]

Bab 11. PENDEKATAN PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Pendekatan Teosentris

Pendekatan Teosentris terhadap agama-agama lain terutama memusatkan perhatian pada Allah
daripada Kristus. Biasanya para teolog yang memakai pendekatan ini menunjuk pada nats-nats
dalam Alkitab dimana perjanjian Allah dengan Abraham dan Nuh dipahami sebagai berlaku untuk
seluruh umat manusia dan dimana Allah memilih beberapa bangsa bukan hanya Israel. Perhatian
juga diarahkan pada pernyataan-pernyataan Yesus yang bersifat Teosentris itu. Biasanya Yesus
berbicara tentang Allah sebagai Bapa dan menempatkan dirinya sendiri lebih rendah dari pada
Allah, seperti ketika Dia mengatakan “Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yoh 14:28). Peran Yesus

22
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

sebagai orang yang menunjuk kepada Allah dan mewahyukan Allah disoroti dan perhatian di jauhkan
dari pernyataan-pernyataan Yesus yang menyamakan diri-Nya dengan Allah misalnya, “Aku dan
Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Penekanan lebih pada Yesus yang menunjuk pada Bapa dari pada
diri-Nya sendiri. Para pendukung pendekatan ini melihatnya bukan sebagai pengabaian keilahian
Yesus Kristus melainkan sebagai pengakuan kebesaran dan kebebasan Allah untuk menghindari
pemusatan yang terlalu eksklusiv pada Kristus sehingga tidak memungkinkan adanya suatu hubungan
yang positif dengan agama-agama yang lain.

Pendekatan Kristosentris

Pendekatan Kristosentris terhadap agama-agama lain berdasarkan Kristologi yang


menganggap Yesus Kristus adalah penjelmaan Allah yang unik. Pendekatan Kristosentris yang lama
di dunia barat Kristen sering menyamakan agama-agama lain dengan kegelapan rohani dan para
pengikutnya dengan kutukan. Akibatnya, para teolog yang menganut pendekatan Kristosentris
sezaman berusaha menghindari implikassi pandangan-pandangan lama yang tidak dapat diterima
tanpa harus ddiam-diam meninggalkannya.

Pendekatan Dialogis

Meskipun para teolog yang memakai pendekatan Teosentris atau Kristosentris telah berupaya
untuk menafsirkan kembali teologi Kristen sehingga secara sistematis memberi tempat kepada
agama-agama lain, ada kelompok pemikir Kristen lainnya yang menekankan pendekatan dialogis.
Dialog beranjak dari anggapan bahwa tiap-tiap agama mempunyai tuntutan mutlak yang tidak dapat
di nisbikan (John V. Taylor, 1980). Rumusan kembali tidak dapat menghilangkan perbeddaan.
Namun, dengan membiarkan pembahasan teologi kita dipengaruhi teologi agama lain, kita menjadi
makin jujur dan lebih memperdalam kehidupan rohani kita. Prasyarat untuk dialog bukannya
penyelarasan semua keyakinan melainkan pengakuan bahwa tiap-tiap orang beragama memiliki
keyakinan yang teguh dan mutlak. Selain itu, keyakinan-keyakinan ini berbeda.. untuk dapat
berdialog dengan baik dibutuhkan kematangan ego yang memadai untuk membiarkan kawan dialog
hidup berdampingan tanpa merasa bahwa mereka harus disesuaikan.[28]

Pendekatan Melalui Teori Percakapan di Meja Makan

Percakapan di meja makan (mealtable sharing) adalah sebuah metafora yang digunakan oleh Hope
S. Antone dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Kristiani Kontekstual” untuk menjelaskan
bahwa sesuai dengan pengalaman pribadinya ketika makan bersama di meja makan dengan anggota
keluarga besar yang berasal dari komunitas iman yang berbeda. Saudara tertuanya menikah dengan
seorang Buddhis dari Thailan; tiga saudara sepupunya menikah dengan Muslim dari Filipina selatan;
dan tiga saudara saya menikah dengan orang-orang Kristen yang berasal dari denominasi Kristen
yang berbeda di Filipina dan Malaysia. Pengalaman itu memberi masukan baginya bahwa mereka
yang datang dari berbagai komutas budaya dan agama masih dapat bergaul dengan indah dan
bermakna di sekitar meja makan dan di dalam kehidupan yang dibagi bersama. Oleh karena itu, hal
itu mengilustrasikan bahwa suatu keluarga bisa menyediakan ruang dalam percakapan di meja
makan untuk berbagi kehidupan, dimana agama-agama yang berbeda dapat bertemu secara aman,
bermakna dan penuh kasih. Dengan demikian, hal ini memperlihatkan bahwa penggunaan
“percakapan dimeja makan” bukan hanya bersifat metaforis atau figiratif, tetapi juga bersifat
harafiah.[29]

23
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Bab 12. STRATEGI PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Konsep Strategi Pembelajaran PAK Dalam Masyarakat Majemuk

Ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan dalam merencanakan stategi
pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam konteks masyarakat majemuk. Antara lain:

1) Strategi Pembelajaran Bersifat Terbuka Terhadap Perubahan

Pendidikan Agama Kristen harus mampu bersifat terbuka kepada perubahan dan kebutuhan peserta
didik yang yang hidup berpadanan atau berdampingan dengan orang lain, sehingga dari bekal
pendidikan itu peserta didik mampu memahami dan menempatkan diri secara realistis, kritis, dan
kreatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Pendidikan Agama Kristen tidak boleh membawa
peserta didik menjadi introvert melainkan ekstrovert, artinya mampu menempatkan dirinya
sebagai orang percaya ditengah-tengah lingkungannya.[30]

a) Tujuan: Siswa mampu bersikap terbuka terhadap perubahan yang berdampingan dengan orang
lain.

b) Indikator pencapaian: Guru menjelaskan bagaimana bersikap terbuka terhadap perubahan


yang berdampingan dengan orang lain.

c) Isi/materi:

Pengertian strategi pembelajaran bersifat terbuka terhadap orang lain.

Sifat dan ciri-ciri pembelajaran bersifat terbuka terhadap perubahan

d) Metode:Ceramah,tanya jawab,dan eksplorasi.

2). Strategi Pembelajaran learning to life together (hidup dalam kebersamaan)

Strategi ini dibangun agar peserta didik dimampukan melewati proses belajarnya dalam hidup
bersama dengan orang lain yang memiliki latarbelakang hidup yang berbeda. Disamping itu, strategi
ini juga mengajarkan agar peserta didik membangun saling percaya. Jika tidak maka akan terjadi
konflik dalam masyarakat. Pendidikan Agama Kristen bertujuan untuk mendorong agar peserta
didik dapat menghayati gaya hidup Kristiani melalui keterlibatannya dalam berbagai kehidupan di
sekolah, di keluarga ataupun dilingkungannya.

Tujuan: siswa mampu mengerti konsep hidup dalam kebersamaan.

Indikator pencapaian: Guru menjelaskan konsep hidup dalam kebersamaan

Isi/materi:

Pengertian learning to life together

Prinsip-prinsip hidup dalam kebersamaan

Teori tentang hidup dalam kebersamaan

Metode: ceramah, dan diskusi kelompok,

24
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

3). Strategi Pembelajaran Melalui Penelaan Firman Tuhan

Pendidikan Agama Kristen hendaknya dapat membawa peserta didik untuk memahami Firman
Allah dan menjadikan Firman itu sebagai pedoman kehidupan terhadap Allah, sesama, maupun diri
sendiri.[31]Melalui penelaan firman Tuhan, siswa diajar agar memiliki kesadaran saling pengertian
yang menyetujui perbedaan.Saling pengertian adalah kesadaran bahwa nilai-nilai yang dianut oleh
orang lain memang berbeda, tetapi mungkin dapat saling melengkapi dengan nilai-nilai yang kita
anut serta memberi kontribusi terhadap hubungan yang harmonis.

Saling pengertian dapat melengkapi dan memungkinkan dibangunnya kerja sama yang baik. Saling
pengertian adalah rasa percaya bahwa penganut agama lain tidak akan melakukan usaha-usaha yang
tidak baik, untuk mempengaruhi, mengajak atau memberi dorongan agar ia berpindah pada apa yang
kita yakini. Pendidikan agama mempunyai tanggung jawab membangun landasan etis kepedulian
terhadap sesama dan menghindari kesalahpahaman.

a) Tujuan: siswa mampu mengerti dan melakukan firman Tuhan dalam masyarakat majemuk

b) Indikator pencapaian: Guru menjelaskan konsep firman Tuhan yang berguna bagi masyarakat
majemuk

c) Materi/isi:

Konsep firman Tuhan sebagai tindakan mengarhai dan menghormati perbedaan keyakinan dengan
orang lain

Firman Tuhan sebagai pembebasan untuk saling mendorong dengan orang lain

d) Metode: Ceramah, Diskusi, dan Tanya jawab,

4). Strategi Pembelajaran ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi yang digunakan dengan menganggap guru
berfungsi sebagai penyampai informasi. Dalam strategi ini bahan pelajaran dicari dan ditemukan
sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehingga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator
dan pembimbing bagi siswanya. Karena sifatnya yang demikian, strategi ini sering dinamakan
strategi tidak langsung.

Guru sebagai fasilitator yaitu membimbing siswa agar dapat mengembangkan sifat simpati dan
empati yang terus dibangun sebagai prasyarat eksistensi keragaman agama yang ada. Strategi ini
juga mempersiapkan siswa memiliki kesiapan dan kemampuan batin untuk merasakan bersama
dengan orang lain yang berbeda secara hakiki, meskipun dalam cara hidup dan keyakinan terdapat
konflik tentang apa yang baik dan buruk. Disamping itu siswa bisa memiliki kesadaran adanya
perbedaan, menuntut keterbukaan dan menerima perbedaan itu sebagai realitas hidup.Perbedaan
itu tidak diciptakan sendiri, melainkan harus telah dipersiapkan sejak dini. [32]

a) Tujuan: Peserta didik dapat bekerja sama dengan orang lain memecakan masalah dalam
masyarakat tertentu.

b) Indikator Pencapaian: menjelaskan bagaimana bekerja sama yang baik untuk memecakan
masalah di dalam masyarakat tertentu

c) Materi/isi:

25
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Pengertian ekspositori

Konsep dan prinsip-prinsip kerja sama dalam memecakan masalah

d) Metode: ceramah, Studi kasus, diskusi, Tanya jawab

5). Strategi pembelajaran kelompok

Bentuk strategi pembelajaran kelompok ini siswa diajar oleh seorang guru atau beberapa
guru.Dalam Bentuk belajar kelompok ini bisa juga siswa belajar dalam kelompok-kelompok besar
dan kelompok belajar yang klasikal; atau siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi ini
membentuk pola, tatanan dan nilai-nilai kebersamaan untuk saling membutuhkan sehingga terjadi
kerja sama yang baik antara pribadi siswa dan siswa yang lain.Berbeda dengan strategi
pembelajaran individual sebab strategi belajar yang demikian siswa cenderung belajar mandiri,
kecepatan, kelambatan dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan
individu.[33]

a) Tujuan:

Peserta didik dapat belajar dan bekerjasama dalam kelompok

b) Indikator pencapaian:

Guru menjelaskan bagaimana belajar bekerja sama dalam kelompok guna mengatasi masalah-
masalah yang terjadi dalam masyarakat majemuk.

c) Materi/isi:

Teori organisasi kelompok

Konsep kerukunan

d) Metode: ceramah, dan diskusi kelompok

bab 13. PENGEMBANGAN MODEL PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Model PAK Multikultural

Pendidikan multikultural merupakan upaya kolektif suatu masyarakat majemuk untuk


mengelola berbagai prasangka sosial yang ada dengan cara-cara yang baik. Tujuannya menciptakan
hubungan lebih serasi dan kreatif di antara berbagai golongan penduduk dalam masyarakat. Melalui
pendidikan multikultural, peserta didik yang datang dari berbagai golongan penduduk dibimbing
untuk saling mengenal cara hidup mereka, adat istiadat, kebiasaan, memahami aspirasi-aspirasi
mereka serta untuk mengakui dan menghormati bahwa tiap golongan memiliki hak untuk menyatakan
diri menurut cara masing-masing.

Pendidikan yang multikultural membantu peserta didik menerima dan menghargai orang
dari suku dan budaya berbeda. Agar pendidikan lebih multikultral maka kurikulum, model
pembelajaran suasana sekolah kegiatan ekstrakulikuler dan peran guru harus dibuat multikultural.
Pendidikan multikultural hendaknya jangan hanya diajarkan dalam bentuk teori tetapi dilakoni

26
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

dalam kehidupan nyata. Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati,
tulus dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural.

Model PAK Inklusif

Pendidikan yang inklusif merupakan pendidikan yang mengajarkan kepada siswa bahwa
mereka harus saling menghargai satu sama lain dalam perbedaan yang ada baik dari segi suku, ras,
bahasa dan lain sebagainya. Paandangan inklusif adalah pandangan yang terbuka untuk menerima
keberadaan, kebenaran agama lain memiliki kebenaran seperti yang dimiliki oleh agamanya. [34]

PAK Dalam Masyarakat Majemuk Pedoman Bagi Guru Agama Kriten Dalam Mengajar

BAB 13 PERGUMULAN PAK DI INDONESIA

Pendidikan Agama Kristen (PAK) merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan gereja dan
umat-Nya. Sejak gereja yang paling tua hingga gereja di abad modern ini, terus menggumuli
peranan PAK dalam kehidupan Kristen. Pertama-tama bahwa PAK adalah tugas utama gereja,
lingkungan keluarga, masyarakat hingga lingkungan pendidikan.

Dalam kebijakan pendidikan di Indonesia, pendidikan agama mendapat tempat penting di sekolah-
sekolah, mulai dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Pendidikan agama merupakan
pelajaran wajib yang harus diberikan di setiap jenjang pendidikan. Oleh karena itu, Pendidikan
Agama Kristen di sekolah menjadi kesempatan dan peluang yang sangat berharga dan tidak boleh
diabaikan.

Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pendidikan agama merupakan “shema”
dari kehidupan orang-orang percaya. Oleh karena itu, PAK menjadi sarana penting dalam
pembentukan spiritualitas peserta didik, agar mampu menghadirkan dirinya serta berperan aktif
di dunia sekitarnya yang majemuk.

A. PAK Dalam Konteks Gereja

Sesungguhnya gereja adalah tempat pertama bagi penyelenggara PAK dalam rangka pembangunan
iman warga jemaat.

1. Tugas Utama Gereja,

Gereja yang menekankan pengajaran mengalami pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan
dengan gereja yang mengutamakan ibadah dan khotbah. Seluruh pelayanan gereja haruslah
berbasis pengajaran firman Allah.

2. Merupakan Usaha Sungguh-sungguh

Hal-hal penting yang harus di dukung oleh gereja ialah dana, sarana, dan prasarana
mempersiapkan sumber daya manusia, menyusun kurikulum dalam berbagai kategori sesuai
kebutuhan-kebutuhan rohani warga jemaat.

3. Usaha yang Berkesinambungan

27
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Dibutuhkan sebuah tim yang solid serta memiliki komitmen untuk merencanakan serta
melaksanakan PAK di gereja. Adalah merupakan hal yang baik, jika di dalam gereja terdapat
komisi pengajaran warga jemaat untuk bersama-sama dengan komisi pelayanan dalam
pembangunan rohani warga jemaat.

4. Ruang Lingkup PAK Dalam Gereja

Dalam tradisi gereja yang ada, pada umumnya pelayanan di dalam gereja dibagi kedalam komisi
seperti: Komisi Sekolah Minggu, Komisi Remaja, Komisi Pemuda, Komisi Wanita, dan Komisi Pria.
Pada setiap komisi ini perlu dirancang kurikulum sebagai bahan pengajaran dan dilaksanakan
secara terus-menerus.

B. PAK Dalam Konteks Sekolah

Dalam undang-undang pendidikan nasional yang ditetapkan oleh pemerintah, pendidikan agama
mendapat tempat penting dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga
perguruan tinggi.

1. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen

Kurikulum Pendidikan Agama Kristen sudah beberapa kali mengalami perubahan sesuai dengan
kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah. Mulai dari kurikulum tahun 1946-2004.
Saat ini muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang direvisi menjadi kurikulum 2006
adalah rekonstruksi yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini.

2. Mutu dan Kualitas Guru PAK

Perlu dilakukan usaha pembinaan bagi guru agama honorer agar mereka dapat meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya sebagai guru Kristen.

3. Sarana dan Prasarana Penyelenggaraan PAK di Sekolah

Sering ditemui bahwa sekolah tidak menyediakan sarana yang memadai untuk penyelenggaraan
PAK. Guru PAK perlu didukung dan disupport baik oleh gereja, orang tua, dan terutama
pemerintah.

4. Suatu Kontradiksi

Ada sekolah-sekolah tertentu yang mau menerima guru agama atau pembina agama, tetapi sistem
pelaksanaannya adalah bahwa seluruh siswa dari semua jenjang kelas digabung menjadi satu kelas
dalam sekali pertemuan saja. Dari segi kurikulum ini kacau balau.

5. Perlu Keterlibatan Semua Pihak

Pemerintah hendaknya menerbitkan peraturan yang dapat melindungi semua peserta didik untuk
mendapatkan pendidikan agama yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, keterlibatan gereja
sangatlah dibutuhkan. Dukungan gereja dapat berupa penyediaan tenaga guru dan bantuan honor.

C. PAK Dalam Konteks Masyarakat Indonesia

28
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Peranan agama-agama amat penting sebagai pemersatu bangsa. Pendidikan agama di sekolah
menjadi sentral dalam pembentukan spititualitas, karakter, dan warga negara agar dapat hidup
rukun, bersatu dan saling bekerja sama untuk tercapainya keadilan, kemakmuran, dan
kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

1. PAK Dan Heterogenitas

Ada empat prinsip utama dari Pendidikan Agama Kristen yaitu:

a. Learning to Know, PAK haruslah diarahkan kepada peningkatan pengetahuan akan Allah dan
segala firman-Nya, sesama serta diri sendiri maupun lingkungannya.

b.Learning to Do, PAK haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki keterampilan dalam
mempraktekkan imannya di tengah-tengah kemajemukan masyarakat.

c. Learning to Be, PAK haruslah diarahkan agar peserta didik mampu menyatakam keberadaan
dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

d. Learning to Live Together, Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar


peserta didik menyadari betul bahwa hidup itu tidak mungkin sendirian. Inti iman Kristen yang
sesungguhnya ialah bahwa ia dapat hidup dan menjadi berkat bagi sesamanya.

2. Kemandirian Iman

PAK haruslah menjadi salah satu usaha pembentukan kemandirian iman. Bahwa peserta didik
mampu memiliki ketetapan iman maupun ketetapan hati meskipun di lingkungan yang amat
berbeda.

3. Keterbukaan

Pendidikan Agama Kristen haruslah membawa peserta didik pada keterbukaan. Keterbukaan akan
membawa diri dari menjelek-jelekkan agama lain tetapi melihat secara positif bahwa dalam
agama lain pun terdapat ajaran-ajaran baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan bersama.

D. PAK Dalam Konteks Keluarga

1. Dasar Teologis

a. Perjanjian Lama, Dalam PL ditegaskan bahwa tanggung jawab orang tua adalah mendidik
anaknya dengan tekun (Ul. 6:6-7), mendidik untuk dapat mengenal perintah Allah (Mzm. 78:5-6),
mendidiknya di jalan yang benar (Ams. 22:6), dan menjawab pertanyaan seorang anak dengan
tepat (Kel. 12:26-27; 13:8).

b.Perjanjian Baru, Yesus sedikit pun tidak memandang rendah seorang anak. Banyak ayat
membuktikan bahwa Yesus sangat mengasihi anak-anak, misalnya: Mrk. 9:36, 37; 10:13-16; Mat.
11:16-17; 18:3-10; 19:13-15, 21; 15:16; Luk. 18:15-17. Dalam tradisi PB, pendidikan anak,
merupakan tanggung jawab orang tua.

2. Pembentukan Dasar Konsep Nilai

29
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Masa awal kehidupan anak adalah masa yang sangat penting; oleh sebab itu, harus ditetapkan
suatu dasar yang kuat dan baik. Kehidupan pada usia lima tahun dalam masa prasekolah adalah
sebagai berikut.

a. Masa Penentuan Dasar, Pembentukan dasar bagi seorang anak telah dimulai sejak dini.
Pembentukan tersebut terpupuk lewat lingkungan yang paling mempengaruhi hidupnya setiap hari
yaitu lingkungan keluarga.

b.Masa Perkembangan Karakter, Dasar karaker dan sifat seseorang terbentuk pada usia lima
tahun pertama. Karakter seorang anak banyak terbentuk lewat pendidikan orang tua.

c. Masa Belajar, Masa kanak-kanak adalah masa belajar yang berharga. Dalam tahun-tahun itu
mereka banyak belajar tentang banyak hal di sekitarnya.

3. Peranan Orang Tua Dalam PAK

a. Tanggung jawab Pendidikan Agama Kristen pertama-tama dan terutama terletak pada orang
tua, yaitu ayah dan ibu (Am. 1:8).

b.Orang tua yang baik mendidik anaknya dengan teguran dan hajaran dalam kasih (Ams. 6:23).

c. Pendidikan Agama Kristen harus dilakukan secara terus-menerus melalui kata-kata, sikap dan
perbuatan (Ul. 6:7).

4. Tujuan Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga

Tujuan utama Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga adalah untuk mengajar anak-anak takut
akan Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi Dia, dan melayani Dia dengan segenap hati dan
jiwa mereka (Ul. 10:12).

Tanggapan:

Saya sangat senang dengan pembahasan pada Bab ini, karena bab ini menjelaskan secara detail
peranan PAK, baik dalam konteks Gereja, Sekolah, Masyarakat bahkan Keluarga. Hal ini
membuktikan bahwa PAK sangatlah relevan dalam segala aspek. Secara khusus dalam keluarga,
karena dalam keluargalah pembentukan karakter anak dimulai, dengan arti keluarga sangat
berperan besar dalam pembentukan karakter anak.

BAB 14

HETEROGENITAS BANGSA INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA

A. Pluralisme Tantangan Bagi Semua Agama

Ada beberapa sikap masyarakat dalam kaitannya dengan kerukunan antar umat beragama. Sikap
ini dipengaruhi oleh pola pikir, pengalaman keagamaan dalam kemampuan memahami sesama
manusia.

1. Eksklusivisme, eksklusivisme merupakan sikap yang hanya mengakui agamanya sebagai agama
yang paling benar dan baik.

30
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

2. Inklusivisme, inklusivisme adalah sikap yang dapat memahami dan menghargai agama lain
dengan eksistensinya, tetapi tetap memandang agamanya sebagai satu-satunya jalan menuju
keselamatan.

3. Pluralisme, pluralisme adalah sikap dapat menerima, menghargai dan memandang agama lain
sebagai agama yang baik serta memiliki jalan keselamatan.

4. Pluralisme Menurut Alkitab, Yesus adalah tokoh pluralisme sejati. Ia memerintahkan


pengikut-Nya untuk mengasihi sesama tanpa kecuali dengan tidak memandang SARA. Melalui
perumpamaan “Orang Samaria yang Murah Hati”, jelas bahwa sikap Yesus tidak memandang
perbedaan SARA sebagai kendala menyampaikan cinta kasih dan damai sejahtera.

B. Sumber-sumber Konflik Bernuansa Agama di Indonesia

1. Meningkatnya Fundamentalisme dan interpretasi teks agama yang tunggal.

2. Kurangnya penegakan hukum tanpa pandang bulu.

3. Kurang berkembangnya wadah komunikasi/kerukunan antar agama.

4. Berkurangnya public space (ruang public) serta kehausan akan kekuasaan.

5. Tidak adanya pemisahan antara agama dan Negara

6. Tidak adanya kebebasan beragama, kalau ada sifatnya semu.

7. Kekerasan dan penghakiman atas nama agama.

8. Pembentukan hukum yang cenderung sectarian.

9. Permusuhan ekonomi dan agama yang saling terkait.

10. Pemimpin dan masyarakat agama cenderung menekankan pentingnya dogma daripada akhlak.

C. Agama-agama di Indonesia

Pluralisme adalah suatu realita dalam konteks Indonesia. Di satu sisi hal ini merupakan potensi,
tetapi dipihak lain sangat rentan. Untuk hal itulah harus terus dikembangkan pola pikir dan cara
hidup yang memungkinkan keanekaragaman tersebut bisa hidup dan bertumbuh masing-masing.
Prinsip-prinsip ini haruslah terus dikembangkan lewat jalur pendidikan, termasuk lewat PAK di
sekolah (formal dan non formal).

1. Pluralisme Masyarakat Indonesia, dari sudut agama, Indonesia memiliki seluruh agama besar
di dunia. Namun meskipun beragam, Indonesia adalah satu dan memegang teguh falsafah
“Bhinneka Tunggal Ika”.

2. Kemajemukan Aliran Keagamaan, kita mengenal Trilogi Kerukunan Umat Beragama yaitu
Kerukunan Intern Umat Beragama, Kerukunan Antarumat Beragama dan Kerukunan Umat
Beragama dengan Pemerintah.

31
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

3. Sensitivisme Keagamaan, dalam pengalaman bangsa Indonesia, dari semua bidang kehidupan
masyarakat, masalah agama adalah masalah yang paling sensitif dan paling mudah menimbulkan
konflik. Dalam Konteks inilah Pendidikan Agama Kristen harus mampu membentuk pribadi yang
mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama melampaui batas-batas agama, ras, dan golongan serta
dapat mengaplikasikan imannya di tengah-tengah masyarakat yang heterogenitas.

4. Egoisme Keagamaan, egoisme keagamaan telah banyak menimbulkan masalah di tengah


masyarakat kita, baik di lingkungan intern terlebih dalam hubungan dengan antar agama.

5. Pergaulan Lintas Agama, pergaulan lintas agama haruslah dapat dibangun secara positif
sebagai pergaulan sesama manusia.

D. Agama Kristen di Indonesia

1. Keanekaragaman Gereja di Indonesia, menurut data Departemen Agama Republik Indonesia


tahun 2005, bahwa saat ini ada kurang lebih 323 sinode gereja di Indonesia, kurang lebih 9 aliran
kekristenan. Melalui Pendidikan Agama Kristen harus terus dikembangkan kesatuan iman umat
Tuhan untuk bersama menghadirkan syalom Allah di tengah masyarakat majemuk.

2. Keesaan Gereja di Indonesia, cita-cita keesaan gereja di Indonesia sudah dimulai sejak
lama yaitu dengan didirikannya Dewan Gereja Indonesia (DGI) pada tahun 1950 dan sekarang
menjadi Persekutuan-Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI). Namun usaha untuk keesaan itu
belum terwujud sepenuhnya. Ternyata di kemudian hari gereja terus bertambah banyak baik
organisasi maupun aliran-alirannya. Melihat keadaan yang demikian, maka peranan PAK sangat
penting untuk turut mendukung terwujujudnya keesaan gereja tersebut dalam sikap dan perilaku
umat Kristen secara pribadi.

3. Kesatuan Dalam Kepelbegaian, prinsip utama yang harus dikembangkan dalam PAK ialah
pemahaman dalam satu iman, satu kasih dan satu pengharapan di dalam Yesus Kristus.

E. Refleksi Iman Kristen Dalam Pergaulan Lintas Agama

Menjadi saksi bagi masyarakat, bersikap bijaksana, memahami perbedaan, menciptakan


kerukunan (kerukunan intern, kerukunan antar umat beragama, kerukunan dengan pemerintah)
maupun dialog antar umat beragama.

BAB 15

KONTEKS PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

A. Pentingnya PAK Dalam Masyarakat Majemuk

Dalam konteks masyarakat yang majemuk, naradidik harus dibangun untuk memiliki identitas dan
komitmen yang jelas tentang imannya dan sekaligus membangun relasi dengan orang yang
berkepercayaan lain dan berinteraksi secara positif tanpa saling mengorbankan.

32
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

B. PAK Dalam Konteks Kekristenan

Beberapa hal penting yang perlu dikembangkan dalam pelaksanaan PAK, adalah:

1. PAK Bukan Untuk Nengajarkan Suatu Doktrin Gereja

Keberadaan siswa di sekolah berasal dari berbagai organisasi dan aliran gereja. Hal tersebut
adalah kenyataan yang harus diterima dan diakui oleh setiap guru PAK. Oleh karena itu, tidak
boleh ada tendensi yang dilakukan oleh guru PAK mengajarkan doktrin gerejanya kepada peserta
didik. Isi pengajaran haruslah bertujuan mengajarkan iman Kristen yang dinyatakan di dalam
Alkitab.

2. Sekolah Bukan Pos Pelayanan Gereja

Guru PAK harus sadar betul bahwa ia ditempatkan bukan atas nama gereja dan bukan untuk
membawa peserta didik menjadi anggota gerejanya. Guru PAK harus menghargai keanekaragaman
gereja dari naradidik serta mendorong naradidik menjadi warga jemaat yang baik di mana ia
menjadi anggota jemaat.

3. Tidak Melakukan Fungsi Gereja

Seorang guru yang mengajar di sekolah tidak berwenang untuk melakukan Perjamuan Kudus dan
Babtisan Kudus dalam kapasitasnya sebagai guru.

4. Menghargai Keanekaragaman Gereja

Guru PAK di sekolah harus nenghargai dan menjujung tinggi keanekaragaman gereja dari setiap
peserta didik. Adalah merupakan tugas guru PAK memberi contoh kepada peserta didik bahwa ia
sendiri memberi penghargaan yang tinggi atas keanekaragaman gereja yang ada.

C. PAK Dalam Konrteks Agama-agama

1. PAK Dan Keterbukaan

Prinsip pengajaran kristen adalah bahwa setiap orang beriman harus fanatik akan imannya tapi
tidak boleh fanatisme, karena fanatisme adalah sikap buruk terhadap keagamaan.

2. Penginjilan

Penginjilan merupakan perintah Kristus kepada semua orang percaya, Tuhan Yesus berkata: “Aku
akan mendidirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18).

D. Kekuatan dan kelemahan heterogenitas agama-agama

1. Kekuatan

Menjadi potensi yang luar biasa agar kesatuan persatuan dapat diwujudkan, saling melengkapi
antara satu dengan yang lain, adanya persamaan hak dan kewajiban, serta terjadi perkembangan
pola kerukunan.

2. Kelemahan

33
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Muncul Sensitivisme (memunculkan masalah yang sangat sensitif), Egoisme (paham yang
mementingkan diri sendiri), serta Netralitas Pemerintah (dalam hal ini pemerintah tidak boleh
diskriminasi).

Tantangan perubahan nilai yang kita hadapi saat ini demikian beragam dan amat kuat pengaruhnya
dalam hidup kita, seperti:

a. Dunia Komunikasi, tidak ada lagi tempat yang tersembunyi saat ini, semua dapat dijangkau
lewat komunikasi. Anak yang mengurung diri di kamar dan tidak mau bergaul dengan temannya,
malah memiliki teman yang lebih banyak lewat internet.

b. Nilai-Nilai Moral dan Etika, pergaulan bebas sudah menjadi sesuatu yang sangat
memprihatinkan dalam kehidupan remaja kita saat ini, dimana nilai-nilai kesucian dan kekudusan
bukan lagi merupakan hal yang prinsip.

c. Sadisme dan Kekerasan, tindak kekerasan kita saksikan tiap hari di media.

A. Isi Pengajaran Kristen

1. Pengajaran iman Kristen, pengajaran iman Kristen adalah untuk membantu peserta didik
dalam perjumpaannya dengan tradisi kristiani dan wahyu Allah guna memahami, memikirkan,
meyakini dan mengambil keputusan berdasarkan isi pengajarannya.

2. Pengembangan Spiritual, Pembebasan, Relevansi, Kecintaan kepada Firman Allah, Membarui


Sikap dan Perilaku, Penemuan Jati Diri, Pentransferan Pengetahuan dan Nilai-nilai Kristiani, serta
Prinsip Intergrasi.

B. Ciri Pendidikan Agama Kristen

Bersifat Partisipasi, Terbuka terhadap Perubahan, Berkelanjutan, Terarah dan Terencana,


Berorientasi kepada Manusia.

C. Tujuan Pendidikan Agama Kristen,

Pertobatan, Pertumbuhan Rohani, Pemuridan, Pembentukan Spiritual.

BAB 16

ARAH PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Diharapkan dengan pengajaran PAK dalam konteks masyarakat majemuk, peserta didik mampu
hadir dan mempraktekkan imannya ditengah-tengah lingkungannya tanpa mengkompromikan
dogma iman yang dimilikinya. Dengan cara belajar hidup dalam perbedaan, membangun saling
percaya, memelihara saling pengertian, sikap saling menghargai serta perjumpaan litas agama.
Ditinjau dari sudut iman Kristen, sudah saatnya Gereja dan umat tidak hanya mengutamakan
kuantitas sebagai keberhasilan, melainkan menekankan kepada pembentukan kualitas umat tanpa
melupakan misi utama.

34
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

ORIENTASI PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Saat ini agama-agama di Indonesia sudah waktunya keluar dari perdebatan-perdebatan dogmatis
dan usaha-usaha persaingan misi memenangkan agama lain. Karena hal tersebut akan menciptakan
krisis nilai-nilai social. Beberapa diantara krisis tersebut:

1. Hak Asasi Manusia, piagam PBB menetapkan tentang ruang lingkup HAM, antara lain : hak
untuk hidup, hak berkeyakinan/kepercayaan, hak berkeluarga/ melanjutkan keturunan, hak
mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan pribadi, hak atas rasa aman,
hak atas kesejahteraan, hak dalam turut serta dalam pemerintahan, hak wanita, hak anak, hak
perlindungan hukum, hak berkarya, hak berkumpul dan berserikat, hak berkarya.

2. Demokratisasi

3. Supermasi Hukum, dalam penegakan humum, seluruh masyarakat haruslah merasakan


bahwa: semua warga mendapat perlindungan hukum yang sama, tidak boleh terdapat diskriminasi
dalam perlakuan hukum, semua warga harus mendapat perlindungan hukum yang sama, tidak ada
yang kebal terhadap hukum, hukum harus dihormati dan dijunjung tinggi.

4. SARA, masalah SARA dapat menimbulkan kerugian besar bagi negara dan masyarakat, sulit
diselesaikan dan dapat menimbulkan rasa dendam yang berkelanjutan.

5. KKN, upaya yang dapat dilakukan adalah pembinaan watak dan karakter melalui pendidikan
sejak dini, terutama lewat pendidikan agama.

6. Lingkungan Hidup, pelestarian lingkungan hidup bukan hanya tanggung jawab pemerintah,
melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia.

7. Otonomi Daerah

TRANSFORMASI PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

A. Peran Gereja

1. Tugas utama gereja adalah pendidikan.

2. Pendidikan merupakan usaha sungguh-sungguh.

3. Pendidikan merupakan usaha terus-menerus.

4. Gereja membentuk team pelaksana pendidikan warga jemaat.

5. Gereja sebagai lembaga pembentukan mutu dan kualitas spritualitas.

6. Menampakkan cinta bangsa dan tanah air.

7. Indonesia adalah lading pertama yang Tuhan percayakan kepada gereja.

8. Melaksanakan pendidikan yang relevan dan kontekstual.

9. Keseimbangan vertical dan horizontal.

35
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

10. Pemberitaan kabar keselmatan yang holistik.

B. Peran Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah

1. PAK adalah wadah sentral bagi pembentukan watak dan spiritual.

2. PAK di sekolah haruslah memiliki kurikulum yang terintgrasi.

3. PAK dan pemgembangan kurikulum kontekstual.

4. PAK berkaitan dengan masyarakat majemuk.

5. PAK dan keterbukaan, serta PAK dan pergaulan lintas agama.

6. PAK dan masalah-masalah sosial.

7. PAK dan masalah-masalah kebangsaan.

8. PAK dan masalah lingkungan hidup.

C. Peran Umat Kristen

1. Menyatakan fungsinya sebagai garam, terang dan teladan.

2. Mendemonstrasikan kasih Allah.

3. Memberikan yang terbaik dalam berbagai aspek kehidupan.

4. Hidup dalam kekudusan dan kesalehan sosial.

5. Memiliki cinta bangsa dan tanah air.

D. Integrasi Kurikulum

1. Kurikulum PAK di gereja maupun di sekolah harus terus dikaji ulang agar relevan dengan
kebutuhan.

2. Kurikulum PAK harus diintegrasikan dengan berbagai bidang kehidupan.

BAB 17 PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MASYARAKAT


MAJEMUK: TANTANGAN & HARAPAN

Pengantar
Dalam sejarah perkembangan PAK, perubahan sering terjadi di dalam berbagai bentuk
pelaksanaannya. Misalnya pada abad-abad pertengahan PAK didesain untuk bisa diajarkan kepada
orang yang baru saja menjadi Kristen dengan jumlah yang banyak. Maka metode untuk
melaksanakan PAK ialah dengan menggunakan gambar-gambar, patung-patung yang digunakan
sebagai saran PAK. Segi arsitektur bangunan gereja sangat penting sebagai sarana PAK. Lewat
arsitektur bangunan gereja inilah simbol dan ikon dalam kekristenan digunakan. Sherril menulis

36
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

bagaimana sejarah seni bangunan gereja dapat melambangkan cerita perkembangan gereja itu
sendiri.[1]
Demikian juga desain PAK dituntut perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yag ada.
Abad reformasi hingga abad 21 memiliki konteksnya masing-masing. Inilah gambaran singkat, yang
mungkin memberikan suatu kesadaran bagi kita saat ini dan di sini untuk melihat konteksnya
masing-masing agar PAK mendapat tempat semestinya. PAK bukan sebagai produk import, tetapi
PAK manjadi milik orang Asia dan secara khusus Indonesia.
Berikutnya akan kita lihat apa dan bagaimana konteks kita di sini sehingga PAK bisa
diberikan dengan baik. Tentunya kontent (isinya) tidak begitu banyak perubahan, hanya konteksnya
yang akan dilihat lebih jauh.

Gambaran Sekilas Konteks PAK Dalam Beberapa Periode


Abad2 pertama: PAK diberikan secara “ketat” dari gereja kepada umat sebelum menjadi
anggota sidi gereja, karena umat harus dilengkapi dengan ajaran yang benar agar tidak disesatkan.
Dalam abad ke dua misalnya, pendidikan gereja terhadap calon-calon untuk baptisan orang dewasa
telah diatur dengan seksama. Gereja menuntun supaya mereka belajar selam tiga tahun, baru
mereka diuji dan diterima pada Baptisan dan Perjamuan Suci[2]
Abad pertengahan: praktik PAK semakin merosot karena dominasi gereja yang lebih
mementingkan “kristenisasi” ketimbang aspek pengajaran PAK itu sendiri. Pada masa ini gereja
banyak mendidik melalui Sakramen Baptisan, Sakramen Misa, drama agamawi, seni lukis/patung dan
juga melalui seni bangunan gereja[3]
Abad reformasi: praktik PAK sangat diperhatikan oleh para reformator gereja. Sola
Scriptura menjadi semboyan semangat untuk mengajarkan PAK secara baik dan benar, dan bukan
dilakukan sebagai tradisi gereja. Masa ini diwakili oleh Luther dan Calvin. Luther menghasilkan
karya yang berkaitan PAK yakni Katekismus. Luther mengaitkan pendidikan dengan teologi atau
dengan kata lain teologinya merupakan dasar teori pendidikannya. Sedangkan Calvin menghasilkan
karyanya Institutio.
Abad 17-18: revolusi industri membuat PAK bergumul di dalam
situasi ketidakadilan terhadap perlakuan manusia sebagai “mesin” pekerja, namun diupah tak
sebanding (ex: Robert Raikers; pendiri Sekolah Minggu).
Abad 19: gerakan evangelikal dan revival berkembang. PAK pada masa ini dititikberatkan
pada pertobatan manusia sebagai mausia berdosa. Inilah tema-tema yang terdapat dalam ibadah-
ibadah KKR pada waktu itu. Lagu-lagunya pun dipilih berkisar tentang tema tersebut,
misalnya Amazing Grace (KJ 40), dan Just As I Am (KJ 27).
Abad 20: gerakan ekumenis, PAK dititkberatkan pada hubungan oikumene, ketimbang sikap
ekslusif masing-masing kelompok (ex: hubungan Kristen dan Katolik).
Dari gambaran di atas paling tidak menunjukan dimana sekarang kita berada. Posisi kita
sekarang berada di abad 21, yang mana masih kental dengan konteks hubungan oikumene dari abad

37
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

ke 20. Secara khusus konteks Asia akan dibahas dalam tulisan ini, karena penggambaran konteks
di atas semuanya lahir dari konteks Eropa dan Amerika.
PAK Dalam Masyarakat Majemuk
Ada banyak definisi mengenai Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang diberikan oleh para ahli
PAK, namun di sini dibatasi dengan beberapa pandangan para ahli saja. Misalnya Horace Bushnell
pengarang Christian Nurture, memberikan definisi sebagai berikut: “Pendidikan Agama Kristen
adalah pelayanan kegerejaan yang membimbing orangtua untuk memenuhi panggilannya sebagai
orangtua Kristen, dan sekaligus memperlengkapi warga jemaat untuk hidup sebagai anggota
persekutuan yang beribadah, bersaksi, mengajar, belajar dan melayani atas nama Yesus
Kristus”.[4] Tentu saja Bushnell memberikan definisi demikian karena ia adalah seorang yang
menekankan PAK dalam keluarga yang menuntut tanggung jawab orangtua di dalam mendidik anak.
Menurut Enklar & Homrighausen PAK berarti menerima pendidikan itu, segala pelajar, muda
dan tua, memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri, dan oleh dan dalam Dia
mereka terhisab pula pada persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan mempermuliakan nama-Nya
di segala waktu dan tempat.[5]
Menurut Calvin: PAK adalah pendidikan gereja yang mendewasakan umat Allah. Berkaitan
dengan hal ini, Calvin mengutip tulisan Paulus dalam Efesus 4:10.[6]
Dari definisi-definisi di atas kita dapat melihat perbedaannya masing-masing, karena setiap
ahli mempunyai perspektif tersendiri. Bushnell memberikan definisi berkaitan dengan tanggung
jawab orangtua dalam mendidik anak. Enklar & Homrighausen memberikan definisi yang berkaitan
dengan persekutuan. Sedangkan Calvin mengarahkannya lebih kepada pembinaan umat. Demikian
dari ketiga definisi di atas, dapat dilihat begitu dinamisnya PAK. Mulai dalam keluarga, gereja,
hingga masyarakat di segala waktu dan tempat.
Dalam tulisan ini, sedikit menantang kita untuk melihat PAK bukan dalam lingkup keluarga
atau gereja, melainkan melihat dalam lingkup yang lebih jauh, yakni lingkup masyrakat. Masyarakat
yang bagaimana? Masyrakat yang bukan homogen, melainkan heterogen. Bukan masyarakat Eropa
atau Amerika, melainkan masyarakat Asia. PAK ditantang untuk melihat masyarakat yang serba
majemuk dalam konteks Asia.

Konteks Asia
Antone Hope, dalam bukunya Pendidikan Kristiani Kontekstual, memberikan banyak
gambaran tentang PAK dalam konteks Asia. Untuk itu, pada pembahasan tentang konteks Asia,
akan banyak dikutip dari buku tersebut.
Bila ada suatu kata yang dapat melukiskan dengan tepat wilayah di Asia, kata itu adalah
pluralitas atau kemajemukan. Asia, benua dengan jumlah penduduk yang paling padat di dunia,
merupakan wilayah di dunia yang sangat beragam dari segi budaya, bahasa, suku bangsa, dan agama.
Kemajemukan budaya, bahasa, suku bangsa, dan agam seperti itu kadang terlihat sebagai sumber

38
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

kesejahteraan dan kebanggaan. Namun, hal ini juga dilihat sebagai alasan untuk banyak konflik dan
masalah. Memang, ada orang-orang Asia yang merasa bangga dengan karunia kemajemukan itu.
Namun, ada juga orang-orang yang mempersalahkan hal ini sebagai salah satu penyebab dari
masalah intoleran, kebencian, dan kekerasan yang terus terjadi di wilayahnya. Namun,
kemajemukan inilah yang menjadikan wilayah Asia seperti itu. Hal ini membuat Asia menjadi suatu
konteks yang bukan monolitik, tetapi mungkin, lebih tepat sekelompok konteks geografis.
Dari berbagai kemajemukan yang saling berpaut di Asia, kemajemukan agama dan budaya
menjadi realitas utama yang mencolok untuk dihadapi. Asia mempunyai populasi Muslim paling
banyak, dengan Indonesia yang mempunyai populasi Muslim terbesar di antara semua negara di
dunia. Asia juga mempunyai populasi terbesar dari penganut Budha, Taoisme, dan Hinduisme.
Kekristenan adalah agama minoritas di seluruh wilayah Asia, kecuali di Filipina di mana agama ini
menjadi agama yang paling banyak dianut.
Realitas lain dari konteks Asia adalah persoalan kemiskinan, perjuangan, dan penderitaan.
Sering dikatakan bahwa pada masa kini, kecuali kematian yang diakibatkan oleh bencana alam, yang
sekarang dan kemudian terjadi, lebih banyak orang mati karena konflik agama dan suku daripada
karena kelaparan atau penyakit. Bagaimanapun, akar konflik agama dan etnis ini seringkali sungguh-
sungguh disebabkan oleh karena ketidakadilan sosial-ekonomi dan politik.[7]
Tantangan & Harapan
Jika konteks Asia sudah kita lihat di atas, menjadi pertanyaannya apa dan bagaimana yang
harus dilakukan PAK di dalam konteks Asia yang demikian. Konteks ini merupakan
suatu tantangan tetapi juga sekaligus harapan.
Tantangan
Menurut KBBI[8], Tantangan berarti: (1) ajakan berkelahi, (berperang dsb); (2) hal atau objek
yang menggungah tekad untuk meningkatkan kemampuan untuk mengatasi masalah; rangsangan
(untuk bekerja lebih giat); (3) hal atau objek yang perlu ditanggulangi. Dari definisi tersebut,
barangkali definisi kedua yang lebih cocok untuk melihat pergumulan PAK dalam konteks Asia ini.
Kemajemukan merupakan suatu tantangan tersendiri bagi masyarakat Asia yang
multikultural ini. Berbeda dengan konteks Eropa dan Amerika yang sudah kita lihat di depan. Apa
yang ingin dilakukan PAK dalam masyarakat plural seperti ini, dan bagaimana melakukannya? Paling
tidak masalah yang dihadapi PAK dan juga teologi hampir sama di dalam melihat konteks Asia. Jika
di dalam teologi, banyak tokoh-tokoh teolog Asia seperti C.S Song, Ariarajah, Kung dsb yang telah
mencoba menggali kearifan lokal dari kebudayaan Asia untuk bisa dijadikan bahan berteologi dalam
konteks Asia. Maka PAK pun harus meramu bahannya sendiri untuk bisa dikonsumsi di masyarakat
Asia.
Telah berabad-abad kita mengadopsi pemikiran Barat dan diterapkan dalam masyarakat
Asia tanpa melihat konteksnya baik dalam teologi maupun PAK. Inilah tantangan dari PAK untuk
menjawab pergumulan masyarakat Asia sekarang. Dengan melihat konteks kemajemukan serta

39
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

konflik agama yang banyak terjadi di masyarakat Asia, barangkali perlu dicari suatu model desain
PAK yang lain agar bisa menjawab konteks Asia.
Banyak pemikir PAK Asia yang menawarkan pendidikan untuk kedamaian (eduacation for
peace). Salah satu tokoh di antaranya ialah Kim Yong Bock. Menurut Kim Yong Bock, Tujuan
pendidikan Asia adalah komunitas keadilan, perdamaian, kerja sama dan rekonsiliasi. Mengakui
sistem sekolah dan media massa tidak hanya korban tetapi juga promotor dari proses globalisasi,
kita harus mengadopsi lahan baru, pendidikan untuk keadilan, perdamaian dan kehidupan
(education for justice, peace and life) .

Tokoh lainnya yaitu Sugirtharajah[9] mengatakan : “pendekatan dialogis adalah suatu


pendekatan yang mengakui keabsahan pengalaman keagamaan yang berbeda dan beragam dari
semua orang dan menyingkirkan semua klaim eksklusif terhadap kebenaran satu tradisi agama.
Dalam pendekatan ini, setiap agama patut dikasihi dan dihargai. Semua agama mengandung unsur
pembebasan dan juga unsur penindasan, sementara tugas hermeneutika adalah mengumpulkan
aspek-aspek yang membebaskan untuk menciptakan harmoni dan perubahan sosial bagi semua
orang”.
Barangkali inilah suatu tantangan yang harus dihadapai. PAK bukan hanya mengajarkan
tentang doktrin/dogma semata, tetapi juga memiliki tujuan dalam pelaksanaannya dalam konteks
Asia ini. Education for peace perlu menjadi tujuan dalam pelaksanaan PAK di Asia yang majemuk,
karena dari kemajemukan tersebut sering terjadi juga banyak konflik.

Harapan
Menurut KBBI, Harapan adalah : (1) sesuatu yang (dapat) diharapkan; (2) keinginan supaya
menjadi kenyataan; (3) orang yang diharapkan atau dapat dipercaya. [10]
Dengan kata lain harapan adalah kemampuan untuk menarik masa depan ke masa kini,
sehingga dapat menembus keputusasaan dan jalan buntu. Jika demikian apa yang menjadi harapan
PAK dalam masyarakat Asia? Paling tidak kita menaruh harapan bersama yaitu kehidupan yang
penuh dengan keadilan dan kedamaian. Sebagaimana Yesus yang membawa harapan kepada mereka
yang tersisih berupa kedamaian. Kedamaian kepada perempuan Siro-Fenesia, kedamaian kepada
permpuan Samaria, kedamaian kepada Zakheus yang dimusuhi, kedamaian kepada perempuan yang
didapati berzinah. Yesus memberi teladan yang luar bias bagi mereka yang tersisih pada zaman Ia
hidup, dan dengan demikian mereka dapat mengenal Allah lewat perbuatan Yesus.
Semua yang dilakukan Yesus bukan berarti Yesus tidak mendapat tantang. Justru, karena
Ia melihat harapan yang besar agar orang dapat mengenal Allah maka segala tantangan mau
dihadapinya. Ia ditantang untuk merangkul kaum perempuaan pada waktu itu yang dianggap tidak
sederajat dengan laki-laki. Ia merangkul orang-orang non-Yahudi yang dianggap tidak mendapati

40
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

karya keselamatan Allah. Ia juga merangkul Zakheus yang dimusuhi oleh masyarakat sekitar karena
dianggap sebagai pemeras. Rangkulan Kristus membawa keadilan dan membuat kita merasa damai.

PAK dalam konteks Asia pun semestinya meneladani Kristus di dalam merangkul semua
lapisan masyarakat. PAK Asia semestinya tidak lagi alergi dengan agama lain atau budaya yang lain.
Justru tantangan itulah yang perlu dihadapi. Tantangan itu perlu dilihat sebagai sarana untuk
pendidikan cinta kasih yang membebaskan. PAK Asia hendaknya tidak hanya menekankan pada
doktrin atau dogma gereja saja, tetapi juga perlu untuk melihat sampai kepada mereka yang
membutuhkan. Tantangan yang dihadapi PAK dalam masyarakat majemuk ini perlu melihat ke deapn
akan harapan yang ada. Dengan demikian harapan tersebut bisa menjadi berkat bagi PAK itu
sendiri. Barangkali kita perlu melihat refleksi dari Lesslie Newbegin[11] yang melihat tantangan
sebagai suatu berkat jika dihadapi.
Dalam buku ini Lesslie Newbigin melihat bahwa kenyataan adanya sekian banyak agama,
dogma dan budaya merupakan tantangan dan sekaligus menjadi berkat bagi umat Kristen.
Tantangan yang dimaksudkannya pertama-tama terungkap dalam pertanyaan, mengapa ada begitu
banyak agama, dogma dan budaya? Mengapa ada begitu banyak orang yang bertemu dengan Allah
di luar Kristus dan kekristenan? Tantangan-tantangan tersebut menjadi lebih dalam dan
menyakitkan apabila pertanyaan-pertanyaan itu ditinjau di bawah terang hakekat dan tuntutan-
tuntutan pluralisme unitif.
Bagi Lesslie Newbigin, pluralisme agama justru merupakan kairos bagi kekristenan. Dengan
kairos ini kekristenan ditawari kesempatan bagi terjadinya pertumbuhan tulen dan evolusi, serta
untuk memahami sekali lagi amanat Injil, dalam satu cara dimana kekuatan Injil dapat lagi bersinar
dalam cara yang segar dan dalam bentuk yang lebih dapat dipahami. Menurut Lesslie Newbigin,
kehilangan kesempatan ini sama artinya dengan menempatkan sinar Injil di bawah gantang sehingga
membuat kabar baik itu menjadi lebih sulit dipercayai.
Lesslie Newbigin sangat menekankan tentang Injil dan tradisi Kristen. Sepanjang
sejarahnya, kekristenan senantiasa tergantung pada konteks sejarah yang selalu berubah. Lesslie
Newbigin juga membuktikan kebenaran pendapatnya ini dengan menunjuk sejarah gereja. Ketika
jemaat pertama berpindah dari konteks kebudayaannya yang pertama, yaitu dari Yudaisme ke dunia
Romawi-Yunani, mereka mengalami transformasi yang sangat jauh. Transformasi yang dimaksud
bukan saja dalam kehidupan liturgis dan sakramental geraja serta struktur organisasi dan
legislasinya, tetapi juga dalam doktrin yaitu dalam pemahamannya akan penyataan yang telah
melahirkannya.
Lesslie Newbigin yakin bahwa gereja Kristen dalam menghadapi dunia pluralisme agama dan
dialog antar agama, memungkinkannya mengalami suatu kairos dengan satu janji terjadinya
transformasi diri, tidak berada di luar garis sejarah.

41
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

Setiap zaman mempunyai tantangannya tersendiri. Kita perlu belajar dari kisah hidup
Yesus yang mampu menghadapi tantangan karena mampu melihat harapan, dan lebih dari itu ialah
berkat. Dengan melihat konteks Asia yang serba majemuk dan juga jumlah komunitas Kristen yang
kecil dibanding agama-agama lain, PAK tidak harus menjadi pesimis. Justru dengan inilah PAK
ditantang untuk melihat harapan dan juga berkat yang ada di depan. Bersentuhan dengan agama
dan juga budaya lain tidak harus membuat PAK bersifat eksklusif melainkan meliahatnya
sebagai kairosseperti yang diungkapkan Lesslie Newbigin.

- Tantangan konteks Asia ini membuat PAK agar mampu membawa pendidikan untuk
kedamaian (education for peace) bagi segala lapisan masyrakat.
- Sikap-sikap eksklusif perlu dipertimbangkan kembali karena itu tidak selalu membawa berkat
bagi masyarakat yang lain melainkan konflik yang terjadi.
- Mengingat Asia banyak sekali budayanya, maka PAK Asia hendaknya melihat kearifan
lokal masing-masing agar dapat mendesain bahan PAK yang menjadi ciri khas tesendiri dan bukan
PAK produk Eropa atau Amerika.

DEFINISI PLURALISME AGAMA

Pluralisme agama bisa dipahami dalam minimum tiga kategori. Pertama, kategori sosial.

Dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara

sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari

penganut agama lainnya. Kedua, kategori etika atau moral. Dalam hal ini pluralisme agama berarti

bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”. Jika kita

menganut pluralisme agama dalam nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut

agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi,

hukuman gantung, eutanasia, dll. Ketiga, kategori teologi-filosofi. Secara sederhana berarti

”agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. Mungkin

kalimat yang lebih umum adalah ”banyak jalan menuju Roma”. Semua agama menuju pada Allah,

hanya jalannya yang berbeda-beda. Selanjutnya, dalam tulisan ini, setiap kali kita menyebut

pluralisme agama, yang dimaksudkan adalah pluralisme agama dalam kategori teologi-filosofi ini.

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PLURALISME AGAMA

Fundamentalisme agama disertai dengan manifestasinya yang salah adalah racun berbahaya

yang sedang berkembang luas (ingat peristiwa 11/9). Walaupun demikian, saat ini pluralisme agama

42
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

sebagai ”lawannya” juga menjelma menjadi virus yang cepat menular. Pluralisme agama

kenyataannya makin populer di kalangan orang-orang yang beragama maupun tidak beragama,

berpendidikan tinggi maupun rendah, teolog maupun kaum awam. Di kalangan Muslim, walaupun MUI

sudah menyatakan pluralisme agama sebagai ajaran yang haram untuk dianut, tetapi

perkembangannya tampaknya terus melaju. Ada banyak faktor yang mendorong orang untuk

mengadopsi pluralisme agama. Beberapa faktor yang signifikan adalah:

1. Iklim demokrasi

Dalam iklim demokrasi, kata toleransi memegang peranan penting. Sejak kecil di negara ini

kita diajar untuk saling menghormati kemajemukan suku, bahasa dan agama. Berbeda-beda tetapi

satu jua. Begitulah motto yang mendorong banyak orang untuk berpikir bahwa semua perbedaan

yang ada pada dasarnya bersifat tidak hakiki. Beranjak dari sini, kemudian toleransi terhadap

keberadaan penganut agama lain dan agama-agama lain mulai berkembang menjadi penyamarataan

semua agama. Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan? Jadi, tidak masalah Anda menganut

yang mana!

2. Pragmatisme

Dalam konteks Indonesia maupun dunia yang penuh dengan konflik horisontal antar pemeluk agama,

keharmonisan merupakan tema yang digemakan dimana-mana. Aksi-aksi ”fanatik” dari pemeluk

agama yang bersifat destruktif dan tidak berguna bagi nilai-nilai kemanusiaan membuat banyak

orang menjadi muak. Dalam konteks ini, pragmatisme bertumbuh subur. Banyak orang mulai tertarik

pada ide bahwa menganut pluralisme agama (menjadi pluralis) akan lebih baik daripada seorang

penganut agama tertentu yang ”fanatik”. Akhirnya, orang-orang ini terdorong untuk meyakini

bahwa keharmonisan dan kerukunan lebih mungkin dicapai dengan mempercayai pluralisme agama

daripada percaya bahwa hanya agama tertentu yang benar. Yang terakhir ini tentu berbahaya bagi

keharmonisan masyarakat. Begitulah pola pikir kaum pragmatis.

3. Relativisme

Kebenaran itu relatif, tergantung siapa yang melihatnya. Ini adalah pandangan yang populer,

sehingga seorang tukang sapu pun memahaminya. Dalam era postmodern ini penganut relativisme

percaya bahwa agama-agama yang ada juga bersifat relatif. Masing-masing agama benar menurut

penganutnya-komunitasnya. Kita tidak berhak menghakimi iman orang lain. Akhirnya, kita

selayaknya berkata ”agamamu benar menurutmu, agamaku benar menurutku. Kita sama-sama

43
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

benar”. Relativisme agama seolah-olah ingin membawa prinsip win-win solution ke dalam area

kebenaran.

4. Perenialisme

Mengutip Komarudin Hidayat, filsafat perennial adalah kepercayaan bahwa Kebenaran Mutlak (The

Truth) hanyalah satu, tidak terbagi, tetapi dari Yang Satu ini memancar berbagai “kebenaran”

(truths). Sederhananya, Allah itu satu, tetapi masing-masing agama meresponinya dan

membahasakannya secara berbeda-beda, maka muncullah banyak agama. Hakekat dari semua agama

adalah sama, hanya tampilan luarnya yang berbeda.

SEBUAH MODEL: PLURALISME AGAMA VERSI JOHN HICK

Untuk mengetahui lebih jelas tentang pluralisme agama, kita akan melihat pandangan John Hick

sebagai tokoh pluralis yang tulisannya sering dikutip baik oleh orang Kristen maupun pemeluk agama

lain. Berikut ini adalah rangkuman pandangan John Hick:

• Semua agama adalah respon terhadap keberadaan tertinggi yg bersifat transenden (Allah-

yang disebut The Real).

• “The Real” itu melampaui konsep manusia sehingga semua agama tidak sempurna dalam

relasinya terhadap “The Real” tersebut.

• Oleh karena itu, tentang agama-agama John Hick berkata, “agama-agama tidak mungkin

semuanya benar secara penuh; mungkin tidak ada yang benar secara penuh; mungkin

semua adalah benar secara sebagian”

• John Hick membedakan “The Real” sebagai realitas ultimat dan “The Real” yang ditangkap

dan dipersepsikan oleh agama-agama sebagai Personae (berpribadi): Allah, Yahweh, Krisna,

Syiwa atau Impersonae (tidak berpribadi): Tao, Nirguna Brahman, Nirwana, Dharmakaya

• Dalam konsep Hick, Personae dan Impersonae adalah penafsiran terhadap The Real. The

Real itu tidak dapat disebut personal atau impersonal, memiliki tujuan atau tidak memiliki

tujuan, baik atau jahat, substansi atau proses, bahkan satu atau banyak. The Real itu

melampaui semua kategori manusiawi seperti itu.

• Keselamatan adalah proses perubahan manusia dari berpusat pada diri sendiri (self-

centered) menjadi berpusat pada Realitas tertinggi (Real-centered)

• Kriteria untuk mengetahui apakah seseorang sudah diselamatkan atau tidak adalah

kehidupan moral dan spiritualnya yang mencerminkan kekudusan. Diantara kualitas-

44
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

kualitas itu adalah: belas kasihan, kasih kepada semua manusia, kemurnian, kemurahan hati,

kedamaian batin dan ketenangan, sukacita yang memancar.

PLURALISME AGAMA: SEBUAH TINJAUAN KRITIS

Pluralisme agama memang ”simpatik” karena ingin membangun teologi yang terdengar amat toleran,

”semua agama sama-sama benar. Semua agama menyelamatkan”. Walaupun demikian teologi

pluralisme agama pada dasarnya menyangkali iman Kristen sejati yang kembali pada Alkitab. Kita

akan memberikan beberapa kritik terhadap pluralisme agama ini.

1. Pluralisme agama merupakan pendangkalan iman

Orang yang percaya pada teologi pluralisme agama biasanya tidak benar-benar mendasarkan

pandangannya atas dasar kitab suci agama yang dianutnya atau tidak benar-benar berteologi

berdasarkan sumber utama (kitab suci). Jika kita benar-benar jujur membaca kitab suci agama-

agama maka kita menemukan klaim-klaim eksklusif yang memang tidak bersifat saling melengkapi

tetapi saling bertentangan. Sebagai contoh: Buddhisme tidak percaya pada kehidupan kekal (surga)

sebagai tempat bersama Allah. Buddhisme percaya pada Nirwana dan Reinkarnasi. Nirwana adalah

Keadaan Damai yang membahagiakan, yang merupakan kepadaman segala perpaduan yang bersyarat

(Dhammapada bab XXV). Bagi Budhisme, tidak ada neraka dalam definisi ”tempat dan kondisi

dimana Allah menghukum manusia”. Yang ada adalah reinkarnasi bagi mereka yang belum mampu

memadamkan keinginan-keinginan duniawinya. Hal ini tentu bertentangan dengan konsep Kristen

yang percaya surga dan neraka. Bahkan jika kita berkata bahwa Islam juga mempercayai surga dan

neraka, tetap terdapat perbedaan konsep (Lih.Q.S.6:128; 78:31-34). Disini kita melihat bahwa

pluralisme adalah konsep yang mereduksi keunikan pandangan agama masing-masing.

2. Pluralisme agama memiliki dasar yang lemah

Pragmatisme yang mendasari pluralisme agama adalah sebuah cara berpikir yang tidak tepat.

Demi keharmonisan maka mengganggap semua agama benar adalah mentalitas orang yang dangkal

dan penakut. Selanjutnya, relativisme kebenaran adalah sebuah pandangan yang salah. Penganut

relativisme agama tampaknya sering tidak bisa membedakan antara relativisme dalam hal selera

(enak/tidak enak, cantik/tidak cantik), opini (UK Petra akan semakin maju/mundur) dan sudut

pandang (ekonomi, sosiologi) dengan kemutlakan kebenaran. Kebenaran itu mutlak, sedangkan

selera, opini dan sudut pandang memang relatif.

45
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

3. Penganut pluralisme Agama seringkali tidak konsisten

Penganut pluralisme agama sering menuduh golongan yang percaya bahwa hanya agamanyalah yang

benar (sering disebut eksklusivisme atau partikularisme dalam teologi Kristen) sebagai fanatik,

fundamentalis dan memutlakkan agamanya. Padahal dengan menuduh demikian, kaum pluralis telah

menyangkali pandangannya sendiri bahwa tiap orang boleh meyakini agamanya masing-masing secara

bebas. Jika seorang pluralis anti terhadap kaum eksklusivis maka ia bukanlah pluralis yang

konsisten. Dalam realita, kita menemukan banyak pluralis yang seperti itu dan memutlakkan

pandangan bahwa ”semua agama benar”. Kaum pluralis seringkali terjebak dalam eksklusivisme baru

yang mereka buat yaitu hanya mau menghargai kaum pluralis lainnya dan kurang menghargai kaum

eksklusivis.

4. Pluralisme agama menghasilkan toleransi yang semu

Jika kita membangun toleransi atas dasar kepercayaan bahwa semua agama sama-sama benar, hal

itu adalah toleransi yang semu. Toleransi yang sejati justru muncul sebagaimana dikatakan Frans

Magnis Suseno, ”meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan

kebenaran bagi saya, saya sepenuhnya menerima keberadaan Anda. Saya gembira bahwa Anda ada,

saya bersedia belajar dari Anda, saya bersedia bekerja sama dengan Anda.”

5. Kritik terhadap pluralisme agama John Hick

Jika ”The Real” atau Allah-nya Hick memang melampau konsep yang baik atau yang jahat, mengapa

Hick justru menggunakan kriteria ”kekudusan” untuk mengetahui seseorang itu sudah diselamatkan

atau tidak diselamatkan? Ini adalah sebuah kriteria yang bisa kita pertanyakan keabsahannya.

Selanjutnya, bagi Hick, keselamatan adalah transformasi moral akibat perubahan pusat

kehidupannya dari diri sendiri kepada ”The Real” (Allah, Brahman, Tao). Hal ini mencerminkan

teologi yang tidak berdasarkan Alkitab, walaupun Hick sendiri mengaku Kristen. Teologi alkitabiah

menunjukkan bahwa keselamatan bukan hasil perilaku etika atau moralitas tertentu tetapi

kebenaran Allah di dalam karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib yang kita terima secara

cuma-cuma melalui iman (Roma 3:28-30; 10: 9-10; Mat. 26:28). Keselamatan dalam konsep Kristen

juga berbeda dengan keselamatan dalam Islam karena Al Qur’an menyatakan bahwa keselamatan

adalah hasil sinergi antara iman dan amal manusia (Q.S.Al Baqarah 25).

Kesimpulan

Pluralisme agama dalam pengetian teologi-filosofi memiliki banyak kelemahan dalam logika dan

konsistensi teologi. Selain itu berdasarkan epistemologi Alkitab, kita harus menolak pandangan

46
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

”semua agama menuju pada Allah dan semua agama menyelamatkan”. Orang Kristen perlu berani

mengakui perkataan Yesus "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang

datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Sikap demikian bukanlah fanatik tetapi konsisten.

Fanatik adalah mempercayai sesuatu atau seseorang tanpa bersikap kritis terhadapnya.

Seseorang yang belum pernah belajar semua agama tetapi terburu-buru mengatakan semua

agama pada dasarnya sama justru adalah orang yang fanatik terhadap pluralisme agama.

Akhirnya, tentu saja kita perlu menerima pluralisme agama secara sosial, tetapi pluralisme agama

dalam kategori teologi-filosofi harus kita tolak dengan tegas.

DAFTAR PUSTAKA TERPILIH

Geisler, Norman L. Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Grand Rapids: Baker,


1999.
Hick, John. “Ketidakmutlakan Agama Kristen” dalam Mitos Keunikan Agama Kristen, Eds.
John Hick dan Paul F. Knitter. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Corduan, Winfried. A Tapestry of Faiths: The Common Threads Between Christianity and
World Religions. Illinois: IVP, 2002.
Eds. Okholm, Dennis L. dan Philips, Timothy R. Four Views on Salvations in a Pluralistic
World. Grand Rapids: Zondervan, 1995.
Netland, Harold. Encountering Religious Pluralism: The Challenge to Christian Faith and
Mission. Illinois: IVP, 2001.
Lumintang, Stevri L. Teologia Abu-Abu Pluralisme Agama. Malang: Gandum Mas, 2004.
Sen Chang, Lit. Asia’s Religions: Christianty’s Momentous Encounter With Paganism. New
Jersey: P&R, 1999.
Suseno, Frans Magnis S.J. Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk.
Jakarta: Obor, 2004.
Carson D. A. The Gagging of God: Christianity Confronts Pluralism. Grand Rapids:
Zondervan, 1996.
Boehlke Robert, 2011, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen
Jilid I & II, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Christian Conference Of Asia, 2003, Religion Education In Asia, Hong Kong
Enklar & Homrighausen, 2011, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Groome Thomas, 2011, Christian Religious Education, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Hope Antone, 2010, Pendidikan Kristiani Kontekstual, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Newbigin Lesslie, 2002, Injil Dalam Masyarakat Majemuk, Jakarta: BPK Gunung Mulia
http://eiren3s.blogspot.com/2013/10/pendidikan-agama-kristen-sebagai-tugas.html (website)
(http://kamusbahasaindonesia.org/harapan) (website)

[11] Newbigin Lesslie, 2002, Injil Dalam Masyarakat Majemuk, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Lihat pembahasan khusus mengenai Tantangan & Berkat.

[10] (http://kamusbahasaindonesia.org/harapan) diakses pada 8 Januari 2015.

[9] Hope Antone, 2010, Pendidikan Kristiani Kontekstual, hlm 86.

[8] http://kamusbahasaindonesia.org/tantangan diakses pada 8 Januari 2015.

47
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

[7] Hope Antone, 2010, Pendidikan Kristiani Kontekstual, hlm 2-4


[6] http://eiren3s.blogspot.com/2013/10/pendidikan-agama-kristen-sebagai-tugas.html diakses
pada tgl 3 Januari 2015.
[5] Enklaar & Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, hlm 26.
[4] Boehlke Robert, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen I, hlm
501.
[3] Lihat Boehlke Robert, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama
Kristen I, hlm 153-175.
[1] Enklaar & Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, hlm 106.
[2] Boehlke Robert, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen I, hlm
175.
DAFTAR PUSTAKA
Adiprasetya, Joas. 2011. Mencari Dasar Bersama. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Antone, Hope S. 2010. Pendidikan Kristiani Kontekstual. Jakarta: BPK.
Borong, Robert P. 1998. Berakar didalam Dia dan dibangun diatas Dia. Jakarta:BPK.
Budiono. 2005. Kamus Ilmiah Populer Internasional. Surabaya : Alumn
Homrighausen, E.G. 2013. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta:BPK.
Hendropriyono, A.M. 2009. Terorisme : Fundamentalis, Kristen, Yahudi, Islam. Jakarta : Kompas
Gramedia.
Ismail, Andar. 2006. Ajarlah mereka melakukan. Jakarta : BPK Gunung Mulia
Misrawi, Zuhairi . 2010. Pandangan Muslim Moderat : Toleransi, Terorisme dan Oase Perdamaian.
Jakarta : Kompas Gramedia.
Mulkhan, Abdul Munir . 2011. Dialektika Agama dan Kebudayaan Bagi Pembebasan”, dalam
Dinamika Kebudayaan dan Problem kebangsaan, Yogyakarta : LeSFI.
Nainggolan, John M. 2009. PAK dalam Masyarakat Majemuk. Bandung : Bina Media Informasi
PGI. 2009. Lima Dokumen Keesaan Gereja. Jakarta: BPK
Sairin, Weinata. 2006. Kerukunan Umat Beragama: Pilar Utama Kerukunan Berbangsa. Jakarta:
BPK.
Soegiasman,G. 1989. Pelaksanaan dan persoalan pendidikan agama Kristen di sekolah – sekolah
dalam persekutuan gereja – gereja di Indonesia, Strategi Pendidikan agama Kristen. Jakarta :
BPK.
Stefanus, Daniel. 2009. Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan. Bandung : BMI
Suprianto Dkk. 2009. Meretang Sejarah Memaknai Kemandirian. Jakarta: BPK.
Referensi :
http://www.kompasiana.com/kang_maman72/pluralisme-negara-dan-agama
Tulung, Jeane M. PAK dalam Masyarakat Majemuk, file PDF. (diunduh tgl 15 Juni 2016;08:36)
Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007 (diunduh tgl 12 Maret; 18:37)
[1] E.G.Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (BPK 2014), pg.123
[2] Lima Dokumen Keesaan Gereja (Jakarta: BPK), pg.90
[3] Ibid,. pg.91
[4] John M. Nainggolan, PAK dalam Masyarakat Majemuk (Bandung : Bina Media Informasi, 2009)
pg, 18
[5] G.Soegiasman, B.A., Pelaksanaan dan persoalan pendidikan agama Kristen di sekolah – sekolah
dalam persekutuan gereja – gereja di Indonesia, Strategi Pendidikan agama Kristen, ( Jakarta :
BPK. Gn Mulia, 1989 ), pg.49
[6] Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007 (diunduh tgl 12 Maret; 18:37)
[7] Andar Ismail, Ajarlah mereka melakukan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006 ), pg. 201
[8] KBBI
[9] Daniel Stefanus, Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan,( Bandung : BMI, 2009 ). pg. 8

48
PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK S1 DAN S2 MATRIKULASI

[10] Ibid,. pg. 10


[11] E.G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK,2013), pg. 23-25
[12] Robert P Borong, Berakar didalam Dia dan dibangun diatas Dia, (Jakarta:BPK,1998), pg. 108
[13] Weinata Sairin, Kerukunan Umat Beragama: Pilar Utama Kerukunan Berbangsa (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2006), pg.14.
[14] John M. Nainggolan, PAK dalam Masyarakat Majemuk (Bandung : Bina Media Informasi,
2009) pg. 43-44
[15] Ibid,. pg.44
[16] Budiono, Kamus Ilmiah Populer Internasional (Surabaya : Alumni, 2005) pg. 591
[17] A.M. Hendropriyono, Terorisme : Fundamentalis, Kristen, Yahudi, Islam (Jakarta : Kompas
Gramedia, 2009), pg160
[18] Abdul Munir Mulkhan, “Dialektika Agama dan Kebudayaan Bagi Pembebasan”, dalam Dinamika
Kebudayaan dan Problem kebangsaan (Yogyakarta : LeSFI, 2011), pg.14
[19] Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat : Toleransi, Terorisme dan Oase
Perdamaian (Jakarta : Kompas Gramedia, 2010), pg.140
[20] Ibid, pg.203
[21] http://www.kompasiana.com/kang_maman72/pluralisme-negara-dan
agama
[22] Daniel stefanus, Op.Cit., pg. 40-50
[23] Dr. Jeane M. Tulung, PAK dalam Masyarakat Majemuk, file PDF, pg 8-10
[24] John M. Nainggolan, Op.Cit., pg. 64-67
[25] Adiprasetya, Mencari Dasar Bersama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, ) pg.
[26] John M. Nainggolan, Op.Cit., pg. 45,46
[27] John M. Nainggolan, Op.Cit., pg. 83-88
[28] Daniel stefanus, Op.Cit.,pg. 69,78,83
[29] Hope S. Antone, Pendidikan Kristiani Kontekstual (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), pg. 96
[30] John M. Nainggolan. PAK dalam masyarakat Majemuk (Jakarta: BMI) pg. 78
[31] John M. Nainggolan. PAK dalam masyarakat Majemuk (Jakarta: BMI), pg. 77
[32]John M. Nainggolan. PAK dalam masyarakat Majemuk (Jakarta: BMI), pg. 84
[33] ibid., pg 128
[34] Suprianto Dkk, Meretang Sejarah Memaknai Kemandirian (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2009) pg. 158

49