Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup

di air dan bernafas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling

beranekaragam dengan jumlah species lebih dari 27.000 jenis yang terdiri dari 483

famili dan 57 ordo, terbagi atas 3 kelas berdasarkan hubungan evolusioner yaitu,

kelas Agnatha, kelas Chondroichtyes, kelas Oseteichtyes. Salah satu habitat ikan

adalah Sungai. Sungai adalah salah satu habitat perairan air tawar yang berasal dari

air hujan pada suatu alur yang panjang di atas permukaan bumi, dan merupakan

salah satu badan air lotik yang utama. Ikan merupakan organisme aquatik yang

banyak dijumpai sekitar kita sebagai bahan konsumsi masyarakat dan memiliki nilai

ekonomis.

Sungai Batang Anai merupakan sungai yang melintasi empat wilayah

administratif di provinsi Sumatera Barat, salah satunya adalah Kabupaten Padang

Pariaman. Panjang sungai Batang Anai sepannjang 46 Km dengan melintasi

kecamatan 2X11 Kayutanam sampai ke Kecamatan Batang Anai. Sungai Batang

Anai terletak di perbatasan antara Padang dengan Pariaman menuju jalan ke Bandara

Internasional Minangkabau (BIM). Sungai ini selain mempunyai manfaat bagi

kehidupan masyarakat juga sebagai resapan air. Sumatera Barat memiliki potensi

sumber daya air di daratan yang cukup besar, terdapat 606 sungai besar dan kecil, 27

diantaranya merupakan sungai lintas provinsi dan 57 sungai lintas kabupaten/kota.

Dengan kondisi alam yang bergelombang, berbukit dan bergunung serta banyak

dilalui sungai-sungai, maka hal ini merupakan potensi alam yang sangat besar yang

dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk pembangunan pertanian, pariwisata,


pertambangan, jasa lingkungan dan lain sebagainya. Namun disisi lain hal ini juga

mengandung tanggung jawab yang besar bagi daerah untuk mengelola dan menjaga

kelestariannya, apalagi sebagian sungai-sungai di Sumatera Barat merupakan hulu

dari sungai-sungai di provinsi tetangga. Sungai perkotaan yang kualitas airnya

cenderung menurun yaitu Sungai Batang Agam, Batang Anai, Batang Ombilin dan

Batang Pangian (Putri, 2010). Untuk Sungai Batang Agam sudah hampir tercemar

pada segmen Kota Bukittinggi, dimana pada lokasi ini terdapat RPH yang

limbahnya langsung dibuang tanpa melalui pengolahan, disamping itu di Sungai

Batang Anai (Segmen Tanah Datar) juga terdapat aktifitas domestik dan tumpukan

sampah. Hasil Perhitungan indeks pencemaran air (IPA) terendah adalah Sungai

Batang Anai yaitu 53,83 % (Laporan SLHD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014)

Berdasarkan wawancara dengan warga sekitar, penambang pasir di Sungai

Batang Anai Nagari Ketaping Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman

sudah sering dilakukan dengan tenaga sendiri menggunakan alat tradisional yaitu

sampan dan sekop, serta penangkapan ikan dengan menggunakan jaring, pancing

dan tangguk. Keberadaan ikan cukup banyak seperti ikan Simontong, Ikan Simbubu,

Patai dan jenis ikan lainnya. Saat ini jumlah dan jenis populasi ikan tersebut di duga

mengalami penurunan, karena adanya limbah pabrik dari PT. Bumi Sarimas

Indonesia (BSI). Menurut salah seorang warga yang penulis temui bernama Bapak

jon (penambang pasir) limbah pabrik dari PT BSI ini telah mencemari sungai Batang

Anai, limbah pabrik berupa zat cair dan ampas kelapa karena pabrik ini adalah

pabrik santan yang ampas nya di buang setiap harinya pada saat malam hari sekitar

jam 12 dan jam 01 pagi. Limbah pabrik ini di buang langsung ke badan sungai

melalui saluran pipa. Tentunya juga mengganggu sejumlah biota yang hidup di

perairan. Di sekitar pabrik yang dulunya air di sungai batang anai di gunakan untuk
mandi, mencuci dan kebutuhan lainnya sekarang tidak di gunakan lagi kerena jika

mandi akan menyebabkan kulit terasa gatal dan mata perih, juga di temui banyak

cacing pita di tepi sungai dekat penambang pasir.

Penelitian yang telah di lakukan yaitu tentang pemanfaatan Sungai Batang

Arau dan daerah Muara Padang yang cukup beragam diantaranya pertanian, industri,

rumah sakit, pelabuhan kapal-kapal nelayan dan kapal penumpang serta sebagai

daerah rekreasi terutama sejak dibangun Jembatan Siti Nurbaya menyebabkan

Muara Padang mulai mengalami penurunan kualitas perairan. Jika dilihat dari

padatnya aktifitas penduduk di sekitar Muara Padang, warna perairan keruh

cenderung coklat disertai aroma tidak sedap dan tingkat sedimentasi yang tinggi

yaitu 3482 ton/th (Bapedalda Kota Padang 2004), maka ada dugaan Perairan Muara

Padang tercemar bahan organik. Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlanjut

karena mengakibatkan terganggunya ekosistem yang kemudian mempengaruhi

kehidupan hewan dan tumbuhan di dalamnya. Karena alasan-alasan tersebut,

diperlukan informasi lebih lanjut tentang kondisi kualitas perairan dilihat dari bahan

organik. Sedangkan penelitian di daerah Muaro Sungsang Sumatera Utara dengan

faktor fisika yaitu : kecerahan, suhu, dan kecepatan arus. Kemudian factor kimia

yaitu: DO, salinitas, Ph, Phospate dan Nitrat. Di dapatkan jenis ikan yang terdiri dari

657 jenis, 48 spesies dari 29 familly.

Berdasarkan masalah diatas maka penulis ingin melakukan penelitian

tentang “Jenis-Jenis Ikan Di Aliran Sungai Batang Anai Sekitar Pembuangan

Limbah Pabrik Tepung Kelapa Sebagai Bahan Ajar Klasifikasi Makhluk Hidup

Kelas VII SMP/MTSN”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka identifikasi penelitian dalam masalah ini

adalah sebagai berikut:

1. Sungai Batang Anai dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menangkap ikan,

penambangan pasir, mandi dan kebutuhan lainnya.

2. Belum diketahui semua jenis-jenis Ikan di Sungai Batang Anai Nagari Ketaping

Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.

3. Belum diketahui faktor fisika kimia yang mendukung keberadaan ikan.

C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka batasan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Alat tangkap yang digunakan adalah jala, pancing dan tangguk

2. Faktor fisika dan kimia yang diukur adalah suhu air sungai, kecepatan arus air

sungai, pH air sungai, salinitas dan DO air sungai.

3. Bahan ajar berupa Atlas

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Apa sajakah jenis-jenis Ikan di Sungai Batang Anai Nagari Ketaping Kecamatan

Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman?

2. Bagaimanakah faktor fisika dan kimia air di Sungai Batang Anai Nagari Ketaping

Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman?

3. Belum adanya bahan ajar berupa Atlas untuk memudahkan siswa

mengidentifikasi secara umum jenis-jenis ikan yang ada.


E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui jenis-jenis Ikan di Sungai Batang Anai Nagari Ketaping

Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.

2. Untuk mengetahui keadaan faktor fisika dan kimia air di Sungai Batang Anai

Nagari Ketaping Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.

3. Menghasilkan Atlas untuk pokok bab klasifikasi makhluk hidup pada sub bab

Adaptasi terhadap Lingkungan

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan di bidang ekologi hewan dan

taksonomi vertebrata.

2. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang jenis-jenis ikan yang tertangkap di

Sungai Batang Anai Nagari Ketaping Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang

Pariaman.

3. Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keanekaragaman Ikan

Indonesia memiliki keanekaragaman jenis ikan yang banyak baik ikan air tawar

maupun laut. Pembahasan ikan dengan lingkungan hidupnya sangat penting agar

dinamikanya dalam ekosistem perairan dan kemungkinan dampak lingkungan

terhadap kehidupan ikan dapat dipahami. Bentuk badan ikan dapat member banyak

informasi yang meyakinkan mengenai ekologi dan perilakunya. Kebanyakan aspek

ini berasal dari pengetahuan umum saja, namun demikian informasi mengenai

hubungan bentuk ikan dengan ekologinya sangat berharga karena akan membantu

interpretasi tentang komposisi suatu komunitas ikan (Anthony j.whitten1993).

Sebanyak 13.000 spesies air tawar hidup di danau dan sungai yang cakupannya

hanya 1% di permukaan bumi, sedangkan 16.000 spesies hidup di habitat air laut

yang merupakan 70% bagian permukaan bumi (Leveque et al, 2008). Menurut

Adiesoemarto dan Rifai, dalam Haryono dkk (2002) ada sekitar 8500 spesies ikan

terdapat di Perairan Indonesia, dan jumlah jenis ikan tersebut masih terus bertambah

dengan ditemukannya jenis-jenis baru. Dilihat dari jumlah jenis ikan air tawar,
Indonesia menempati rangking ke dua di dunia setelah Brazil dan pertama di Asia

(Budiman dkk, 2002).

Ikan Nila adalah salah satu biota air yang terdapat di Sungai Batang Anai sebagai

badan air penerima dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Selain itu ikan Nila

dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya

senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu karena ikan Nila

sangat peka terhadap perubahan lingkungan (Sudarmadi, 2007).

Penurunan kualitas perairan Sungai Batang Anai akan mengancam

keberlangsungan hidup organisme yang ada didalamnya termasuk komunitas ikan.

Menurut masyarakat setempat jenis ikan yang biasa ditemukan di sekitar Sungai

Batang Anai tepatnya di Kayutanam adalah ikan Gariang (Tor sp.), ikan Bauang

(Hemibagrus sp.), ikan Mujair (Oreochromis sp.), ikan Tali-Tali (Nemacheilus sp.),

ikan Situkah (Glytothorax sp.), ikan Bada (Puntius sp.), ikan Nila (Orheochromis

sp.), dan ikan Paweh (Barbonymus sp.). Jumlah hasil tangkapan ikan-ikan tersebut

semakin hari semakin menurun akibat akumulasi semua aktivitas masyarakat di

sepanjang sempadan Sungai Batang Anai. Mulya (2004) menyatakan bahwa, limbah

yang dihasilkan oleh aktifitas manusia yang terbawa oleh air sungai, secara langsung

ataupun tidak langsung akan mengakibatkan perubahan ekologis perairan sehingga

berdampak langsung terhadap biodiversitas makhluk hidup yang hidup di dalam

perairan termasuk ikan. Keberadaan dan pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh

kualitas air tersebut, apabila habitatnya terganggu maka akan terganggu pula

keberadaan dan pertumbuhannya, sehingga akan terjadi perbedaan produktivitas ikan.

Disamping itu, ikan merupakan indikator alami dalam ekosistem, karena perairan

yang tercemar oleh limbah tentu dapat di indikasikan dari jumlah ikan di perairan

tersebut (Astuti, 2015).


Beberapa penelitian keanekaragaman ikan sungai telah dilakukan di beberapa

tempat seperti penelitian yang dilakukan oleh Marini dan Husnah (2010) melakukan

penelitian di bagian hulu Sungai Siak, Provinsi Riau yang telah mengalami proses

degradasi. Hasil penelitian mendapatkan 58 jenis ikan dengan nilai indeks

keanekaragaman jenis tergolong sedang dan famili Cyprinidae mempunyai

kelimpahan paling tinggi. Jukri, Emiyarti dan Kamri (2012) yang melakukan

penelitian di Sungai Lamunde, Sulawesi Tenggara mendapatkan 34 jenis ikan.

Tarigan, Yunafsi dan Suryanti (2013) melaporkan komunitas ikan di Sungai

Naborsahan Danau Toba Sumatera Utara mendapatkan 10 jenis ikan dengan nilai

indeks keanekaragaman jenis tergolong rendah. Keanekaragaman ikan di Sungai

Batang Anai masih sedikit informasinya.

B. Siklus Hidup Ikan

Dalam siklus hidupnya, ikan mengalami suatu fase yang disebut larva. Larva ikan

merupakan fase atau tingkatan ikan setelah telur menetas. Awal daur hidup ikan

meliputi stadia telur dan perkembangannya, yaitu stadia larva dan juvenil (Effendie,

1997). Stadia telur dan larva ikan dapat digolongkan sebagai plankton yaitu sebagian

dari siklus hidupnya merupakan plankton sementara atau meroplankton (Odum,

1993). Larva ikan yang baru menetas ditandai dengan adanya yolk sac (kantong

kuning telur) yang terletak di bagian bawah depan dan sebuah sirip tak berjari yang

mengelilingi badan larva, mulai dari punggung, ekor sampai pada bagian bwah

sebatas belakang anus. Pada beberapa jenis ikan batas sirip keliling terletak tepat di

belakang kuning telur (Romimohtarto & Juwana, 2004).

Secara garis besar, perkembangan larva dibagi menjadi dua fase yaitu pro larva

dan post larva (Russel,1976 dalam Bensman,1990). Pro larva merupakan fase dimana

larva masih mempunyai kantung kuning telur, tubuhnya transparan dengan beberapa
butir pigmen yang fungsinya belum diketahui . Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi

belum sempurna bentuknya dan kebanyakan prolarva yang baru keluar dari cangkang

telur ini tidak mempunyai sirip perut yang nyata melainkan hanya bentuk tonjolan

saja. Sistem pernafasan dan peredaran darah pun belum sempurna sedangkan mulut

dan rahang belum berkembang serta ususnya masih berupa tabung yang lurus.

Makanannya didapat dari sisa kuning telur yang belum habis diserap. Postlarva

adalah fase larva mulai dari hilangnya kantung kuning telur sampai terbentuknya

organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang telah ada

sehingga pada masa akhir dari postlarva tersebut secara morfologi sudah mempunyai

bentuk hampir seperti induknya. Sel-sel pigmen berkembang menurut pola-pola yang

menjadi karakter berbagai jenis post larva ikan. Tanda-tanda pengenal lainnya adalah

bentuk dan ukuran badan serta bentuk ukuran sirip. Pada perkembangan larva lebih

lanjut, sirip ekor berkembang diikuti oleh pemisahan sirip punggung dan sirip dubur.

Vertebrata dan tulang-tulang iga mengeras dan dengan perubahan – perubahan

pigmentasi badan maka post larva mencapai tingkat benih.

C. Bahan Ajar ATLAS

Bahan ajar adalah segala bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam

melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar. Bahan ajar yang dimaksud bisa berupa

bahan tertulismaupun tidak tertulis. Bahan ajar dikelompokkan menjadi 4 yaitu:

1. Bahan ajar (printed) antara lain atlas, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur,

leaflet, wallchart, foto atau gambar, model atau maket.

2. Bahan ajar dengan (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk

audio.

3. Bahan ajar pandang dengan (video visual) seperti vidio, compact disk, film.

4. Bahan ajar interaktif seperti compack disk interaktif.


Atlas adalah “segala sesuatu” yang diberikan kepada peseta didik ketika

mengikuti kegiatan pembelajaran, atlas dibuat dengan tujuan untuk memperlancar dan

memberikan bantuan informasi atau materi pembelajaran sebagai pegangan bagi

pesera didik. Kemudian, ada juga mengartikan atlas sebagai tertulis yang disiapkan

oleh seorang pendidik untuk memperkaya pengetahuan peserta didik (Prastowo,

2011). Atlas merupakan salah satu bentuk media cetak yang mudah dikembangkan dan

dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk memperlancar pelaksanaan belajar

mengajar yang disesuaikan kurikulum.

Adapun fungsi atlas menurut (Prastowo, 2011), yaitu:

1. Membantu peserta didik agar tidak perlu mencatat

2. Sebagai pendamping penjelasan pendidik

3. Sebagai bahan rujukan peserta didik

4. Memotivasi peserta didik agar lebih giat belajar

5. Pengingat pokok-pokok materi yang diajarkan

6. Memberikan umpan balik

7. Menilai hasil belajar

Dalam fungsi pembelajaran, pembuatan atlas memiliki beberapa tujuan yaitu :

1. Untuk memperlancar dan memberikan bantuan informasi atau materi pembelajaran

sebagai pegangan bagi peserta didik.

2. Untuk memperkaya pengetahuan peserta didik

3. Untuk mendukung bahan ajar lainnya atau penjelasan dari pendidik (Prastowo,

2011).
Adapun unsur-unsur atlas yaitu identitas atlas (terdiri dari semua madrasah, kelas,

nama mata pelajaran, pertemuan, atlas, jumlah halaman dan masa berlakunya atlas),

materi pokok atau materi pendukung yang akan dismpaikan. Atlas juga dapat berisi

penjelasan, pertanyaan dan kegiatan para peserta didik dan pemberian umpan balik

ataupun langkah tindak lanjut.

Adapun langkah-langkah penyusunan atlas adalah sebagai berikut :

1. Lakukan analisis kurikulum

2. Tentukan judul atlas dan sesuaikan dengan kompetensi dasar serta materi pokok

yang akan dicapai. Pada tahap ini, lakukan dengan berdasarkan hasil penyusunan

peta bahan ajar yang telah dibuat.

3. Kumpulkan referensi sebagai bahan penulisan. Usahakan referensi yang digunakan

terkini dan relevan dengan materi pokoknya.

4. Dalam menulis usahakan agar kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang.

5. Evaluasi hasil tulisan dengan cara di baca ulang. Bila perlu, mintalah orang lain

membaca terlebih dahulu untuk mendapatkan masukan.

6. Perbaiki atlas sesuai dengan kekurangan yang ditemukan

7. Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi atlas, misalny

buku, majalah, internet atau jurnal hasil penelitian (Prastowo, 2011).


BAB III
BAHAN DAN METODE

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara 2 tahap. Tahap pertama yaitu pengambilan jenis

ikan di lapangan, serta pengawetan dan identifikasi ikan yang dilakukan pada bulan

September 2019. Sampel ikan di identifikasi di Laboratorium Zoologi STKIP PGRI

Sumatera Barat. Tahap kedua penelitian merupakan pengembangan produk

pembuatan bahan ajar atlas hasil penelitian, yang dilakukan pada bulan Oktober-

November 2019 yang dilakukan di kampus STKIP PGRI Sumatera Barat dan di

SMPN 1 V Kampung Dalam.

B. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jaring (seine net) kira-kira 8x2

m dengan mata jala berukuran 1cm, pancing, ember, plastik, karet gelang, senter, botol

koleksi, kertas label, jarum pentul, kamera digital, jangka sorong, lup, mikroskop,

thermometer, Ph meter, bola pimpong, tali raffia dan alat tulis.


Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel ikan, formalin 35-40% dengan

perbandingan 1:10%, dan alkohol 70%. Sedangkan bahan untuk mengukur kesadahan

air adalah MnSO4, KOH-KI, CaCO3, H2SO4, Na2S2O3, EDTA, indicator EBT, Buffer

Salmiak, NH4OH, HCL, aquades, amilum, kertas PH Universal dan spiritus.

Identifikasi mengacu pada buku sumber Kottelat dkk (1993) dan Weber dkk (1901-

1922).

C. Deskripsi Daerah Penelitian

Daerah Aliran Sungai Batang Anai sekitar pembuangan limbah pabrik Tepung

Kelapa terletak di, Kenagarian Ketaping, Kecamatan Batang Anai , Kabupaten Padang

Pariaman, Sungai Batang Anai merupakan sungai yang melintasi empat wilayah

administrative di provinsi Sumatera Barat, salah satunya adalah Kabupaten Padang

Pariaman, panjang Sungai Batang Anai sepanjang 46 Km dengan melintasi kecamatan

2X11 Kayutanam sampai ke kecamatan Batang Anai. Sungai Batang Anai terletak di

perbatasan antara Padang dengan Pariaman dan menuju jalan ke Bandara Internasional

Minangkabau (BIM).

Pada umumnya masyarakat di Kenagarian ketaping bermata pencaharian sebagai

nelayan dan penambang pasir,

D. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang dilakukan dengan 2

tahap, tahap pertama penelitian yaitu penelitian deskriptif dengan metode survey

langsung di lapangan, dan penelitian tahap kedua yaitu penelitian pengembangan

yang berupa pembuatan bahan ajar atlas pada sub materi adaptasi lingkungan.

E. Prosedur Kerja

1. Pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan bantuan nelayan, sebelum dilakukannya

pengambilan sampel ikan di lapangan, terlebih dahulu dilakukan survey lapangan

untuk mengetahui kondisi lapangan tempat dilakukan penelitian. Setelah itu

persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan di lapangan. Alat yang digunakan

dalam penelitian ini adalah jala (seine net) kira-kira panjang 2,1 m, pancing, ember,

plastik, karet gelang, senter, botol koleksi, kertas label, jarum pentul, kamera digital,

jangka sorong, lup, mikroskop, thermometer, Ph meter, bola pimpong, tali raffia dan

alat tulis.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel ikan, formalin 35-40% dengan

perbandingan 1:10%, dan alkohol 70%. Sedangkan bahan untuk mengukur kesadahan

air adalah MnSO4, KOH-KI, CaCO 3, H2SO4, Na2S2O3, EDTA, indicator EBT, Buffer

Salmiak, NH4OH, HCL, aquades, amilum, kertas PH Universal dan spiritus.

Identifikasi mengacu pada buku sumber Kottelat dkk (1993) dan Weber dkk (1901-

1922).

Penelitian dilakukan disekitar pembuangan limbah pabrik tepung kelapa dengan

metode survey deskriptif dengan cara koleksi langsung terhadap ikan yang ada di

lapangan secara random sampling. Pengambilan sampel dilakukan selama 7 hari disaat

cuaca cerah ataupun hujan setiap pagi pukul 08.00 - 12.00 WIB dan malam hari pukul

18.00-21.00 WIB disaat ikan aktif berkunjung.

2. Pengukuran Fisika dan Kimia Sungai

a) Pengukuran suhu

Pengukuran suhu air dengan menggunakan thermometer Hg dengan cara

mencelupkan thermometer tersebut pada permukaan perairan beberapa menit.

Setelah thermometer menunjukkan angka yang konstan, lalu catat angka yang

ditunjukkan (Suin dan Syafinah,2006).


b) Pengukuran Ph (Derajat Keasaman)

Derajat keasaman diukur dengan menggunakan Ph meter dengan mencelupkan

Ph meter ke dalam air beberapa menit kemudian di baca angka yang tertera (suin

dan syafinah, 2006). Pengukuran Ph dilakukan sebelum pengambilan sampel.

c) Salinitas

Salinitas air tanah memiliki peranan penting sebagai faktor penentu dalam

pengaturan kelangsungan kehidupan. Salinitas daratan dan air tanah dipengaruhi

sejumlah faktor seperti genangan pasang, topologi curah hujan, masuknya air

tawar dan sungai,run-off daratan evavorasi (Asorkoae;1993) Salinitas adalah

jumlah berat semua garam (dalam garam) yang terlarut dalam satu liter air yang

dinyatakan dengan satuan (ppt). Kisaran salinitas pada perairan Indonesia antara

30 - 35 ‰ (Nontji, 1993). Salinitas air akan meningkat jika pada siang hari cuaca

panas dan dalam keadaan pasang. Salinitas air tanah lebih rendah dari salinitas air

(Dedi, dkk., 2007).

d) Pengukuran Kecepatan Arus

Kecepatan arus di lakukan dengan bantuan benda yang mengapung dipermukaan

air seperti bola pimpong. Tentukan jarak antara dua titik sejauh 1m, kemudian

bola pimpong dijatuhkan pada titik pertama (A1) dan dibiarkan sampai ke titik

kedua (A2) serta di catat perjalanan bola pimpong menggunakan stopwatch.

Kecepatan di peroleh dengan jarak yang ditempuh dibagi dengan waktu yang

ditempuh (suin dan syafinah, 2006).

e) Oksien Terlarut (DO)

Pengukuran oksigen terlarut pada masing-masing stasiun dilakukan dengan

metode Rideal Stewart. Prosedur kerja metode ini adalah :


1) Sampel air di ambil dengan menggunakan botol ukuran150 ml dengan cara

memiringkan botol sehingga air masuk melalui sisi mulut botol dan jangan

sampai ada gelembung udara kemudian botol ditutup.

2) Kemudian botol dibuka dan ditambahkan 1-2 ml larutan MnSO 4 pekat dan 1-

2 ml larutan KOH-KI, botol ditutup dan dikocok perlahan sampai terlihat

endapan.

3) Selanjutnya botol dibuka dan ditambahkan 1-2 H 2SO4 pekat dan botol ditutup

kembali kemudian dikocok sampai Homogen sampai tidak terlihat lagi

endapan dan berwarna kuning 100 ml sampel air kemudian dimasukkan ke

dalam Erlenmeyer.

4) Berikutnya dilakukan titrasi dengan Na 2S2O3 sampai terlihat warna kuning

pucat.

5) Selanjutnya ditambahkan 1-3 tetes larutan amilun 1 % dalam sampel air dan

akan terlihat warna sampel air menjadi biru. Kemudian titrasi diteruskan

dengan Na2S2O3 sampai warna biru hilang

6) Volume titran yang di gunakan dicatat

7) Kadar Oksigen Terlarut dapat dihitung dengan rumus

DO (mg/l)= ml titrasi x N titrasi x 8 x 1000


ml sampel air

keterangan :
DO = Oksigen Terlarut (mg/l)
N = Normalitas larutan natrium thiosulfat (ck/L) (Suin, Syafinah 2006).

3. Di laboratorium

Sampel ikan yang di dapat untuk selanjutnya di bawa ke laboratorium Zoologi

STKIP PGRI Sumatera Barat untuk selanjutnya di identifikasi, dengan langkah

kerja identifikasi ikan di Laboratorium perhitungan karakteristik meristik meliputi


jumlah jari-jari (lunak dan keras) pada sirip dada, perut, anal dan ekor untuk

mendapatkan rumus sirip setiap jenis yang menggambarkan bentuk sirip.

Pengukuran karakter morfometrik meliputi pengukuran standar seperti: panjang

standar, panjang moncong, tinggi sirip punggung atau tinggi batang ekor.

Pengukuran karakter morfometrik dilakukan untuk mendapatkan rasio

perbandingan pada ukuran-ukuran tertentu, sampai perbandingan antara panjang

kepala dan panjang standar (Kottelat, 1993).

Gambar 1. Karakter morfologis yang diamati

Tabel 1. Karakter morfologis ikan tawes yang diukur

N Karakter Notasi Deskripsi


Morfologis
O
1 Panjang total TL Jarak antara ujung bagian kepala terdepan
(Total length) dengan
ujung sirip kaudal yang paling belakang.
2 Panjang baku SL Jarak antara ujung bagian kepala terdepan
(Standardlength). dengan
pelipatan pangkal sirip caudal.
3 Panjang HL Jarak antara ujung bagian kepala terdepan dari
kepala(Head hidung hingga ujung terbelakang dari keping tutup
length). insang.
4 Diameter mata ED Panjang garis tengah rongga mata.
(Eye diameter)
5 Panjang SnL Jarak awal mulut sampai ujung mulut.
moncong(snouth
length)
6 Panjang sirip PFL Jarak antara pangkal sirip hingga ujung terpanjang
dada dari
(Pectoral fin sirip pectoral.
length)
7 Panjang sirip VFL Jarak antara pangkal sirip hingga ujung terpanjang
perut dari
(Ventral fin sirip ventral.
length)
8 Panjang sirip AFL Jarak antara pangkal sirip hingga ujung terpanjang
anal dari
(Anal fin length) sirip anal.
9 Panjang batang CPL Jarak miring antara ujung dasar sirip anal dan
ekor pangkal jari jari tengah sirip caudal.
(Caudal
pundacle length)
10 Tinggi sirip DD arak dasar dari jari-jari sampai ujung jari-jari
dorsal terpanjang sirip dorsal.
(Dorsal depth)
11 Panjang dasar DBL Jarak antara pangkal jari-jari pertama dengan
sirip dorsal tempat selaput sirip di belakang jari-jari terakhir
(Dorsal base sirip dorsal bertemu dengan badan.
length)
12 Tinggi badan BD Diukur pada bagian ventral tertinggi antara
(Body depth) bagian
dorsal dengan ventral.
13 Tinggi batang CPD Diukur pada bagian batang ekor pada tempat yang
ekor terendah.
(Caudal
pundacle depth)
14 Tinggi kepala HD Diukur dari bagian kepala atas sampai kepala
(Head depth)
bawah.
Sumber:
F. Analisis Data

Data yang dikumpulkan untuk ikan-ikan sungai kemudian dianalisis

menggunakan metode pengukuran keanekaragaman jenis ikan meliputi kekayaan

jenis (species richness), indeks keanekaragaman jenis (diversity indecs), indeks

kemerataan (evenness indeces) dan dominasi.