Anda di halaman 1dari 146

Tax Fokus PPh Badan

“Rekonsiliasi Fiskal dan Praktik


Penyusunan SPT Badan”
Definisi PPh
Subjek Pajak Badan

• Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan


di Indonesia
• Bentuk Usaha Tetap (BUT) / Permanent
Establishment (PE)
Definisi Badan

• Sekumpulan orang/modal yang merupakan


kesatuan;
• Baik melakukan usaha atau tidak;
• PT, CV, BUMN/D, firma, kongsi, koperasi, dana
pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
ormas, organisasi sosial/politik, lembaga.
BENTUK USAHA TETAP
Pasal 2 ayat (5)

BENTUK USAHA YANG


DIGUNAKAN OLEH

ORANG PRIBADI BADAN


SEBAGAI SEBAGAI
SUBJEK PAJAK LN SUBJEK PAJAK LN

UNTUK MENJALANKAN USAHA ATAU


KEGIATAN DI INDONESIA
Definisi PPh Badan

Pajak yang dikenakan kepada


Wajib Pajak badan atas
penghasilan yang diterima
atau diperoleh dalam satu
tahun pajak.
Alur Pembuatan LK Fiskal
Skema Penghitungan Laba Fiskal WP Badan
Sistem Pelunasan Pajak

Sistem Pelunasan
Pajak

A B

Pelunasan Pajak Di Penghitungan Pajak


Tahun Berjalan Akhir Tahun

PPh terutang = B - A

WHT Kredit Pajak


Angsuran
(Pot/Put oleh Luar Negeri
Sendiri
pihak lain) (KPLN)
Rekonsiliasi Fiskal
Menghitung PPh WP Badan
1. Peredaran Usaha xxx
2. Harga Pokok Penjualan (xxx)
LK Komersial 3. Laba kotor xxx
[Ph neto 4. Biaya Usaha (xxx)
Komersial] 5. Penghasilan Neto dari Usaha xxx
6. Penghasilan Neto dari luar usaha xxx
7. Jumlah Penghasilan Neto Komersial xxx

8. Ph yang dikenai PPh Final dan Bukan Objek Pajak (xxx)


Fiskal Adjustment  9. Penyesuaian Fiskal Positif xxx
Ph neto Fiskal 10. Penyesuaian Fiskal Negatif (xxx)
11. Penghasilan Neto Fiskal xxx

12. Kompensasi Kerugian (xxx)


13. Penghasilan Kena Pajak xxx
Penghitungan PPh
14. Pajak Penghasilan Terutang xxx
KB/LB
15. Kredit Pajak (xxx)
16. PPh kurang (lebih) dibayar xxx
Penyesuaian Fiskal
Jenis Perbedaan

Penyesuaian fiskal dilakukan karena


adanya beda antara LK Komersial dan LK
Fiskal. Dilihat dari sifatnya, perbedaan
tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 Teknik Penyesuaian Fiskal
yaitu:
• Beda tetap Penyesuaian fiskal dilakukan dengan
• Beda waktu (temporary different) melakukan rekonsiliasi dan melakukan
koreksi atas penghasilan dan biaya
komersial.
Ada dua jenis koreksi (penyesuaian)
fiskal, yaitu:
• Koreksi Positif;
• Koreksi Negatif
PENYESUAIAN FISKAL:
BEDA TETAP

1. Menurut akuntasi komersial merupakan penghasilan, sedangkan


menurut ketentuan Pajak Penghasilan bukan penghasilan.
2. Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangakan
menurut ketentuan PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final.
Penghasilan ini dikenakan pajak tersendiri (final) sehingga dipisahkan
(tidak perlu digabung) dengan penghasilan lainnya dalam menghitung
PPh terutang.
3. Menurut akuntansi komersial merupakan beban (biaya) sedangkan
menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan sebagai pengurang
penghasilan bruto (Pasal 9 UU 17/2000).
PENYESUAIAN FISKAL:
BEDA SEMENTARA

Beda sementara merupakan perbedaan metode yang


digunakan antara akuntansi komersial dengan ketentuan
fiskal, misal:
a. Metode penyusutan,
b. Metode penilaian persediaan,
c. Penyisihan piutang tak tertagih,
Koreksi Positif - Ilustrasi Penghasilan

Uraian Komersial Koreksi Fiskal

Penghasilan 100 10 110

Biaya (60) (60)

Laba 40 50
note : Laba Fiskal NAIK dibanding laba komersial
Koreksi Negatif - Ilustrasi Penghasilan

Uraian Komersial Koreksi Fiskal

Penghasilan 100 (10) 90

Biaya (60) (60)

Laba 40 30
note : Laba Fiskal TURUN dibanding laba komersial
Koreksi Positif - Ilustrasi Biaya

Uraian Komersial Koreksi Fiskal

Penghasilan 100 100

Biaya (60) 15 (45)

Laba 40 55
note : Laba Fiskal NAIK dibanding laba komersial
Koreksi Negatif - Ilustrasi Biaya

Uraian Komersial Koreksi Fiskal

Penghasilan 100 100

Biaya (60) (15) (75)

Laba 40 25
note : Laba Fiskal TURUN dibanding laba komersial
Objek – Non Objek PPh
Objek PPh = Penghasilan

 Tambahan kemampuan ekonomis;


 Diterima (tunai) atau diperoleh (akrual);
 Dapat digunakan untuk Konsumsi;
 Menambah Kekayaan (saving);
 Dari Indonesia atau dari Luar Indonesia;
 Dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Macam Penghasilan
Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis, penghasilan
dapat dikelompokkan menjadi:
1. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan
bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter,
notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya;
2. Penghasilan dari usaha dan kegiatan;
3. Penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak
gerak seperti bunga, dividen, royalti, sewa, keuntungan penjualan harta
atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha, dan lain sebagainya;
4. Penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang, hadiah, dan lain
sebagainya.
Skema Penghasilan

Penghasilan

Objek PPh Non Objek PPh

Objek PPh Non Final Objek PPh Final

PPh Final  Dikenakan sekali, dan tidak dihitung lagi di akhir tahun dgn tarif
umum Psl 17 UU PPh;
PPh Non Final  Dikenakan lagi di akhir tahun dgn tarif Pasal 17 UU PPh;
PENGHASILAN OBJEK PAJAK [TAXABLE INCOME] Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan
Laba Usaha
Keuntungan karena Penjualan atau Pengalihan Harta
Penerimaan Kembali Pajak yang telah dibebankan sebagai biaya
Bunga
(Pasal 4 (1) UU PPh)

Dividen, SHU Koperasi


Royalti
Sewa
Penerimaan/perolehan berkala
Keuntungan selisih kurs
Keuntungan penilaian kembali aktiva
Premi asuransi
Iuran anggota perkumpulan WP yang menjalankan usaha/pek bebas
Tambahan kekayaan neto belum kena pajak
Penghasilan dari usaha berbasis syariah
Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam UU KUP
Surplus BI
HADIAH
Pasal 4 ayat (1) jo PER-11/PJ/2015

Jenis Objek Pajak Objek Tarif


a. Hadiah langsung Non OP -
b. Hadiah undian OP Final 25%
c. Hadiah atau penghargaan perlombaan dan Objek PPh Ps 21 PPh ps
atau hadiah sehubungan dengan kegiatan 17
oleh WP OP

d. Hadiah atau penghargaan perlombaan dan Objek PPh Ps 23 15%


atau hadiah sehubungan dengan kegiatan
oleh WP Badan

e. Hadiah/penghargaan yang diterima oleh Objek PPh Ps 26 20%


WPLN
KEUNTUNGAN KARENA PENJUALAN/PENGALIHAN HARTA
(Psl 4 ayat (1) huruf d UU PPh)

1 2 3 4

Adanya likuidasi,
Pengalihan Harta Pengalihan Harta penggabungan,
Pengalihan harta berupa
kepada perseroan, kepada pemegang peleburan, pemekaran,
hibah, bantuan, atau
persekutuan, dan saham, sekutu, atau pemecahan,
sumbangan
badan lainnya anggota pengambilalihan usaha,
atau reorganisasi

yang diperoleh yang diperoleh Kecuali diberikan kpd


sebagai pengganti
perseroan, perseroan, keluarga sedarah garis
saham atau
persekutuan, dan persekutuan, dan keturunan lurus satu
penyertaan modal
badan lainnya badan lainnya derajat dan badan
keagamaan, badan
pendidikan, badan sosial
Penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, 5
atau permodalan dalam perusahaan pertambangan
Keuntungan Pengalihan Harta

Jml yg seharusnya dikeluarkan/


Ada Hub Istimewa
diterima [Hrg Pasar wajar]
Jual Beli
Jml yg sesungguhnya dikeluarkan/
Tdk ada Hub Istimewa
diterima

Tukar
Jml yg seharusnya dikeluarkan/ diterima [Hrg Pasar wajar]
Menukar

Likuidasi,
Merger, Harga Pasar Wajar, kecuali ditetapkan lain oleh MenKeu.
Pemekaran

Ada Hub Istimewa Hrg Pasar wajar


Sumbangan,
hibah
Tdk ada Hub Istimewa Nilai Sisa Buku
Pengalihan Harta Kepada Pegawai
Pasal 3 PP No 94 Tahun 2010

“Dalam hal terjadi pengalihan harta perusahaan kepada


pegawainya, maka keuntungan berupa selisih antara
harga pasar harta tersebut dengan nilai sisa buku
merupakan penghasilan bagi perusahaan.”
Pengembalian Pajak
yang Sudah Dibebankan Sebagai Biaya [Psl 4 ayat (1) huruf e UU PPh]

Pengembalian pajak yang telah


dibebankan sebagai biaya pada saat
menghitung Penghasilan Kena Pajak
merupakan objek pajak.

Contoh:
PBB yang sudah dibayar dan dibebankan sebagai biaya, yang karena
sesuatu sebab dikembalikan, maka jumlah sebesar pengembalian tersebut
merupakan penghasilan.
Laba Rugi Selisih Kurs
Ps 4(1) huruf l & Ps 6 (1) huruf e jo. Ps 9 PP 94 Tahun 2010
Transaksi Dalam Mata Uang Asing

Pencatatan kurs tetap

 Laba rugi kurs hanya diakui


saat realisasi saja
 Laba rugi kurs akhir tahun
utk saldo pinjaman yang
belum direalisasi
(unrealized) belum diakui
 Di UU 36/2008 – tidak
diatur/diperkenankan lagi
Contoh
Transaksi Dalam Mata Uang Asing

15/01/2009 31/12/2009 31/12/2010


Pinjam Dana Tgl Pelunasan

Dilunasi USD 1.000.000


Jumlah pinjaman = Kurs Tengah BI yang
Kurs Tengah BI yang
USD 1.000.000 berlaku per
berlaku per
Kurs yang berlaku = 31/12/2009 adalah
31/12/2010 adalah
Rp10.000/USD Rp10.400/USD
Rp11.000/USD

Berapa laba-rugi Kurs untuk Tahun 2009 dan 2010 ?


Transaksi Dalam Mata Uang Asing
Kurs Tetap
Selisih
Tahun USD Kurs awal Kurs Akhir Laba/Rugi
Kurs
2009 1.000.000 10.000 10.000 0
2010 1.000.000 10.000 11.000 1.000 1.000.000.000
Jumlah 1.000.000.000

Kurs Tengah BI
Selisih
Tahun USD Kurs awal Kurs Akhir Laba/Rugi
Kurs
2009 1.000.000 10.000 10.400 400 400.000.000
2010 1.000.000 10.400 11.000 600 600.000.000
Jumlah 1.000.000.000
Imbalan Bunga
Psl 27A UU KUP jo. Psl 44 ayat (1), (2) & (3) PP 74/2011

Kelebihan pembayaran pajak berdasarkan SK Keberatan, Put Banding, atau Put Peninjauan
Kembali yang mengabulkan sebagian atau seluruhnya dikembalikan dengan ditambah
imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat)
bulan yang dihitung dari jumlah kelebihan pembayaran pajak dalam SK Keberatan, Put
Banding, atau Put Peninjauan Kembali.
Penghasilan Dikenai PPh Final
 Bunga Deposito (PP 131 Th 2000 stdtd PP No 123 Th 2015);
 Hadiah Undian (PP 132 Th 2000);
 Sewa Tanah dan Bangunan (PP 34 Th 2017);
 Penghasilan Jasa Konstruksi (PP 51 Th 2008 std PP 40/2009);
 Pengalihan Hak atas Tanah dan Bangunan (PP 34 th 2016);
 Bunga dan Diskonto Obligasi di Bursa (PP 16 Th 2009);
 Penjualan Saham di Bursa (PP 41 Th 1994 stdtd PP 14 Th 1997);
 WP yang memiliki omset/peredaran usaha dalam jumlah tertentu [PP No
23/2018];
 Penghasilan Tertentu Berupa Harta Bersih [PP 36 Tahun 2017]
 Usaha pengangkutan bagi Perusahaan Pelayaran (KMK 417/KMK.04/1996);
 Revaluasi aktiva tetap [PMK-79/PMK.03/2008];
 Dll.
NON OBJEK PPh
Pasal 4 ayat (3) UU PPh

Bantuan, sumbangan, zakat , hibah dgn syarat tertentu;


Warisan
Harta dan setoran tunai sebagai pengganti saham
Natura dan kenikmatan
Pembayaran manfaat asuransi kepada orang pribadi sehubungan asuransi KKJDB
Intercorporate dividen
Iuran yang diterima/diperoleh Dapen yg pendiriannya telah disahkan MenKue
Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh Dapen dlm bidang tertentu
Bagian laba dari CV, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi
Bagian laba modal ventura
Beasiswa dengan syarat tertentu
Sisa lebih yang diterima/diperoleh badan atau lembaga nirlaba di bidang
pendidikan dan/atau bidang penelitian & pengembangan
Bantuan/santunan yang dibayarkan oleh BPJS kepada WP tertentu
NON OBJEK PPh: Bantuan, Sumbangan, Zakat &
Sumbangan Keagamaan Bersifat Wajib [Psl 4 ayat (3) hrf a] UU PPh

Sumbangan Wajib
Zakat
Keagamaan

Bantuan, Yang diterima oleh Yang diterima oleh

Sumbangan Badan/Lembaga Amil Lembaga Keagamaan yg


Zakat yg dibentuk/ dibentuk/disahkan
disahkan pemerintah pemerintah

dan diterima oleh dan diterima oleh

Non Objek
Penerima zakat yang Penerima sumbangan
PPh berhak yang berhak
Non Objek PPh Non Objek PPh

“Sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di
antara pihak-pihak yang bersangkutan”
NON OBJEK: HIBAH
Pasal 4 ayat (3) huruf a UU PPh jo. PMK-245/PMK.03/2008

yang diterima oleh

Badan keagamaan, badan


Keluarga sedarah dalam Orang pribadi yang
pendidikan, badan sosial
garis keturunan lurus satu menjalankan usaha mikro dan
termasuk yayasan, dan
derajat, yaitu: orang tua dan kecil yang memiliki &
koperasi, yg tdk mencari
anak kandung menjalankan usaha produktif
keuntungan.

dgn kriteria:

 Memiliki kekayaan bersih


paling banyak Rp500 juta,
“sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, tidak termasuk tanah dan
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di bangunan tempat usaha;
atau
antara pihak-pihak yang bersangkutan”  memiliki hasil penjualan
tahunan paling banyak
Rp2.5 milyar.
Deductible Expense
Deductible Expense
Pasal 6 ayat (1) UU PPh

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara (3M) penghasilan,


termasuk :
1. biaya pembelian bahan;
2. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,
honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk
uang;
3. bunga, sewa, dan royalti;
4. biaya perjalanan;
5. biaya pengolahan limbah;
6. premi asuransi;
7. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan;
8. biaya administrasi; dan
9. pajak kecuali Pajak Penghasilan;
Deductible Expense
Pasal 6 ayat (1) UU PPh

b. Penyusutan dan amortisasi atas pengeluaran yang mempunyai masa manfaat


lebih dari 1 (satu) tahun. Sedangkan pengeluaran di muka, pembebanannya
dapat dilakukan melalui alokasi;
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri
Keuangan
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih
dan memelihara penghasilan;
e. Kerugian selisih kurs mata uang asing;

f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;

g. Baya beasiswa, magang, dan pelatihan;

h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat tertentu;


Deductible Expense
Pasal 6 ayat (1) UU PPh

i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang


ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di


Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan


Peraturan Pemerintah;

l. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan


Pemerintah;
Biaya Promosi
PMK-02/PMK.03/2010 jo. SE-9/PJ/2010

Biaya Promosi Biaya Promosi Biaya Promosi


Untuk Untuk
Bagian dari memperkenalkan/ mempertahankan
biaya penjualan menganjurkan dan/atau
pemakaian produk,
meningkatkan
Langsung atau tidak
penjualan
langsung
Biaya Promosi (2)
PMK-02/PMK.03/2010 jo. SE-9/PJ/2010

Besarnya Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan


bruto merupakan akumulasi dari jumlah:
1) biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau
media lainnya;
2) biaya pameran produk;
3) biaya pengenalan produk baru; dan/atau
4) biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk.

 WP wajib membuat daftar nominatif yang paling sedikit harus


memuat data penerima berupa nama, NPWP, alamat, tanggal,
bentuk dan jenis biaya, besarnya biaya, nomor bukti
pemotongan dan besarnya PPh yang dipotong;
 Daftar nominatif dilaporkan sebagai lampiran saat WP
menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan.
Contoh Daftar Nominatif
Biaya Promosi
DAFTAR NOMINATIF BIAYA PROMOSI
Nama Wajib Pajak : PT BERKAH SELALU
NPWP : 01.234.567-8.333.000
Alamat : GD. MENARA BERKAH, JAKARTA SELATAN
Tahun Pajak : 2015
Data Penerima Pemotongan PPh
No. Bentuk & Jenis
Nama NPWP Alamat Tanggal Jumlah (Rp) Keterangan Jumlah (Rp) No. Bukti Potong
Biaya
1 PT JCC 01.333.222-5.444.000 Jakarta 05/01/2015 Sewa booth 50.000.000 Pameran produk 5.000.000 01/PPh4(2)/2015
2 PT Cetak Brosur01.333.444-5.444.000 Jakarta 05/09/2015 Biaya Cetak 20.000.000 Cetak brosur 400.000 02/PPh23/2015
3
4
5
6
7
8
9
10
dst

Jakarta, 20 April 2015

Nama Wajib Pajak


Piutang Tak Tertagih
PMK-105/PMK.03/2009 stdd PMK-57/PMK.03/2010 stdd PMK-207/PMK.010/2015

Syarat pembebanan biaya:

a. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;

b. WP harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih


kepada DJP; dan

c. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut :

1) Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi


pemerintah yang menangani piutang negara;
2) Terdapat perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang
antara kreditur dan debitur atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih
tersebut,
3) Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus, atau
4) Adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah
utang tertentu.
Syarat Pembiayaan Sumbangan

Tidak diberikan kepada pihak yang memiliki


PP No. 93 Tahun 2010 jo. PMK 76/PMK.03/2011

hubungan istimewa

Sumbangan infrastruktur sosial max 5% x


Ph neto fiskal tahun lalu

Lembaga penerima sumbangan mrp instansi


berwenang, punya NPWP, kecuali non subjek
pajak

Didukung oleh bukti yang sah

Pemberian sumbangan tidak


mengakibatkan kerugian

Pemberi sumbangan memiliki ph neto


fiskal, untuk tahun pajak sebelumnya
BIAYA ENTERTAINMENT
SE-27/PJ.22/1986
Dapat dikurangkan sebagai biaya
dengan syarat:

 Benar-benar dikeluarkan & ada hubungannya dengan


kegiatan usaha wajib pajak
 Dibuatkan daftar nominatif dan dilampirkan dalam SPT
Tahunan PPh.

Contoh
DAFTAR NOMINATIF BIAYA ENTERTAINMENT DAN SEJENISNYA
TAHUN PAJAK: 2015
Pemberian Entertainment & Sejenisnya Relasi Usaha Yang Diberikan Entertainment & Sejenisnya
No. Keterangan
Tanggal Jenis Tempat Alamat Jumlah (Rp) Nama Posisi Nama Perusahaan Jenis Usaha
1 02/10/2015 Jamuan Restoran Enak Jl. Kuliner, Jakarta 2.000.000 Tomi Aja, Ir, Direktur PT Gak Takut Rugi Kontraktor Negosiasi Kontrak
makan MBA pembangunan
malam Gedung Kantor
2
Biaya Bunga
01 Bunga Pinjaman untuk pembelian saham

02 Bunga yang dibayarkan ke pemegang saham

03 Bunga dalam masa konstruksi

Biaya bunga pinjaman dalam hal WP memperoleh


04 penghasilan berupa deposito atau tabungan
lainnya.
01 Bunga Pinjaman untuk pembelian saham

Biaya bunga atas pinjaman yang digunakan untuk membeli saham tidak dapat
diperlakukan sebagai biaya apabila dividen yang diterima bukan merupakan objek
pajak. Biaya bunga tersebut dapat dikapitalisasikan pada harga perolehan saham.

Contoh :
PT ABC meminjam sejumlah dana dari PT Bank Duit sebesar Rp4.000.000.000 dengan
tingkat bunga sebesar 20% per tahun. Pinjaman tersebut dipergunakan untuk membeli
seluruh saham PT XYZ.

Atas biaya bunga bank sebesar Rp4.000.000.000 X 20% = Rp80.000.000 tidak dapat menjadi
pengurang penghasilan bruto, tetapi dikapitalisasi pada nilai saham, sehingga nilai saham
menjadi Rp4.000.000.000 + Rp80.000.000 = Rp4.080.000.000,-.
02 Biaya Bunga Kepada Pemegang Saham

Contoh :
PT SAYA membayarkan bunga sebesar Rp30.000.000 kepada PT ANDA yang merupakan salah satu pemegang
saham. Bunga pinjaman tersebut dihitung dengan tingkat bunga sebesar 30% per tahun, sementara tingkat
bunga yang wajar adalah 20%.

Besarnya bunga yang boleh dibebankan sebagai biaya dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak
adalah sebesar Rp20.000.000. Sedangkan selisih sebesar Rp10.000.000 harus dilakukan koreksi positif.
Bunga dalam masa konstruksi
03 SE – 22/PJ.42/1999

Biaya bunga dikapitalisir,


Pembebanan melalui
biaya penyusutan
Terkait pembangunan aset tetap,
Masa manfaat > 1 th

Biaya bunga dikapitalisir,


tidak dapat dibebankan
sebagai biaya penyusutan
Terkait pembelian tanah
Biaya Bunga atas Pinjaman untuk Deposito/Tabungan
Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE - 46/PJ.4/1995

Rata-rata Pinjaman Rata-rata Pinjaman


=< >
Rata-rata Rata-rata
Deposito/Tabungan Deposito/Tabungan

Biaya Bunga DE atas


Biaya Bunga NDE sebesar selisih lebih rata-
rata pinjaman.

Biaya bunga dapat dibebankan seluruhnya dalam hal:

 Dana pinjaman ditempatkan dalam rekening giro


 Ketentuan mengharuskan dana pinjaman ditempatkan di deposito/tabungan; dan
 Saldo deposito/tabungan dananya berasal dari tambahan modal/sisa laba
Bunga Pinjaman SE - 46/PJ.4/1995

Tingkat Bunga Pinjaman x [Rata2 Pinjaman – Rata2 Deposito]


Contoh 1:
Pada tahun 2009 PT ABC mendapat pinjaman dari pihak ketiga dengan batas maksimum sebesar
Rp200.000.000,00 dan tingkat bunga pinjaman 20%. Dari jumlah tersebut telah diambil pada bulan Pebruari
sebesar Rp125.000.000,00, pada bulan Juni diambil lagi sebesar Rp25.000.000,00 dan sisanya
(Rp50.000.000,00) diambil pada bulan Agustus.
Di samping itu Wajib Pajak mempunyai dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito dengan perincian sebagai
berikut:
- Bulan Pebruari s/d Maret sebesar Rp 25.000.000,00
- Bulan April s/d Agustus sebesar Rp 46.000.000,00
- Bulan September s/d Desember sebesar Rp 50.000.000,00

Dengan demikian bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah sebagai berikut:

Rata-rata pinjaman Pinjaman Jangka Waktu


Bulan Januari Rp 0 1 bulan = Rp 0
bulan Pebruari s/d Maret Rp 125.000.000,00 4 bulan = Rp 500.000.000,00
bulan Juni s/d Juli Rp 150.000.000,00 2 bulan = Rp 300.000.000,00
bulan Agustus s/d Desember Rp 200.000.000,00 5 bulan = Rp 1.000.000.000,00
Jumlah Rp 1.800.000.000,00
Rata-rata pinjaman per bulan Rp1.800.000.000,00: 12 = Rp150.000.000,00
Rata-rata Deposito Pinjaman Jangka Waktu
Bulan Januari Rp 0 1 bulan = Rp 0
bulan Pebruari s/d Maret Rp 25.000.000,00 2 bulan = Rp 50.000.000,00
bulan April s/d Agustus Rp 46.000.000,00 5 bulan = Rp 230.000.000,00
bulan September s/d Desember Rp 50.000.000,00 4 bulan = Rp 200.000.000,00
Jumlah Rp 480.000.000,00

Rata-rata deposito per bulan = Rp480.000.000,00 : 12 = Rp40.000.000,00


Bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya =
20% x (Rp150.000.000,00 - Rp40.000.000,00) = Rp22.000.000,00
Biaya Pajak
Ps 10 PP Nomor 94 Tahun 2010, SE-02/PJ.42/2002

Biaya pajak kecuali PPh boleh menjadi


pengurang penghasilan bruto (DE);

PPh boleh dibiayakan apabila ditambahkan


sebagai DPP (gross up);

Pembiayaan PM yang tidak dapat


dikreditkan: Sudah dibayar dan terkait 3M;

Pembiayaan Pajak daerah dan retribusi daerah:


diatur dalam UU PDRD dan terkait 3M
Biaya Penelitian
KMK-769/KMK.04/1990 jo. SE - 22/PJ.31/1990

Syarat:
Penelitian dilakukan di Indonesia;
Dalam jumlah yang wajar.
Beasiswa
PMK-246/PMK.03/2008 stdd PMK-154/PMK.03/2009
Non Deductible Expense
Non Deductible Expense
Pasal 9 ayat (1) UU PPh

a) pembagian laba dengan nama apapun;


b) biaya utk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota;
c) Pembentukan/pemupukan cadangan;
d) Premi asuransi KKJDB yang dibayar oleh orang pribadi;
e) Pemberian dalam bentuk natura/kenikmatan sehubungan dengan pekerjaan atau
jasa;
f) jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau
pihak yang memiliki hubungan istimewa;
g) hibah, bantuan, sumbangan, kec. Zakat;
h) pajak penghasilan;
i) pengeluaran utk kepentingan pribadi WP;
j) gaji kepada anggota persekutuan, firma, cv;
k) sanksi perpajakan;
Natura & Kenikmatan
Pasal 9 ayat (1) huruf e jo PMK No 83/PMK.03/2009

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan


pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk
natura dan kenikmatan - NDE

Penyediaan makan dan minum untuk seluruh pegawai;


Pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja;
Antar jemput pegawai. [DE]
Penyusutan/Amortisasi Fiskal
Penyusutan Fiskal

Akuntansi:
Fiskal
- Metode: Boleh Memilih
- Metode: SL/GL - SM
- Fixed Asset: All Depr.
- Fixed Asset: 3M
- n bulan: Dibulatkan ke atas
- n bulan: Dibulatkan ke atas
atau ke bawah
- Masa Manfaat: ditetapkan
- Masa Manfaat: justifikasi
- Materialitas: Tdk dikenal
- Materialitas
- Residual Value: Tdk ada
- Residual Value
PENYUSUTAN
Pasal 11 ayat (1), (2) dan (7)

HARTA BERWUJUD

BANGUNAN SELAIN BANGUNAN USAHA TERTENTU

METODE SALDO MENURUN


METODE PADA AKHIR MASA MANFAAT DITETAPKAN
GARIS LURUS DISUSUTKAN SEKALIGUS MENTERI KEUANGAN
(CLOSED ENDED)

Misalnya KMK No. 521/KMK.04/2000 untuk KBH dengan PERTAMINA

KECUALI : TANAH YANG BERSTATUS HAK MILIK, HGU DAN HGB DAN HAK PAKAI
SAAT MULAI PENYUSUTAN
Pasal 11 ayat (3),(4) dan (5)

PADA BULAN PENGELUARAN PADA BULAN HARTA


KECUALI : MULAI DIGUNAKAN/
HARTA YG MASIH DLM MENGHASILKAN
PROSES PENGERJAAN, DENGAN
PADA BULAN SELESAINYA PERSETUJUAN
PENGERJAAN DIRJEN PAJAK

DASAR PENYUSUTAN BAGI WP YG MELAKUKAN


PENILAIAN KEMBALI AKTIVA SESUAI PASAL 19

NILAI SETELAH DILAKUKAN


PENILAIAN KEMBALI AKTIVA
Ilustrasi Awal Penyusutan
Contoh 1
Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung adalah sebesar Rp
100.000.000,00. Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2017 dan
selesai untuk digunakan pada bulan Maret 2018. Penyusutan atas
harga perolehan bangunan gedung tersebut dimulai pada bulan Maret
tahun pajak 2018.

Contoh 2
Contoh 2:
PT X yang bergerak di bidang perkebunan membeli traktor pada tahun
2017. Perkebunan tersebut mulai menghasilkan (panen) pada tahun
2018. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, penyusutan traktor
tersebut dapat dilakukan mulai tahun 2018.
Ilustrasi Awal Penyusutan
PT ABC membeli komputer pada tanggal 31 Desember 2017
maka:
 Penyusutan fiskal dimulai pada bulan Desember 2017 (1
bulan)
 Beban Penyusutan fiskal tahun 2017 = 1/12 X Rp…

Atas komputer yang dibeli diatas, PT ABC menjual kembali


pada tanggal 31 Desember 2018:
Beban penyusutan komputer secara fiskal pada tahun
2018 hanya dihitung 11 bulan  11/12 x Rp ….
Dari sisi Pembeli, menghitung penyusutan fiskal
komputer 1 bulan = 1/12 x Rp….
Tarif Penyusutan

Tarif Penyusutan
Kelompok Harta Berwujud/ Tidak Masa
Berwujud Manfaat Saldo
Garis Lurus
Menurun

1. Bukan Bangunan dan Harta


Tidak Berwujud
Kelompok 1 4 thn 25 % 50 %
Kelompok 2 8 thn 12,5 % 25 %
Kelompok 3 16 thn 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 thn 5% 10 %

1. Bangunan
Permanen 20 thn 5% Tidak ada
Tidak Permanen 10 thn 10 % Tidak ada

Kelompok harta berwujud bukan bangunan diatur dalam PMK 96/PMK.03/2009


Contoh Penghitungan Penyusutan (GL dan SM)

Contoh penggunaan metode garis lurus:


Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan masa manfaatnya
20 (dua puluh) tahun, penyusutannya setiap tahun adalah sebesar Rp 50.000.000,00 (Rp 1.000.000.000,00
: 20).

Contoh penggunaan metode saldo menurun:


Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2017 dengan harga perolehan sebesar Rp
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). Masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4 (empat)
tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima puluh persen), penghitungan penyusutannya
adalah sebagai berikut:
Harga Perolehan 150.000.000,00
Tahun Tarif Penyusutan Nilai Sisa Buku
2017 50% 75.000.000,00 75.000.000,00
2018 50% 37.500.000,00 37.500.000,00
2019 50% 18.750.000,00 18.750.000,00
2020 Disusutkan 18.750.000,00 0
sekaligus
Metode Penyusutan
Metode Garis Lurus / Straight-Line Method (SLM)

Materi Menurut Akuntansi Menurut Perpajakan (Fiskal)


Beban Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai Residu = Harga Perolehan
Per Tahun Estimasi Masa Manfaat Masa Manfaat Sesuai
Kelompok Harta

Contoh:  Beban Penyusutan Per Tahun Komputer [Kelompok Harta I]


Komputer, = Rp 6,5 juta – Rp 0.5 juta Masa Manfaat 4 tahun
Harga Perolehan = 3 tahun Beban Penyusutan/Thn
6,5 juta, estimasi = Rp 2.000.000 = Rp 6,5 juta
nilai residu Rp 0.5 4 tahun
juta, = Rp 1.630.000
estimasi masa
manfaat 3 tahun KOREKSI
FISKAL +
Metode Penyusutan
Metode Saldo Menurun / Declining Balance Method (DBM)

Materi Menurut Akuntansi Menurut Perpajakan (Fiskal)


Beban Penyusutan = Tarif Penyusutan x Nilai Buku = Tarif Penyusutan x Nilai Buku
Per Tahun Aktiva Tetap Aktiva Tetap
= Tarif Penyusutan x (Harga = Tarif Penyusutan x (Harga
Perolehan – Akumulasi Perolehan – Akumulasi
Penyusutan) Penyusutan)
Contoh:  Tarif Penyusutan = 2/3 Komputer Kelompok Harta I
Komputer,  Beban Penyusutan Tahun-1 Masa Manfaat 4 tahun  Tarif
Harga Perolehan = = (2/3) x Rp 6 juta Penyusutan = 50%
6 juta, estimasi Beban Penyusutan Tahun-1
= Rp 4.000.000
nilai residu Rp 0.5 = 50% X Rp 6 juta
juta, = Rp 3.000.000
estimasi masa KOREKSI
manfaat 3 tahun FISKAL +
ILUSTRASI PENYUSUTAN DENGAN METODE SALDO MENURUN

Pada tanggal 5 Juli 2018 PT ABC membeli sepeda motor untuk operasional kantor seharga
Rp12.000.000. Menurut akuntansi, estimasi masa maanfaat menurut manajemen 5 tahun dan
disusutkan dengan metode garis lurus. Untuk perpajakan, WP menyusutkan dengan metode
saldo menurun.

Harga Nilai Buku


Tahun Perhitungan Peny. Beban Akumulasi
Perolehan Akhir
Fiskal Penyusutan Peny.
Tahun
2018 12.000.000 6/12 x 50% x Rp12.000.000 3.000.000 3.000.000 9.000.000
2019 12.000.000 50% x Rp9.000.000 4.500.000 7.500.000 4.500.000
2020 12.000.000 50% x Rp 4.500.000 2.250.000 9.750.000 2.250.000
2021 12.000.000 50% x Rp 2.250.000 1.125.000 10.875.000 1.125.000
2022 12.000.000 SEKALIGUS 1.125.000 12.000.000 -

PERHITUNGAN PENYUSUTAN FISKAL


ILUSTRASI PENYUSUTAN DENGAN METODE GARIS
LURUS - AKUNTANSI

Harga Perhitungan Penyusutan Beban Akumulasi Nilai Buku Akhir


Tahun
Perolehan Akuntansi Peny. Peny. Tahun

2018 12.000.000 6/12 x 1/5 x Rp 12.000.000 1.200.000 1.200.000 10.800.000

2019 12.000.000 1/5 x Rp 12.000.000 2.400.000 3.600.000 8.400.000

2020 12.000.000 1/5 x Rp 12.000.000 2.400.000 6.000.000 6.000.000

2021 12.000.000 1/5 x Rp 12.000.000 2.400.000 8.400.000 3.600.000

2022 12.000.000 1/5 x Rp 12.000.000 2.400.000 10.800.000 1.200.000

2023 12.000.000 6/12 x 1/5 x Rp 12.000.000 1.200.000 12.000.000 -

PERHITUNGAN PENYUSUTAN SECARA AKUNTANSI


KOREKSI FISKAL ATAS PERHITUNGAN BEBAN PENYUSUTAN
Pada tanggal 5 Juli 2018 PT ABC membeli sepeda motor untuk operasional kantor seharga
Rp12.000.000. Menurut akuntansi, estimasi masa maanfaat menurut manajemen 5 tahun
dan disusutkan dengan metode garis lurus. Untuk perpajakan, WP menyusutkan dengan
metode saldo menurun.

Tahun Beban Penyusutan Koreksi Fiskal


Akuntansi Fiskal Jumlah Akumulasi
2018 1.200.000 3.000.000 (1.800.000) (1.800.000)
2019 2.400.000 4.500.000 (2.100.000) (3.900.000)

2020 2.400.000 2.250.000 150.000 (3.750.000)

2021 2.400.000 1.125.000 1.275.000 (2.475.000)

2022 2.400.000 1.125.000 1.275.000 (1.200.000)

2023 1.200.000 - 1.200.000 -

KOREKSI FISKAL
PENGALIHAN HARTA BERWUJUD
Pasal 11 ayat (8) dan (9)

PENJUALAN ATAU PENGALIHAN HARTA SESUAI PSL 4 Ayat (1) Huruf d


ATAU PENARIKAN HARTA KARENA SEBAB LAINNYA

JUMLAH JUMLAH
NILAI SISA BUKU HARGA JUAL
DIBEBANKAN ATAU PENGGANTIAN
ASURANSI
SEBAGAI DIBUKUKAN
KERUGIAN SEBAGAI PENGHASILAN

PADA TAHUN TERJADINYA PENGALIHAN


ATAU PENARIKAN HARTA

KERUGIAN SEBESAR NILAI SISA BUKU HARTA


KARENA PENGGANTIAN ASURANSI
YG JUMLAHNYA BARU DAPAT DIKETAHUI DI MASA KEMUDIAN

DIBUKUKAN SBG BEBAN MASA KEMUDIAN


DENGAN PERSETUJUAN DIRJEN PAJAK
Perlakuan Khusus Penyusutan Fiskal
Aktiva perusahaan yang merupakan fasilitas bagi karyawan
KEP-220/PJ/2002

Kelompok Biaya
Aktiva Pembebanan
Penyusutan maintenance

Bus Kelompok 2 By perawatan, Seluruhnya


Karyawan BBM 100%

Sedan/ Kendaraan Kelompok 2 By perawatan, 50%


Dinas Pegawai By sewa
tertentu kendaraan, BBM,

Telepon Kelompok 1 By perawatan, 50%


Seluler pulsa
Perlakuan Khusus Amortisasi Fiskal
Software Komputer (KEP-316/PJ./2002)

Aplikasi umum:
 Bila perolehannya menyatu dgn komputer & disusutkan
masuk ke kelompok I .
 Bila hanya software dibebankan sekaligus.

Aplikasi Khusus:
 Biaya perolehannya diamortisasi masuk ke
kelompok I .
 Biaya upgrade manambah NSBF.
Menghitung Kompensasi Rugi
Kompensasi Kerugian
-------[Tax Loss Carry Forward]

Pasal 6 ayat (2) UU PPh:


“Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) didapat kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan
dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai
dengan 5 (lima) tahun.”
Contoh Penghitungan Kompensasi Rugi
PT ABC dalam tahun 2008 menderita kerugian fiskal sebesar Rp1.200.000.000,-. Dalam 5 (lima)
tahun berikutnya rugi laba fiskal PT ABC adalah sebagai berikut:
Tahun 2009, laba fiskal = Rp 200.000.000,-
Tahun 2010, rugi fiskal = (Rp 300.000.000,-)
Tahun 2011, laba fiskal = NIHIL
Tahun 2012, laba fiskal = Rp 100.000.000,-
Tahun 2013, laba fiskal = Rp 800.000.000,-

Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut:


Rugi fiskal tahun 2008 =( Rp 1.200.000.000,-)
Laba fiskal tahun 2009 = Rp 200.000.000,- (+)
Sisa rugi fiskal tahun 2008 =( Rp 1.000.000.000,-)
Rugi fiskal tahun 2010 = Rp 300.000.000,- (+)
Sisa rugi fiskal tahun 2008 =( Rp 1.000.000.000,-)
Laba fiskal tahun 2011 = NIHIL
Sisa rugi fiskal tahun 2008 =( Rp 1.000.000.000,-)
Laba fiskal tahun 2012 = Rp 100.000.000,- (+)
Sisa rugi fiskal tahun 2008 =( Rp 900.000.000,-)
Laba fiskal tahun 2013 = Rp 800.000.000,-
Sisa rugi fiskal tahun 2008 =( Rp 100.000.000,-)
Penyajian Kompensasi Rugi di SPT
Rupiah Kompensasi kerugian fiskal
Tahun Tahun
laba/ (rugi) 2009 2010 2011 2012 2013
berikutnya

2008 (1.200.000.000,-) 200.000.000,- 100.000.000,- 800.000.000,-

2009 200.000.000,-

2010 (300.000.000,-) 300.000.000,-

2011 0,-

2012 100.000.000,-

2013 800.000.000,-

Sisa hak kompensasi


200.000.000,- --- --- 100.000.000,- 800.000.000,- 300.000.000,-
tahun berikutnya

Rugi fiskal tahun 2008 sebesar Rp100.000.000,00 yang masih tersisa pada akhir tahun 2013
tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun 2014, karena jangka waktu 5 tahun
yang dimulai sejak tahun 2011 berakhir pada akhir tahun 2013. sedangkan rugi fiskal tahun
2010 sebesar Rp300.000.000,00 hanya boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2014
dan 2015.
Tarif Penghitungan PPh Badan
Tarif PPh WP Badan

Tanpa fasilitas Tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 25%


# Peredaran Usaha > 50 M

Fasilitas Tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 24%


# WP PT di mana min 40% saham yang
disetor, diperdagangkan di BEI

Tarif Pasal 31 E UU PPh sebesar 12,5%


# Peredaran bruto sd Rp50 M;

PP No. 23 Tahun 2018 sebesar 0,5%


# Peredaran usaha < =4,8 M dan memilih
tarif 0,5%
Tarif Penghitungan PPh WP Badan
Fasilitas Pasal 31 E

Peredaran
Bruto

PPh 4,8 M
> 4,8 M sd 50 M 1 = x PKP X 25% x 50%
Fasilitas
omset

PPh non 4,8 M


2 = PKP  x PKP X 25%
fasilitas
omset

PPh Terutang = 1 + 2
Contoh:
Peredaran bruto dari kegiatan usaha PT X dalam tahun pajak 2010 sebesar
Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah) dengan Penghasilan Kena Pajak
sebesar Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Penghitungan PPh yang
terutang:

1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas:
Rp 4.800.000.000,00 x Rp3.000.000.000,00 = Rp 480.000.000,00
Rp30.000.000.000,00

2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh
fasilitas:
Rp3.000.000.000,00 - Rp480.000.000,00 = Rp2.520.000.000,00

3. PPh terutang:
- (50% x 25%) x Rp480.000.000,00 = Rp 67.200.000,00
- 25% x Rp2.520.000.000,00 = Rp 705.600.000,00
---------------------------- (+)
Jumlah PPh yang terutang = Rp 772.800.000,00
Kredit Pajak
Kredit Pajak
PPh yang
PPH disetor sendiri
PASAL di tahun
25
berjalan;
PPh yang di PPH
luar negeri PASAL
24

PPH PPh yang


PASAL dipotong/dipu
22/23 ngut pihak lain
PELUNASAN PPh DALAM TAHUN BERJALAN
Pasal 20 ayat (1), (2) dan (3)

 PEMOTONGAN DAN - DILAKUKAN SETIAP BULAN, ATAU


- MASA LAIN YANG DITETAPKAN
PEMUNGUTAN PAJAK OLEH OLEH MENTERI KEUANGAN
PIHAK LAIN (PPh Psl
21,22,23,24)
 PEMBAYARAN OLEH WAJIB MERUPAKAN ANGSURAN PAJAK YANG
BOLEH DIKREDITKAN TERHADAP PPh
PAJAK SENDIRI (PPh Pasal 25 YANG TERUTANG UNTUK TAHUN PAJAK YBS
termasuk Pokok Pajak dalam KECUALI PEMBAYARAN PPh YANG
STP PPh Pasal 25) BERSIFAT FINAL
PPh Pasal 24:
KREDIT PAJAK LUAR NEGERI
 Pengkreditan PPh yang terutang/dibayar di luar negeri terhadap PPh yang terutang di
Indonesia adalah mana yang lebih kecil antara jumlah yang sebenarnya atau jumlah
tertentu yang dihitung berdasarkan formula sebagai berikut:

Jumlah penghasilan dari LN


------------------------------------- x Total PPh terutang
Penghasilan Kena Pajak

 Dalam hal penghasilan yang diterima/diperoleh di luar negeri berasal dari beberapa
negara, maka penghitungan kredit pajak berdasarkan formula tersebut dilakukan untuk
masing-masing negara (ordinary credit per country basis). Penghasilan Kena Pajak
dalam formula tersebut tidak termasuk pajak yang bersifat final sebagaimana
dimaksud Pasal 4 ayat (2), Pasal 8 ayat (1) dan ayat (4) UU PPh.
Angsuran PPh Pasal 25

Terbit Hal WP
Umum
SKP Tertentu Lainnya
PPh Pasal 25 Utk WP Umum
(Pasal 25 (1) UU PPh)

Untuk bulan sebelum lapor


PPh 25 setiap bulan SPT, sebelum batas waktu
pelaporan

Sama dengan angsuran


bulan Terakhir tahun
PPh Kurang Bayar* pajak lalu
12 atau banyaknya bulan dalam
bagian tahun pajak

•PPh Kurang Bayar = PPh Terutang Dikurangi Kredit Pajak Pasal 21/22/23/24
Angsuran 25 Jika WP Diterbitkan SKP
untuk Tahun Pajak Lalu

PPh 25 dihitung kembali berdasarkan SKP tersebut


dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan
penerbitan SKP.
Angsuran PPh 25 dalam
Hal-Hal Tertentu (KEP-537/PJ/2000)

WP berhak atas WP memperoleh WP terlambat lapor SPT


kompensasi kerugian; penghasilan tidak teratur; tahun lalu

WP membetulkan SPT PPh


sehingga angsuran
WP mendapat ijin WP mengalami perubahan
bulanan lebih besar dari
perpanjangan lapor SPT; usaha/kegiatan
angsuran bulanan
sebelum pembetulan; dan
1. WP Berhak Kompensasi Kerugian

Kompensasi kerugian = sesuai fiskal*

* SPT Tahunan, SKP, SK Keberatan, atau Putusan Banding

Rumus penghitungan sama dengan cara umum

Dasar hitung PPh =


ph neto sesuai SPT tahun lalu – kompensasi rugi

Jika dasar penghitungan rugi (LB atau nihil),


PPh Pasal 25 = Nihil
2. WP Mendapatkan Ph Tidak Teratur

1 Mrp penghasilan yang lazimnya diterima/diperoleh


secara berkala min sekali dalam setiap tahun pajak

2
keuntungan selisih kurs utang/piutang dan
keuntungan dari pengalihan harta (capital gain),
tidak termasuk ph tidak teratur

3
Cara penghitungan PPh 25 sama dengan
penghitungan PPh 25 secara umum

Dasar penghitungan adalah ph neto menurut SPT

4 Tahunan PPh tahun pajak yang lalu minus


penghasilan tidak teratur yang dilaporkan di SPT
Tahunan PPh tersebut.
3. WP Terlambat Lapor SPT Tahun Lalu

PPh 25 untuk bulan-bulan


keterlambatan pelaporan adalah sama
dengan besarnya PPh 25 bulan terakhir
Setelah WP menyampaikan SPT Tahunan
tahun pajak yang lalu dan bersifat
PPh, besarnya PPh 25 dihitung kembali
sementara.
berdasarkan SPT tersebut dan berlaku
surut mulai bulan batas waktu
penyampaian SPT Tahunan.
4. WP Dapat Ijin Perpanjangan Lapor SPT

PPH Sesuai SPT


PASAL 25
sebelum Tahunan
lapor SPT sementara
real

PPH
PASAL 25 Dihitung
setelah kembali,
lapor SPT
Real berlaku surut
5. WP Membetulkan SPT

Besarnya PPh 25 dihitung kembali berdasarkan SPT


Tahunan Pembetulan dan berlaku surut mulai bulan
batas waktu penyampaian SPT Tahunan.
6. WP Mengalami Perubahan Kegiatan Usaha
(penurunan)

 Jika dalam > 3 (tiga) bulan atau lebih dalam suatu th pajak

 PPh yang akan terutang untuk tahun pajak tersebut kurang dari 75% (tujuh
puluh lima persen) dari PPh yang terutang yang menjadi dasar
penghitungan besarnya PPh 25

 WP dapat mengajukan permohonan pengurangan besarnya PPh 25 pada


Kepala KPP.
6. WP Mengalami Perubahan Kegiatan Usaha
(kenaikan)

PPh yang akan PPh yang terutang


Jika dalam tahun PPh 25 dihitung
terutang yang menjadi dasar
berjalan usaha WP ulang oleh WP atau
meningkat > 150% penghitungan PPh
meningkat Kepala KPP
dari 25
Angsuran PPh 25 Lainnya
(PMK No. 255/PMK.03/2008 std PMK 208/PMK.03/2009)

WP yang WP Orang Pribadi


Untuk WP Baru membuat Laporan Pengusaha
Keuangan Berkala Tertentu
WP Baru
• Pengertian WP Baru:
WP Pribadi dan Badan yang baru pertama kali memperoleh penghasilan
dari usaha/pekerjaan bebas dalam tahun pajak berjalan.

• PPh 25:
– PPh terutang dibagi 12
– PPh terutang: Ph Neto Sebulan Disetahunkan X Tarif PPh
– Jika WP adalah pribadi, penghitungan PPh terutang tetap memperhitungkan
PTKP
– Ph Neto: sesuai pembukuan atau menggunakan norma

• PPh 25 WP Badan baru dengan LK Berkala:


 PPh terutang dibagi 12
 PPh terutang = Tarif umum PPh x Proyeksi laba-rugi fiskal pada laporan berkala pertama yang
disetahunkan
WP Bank dan SGU Hak Opsi

PPh terutang* – PPh 24


12

* Dihitung dari Tarif Umum PPh X Laba-rugi fiskal menurut laporan


keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan
WP BUMN/BUMD
(Selain Bank dan Leasing Hak Opsi)

PPh terutang* – PPh 22/23/24


12
* Dihitung dari Tarif Umum PPh X laba-rugi fiskal menurut Rencana Kerja dan
Anggaran Pendapatan (RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah disahkan
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS);
* Jika RKAP belum disahkan, maka Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum bulan
pengesahan adalah sama dengan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan
terakhir tahun pajak sebelumnya.
WP Masuk Bursa dan WP Wajib LK
Berkala Lainnya

PPh terutang* – PPh 22/23/24


12
* Dihitung dari Tarif Umum PPh X laba-rugi fiskal menurut Rencana Kerja dan
Anggaran Pendapatan (RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah
disahkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS);
* Jika RKAP belum disahkan, maka Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum bulan
pengesahan adalah sama dengan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan
terakhir tahun pajak sebelumnya.
Perbandingan Utang dan Modal
PMK No: 169/PMK.010/2015
Dasar Hukum
KMK- PMK-
1002/KMK.04/1984 169/PMK.010/2015
Ttg Penentuan ttg Penentuan Besarnya
Perbandingan Antara KMK- Perbandingan antara
Hutang dan Modal 254/KMK.01/1985 Utang dan Modal
Sendiri Untuk Ttg Penundaan Perusahaan untuk
Keperluan Pengenaan Keperluan Penghitungan
Pelaksanaan KMK-
PPh. PPh
1002/KMK.04/198 DER 4 : 1
DER  3 : 1 Memperhitungkan
Mengecualikan Utang Dagang yang
Hutang Dagang dibebani bunga

Berlaku 8 Oktober Berlaku surut 8 Berlaku 9 Sept 2015 utk thn


pjk 2016 Mencabut
1984 Oktober 1984 ketentuan sebelumnya
Penentuan Besarnya PerbandinganAntara
Utang dan Modal Perusahaan

UTANG 4 1 MODAL

Saldo rata-rata utang pada satu tahun Saldo rata-rata modal pada satu tahun
pajak/bagian tahun pajak  dihitung pajak/bagian tahun Pajak  dihitung
berdasarkan rata-rata saldo utang tiap berdasarkan rata-rata saldo modal tiap akhir
akhir bulan pada tahun pajak/bagian bulan pada tahun pajak/bagian tahun pajak
ybs
tahun pajak ybs

Saldo utang : Saldo modal :


saldo utang jangka panjang & jangka pendek ekuitas (standar akuntansi keuangan yang berlaku)
(termasuk saldo utang dagang yang dibebani bunga) & pinjaman tanpa bunga dari pihak yang memiliki
hubungan istimewa
Perbandingan Utang dan Modal
Menurut Pajak

4 : 1
DER - Tidak Sesuai

Biaya Pinjaman dikoreksi sebesar perbandingan utang


dengan modal yang diperbolehkan
Biaya Pinjaman Yang DE
Biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena
pajak (DE):
 Biaya pinjaman sebesar DER (4:1)
 Sesuai Pasal 6 & 9 UU PPh
 Sesuai prinsip kewajaran dan kelaziman usaha Pasal 18 ayat (3) UU PPh (untuk
hubungan istimewa)

Dalam hal saldo ekuitas nol/negatif, seluruh biaya pinjaman NDE

Biaya Pinjaman
biaya yang ditanggung sehubungan dengan peminjaman dana yang meliputi:
1. Bunga pinjaman;
2. Diskonto dan premium yang terkait dengan pinjaman;
3. Biaya tambahan yang terjadi yang terkait dengan perolehan pinjaman (arrangement of borrowings);
4. Beban keuangan dalam sewa pembiayaan;
5. Biaya imbalan karena jaminan pengembalian utang; dan
6. Selisih kurs yang berasal dari pinjaman dalam mata uang asing sepanjang selisih kurs tersebut sebagai
penyesuaian terhadap biaya bunga dan biaya angka 2-6.
Ketentuan Khusus Terkait
WP Migas dan Pertambangan

WP Terikat kontrak bagi hasil, kontrak karya, atau perjanjian


kerjasama pengusahaan pertambangan

Ada perjanjian Tidak Ada perjanjian


DER DER

Ikut DER di kontrak


DER = 4 : 1
Sd masa kontrak
Pengecualian WP
1. WP Bank;
Sesuai pengertian UU Bank dan Bank Indonesia.
2. WP lembaga pembiayaan;
Badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau
barang modal sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan mengenai
lembaga pembiayaan.
3. WP asuransi dan reasuransi;
Perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan perusahaan
reasuransi syariah yang menjalankan usaha asuransi dan/atau reasuransi sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundang-undangan mengenai perasuransian.
4. WP pertambangan migas, pertambangan umum, dan pertambangan lainnya yang terikat
kontrak bagi hasil, kontrak karya, atau perjanjian kerjasama perusahaan pertambangan,
dan dalam kontrak atau perjanjian dimaksud mengatur atau mencantumkan ketentuan
mengenai batasan perbandingan antara utang dan modal; dan
5. Wajib Pajak seluruh penghasilannya dikenai PPh Final;
6. Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang infrastruktur.
Utang Swasta Luar Negeri

1 Wajib dilaporkan oleh WP ke DJP

2 Jika tidak dilaporkan, biaya pinjaman dikoreksi


positif seluruhnya

3 Tata cara pelaporan, sesuai PER-DJP


Rekonsiliasi/
Ekualisasi Fiskal
Rekonsiliasi
• Merekonsiliasi adalah mencocokkan dua sumber yang terpisah
mengenai hal yang sama, dan kalau terdapat perbedaan, perbedaan
tersebut harus dapat dijelaskan;
• Misalnya, merekonsiliasi perkiraan piutang dengan tambahannya,
atau saldo dalam buku bank dengan saldo menurut R/K bank (bank
statement) atau keuntungan dalam perhitungan laba rugi menurut
prinsip Akuntansi Indonesia dan yang dibuat berdasarkan peraturan
perpajakan.
• Dalam penghitungan PPh Badan terutang, rekonsiliasi dapat berupa:
 Rekonsiliasi Laba Komersial Vs Laba Fiskal
 Rekonsiliasi Kewajiban PPh Badan Vs Kewajiban Pajak Lainnya
Review - Rekonsiliasi Fiskal

Uraian Komersial Koreksi Fiskal

Penghasilan 1. Bukan Objek 1. Bukan Objek Dikenai Trf Umum


2. Dikenai PPh Fnl 2. Dikenai PPh
3. Dkni Trf Umum Fnl

Biaya 1. Hub. Bkn Objek; 1. Hub. Bkn Objek Hub. Trf Umum
2. Hub. PPh Fnl; 2. Hub. PPh Fnl sifat deductible
3. Hub. Trf Umum. 3. Hub. Trf Umum exp.
sifat non
deductible exp.
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (1)
Peredaran Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
1. Potongan Penjualan
Realisasi   -
Penyisihan  - Temporer
2. Retur Penjualan
Realisasi   -
Penyisihan  - Temporer
3. Penghasilan Jasa Konstruksi Pendapatan PPh Final Tetap
4. Penghasilan Perusahaan Pelayaran DN Pendapatan PPh Final (1,2% x peredaran) Tetap

5. Penghasilan Perusahaan Pelayaran/Penerbangan LN Pendapatan PPh Final (2,64% x peredaran) Tetap

6. Penghasilan BUT Perwakilan Dagang Asing Pendapatan PPh Final (0,44 x ekspor) Tetap

7. Penghasilan penyalur /agen BBM, BBG, dan pelumas Pendapatan PPh Final (0,25% / 0,3%) Tetap
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (2)
Harga Pokok Penjualan

Perkiraan Akuntansi Pajak Beda


Penilaian Persediaan
Harga Perolehan   -
COMWIL  - Temporer
Persentase Laba Bruto  - Temporer
Harga Eceran  - Temporer
Metode Persedian
FIFO   -
Rata-rata   -
LIFO  - Temporer
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (3)
Penghasilan Luar Usaha

Perkiraan Akuntansi Pajak Beda


1. Deviden dari Penyertaan DN (minimal Pendapatan Bukan Obyek Pajak Tetap
25% dan berasal dari Laba Ditahan)
2. Bunga Deposito dan Tabungan Pendapatan PPh Final (20%) Tetap
(termasuk Jasa Giro dan SBI)
3. Keuntungan Penjualan Saham di Bursa Pendapatan PPh Final Tetap
Efek Indonesia (0,1% x H Jual
4. Keuntungan pengalihan tanah dan Pendapatan PPh Final (2.5%) Tetap
bangunan:
5. Penghasilan Sewa Pendapatan PPh Final (10%) Tetap
6. Penghasilan dari Hadiah atas Undian Pendapatan PPh Final (25%) Tetap
7. Bunga Obligasi dan Diskonto Obligasi Pendapatan PPh Final (15%) Tetap
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (4)
Beban Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
1. Biaya mendapatkan, Menagih dan Memelihara
Penghasilan (3M) yang Merupakan Objek Pajak
a Realisasi   -
b Penyisihan  - Temporer
2. Biaya mendapatkan, menagih dan memelihara Biaya NDE Tetap
penghasilan (3M) yang bukan merupakan Obyek Pajak
3. PPh Pasal 21 Pegawai
a Tunjangan Pajak Biaya DE -
b Pajak Ditanggung Perusahaan Biaya NDE Tetap
4. Pemberian Imbalan dalam Bentuk Natura /Kenikmatan
a Umum Biaya NDE Tetap
b Makan minum di tempat kerja Biaya DE -
c Berkaitan dengan keharusan dan keselamatan kerja Biaya DE -
d Di Daerah Terpencil Biaya DE -
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (5)
Beban Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
5. Sumbangan
a Sumbangan korban bencana, litbang, fasilitas pendidikan Biaya DE -
pembinaan olahraga, pembangunan infrastruktur sosial yang
memenuhi syarat

b Sumbangan yang tidak memenuhi syarat Biaya NDE Tetap


6. Pajak Masukan yang Dibiayakan
a Seluruh Syaratnya terpenuhi Biaya DE -
b Syarat tidak terpenuhi Biaya NDE Tetap
7. Beban Entertainment
a Terdapat daftar nominatif Biaya DE -
b Tidak terapat daftar nominatif Biaya NDE Tetap
8. Beban Promosi
a Terdapat daftar nominatif Biaya DE -
b Tidak terdapat daftar nominatif Biaya NDE Tetap
c Biaya yang tidak terkait langsung dengan promosi Biaya NDE Tetap
d Biaya promosi atas penghasilan yang bukan objek Biaya NDE Tetap
pajak/dikenai PPh Final
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (6)
Beban Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
9. Iuran kepada Dana Pensiun Dibayarkan
Perusahaan
a Pendirian Dapen Disyahkan Menkeu Biaya DE -
b Pendirian Dapen Belum Disyahkan Menkeu Biaya NDE Tetap
10. Kerugian Selisih Kurs
a Tidak terkait langsung dengan usaha yang Biaya DE -
bulan objek pajak/dikenai PPh Final
b Terkait langsung dengan usaha yang bulan Biaya NDE Tetap
objek pajak/dikenai PPh Final
11. Kerugian Penjualan/Pengalihan Aset
a Dimiliki & digunakan dalam perusahaan Biaya DE -
/dimiliki dalam rangka 3M
b Dimiliki tapi tidak digunakan dalam Biaya NDE Tetap
perusahaan /dimiliki tidak dalam rangka 3M
c Aset yang terkait langsung dengan usaha Biaya NDE Tetap
yang bulan objek pajak/dikenai PPh Final
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (7)
Beban Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
12. Biaya Litbang di Indonesia
a Masa manfaat > 1 tahun Biaya DE -
disusutkan/diamortisasi
b Masa manfaat < 1 tahun dibiayakan di tahun Biaya DE -
berjalan
c Selain a dan b, perlakuan pajaknya disesuaikan Biaya DE -
dengan SAK
13. Beasiswa
a Tidak terdapat hubungan istimewa antara Biaya DE -
pemberi dan penerima
b Terdapat hubungan istimewa antara pemberi Biaya NDE Tetap
dan penerima
14. Piutang Tak Tertagih
a Seluruh persyaratan terpenuhi Biaya DE -
b Terdapat persyaratan yang tidak terpenuhi Biaya NDE Tetap
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (8)
Beban Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
15. Biaya Penyusutan/Amortisasi
a Metode penghitungan penyusutan/amortisasi sesuai Biaya DE -
UU PPh
b Terdapat perbedaan metode penghitungan Biaya NDE Temporer
penyusutan/amortisasi

c Terdapat perbedaan penentuan umur ekonomis aset Biaya NDE Temporer


16. Beban Kendaraan
a Kendaraan untuk antar jemput pegawai, tidak Biaya DE -
dibawa pulang
b Beban penyusutan & pemeliharaan Kendaraan sedan Biaya DE: 50% -
(atau sejenisnya termasuk minibus) untuk pegawai NDE: 50% Tetap
tertentu yang dibawa pulang
17. Biaya Telekomunikasi
a PSTN Biaya DE -
b Langganan internet kantor Biaya DE -
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (9)
Beban Usaha
Perkiraan Akuntansi Pajak Beda
17. Biaya Telekomunikasi
c Penyusutan HP, langganan selular, isi ulang pulsa, Biaya DE: 50% -
perbaikan HP NDE: 50% Tetap
d Langganan selular, isi ulang pulsa, perbaikan HP Biaya NDE Tetap
milik pegawai (natura)

e Tunjangan komunikasi Biaya DE -


18. Beban Kendaraan
a Kendaraan untuk antar jemput pegawai, tidak Biaya DE -
dibawa pulang
b Beban penyusutan & pemeliharaan Kendaraan Biaya DE: 50% -
sedan (atau sejenisnya termasuk minibus) untuk NDE: 50%
pegawai tertentu yang dibawa pulang Tetap
c Tunjangan Kendaraan Pegawai Biaya DE -
19. Beban Sewa
a Sewa kendaraan untuk pegawai tertentu Biaya DE: 50% -
NDE: 50% Tetap
b Sewa rumah untu k pegawai tertentu Biaya NDE Tetap
Jenis – Jenis Koreksi Fiskal (10)
Beban Usaha

Perkiraan Akuntansi Pajak Beda


20. SGU dengan Hak Opsi
a Penyusutan aset SGU Biaya NDE Temporer
b Bunga SBU Biaya NDE Temporer
c Pembayara SGU (pokok plus bunga) Bukan Biaya DE Temporer
21. Biaya Pengobatan
a Penggantian uang pengobatan Biaya DE -
b Tunjangan pengobatan Biaya DE -
c Pengobatan cuma-cuma Biaya NDE Tetap
22. Beban Lain-lain
a Dirinci dan terkait dengan 3M Biaya DE -
b Tidak dirinci Biaya NDE Tetap
Rekonsiliasi/Ekualisasi
PPh Badan Dengan Pajak Lainnya

1 PPh Badan Dengan


PPh Pasal 21

PPh Badan Dengan


PPN
3
2 PPh Badan Dengan
WHT Lainnya
Rekonsiliasi PPh Badan
1 Dengan PPh Pasal 21
Biaya Pegawai dan Aspek Pajaknya
Pegawai Perusahaan
No Akun objek PPh Pasal 21 Keterangan
(PPh Ps 21) (PPh Badan)
1. Gaji, Bonus, Lembur, Insentif dsb TI DE
2. Honorarium, upah, uang saku dan TI DE
sejenisnya
3. Tunjangan yang diberikan dalam bentuk TI DE
uang
4. Tunjangan PPh Pasal 21 TI DE
5. Pesangon TI DE (PP 68/2009)
6. Premi Jamsostek JKK/JKM, asuransi TI DE
kesehatan, kecelakaan, kematian, beasiswa
dan asuransi dwiguna yang ditanggung
pemberi kerja
7. Pemberian natura/kenikmatan NTI NDE Kecuali yang diatur khusus
8. PPh Pasal 21 ditanggung perusahaan NTI NDE
9. Iuran dana pensiun yang ditanggung NTI DE Dana Pensiun telah disahkan
perusahaan oleh Menteri Keuangan
10. JHT yang ditanggung perusahaan (3,7%) NTI DE
11. JKK, JKM dan JPK yang ditanggung TI DE
perusahaan
12. Pemberian natura/kenikmatan di daerah NTI DE PMK-83/PMK.03/2009;
terpencil PER-51/PJ./2009
Pegawai Perusahaan
No Akun objek PPh Pasal 21 Keterangan
(PPh Ps 21) (PPh Badan)
13. Pemberian makanan & minuman kepada NTI DE PMK-83/PMK.03/2009;
seluruh karyawan di tempat kerja PER-51/PJ./2009
14. Biaya antar jemput pegawai NTI DE PER-51/PJ./2009
15. Biaya perjalanan dinas TI DE Jika lump sum, maka
seluruhnya objek PPh Pasal
21
16. Imbalan jasa profesional dan jasa-jasa TI DE
lainnya
17. Tantiem TI NDE SE-16/PJ.44/1992 & SE-
11/PJ.42/1992
18. Bonus, gratifikasi, jasa produksi yang TI NDE SE-16/PJ.44/1992 & SE-
dibebankan ke Laba Ditahan 11/PJ.42/1992
19 Natura dan kenikmatan oleh WP yang TI NDE
dikenai PPh Final atau WP yang
menghitung pajaknya deemed profit
dan/atau deemed tax.
20. Kendaraan dinas yang digunakan untuk NTI DE (50%) KEP-220/PJ./2002
pegawai tertentu
21. Akun piutang atau biaya yang dibayar di TI DE (bertahap)
muka yang berkaitan dengan Obyek PPh
Pasal 21
22. Biaya Beasiswa (tidak ada hubungan NTI DE PMK-246/PMK.03/2008 jo
istimewa PMK-154/PMK.03/2009
Step Rekonsiliasi PPh Pasal 21

Objek WHT di LK < dari SPT, 6


cek dokumen penghitungan
WHT, dan cek lagi LK
5
Objek WHT di LK > dari SPT,
cek bukti pendukung
Identifikasi perbedaan,
beri catatan 4
Bandingkan temuan objek

3
WHT di LK dengan SPT WHT
Catat dan kalkulasi objek
WHT
2 Identifikasi akun objek WHT
yang ada di LK

1
REKONSILIASI PPh 21:
Faktor Yang Menyebabkan Timbulnya Perbedaan

Biaya bukan objek PPh Pasal 21 Perbedaan tahun pengakuan


seperti JHT, natura/kenikmatan biaya dan pemotongan

Selisih kurs pencatatan pada


Keterlambatan pemotongan (berbeda tahun pembukuan dan pemotongan
pembebanan/pembayaran dan pemotongan) PPh Pasal 21

Pembayaran jasa untuk kelompok bukan


Biaya Dinas Pegawai yang pegawai hanya dikenai dari nilai jasa (tdk
sifatnya bukan lumpsum. termasuk materialnya).
Contoh Format Sederhana Rekonsiliasi SPT
PPh 21 dan PPh Badan
Biaya gaji dll cfm. SPT Tahunan PPh Badan xxxxxxxx
Penghasilan bruto cfm. SPT Masa PPh Pasal 21/26
Januari xxxxxxxx
…… xxxxxxxx
Desember xxxxxxxx
Total penghasilan bruto xxxxxxxx
Selisih xxxxxxxx
Natura, kenikmatan xxxxxxxx
JHT xxxxxxxx
Selisih kurs xxxxxxxx
Total xxxxxxxx
Rekonsiliasi PPh Badan
2 Dengan PPh WHT Lainnya
Step Rekonsiliasi PPh WHT Lainnya

Penuhi syarat terkait,


misal DGT Form

Identifikasi perbedaan, cek


Kontrak/perjanjian

Bandingkan hasil Rekap objek PPh


Pasal 23/26 di SPT masa dengan di LK

Rekap objek PPh Pasal 23/26 di


SPT masa PPh Pasal 23/26

Break down objek PPh 23/26 di di LK WP


REKONSILIASI PPh 23/26/Final 4 ayat (2):
Faktor Yang Menyebabkan Timbulnya Perbedaan

1. Biaya bukan objek PPh 23: material, imbalan gaji pegawai


outsourcing, reimbursement dari pemberi jasa;
2. Bukan Objek Pajak  menurut Tax treaty karena hak pemajakan
bukan di negara sumber;
3. Perbedaan tahun pengakuan biaya dan pemotongan;
4. Keterlambatan pemotongan (berbeda tahun
pembebanan/pembayaran dan pemotongan);
5. Selisih kurs pencatatan pada pembukuan dan pemotongan PPh Pasal
WHT
Rekonsiliasi PPh WHT Lainnya
Penyebab Timbulnya Perbedaan

Biaya bukan objek PPh 23

Bukan Objek Pajak  Faktor Treaty

Beda th pengakuan biaya & pemotongan

Keterlambatan pemotongan

Selisih Kurs
Contoh Format Rekonsiliasi PPh WHT
Biaya imbalan jasa, sewa, bunga,& royalti , dividen cfm SPT PPh xxxxxxxx
Badan
Penghasilan bruto cfm. SPT Masa PPh Pasal 23/26; 4 Ayat (2); 15
Januari xxxxxxxx
…… xxxxxxxx
Desember xxxxxxxx
Total penghasilan bruto xxxxxxxx
Selisih xxxxxxxx
Pembelian material xxxxxxxx
Pembayaran gaji pegawai outsourcing xxxxxxxx
Bukan objek cfm. Tax Treaty xxxxxxxx
Selisih kurs xxxxxxxx
Total xxxxxxxx
Rekonsiliasi PPh Badan
3 Dengan PPN
Rekonsiliasi Penghasilan dan Objek PPN
LAMPIRAN - I

TAHUN PAJAK
FORMULIR

1771 - I SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN


2 0 A A
KEMENTERIAN KEUANGAN RI
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO FISKAL
IDENTITAS

NPWP :

NAMA WAJIB PAJAK :

PERIODE PEMBUKUAN : s.d.

NO URAIAN RUPIAH
(1) (2) (3)
1. PENGHASILAN NETO KOMERSIAL DALAM NEGERI :

1a
a. PEREDARAN USAHA …………..……………………………...…………...…………...…………...……………...…...…………………………
Ø

1b
b. HARGA POKOK PENJUALAN …………...…………...…………...…………...…………...…………...…………...…………...…………...…….
Ø

1c
c. BIAYA USAHA LAINNYA .…………...…………....…………...…………....…………...…………....…………...…………....…………...……
Ø

1d
d. PENGHASILAN NETO DARI USAHA ( 1a - 1b - 1c ) ..…………...………….....…………...………….....…………...………….....…………...….
Ø

1e
e. PENGHASILAN DARI LUAR USAHA .…………...…………....…………...…………....…………...…………....…………...………………….
Ø

1f
f. BIAYA DARI LUAR USAHA .…………...…………....…………...…………....…………...…………....…………...…………....…………...……
Ø

1g
g. PENGHASILAN NETO DARI LUAR USAHA ( 1e - 1f )..…….………….....…………...…...………..…….....…....…………...……….
Ø
REKONSILIASI Penghasilan PPh Badan vs DPP PPN

Penyebab selisih antara lain:


1. Penghasilan PPh Badan bukan objek PPN
2. DPP PPN tidak termasuk penghasilan PPh Badan :
• Penyerahan antar cabang, pusat-cabang
• Pemakaian sendiri/pemberian cuma-cuma
• Pengalihan/penjualan aktiva (Pasal 16D UU PPN)
• Ekspor (perawatan di luar negeri dan pengembalian peralatan
sewa)
3. Beda waktu penerbitan Faktur Pajak & pengakuan Nota Retur/Nota
Pembatalan
4. Selisih kurs pencatatan pada pembukuan & penerbitan Faktur Pajak
5. Pembayaran uang muka
Contoh Format Sederhana Rekon PPh - PPN
Penghasilan cfm. SPT Tahunan PPh Badan xxxxxx

Penyerahan (lokal & Ekspor) menurut SPT Masa PPN

- Januari xxxx
- Februari xxxx
- dst xxxx
- …. xxxx
- Desember xxxx
Total Penyerahan xxxxxx

Selisih vvvvvv
- Bukan Objek PPN + xxxx
- Penyerahan antar cabang (xxxx)
- Pemakaian sendiri (xxxx)
- Pemberian Cuma-Cuma (xxxx)
- Pengalihan aktiva (xxxx)
- Penjualan thn lalu - FP terbit tahun ini *) (xxxx)
- Penjualan thn ini - FP terbit tahun berikutnya *) xxxx
- Selisih Kurs xxxx
- Pengembalian tahun lalu - NR tahun ini**) xxxx
- Pengembalian tahun ini - NR tahun berikutnya**) xxxx

Total vvvvvv
Selisih -
Rekonsiliasi Antara Obyek PPh Pasal 26 Dengan
PPN atas JKP/BKP Tidak Berwujud dari Luar Negeri

Hal-hal yang harus diperhatikan :

1. Tidak semua obyek PPh Pasal 26 merupakan objek PPN (misalnya:


bunga)

2. Tidak semua obyek PPN atas JKP dari luar negeri merupakan
objek PPh Pasal 26 (misalnya; karena ada Tax Treaty, di mana
dalam Tax Treaty tersebut mengatur bahwa imbalan jasa tersebut
tidak dipotong PPh Pasal 26)
Rekonsiliasi Antara Obyek PPh Pasal 26 Dengan PPN
atas JKP/BKP Tidak Berwujud dari Luar Negeri

Obyek PPh Obyek PPN


No Nama Keterangan
Pasal 26 Jasa LN
1 Royalti  
2 Bunga (non Pemerintah)  --
3 Dividen  --
4 Jasa tidak memenuhi P3B  
Memenuhi syarat
Jasa < Time Test, memenuhi
5 --  Administratif DGT, tidak
ketentuan P3B
ada BUT
Contoh Format REKONSILIASI PPh 26 vs PPN

Objek PPN JLN/BKPTW confirm SPT Masa PPN xxxx

Penghasilan bruto cfm SPT Masa PPh Pasal 26


- Januari xxxx
- dst… xxxx
- Desember xxxx
Total Ph Bruto xxxx

Selisih:
- Jasa yang tdk terutang PPh 26 xxxx
- Non Objek PPN: xxxx
- Bunga xxxx
- Dividen xxxx
- Selisih kurs xxxx
Total xxxx