Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLID


PERCOBAAN V
KRIM ASAM FUSIDAT

Disusun oleh:
Aldi Egiawan (10060315094)
Fitria Sir M. (10060315095)
Monica Yuni Andini (10060315096)
Iit Siti Lestari (10060315097)
Ulfah Mujahidah (10060315098)
Anna Raudoh (10060315099)
Geugeu Muginastiti (10060315100)

Shift/Kelompok : B/2
Tanggal Praktikum : 23 Oktober 2017
Tanggal Penyerahan : 30 Oktober 2017
Asisten : Mira Melinda N., S. Farm.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT E


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2017 M/1438 H
PERCOBAAN V
KRIM ASAM FUSIDAT

I. TEORI DASAR
1.1 Definisi Krim
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam dasar yang sesuai. Sediaan
setengah padat ini mempunyai konsistensi realtif cair diformulasikan sebagai
emulsi air dalam minyak aatu minyak dalam air. Sekarang ini bataras tersebut
lebih diarahkan unutuk produk yang tersiri dari emulsi minyak dalam air yang
dapat dicuci dengan air (Ditjen POM, 1995).
Bagimanapun juga, baru-baru ini istilah krim terbatas untuk sediaan yang
terdiri dari emulsi minyak dalam air, dispersi larutan mikrokristal dari asam lemak
rantai panjang, atau alkohol yang dapat dicuci dengan air dan lebih dapat diterima
pada sediaan kosmetik dan aestetik. Baru-baru ini Bushe et al. (6) mengusulkan
untuk memberikan definisi sediaan krim adalah sediaan emulsi semisolid yang
mengandung air kurang dari 20% dan zat menguap dan atau kurang dari 50% dari
hidrokarbon, wax, atau polietilen glikol sebagai zat pembawa (basis) (Katdare dan
Chaubal, 2006).
Krim secara umum digunakan untuk bahan aktif seperti antifungi,
antibakteri, dan anti-inflamasi yang melintasi stratum corneum atau mucosa
vagina untuk efek sistemik atau lokal. Pada umumnya, semua sediaankrim
mengandung fase minyak terdispersi, fasa air yang berkelanjutan, zat tambahan
pembentuk yang memberikan sifat semisolid, pengawetdan beberapa eksipien
lainnya (emolien, antioksidan dll) (Katdare dan Chaubal, 2006).
Stabilitas krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh
perubahan suhu dan perubahan komposisi (adanya penambahan salah satu fase
secara berlebihan). Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika sesuai
pengenceran yang cocok, yang harus dilakukan dengan teknik aseptis. Krim yang
sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu 1 (satu) bulan (Syamsuni, 2006).
1.2 Penggolongan Krim
a. Tipe a /m, yaitu air tedispersi dalam minyak. Contohnya, cold
cream. Cold cream adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk
memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih,
berwarna putih, dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral
oil dalam jumlah besar.
b. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air. Contohnya,
Vanishing cream. Vanishing cream adalah sediaan kosmetik yang
digunakan untuk membersihkan, melembabkan, dan sebagai alas bedak.
Vanishing cream sebagai pelembab (mousturizing) akan meeninggalkan
lapisan berminyak/film pada kulit (Widodo, 2013).

1.3 Kualitas Dasar Krim


Kualitas dasar krim adalah:
a. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka salep harus bebas dari
inkompabilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada di dalam
kamar.
b. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi
lunak dan homogen, sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi.
c. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit seperti krim.
d. Terdistribusi merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar salep padat
atau cair pada pengobatan (Anief, 1994).

1.4 Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Krim


Kelebihan sediaan krim diantaranya:
a. Mudah menyebar rata;
b. Praktis;
c. Mudah dibersihkan atau dicuci;
d. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
e. Tidak lengket, terutama tipe m/a (Widodo, 2013).
Kekurangan sediaan krim diantaranya:
a. Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan krim harus dalam keadaan
panas;
b. Gampang pecah, karena dalam pembuatan, formula tidak pas; serta
c. Mudah kering dan rusak, khususnya tipe a/m, karena terganggunya sistem
campuran, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi
yang diakibatkan oleh penambahan salah satu fase secara berlebihan (Widodo,
2013).

1.5 Bahan Pengawet untuk Sediaan Krim


Kehadiran air dalam krim membutuhkan penggunaan bahan pengawet
untuk mengurangi pertumbuhan bakteri. Selain pengamanan terhadap kontaminasi
selama pembuatan dan kemaannya, sebagian besar formulasi krim adalah produk
dosis ganda yang dikemas dalam tabung dan membutuhkan prngamanan untuk
memerangi organisme yang mungkin bersetuhan dan mencemari produk sebagai
akibat penggunaan berulang selama terapi. Tiga kriteria yang dianggap paling
penting untuk seleksi pengawet:
a. Pengawet sistem harus menunjukan aktivitas antimikroba yang dibutuhkan
dalam formulasi yang diajukan selama masa simpan produk;
b. Sistem pengawet tidak boleh beracun, non-iritan dan tidak membuat sensitif
bagian yang diaplikasikan
c. Harus cocok dengan produk (terutama pH) dan kemasan.
Pengawet yang sering digunakan pada formulasi krim adalah benzyl
alkohol, propilparaben, metilparaben, klorokresol, imidazolin urea (Germaben),
dan natirum benzoat (Katdare dan Chaubal, 2006).

1.6 Zat Tambahan Umum Lainnya


1. 6. 1. Antioksidan
Antioksidan sering digunakan untuk mengurangi oksidasi dari zat aktif
dan tambahan pada krim. Banyak tipe antioksidan umum yang telah dikenali.
Tabel 1 mengenai daftar masing-masing kelas antioksidan dan antioksidan yang
paling umum digunakan dalam krim farmasetikal.
Tipe antioksidan Mekanisme Kerja Paling umum digunakan

True antioxidant Tipe ini diperkirakan Butylated hidroxyaniole


mem-block reaksi rantai (BHA), butylated
oleh reaksi dengan radikal hidroxytoluene (BHT)
bebas

Agen pereduksi Tipe ini mempunyai Asam askorbat (vitamin


potensi reduksi-oksidasi c)
yang lebih rendah dari
obat atau zat tambahan
yang tipe ini lindungi

Antioksidan Tipe ini meningkatkan Asam edetat, natirum


sinergis efek dari antioksidan edetat

(Katdare dan Chaubal, 2006).

1. 6. 2. Emolien
Emolien sering ditambahkan pada formulasi krim untuk memodifikasi
karakteristik farmasetikal dari zat pembawa atau kondisi dari kulit itu sediri untuk
meningkatkan penetrasi dari zat aktif untuk bertindak baik secara lokal atau
sistemik. Stratum korneum, mejadi jaringan yang terkeratinisasi mempunyai sifat
semipermeabel dan molekul obat dapat masuk melalui difusi pasif. Kecepatan
perpindahan obat bergantung kepada konsentrasi obat di dalam zat pembawa
(basis), kelarutannya dalam air dan koefisien partisi minyak/air antara stratum
korneum dan zat pembawa. Emolien yang umum digunakan adalah gliserin,
minyak mineral, petrolantum, isopropil palmitat, dan isopropil miristat (Katdare
dan Chaubal, 2006).

1.7 Cara Pembuatan Umum Sediaan Krim


Salep dan krim tipe serap disiapkan denan mencampurkan jumlah besar
dari air ke basis hidrokarbon dengan bantuan agen pengemulsi hidrofobik. Bahan
yang larut air atau yang dapat digabungkan dengan air seperti alkohol, gliserin,
atau propilen glikol digunakan jika zat aktif harus digabungkan ke dalam fase air.
Jika zat aktif harus digabungkan dengan fase minyak, minyak mineral digunakan
sebagai agen levigasi. Penggabungan bahan yang larut air dicapai dengan
menambahkan sedikit demi sedikit larutan yang berisi obat ke dalam basis
hidrofobik menggunakan spatula. Jika proporsi air lebih besar, penambahan
jumlah pengemulsi dan pemanasan mungkin dibutuhkan untuk mencapai disepersi
yang seragam. Penjagaan harus dilakukan untuk menghindari panas yang
berlebihan yang akan berakibat pada penguapan fasa air dan pengendapan bahan
yang larut air dan pembentukan lilin serta produk yang kaku (Cox Gad, 2008).

II. FORMULA SEDIAAN


Asam Fusidat 2%
Asam Stearat 15%
Trietanolamin 4%
Gliserin 10%
Nipagin 0,1%
Aquadest ad 10 g

III. DATA PREFORMULASI


3.1 Zat Aktif
Asam Fusidat
Pemerian : Bahan antimikroba yang diproduksi dan tumbuh dari strain
tertentu Fussidium coccineum atau dengan cara yang lain.
Berwarna putih atau hampir putih, serbuk kristal.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 5 bagian etanol.
Densitas : 525,7 g/cm3
pH : Dalam 1,25% larutan pH 7,5 – 9,0 .
Stablitas : Agak higroskopis, harus terlindung dari cahaya.
Inkompatibilitas : Dengan glukosa 20% atau lebih, lemak, terjadi
pengendapan umumnya pada larutan dengan pH kurang dari
7,4.
Khasiat : Untuk infeksi akibat bakteri Staphylococcus.
(Sweetman, 2009)

3.2 Bahan Tambahan


1. Aqua Destillata
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak berasa.
Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan.
Densitas : 1 g/cm3
pKa / pKb : 8,4
Titik didih : 100 ˚C
pH : 7
Stablitas : Stabil disemua keadaan fisik (padat, cair, gas).
Inkompatibilitas : Bereaksi dengan obat dan berbagai eksipien yang rentan
akan hidrolisis pada peningkatan suhu.
(Dirjen POM, 1979: 96).

3. Asam Stearat
Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukan susunan hablur;
putih atau kuning pucat mirip lemak lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol.
Titik lebur : Tidak kurang dari 54 ˚C
Bobot jenis : 0,980 g/cm3
Stablitas : Harus ditambahkan antioksidan.
Inkompatibilitas : Logam hidroksi, basa, agen yang mengoksidasi.
Kegunaan : Steffing agent pada rentang 1 – 20%.
(Dirjen POM, 1979: 57) (Rowe, 2009: 697)

4. Trietanolamin
Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna sampai berwarna kuning
pucat, mempunyai bau lemah seperti amonia.
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan etanol.
pH : 10,5
Titik leleh : 20 – 21 °C
Bobot jenis : 1,120 – 1,128 g/mL
Stablitas : Menjadi coklat jika terkena cahaya atau udara.
Inkompatibilitas : Akan bereaksi dengan asam mineral membentuk garam
kristal dan ester.
Kegunaan : Emulgator pada rentang 2 – 4%.
(Dirjen POM, 1979: 613) (Rowe, 2009: 754)

5. Gliserin
Pemerian : Jernih, tidak berwarna, tidak berbau, kental, cairan
higroskopis, punya rasa sedikit manis
Kelarutan : Pada suhu 20 ˚C larut dalam air
Densitas : 1,2620 g/cm3
Titik leleh : 17,8 ˚C
Titik didih : 290 ˚C
Stablitas : Membusuk jika dipanakan disertai dengan pertumbuhan
racun akrolein.
Inkompatibilitas : Dapat meledak dengan penambahan oksidator kuat.
Kegunaan : Emolien pada rentang 0 – 30%.
(Rowe, 2009: 312)

6. Nipagin/Metil paraben
Pemerian : Tidak berwarna, serbuk kristal tidak berbau atau hampir
berbau
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,
dalam 3,5 bagain etanol.
Densitas : 1,352 g/cm3
Pka : 8,4 pada suhu 20 ˚C
Titik leleh : 125 – 128 ˚C
Stablitas : Pada pH 3 – 6 dapat disterilisasi pada suhu 120 ˚C selama
20 menit.
Inkompatibilitas : Dengan bentonit, Mg trisilikat, talk, tragakan, sodium
alginat, minyak essensial, sorbitol, atropin. Bereaksi dengan
berbagai macam gula gula alkohol
Kegunaan : Pengawet/antimikroba pada rentang 0,02 – 0,3%.
(Dirjen POM, 1979: 378) (Rowe, 2009: 441)

IV. ALAT DAN BAHAN


No. Alat Bahan

1. Cawan penguap Asam fusidat

2. Gelas ukur 10 ml Asam sterat

3. Kaca arloji Aquadest

4. Matkan Gliserin

5. Stirrer Nipagin

6. Sudip Perkamen

7. Alat suntik TEA

8. Termometer

9. Timbangan analitik

10. Tube 10 gram

11. Waterbath

V. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN


4.1. Perhitungan
2𝑔
1. Asam fusidat 2% = 100 𝑥 10 𝑔 = 0,2 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 0,2 g + (10% x 0,2 g)


= 0,22 gram
15 𝑔
2. Asam Stearat 15% = 𝑥 10 𝑔 = 1,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 1,5 g + (10% x 1,5 g)
= 1,65 gram
4𝑔
3. TEA 4% = 100 𝑥 10 𝑔 = 0,4 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 0,4 g + (10% x 0,4 g)


= 0,44 gram
10 𝑔
4. Gliserin 10% = 𝑥 10 𝑔 = 1 𝑔𝑟𝑎𝑚
100

= 1 g + (10% x 1g)
= 1,1 gram
0,1 𝑔
5. Nipagin 0,1% = 𝑥 10 𝑔 = 0,01 𝑔𝑟𝑎𝑚
100

= 0,01 g + (10% x 0,01 g)


= 0,011 gram

Aquadest = 20 x 0,011 g

= 0,22 g ≈ 1 gram

6. Aquadest ad 100% = 10 g + (10% x 10 g) = 11 gram

= 11 g – (0,22g+1,65g+0,44+1,1g+0,011g+1g)

= 11 g – 4,421 g

= 6,57 ml ≈ 6,6 ml

4.2 Penimbangan Bahan

No. Nama zat Konsentrasi Untuk 10 gram

1 Asam fusidat 2% 0,22 g

2 Asam stearate 15% 1,65 g

3 TEA 4% 0,44 g

4 Gliserin 10% 1,1 g


5 Nipagin 0,1% 0,022 g

6 Aquadest ad 10 gram 6,6 mL

VI. PROSEDUR PEMBUATAN SEDIAAN

Semua bahan yang akan digunakan ditimbang

- Fase minyak (asam stearat) dimasukkan ke dalam cawan penguap


dan dipanaskan hingga suhu 70oC.
- Nipagin dilarutkan dalam 1 ml air .
- Fase air (nipagin, TEA dan gliserin) dimasukkan ke dalam cawan
lain dan dipanaskan hingga suhu 70oC

Kedua fase dimasukkan ke dalam matkan dan ditambah aquadest yang telah
dipanaskan

Semua bahan diaduk sampai homogen menggunakan stirer

Setelah dingin ditambahkan asam fusidat dan diaduk sampai homogen

Krim ditimbang sebanyak 10g

Krim dimasukkan ke dalam alat suntik, kemudian disuntikkan ke dalam tube

Dilakukan evaluasi sediaan yang meliputi uji organoleptis, homogenitas dan


pH.
VII. EVALUASI

Organoleptis Homogenitas Ph

Putih, berbau tengik,


Homogen 8,5
terjadi foaming

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini dibuat sediaan krim asam fusidat dengan
konsentrasi 2%. Asam fusidat merupakan suatu antibiotika yang digunakan untuk
mengobati infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus sp. Asam fusidat ini
tersedia di pasaran baik dalam bentuk sediaan per oral maupun topikal, sediaan
topikal pun dapat berupa salep maupun krim. Pada percobaan kali ini dipilih
bentuk sediaan krim karena krim lebih baik dari segi penampilan, mudah
digunakan, tidak lengket dan mudah dicuci.

Asam fusidat merupakan suatu antibiotika spektrum sempit yang bersifat


bakteriostatik, yang pada dosis biasa terutama berkhasiat menghentikan
pertumbuhan dan perbanyakan kuman (Tjay dan Rahardja, 2007: 57). Pada dosis
yang lebih tinggi, antibiotik ini dapat menjadi bakterisid, maka dosis 2% dianggap
cukup untuk menghentikan pertumbuhan kuman atau bakteri tersebut. untuk
sediaan topikal sendiri dosis yang digunakan dan beredar di pasaran adalah 2%.

Bentuk krim yang umumnya beredar di pasaran terdapat dalam bentuk


krim m/a, seperti vanishing krim. Kelebihan dari krim ini adalah mudah dioleskan
dan mudah bercampur dengan air sehingga disukai oleh kebanyakan orang. Maka
dari itu dalam formulasi kali ini kami mencoba membuat sediaan krim asam
fusidat 2% dalam basis krim m/a. Formula yang digunakan dalam pembuatan
krim asam fusidat ini yaitu:
Asam fusidat 2%
Asam stearat 15%
TEA 4%
Gliserin 10%
Nipagin 0,1%
Aquadest ad 100%

Formula di atas dipilih mengacu kepada vanishing krim. Menurut Mitsui


(1997) vanishing krim merupakan suatu emulsi air dan asam stearat (dan alkohol
tinggi lainnya). Krim ini merupakan emulsi tipe m/a dengan konsentrasi fase
minyak 10-20% yang terdispersi ke dalam fase cair. Maka dari itu dipilihlah asam
stearat dengan konsentrasi 15% untuk digunakan dalam formula ini. Asam stearat
dalam formulasi ini termasuk ke dalam fase minyak dan memiliki kegunaan
sebagai emulgator. Selain itu dalam formulasi in digunkan pula TEA. TEA
merupakan suatu zat pembasa dan emulgator. Dalam pembuatan sediaan krim,
asam stearat dinetralkan dengan penambahan basa atau TEA. Menurut Rowe
(2009), apabila TEA dicampurkan dengan suatu asam lemak seperti asam stearat,
TEA membentuk suatu sabun anionik dengan pH sekitar 8 yang dapat digunakan
sebagai emulgator untuk mebghasilkan emulsi minyak dalam air yang setabil
dengan globul yang halus. Peristiwa ini disebut juga emulgator in situ, karena
kedua zat ini membentuk emulsi pada saat keduanya dicampurkan. Pembentukan
sabun anionik ini merupakan hasil dari suatu reaksi penyabunan antara asam
lemak dengan basa lemah.

Konsentrasi yang digunakan pada asam stearat dan TEA mengacu kepada
rentang konsentrasi yang dicantumkan pada buku Handbook of Pharmaceutical
Excipients. Selain emulgator di atas, digunakan pula gliserin dengan konsentrasi
10%. Penambahan gliserin disini sebagai emolien atau sebagai pelembab kulit.
Karena salah satu kekurangan krim menurut Ashton dan Leppard (2005) adalah
dapat membuat kulit menjadi kering karena kandungan air dalam krim menguap.
Karena alasan tersebut kami tambahkan gliserin ke dalam formula untuk menjaga
kelembapan kulit dari penguna.

Dalam krim terdapat dua fase, yaitu fase minyak dan fase air. Karena
mengandung fase air maka sediaan krim dapat mengalami pertumbuhan mikroba
yang dapat mengganggu stabilitas sediaan. maka dari itu ditambahkan suatu
pengawet berupa metil paraben atau nipagin. Metil paraben ini memiliki aktivitas
antimikroba spektrum luas dan sangat efektif melawan kapang dan khamir. Pada
sediaan topikal digunakan konsentrasi 0,02-0,3%. Pada formula krim ini
digunakan 0,1%. Komponen terakhir yang digunakan adalah akuadest. Akuades
disini termasuk ke dalam fase air, karena dalam krim sendiri harus terdapat fase
air dan fase minyak.

Selain dipilih berdasarkan kegunaan dan rentang konsentrasi, pemilihan


bahan tambahan ini juga didasarkan terhadap stabilitas dan inkompatibiltas dari
zatnya. Asam fusidat sebagai komponen utama dan zat aktif merupakan
pertimbangan yang utama, karena bahan tambahan yang digunakan tidak boleh
inkompatibel atau merusak zat. Namun dilihat dari inkompatibilitas asam fusidat
yang hanya inkompatibel dengan cairan darah, larutan kalsium, karbenisilin,
gentamisin dan kanamisin. Jadi bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam
formula ini tidak akan mengurangi stabilitas sediaan.

Proses pembuatan krim dilakukan dengan melebur asam stearat dan


memanaskan akuadest, gliserin, dan larutan nipagin pada suhu 70º C. Setelah
dipanaskan masing-masing dimasukkan ke dalam matkan dan diaduk
menggunakan thurax. Proses pembuatan krim dilakukan sebanyak dua kali,
masing-masing menggunakan thurax dan stirrer. Keduanya menghasilkan krim
dengan banyak sekali busa atau mengalami foaming. Namun krim yang dihasilkan
pada proses pengadukan menggunakan stirrer menghasilkan busa yang lebih
sedikit dibandingkan yang menggunakan thurax. Terbentuknya busa ini dapat
disebabkan oleh pengadukan yang terlalu cepat. Dalam pembuatannya dapat
diturunkan rpmnya atau ditambahkan suatu antifoaming utnuk mencegah
pembentukan busa. Pembentukan busa ini dapat mepengaruhi pengemasan
sediaan karena sediaan akan bertambah volumenya dan sediaan tidak akan masuk
semua ke dalam wadah.

Hasil pengujian organoleptik dari sediaan krim asam fusidat ini adalah
krim berwarna putih, namun sedikit berbau tengik. Bau tengik ini dapat
disebabkan karena adanya asam lemak. Asam stearat sendiri dapat dtambahkan
suatu antioksidan untuk mencegah terjadinya oksidasi dan timbulnya bau tengik,
terutama apabila sediaan disimpan dalam waktu lama. Pada pengukuran pH
didapatkan pH sediaan krim ini adalah 9. Menurut Rowe (2009) asam stearat dan
TEA akan akan membentuk sabun anionik dengan pH 8. pH yang dihasilkan dari
sediaan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan teori, namun tidak terdapat zat yang
dapat menaikkan pH pada formulasi yang digunakan.

Untuk pemilihan kemasan digunakan kemasan primer berupa tube dan


kemasan sekunder berupa dus. Kemasan primer dengan bentuk tube ini dipilih
untuk menjaga sediaan dari kontaminasi luar. Dengan mulut tube yang kecil dapat
meminimalisir kontak obat dengan udara sehingga mencegah terjadinya oksidasi.
Selain itu dengan permukaan yang kecil dari tube dapat mencegah masuknya debu
dan cemaran lain yang dapat merusak obat. Kemasan sekunder berupa dus baik
melindungi sediaan dari cahaya sehingga dapat menjaga sediaan agar tidak terurai
atau rusak.

IX. USULAN FORMULA

Asam Fusidat 2%

Asam Stearat 15%

TEA 4%

Gliserin 10%

Metil paraben 0,1%

BHT 0,1%

Twen 80 5%

Span 80 5%

Aquadest ad 10 g
Pemakaian surfaktan dalam formulasi ini bukan dimaksudkan sebagai
emulgator atau bahan pengemulsi untuk membentuk sediaan krim, melainkan
berperan untuk meningkatkan penetrasi zat aktif sehingga dapat menembus
lapisan epidermis kulit terutama stratum korneum yang merupakan bagian dari
lapisan epidermis yang berperan sebagai pertahanan kulit. Dimana stratum
korneum ini tersusun dari struktur sel yang bersifat hidrofil dan hidrofob,
sehingga menyulitkan zat atau senyawa yang tidak memiliki kedua sifat tersebut
untuk menembus epidermis. Dengan adanya surfaktan dalam hal ini adalah Tween
dan Span 80 maka permeabilitas dari stratum corneum menjadi meningkat
sehingga asam fusidat dapat menembus lapisan epidermis dan masuk ke lapisan
dermis, yaitu tempat obat ini bekerja.

Asam fusidat perlu masuk menembus kulit dan bekerja di bagian dermis
dikarenakan bakteri penyebab jerawat berkembang dibagian tersebut, dimana pada
bagian terebut terdapat kelenjar minyak yang apabila disekresi terlalu berlebihan
sertaditambah kondisi kulit yang tidak bersih mengakibatkan bakteri akan tumbuh
dan berkembang pada bagian tersebut, sehingga mengakibatkan terjadinya
jerawat.

X. KESIMPULAN
Krim Asam Fusidat yang telah dibuat memiliki konsistensi yang baik,
tetapi sediaan tersebut memmbentuk foaming akibat adanya reaksi saponifikasi
antara TEA dengan asam stearat sebagai emulgator. Untuk membentuk sediaan
yang tidak membentuk foaming, emulgator yang digunakan haruslah membentuk
sediaan yang tidak membentuk foaming akibat reaksi saponifikasi, seperti tween
80 dan span 80 sehingga membetuk sediaan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Anief. 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ashton, Richard dan Barbara Leppard. 2005. Differential Diagnosis in


Dermatology. United Kingdom: Radcliffe Publishing.

Cox Gad, Shayne. 2008. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production


and Process. New Jersey: John Wiley & Sons

Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.1979. Farmakope Indonesia


III. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.1995. Farmakope Indonesia IV


Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Katdare, A. dan Chaubal, M.V. 2006. Exipients Development Pharmaceutical,


Pharmacology, and Drug Delivery System. Informa Healthcare USA, Inc :
New York

Mitsui, Taeko. 1997. New Cosmetic Science. Amsterdam: Elsevier.

Rowe, Raymond. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipients 6th ed. London:


Pharmaceutical Press

Sweetman, S.C. 2009. Martindale: The Complete Drug Reference 36th ed.
London: Pharmaceutical Press

Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: EGC

Tjay, Tan Hoan dan Kiran Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo.

Widodo, Hendra. 2013. Ilmu Meracik Obat untuk Apoteker. D-medika: Jakarta
LAMPIRAN

1. Kemasan

Kemasan Primer

Kemasan Sekunder
Brosur
2. Pertanyaan
Syahron Aulia (10060315115):
Mengapa asam fusidat tidak dilarutkan terlebh dahulu dengan etanol?

Bisa saja dilarutkan terlebih dahulu ke dalam etanol, selama tidak


mengganggu stabilitas sediaan, nemun etanol dalam jumlah tinggi pada
sediaan emulsi atau krim dapat menyebabkan emulsi pecah / rusak. Selain itu
karena memiliki aktivitas antiseptic atau antimikroba, ditakutkan dapat
mengganggu zat aktif.