Anda di halaman 1dari 18

Peran Koperasi dalam Program Pengembangan

Ekonomi Nasional

DISUSUN OLEH :

NAMA : SUGIANTORO
NIM : 020526535
JURUSAN : ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS HUKUM ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ PANGKALPINANG
TAHUN 2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..................................................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................ 2
1.3. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Koperasi ............................................................................................... 3
2.2. Peran Koperasi.................................................................................................. 5
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Perkembangan Kondisi Koperasi di Indonesia................................................. 6
3.2. Kendala Berkembangnya Perkoperasian di Indonesia ..................................... 7
3.3. Kebutuhan Masyarakat Indonesia Terhadap Koperasi ..................................... 10
3.4. Peran Koperasi Dalam Program Pengembangan Ekonomi Nasioal ................. 11
BAB IV PENUTUP
4.1. KESIMPULAN ................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 14

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Koperasi merupakan bagian dari tata susunan ekonomi, hal ini berarti bahwa
dalam kegiatannya koperasi turut mengambil bagian bagi tercapainya kehidupan
ekonomi yang sejahtera, baik bagi orang-orang yang menjadi anggota perkumpulan
itu sendiri maupun untuk masyarakat di sekitarnya. Koperasi sebagai perkumpulan
untuk kesejahteraan bersama, melakukan usaha dan kegiatan di bidang pemenuhan
kebutuhan bersama dari para anggotanya.
Koperasi mempunyai peranan yang cukup besar dalam menyusun usaha
bersama dari orang-orang yang mempunyai kemampuan ekonomi terbatas. Dalam
rangka usaha untuk memajukan kedudukan rakyat yang memiliki kemampuan
ekonomi terbatas tersebut, maka Pemerintah Indonesia memperhatikan pertumbuhan
dan perkembangan perkumpulan-perkumpulan Koperasi. Sehingga program
pengembangan ekonomi secara nasional untuk mewujudkan kemakmuran yang adil
dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud.
Pemerintah Indonesia sangat berkepentingan dengan Koperasi, karena
Koperasi di dalam sistem perekonomian merupakan soko guru. Koperasi di Indonesia
belum memiliki kemampuan untuk menjalankan peranannya secara efektif dan kuat.
Hal ini disebabkan Koperasi masih menghadapai hambatan struktural dalam
penguasaan faktor produksi khususnya permodalan. Dengan demikian masih perlu
perhatian yang lebih luas lagi oleh pemerintah agar keberadaan Koperasi yang ada di
Indonesia bisa benar-benar sebagai soko guru perekonomian Indonesia yang
merupakan sistem perekonomian yang dituangkan dalam Undang-Undang Dasar
1945.
Cita-cita Koperasi memang sesuai dengan susunan kehidupan rakyat
Indonesia. Meski selalu mendapat rintangan, namun Koperasi tetap berkembang.
Seiring dengan perkembangan masyarakat, berkembang pula perundang-undangan
yang digunakan. Perkembangan dan perubahan perundang-undangan tersebut
dimaksudkan agar dapat selalu mengikuti perkembangan jaman. Pembentukan badan
usaha koperasi tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa
bagi para anggota, baik yang bersifat individual maupun kelompok. Namun dalam

1
perkembangannya, koperasi yang salah satu lembaga ekonomi harus siap mencari
untung dengan diolah secara profesional dan bukannya sekedar mengejar Sisa Hasil
Usaha (SHU) setia berperan dalam perekonomian nasional. Perekonomian nasional
mempunyai tujuan utamanya yaitu pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bagi
seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tanpa perekonomian nasional yang kuat dan
memihak rakyat maka mustahil cita-cita tersebut akan tercapai.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Di dalam penulisan makalah ini diperlukan sumber informasi yang luas agar
didalam penulisannya dapat memberikan arah yang menuju pada tujuan yang ingin
dicapai, sehingga dalam hal ini diperlukan adanya perumusan masalah yang akan
menjadi pokok pembahasan di dalam penulisan makalah ini agar dapat terhindar dari
kesimpangsiuran dan ketidak konsistenan di dalam penulisan. Permasalahan yang
timbul dalam perkoperasian sangat luas dan beragam. Karena itu, dalam karya ilmiah
ini dipilih beberapa pokok permasalahan yang diidentifikasi, yaitu:
1. Bagaimana perkembangan kondisi koperasi di Indonesia?
2. Apa saja kendala berkembangnya perkoperasian di Indonesia?
3. Bagaimana kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap Koperasi?
4. Bagaimana peran koperasi dalam program pengembangan ekonomi nasioal?
1.3. TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis dapat mengambil tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui perkembangan kondisi koperasi di Indonesia;
2. Untuk mengetahui kendala apa saja dalam perkembangan perkoperasian di
Indonesia;
3. Untuk mengetahui kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap Indonesia;
4. Untuk mengetahui peran koperasi dalam program pengembangan ekonomi
nasional.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. SEJARAH KOPERASI


Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada
umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh
orang-orang yang sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika
penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem
kapitalisme semakin memuncak.
Menurut Ewell Paul Roy dalam bukunya Cooperatives Development, Principle
and Management, akar kehidupan berkoperasi sudah bisa dilacak sejak dua ribu tahun
sebelum masehi. Zaman kerajaan Babilonia kuno pada masa Raja Hamurabi (2067-
2025 SM) sudah terdapat praktek-praktek koperasi. Tahun 3000 hingga sekitar 325
SM di Yunani Kuno juga telah berkembang sistem koperasi, khususnya dalam bentuk
perkumpulan jasa penguburan. Tahun 200 SM masa Dinasti Hong, di Cina
berkembang sistem koperasi simpan pinjam dalam bentuk perkumpulan yang jumlah
anggotanya terbatas.
Akibat revolusi industri di Inggris, kemudian berkembang menjadi sistem
kapitalisme maka terjadi praktek yang merenddahkan derajat kemanusiaan untuk
keuntungan pribadi atau sekelompok kecil orang. Hal ini kemudian menimbulkan
gagasan beberapa tokoh pembaru untuk menciptakan suatu masyarakat yang
mengutamakan kesejahteraan bersama tanpa ada pemerasan oleh satu pihak kepada
pihak lainnya sehingga tercipta kehidupan damai dan sejahtera. Untuk mencapai
tujuan ini maka dikembangkan suatu sistem ekonomi yang dimiliki, dimodali dan
diawasi dan hasilnya dinikmati oleh anggotanya. Meski awalnya mengalami
kegagalan, tahun 1844, sekelompok pengrajin dari Rochdale mendirikan koperasi
konsumsi dengan prinsip-prinsip yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.
Dengan prinsip yang hampir sama, tahun 1862 Raiffeisen mendirikan koperasi kredit,
kemudian juga merebak ke berbagai pelosok dunia.
Seorang pemikir koperasi dari Kanada Prof. Paul Hubert Casselman,
membedakan koperasi di dunia menjadi 3 mazhab : sosialis, commonwealth, dan
yardstick. Seiring waktu, mazhab sosialis terlalu berorientasi pada politik pemerintah
berdasar pada satu partai tidak dapat lagi berfungsi, begitu sistem pemerintahan
berubah menjadi multi partai. Mazhab commonwealth, dalam kenyataannya belum

3
ada satu negara pun menjadikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi yang dominan.
Koperasi yang besar dan kuat justru terdapat di negara-negara dengan sistem liberal
seperti Denmark, Swedia, Finlandia, Norwegia, Kanada, Jepang yang sesuai dengan
pemikiran Casselman bermazhab yardstick.
Di Indonesia, ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di
Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria Wiraatmadja yang pada tahun 1896 mendirikan
sebuah Bank untuk Pegawai Negeri. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya
diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode. Pada tahun 1908, Budi Utomo yang
didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk
memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de
Cooperatieve Vereeniging. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang
bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi.
Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan
penyebarluasan semangat koperasi. Namun, pada tahun 1933 keluar UU yang mirip
UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya. Pada
tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi
“KUMIAI”. Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis
dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan dan menyengsarakan rakyat
Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di
Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini
kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Sebagai Bapak Koperasi
Indonesia, Bung Hatta pernah berkata : “Bukan Koperasi namanya manakala di
dalamnya tidak ada pendidikan tentang Koperasi”. Kongres Koperasi I menghasilkan
beberapa keputusan penting, antara lain :
1. Mendirikan sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia ( SOKRI );
2. Menetapkan gotong royong sebagai asas koperasi;
3. Menetapkan pada tanggal 12 Juli sebagai hari Koperasi.
Akibat tekanan dari berbagai pihak misalnya Agresi Belanda, keputusan
Kongres Koperasi I belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun, pada
tanggal 12 Juli 1953, diadakanlah Kongres Koperasi II di Bandung, yang antara lain
mengambil putusan sebagai berikut :
1. Membentuk Dewan Koperasi Indonesia ( Dekopin ) sebagai pengganti SOKRI;
2. Menetapkan pendidikan koperasi sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah;

4
3. Mengangkat Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia;
4. Segera akan dibuat undang-undang koperasi yang baru.
2.2 PERAN KOPERASI
Sebagaimana dikemukakan dalam pasal 4 UU No. 25 Tahun 1992, fungsi dan
peran koperasi di Indonesia seperti berikut ini:
1. Membangun dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan
ekonomi dan social;
2. Turut serta secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan manusia
dan masyarakat;
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional. Koperasi adalah satu-satunya bentuk perusahaan yang
dikelola secara demokratis.
4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi
ekonomi.
Sebagai salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian
Indonesia, koperasi mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan
perekonomian nasional bersama-sama dengan pelaku-pelaku ekonomi lainnya.
Dengan demikian koperasi harus mempunyai kesungguhan untuk memiliki usaha
yang sehat dan tangguh, sehingga dengan cara tersebut koperasi dapat mengemban
amanat dengan baik.
Peranan koperasi dalam perekonomian Indonesia dapat dibedakan
menjadi peranan segi ekonomi sebagai berikut:
1. Membantu anggota meningkatkan penghasilan sehingga secara tidak langsung ikut
serta meningkatkan taraf hidup rakyat;
2. Meningkatkan pendapatan secara adil dan merata;
3. Ikut mengembangkan daya cipta, daya usaha orang-orang secara individu maupun
sebagai kelompok;
4. Memperluas lapangan kerja dan meningkatkan produksi masyarakat.
Peranan segi sosial sebagai berikut:
1. Meningkatkan pendidikan dan ketrampilan anggota;
2. Membantu membentuk masyarakat yang bertanggung jawab yang mampu
menyelesaikan masalah sendiri.

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. PERKEMBANGAN KONDISI KOPERASI DI INDONESIA


Perbedaan utama koperasi dibandingkan lembaga bidang ekonomi lain
adalah sifatnya yang tidak berorientasi kepada laba semata. Peranan Koperasi di
dalam ekonomi terletak pada hasil yang dicapai yang dapat dirasakan kemanfaatannya
baik oleh anggota maupun lingkungannya. Kemanfaatan yang diperoleh tersebut,
dapat kemanfaatan yang berwujud seperti pembagian sisa hasil usaha, harga yang
menguntungkan maupun tidak berwujud seperti pendidikan-pendidikan, latihan-
latihan dan juga kemanfaatan bersama seperti : pembangunan jembatan, gedung
sekolah dan sebagainya.
Keadaan koperasi-koperasi di Indonesia pada masa ini pada umumnya
berjalan dengan baik akan tetapi belum sesuai dengan yang diharapkan. Di karena kan
para pengelolanya kurang profesional untuk mengatasi perkoperasian Indonesia saat
ini.. Meskipun berbagai kebijakan telah dicanangkan oleh pemerintah, keberadaan
koperasi di Indonesia masih belum dapat memenuhi kondisi sebagaimana yang
diharapkan oleh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kurang diminatinya
koperasi oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena selama ini koperasi hanya
dipandang sebagai lembaga saja, bukan sebagai sistem perekonomian. Apabila kita
melihat koperasi dari segi lembaga, maka kita dapat melihat koperasi tersebut sebagai
perkumpulan dan sebagai badan usaha. Sebagai sebuah perkumpulan, dapat kita lihat
dari pengertian koperasi itu sendiri yang merupakan perkumpulan orang-orang,
dimana orang-orang tersebut saling bekerjasama untuk bersama-sama mencapai
tujuan bersama, yaitu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya.
Dengan adanya koperasi, dapat lebih mudah mendirikan usaha karena
modal yang dipakai adalah kepemilikan bersama. Sekarang ini, banyak perusahaan-
perusahaan yang mendirikan koperasi sendiri, dan para anggotanya terdiri dari
karyawan yang bekerja diperusahaan tersebut. Koperasi jenis ini sangat memudahkan
para anggotanya, terlebih dalam urusan simpan pinjam. Pinjaman bunga relatif lebih
kecil, dan kemudahan proses pengajuan pun lebih mudah. Tetapi untuk diwilayah
daerah, koperasi masih diandalkan untuk kesejahteraan warganya. Dimana sesuai
dengan asas koperasi yaitu kekeluargaan, untuk mensejahterakan anggotanya.

6
Namun ada perbedaan yang terlihat antara koperasi yang berada di daerah
dengan yang ada di perkotaan. Koperasi yang ada di daerah lebih kepada pelaksanaan
untuk mencapai tujuan utama koperasi yakni, mensejahterakan anggotanya. Para
anggotanya menjual hasil tani ke koperasi, sehingga ada kemudahan untuk
menyalurkan barang dagang mereka, dan keuntungannya pun dinikmati bersama.
Sedangkan koperasi yang berada di perkotaan, lebih banyak berjenis usaha simpan
pinjam, karena perputaran uang lebih cepat. Dan ada beberapa yang lebih banyak
mencari laba dan hanya mengatasnamakan koperasi.
Undang- Undang Dasar 1945 pasal 33 memandang Koperasi sebagai
sokoguru perekonomian nasional, yang kemudian semakin di pertegas dalam pasal 4
Undang- Undang No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian. Menurut Moh. Hatta
sebagai pelopor pasal 33 Undang- Undang Dasar 1945 tersebut, koperasi dijadikan
sebagai sokoguru perekonomian nasional karena:
1. Koperasi mendidik sikap self-helping;
2. Koperasi mempunyai sifat kemasyarakatan, dimana kepentingan masyarakat harus
lebih diutamakan daripada kepentingan diri atau golongan sendiri;
3. Koperasi digali dan dikembangkan dari budaya asli bangsa Indonesia;
4. Koperasi menentang segala pahamyang berbau individualisme dan kapitalisme.
Dalam era globalisasi sekarang ini, koperasi ttap dipandang sebagai
sokoguruperekonomian nasional. Hal ini tidak terlepas dari jati diri koperasi itu
sendiri yang dalam gerakan dan cara kerjanya selalu mengandung unsur- unsur yang
terdapat dalam asas- asas pembangunan seperti yang ter maktub dalam GBHN (Garis-
garis Besar Haluan Negara adalah haluan negara tentang penyelenggaraan negara
dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan
terpadu). Atas dasar itu seharusnya Koperasi dibangun, karena koperasi merupakan
wadah yang paling tepat untuk menghimpun kekuatan ekonomi rakyat. Yaitu mereka
yang terdiri oleh orang orang kecil (kurang mampu) dan lemah. Yang jika bergabung
bersama akan menjadi kekuatan besar. Itulah makna Koperasi merupakan Soko
gurunya dalam perekonomian Indonesia.
3.2. KENDALA BERKEMBANGNYA PERKOPERASIAN DI INDONESIA
Sistem administrasi koperasi di Indonesia masih tergolong buruk sehingga
membuat koperasi sulit didongkrak untuk menjadi bisnis berskala besar. Selain itu
dalam perkembangannya, koperasi di Indonesia banyak mengalami kendala. Kendala
tersebut adalah sebagai berikut:

7
1. Permodalan
Kurang berkembangnya Koperasi juga berkaitan sekali dengan kondisi modal
keuangan badan usaha tersebut. Kendala modal itu bisa jadi karena kurang
adanya dukungan modal yang kuat dan dalam atau bahkan sebaliknya terlalu
tergantungnya modal dan sumber koperasi itu sendiri. Jadi untuk keluar dari
masalah tersebut harus dilakukan melalui terobosan structural, maksudnya
dilakukannya restrukturasi dalam penguasaan faktor produksi, khususnya
permodalan;
2. Sumber Daya Manusia
Banyak anggota, pengurus maupun pengelola Koperasi kurang bisa mendukung
jalannya Koperasi. Dengan kondisi seperti ini maka Koperasi berjalan dengan
tidak profesional dalam artian tidak dijalankan sesuai dengan kaidah sebagimana
usaha lainnya. Dari sisi keanggotaan, sering kali pendirian Koperasi itu
didasarkan pada dorongan yang dipaksakan oleh pemerintah. Akibatnya pendirian
Koperasi didasarkan bukan dari bawah melainkan dari atas. Pengurus yang dipilih
dalam rapat anggota seringkali dipilih berdasarkan status sosial dalam masyarakat
itu sendiri. Dengan demikian pengelolaan Koperasi dijalankan dengan kurang
adanya kontrol yang ketat dari para anggotanya. Pengelola ynag ditunjuk oleh
pengurus seringkali diambil dari kalangan yang kurang profesional. Sering kali
pengelola yang diambil bukan dari yang berpengalaman baik dari sisi akademis
maupun penerapan dalam wirausaha;
3. Manajerial
Manajemen Koperasi harus diarahkan pada orientasi strategik dan gerakan
koperasi harus memiliki manusia-manusia yang mampu menghimpun dan
memobilisasikan berbagai sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan
peluang usaha. Oleh karena itu koperasi harus teliti dalam memilih pengurus
maupun pengelola agar badan usaha yang didirikan akan berkembang dengan
baik. Ketidak profesionalan manajemen Koperasi banyak terjadi di Koperasi-
Koperasi yang anggota dan pengurusnya memiliki tingkat pendidikan yang
rendah.
Selain ketiga kendala pokok tersebut, hal lain yang dapat menjadi
hambatan dalam pembentukan Koperasi yang efektif di Indonesia adalah sebagai
berikut:

8
1. Imej Koperasi sebagai ekonomi kelas dua masih tertanam dalam benak orang –
orang Indonesia sehingga, menjadi sedikit penghambat dalam pengembangan
Koperasi menjadi unit ekonomi yang lebih besar ,maju dan punya daya saing
dengan perusahaan – perusahaan besar;
2. Perkembangan Koperasi di Indonesia yang dimulai dari atas (top down) ,artinya
Koperasi berkembang di indonesia bukan dari kesadaran masyarakat, tetapi
muncul dari dukungan pemerintah yang disosialisasikan ke bawah. Berbeda
dengan yang di luar negeri, Koperasi terbentuk karena adanya kesadaran
masyarakat untuk saling membantu memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan
yang merupakan tujuan Koperasi itu sendiri, sehingga pemerintah tinggal menjadi
pendukung dan pelindung saja. Di Indonesia, pemerintah bekerja double selain
mendukung juga harus mensosialisasikanya dulu ke bawah sehingga rakyat
menjadi mengerti akan manfaat dan tujuan dari Koperasi;
3. Tingkat partisipasi anggota Koperasi masih rendah, ini disebabkan sosialisasi
yang belum optimal. Masyarakat yang menjadi anggota hanya sebatas tahu
Koperasi itu hanya untuk melayani konsumen seperti biasa, baik untuk barang
konsumsi atau pinjaman. Artinya masyarakat belum tahu esensi dari Koperasi itu
sendiri, baik dari sistem permodalan maupun sistem kepemilikanya. Mereka
belum tahu betul bahwa dalam Koperasi konsumen juga berarti pemilik, dan
mereka berhak berpartisipasi menyumbang saran demi kemajuan Koperasi
miliknya serta berhak mengawasi kinerja pengurus. Keadaan seperti ini tentu
sangat rentan terhadap penyelewengan dana oleh pengurus, karena tanpa
partisipasi anggota tidak ada kontrol dari anggota nya sendiri terhadap pengurus;
4. Pemerintah terlalu memanjakan Koperasi, ini juga menjadi alasan kuat mengapa
Koperasi Indonesia tidak maju maju. Koperasi banyak dibantu pemerintah lewat
dana dana segar tanpa ada pengawasan terhadap bantuan tersebut. Sifat bantuanya
pun tidak wajib dikembalikan. Tentu saja ini menjadi bantuan yang tidak
mendidik, Koperasi menjadi ”manja” dan tidak mandiri hanya menunggu bantuan
selanjutnya dari pemerintah. Selain merugikan pemerintah bantuan seperti ini
pula akan menjadikan Koperasi tidak bisa bersaing karena terus menerus menjadi
benalu negara. Seharusnya pemerintah mengucurkan bantuan dengan sistem
pengawasan nya yang baik, walaupun dananya bentuknya hibah yang tidak perlu
dikembalikan. Dengan demikian akan membantu Koperasi menjadi lebih
profesional, mandiri dan mampu bersaing;

9
5. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kebutuhannya untuk memperbaiki diri,
meningkatkan kesejahteraanya, atau mengembangkan diri secara mandiri.
Padahal Kesadaran ini adalah pondasi utama bagi pendirian Koperasi sebagai
motivasi;
6. Kurangnya pengembangan kerjasama antar usaha koperasi. Itulah penyebab-
penyebab kenapa perkembangan Koperasi di Indonesia belum maksimal. Tetapi
analisis masalah tadi bukan lah yang utama, justru yang utama jika ingin
Koperasi maju adalah sebagai generasi penerus bangsa di masa depan tentunya
kita harus berperan aktif dalam pengembangan Koperasi di negeri ini. Salah
satunya melalui keikutsertaan dalam Koperasi, mempelajari dan mengetahui
tentang perkoperasian secara lebih mendalam.
3.3. KEBUTUHAN MASYARAKAT INDONESIA TERHADAP KOPERASI
Semangat koperasi ialah pemenuhan kebutuhan. Menurut Abraham
Moslow bahwa beberapa kebutuhan dasar manusia baik itu kebutuhan individu
maupun sosial dapat dipenuhi dengan prinsip koperasi dengan semangat bersama-
sama dan saling bergotong royong. Prakarsa masyarakat kurang dapat ditumbuh-
kembangkan dan didayagunakan dalam pengembangan koperasi. Dengan demikian,
beban pemerintah untuk memajukan koperasi masih sangat besar. Secara konsepsi,
koperasi seharusnya tumbuh dari kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah
hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam rangka mempercepat pertumbuhan dan
perkembangan koperasi. Meskipun secara sistematik pemerintah telah mencanangkan
tahapan dalam pengembangan koperasi mulai dari tahap ofisialisasi, deofisialisasi,
dan tahap kemandirian, namun dalam kenyataannya sampai saat ini prakarsa
pengembangan koperasi masih banyak tergantung pada pihak luar koperasi terutama
dari pemerintah.
Partisipasi, solidaritas, dan kebersamaan anggota koperasi umumnya
masih lemah/semu sehingga masih kurang tumbuh gerakan menolong diri sendiri dari
kalangan gerakan koperasi. Dalam banyak jenis koperasi yang ada, keanggotaannya
masih bersifat stelsel pasif sehingga asas sukarela dan terbuka dalam keanggotaanya
koperasi masih belum dapat diterapkan dengan benar. Menurut Parjimin Anoraga
(1999: 23) Koperasi Simpan Pinjam (KSP) merupakan salah satu jenis koperasi yang
paling banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Koperasi ini berfungsi sebagai
lembaga perkreditan, yang tugasnya adalah menghimpun dana dari para anggota, dan
mendistribusikan dana tersebut pada anggota nasabah. Di beberapa daerah di

10
Indonesia ini dapat kita temui di daerah yang masyarakatnya hidup sebagai nelayan
dan petani. koperasi kredit atau simpan-pinjam untuk melepaskan mereka dari
cengkeraman tukang-tukang ijon dan lintah darat, koperasi produksi untuk
meningkatkan produksi mereka dan koperasi jual-beli untuk mendapatkan pasar yang
baik bagi barang-barang produksi mereka (cooperative marketing) dan sekaligus
untuk dapat membeli bahan-bahan keperluan mereka seperti bibit, pupuk, alat-alat
pertanian, alat-alat penangkapan ikan, perahu, dan sebagainya, juga barang-barang
kebutuhan konsumsi.
3.4. PERAN KOPERASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN EKONOMI
NASIOAL
Dalam GBHN 1998-2003, yang disahkan dalam Sidang Umum MPR
(Maret1998), peran koperasi dalam pembangunan nasional juga disebutkan
“Pembangunan Koperasi diarahkan untuk memantapkan posisi dan peran koperasi
yang seimbang dengan usaha nasional lainnya sehingga menjadi sokoguru
perekonomian nasional dalam pelaksanaan sistem ekonomi Pancasila guna
mewujudkan demokrasi ekonomi”. Pasal 33 UUD 1945 merupakan dasar sistem
perekonomian nasional, di mana asas kekeluargaan merupakan ciri utamanya.
Menurut Bung Hatta asas kekeluargaan adalah koperasi.
GBHN tersebut kemudian dicabut melalui ketetapan Sidang Istimewa
MPR yang berlangsung pada 18 Oktober-13 November 1998. Sebagai gantinya
ditetapkan Tap MPR tentang “Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka
Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. Selain
itu masih ada Tap MPR tentang “Politik Ekonomi dalam Demokrasi Ekonomi”, yang
memuat tentang peranan koperasi dalam pembangunan nasional.
Dalam Sidang Umum MPR Oktober 1999, telah ditetapkan GBHN tahun
1999-2004, dengan pernyataan sebagai berikut: “Memberdayakan pengusaha kecil,
menengah, dan koperasi agar lebih efisien, produktif, dan berdaya saing dengan
menciptakan iklim berusaha yang kondusif dan peluang usaha seluas-luasnya. Untuk
pelaksanaan GBHN ini, telah dikeluarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Program
Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000-2004.
Menurut Prof. Dawam Rahardjo (1999), dalam Tap tersebut terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh gerakan koperasi dan pelaku ekonomi
koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yaitu:

11
1. Pemerintah akan membantu mengembangkan dan memberikan prioritas kepada
pengusaha ekonomi yang masih lemah;
2. Koperasi dan UKM akan memperoleh kesempatan utama, dukungan,
perlindungan dan pengembangan;
3. BUMN dan usaha swasta besar akan didorong (atau diharuskan) bermitra kepada
koperasi dan UKM;
4. Koperasi dan UKM diberi akses terhadap pengelolaan tanah, terutama di bidang
pertanian;
5. Koperasi dan UKM diberi kesempatan untuk mengakses sumber daya perbankan
dan lembaga keuangan lainnya.
Dengan masih kecil atau terbatasnya peranan koperasi, baik pada tingkat
mikro maupun makro maka strategi pengembangan koperasi sangat diperlukan.
Apalagi pasca amandemen UUD 1945, di mana kata “koperasi” tidak ada lagi di
dalamnya.
Jika Koperasi mampu mengimplementasikan jati dirinya, koperasi akan
mandiri, mampu bersaing dengan kekuatan eonomi lainnya ,mampu memproduksi
produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar di dalam dan luar negeri. Dilihat dari
dasar hukum yang tertuang dalam Undang-Undang 1945, Koperasi memperoleh hak
untuk hidup dan perkembangan di Indonesia. Koperasi yang sudah dibangun selama
ini juga jumlahnya sudah cukup besar. Jumlah ini merupakan aset yang harus
dipelihara dan diberdayakan agar dapat berkembang membantu pemerintah untuk
memerangi kemiskinan dan menyediakan lapangan kerja. Jika sekarang masih banyak
koperasi yang tumbuh belum mampu mencapai tujuan bersama anggotanya,mereka
harus diberdayakan melalui pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk
meningkatkan kemampuan memahami jati diri dan menerapkannya. Disinilah
peranan pihak ketiga termasuk pemerintah untuk dapat membangun mereka mencapai
tujuannya baik sebagai mediator,fasilitator maupun sebagai kordinator.
Dengan demikian pembangunan koperasi perlu diteruskan, karena
pembangunan adalah proses, memerlukan waktu dan ketekunan serta konsistensi
dalam pelaksanaan,berkesinambungan untuk mengatasi semua masalah yang muncul
seperti masalah kemiskinan , jumlah pengangguran. yang semakin banyak.

12
BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Koperasi adalah merupakan sokoguru perekonomian Indonesia, maka
keberadaan dan eksistensinya dijamin oleh undang-undang. Untuk itu kita sebagai
bangsa Indonesia harus ikutsertadalam membangun perekonomian Indonesia yang
berasaskan kekeluargaan yaitu dalam wadah koperasi. Menurut Undang-undang No.
25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut:
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosial-nya;
2. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat;
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya;
4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang
merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi
ekonomi.
Dengan melaksanakan dan menerapka keseluruhan dari peran dan tugas
serta prinsip tersebut diharapkan perkoperasian di Indonesia dapat mewujudkan
dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yangberwatak
sosial.

13
DAFTAR PUSTAKA

ENCENG Materi pokok perkoperasian; 1-9; ADPU4330/ 3 sks/ Enceng, Suryarama. Cet. 3;
Ed. 2,Tangerang Selatan; Universitas Terbuka, 2014
Arifinal Chaniago. Perkoperasian Indonesia, Bandung: Angkasa, 1982
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=13
16:3-penyebab-koperasi-di-indonesia-sulit-berkembang&catid=50:bind-
berita&Itemid=97

14
15
16