Anda di halaman 1dari 28

HUKUM INTERNASIONAL

TANGGUNG JAWAB NEGARA

DISUSUN OLEH:
Army Anggara 110110080083
Liely Noor Qadarwati 110110080092
Lasma Natalia 110110080096
Mayang Kemulandari Yamin 110110080122
Vicky Veronika Aruan 110110080128
Gita Santika Amalia 110110080131
Tri Nurul Widia Wardhani 110110080134
Saskia Wahyu Riani 110110080135
Mulyana 110110080138

DOSEN PENGAJAR:
Prof. Dr. Eddy Damian, S. H.
Idris, S. H., M. A.
Diajeng Wulan Christianti, S. H., LL. M

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2010
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya lah penulis dapat
menyelesaikan tugas ini. Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu nilai tugas dari
mata kuliah Hukum Internasional. Ucapan terima kasih tak lupa penulis ucapkan
kepada para dosen mata kuliah Hukum Internasional kami, karena berkat
bimbingannyalah penulis dapat menyusun makalah ini, serta kepada teman-teman yang
selalu memberikan dukungan atas apa yang penulis kerjakan.
Makalah ini membahas mengenai Materi Hukum Internasional tentang tanggung
jawab Negara serta kasus-kasu dalam dunia Internasional mengenai tanggung jawab
Negara.
Dalam penyusunan makalah ini penulispun tak lepas dari hambatan-hambatan,
namun karena banyaknya dukungan maka hambatan tersebut dapat teratasi dengan
baik. Penulis sadar bahwa makalah ini memang tidak sempurna maka dari itu penulis
meminta saran dan kritik agar penulis tidak mengulangi kesalahan pada masa yang
akan datang.
Wassalamualaikum wr.wb.

Bandung, 10 Mei 2010

Penulis
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan Pembahasan 2
1.4. Kegunaan Penulisan 2
1.5. Manfaat Penulisan 2
BAB II KAJIAN TEORI
2.1. Pendahuluan 3
2.2. Tanggung Jawab Negara: Perdata dan Pidana 4
2.3. Macam-macam Tanggung Jawab Negara 5
2.4. Teori Kesalahan 9
2.5. Doktrin Imputabilitas 10
2.6. Eksproriasi (Nasionalisasi) 11
2.7. Tanggung Jawab Negara terhadap Orang Asing 12
2.8. Tanggung Jawab Negara terhadap Lingkungan 15
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Hubungan teori Tanggung Jawab Negara dengan Kasus
3.2. Rainbow Case 17
3.3. Hubungan teori Tanggung Jawab Negara dengan Kasus
3.4. Corfu Channel Case 21
BAB IV PENUTUP
4.1. SIMPULAN 26
4.2. SARAN 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tanggung jawab negara dalam hukum internasional merujuk pada
pertanggungjawaban satu negara terhadap yang lain akan ketidaktaatannya memenuhi
kewaiban yang ditentukan oleh sistem hukum internasional. Semua negara
bertanggung jawab sama atas tindakan illegal mereka, terutama tindakan-tindakan
yang mengakibatkan kerusakan internasional.
Mengenai masalah tanggung jawab negara, merupakan masalah yang
kompleks. Salah satu badan yang memprakarsai mengenai hal ini adalah Komisi
Hukum Internasional, dengan usaha awal untuk menghasikan konvensi yang
berhubungan dengan masalah tanggung jawab pada umumnya, dengan tanggung
jawab terhadap perlakuan orang asing pada khususnya.
Sehingga, pembahasan mengenai tangung jawab negara ini, membahas
mengenai bagaimana bentuk tanggung jawab negara, dan dalam hal apa. Kemudian,
sejauh mana suatu negara dapat bertanggung jawab dan tindakan-tindakan apa yang
masuk ke dalam tanggung jawab negara.
Setelah mengerti bagaimana konsep dari tanggung jawab negara tersebut,
beserta karateristiknya, maka penulis akan menghubungkan dengan kasus-kasus
internasional yang terjadi.

1.2. Rumusan Masalah


Dalam membuat makalah ini, kami membatasi rumusan masalah yang menjadi
kajian landasan teori dan pembahasan kelompok kami yaitu pada hal-hal berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan tanggung jawab negara?
2. Apakah hubungan teori mengenai tanggung jawab negara bila dihubungkan
dengan Rainbow Warrior case?
3. Apakah hubungan teori mengenai tanggung jawab negara bila dihubungkan
dengan The Corfu Channel Case (Merits)?
1.3. Tujuan Pembahasan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Internasional
2. Untuk dapat mengetahui dan memahami teori – teori :
 Tanggung Jawab Negara
 Hubungan teori tanggung jawab negara dihubungkan dengan Rainbow
Warrior case
 Hubungan teori tanggung jawab negara dihubungkan dengan The Corfu
Channel Case (Merits).

1.4 Kegunaan Penulisan


Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah serta
maksud dan tujuan penulisan, maka manfaat yang akan diperoleh dari penulisan ini
adalah: kegunaan secara akademis, diharapkan hasil penulisan ini dapat menambah
wawasan dan sebagai referensi tambahan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di
bidang hukum internasional khususnya mengenai tanggung jawab negara dan hal-hal
yang berkaitan dengan tanggung jawab negara.

1.5 Metode Penulisan


Metode penulisan yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah tinjauan
kepustakaan melalui web research dan analisis data dan teori dari buku.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pendahuluan
Yang menjadi latar belakang timbulnya tanggung jawab negara dalam hukum
internasional yaitu bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat menikmati hak-haknya
tanpa menghormati hak-hak negara lain. Setiap pelanggaran terhadap hak negara lain,
menyebabkan negara tersebut wajib untuk memperbaiki pelanggaran hak itu. Dengan
kata lain, negara tersebut harus mempertanggungjawabkannya. Suatu negara
bertanggung jawab, misalnya, karena telah melanggar kedaulatan wilayah negara lain,
merusak wilayah atau harta benda negara lain dan lain-lain.
Menurut Professor Higgins, hukum tentang tanggung jawab negara tidak lain
adalah hukum yang mengatur akuntabilitas (accountability) terhadap suatu pelanggaran
hukum internasional. Jika suatu negara melanggar suatu kewajiban internasional,
negara tersebut bertanggung jawab (responsibility) untuk pelanggaran yang
dilakukannya. Menurut beliau, kata accountability mempunyai dua pengertian. Pertama,
negara memiliki keinginan untuk melaksanakan perbuatan dan/atau kemampuan
mental (mental capacity) untuk menyadari apa yang dilakukannya. Kedua, terdapat
suatu tanggung jawab (liability) untuk tindakan negara yang melanggar hukum
internsional (internationally wrongful behaviour) dan bahwa tanggung jawab tersebut
(liability) harus dilaksanakan.
Menurut Shaw, yang menjadi karakteristik penting adanya tanggung jawab
(negara) ini bergantung kepada faktor-faktor sebagai berikut:
1) Adanya suatu kewajiban hukum internasional yang berlaku antara dua negara
tertentu.
2) Adanya suatu perbuatan atau kelalaian yang melanggar kewajiban hukum
internasional tersebut yang melahirkan tanggung jawab negara.
3) Adanya kerusakan atau kerugian sebagai akibat adanya tindakan yang
melanggar hukum atau kelalaian.
2.2. Tanggung Jawab Negara: Perdata dan Pidana
Menurut para sarjana penganut aliran hukum internasional tradisional, sepanjang
menyangkut perbuatan atau tindakan suatu negara yang bertentangan dengan hukum
internasional, maka tanggung jawab yang lahirnya daripadanya selalu akan berupa
tanggung jawab perdata. Aliran tradisional tidak mengenal pembedaan tanggung jawab
negara dalam arti tanggung jawab pidana. Sarjana hukum internasional ternama,
seperti Shaw dan Brownlie, berpendapat bahwa konsep suatu negara dapat
dipertanggungjawabkan secara pidana tidak mempunyai nilai hukumnya sama sekali
dan tidak ada justifikasi (pembenaran) terhadapnya.
Namun, penulis-penulis selain penganut ajaran tradisional, berpendapat bahwa
pembedaan tersebut seyogyanya diadakan. Pendapat ini didasarkan pada adanya
perkembangan serta perubahan yang terjadi dalam konsep hukum internasional
khususnya sejak tahun 1945. Perkembangan yang dimaksud yaitu:
1) Perkembangan konsep Jus Cogens
2) Lahirnya tanggung jawab pidana individu menurut hukum internasional
3) Lahirnya piagam PBB dan ketentuan-ketentuannya untuk tindakan penegakan
hukum (enforcement) terhadap suatu negara sehubungan dengan tindakannya
yang mengancam atau melanggar perdamaian atau tindakan agresi.
Sanksi terhadap tanggung jawab negara dalam bidang pidana bisa berupa
sanksi embargo ekonomi atau diadakannya persidnagan terhadap pelaku atau organ
negara (misalnya tentara) yang melanggar hukum internasional. Hal terakhir ini sesuai
dengan doktrin imputabilitas. Dengan kata lain, tanggung jawab negara di bidang
pidana dapat diwujudkan ke dalam tanggung jawab pejabat pemerintanhnya (yang
berkuasa pada waktu pelanggaran hukum internasional terjadi)
Tanggung jawab perdata tampak misalnya dari tanggung jawab negara terhadap
negara lain atau pengusaha asing sehubungan dengan tidak dipenuhinya kewajiban-
kewajibannya dalam pelaksanaan perjanjian atau kontrak komersil. Lahirnya
pembedaan perbuatan negara ke dalam jure imperii dan jure gestionis juga
memperkuat kesimpulan perlu adanya pembedaan tanggung jawab negara. Dalam hal
jure gestionis suatu negara diperlakukan sebagai halnya ‘orang perorangan’ yang
melakukan kegiatan atau transaksi komersial.
2.3. Macam-macam Tanggung Jawab Negara
Secara garis besar, tanggung jawab negara dapat dibagi menjadi:
1. Tanggung Jawab Perbuatan Melawan Hukum (Delictual Liability)
Tanggung jawab seperti ini dapat lahir dari setiap kesalahan atau kelalaian suatu
negara terhadap orang asing di dalam wilayahnya atau wilayah negara lain. Hal ini
dapat timbul karena:
a. Ekplorasi Ruang Angkasa
Negara peluncur satelit selalu bertanggung jawab terhadap setiap kerugian yang
disebabkan oleh satelit terhadap benda-benda (obyek) di wilayah negara lain. Sistem
tanggung jawabnya adalah tanggung jawab absolut (absolut liability). Ketentuan hukum
yang mengatur tanggung jawab atas kegiatan-kegiatan peluncuran satelit (benda-benda
ruang angkasa) ini diatur oleh Konvensi tentang Tanggung Jawab Internasional untuk
Kerusakan yang Disebabkan oleh Benda-Benda Ruang Angkasa tahun 1972
(Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects).
b. Eksplorasi Nuklir
Negara bertanggung jawab terhadap setiap kerusakan yang disebabkan karena
kegiatan-kegiatnnya dalam bidang eksplorasi nuklir. Sistem tanggung jawabnya pun
adalah tanggung jawab absolut. Perjanjian internasional yang mengatur eksplorasi
nuklir adalah the Vienna Convention on Civil Liability, tanggal 21 Mei 1963. Konvensi
mulai berlaku efektif tanggal 27 November 1977. Menurut Konvensi, operator nuklir
bertanggung jawab atas kerusakan (rekator) nuklir (Pasal II). Tanggung jawab tersebut
sifatnya adalah absolut (Pasal IV).
c. Kegiatan-kegiatan Lintas Batas Nasional
Setiap negara harus mengawasi dan mengatur setiap kegiatan di dalam
wilayahnya, baik yang sifatnya publik maupun perdata, yang tampaknya kegiatan
tersebut dapat melintasi batas negaranya dan menimbulkan kerugian terhadap negara
lain. Sistem tanggung jawab yang berlaku di sini bergantung kepada bentuk kegiatan
yang bersangkutan.
2. Tanggung Jawab Atas Pelanggaran Perjanjian (Contractual Liability)
a. Pelanggaran Suatu Perjanjian
Pada sengketa Chorzow Factory (1927), pelanggaran terhadap perjanjian
melahirkan suatu kewajiban untuk membayar ganti rugi. Sifat dan berapa ganti rugi
untuk pelanggaran suatu internasional dapat ditentukan oleh Mahkamah Internasional,
pengadilan, peradilan arbitrase atau melalui perlindungan. Pelanggaran seperti ini
dapat pula dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap prinsip pacta sunt servanda
atau bone fides dalam hukum internasional.
b. Pelanggaran Kontrak
Dalam hal pelanggran kontrak, hukum internsional dapat memainkan perannya
dalam dua hal kemungkinan berikut:
Pertama, para pihak (negara dan negara atau negara dan perusahaan asing)
sepakat untuk memberlakukan prinsip-prinsip hukum internasional dalam kontrak
mereka. Sejak hukum internasional diberlakukan, hukum internasional akan memberi
perlindungan hukum kepada pihak yang lemah dalam suatu kontrak.
Kedua, hukum internasional akan memainkan peran pentingnya manakala suatu
negara melakukan tindakan-tindakan yang melanggar kontrak menurut hukum
internasional. Tindakan tersebut umumnya dilakukan berupa tundakan untuk
menghindari kewajiban negara sebagaimana tertuang dalam kontrak.
1) Kontrak dengan indikasi KKN
Masalah lain timbul manakala pejabat negara atau pejabat pemerintah yang
menandatangani kontrak ternyata menyalahgunakan jabatannya. Praktek seperti ini
tampak cukup subur di negara-negara berkembang.
2) Internasionalisasi Kontrak
Istilah ini diperkenalkan secara formal oleh guru besar hukum internasional
ternama kebangsaan Perancis, Profesor Dupuy dalam sengketa Texaco v Libya (1977).
Internasionalisasi kontrak adalah suatu kontrak yang dibuat oleh negara dengan
perusahaan asing (foreign private person) yang di dalamnya termuat 3 hal berikut:
1) Para pihak sepakat untuk menerapkan prinsip-prinsip hukum umum (genaral
principles of law) yang dikenal dalam hukum internasional untuk mengatur
kontrak.
2) Para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketanya kepada arbitrase
internasional.
3) Kontrak yang dibuat antar negara dengan individu (perusahaan) termasuk ke
dalam bentuk atau kategori yang dinamakan dengan perjanjian pembangunan
ekonomi (economic development agreements). Kontrak seperti ini misalnya
adalah perjanjian eksploitasi minyak.
3. Pengecualian Tanggung Jawab Negara
a. Adanya persetujuan dari negara yang dirugikan (consent)
Contoh yang umum tentang hal ini adalah pengiriman tentang negara lain atas
permintaannya. Persetujuan ini harus diberikan sebelum atau pada saat pelanggran
terjadi. Persetujuan yang diberikan setelah terjadinya pelanggaran sama artinya dengan
penanggalan hak untuk mengklaim ganti rugi. Namun dalam hal ini, persetujuan yang
diberikan kemudian itu tidak menghilangkan unsur pelanggran hukum internasional.
b. Diterapkannya sanksi-sanksi yang sah
Suatu tindakan pelanggran dikesampingkan manakala tindakan itu dilakukan
sebagau sautu upaya yang sah menurut hukum internasional sebagai akibat adanya
pelanggaran internasional yang dilakukan oleh negara lainnya.
c. Keadaan Memaksa (Force Majeure)
Pasal 23 Rancangan Komisi Hukum Internasional tentang tanggung jawab
negara menentukan bahwa kesalahan negara dapat dihindari apabila tindakan itu
disebabkan karena adanya kekuatan yang dapat diduga sebelumnya di luar
kontrol/pengawasan suatu negara yang membuatnya da yang secara materiil tidak
mungkin bagi negara yang bersangkutan untu memnuhi kewajiban internasional
tersebut.
d. Tindakan yang sangat diperlukan (Doctrine of necessity)
Doctrine of necessity menyatakan bahwa suatu negara dapat melakukan suatu
tindakan yang merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kepentingan yang
esensil terhadap bahaya yang sangat besar.
Ada perbedaan antara doctrine of necessity dengan force majeure. Dalam
doctrine of necessity tindakan pelanggaran hukum suatu negara terpaksa dilakukan
karena tindakan tersebut adalah satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan
vitalnya. Sedang force majeure adalah suatu keadaan di mana kekuatan yang bersifat
di luar kemampuan dan tidak dapat dihindari serta suatu tindakan pelanggaran yang
dilakukan karena adanya kondisi yang berada di luar kontrol atau pengawasan negara.
e. Tindakan Bela Diri (Self-defense)
Yang menjadi tolok ukur dari dari sautu tindakan tersebut harus sesuai dengan
Piagam PBB. Jika tidak, tindakan tersebut harus menghapus tindakan tanggung jawab
negara.
2.4. Teori Kesalahan
a. Teori Subyektif (Teori Kesalahan)
Menurut teori subyektif, tanggung jawab negara ditentukan oleh adanya unsur
keinginan atau maksud untuk melakukan suatu perbuatan (kesengajaan atau dolus)
atau kelalaian (culpa) pada pejabat atau agen negara yang bersangkutan.
b. Teori Obyektif (Teori Risiko)
Menurut teori obyektif, tanggung jawab negara adalah selalu mutlak (strict).
Manakala suatu pejabat atau agen negara telah melakukan tindakan yang merugikan
orang (asing) lain, maka negara bertanggung jawab menurut hukum internasional tanpa
dibuktikan apakah tindakan tersebut terdapat unsur kesalahan atau kelalaian.
Dari kasus-kasus yang timbul, kedua teori tersebut mendapat pengakuan dalam
hukum internasional. Namun demikian, kecenderungan penerapan yang lebih banyak
dianut adalah teori obyektif.

3. Exhaustion of Local Remedies


Sehubungan dengan lahirnya tanggung jawab negara ini, hukum kebiasaan
internasional menetapkan bahwa sebelum diajukannya kliam/tuntutan ke pengadilan
internasional, langkah-langkah penyelesaian sengketa (local remedies rule) yang
tersedia atau yang diberikan oleh negara tersebut harus terlebih dahulu ditempuh
(exhausted). Tindakan ini dilakukan baik untuk memberi kesempatan kepada negara itu
untuk memperbaiki kesalahnnya menurut sistem hukumnya dan untuk mengurangi
tuntutan-tuntutan internasional.
Ketentuan Local remedies ini tidak belaku manakala:
1) Suatu negara telah melakukan pelanggaran langsung hukum internasional yang
menyebabkan kerugian terhadap negara lainnya.
2) Ketentuan local remedies ini dapat ditarik berdasarkan suatu perjanjian
internasional, misalnya saja pasal XI ayat (1) Space Treaty 1972.
3) Suatu upaya penyelesaian setempat (local remedies) tidak perlu dipergunakan
manakala pengadilan setempat tampaknya tidak menunjukkan akan memberi
ganti- kerugian.
4) Upaya penyelesaian setempat tidak perlu digunakan apabila hasil atau putusan
dari pengadilan setempat sudah dipastikan akan memberi putusan yang sama
dengan putusan-putusan sebelumnya.
5) Upaya penyelesaian setempat tidak perlu dilakukan manakala upaya tersebut
memang tidak tersedia.
6) Apabila suatu pelanggaran dilakukan oleh pemerintah (eksekutif) yang tidak
tunduk kepada yurisdiksi pengadilan setempat.
7) Negara-negara dapat menyepakati untuk menanggalkan upaya penyelesaian
setempat (local remedies).

2.5. Doktrin Imputabilitas


Doktrin ini merupakan salah satu fiksi dalam hukum internasional. Latar belakang
doktrin ini adalah bahwa negara sebagai suatu kesatuan hukum yang abstrak tidak
dapat melakukan “tindakan-tindakan yang nyata”. Dalam sengketa the German Settlers
in Poland case (1923), Mahkamah Internasional Permanen mengeaskan bahwa “ State
can only act by and throuh their agents and representatives. Jadi tampak disini adanya
ikatan atau mata rantai yang erat antara negara dengan subjek hukum (pejabat atau
perwakilannya) yang bertindak untuk negara.
Sebagaii contoh doktrin ini adalah Pasal 4 Rancangan pasal-pasal Komisi
Hukum Internasional tentang tanggung jawab negara. Rumusan dalam ILC dari suatu
tindakan organ atau pejabat negara tidak bergantung pada : (1). Kelembagaan suatu
negara, apakah ia dari legislatif, eksekutif, atau yudikatif ; (2) Besar kecilnya jabatan
(pangkat) suatu organ atau pejabat, apakah ia pegawai sipil berpangkat rendah atau
jenderal dalam militer; (3) Kedudukan pegawai yang bersangkutan, apakah ia pegawai
pusat atau daerah (lokal, federal, dan lain-lain) (ayat 1); (4) dan status lainnya yang
menurut hukum nasional suatu negara dianggap sebagai pegawai atau pejabat negara
atau pemerintah (ayat 2).
Suatu negara dapat pula bertanggung jawab kepada agen-agen rahasianya.
Misalnya dalam the rainbow Warrior case (1987).

2.6. Ekspropriasi (Nasionalitas)


Ekspropriasi mengacu pada pengertian pengambilalihan suatu kepemilikan harta
kekayaan orang asing berupa suatu aset tertentu, misalnya perkebunan karet atau
pembangunan suatu gedung. Pengambilalihan suatu perusahaan asing adalah suatu
pelanggaran hukum. Namun demikian dalam hal-hal tertentu tindakan ini dapat pula
dianggap dibenarkan apabila dipenuhinya syarat-syarat sebagai berikut :
a. Untuk Kepentingan Umum ( Public Purpose)
Hal ini dilakukan untuk kepentingan umum. Sutau tindakan nasionalisasi tidak
sah dalam hukum internasional, kecuali tindakan itu memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
(1) Ekspropriasi dilakukan untuk kepentingan umum sehubungan dengan
kebutuhan dalam negeri tersebut;
(2) Ekspropriasi harus diikuti oleh pembayaran ganti rugi yang “prompt.
Adequate, and effective” .
b. Ganti Rugi yang Tepat ( Appropriate Compensation)
Suatu pengambilan perusahaan asing dapat dibenarkan mana kala tindakan itu
diikuti oleh ganti rugi yang prompt, adequate, and effective.
- Adequate berarti bahwa jumlah ganti rugi adalah mempunyai nilai yang sama
dengan usahanya pada waktu dinasionalisasi, ditambah dengan bunganya
sampai keputusan pengadilan dikeluarkan.
- Prompt berarti pembayaran yang dibayarkan secepat mungkin.
- Effective berarti pihak yang menerima pembataran tersebut harus dapat
memanfaatkannya.
Pendapat ini ditentang oleh negara berkembang. Ganti rugi cukuplah dilakukan
menurut prinsip ganti rugi yang sewajarnya dan menurut hukum nasionalnya.
Menurut Schwarzenberger, kompensasi (ganti rugi) dapat berupa monetary
compensation (ganti rugi dalam bentuk sejumlah uang), atau berupa satisfaction.
Monetary compensation dapat terdiri dari :
a. Penggantian biaya pada waktu putusan pengadilan dikeluarkan.
b. Kerugian tak langsung (indirect damages), sepanjang kerugian ini
mempunyai kaitan yang langsung dengan tindakan tak sah tersebut.
c. Hilangnya keuntungan yang diharapkan, sepanjang keuntungan tersebut
mungkin dalam situasi atau perkembangan yang normal.
d. Pembayaran terhadap kerugian atas bunga yang hilang karena adanya
tindakan melanggar hukum.
Satisfaction menurut Prof. Brownlie ini adalah setiap upaya yang dilakukan oleh
si pelanggar suatu kewajiban untuk mengganti kerugian menurut hukum
kebiasaan atau suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang bersangkutan
yang bukan berupa restitution (restitusi/pemulihan) atau compensation.
c. Non Diskriminasi (Non-Discrimination)
Merupakan suatu prasyarat agar ekspropriasi sah.

2.7. Tanggung Jawab Negara terhadap Orang Asing


Di dalamnya terdapa dua pandangan yang saling berbeda, yaitu pandangan
negara sedang berkembang dan negara maju. Negara-negara berkembang cenderung
untuk tidak mengakui perlakuan yang khusus kepada warga negara asing di dalam
negerinya. Mereka menekankan perlunya persamaan perlakuan sebagaimana halnya
(seorang) warganya. Sementara negara-negara maju umumnya menginginkan
perlindungan yang lebih besar terhadap warga negaranya di luar negeri.
Latar belakang atau alasan dimungkinkannya suatu negara melindungi warga
negaranya dari perlakuan yang kurang baik dari negara asing serta menuntut ganti rugi
adalah karena adanya doktrin tentang tanggung jawab negara yang terkait dengan
kebangsaan ( Nationality of Claims).
Hal ini terjadi karena doktrin tanggung jawab negara ini bersandar pada 2 pilar
kembar, yaitu:
1. Hubungan suatu negara dengan tindakan-tindakan yang melanggar hukum
atau kelalaian yang dilakukan pejabat-pejabatnya.
2. Kemampuan negara untuk mengklaim atas nama warga negaranya.

I. STANDAR MINIMUM INTERNASIONAL DAN STANDAR PERLAKUAN NASIONAL


1. International Minimum Standart
Arti standar standar disini bukan saja berarti standar hukumnya (yaitu hhukum
internasional), tetapi juga standar dalam arti penegakan hukumnya(
enforcement), yakni perlindungan yang efektif menurut ketentuan hukum
internasional.
2. National Tretment Standart
Standar ini lahir sebagi reaksi atas stadar minimum internasional. Standar ini
tampak dalam :
1) Pasal 9 the Montevideo Convention on Rights and Duties of States tahun
1933.
2) Draff articles yang diusulkan oleh pemerintah Panama yang diserahkan
kepada ILC (Komisi Hukum Internasional) dalam pembahsan mengenai Draff
Declaration on Roghts and Duties of States tahun 1949.
Upaya untuk menyatukan kembali pemikiran mengenai standar ini, Amador
merumuskan dua prinsip perlakuan terhadap orang/waraga negara asing :
1. Bahwa orang asing harus menikmati hka-hak serta jaminan yang sama dengan
warga negara yang bersangkutan.
2. Tanggung jawab internasional suatu negara akan timbul apabila hak-hak asasi /
fundamental menusia tersebut dilanggar.

II. DOKTRIN CALVO


Doktrin ini menegaskan prinsip non intervensi yang disertai penegasan bahwa orang
asing hanya berhak diberlakukan seperti halnya warga negaranya. Latar belakang
Carlo Calvo mengeluarkan pendapat hukumnya tersebut karena ada dua alasan
yakni sebagai berikut :
i. Bahwa setiap orang asing yang berada di suatu negara mempunyai hak
perlindungan yang sama dengan warga negara tersebut dan orang asing tidak
dapat menuntut perlindungan yang lebih besar dari pada yang diterima oelh
warga negara tersebut;
ii. Setiap orang asing yang mengklaim hak perlindungan yang lebih besar
daripada yang diberikan oleh negara dimana ia tinggal adalah bertentangan
dengan hak persamaan antara negara ( the right of equality of nation).
Tujuan dari klausul Calvo ini adalah untuk menghindari campur tangan diplomatik
negara asing kepada warga negaranya.

III. PENGUSIRAN ORANG ASING


Salah satu hak yang dimiliki oleh negara adalaah hak untuk menolak seorang
asing yang memasuki wilayahnya dan mengenakan syarat-syarat bagi masuknya
orang asing ke dalam wilayahnya, serta mengusir atau memulangkan orang asing
tersebut.
Menurut Goodwin-Gill, praktek negara mengakui pengusiran ini apabila:
i. Masuk ke dalam suatu negara dengan cara melanggar hukum;
ii. Melanggar syarat-syarat izin masuk;
iii. Terlibat dalam tindak kriminal;
iv. Berdasarkan pertimbanagn politik dan keamanan orang asing tersebut harus
diusir.
Sebagai perbandingan, pasal 3 Konvensi Eropa, 1956 menetapkan bahwa suatu
negara dapat mengusir warga negara asing yang ebrdiam di wilayahnya jika ia telah
melakukan tindakan yang mengganggu keamanan nasionalnya atau ketertiban atau
moralitas di dalam negerinya.

2.8. Tanggung Jawab Negara terhadap Lingkungan


Ketentuan internasional yang mengatur hal ini tampak dalam pasal 30 Piagam Hak-
hak dan Kewajiban Ekonomi Negara Tahun 1974. Bunyi pasal ini mengandung lima
prinsip penting sehubungan dengan tanggung jawab negara terhadap lingkungan
yakni:
i. Bahwa perlindungan, pemeliharaan, dan peningktan lingkungan untuk
generasi sekarang dan akan datang adalah tanggung jawab semua negara;
ii. Bahwa semua negara harus berupaya membuat kebijakan-kebijkan
lingkungan dan pembangungan sesuai dengan prinsip pertama di atas;
iii. Bahwa kebijakan lengkungan semua negara tidak boleh merugikan
pembangunan negara sedang berkembang sekarang atau yang akan datang;
iv. Bahwa semua negara berkewajijban untuk menjaga kegiatan-kegiatan di
dalam wilahnya agar tidak merugikan lingkungan negara lain;
v. Bahwa semua negara perlu bekerja sama untuk mengembangkan norma-
norma atau aturan-aturan di bidang lingkungan hidup.

Perkembangan Peraturan Tanggung Jawab Negara terhadap Lingkungan


Tanggung jawab negara terhadap lingkungan dipertegas lagi dalam Konverensi PBB
tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED atau United Nations Conference on
Environtment and Development) tahun 1992.
Adapun hasil dari KTT Bumi 1992 ini adalah:
a. Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangungan (Rio Declaration on
Environment and Development);
b. Konvensi tentang perubahan iklim (Framework Conventin on Climate Change);
c. Konvensi tentang keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity);
d. Agenda 21 termasuk ketentuan implementasi tanggung jawab negara dalam
berbagai aspek pengelolaan lingkungan;
e. Prinsip-prinsip manajemen, konservasi, dan pembangungan berkelanjutan
hukum ( Statement of principles on the Management, Conservation and
Sustainable of All Types of Forest).
BAB III
PEMBAHASAN

Rainbow Warrior Case

Rainbow Warrior Case adalah kasus perselisihan antara Selandia Baru dan
Perancis yang muncul akibat tenggelamnya kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace.
Pada tahun 1986, kasus ini dibawa ke proses arbitrase yang diselesaikan oleh
Sekertaris Jenderal PBB, Javier Pérez de Cuéllar , dan menjadi subjek pembicaraan
yang signifikan dalam Hukum Internasional Publik mengenai implikasinya terhadap
Tanggung Jawab Negara.
Rainbow Warrior adalah salah satu nama untuk seri kapal-kapal laut yang
dioperasikan oleh Greenpeace, sebuah organisasi yang aktif menentang pembangunan
pembangkit tenaga nuklir. Kapal pertama ditenggelamkan oleh Direktorat umum
Keamanan Luar Negeri Perancis (DGSE) di pelabuhan Auckland, Selandia Baru, pada
10 Juli 1985. Saat itu, para aktivitas Greenpeace mendapat teror besar-besaran karena
menentang percobaan nuklir Perancis yang dilakukan di Pulau Muroroa, sekitar
Polynesia. Dalam perjalanan ke atol (pulau karang) Mururoa, kapal Greenpeace
berlabuh di Auckland dan ditenggelamkan oleh Perancis disana. Dalam peristiwa
tersebut seorang aktivis Greenpeace tewas. Perdana Menteri Selandia Baru pada saat
itu, David Lange marah besar karena agen-agen rahasia Perancis telah dengan leluasa
malang melintang di negerinya. Kemudian Selandia Baru menangkap dan menghukum
beberapa anggota dari Dinas Rahasia perancis tersebut.
Setelah melawati konfrontasi yang panjang antara Perancis dan Selandia Baru
yang menyinggung isu utama mengenai kompensasi dan perawatan terhadap agen
Perancis yang ditawan oleh Selandia Baru, dua Negara ini memutuskan untuk
menyelesaikan perbedaan pendapat diantara mereka ke Sekertaris Jenderal PBB,
Javier Pérez de Cuéllar. Keputusan mengikat yang dihasilkan diumumkan pada
tanggal 6 Juli 1986.
Proses Arbitrase
Walaupun aksi percobaan nuklir Perancis dianggap tidak mengancam keamanan
dan perdamaian dunia sebagaimana yang menjadi sasaran PBB, tetapi PBB telah
secara luas menindak kasus pelanggaran terhadap kejahatan Internasional terhadap
kedaulatan dan spionase (meskipun spionase secara damai tidak diatur oleh Hukum
Internasional). Memorandum Perancis kepada Sek-Jen PBB berisi pendapat bahwa
Greenpeace telah terlibat dalam “aksi bermusuhan” dan “penembusan secara illegal”
kedalam wilayah Perancis selama waktu percobaan nuklir dan Selandia Baru menjadi
tempat yang dilewati Rainbow Warrior. Argumen ini ditolak karena hal tersebut tidak
terbukti dan tidak terpenuhinya syarat apapun dari Hukum Internasional sehubungan
dengan aksi kekerasan yang dilakukan Perancis terhadap Rainbow Warrior.

Hasil Arbitrase
Dalam beberapa kasus dimana Negara mengirimkan agennya ke luar
negeri untuk melakukan aksi illegal seperti yang dilakukan Perancis ke Selandia Baru,
menurut Hukum Internasional dan hukum kota, menjadi kebiasaan bagi Negara yang
dituju tersebut untuk menjalankan tanggung jawabnya terhadap aksi dan isu ganti
kerugian. Bagaimanapun juga, agen tersebut biasanya diberi kekebalan oleh
pengadilan setempat. Namun dalam kasus ini, Selandia Baru berusaha untuk
menangani Perancis di bawah aturan Hukum Internasional dan berusaha menangani
agennya di bawah hukum kotanya.
Akhirnya, Perancis, telah mengakui kesalahannya dan mau bertanggung
jawab dengan memfokuskan usahanya dalam usaha pemulangan kembali para
sgennya yang ditawan. Hal ini disetujui oleh Selandia Baru dengan syarat mereka akan
menjalankan sisa hukuman mereka. Kompromi akhirnya tercapai melalui jalan mediasi
dari sek-jen PBB yaitu 3 tahun hukuman di Pulau Karang Perancis. Dalam masa ganti-
rugi, Perancis pada awalnya menawarkan sebuah permintaan maaf yang resmi dan
pengakuan telah melanggar hukum internasional. Ditambah lagi, UN Sekjen
menghadiahkan 7 miliar dollar kepada Selandia Baru. Ini adalah kompensasi tambahan
yang Perancis bayarkan kepada keluarga korban dalam misi Grrenpeace.
Analisis Kasus
Perjanjian Westphalia 24 Oktober 1684, merupakan salah satu upaya
“efektif” untuk meredam tindakan anarki suatu Negara untuk mencampuri urusan
Negara lain. Perjanjian ini menelurkan gagasan tentang kedaulatan dan Negara modern
yang berdaulat. Disusunlah system/tatanan yang mengatur code of conduct dunia
internasional. Prinsip kedaulatan modern menurut Sejarahwan Hendrik Spruyt, dengan
mengacu pda perjanjian Westphalia, ada dua :
Pertama, ekslusi, yaitu pengekslusian semua entitas non-teritorial, penada limit
kedaulatan secara gradual dan pasti (Hanseatic League)
kedua, mutual recognition, yaitu pengakuan kedaulatan dari Negara berdaulat lain. Hal
ini akan membawa Negara-negara berdaulat pada prinsip non-intervensi dalam
masalah territorial Negara lain.
Dari perjanjian ini pula, konsep Negara modern lahir. Negara modern
memiliki tiga karakteristik yang jelas. Pertama, ia memiliki suatu wilayah tertentu
lengkap dengan garis perbatasannya. Kedua, ia memiliki kendali ekslusif, atas wilayah
tersebut: ‘kedaulatan’ berarti bahwa tidak ada entitas lain yang dapat mengajukan klaim
untuk memerintah ruang itu. ketiga, hirarki, yakni Negara adalah badan politik tertinggi
yang menetapkan peranan dan kekuasaan semua bagian pemerintah.
Kasus Rainbow Warrior mendukung ide doktrin non-intervensi dalam hukum
Internasional dan suatu Negara akan dihukum jika menentangnya. Perancis tidak dapat
seenaknya masuk ke wilayah Selandia Baru dan melakukan suatu tindakan yang bukan
dalam teritorinya, seperti menenggelamkan kapal Rainbow Warrior di dalam teritori
Selandia Baru hingga menyebabkan adanya korban tewas. Pada akhirnya, sikap
Perancis yang mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas kesalahannya
tersebut membuktikan sebuah bentuk tanggung jawab Negara sebagaimana yang
dikemukakan Professor Higgins mengenai Hukum tentang tanggung jawab Negara.
menurutnya Hukum tentang tanggung jawab Negara tidak lain adalah hukum yang
mengatur akuntabilitas (accountability) terhadap suatu pelanggaran hukum
internasional. Jika suatu negara melanggar suatu kewajiban internasional, negara
tersebut bertanggung jawab (responsibility) untuk pelanggaran yang dilakukannya.
Menurut beliau, kata accountability mempunyai dua pengertian. Pertama, negara
memiliki keinginan untuk melaksanakan perbuatan dan/atau kemampuan mental
(mental capacity) untuk menyadari apa yang dilakukannya. Kedua, terdapat suatu
tanggung jawab (liability) untuk tindakan negara yang melanggar hukum internsional
(internationally wrongful behaviour) dan bahwa tanggung jawab tersebut (liability) harus
dilaksanakan. Hal inilah yang terbukti dari tindakan Perancis yang mengakui adanya
pelanggaran hukum internasional yang dilakukannya dan menunjukan tanggung
jawabnya.
Selain itu, Selandia Baru sebagai Negara yang berdaulat juga menunjukan
kedaulatannya dengan bertanggung jawab menangani kasus yang terjadi dibawah
jurisdiksinya dan membawa penyelesaikan kasus ini ke pihak yang berwenang.
Selandia Baru merasa bertanggungjawab sehingga menindak kasus penenggelaman
kapal Rainbow Warrior yang terjadi di wilayahnya guna melindungi keamanan di
negaranya. Hal ini juga menjadi kajian yang menarik mengenai tanggung jawab
Negara, dan tanggung jawab individu, serta penggunaan kekerasan dan ganti rugi.
CORFU CHANNEL CASE

The Corfu Channel Insiden mengacu pada tiga kejadian terpisah yang
melibatkan Royal Navy kapal di Corfu Channel yang berlangsung pada tahun 1946, dan
dianggap sebuah episode awal Perang Dingin . Dalam insiden pertama pada 15 Mei
1946, Royal Navy, kapal Inggris, mendapat serangan dari benteng Albania. Albania
menembaki dengan meriam-meriam ke pantai Albania, Albania pada saat itu sedang
perang dengan Yunani. Peristiwa kedua melibatkan kapal Angkatan Laut Inggris yang
menabrak ranjau yang berada di selat tersebut kemudian menimbulkan korban jiwa
pada 22 Oktober 1949. Atas kejadian ini, Inggris kemudian melakukan pembersihan
ranjau-ranjau yang berada di selat tersebut tanpa adanya izin dari pemerintahan
Albania. Serangkaian insiden ini mengakibatkan Corfu Channel Case , di mana Inggris
membawa kasus terhadap Republik Rakyat Albania ke Mahkamah Internasional .
Karena insiden tersebut , pada 1946, Inggris memutuskan pembicaraan dengan Albania
bertujuan untuk memutus hubungan diplomatik antara kedua negara. Keputusan
Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Albania bertanggung jawab atas
kerusakan kapal Inggris dan Inggris telah melanggar kedaulatan Albania karena
tindakannya yang menyapu ranjau. Namun, hubungan diplomatic kedua Negara yang
sedang perang dingin tersebut akhirnya kembali pada tahun 1991.

Insiden pertama berawal dari 15 Mei 1046 dimana kapal Royal Navy yakni HMS Orion
dan HMS Superb melewati Corfu Channel dan ternyata ditembaki oleh Albania dengan
meriam. Meskipun begitu tidak ada kerugian dan tidak memakan Korban atas peristiwa
ini. Albania tidak meminta maaf terhadap apa yang telah diperbuat dengan alasan,
Kapal Inggris telah memasuki wilayah territorial Negara-nya.

Insiden kedua ternyata lebih serius. Ini terjadi pada 22 Oktober 1049 dimana Royal
Navy dengan menurunkan dua kapal penjelajah, HMS Mauritius dan HMS Leander dan
kapal penyerang HMS Sumarez dan HMS Volage, kapal-kapal tersebut diperintahkan
untuk melintasi Corfu Channel dengan pernyataan perintah untuk mengecek reaksi
Albania atas peristiwa yang lalu. Kru telah diinstruksi untuk merespon apabila Albania
melakukan penyerangan. Kapal-kapal tersebut terlalu dekat dengan pantai Albania
yang ternyata telah tertanam ranjau sehingga kappa tersebut terkena ranjau dan 44
orang tewas dan 42 terluka, sebagian besar korban adalah kru dari kapal Saumarez.

Insiden ketiga dan terakhir pada 12 – 13 November 1046 dimana Royal Navy
melakukan pembersihan ranjau-ranjau di Cofu Channel dengan nama oprasi “Operation
Retail”. Berdasarkan Allied Commander-in-Chief Mediterranean, operasi ini dijalankan
tanpa adanya persetujuan Albania. Ketakutan Albania akan adanya pelanggaran
wilayah territorial ternyata terbukti dengan adanya kesaksian bahwa ada beberapa
kapal perang dibelakang insiden ketiga ini.

Pada 9 Desember 1946, Inggris mengirimkan pernyataan kepada pemerintahan Albania


untuk mengganti kerugian yang ditimbulkan Albania pada peristiwa yang terjadi pada
insiden bulan Mei dan Oktober. Dengan kurun waktu 40 hari, apabila Albania tidak
menanggapi, maka Inggris akan mengadukan hal tersebut kepada PBB. Melihat tak ada
tanggapan dari Albania, Inggris melanjutkan laporan kepada International Court of
Justice atau Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan hal ini. Untuk kasus
pertama, Albania dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman untuk membayar ganti rugi
kepada Inggris sebesar US $2,009,437. Namun, untuk kasus dimana Inggris melakukan
operasi pembersihan ranjau, ICJ memihak kepada Albania karena operasi tersebut
adalah illegal dan telah mengganggu wilayah territorial suatu Negara dan dianggap
mencampuri urusan Negara lain. Pemerintahan Albania menolak untuk mengganti rugi
sesuai dengan keputusan ICJ, dan balasannya British menahan 1574 kg emas milik
Albania.

Setelah perang dingin tersebut usai, pada tahun 1991, hubungan diplomatic keduanya
kembali. Dan pada 8 Mei 1992, Kedua Negara tersebut memutuskan untuk membuat
perjanjian terkait hal peristiwa Corfu Channel, keduanya mengakui penyesalan
mengenai insiden Corfu Channel pada 22 Oktober 1946 yang lalu. Tahun 1996,
membutuhkan waktu negoisasi yang lama untuk mengembalikan emas Albania setelah
Albania bersedia membayar US $2,000,000 untuk perbaikan.

ANALISIS

Prinsip non intervensi merupakan kewajiban setiap Negara berdaulat untuk tidak
melakukan tindakan mencampuri urusan dalam negeri Negara lain dalam relasi antar
Negara. Prinsip ini dilanggar dalam Corfu Channel Case. Kelompok kami menilai
Inggris lah yang perlu disalahkan dalam kasus ini. Sebagaimana disebutkan dalam
wacana kasus sebelumnya,Inggris serta merta telah melewati batas territorial suatu
Negara dan mencampuri urusan Negara lain yakni Albania dengan modus melakukan
operasi pemusnahan ranjau yang pada kenyataannya tak ada izin dari pemerintahan
Albania. Prinsip non-intervensi sebagai salah satu fondasi dasar dalam hukum
internasional. berkaitan erat dengan prinsip kedaulatan negara. Kelahiran kedaulatan
negara berkaitan dengan lahirnya pejanjian Westhpalia 1648 yang meletakkan dasar-
dasar masyarakat internasional modern yang didasarkan atas negara-negara nasional.
Negara nasional (nation-state) pasca Westhpalia memiliki kedaulatan penuh karena
didasari oleh paham kemerdekaan dan persamaan derajat sesama negara. Artinya
bahwa negara berdaulat; bebas dari negara lainnya dan juga sama derajatnya dengan
yang lain. Untuk kasus ini, ICJ mengatakan “ Between independent states, respect for
territorial sovereignty is an essential foundation of international relations.”
Prinsip non-intervensi juga menentukan bahwa antarnegara tidak boleh melakukan
intervensi. Hal ini didasari bahwa hubungan antarnegara didasari dari persamaan
derajat dan bebas. Larangan untuk intervensi antarnegara diatur dalam Piagam PBB
Pasal 2 (4). Pasal tersebut berbunyi :“All members shall refrain in their international
relation from the threat or use of force against the teritorial integrity or political
independence of any state, or in any other manner inconsistent with the purpose of the
United Nations.”

Terdapat beberapa kata penting dalam bunyi pasal tersebut, yaitu ancaman atau
penggunaan kekuatan (threat or use of force), kesatuan wilayah (teritorial intergrity),
kebebasan politik (political independence), dan tidak selaras dengan tujuan PBB.

Prinsip non intervensi menurut sebagian pendapat ahli telah sampai pada tahap
peremptory norm (jus cogens) Ketika sebuah prinsip dalam hukum internasional telah
mencapai derajat Jus Cogens, maka prinsip tersebut tidak dapat dikecualikan dalam
keadaan apapun. Jus Cogens dalam hukum internasional pun masih menjadi
perdebatan. Sulit untuk menentukan faktor apakah yang dapat menjadikan sebuah
prinsip dalam hukum internasional menjadi sebuah Jus Cogens. menurut Vedross
terdapat tiga ciri aturan atau prinsip yang dapat menjadi Jus Cogens hukum
internasional yaitu:

1) Kepentingan bersama dalam masyarakat internasional.

2) Timbul untuk tujuan-tujuan kemanusiaan.

3) Sesuai atau selaras dengan piagam PBB

Disamping sisi non intervensi tersebut, kita perlu melihat sisi tanggung jawab suatu
Negara yakni Albania. Setiap Negara di dunia memiliki kewajiban internasional untuk
melakukan due diligence. Prinsip ini berakar dalam primary rules hukum internasional
dan meliputi, diantaranya, kewajiban Negara untuk melakukan pengusutan terhadap
warganya yang disangka terlibat tindakan kriminal. Kelalaian Negara dalam melakukan
fungsi due diligencenya akan menimbulkan pertanggungjawaban Negara.
Primary rules merupakan seperangkat aturan internasional yang mendefinisikan hak
dan kewajiban Negara, yang tertuang dalam bentuk traktat, hukum kebiasaan
internasional dan instrument lainnya. Secondary rules adalah seperangkat aturan yang
mendefinisikan kapan, bagaimana dan apa akibat hukum apabila primary rules itu
dilanggar oleh Negara. Secondary rules inilah yang disebut dengan The Law of State
Responsibility, diadopsi oleh International Law Commission dalam sesinya yang ke 53,
tahun 2001 lalu. Dalam kasus tersebut, Albania seharusnya memberikan peringatan
terhadap kapal-kapal Inggris yang lewat akan adanya ranjau-ranjau laut di Selat Corfu
sehingga tidak menimbulkan korban dan urusan yang menjadi lebih parah. Albania
sebaiknya melakukan due delligence, untuk menyelidiki apa yang dilakukan Inggris
sebenarnya, apakah perbuatan tersebut merupakan tindakan kejahatan ataupun
sebaliknya. Namun memang benar adanya pada kasus ini yakni kasus pertama dan
kedua mengenai Corfu Channel atau Selat Corfu, yang pantas disalahkan adalah
Albania karena alasan:

1. Membom kapal-kapal Inggris dengan meriam tanpa menyelidiki dulu alasan


kapal tersebut mendekati atau setidaknya member peringatan

2. Untuk kasus kedua, Albania tidak memberikan peringatan kepada kapal Inggris
yang jaraknya dekat bahkan menyentuh ranjau sehingga menyebabkan tewasnya dan
luka-luka pada kru kapal.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Menurut Professor Higgins, hukum tentang tanggung jawab negara tidak lain
adalah hukum yang mengatur akuntabilitas (accountability) terhadap suatu pelanggaran
hukum internasional. Jika suatu negara melanggar suatu kewajiban internasional,
negara tersebut bertanggung jawab (responsibility) untuk pelanggaran yang
dilakukannya. Menurut beliau, kata accountability mempunyai dua pengertian. Pertama,
negara memiliki keinginan untuk melaksanakan perbuatan dan/atau kemampuan
mental (mental capacity) untuk menyadari apa yang dilakukannya. Kedua, terdapat
suatu tanggung jawab (liability) untuk tindakan negara yang melanggar hukum
internasional (internationally wrongful behaviour) dan bahwa tanggung jawab tersebut
(liability) harus dilaksanakan.
Tanggung jawab Negara ini juga berhubungan dengan perlindungan yang
Negara berikan kepada rakyat di wilayahnya sebagai bukti adanya kedaulatan Negara
terhadap wilayah Negara dan rakyatnya. hal ini juga sebagaimana yang termaktub
dalam Perjanjian Westphalia 24 Oktober 1684, yang merupakan salah satu upaya
“efektif” untuk meredam tindakan anarki suatu Negara untuk mencampuri urusan
Negara lain. Perjanjian ini menelurkan gagasan tentang kedaulatan dan Negara modern
yang berdaulat. Disusunlah system/tatanan yang mengatur code of conduct dunia
internasional.
Dari perjanjian ini pula, konsep Negara modern lahir. Negara modern
memiliki tiga karakteristik yang jelas. Pertama, ia memiliki suatu wilayah tertentu
lengkap dengan garis perbatasannya. Kedua, ia memiliki kendali ekslusif, atas wilayah
tersebut: ‘kedaulatan’ berarti bahwa tidak ada entitas lain yang dapat mengajukan klaim
untuk memerintah ruang itu. ketiga, hirarki, yakni Negara adalah badan politik tertinggi
yang menetapkan peranan dan kekuasaan semua bagian pemerintah.
Melalui konsep yang dihasilkan olh perjanjian ini, prinsip non-intervensi
menjadi suatu pembicaraan yang hangat dalam menyelesaikan kasus Rainbow Case
dan Corfu Channel Case dimana ketika ada suatu Negara yang mengintervensi Negara
lain, maka Negara yang diintervensi sebagi Negara yang berdaulat dapat melakukan
tindakan guna menjalankan tanggung jawab di negaranya demi melindungi kepentingan
Negara dan rakyatnya serta mempertahankan kedaulatan di negaranya.

4.2. Saran
Dilihat dari sisi suatu Negara terhadap Negara lain, maka antara suatu
Negara dan Negara lain hendaknya tidak melakukan intervensi terhadap negara lain.
Karena setiap Negara yang merdeka dan berdaulat di dunia ini memiliki kesetaraan
derajat satu sama lain. Sehingga antar Negara hendaknya dapat memberikan
kebebasan pada suatu Negara untuk menjalankan pemerintahan serta hukum di
negaranya tanpa perlu ada intervensi dari Negara lain. Meskipun pada status quo kita
mengetahui ada Negara dengan Powerfull Bargaining Power atau Negara adidaya dan
adikuasa dan masih ada Negara-negara yang memiliki powerless bargaining power,
tapi hendaknya hal ini tidak menjadi alasan untuk melakukan intervensi bagi Negara
lain. Apabilapun suatu Negara menlakukan pelanggaran terhadap hukum internasional
di Negara lain ataupun berdampak pada Negara lain maka Negara tersebut haruslah
menunjukan kejantanannya melalui sikap tanggung jawab terhadap negaranya sendiri
dan kepada Negara lain.
Apabila dilihat dari sisi suatu Negara terhadap negaranya, maka
hendaknya pemerintah dapat menjalankan tanggung jawab di negaranya dengan baik
sebagai pemerintahan yang berdaulat dan dipercaya oleh rakyatnya. Sebab setiap
Negara memiliki urusan Negara masing-masing, dan pemerintahan di wilayah
tersebutlah yang memiliki wewenang untuk menjalan tanggung jawab negaranya.
Dengan demikian apabila suatu pemerintahan dalam menjalankan tanggung jawab
Negara di wilayahnya maka ia akan mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Hal inilah
yang membuatnya dapat menjadi suatu Negara yang mandiri dan dapat terhindar dari
intervensi dari Negara lain.
Daftar Pustaka

Huala Adolf. 2002. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional. Jakarta:


RajaGrafindo Persada.
Starke, J. G. 1997. Pengantar Hukum Internasional, Jakarta: Sinar Grafika.
Wallace, Rebecca M.M. 1993. Hukum Internasional, Semarang: IKIP Semarang Press.