Anda di halaman 1dari 2

Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting)

Akuntansi anggaran mengacu pada praktik yang dilakukan oleh banyak organisasi sector public,
khususnya pemerintah dalam upaya menyajikan akun-akun operasinya dengaan menggunakan
format yang sama dengan anggarannya. Tujuan praktik ini adalah melihat cara pelaksanaan
anggaran yang sudah dibuat dapat dikendalikan dan dipertanggungjawabkan kepatuhannya.
Organisasi sektor publik menyajikan informasi tentang anggaran dan realisasinya dalam
dua kolom secara bersama-sama . untuk mendapatkan penyajian tersebut, dikembangkan beberapa
alternatif metode dan teknik pencatatan, antara lain:
1. Mencatat anggaran sebagai sebuah transaksi tersendiri dan memperlakukan setiap akun
anggaran sebagai akun buku besar tersendiri yang setara dengan akun lainnya
2. Mencatat anggaran sebagai sebuah transaksi tersendiri dan menempatkannya sebagai akun
dibuku besar pembantu di setiap akun riilnya
3. Menjadikan anggaran sebagai informasi yang melekat di setiap buku besar
Analisis terhadap laporan yang dihasilkan oleh akuntansi anggaran ini juga harus dilakukan
secara cermat untuk tidak menghasilkan kesimpulan yang salah. Hal ini terkait dengan hal yang
sering disebut agregasi. Sebagai contoh, dapat dilihat dari sebuah unit pemerintahan yang
menetapkan struktur anggaran belanja dalam empat level, yaitu akun, jenis, objek, dan perincian
objek.

Belanja
Pegawai

Belanja
Material
Belanja

Belanja Sewa Perjalanan


Dalam Daerah

Belanja Barang
dan Jasa Belanja Perjalanan Luar
Perjalanan Daerah

Belanja Perjalanan Luar


Pakaian Negeri
Penyusunan anggaran biasanya dilakukan sampai pada level terendah, yaitu perincian
objek. Perlakuan akuntansi anggaran juga dilakukan sampai pada level paling detail. Meskipun
demikian, proses pelaporannya tidak selalu harus menyajikan informasi sampai level terendah.
Pilihan atas agregasi ini penting karena jika tidak diperhatikan dengan baik dapat
menyebabkan implementasi akuntansi anggaran menjadi kontraproduktif. Pilihan agregasi harus
memperhatikan kepentingan informasi dan penggunaannya. Dalam rangka pengendalian internal,
digunakan informasi realisasi anggaran sampai level terendah dan dilakukan setiap saat sehingga
tujuan pengendalian transaksi dapat tercapai. Namun, dalam rangka pengambilan kebijakan yang
bersifat makro, informasi yang dibutuhkan tentu adalah realisasi anggaran pada level agregasi yang
lebih tinggi misalnya level jenis dan waktu penyajiannya hanya pada saat dibutuhkan. Organisasi
sector publik, khususnya pemerintah, juga harus mendesain level agregasi yang dibutuhkan pada
setiap kepentingan yang ada sesuai dengan relevansi kebutuhan itu sendiri.
Ide dibalik akuntansi anggaran ini adalah untuk kemudahan demi melakukan pengendalian
belanja. Namun, terdapat beberapa kendala dalam mencapai tujuan ini, khususnya dalam lingkup
pemerintahan terkait dengan otoritas yang mengatur struktur dan klasifikasi anggaran atau
laporannya. Kesulitan biasanya muncul karena perbedaan struktur anggaran dan struktur pelaporan
yang masing-masing dikeluarkan oleh otoritas yang berbeda.
Permasalahan biasanya juga muncul karena antar organisasi memiliki jasa yang berbeda-
beda sehingga berdasarkan nature aktivitasnya masing-masing membutuhkan klasifikasi dan
struktur yang berbeda. Pada kondisi ini, tujuan pengendalian terkadang mengalahkan tujuan
analisis yang lebih substantif. Hasil yang lebih baik sebetulnya dapat diperolehdengan membuat
akun-akun anggaran yang diklasifikasikan dengan cara tertentu yang spesifik terhadap jasa
tertentu. Namun, hal ini menyebabkan ketidakseragaman dalam format akuntansi anggaran atau
pelaporannya.