Anda di halaman 1dari 66

Kunci Jawaban Pendalaman Buku Teks Sejarah XII 3A

BAB 1

A. Mengamati
1. Monumen Pancasila Sakti merupakan 1olonel1 yang dibangun setelah kejadian
Gerakan 30 September yang menyebabkan gugurnya para pahlwan Revolusi.
2. Nama lengkapnya Dipa Nusantara Aidit, orang Sumetera Selatan, lahir di
Belitung pada 30 Juli 1923. Dia putera sulung dari enam bersaudara. Berasal dari
kerluarga terpandang, ibunya ialah Mailan dari keturunan ningrat, dan ayahnya
bernama Abdullah Aidit yang menjabat posisi 1olone kehutanan kala itu. Ketika
PKI melakukan pemberontakan pada tahun 1948 di Madiun, usia Aidit baru 25
tahun. Dia terlibat dalam pemberontakan ini, meski setelahnya jadi lebih sering
kabur-kaburan ke banyak tempat. Pada pemilu tahun 1955, Aidit yang berusia
32 tahun membawa PKI masuk jajaran empat besar sebagai pengumpul suara
terbanyak di Indonesia. Pemerintah Orde Baru mengklaim Aidit bertanggung
jawab atas Gerakan 30 September 1965, oleh karenanya Ketua PKI ini mesti
ditangkap. Namun dia bersembunyi di ruangan rahasia dalam rumah seorang
simpatisan di Solo, Jawa Tengah, dan berhasil membuat TNI Angkatan Darat
kesulitan mendapatkannya untuk beberapa lama.
3. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) adalah milisi dan tentara swasta pro-Belanda
yang didirikan pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Milisi ini didirikan oleh
mantan Kapten DST KNIL Raymond Westerling setelah demobilisasinya dari
kesatuan Depot Speciale Troepen (depot pasukan khusus KNIL) pada tanggal 15
Januari 1949.
4. Letnan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (lahir di Purworejo, Jawa
Tengah, 25 Juli 1925 – meninggal di Jakarta, 9 November 1989 pada umur 64
tahun) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Sarwo lah yang menumpas
gerombolan penculik para jenderal saat Sarwo menjabat sebagai Komandan
RPKAD. Ia memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan
Pemberontakan Gerakan 30 September dalam posisinya sebagai panglima
RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini). Selain itu ia pernah menjabat juga
sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan serta
menjadi Gubernur AKABRI.
5. Dr. Christiaan Robbert Steven Soumokil adalah presiden Republik Maluku
Selatan dari 1950 sampai 1966. Chris Soumokil dilahirkan di Surabaya dan
menempuh pendidikan di sana sebelum pergi ke Belanda. Pemberontakan RMS
ini merupakan suatu gerakan yang tidak hanya ingin memisahkan diri dari
Negara Indonesia Timur melainkan untuk membentuk Negara sendiri yang
terpisah dari wilayah RIS. Pada awalnya, Soumokil, salah seorang mantan jaksa
agung NIT ini, juga pernah terlibat dalam pemberontakan Andi Azis. Akan tetapi,
setelah upayanya untuk melarikan diri, akhirnya dia berhasil meloloskan diri
dan pergi ke Maluku. Selain itu, Soumokil juga dapat memindahkan anggota
KNIL dan pasukan Baret Hijau dari Makasar ke Ambon.
6. PRRI adalah singkatan dari Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia,
sementara Permesta adalah singkatan dari Perjuangan Semesta atau Perjuangan
Rakyat Semesta. Pemberontakan keduanya sudah muncul saat menjelang
pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) tahun 1949. Akar masalahnya
yaitu saat pembentukan RIS tahun 1949 bersamaan dengan dikerucutkan Divisi
Banteng hingga hanya menyisakan 1 brigade saja.
Kemudian, brigade tersebut diperkecil menjadi Resimen Infanteri 4 TT I BB.
Kejadian itu membuat para perwira dan prajurit Divisi IX Banteng merasa
kecewa dan terhina, karena mereka merasa telah berjuang hingga
mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia. Selain itu,
ada pula ketidakpuasan dari beberapa daerah seperti Sumatera dan Sulawesi
terhadap alokasi biaya pembangunan yang diberikan oleh pemerintah pusat.
Kondisi ini pun diperparah dengan tingkat kesejahteraan prajurit dan
masyarakat yang sangat rendah.

7. Ade Irma yang saat itu baru berusia 5 tahun, meninggal akibat tertembak peluru
pasukan Cakrabirawa yang merangsek masuk ke dalam rumahnya untuk
menangkap sang ayah. Namun yang jadi korban adalah Ade Irma Suryanidan
ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean yang diculik lalu di Lubang Buaya.
8. Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya 3olonel RI yang pada waktu itu
dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan
lagi sejak disepakatinya Perjanjian Renville. Lalu dibentuklah 3olonel baru
dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta
kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian 3olonel
tersebut.

Dalam sidang Politbiro PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948, Musso, seorang
tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia) ini
menjelasan tentang “pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan
politik” dan menawarkan gagasan yang disebutnya “Jalan Baru untuk Republik
Indonesia”. Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama
yang bersejarah, yakni PKI. Untuk itu harus dilakukan fusi tiga partai yang
beraliran Marxsisme-Leninisme: PKI 3olonel, Partai Buruh Indonesia (PBI),
dan Partai Sosialis Indonesia(PSI). PKI hasil fusi ini akan memimpin revolusi
proletariat untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang disebut “Komite Front
Nasional”.

Selanjutnya, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan


pentingnya 3olonel presidensial diganti jadi 3olonel front persatuan. Musso juga
menyerukan kerjasama internasional, terutama dengan Uni Soviet, untuk
mematahkan 3olonel3 Belanda. Untuk menyebarkan gagasannya, Musso beserta
Amir dan kelompok-kelompok kiri lainnya berencana untuk menguasai daerah-
daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Solo,
Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo.
Penguasaan itu dilakukan dengan agitasi, demonstrasi, dan aksi-aksi pengacauan
lainnya.[1]

Rencana itu diawali dengan penculikan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang


dianggap musuh di kota Surakarta, serta mengadudomba kesatuan-kesatuan TNI
setempat, termasuk kesatuan Siliwangi yang ada di sana.
Mengetahui hal itu, pemerintah langsung memerintahkan kesatuan-kesatuan
TNI yang tidak terlibat adudomba untuk memulihkan keamanan di Surakarta
dan sekitarnya. Operasi ini dipimpin oleh 4olonel Gatot Subroto.

B. Pilihan Ganda
1. A. tidak mau melihat penyatuan antara KNIL dan TNI
2. D. 5,4,1,2,3
3. A. Jawa Barat merupakan basis Islam yang kuat
4. A. penurunan status Aceh dari Daerah Istimewa menjadi Karisidenan
5. A. dalam menangani masalah hendaknya diselesaikan dengan jalan musyawarah
6. D. 3, 2, 1, 4
7. E. M Yasin
8. D. pemerintah Indonesia tidak stabil
9. D. menentang program-program pelaksanaanisi perjanjian Renville
10. D. Amir Syarifuddin
11. B. Ratu Adil
12. D. ditandatanganinya Perjanjian renville
13. E. rakyat mengira gerakan ini membawa kebaikan
14. C. TNI disatukan dengan bekas lawannya yaitu tentara Belanda/KNIL
15. B. mempersenjatai kaum buruh tani
16. E. A.E Kawilarang
17. B. memperjuangkan agar semua pasukannya diterima ke dalam APRIS
18. A. hanya menuntut agar pemerintah pusat memperhatikan pemerintah daerah
19. A. menghancurkan lawan-lawan politiknya
20. A. pengaruhg Amir Syarifuddin yang merasa kecewa
21. B. tindakan Kartosoewirjo dan gerombolannya bertentangan dengan ajaran Islam
22. D. adanya kesenjangan sosial
23. A. kekuatan PKI sudah cukup untuk merebut kekuasaan
24. A
25. B. jalan damai ditolak oleh RMS
26. C. G 30 S/PKI
27. A. menentang kembali ke Negara kesatuan dan mempertahankan Negara federasi
28. A. Slamet Riyadi
29. D. menolak masuiknya APRIS ke Sulawesi Selatan
30. D. Operasi Pagar Betis
31. E. 1, 2, 4
32. A. komunisme bertentangan dengan pandangan hidup bangsa Indoensia, Pancasila
33. B. Masyumi dan PNI
34. A. mereka berharap rakyat Indonesia yang mayoritas Islam akan mendukung
35. B. jalan damai
36. C. membantai rakyat yang tidak berdosa di Sulawesi selatan
37. B. Perjuangan Dr. Soumokil tidak mendapat dukungan dari rakyat
38. A. menjadikan masalh RMS sebagai masalah internasional
39. E. Moh. Natsir
40. D. Kahar Muzakar
41. C. propaganda untuk memperburuk citra pemerintah RI
42. E. militer dan persuasi
43. C. PRRI/Permesta
44. D. jatuhnya pesawat yang dikemudikan oleh A.L Pope
45. B. menghancurkan gerakan separatis dan sekaligus mencegah agar gerakan itu tidak
menyebar
46. C. imam
47. C. membangun jairngan kerja sama dengan partai politik lain
48. A. politik infiltrasi
49. D. ulama
50. B. AD hendak melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965
51. A. Banyumas, Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan
52. C. Gerakan Banteng Nasional (GBN)
53. D. Sudirman
54. B. Pancasila
55. B. Slamet dan Semeru
56. E. gunung dihuni makhluk halus
57. A. 1, 2, 3
58. C. infiltrasi
59. E. Amir Syarifuddin
60. A. Presiden Sukarno tidak mendukung kebijakan dengan aksi militer
61. B. Slamet Riyadi
62. C. Sultan Hamid II
63. A. melarikan diri ke luar negeri dnegan pesawat Catalina
64. A. mematahkan berbagai pemberontakan di Jawa Tengah/DIY
65. D. 1, 3, 5
66. D. banyak mengurangi jumlah kader komunis di TNI
67. B. sultan hamengkubuwono IX
68. C. serangan umum 1 Maret 1949
69. A. Nasakom
70. A. M. jasin

C. Isian
1. Faktor ideologi, petualangan kelompok tertentu, ketidakpuasan atas kebijakan
pemerintah pusat terhadap daerah yang dinggap timpang
2. Front Demokrasi Rakyat (FDR)
3. Membentuk Negara Pasundan
4. Letkol A.Y Mokoginta
5. Dipersenjatai
6. Gerakan Perjuangan Menyelamatkan Negara Republik Indonesia
7. Diplomasi
8. Militer dan diplomasi
9. Westerling
10. Penyitaan
11. Sarwo Edhi
12. Pahlawan Revolusi
13. Dibantu pihak asing
14. Perubahan status daeah istimewa menjadi karisidenan
15. Menentang masuknya APRIS dari TNI
16. Tan Malaka
17. Karena di Madiun merupakan basis ulama yang ingin dihancurkan PKI
18. Diplomasi damai
19. Letnan Sugiyono M dan Katamso
20. Dekat Pangkalan Udara Halim

D. Uraian
1. Pemerintah membentuk pasukan khusus yang disebut Banteng Raiders. Dengan
pasukan khusus ini segera dilakukan serangkaian operasi kilat yang disebut
Gerakan Banteng Negara(GBN).
2. Pembantaian terhadapnya disebabkan beliau sangat menentang keberadaan
faham komunis di tanah air
3. Upaya Pemerintah menumpas pemberontakan DI/TII di ACEH adalah dengan
mengerahkan kekuatan senjata. Namun upaya ini kemudian diubah atas saran
Kol. M. Yasin. Kemudian terjadilah Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh dimana
wilayah ini mendapat keistimewaan. Keistimewaan ini berhasil meredam
pemberontakan DI/TII.

4. Terjadinya berbagai pemeberontakan dan gerakan separatis

5. Mengenai Re-Ra di kalangan Angkatan Bersenjata, pada tanggal 2 September


1948, Hatta di muka sidang BP-KNIP menyatakan antara lain bahwa:

“Istimewa terhadap angkatan perang kita rasionalisasi harus dilaksanakan


dengan tegas dan nyata...berpedoman kepada cita-cita satu tentara, satu
komando...dalam bentuk dan susunan yang efektif’...mengurangkan jumlah
angkatan perang kita sampai kepada susunan yang rasionil”

Dengan terbentuknya Markas Besar Komando Djawa (MBKD) di bawah


pimpinan Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Tentara & Teritorial Djawa
(PTTD) dan Markas Besar Komando Sumatra (MBKS) di bawah Kolonel Hidayat
selaku PTTS, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertahanan tanggal 28
Oktober 1948, dapat dikatakan Re-Ra di lingkungan TNI AD sudah selesai.
6. Pemberontakan PRRI/Permesta ini bisa dilumbuhkan setelah operasi militer
yang dipimpin Jenderal Ahmad Yani dan Nasution merebut kota besar basis
pendukung PRRI Permesta. Sisa pemberontak menyerahkan diri setelah
pemerintah pusat memberikan amnesti atau pengampunan pada bekas
pemberontak.
Dalam operasi militer ini, TNI menangkap Allen Pope, pilot berkebangsaan
Amerika yang bekerja membantu AUREV (Angkatan Udara Revolusi) yang
merupakan angkatan udara Permesta. Tertangkapnya Allen Pope membuat
keterlibatan Amerika Serikat membantu Permesta terbuka. Akhirnya Amerika
Serika menghentikan bantuan ini dan Permesta menjadi lebih mudah
dikalahkan.
Pemimpin Permesta, Ventje Sumual menyerah tanpa syarat pada 1961 dan
mendekam di Rumah Tahanan Militer di Jakarta, dan ditahan sampai naiknya
Presiden Suharto.
Kalahnya Permesta membuat sisa pemberontak setuju berunding dan akhirnya
menyerah setelah 1961 Pemerintah melalui Keppres 322/1961 memberi
amnesti (pengampunan) bagi siapa saja yang terlibat PRRI dan Permesta.
7. Bung Hatta ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk membentuk 8olonel yang
diumumkan pada 29 Januari 1948 dengan Hatta sebagai Perdana Menteri
merangkap Menteri Pertahanan. Kabinet Hatta tidak mengikutsertakan wakil2
dari partai kiri dan memiliki rencana kerja dalam negeri, antara lain, untuk
memperbaiki ekonomi. Salah satu cara yang ditempuh adalah melanjutkan
program Re-Ra yang sempat terbengkalai pada Kabinet Amir Syarifuddin.
Namun berbeda dengan Perdana Menteri sebelumnya, setelah ditunjuk sebagai
Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan, Hatta menggunakan Re-Ra
untuk menghilangkan pengaruh kiri di dalam angkatan perang. Hatta juga
dipandang tidak berkeinginan untuk merongrong kedudukan Panglima Besar
Jenderal Sudirman atau memperlemah tentara dengan cara apapun.

Menurut Ulf Sundhaussen, tujuan dasar kebijakan tersebut adalah untuk


menciutkan jumlah personil angkatan bersenjata, meningkatkan efesiensinya,
dan menempatkannya kembali di bawah pimpinan pemerintah. Tujuan yang
disebut paling akhir itu sangat penting, karena kesatuan-kesatuan tempur saat
itu mulai menguasai daerah-daerah kantong atau daerah-daerah front mereka
secara mandiri dengan menempuh kebijaksanaan mereka masing-masing.

Langkah awal yang diambil Hatta dalam upaya mereorganisasi dan


merasionalisasi TNI AD adalah dengan mengurangi jumlah personelnya. Selain
itu, fakta bahwa keadaan perekonomian Negara sudah sangat kritis, Hatta
dituntut untuk melakukan penghematan seoptimal mungkin. Salah satu caranya
dengan melaksanakan program Re-Ra agar mencapai sedikit perimbangan
antara pendapatan dengan belanja 9olone dan alat-alat Negara.Usulan Kabinet
Hatta ini disetujui Pemerintah yang selanjutnya menandatangani sebuah Dekrit
pada tanggal 2 Januari 1948 yang memerintahkan agar semua kekuasaan di
bidang pertahanan dipusatkan di tangan Menteri Pertahanan. Setelah disetujui
oleh BP-KNIP maka diterbitkanlah Undang-Undang No 3 Tahun 1948 tertanggal
5 Maret 1948 mengenai Susunan Kementerian Pertahanan dan Angkatan
Perang.
8. Untuk mengatasi gerakan Andi Aziz, pemerintah RIS memerintahkan Andi Aziz
untuk melaporkan diri ke Jakarta guna mempertanggung jawabkan tindakannya
dalam waktu 4 x 24 jam. Karena Andi Aziz tidak melapor ke Jakarta hingga batas
waktu yang telah ditetapkan, pemerintah RIS menempuh jalur militer dengan
mengirimkan pasukan APRIS ke Sulawesi selatan dibawah pimpinan Alex E.
Kawilarang. Akhirnya Andi Aziz dapat ditangkap.
9. Nama APRA ini diambil dari ramalan Jayabaya tentang pemimpin yang akan
10olone membawa keadilan dan kesejahteraan di Jawa. Anggota milisi ini
kebanyakan direkrut dari bekas prajurit KNIL, terutama dari prajurit Regiment
Speciale Troepen (Regimen Pasukan Khusus). Jumlah tentara APRA pada tahun
1950 berjumlah sekitar 2000 orang.
10. Peristiwa pemberontakan oleh PKI yang berlangsung di Madiun terjadi pada
tahun 1948. Pemberontakan ini dipimpin dua tokoh yakni Amir Syarifuddin &
Musso. Amir Syarifuddin merupakan mantan perdana menteri yang kecewa
karena kabinetnya jatuh. Sementara Musso merupakan tokoh PKI yang
sebelumnya pernah melakukan pemberontakan pada pemerintah Kolonial tahun
1926, namun gagal.
Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat yang gencar melakukan
propaganda anti-pemerintah, mengadakan aksi mogok kerja bagi kaum buruh
dan melakukan sejumlah pembunuhan. Pada mulanya aksi PKI ini berlangsung
di Solo namun meluas hingga ke wilayah Madiun dan sekitarnya. Di Madiun
mereka mendirikan Soviet Republik Indonesia untuk melemahkan
pemerintahan resmi RI. Melihat pemerontakan tersebut, rakyat dan pemerintah
bersatu dan mengambil tindakan tegas. TNI selanjutnya berhasil merebut
Madiun kembali, Musso tertembak mati dan Amir Syarifuddin tertangkap lalu
kemudian dihukum mati.

E. Melengkapi
Faktor :
1. Faktor ideology, yakni orang-orang yang berusaha untuk mengganti Pancasila
dengan ideology lain, seperti marxisme-komunisme dan Islam.
2. Petualangan kelompok atau orang-orang tertentu yang khawatir kehilangan hak-
haknya ketika Belanda tidak lagi berkuasa di Indonesia, dan
3. Ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah pusat terhadap daerah yang dirasakan
timpang oleh beberapa kelompok orang
Upaya penyelesaian :
1. Militer
2. Diplomasi

2. Melengkapi kolom
7. PKI Madiun 1948

Pemberontakan PKI di Madiun tidak bisa lepas dari jatuhnya 11olonel Amir
Syarifuddin tahun 1948. Jatuhnya 11olonel Amir disebabkan oleh kegagalannya
dalam Perundingan Renville yang sangat merugikan Indonesia. Untuk merebut
kembali kedudukannya,pada tanggal 28 Juni 1948 Amir Syarifuddin membentuk
Front Demokrasi Rakyat.Untuk memperkuat basis massa,Front ini membentuk
organisasi kaum petani dan buruh. Selain itu dengan memancing bentrokan dengan
menghasut buruh. Puncaknya ketika terjadi pemogokan di pabrik karung Delanggu
(Jawa Tengah) pada tanggal 5 Juli 1959. Pada tanggal 11 Agustus 1948, Musso tiba
dari Moskow. Amir dan Front inipun segera bergabung dengan Musso. Untuk
memperkuat organisasi, maka disusunlah doktrin bagi PKI. Doktrin itu bernama
Jalan Baru. PKI banyak melakukan kekacauan, terutama di Surakarta.
Oleh PKI daerah Surakarta dijadikan daerah kacau (wildwest). Sementara Madiun
dijadikan basis gerilya. Pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan
berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Tujuannya untuk meruntuhkan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan 11olone
komunis. Pada waktu yang bersamaan, gerakan PKI dapat merebut tempat-tempat
penting di Madiun. Untuk menumpas pemberontakan PKI, pemerintah melancarkan
operasi militer. Dalam hal ini peran Divisi Siliwangi cukup besar. Di samping itu,
Panglima Besar Jenderal Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa
Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk mengerahkan pasukannya
menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Dengan dukungan rakyat di berbagai
tempat, pada tanggal 30 September 1948, kota Madiun berhasil direbut kembali
oleh tentara Republik. Pada akhirnya tokoh-tokoh PKI seperti Aidit dan Lukman
melarikan diri ke Cina dan Vietnam. Sementara itu, tanggal 31 Oktober 1948 Musso
tewas ditembak. Sekitar 300 orang ditangkap oleh pasukan Siliwangi pada tanggal 1
Desember 1948 di daerah Purwodadi, Jawa Tengah.
Dengan ditumpasnya pemberontakan PKI di Madiun, maka selamatlah bangsa dan
12olone Indonesia dari rongrongan dan ancaman kaum komunis yang bertentangan
dengan 12olonel12 Pancasila.

b. Pemberotakan DI/TII ( Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia)


1. DI/TII Jawa Barat

S M Kartosuwiryo mendirikan (DI/TII ) dengan tujuan menentang penjajah


Belanda di Indonesia, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan
berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan
tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Upaya penumpasan
dengan operasi militer yang disebut Operasi Bharatayuda. Dengan taktis Pagar
Betis. Pada tanggal 4 juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditanggap oleh pasukan
Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Akhirnya Kartosuwiryo
dijatuhi hukuman mati 16 Agustus 1962.
7. DI/TII Jawa Tengah

Gerakan DI/TII di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah di bagian utara,
yang bergerak di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Setelah bergabung
dengan Kartosuwiryo, Amir Fatah kemudian diangkat sebagai komandan
pertemburan Jawa Tengah dengan pangkat Mayor Jenderal Tentara Islam
Indonesia. Untuk menghancurkan gerakan ini, Januari 1950 dibentuk Komando
Gerakan Banteng Negara (GBN) dibawah Letkol Sarbini. Pemberontakan di
Kebumen dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai
Moh. Mahfudz Abdulrachman (Romo Pusat atau Kiai Sumolanggu) Gerakan ini
berhasil dihancurkan pada tahun 1957 dengan operasi militer yang disebut
Operasi Gerakan Banteng Nasional dari Divisi Diponegoro. Gerakan DI/TII itu
pernah menjadi kuat karena pemberontakan Batalion 426 di Kedu dan
Magelang/ Divisi Diponegoro. Didaerah Merapi-Merbabu juga telah terjadi
kerusuhan-kerusuhan yang dilancarkan oleh Gerakan oleh Gerakan Merapi-
Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini juga dapat dihancurkan. Untuk
menumpas gerakan DI/TII di daerah Gerakan Banteng Nasional dilancarkan
operasi Banteng Raiders.
3. DI/TII Aceh
Adanya berbagai masalah antara lain masalah otonomi daerah, pertentangan
antargolongan, serta rehabilitasi dan modernisasi daerah yang tidak 13olone
menjadi penyebab meletusnya pemberontakan DI/TII di Aceh. Gerakan DI/TII di
Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureueh yang pada tanggal 20 September
1953 memproklamasikan daerah Aceh sebagai bagian dari Negara Islam
Indonesia dibawah pimpinan Kartosuwiryo. Pemberontakan DI/TII di Aceh
diselesaikan dengan strategi operasi militer dan musyawarah.
4. DI/TII Sulawesi Selatan
Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS)
dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakar menuntut
agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya
dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah
pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak diantara mereka yang tidak
memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan
menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada
saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar
Muzakar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa
persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakar mengubah
nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai
bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3
Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati oleh pasukan TNI.

c. Andi Aziz
Faktor – 13olone yang menyebabkan pemberontakan adalah :

1. Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas
keamanan di Negara Indonesia Timur.
2. Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
3. Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
Karena tindakan Andi Azis tersebut maka pemerintah pusat bertindak tegas.
Pada tanggal 8 April 1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu 4 x 24
jam Andi Azis harus melaporkan diri ke Jakarta untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya, pasukannya harus dikonsinyasi,
senjata-senjata dikembalikan, dan semua tawanan harus dilepaskan. Kedatangan
pasukan pimpinan Worang kemudian disusul oleh pasukan ekspedisi yang
dipimpin oleh Kolonel A.E Kawilarang pada tanggal 26 April 1950 dengan
kekuatan dua brigade dan satu 14olonel14r di antaranya adalah Brigade
Mataram yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto. Kapten Andi Azis
dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijatuhi hukuman 15 tahun
penjara.

d. APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil )


Pada bulan Januari 1950 di Jawa Barat di kalangan KNIL timbul Angkatan Perang
Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh Kapten Westerling. Tujuan APRA adalah
mempertahankan bentuk Negara Federal Pasundan di Indonesia dan
mempertahankan adanya tentara sendiri pada setiap 14olone bagian Republik
Indonesia Serikat. APRA mengajukan ultimatum menuntut supaya APRA diakui
sebagai Tentara Pasundan dan menolak dibubarkannya Pasundan/14olone Federal
tersebut. Ultimatum ini tidak ditanggapi oleh pemerintah, maka pada tanggal 23
Januari 1950 di Bandung APRA melancarkan 14olone, APRA berhasil ditumpas.
Ternyata dalang gerakan APRA ini berada di Jakarta, yakni Sultan Hamid II. Rencana
gerakannya di Jakarta ialah menangkap beberapa menteri Republik Indonesia
Serikat yang sedang menghadiri sidang 14olonel dan membunuh Menteri
Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekertaris Jenderal Kementerian
Pertahanan Mr. A. Budiardjo, dan Pejabat Kepada Staf Angkatan Perang Kolonel T.B
Simatupang. Rencana tersebut berhasil diketahui dan diambil tindakan preventif,
sehingga sidang 15olonel ditunda. Sultan Hamid II berhasil ditangkap pada tanggal
4 April 1950. Akan tetapi, Westerling berhasil melarikan diri ke luar negeri.
e. RMS, ( Republik Maluku Selatan )

Pada tanggal 25 April 1950 di Ambon diproklamasikan berdirinya Republik Maluku


Selatan (RMS) yang dilakukan oleh Dr. Ch. R. S. Soumokil mantan Jaksa Agung
Negara Indonesia Timur,Soumokil. Namun, setelah gagalnya gerakan itu ia
melarikan diri ke Maluku Tengah dengan Ambon sebagai pusat kegiatannya. Untuk
itu pemerintah mengutus Dr. Leimena untuk mengajak berunding. Misi Leimena
tidak berhasil karena RMS menolak untuk berunding. Pemerintah bertindak tegas,
pasukan ekspedisi di bawah pimpinan Kolonel A. E. Kawilarang dikirimkan ke
Ambon. Dalam pertempuran memperebutkan benteng New Victoria, Letkol Slamet
Riyadi tertembak dan gugur. Pada tanggal 28 September 1950 pasukan ekspedisi
mendarat di Ambon dan bagian utara pulau itu berhasil dikuasai. Tanggal 2
Desember 1963 Dr. Soumokil berhasil ditangkap selanjutnya tanggal 21 April 1964
diadili oleh Mahkamah Militer Laut Luar Biasa dan dijatuhi hukuman mati.
f. PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia)
Munculnya pemberontakan PRRI diawali dari ketidakharmonisan hubungan
pemerintah daerah dan pusat. Daerah kecewa terhadap pemerintah pusat yang
dianggap tidak adil dalam alokasi dana pembangunan. Kekecewaan tersebut
diwujudkan dengan pembentukan dewan-dewan daerah seperti berikut.
a. Dewan Banteng di Sumatra Barat yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.
b. Dewan Gajah di Sumatra Utara yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolan.
c. Dewan Garuda di Sumatra Selatan yang dipimpin oleh Letkol Barlian.
d. Dewan Manguni di Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Kolonel Ventje Sumual.
Tanggal 10 Februari 1958 Ahmad Husein menuntut agar Kabinet Djuanda
mengundurkan diri dalam waktu 5 x 24 jam, dan menyerahkan mandatnya
kepada presiden. Tuntutan tersebut jelas ditolak pemerintah pusat. Setelah
menerima ultimatum, maka pemerintah bertindak tegas dengan memecat secara
tidak hormat Ahmad Hussein, Simbolon, Zulkifli Lubis, dan Dahlan Djambek
yang memimpin gerakan sparatis. Langkah berikutnya tanggal 12 Februari 1958
KSAD A.H. Nasution membekukan Kodam Sumatra Tengah dan selanjutnya
menempatkan langsung di bawah KSAD.

Pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Hussein memproklamasikan berdirinya


Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sebagai perdana
menterinya adalah Mr. Syafruddin Prawiranegara. Agar semakin tidak
membahayakan 16olone, pemerintah melancarkan operasi militer untuk
menumpas PRRI. Berikut ini operasi militer tersebut.
Untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta dilaksanakan operasi gabungan
yang terdiri atas unsur-unsur darat, laut, udara, dan kepolisian. Serangkaian operasi
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution.
Tujuan mengamankan instansi dan berhasil menguasai kota. Pekanbaru pada
tanggal 12 Maret 1958.
2. Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad
Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958 dan menguasai
Bukittinggi 21 Mei 1958.
3. Operasi Saptamarga dengan sasaran Sumatera Utara dipimpin oleh Brigjen
Jatikusumo.
4. Operasi Sadar dengan sasaran Sumatera Selatan dipimpin oleh Letkol Dr. Ibnu
Sutowo.
5. Penumpas pemberontakan Permesta dilancarkan operasi gabungan dengan nama
Merdeka di bawah pimpinan Letkol Rukminto Hendraningrat, yang terdiri dari :
• Operasi Saptamarga I dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah, dipimpin
oleh Letkol Sumarsono.
• Operasi Saptamarga II dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan, dipimpin
oleh Letkol Agus Prasmono.
• Operasi Saptamarga III dengan sasaran Kepulauan Sebelah Utara Manado,
dipimpin oleh Letkol Magenda.
• Operasi Saptamarga IV dengan sasaran Sulawesi Utara, dipimpin oleh Letkol
Rukminto Hendraningrat
f. Peristiwa G-30-S/PKI 1965.
1). Kondisi Politik Menjelang G 30 S/PKI
Doktrin Nasakom yang dikembangkan oleh Presiden Soekarno memberi keleluasaan
PKI untuk memperluas pengaruh. Usaha PKI untuk mencari pengaruh didukung
oleh kondisi ekonomi bangsa yang semakin memprihatinkan. Dengan adanya
nasakomisasi tersebut, PKI menjadi salah satu kekuatan yang penting pada masa
Demokrasi Terpimpin bersama Presiden Soekarno dan Angkatan Darat. Pada akhir
tahun 1963, PKI melancarkan sebuah gerakan yang disebut “aksi sepihak”. Para
petani dan buruh, dibantu para kader PKI, mengambil alih tanah penduduk,
melakukan aksi demonstrasi dan pemogokan. Untuk melancarkan kudeta, maka PKI
membentuk Biro Khusus yang diketuai oleh Syam Kamaruzaman. Biro Khusus
tersebut mempunyai tugas-tugas berikut.
7. Menyebarluaskan pengaruh dan 17olonel17 PKI ke dalam tubuh ABRI.
b. Mengusahakan agar setiap anggota ABRI yang telah bersedia menjadi anggota
PKI dan telah disumpah dapat membina anggota ABRI lainnya.
c. Mendata dan mencatat para anggota ABRI yang telah dibina atau menjadi
pengikut PKI agar sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk kepentingannya.
Memasuki tahun 1965 pertentangan antara PKI dengan Angkatan Darat semakin
meningkat. D.N. Aidit sebagai pemimpin PKI beserta Biro Khususnya, mulai
meletakkan siasat-siasat untuk melawan komando puncak AD. Berikut ini siasat-
siasat yang ditempuh oleh Biro Khusus PKI.
7. Memojokkan dan mencemarkan komando AD dengan tuduhan terlibat dalam
persekongkolan (konspirasi) menentang RI, karena bekerja sama dengan Inggris
dan Amerika Serikat.
b. Menuduh komando puncak AD telah membentuk “Dewan Jenderal” yang
tujuannya menggulingkan Presiden Soekarno.
c. Mengorganisir perwira militer yang tidak mendukung adanya “Dewan
Jenderal”.
d. Mengisolir komando AD dari angkatan-angkatan lain.
e. Mengusulkan kepada pemerintah agar membentuk Angkatan Kelima yang
terdiri dari para buruh dan petani yang dipersenjatai.
Ketegangan politik antara PKI dan TNI AD mencapai puncaknya setelah tanggal 30
September 1965 dini hari, atau awal tanggal 1 Oktober 1965. Pada saat itu terjadi
penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat.
2. Seputar Penculikan Para Jenderal AD, Usaha Kudeta, dan Operasi Penumpasan
Peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira AD, kemudian
dikenal Gerakan 30 S/PKI. Secara rinci para pimpinan TNI yang menjadi korban PKI
ada 10 orang, yaitu 8 orang di Jakarta dan 2 orang di Yogyakarta. Mereka diangkat
sebagai Pahlawan Revolusi.
2). Berikut ini para korban keganasan PKI.
a. Di Jakarta

1) Letjen Ahmad Yani, Men/Pangad.


2) Mayjen S.Parman, Asisten I Men/Pangad.
3) Mayjen R. Suprapto, Deputi II Men/Pangad.
4) Mayjen Haryono, M.T, Deputi III Men/Pangad.
5) Brigjen D.I. Panjaitan, Asisten IV Men/Pangad.
6) Brigjen Sutoyo S, Inspektur Kehakiman/Oditur Jendral TNI AD.
7) Lettu Piere Andreas Tendean, Ajudan Menko Hankam/ Kepala Staf Angkatan
Bersenjata.
8) Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun, Pengawal rumah Wakil P.M. II Dr. J. Leimena.
7. Di Yogyakarta

1) Kolonel Katamso D, Komandan Korem 072 Yogyakarta.


2) Letnan Kolonel Sugiyono M., Kepala Staf Korem 072 Yogyakarta.
Ahmad Yani MT Haryono S Parman Sutoyo S
Jenderal Nasution berhasil meloloskan diri. Akan tetapi putrinya Ade Irma Suryani
tertembak yang akhirnya meninggal tanggal 6 Oktober 1965, dan salah satu
ajudannya ditangkap. Ajudan Nasution (Lettu Pierre A. Tendean), mayat tiga
jenderal, dan tiga jenderal lainnya yang masih hidup dibawa menuju Halim. Di
Halim, para jenderal yang masih hidup dibunuh secara kejam. Sejumlah anggota
Gerwani dan Pemuda Rakyat terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Ketujuh
mayat kemudian dimasukkan dalam sebuah sumur yang sudah tidak dipakai lagi di
Lubang Buaya. Untuk mengenang peristiwa yang mengerikan tersebut, di Lubang
Buaya dibangun Monumen Pancasila Sakti. Peristiwa pembunuhan juga terjadi di
daerah Yogyakarta. Komandan Korem 072 Yogyakarta Kolonel Katamso dan Kepala
Stafnya Letkol Sugiyono diculik dan dibunuh oleh kaum pemberontak di Desa
Kentungan. Pagi hari sekitar jam 07.00 WIB Letkol Untung berpidato di RRI Jakarta.
Dalam pidatonya, Letkol Untung mengatakan bahwa “Gerakan 30 September”
adalah suatu kelompok militer yang telah bertindak untuk melindungi Presiden
Soekarno dari kudeta. Kudeta itu direncanakan oleh suatu dewan yang terdiri atas
jenderal-jenderal Jakarta yang korup yang menikmati penghasilan tinggi dan
menjadi kaki tangan CIA (Agen Rahasia Amerika). Setelah mendengar pidato Letkol
Untung di RRI, timbul kebingungan di dalam masyarakat. Presiden Soekarno
berangkat menuju Halim. Presiden mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat
Indonesia tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan, serta menjaga persatuan.
Diumumkan pula bahwa pimpinan Angkatan Darat untuk sementara waktu berada
langsung di tangan presiden sebagai Panglima Tertinggi ABRI. Selain itu
melaksanakan tugas seharihari ditunjuk Mayjen Pranoto. Namun, di saat yang sama,
tanpa sepengetahuan presiden Mayjen Soeharto mengangkat dirinya sebagai
pimpinan AD.
3). Penumpasan G 30 S/PKI
Pada tanggal 2 Oktober 1965 Presiden Soekarno memanggil semua panglima
angkatan ke Istana Bogor. Dalam pertemuan tersebut Presiden Soekarno
mengemukakan masalah penyelesaian peristiwa G 30 S/PKI. Dalam rangka
penjelasan G 30 S/PKI, presiden menetapkan kebijaksanaan berikut.

a. Penyelesaian aspek politik akan diselesaikan sendiri oleh presiden.


b. Penyelesaian aspek militer dan 19olonel19rative diserahkan kepada Mayjen
Pranoto
c. Penyelesaian militer teknis, keamanan, dan ketertiban diserahkan kepada Mayjen
Soeharto
3. Daerah pergolakan
1. Madiun
2. a. Cisayong
b. Tegal, Pekalongan
c. Sulawesi
d. Aceh
e. Kalimantan Selatan
3. Bandung dan Sulawesi
4. Yogyakarta
5. Maluku
6. Sumatra
7. Jakarta, Yogyakarta

4. Tokoh yang berperan dalam menjaga keutuhan NKRI :


a. 1. Ir. Soekarno
Ir. Soekarno dikenal sebagai Bapak Proklamator. Beliau berjasa memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia lewat jalur perundingan. Banyak peristiwa penting yang
melibatkan Soekarno, baik masa persiapan kemerdekaan sampai usaha
mempertahankannya. Jasa dan peranan beliau antara lain sebagai berikut.
Tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno bersama Mohammad Hatta dan Rajiman
Wedyodiningrat ke Dalat, Vietnam. Mereka bertemu Jenderal Terrauchi untuk
membicarakan kemerdekaan Indonesia.
Tanggal 17 Agustus 1945, membacakan Proklamasi Kemerdekaaan RI dan bersama
Mohammad Hatta menandatangani naskah proklamasi.
Tanggal 18 Agustus 1945 dilantik menjadi presiden RI.
Tanggal 23 Agustus 1945, membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Tanggal 28 Oktober 1945, mengadakan perundingan dengan Inggris di Surabaya.
b. Drs. Mohammad Hatta
Peran Drs. Mohammad Hatta dalam usaha mempertahankan kemerdekaan antara
lain sebagai berikut:
Bersama Ir. Soekarno menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Menjadi pemimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den
Haag, Belanda tanggal 23 Agustus–2 November 1949.
Pada tanggal 27 Desember 1945, menandatangani naskah pengakuan kedaulatan
Republik Indonesia.
Drs. Mohammad Hatta dipercaya mendampingi Ir. Soekarno menjadi wakil presiden
pertama Republik Indonesia.
c. Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX)
Peranan HB IX dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia antara lain
sebagai berikut:
Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Pada tanggal 5 September 1945, Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan bahwa
Kesultanan Jogjakarta adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada saat ibu kota RI di Jakarta diserang Belanda, HB IX mempersiapkan dan
menyediakan Kota Jogjakarta sebagai pusat pemerintahan RI.
HB IX menjadi anggota delegasi Indonesia dalam Perundingan Roem–Royen.
Saat terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949, HB IX membantu TNI menyediakan
Keraton Jogjakarta sebagai tempat persembunyian para pejuang dan TNI.
Tanggal 13 Juli 1949, HB IX diangkat menjadi Menteri Koordinator Pertahanan
Keamanan pada sidang pertama 21olonel Indonesia.
Tanggal 27 Desember 1949, HB IX mewakili Indonesia dalam penandatanganan
kedaulatan RI dan menerima penyerahan kedaulatan dari Belanda.
d. Jenderal Soedirman
Peranan Jenderal Soedirman dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan
bangsa Indonesia antara lain sebagai berikut.
Tanggal 12 Desember 1945, memimpin TKR di Ambarawa dalam menggempur dan
mengusir Inggris. Saat itu beliau masih berpangkat 21olonel.
Jenderal Soedirman memimpin pasukan TNI melakukan perang gerilya melawan
Belanda dalam Agresi Militer Belanda II.
Satu hal yang perlu kamu ingat, Jenderal Soedirman tetap berjuang memimpin
pasukan walaupun dalam keadaan sakit. Sebagai penghargaan atas jasa dan
pengorbanannya, Jenderal Soedirman mendapat sebutan Bapak Tentara Nasional
Indonesia.

5. Operasi militer melawan pemberontakan


a. Gerakan Operasi Militer I (Jenderal Gatot Subroto)
b. Operasi pagar Betis
c. Operasi Banteng Negara
d. Operasi Halilintar (Letkol J.F Warrouw)
e. Penangkapan Andi Aziz (Alex Kawilarang)
f. Operasi Sapta marga 1 (Letkol Sumarsono)
g. Operasi sapta Marga II (Letkol Agus P)
h. Operasi Sapta Marga III (Letkol Magenda)
i. Operasi Sapta Marga IV (Kolonel R. Hendranoingrat)
j. Operasi Mena I (Pieters)
k. Operasi Mena II (Letkol KKO Hunholz)

F. Menjodohkan
1. C
2. A
3. E
4. B
5. D

G. Analisis Nilai
Sesuai hasil analisis siswa

H. Teka Teki Silang


Mendatar
Pagar Betis
RPKAD
Infiltrasi
Muso
ABRI
Ri
TII
TNI
Siliwangi
.
Rera
Sukitman
.
Lembong

Menurun
Hatta
Natsir
Aidit
PRII
Nasution
Raiders
.
RMS
KNIL
NII
Soeharto
APRIS
Agitasi
DI
Bab 2
A. Mengamati
1. Ali Sastroamidjoyo
Pada tanggal 24 juli tahun 1955, Ali Sastroamijoyo selanjutnya sukses
menyerahkan / memberikan mandatnya kepada Presiden dengan penyebab
utamanya yakni permasalahan mengenai Tentara Nasional Indonesia Angkatan
Darat (TNI-AD) yang sebagai dari kelanjutan peristiwa 17 Oktober tahun 1952.
2. Dewan ini diprakarsai oleh Kolonel Ismail Lengah (mantan Panglima Divisi
IX Banteng) dan dibentuk pada tanggal 20 Desember 1956 dengan ketua Letnan
Kolonel Ahmad Husein. Tujuan dari pembentukan Dewan Banteng adalah untuk
pembangunan daerah yang dianggap tertinggal dibanding pembangunan di
pulau Jawa.
3. Burhanudin Harahap
Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan mandatnya
kepada Presiden, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilihan
umum. Sebenarnya kabinet ini seandainya terus bekerja tidak apa-apa selagi
tidak ada mosi tidak percaya dari parlemen. Tetapi secara Etika politik
demokrasi parlementer, kabinet ini dengan sukarela menyerahkan mandatnya,
setelah berhasil melaksanakan Pemilu baik untuk anggota DPR maupun
konstituante.
4. Oeang Republik Indonesia atau ORI adalah mata uang pertama yang
dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka. Pemerintah memandang perlu
untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat
pembayaran yang sah tetapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.
5. Penyebab jatuhnya Kabinet Natsir dikarenakan kegagalan Kabinet ini dalam
menyelesaikan masalah Irian Barat dan adanya mosi tidak percaya dari PNI
menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS.
PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu
menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Kabinet
Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.

6. Akibat dari blokade- blokade ekonomi yang di lakukan Belanda di awal


kemerdekaan, yaitu:
• tersendatnya proses ekspor dan impor barang sehingga Indonesia terjadi
kekurangan barang impor dan kerugian akibat barang ekspor tidak terkirim.
• terjadi inflasi dimana-mana
• nilai rupiah turun drastis
• barang kebutuhan pokok langka
• terjadi kelaparan dimana-mana
7. Usaha untuk menyelesaikan masalah ekonomi secara konseptual, praktis, dan
realistis. Salah satu gagasan itu muncul dari I.J Kasimo yang pada waktu itu
sebagi menteri persediaan makanan rakyat. Gagasan dari I.J Kasimo
dituangkan dalam rencana produksi lima tahun yang dikenal dengan sebutan
Plan Kasimo.
isi dari Kasimo Plan :
a. Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 281.277
HA
b. Melakukan intensifikasi di Jawa dengan memperbanyak penanaman bibit
unggul
c. Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi
produksi pangan.
d. Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit
e. Transmigrasi bagi 20 juta penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera
dalam jangka waktu 10-15 tahun
8. Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, diikuti oleh 29 partai
politik dan individu. Tahap ke-dua adalah Pemilu untuk memilih anggota
Konstituante. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

B. Pilihan Ganda
1. A. Parlementer
2. E. presiden
3. B. penerbitan mata uang ORI
4. A. republik
5. B. membentuk dan mempunyai bank sirkulasi sendiri
6. E. De Javasche Bank diserahkan langsung oleh Belanda
7. C. melindungi pengusaha pribumi
8. B. sitem ekonomi Ali Baba
9. A. system ekonomi Gerakan Banteng
10. E. Maklumat presiden tanggal 14 November 1945
11. E. Negara Jakarta
12. C. Van Mook
13. C. 24 Maret 1950
14. A. Sultan Hamid II
15. A. UUD 1945
16. C. berpendapat bahwa persatuan merupakan energy bagi Indonesia untuk
mewujudkan tujuan Negara
17. C. pemerintah belum membuat banyak dalam menjaga stabilitas
18. D. Belanda banyak emmiliki perusahan di Irian Barat
19. B. 17 Agustus 1950
20. E. lima
21. D. Sumitro Djojohadikusumo
22. B. adanya rasa saling percaya antarakabinet dan parlemen
23. A. mutual security act
24. Tidak ada jawaban
25. D. jatuh bangunnya cabinet sebanyak 7 kali dalam kurun waktu 9 tahun
26. A. gerakan provinsialisme dan separatisme
27. A. dukungan dikeluarkannya peraturan yang melindungi pengusaha-pengusaha
nasional terutama dari perusahaan pribumi
28. B. rehabilitasi pabrik gula
29. E. kondisi Jakarta yang tidak aman akibat serangan sekutu
30. D. parlementer
31. B. peralihan pertanggungjawaban menteri-menteri dari presiden ke BP KNIP
32. C. Hubertus van Mook
33. C. untuk mendapatkan dukungan negara-negara barat
34. B. menghimpun kekuatan menghadapi Belanda
35. E. Tan Malaka
36. D. Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo)
37. D. Perjuangkan Kita
38. C. Belanda tidak mau melepaskan Indonesia
39. A. pembentukan APRIS dengan TNI sebagai intinya
40. B. Lord Killearn
41. C. mendekati golongan yang kontra
42. D. Syafrudin Prawiranegara
43. C. pemerintah tidak mampu memberi subsidi di sector-sektor ekonomi strategis
44. B. presiden dan wakilnya dipilih langsung oleh rakyat
45. D. d. Sir Archibald Clarck Kerr
46. C. melakukan serangan ke wilayah penduduk dan basis-basis pasukan Republik
47. B. membebaskan pasukan KNIL yang mereka tawan
48. B. membentuk Negara-negara federal wilayah kekuasaan Belanda
49. A. Sultan Hamid II
50. A. Sultan Syahrir dinilai sebagai seorang tokoh oposisi Presiden Sukarno
51. A. mengeluarkan mata uang sendiri (ORI)
52. .
53. B. rencana kudeta yang hendak ia lakukan dengan membentuk FDR
54. D. menyatakan tetap setia kepada kerajaan Belanda dan menjadi bagian dari Belanda
55. B. Indonesia semakin kuat memeproleh dukungan internasional
56. C. wilayah Indonesia hanya tinggal Sumatra, jawa, dan Madura
57. E. munculnya pemberontakan PKI di Madiun
58. A. mendorong bangsa Asia Afrika merdeka
59. E. penjajah ingin mempertahankan kekuasaannya
60. B. Lord Killearn
61. E. ketidakpuasan pihak oposisi terhadap politik diplomasi Indonesia Belanda
62. E. Indonesia saat itu tidka memiliki lembaga legislative
63. Tidak ada jawabannya
64. C. peta dan KNIL
65. A. sikap kepemimpinan Soedirman yang karismatis di kalangan militer
66. D. terjadinya bentrokan antaretnis
67. E. terbentuknya RIS dan persemakmuran Belanda
68. A. membawa pulang pasukan pasukan Jepang ke negaranya untuk diadili
69. C. arbitrase yang tidak memihak
70. A. rencana pembentukan Negara-negara boneka Belanda

Kunci Jawaban sejarah Bab 2 dan 3

C. Isian

1. perubahan sistem pemerintahan dari pemerintahan presiden sial menjadi


pemerintahan parlementer
2. Isi Maklumat X tahun 1945 :
- Sebelum terbentuknya MPR dan DPR, KNIP diserahi kekuasaan legislative dan
ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara.
- Berhubung dengan gentingnya keadaan, pekerjaan KNIP sehari-hari dijalankan
oleh suatu Badan Pekerja yang dipilih di antara mereka dan bertanggung jawab
kepada Komite Nasional Pusat.
3. Pendirian partai politik
4. Perdana menteri
5. Karena Jakarta berhasil diduduki Belanda dan pasukan sekutu
6. Sumber daya manusia
7. Berbagai kebijakan ekonomi
8. Kodisi negara yang baru merdeka
9. Mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia)
10. Merancang pembangunan dalam jangka waktu 2-3 tahun yang akhirnya disepakati
Rencana Pembangunan Sepuluh Tahun.
11. 7 kali
12. Mosi tidak percaya rakyat
13. Pengembalian Irian Barat
14. Pemberontakan di Jawa Tengah dan Timur
15. Pembubaran Uni Indonesia Belanda
16. Anggota DPR
17. PNI, Masyumi, NU
18. Berpolitik
19. Kondisi negara yang tidka stabil sebagai negara yang baru merdeka
20. Pengusaha keturunan Arab dan Tiongkok yang berperan dalam perekonomian

D. Uraian
1. Kondisi Indonesia di awal kemerdekaan :
- Pada saat awal kemerdekaan ketegangan dan juga kekacauan karena berbagai
insiden masih saja terus terjadi,itu karena masih ada pihak pihak asing yang masih
saja tidak rela Indonesia Merdeka contoh nya Jepang,Belanda,Inggris.
- Jika dilihat dari sudut ekonomi dalam bidang ekonomi negara Indonesia negara
masih sangat memprihatinkan dan sangat kesusahan itu karena Indonesia
mengalami inflasi yang cukup berat karena perderan terhadap mata uang rupiah
jepang yang sangat tak terkendali,sementara nilai tukarnya rendah.
- Indonesia juga belum memiliki mata uang nya sendiri dan juga dana kas
pemerintahan kosong karena belum ada pemasukan.
- Dan juga Kondisi Indonesia makin diperparah dengan dilakukannya blokade oleh
Belanda (NICA)

2. Setelah Indonesia Meredeka tidak ada kewajiban rakyat untuk menyetor hasil
pertaniannya kepada pemerintah. Rakyat yang terbiasa hidup prihatin pada zaman
Jepang menjadi tidak konsumtif terhadap beras. Surplus beras pun mulai deras.
Keadaan ini menjadi angina segar bagi ekonomi Indonesia di tengah-tengah kondisi
ekonomi yang kurang menguntungkan.
3. Keadaan politik Indonesia selama pelaksanaan demokrasi liberal sejak tanggal 17
Agustus 1950 sampai dengan 5 Juli 1959 penuh dengan pertentangan antarpartai
sehingga menimbulkan kekacauan di berbagai sektor kehidupan masyarakat
Indonesia. Hal ini menyebabkan pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara
tidak dapat terlaksana dengan baik karena para pemimpin partai yang menjadi
menteri hanya memikirkan kepentingan partainya sendiri.
4. Kabinet Wilopo menghadapai masalah dengan Angkatan Darat sehingga
menimbulkan peristiwa 17 Oktober 1952
5. Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwakebakaran besar yang terjadi di
kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu
tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka,
meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung.
6. Inti dari Kasimo Plan adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan
meningkatkan produksi bahan pangan. Rencana Kasimo ini adalah :

a. Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 281.277 HA


b. Melakukan intensifikasi di Jawa dengan memperbanyak penanaman bibit unggul
c. Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi
pangan.
d. Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit
e. Transmigrasi bagi 20 juta penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam
jangka waktu 10-15 tahun

7. Alasan pada masa Demokrasi Liberal sering terjadi pergantian kabinet.


Pada tahun 1950-1959, Indonesia sering terjadi pergantian kabinet yang dimana
kemudian menyebabkan instabilitas politik. Apabila parlemen pada waktu itu telah
mengeluarkan sebuah mosi terhadap ketidakpercayaan pada sebua kabinet hingga
pada koalisi partai yang berada pada kabinet tersebut menarik diri terhadap
kabinet dan kemudian kabinet tersebut pun jatuh. Kemudian, Presiden Soekarno
sebagaimana adalah seorang Presiden dan Republik Indonesia tidak memiliki
sebuah kekuasaan terhadap hal tersebut kecuali untuk pembentukan formatur guna
untuk membentuk sebuah kabinet baru untuk negara Republik Indonesia Serikat.
Hal tersebut kemudian membuat hal rumit seperti melakukan negosisasi ulang
terhadap kabinet selanjutnya.
8. sesuai pendapat siswa

9. Masa kerja kabinet pada masa liberal yang sangat singkat dan program yang silih
berganti menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi. Hal ini menyebabkan
terjadinya kemerosotan ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksanaan pembangunan.
Program yang dilaksanakan pada umumnya merupakan program jangka pendek, tetapi
pada masa kabinet Ali Sastroamidjojo II, pemerintahan membentuk Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Tugas biro ini merancang
pembangunan jangka panjang. Ir. Djuanda diangkat sebagai menteri perancang nasional.
Biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya
akan dilaksanakan antara tahun 1956 – 1961 dan disetujui DPR pada tanggal 11 November
1958. Tahun 1957 sasaran dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional
Pembangunan (Munap). Pembiayaan RPLT diperkirakan sekitar 12,5 miliar Rupiah.
Namun, dalam pelaksanaannya RPLT tidak dapat berjalan dengan baik karena:
 Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957
dan awal tahun 1958 yang mengakibatkan ekspor dan pendapatan negara merosot.
 Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-
perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi.
 Adanya ketegangan antara pusat dan daerah sehingga banyak daerah yang
melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.

10. Kabinet Djuanda memiliki 5 pasal program kerja yang dikenal dengan nama
Pancakarya.

Berikut ini program-program kerja Kabinet Karya :

1. Membentuk Dewan Nasional


2. Normalisasi keadaan Republik Indonesia
3. Melanjutkan pembatalan KMB
4. Memperjuangkan Irian Barat kembali ke Republik Indonesia
5. Mempercepat pembangunan

Program pertama yang dilakukan kabinet ini adalah membentuk Dewan Nasional. Dewan
Nasional sendiri adalah badan baru yang tugasnya menampung dan menyalurkan
kekuatan-kekuatan non partai dan aspirasi yang ada dalam masyarakat. Terbentuknya
Dewan Nasional ini tidak serta-merta mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh
negara. Pergolakan di daerah-daerah terus berlangsung. Hal ini mengakibatkan bertambah
parahnya sistem perekonomian nasional.

Untuk mengatasinya, pemerintah mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) di Gedung


Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur No. 56, tanggal 10-14 September 1957. Munas itu
membahas masalah pembangunan nasional dan daerah, pembangunan angkatan perang,
serta pembagian wilayah Republik Indonesia. Ketegangan yang terjadi antara pusat dan
daerah juga antar kelompok masyarakat berhasil diatasi dengan baik.

Dalam mengupayakan terwujudnya keputusan Munas, pada bulan Desember 1957


diselenggarakan Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap). Pada Munap ini disusun
rencana pembangunan yang dapat memenuhi harapan daerah, RG Squad. Hal ini menjadi
upaya pemerintah dalam mengatasi masalah pembangunan yang belum dapat
direalisasikan. Pasalnya, saat itu muncul berbagai peristiwa nasional yang harus segera
ditangani oleh pemerintah, salah satunya yang paling genting adalah peristiwa Cikini.

E. Melengkapi
1. Kabinet Nasir
Kabinet Sukiman
Kabinet Wilopo
Kabiet Ali 1 Mosi tidak percaya dan konflik internal
Kabinet Burhanudin harahap
Kabinet Ali 2
Kabinet Karya

F. Menjodohkan

1. e

2. c

3. d

4. a

5. b

G. Analisis Nilai

Sesuai analisis siswa


H. Teka Teki Silang

Mendatar

Kasimo plan

KNIP

Sutan Syahrir

Kasman Singodimendjo

RIS

Bebas aktif

Zaken Kabinet

(Seharusnya parlemen)

Presidensial

Sanering

MSA

Oposisi

Natsir

Banteng

RPLT

Menurun

Masyumi
DPRS

Manipol

Yogyakarta

Ali baba

Munap

ORI

Demokrasi liberal

Natsir

Separatisme

GBHN

Inflasi

TKR

Tidak ada jawaban

(seharusnya neokolonialisme)

BKR
Bab 3

A. Mengamati
1. Pendaftaran Pemilu 1955 dilaksanakan sejak bulan Mei 1954 dan selesai pada
November 1954. Untuk jumlah warga yang memenuhi syarat masuk bilik suara
sebesar 43.104.464 jiwa. Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 87,65% atau
37.875.229 yang menggunakan hak pilihnya kala itu. Kalian tahu kan kalau Pemilu
sekarang itu kan anggota TNI dan Polri tidak boleh ikut memilih. Nah, pada Pemilu
1955, anggota TNI-APRI diperbolehkan menggunakan hak pilihnya sesuai peraturan
yang berlaku pada saat itu. Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua
tahap, yaitu:

1. Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik
dan individu,
2. Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Menurut George McTurnan Kahin, Pemilu 1955 sangat penting. Pasalnya,


dengan terlaksananya Pemilu, kekuatan partai-partai politik terukur lebih cermat dan
parlemen yang dihasilkan lebih bermutu.

2. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dilatarbekangi atau dikeluarkan karena kegagalan badan
Konstituante untuk menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950. Anggota
konstituante mulai melakukan sidang pada 10 November 1956, tapi hingga tahun
1958 konstituante belum berhasil UUD yang diharapkan. Sementara itu, kalangan
masyarakat yang berpendapat untuk kembali ke UUD 1945 semakin kuat.
Menanggapi hal tersebut, Ir.Soekarno lalu memberi amanat di depan sidang
konstituante pada 22 April 1959 yang isinya menganjurkan untuk kembali ke UUD
1945. Pada tahun 30 Mei 1959, Konstituante melakukan pengambilan suara.
3. Upaya perkembangan ekonomi masa demokrasi terpimpin yang pertama ialah
membentuk badan perencana pembangunan nasional. Pada tanggal 15 Agustus
1959 didirikan Dewan Perancang Nasional atau Depernas untuk melakukan
pembangunan ekonomi dengan kekuasaan Kabinet Karya. Depernas memiliki
anggota sebanyak 50 orang dengan ketuanya ialah Moh. Yamin. Organisasi ini
memiliki beberapa tugas seperti melakukan penilaian dalam menyelenggarakan
pembangunan dan melakukan persiapan terencana mengenai rancangan UU
pembangunan nasional.

Dalam perkembangan ekonomi masa demokrasi terpimpin dapat mencapai


Rancangan Dasar Undang Undang Pembangunan Nasional yang bersifat sementara
berencana dalam kurun waktu satu tahun. Pada tahap ini berlangsung untuk tahun
1961 sampai 1969 melalui persetujuan MPRS dengan dikeluarkannya Tap MPRS No.
1/MPRS/1960 pada tanggal 26 Juli 1960. Kemudian pada tanggal 1 Januari 1961
mulai diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dengan pembentukan organisasi ini
membuat penyelesaian masalah menjadi lancar dalam hal pembangunan proyek
industri maupun perencanaan prasarana. Depernas mengalami perubahan nama
menjadi Badan Perancang Pembangunan Nasional atau Bappenas pada tahun 1963.
Namun sekarang dipimin oleh Presiden Soekarno sendiri.

Pemotongan Nilai Uang


Upaya perkembangan ekonomi masa demokrasi terpimpin selanjutnya ialah
melaksanakan pemotongan nilai uang. Berdasarkan Perpu No. 2/1959
(diberlakukan tanggal 25 Agustus 1959) merupakan dasar pemerintah dalam
melakukan kebijakan sanering. Sanering tersebut memiliki beberapa tugas seperti
mengurangi jumlah uang yang telah beredar dalam masyarakat, melakukan
peningkatan nilai rupiah dengan tujuan memakmurkan rakyat kecil, dan melakukan
pembendungan dalam hal inflasi yang tinggi. Berdasarkan upaya ini, pihak
pemerintah mengumumkan hasil pemotongan nilai uang yang berupa:

- Uang kertas pecahan yang memiliki nilai Rp 500 diubah menjadi Rp 50.

- Uang kertas pecahan yang memiliki nilai Rp 1000 diubah menjadi Rp 100.

- Membekukan seluruh simpanan bank yang berjumlah lebih dari Rp 25.000.

4. Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging


Forces (GANEFO), adalah suatu ajang olahraga yang didirikan mantan presiden
Indonesia, Soekarno, pada akhir tahun 1962 sebagai tandingan Olimpiade.
5. Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang
juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara
Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan.
6. Pengertian Deklarasi Ekonomi (Dekon) adalah Deklarasi yang disampaikan oleh
Presiden Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963 di Jakarta, untuk menciptakan
ekonomi nasional yang bersifat demokratis dan bebas dari imperialism dan system
ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) sebagai pelaksanaan Dekon, pada 26
Mei 1963 dikeluarkan serangkaian peraturan di bidang ekspor dan impor, harga,
serta lainnya yang seluruhnya berjumlah 14 buah peraturan yang dikenal sebagai
“peraturan 26 Mei” Peraturan 26 Mei ternyata tidak mencapai tujuannya. Oleh
karena indeks biaya hidup semakin meningkat, harga barang naik, dan inflasi
meningkat.
7. Pembebasan Irian Barat merupakan salah isu kedaulatan terbesar pada awal masa
kemerdekaan Republik Indonesia. Konflik ini muncul ketika Belanda tidak bersedia
untuk menyerahkan Irian Barat ke dalam bagian NKRI, dan memilih untuk
menjadikan wilayah itu sebagai negara boneka. Konflik perebutan wilayah ini
menguras banyak energi tokoh-tokoh NKRI untuk tetap menjaga kesatuan
wilayahnya. Untuk mempertahankan Irian Barat, mereka berjuang melalui berbagai
jalur mulai dari diplomasi hingga militer.
8. Tentu saja sebuah monumen semegah Tugu Monas tidak didirikan tanpa tujuan. Ada
fungsi dan tujuan besar yang mendasari pembangunan tugu tersebut. Semua ide
awal pembangunan ini bermula dari keinginan Presiden pertama RI, Ir.
Soekarno. Keinginan mengembalikan kehormatan RI dan menunjukkan wibawanya
di mata rakyat sendiri dan dunia internasional. Karenanya bangunan ini akan
diletakkan di depan istana merdeka.
Gagasan ini lahir di masa awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu banyak konflik yang
terjadi. Baik konflik dari dalam negeri maupun halangan-halangan yang terus
dilancarkan untuk meruntuhkan kedaulatan NKRI. Hingga pada akhirnya, demi
menjaga kedaulatan bangsa Indonesia, ibu kota kita sempat dipindahkan ke kota
Yogyakarta.
Sejarah berdirinya tugu monas di awali pada tahun 1949, dimana keadaan nasional
mulai membaik. Di tahun itulah Belanda yang masih sangat bernafsu mencengkeram
kembali bumi Indonesia telah mengakui kedaulatan negara Indonesia. Karena telah
memperoleh pengakuan itulah, ibukota negara dikembalikan ke pusat, Jakarta.
Sekembalinya ke Istana Merdeka, Presiden Soekarno teringat akan kebesaran
bangsa Indonesia. Pada zaman dahulu ketika manusia masih berperadaban rendah,
kita sebagai bangsa Indonesia telah memberi peninggalan berupa hasil budaya yang
megah. Candi Borobudur yang menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia adalah
bentuk kebesaran budaya dan kegagahan bangsa Indonesia.
Setelah beratus-ratus tahun Indonesia berusaha mengembalikan kehormatannya,
kini kedaulatan Indonesia telah diakui utuh di mata dunia. Tidak ada lagi bangsa
asing yang berhak merongrong kedaulatan kita. Dan karena itulah Soekarno ingin
mendirikan sebuah bangunan besar dan megah yang menggambarkan semangat
bangsa Indonesia.
Dalam pikiran Presiden saat itu, monumen peringatan ini akan menjadi pengingat
dan penyemangat bagi generasi mendatang. Monumen yang ditinggalkan haruslah
sama megahnya dengan Menara Eiffel di Paris, Perancis atau tugu-tugu lain di
ibukota negara kuat kala itu.

B. Pilihan Ganda
1. D. presiden
2. E. kabiet Djuanda
3. B. menjadikan manifesto politik sebagai GBHN
4. B. 2,3, 4
5. A. diberlakukannya kembali UUD 1945 sebagai dasar idiil dan yuridis
6. E. ketua MPRS diangkat oleh presiden
7. E. pembentukan MPRS
8. A. manipol
9. B. ekonomi terpimpin
10. C. mengendalikan laju inflasi
11. C. melakukan devaluasi mata uang
12. C. nasionalisais perusahaan asing
13. A. pertentangan Angkatan darat dan PKI
14. E. pemerintah pusat sibuk dnegan konflik politik
15. A. menyusun UUD baru pengganti UUDS 1950
16. D. DPR menolak Rencana Anggaran Belanja tahun 1960
17. A. negara-negara imperialis Barat
18. C. Malaysia diangkat sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB
19. C. Ellsworth Bunker
20. E. gagalnya badan Konstituante menyusun konstitusi sehingga mengancam
keselamatan negara
21. C. DPR menolak RAPBN yang diajukan presiden
22. B. menyelesaikan masalah Irian Barat
23. E. cabinet bertanggung jawab kepada presiden
24. A. banyaknya gerakan separatisme
25. D. melucuti persenjatan Belanda di semua wilayah Irian Barat
26. E. Linggajati
27. D. Indonesia
28. D. pemindahan pust komoditi dari Rotterdam (Belanda) ke Bremen (Jerman)
29. B. bagian dari RI
30. D. telah menyelamatkan RI dan UUD 1945
31. B. demorasi terpimpin
32. A. presiden
33. D. PKI, PNI, NU, Masyumi
34. A. membuat undang-undnag baru
35. A. Burhanudin Harahap
36. D. dibentuk Kabinet Gotng Royong
37. D. Burhanudin Harahap
38. A. banyaknya pergolakan daerah
39. C. keluarnya Dekrit Presiden
40. A. menerima bantuan Amarika dalam bentuk MSA
41. B. cabinet yang para meneterinya punya keahlian khusus
42. E. konflik di daerah-daerah
43. A. 1, 2, 3
44. C. penyelenggaraan KAA
45. E. pergantian kepemimpinan TNI AD
46. B. NU
47. E. orang-orang Cina menguasai sumber ekonomi bangsa
48. B. Mr. Assaat
49. D. Sumatra Utara
50. C. mencari perumausan perdamaian konflik daerah
51. E. percobaan pembuuhan Presiden Sukarno
52. A. Presiden mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959
53. D. liberal
54. C. Kabinet Kerja
55. A. urbanisasi
56. B. lapangann kerja
57. B. 1,3 5
58. E. Ir. Djuanda mempunyai keduudkan sebagai perdana menteri pada masa
demokrasi terpimpin
59. D. propaganda PKI sangat menarik
60. C. negara kapitalis dna cenderung imperialis
61. D. GBHN
62. A. Sjafruddin Prawiranegara
63. E. melakukan aksi sepihak hingga kudeta
64. B. meningkatny nilai rupiah
65. A. 1,2,3
66. C. merancang pembangunan untuk jangka panjang
67. E. tidak adanya kerja sama anatar pengusaha pribumi dan nonpribumi
68. A. PKI ditempatkan sebagai bagian yang sah dalam politik Indonesia
69. C. bersikap pasif pada pejuagan pembebasan Irian Barat
70. D. Malaysia

C. Isian
1. Konstituante dan
2. Presiden
3. Ekonomi terpimpin
4. Zaken kabinet
5. Jendral Ahmad Yani
6. Dekrit Presiden 5 Juli 1959
7. Belanda memperkuat pertahanan disekitar wilayah Irian Barat.
8. System ekonomi terpimpin
9. .
10. Pergantian Kabinet
11. PP ( Peraturan Pemerintah ) No. 23 Th. 1958 tentang pengambilalihan perusahaan
perusahaan milik Belanda
12. Mutual Security Act
13. Terdiri dari banyak partai politik dan memilih langsung anggota legislatif
14. Peristiwa Cikini
15. Perpindahan penduduk dari desa ke kota
16. Kebijakan moneter yang ditetapkan oleh SyafrudinPrawiranegara, Menteri
Keuangan dalam Kabinet Hatta II, yang mulai berlaku pada jam 20.00 tanggal 10
Maret 1950. Menurut kebijakan itu, "uang merah" (uang NICA) dan uang De
Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua.
17. Ekonomi Ali Babamerupakan sistem yang terbilang baru pada masa itu, sekaligus
bentuk kerjasama ekonomi antara pengusaha asal Indonesia dengan pengusaha
Tionghoa. Sistem ekonomi Ali Baba memiliki tujuan untuk memajukan
perekonomian Indonesia.
18. Dekrit Presiden 5 Juli 1959
19. Front Nasional merupakan sebuah organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita
proklamasi dan UUD 1945 yang dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden Nomor
13 Tahun 1959. Tujuan organisasi ini adalah menyatukan segala bentuk
potensi nasional menjadi kekuatan untuk menyukseskan pembangunan.
20. Indonesia Peking
C. Melengkapi
1. Sistem Parlementer Pemilu 1955
Dekret Presiden 5 Juli 1959
Kembali ke UUD 1945
Pembubaran Konstituante

2. Ciri demokrasi Liberal :

 Agama Adalah Urusan Masing-Masing.

 Mengutamakan Kepentingan Pribadi.

 Mengutamakan Hak Asasi Yang Berkaitan Dengan Kebebasan.

 Memiliki Dua Kelompok Masyarakat.

 Pembatasan Kebebasan Pada Minoritas.

 Adanya Kekuatan Mayoritas.

 Keputusan di Ambil Berdasarkan Suara Terbanyak.

 Kepentingan Mayoritas di Utamakan

 Pemerintahan Tidak Dapat di Ganggu Gugat

Ciri demokrasi terpimpin :

 Dominasi kekuasaan presiden


 Peran Partai Politik Dibatasi
 Peran Militer Semakin Kuat
 Berkembangnya Paham Komunisme
 Anti Kebebasan Pers
 Sentralisasi Pihak Pusat

3. Sebab berakhirnya kabinet :

1. Kabinet Natsir (6 September 1950 – 21 Maret 1951)

Masalah Irian Barat inilah yang kemudian menjadi pemicu yang menjatuhkan
menjatuhkan Kabinet Natsir. Karena gagal dalam perundingan penyelesaian masalah
Irian Barat pada tanggal 4 Desember 1950, parlemen kemudian melancarkan mosi
tidak percaya. Tekanan datang terutama dari tokoh Hadikusumo, Partai PNI.
Kepercayaan parlemen semakin berkurang dengan diketahuinya penyelewengan dana
paket ekonomi Sumitro Plan dan banyaknya pemberontakan yang terjadi di seluruh
wilayah Indonesia. PNI mengusulkan pencabutan PP nomor 39 /1950 tentang DPRS
dan DPRDS pimpinan Natsir dan diterima oleh parlemen. Resmi tanggal 21 Maret
1951, Natsir mengembalikan mandat pemerintahan yang dipimpinnya kepada
Presiden Sukarno.

2. Kabinet Sukiman dan Suwirjo (27 April 1951 – 3 April 1952)

Program kerja kabinet ini tidak banyak berbeda dengan Kabinet Natsir dan beberapa
hanya meneruskan saja. Di lapangan, banyak terjadi kendala yang disebabkan adanya
banyak korupsi, masalah Irian Barat yang tidak kunjung selesai, dan tetap terjadinya
pemberontakan di berbagai wilayah. Puncaknya, kabinet ini pecah setelah pemberian
bantuan ekonomi Amerika serikat yang dengan perjanjian akan memperhatikan
kepentingan Amerika di Indonesia. Tindakan Sukiman dianggap oleh PNI sebagai
pelanggaran terhadap politik bebas aktif. Pertentangan antara Masyumi dan PNI kembali
memuncak dan akhirnya kekuasaan pemerintahan dikembalikan lagi kepada Presden
Sukarno.

3. Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)

Kabinet ini kembali jatuh setelah bertahan hanya sekitar 3 bulan. Penyebab utama
kejatuhannya adalah Peristiwa Tanjung Morowa, yang merupakan peristiwa keributan
karena pembagian tanah yang ditunggangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

4. Kabinet Ali Sastroamijoyo (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)

Namun, kabinet ini juga tidak bertahan lama dengan banyaknya korupsi yang terjadi,
pemberontakan DI / TII yang tidak kunjung usai, dan yang terakhir Partai NU menarik
menteri-menteri yang ada dalam pemerintahan.

5. Kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)


Dengan terlaksananya pertama di Indonesia, maka otomatis kabinet kerja Burhanudin
berakhir masa jabatannya. Beliau menjadi satu-satunya cabinet yang melaksanakan tugas
sampai selesai.

6. Kabinet Ali Sastroamijoyo II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)

Kabinet Ali II membentuk propinsi Irian Barat yang beribu kota Soasio, Maluku Utara.
Selain itu, pada masa kabinet Ali II, Indonoesia mulai berperan aktif dalam ikut
melaksanakan ketertiban dunia dengan dikirimkannya Pasukan Garuda ke Mesir. Namun
akhirnya, karena pemberontakan masih ada di berbagai wilayah Indonesia, keretakan
antar partai pendukung di tubuh kabinet, dan Konsepsi Presiden 21 Febuari 1957, Kabinet
Ali II juga berakhir.

7. Kabinet Ir. Juanda (9 April 1957 – 5 Juli 1959)

Kabinet ini masih mendapat tantangan yang sama dengan kabinet-kabinet sebelumnya,
seperti pemberontakan di berbagai wilayah, keadaan ekonomi yang semakin menurun, dan
krisis demokrasi liberal. Puncaknya adalah Peristiwa Cikini pada bulan November 1957
yang merupakan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Kabinet ini
dibubarkan bersamaan dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden, 5 Juli 1959 untuk kembali
pada UUD 1945

4. Prestasi kabinet

1. Kabinet Natsir (6 September 1950 – 21 Maret 1951)

Kabinet ini merupakan kabinet yang pertama dipilih untuk menjalankan pemerintahan
setelah periode RIS dan dipimpin oleh Mohammad Natsir dari Partai Masyumi, maka
disebut Kabinet Natsir. Didukung oleh para tokoh terkenal dan mempunyai keahlian di
bidangnya masing-masing, seperti Sri Sultan Hamengkubowono IX, Mr. Mohammad Roem
Royen, Mr. Asaat, Ir. Juanda, dan Dr. Sumitro Joyohadikusumo yang merupakan ahli
ekonomi. Ada 5 titik fokus utama yang digelar dalam masa kabinet ini, yaitu:

1. Meningkatkan usaha keamanan dan ketentraman.


2. Konsolidasi ke semua golongan yang ada untuk penyempurnaan pemerintahan.
3. Menyempurnakan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang saat itu disebut angkatan
perang.
4. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat yang selama masa penjajahan terikat
dan dikuasai penjajah.
5. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat. Karena sesuai perjanjian RIS
seharusnya Irian Barat yang merupakan wilayah jajahan Belanda menjadi wilayah RI.

2. Kabinet Sukiman dan Suwirjo (27 April 1951 – 3 April 1952)

Pada awalnya, Prseden Sukarno tidak langsung menunjuk Perdana Menteri baru pengganti
Natsir. Beliau menunjuk Sartono yang pada saat itu menjadi Ketua PNI menjadi formatur
sampai terbentuk kabinet baru koalisi PNI dan Masyumi. Setelah sebulan, Presiden
Sukarnobaru berhasil membentuk kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI yang dipimpin
oleh Sukiman (Masyumi) dan Suwirjo (PNI). Program kerja kabinet Sukirman dan Suwirjo,
antara lain:

 Mengusahakan jaminan keamanan dan ketentraman kepada rakyat


 Mengusahakan kemakmuran rakyat, dengan salah satunya memperbaharui hukum agraria
(pertanahan) agar sesuai kepentingan para petani.
 Mempercepat pemilihan umum.
 Menetapkan kebijakan politik luar negeri bebas aktif dan berusaha mengembalikan Irian
Barat menjadi wilayah Indonesia.
Menyiapkan undang-undang tentang serikat pekerja / buruh, perjanjian kerjasama dengan
serikat buruh tersebut, penetapan upah minimum pekerja, dan penyelesaian pertikaian
yang melibatkan buruh.

3. Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)

Kabinet pada masa demokrasi liberal, Sekali lagi Presiden Sukarno mencoba
mengkoalisikan dua partai besar yang berkuasa saat itu, yaitu Partai Masyumi dan PNI.
Presiden menunjuk Wilopo sebagai pimpinan kabinet yang baru sehingga dikenal dengan
nama Kabinet Wilopo. Program kerja utama Kabinet Wilopo, antara lain:

 Mempercepat usaha peningkatan pendidikan dan pengajaran.


 Membuat undang-undang perburuhan yang sebenarnya sudah menjadi program kerja
kabinet sebelumnya.
 Menyempurnakan lembaga-lembaga negara yang ada. Ini juga merupakan lanjutan
program sebelumnya, yang salah satu caranya adalah degan mempercepat pemilu.
 Meneruskan perjuangan mengembalikan Irian Barat menjadi wilayah Indonesia.

4. Kabinet Ali Sastroamijoyo (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)

Kabinet keempat ini ditunjuk oleh Presiden Sukarno tanpa dukungan Partai Masyumi.
Namun didukung oleh banyak partai baru, seperti Partai Nahdhatul Ulama dan Partai
Iondonesia Raya (PIR). Program kerja pokok Kabinet Ali Sastroamijoyo, yaitu:

 Meningkatkan keamanan rakyat dan segera melaksanakan pemilihan umum.


 Menyegerakan pembebasan Irian Barat yang sudah menjadi masalah berlarut-larut.
 Pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif yang sesuai dengan undang-undang.
 Penyelesaian masalah pertikaian politik dan pemberontakan yang terjadi di berbagai
wilayah Indonesia. (baca juga: Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial)

Sebenarnya, dibandingkan kabinet lain, Kabinet Ali Sasatroamijoyo menghasilkan beberapa


kemajuan, antara lain:

 Penetapan pelaksanaan pemilihan umum yang sudah direncanakan 23 September 1955.


 Pelaksanaan Konfrensi Asia Afrika di Bandung yang menghasilkan dan kesepakatan
Gerakan Non Blok yang membuat Indonesia sangat dihargai di mata dunia. (baca
juga: Contoh Hidup Rukun)

5. Kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)


Kabinet Burhanudin Harahap tidak langsung menggantikan Kabinet Ali Sastroamijoyo,
karena pada waktu itu Presiden Sukarno sedang menunaikan ibadah haji. Dan pada
awalnya, Drs. Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri, tetapi hal tersebut akan
bertentangan dengan kedudukan beliau sebagai Wakil Presiden. Program / rencana kerja
Kabinet Burhanudin, antara lain:

 Mengembalikan kepercayaan moral rakyat terhadap pemerintah, terutama kepercayaan


Partai Masyumi.
 Melaksanakan sistem yang sudah direncanakan kabinet dan pada akhirnya direncanakan
sesuai rencana pada tanggal 29 September 1955.
 Memberantas korupsi.
 Menyelesaikan masalah inflasi ekonomi yang semakin meningkat.
 Meneruskan perjuangan mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

6. Kabinet Ali Sastroamijoyo II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)

Disebut sebagai Kabinet Ali II karena sebelumnya Ali Sasroamijoyo pernah menjabat
sebagai Perdana Menteri. Kabinet ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 65
tahun 1956. Program unggulan Kabinet Ali II, yaitu:

 Mengajukan pembatalan hasil KMB yang pernah membentuk RIS.


 Melanjutkan perjuangan merebut Irian Barat.
 Memulihkan keamanan negara dan memperbaiki ekonomi yang semakin terpuruk dengan
inflasi yang semakin tinggi.
 Melaksanakan politik bebas aktif dengan bekerja sama dengan negara-negara Asia Afrika
yang kebanyakan sama-sama baru merdeka.

7. Kabinet Ir. Juanda (9 April 1957 – 5 Juli 1959)

Kabinet pada masa demokrasi liberal ini merupakan kabinet yang di dalamnya banyak
tokoh yang ahli dalam berbagai bidang dan bukan lagi kabinet yang terdiri dari partai-
partai pendukung. Program pokok Kabinet Djuanda disebut Panca Karya, yaitu:
1. Membentuk Dewan Nasional untuk menampung segala aspirasi rakyat. Menormalkan
kondisi RI yang memburuk di segala bidang.
2. Melancarkan pelaksanaan KMB yang masih mengikat Indonesia akan terbentuknya RIS.
3. Melanjutkan perjuangan merebut Irian Barat dengan upaya diplomatik.
4. Meningkatkan proses pembangunan yang belum stabil sejak Indonesia merdeka.

5. Program perbaikan ekonomi

No Upaya Perbaikan Penggagas Keterangan


Ekonomi
1 Sanering Syafrudin Prawira Negara Pemotongan nilai mata uang
yang berjumlah Rp2.50 ke
atas menjadi setengahnya
2 Program Banteng Sumitro Joyohadikusumo Program untuk
emnumbuhkan kelas
menengah pengusaha
Indonesia dengan bantuan
kredit
3 Nasionalisasi de Sukiman Menasionalisasi De Javance
Javache Bank Bank menjadi Bank
Indonesia sebagai bank
sentral dan sirkulasi
4 Sistem ekonomi Mr. Iskaq Cokro-Adisuryo Bentuk kerja sama Tiongkok
Ali Baba dan pribumi
5 Persetujuan Burhanudin Harahap Perundingan antara
Finansial Ekonomi Indonesia dan Belanda
6 Rencana Ir. Djuanda RPLT akan dilaksanakan
Pembangunan antara 1956-1961
Lima Tahun
(RPLT)
7 Musyawarah Ir. Djuanda Membuat rencana
Nasional pembangunan yang
Pembangunan menyeluruh untuk jangka
(MUNAP) panjang

6. Kehidupan Politik dan ekonomi masa demokrasi Liberal :

Kehidupan politik :

Sistem politik pada masa demokrasi liberal telah mendorong untuk lahirnya partai – partai
politik, karena dalam system kepartaian maenganut system multi partai. Konsekuensi logis
dari pelaksanaan system politik demokrasi liberal parlementer gaya barat dengan system
multi partai yang dianut, maka partai –partai inilah yang menjalankan pemerintahan
melalui perimbangan kekuasaan dalam parlemen dalam tahun 1950 – 1959, PNI dan
Masyumi merupakan partai yang terkuat dalam DPR, dan dalam waktu lima tahun ( 1950 -
1955 ) PNI dan Masyumi silih berganti memegang kekuasaan dalam empat kabinet.

Kehidupan ekonomi :

Meskipun Indonesia telah merdeka tetapi Kondisi Ekonomi Indonesia masih sangat buruk.
Upaya untuk mengubah stuktur ekonomi kolonial ke ekonomi nasional yang sesuai dengan
jiwa bangsa Indonesia berjalan tersendat-sendat.

Faktor yang menyebabkan keadaan ekonomi tersendat adalah sebagai berikut.


1. Setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, bangsa
Indonesia menanggung beban ekonomi dan keuangan seperti yang telah ditetapkan dalam
KMB. Beban tersebut berupa hutang luar negeri sebesar 1,5 Triliun rupiah dan utang dalam
negeri sejumlah 2,8 Triliun rupiah.
2. Defisit yang harus ditanggung oleh Pemerintah pada waktu itu sebesar 5,1 Miliar.
3. Indonesia hanya mengandalkan satu jenis ekspor terutama hasil bumi yaitu pertanian
dan perkebunan sehingga apabila permintaan ekspor dari sektor itu berkurang akan
memukul perekonomian Indonesia.
4. Politik keuangan Pemerintah Indonesia tidak di buat di Indonesia melainkan dirancang
oleh Belanda.
5. Pemerintah Belanda tidak mewarisi nilai-nilai yang cukup untuk mengubah sistem
ekonomi kolonial menjadi sistem ekonomi nasional.
6. Belum memiliki pengalaman untuk menata ekonomi secara baik, belum memiliki tenaga
ahli dan dana yang diperlukan secara memadai.
7. Situasi keamanan dalam negeri yang tidak menguntungkan berhubung banyaknya
pemberontakan dan gerakan sparatisisme di berbagai daerah di wilayah Indonesia.
8. Tidak stabilnya situasi politik dalam negeri mengakibatkan pengeluaran pemerintah
untuk operasi-operasi keamanan semakin meningkat.
9. Kabinet terlalu sering berganti menyebabakan program-program kabinet yang telah
direncanakan tidak dapat dilaksanakan, sementara program baru mulai dirancang.
10. Angka pertumbuhan jumlah penduduk yang besar.

Masalah jangka pendek yang harus dihadapi pemerintah adalah :


1. Mengurangi jumlah uang yang beredar
2. Mengatasi Kenaikan biaya hidup.

Sementara masalah jangka panjang yang harus dihadapi adalah :


1. Pertambahan penduduk dan tingkat kesejahteraan penduduk yang rendah.

7. Upaya perbaikan ekonomi

Kehidupan ekonomi Indonesia hingga tahun 1959 belum berhasil dengan baik dan
tantangan yang menghadang cukup berat. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi
ekonomi adalah sebagai berikut:
1. Gunting Syafruddin
Kebijakan ini adalah Pemotongan nilai uang (sanering) dengan cara memotong semua
uang yang bernilai Rp2,50 ke atas hingga nilainya hanya tinggal setengahnya. Kebijakan ini
dilakukan oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS.
Tindakan ini dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan SK Menteri Nomor 1 PU
tanggal 19 Maret 1950. Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp5,1
miliar dan dampaknya rakyat kecil tidak dirugikan karena yang memiliki uang Rp2,50 ke
atas hanya orang-orang kelas menengah dan kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat
mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari
pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp200 juta.

2. Sistem Ekonomi Gerakan Benteng


Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk
mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah pada masa Kabinet Natsir yang
direncanakan oleh Menteri Perdagangan Sumitro Joyohadikusumo. Program ini bertujuan
untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional
(pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah menumbuhkan kelas pengusaha
di kalangan masyarakat Indonesia dengan cara:

 Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
 Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan
bantuan kredit.
 Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi
maju.

Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir. Program Gerakan Benteng
dimulai pada bulan April tahun 1950. Hasilnya selama tiga tahun (1950 – 1953) lebih
kurang 700 perusahaan Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Namun,
tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan
pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini disebabkan karena:

 Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi
dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
 Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif.
 Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
 Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
 Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara
hidup mewah.
 Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara
cepat dari kredit yang mereka peroleh.

Dampaknya program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan negara. Beban defisit
anggaran belanja pada tahun 1952 sebanyak 3 miliar Rupiah ditambah sisa defisit
anggaran tahun sebelumnya sebesar 1,7 miliar Rupiah. Akhirnya Menteri Keuangan Jusuf
Wibisono memberikan bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional
dari golongan ekonomi lemah sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai
produsen yang dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.

3. Nasionalisasi De Javasche Bank


Seiring meningkatnya rasa nasionalisme maka pada akhir tahun 1951 pemerintah
Indonesia melakukan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya
terdapat peraturan mengenai pemberian kredit harus dikonsultasikan pada pemerintah
Belanda. Hal ini menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan
moneter. Tujuan dari nasionalisasi ini adalah untuk menaikkan pendapatan dan
menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara drastis. Perubahan
mengenai nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan
bank sirkulasi diumumkan pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang
No. 24 tahun 1951.

4. Sistem Ekonomi Ali-Baba


Sistem ekonomi Ali-Baba diprakarsai oleh Menteri Perekonomian Iskaq Tjokrohadisurjo,
Kabinet Ali I. Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumisedangkan Baba digambarkan
sebagai pengusaha nonpribumi khususnya Cina. Tujuan dari program ini adalah:

 Untuk memajukan pengusaha pribumi.


 Agar para pengusaha pribumi Bekerjasama memajukan ekonomi nasional.
 Pertumbuhan dan perkembangan pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka
merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
 Memajukan ekonomi Indonesia perlu adanya kerjasama antara pengusaha pribumi
dan nonpribumi.

Pelaksanaan kebijakan Ali-Baba:

 Pengusaha pribumi diwajibkan untuk memberikan latihan-latihan dan tanggung


jawab kepada tenaga-tenaga masyarakat Indonesia agar dapat menduduki jabatan-
jabatan staf.
 Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional.
 Pemerintah memberikan perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-
perusahaan asing yang ada.

Program ini tidak dapat berjalan dengan baik sebab:

 Pengusaha pribumi kurang pengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk


mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Sedangkan pengusaha nonpribumi
lebih berpengalaman dalam memperoleh bantuan kredit.
 Indonesia menerapkan sistem liberal sehingga lebih mengutamakan persaingan
bebas.
 Pengusaha pribumi belum sanggup bersaing dalam pasar bebas.

5. Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)


Pada masa Kabinet Burhanudin Harahap dikirim delegasi ke Geneva untuk merundingkan
masalah finansial ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi ini dipimpin
oleh Anak Agung Gede Agung. Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana
persetujuan Finek yang berisi:

 Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan.


 Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral.
 Hubungan Finek didasarkan pada Undang-undang Nasional, tidak boleh diikat oleh
perjanjian lain antara kedua belah pihak.

Hasilnya pemerintah Belanda tidak mau menandatangani, sehingga Indonesia mengambil


langkah secara sepihak. Tanggal 13 Februari 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap
melakukan pembubaran Uni Indonesia-Belanda secara sepihak. Tujuannya adalah untuk
melepaskan diri dari keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sehingga pada tanggal 3 Mei
1956 Presiden Soekarno menandatangani undang-undang pembatalan KMB. Sementara itu
dampaknya adalah banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, sedangkan
pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan Belanda tersebut.

6. Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)


Masa kerja kabinet pada masa liberal yang sangat singkat dan program yang silih berganti
menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi. Hal ini menyebabkan terjadinya
kemerosotan ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksanaan pembangunan. Program yang
dilaksanakan pada umumnya merupakan program jangka pendek, tetapi pada masa
kabinet Ali Sastroamidjojo II, pemerintahan membentuk Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Tugas biro ini merancang
pembangunan jangka panjang. Ir. Djuanda diangkat sebagai menteri perancang nasional.
Biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya
akan dilaksanakan antara tahun 1956 – 1961 dan disetujui DPR pada tanggal 11 November
1958. Tahun 1957 sasaran dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional
Pembangunan (Munap). Pembiayaan RPLT diperkirakan sekitar 12,5 miliar Rupiah.
Namun, dalam pelaksanaannya RPLT tidak dapat berjalan dengan baik karena:

 Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957
dan awal tahun 1958 yang mengakibatkan ekspor dan pendapatan negara merosot.
 Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-
perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi.
 Adanya ketegangan antara pusat dan daerah sehingga banyak daerah yang
melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.

7. Musyawarah Nasional Pembangunan


Masa Kabinet Djuanda terjadi ketegangan hubungan antara pusat dan daerah. Masalah
tersebut untuk sementara waktu dapat teratasi dengan Musayawaraah Nasional
Pembangunan (Munap). Tujuan diadakannya Munap adalah untuk mengubah rencana
pembangunan agar dapat dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk jangka
panjang, tetapi tetap saja rencana pembangunan tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan
baik karena:

 Adanya kesulitan dalam menentukan skala prioritas.


 Terjadi ketegangan politik yang tidak dapat diredakan.
 Timbul pemberontakan PRRI/Permesta.
 Membutuhkan biaya besar untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta
sehingga meningkatkan defisit Indonesia.
 Memuncaknya ketegangan politik Indonesia-Belanda menyangkut masalah Irian
Barat mencapai konfrontasi bersenjata.

8. Kondisi politik dan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin


Demokrasi Terpimpin merupakan sebuah sistem yang pernah ada di Indonesia pada
tahun 1959 hingga tahun 1966. Demokrasi ini merupakan sistem demokrasi dimana
segala kebijakan dan keputusan berpatokan pada pemimpin negara.
Berikut keadaan politik ketika masa demokrasi terpimpin :
a) Pemimpin negara berfungsi sebagai sumber dan patokan disetiap kebijakan
yang diambil oleh negara.
b) Terbentuknya penguasa tunggal yang bersifat mendekati otoriter.
c) Dengan adanya demokrasi terpimpin kala itu, maka negara terselamatkan dari
perpecahan dan krisis berkepanjangan.
d) Terbentuknya lembaga tinggi MPRS dan DPAS.
e) Kekuatan militer menjadi bisa masuk dalam ruang lingkup dunia politik
Kondisi ekonomi :

Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang, seperti
uang pecahan kertas Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1.000
menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.

Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis


Indonesia dengan cara terpimpin. Kondisi ini dalam pelaksanaannya justru
mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962,
harga barang-barang naik hingga 400 persen.

Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp


1.000 menjadi Rp 1. Sehingga,uang rupiah baru harusnya dihargai 1.000 kali lipat
uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali
lipat lebih tinggi. Maka, tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi malah
meningkatkan angka inflasi.

D. Uraian
1. Sistem pemerintahan parlementer
2. Konsepsi Presiden ini menimbulkan perdebatan yang hangat dalam masyarakat
dan dalam DPR. Partai-partai seprerti Masyumi, NU, PSII, Katolik, dan PRI
menolak konsepsi ini, dan berpendapat bahwa mengubah sistem pemerintahan
dan susunan ketatanegaraan secara radikal seperti itu adalah wewenang
Konstituante. Suasana makin tegang setelah usaha-usaha untuk melaksanakan
Konsepsi Presiden (berpusat di ibu kota) mendapat tentangan di daerah-
daerah, yang mengakibatkan gerakan daerah semakin memuncak dan semakin
meluas. Tidak lama kemudian, pada bulan Maret 1957 Perdana Menteri Ali
Sastroamidjojo mengembalikan mandatnya.
3. Dekret Presiden 5 Juli 1959
4. Manipol/USDEK atau Manifesto politik / Undang-Undang Dasar 1945,
Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan
Kepribadian Indonesia merupakan konsep haluan negara Republik Indonesia
yang dicetuskan oleh Soekarno yang mana harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan
dijalankan oleh semua bangsa Indonesia.
5. Konstituante tidak dapat bekerja baik dan hal itu ditandai dengan kegagalan
konstituante menghasilkan konstitusi baru hingga pemerintah kembali
menggunakan UUD 1945 setelah dekrit presiden 5 Juli 1959
6. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah menggariskan kebijaksanaan luar
negerinya dengan ikut aktif menciptakan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Hal ini dapat terwujud melalui kerja sama dan hubungan internasional yang
saling menguntungkan. Peran serta Indonesia dalam kerja sama dan hubungan
internasional, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang
bermanfaat bagi dunia dan Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Bidang politik
Contoh peran Indonesia dalam kerja sama internasional di bidang politik
dapat diwujudkan dalam keikutsertaan Indonesia dalam forum-forum
internasional dengan tetap memegang prinsip bebas aktif. Beberapa peran
aktif Indonesia dalam bidang politik luar negeri antara lain adalah sebagai
berikut :
 Mengupayakan terciptanya perdamaian antarpihak yang saling bertikai
 Sebagai salah satu pencetus berdirinya forum-forum kerja sama regional dan
internasional seperti GNB, ASEAN dan KAA.
 Mendukung zone bebas nuklir di kawasan ASEAN.
2. Bidang ekonomi
Contoh peran Indonesia dalam kerja sama internasional di bidang ekonomi
antara lain sebagai berikut:
 Mendukung pembentukan pasar bebas di kawasan ASEAN (AFTA) dan ASIA
Pasifik (APEC)
 Membawa pusat promosi ASEAN untuk perdagangan, investasi, dan
pariwisata.
 Membangun proyek-proyek industri ASEAN, seperti proyek pabrik pupuk
urea di Indonesia dan Malaysia, proyek industri tembaga di Filipina, proyek
pabrik mesin diesel di Singapura, proyek pabrik superfosfat di Thailand dan
sebagainya.
 Menciptakan Preference Trading Arrangement (PTA) yang bertugas
menentukan tarif rendah untuk beberapa jenis barang komoditi produk
ASEAN dan sebagainya.
3. Bidang sosial
Contoh peran Indonesia dalam kerja sama internasional di bidang sosial,
antara lain :
 pencegahan narkotika dan penanggulangannya.
 penanggulangan bencana alam.
 perlindungan terhadap anak cacat.
 pemerataan kesejahteraan sosial masyarakat.

4. Bidang budaya
Contoh peran Indonesia dalam kerja sama internasional di bidang budaya
antara lain pertukaran pelajar dan mahasiswa.
 pemberantasan buta huruf.
 program pertukaran acara televisi ASEAN.
 temu karya pemuda ASEAN.
7. Latar belakang. Dekret Presiden 1959 dilatarbelakangi oleh kegagalan Badan
Konstituante untuk menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950.
Anggota konstituante mulai bersidang pada 10 November 1956. Namun pada
kenyataannya sampai tahun 1958 belum berhasil merumuskan UUD yang
diharapkan.
8. A.OLDEFO
OLDEFO kepanjangan dari Old Emerging Forces. Negara –negara yang
tergabung dalam OLDEFO merupakan Negara-negara kapitalis yang cenderung
kolonialis.

B.NEFO
NEFO kepanjangan dari New Emerging Forces. Negara –negara yang tergabung
dalam NEFO merupakan Negara-negara antikapitalis dan antikolonialis.
Kebanyakan mereka menganut paham komunis. Indonesia juga termasuk dalam
NEFO.

Politik luar negeri OLDEFO dan NEFO berkembanga semakin radikal menjadi politik
mercusuar dan politik poros-porosan. Melalui politik mercusuar, Ir. Soekarno dari
Indonesia mengadakan proyek-proyek kolosal yang menguras biaya besar. Proyek tersebut
bertujuan untuk menjadikan Indoensia sebagai Negara terkemuka (menjadi mercusuar) di
kalangan NEFO. Proyek mercusuar antara lain pembangunan komplek olahraga Senayan
dan penyelenggaraan GANEFO atau pesta olahraga untuk Negara-negara NEFO.

Karena tergabung dalam NEFO maka Indonesia menjaga jarak dnegna Negara-
negara Barat dan lebih menjalin kerjasama dengan Negara-negara Blok Timur serta Negara
komunis lainnya. Kebijakan politik Soekarno tersebut berdampak pada tahun 1961 muncul
rencana pembentukan Federasi Malaysia yang terdiri dari Sabah, Serawak, Brunei
Darussalam, Persekutuan Tanah Melayu, Singapura. Presiden Soekarno tidak menyetujui
rencana tersebut jarena dianggap sebagai proyek neokapitalisme Inggris. Ditambah lagi
tanggal 16 September 1963, pemerintah Malaya secara resmi memproklamirkan Federasi
Malaysia. Hal tersebut menjadi latar belakang konfrontasi Indonesia dengan Malaysia.

9. Ajaran Nasakom ini dianggap sebagai ajaran yang menguntungkan pihak PKI. Hal ini
keran Nasakom secara tidak langsung menempatkan PKI sebagai salah satu unsur
yang salh dalam konstelasi politik nasional. Hal ini berakibat pada kedudukan PKI
yang semakin kuat. Maka inilah yang menjadi pendapat kuat bahwa Nasakom sangat
menguntungkan bagi PKI.
10. Konsepsi Presiden ini pada pokoknya berisi:
1. Sistem Demokrasi Parlementer secara Barat tidak sesuai dengan kepribadian
Indonesia,oleh karena itu harus diganti dengan sistem Demokrasi Terpimpin.
2. Untuk pelaksanaan sistem Demokrasi Terpimpin perlu dibentuk suatu kebinet
gotong royong yang anggotanya terdiri dari semua partai dan organisasi
berdasarkan perimbangan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Konsepsi Presiden
ini mengetengahkan pula perlunya pembentukan "Kabinet Kaki Empat" yang
mengandung arti bahwa keempat partai besar, yakni PNI, Masyumi, NU, dan PKI,
turut serta di dalamnya untuk menciptakan kegotong royongan nasional.
3. Pembentukan Dewan Nasional yang terdiri dari golongan-golongan fungsional
dalam masyarakat. Tugas utama Dewan Nasional ini adalah memberi nasihat
kepada kabinet baik diminta maupun tidak diminta.

11. Seiring dengan perubahan politik menuju demokrasi terpimpin maka ekonomipun
mengikuti ekonomi terpimpin. Sehingga ekonomi terpimpin merupakan bagian dari
demokrasi terpimpin. Dimana semua aktivitas ekonomi disentralisasikan di pusat
pemerintahan sementara daerah merupakan kepanjangan dari pusat. Demokrasi terpimpin
adalah sebuah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, yang seluruh keputusan serta
pemikiran berpusat pada pemimpinnya saja.

1. Pembentukan Badan Perencana Pembangunan Nasional


Untuk melaksanakan pembangunan ekonomi di bawah Kabinet Karya maka dibentuklah
Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada tanggal 15 Agustus 1959 dipimpin oleh Moh.
Yamin dengan anggota berjumlah 50 orang.mTugas Depernas antara lain :

 Mempersiapkan rancangan Undang-undang Pembangunan Nasional yang berencana


 Menilai Penyelenggaraan Pembangunan

Hasil yang dicapai, dalam waktu 1 tahun Depenas berhasil menyusun Rancangan Dasar
Undang-undang Pembangunan Nasional Sementara Berencana tahapan tahun 1961-1969
yang disetujui oleh MPRS melalui Tap MPRS No. I/MPRS/1960 tanggal 26 Juli 1960 dan
diresmikan pelaksanaanya oleh Presiden Soekarno pada tanggal 1 Januari 1961

Mengenai masalah pembangunan terutama mengenai perencanaan dan pembangunan


proyek besar dalam bidang industri dan prasarana tidak dapat berjalan dengan lancar
sesuai harapan. 1963 Dewan Perancang Nasional (Depernas) diganti dengan nama Badan
Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin oleh Presiden Sukarno.

2. Pemotongan Nilai Uang


Kebijakan sanering yang dilakukan pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang No. 2/1959 yang berlaku tanggal 25 Agustus 1959 pukul 06.00
pagi. Tujuan dilakukan sanering adalah :

 Untuk membendung inflasi yang tetap tinggi


 Untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat
 Meningkatkan nilai rupiah sehingga rakyat kecil tidak dirugikan.

Pemerintah mengumumkan keputusannya mengenai pemotongan nilai uang, yaitu sebagai


berikut.

 Uang kertas pecahan bernilai Rp. 500 menjadi Rp. 50


 Uang kertas pecahan bernilai Rp. 1.000 menjadi Rp. 100
 Pembekuan semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000

Tetapi usaha pemerintah tersebut tetap tidak mampu mengatasi kemerosotan ekonomi
yang semakin jauh, terutama perbaikan dalam bidang moneter. Para pengusaha daerah di
seluruh Indonesia tidak mematuhi sepenuhnya ketentuan keuangan tersebut. Pada masa
pemotongan nilai uang memang berdampak pada harga barang menjadi murah tetapi tetap
saja tidak dapat dibeli oleh rakyat karena mereka tidak memiliki uang. Hal ini disebabkan
karena :

 Penghasilan negara berkurang karena adanya gangguan keamanan akibat


pergolakan daerah yang menyebabkan ekspor menurun.
 Pengambilalihan perusahaan Belanda pada tahun 1958 yang tidak diimbangi oleh
tenaga kerja manajemen yang cakap dan berpengalaman.
 Pengeluaran biaya untuk penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962, RI sedang
mengeluarkan kekuatan untuk membebaskan Irian Barat.

Kebijakan keuangan kemudian diakhiri dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-


undang No. 6/1959 yang isi pokoknya ialah ketentuan bahwa bagian uang lembaran
Rp1000 dan Rp500 yang masih berlaku harus ditukar dengan uang kertas bank baru yang
bernilai Rp100 dan Rp50 sebelum tanggal 1 Januari 1960.

3. Konsep Djuanda
Setelah keamanan nasional berhasil dipulihkan, kasus DI Jawa Barat dan pembebasan Irian
Barat, pemerintah mulai memikirkan penderitaan rakyatnya dengan melakukan
rehabilitasi ekonomi. Konsep rehabilitasi ekonomi disusun oleh tim yang dipimpin oleh
Menteri Pertama Ir Djuanda dan hasilnya dikenal dengan sebutan Konsep Djuanda. Namun
konsep ini mati sebelum lahir karena mendapat kritikan yang tajam dari PKI karena
dianggap bekerja sama dengan negara revisionis, Amerika Serikat dan Yugoslavia.

4. Deklrasai Ekonomi
Deklarasi Ekonomi (Dekon) adalah Deklarasi yang disampaikan oleh Presiden Soekarno
pada tanggal 28 Maret 1963 di Jakarta, untuk menciptakan ekonomi nasional yang bersifat
demokratis dan bebas dari imperialism dan system ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki
sendiri). Deklarasi Ekonomi (Dekon) sebagai strategi dasar ekonomi Indonesia dalam
rangka pelaksanaan Ekonomi Terpimpin.

Strategi Ekonomi Terpimpin dalam Dekon terdiri dari beberapa tahap; Tahapan pertama,
harus menciptakan suasana ekonomi yang bersifat nasional demokratis yang bersih dari
sisa-sisa imperialisme dan kolonialisme. Tahapan ini merupakan persiapan menuju
tahapan kedua yaitu tahap ekonomi sosialis. Beberapa peraturannya merupakan upaya
mewujudkan stabilitas ekonomi nasional dengan menarik modal luar negeri serta
merasionalkan ongkos produksi dan menghentikan subsidi.

Peraturan pelaksanaan Dekon tidak terlepas dari campur tangan politik yang memberi
tafsir sendiri terhadap Dekon. PKI termasuk partai yang menolak melaksanakan Dekon,
padahal Aidit terlibat di dalam penyusunannya, selama yang melaksanakannya bukan
orang PKI. Empat belas peraturan pemerintah yang sudah ditetapkan dihantam habis-
habisan oleh PKI. Djuanda dituduh PKI telah menyerah kepada kaum imperialis. Presiden
Soekarno akhirnya menunda pelaksanaan peraturan pemerintah tersebut pada bulan
September 1963 dengan alasan sedang berkonsentrasi pada konfrontasi dengan Malaysia.

12. Latar belakang. Dekret Presiden 1959 dilatarbelakangi oleh kegagalan Badan
Konstituante untuk menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950. Anggota
konstituante mulai bersidang pada 10 November 1956. Namun pada kenyataannya
sampai tahun 1958 belum berhasil merumuskan UUD yang diharapkan.
13. 1. Melengkapi sandang pangan rakyat dalam waktu yang singkat.
2. Menyelenggarakan keamanan negara dan rakyat
3. Melanjutkan perjuangan melawan imperialisme politik dan ekonomi.
14. Isi Dwikora sesuai pidato Presiden Soekarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta
adalah sebagai berikut:
(1). memperkuat ketahanan revolusi Indonesia;
(2). membantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Manila, Singapura, Sabah,
Serawak, dan Brunai, untuk membubarkan negara boneka Malaysia
15. Karena dengan cara diplomasi (pendekatan) Belanda tidak mau membicarakan tentang
masalah Irian Barat dengan Indonesia lalu Indonesia mengambil cara konfrontasi
politik dengan meminta dukungan dengan PBB.

F. Menjodohkan
1. Tidak ada jawaban
2. B
3. C/E
4. D
5. A
G. Analisis nilai
Sesuai analisis siswa

H. Teka Teki Silang


Mendatar
Imperialisme
Trikora
CONEFO
Aklamasi
KAA
KSAD
NEFO
OLDEFO
GANEFO
Soal tidak jelas
Neokololim
ABRI
Voting
Dekon
Macan tutul
Ampera
DPR GR
Staatsnoodrecht

Menurun
Manipol
Etatisme
Kolaga
Konfrontasi
Defisit
Nasakom
Irian Barat
Dwikora
Inflasi
MPRS
PBB
Reses