Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada prinsipnya, setiap tumbuhan memiliki kisaran tertentu terhadap

faktor lingkungannya. Prinsip tersebut dinyatakan sebagai Hukum Toleransi

Shelford, yang berbunyi “Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan

maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran

toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungannya” (Dharmawan,

2005).

Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak

menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman. Cekaman dapat juga

diartikan sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada

pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan (Fallah, 2006).

Hormon asam absisat merupakan senyawa yang bersifat inhibitor

penghambat yang cara kerjanya berlawanan dengan hormon auksin dan

giberelin. salah satu fungsi auksin adalah untuk memacu proses

pemanjangan sel. sedangkan salah satu fungsi dari giberelin adalah

untuk mengakhiri proses dormansi pada biji yang terpengaruhi oleh asam

absisat. Biji akan berkecambah ketika ABA dihambat dengan cara

membuatnya tidak aktif, atau dengan membuangnya atau melalui peningkatan

aktivitas giberelin. Biji beberapa tumbuhan gurun mengakhiri dormansinya ketika

hujan lebat melunturkan ABA dari biji. Biji tumbuhan lain memerlukan cahaya

atau stimulus lain untuk memicu perombakan asamabisat. Perbandingan

keberadaan ABA terhadap giberelin pada suatu biji akan menentukan

apakah biji itu akan tetap dorman atau berkecambah. ABA menyebabkan
tanaman mengalami dormansi, dimana hal ini menguntungkan bagi

tanaman tersebut apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan yang

tidak menguntungkan seperti halnya kurangnya air tanah dan perubahan

suhu pada iklim musimgugur dan musim dingin (Taiz dan Zeiger, 2002).

Hormon merupakan sinyal kimia yang mengkoordinasi bagian-bagian suatu

organisme. Karakteristik hormon adalah hanya dibutuhkan dalam konsentrasi

yang sangat kecil untuk menginduksi perubahan besar dalam suatu organisme.

Secara umum hormon mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

dengan cara mempengaruhi pembelahan, pemanjangan dan diferensiasi sel.

Beberapa hormon juga memperantarai respon fisiologis jangka pendek tumbuhan

terhadap stimulus lingkungan. Salah satu hormon tumbuhan adalah asam absisat.

Berlainan dengan hormon tumbuhan lainnya, misalnya auksin, sitokinin dan

giberilin, asam absisat berfungsi menghambat pertumbuhan suatu tumbuhan dan

mengalami dormansi. Asam absisat juga menghambat pembelahan sel kambium

pembuluh. Fungsi tersebut memungkinkan asam absisat untuk membantu

mempersiapkan tumbuhan untuk menghadapi musim dingin dengan cara

menghentikan pertumbuhan primer dan sekundernya (Campbell, 2003).

Selanjutnya dalam paper ini akan dikaji tentang pengaruh ABA pada tanaman

terhadap cekaman lingkungan.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui pengaruh

yang diberikan ABA terhadap pertumbuhan tanaman yang mengalami cekaman

lingkungan.
Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari pernulisan paper ini sebagai salah satu syarat untuk

dapat memenuhi komponen penilaian di mata kuliah Zat Pengatur Tumbuh

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan

sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Asam Absisat (ABA) Terhadap Cekaman Lingkungan

ABA adalah hormon tanaman yang berperan memberi isyarat pada organ

tumbuhan akan datangnya keadaan rawan fisiologis. Keadaan rawan tersebut

antara lain kekurangan atau kelebihan air, tanah bergaram, suhu dingin atau panas

(Salisbury dan Ross, 1995). Bila daun mengalami cekaman kekeringan maka

ABA akan meningkat. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan

menunjukkan peningkatan sintesis asam absisat (ABA) pada daun, kemudian

ABA menyebabkan ruang antar sel penjaga stomata menyempit sebelum terjadi

penutupan stomata, sebaliknya, kadar asam absisat (ABA) dalam tanaman

berbanding terbalik dengan kadar air tanah yang tersedia, sehingga peningkatan

ABA sejalan dengan penurunan kadar air tanah tersedia (Clawson, 1989).

Pada tanaman yang tercekam kekeringan tampak juga terjadi peningkatan

asam absisat (ABA). fitohormon seperti sitokinin dan ABA diproduksi dalam akar

tanaman dan boleh jadi sebagai pemberi isyarat antara bagian akar dan tajuk

(shoots) melalui transport dalam sistem vaskular yang mengontrol pembukaan dan

penutupan stomata dalam tanaman sebagai respons terhadap cekaman kekurangan

air. Konsentrasi kedua fitohormon tersebut dalam tanaman dapat dipengaruhi oleh

level dan sumber nitrogen (NO3 atau NH4). Lebih lanjut dinyatakan bahwa

perubahan level-level K, P, dan Ca, telah terbukti dapat memengaruhi konsentrasi

sitokinin, sedangkan perubahan level-level Zn, K, dan P memengaruhi konsentrasi

ABA dalam beberapa tanaman (Orcutt dan Nilsen, 2000).

Menurut keadaan kekeringan meningkatkan kandungan ABA paling

sedikit 20 kali lipat, sampai 8 ferntogram per sel (80-15g). Akar yang mengalami
kekeringan juga membentuk ABA lebih banyak dan ABA itu diangkut melalui

xylem menuju daun, untuk mengendalikan penutupan stomata. ABA

menyebabkan stornata menutup dengan cara menghambat aktivitas pompa proton

yang kerjanya bergantung pada ATP di membran plasma sel penjaga. Biasanya

pompa proton mengangkut proton keluar dari sel penjaga sehingga menyebabkan

terjadi aliran masuk cepat dan penimbunan K+ , kemudian terjadi penyerapan air

secara osmotik serta pembukaan stomata. Akan tetapi, ABA yang bekerja di ruang

bebas pada permukaan luar membran sel penjaga membatasi masuknya K+ ,

sehingga K+ dan air merembes keluar sel penjaga, turgor sel berkurang dan

stomata menutup (Salisbury dan Ross, 1995).

Peranan Fitohormon Terhadap Lingkungan

a. Membantu bertahan pada kondisi kekeringan

Salah satu senyawa yang penting adalah asam absisat (ABA) yang

merupakan senyawa yang mengendalikan proses aklimatisasi tanaman pada

kondisi kekeringan (Zhu, 2002). ABA merupakan hormon pengendali stres

dalam tanaman yang memiliki fungsi ganda, menginduksi gen-gen yang mengatur

perlindungan terhadap cekaman air serta memacu penutupan stomata daun (Seki

et al., 2002). Pada kondisi cekaman air, dilaporkan bahwa ABA akan

menghambat pertumbuhan dan perluasan area daun tanaman

(Alves and Setter, 2000).

b. Membantu tanaman bertahan pada kondisi cekaman kadar garam tinggi

Beberapa peneliti menggunakan PGPR untuk membantu menurunkan atau

mengurangi dampak negatif salinitas tanah (Mutlu & Bozcuk, 2000). Fitohormon

diduga memainkan peranan yang penting dalam merespon cekaman dan


beradaptasi (Sharma et al., 2005; Shaterian et al., 2005).

Diperkirakan bahwa dampak represif dari salinitas terhadap

perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman berkaitan dengan penurunan

tingkat fi tohormon endogenus dalam jaringan (Debez et al., 2001). Pada kondisi

tercekam garam tanaman akan meningkatkan kandungan ABA dan menurunkan

kandungan IAA (Wang et al., 2001).

Asam absisat (ABA) diduga berperan sebagai mediator ketika tanaman

memberikan respon terhadap berbagai cekaman, misalnya kekeringan dan

cekaman salinitas. ABA juga merupakan indikator utama internal yang membantu

tanaman untuk bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk misalnya adanya

salinitas yang tinggi (Keskin et al., 2010).

Ketika tanaman terpapar pada kadar salinitas yang tinggi maka akan

terpacu untuk meningkatkan kandungan ABA dalam jaringan, yang berkaitan erat

dengan potensial air tanah atau daun, kadar garam memacu peningkatan ABA

endogenus akibat penurunan kadar air bukan dampak dari kadar garam

(Zhang et al., 2006).

Penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa mekanisme fitohormon

dalam membantu tanaman beradaptasi terhadap cekaman garam. ABA berperan

meningkatkan potensial air pada xylem sehingga tanaman akan menyerap lebih

banyak air ketika kadar garam meningkat (Fricke et al., 2004). Jeschke et al.

(1997) melaporkan bahwa peningkatan konsentrasi ABA dalam xylem berkaitan

dengan penurunan konduktan daun dan secara umum menghambat pertumbuhan

daun. Cekaman kadar garam akan merangsang proses sintesis ABA di akar

kemudian akan diangkut oleh xylem dan akan menimbulkan reaksi pada stomata.
Jae-Ung & Youngsook (2001) melaporkan bahwa ABA merangsang reaksi

penutupan stomata, mempercepat depolimerasi benang-benang aktin pada korteks

dan memperlambat pembentukan aktin yang baru. Perubahan dalam pengaturan

aktin tersebut diduga merupakan dasar dalam pergerakan penutupan stomata,

karena aktin merupakan senyawa antagonis yang berfungsi untuk menghambat

penutupan stomata.Ketika akar terpapar kandungan garam yang tinggi, ABA di

akar akan merangsang akumulasi ion-ion di dalam vakuola akar tanaman barley

yang diperlukan untuk adaptasi terhadap kondisi salin (Jeschke et al., 1997).

c. Membantu tanaman tumbuh pada tanah yang padat

Fitohormon yang berperan dalam mengatur pertumbuhan fisiologis pucuk

tanaman yang tumbuh pada tanah yang padat adalah ABA dan etilen (Liu, 2012).

ABA merupakan fitohormon yang paling berperan dalam menghambat

pertumbuhan akar. Ketika konsentrasi ABA dalam xylem meningkat akan

mengakibatkan konduktan pada stomata menurun sehingga pertumbuhan pucuk

pada tanah yang padat akan menurun untuk mengimbangi perkembangan akar

yang terbatas. Pada tanah yang tidak terlalu padat, ABA akan meningkatkan

pertumbuhan tanaman dengan cara menekan produksi etilen pada tanaman.


KESIMPULAN

1. Pada tanaman yang tercekam kekeringan fitohormon ABA yang diproduksi

dalam akar tanaman dapat menjadi pemberi isyarat antara bagian akar dan

tajuk (shoots ) melalui transport dalam sistem vaskular yang mengontrol

pembukaan dan penutupan stomata dalam tanaman sebagai respons terhadap

cekaman kekurangan air.

2. ABA merupakan indikator utama internal yang membantu tanaman untuk

bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk misalnya adanya salinitas yang

tinggi. Ketika tanaman terpapar pada kadar salinitas yang tinggi maka akan

terpacu untuk meningkatkan kandungan ABA dalam jaringan, yang berkaitan

erat dengan potensial air tanah atau daun.

3. ABA membantu tanaman beradaptasi terhadap cekaman garam. ABA akan

meningkatkan potensial air pada xylem sehingga tanaman akan menyerap

lebih banyak air ketika kadar garam meningkat. Ketika akar terpapar

kandungan garam yang tinggi, ABA di akar akan merangsang akumulasi ion-

ion di dalam vakuola akar tanaman barley yang diperlukan untuk adaptasi

terhadap kondisi salin

4. Pada tanah yang tidak terlalu padat, ABA akan meningkatkan pertumbuhan

tanaman dengan cara menekan produksi etilen pada tanaman.


DAFTAR PUSTAKA

Alves, A.A., and T.L. Setter, 2000. Response of cassava to water defi cit: Leaf
area growth and abscisic acid, Crop Sci., 40, 131-137.
Associates.

Campbell, Neil. A. 2003. Biologi. Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Clawson, K.L., R. D. Jackson, and P.J. Pinter. 1989. Evaluating Plant Water
Stress with Canopy Temperature Differences. Agron. J. 81: 858—863.
Debez A, Chaibi W, Bouzid S (2001) Eff ect du NaCl et de regulatoeurs de
croissance sur la germination d’ Atriplex halimus L. Cah Agric 10:135-138

Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press.

Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang


Terkontrol. http://io.ppi

Fricke W, Akhiyarova G, Veselov D, Kudoyarova G (2004) Rapid and tissue-


specifi c changes in ABA and in growth rate in response to salinity in barley
leaves. J Exp Bot 55: 1115–1123 jepang.org. Diakses pada tanggal 5 Juli
2009.

Jeschke WD, Peuke AD, Pate JS, Hartung W (1997) Transport, synthesis and
catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus
communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity. J Exp Bot
48: 1737-1747

Liu, F. 2012. Plant hormonal and growth response to soil compaction. Paper
presentatation on Plante Kongres. www.plantekongres.dk

Nilsen ET & Orcutt DM. 1996. The physiology of plants under stress: Abiotic
Factors. U.S.: John Wiley and Sons.Inc. 279-357.

Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Perkembangan


Tumbuhan, dan Fisiologi Lingkungan. Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
Taiz, Lincoln and Eduardo Zeiger. 2002. Plant Physiology. Third Edition.
Sunderland: Sinauer
PENGARUH ABA TERHADAP CEKAMAN LINGKUNGAN

PAPER

OLEH :

KELOMPOK VII
NABILA PRATIWI HENDRA 160301188
HIZKIA TARIGAN 160301190
TESALONIKA BR TARIGAN 160301193
UTAMI MIRANDA PUTRI 160301201
MUHAMAD IRFAN HAMID 160301212
AUDRIN KRISTINA BR MUNTHE 160301226
JHON KELVIN SIANTURI 160301228
KRISMON SIMANJUNTAK 160301261

AGROTEKNOLOGI - ILMU TANAH

MATA KULIAH ZAT PENGATUR TUMBUH TANAMAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul paper ini adalah “Pengaruh ABA terhadap Cekaman

Lingkungan” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi di Mata

Kuliah Zat Pengatur Tumbuh Tanaman Program Studi Agroteknologi Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang telah

mendukung dan kepada bapak Ir. Revandy Iskandar Muda Damanik, M.Sc, Ph.D

selaku dosen yang telah membantu dalam penyelesaian paper ini.

Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini bermanfaat

bagi kita semua.

Medan, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................1
Tujuan Praktikum .........................................................................................3
Kegunaan Penulisan .....................................................................................3

TINJAUAN PUSTAKA

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

ii