Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Secara fisiologi tungkai bawah terdiri atas kaki dan pergelangan kaki yang berfungsi
sebagai suatu unit terpadu, dan bersama – sama memberikan dukungan stabil, propriosepsi,
keseimbangan dan mobilitas.
Untuk mempertahankan fungsi tersebut, maka diperlukan kondisi tulang dan jaringan
lunak (otot, lemak, kulit, tendon, jaringan saraf, pembuluh darah) yang optimal.
Tibia atau tulang kering merupakan kerangka utama dari tungkai bawah dan terletak
medial dari fibula atau tulang betis. Pada kondisi klinik, kedua tulang ini dinamakan tulang
cruris karena secara anatomis kedua tulang ini pada beberapa keadaan seperti pada trauma yng
mengenai tungkai bawah kedua tulang ini sering mengalami fraktur. Pada kondisi trauma
anatomis dari tulang tibia memungkinkan lebih sering terjadi fraktur terbuka.
Tendensi untuk terjadinya fraktur tibia terdapat pada pasien-pasien usia lanjut yang
terjatuh, dan pada populasi ini sering ditemukan fraktur tipe III, fraktur terbuka dengan fraktur
kominutif. Pada pasien-pasien usia muda, mekanisme trauma yang paling sering adalah
kecelakaan kendaraan bermotor. Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki daripada
perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga,
pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada Usia lanjut prevalensi cenderung lebih banyak
terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan
hormon. Di Amerika Serikat, insidens tahunan fraktur terbuka tulang panjang diperkirakan 11
per 100.000 orang, dengan 40% terjadi di ekstremitas bawah. Fraktur ekstremitas bawah yang
paling umum terjadi pada diafisis tibia.
BAB II
LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. W
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Pekerjaan : Mahasiswa
Agama : Kristen
Alamat : Makassar
Tanggal Masuk : 11 April 2019
No. RM : 192870

1.2 ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Nyeri pada betis kiri

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Nyeri pada betis kiri yang dialami sejak ± 8 jam yang lalu setelah pasien mengalami
kecelakaan lalu lintas. Pasien mengadarai sepeda motor dan menabrak trotoar jalan
lalu jatuh mengarah sebelah kiri dengan motor menimpa kaki kirinya. Nyeri
dirasakan terus-menerus. Keluhan dirasa tidak membaik dan terasa sangat nyeri
hingga tidak dapat berjalan. Luka terbuka (+), edema (+), kemerahan (+). Pasien
mengaku dalam kondisi tersadar saat terjatuh. Pasien mengaku tidak sempat
pingsan ataupun muntah. Pasien juga tidak merasakan adanya mual, dan tidak
mengeluhkan adanya pusing.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat Jatuh : Disangkal
- Riwayat kepala terbentur : Disangkal
- Riwayat patah tulang : Disangkal
- Riwayat trauma pada kaki : Disangkal
- Riwayat operasi kaki : Disangkal
- Riwayat Hipertensi : Disangkal
- Riwayat Kencing manis : Disangkal
- Riwayat Alergi Obat : Disangkal
- Riwayat Alergi makanan : Disangkal

4. Riwayat Keluarga
- Riwayat Hipertensi : Disangkal
- Riwayat DM : Disangkal
- Riwayat Alergi Obat : Disangkal
- Riwayat Aleergi Makanan : Disangkal

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


A. SECONDARY SURVEY
Status Generalis
 Keadaan umum
o Kesadaran : compos mentis
 Tanda vital
o Tekanan darah : 110/70mmHg
o Nadi : 80x/menit
o Suhu : 36,5oC
o Pernapasan : 20 x/mnt
 Status gizi
o Berat badan : 60 kg
o Tinggi badan : 162 cm
o Kesan gizi : IMT (22,86 ) Normal

 Kepala : Normocephali, deformitas (-), rambut hitam dan putih tersebar


merata
 Mata : CA -/-, SI -/-, oedem palpebra -/-, refleks cahaya langsung +/+,
refleks cahaya tidak langsung +/+
 Telinga : Nyeri tekan tragus (-),
 Hidung : Deformitas (-), deviasi septum (-), secret (-), darah (-), konka
hiperemis dan hipertrofi -/-
 Mulut : Bibir normal, tidak terdapat kelainan, tidak terdapat karies,
trismus (-), lidah kotor (-), sariawan (-), faring hiperemis (-),
tonsil T1-T1 tenang.
 Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar
 Thoraks
Bentuk simetris kanan kiri, tidak ada rongga thoraks yang tertinggal gerak
napasnya, fokal fremitus +/+ sama kuat kanan dan kiri.
o Jantung : S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
o Paru : Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
 Abdomen : Supel, datar, timpani, peristaltic kesan normal, nyeri
tekan (-), nyeri lepas (-), hepar lien tidak teraba
membesar
 Extremitas :
o Atas : hangat +/+ oedem -/-
o Bawah : hangat +/+ oedem -/+

Status Lokalis
 Look : ada deformitas, ada edema, ada hematoma, tidak ada perdarahan
 Feel : ada nyeri tekan, akral hangat (+),
 Move : gerakan aktif dan gerakan pasif sulit dinilai karena nyeri.
 NVD : sensibilitas baik, pulsation arteri dorsalis pedis teraba, pulsation arteri
tibialis posterior teraba, CRT <2 detik

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1) Darah Rutin (11 April 2019)
Parameter Hasil Nilai Normal
WBC 12,7 x 103/µl 4.80 – 10.80
RBC 4,40 x 106/ µl 4.00 – 5.00
HGB 14,4 g/dl 12.0 – 16.0
HCT 40, 00 % 37.0 – 47.0
PLT 175 x 103/µl 150– 450

2) Radiologi X-Ray (11 April 2019)

 Fraktur kominutif pada 1/3 tengah os tibia kiri


 Tidak tampak tanda – tanda osteomyelitis
 Mineralisasi tulang baik
 Celah sendi tampak dalam batas normal
 Soft tissue sekitarnya tampak swelling

 Kesan :
Fraktur Kominutif 1/3 mid Os. Tibia Sinistra

1.5 RESUME
Seorang pasien bernama Tn. W masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri pada betis
kiri yang dialami sejak ± 8 jam yang lalu setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas.
Pasien mengadarai sepeda motor dan menabrak trotoar jalan lalu jatuh mengarah ke
sebelah kiri dengan motor menimpa kaki kirinya. Nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan
dirasa tidak membaik dan terasa sangat nyeri hingga tidak dapat berjalan. Luka terbuka
(+), edema (+), kemerahan (+). Pasien mengaku dalam kondisi tersadar saat terjatuh. Pada
hasil darah rutin ditemuka leukositosis, dan pada pemeriksaan X-Ray ditemukan fraktur
pada 1/3 middle tibia sinistra.

1.6 DIAGNOSA KERJA


Open Fracture 1/3 Middle Left Tibia grade II
1.7 PENATALAKSANAAN
1. Non operatif
- IVFD RL 20 tpm
- Inj. Ezomeb (Esomeprasol) 40 mg/12 jam/ IV
- Inj. Ketorolac 30 gr/8 jam/ IV
- Inj. Anbacim 1 gr/12 jam/IV
2. Operatif
- Debridement + ORIF (Plate and Screw)

1.8 PROGNOSIS
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad Bonam
Ad Vitam : Dubia ad Bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI TIBIA


Metafisis proksimal tibia terdiri dari dua kondilus yaitu medial dan lateral dan
dipisahkan oleh duri tibia. Permukaan artikular dari plateu medial berbentuk cekung,
sedangkan permukaan plateu lateral berbentuk cembung. Permukaan artikular tibia ini tertutup,
dan sampai batas tertentu dilindungi oleh meniscus medial dan lateral.
Batang (shaft) tibia berbentuk segitiga dalam penampang. Permukaan anteromedial
merupakan subkutan dan jaringan lunak yang menutupi di sekitar fraktur tibialis sangat rentan.
Bagian lateral dan posterior tibia ditutupi oleh 4 kompartemen otot pada tungkai bawah
dan biasanya bengkak jika terdapat fraktur. Posterior dari sendi lutut adalah fossa poplitea dan
struktur neurovaskularnya. Struktur ini immobile sehingga sangat rentan setelah fraktur tibialis
proksimal. Ketiga pembuluh darah (arteri tibialis anterior, posterior dan arteri peroneal)
melewati masing-masing kompartemen anterior, posterior, dan lateral, serta tetap rentan
terhadap cedera pada fraktur tibialis. Saraf peroneum yang erat pada leher fibular berpindah
dari fossa poplitea ke kompartemen anterior, dan rentan terhadap cedera langsung dan tidak
langsung.1

2.2 DEFINISI FRAKTUR TIBIA


Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya yang biasanya disebabkan oleh rudapaksa atau
tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang.2
Fraktur shaft tibia didefinisikan sebagai terjdinya 5 cm proksimal ke tibial plafond dan
distal ke tibial plateau. Fraktur di sepertiga proksimal dan distal tibia terkenal karena tingkat
malreduksi dan malunion. Fraktur batang tibia relatif sering terjadi, namun kompleks untuk
dikelola, karena cakupan jaringan lunak yang kurang pada permukaan antero-medial tibia dan
kemungkinan perubahan penyelarasan dan stabilitas tungkai bawah. Hal ini dapat
mengakibatkan cedera tulang dan jaringan lunak, yang menyebabkan fraktur yang terbuka dan
komplikasi yang tidak dapat diabaikan, seperti infeksi dan penyembuhan yang tertunda atau
non-union.
Fraktur jenis ini sering diakibatkan oleh trauma langsung berenergi tinggi, seperti
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, atau cedera olahraga. Fraktur tibia sering terjadi pada
dewasa muda dengan usia rata-rata 37 tahun. Frekuensi fraktur tibialis sekitar 11-26 fraktur per
100.000 per tahun, dengan fraktur terbuka 1,9% dari semua fraktur tibialis. Kasus trauma tidak
langsung, seperti yang disebabkan oleh jatuh dari jarak yang jauh, kurang umum.3,4

2.3 MEKANISME FRAKTUR TIBIA


Kondisi anatomis dari tulang tibia yang terletak di bawah subkutan memerikan
dampak terjadinya resiko fraktur terbuka lebih sering dibandingkan tulang panjang lainnya
apabila mendapat suatu trauma.
Mekanisme cedera dari fraktur cruris dapat terjadi akibat adanya daya putar atau puntir
dapat menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda. Daya
angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik, biasanya pada tingkat yang sama. Pada
cedera tak langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit. Cedera langsung
akan menembus atau merobek kulit menyebabkan fraktur transversal atau kominutif dengan
displacement dan insidensi tinggi cedera jaringan lunak Kecelakaan sepeda motor adalah
penyebabnya yang paling sering.5
2.4 GEJALA KLINIS
Fraktur batang tibia biasanya disertai nyeri, bengkak, dan deformitas. Ketidakmampuan
untuk berjalan atau menanggung berat pada kaki, dan sesekali kehilangan perasaan di kaki.
Meskipun kerusakan neurovaskular jarang ditemukan pada cedera ini, pemeriksaan denyut
nadi serta fungsi saraf peroneum (dorsofleksi dan plantarfleksi) sangat penting. Arteri Dorsalis
pedis harus dipalpasi dan dibandingkan dengan ekstremitas yang tidak terluka. Temuan lain
yang konsisten dengan sindrom kompartemen harus dicari.6,7

2.5 KLASIFIKASI FRAKTUR


Secara umum, klasifikasi fraktur dibagi menjadi:8,9
1) Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar.
a) Fraktur tertutup
Fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. atau terjadi
perlukaan kulit. Pasien dengan fraktur tertutup (sederhana) harus diusahakan
untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan
pengembalian kekuatan penuh dan mobilitas mungkin memerlukan waktu
sampai berbulan-bulan.
Pada fraktur tertutup, ada klasifikasi tersendiri yang didasarkan pada keadaan
jaringan lunak sekitarnya yaitu :
1) Tingkat 0 : fraktur yang biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan
lunak sekitarnya
2) Tingkat 1 : fraktur yang dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan
jaringan subkutan.
3) Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3 : cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
resiko terjadinya sindroma kompartemen.
b) Fraktur terbuka8,9
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit
dan jaringan lunak Menurut Gustilo, derajat fraktur terbuka adalah sebagai
berikut:

Derajat Luka Kerusakan Jaringan Fraktur


I Luka akibat tusukan Sedikit kerusakan jaringan, Fraktur simpel,
fragmen tulang, tidak terdapat tanda trauma transversal, oblik
bersih, ukuran < 1 cm yang hebat pendek atau sedikit
kominutif
II Luka > 1 cm, sedikit Kerusakan jaringan sedang, Dislokasi fragmen
terkontaminasi tidak ada avulsi kulit tulang jelas
III Luka lebar, rusak Kerusakan jaringan hebat Kominutif, segmental,
hebat, kontaminasi termasuk otot, kulit, dan fragmen tulang ada
hebat struktur neurovaskuler yang hilang
IIIa Jaringan lunak cukup menutup Kominutif atau
tulang yang patah segmental yang hebat
IIIb Kerusakan hebat dan Kominutif yang hebat
kehilangan jaringan, terdapat
pendorongan periosteum,
tulang terbuka
IIIc Kerusakan arteri yang Kominutif yang hebat
memerlukan perbaikan tanpa
memperhatikan tingkat
kerusakan jaringan lunak

Fraktur Diafisis Tibia


Fraktur diafisis tibia terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi akan
menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara 1/3
bagian tengah dan 1/3 bagian distal. Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit
ditutupi otot sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat terbuka. Penyebab utama
terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalu lintas.
Klasifikasi fraktur
Klasifikasi dari fraktur diafisis tibia bermanfaat untuk kepentingan para dokter
yang menggunakannya untuk memperkirakan kemungkinan penyembuhan dari fraktur
dalam menjalankan penatalaksanaannya. Orthopaedic Trauma Association (OTA)
membagi fraktur diafisis tibia berdasarkan pemeriksaan radiografi, terbagi 3 grup,
yaitu: simple, wedge dan kompleks. Masing–masing grup terbagi lagi menjadi 3 yaitu:
A. Tipe simple, terbagi 3: spiral, oblik, tranversal.
B. Tipe wedge, terbagi 3: spiral, bending, dan fragmen.
C. Tipe kompleks, terbagi 3: spiral, segmen, dan iregular.

Gambaran klinis
Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan
deformitas misalnya penonjolan tulang keluar kulit. Sindroma kompartemen bisa
muncul di awal cedera maupun kemudian. Sehingga perlu pemeriksaan serial dan
perhatian pada ekstremitas yang mengalami cidera. Sindroma kompartemen terdiri
dari: pain, pallor, paralysis, paresthesia, pulselessness.

Pemeriksaan radiologis
Foto rontgen harus mencakup bagian distal dari femur dan ankle. Dengan
pemeriksaan radiologis, dapat ditentukan lokalisasi fraktur, jenis fraktur, sama ada
transversal, spiral oblik atau rotasi/angulasi. Dapat ditentukan apakah fraktur pada tibia
dan fibula atau tibia saja atau fibula saja. Juga dapat ditentukan apakah fraktur bersifat
segmental. Foto yang digunakan adalah foto polos AP dan lateral. CT tidak diperlukan.

Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan
manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
immobilisasi, dipasang sampai diatas lutut. Prinsip reposisi adalah fraktur tertutup,
ada kontak 70% atau lebih, tidak ada angulasi dan tidak ada rotasi. Apabila ada
angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara fibrosa). Pada
fraktur oblik atau spiral, imobilisasi dengan gips biasanya sulit dipertahankan,
sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi. Cast bracing adalah teknik
pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo patella (gips Sarmiento)
yang biasanya dipergunakan setelah pembengkakan mereda atau terjadi union
secara fibrosa.
2. Operatif
Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan dalam terapi
konservatif, fraktur tidak stabil dan adanya nonunion.Metode pengobatan operatif
adalah sama ada pemasangan plate dan screw, atau nail intrameduler, atau
pemasangan screw semata-mata atau pemasangan fiksasi eksterna. Indikasi
pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
 Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terdapat kerusakan
jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang
 Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)

Komplikasi
Di antara komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur diafisis tibia adalah infeksi,
delayed union atau nonunion, malunion, kerusakan pembuluh darah (sindroma
kompartmen anterior), trauma saraf terutama pada vervus peroneal komunis dan
gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan pergerakan sendi ini biasanya
disebabkan adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.10