Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM BAHAN ALAM

PEMBUATAN SERBUK EFFERVESCENT

NAMA KELOMPOK 1:

AKIFAH ADDAWIYAH

ALFIKA DAHLIYAH

ANNUAR

ARIANTI SAFITRI

ARRUM SETIA NINGRUM

KELAS : 2A

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK

TAHUN 2019
PEMBUATAN SERBUK EFFERVESCENT SIRSAK

A. TUJUAN
Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menentukan formula sediaan serbuk effervescent dari bahan herbal
2. Membuat sediaan serbuk effervescent dari bahan herbal
3. Membuat kemasan sediaan effervescent herbal yang baik dan menarik
4. Melakukan evaluasi sediaan serbuk effervescent herbal

B. DASAR TEORI
Kandungan gizi dari buah sirsak antara lain ialah vitamin C dan vitamin B1.
Vitamin yang paling dominan pada buah Sirsak ialah vitamin C, dimana senyawa
tersebut berguna sebagai antioksidan alami di dalam tubuh untuk membantu melawan
berbagai macam radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh dan sangat baik untuk
meningkatkan daya tahan tubuh serta memperlambat proses penuaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan formulasi granul effervescent sari
buah Sirsak terhadap sifat fisik granul yang dibuat dengan metode granulasi basah.
Dari ketiga formulasi variasi jumlah asam sitrat dan asam tartrat dan natrium
bikarbonat berpengaruh terhadap kadar air, kecepatan alir, sudut diam dan waktu
dispersi granul effervescent sari buah Sirsak
Sirsak (Annona muricata Linn) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari
Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia dikenal
sebagai nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda),
nangka buris, nangkelan (Madura), srikaya jawa (Bali), boh lona (Aceh), durio
ulondro (Nias), durio betawi (Minangkabau), jambu landa (Lampung), nangko
belando (Palembang). Penyebutan “Belanda” dan variasinya menunjukkan bahwa
sirsak dari bahasa Belanda : Zuurzak yang berarti kantung asam, didatangkan oleh
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda ke Nusantara yaitu pada abad ke- 19 meskipun
bukan berasal dari Eropa. Tanaman ini ditanam secara komersial atau sambilan untuk
diambil daging buahnya, tumbuhan ini dapat tumbuh disembarang tempat paling baik
ditanam didaerah yang cukup berair dan pada semua jenis tanah dengan derajat
keasaman (pH) antara 5-7 jadi tanah yang sesuai adalah tanah yang agak asam sampai
alkalis. Pohon sirsak bisa mencapai tinggi 9 meter di Indonesia sirsak dapat tumbuh
dengan baik pada ketinggian 100-1000 m dari permukaan laut. Suhu udara yang
sesuai untuk tanaman ini antara 22-32◦C dan curah hujan yang dibutuhkan untuk
tanaman sirsak ini adalah 1500-3000 mm/pertahun.
Tanaman sirsak termasuk dalam tumbuhan menahun (perennial) berakar
tunggang, berkayu keras, dengan pertumbuhan tegak lurus ke atas (erectus) hingga
mencapai ketinggian lebih kurang 15 m,Sirsak berbentuk perdu atau pohon kecil,
tingginya 3-10 meter, bercabang hampir mulai dari pangkalnya. Daun sirsak
berbentuk bulat seperti telur terbalik berukuran (8-16) cm x (3-7) cm, berwarna hijau
muda hingga hijau tua, ujung daunnya meruncing pendek,panjang tangkai daunnya 3-
7 mm, pinggiran rata dan permukaan daun mengkilap.
Daun sirsak merupakan bagian dari tanaman sirsak yang memiliki manfaat
lebih yaitu daun sirsak mengandung acetogenin yang biasa digunakan sebagai
senyawa toksik atau racun. Daun sirsak merupakan daun yang kaya minyak dan
protein serta toksisitas (tanin, fitat, dan sianida) dan oleh karena itu dapat
dimanfaatkan pada manusia dan hewan. Daun sirsak (Annona muricata L) adalah
tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin, fitosterol, kalsium oksalat, dan
alkaloid\
Tanaman sirsak dapat digunakan sebagai biopestisida nabati, karena pada daun
sirsak mengandung senyawa acetogenin antara lain : asimisin, bulatacin, dan
squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewaan
sebagai anti feedent. Dalam hal ini serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap
bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan, pada konsentrasi rendah, bersifat racun
perut yang bisamengakibatkan serangga hama menemui ajalnya. (Kumiadhi, 2001:21)
Daun sirsak memiliki kandungan kimia seperti: minyak atsiri, Alkaloida,
Flavonida, Saponin, Tanin dan Glikosida. Kandungan Flavonida inilah yang
mempunyai sifat insektisida dan dapat dijadikan sebagai bahan biopestisida.
Flavonida mempunyai sejumlah kegunaan, pertama terhadap tumbuhan, yaitu sebagai
pengatur tumbuhan, pengatur fotosintesis, kerja anti mikroba, dan aktifitas. Kedua
terhadap manusia, yaitu sebagai
Melihat dari khasiat kedua ekstrak sebagai antioksidan, maka dalam penelitian
ini ingin menginovasi sediaan dari ekstrak kulit manggis dalam bentuk sediaan granul
effervescent. Bentuk sediaan granul effervescent lebih disukai masyarakat karena
selain penyiapannya yang mudah juga mempunyai warna, bau, dan rasa yang
menarik. Granul effervescent memiliki keunggulan lebih stabil secara fisik dan kimia
serta tidak segera menggumpal atau mengeras bila dibanding dengan sediaan serbuk.
Granul effervescent mengandung campuran asam sitrat, asam tartrat, natrium
bikarbonat dan zat aktif. Bila ditambah dengan air maka bagian asam dan bagian
basanya akan menghasilkan karbonasi. Kecepatan reaksinya juga bergantung pada
temperatur air, reaksi yang lambat pada air dingin menghasilkan karbonasi yang lebih
baik (Faradiba & Nursiah, 2013)
Dalam pembuatan granul effervescent perlu sumber asam dan basa serta bahan
pembantu. Sumber asam dalam effervescent biasanya menggunakan suatu kombinasi
untuk mempermudah dalam pembuatan. Penggunaan asam sitrat sebagai asam tunggal
membuat campuran lengket dan sulit menjadi granul, sedang penggunaan asam tartrat
tunggal membuat granul mudah menggumpal (Anam et al., 2013). Natrium
bikarbonat merupakan garam yang berwujud kristal dan larut air yang bila bereaksi
dengan sumber asam akan menghasilkan buih pada sediaan effervescent, penambahan
natrium bikarbonat dalam sediaan effervescent dapat meningkatkan kadar total
padatan terlarut dan dapat memperbaiki rasa (Murdianto & Syahrumsyah, 2012).
Natrium bikarbonat memiliki fluiditas yang buruk dan kompresibilitas yang rendah
sehingga perlu bahan tambahan seperti PVP untuk memperbaiki kompresibilitas tanpa
diubah menjadi natrium karbonat (Siregar, 2010). Penambahan PVP juga dapat
memperbaiki sifat alir granul karena PVP dapat memperbaiki ikatan antar partikel
sehingga dapat mencegah timbulnya fines yang dapat menyebabkan sifat alir yang
buruk (Rendy & Hadisoewignyo, 1999).
C. ALAT DAN BAHAN

Alat :
Timbangan analitik
Wadah
Alat alat gelas
Kertas saring
pH meter

Bahan :
Sari buah sirsak
Asam sitrat
Na. Bikarbonat
Sukrosa
Aquadest

D. CARA KERJA

Buah Sirsak

 Dibersinkan buah, dikupas dan di blender, di sarin dan dipisahkan dari


ampasnya
 Dipanaskan sari buah hingga mengental
 Ditmbahkan sukrosa hingga kering

Sari Buah Sirsak

Sari Buah Sirsak

 Ditimbang semua bahan dan di ayak


 Dicampur sari buah, asam sitrat sebagai pemanis menjadi satu
 Diayak dengan mesh 20
 Diwadah lain dicampurkan na. Bikabonat dan sisa pemanis

Serbuk effervescent
E. HASIL DAN PEMBAHASAN
 Kajian Karakteristik Fisik dan Sensori Serta Aktivitas Antioksidan dari
GranulEffervescent Buah Beet (Beta vulgaris) Dengan Perbedaan Metode
Granulasi Dan Kominasi Sumber Asam
Hasil Analisis Kandungan Lembab Pada Granul Effervescent Beet
Metode Kombinasi Asam
Kandungan Lembab (%)
Sitrat-Tartrat Sitrat-Malat Tartrat-Malat
Granulasi Basah 3% 2,5% 2,5%
Granulasi kering 2% 1,5% 2%
Berdasarkan Tabel diketahui kandungan lembab pada granul efferevescent dari
berbagai metode pembuatan dan kombinasi sumber asam tidak termasuk dalam
kategori granul effervescent yang baik karena semua kandungan lembab perlakuan
berada diatas 0,7%(Fausett et al, 2000 dalam Budi dan yuli, 2010).Hal ini diduga
karena kelembaban ruangan yang tinggi menyebabkan granul menyerap lembab
dari lingkungan sehingga kandungan lembab dalam granul effervescent yang
dihasilkan menjadi sangat tinggi Sebaiknya efervescent dibuat pada kelembaban
relatif maksimun 25% pada suhu 25oC (Mohrle, 1989). Selain itu tingginya
kandungan lembab granul diduga disebabkan oleh adanya asam sitrat yang
merupakan salah satu komponen dari granul effervescent masih berbentuk senyawa
hidrat (memiliki air kristal). Asam sitrat monohidrat dapat berubah menjadi
anhidrat dengan pemanasan 74oC. Pengujian kandungan lembab dilakukan pada
suhu 105oC, oleh karena itu air kristal dari asam sitrat ikut menguap sehingga ikut
tercatat dan menyebabkan kandungan lembab dari granul effercvescent beet.
Pengaruh Metode Granulasi Terhadap Karakteristik Fisik Granul
Effervescent Beet
Karakteristik Fisik Granul Metode Granulasi
Granulasi Basah Granulasi Kering
Sudut Istirahat (°) 27,024a 26,164b
Kecepatan Alir (g/s) 10,144a 11,297b
Kompresibilitas (%) 15,415a 15,430a
Porositas (%) 70,058a 62,516b
Larut(Detik) 55,025a 59,961b
Waktu Keterangan :*notasi huruf yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata
antar baris pada taraf signifikasi (α) 5%
Sudut Istirahat
Sudut istirahat granul effervescent beet didapatkan berbeda nyata pada masing–
masing metode pembuatan yang ditunjukkan dengan huruf yang berbeda. Pada
metode granulasi basah menghasilkan sudut istirahat yang lebih tinggi dibanding
dengan granulasi kering dengan nilai yang rendah menunjukkan karakteristik yang
lebih baik. Hal ini disebabkan karena pada granul yang dihasilkan dengan metode
granulasi basah memiliki kandungan lembab yang lebih tinggi dibanding granul
yang dihasilkan dengan granulasi kering sehingga memiliki gaya kohesi yang lebih
besar.
Kecepatan Alir
Uji kecepatan alir granul effervescent beet didapatkan berbeda nyata pada masing–
masing metode pembuatan yang ditunjukkan dengan huruf yang berbeda. Pada
metode granulasi basah menghasilkan waktu alir yang lebih rendah dibanding
dengan granulasi kering dengan nilai yang lebih besar menunjukkan karakteristik
yang lebih baik.Waktu alir dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, porositas, densitas dan
gaya gesek antar partikel granul. Granul effervescent yang dihasilkan pada
granulasi basah memiliki kandungan lembab yang lebih besar dibanding granul
yang dihasilkan pada granulasi kering. Gaya gesek antar partikel akan meningkat
seiring besarnya kandungan lembab. Gaya gesek antar partikel yang lebih kuat
yang menyebabkan turunnya mobilitas granul untuk mengalir, dengan demikian
waktu alir akan semakin rendah.
Kompresibilitas
Kompresibilitas granul effervescent beet didapatkan tidak berbeda nyata pada
masing masing metode pembuatan yang ditunjukkan dengan huruf yang sama.
Dalam hal ini granul effervescent pada granulasi basah memiliki kompresibilitas
yang lebih kecil dibanding granul effervescent pada granulasi kering. Semakin
kecil persen kompresibilitas maka semakin baik kecepatan alirnya.
Porositas
Nilai porositas granul effervescent beet yang dihasilkan memberikan pengaruh
berbeda nyata pada masing–masing metode pembuatan yang ditunjukkan dengan
huruf yang berbeda. Dalam hal ini granul effervescent pada granulasi basah
memiliki nilai porositas yang lebih besar dibanding granul effervescent pada
granulasi kering.
Waktu Larut
Waktu larut granul effervescent beet yang dihasilkan memberikan pengaruh
berbeda nyata pada masing–masing metode pembuatan. Metode granulasi basah
memberikan waktu larut yang lebih tinggi dibanding granul effervescent pada
granulasi kering. Waktu larut berkaitan dengan nilai porositas suatu granul.
Warnida dkk (2010), menyatakan semakin besar porositas granul maka semakin
cepat waktu pelepasan CO2. Pada penelitian ini, didapatkan porositas pada
granulasi basah memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan nilai porositas yang
dihasilkan granulasi kering, sehingga didapatkan hubungan yang berbanding lurus
dimana semakin besar porositas maka waktu larut semakin cepat. Menurut Hasyim
dkk (2008), semakin tinggi porositas berarti semakin besar rongga antar partikel,
rongga-rongga partikel dapat membantu proses disintegrasi dari granul dimana
cairan dapat masuk sehingga dapat mempercepat proses hancurnya granul.

 KONSENTRASI EFFERVESCENT MIX DALAM PEMBUATAN SERBUK


EFFERVESCENT EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana
L.)
Rekapitulasi data pemilihan effervescent ekstrak kulit manggis terpilih
Parameter uji SNI Perlakuan
EM1 EM2(25% EM3 EM4 EM5
(20%) ) (30%) (35%) (40%)
1. Analisis kimia
- Waktu - 2,37e 2,28d 2,18c 2,06b 1,57a
Larut (menit)
- Kadar Air Maks. 3 1,86a 2,01b 2,22c 2,45d 2,71e
(%)
- Kadar Abu Maks. 1,5 16,22a 18,22ab 20,59b 22,29c 24,35
(%) c d d
- Gula - 6,17a 6,28b 6,38c 6,59d 6,67e
Reduksi (%)
2. Penilaian sensori Deskriptif :
- Warna Normal 3,57d 3,30cd 3,17bc 2,93ab 2,60a
- Aroma Normal 3,70c 3,43c 3,13b 2,90ab 2,73a

- Rasa manis Normal 3,60c 3,46bc 3,26b 3,18ab 2,92a


- Rasa asam Normal 2,33a 2,63a 2,97b 3,20bc 3,40c
- Rasa sepat Normal 3,10c 2,80bc 2,60ab 2,36a 2,23a
Hedonik - 3,67a 3,87a 4,27b 4,46b 4,70
keseluruhan

Waktu Larut

Waktu larut menunjukkan banyaknya waktu yang dibutuhkan oleh serbuk dalam
ukuran saji untuk dapat larut dengan sempurna dalam volume air tertentu. Menurut
Siregar (2007) syarat waktu yang diperlukan granul untuk melarut kurang dari 5
menit. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi effervescent mix
memberikan pengaruh nyata terhadap waktu larut serbuk effervescent ekstrak kulit
buah manggis. Rata-rata waktu larut effervescent setelah diuji lanjut dengan
DNMRT taraf 5% disajikan pada Tabel . Data pada Tabel menunjukkan bahwa
semakin tinggi tingkat konsentrasi effervescent mix yang diberikan pada setiap
perlakuan berbeda nyata terhadap waktu larut serbuk effervescent kulit buah
manggis. Hal ini di sebabkan karena senyawa karbondioksida pada konsentrasi
effervescent mix yang berasal dari natrium bikarbonat mempercepat waktu larut
effervescent kulit buah manggis pada saat direaksikan dengan air.

Kadar Air

Data pada Tabel menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi effervescent mix pada
setiap perlakuan berbeda nyata terhadap kadar air serbuk effervescent kulit buah
manggis. Kadar air tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix 40%
dengan kadar air 2,71% dan kadar air terendah terdapat pada konsentrasi
effervescent mix 20% dengan kadar air 1,86%. Semakin tinggi konsentrasi
effervescent mix yang ditambahkan maka kadar air effervescent yang dihasilkan
semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena serbuk effervescent terdiri dari
senyawa asam sitrat, asam tartrat, dan natrium bikarbonat yang mengandung
molekul air sehingga semakin tinggi bereaksi dengan natrium bikarbonat, sehingga
akan terbentuk garam natrium dan akan menarik molekul air sehingga air akan
mudah masuk ke dalam tablet dan serbuk terbasahi yang akan meningkatkan waktu
melarut.

Kadar Abu

Semakin tinggi konsentrasi effervescent mix yang ditambahkan maka kadar abu
serbuk effervescent yang dihasilkan semakin meningkat. menunjukkan bahwa
kadar abu serbuk effervescent berkisar antara 16,22-24,35%. Kadar abu terendah
terdapat pada konsentrasi effervescent mix 20 dan 25% dengan kadar abu sebesar
16,22- 18,22% dan kadar abu tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix
35 dan 40% dengan kadar abu sebesar 22,29-24,35%. Hasil sidik ragam diketahui
bahwa pada perlakuan konsentrasi EM1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan
EM2 namun berbeda nyata terhadap perlakuan konsentrasi EM4, dan EM5.
Perlakuan konsentrasi EM5 berbeda tidak nyata dengan perlakuan EM4 namun
berbeda nyata terhadap perlakuan konsentrasi EM3, EM2, dan EM1. Semakin
tinggi konsentrasi effervescent mix yang ditambahkan maka kadar abu serbuk
effervescent yang dihasilkan semakin meningkat.

Kadar Gula Reduksi

kadar gula reduksi effervescent berkisar antara 6,17-6,67%. Kadar gula reduksi
terendah terdapat pada konsentrasi effervescent mix 20% yaitu sebesar 6,17%,
sedangkan kadar gula reduksi tertinggi terdapat pada konsentrasi effervescent mix
35 dan 40% yaitu sebesar 6,59-6,67%. Penambahan effervescent mix yang berbeda
pada setiap perlakuan menunjukkan berbeda nyata terhadap kadar gula reduksi
effervescent ekstrak kulit buah manggis. Hal ini dikarenakan asam sitrat pada
effervescent mix akan menginversi gula menjadi gula reduksi pada effervescent,
sehingga semakin banyak asam sitrat yang diberikan akan meningkatkan kadar
gula reduksi pada effervescent. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Trissanthi
dan Susanto (2016) yang menyatakan bahwa kadar gula reduksi sirup alang-alang
yang dihasilkan cenderung meningkat dengan semakin banyaknya konsentrasi
asam sitrat yang ditambahkan dikarenakan banyak sukrosa yang terhidrolisis
menjadi gula reduksi dan mempercepat inversi (perubahan) gula dalam minuman.

Analisis Sensori

Warna

Warna larutan effervescent kulit buah manggis dipengaruhi oleh effervescent mix
yang ditambahkan. Kulit buah manggis mengandung pigmen berwarna cokelat-
ungu dan bersifat larut dalam air (Mardawati dkk., 2008). Warna yang dihasilkan
adalah cokelat kekuningan (konsentrasi effervescent mix 30- 40%). Hal ini
dikarenakan pada konsentrasi effervescent mix 20-25%, serbuk ekstrak kulit buah
manggis lebih dominan daripada serbuk effervescent mix sedangkan warna lebih
cerah pada konsentrasi effervescent mix 30-40% dikarenakan pemberian serbuk
effervescent mix lebih banyak daripada perlakuan konsentrasi effervescent mix 20-
25%.

Aroma

Aroma yang terdapat pada larutan effervescent ekstrak kulit buah manggis
disebabkan karena serbuk ekstrak kulit buah manggis pada setiap perlakuan lebih
dominan daripada konsentrasi effervescent mix yang diberikan, sehingga aroma
yang terhirup oleh panelis saat penilaian adalah aroma kulit manggis yang khas.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Elfiyani, dkk. (2014) bahwa secara umum
aroma dari pemeriksaan organoleptis pada granul effervescent ekstrak kering kulit
buah manggis adalah beraroma khas kulit buah manggis. Semakin tinggi perlakuan
konsentrasi effervescent mix akan menutupi aroma khas dari kulit mangis. Hal ini
disebabkan pada saat reaksi larutnya serbuk sediaan effervescent dengan air maka
sejumlah asam yang terdapat pada effervescent mix akan menghasilkan efek
berbuih seperti minuman karbonasi yang akan mengurangi aroma khas kulit
manggis pada saat aromanya dihirup.

Rasa Manis

Konsentrasi effervescent mix yang berbeda mempengaruhi rasa manis larutan


effervescent ekstrak kulit buah manggis, karena pada formulasi effervescent mix
pembuatan effervescent ekstrak kulit buah manggis ini terdapat berbagai macam
variasi senyawa asam yaitu asam tartrat dan asam sitrat, sehingga semakin banyak
penambahan konsentrasi effervescent mix maka rasa asam akan lebih dominan dan
akan menutupi rasa manis pada larutan effervescent. Hal ini sejalan dengan
pernyataan Kristiani (2013) bahwa hasil uji organoleptik terhadap rasa minuman
serbuk effervescent serai terbaik pada formula I yaitu perbandingan 2,5:1:1
(natrium bikarbonat, asam tartrat, dan asam sitrat) dengan penilaian panelis dan
mendapat skor 2,53 (rasa manisasam), semakin banyak effervescent mix yang
ditambahkan maka semakin hilang rasa manis dari serbuk effervescent serai.

Rasa Asam

Rasa asam berasal dari asam tartrat dan asam sitrat pada formula effervescent mix
yang ditambahkan pada sediaan effervescent ekstrak kulit buah manggis dengan
jumlah yang berbeda pada setiap perlakuan. Konsentrasi effervescent mix yang
berbeda mempengaruhi rasa asam pada larutan effervescent ekstrak kulit buah
manggis karena semakin banyak pemberian effervescent mix maka rasa asam akan
lebih dominan dan akan menutupi rasa lain pada larutan effervescent. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Ismanto, dkk. (2015) bahwa hasil uji organoleptik terhadap rasa
dari minuman serbuk effervescent daun pegagan dengan konsentrasi effervescent
mix 400% menghasilkan rasa minuman effervescent daun pegagan yang terlalu
pahit, sedangkan konsentrasi effervescent mix 600% menghasilkan rasa minuman
effervescent daun pegagan yang terlalu asam.
Rasa Sepat

penilaian terhadap rasa sepat effervescent ekstrak kulit manggis yang dilakukan
oleh panelis yaitu tidak sepat sampai berasa agak sepat dengan rata-rata penilaian
panelis secara deskriptif 2,23-3,10. Rasa sepat tertinggi yaitu pada perlakuan
effervescent mix 25 dan 20% dengan skor 2,80-3,10 sedangkan rasa sepat terendah
pada perlakuan effervescent mix 35 dan 40% dengan skor 2,36- 2,23. Rasa sepat
berasal dari bahan baku utama yaitu ekstrak kulit manggis kering yang
ditambahkan pada sediaan effervescent. Rasa sepat tersebut diduga berasal dari
senyawa tanin yang terkandung dalam kulit buah manggis.

 d
 s

F. KESIMPULAN
Kajian Karakteristik Fisik dan Sensori Serta Aktivitas Antioksidan dari
GranulEffervescent Buah Beet (Beta vulgaris) Dengan Perbedaan Metode
Granulasi Dan Kominasi Sumber Asam
 Penggunaan metode granulasi yang berbeda berpengaruh terhadap sifat fisik
dari granul effervescent beet, diantaranya adalah sudut istirahat, kecepatan
alir, porositas, dan waktu larut, tetapi tidak berpengaruh terhadap
kompresibilitas granul effervescent beet.
 Granul effervescent beet memiliki besar sudut istirahat, kecepatan alir dan
persen kompresibilitas yang termasuk dalam granul yang mempunyai sifat
aliran yang baik.

KONSENTRASI EFFERVESCENT MIX DALAM PEMBUATAN SERBUK


EFFERVESCENT EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia
mangostana L.)

 Perlakuan effervescent mix yang berbeda pada pembuatan effervescent ekstrak


kulit buah manggis berpengaruh terhadap lama waktu larut, kadar air, kadar
abu, kadar gula reduksi, warna, aroma, rasa manis, rasa asam, rasa sepat secara
uji deskriptif dan penilaian keseluruhan secara uji hedonik dari panelis.
Perlakuan terpilih adalah perlakuan dengan konsentrasi effervescent mix 40 %
yang mempunyai waktu larut 1,57 menit, kadar air 2,71%, kadar abu 24,35%,
dan kadar gula reduksi 6,67%. Penilaian sensori secara hedonik pada
perlakuan terpilih memberikan penilaian agak suka dengan deskripsi warna
cokelat kekuningan, sedikit beroma kulit manggis, rasa agak manis, agak
asam, dan agak sepat.

G. DAFTAR PUSTAKA
 Faradiba, H & Nursiah, Z., 2013, Formulasi Granul Effervescent Ekstrak
Etanol Daun Jambu Biji(Psidium Guajava LIIN),Majalah Farmasi dan
Farmakologi,17(2),47-50.
 Rendy, Y. & Hadisoewignyo, L., 1999, Formulasi Kapsul Ekstrak Lubrecus
Rubellus Dengan Laktosa Sebagai Bahan Pengisi Dan PVP K-30 Sebagai
Bahan Pengikat, Jurnal Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala,
1(1), 1-7.
 Anam, C., Kawiji., & Setiawan, R., 2013, Kajian Karakteristik Fisik dan
Sensori Serta Aktivitas Antioksidan dari GranulEffervescent Buah Beet (Beta
vulgaris) Dengan Perbedaan Metode Granulasi Dan Kominasi Sumber Asam,
Jurnal Teknosains Pangan, 2(2), 2302-0733.
 Burhan,Lisma, Paulina V.Y. Yamlean, Hamidah Sri Supriati. 2012. Formulasi
Sediaan Granul Effervescent Sari Buah Sirsak (Annona muricata L). Jurnal
Farmasi FMIPA UNSRAT, 4(2).
 Harahap,Rico Andyka , Raswen Efendi , dan Dewi Fortuna Ayu. 2017.
Konsentrasi Effervescent Mix Dalam Pembuatan Serbuk Effervescent Ekstrak
Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). Jom FAPERTA UR Vol. 4
No. 1.