Anda di halaman 1dari 30

PANDUAN PENYUSUNAN LAPORAN

KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN

Disusun Oleh :
1. Risha Fillah Fithria, M.Sc., Apt
2. Yance Anas, M.Sc., Apt

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
2017

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan i


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
KATA PENGANTAR

Berdasarkan SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA


Nomor : 058/SK/PP.IAI/IV/2011 Tentang STANDAR KOMPETENSI APOTEKER INDONESIA.
Salah satu standar kompetensi tersebut yaitu “Mampu Berkontribusi Dalam Upaya Preventif
dan Promotif Kesehatan Masyarakat”, maka Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Fakultas
Farmasi Universitas Wahid Hasyim mewajibkan mahasiswa PSPA untuk melaksanankan
kegiatan promosi kesehatan (promkes) pada semester kedua dari proses perkuliahan yang
ditempuh selama 2 semester. Kegiatan tersebut berpedoman pada Panduan Promosi
Kesehatan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2011. Panduan ini bertujuan agar
proses pelaksanaan kegiatan promkes dapat dilakukan dengan tepat. Penulisan laporan
kegiatan promkes mengikuti petunjuk yang telah ditetapkan dan memudahkan para
pembimbing serta mahasiswa dalam menyusun laporan kegiatan promkes di Fakultas Farmasi
UWH Semarang.
Panduan ini menerangkan mengenai Panduan Kegiatan Promkes Oleh Kementerian
Kesehatan Indonesia yang meliputi pengertian promkes, sasaran kegiatan promkes, strategi
kegiatan promkes, pelaksana kegiatan promkes; Petunjuk umum yang meliputi teknik
pelaksanaan kegiatan promkes oleh mahasiswa PSPA, dan contoh beberapa kegiatan
promkes yang dapat dilakukan; serta teknik penulisan laporan meliputi aturan umum, aturan
khusus, serta format dan penjelasannya. Tentunya panduan yang kami susun ini belum
sempurna, oleh karena itu saran maupun masukan demi kesempurnaan panduan ini sangat
kami harapkan dari semua pihak.

Semoga panduan ini bermanfaat.

Semarang, Januari 2017

Pengelola PSPA

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan ii


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................. i


KATA PENGANTAR................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ iii
I. PANDUAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN OLEH KEMENTERIAN KESEHATAN
INDONESI......................................................................................................................... 1
A. Pengertian Promosi Kesehatan ................................................................................... 1
B. Sasaran Kegiatan Promosi Kesehatan ......................................................................... 2
C. Strategi Kegiatan Promosi Kesehatan ......................................................................... 3
D. Pelaksana Kegiatan Promosi Kesehatan ..................................................................... 5
II. PETUNJUK UMUM ........................................................................................................... 8
A. Teknik Pelaksanaan Kegiatan Promosi Kesehatan Oleh Mahasiswa PSPA ................. 8
B. Contoh Beberapa Kegiatan Promosi Kesehatan yang Dapat Dilakukan ..................... 8
III. TEKNIS PENULISAN LAPORAN........................................................................................ 10
A. Aturan Umum ............................................................................................................. 10
B. Aturan Khusus ............................................................................................................. 13
IV. FORMAT PENULISAN LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN ............................ 20
A. Bagian Pendahuluan ................................................................................................... 20
B. Bagian Batang Tubuh .................................................................................................. 21
C. Bagian Akhir ................................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 24
LAMPIRAN ............................................................................................................................ 25

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan iii


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
I. PANDUAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN OLEH KEMENTERIAN KESEHATAN
INDONESIA

A. Pengertian Promosi Kesehatan


Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui
pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri
sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial
budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menolong diri
sendiri artinya masyarakat mampu menghadapi masalah-masalah kesehatan potensial (yang
mengancam) dengan cara mencegahnya dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang
sudah terjadi dengan cara menanganinya secara efektif serta efisien. Dengan kata lain,
masyarakat mampu berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam rangka memecahkan
masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya (problem solving), baik masalah-masalah
kesehatan yang sudah diderita maupun yang potensial (mengancam), secara mandiri (dalam
batas-batas tertentu).
Promkes dapat diterapkan di mana saja dengan salah satu contoh rumusan sebagai
berikut :
Apabila dilakukan di Puskesmas, maka Promosi Kesehatan oleh Puskesmas adalah upaya
Puskesmas untuk meningkatkan kemampuan pasien, individu sehat, keluarga (rumah tangga)
dan masyarakat, agar (1) pasien dapat mandiri dalam mempercepat kesembuhan dan
rehabilitasinya, (2) individu sehat, keluarga dan masyarakat dapat mandiri dalam
meningkatkan kesehatan, mencegah masalah-masalah kesehatan dan mengembangkan
upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, melalui (3) pembelajaran dari, oleh, untuk dan
bersama mereka, sesuai sosial budaya mereka, serta didukung kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 1


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
B. Sasaran Kegiatan Promosi Kesehatan
Terdapat adanya 3 (tiga) jenis sasaran dalam pelaksanaan promosi kesehatan, yaitu (1)
sasaran primer, (2) sasaran sekunder dan (3) sasaran tersier.
1. Sasaran Primer
Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya adalah pasien, individu
sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat. Mereka ini
diharapkan mengubah perilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Akan tetapi disadari bahwa mengubah perilaku
bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahan perilaku pasien, individu sehat dan keluarga
(rumah tangga) akan sulit dicapai jika tidak didukung oleh:
a. Sistem nilai dan norma-norma sosial serta norma-norma hukum yang dapat
diciptakan/dikembangkan oleh para pemuka masyarakat, baik pemuka informal maupun
pemuka formal.
b. Keteladanan dari para pemuka masyarakat, baik pemuka informal maupun pemuka formal,
dalam mempraktikkan PHBS.
c. Suasana lingkungan sosial yang kondusif (social pressure) dari kelompok-kelompok
masyarakat dan pendapat umum (public opinion).
d. Sumber daya dan atau sarana yang diperlukan bagi terciptanya PHBS, yang dapat
diupayakan atau dibantu penyediaannya oleh mereka yang bertanggung jawab dan
berkepentingan (stakeholders), khususnya perangkat pemerintahan dan dunia usaha.
2. Sasaran Sekunder
Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka informal (misalnya
pemuka adat, pemuka agama dan lain-lain) maupun pemuka formal (misalnya petugas
kesehatan, pejabat pemerintahan dan lain-lain), organisasi kemasyarakatan dan media
massa. Mereka diharapkan dapat turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara:
a. Berperan sebagai panutan dalam mempraktikkan PHBS.
b. Turut menyebarluaskan informasi tentang PHBS dan menciptakan suasana yang kondusif
bagi PHBS.
c. Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group) guna mempercepat terbentuknya
PHBS.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 2


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
3. Sasaran Tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang berupa peraturan
perundang-undangan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta
mereka yang dapat memfasilitasi atau menyediakan sumber daya. Mereka diharapkan turut
serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga)
dengan cara:
a. Memberlakukan kebijakan/peraturan perundang-undangan yang tidak merugikan
kesehatan masyarakat dan bahkan mendukung terciptanya PHBS dan kesehatan
masyarakat.
b. Membantu menyediakan sumber daya (dana, sarana dan lain-lain) yang dapat
mempercepat terciptanya PHBS di kalangan pasien, individu sehat dan keluarga (rumah
tangga) pada khususnya serta masyarakat luas pada umumnya.

C. Strategi Kegiatan Promosi Kesehatan


Strategi promosi kesehatan paripurna terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung
oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan.
1. Pemberdayaan
Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dan bahkan dapat
dikatakan sebagai ujung tombak. Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi kepada
individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus-menerus dan berkesinambungan
mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu klien, agar klien tersebut berubah
dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek
attitude) dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek
practice). Pemberian informasi tersebut dapat berupa leaflet, brosur, fie power point yang
dipresentasikan, atau menggunakan alat peraga, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, sesuai
dengan sasaran (klien)nya dapat dibedakan adanya :
a. Pemberdayaan individu
b. Pemberdayaan keluarga
c. Pemberdayaan kelompok/masyarakat.
Upaya agar klien tahu dan sadar, kuncinya terletak pada keberhasilan membuat klien tersebut
memahami bahwa sesuatu (misalnya Diare) adalah masalah baginya dan bagi masyarakatnya.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 3


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Sepanjang klien yang bersangkutan belum mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu
merupakan masalah, maka klien tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apa pun
lebih lanjut. Saat klien telah menyadari masalah yang dihadapinya, maka kepadanya harus
diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan.
Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan menyajikan fakta-fakta dan
mendramatisasi masalah. Tetapi selain itu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah
tersebut bisa dicegah dan atau diatasi. Penyajian fakta dapat dilakukan dengan dikemukakan
fakta yang berkaitan dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan (misalnya tentang
seorang tokoh agama yang dia sendiri dan keluarganya tak pernah terserang Diare karena
perilaku yang dipraktikkannya). Bilamana seorang individu atau sebuah keluarga sudah akan
berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi
ekonomi, yang dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung.
Tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses
pemberdayaan kelompok/masyarakat melalui pengorganisasian masyarakat (community
organization) atau pembangunan masyarakat (community development). Sehingga sejumlah
individu dan keluarga yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama
memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan
bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Hal tersebut merupakan
letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dengan program kesehatan yang
didukungnya dan program-program sektor lain yang berkaitan. Hal-hal yang akan diberikan
kepada masyarakat oleh program kesehatan dan program lain sebagai bantuan, hendaknya
disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa
yang dibutuhkan masyarakat. Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui
kemitraan serta menggunakan metode dan teknik yang tepat.
2. Bina Suasana
Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu
anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan
terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada
(keluarga di rumah, organisasi siswa/mahasiswa, serikat pekerja/karyawan, orang-orang yang
menjadi panutan/idola, kelompok arisan, majelis agama dan lain-lain, dan bahkan masyarakat
umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk memperkuat

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 4


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
proses pemberdayaan, khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke
fase mau, perlu dilakukan bina suasana. Bina suasana dapat dilakukan dengan pemanfaatan
media seperti pemasangan spanduk dan atau billboard di jalan-jalan desa/kelurahan,
penempelan poster di tempat-tempat strategis, pembuatan dan pemeliharaan taman
obat/taman gizi percontohan di beberapa lokasi, serta pemanfaatan media tradisional.
3. Advokasi
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang
terkait ini berupa tokoh-tokoh masyarakat (formal dan informal) yang umumnya berperan
sebagai narasumber (opinion leader), atau penentu kebijakan (norma) atau penyandang
dana. Juga berupa kelompok-kelompok dalam masyarakat dan media massa yang dapat
berperan dalam menciptakan suasana kondusif, opini publik dan dorongan (pressure) bagi
terciptanya PHBS masyarakat. Advokasi merupakan upaya untuk menyukseskan bina suasana
dan pemberdayaan atau proses pembinaan PHBS secara umum.
4. Kemitraan
Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaan maupun bina suasana dan
advokasi guna membangun kerjasama dan mendapatkan dukungan. Sehingga kemitraan
perlu digalang antar individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintah yang terkait dengan
urusan kesehatan (lintas sektor), pemuka atau tokoh masyarakat, media massa dan lain-lain.

D. Pelaksana Kegiatan Promosi Kesehatan


Terdapat dua kategori pelaksana promosi kesehatan, yaitu (1) setiap petugas kesehatan
dan (2) petugas khusus promosi kesehatan (disebut penyuluh kesehatan masyarakat). Setiap
petugas kesehatan yang melayani pasien dan ataupun individu sehat (misalnya dokter,
perawat, bidan, tenaga gizi, petugas Laboratorium, apoteker dan lain-lain) wajib
melaksanakan promosi kesehatan. Namun demikian tidak semua strategi promosi kesehatan
yang menjadi tugas utamanya, melainkan hanya pemberdayaan. Hakikat pemberdayaan
adalah upaya membantu atau memfasilitasi pasien/klien, sehingga memiliki pengetahuan,
kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan atau mengatasi masalah kesehatan yang
dihadapinya (to facilitate problem solving), dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS). Dalam pelaksanaannya, upaya ini umumnya berbentuk pelayanan informasi

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 5


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
atau konsultasi. Artinya, tenaga-tenaga kesehatan Puskesmas tidak hanya memberikan
pelayanan teknis medis atau penunjang medis, melainkan juga penjelasan-penjelasan
berkaitan dengan pelayanannya itu.
Tantangan pertama dalam pemberdayaan adalah pada saat awal, yaitu pada saat
meyakinkan seseorang bahwa suatu masalah kesehatan (yang sudah dihadapi atau yang
potensial) adalah masalah bagi yang bersangkutan. Sebelum orang tersebut yakin bahwa
masalah kesehatan itu memang benar-benar masalah bagi dirinya, maka ia tidak akan peduli
dengan upaya apa pun untuk menolongnya. Tantangan berikutnya datang pada saat proses
sudah sampai kepada mengubah pasien/klien dari mau menjadi mampu. Ada orang-orang
yang walaupun sudah mau tetapi tidak mampu melakukan karena terkendala oleh sumber
daya (umumnya orang-orang miskin). Ada juga orang-orang yang sudah mau tetapi tidak
mampu melaksanakan karena malas.
Petugas khusus promosi kesehatan seperti contohnya di Puskesmas, berupa pegawai
negeri sipil dinas kesehatan kabupaten/kota yang ditugasi untuk melaksanakan promosi
kesehatan. Petugas ini bertanggung jawab membantu pelaksanaan promosi kesehatan di
Puskesmas. Oleh karena itu, agar kinerja mereka baik, seyogianya di dinas kesehatan
kabupaten/kota terdapat lebih dari seorang tenaga khusus promosi kesehatan (jumlahnya
disesuaikan dengan kemampuan setiap orang untuk membantu jumlah Puskesmas yang ada).
Jika tidak mungkin diperoleh dari pegawai negeri sipil dinas kesehatan kabupaten/kota,
tenaga khusus promosi kesehatan ini dapat direkrut dari organisasi kemasyarakatan yang ada
(seperti Aisyiyah, Perdhaki dan lain-lain) melalui pola kemitraan. Petugas khusus promkes
diharapkan dapat membantu para petugas kesehatan lain dalam melaksanakan
pemberdayaan, yaitu dengan :
1. Menyediakan alat bantu/alat peraga atau media komunikasi guna memudahkan petugas
kesehatan dalam melaksanakan pemberdayaan.
2. Menyelenggarakan bina suasana baik secara mandiri atau melalui kemitraan dengan pihak-
pihak lain.
3. Menyelenggarakan advokasi dalam rangka kemitraan bina suasana dan dalam
mengupayakan dukungan dari pembuat kebijakan dan pihak-pihak lain (sasaran tersier).

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 6


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
II. PETUNJUK UMUM

A. Teknik Pelaksanaan Kegiatan Promosi Kesehatan Oleh Mahasiswa PSPA

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 7


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Kegiatan promkes oleh mahasiswa PSPA ini dilakukan pada semester kedua dari proses
perkuliahan yang ditempuh selama 2 semester, yang dapat dilaksanakan secara
mandiri/individu (tidak kelompok) bersamaan dengan kegiatan Praktek Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) di Apotek maupun di Rumah Sakit, atau dilaksanakan terpisah dari kegiatan
PKPA melalui kemitraan dengan masyarakat seperti contohnya masuk dalam rangkaian
kegiatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang diadakan masyarakat setempat.
Tahap awal, mahasiswa mengidentifikasi masalah kesehatan yang saat ini diderita atau
potensial terjadi (mungkin akan terjadi) jika tidak diambil tindakan pencegahan pada pasien
atau pengunjung yang terdapat di wilayah tempat pelaksanaan kegiatan PKPA, atau
masyarakat di suatu wilayah tertentu. Melalui permasalahan tersebut kemudian dirumuskan
tindakan pencegahan atau penanganan yang tertuang dalam judul promkes. Melalui judul
prokes tersebut, mahasiswa merencanakan isi pemberdayaan promkes (dapat berupa leaflet
sementara atau file power point sementara) yang akan disampaikan kepada sasaran promkes.
Judul promkes dan rencana isi pemberdayaan tersebut kemudian didiskusikan kepada
pembimbing promkes yang telah ditunjuk oleh pengelola PSPA, kemudian apabila
pembimbing menyetujui judul dan rencana isi pemberdayaan, maka harus disertakan bukti
persetujuan judul promkes oleh pembimbing melalui format pada lampiran 1.
Apabila mahasiswa telah mendapatkan persetujuan judul promkes, maka mahasiswa
dapat meminta Tata Usaha PSPA untuk membuatkan surat pengantar melaksanakan kegiatan
promkes yang ditandatangani oleh pengelola PSPA. Selanjutnya mahasiswa dapat
melaksanakan kegiatan promkes, dan membuat laporan kegiatan promkes yang dibimbing
oleh pembimbing masing-masing sesuai panduan ini.

B. Contoh Beberapa Kegiatan Promosi Kesehatan yang Dapat Dilakukan


Berikut adalah beberapa contoh kegiatan promosi kesehatan yang diadopt dari panduan
promosi kesehatan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia Tahun 2011 :
1. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
2. Memberantas jentik nyamuk di rumah seminggu sekali Inisiasi menyusu dini
3. Cara merawat bayi baru lahir dan cara menyusui dengan benar
4. Imunisasi dasar lengkap dan lanjutan
5. Menggosok gigi dengan benar dan rutin

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 8


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
6. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
7. Bijak dan tepat dalam penggunaan obat dengan DAGUSIBU
8. Gerakan senam jantung sehat, dsb

III. TEKNIS PENULISAN LAPORAN

A. Aturan Umum

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 9


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Penyusunan laporan kegiatan promkes harus memperhatikan beberapa aturan umum
penulisan sebagai berikut :
1. Bahan
Laporan kegiatan promkes dibuat di atas kertas HVS (80 gram) warna putih, diketik dengan
tinta hitam, dan dijilid rapi.
2. Ukuran Laporan Kegiatan Promkes
Laporan kegiatan promkes dibuat dengan ukuran kertas kuarto A4 (21 x 28,5 cm).
3. Tata cara pengetikan Laporan Kegiatan Promkes
Pengetikan dilakukan sesuai dengan ketentuan berikut :
a. Jenis huruf
1) Huruf Times New Roman ukuran 12
2) Huruf miring dipakai untuk kata yang belum baku dalam bahasa Indonesia atau
bahasa asing.
b. Jarak baris
Jarak baris dibuat 2 spasi, kecuali daftar (isi, tabel, gambar, lampiran), dan keterangan
gambar, daftar pustaka, diketik dengan jarak 1 spasi ke bawah.
c. Batas Tepi
Kiri 4 cm, atas 4 cm, bawah dan kanan masing-masing 3 cm.
d. Footer
Bagian footer ditulis dengan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan, Mahasiswa PSPA
Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Angkatan … (ditulis nomor urut angkatan)
di … (Tempat kegiatan promkes dilaksanakan) tanggal… (tanggal pelaksanaan
promkes).
e. Judul Bab, sub judul, anak sub judul dan sub anak judul
1) Penomoran Bab ditulis dengan angka romawi (misalnya BAB I, BAB II dan
seterusnya). Judul Bab harus ditulis dengan huruf besar (kapital) semua dan diatur
supaya simetris di tengah-tengah dan dicetak tebal, dengan jarak 4 cm dari tepi
atas tanpa diakhiri dengan titik.
2) Penomoran sub judul ditulis dengan huruf kapital/besar (A, B, dan seterusnya). Sub
judul ditulis simetris di tengah-tengah, semua kata dimulai dengan huruf besar
(kapital) kecuali kata penghubung dan kata depan, dan semua dicetak tebal, tanpa

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 10


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
diakhiri dengan titik. Kalimat pertama sesudah sub judul diketik mulai dengan
alinea baru.
3) Penomoran anak sub judul ditulis dengan angka arab (1, 2, dan seterusnya). Anak
sub judul diketik mulai dari batas tepi kiri dan dicetak tebal, tetapi hanya huruf
pertama saja yang berupa huruf besar, tanpa diakhiri dengan titik. Kalimat pertama
sesudah anak sub judul dimulai dengan alinea baru.
4) Penomoran sub anak judul ditulis dengan huruf kecil (a, b dan seterusnya). Sub
anak judul ditulis masuk (tab 1,0 cm), tidak diikuti dengan titik dan dicetak tebal.
Kalimat yang menyusul kemudian, diketik ke belakang dalam satu baris dengan
anak sub judul.
f. Penomoran halaman, gambar, dan tabel
1) Mulai dari halaman pertama, sesudah sampul depan sampai dengan daftar
lampiran, halaman diberi nomor urut dengan angka romawi kecil (i, ii, iii dan
seterusnya) dengan posisi ditengah halaman (centre) pada bagian bawah
2) Mulai BAB I sampai dengan halaman daftar pustaka diberi nomor urut dengan
angka arab (1, 2, 3 dan seterusnya)
3) Nomor halaman ditempatkan di sebelah tengah bawah untuk awal Bab dan
selanjutnya pada bagian kanan atas
4) Nomor halaman diketik dengan jarak 1,5 cm dari bawah.
5) Tabel diberi nomor urut dengan angka romawi besar. Setiap kata pada judul tabel
dimulai dengan huruf besar (kapital) kecuali kata sambung, seperti dan, terhadap,
dan lain sebagainya
6) Gambar diberi nomor urut dengan angka arab. Setiap kata pada judul gambar
dimulai dengan huruf kecil, kecuali pada awal kalimat judul.
7) Lampiran tidak diberi nomor halaman tetapi diberi nomor lampiran dengan angka
arab (1, 2, 3 dan seterusnya). Judul lampiran dimulai pada tepi kiri atas. Setiap kata
pada judul lampiran dimulai dengan huruf besar (kapital) kecuali kata sambung.
g. Bilangan dan satuan
1) Bilangan diketik dengan angka, kecuali bilangan pada permulaan kalimat harus
dieja, misalnya Tiga puluh meter dari rumah sakit.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 11


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
2) Bilangan desimal ditandai dengan koma, bukan dengan titik, misalnya rata-rata
kunjungan pasien 95,5 pasien/hari.
3) Satuan ditanyakan dengan singkatan resminya tanpa titik di belakangnya, misalnya
m, g, kg.
h. Penulisan kata yang tidak termasuk bahasa Indonesia
Kata-kata asing, kata-kata dari bahasa daerah dan semua kata yang bukan dari bahasa
Indonesia harus dicetak miring (italic).
i. Lain-lain
1) Bab harus menggunakan halaman baru.
2) Pengetikan tidak boleh bolak balik.
3) Kesalahan-kesalahan harus diperbaiki sebelum laporan kegiatan promkes dijilid.
4) Kalimat pertama setiap alinea diketik mulai tab 1 cm (huruf/karakter ke-7).
4. Bahasa
a. Bahasa yang dipakai
Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia yang baku dan benar (ada subjek dan
predikat), agar lebih sempurna ditambahkan dengan objek dan keterangan.
b. Bentuk kalimat
Kalimat-kalimat tidak boleh menampilkan orang pertama atau orang kedua (saya, kita,
engkau, dan lainnya), tetapi dibuat berbentuk pasif. Penyajian ucapan terima kasih
disampaikan dalam kata pengantar dan kata saya atau kami diganti dengan penulis.
c. Istilah
1) Istilah yang dipakai ialah istilah Indonesia atau sudah diindonesiakan.
2) Istilah asing ditulis miring.
d. Kesalahan yang sering terjadi
1) Kata penghubung, seperti, sehingga, dan, sedangkan, tidak boleh untuk memulai
suatu kata.
2) Kata depan misalnya pada, di, sering dipakai tidak pada tempatnya, misalnya
diletakkan di depan subyek (akan merusak susunan kalimat).
3) Awalan ke dan di harus dibedakan sebagai awalan kata kerja atau kata depan (ke
dan di untuk kata depan harus dipisahkan dari kata dasarnya).
4) Tanda baca harus dipergunakan dengan tepat.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 12


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
B. Aturan Khusus
1. Cara penulisan referensi di dalam naskah Laporan Kegiatan Promkes (sumber pustaka)
Sumber pustaka ditulis dengan cara menuliskan nama penulis dan tahun terbitan (di dalam
kurung) setelah penulisan kalimat yang dikutip. Nama penulis yang terdiri dari 2 kata atau
lebih, hanya disebutkan nama akhirnya saja. Cara menulis sumber pustaka dengan penulis
yang lebih dari 2 orang adalah dengan cara menyantumkan nama penulis pertama dan
diikuti dengan dkk. Gelar kesarjanaan tidak boleh dicantumkan dalam penulisan sumber
pustaka.
a. Nama penulis sumber pustaka dapat ditulis di permulaan, di tengah atau di akhir
kalimat
1) Nama penulis yang ditulis pada permulaan kalimat. Penulis yang tulisannya diacu
dalam uraian hanya disebutkan nama akhir saja, kalau lebih dari 2 orang hanya
nama akhir penulis pertama yang dicantumkan dan diikuti dengan dkk. Contoh :
(a) Menurut Calvin (1998)..........................
(b) Craig dan Powers (2002) menyatakan bahwa....................
2) Nama penulis yang ditulis di dalam atau di tengah kalimat. Contoh : Pendapat ini
sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Prasojo (2008) yang menyatakan bahwa
pemberian kode warna untuk masing-masing limbah akan sangat membantu
pengolahan limbah tersebut.
3) Nama penulis ditulis pada akhir kalimat. Contoh : Alur aktivitas fungsional CSSD
dimulai dari proses pembilasan, pembersihan sampai proses distribusi (Hidayat,
2003).

b. Nama penulis lebih dari dua


Penulisan sumber pustaka dengan nama penulis lebih dari dua adalah dengan
mencantumkan nama penulis pertama saja, disertai dengan kata dkk. Contoh :
Menurut Meisel, dkk. (1996) bensin dapat dibuat dari metanol

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 13


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
............................................ Penulis yang membuat tulisan pada contoh di atas
berjumlah 4 orang, yaitu : Meisel, S.L., McCullough, J.P., Leckthaler, C.H., dan Weisz.,
P.B.
c. Sumber pustaka yang berasal lebih dari satu sumber
Satu kalimat yang dikutip oleh mahasiswa pada saat membuat laporan PKPA dapat saja
berasal dari hasil pemahaman membaca berbagai referensi. Dengan kata lain,
beberapa penulis (sumber pustaka) menguraikan hal yang sama. Jika kalimat yang akan
dimasukkan ke dalam laporan PKPA dikutip lebih dari satu sumber pustaka, maka
diantara setiap nama penulis beserta tahunnya, diberi tanda titik koma (;). Contoh :
Tanaman srikaya terdiri dari bagian-bagian tanaman diantaranya batang, buah, akar
dan daun. Daun srikaya umumnya mengandung flavonoid, tannin dan saponin (Radi,
1997; Sarwastuti, 2007).
d. Sumber pustaka dari sitasi
Hal ini boleh dilakukan asalkan dalam keadaan terpaksa atau darurat (misalnya :
publikasi dari pernyataan yang ditulis tidak ketemukan). Hal ini harus ada izin dari
pembimbing. Contoh : Menurut Siregar (2004) di dalam buku karangan Sulistyowati
(2009), depo farmasi di IGD menyediakan dan menyiapkan obat-obatan dengan cepat,
terutama untuk obat-obat penyelamat hidup (life saving drugs). Kalimat ini dapat
ditulis dengan cara : Depo farmasi di IGD menyediakan dan menyiapkan obat-obatan
dengan cepat, terutama untuk obat-obat penyelamat hidup (life saving drugs) (Siregar,
2004 cit. Sulistyowati, 2009). Hal ini berarti bahwa penulis tidak membaca buku asli
karangan Siregar (2004).
e. Sumber pustaka dari situs internet/website
Sumber pustaka yang berasal dari situs internet/website yang tidak tercantum
tahunnya, maka tahun yang dicantumkan adalah tanggal, bulan, dan tahun saat
mengakses website tersebut. Contoh : Mealey, B.L., 2006, Diabetes Pathophysiology,
http://www.healt.am/DB/Diabetes Pathophysiology.asp.(diakses pada 18 September
2010).
2. Cara pembuatan tabel
Tabel merupakan susunan informasi berupa angka-angka, kata-kata atau kalimat-kalimat
pendek yang diatur ke dalam kolom dan baris. Maksud pembuatan tabel adalah untuk

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 14


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
meringkas berbagai keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber, sehingga pembaca
akan lebih mudah memahami. Tabel ditempatkan di antara kalimat-kalimat yang
membahas tabel itu sendiri dan tabel diletakkan dekat sekali dengan pengantar tabel, agar
lebih komunikatif dalam membacanya. Antara kalimat sebelum dan sesudah tabel harus
diberi jarak. Tabel dibuat dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a. Judul tabel ditempatkan di atas tabel, tanpa diakhiri dengan titik.
b. Tabel tidak boleh dipenggal, kecuali kalau memang terlalu panjang, sehingga tidak
mungkin diketik dalam satu halaman panjang. Halaman lanjutan tabel, diberi nomor
tabel dengan angka romawi besar dan kata “lanjutan” tanpa judul.
c. Kolom-kolom di dalam tabel diberi nama dan diberi garis vertikal agar pemisahan
antara kolom yang satu dengan yang lainnya cukup tegas.
d. Bila tabel lebih besar dari ukuran lebar kertas, maka tabel dapat dibuat dengan arah
memanjang (lanscape).
e. Tabel dibuat terpisah dari uraian pokok dalam naskah.
f. Judul tabel diketik simetris.
g. Tabel yang lebih dari 2 halaman atau yang harus dilipat, ditempatkan pada lampiran.
h. Keterangan tabel ditulis di bagian bawah tabel.
3. Cara pembuatan gambar, grafik, dan foto
Gambar, grafik, foto dan sejenisnya diberi nomor urut tersendiri dengan angka arab.
Semua gambar dan sejenisnya disebut sebagai gambar (artinya tidak dibedakan) dan
diberi nomor urut (Misal: Gambar 2, dan seterusnya). Pembuatan gambar pada dasarnya
memperhatikan hal-hal berikut :
a. Gambar tidak boleh dipenggal.
b. Keterangan gambar dapat dituliskan pada tempat-tempat yang kosong di dalam
gambar atau di bagian bawah gambar. Keterangan gambar jangan ditulis pada
halaman lain.
c. Ukuran gambar (lebar dan tingginya) diusahakan sewajarnya (jangan terlalu kurus atau
terlalu gemuk).
d. Letak gambar harus diatur simetris.
4. Penulisan penulis (author) dalam daftar pustaka

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 15


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Semua penulis harus dicantumkan namanya di dalam daftar pustaka. Sumber pustaka
yang ditulis oleh sebuah lembaga, bukan seseorang, maka lembaga tersebut dianggap
sebagai penulis. Pustaka yang berasal dari suatu sumber yang nama penulisnya atau nama
lembaganya tidak dicantumkan, maka pada bagian yang seharusnya dicantumkan nama
penulis, diganti dengan kata anonim.
a. Nama penulis lebih dari satu suku kata
Nama penulis yang terdiri dari 2 kata atau lebih, cara penulisannya adalah nama akhir
diikuti dengan tanda koma, singkatan nama depan, tengah dan seterusnya. Contoh :
1) Yance Anas ditulis : Anas, Y.
2) Maulita Cut Nuria ditulis : Nuria, M.C.
b. Nama dengan garis penghubung
Nama penulis yang dalam sumber aslinya ditulis dengan garis penghubung di antara
dua suku kata, maka keduanya dianggap sebagai satu suku kata, tidak boleh dibalik.
Contoh : Thomas Taylor-Clark ditulis Taylor-Clark, T.
c. Nama yang diikuti dengan singkatan
Nama yang diikuti dengan singkatan, dianggap bahwa singkatan itu menjadi satu
dengan suku kata yang ada di depannya. Contoh :
1) Mawardi A.I., ditulis Mawardi A.I.,
2) William D. Ross Jr, ditulis Ross Jr. W.D.
5. Penulisan daftar pustaka
Sumber pustaka berupa buku teks, majalah ilmiah/ jurnal ilmiah, makalah seminar,
laporan penelitian, website dan lain-lain, ditulis di dalam daftar pustaka dengan cara yang
berbeda-beda.
a. Pustaka yang berasal dari buku
Pustaka yang berasal dari buku teks pada prinsipnya ditulis dengan urutan: nama
penulis, tahun terbitan, judul buku, edisi, penerbit, kota penerbit dan halaman. Judul
buku dicetak miring. Kota penerbit ditulis hanya satu (yang pertama disebut).
1) Buku yang ditulis oleh satu orang penulis. Contoh Priyambodo, B., 2007,
Manajemen Industri Farmasi, Edisi pertama, Global Pustaka Utama, Yogyakarta,
hal. 11-15. Ini berarti :
Nama penulis : B. Priyambodo Tahun terbitan : 2007

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 16


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Judul buku : Manajemen Farmasi Industri Edisi : ke-1
Penerbit : Global Pustaka Utama
Kota penerbit : Yogyakarta
Halaman : 11 - 15
2) Buku yang ditulis oleh 2 orang penulis. Contoh Makhfuldi dan Effendy, N., 2009,
Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktek dalam Keperawatan, Jilid I,
Medika Salemba, Jakarta, hal. 22-23.
3) Buku yang ditulis oleh lebih dari 2 orang penulis. Contoh : Lullmann, H., Mohr, K.,
Ziegler, A. and Bieger, D., 2000, Color Atlas of Pharmacology, Second Edition.,
Thieme, New York, hal.155-156.
b. Pustaka dari suatu abstract atau intisari
Pustaka yang berasal dari abstract atau intisari, dalam daftar pustaka perlu dinyatakan
dengan mencantumkan kata Abstr., atau intisari di dalam tanda kurung. Contoh :
Johnson, M., 2006, Molecular Mechanisms of Beta(2)-adrenergic Receptor Function,
Response, and Regulation, J. Allergy Clin. Immunol, 117(1) : 18-24 (Abstr.).
c. Lembaga sebagai penulis
Contoh : Depkes RI, 2004, Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 3. Ini berarti : Buku ini tidak dikarang oleh
seorang penulis, tak dikenal siapa penulisnya. Nama penerbit tidak ada, kota
penerbitnya adalah Jakarta.
d. Pustaka dari sumber yang tidak diketahui penulisnya
Sumber pustaka yang nama penulisnya tidak dicantumkan, maka nama penulis ditulis
anonim. Contoh : Anonim, 2005, Buku Statistik Kesehatan, Direktorat Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal.15.
e. Buku yang ditulis beberapa penulis dengan editor
Contoh :
1) Craig, R.G. and Powers, J.M., (Eds.), 2002, Restorative Dental Materials, 11th ed.,
Mosby Inc., London, hal. 89.
2) Levin, R.J., 1984, Absorption from the Alimentary Tract. In: Physiology and
Biochemistry of the Domestic, Fowl, B.M. (Eds.). Vol.5. Academic Press, London, hal.
102.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 17


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
f. Pustaka dari bab di dalam buku
Contoh : Vessel, B.S., 1980, Gene Enviroment Interaction in Drug Metabolism in Clinical
Pharmacology and Therapeutics, in Turner, P. (Eds.): Clinical Pharmacology and
Therapeutics, Macmillan Publishing Co., London, hal. 63-69. Ini berarti: Turner, P.
Melakukan editing dari beberapa karangan dalam satu buku dengan judul : Clinical
Pharmacology and Therapeutics, sedang Vessel, B.S., adalah salah satu pengarang yang
karangannya dikutip oleh Turner, P. yang terdapat pada halaman 63-69.
g. Pustaka dari buku yang diterjemahkan
Voigt, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Noerono S. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta, hal. 584, 570-571. Ini berarti : buku ini dikarang
oleh Voigt dengan bahasa aslinya adalah bahasa asing. Buku tersebut kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (penerjemahnya adalah Noerono S) dan
diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press di Yogyakarta.
h. Pustaka yang berasal dari jurnal
Pustaka yang berasal dari jurnal ditulis dengan urutan: nama penulis, tahun terbitan,
judul karangan, nama majalah, volume, nomor, dan halaman. Nama jurnal dicetak
miring dan disingkat sesuai dengan singkatan resminya, atau sesuai dengan singkatan
yang terdapat dalam jurnal itu sendiri (tidak diperbolehkan membuat singkatan
sendiri). Contoh : Taylor-Clark, T., Sodha, R., Warner, B. and Foreman, J., 2005,
Histamin Receptors that Influence Blockage of the Normal Human Nasal Airway, Br. J.
Pharmacol, 144(6) : 867-874
i. Pustaka yang berasal dari makalah seminar
Pustaka yang berasal dari kumpulan makalah seminar ditulis seperti buku text dengan
menambahkan informasi mengenai acara seminar tersebut. Urutan penulisan adalah:
nama penulis, tahun terbitan, judul tulisan, nama editor, judul kumpulan naskah
seminar/ judul seminar, penerbit (bila ada), kota dan negara, halaman. Contoh :
Nugroho, A.E, Riyanto, S., Sukari, M.A. and Maeyama, K., 2008, The Effects of
Compounds Isolated from Aegle marmelos Correa, on Histamin Release from Mast
Cells, in 81st Annual meeting of Japanese Pharmacological Society, Yokohama., March
17 - 18th 2008.
j. Pustaka yang berasal dari laporan penelitian

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 18


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Pustaka yang berasal dari laporan penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi ditulis dengan
susunan seperti buku, yaitu : nama penulis, tahun terbitan, judul tulisan, jenis laporan
penelitian (dicetak tebal dan miring), penerbit/institusi: kota, halaman. Contoh: Anas,
Y., 2011, Efek Marmin, Senyawa Aktif dari Aegle marmelos Correa terhadap Otot Polos
Trakea Marmut Terisolasi, Tesis, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, hal.15.
6. Cara penulisan lampiran
Lampiran dalam penulisan laporan kegitan promkes sangat diperlukan untuk disajikan
atau didokumentasikan secara leluasa. Format penulisan lampiran adalah bebas, tidak ada
aturan dalam format, disesuaikan dengan kebutuhan.

IV. FORMAT PENULISAN LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN

A. Bagian Umum
1. Halaman Judul

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 19


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Halaman judul terdiri dari cover luar dan halaman judul dalam. Cover luar dijilid dengan
kertas tebal berlapis linen polos berwarna putih. Format penulisan cover luar disamakan
dengan halaman judul dalam, menggunakan jenis huruf, ukuran font dan narasi yang
sama, serta ditulis dengan menggunakan tinta hitam. Cover luar dan halaman judul dalam
harus memuat : Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan, Judul, Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Promkes, Logo Universitas Wahid Hasyim (logo hitam putih), nama mahasiswa
(gelar akademik yang telah diperoleh tidak boleh dicantumkan), NIM (sesuai dengan kartu
mahasiswa), Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Wahid
Hasyim, Semarang, Tahun (Contoh : Lampiran 2).
2. Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan harus memuat judul Halaman Pengesahan (huruf kapital), Laporan
Kegiatan Promosi Kesehatan, Judul, Tempat Pelaksanaan Kegiatan Promkes, narasi
“Laporan disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
pada Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang”, persetujuan Dosen
Pembimbing Promosi Kesehatan yang ditanda tangani (Contoh : Lampiran 3).
3. Kata Pengantar
Kata pengantar memuat berbagai hal berikut ini, antara lain judul katapengantar (huruf
kapital), beberapa alasan mengenai pentingnya pelaksanaan kegiatan promkes bagi calon
apoteker, ucapan terima kasih pada berbagai pihak yang telah membantu terlaksananya
kegiatan promkes dan penjelasan-penjelasan lain yang dianggap perlu. Kata pengantar
tidak berisi kata-kata atau hal yang bersifat ilmiah
4. Daftar Isi
Berisi tentang gambaran utuh tentang kegiatan promkes yang telah dilaksanakan
dalam suatu urutan yang sistematis. Daftar isi diketik dengan jarak satu setengah spasi,
jika ada dalam satu sub bab diketik dengan jarak satu spasi.

5. Daftar Gambar
Daftar gambar dibuat apabila dalam laporan kegiatan promkes terdapat gambar atau
grafik. Penomoran gambar dibuat dengan menggunakan huruf arab. Daftar gambar
memuat urutan dari judul semua gambar, baik yang berupa grafik, foto, dan bentuk lain

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 20


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
dan disertai dengan nomor halaman yang bersangkutan. Penulisan antara judul gambar
diketik satu setengah spasi dan jarak antar baris dalam judul gambar diketik satu spasi.
6. Daftar Tabel
Daftar tabel dibuat apabila dalam laporan kegiatan promkes terdapat tabel yang harus
ditampilkan. Penomoran tabel dilakukan secara berurutan dengan huruf romawi besar.
Daftar tabel memuat judul tabel disertai dengan nomor halaman yang bersangkutan.
Penulisan antara judul tabel dibuat satu setengah spasi dan jarak antar baris dalam judul
tabel diketik satu spasi.
7. Daftar Lampiran
Daftar lampiran dibuat berurutan sesuai dengan kemunculannya dalam lampiran.
Penomoran lampiran dibuat dengan menggunakan huruf arab. Bagian ini memuat judul
lampiran saja tanpa disertai dengan nomor halaman yang bersangkutan. Penulisan
antara judul lampiran dibuat satu setengah spasi dan jarak antar baris dalam judul
lampiran diketik satu spasi.

B. Bagian Batang Tubuh


Bagian batang tubuh atau bagian utama laporan kegiatan promkes berisi:
1. Bab I. Pendahuluan
Pendahuluan berisi uraian mengenai latar belakang pelaksanaan kegiatan promkes sesuai
dengan tema kegiatan dan profil sasaran kegiatan promkes. Selain itu, bagian
pendahuluan ini juga harus memuat tujuan dan manfaat kegiatan promkes bagi sasaran
kegiatan atau calon apoteker.
2. Bab II. Tinjauan Umum
Tinjauan umum ditulis berdasarkan literatur/pustaka yang telah dibaca oleh mahasiswa.
Setiap kutipan yang masukkan ke dalam tinjauan ini harus menyebutkan sumber literatur
(sumber pustaka) yang diacu dan disebutkan dalam daftar pustaka. Tinjauan umum
memuat teori-teori yang melandasi tema kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan.
Contohnya adalah kegiatan promosi kesehatan dengan judul “Bijak dan Tepat dalam
Penggunaan Obat dengan DAGUSIBU”, dengan tinjauan pustaka meliputi cara
mendapatkan, cara menggunakan, cara menyimpan dan cara membuang berbagai jenis
sediaan obat dengan benar.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 21


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
3. Bab III. Laporan Kegiatan
Bab ini menceritakan mengenai tempat dan waktu dilaksanakan kegiatan promkes; profil
sasaran kegiatan promkes; pelaksanaan kegiatan promkes yang meliputi ringkasan singkat
materi yang disampaikan, berbagai jenis pertanyaan yang diajukan oleh sasaran promkes
(berupa garis besar pertanyaan, detail lengkap daftar pertanyaan dan jawaban dapat
disampaikan di lampiran), serta hal-hal yang perlu disarankan supaya sasaran kegiatan
promkes mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan untuk mencegah atau
mengatasi suatu permasalahan kesehatan yang ada.
4. Bab IV. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dan saran diuraikan dalam anak sub judul yang terpisah.
a.Kesimpulan
Bagian ini memuat tentang manfaat yang diperoleh selama kegiatan promkes,
ketercapaian informasi yang diberikan, serta pandangan sasaran promkes tentang
manfaat kegiatan promkes yang telah dilakukan.
b. Saran
Saran ditujukan kepada sasaran promkes dan mitra mengenai temuan hal-hal yang
perlu diupayakan supaya sasaran kegiatan promkes mampu melaksanakan perilaku
yang diperkenalkan untuk mencegah atau mengatasi suatu permasalahan kesehatan
yang ada.

C. Bagian Akhir
1. Daftar Pustaka
Bagian ini berisi sumber pustaka yang dipergunakan untuk keperluan penyusunan laporan
kegiatan promkes, dimaksudkan agar para pembaca dapat menemukan kembali sumber
informasi yang dikemukakan dalam laporan. Sumber pustaka dapat berupa buku teks,
majalah ilmiah/ jurnal ilmiah, makalah seminar, laporan penelitian, peraturan perundang-
undangan, website dan lain-lain. Sumber pustaka hendaknya berasal dari kalangan terbaru.
Daftar pustaka tidak bernomor dan ditulis lengkap dengan menggunakan sistem nama
tahun (sistem Harvard) sesuai urutan alfabetis.
2. Lampiran

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 22


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Berbagai hal yang ada kaitannya dengan semua pekerjaan kefarmasian di apotek tetapi
tidak perlu dimasukkan dalam karangan utama, dapat ditulis pada lampiran. Lampiran
dapat berisi : lembar persetujuan judul promkes oleh pembimbing, informasi yang
diberikan (leaflet, dan power point jika ada), daftar hadir sasaran promkes, serta daftar
pertanyaan dan jawaban selama kegiatan promkes berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2006, Panduan Integrasi Promosi Kesehatan, Pusat Promosi Kesehatan, Jakarta.

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 23


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
IAI, 2011, Standar Kompetensi Apoteker Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia, Jakarta.

Kemenkes RI, 2011, Promosi Kesehatan di Daerah Bermasalah Kesehatan, Panduan Bagi
Petugas Kesehatan di Puskesmas, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Lampiran 1. Lembar Persetujuan Judul Promosi Kesehatan Oleh Dosen Pembimbing

FORMULIR
PENGAJUAN JUDUL KEGIATAN
Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan
PROMOSI KESEHATAN 24
Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
Lampiran 2. Halaman Judul

LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 25


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
“Judul”
di… (tempat pelaksanaan)
Tgl Bln Th

Disusun Oleh :

Nama Mahasiswa NIM

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
Th

Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan PSPA Fakultas Farmasi Universitas Wahidd Hasyim
Semarang Angkatan X “Judul” di…. Tgl Bln Th
Lampiran 3. Halaman Pengesahan
HALAMAN PENGESAHAN

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 26


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN
“Judul”
di…(Tempat Pelaksanaan)
Tgl Bln Th

Laporan disusun untuk memenuhi salah satu syarat


Untuk memperoleh gelar Apoteker pada Fakultas Farmasi
Universitas Wahid Hasyim Semarang

Disetujui oleh
Pembimbing Promosi Kesehatan,

Nama Dosen, Gelar

Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan PSPA Fakultas Farmasi Universitas Wahidd Hasyim
Semarang Angkatan X “Judul” di…. Tgl Bln Th

Panduan Penyusunan Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan 27


Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang