Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang ini, dengan semakin pesatnya industrialisasi dan berkembangnya
teknologi kimia telah melanda dunia dan bagi Indonesia menjadi keharusan untuk
ikut memanfaatkannya. Pada saat ini kita masih tertinggal dalam mengendalikan
dampak yang merugikan, khususnya dampak lingkungan dan lebih khusus bagi
keracunan melalui makanan yang perlu dihindari.
Kebanyakan makanan yang dikemas mengandung bahan tambahan, yaitu
suatu bahan yang dapat mengawetkan makanan atau merubahnya dengan berbagai
teknik dan cara. Bahan tambahan makanan didefinisikan sebagai bahan yang tidak
lazim dikonsumsi sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komposisi
khas makanan, dapat bernilai gizi atau tidak bernilai gizi, ditambahkan ke dalam
makanan dengan sengaja untuk membantu teknik pengolahan makanan.
Dalam proses keamanan pangan, dikenal pula usaha untuk menjaga daya
tahan suatu bahan sehingga banyaklah muncul bahan-bahan pengawet yang
bertujuan untuk memperpanjang masa simpan suatu bahan pangan. Namun dalam
praktiknya di masyarakat, masih banyak yang belum memahami perbedaan
penggunaan bahan pengawet untuk bahan-bahan pangan dan yang non pangan.
Formalin merupakan salah satu pengawet non pangan yang sekarang banyak
digunakan untuk mengawetkan makanan.
Seperti yang kita ketahui sekarang, kata Formalin sudah tidak asing lagi
ditelinga. Formalin merupakan salah satu bahan yang dilarang digunakan dalam
makanan namun keberadaannya disekitar kita sudah tidak dapat dihindari karena
begitu bayaknya produsen yang sengaja menggunakan formalin dalam mengolah
produksi pangannya guna tujuan tertentu. Formalin memiliki berbagai nama lain
yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat sehingga mempersulit masyarakat
untuk mengetahui makanan tersebut mengandung formalin atau tidak. Oleh
karena itu, dilaksanakan praktikum identifikasi formalin pada makanan khususnya
(tahu bulat) yang banyak beredar disekitar kita agar kita mengetahui ada tidaknya
formalin dalam makanan tersebut serta mengetahui cirri-ciri berbagai makanan
lain yang mengandung formalin sehingga dapat mengurangi masalah yang ada
beserta dampak yang ditimbulkannya.
Bahan-bahan pengawet yang digunakan pada makanan umumnya
digunakan untuk jenis pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Bahan tersebut
dapat menghambat atau memperlambat proses fermentasi, pengasaman, atau
penguraian yang disebabkan oleh mikroba. Akan tetapi, tidak jarang produsen
menggunakannya pada pangan yang relatif awet dengan tujuan untuk
memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur.
Pemakaian bahan pengawet dari satu sisi menguntungkan karena dengan
bahan pengawet, bahan pangan dapat dibebaskan dari kehidupan mikroba, baik
yang bersifat pathogen yang dapat menyebabkan keracunan atau gangguan
kesehatan lainnya maupun microbial yang non pathogen yang dapat menyebabkan
kerusakan bahan pangan, misalnya pembusukan. Namun dari sisi lain, bahan
pengawet pada dasarnya adalah senyawa kimia yang merupakan bahan asing yang
masuk bersama bahan pangan yang dikonsumsi. Apabila pemakaian bahan pangan
dan dosisnya tidak diatur dan diawasi, kemungkinan besar akan menimbulkan
kerugian bagi pemakainya; baik yang bersifat langsung, misalnya keracunan;
maupun yang bersifat tidak langsung atau kumulatif, misalnya apabila bahan
pengawet yang digunakan bersifat karsinogenik.
Hal ini menjadi sangat penting dan juga memprihatinkan. Oleh karena itu,
berdasarkan uraian di atas melihat pentingnya mengetahui adanya kandungan
boraks dalam makanan, kami melakukan percobaan identifikasi boraks dalam
makanan.
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui perbedaan dari makanan yang menggunakan formalin dengan
makanan yang tidak menggunakan formalin.
2. Mengetahui bagaimana cara identifikasi formalin yang terkandung pada
makanan.

1.2.2 Manfaat Percobaan


Untuk mengetahui makanan yang mengandung formalin dan cara
mengidentifikasi formalin pada makanan.
1.3 Prinsip Percobaan
Mengidentifikasi kandungan senyawa formalin pada makanan
menggunakan beberapa metode tertentu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Pengertian Formalin
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.
Didalam formalin mengandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, biasanya
ditambah methanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai
bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri. Nama
lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid,
Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform,
Formaldehyde, dan Formalith (Astawan, 2006).
Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna dengan bau
menusuk, uapnya merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan dan rasa
membakar. Bobot tiap mililiter adalah 1,08 gram. Dapat bercampur dengan air dan
alkohol, tetapi tidak bercampur dengan kloroform dan eter (Norman and
Waddington, 1983).
2.1.2 Karakteristik Formalin
Nama lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin,
Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform,
Superlysoform, Formaldehyde, dan Formalith. Berat Molekul Formalin adalah
30,03 dengan Rumus Molekul HCOH. Karena kecilnya molekul ini memudahkan
absorpsi dan distribusinya ke dalam sel tubuh. Gugus karbonil yang dimilikinya
sangat aktif,dapat bereaksi dengan gugus –NH2 dari protein yang ada pada tubuh
membentuk senyawa yang mengendap (Harmita, 2010).
Formaldehid (formalin) adalah larutan tidak berwarna, reaktif, dan dapat
membentuk polimer pada suhu normal pada saat berwujud gas. Kalor pembakaran
untuk gas formalin 4,47 Kcal / gram. Daya bakar dilaporkan pada rentang volume
12,5 – 80 % di udara. Campuran 65– 70 % formaldehid di dalam udara sangat
mudah terbakar. Formaldehid dapat terdekomposisi menjadi metanol dan
karbonmonooksida pada suhu 150°C dan pada suhu 300°C jika dekomposisi tidak
menggunakan katalis. Pada tekanan atmosfer formaldehid mudah mengalami
fotooksidasi menjadi karbondioksida (Matta, 1986).
Larutan formaldehid atau larutan formalin mempunyai nama dagang
formalin, formol atau mikrobisida dengan rumus molekul CH2O mengandung 37
% gas formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan 10 – 15% metanol untuk
menghindari polimerisasi. Larutan ini sangat kuat dan dikenal dengan larutan
formalin 40% yang mengandung 40 gram formaldehid dalam 100 ml pelarut
(Cahyadi, 2006).
2.1.3 Fungsi Formalin
Didalam formalin mengandung sekitar 37% formaldehid dalam air, biasanya
ditambah methanol hingga 15% sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai
bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri.
Penggunaan formalin dalam bidang non kesehatan menurut diantaranya
adalah sebaga pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih lantai,
gudang, pakaian dan kapal, pembasmi lalat dan serangga, bahan pembuat sutra
bahan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak, dalam dunia fotografi
digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas, bahan pembentuk pupuk
berupa urea, bahan pembuatan produk parfum, pencegah korosi untuk sumur
minyak, bahan untuk isolasi busa, bahan perekat untuk produk kayu lapis
(Widyaningsih, 2006)
Formaldehid memiliki daya antimicrobial yang luas yaitu terhadap
Staphylococcusaureus, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas
aerogenosa, Pseudomonas florescens, Candida albicans, Aspergillus niger , atau
Penicilliumnotatum. Mekanisme formaldehid sebagai pengawet diduga bergabung
dengan asam amino bebas dari protoplasma sel atau mengkoagulasikan protein
(Cahyadi,2006).
Formaldehid membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri
dehidrasi (kekurangan air) sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk
lapisan baru di permukaan. Artinya formalin tidak saja membunuh bakteri,
tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya supaya
tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan
serangan bakteri dengan cara membunuh maka formalin akan bereaksi secara
kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan
berikutnya (Cahyo, 2006).
Mekanisme formalin sebagai pengawet adalah jika formaldehid bereaksi
dengan protein sehingga membentuk rangkaian-rangkaian antara protein
yangberdekatan. Akibat dari reaksi tersebut protein mengeras dan tidak dapat larut
(Herdiantini, 2003).
Penggunaan formalin dalam dunia kesehatan menurut Shenna (2011):
1. Dalam bidang farmasi formalin kerap digunakan sebagai pendetoksifikasi
toksin dalam vaksin dan obat penakit kutil karena kemampuannya merusak
protein.
2. Formalin juga dipakai sebgai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang
medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit misalnya
mengangkat kutil.
2.1.4 Bahaya Formalin
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini merupakan salah
satu zat tambahan makanan yang dilarang. Meskipun sebagian banyak orang
sudah mengetahui terutama produsen bahwa zat ini berbahaya jika digunakan
sebagai pengawet, namun penggunaannya bukannya menurun namun malah
semakin meningkat dengan alasan harganya yang relatif murah dibanding
pengawet yang tidak dilarang dan dengan kelebihannya. Formalin sebenarnya
bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan merupakan zat yang tidak
boleh ditambahkan pada makanan. Memang orang yang mengkonsumsi bahan
pangan (makanan) seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan dan bahkan permen, yang
berformalin dalam beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Tapi efek dari
bahan pangan (makanan) berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian.
Formalin dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan
saluran pernafasan tubuh cepat teroksidasi membentuk asam format terutama di
hati dan sel darah merah. Pemakaian pada makanan dapat mengakibatkan
keracunan pada tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut disertai muntah-
muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah
(Effendi, 2009).
Formalin sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat
yang ditimbulkan dapat berupa : Luka baker pada kulit, Iritasi pada saluran
pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia Dampak formalin pada
kesehatan manusia, dapat bersifat (Astawan, 2006).
1. Akut : efek pada kesehatan manusia langsung terlihat : sepert iritasi, alergi,
kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing
2. Kronik : efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka
waktu yang lama dan berulang : iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan
pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, system saraf pusat, menstruasi dan pada
hewan percobaan dapat menyebabkan kanker sedangkan pada manusia diduga
bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan yang
mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang, karena
terjadi akumulasi formalin dalam tubuh.
3. Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit
kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual,
mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru Efek neuropsikologis
meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan
konsentrasi dan daya ingat berkurang. Gangguan head dan kemandulan pada
perempuan Kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan
otak Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata
memerah, rasanya sakit, gatal-gatal, penglihatan kabur, dan mengeluarkan air
mata. Bila merupakan bahan beronsentrasi tinggi maka formalin dapat
menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa
mata.
2.1.5 Metode-metode Analisis Formalin
1. Uji kualitatif
a. Dengan Fenilhidrazina
Menimbang seksama 10 gram sampel kemudian memotong kecil-kecil, dan
memasukkan ke dalam labu destilat, menambahkan aquadest 100 ml kedalam labu
destilat, mendestilasi dan menampung filtrat dengan menggunakan labu ukur 50
ml. Mengambil 2-3 tetes hasil destilat sampel, menambahkan 2 tetes
Fenilhidrazina hidroklorida, 1 tetes kalium heksasianoferat (III), dan 5 tetes HCl.
Jika terjadi perubahan warna merah terang (positif formalin) (Ditjen POM, 1979).
b. Dengan asam kromatofat
Mencampurkan 10 gram sampel dengan 50 ml air dengan cara
menggerusnya dalma lumpang. Campuran dipindahkan ke dalam labu destilat dan
diasamkan dengan H3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan pendingin dan
didestilasi. Hasil destilasi ditampung. Larutan pereaksi Asam kromatofat 0,5%
dalam H2SO4 60% (asam 1,8 dihidroksinaftalen 3,6 disulfonat) sebanyak 5 ml
dimasukkan dlam tabung reaksi, ditambahkan 1 ml larutan hasil destilasi sambil
diaduk. Tabung reaksi dimasukkan dalam penagas air yang mendidih selam 15
menit dan amati perubahan warna yang terjadi. Adanya HCHO ditunjukkan
dengan adanya warna ungu terang sampai ungu tua (Silvana, 2016).
c. Dengan Larutan Schiff
Menimbang 10 gram sampel dan dipotong potong kemudian dimasukkan
kedalam labu destilat, ditambahkan 50 ml air, kemudian diasamkan dengan 1 ml
H3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan pendingin dan didestilasi. Hasil
destilasi ditampung labu ukur 50 ml. Diambil 1 ml hasil destilat dalam tabung
reaksi, ditambahkan 1 ml H2SO4 1:1 (H2SO4 pekat) lewat dinding, kemudian
ditambahkan 1 ml larutan schiff, jika terbentuk warna ungu maka positif formalin
(Astawan, 2006).
2 Uji Kuantitatif
a. Dengan metode Asidi alkalimetri
Dipipet 10,0 ml hasil destilat dipindahkan ke erlenmeyer, kemudian
ditambah dengan campuran 25 ml hidrogen peroksida encer P dan 50 ml natrium
hidroksida 0,1 N. Kemudian dipanaskan di atas penangas air hingga pembuihan
berhenti, dan dititrasi dengan asam klorida 0,1 N menggunakan indikator larutan
fenolftalein P. Dilakukan penetapan blanko, dipipet 50,0 ml NaOH 0,1 N,
ditambah 2-3 tetes indikator fenolftalein, dititrasi dengan HCl 0,1 N. Dimana 1 ml
natrium hidroksida 0,1 N ~ 3,003 mg HCHO (Ditjen POM, 1979).
b. Dengan metode Spektrofotometri
1. Asam Kromatofat
Dibuat larutan baku induk dari konsentrasi 1000 ppm dari formalin 37 %,
kemudian diencerkan dalam labu takar 100 ml dengan aquadest sampai tanda
batas, kemudian larutan tersebut dibuat larutan baku standar. Larutan pereaksi
asam kromatofat 5 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan
1 ml larutan standar formalin sambil diaduk tabung reaksi ditangas selam 15
menit dalam penangas air yang mendidih, angkat dan didinginkan. Penetapan
kadar formalin sampel, mencampurkan 10 g sampel dengan 50 ml aquadest
dengan cara menggerusnya didalam lumpang. Kemudian didestilat dan diasamkan
dengan H3PO4, ditampung dengan labu ukur 50 ml. Ditambahkan 5 ml asam
kromatofat. Kemudian diukur absorbansi sampel dan standar dengan panjang
gelombang 560 nm dan dihitung kadar formalinnya (Cahyadi, 2008)
2.2 Uraian Bahan
2.2.1 Air Suling (Dirjen POM, 1979 ; Pubchem)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama IUPAC : Air suling
Rumus Struktur :

Rumus Molekul : H2O


Berat Molekul : 18,02 gr/mol
Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Pelarut sampel
2.2.2 Alkohol (Dirjen POM, 1979; Rowe 2009)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama IUPAC : Alkohol, Alkanol
Rumus Struktur :

Berat Molekul H3C gr/mol OH


: 46,068
Rumus Molekul : C2H5OH
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P, dan
dalam eter P
Kegunaan : Sebagai desinfektan
Penyimpanan : Dalam botol yang tertutup baik
2.2.3 Asam Sitrat (Dirjen POM, 1979; Pubchem)
Nama resmi : CITRIC ASID
Nama lain : Asam sitrat
Rumus struktur :

Rumus Molekul : C6H8O7


Berat Molekul : 192,13
Pemerian : Hablur bening tidak berwarna atau serbuk hablur
granul sampai Halus;putih tidak berbau atau praktis
tidak berbau; rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar
dalam udara kering.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air,mudah larut dalam
etanol;agak sukar larut dalam eter
Kegunaan : Sebagai pereaksi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
2.2.4 Fehling A (Dirjen POM, FI III, 1979: 692)
Nama resmi : FEHLING A
Kandungan : CuSO4.5H2O 34,64 g, H2SO4pekat 6,5 ml dan
aquadest 500 ml
Pemerian : Cairan berwarna biru, tidak berbau
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai pereaksi
2.2.5 Formaldehid (Ditjen POM, FI III. 1979 : 259)
Nama Resmi : FORMALDEHYDI SOLUTIO
Nama lain : Formalin
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 30,03 gr/mol


Rumus Molekul : CH2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna atau hampir tidak
berwarna, bau menusuk, uap merangsang selaput
lender hidung dan tenggorokan. Jika disimpan di
tempat dingin dapat menjadi keruh.
Kelarutan : Dapat dicampur dengan air dan dengan etanol (95 %)
P
Kegunaan : antiseptum ekstern; pengawet, sebagai indicator
pembanding
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
sebaiknya pada suhu diatas 20⁰C
2.2.6 Kalium permanganat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : KALII PERMANGANAS
Nama lain : Kalium permanganate
Rumus struktur :

RM : KMnO4
BM : 158,03
Pemerian : hablur mengkilap; ungu tua atau hampir hitam, tidak
berbau, rasa manis atau sepat.
Kelarutan : larut alam 16 bagian air, mudah larut dalam air
mendidih
Kegunaan : Sebagai pereaksi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2.2.7 Methanol (Dirjen POM, 1979:Rowe, 2009)
Nama resmi : METANOL
Nama lain : Methanol Absolute
Berat molekul : 32.04 g/mol
Rumus molekul : CH3OH
Rumus struktur :

Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih


tidak berwarna
Pemerian : Pada “keadaan atmosfer” ia berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah
terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau
lebih ringan daripada etanol).
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Sebagai pelarut

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
3.1.1 Waktu Praktikum
Praktikum Analisis farmasi dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 23 maret
2019 pukul 08.00-11.00 WITA.
3.1.2 Tempat Praktikum
Tempat pelaksanaan praktikum Analisis farmasi bertempat di Laboratorim
Teknologi Farmasi Kampus 1, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan
Universitas Negeri Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Lumpang dan alu, tabung reaksi, rak tabung, pipet, kain saring, handscoon,
penangas dan penjepit.
3.2.2 Bahan
Alkohol 70%, almunium foil, aquadest, kalium permanganat, asam
kromatofat, asam sulfat, larutan fehling, bakso, mie basah, tahu, nugget, ikan, tisu.
3.3 Cara Kerja
a. Metode permanganat
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%.
3. Dihaluskan sampel
4. Diperas menggunakan kain saring dan diambuil filtratnya
5. Di ambil 1 ml dan di masukkan ke dalam tabung reaksi
6. Ditambahkan larutan KMnO4 0,1 N sebanyak 3 tetes
7. Diamati apakah terjadi perubahan warna ungu tua menjadi merah bata
hingga coklat kemudian bening mendakan adanya formalin
b. Metode Asam Kromatatofat
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Dihaluskan sampel
4. Diperas menggunakan kertas saring dan diambil filtratnya
3. Di ambil sebanyak 1 ml larutan sampel
4. Ditambahkan 1 mg asam kromatografi dan 1 mL asam sulfat pekat
5. Diamati perubahan warna mereah muda hingga ungu menandakan
formalin
c. Metode asam sitrat
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Dihaluskan sampel
4. Diperas menggunakan kertas saring dan di ambil filtratnya
5. Diambil sebanyak 1 ml larutan sampel
6. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml larutan sulfat dan
20 mg asam salisilat
7. Diamati akan terbentuk warna merah yang stabil
d. Metode Fehling
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Dihaluskan sampel
4. Diperas menggunakan kertas saring dan diambil filtratnya
5. Diambil sebanyak 1 mL larutan sampel dimasukkanke dalam tabung reaksi
6. Ditambhakan 1 mL larutan fehling
7. Dipanaskan diatas penangas air
8. Diamati perubahan warna menjadi biru tua setelah ditambahkan larutan
fehling dan setelah dipanaskan terdapat endapan merah bata memandakan
adanya formalin

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Metode Permanganat
Sampel Gambar Keterangan

Bakso
Negatif mengandung formalin

Tahu Negatif mengandung formalin


Mie Basah
Negatif mengandung formalin

Nuget Negatif mengandung formalin

Ikan Negatif mengandung formalin

4.1.2 Metode Kromatofat

Sampel Gambar Keterangan

Bakso
Positif mengandung formalin

Tahu Positif mengandung formalin


Mie Basah
Negatif mengandung formalin

Nuget Negatif mengandung formalin

Ikan Negatif mengandung formalin

4.1.3 Metode Asam Sitrat


Sampel Gambar Keterangan

Bakso
Negatif mengandung formalin

Tahu Negatif mengandung formalin


Mie Basah
Negatif mengandung formalin

Nuget Negatif mengandung formalin

Ikan Negatif mengandung formalin

4.1.4 Metode Fehling


Sampel Gambar Keterangan

Bakso
Negatif mengandung formalin

Tahu Negatif mengandung formalin


Mie Basah
Negatif mengandung formalin

Nuget Negatif mengandung formalin

Ikan Negatif mengandung formalin

4.2 Pembahasan

Formalin adalah larutan formaldehid dalam air dengan kadar 37% yang
biasa di gunakan untuk mengawetkan sampel biologi atau mengawetkan mayat.
Formalin merupakan bahan kimia yang disalah gunakan pada pengawetan tahu,
mie basah, dan bakso. Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan
sehari-hari (Asambo, 2013). Menurut Widyaningsih (2006), formalin dapat
bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernafasan.
Di dalam tubuh cepat teroksidasi membentuk asam format terutama di hati dan sel
darah merah. Pemakaian pada makanan dapat mengakibatkan keracunan pada
tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut disertai muntah-muntah,
timbulnya depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah.
Maka dari itu dilakukan praktikum analisis kandungan formalin pada
sampel bakso, tahu,mie basah, nuget dan ikan yang merupakan bahan makanan
pokok yang sering dikonsumsi. Analisis kandungan formalin pada makanan ini
menggunakan uji kualitatif dengan metode permanganat, metode kromatofat,
metode asam sitrat dan metode fehling. Hal pertama yang dilakukan adalah
menyiapkan alat dan bahan. dibersihkan alat-alat yang akan digunakan dengan
alkohol 70%. Menurut Rowe et al (2009), walaupun alkohol banyak digunakan
sebagai pelarut namun alkohol juga berkhasiat sebagai desinfektan dan
antimikroba.
Masing-masing sampel dihaluskan dengan lumpang dan alu kemudian
disaring dengan kain saring. Untuk uji permanganat, di ambil 1 mL filtrat hasil
penyaringan tiap sampel dan dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi.
Ditambahkan 1 mL kalium permanganat ke dalam tabung reaksi. Menurut Siti
Marwanti (2013), validasi uji formalin dengan pereaksi schryver dan kalium
permanganat, bahwa kalium permanganat merupakan pereaksi spesifik dari
formalin. Oleh karena itu kalium permanganat dapat digunakan untuk pengujian
formalin pada sampel-sampel yang diduga mengandung formalin. Dari hasil uji
yang didapat, dari kelima sampel yaitu bakso, tahu, mie basah, nuget dan ikan
negatif mengandung
formalin karena tidak terjadi perubahan warna. Reaksi yang terjadi antara
formalin dan kalium permanganat adalah:

Untuk uji asam kromatofat, di ambil 1 mL filtrat tiap-tiap sampel dan


dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi. Dimasukkan 1 mL asam
kromatofat ke dalam lima tabung reaksi. Menurut Fagnani (2002), ditambahkan
asam sulfat untuk memberikan suasana asam, karena reaksi antara asam
kromatofat dan formalin dapat terjadi pada suasana asam. Dari hasil uji asam
kromatofat, didapatkan hasil negatif pada sampel mie basah, nuget, dan ikan.
Sedangkan untuk sampel bakso dan tahu hasilnya positif dimana terjadi perubahan
warna menjadi merah muda hingga ungu. Reaksi yang terjadi antara formalin dan
asam kromatofat adalah:

Uji yang ketiga yaitu uji asam sitrat. Di ambil 1 mL filtrat ke lima sampel
dan dimasukkan ke masing-masing tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 1 mL
asam sitrat ke dalam tabung reaksi dan dipanaskan di atas penangas air hingga
terjadi perubahan warna. Menurut Ridwan (1990), pemisahan senyawa aldehid
dapat dilakukan dengan penambahan asam. Hasil uji dinyatakan positif apabila
terjadi endapan merah bata. Hasil yang didapatkan dari kelima sampel
menunjukkan bahwa tidak terjadi endapan merah bata sehingga dapat disimpulkan
ke lima sampel yaitu bakso, mie basah, tahu, nuget dan ikan negatif mengandung
formalin. Reaksi yang terjadi antara formalin dan asam sitrat adalah:

Uji yang terakhir yaitu, uji fehling. Uji ini dilakukan dengan penambahan
1 mL larutan fehling ke dalam lima tabung yang berisi masing-masing 1 mL filtrat
sampel dan dipanaskan di atas penangas air. Hasil uji positif apabila terjadi
perubahan warna dari biru menjadi endapan merah bata. Menurut Fessenden
(1986), Pemanasan dilakukan karena pereaksi fehling kurang stabil pada larutan
dingin (temperatur rendah) sehingga dibutuhkan pemanasan agar fehling stabil.
Perubahan warna terjadi karena senyawa aldehid dioksidasi menjadi asam
karboksilat dan terbentuk endapan Cu2O berwarna merah bata (Fessenden, 1986).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini yakni :
1. Dengan melakukan percobaan mengidentifikasi formalin yang terdapat
pada makanan, kita mampu membedakan makanan yang mengandung formalin
dan makanan yang tidak mengandung formalin dengan melakukan beberapa
metode pengujian formalin. Makanan yang teridentifikasi mengandung formalin
yakni akan berubah warna menjadi dan ada juga yang akan mengalami terjadinya
endapan setellah dilakukan uji formalin.
2. Pada percobaan kali ini, kami mengetahui cara mengetahui adanya
formalin pada makanan dengan melakukan beberapa metode pengujian formalin
yang terkandung dalam makanan dengan metode menggunakan permanganat,
metode asam kromatofat, metode asam sitrat dan metode fehling. Dari hasil yang
kami peroleh, ada beberapa sampel negatif mengandung formalin, karena tidak
terjadi perubahan pada sampel saan dilakukan pengujian identifikasi formalin.
Namun ada beberapa sampel yang positif mengandung formalin yang ditemukan
pada pengujian asam kromatofat karena adanya perubahan warna yang tejadi pada
sampel dimana warna tersebut menunjukan bahwa adanya kandungan formalin
pada sampel tersebut.
5.2 Saran
5.2.1 Jurusan
Diharapkan agar jurusan dapat menambah sarana dan prasarana yang ada
di Laboratorium, agar praktikum dapat berlangsung dengan maksimal karena
adanya ketersediaan dari sara dan prasarana dalam Laboratorium.
5.2.2 Laboratorium
Diharapkan agar menambah fasilitas atau alat-alat laboratorium agar
praktikan dapat mengikuti praktikum dengan baik.

5.2.3 Asisten
Diharapkan supaya kerjasama antara asisten dan praktikan lebih
ditingkatkan dengan banyak memberi materi atau pengetahuan mengenai yang
akan dipraktekan dilaboratorium teknologi farmasi.
DAFTAR PUSTAKA
Astawan, Made, 2006. Mengenal Formalin Dan Bahayanya. Jakarta: Penebar
Swadaya
Cahyadi, Wisnu, 2006. Analisis dan Aspek Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: PT
Bumi Aksara
Cahyo, Saparinto. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta: Kanisius
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta: Depkes RI
Efendi. 2009. Analisis Kualitatif adanya Formaldehid pada ikan asin. Semarang:
AIN Walisongo
Fagnani, 2002. Chromatropic Acid Formaldehyde Reaction In Strongly Acidic
Media. The Rule Of Dissolved Oxygen And Replacement Og Concentrated
Sulphuric Acid . Instituto De qui mica-UNESP . Araraquara Brazil
Harmita. 2010. Amankah Pengawet Makanan Bagi Manusia. Jakarta: Penebar
Swadaya
Herdiantini, E., 2003. Analisis Bahan Tambahan Kimia (Bahan Pengawet Dan
Pewarna) Yang Dilarang Dalam Makanan. Bandung: Fakultas Teknik
Universitas Pasundan.
Matta, Michael. 1986. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung: penerbit
ITB.
Norman, R.O.C and D.J. Waddington, 1983. Modern Organic Chemistry. New
York: Colliens Educational.
Ridwan, S. 1990. Kima Organik. Edisi ke-1, Binarupa Aksara, Jakarta. Indonesia
Rowe, R. et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients Six Edition.
London: Pharmaceutical Press
Shenna, A. 2011. Kadar formalin dan metanil yellow dalam mie basah yang
beredar di pasaran secara kromatografi cair kinerja tinggi. Skripsi.
Program Studi Kimia. Bogor: Universitas Pakuan.
Silvana, P. T. 2016. Uji Formalin pada mie basah di sekitar Universitas
Tarumagara Jakarta. Prosiding Seminar Hasil Penerapan Penelitian dan
Pengambdian Masyarakat III 2016.
Siti Marwati. 2013. Validasi Uji Formalin dengan Pereaksi Schryver dan Kalium
Permanganat. e-Jurnal Univ.Negeri Yogyakarta.
Widyaningsih, T.W, dan E.S. Murtini, 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada
Produk Pangan. Trubus Agirasana, Surabaya.
Widyaningsih, TD. 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada Produk Pangan.
Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1
1. Alat dan Bahan
a. Alat
No Nama Alat Gambar Fungsi
1. Tabung reaksi Untuk mereaksikan
sampel

2. Rak tabung Untuk tempat tabung

3. Lumpang dan alu Digunakan Untuk


menghaluskan sampel

4. Untuk menghaluskan
sampel

b. Bahan
No Nama Gambar Fungsi
1. Alkohol 70% Digunakan sebagai
desinfektan.

2. Formalin Sebagai bahan


pembanding

3. Asam kromatofat Sebagai pereaksi

4. Sebagai pereaksi

Asam sitrat

5 KNO4 Sebagai pereaksi


6. Ikan Sebagai sampel

7. Bakso Sebagai sampel

8. Mie basah Sebagai sampel

9. Tahu Sebagai sampel

10. Nugget Sebagai sampel


Lampiran 2
Diagram alir
a. Metode Permanganat

Sampel

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Dihaluskan sampel
- Diperas menggunakan kain saring dan diambuil filtratnya
- Di ambil 1 ml dan di masukkan ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan larutan KMnO4 0,1 N sebanyak 20 tetes
- Diamati apakah terjadi perubahan warna ungu tua menjadi
merah bata hingga coklat kemudian bening mendakan adanya
formalin

Dilihat perubahan
warna (negatif)

b. Metode Asam Kromatofat

Sampel

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Dihaluskan sampel
- Di ambil sebanyak 1 ml larutan sampel
- Ditambahkan 1 mg larutan asam kromatografi
- Ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat
- Diamati perubahan warna mereah muda hingga ungu
menandakan formalin

Dilihat perubahan
warna (positif
pada bakso dan
c. Metode Asam
tahu) Sitrat

Sampel

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Dihaluskan sampel
- Dihaluskan sampel
- Diperas menggunakan kertas saring dan di ambil filtratnya
- Diambil sebanyak 1 ml larutan sampel
- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml larutan
sulfat deddan 20 mg asam salisilat
- Diamati akan terbentuk warna merah yang stabil

Dilihat perubahan
warna (negatif)
-

Lampiran 3

Skema Kerja
a. Metode Permanganat
Dibersihkan alat Dihaluskan sampel Diperas
menggunakan menggunakan kain
alkohol 70% saring dan diambil
filtratnya

Diamati perubahan Ditambahkan larutan Diambil setiap 1 ml


warna dari ungu tua KNO4 0,1 N dari sampel
menjadi merah bata sebanyak 3 tetes dimasukkan ke
hingga coklat dalam tabung
kemudian bening
reaksi
menandakan
adanya formalin

b. Metode Asam Kromatatofat

Diperas
Dibersihkan alat Dihaluskan sampel
menggunakan kain
menggunakan
saring dan diambil
alkohol 70%
filtratnya

Diamati perubahan
Ditambahkan 1 ml Ditambahkan 1 mg Diambil setiap 1
warna merah muda
asam sulfat pekat asam kromatograf ml dari sampel
hingga ungu
menandakan dimasukkan ke
adanya formalin dalam tabung
reaksi
c. Metode Asam Sitrat

Dipanaskan akan Diambil setiap 1


terbentuk warna ml dari sampel
Dibersihkan alat merah yangsampel
Dihaluskan stabil dimasukkan
Diperas ke
menggunakan dalam
menggunakan tabung
kain
alkohol 70% reaksi
saring dan diambil5
yang berisi
ml larutan sulfat
filtratnya
dan 20 mg asam
salisilat
b. Metode Fehling

Diperas
Dibersihkan alat Dihaluskan sampel
menggunakan kain
menggunakan
saring dan diambil
alkohol 70%
filtratnya

Diamati perubahan Ditambahkan 1 mL Diambil setiap 1


warna menjadi biru larutan fehling dan ml dari sampel
tua hingga dipanaskan diatas dimasukkan ke
terbentuk endapan penangas air dalam tabung
merah bata reaksi
menandakan
adanya formalin

Anda mungkin juga menyukai