Anda di halaman 1dari 43

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

ANALISIS KEPATUHAN DOKTER DALAM MENGISI REKAM


MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

KABUPATEN BEKASI

Oleh :
RAHMI REFANTI
NIM 20170309131

TESIS

Diajukan Kepada
Program Studi Magister Manajemen
Program Pascasarjana Universitas Esa Unggul Jakarta
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Gelar Magister dalam Ilmu Magister Manajemen

PROGRAM STUDI
MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA

2019

i
KATA PENGANTAR

Assalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah Subhanallahi Wata`ala,


yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah serta inayahNya, sehingga
penulis telah berhasil menyelesaikan tesis dengan judul :
“ANALISIS KEPATUHAN DOKTER DALAM MENGISI REKAM MEDIS
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BEKASI
Dalam penyusunan tesis ini , penulis telah berusaha sebaik-baiknya sesuai
dengan kemampuan yang ada. Namun demikian tanpa adanya bantuan, bimbingan
dan dorongan dari semua pihak , penulis akan lebih banyak mengalami kesulitan
dan hambatan untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang
baik ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada :

1.DR. Rokiah Kusumapradja, MHA selaku Ketua Program Studi Magister


Administrasi Rumah Universitas Esa Unggul.
2.Dr. dr. M Natsir Nugroho, MMR, Sp.OG selaku Dosen Pembimbing Pertama
yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam membimbing penyusunan
Proposal Tesis ini.
3.M.Reza Hilmy,SKM,MARS,Ph.D selaku Dosen Pembimbing Kedua yang telah
meluangkan waktu dan pikirannya dalam membimbing penyusunan Proposal Tesis
ini.
4.Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Program Studi Magister Administrasi Rumah
Sakit yang telah banyak membantu selama menuntut ilmu di Universitas Esa
Unggul.
5.Teruntuk keluarga yang telah memberikan doa, support dan dukungan kepada
penulis.
Rekan - rekan mahasiswa seperjuangan dan semua pihak yang membantu sehingga
proposal tesis ini bisa diselesaikan.
Dalam penyusunan proposal tesis ini tentu masih banyak kekurangan dan
kesalahan, untuk itu kritik dan saran senantiasa diharapkan agar dapat bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.

Tangerang, November 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………........................... i
HALAMAN PERSETUJUAN TESIS ....………………………........................ ii

HALAMAN PENGESAHAN TESIS ....………………………........................ iii

HALAMAN PERSEMBAHAN DAN MOTTO ....................………………. iv

KATA PENGANTAR …………………………….........................………………. v

DAFTAR ISI ………………………………………………………........................... vi

DAFTAR GAMBAR ....…………………………………………………………......... ix

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………….......... x

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………. xi

A. Latar Belakang Penelitian ....……………………………………. 1

B. Perumusan Masalah ………………………………….……………. 4

C. Tujuan Penelitian ………….…………………………………………. 5

D. Manfaat penelitian………...…………………..……………......... 6

BAB II TINJAUN PUSTAKA

A. Rekam Medis ………………………………........................... 7

1. Pengertian Rekam Medis .................................. 7

2. Tujuan dan Manfaat Rekam Medis ................... 8

iiii
3. Mutu Rekam Medis ............................................ 11

B. Faktor Faktor Yang Berhubngan Dengan Kepatuhan

Dokter Dalam Mengisi Rekam Medis ……………………. 12

1. Aspek Internal ................................................... 12

2. Aspek Eksternaal …………………………………………… 17

C. Aspek Hukum, Disiplin, Etik Dan Kerahasiaan Rekam Medis 18

1. Sanksi Hukum ……………………………………………….. 19

2. Sanksi Disiplin dan Etik ………………………………….. 19

D. Penelitian Sebelumnya ............................................ 20

E. Kerangka Pikiran ...................................................... 23

F. Hipotesis ……………………………………………………………… 24

BAB III METODE PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….. 50

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Pengelolaan penyimpanan dan pemusnahan rekam medis dalam Rumah Sakit tidak
dapat dipandang sebelah mata. Menurut Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/ 2008 tentang
Rekam Medis pada pasal 1, rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah
diberikan kepada pasien. Setiap rumah sakit harus membuat rekam medis baik itu rekam medis
rawat jalan maupun rekam medis rawat inap. Rekam medis juga berguna sebagai bukti tertulis
atas tindakan-tindakan pelayanan terhadap seseorang pasien, juga mampu melindungi
kepentingan hukum bagi pasien yang bersangkutan, rumah sakit maupun dokter dan tenaga
kesehatan lainnya, apabila dikemudian hari terjadi suatu hal yang tidak diinginkan menyangkut
rekam medis itu sendiri.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan medis yakni dengan


dikeluarkannya Surat keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.0436/
Men.Kes/SK/VI/1993 tentang telah berlakunya Standar Pelayanan Rumah Sakit dan Standar
Pelayanan Medis di Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan program akreditasi yang
meliputi kegiatan di Rumah Sakit salah satunya adalah Rekam Medis.

Secara umum, rekam medis memiliki pelbagai peran penting dalam pelayanan
rumah sakit, yakni :
1. Menjadi sarana komunikasi antara dokter dan petugas kesehatan yang lain.
2. Mendasari perencanaan pelayanan pasien
3. Memungkinkan dokumentasi perjalanan penyakit pasien dan pengobatan yang diberikan
4. Merupakan bahan kajian, analisis dan evaluasi kualitas pelayanan pasien
5. Menjadi dokumen hukum bagi kepentingan pasien, rumah sakit dan dokter
6. Menghasilkan data untuk penelitian dan pendidikan
7. Memberikan informasi kepada pihak asuransi, BPJS atau pihak pembayar lain.

Melihat begitu pentingnya suatu rekam medis, perlu adanya pengelolaan yang baik dan
benar untuk mencapai keberhasilan tertib administrasi dalam peningkatan mutu pelayanan

v
rumah sakit kepada masyarakat. Dalam hal ini rumah sakit bertanggung jawab untuk melindungi
data yang ada di dalam rekam medis terhadap kemungkinan hilangnya keterangan atau
pemalsuan data yang ada di dalamnya ataupun digunakan oleh orang yang tidak berhak, serta
tidak boleh dibawa keluar dari rumah sakit kecuali permintaan pengadilan dengan izin tertulis
dari karumkit/direktur rumah sakit tersebut.

Rekam medis harus disimpan sesuai dengan peraturan yang ada di Rumah Sakit. Untuk
sarana pelayanan kesehatan dirumah sakit, rekam medis pasien harus disimpan sekurang-
kurangnya lima tahun sejak pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat di rumah sakit.
Setelah lima tahun berlalu dan pasien tidak lagi datang berkunjung, maka rekam medis dapat
dimusnahkan kecuali ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medik.

Berkas rekam medis pada rak penyimpanan tidak selamanya akan disimpan. Hal ini
dikarenakan jumlah rekam medis di rumah sakit terus bertambah sehingga ruang penyimpanan
akan penuh dan tidak mencukupi lagi untuk rekam medis yang baru. Pemusnahan rekam medis
merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pihak rumah sakit dengan tujuan mengurangi
penumpukan berkas rekam medis di ruang penyimpanan. Pemusnahan adalah kegiatan
menghancurkan secara fisik arsip yang sudah berakhir fungsinya serta yang tidak memiliki nilai
guna (Barthos, 2007).

Berkas rekam medis dikatakan aktif ketika tanggal pulang atau tanggal kunjungan
terakhir masih dalam jangka waktu lima tahun dari tanggal sekarang. Berkas rekam medis
dikatakan inaktif ketika rekam medis tersebut jarang diambil dan disimpan kembali dimana
pasien tidak kembali lebih dari 5 tahun dari tanggal kunjungan terakhir. Oleh karena itu, file-file
rekam medis inaktif disimpan di tempat yang jarang diakses daripada rekam medis yang masih
aktif (Skurka, 2003). Retensi berkas rekam medis adalah penyusutan atau pengurangan jumlah
formulir yang terdapat di dalam berkas RM dengan cara memilah nilai guna dari tiap-tiap
formulir.

Oleh sebab itu diperlukan penataan ruang yang tertata rapi sehingga dapat mengurangi
tingkat kejenuhan dan tingkat hambatan gerak kerja petugas. Keadaan ruang yang sempit dapat
mempengaruhi kenyamanan, memperlambat pekerjaan petugas dan menghambat proses
pelayanan.Yang diartikan dengan ruang kerja “tidak mencukupi menampung beban kerja”
adalah jika ruang kerja terlalu kecil untuk menampung kegiatan assembling berkas, koding
berkas, tata usaha unit rekam medis, tempat atau ruang menyimpan berkas rekam medis aktif.
Ketidakcukupan ruangan kerja akan mempengaruhi pengaturan alur penanganan berkas rekam
medis.

vi
Pengelolaan rekam medis membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki
kompetensi dan pengetahuan tentang administrasi rekam medis, dimulai dari kegiatan
penerimaan pasien, pencatatan, pengolahan data medis, penyimpanan dan pengambilan kembali
serta pemusnahannya. Petugas atau pegawai rekam medis pada setiap rumah sakit diharapkan
adalah orang-orang yang benar-benar mampu mengelola rekam medis baik fisik maupun isi
daripada rekam medis. Petugas rekam medis diharapkan dapat mengontrol siklus dari rekam
medis yang merupakan milik dari setiap pasien rumah sakit tersebut. Pengelolaan rekam medis
harus terus dipantau dan dievaluasi setiap bulannya agar tercapai mutu pelayanan medis yang
baik.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, rumah sakit ini telah
melakukan pengelolaan rekam medis secara sentralisasi. Artinya, semua rekam medis atas nama
seorang pasien baik rawat jalan, rawat inap maupun gawat darurat disimpan dalam satu berkas
dibawah satu nomor. Pengelolaan rekam medis ini dipusatkan pada satu lokasi yaitu unit Rekam
Medis yang bertugas mengatur perencanaan, penyelenggaraan dan pengendalian kegiatan rekam
medis bagi seluruh fungsi-fungsi rumah sakit, diantaranya pelayanan bagi pasien rawat jalan,
rawat inap maupun gawat darurat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


512/Menkes/PER/IV/2007 Tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran BAB I
pasal 1 ayat 10, Standar Prosedur Operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah-langkah
yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu, dimana Standar Prosedur
Operasional memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk
melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan
kesehatan berdasarkan standar profesi. Kebijakan dan prosedur harus tersedia yang
mencerminkan pengelolaan unit rekam medis dan menjadi acuan bagi staf rekam medis yang
bertugas (Wijono, 2000).

Dari sekian banyak kegiatan di pengelolaan rekam medis di Rumah Sakit, maka peneliti
dalam hal ini khusus memfokuskan pembahasan mengenai penyimpanan dan pemusnahan
berkas rekam medis karena kedua hal tersebut merupakan permasalahan yang sering dihadapi
oleh unit Rekam Medis di Rumah Sakit, terutama bila adanya keterbatasan rak dan ruang
penyimpanan berkas rekam medis.

vii
1.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah yang dihadapi di RS dr. Suyoto
Pusrehab Kemhan, ada beberapa hal yang perlu diuraikan, mengingat adanya keterbatasan ruang
penyimpanan berkas rekam medis aktif dan belum terlaksananya pemusnahan berkas rekam
medis inaktif, hal ini ditandai dengan menumpuknya berkas rekam medis inaktif tersebut di
gudang penyimpanan. Oleh karena itu akan dilakukan penelitian mengenai tata kelola
penyimpanan dan pemusnahan berkas rekam medis RSUD KABUPATEN BEKASI 2008.

Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi mempunyai tiga ruang penyimpanan rekam medis
aktif dan tidak mempunyai ruang penyimpanan rekam medis inaktif secara khusus. Rekam
medis inaktif di simpan di ruang penyimpanan berkas retensi yaitu gudang penyimpanan. Karena
ruang tersebut sudah penuh ada sebagian rekam medis inaktif yang disimpan di dalam kardus
dan hanya diletakkan di lantai dekat tangga darurat. Untuk mengurangi berkas rekam medis
inaktif tersebut rumah sakit perlu melakukan pemusnahan.

Bertitik tolak dari pengertian serta hasil pengamatan di RSUD KABUPATEN BEKASI
bahwa pengelolaan rekam medis yang ada di RSUD KABUPATEN BEKASI saat ini terdapat
hambatan, karena :
1. Dengan adanya program JKN yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui BPJS, RSUD
KABUPATEN BEKASI turut mendukung program tersebut dengan cara menerima pasien
JKN dari BPJS terhitung Januari 2014, hal ini menambah beban jumlah rekam medis yang
harus dikelola dengan baik.
2. Keterbatasan fasilitas, ruang dan rak penyimpanan rekam medis mengakibatkan terjadinya
penumpukan rekam medis, sehingga perlu dilakukan pemilahan berkas rekam medis aktif
dengan inaktif.
3. Kompetensi dan jumlah petugas rekam medis masih kurang sehingga adanya rangkap tugas
dan bisa mengakibatkan keterlambatan pencatatan dalam pengelolaan penyimpanan dan
pemusnahan rekam medis.
4. Belum dilaksanakannya pemusnahan berkas rekam medis inaktif yang menyebabkan
penumpukan di gudang penyimpanan.
5. Belum terlaksananya sosialisasi kebijakan dan SPO pedoman penyelenggaraan rekam medis
secara rutin oleh manajemen RS, terutama untuk pengelolaan penyimpanan dan pemusnahan
rekam medis itu sendiri.

viii
1.3. PERTANYAAN PENELITIAN

1. Bagaimana proses pengelolaan penyimpanan rekam medis aktif dan pemusnahan rekam
medis inaktif di RSUD KABUPATEN BEKASI
2. Bagaimana kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola penyimpanan dan
pemusnahan berkas rekam medis di RSUD KABUPATEN BEKASI
3. Bagaimana kesiapan sarana dan prasarana untuk pengelolaan penyimpanan dan
pemusnahan berkas rekam medis tersebutBagaimana standar prosedur operasional dan
kebijakan yang mengatur penyimpanan dan pemusnahan berkas rekam medis tersebut?

1.4. TUJUAN PENELITIAN

1.4.1. Tujuan Umum


Mengetahui penyimpanan dan pemusnahan berkas rekam medis di unit rekam medis
RSUD KABUPATEN BEKASI

Tujuan Khusus

1. Diketahuinya proses pengelolaan penyimpanan rekam medis aktif dan pemusnahan


rekam medis inaktif beserta permasalahannya.
2. Diketahuinya kompetensi dan kesiapan sumber daya manusia di unit rekam medis
dalam mengelola penyimpanan dan pemusnahan rekam medis.
3. Diketahuinya keterbatasan fasilitas ruang penyimpanan dan fasilitas pemusnahan
rekam medis
4. Diketahuinya kebijakan dan standar prosedur operasional rekam medis yang dibuat
oleh manajemen Rumah sakit, khususnya untuk proses pengelolaan dan pemusnahan
rekam medis.

1.5. MANFAAT PENELITIAN


1.5.1 Bagi Rumah Sakit
 Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pihak RSUD
KABUPATEN BEKASI sebagai ajang evaluasi dan kontrol kegiatan
operasional penyimpanan dan pemusnahan rekam medis
 Mengetahui keterbatasan fasilitas yang ada dalam pengelolaan penyimpanan
dan pemusnahan rekam medis di unit Rekam Medis.
 Menambah kompetensi dan kesiapan SDM dalam mengelola penyimpanan dan
pemusnahan unit rekam medis.

ix
 Mensosialisasikan kebijakan dan SPO pedoman penyelenggaraan rekam medis,
agar dapat mengoptimalkan pelayanan yang diberikan kepada pasien.

1.5.2 Bagi Peneliti


 Mendapatkan wawasan, pengalaman, pembelajaran dan pengetahuan yang
lengkap dan jelas mengenai permasalahan yang ada dalam suatu sistem
pengelolaan penyimpanan dan pemusnahan rekam medis, agar dapat
mempraktekannya dalam menghadapi permasalahan yang sama di unit rekam
medis yang tepat di rumah sakit.
 Mengasah kemampuan melakukan pengkajian terhadap suatu masalah
organisasi melalui pendekatan diagnosis organisasi, pendekatan sistem dan
pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach).
 Menambah pengalaman belajar dalam rangka penerapan kemampuan dalam
metode penelitian.
 Melihat secara langsung pelaksanaan pengelolaan penyimpanan dan
pemusnahan rekam medis di lapangan.

1.5.3 Bagi Program Manajemen Administrasi Rumah Sakit


 Menambah pengetahuan, wawasan dan informasi bagi perkembangan imu
pengetahuan, khususnya dalam bidang keilmuan administrasi rumah sakit.
 Dapat dijadikan sebagai tambahan pustaka dan referensi.
 Menjadi bahan masukan untuk evaluasi pendidikan serta hasil penelitian ini
dapat dipakai sebagai masukan informasi dalam rangka pengembangan proses
belajar mengajar maupun untuk penelitian selanjutnya.

x
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 REKAM MEDIS


2.1.1 Sejarah Rekam Medis

Di Indonesia sejarah dan perkembangan rekam medis dijumpai dengan adanya resep-resep
jamu warisan nenek moyang yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui catatan pada
daun lontar dan sarana lain yang dapat digunakan sesuai dengan zamannya.

Perkembangan rekam medis di indonesia sejak jaman masa pra kemerdekaan, rumah sakit
di indonesia sudah melakukan kegiatan pencatatan, namun masih belum dilaksanakan dengan
benar, baik penataan atau mengikuti sistem informasi yang benar. Penataan masih bergantung
kepada sitem yang diinginkan oleh masing-masing pimpinan atau kepala rumah sakit.

Dengan keluarnya PP No.10 Tahun 19601, semua petugas kesehatan diwajibkan untuk
menyimpan rahasia kedokteran, termasuk berkas rekam medis. Kemudian untuk pembenahan
yang lebih baik di mulai sejak diterbitkannya Keputusan MenKes RI No. 031/Birhup/1972 yang
menyatakan bahwa semua rumah sakit diharuskan mengerjakan medical recording dan reporting,
dan hospital statistic. Keputusan MenKes RI No.034/Birhup/1972 tentang Perencanaan dan
Pemeliharaan Rumah Sakit. “Guna menunjang Rencana Induk (Master Plan) yang baik, maka
setiap RS diwajibkan mempunyai dan merawat statistik yang up to date, membina medical
record berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan“. Keputusan MenKes RI No.
134/MenKes/SK/IV/78, tgl 28 April 1978, tentang SOTK RSU. “ Sub Bagian (Urusan)
Pencatatan Medis mempunyai tugas mengatur Pelaksanaan Kegiatan Pencatatan Medik “.

Regulasi yang mengatur tentang Rekam Medis adalah Adanya UU Praktik Kedokteran
No. 29 tahun 2004 pasal 46, “Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik
kedokteran wajib membuat rekam medis”. PerMenKes RI No. 269/MenKes/Per/III/2008,
tentang Rekam Medik (Medical Record). Dan UU no 44 tahun 2009 pasal 29 tentang
penyelenggaraan Rekam Medis.

xi
2.1.2 Pengertian Rekam Medis

Menurut Edna K.Huffman (Health information Management, physician Record Co,


1994)2 Rekam Medis adalah Kumpulan dari fakta-fakta atau bukti keadaan pasien, riwayat
penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang di tulis oleh profesi kesehatan yang
memberikan pelayanan pada pasien tersebut.

Dalam Permenkes No. 749a/Menkes!Per/XII/19893, rekam medis adalah berkas yang


berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Catatan medis/kesehatan merupakan bagian penting dari ini pasien dan perawatan
kesehatan masa depan. Sebagai kumpulan ditulis informasi tentang kesehatan dan pengobatan
pasien, mereka digunakan pada dasarnya untuk saat ini dan melanjutkan perawatan pasien .
Selain itu , catatan medis yang digunakan dalam pengelolaan dan perencanaan fasilitas dan
pelayanan kesehatan , untuk penelitian medis dan produksi statistik kesehatan (WHO,2006)4

Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah di berikan kepada pasien
(permenkes 269/2008)5

Dengan melihat keempat pengertian di atas dapat dikatakan bahwa suatu berkas rekam
medis mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya sekedar catatan biasa, karena didalam
catatan tersebut sudah memuat segala informasi menyangkut seorang pasien yang akan dijadikan
dasar untuk menentukan tindakan lebih lanjut kepada pasien.

Unit Rekam Medis, di suatu sarana pelayanan kesehatan, merupakan suatu unit yang
mempunyai tugas menyelenggarakan dan mengkoordinasikan pelayanan rekam medis dan
pemantauan mutu rekam medis di seluruh unit pelayanan serta menyelenggarakan dan
mengkoordinasikan pelayanan admisi pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan

2.1.3 Isi Rekam Medis

Isi rekam medis menyatakan siapa (who), apa (what), mengapa (why), dimana (where),
kapan (whwn) dan bagaimana (how) seorang pasien memperoleh pelayanan medik selama
berhbungan dengan rumah sakit, baik sebagai pasien yang di rawat jaan, rawat inap maupun
darurat.

a. Kelengkapan isian rekam resume rekam medis (PerMenKes


No.269/MENKES/PER/III/2008)

xii
1. Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan kesehatan
sekurang-kurangnya memuat :
a) Identitas pasien
b) Tanggal dan waktu
c) Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
d) Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis
e) Diagnosis
f) Rencana penatalaksanaan
g) Pengobatan dan/atau tindakan
h) Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
i) Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik, dan
j) Persetujuan tindakan bila diperlukan
2. Isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari sekurang-
kurangnya memuat :
a) Identitas pasien
b) Tanggal dan waktu
c) Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
d) Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis
e) Diagnosis
f) Rencana penatalaksanaan
g) Pengobatan dan/atau tindakan
h) Persetujuan tindakan bila diperlukan
i) Catatan observasi klini dan hasil pengobatan
j) Ringkasan pulang (discharge summary)
k) Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu yang
memerikan pelayanan kesehatan
l) Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu,dan
m) Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik
3. Isi rekam medis untuk pasien gawat darurat, sekurangnya memuat :
a) Identitas pasien
b) Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan
c) Identitas pengantar pasien
d) Tanggal dan waktu
e) Hasil anamnesis, mencakup sekurangnya keluhan dan riwayat penyakit
f) Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis

xiii
g) Diagnosis
h) Pengobatan dan/atau tindakan
i) Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat darurat
dan rencana tindak lanjut
j) Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu yang
memberikan pelayanan kesehatan
4. Isi rekam medis dalam keadaan bencana selain memenuhi ketentuan sebagaimana
yang dimaksud pada isi rekam medis untuk pasien gawat darurat ditambah dengan :
a) Jenis bencana dan lokasi diman pasien ditemukan
b) Kategori kegawatan dan nomor pasien bencana missal
c) Identitas yang menemukan pasien
5. Isi rekam medis untuk pelayanan dokter spesialis atau dokter gigi spesialis dapat
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
6. Pelayanan yang diberikan dalam ambulans atau pengobatan missal dicatat dalam
rekam medis sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur paada ayat (3) dan
disimpan pada sarana pelayanan kesehatan yang merawatnya.
b. Keakuratan
Adalah ketepatan catatan rekam medis, dimana semua data pasien ditulis dengan
teliti, cermat, tepat, dan sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

c. Tepat waktu
Rekam medis harus diisi dans etelah diisi harus dikembalikan ke bagian rekam medis
tepat waktu sesuai dengan peraturan yang ada.

d. Mematuhi persyatan hukum


Rekam medis memenuhi persyatan aspek hukum (Permenkes 269 Tahun 2008) yaitu :

1. Penulisan rekam medis tidak memakai pensil


2. Penghapusan tidak ada
3. Coretan, ralat sesuai dengan prosedur, tanggal dan tanda tangan
4. Tulisan harus jelas dan terbaca
5. Ada tanda tangan oleh yang wajib menandatangani dan nama petugas
6. Ada tanggal dan waktu pemeriksaan tindakan
7. Ada lembar persetujuan

Rekam medis disebut lengkap apabila :

xiv
a. Setiap tindakan yang dilakukan terhadap pasien, selambat-lambatnya dalam waktu
1x24 jam harus ditulis dalam lembar rekam medis
b. Semua pencatatan harus ditandatangani oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya
sesuai dengan kewenangannya, nama terang dan diberi tanggal
c. Dokter yang merawat dapat memperbaiki kesalahan penulisan yang terjadi dengan
wajar seperti mencoret kata/kalimat yang salah dengan jalan memberikan satu garis
lurus pada tulisan tersebut. Diberi inisial (singkatan nama) orang yang mengkoreksi
tadi dan mencantumkan tanggal perbaikan.

2.1.4 Tujuan Dan Kegunaan Rekam Medis

Tujuan rekam medis yaitu untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka
upaya peningkatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Tanpa didukung suatu sistem
pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, maka tertib administrasi mungkin tidak akan
berhasil sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan tertib administrasi merupakan salah satu
faktor yang mentukan di dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Seiring perkembangan teknologi informasi, tujuan rekam medis dibagi menjadi 2,


yaitu pelayanan pasien secara primer dan sekunder.

1. Tujuan primer rekam medis:


a. Bagi pasien
 Mencatat jenis pelayanan yang di terima
 Bukti pelayanan
 Mengetahui biaya pelayanan.
b. Bagi pihak pemberi pelayanan kesehatan
 Membantu kelanjutan pelayanan
 Sarana pengikat klinisi
 Menunjang pelayanan
 Mendokumentasikan pelayanan pasien
 Menghasilkan rencana pelayanan
 Mendokumentasikan faktor resiko pasien
c. Bagi manajemen pelayanan pasien
 Menganalisis kegawatan penyakit
 Merumuskan pedoman praktik penanganan resiko

xv
 Melaksanakan kegiatan menjaga
 Memberikan corak dalam menggunakan sarana pelayanan
d. Bagi penunjang pelayanan pasien
 Alokasi sumber
 Menilai beban kerja
 Mengkomunikasikan informasi berbagai unit kerja
e. Bagi pembayaran dan penggantian biaya
 Mengajukan klaim asuransi
 Menangani Pengeluaran
 Melaporkan pengeluaran
 Menetapkan biaya yang harus di bayar
2. Tujuan Sekunder rekam medis
a. Edukasi
 Bahan pengajaran
 Menyiapkan sesi pertemuan dan presentasi
 Mendokumentasikan pengalaman profesional dibidang kesehatan
b. Peraturan
 Bukti pengajuan perkara ke pengadilan
 Membantu pemasaran pengawasan
 Menilai kepatuhan sesuai standar pelayanan
 Membandingkan Organisasi pelayanan kesehatan
c. Riset
 Mengembangkan produk baru
 Melaksanakan riset klinis
 Menilai Teknologi
 Studi keluaran pasien
 Mengidentifikasi populasi yang beresiko
d. Pengambilan kebijakan
 Mengalokasikan sumber – sumber
 Melaksanakan rencana strategis
 Memonitor kesehatan masyarakat
e. Industri
 Melaksanakan Riset dan pengembangan
 Merencanakan strategi pemasaran

xvi
Kegunaan rekam medis adalah untuk mendokumentasikan segala riwayat penyakit pasien
dan pengobatannya pada satu kejadian maupun untuk masa-masa sesudahnya, baik ia sebagai
pasien rawat jalan maupun rawat inap. Depkes (1997) kegunaan dari rekam medis tersebut dapat
dilihat dari beberapa aspek yang disingkat “ALFREDS”, diantaranya :

1. Aspek Administrasi

Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena isinya menyangkut
tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan
perawat dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan

2. Aspek Hukum

Menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam
rangka usaha menegakkan hukum serta penyediaan bahan tanda bukti untuk
menegakkan keadilan

3. Aspek Keuangan

Isi Rekam Medis dapat dijadikan sebagai bahan untuk menetapkan biaya pembayaran
pelayanan . Tanpa adanya bukti catatan tindakan /pelayanan , maka pembayaran tidak
dapat dipertanggungjawabkan

4. Aspek Penelitian

Berkas Rekam medis mempunyai nilai penelitian , karena isinya menyangkut


data/informasi yang dapat digunakan sebagai aspek penelitian

5. Aspek Pendidikan

Berkas Rekam Medis mempunyai nilai pendidikan , karena isinya menyangkut


data/informasi tentang kronologis dari pelayanan medik yang diberikan pada pasien

6. Aspek Dokumentasi

Isi Rekam medis menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai
sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan sarana kesehatan

7. Aspek Medis

Catatan tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan


pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien

xvi
i
Berdasarkan aspek-aspek tersebut, maka rekam medis mempunyai kegunaan yang sangat
luas karena tidak hanya menyangkut antara pasien dengan pemberi pelayanan saja, yaitu :

1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan dokter lainnya, juga kepada tenaga
kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam memberikan perawatan, pengobatan
dan pelayanan kesehatan

2. Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan


kepada seorang pasien

3. Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan penyakit dan
pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di Rumah sakit

4. Sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian dan evaluasi terhadap program
pelayanan serta kualitas pelayanan

5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, sarana kesehatan maupun tenaga


kesehatan yang terlibat

6. Menyediakan data dan informasi yang diperlukan untuk keperluan pengembangan


program , pendidikan dan penelitian

7. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan kesehatan

8. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan serta bahan


pertanggungjawaban dan laporan.

2.1.5 Pengelolaan Berkas Rekam Medis

Menurut Dirjen Yanmed (2006) dijelaskan secara luas bahwa rekam medis tidak hanya
sekedar kegiatan pencatatan, akan tetapi mempunyai pengertian sebagai suatu sistem
penyelenggaraan suatu instalasi atau unit kegiatan. Sedangkan kegiatan pencatatannya sendiri
hanya merupakan salah satu bentuk kegiatan yang tercantum di dalam uraian tugas yang dimulai
pada saat diterimanya pasien di rumah sakit, diteruskan kegiatan pencatatan data medik pasien
selama pasien itu mendapatkan pelayanan medik di rumah sakit dan dilanjutkan dengan
penanganan berkas rekam medis yang meliputi penyelenggaraan penyimpanan serta pengeluaran
berkas dari tempat penyimpanan untuk melayani permintaan atau peminjaman apabila dari
pasien atau untuk keperluan lainnya.

xvi
ii
Kegiatan Rekam Medis berdasarkan SK Dirjen Yanmed No. YM.00.03.2.2.1296 tahun
1996, yaitu :

1. Penerimaan pasien
2. Pencatatan
3. Pengelolaan Data Medis
4. Penyimpanan Rekam Medis
5. Pengambilan kembali (Retrival)

Sedangkan berdasarkan Pedoman Akredetasi RS tahun 2002, kegiatan rekam medis yaitu:

1. Penerimaan pasien (pencatatan data sosial pasien)


2. Pencatatan data-data pelayanan
3. Pengelolaan data (coding, indexing)
4. Pelaporan
5. Penyimpanan atau pengambilan kembali

Dari penjelasan diatas maka secara garis besar kegiatan rekam medis terdiri dari 3
kegiatan, yaitu :

1. Pencatatan, yaitu pencatatan identitas pasien yang dilakukan di tempat pendaftaran


atau tempat penerimaan pasien (TPP) baik di rawat jalan, UGD, maupun rawat inap
dan dikerjakan oleh petuga rekam medis. Pencatatan anamnesa, pemeriksaan fisik,
diagnosis, pemeriksaan penunjang, terapi, dan tindakan medis dilakukan di tempat
pelayanan kesehatan rawat jalan, UGD, dan rawat inap serta ruang pemeriksaan
penunjang.
2. Pengelolaan atau pengarsipan, yaitu upaya mengelola rekam medis agar isinya
lengkap, mudah disimpan, dan mudah diambil kembaliika dibutuhkan. Pengelolaan
berkaitan dengan tempat penyimpanan rekam medis, sistem penomoran, alat-alat
yang digunakan, assembling, dan analisa baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
3. Pengelolaan data, yaitu kegiatan mengumpulkan, menghitung, dan menganalisa data-
data dari kegiatan maupun data-data medis dan non-medis yang ada direkam medis
sehingga menjadi laporan atau informasi yang dibutuhkan baik oleh pihak intern
maupun ekstern.

2.1.6 Penyimpanan Rekam Medis

xix
Kegiatan penyimpanan rekam medis bertujuan untuk melindunginya dari kerusakan fisik
dan isinya itu sendiri. Rekam medis harus dilindungi dan dirawat karena merupakan benda yang
sangat berharga bagi rumah sakit.

Ada dua cara penyimpanan dalam sistem pengelolaan berkas rekam medis, yaitu:

a. Sentralisasi, yaitu penyimpanan rekam medis dimana antara rekam medis kunjungan
poliklinik dan rekam medis ketika pasien dirawat dibuat menjadi satu kesatuan
dan disimpan di bagian rekam medis.

Kelebihan:

1. dapat mengurangi terjadinya duplikasi berkas rekam medis


2. dapat menyeragamkan tata kerja, peraturan, dan alat yang digunakan
3. efisiensi kerja petugas
4. permintaan rekam medis dapat dilayani setiap saat
Kelemahan :
1. perlu waktu dalam pelayanan rekam medis
2. perlu ruangan, alat, dan pegawai yang lebih banyak jika tempat penyimpanan jauh
dengan lokasi penggunaan rekam medis

b. Desentralisasi, yaitu sistem penyimpanan rekam medis dimana terjadi pemisahan antara
rekam medis kunjungan poliklinik dan rekam medis selama pasien dirawat. Rekam
medis kunjungan poliklinik disimpan di poliklinik yang bersangkutan sedangkan
rekam medis perawatan disimpan di bagian rekam medis.

Kelebihan :
1. efisiensi waktu dimana pasien mendapatkan pelayanan yang lebih cepat
2. kerja petugas rekam medis lebih ringan
3. pengawasan terhadap berkas rekam medis lebih ketat karena lingkupnya sempit
Kelemahan :
1. terjadi duplikasi rekam medis sehingga riwayat penyakit terpisah
2. biaya pengadaan rekam medis lebih banyak
3. bentuk dan isi rekam medis berbeda
4. menghambat pelayanan jika rekam medis dibutuhkan oleh unit lain

xx
Sedangkan sistem penyimpanannya, biasanya dilakukan dengan sistem numerik
(berdasarkan angka ata nomor). Ada tiga sistem numerik dalam penyimpanan berkas rekam
medis, yaitu :

a. Sistem nomor langsung (straight numerical filling system)

yaitu penyimpanan berkas rekam medis pada secara berurutan sesuai dengan nomor
urut rekam medis tersebut. Misalnya : 220910, 220911, 220912, dan seterusnya.

Kelebihan :

 memudahkan dalam pengambilan sejumlah rekam medis dengan nomor yang


berurutan dan untuk rekam medis yang tidak aktif lagi
 memudahlan dalam melatih petugas penyimpanan rekam medis

Kelemahan :

 kesibukan tidak merata, kegiatan tersebuk terjadi pada rak penyimpanan rekam
medis dengan nomor terbaru
 perlu konsentrasi petugas untuk menghindari kesalahan penyimpanan rekam medis
(nomor tertukar)
 pengawasan kerapian sukar dilakukan

b. Sistem nomor akhir (terminal digit filling system)

yaitu sistem yang menggunakan nomor dengan 6 angka yang dikelompokkan


menjadi tiga. Angka pertama terdiri dari dua kelompok angka yang terletak paling
kanan, angka kedua terdiri dari dua kelompok angka yang terletak di tengah, dan
angka ketiga terdiri dari dua angka yang terletak paling kiri. Misalnya :

22 09 10

(angka ketiga) (angka kedua) (angka pertama)

tertiary digit secondary digit primary digit

Dalam penyimpanan dengan sistem angka akhir ada 100 kelompok angka pertama yaitu
00 sampai dengan 99. pada waktu menyimpan, petugas harus melihat angka

xxi
pertama dan membawa rekam medis tersebut kedaerah rak penyimpanan untuk
kelompok angka pertama yang bersangkutan. Pada kelompok angka pertama ini rekam
medis disesuaikan urutan letaknya menurut angka kedua, kemudian rekam medis
dimpan didalam urutan sesuai dengan kelompok angka ketiga, sehingga dalam setiap
kelompok penyimpanan nomor pada kelompok angka ketigalah yang selalu berlainan.
Contoh :

22-09-10

23-09-10

24-09-10

25-09-11

26-09-12

Kelebihan :

 pertambahan rekam medis merata ke 100 kelompok (section) di dalam rak


penyimpanan
 pekerjaan penyimpanan dan pengambilan rekam medis dapat dibagi secara merata
 kekeliruan menyimpan dapat di cegah, karena petugas hanya memperhatikan
dua angka akhir saja dalam memasukkan rekam medis kedalam rak

Sedangkan kelemahannya adalah perlu waktu yang cukup lama untuk melatih dan
membimbing petugas penyimpanan.

c. sistem nomor tengah (middle digit)

Dalam sistem penyimpanan angka tengah, rekam medis diurutkan dengan


pasangan angka-angka. Angka yang terletak ditengah menjadi angka pertama, angka
yang terletak paling kiri menjadi angka kedua, dan angka paling kanan menjadi angka ketiga.
Contoh :

22 09 10

(angka kedua) (angka pertama) (angka ketiga)

tertiary digit secondary digit primary digit

xxii
Kelebihan :

 memudahkan pengambilan 100 buah rekam medis yang nomornya berurutan


 penggantian dari sistem nomor langsung ke sistem angka tengah lebih muda
daripada penggantian sistem nomor langsung ke sistem angka akhir
 penyebaran nomor-nomor lebih merata jika dibandingkan dengan sistem nomor
langsung, tetapi masih tidak menyamai sistem angka akhir
 petugas dapat dibagi pada section penyimpanan tertentu sehingga kekeliruan
menyimpan dapat di cegah

Kelemahan :

 memerlukan latihan dan bimbingan yang lebih lama bagi petugas


 terjadi rak lowong pada beberapa section, bila rekam medis dialihkan ke tempat
penyimpanan in-aktif (Depkes, 1991 : 19)

2.1.7 Tata Cara Pengambilan Rekam Medis


Pengambilan rekam medis juga memiliki tata cara tertentu. Adapun tata cara
pengambilan rekam medis pasien yang dibutuhkan dari ruang penyimpanan rekam medis adalah
sebagai berikut :

a. Pengeluaran rekam medis


Ketentuan pokok yang harus ditaati di tempat penyimpanan adalah :

 Rekam medis tidak boleh keluar dari ruangan rekam medis, tanpa tanda
keluar/kartu permintaan.
 Apabila rekam medis dipinjam, wajib dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat
waktunya. Seharusnya setiap rekam medis kembali lagi ke raknya pada setiap akhir
kerja pada hari yang bersamaan.
 Rekam medis tidak dibenarkan diambil dari rumah sakit, kecuali atas perintah
pengadilan.
 Permintaan rutin terhadap rekam medis yang datang dari poliklinik, dari dokter
yang melakukan riset, harus diajukan ke bagian rekam medis setiap hari pada jam
yang telah ditentukan. Petugas harus menulis dengan benar dan jelas nama pasien
dan nomor rekam medisnya.

xxii
i
b. Petunjuk Keluar (Outguide)
Petunjuk keluar adalah suatu alat yang penting untuk mengawasi penggunaan rekam
medis. Petunjuk keluar ini digunakan sebagai pengganti pada tempat rekam medis
yang diambil dari rak penyimpanan dan tetap berada di rak tersebut sampai rekam
medis yang diambil kembali.

c. Kode warna untuk map (sampul) rekam medis


Kode warna adalah untuk memberikan warna tertentu pada sampul, untuk mencegah keliru
simpan dan memudahkan mencari map yang salah simpan. Garis-garis warna denga
posisi yang berbeda pada pinggiran folder, menciptakan bermacam-macam posisi
warna yang berbeda-beda untuk tiap sectionpenyimpanan rekam medis. Terputusnya
kombinasi warna dalam satu seksi penyimpanan menunjukkan adanya kekeliruan
menyimpan. Cara yang digunakan adalah 10 macam warna untuk 10 angka pertama
dari 0 sampai 9.

2.2 RUANG PENGELOLAAN REKAM MEDIS

Standar keadaan fisik dan lingkungan rumah sakit diatur dalam Kepmenkes
No.1204 Tahun 2004 tentang persyaratan lingkungan rumah sakit.

Berdasarkan ketetapan yang terdapat dalam Kepmenkes No.1204 Tahun 2004,


unit rekam medic termasuk zona dengan resiko rendah. Adapun standar bangunan
ruangan penyimpanan harus memperhatikan hal-hal berikut :

 Ruangan penyimpanan arsip jangan terlalu lembab, harus dijaga supaya tetap kering.
Supaya ruangan tidak terlalu lembab perlu diatur berkisar 650F sampai 750 F dan
kelembaban udara sekitar 50% sampai 65%. Untuk dihidupkan selama 24 jam terus
menerus. Perhatikan AC juga bisa mengurangi banyaknya debu.
 Ruangan harus terang, dan sebaiknya menggunakan penerangan alam, yaitu sinar
matahari. Sinar matahari, selain memberikan penerangan ruangan, juga dapat membantu
membasmi musuh kertas arsip.
 Ruangan hendaknya terhindar dari serangan hama, perusak atau pemakan kertas arsip,
antara lain jamur,rayap, ngengat. Untuk menghindarinya dapat digunakan sodium
arsenite, dengan meletakkannya di celah-celah lantai. Setiap enam bulan sekali ruangan
disemprot dengan racun serangga seperti : DDT, Dieldrin, Prythrum, Gaama Benzene

xxi
v
Hexacloride, dengan cara menyemprotkan racun pada dinding, lantai dan alat-alat yang
dibuat dari kayu.
 Ruangan penyimpanan arsip sebaiknya terpisah dari ruangan kantor lain untuk menjaga
keamanan arsip-arsip tersebut mengingat bahwa arsip tersebut sifatnya rahasia,
mengurangi lalu lintas pegawai lainnya, dan menghindari pegawai lain memasuki
ruangan sehingga pencurian arsip dapat dihindari (Wursanto, 1991 : 221).
 Alat penyimpanan rekam medis yang umum dipakai adalah rak terbuka (open self file
unit), lemari lima laci (five-drawer file cabinet), dan roll o’pack. Alat ini hanya mampu
dimiliki oleh rumah sakit tertentu karena harganya yang sangat mahal. Rak terbuka
dianjurkan karena harganya lebih murah, petugas dapat mengambil dan menyimpan
rekam medis lebih cepat, dan menghemat ruangan dengan menampung lebih banyak
rekam medis dan tidak terlalu makan tempat. Harus tersedia rak-rak penyimpanan yang
dapat diangkat dengan mudah atau rak-rak beroda.
 Jarak antara dua buah rak untuk lalu lalang, dianjurkan selebar 90 cm. Jika
menggunakan lemari lima laci dijejer satu baris, ruangan lowong didepannya harus 90
cm, jika diletakkan saling berhadapan harus disediakan ruang lowong paling tidak 150
cm, untuk memungkinkan membuka laci-laci tersebut. Lemari lima laci memang tampak
lebih rapi dan rekam medis terlindungdari debu dan kotoran dari luar. Pemeliharaan
kebersihan yang baik, akan memelihara rekam medis tetap rapi dalam hal penggunaan
rak-rak terbuka. Faktor-faktor keselamatan harus diutamakan pada bagian penyimpanan
rekam medis (Dep.Kes, 1991 : 24) .

Lokasi ruangan rekam medis harus dapat memberi pelayanan cepat kepada seluruh
pasien, mudah dijangkau dari segala penjuru, dan mudah menunjang pelayanan administrasi.
Alat penyimpanan yang baik, penerangan yang baik, pengaturan suhu ruangan, pemeliharaan
ruangan, perhatian terhadap faktor keselamatan petugas, bagi suatu ruangan penyimpanan rekam
medis sangat membatu memelihara dan mendorong kegairahan kerja dan produktivitas pegawai.
Penerangan atau lampu yang baik, menghindari kelelahan penglihatan petugas. Perlu
diperhatikan pengaturan suhu ruangan, kelembaban, pencegahan debu dan pencegahan bahaya
kebakaran.

2.3 PETUGAS REKAM MEDIS

Petugas rekam medis menjadi aspek utama dalam sirkulasi rekam medis sebuah rumah
sakit. Petugas rekam medis mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar dalam menjaga
keutuhan sebuah rekam medis. Petugas rekam medis diharapkan benar-benar mengetahui seluk
beluk dari rekam medis secara luas dan mendalam.

xxv
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2007:7), seorang pegawai
rekam medis harus memiliki kualifikasi pendidikan sebagai berikut :

a. Diploma 3 (D3) Rekam Medis dan Informasi Kesehatan yang ditempuh selama 6 (enam)
semester, dengan gelar Ahli Madya.
b. Diploma 4 (D4) Manajemen Informasi Kesehatan yang ditempuh selama 8 (delapan)
semester, dengan gelar Sarjana Sains Terapan MIK.
c. Strata 1 (S1) Manajemen Informasi Kesehatan yang di tempuh selama 8 (delapan)
semester, dengan gelar Sarjana Manajemen Informasi Kesehatan.
d. Strata 2 (S2) Manajemen Informasi Kesehatan yang ditempuh selama 4 (empat)
semester, dengan gelar Megister Manajemen Informasi Kesehatan.

Petugas rekam medis selaku pihak pengelola rekam medis yang merupakan arsip vital
harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :

1. Teliti, dalam hal ini ketelitian diperlukan agar dapat membedakan perkataan, nama atau
angka yang sepintas lalu nampaknya bersamaan.
2. Cerdas, setiap petugas arsip harus mampu menggunakan pikirannya dengan baik,
mempunyai daya ingat yang tajam sehingga tidak mudah lupa.
3. Penuh minat dan perhatian terhadap tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggung
jawabnya.
4. Rapi, setiap petugas harus mampu menciptakan dan menjaga kerapian, kebersihan dan
ketertiban terhadap arsip yang disimpan.
5. Tekun dalam melaksanakan tugas.
6. Mampu memegang/menyimpan rahasia.
7. Mampu mengadakan hubungan yang baik dengan semua pihak.
8. Memiliki keahlian dalam bidang kearsipan

Menurut Keputusan MenKes No.377/Menkes/SK/III/2007, seorang pegawai rekam


medis atau perekam medis harus memiliki kompetensi. Kompetensi tersebut meliputi:

1. Klasifikasi dan Kodifikasi Penyakit dan Masalah-masalah yang Berkaitan dengan


Kesehatan dan Tindakan-tindakan Medis.
Dalam hal ini perekam medis mampu menetapkan kode penyakit dan tindakan dengan
tepat sesuai dengan klasifikasi yang diberlakukan di Indonesia (ICD- 10).

2. Aspek Hukum dan Etika Profesi

xxv
i
Perekam medis mampu melakukan tugas dalam memberikan pelayanan rekam medis
dan informasi kesehatan yang bermutu tinggi dengan memperhatikan
perundangan dan etika profesi yang berlaku.

3. Manajemen Rekam Medis dan Informasi Kesehatan


Perekam medis mampu mengelola rekam medis dan informasi kesehatan untuk
memenuhi kebutuhan layanan medis, administrasi, dan kebutuhan informasi
kesehatan sebagai bahan pengambilan keputusan di bidang kesehatan.

4. Menjaga Mutu Rekam Medis


Perekam medis mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menilai
mutu rekam medis.

5. Statistik Kesehatan
Perekam medis mampu menggunakan statistik kesehatan untuk menghasilkan
informasi dan perkiraan (forcasting).

6. Manajemen Unit Kerja Manajemen Informasi Kesehatan / Rekam Medis


Perekam medis mampu mengelola unit kerja yang berhubungan dengan perencanaan,
pengorganisasian, penataan dan pengontrolan unit kerja manajemen informasi
kesehatan (MIK/ rekam medis di instalasi pelayanan kesehatan.

7. Kemitraan Profesi
Perekam medis mampu berkolaborasi inter dan intra profesi yang terkait dalam
pelayanan kesehatan.

Melihat uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang pegawai arsip atau rekam medis
selain harus memiliki kualifikasi pendidikan yang ditentukan sebagai seorang pegawai rekam
medis, seorang pegawai rekam medis harus pintar, cerdas, rapi, teliti, dan tekun dalam
melaksanakan tugasnya. Syarat dan kualifkasi rekam medis yang diberlakukan ini berfungsi
sebagai dasar peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia dalam peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan rumah sakit. Selain itu, seorang perekam medis harus memiliki semua kompetensi
seperti yang disebutkan di atas.

xxv
ii
2.4 STANDAR PELAYANAN MINIMAL DEPKES RI

Standar pelayanan minimal (Kepmenkes 129 tahun 2008) adalah ketentuan tentang
jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh
setiap warga secara minimal. Selain itu juga merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur
pelayanan minimum yang diberikan oleh Badan Layanan Umum. Dengan disusunnya SPM
diharapkan dapat membantu pelaksanaan penerapan Standar Pelayanan Minimal di rumah sakit.
SPM ini dapat dijadikan acuan bagi pengelola rumah sakit dan unsur terkait dalam
melaksanakan perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan setiap jenis pelayanan.

Adapun SPM untuk jenis layanan rekam medis berdasarkan ketentuan Depkes adalah
sebagai berikut :

Tabel 2.1 Standar Pelayanan Minimal menurut Departemen Kesehatan

No Jenis Layanan Indikator Standar

1. Rekam Medik 1. Kelengkapan pengisian rekam 100%


medik 24 jam setelah selesai
pelayanan

2. Kelengkapan informed consent 100%


setelah mendapatkan informasi
yang jelas

3. Waktu penyediaan dokumen rekam ≤ 10 menit


medik pelayanan rawat jalan

4. Waktu penyediaan dokumen rekam ≤ 15 menit


medik pelayanan rawat inap

Sumber : Keputusan Menteri Kesehatan No.129/Menkes/SK/II/Tentang Standar


Pelayanan Minimal Tahun 2008

2.5 MUTU REKAM MEDIS

Mutu rekam medis yang baik dapat pula mencerminkan mutu pelayanan kesehatan yang
diberikan. Rekam medis yang bermutu juga diperlukan untuk persiapan evaluasi dan audit medis
terhadap pelayanan medis secara retrospektif terhadap rekam medis. Tanpa dipenuhinya syarat-

xxv
iii
syarat dari mutu rekam medis ini, maka tenaga medis maupun pihak rumah sakit akan sukar
membela diri di pengadilan bila terdapat tuntutan malpraktik oleh pihak pasien.

Mutu rekam medis yang baik adalah rekam medis yang memenuhi indikator-indikator
mutu rekam medis sebagai berikut :

 kelengkapan isian resume medis


 keakuratan
 tepat waktu
 pemenuhan persyaratan aspek hukum

Uraian indikator-indikator diatas adalah sebagai berikut :

a. Kelengkapan isian rekam medis


Rekam medis pasien yang lengkap yakni mulai dari identitas sampai dengan resume.

b. Keakuratan
Adalah ketepatan catatan suatu rekam medis, dimana semua data pasien yang ditulis harus
dengan teliti, cermat, seksana dan sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.

c. Tepat Waktu
Rekam medis yang yang baik harus diisi dan dikembalikan ke sub bagian rekam medis
tepat waktu sesuai standart yang ada.

d. Memenuhi persyaratan aspek hukum


Rekam medis harus memenuhi persyaratan aspek hukum (Permenkes 749a/89; Huffman
1994) yaitu :

 Tidak ditulis dengan pensil


 Tidak da penghapusan
 Coretan, ralat harus sesuai dengan prosedur, tanggal dan tadna tangan
 Tulisan jelas, terbaca
 Ada tandatangan dan nama petugas
 Ada tanggal dan waktu pemeriksaan
 Ada lembar persetujuan

xxi
x
2.6 PERENCANAAN BERKAS REKAM MEDIS YANG INAKTIF

Retensi atau lamanya penyimpanan rekam medis diatur berdasarkan Surat Keputusan
Nomor : YM.00.03.3.3683 tanggal 16 Agustus 1991 tentang jadwal retensi/lama penyimpanan
rekam medis. Pemusnahan rekam medis mengacu kepada Surat Edaran Dirjen Yan.Med Nomor
HK.00.05.001.60 tahun 1995 tentang petunjuk teknis pengadaan formulir rekam medis dan
pemusnahan berkas rekam medis di rumah sakit. Berikut ini adalah jadwal retensi/lamanya
penyimpanan rekam medis.

Pada umumnya rekam medis dinyatakan tidak aktif apabila selama 5 tahun terakhir
rekam medis tersebuit tidak digunakan lagi. Apabila tidak tersedia tempat penyimpanan rekam
medsi aktif, harus dilaksanakan kegiatan menyisihkan rekam medis yang aktif seirama dengan
pertambahan jumlah rekam medis baru dan pada saat diambilnya rekam medis tidak aktif, di
tempat semula harus diletakkan tanda keluar, untuk, mencegah pencarian yang berlarut-larut
pada saat diperlukan. Rekam medis yang tidak aktif dapat disimpan di ruangan lain yang
terpisah dari bagian rekam medis atau dibuat microfilm. Jika digunakan microfilm, rekam medis
aktif dan tidak aktif dapat disimpan bersamaan, karena penyimpanan microfilm tidak banyak
memakan tempat. (Dep.Kes, 1991 :30).

Sebagian besar rekam medis selalu menghadapi masalah kurangnya ruang penyimpanan.
Satu rencana yang pasti tentang pengelolaan rekam medis yang tidak aktif (in active records)
harus ditetapkan sehingga selalu tersedia tempat penyipanan untuk rekam medis yang baru.
Patokan utama untuk menentukan rekam medis aktif atau tidak aktif adalah besarnya ruangan
yang tersedia untuk menyimpan rekam medis yang baru. Suatu rumah sakit menentukan 5 tahun
adalah batas umur untuk rekam medis aktif, sedangkan di rumah sakit lain rekam medis yang
berumur 2 tahun sudah dinyatakan tidak aktif, karena sangat terbatasnya ruang penyimpanan.

2.7 PEMUSNAHAN BERKAS REKAM MEDIS

Sesuai Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008 dijelaskan bahwa untuk Pelayanan


Kesehatan di Rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan rekam medis maka harus
memenuhi aturan sebagai berikut:

1. Rekam medis pasien rawat inap wajib disimpan sekurang-kuangnya 5 tahun sejak
pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat di rumah sakit.

2. Setelah 5 tahun pasien tidak lagi berkunjung maka rekam medis dapat dimusnahkan
kecuali ringakasan pulang dan persetujuan tindakan medik.

xxx
3. Ringakasan pulang dan persetujuan tindakan medik wajib disimpan dalam jangka
waktu 10 sejak ringkasan dan persetujuan medik dibuat.

4. Rekam medis dan ringkasan pulang disimpan oleh petugas yang ditunjuk oleh
pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

Untuk Pelayanan Kesehatan non rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan rekam
medis harus memenuhi aturan sebagai berikut:

1. Rekam medis pasien wajib disimpan sekurang-kuangnya 2 tahun sejak pasien berobat
terakhir atau pulang dari berobat. Setelah 2 tahun maka rekam medis dapat dimusnahkan.

2. Kerahasiaan isi rekam medis yang berupa identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat
pemeriksaan dan riwayat pengobatan harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi,
petugas kesehatan lain, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
Untuk keperluan tertentu rekam medis tersebut dapat dibuka dengan ketentuan:

4. Untuk kepentingan kesehatan pasien.


5. Atas perintah pengadilan untuk penegakan hukum.
6. Permintaan dan atau persetujuan pasien sendiri.
7. Permintaan lembaga /institusi berdasarkan undang-undang.
8. Untuk kepentingan penelitian, audit, pendidikan dengan syarat tidak menyebutkan
identitas pasien.

3. Permintaan rekam medis tersebut harus dilakukan tertulis kepada pimpinan sarana
pelayanan kesehatan.

4. Sesuai Ketentuan Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008 maka kita dapat


menjalankan pengelolaan rekam medis di rumah sakit maupun non rumah sakit. Dokter,
dokter gigi dan petugas lain, pengelola dan pimpinan harus menjaga kerahasiaan rekam
medis serta dapat memanfaatkan rekam medis sesuai ketentuannya

xxx
i
BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif


kualitatif cross-sectional yang berusaha memberikan gambaran sekaligus
menerangkan fenomena-fenomena yang ada sebagai prosedur pemecahan masalah
yang dialami oleh RSUD KABUPATEN BEKASI pada penelitian ini
dilaksanakan.
Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif yang umunya berangkat
dari pertanyaan why atau how. Untuk itu teknik penelitian yang digunakan peneliti
dengan studi kasus, karena permasalahan yang diteliti lebih sesuai apabila
menggunakan studi kasus. Penelitian ini, peneliti mengamati masalah rekam
medis yang masih belum lengkap pada instalasi rawat inap RSUD KABUPATEN
BEKASI. Penelitian dilakukan selama bulan SEPTEMBER-NOVEMBER 2019 di
RSUD KABUPATEN BEKASI Subjek penelitian inilah yang memberikan
berbagai informasi dari informan yang diperlukan selama proses penelitian. Yang
menjadi informan penelitian, yaitu pertama, Direktur, seseorang yang membuat
kebijakan rekam medis di rumah sakit. Kedua, DPJP adalah Dokter Penanggung
Jawab Pelayanan di ruang rawat inap. Ketiga, Dokter Jaga Ruangan, yaitu Dokter
Umum yang membantu DPJP di ruang rawat inap pada saat shift. Keempat,
Perawat yaitu perawat yang sedang bertugas pada shiftnya di ruang rawat inap.
Kelima, Case manager adalah petugas yang bertanggung jawab sebagai
koordinator atas kelengkapan berkas rekam medis pasien selama pasien dalam
perawatan. Keenam, Petugas Rekam Medis ialah petugas yang disumpah untuk
bertanggung jawab atas berkas rekam medis.
HASIL
Pengambilan data pada penelitian ini melalui wawancara secara mendalam
kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan analisis kelengkapan berkas rekam
medis dalam rangka mengukur kepatuhan pengisian berkas rekam medis di Instalasi
Rawat Inap Rumah Sakit X. Dimana pertanyaannya terkait dengan pengetahuan
petugas seperti diantaranya tentang pengertian rekam medis itu sendiri, SPO dan
SPM rekam medis,desain form rekam medis, tentang sikap dan tanggung jawab yang
dituangkan kedalam pertanyaan tentang pemberian reward dan punishment oleh
rumah sakit, dan juga dukungan dari rekan kerja. Secara keseluruhan hasil
wawancara dilampirkan dalam bentuk matriks dan untuk panduan observasi, diisi
dengan checklist mengenai kelengkapan berkas rekam medis rawat inap di RSUD

xxx
ii
KABUPATEN BEKASI OKTOBER-NOVEMBER Tabel 1. Pengetahuan tentang
SPO dan SPM Rekam Medis serta Desain Form
Rekam Medis di RS X

Pernyata DPJ Dokter Peraw


an P Jaga at

Pengetahuan tentang SPO dan SPM rekam 60% 75% 50%


medis
di RS X
Tidak pernah tau adanya sosialisasi tentang 100 100% -
%
pengisian rekam medis RS X
Mengetahui/paham tentang isi kelengkapan 100 100% 100%
rekam %
medis
Desain/formulir rekam medis sudah cukup 80% 100% 100%
jelas
dan sesuai
Mengetahui seberapa pentingnya berkas 100 100% 100%
rekam %
medis

Tabel 2. Sikap dan Tanggung Jawab Petugas dalam pengisian Rekam Medis

Pertanya DPJ Dokter Peraw


an P Jaga at
Mengetahui siapa yang bertanggung jawab 100 100% 100%
dalam %
mengisi rekam medis dan resume medis
Penulisan asuhan keperawatan sesuai - - 100%
dengan
instruksi dokter
Waktu pengisian rekam medis setelah visit 100 100% -
%

xxx
iii
Segera mengisi berkas RM bila ada yang 100 100% 100%
%
tertinggal/ lupa mengisi
Melengkapi berkas RM terlebih dahulu - - 50%
sebelum
dikembalikan ke unit RM
Tidak mendapat reward & punishment 100 100% 100%
%
Mengisi RM sesuai SPO 100 100% -
%

Tabel 3. Dukungan Rekan terhadap Pengisian Berkas Rekam Medis

Pertanyaan DPJP Dokter Jaga Perawat

Perlunya diingatkan oleh teman sejawat/ 80% 100% 80%


tenaga kesehatan lain ataupun
manajemen untuk melengkapi rekam
medis. - - 80%
Merasa wajib membantu memonitor
dokter dalam pengisian rekam medis

xxx
iv
Tabel 4. Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medis Pasien Rawat
Inap Berdasarkan Nama Lembar Rekam Medis

Nama Lembar RM Tidak Lengkap Tidak Lengkap


Septmbr– Septmbr–
november november
2019
2019
(%)
Pemeriksaan Fisik 17,5 3
Pemeriksaan Penunjang 11,6 8,12
Resume Pulang 27,5 18,12

Sebagai data penunjang, peneliti mengambil 50 sample rekam medis bulan


OKTOBR –NOVEMBER sampai dengan Juli 2019 untuk dibandingkan dengan
observasi awal yang kami ambil. Berdasarkan data yang kami ambil tersebut, masih
terdapat lembar rekam medis yang tidak lengkap pengisiannya, yaitu lembar resume
yang pada awal sebesar 27, 5% menjadi 18, 12%. Selain lembar resume medis, lembar
pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan fisik pun masih ada yang tidak lengkap
pengisiannya.

iiii

xxx
v
JURNAL

NO NAMA JURNAL KET


1 Analisis Sistem Pengelolaan Rekam Medis Rawat Inap
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang, Jurnal
Kesehatan Masyarakat Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012,
Halaman 48–61.
2 Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di
Sarana Pelayanan Kesehatan: Revisi
Buku Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Rekam
Medis/Medical Record Rumah Sakit
(1991) dan Pedoman Pengelolaan
Rekam Medis Rumah Sakit di
Indonesia (1994, 1997), edk 2, Penerbit
Universitas Indonesia, UI - Press,
Jakarta.

3 Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.


... kepatuhan petugas dalam pengisian rekam
medis, reward dan punishment berpengaruh.
4 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEPATUHAN. PENGISIAN
REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT GIGI DAN
MULUT. PENDIDIKAN UMY.
5 Faktor-Faktor Penyebab Ketidaklengkapan Pengisian
Rekam Medis Rawat Inap di ... Jurnal Kedokteran
Brawijaya, Vol 29, No 3 (2016), pp.258-264 ... E.
Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kepatuhan Pengisian Rekam Medis
6 JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 9
NOMOR 1 (2018) ... ANALISIS KEPATUHAN
PENGISIAN BERKAS REKAM MEDIS DI RUMAH ...

7 Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah


Sakit)
8 Analisis Kode Diagnosis pada Berkas Rekam
Medis dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit
berdasarkan ICD-10 Pasien Rawat ..
9 jurnal,. UNESCO dan peraturan ... Kata kunci:
Vokasional, edukasi, rekam medis UGM.
10 Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia 3
(1), 17-30, 2015 ... Analisis Kode Diagnosis pada
Berkas Rekam Medis dan Sistem Informasi
Manajemen Rumah Sakit berdasarkan ICD-10 Pasien
Rawat INAP

xxx
vi
iii

iii

xxx
vii
xxx
viii
DAFTAR GAMBAR

A. Kerangka Pemikiran ............................................................... 31

B. Struktur Organisasi ................................................................ 47

x
DAFTAR TABEL

A. Tabel III.I ................................................................................ 25

B. Tabel IV.1 ............................................................................... 32

C. Tabel IV.2 ............................................................................... 33

D. Tabel IV.3 ............................................................................... 24

E. Tabel IV.4 ............................................................................... 35

F. Tabel IV.5 ............................................................................... 36

G. Tabel IV.6 ............................................................................... 39

H. Tabel IV.7 ............................................................................... 40

I. Tabel IV.8 ................................................................................ 41

xi
LAMPIRAN

A. Quesioner

B. Hasil Olah Data SPSS

C. Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian

xii
ANALISIS KEPATUHAN DOKTER DALAM MENGISI REKAM MEDIS
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BEKASI

Istirochah
Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. yani Pabelan Kartasura 57102 Surakarta

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan dalam pengisian


rekam medis yang dilakukan dokter di RSUD Kabupaten BEKASI dan
menganalisis factor factor yang mempengaruhi kepatuhan dokter dalam pengisian
rekam medis di RSUD Kabupaten BEKASI. Populasi penelitian ini adalah semua
dokter RSUD Kabupaten BEKASI, yaitu RSUD pandanganrang, RSUD Simo dan
RSUD Andong. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling dengan
kreteria merupakan dokter yang berwewenang dan terlibat dalam pelayanan
kesehatan di RSUD Kabupaten BEKASI. Data yang digunakan adalah data
primer yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan
regresi linier berganda. Simpulan dalam penelitian ini adalah (1) kepatuhan
dokter dalam mengisi rekam medis di RSUD Kabupaten BEKASI secara umum
sangat tinggi. Lebih dari 50% responden menjawab dengan skor tinggi atas
variabel penelitian tersebut. (2) kepatuhan dokter dalam mengisi rekam medis di
RSUD Kabupaten BEKASI dipengaruhi oleh keempat variable independen secara
simultan, dan (3) secara parsial kepatuhan dokter dalam mengisi rekam medis di
RSUD Kabupaten BEKASI dipegaruhi oleh insentif dan perssepsi dokter atas Sop
dan Form isian rekam medis.

Kata kunci: Kepatuhan Dokter, Rekam Medis, Rumah Sakit,

xiii
ANALYSIS OF DOCTOR COMPLIANCE TO FILL MEDICAL RECORD
IN BEKASI HOSPITAL

Istirochah
Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. yani Pabelan Kartasura 57102 Surakarta

This study aims to determine the completeness of the filling of medical records by
doctors at hospitals BEKASI, and analyze the factors that influence compliance
doctors in charge of medical records in hospitals BEKASI. The study population
was all doctors at BEKASI hospitals. The sample selection criteria using
purposive sampling with an authorized doctor and involved in health care in
hospitals BEKASI. The data used are primary data was collected using a
questionnaire. Analysis of data using multiple linear regression. The conclusions
of this research are (1) compliance the doctor in charge of medical records is very
high. More than 50% of respondents have high scores on. (2) doctor compliance
in charge of medical records in BEKASI hospitals influenced by the four
independent variables simultaneously, and (3) in partial doctors compliance in
charge of medical records in hospitals BEKASI been affected by incentives and
doctor perception on SOP and Form fields of medical records ,

Keywords: doctor, Compliance, Medical Records, Hospital,

xiv

Anda mungkin juga menyukai