Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL

STRATEGI KEPALA SEKOLAH PENINGKATAN KOMPETENSI GURU


DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN
(Studi Kualitatif di SMK Kabupaten Bandung Barat)

A. Latar Belakang Masalah


Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang bertugas memberikan
pelayanan jasa pendidikan kepada masyarakat. Sekolah bertugas membantu orang
tua dalam mengoptimalkan perkembangan pengetahuan, keterampilan, nilai dan
sikap anak sebagai bekal hidup di masyarakat atau melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi.
Sebagai lembaga pendidikan formal, penyelenggaraan dan pengelolaan
sekolah harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan Nasional. Adapun
fungsi dan tujuan pendidikan nasional menurut pasal 3 Undang-undang RI Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawah.

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang dijabarkan dalam visi,


misi, dan tujuan sekolah perlu dilakukan pengembangan terhadap semua aspek
dan komponen yang ada di sekolah. Aspek dan komponen yang harus
dikembangkan meliputi tenaga pendidik dan kependidikan, kurikulum, sumber
belajar, sarana dan prasarana, biaya dan sebagainya yang terkait dengan
kegiatan pembelajaran.
Dalam proses belajar mengajar, tenaga pendidik (guru) menempati posisi
penting dan penentu keberhasilan proses pembelajaran, sehingga seorang guru
harus memiliki standar kompetensi sebagaimana dalam Permendiknas No 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru pasal (1) yang
menyatakan banwa “Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik

1
2

dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional”. Dan dalam lampiran
Permendiknas tersebut disebutkan bahwa standar kompetensi guru terdiri dari
kompetensi pedagogik, keperibadian, sosial dan profesional yang
dikembangkan secara utuh untuk mengembangkan proses pembelajaran yang
memberi peluang siswa untuk aktif, kreatif, inovatif dan mampu
mengembengkan diri dimasyarakat.
Melihat betapa pentingnya peran guru dalam pendidikan, maka tenaga
pendidikan yang kompeten mutlak diperlukan untuk mendukung proses
pembelajaran yang bermutu serta menghasilkan lulusan yang berkualitas. Guru
sebagai tenaga pendidik sungguh-sungguh menjalankan tugas profesinya
karena guru disebut tenaga profesional sebagaimana dalam Undang-undang
No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan pasal 39 ayat 2 menjelaskan:
pendidikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan proses pembelajaran, melaluai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan
tinggi.

Kemudian dalam Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru


dan Dosen pasal 1 menjelaskan bahwa guru adalah:
“pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta
didik pada peudidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar dan pendidikan menengah.”

Pengertian pendidik yang terdapat dalam kedua undang-undang tersebut,


menunjukkan bahwa guru memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan belajar
mengajar di sekolah. Dalam kegiatan ini, guru tidak hanya memberikan
sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai dan sikap
kepada anak didik supaya anak didik memiliki kepribadian yang paripurna.
Agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik, guru wajib memiliki
keahlian yang memadai.
Dalam undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 pasal 8 di jelaskan
“Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan,
3

sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kamampuan untuk mewujudkan


tujuan nasional”. Selain kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi, menurut
Hasibuan (2006:19) ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki seorang
guru, yaitu:
1. Kematangan diri yang stabil: memahami diri sendiri, mencintai diri secara
wajar dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan serta bertindak sesuai dengan
nilai-nilai itu sehingga ia bertanggung jawab sendiri atas hidupnya, tidak
menggantungkan diri atau menjadi beban orang lain
2. Kematangan sosial yang stabil; dalam hal ini seorang pendidik dituntut
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masyarakatnya. dan
memiliki kecakapan membina kerjasama dengan oraug lain.
3. Kematangan profesional (kamampuan mendidik): yakni menaruh perhatian
dan sikap cinta tenhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang
cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya, memiliki
kecakapan dalam menggunakan cara-cara mendidik.

Kedudukan seorang guru sebagai agen pembelajaran sangat penting


dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk itu, kemampuan
seorang guru harus dikembangkan secara terus-menerus seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan ini dapat
dilakukan melalui upaya-upaya strategis. baik oleh pemerintah, sekolah.
maupun oleh guru yang bersangkutan.
Berdasarkan hasil survey Human Development Index (HDI), di Indonesia
baru 50% guru yang memiliki standardisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini
masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan di Indonesia belum
menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan catatan Human
Development Index (HDI), fakta ini menunjukkan bahwa mutu guru di
Indonesia masih jauh dari memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya
mendasar seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dari data statistik
HDI terdapat 60% guru SD, 40% SLTP, SMA 43%, SMK 34% dianggap belum
layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau
setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Dengan demikian,
kualitas SDM kita adalah urutan 109 dari 179 negara di dunia
Adapun berdasarkan data Balitbang Depdiknas sebagian guru di
Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar di tahun 2010-2011 di
4

berbagai satuan pendidikan sebagai berikut: untuk SD yang layak mengajar


hanya 26.83% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan
60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta
untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu
sendiri. Data Balitbang Depdiknas, menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru
SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas.
Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang
berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah
menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke
atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang
berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).
Di Kota Bandung, Kasubdit Banglemsidiklat (2005: 1) yang menyatakan
bahwa 63% guru SMK tidak memiliki kompetensi profesional standar yang
disyaratkan. (dalam Dedi SupriawanWowo SK., Aryano dan Dedi Rohendi,
2006). Fakta empirik kondisi guru sebagaimana diungkapkan di atas, ternyata
sejalan dengan temuan penelitian Tjutju Yuniarsih dkk (2008). Survey yang
dilakukan terhadap 268 guru pada 26 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen di Kota Bandung, Kabupaten
Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimah menunjukkan bahwa
dilihat dari kesesuaian tugas dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki
oleh guru, sebanyak 76% guru memiliki kesesuaian antara tugas dan latar
belakang pendidikannya. Sementara sisanya, sebesar 24% tidak sesuai.
Temuan ini tentu saja akan berdampak pada kurang optimalnya kinerja
guru, khususnya kinerja mengajar guru. Tidak optimalnya kinerja guru ini,
kemudian dapat dilihat dari belum sepenuhnya lulusan SMK bekerja atau
terserap di dunia kerja, sebagaimana ditunjukkan Kartadinata (2007:16) yang
menyebutkan bahwa keterserapan lulusan SMK di dunia kerja hingga saat ini
baru mencapai 75%, salah satunya diduga karena penguasaan kompetensi yang
harus dimiliki guru masih belum optimal. Kompetensi guru ini akan
berdampak pada tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang harus
5

dimiliki oleh lulusan. Jika guru memiliki tingkat penguasaan kompetensi guru
tinggi, maka secara teori akan diikuti oleh semakin tingginya pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki lulusan, sehingga mereka akan menjadi siap dalam
menghadapi tantangan dunia kerja, dan sebaliknya.
Berbagai upaya untuk mengembangkan kompetensi guru memang telah
dilakukan, namun hal ini tampaknya belum memberikan hasil yang signifikan
dengan yang diharapkan. Masih terdapat beberapa indikator kelemahan guru
dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Hal ini seperti yang
diungkapkan Mulyasa (2008:9), sebagai berikut:
Terdapat tujuh indikator yang menuiukkan rendahnya kinerja guru dalam
melaksanakan tugas utamanya mengajar, yaitu: (a) rendahnya
pemahaman tentang strategi pembelajaran, (b) kurangnya kemahiran
dalam mengelola kelas. (c) rendahnya kemampnau melakukan dan
memanfaatkan penelitian tindakan kelas (classroom action research). (d;
rendahnya motifasi berprestasi, (e) kurang disiplin, (f) rendahnya
komitmen profesi, (g) serta rendahnya kemampuan manajemen waktu.

Selain kompetensi tersebut, kompetensi profesional guru masih rendah


seperti halnya penguasaan materi masih teks book, Pengusaan terhadap standar
komptensi atau kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran yang
diampu untuk dijabarkan menjadi beberapa indikator masih belum menguasai
secara maksimal, kurangnya mengembangkan keprofesian seperti mengikuti
MGMP, pendidikan dan pelatihan, seminar-seminar yang bersifat ilmiah serta
rendahnya penguasaan media pembelajraan ICT.
Hal lainnya kemampuan pedagogik adalah salah satu kunci keberhasilan
mendidik. Guru yang memiliki kompetensi yang tinggi mungkin tidak akan
mencapai hasil maksimal tanpa didukung oleh kemampuan pedagogik yang
memadai. Hasil kemampuan pedagogik yang masih relatif rendah (56.59%)
menunjukkan bahwa masih perlu usaha-usaha keras untuk meningkatkan
kemampuan ini, terutama di perguruan tinggi-perguruan tinggi yang mencetak
guru. Bahkan mungkin, mata kuliah pedagogik dapat ditawarkan sebagai mata
kuliah pilihan di beberapa perguruan tinggi non LPTK, mengingat kemampuan
dan pengetahuan pedagogik diperlukan di semua proses pendidikan, bukan
hanya di sekolah.
6

Akadum (1999 : 1-2) menilai bahwa, rendahnya kompetensi guru dapat


disebabkan karena beberapa hal antara lain :
(1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, (2)
rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi
keguruan, (3) pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih
setengah hati dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak terlibat, (4)
masih belum smooth-nya perbedaan tentang proporsi, materi ajar yang
diberikan kepada calon guru, (5) masih belum berfungsinya Persatuan
Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi profesi yang
berupaya secara maksimal meningkatkan profesionalisme anggotanya.

Selanjutnya, Ani M. Hasan (2006: 6) mengemukakan bahwa rendahnya


profesionalisme guru SMK disebabkan:
(1) masih banyaknya guru yang tidak menekuni profesinya secara
profesional. Dalam hal ini dapat dilihat dari banyaknya guru yang
bekerja di luar jam kerjanya, hal ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sehari-hari sehingga tidak ada waktu untuk membaca dan
menulis atau melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kemampuan
dirinya; (2) belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan
negara-negara maju; (3) kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan
tinggi swasta sebagai pencetak guru yang lulusannya asal jadi dalam
memperhitungkan sistem output, kelak di lapangan sehingga
menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi
keguruan; (4) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri
karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang
diberlakukan pada calon guru diperguruan tinggi.

Beberapa masalah tersebut di atas menunjukkan bahwa ada


permasalahan yang berhubungan dengan kompetensi guru yang perlu diatasi.
Untuk itu, kepala sekolah sebagai pimpinan bertanggungjawab dalam
mengembangkan kompetensi guru. Dalam hal ini, beberapa srategi
pengembangan guru bisa dilakukan oleh kepala sekolah baik dalam lingkup
internal maupun eksternal.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Bandung Barat
sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan aktifitas secara formal
bertanggungjawab dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Oleh
karena itu manajemen sumber daya manusia (guru) sebagai pendukung
keberbasilan merupakan faktor yang tidak boleh luput dari perhatian. SMK
yang lulusannya berorientasi pada keahlian khusus semestinya didukung oleh
pelajaran produktif yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang dibutuhkan
7

atau sedang berkembang, dan secara khusus guru memiliki pengetahuan yang
luas akan kebutuhan tersebut agar dalam proses pembelajaran sesuai dengan
fakta kebutuhan di dunia kerja.
Sebagai sekolah kejuruan, SMK dalam kuantitas sudah cukup baik,
namun masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki. Beberapa persoalan yang
harus segera dibenahi oleh sekolah menengah kejuruan antara lain: Pertama
masih ada guru yang pendidikannya tidak sesuai dengan bidang studi yang
diajarkan. Kedua, guru-guru masih banyak yang belum mampu mengelola
kelas dengan baik sehingga saat KBM berlangsung banyak siswa yang tidak
memperhatikan pelajaran. Ketiga, penguasaan guru tentang metode
pembelajaran masalah sangat minim sehingga mayoritas guru menggunakan
metode ceramah.
Saat ini menurut pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas)
Acuviarta Kartabi, yang dimuat dalam majalah online sindonews pada tanggal
25 September 2017, Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa
Barat mayoritas menjadi pengangguran. Pemerintah diminta mengevaluasi
konsep pendidikan skill untuk tingkat pendidikan tersebut. Jumlah
pengangguran di Jawa Barat sekitar 1,9 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar
38,11% adalah lulusan SMA/SMK dengan rentang usia antara 20-24 tahun.
"Selama ini SMK selalu digembar-gemborkan pendidikan yang mencetak
lulusan siap kerja. Tetapi buktinya lulusan SMK paling banyak menyumbang
jumlah pengangguran di Jawa Barat". Melihat kondisi ini dikhawatirkan
konsep pendidikan SMK tidak sejalan dengan kebutuhan industri. Sehingga,
lulusannya tidak bisa diserap perusahaan.
(https://daerah.sindonews.com/read/1242748/21/miris-lulusan-smk-di-jabar-
mayoritas-menganggur-1506331179 diunduh tanggal 27 desember 2017 pukul
10:00 wib).

Pendapat diatas menandakan masih rendahnya kualitas lulusan yang


dihasilkan SMK yang belum mencapai standar dari tujuan dibentuknya sekolah
kejuruan tersebut secara optimal, kebanyakan lulusan yang dihasilkan masih
sama dengan sekolah yang sederajat lainnya, artinya lulusan yang dihasilkan
8

sekolah SMK belum memiliki kulitas keahlian yang diharapkan sehingga


pandangan dari pakar diatas tersebut, sekolah menengah kejuruan sampai saat
ini masih banyak menyumbangkan pengangguran di jawabarat. Hal ini perlu
upaya straregis untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMK melalui proses
pembelajaran yang bermutu.
Strategi merupakan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan jangka
panjang. Srategi dapat dartikan sebagai “suatu proses penentuan rencana para
pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi,
disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut
dapat tercapai.” (Umar, 2008:31). Memaknasi dari pengertian strategi ini,
untuk meningkatkan mutu pembalajaran dan menghasilkan lulusan yang
diharapkan melalui peningkatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan
keperibadian guru di SMK, bagaimana langkah-langkah strategis kepala
sekolah dan pihak-pihak terkait lainnya mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai hasil kedepan
yang diharapkan sehingga keberadaan SMK kedepan berkembang dan
menghasilkan outcome lulusan yang bermutu dan berkualitas. Dukungan
pemerintah sebagai upaya pengembangan kompetensi guru telah dilakukan
dengan mengesahkan Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen yang diikuti dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
menjadi dasar peningkatan kompetensi guru dan pengembangan sekolah
menengah kejuran di Kabupaten Bandung Barat
Berdasarkan latar belakang diatas dan berbagai permasalahan yang
terjadi, perlu upaya strategis peningkatan kompetensi guru dalam upaya
meningkatkan mutu pembelajaran di SMK Kabupaten Bandung Barat. Hal ini
menurut penulis sangat menarik sekali untu diteliti yang ditinjau dari “Strategi
Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di
SMK Kabupaten Bandung Barat”, dan untuk mengetahui gambaran strategi
peningkatan kompetensi guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran
di Kabupaten Bandung Barat yang secara umum dari hasil penelitian terdahulu
9

dikatakan bahwa kompetensi guru dan mutu pembelajaran masih rendah,


sehingga di jawabarat jumlah penganggguran lulusan dari SMK masih
menyumbangkan angka tinggi. Berdasarkan alasan tersebut sangat menarik
untuk mengkaji lebih mendalam strategi yang dilaksanakan Kepala Sekolah
dalam meningkatkan kompetensi guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran
kearah yang lebih baik sebagaimana tujuan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah


1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas bahwa eksistensi dari lembaga
pendidikan formal Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kedepan boleh jadi
akan semakin menurun daya minat masyarakat terhadap SMK yang mana
tujuan dari adanya lembaga pendidikan tersebut untuk mempersiapkan
lulusan sekolah menengah yang siap memasuki dunia kerja/industri sebagai
stakeholders atau sebagai konsumen. Produk yang dihasilkan dari SMK
betul-betul dapat memuaskan para konsumen. Adapun yang menjadi akar
permasalahan yang terjadi pada saat ini berdasarkan latar belakang tersebut,
dapat ungkapkan sebagai berikut:
a. Kualifikasi maupun kompetensi tenaga pendidik sampai saat ini masih
menjadi permasalahan meskipun upaya yang dilakukan oleh sekolah
maupun pemerintah terus dilakukan. Masih banyak tenaga pendidik pada
sekolah menengah kejuruan yang tidak linier (latarbelakang bidang
keahlian), sedangkan guru SMK dibutuhkan bidang keahlian yang khusus
terkait dengan dunia kerja. Meskipun jenjang kualifikasi secara akademik
sudah ada peningkatan, namun kompetensi tenaga pendidik perlu dibina
dan dikembangkan.
b. Banyaknya pengangguran lulusan SMK umumnya di jawabarat
dikarenakan mutu lulusan yang diharapkan belum sesuai dengan
kebutuhan dunia industri, atau masih rendahnya mutu lulusan. Lulusan
yang bermutu dihasilkan dari proses pembelajaran yang bermutu yang
bermuara pada kompetensi pendidik sebagai ujung tombak kegiatan
10

pembelajaran dengan didukung komponen-kompenen lain seperti sarana


prasarana, kurikulum kebijakan dan program yang disusun sekolah.
c. Dukungan pelaksanaan pendidikan khsususnya di SMK dipandang masih
lemah baik dukungan dari dalam yaitu berupa perangkat pembelajaran,
kebijakan, pengawasan kepala sekolah dan upaya peningkatan dan
pengembangan kompetensi guru, maupun dukungan dari luar baik
pemerintah maupun dunia industri seperti kerjasama penggunaan lulusan
perlu upaya yang maksimal.
d. Guru yang menjadi pemeran utama kegiatan pembelajaran dikelas belum
sepenuhnya memiliki kompetensi yang diperyaratkan. Kompetensi
tenaga pendidikan mutlak di perlukan untuk menghasilkan mutu
pembelajaran yang berkualitas, guru semestinya telah siap memanfaatkan
perkembangan teknologi sebagai sumber informasi keilmuan maupun
dunia industri yang dibutuhkan saat ini dan yang akan datang, sehingga
konsep pendidikan yang dibangun disekolah menengah kejuruan (SMK)
betul-betul searah dengan perkembangan tuntutan dunia industri.
e. Melaui strategi kepala sekolah peningkatan kompetensi guru yang tepat
dengan didukung oleh kebijakan, program, sarana prasarana, biaya,
kepemimpinan kepala sekolah, kurikulum
INSTUMENTAL yang sesuai, serta kompetensi
INPUT
Kebijakan danmenghasilkan
guru yang baik, diharapkan Program proses pembelajaran yang
Kepala sekolah
bermutu melalui perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan perbaikan
Sarana prasarana
Kurikulum
yang permasalahan Biaya
yang baik dapat menghasilkan lulusan yang bermutu,
serta dapat menekan angka pengangguran lulusan SMK, sehingga
keberadaan SMK di Kabupaten Bandung
Proses barat secara khususnya dapat
Strategi
bertahan serta berkembang Program
dengan meningkatkannya kepercayaan
Perencanaan
INPUT Peningkatan
masyarakat. Kompetensi guru
Pelaksanaan
Pengawasan
Guru Terkait dengan rumusan masalah ini, maka Perbaikan
Upaya perumusan masalah dapat
digambarkan sebagai berikut:

Output
Kompetensi Guru
Envorimental Meningkat
Keluarga
Masyarakat
Industri Outcome
(stakeholders)
Proses Pembelajaran
Bermutu
11

Gambar 1.1 : Rumusan Masalah

2. Batasan Masalah
Sesuai dengan keterbatasan kemampuan peneliti dalam melaksanakan
penelitian baik waktu, tenaga, pikiran dan biaya, maka peneliti membatasi
masalah yang akan dikaji dan diteliti terkait “strategi peningkatan
kompetensi guru dalam upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran di
SMK Kabupaten Bandung Barat”, maka penelitian ini difokuskan untuk
memperoleh gambaran tentang:
a) Strategi perencanaan kepala sekolah peningkatan kompetensi guru dalam
meningkatkan mutu pembelajaran berdasarkan kebijakan, program dan
sumberdaya sekolah di SMK Kabupaten Bandung Barat.
b) Strategi pelaksanaan kepala sekolah peningkatan kompetensi guru dalam
meningkatkan mutu pembelajaran sebagai bentuk implementasi dari
perencanaan di SMK Kabupaten Bandung Barat.
c) Strategi pengawasan kepala sekolah peningkatan kompetensi guru dalam
meningkatkan mutu pembelajaran untuk memastikan terlaksananya
kegiatan sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan di SMK
12

Kabupaten Bandung Barat.


d) Upaya-upaya yang dilakukan kepala sekolah terhadap permasalahan
peningkatkan kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran
berdasarkan evaluasi kegiatan di SMK Kabupaten Bandung Barat.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Sejalan dengan latar belakang masalah dan fokus penelitian
yang telah diuraikan di atas maka penelitian yang dilakukan ini secara
umum bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang strategi kepala
sekolah peningkatan kompetensi guru dalam meningkatkan mutu
pembelajaran di Kabupaten Bandung Barat.

b. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk
mendeskripsikan, menganalisis dan mengkaji permasalahan-
permasalahan yang berhubungan dengan strategi kepala sekolah
peningkatan kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran
di SMK Kabupaten Bandung Barat untuk memperoleh gambaran secara
khusus dari sudut pandang:
a) Strategi Perencanaan Kepala Sekolah Peningkatan Kompetensi Guru
Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten
Bandung Barat.
b) Strategi Pelaksanaan Kepala Sekolah Peningkatan Kompetensi Guru
Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten
Bandung Barat.
c) Strategi Pengawasan Kepala Sekolah Peningkatan Kompetensi Guru
Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten
Bandung Barat.
d) Upaya-upaya Strategis Kepala Sekolah terhadap permasalahan
Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Meningkatkan Mutu
Pembelajaran di SMK Kabupaten Bandung Barat.
13

2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan bernilai guna untuk kepentingan
pihak-pihak terkait baik secara teoritis maupun secara praktis.
a. Manfaat secara Teoritis
Secara teoritis diharapkan temuan-temuan dalam penelitian ini
dapat memperkaya suatu ilmu atau konsep strategi peningkatan
kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK). Juga, dari penelitian dapat memberikan
sumbangan pemikiran strategi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
dan upaya strategis yang dilakukan kepala sekolah peningkatan
kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran SMK
khsusunya di Kabupaten Bandung Barat.

b. Manfaat secara Praktis


Manfaat lembaga hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
secara langsung dalam peningkatan kompetensi guru di SMK dalam
rangka meningkatkan mutu pembelajaran.
1) Bagi para pengambil kebijakan lembaga pendidikan sekolah
menengah kejuruan dapat dijadikan masukan dalam pengembangan
sekolah menengah yang berorientasi pada keahlian khusus, yang
mempersiapkan lulusan SMK yang bermutu.
2) Bagi Kepala Sekolah khususnya Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) agar dapat memperoleh gambaran permasalahan dari hasil
penelitian ini, dan dijadikan rujukan upaya peningkatan mutu
pembelajaran melalui kompetensi guru di SMK.
3) Bagi Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hasil penelitian ini
menjadi masukan untuk pengembangan diri agar kegiatan
pembelajaran lebih bermutu.
4) Bagi Peneleliti Berikutnya dapat menjadi rujukan bahkan dapat
mengembangkan dan lebih mendalam, sehingga dapat memperkaya
14

strategi peningkatan kompetensi guru SMK, khsusunya di


Kabupaten Bandung Barat.

D. Asumsi dan Pertanyaan Penelitian


1. Asumsi
Guru menjadi garda terdepan dalam proses pembelajaran sehingga
kompetensi mutlak harus dimiliki bagi para pendidik sesuai Standar tenaga
pendidik untuk menghasilkan produk pembelajaran yang memuaskan para
pelanggan (customer). Kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah yang
telah diangakat sesuai standar kualifikasi dan kompetensi memiliki
kewajiban mengembangkan komponen atau sumberdaya sekolah yang
diantaranya adalah tenaga pendidik (guru). Kemampuan kepala sekolah
dapat mengembangkan sekolah yang dipimpinnya bergantung pada langkah-
langkah atau strategi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan
upaya terhadap masalah yang menjadi penghambat peningkatan kompetensi
guru. adapun langkah-langkah tersebut di pandang penting dikarenakan: a)
perencanaan, merupakan langkah umum setiap organisasi profit ataupun non
profit seperti sekolah sebagai langkah awal yang mengandung rumusan
permasalahan kegiatan yang akan dilaksanakan kedepan dengan
pertimbangan berbagai sumberdaya dan masukan dari semua unsur sekolah
terkait, perencanaan yang matang akan memberikan dampak baik terhadap
pelaksanaan, pemangku jabatan, serta menjadi pedoman atau dasar setiap
kegiatan yang dilakukan. b) pelaksanaan, sebagai inti dari organisasi, yaitu
adanya aktifitas/kegiatan yang terorganisir dan sesuai dengan aturan,
pedoman atau acuan setiap pelaku kegiatan yang searah dengan tujuan yang
direncanakan. c) pengawasan adalah hal tidak kalah penting bagi
organisasi/sekolah yang mana pengawasan ini untuk memastikan jalannya
kegiatan dan tidak menyimpang dari perencanaan yang sudah ditetapkan.
Banyak rencana yang tidak sejalan dengan implementasi dilapangan yang
dapat disebabkan oleh lemahnya pengawasan sehingga tujuan tidak tercapai
bahkan jauh dari sasaran. d) upaya yang dilakukan sebagai langkah solusi
15

terhadap permasalahan yang menjadi penghambat tidak jalannya kegiatan


sehingga tujuan tidak tercapai. Pemecahan masalah dalam organisasi
menjadi tanggung jawab pimpinan yang menguji kompetensinya, dan kepala
sekolah akan diuji kompetensinya dalam menghadapi dan menemukan jalan
keluar terhadap permasalah yang ada dalam meningkatkan kompetensi guru
agar menghasilkan pembelajaran yang bermutu

2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pembatasan masalah penelitian di atas, maka dapat
dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a. Bagaimana Strategi Perencanaan Peningkatan Kompetensi Guru
Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten
Bandung Barat?.
b. Bagaimana Strategi Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Guru Dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten Bandung
Barat?.
c. Bagaimana Strategi Pengawasan Peningkatan Kompetensi Guru Dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten Bandung
Barat?.
d. Bagaimana Upaya-Upaya Strategis Kepala Sekolah Terhadap
Permasalahan Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Meningkatkan
Mutu Pembelajaran di SMK Kabupaten Bandung Barat?.

E. Metode Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, metode penelitian yang digunakan
penulis adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. metode deskriptif
yang dipilih ini karena peneliti ingin memperoleh gambaran terhadap proses yang
sedang berlangsung dari strategi kepala sekolah peningnkatan kompetensi guru
dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SMK kabupaten Bandung Barat.
Metode deskriptif sebagaimana Sukmadinata (2011 : 72) mengemukakan, bahwa
“penelitian deskripitf adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Ditujukan
untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik
16

fenomena yang bersifat alamiah maupun rekayasa manusia. Penelitian ini


mengkaji bentuk aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan
perbedaannya dengan fenomena lain”.
Adapun penelitian melalui pendekatan kualitatif memiliki karakteristik
sebagaimana yang dikemukakan Bogdan and Biklen (1982) dalam Sugiyono
(2009 : 9) penelitian kualitatif memiliki karakterisitk sebagai berikut:
1. Dilakukan pada kondisi alamiah, langsung ke sumber data dan peneliti sebagai
instrument utama.
2. Bersifat deskriptif, data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar.
3. Menekankan pada proses dari pada hasil.
4. Analisis data dilakukan secara induktif.
5. Lebih menekankan makna di balik data yang diamati
Penelitian kualitatif sebagai human instrument berfungsi menetapkan fokus
penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data,
menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan
atas temuannya (Sugiono, 2009 : 306). Pengumpulan data dilakukan dengan
triangulasi data yaitu observasi yang dilakukan dengan melakukan pengamatan
langsung ke lokasi yang menjadi objek penelitian, wawancara dengan melakukan
tanya jawab dengan informan yang dipilih uttuk mendapatkan data/keterangan
secara lisan, dan studi dokumentasi sebagai pelengkap penelitian melalui data
fisik/yang tertulis.
Peneliti dalam validitas dan reliabilitas penelitian ini berusaha agar
penelitian yang dilakukan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kepercayaan hasil penelitian hanya
dapat dicapai jika memenuhi empat kreteria, yaitu kredibilitas (credibility),
dependabilitas (dependability), konfirmabilitas (confirmability), dan
transferabilitas (transferability) .

G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan disertasi di bagi ke dalam 5 bab pembahasan
kemudian dibagi ke dalam beberapa sub bagian sebagai berikut:
17

Bab I (Pendahuluan), dikaji tentang Latar Belakang Masalah,


Perumusan dan Pembatasan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Asumsi
dan Pertanyaan Penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, dan
sistematika penulisan.
Bab II (Landasan Teori), menjelaskan tentang landasan teologis,
landasan filosofis, dan landasan teoritis (kajian pustaka) yang relevan dengan
permasalah yang sedang diteliti, sehingga menjadi rujukan sekaligus landasan
terotitis dalam membahas temuan dalam penelitian ini;
Bab III (Metodologi Penulisan), menjelaskan tentang prosedur
penelitian meliputi metode penelitian, jenis data, sumber data, teknik
pengumpulan dana, teknik analisa data, pemeriksaan atau pengecekan
keabsahan data, tempat dan waktu penelitian;
Bab IV (Pembahasan Hasil Penelitian), membahas tentang temuan
penelitian, interprestasi dan pembahasan temuan penelitian;
Bab V (Penutup), menjelaskan tentang kesimpulan, implikasi dan
rekomendasi.

DAFTAR PUSTAKA

Akadum. (1999). Potret Guru Memasuki Milenium Ketiga. Suara Pembaharuan.

Ani M. Hasan (2006). Meningkatkan profesional guru. Jurnal. Universitas Negeri


Gorontalo

Dedi SupriawanWowo SK.,dkk (2006). Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah,


kinerja Mengajar guru, pengelolaan fasilitas pembelajaran, Dan proses
pembelajaran terhadap mutu kompetensi Lulusan smk bidang keahlian
manajemen Dan bisnis di kota bandung. Disertasi. UPI

Hasibuan, Malayu. (2006). Manajemen sumber Daya Manusia, Bumi. Aksara:


Jakarta.

Kartadinata (2007). Ilmu dan aplikasi aplikasi pendidikan.jurnal. Universitas


Pendidikan Indonesia.
18

Mulyasa, E. (2008). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT


Remaja Rosda Karya.

Permendiknas No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi


Guru

Sugiyono, (2009), Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung : Alfabeta.

Sukmadinata, (2011), Metode Penelitian Pendidikan, Bandung ; Remaja Rosda


Karya.

Husein, Umar. (2008). Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta.
PT. Rajagrafindo Persada.

Undang-Undang (2005) tentang Guru dan Dosen

Undang-undang (2003) Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Yuniarsih, Tjutju dan Suwanto. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia.


Bandung:pascasarjana UPI dan ALFABETA

https://daerah.sindonews.com/read/1242748/21/miris-lulusan-smk-di-jabar-
mayoritas-menganggur-1506331179 diunduh tanggal 27 desember 2017
pukul 10:00 wib).