Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN ANATOMI FISIOLOGI

( pengamatan sperma )

Oleh:

Nama : Fitriani J
NIM : 18 3415 353 047
Kelas : 18 B
Kelompok : V ( lima)

PROGRAM STUDI DIV ANALIS KESEHATAN


STIKes MEGA REZKY MAKSSAR
2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN
Judul praktikum : Pengamatan Sperma
Nama : Fitriani J
Nim : 18 3145 353 047
Hari/ tanggal : Kamis , 17 Januari 2019
Kelompok : V ( lima)
Rekan kerja : 1. Fatmawati
2. Jems resimanuk
3. Lisa
4. Rafika
5. Suci Ananda sari
6. Zindi Devi Claudia Bunga
Penilaian :

Makassar, 19 Januari 2019

Disetujui oleh :

Asisten Dosen Praktikan

Ka’bah S.Si, M.Kes Fitriani J.


NIDN: 09 058803 NIM: 18 3145353 047
Dosen pembimbing

Ka’bah S.Si, M.Kes


NIDN: 09 058803
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem reproduksi pria menghasilkan cairan berwarna putih kental yang
biasa disebut dengan spermatozoa (gamet jantan), mempertahankannya dan
kemudian mencurahkannya ke dalam tractus reproduksi wanita. Sel sperma akan
membuahi ovum untuk membentuk zigot. Spermatozoa yang baik merupakan
salah satu faktor dari fertilitas jantan. Spermatozoa yang dikatakan mempunyai
kualitas yang cukup baik bila dilihat secara morfologi lebih dari 50% bersifat
normal. Pemerikasaan morfologi pada sperma ini mencakup bagian kepala, leher,
dan ekor dari spermatozoa. Spermatozoa adalah sel gamet jantan yang
merupakan sel yang sangat terdeferensiasi, satu-satunya sel yang memilki jumlah
sitoplasma yang terperas dan nyaris habis. Strukturnya sangat khusus untuk
mengakomodasikan fungsinya. Fungsi spermatozoa ada dua, yaitu mengantarkan
material genetis jantan ke betina dan fungsi kedua adalah mengaktifkan program
perkembangan telur. Bila kurang dari 50% mempunyai morfologi abnormal
maka keadaan sepert ini yang sering disebut dengan teratozoospermia.
Selama ini secara umum sperma diketahui memiliki kepala berbentuk oval
dan ekor yang panjang. Namun sebenarnya masing-masing sperma berbeda. Ada
sperma yang memiliki dua kepala, kepala besar, kepala kecil, beberapa ekor, ekor
yang bengkok. Sperma membawa kromosom X (perempuan), sementara yang
lainnya membawa kromosom Y (laki-laki). Sperma dengan kromosom Y
cenderung bergerak lebih cepat, namun sperma dengan kromosom X lebih kuat
dan dapat bertahan hidup lebih lama di tubuh wanita.
Pada praktikum pengamatan sperma kali ini, dilakukan pengamatan
menggunakan mikrosop dengan pembesaran tertentu pada sperma untuk
mengetahui bentuk morfologi sperma normal atau abnormal dan juga untuk
mengetahui jumlah sperma dalam satu lapangan pandang dengan menggunakan
mikroskop.
Adapun yang melatar belakangi kami melakukan praktikum ini adalah untuk
mengetahui morfologi , jumlah abnormal, dan jumbal normal dari sampel sperma
tersebut dengan menggunkan perbesaran 10 X, 40 X, 100 X.
B. TUJUAN
Adapun tujuan pada praktikum pengamatan sperma kali ini, yaitu:
1.Mengetahui morfologi spermatozoa
2.Mengetahui jumlah sperma normal dan abnormal dalam satu lapangan pandang
3.Mengetahui jumlah total sperma dalam satu lapangan pandang
C. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusn masalah pada praktikum pengamatan sperma kali ini, yaitu:
1. Bagaimana bentuk morfologi spermatozoa?
2. Berapa jumlah sperma normal dan abnormal dalam satu lapangan pandang?
3. Berapa jumlah total sperma dalam satu lapangan pandang?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Spermatozoa merupakan hasil akhir dari sel kelamin jantan yang telah
mengalami pendewasaan. Proses pembentukan spermatozoa di dalam tubulus
seminiferus (spermatogenesis) terbagi dalam dua fase, yaitu Abnormalitas
spermatozoa domba 931 spermatositogenesis, dimana spermatogonia mengalami
pembelahan secara mitosis, meiosis, dan spermiogenesis, dimana spermatid akan
berubah menjadi spermatozoa. Membran akrosom pada kepala sperma berfungsi
untuk kapasitasi, reaksi akrosom, dan penembusan ovum pada proses fertilisasi.
Membran bagian belakang akrosom (post acrosomal region) berfungsi untuk
mengadakan kontak pertama dan menjadi satu dengan oolema ovum pada proses
fertilisasi, sedangkan membran pada bagian tengah (midpiece) ekor berfungsi untuk
mendapatkan substrat untuk energi spermatozoa dan menghantarkan gelombang
gerak, serta membran bagian utama (principle piece) berfungsi untuk pergerakan
spermatozoa . ( Afianti, dkk.2015 Vol.1 No.4)
Pengamatan abnormalitas spermatozoa dilakukan menggunakan mikroskop
cahaya (Olympus CH 20) dengan perbesaran 400 kali. Penghitungan jumlah
abnormalitas dilakukan minimal 500 sel spermatozoa dari 5-10 lapang pandang yang
berbeda. Abnormalitas spermatozoa yang diamati dikelompokkan menjadi pyriform
(bentuk yang menyempit di bagian post acrosome), detached head (kepala yang
terpisah dari ekor), pear shaped (bagian anterior akrosom membulat dan bagian
posterior akrosom mengecil dan mengalami elongasi seperti buah pir), macrocephalus
(kepala lebih besar), microcephalus (kepala lebih kecil daripada normal), double head
(satu sel memiliki dua kepala dan satu ekor), nuclear vacuolus (terdapat vacuola di
bagian kepala sperma yang menunjukkan abnormalitas inti dan kromatin sel),
underdeveloped (perkembangan yang tidak sempurna, ukuran yang lebih kecil
daripada normal, ekor pendek dengan material sel yang belum sempurna pada
pengamatan selanjutnya), round head (bentuk kepala yang membulat), abnormal
contour (bentuk yang abnormal di kepala maupun ekor), abaxial (terbentuk fossa
perlekatan di bagian tengah ekor), abnormal decondensation (abnormalitas
kondensasi DNA sperma), decapasitation (mengalami kapasitasi dini), defect
midpiece kerusakan pada bagian midpiece seperti ekor yang melingkar, patah, dan
melipat. ( Afianti, dkk.2015 Vol.1 No.4)
Metode sexing sperma dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya
dengan metode kolum albumin. Prinsip dari media ini adalah adanya perbedaan
kecepatan motilitas antara spermatozoa X dan Y serta perbedaan konsentrasi pada
media separasi. Spermatozoa Y memiliki motilitas lebih tinggi dibanding dengan X.
Adanya perbedaan konsentrasi pada media albumin yang digunakan menyebabkan
spermatozoa dengan motilitas tinggi diperkirakan akan mampu menembus lapisan
media konsentrasi yang lebih tinggi sedangkan spermatozoa yang motilitasnya rendah
akan tertinggal pada media dengan konsentrasi rendah. Dengan demikian pada
lapisan bawah dengan konsentrasi lebih tinggiakan ditemukan mayoritas spermatozoa
Y, sedangkan pada lapisan atas dengan konsentrasi lebih rendah akan diperoleh
spermatozoa X. Penentuan spermatozoa X dan Y secara morfometrik yaitu
berdasarkan temuan bahwa spermatozoa X memiliki ukuran lebih besar dibanding
spermatozoa Y. Berdasarkan prinsip kerja metode tersebut maka perlu diketahui
informasi dasar mengenai ukuran-ukuran sperma pada Domba Lokal sebagai dasar
aplikasi sexing sperma dengan metode kolom albumin. Berdasarkan ukuran-ukuran
sperma dapat diidentifikasi sperma X dan sperma Y sehingga dapat diketahui
proporsi kedua jenis sperma tersebut. Penelitian sebelumnya telah dilaporkan bahwa
proporsi alamiah antara sperma pembawa kromosom X dan Y pada golongn darah O
yaitu 50,70% X : 49,30% Y.(Solihati, Dkk.2017 Vol.17 No.2).
Spermatozoa X mengandung kromatin lebih banyak di kepalanya, sehingga
mengakibatkan ukuran kepala spermatozoa X lebih besar (Hafez,2008), maka
Susilawati dkk. (1998) melakukan identifikasi spermatozoa X dan Y berdasarkan
pada ukuran kepala, yaitu panjang kali lebar, apabila lebih besar dari rata-rata, maka
dianggap spermatozoa X sedangkan apabila lebih kecil adalah spermatozoa Y.
Berdasarkan cara penentuan tersebut diperoleh hasil persentase spermatozoa yang
diprediksi sebagai spermatozoa 8 | Sexing Spermatozoa X sebanyak 52,10% dan
spermatozoa yang diprediksi sebagai spermatozoa Y sebanyak 47,9%..(Solihati,
Dkk.2017 Vol.17 No.2).
Sperma dibentuk dalam dalam tubuliseminiferi yang berada dalam teste.
Tubulus ini berisi rangkaian sel yng kompleks yaitu perkembangan atau pembelahan
sel dari sel germinak samapi dengan terbentuknya spermatozoa atau gemet jantan.
Bentuk spermatozoa yang sempurna adalah merupakan sel yang memanjang, yakni
terdiri dari kepala yang tumpul yang di dalamnya ternadap nudheus atau inti, ekor
yang mengandung apparatus untuk bergerakan sel pada kepala terdapat akrosom yang
memiliki struktur dinding yang rangkap yang terletak diantara membrane sel. Pada
kepala terdapat akromosom yang memiliki struktur dinding yang rangkap ynag
terletak diantara membrane plasma bagian anterior nucleus, leher menghubungkan
kepala pada ekornya yang bagian bagi menjadi bagian tengah, pokok dan akhirnya
bagian-bagian tersebut mempunyai struktur yang berbeda-beda.( sulistiawati.2011).
Spermatogenesis merupakan proses pembentukan spermatozoa. Spermatozoa
merupakan sel yang dihasilkan oleh fungsi reproduksi pria. Spermatozoa merupakan
sel hasil maturasi dari sel germinal primordial yang disebut dengan spermatogonia.
Spermatogonia berada pada dua atau tiga lapisan permukaan dalam tubulus
seminiferus. Spermatogonia mulai mengalami pembelahan mitosis, yang dimulai saat
pubertas, dan terus berproliferasi dan berdiferensiasi melalui berbagai tahap
perkembangan untuk membentuk sperma spermatogenesis terjadi di tubulus
seminiferus selama masa seksual aktif akibat stimulasi oleh hormon gonadotropin
yang dihasilkan di hipofisis anterior, yang dimulai rata-rata pada umur 13 tahun dan
terus berlanjut hampir di seluruh sisa kehidupan, namun sangat menurun pada usia
tua.( Utami, dkk. 2015 Hal 10)
Analisis sperma dipakai untuk diagnosis evaluasi pre/post terapi medikal
maupun surgikal infertilitas pria. Analisis sperma dipakai juga di laboratorium
forensik guna penanggulangan kasus perkosaan, kasus penolakan orangtua terhadap
bayinya, dan untuk menyaring pengaruh bahan racun/ obat yang toksik pada organ
reproduktif (Khaidir, 2006). Pemeriksaan analisa sperma pada semen pria merupakan
suatu analisa lengkap yang penting untuk pasangan yang berkonsultasi masalah
infertilitas. Infertilitas yang diperkirakan 10% hingga 15% dari seluruh jumlah
pasangan yang ada, bila ditelusuri setengah dari kasus-kasusnya, penyebabnya dari
pihak pria.( Utami, dkk. 2015 Hal 10).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. WAKTU DAN TEMPAT


1.Waktu
Adapun waktu dilaksanakannya praktikum kali ini adalah:
Hari : Kamis
Tanggal : 17 Januari 2019
Pukul : 15.00 – 16.00 WITA
2. Tempat
Adapun tempat dilaksanakanya Praktikum Anatomi Fisiologi yaitu
Laboratorium Kimia DIV Analis Kesehatan Lantai 1 Gedung D STIKes Mega
Rezky Makassar.
B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a) Cawan petri
b) Pipet tetes
c) Preparat
d) Deck glass
e) Mikroskop
2. Bahan
a) Sperma
b) Tissue
c) Aquadest
C. PROSEDUR KERJA
a) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b) Dipindahkan sperma ke cawan petri
c) Dipipet satu tetes sperma kemudian diletakkan diatas preprat
d) Ditutup menggunakan deck glass
e) Diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10X, 40X dan 100X
f) Diamati morfologi dan pergerakan sperma
g) Dihitung jumlah sperma keseluruhan
h) Dihitung jumlah sperma normal dan abnormal
i) Dicatat hasil pengamatan
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A. TABEL PENGAMATAN
Jumlah Sperma Jumlah
No. Pembesaran pH
Normal Abnormal Total
Pembesaran
1. 6 350 96 646
10X
Pembesaran
2. 6 50 25 80
40X
Pembesaran
3. 6 15 5 20
100X

B. GAMBAR PENGAMATAN

Perbesaran 10X Perbesaran 40X


Perbesaran 100X

C. PEMBAHASAN
Pada praktikum yang dilaksanakan hari kamis tanggal 17 Januari 2019 di
Laboratorium Kimia STIKes Mega Rezky Makassar pada pukul 15.00-16.00
WITA dilakukan praktikum pengamatan sperma. Sampel yang kami gunakan yaitu
sperma dengan pH 6 dikeluarkan 15 menit sebelum praktikum pengamatan sperma
dilakukan.
Pengukuran ke-asaman pH pada sampel sperma menggunakan strip. Sampel
sperma yang kami gunakan yaitu memiliki sifat asam. Akan tetapi sperma yang
normal memiliki sifat basa. Kami memakai sperma dengan sifat asam karena
sesuai dengan tujuan praktikum ini, yaitu untuk mengetahui morfologi sperma
normal dan abnormal. Warna dan wujud dari sampel sperma yang kami gunakan
yaitu berwarrna putih agak bening dan sangat kental disertai bau yang sangat
menyengat.
Pada praktikum sperma kali ini, kami menggunakan oil mercy. Oil mercy ini
tersebut digunakan hanya pada pembesaran 100x agar pergerakan sperma yang
kita pantau dalam satu lapangan pandang dapat diamati dengan jelas serta juga
dapat mengamati morfologi sperma secara lebih jelas lagi. Selain itu fungsi oil
mercy juga untuk agar pada saat pergeseran meja objek dalam pengamatan
tersebut deck glass maupun preparat sperma tersebut dapat tergeser atau
digerakkan dengan mudah tanpa harus takut deck glass jatuh atau goyang, karna
pada pengamatan pembesara 100x kaca preparat atau deck glass rapat dengan
lensa objektif mikroskop.
Praktikum pengamatan sperma dilakukan pada mikroskop dengan tiga tahap
pembesaran, yaitu pembesaran 10X, pembesaran 40X dan pembesaran 100X. Pada
setiap pengamatan mulai dari pembesaran 10X,40X sampai 100X Nampak sperma
namun memiliki morfologi yang berbeda. Morfologi normal sperma memiliki ciri-
ciri seperti bergerak aktif, berjalan lurus dan memiliki ekor, kepala, leher, dan juga
memiliki bagian tengah. Jika salah satu dari morfologi tersebut tidak ada, itu
menandakan bahwa sperma tersebut abnormal atau mengalami cacat.
Pada pengamatn sperma dengan pembesaran 10X, kondensor mikroskop
diturunkan sampai bawah, diafragma ditutup dan cahaya lampu mikroskop diatur
hingga pencahayaan yag dihasilkan rendah agar objek sperma dapat gampang
diamati. Pada pembesaran 10X ini kami mengamati kurang lebih 350 sperma yang
aktif berjalan lurus dan memiliki morfologi yang normal. Sedangkan sperma yang
abnormal yang kami amati pada pembesaran 10X ini terdapat kurang lebih sekitar
96 sperma yang abnormal, memiliki kepala besar, ekor tidak ada dan adapun yang
tidak bergerak atau berjalan lurus. Jumlah sperma keseluruhan yang kami amati
dalam satu lapangan pandang pada pembesaran 10X ini sekitar 646 sperma.
Selanjutnya pada pengamatn sperma dengan pembesaran 40X, diafragma
mikroskop ditutup dan cahaya lampu mikroskop diatur hingga pencahayaan yang
dihasilkan sesuai, agar objek sperma dapat gampang diamati. Pada pembesaran
40X ini kami mengamati kurang lebih 50 sperma yang aktif berjalan lurus dan
memiliki morfologi yang normal. Sedangkan sperma yang abnormal yang kami
amati pada pembesaran 40X ini terdapat kurang lebih sekitar 25 sperma yang
abnormal, memiliki kepala besar, ekor tidak ada dan adapun yang tidak bergerak
atau berjalan lurus. Jumlah sperma keseluruhan yang kami amati dalam satu
lapangan pandang pada pembesaran 40X ini, yaitu sekitar 75 sperma.
Selanjutnya pada pembesaran ketiga yaitu, pengamatan sperma dengan
pembesaran 100X, pada pembesaran 100X ini kami mengamati kurang lebih 15
sperma yang aktif berjalan lurus dan juga memiliki morfologi yang lengkap.
Sedangkan sperma yang abnormal yang kami amati pada pembesaran 100X ini
terdapat kurang lebih sekitar 5 sperma yang abnormal, memiliki kepala besar atau
kecil, ekor tidak ada, dan adapun yang tidak bergerak ataupun tidak berjalan lurus.
Jumlah sperma keseluruhan yang kami amati dalam satu lapangan pandang pada
pembesaran 100X ini berjumlah 20 sperma.
Saat melakukan penelitian atau pengamatan terhadap sperma sering terjadi
hal-hal yang tidak di inginkan atau biasa juga disebut dengan factor yang
mempengaruhi gagalnya atau tidak berjalannya dengan baik suatu praktikum
sesuai prosedur dan teori, seperti keterlambatan pada saat menyediakan atau
mempersiakan sampel, sehingga dapat membuat praktikan terburu-buru dalam
melakukan pengamatan sehingga hasil yang didapat juga tidak akurat atau bahkan
gagal saat melakukan pengamatan, dan juga ada beberapa praktikan yang juga
belum terlalu bisa mengendalikan atau mengoprasikan mikroskop .
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pada praktikum pengamatan sperma yang dilakukan kali dapat disimpulkan
bahwa:
1. Sperma memiliki bentuk yang hampir mirip dengan kecebong, morfologi
sperma meliputi kepala, bagian tengah tubuh dan juga ekor.
2. Jumlah sperma normal dan abnormal yang terdapat dalam satu lapangan
pandang pada pembesaran 10X yaitu 350 sperma normal dan 50 sperma
abnormal, pada pembesaran 40X terdapat 50 sperma normal dan 25 sperma
abnormal, dan pada pembesaran 100X terdapat 15 sperma normal dan 5 sperma
abnormal.
3. Jumlah total sperma pada satu lapangan pandang pada pembesaran 10X
sebanyak 646 sperma, pembesaran 40X sebanyak 75 sperma dan pada
pembesaran x terdapat 15 sperma.
A. SARAN
Adapun saran yang dapat diberikan untuk praktikan yaitu pada saat
melakukan praktikum sebaiknya lebih memperhatikan K3 dan berhati-hati dan
lebih teliti lagi, sehingga tidak terjadi kesalahan atau kecelakaan kerja dan hasil
yang didapatkan juga lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Afianti, dkk.2015. “Abnormalitas Spermatozoa Domba dengan frekuensi Pempung


berbeda”. Kalimantan selatan: Universitas lampung Mangkurut.
19 Januari 2019. http://jurnal.unpad.ac.id/farmaka/article/view File/1757/pdf.
Solihati, dkk.2017.Identifikasi Morfometrik Sperma Domba Local Sebagai Dasar
aplikasi Sexing Sperma. Bandung : Universitas Padjajaran. 19 Januari 2019.
https://media.neliti.com/medis/publications
Sulistiawati . 2011. Spermatologi. Jakarta: Universitas Brawijaya press.
Utami, dkk. 2017. profil kualitas spermatozoa pada manusia secra makrokopik.
Makassar : Universitas Hasanuddin
https://jaurnals.ac.id/index/php/jzi/article/viewFile