Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK KORBAN KDRT

Disusun Oleh :

Nada Heni Winari B

(12161009)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BOROBUDUR

2019
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah tindakan yang dilakukan di dalam
rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap
keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan hubungan sesuai yang termaktub dalam pasal
1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
(UU PKDRT). Komnas Perempuan : Kekerasan adalah segala tindakan yang
mengakibatkan kesakitan yang meliputi empat aspek : fisik, mental, sosial dan
ekonomi. Begitu juga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Menurut U.S Departement of Health, Education and Wolfare child abuse
merupakan tidakan kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran
terhadap anak dibawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh orang yang seharusnya
bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak yang terancam.
Menurut Harry Kempe dkk (1992), child abuse merupakan the battered child syndrome
yang hanya terbatas pada anak-anak yang mendapatkan perlakuan salah secara fisik
yang bersifat ekstrem atau membahayakan anak-anak.
Jadi child abuse merupakan suatu tidak kekerasan kekerasan (fisik dan/atau
mental), eksploitasi (ekonomi, seksual) dan diskriminasi dalam tulisan ini selanjutnya
disebut anak yang mengalami berbagai perlakuan salah. Kondisi dan situasi anak yang
sulit tersebut tergolong ke dalam anak yang memerlukan perlindungan khusus.

Pasal 59 Undang-undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


menyatakan bahwa perlindungan khusus diberikan kepada :

 anak dalam situasi darurat (anak pengungsi, anak korban kerusuhan,anak korban
bencana alam, anak dalam situasi konflik bersenjata)
 anak yang berhadapan dengan hukum,
 anak dari kelompok minoritas dan terisolasi,
 anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual,
 anak yang diperdagangkan,
 anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, akohol, psikotropika dan zat
adiktif lainnya (napza),
 anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan,
 anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental,
 anak korban perlakuan salah,
 penelantaran
 anak yang menyandang cacat

Selain itu, dimasukkan pula kelompok anak rentan lainnya yakni anak jalanan
dan anak tanpa akta kelahiran. Dengan demikian terdapat berbagai jenis kondisi dan
situasi anak yang memerlukan perlindungan khusus dari perlakuan salah.yang dapat
dilakukan oleh orang perorang, keluarga, masyarakat bahkan oleh negara sekalipun.

B. Etiologi
Etiologi perlakuan salah terhadap anak bersifat multidimensional, tetapi ada 3
faktor penting yang berperan dalam terjadinya perlakuan salah pada anak, yaitu:
 Karakteristik orangtua dan keluarga Faktor-faktor yang banyak terjadi
dalam keluarga dengan child abuse antara lain:
 Para orangtua juga penderita perlakuan salah pada masa
kanak-kanak.
 Orangtua yang agresif dan impulsif.
 Keluarga dengan hanya satu orangtua.
 Orangtua yang dipaksa menikah saat belasan tahun sebelum
siap secara emosional dan ekonomi.
 Perkawinan yang saling mencederai pasangan dalam
perselisihan.
 Tidak mempunyai pekerjaan.
 Jumlah anak yang banyak.
 Adanya konflik dengan hukum.
 Ketergantungan obat, alkohol, atau sakit jiwa.
 Kondisi lingkungan yang terlalu padat.
 Keluarga yang baru pindah ke suatu tempat yang baru dan
tidak mendapat dukungan dari sanak keluarga serta kawan-
kawan.
 Karakteristik anak yang mengalami perlakuan salah Beberapa faktor
anak yang berisiko tinggi untuk perlakuan salah adalah:
 Anak yang tidak diinginkan.
 Anak yang lahir prematur, terutama yang mengalami
komplikasi neonatal, berakibat adanya keterikatan bayi dan
orangtua yang membutuhkan perawatan yang berkepanjangan.
 Anak dengan retardasi mental, orangtua merasa malu.
 Anak dengan malformasi, anak mungkin ditolak
 Anak dengan kelainan tingkah laku seperti hiperaktif mungkin
terlihat nakal.
 Anak normal, tetapi diasuh oleh pengasuh karena orangtua
bekerja.
 Beban dari lingkungan :
Lingkungan hidup dapat meningkatkan beban terhadap perawatan
anak. Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa penyiksaan
anak dilakukan oleh orang tua dari banyak etnis, letak geografis,
agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan social ekonomi. Kelompok
masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan laporan
penyiksaan fisik terhadap anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan
karena:
 Peningkatan krisis di tempat tinggal mereka (contoh: tidak
bekerja atau hidup yang berdesakan).
 Akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-
masa krisis.
 Peningkatan jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka.
 Hubungan antara kemiskinan dengan faktor resiko seperti
remaja dan orang tua tunggal (single parent).(hidayat,2008)

Klasifikasi Terdapat 2 golongan besar yaitu : Dalam keluarga Penganiayaan fisik, non
Accidental injury mulai dari ringan bruiser laserasi sampai pada trauma neurologik yang berat
dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian
racun. Penelantaran anak/kelalaian, yaitu: kegiatan atau behavior yang langsung dapat
menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya.
Kelalaian dapat berupa pemeliharaan yang kurang memadai,menyebabkan gagal tumbuh, anak
merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan
pengawasan yang kurang memadai. Menyebabkan anak gagal mengalami resiko untuk
terjadinya trauma fisik dan jiwa Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan Kegagalan dalam
merawat anak dengan baik.

Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak agar mampu
berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah
untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah. Penganiayaan emosional Ditandai
dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak.
Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain.Penganiayaan
seksual mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seseorang anak untuk mengajak
berperilaku/mengadakan kegiatan seksual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan
seperti: aktivitas seksual (oral genital, genital, anal, atau sodomi) termasuk incest.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat keluarga dari penganiayaan anak yang lalu.
2. Kecelakaan yang berulang-ulang, dengan fraktur/memar/jaringan yang berbeda
waktu sembuhnya.
3. Orang tua yang lambat mencari pertolongan medis.
4. Orang tua yang mengaku tidak mengetahui bagaimana jelas tersebut terjadi.
5. Riwayat kecelakaan dari orangtua berbeda atau berubah-ubah pada anamnesis.
6. Keterangan yang tidak sesuai dengan penyebab jejas yang tampak atau stadium
perkembangan anak.
7. Orang tua yang mengabaikan jejas utama yang hanya membicarakan masalah kecil
yang terus-menerus.
8. Orangtua berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain sampai satu saat akhir
bercerita bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka.
9. Penyakit anak yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
10. Anak yang gagal tumbuh tanpa alasan yang jelas.
11. Anak wanita yang tiba-tiba berubah tingkah lakunya, menyendiri atau sangat takut
dengan orang asing, harus diwaspadai kemungkinan terjadinya penganiayaan
seksual.
12. Pada anak yang lebih tua, mungkin dapat menceritakan jejasnya, tetapi kemudian
mengubah uraiannya karena rasa takut akan pembalasan atau untuk mencegah
pembalasan orangtua.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian asuhan dan
lingkungan.
2. Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang,
ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua.
3. Resiko terhadap kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi berhubungan dengan
perlakuan kekerasan.
4. Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orang tua)
5. Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik / social
6. Resiko keterlamnbatan perkembangan berhubungan dengan perilaku kekerasan
(Nanda, 2012)
C. Intervensi 1
 Dx 1 : Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian
asuhan dan lingkungan.
 Tujuan: setelah dialakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi
trauma pada anak NOC : Abuse Protection
 Kriteria hasil :
 Keselamatan tempat tinggal
 Rencana dalam menghindari kekerasan/ perlakuan yang salah
 Rencanakan tindakan untuk menghindari perlakuan yang salah
 Keselamatan diri sendiri
 Keselamatan anak NIC: Enviromental Mangemen: safety Intervensi:
 Identifikasi kebutuhan rasa aman pasien berdasarkan tingkat
fisik, fungsi kognitif dan perilaku masa lalu
 Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan
resiko
 Monitor lingkungan dalam perubahan status keamanan
 Bantu pasien dalam menyiapkan lingkungan yang aman
 Ajarkan resiko tinggi individu dan kelompok tentang bahaya
lingkungan
 Kolaborasi dengan agen lain untuk mengmbangkan
keamanan lingkungan.
 Dx 2 : Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang
ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua.
 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatandiharapkan rasa cemas anak
dapat berkurang / hilang NOC : Kontrol cemas
 Kriteria hasil :
 Monitor intensitas kecemasan
 Menyingkirkan tanda kecemasan
 Menurunkan stimulasi lingkuangan ketika cemas
 Mencari informasi untuk menurunkan cemas
 Menggunakan strategi koping efektif NIC : Penurunan cemas Intervensi:
o Tenangkan klien
o Berusaha memahami keadaan klien
o Temani pasien untuk mendukung keamanan dan menurunkan rasa
takut
o Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi-situasi yang
menciptakan cemas
o Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri dengan cara yang
tepat
o Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan.
 Dx 3 : Resiko terhadap kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi
berhubungan dengan perlakuan kekerasan
 Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan tidak terjadi kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi
NOC : Parenting
 Kriteria hasil:
 Menyediakan kebutuhan fisik anak
 Merangsang perkembangan kognitif
 Merangsang perkembangan emosi
 Merangsang perkembangan spiritual
 Menggunakan masyarakat dan sumber lain yang tepat
 Gunakan interaksi yang tepat untuk perkembangan emosi
anak NIC : Anticipatory guidance Intervensi:
o Kaji pasien untuk mengidentifikasi perkembangan
dan krisis situasional selanjutnya dalam efek dari
krisis yang ada pada kehidupan individu dan
keluarga.
o Instruksikan perkembangan dan perilaku yang tepat
o Sediakan informasi yang realistic yang berhubungan
dengan perilaku pasien
o Tentukan kebiasaan pasien dalam mengatasi
masalah
o Bantu pasien dalam memutuskan bagaimana dalam
memutuskan masalah
o Bantu pasien berpartisipasi dalam mengantisipasi
perubahan peraturan
 Dx 4 : Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan
orangtua)
 Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi
cidera NOC : Pengendalian resiko
 Kriteria hasil:
 Pantau factor resiko perilaku pribadi dan lingkungan
 Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian resiko
 Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
 Menghindari cidera fisik
 Orang tua akan mengenali resiko dan membantu kekerasan.
 NIC : Manajemen lingkungan: keselamatan
D. Intervensi
 Monitor lingkungan untuk perubahan status
 Identifikasi keselamatan yang dibutuhkan pasien, fungsi kognitif dan level fisik
 Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko
 Gunakan alat-alat pelindung untuk mobilitas fisik yang sakit
 Catat agen-agen berwenang untuk melindungi lingkungan
 Dx 5 : Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik / social
 Tujuan : Pasien tidak merasa takut. NOC : Kontrol ketakutan
 Kriteria hasil:
o Mencari informasi untuk menurunkan ketakutan
o Menghindari sumber ketakutan bila mungkin
o Mengendalikan respon ketakutan
o Mempertahan penampilan peran dan hubungan social NIC 1 :
Pengurangan Ansietas Intervensi:
 Sering berikan penguatan positif bila pasien
mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan /
mengurangi takut
 Tetap bersama pasien selama dalam situasi baru
 Gendong/ayun-ayun anak
 Sering berikan penguatan verbal / non verbal yang dapat
membantu menurunkan ketakutan pasien
NIC 2 : Peningkatan koping Intervensi:
a. Gunakan pendekatan yang tenang, meyakinkan
b. Bantu pasien dalam membangun penilaian yang
objektif terhadap suatu peristiwa
c. Tidak membuat keputusan pada saat pasien
berada dalam stress berat
d. Dukung untuk menyatukan perasaan, persepsi
dan ketakutan secara verbal
e. Kurangi stimulasi dalam lingkungan yang dapat
disalah interprestasikan sebagai ancaman
 Dx 6: Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan perilaku kekerasan
Tujuan : Tidak terjadi keterlambatan perkembangan NOC : Abusive behavior self-
control
 Kriteria hasil:
 Hindari perilaku kekerasan fisik
 Hindari perilaku kekerasan emosi
 Hindari perilaku kekerasan seksual
 Gunakan alternative mekanisme koping untuk mengurangi stress
 Identifikasi factor yang dapat menyebabkan perilaku kekerasan
 NIC : Family terapi
 Intervensi:
o Tentukan terapi dengan keluarga
o Rencanakanstrategi terminasi dan evaluasi
o Tentukan ketidakmampuan spesifik dalam harapan peran
o Gunakan komunikasi dalam berhubungan dengan keluarga
o Berikan penghargaan yang positif pada anggota keluarga
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Child abuse adalah seorang anak yang mendapat perlakuan badani yang keras,
dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom
perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari
spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya/ pengasuh. Child Abuse adalah tindakan yang
mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian asuhan dan


lingkungan.
2. Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang, ketidakberdayaan
dan potensial kehilangan orang tua.
3. Resiko terhadap kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi berhubungan dengan
perlakuan kekerasan
4. Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orang tua)
5. Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik / social
6. Resiko keterlamnbatan perkembangan berhubungan dengan perilaku kekerasan
DAFTAR PUSTAKA

Betz, Delsboro Keperawatan Pediatric, Jakarta : EGC Budi Keliat, Anna Penganiayaan Dan
Kekerasan Pada Anak. Jakarta: FKUI Gordon et all Nanda Nursing Diagnoses. Definition and
classification Phildelpia : NANDA Johnson, Fontana, dkk IOWA Intervention Project Nursing
Outcomes Classifition (NOC), Second Edition. USA : Mosby Mccloskey, Gill D.dkk IOWA
Intervention Project Nursing Intervention Classifition (NOC), Second Edition. USA : Mosby
Nelson, Synder Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Whaley s and Wong Clinic Manual of
Pediatric Nursing,4th Edition. USA Potter A Patricia.2005.Buku Ajar Fundamental
Keperawatan,edisi 4.Jakarta :EGC NANDA Nursing Diagnoses: Definitions & Classification
Philadelphia: NANDA International. NICNOC. 2008, Diagnosa Nanda NIC & NOC, Jakarta:
Prima Medika. American Academy of Pediatrics, Soft Drinks in Schools: Committee on School
Health. Available from: /113/1/152.htm. [Accessed 14 April 2013]. Soegijianto,
Soegeng.2002.Ilmu Penyakit Anak.Jakarta: Salemba Medika. Hidayat, A. 2008, Pengantar
Ilmu Keperawatan Anak, (2 Edition), Jakarta:Salemba Medika.