Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH TINGKAH LAKU TERNAK

“Pengaruh Pemberian Serat Kasar dan Perkandangan terhadap Perilaku


Makan Sapi Potong”

DISUSUN OLEH :
NIDA NURAFIFAH YASMINE
200110170292

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sapi potong merupakan salah satu hewan ternak ruminansia besar dengan
makanan utamanya yaitu hijauan. Ruminasi merupakan kegiatan memuntahkan
(regurgitasi), mengunyah (mastikasi), dan menelan kembali makanan yang sudah
ditelan. Sapi biasanya melakukan kegiatan ruminasi di malam hari, sedangkan di
pagi hari sampai sore hari sapi menghabiskan waktunya untuk merumput atau
makan dan diselingi dengan istirahat.
Pemberian hijauan dengan kadar serat kasar cukup tinggi terhadap sapi
potong berpengaruh pada perilaku memamah biak. Sapi yang lebih banyak
mengunyah akan merangsang produksi saliva sehingga membantu untuk proses
pencernaan serat kasar karena serat kasar ini lebih lama dicerna oleh mikroba
rumen. Perkandangan pada sapi potong juga dapat berpengaruh pada perilaku
makan sapi potong. Untuk itu perilaku makan pada sapi potong dapat diamati
dengan cara mengobservasi dan memonitori hewan tersebut secara individu.

1.2 Tujuan Penulisan


(1) Mengetahui perilaku ruminasi pada sapi potong.
(2) Mengetahui pengaruh serat kasar terhadap perilaku makan sapi potong.
(3) Mengetahui pengaruh perkandangan terhadap perilaku makan sapi potong.
II
PEMBAHASAN
2.1 Ruminasi
Proses pencernaan dimulai dari tahap merenggut rumput dengan gigi seri
dan ditelan untuk sementara disimpan dalam rumen. Rumen mempunyai peranan
penting dalam mencerna serat kasar. Makanan yang berada dalam rumen dan
retikulum akan dicerna oleh sejumlah komponen hidup yang disebut
mikroorganisme seperti bakteri, protozoa, khamir, dan kapang yang secara normal
ada dalam lambung sapi. Pakan yang telah ditelan dimuntahkan kembali melalui
proses regurgitasi dan kemudian dikunyah serta dicampur dengan ludah sewaktu
sapi tersebut dalam keadaan istirahat. Makanan yang telah dikunyah kembali secara
fisik dan berubah kondisinya menjadi lebih lumat selanjutnya menuju rumen,
retikulum, omasum dan abomasum (Akoso, 1996).

2.2 Pengaruh Serat Kasar dan Perkandangan pada Perilaku Ruminasi


Sapi Potong
Menurut laporan Burger dkk (2000), sapi potong yang berada di tempat
penggemukan menghabiskan waktu satu sampai enam jam per hari untuk makan,
sedangkan sapi yang dibiarkan merumput menghabiskan waktu empat sampai dua
belas jam perhari. Pembagian shift seperti ini dapat mensugesti hewan ternak untuk
mengubah perilaku makan mereka. Waktu yang dihabiskan untuk makan
berkorelasi positif dengan asupan bahan kering (BK) dan berkorelasi negatif
dengan serat kasar (NDF) dari pakan (Mertens, 1987). Pemberian serat kasar pada
sapi potong dapat meningkatkan frekuensi mengunyah dan pencernaan dalam
rumen membutuhkan waktu yang lebih lama. Secara keseluruhan, asupan pakan,
durasi makan, jumlah makanan, ruminasi, dan beristirahat adalah pola yang berubah
sesuai dengan karakteristik makanan (Deswysen dkk, 1993; Fischer dkk, 1997).
Pada penelitian yang dilakukan oleh MPP Tomaz dkk (2016), sebanyak 24
ekor sapi jantan silangan Red Norte-Nelore dengan rataan berat 439,8 kg dan umur
rataan 21,7 bulan. Sapi potong tersebut diurutkan dari berat badan lalu diberi
perlakuan dengan memberi 3 pakan yang berbeda, yaitu tebu segar, silase tebu, dan
silase jagung. Pengamatan dilakukan selama 14 hari setelah eksperimen dimulai.
Perilaku pakan diamati setiap interval 1 jam setelah pakan datang, 1 jam, 5 jam, dan
9 jam setelah makan. Perilaku yang diamati antara lain mengunyah, ruminasi, dan
istirahat per masing-masing individu hewan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa sapi potong yang diberi pakan hijauan
dapat meningkat aktivitas makan dan istirahat. Waktu yang dihabiskan sapi potong
yang diberi pakan silase jagung lebih lama (21,8 ± 1,2 menit/jam) dan dibandingkan
dengan sapi potong yang diberi pakan tebu segar atau sapi potong yang diberi pakan
silase tebu. Secara kontra, sapi potong yang menghabiskan waktu istirahat lebih
lama yaitu sapi yang diberi pakan tebu segar (38,8 ± 1,5 menit/jam). Jumlah NDF
dan SK diformulasikan setara sehingga silase jagung lebih tinggi dan proporsi tebu
segar dan silase tebu lebih rendah karena adanya variasi komposisi nutrisi hijauan,
hal ini dalam studi lebih lanjut menjelaskan rasio hijauan ke konsentrat dan dapat
menjelaskan peningkatan waktu yang dihabiskan untuk makan pada sapi yang
diberi pakan silase jagung, namun peningkatan ini tidak disertai dengan
peningkatan asupan paka dan kinerja pertumbuhan (Custodio dkk, 2015).
Durasi makan atau waktu yang dihabiskan untuk makan mungkin
berpengaruh oleh preferensi hewan, tinggi energi, konsentrasi batas NDF, NDF
rumen penuh dan yang tercerna, dan laju perjalanan bahan makanan. (Harvatine
dkk, 2002). Semua variabel ini dipengaruhi oleh rasio hijauan ke konsentrat (Lima
dkk, 2014). Tingkat peningkatan hijauan terhadap konsentrat menghabiskan lebih
banyak waktu dengan makan, ruminasi, dan sedikit istirahat (Goncalves dkk, 2001).
Proporsi hijauan dengan NDF rendah tidak mampu berpotensi dicerna dan tidak
dapat mengubah bahan kering sehingga tidak ada pengurangan waktu yang
dihabiskan dengan makan (Oliveira dkk, 2011).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada pengaruh dari tipe
perkandangan terhadap perilaku makan, ruminasi, dan istirahat. Sapi yang
ditempatkan pada kandang individu lebih banyak menghabiskan waktu lebih
banyak untuk makan dibanding dengan sapi yang ditempatkan pada kandang
koloni. Selain itu, waktu yang dihabiskan untuk aktivitas ruminasi juga lebih baik
di kandang individu (5,5 ± 0,6 menit/jam) dibanding dengan sapi yang ditempatkan
di kandang koloni. Sebaliknya, waktu yang dihabiskan untuk aktivitas istirahat
lebih baik di kandang koloni (38,9 ± 1,2 menit/jam) dibanding dengan sapi yang
ditempatkan di kandang individu.
III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
(1) Ruminasi adalah perilaku makan pada hewan ternak terutama hewan
memamah biak dengan mengunyah kembali makanan yang sudah masuk ke
rumen sebelum akhirnya dicerna oleh mikroorganisme.
(2) Pemberian serat kasar memberikan hasil yang signifikan pada pengaruh
perilaku makan pada sapi potong. Sapi potong yang diberi pakan dengan
kandungan serat kasar yang tinggi akan meningkatkan waktu mengunyah.
(3) Perkandangan memberikan hasil yang signifikan pada perilaku makan pada
sapi potong. Sapi potong yang ditempatkan pada kandang individu lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk makan dibanding sapi potong yang
ditempatkan pada kandang koloni.
DAFTAR PUSTAKA
Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius. Yogyakarta.
Bürger PJ, Pereira JC, Queiroz AC, Silva JFC, Valadares Filho SC, Cecon PR,
Casali ADP. 2000. Comportamento ingestivo em bezerros holandeses
alimentados com dietas contendo diferentes níveis de concentrado. Revista
Brasileira de Zootecnia 29:236-242.
Custodio SAS, Marques KO, Silva DAL, Goulart RO, Paim TP, Carvalho ER.
2015. Performance of Beef Cattle in Feedlot System Fed Different Sources
of Forage and Housed in Individual or Collective Pens.
http://sbz2015.com.br/resumos/R0065-1.PDF Accessed in October 2nd
2016.
Deswysen AG, Dutilleul P, Godfrin JP, Ellis WC. 1993. Nycterohemeral Eating
and Ruminanting Patterns in Heifers Fed Grass or Corn Silage: Analysis
by Finite Fourier Transform. Journal of Animal Science 71:2739-2747.
Fischer V, Deswysen AG, Dèspres L, Dutilleul P, Lobato JFP. 1997.
Comportamento ingestivo de ovinos recebendo dieta à base de feno durante
um período de seis meses. Revista Brasileira de Zootecnia 26:1032-1038.
Gonçalves AL, Lana RP, Rodrigues MT, Vieira RAM, Queiroz AC, Henrique DS.
2001. Padrão nictemeral do pH ruminal e comportamento alimentar de
cabras leiteiras alimentadas com dietas contendo diferentes relações
volumoso:concentrado. Revista Brasileira de Zootecnia 30:1886-1892.
Harvatine DI, Winkler JE, Devant-Guille M et al. 2002. Whole Linted Cottonseed
as a Forage Substitute: Fiber Effectiveness and Digestion Kinetics. Journal
of Dairy Science. doi: 10.3168/jds.S0022-0302(02)74275-6
Lima MLM, Mattos WRS, Nussio LG, Carvalho ER, Castro FGF, Amaral AG.
2014. Substituição parcial da forragem pelo caroço de algodão:
comportamento ingestivo e consistência da camada flutuante da digesta
ruminal. Global Science and Technology 7:129- 139.
Mertens DR. 1987. Predicting Intake and Digestibility Using Mathematical Models
of Ruminal Function. Journal of Animal Science.
doi:10.2527/jas1987.6451548x.
Oliveira AS, Detmann E, Campos JMS, Pina DS, Souza SM, Costa MG. 2011.
Meta-análise do impacto da fibra em detergente neutro sobre o consumo, a
digestibilidade e o desempenho de vacas leiteiras em lactação. Revista
Brasileira de Zootecnia 40:1587-1595.
LAMPIRAN