Anda di halaman 1dari 76

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah,
inayah, dan anugerah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan akhir
praktikum Dasar-dasar Hortikultura.

Laporan ini berisi kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada praktikum mata kuliah Dasar-dasar
Hortikultura yang dilaksanakan di Kebun percobaan Cikabayan Bawah IPB. Praktik budidaya
yang kami lakukan merupakan praktik budidaya hortikultura dengan tipe budidaya di lapang.
Tanaman yang ditanam dalam praktikum adalah tanaman sayuran seperti kangkung, caisim,
bayam, tomat, cabai, dan kacang panjang.

Penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, kami
berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Kritik dan saran dari
pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan laporan selanjutnya dan praktikum lapang di
masa yang akan datang. Atas perhatian saudara kami sampaikan terima kasih.

Bogor, 1 Juni 2009

Penulis
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya tersebut akan sia-sia apabila
tidak dimanfaatkan secara potensial. Sumber daya potensial tidak hanya berasal dari sumber
daya alam, tetapi juga berasal dari sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dibutuhkan
tidak harusberkuantitas besar, tetapi juga harus memiliki kualitas tinggi. Oleh karena itu, apabila
kedua sumber daya potensial ini digabungkan maka akan dapat mengembangkan pertanian
Indonesia.
Hortikultura merupakan kegiatan budidaya tanaman dalam skala yang lebih padat modal, padat
tenaga kerja, dan lebih intensif, karena mutu hasil merupakan tujuan akhir dari suatu budidaya
tanaman.Walaupun begitu, budidaya hortikultura akan menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit.
Komoditas hortikultura mencakup komoditas buah, sayur, tanaman hias, dan tanaman obat.

Produk hortikultura mempunyai karakteristik yang berbeda dari produk agronomi. Komoditas
hortikultura dimanfaatkan dalam keadaan masih hidup atau masih segar, perisibel, dan
mempunyai kandungan air yang tinggi. Contoh komoditas hortikultura seperti sawi, kangkung,
tomat, cabai, jambu, dan sebagainya.

Dalam budidaya hortikultura, karakteristik tanaman harus diketahui. Contohnya tomat tidak
cocok pada tempat yang tergenang air, sawi tidak cocok pada tanah yang terlalu sering ditanami.
Hal ini diperlukan agar didapatkan produk akhir yang optimal. Selain itu dalam budidaya
hortikultura juga harus diperhitungkan jenis varietas yang cocok dan unit lapang yang akan di
berikan.

Untuk menunjang pemahaman tentang hortikultura maka diadakan praktikum dasar-dasar


hortikultura. Paraktikum dasar-dasar hortikultura ini memepelajari tentang cara budidaya
tanaman hortikultura, karakteristik tanaman, OPT, dan manajemen pengolahan budidaya
hortikultura. Walaupun tidak semua komoditas hortikultura dipelajari. Mahasiswa dituntut
bekerja dengan rajin, terampil, tangkas, dan dapat kerjasama kelompok dengan baik. Setiap
mahasiswa dituntut untuk terlibat langsung dalam setiap tahap atau proses kegiatan mulai dari
persemaian sampai panen dan pasca panen.
Tujuan

Tujuan praktikum dasar-dasar hortikultura ini adalah untuk mengetahui dan


mengaplikasikan cara budidaya tanaman hortikultura, mengetahui karakteristik tanaman
hortikultura. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui manajemen pengolahan
budiadaya hortikulura.
Adapun kompetensi yang ingin dicapai pada praktikum Dasar-dasar Hortikultura ini
diharapkan mahasiswa mampu:
 Mahasiswa dapat mempraktekkan persiapan lahan untuk tanaman hortikultura
 Mahasiswa dapat mempraktekkan Persemaian
 Mahasiswa dapat mempraktekkan penanaman dengan berbagai sistem tanam
 Mahasiswa dapat mempraktekkan Pemeliharaan tanaman
 Mahasiswa dapat mengetahui budidaya tanaman budidaya dengan hidroponik
 Mahasiswa dapat mempraktekkan pemanenan tanaman
 Mahasiswa dapat mempraktekan pasca panen

BAB I

BUDIDAYA TANAMAN DI LAPANG

Tinjauan Pustaka

Kangkung (Ipomoea reptans)

Kangkung merupakan sayuran yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kangkung adalah
tanaman tahunan akuatik atau semi akuatik yang ditemukan di wilalah tropika dan sub tropika.
Tanaman yang mudah ditanam, produktif dan bergizi tinggi ini. Kangkungbiasanya diproduksi
setiap tahun.

Kangkung masuk dalam divisio Spermatophyta, sub divisio Angiospermae,


kelasDicutyledoneae, family Convolvulaceae, genus Ipomoea. Spesies kangkung
meliputiIpomoea aquatica Forks (kangkung air), Ipomoea reptans Poir (kangkung
darat),kangkung hutan atau kangkung pagar (Ipomoeae fistulose Mart ex. (hoisy)), rinsik bumi (I.
quamoqlit), dan I. Triloba L. yang tumbuhnya liar di hutan-hutan.
Ada dua tipe kangkung yang diusahakan, yaitu (1) Forma daun sempit, langsing dan
dengan ujung meruncing, bunga putih , serta batang hijau, yang disebut kangkung darat (ching
quat) yang dapat tumbuh baik ditanah lembab maupun lingkungan semiakuatik. Kangkung darat
banyak tumbuh dilahan kering atau tegalan. Warnanya hijau pucat keputih-putihan. Warna bunga
putih polos. Bunga ini dipelihara untuk menghasilkan benih baru. Pada umumnya kangkung
darat lebih toleran terhadap cuaca dingin. (2) Forma daun lebar berbentuk mata anak panah,
bunga merah jambu, dan batang putih, yang dikenal sebagai kangkung air (pak quat), yang dapat
di budidayakan di lingkungan tergenang. Kangkung air pada umumnya lebih disukai oleh
masyarakat.

Budidaya kangkung air, tanaman diperbanyak dengan stek batang dan benih jarang di
gunakan. Panjang batang yang digunakan untuk stek berukuran kurang lebih tiga puluh
sentimeter. Namun, panjang tersebut tidak mutlak, yang terpenting adalah harus memilikipaling
sedikit lima ruas dan memiliki panjang yang seragam. Kangkung yang akan dijadikan bahan
stek diambil dari pertanaman yang sudah ada atau pembibitan bahan perbanyakan yang terbebas
dari hama dan penyakit. Hal ini dilakukan karena hama dan penyakit dapat menular dan dan
dapat merusak hasil tanaman. Stek ini dibenamkan hingga separuh panjangnya, sedalam 3-4 cm,
kedalam tanah macak macak dengan jarak tanam 30 x 50 cm. Satu lubang berisi satu
stek. Setelah penanaman, lahan dibanjiri. Air harus mengalir, dan ketinggiannya harus diatur,
awalnya 3-5 cm dan ditingkatkan sesuai dengan tinggi tanaman hingga sekitar 15-20 cm.

Budidaya setengah tergenang (semiakutik) juga dilakukan pada bedengan yang ditinggikan yang
berjarak sekitar satu meter. Pada sistem poduksi ini, biasa digunakan setek, bibit yang berakar,
atau benih sebar langsung untuk perbanyakan. Setelah tanam, parit dibanjiri untuk menghasilkan
dan menjaga tingkat kelembaban tinggi pada bedengan.
Batang tanaman kangkung berbentuk bulat panjang, berbuku-buku, banyak mengandung
air (herbaceus) dan berpori. Tanaman kangkung tumbuh merambat atau menjalar
dengan percabangannya banyak.
Tanaman kangkung cepat memberikan hasil dalam 4-6 minggu sejak dari
benih.Kangkung dapat dipanen optimal 8-10 kali per musim. Tanaman ini dapat tumbuh optimal
di daerah tropik dataran rendah dengan kondisi temperatur yang tinggi dan tetap serta penyinaran
matahari yang rendah. Rata-rata suhu pertumbuhan optimal adalah 20oC-32oC dengan
kelembaban lebih dari 60%. Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran
rendah sampai dataran tinggi kurang lebih 2000 m dpl dan diutamakan lokasi lahannya terbuka
atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindungi atau ternaungi tanaman
kangkung akan tumbuh memanjang namun kurus-kurus.
Persyaratan tanah yang paling ideal untuk tanaman kangkung sangat tergantung kepada
jenis varietasnya, yakni: kangkung air membutuhkan tanah yang banyak mengandung air dan
lumpur, misalnya rawa-rawa, persawahan atau di kolam-kolam. Pada tanah yang kurang
air tanaman kangkung air pertumbuhannya akan kerdil, lambat dan rasanya menjadi liat (keras).
Sedangkan kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan
organik dan tidak mudah menggenang. Pada tanah yang becek, akar-akar dan batang tanaman
kangkung darat mudah membusuk dan mati.Tumbuh optimum pada tanah yang memiliki pH 5,6-
6,5.
Tanaman kangkung mempunyai sistem perakaran tunggang dan cabang-cabang akarnya
menyebar ke semua arah dapat menembus kedalaman 60-100 cm dan melebar secara mendatar
pada radius 100-150 cm atau lebih terutama pada jenis kangkung air. Tangkai daun melekat pada
buku-buku batang dan ketiak daunnya terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi tanaman
baru. Bentuk daun biasanya seperti jantung hati, ujung daunnya runcing atau tumpul,
pemukaan daun sebelah atas berwarna hijau tua dan permukaan daun bagian bawah bewarna
hijau muda.
Selama fase pertumbuhannya, tanaman kangkung dapat berbunga, berbuah dan berbiji,
terutama jenis kangkung darat. Bentuk bunga seperti terompet dan daun mahkota berwarna putih
atau merah lembayung. Buah kangkung berbentuk bulat telur yang di dalamnya berisi tiga butir
biji. Bentuk biji bersegi-segi atau agak bulat, berwarna coklat kehitam-hitaman dan termasuk biji
berkeping dua.

Caisim

Caisim alias sawi bakso ada juga yang menyebutnya sawi cina., merupakan jenis sawi
yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar dewasa ini. Tangkai daunnya panjang, langsing,
berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis dan berwarna hijau. Rasanya yang
renyah, segar, dengan sedikit sekali rasa pahit. Selain enak ditumis atau dioseng, juga untuk
pedangan mie bakso, mie ayam, atau restoran cina.Tanaman caisin dapat tumbuh baik di tempat
yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah
maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di
dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai
dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang
mempunyai ketinggian 100m – 500m dpl.

Caisim tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim
kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam
pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila
ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang
menggenang. Dengan demikian tanaman ini cocok ditanam di akhir musim penghujan. Tanah
yang cocok untuk ditanami caisim adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur,
serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk
pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

Cara bertanam caisim sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada
umumnya. Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih caisim
berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih
coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik,
seandainya beli harus memperhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat
menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang
baik adalah dengan alumunium foil.

Tanah digemburkan dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai
dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 - 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm,
seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10
ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30
dan 20 x 20 cm. Caisim dapat ditanam secara langsung atau pun tidak. Namun, yang paling
efektif jika ditanam secara indirect planting.
Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil
yang akan didapat. Yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penjarangan, penyulaman,
penyiangan, dan pemupukan.

Penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita
perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus
menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu
panaspenyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.

Penjarangan, penjarangan dilakukan dua minggu setelah penanaman. Caranya dengan


mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat.

Penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya
sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan
tanaman yang baru.

Penyiangan biasanya dilakukan 2 - 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan


dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan satu
atau dua minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan
bersamaan dengan penyiangan.

Pemupukan tambahan diberikan setelah tiga minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha.
Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan
untuk lima meter bedengan.

Selain cara konvensional, bayam dapat pula ditanam dengan system hidroponik dan
vernikultur.
Bayam (Amaranthus spp. L. )

Bayam (Amaranthus spp. L. ) berasal dari Amerika tropik. Sampai sekarang, tumbuhan
ini sudah tersebar di daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Tanaman bayam semula
dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya. Tanaman bayam
dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk negara-negara
berkembang. Dari sudut pandang manusia awam, bayam adalah komoditas sederhana, dalam
pengertian mudah didapat setiap saat dengan harga murah, dan pengolahan untuk makanan
sederhana. Bayam mampu bertahan hidup pada berbagai habitat yang bercekaman dan mampu
menghasilkan biji dalam jumlah banyak. Biji bayam relatif mudah rontok dan banyak
anggotanya yang berperan sebagai gulma, baik tumbuh bersaing dengan tanaman budidaya
pokok maupun lahan kosong.
Bayam masuk ke dalam kerajaan Plantae, divisi Magnoliophyta, kelasMagnoliopsida,
ordo Caryophyllales, dan famili Amaranthaceae. Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60
genera, terbagi dalam sekitar 800 spesies bayam. Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan
jenis bayam dibedakan atas 2 macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya.

Bayam liar dikenal dua jenis, yaitu bayam tanah (A. blitum L.) dan bayam berduri (A.
spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya berwarna merah dan daunnya kaku
(kasap).

Jenis bayam budidaya dibedakan dua macam, yaitu: (1) Bayam cabut atau bayam sekul
alias bayam putih (A. tricolor L.). Ciri - ciri bayam cabut adalah memiliki batang berwarna
kemerah-merahan atau hijau keputih - putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak
cabang. Bayam cabut yang batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang batangnya
putih disebut bayam putih. (2) Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.).
Ciri - ciri bayam ini adalah memiliki daun lebar - lebar, yang dibedakan atas 2 spesies yaitu A.
hybridus caudatus L. dan A. hibridus paniculatus L.

A. hybridus caudatus L., memiliki daun agak panjang dengan ujung runcing, berwarna
hijau kemerah - merahan atau merah tua, dan bunganya tersusun dalam rangkaian panjang
terkumpul pada ujung batang.

A. hibridus paniculatus L., mempunyai dasar daun yang lebar sekali, berwarna hijau,
rangkaian bunga panjang tersusun secara teratur dan besar - besar pada ketiak daun.

Varietas bayam unggul ada tujuh macam yaitu varietas Giri Hijau, Giti Merah, Maksi,
Raja, Betawi, Skop, dan Hijau. Sedangkan beberapa varietas bayam cabut unggul adalah
Cempaka 10 dan Cempaka 20.

Untuk pertumbuhannya, bayam tidak memerlukan persyaratan yang terlalu rumit.


Tanaman ini dapat ditanam baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, sehingga hampir di
seluruh wilayah nusantara dapat di usahakan jenis sayuran seperti ini. Bayam diperbanyak secara
generative (biji), tanpa melalui persemaian. Walaupun begitu, Bayam lebih menyukai iklim
hangat dan cahaya kuat. Bayam relatif tahan terhadap pencahayaan langsung karena merupakan
tumbuhan C4.

Di Indonesia, bayam dapat tumbuh sepanjang tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-
2.000 m dpl, tumbuh di daerah panas dan dingin, tetapi tumbuh lebih subur di dataran rendah
pada lahan terbuka yang udaranya agak panas. Herba setahun, tegak atau agak condong, tinggi
0,4-1 m, dan bercabang. Batang lemah berair dan kurang berkayu. Daun bertangkai, berbentuk
bulat telur, lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing, serta warnanya hijau, merah,
atau hijau keputihan. Bunga dalam tukal yang rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas
berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan. Bunga berbentuk
bulir. Bijinya berwarna hitam, kecil dan keras.

Pengolahan tanah untuk budidaya bayam cabutan dilakukan dengan mencangkul sedalam
20 cm sedang untuk bayam tahunan pencangkulan dilakukan lebih dalam yaitu sekitar 30 cm.
Setelah tanah diratakan kembali kemudian diberikan pupuk kandang sebanyak ± 10 ton/ Ha.
Untuk lebih memudahkan pemeliharaannya kelak, maka pertanaman hendaknya dilakukan dalam
bentuk bedengan ukuran 1m x 5 m, baik untuk bayam cabutan maupun bayam tahunan.

Benih disebarkan atau dideretkan dalam garitan yang berjarak 15-20 cm di atas suatu
petakan yang telah diberi cukup pupuk kandang. Setelah itu ditutup dengan tanah tipis-tipis
sampai merata kemudian dilakukan penyiraman secara hati-hati. Penyiangan dapat dilakukan
pada saat tanaman berumur ± 2 minggu. Rumput-rumput atau gulma pengganggu supaya
dibersihkan dengan cara dicabut atau dibuang, kemudian tanah sekitar batang tanaman
digemburkan.

Disamping pemberian pupuk kandang sebagai pupuk dasar maka pupuk anorganik juga
diberikan sebagai pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah Urea, SP 36, dan KCl. Dosis
pupuk yang diberikan tergantung pada jenis tanaman sebelumnya serta kandungan unsure hara
pada masing-masing jenis pupuk. Pemberian pupuk tidak perlu terlalu dalam, cukup disebarkan
dalam garitan ± 5 cm disebelah kanan dan kiri barisan. Gangguan pertanaman baik oleh hama
maupun penyakit tidak dapat dijumpai, kecuali adanya kerusakan daun yang ditimbulkan oleh
ulat daun.

Bayam dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang tinggi. Selain itu daun bayam dapat
digunakan untuk membersihkan darah sehabis bersalin, memperkuat akar rambut, tekanan darah
rendah, gagal ginjal, dan melancarkan pencernaan. Namun perlu diingat, jangan pernah
memanaskan sayur bayam. Selain zat gizi menjadi rusak, zat besipun menjadi meningkat dan
bisa berbahaya bagi tubuh.

Tomat (Lycopersicon esculentum)

Tomat merupakan buah buni berdaging yang memiliki banyak manfaat. Tomat biasanya
dimanfaatkan dalam keadaan segar atau telah dimasak. Tomat masuk ke dalam divisi
Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Solanales,
famili Solanaceae, genus Lycopersicon (Lycopersicum), species Lycopersicon esculentumMill.

Penanaman tomat yang aman dan hemat adalah ketika musim hujan akan berakhir, yaitu
sekitar bulan April dan Mei. Hal ini dimaksudkan agar frekuensi hujan sudah berkurang sehingga
cocok untuk tanaman yang masih muda.
Awal penanaman tomat dimulai dari pembibitan benih. Tahap-tahap yang diperlukan
dalam pembibitan adalah penyiapan bedeng semai, penyiapan media tanah, penanaman, dan
penyapihan. Bedeng semai berfungsi sebagai tempat menyemaikan benih. Bedeng semai dapat
dibuat dalam berbagai versi, tergantung selera dan finansial yang ada.

Penyemain benih dapat dengan cara menyebar benih tetapi cara terbaik dan teraman
dengan dilakukan menanam benih sedalam 0,5-1 cm. Hasil semaian akan baik bila dipeliharadan
menjaganya dari gangguan mekanis dan menjaga agar tidak kekeringan.

Bibit disapih ketika berumur 7-10 hari. Penyapihan berfungsi untuk memberikan daya
adaptasi dan kemampuan tubuh yang lebih leluasa pada bibit. Selain itu dalam proses penyapihan
dapat dilakukan sleksi bibit. Penanaman dilakukan ketika tanaman berumur sekitar 3 minggu di
penyapihan. Bibit ditanam dengan posisi tegak lurus.

Penyiraman pada tomat dimaksudkan untuk mengganti air yang telah menguap pada
siang hari, memberi tambahan air yang dibutuhkan oleh tanaman, dan mengembalikan kekuatan
tanaman. Penyiraman hanya perlu dilakukan apabila keadaan cuaca menjadi sangat panas. Cuaca
panas menyebabkan tanah menjadi kering dan tanaman tidak cukup mendapat air tanah.
Penyiraman harus dilakukan dengan hati-hati agar air siraman tidak mengenai daun dan buah
tomat, tetapi hanya mengenai batang dan akar. Sebaliknya pada saat musim hujan, di sekitar
lahan yang ditanami tomat, harus dibuatkan saluran drainase supaya air hujan dapat segera
mengalir karena tomat paling tidak tahan genangan air.

Penyulaman mempunyai maksud untuk mengganti tanaman yang mati, layu, rusak, atau
kurang baik pertumbuhannya. Bibit pengganti dipilih yang baik pertumbuhannya agar dapat
mengejar terdahulu yang berhasil tumbuh.

Jika tanaman telah mencapai tinggi 25 cm, harus dibuatkan tiang penahan. Untuk tomat
yang tidak bercabang banyak, diperlukan lanjaran tegak setinggi sekitar 1,5 meter. Sedangkan
untuk jenis tomat bercabang banyak, perlu dibuatkan lanjaran miring, pagar, atau para-para. Dua
minggu setelah bibit ditanam, dilakukan penyiangan dan pendangiran. Kegiatan ini diulangi 3
minggu kemudian, yaitu saat tomat mulai berbunga. Penyiangan dan pendangiran harus
dilakukan dengan hati-hati agar tidak banyak akar yang terpotong. Akar yang terpotong dapat
menyebabkan batang menjadi layu atau buah muda gugur.

Tanaman tomat yang telah mempunyai lima dompolan buah harus dipotong pucuk
batangnya dan tunas-tunasnya agar buah dapat menjadi besar dan cepat masak. Tinggalkan dua
atau tiga tunas yang berada di samping atau di sebelah bawah dompolan buah yang kelima itu.
Dompolan yang berdaun atau berbuah lebih perlu dipangkas dan dipetik agar tomat yang
dikehendaki (lima dompolan) tidak terhalang pertumbuhannya.
Pemupukan Selama pertumbuhan di bedengan penanaman, tanaman tomat perlu dipupuk
dengan Urea, DS, dan ZK. Banyaknya pupuk setiap pohon 20 g dengan perbandingan 2:3:1 atau
100 kg Urea, 300 kg DS, dan 125 ZK setiap ha. Pemupukan dilakukan dua kali, yaitu saat
penyiangan pertama (dua minggu setelah tanam) dan penyiangan kedua (setelah tomat berbuah
satu atau tiga dompolan). Pupuk diberikan di sekeliling tanaman dengan jarak sekitar 5 cm dan
dibenamkan ke tanah sedalam 1 - 2 cm.

Ciri buah yang dapat dijadikan benih adalah (1) Secara visual: dengan melihat warna kulit
dan ukuran buah, masih adanya sisa tangkai putik, mengeringnya tepi daun tua, dan
mengeringnya tubuh tanaman. (2) Secara fisik: dilihat dari mudah tidaknya buah terlepas dari
tangkai dan berat jenisnya. (3) Secara analisis kimia: kandungan zat padat, zat asam,
perbandingan zat padat dengan zat asam, dan kandungan zat pati. (4) Secara perhitungan: jumlah
hari setelah bunga mekar dalam hubunganya dengan tanggal berbunga dan unit panas. (5) Secara
fisioogi: dengan melihat respirasi.
Cabai ( Capsicum annum)

Cabai sudah dikenal banyak orang di berbagai negara sejak abad ke-15. Penyebaran
tanaman cabai sangat luas. Luasnya penyebaran daerah tumbuh cabai menyebabkan beragamnya
istilah atau nama cabai di berbagai negara, diantaranya: Inggris mengenal cabai
sebagai Capsicum pepper, chilli, bird pepper, dan bird’s eye chilli. Amerika mengenal cabai
sebagai piment dan poivron. Indonesia mengenal cabai sebagai lombok, cabai, cabai keriting,
cabai rawit, dan cabai besar. Malaysia mengenal cabai sebagai cili, cili padi, cili api, dan cili
sayur. Papua New Guenea mengenal cabai sebagai kapsikam,dan lombo. Filipina mengenal cabai
sebagai sili, dan pasete. Kamboja mengenal cabai sebagai mo-tééhs phlaôk, dan mo-
tééhs khmeang. Laos mengenal cabai sebagai ph’ik, danphéd. Thailand mengenal cabai
sebagai phrik. Dan Vietnam mengenal cabai sebagai [ows]t.

Capsicum masih termasuk Family Solanaceae yang menjadi salah satu genus dari 90
genus dan 2000 spesies, selain itu juga termasuk salah satu tanaman penting secara ekonomi dari
beberapa tanaman penting lainya seperti kentang, terong, tomat, dan tembakau. Berdasarkan
ilmu taksonomi, cabai masuk ke dalam divisio Spermatophyta, subdivisio Angiospermae,
class Dicotyledone, Ordo Tubiflorae, familia Solanaceae, genusCapsicum, spesies Capsicum
annuum L.

Cabai secara umum memiliki ciri-ciri morfologi dengan struktur perakaran yang diawali
dari akar tunggang yang sangat kuat dan bercabang-cabang ke samping dengan akar rambut.
Akar tunggang yang kuat pada cabai dapat menghujam ke dalam hingga mencapai kedalaman
satu meter atau bahkan lebih.
Ciri lainnya adalah tanaman ini berbatang utama tegak, bagian pangkanya berkayu dan
bercabang lebat, serta memiliki tinggi yang berkisar 50-150 cm dengan diameter batang ± 1 cm.
Bagian batang yang muda berambut halus. Secara umum warna batangnya adalah hijau dan
coklat kehijauan pada ujung batang utama hingga mendekati percabangan, sedangkan pada
‘node’ atau titik percabangan biasanya diwarnai oleh bercak ungu. Tanaman cabai memiliki
bentuk daun datar, berkilau, sederhana, panjang tangkai 0,5- 2,5 cm, helaian daun bulat telur
memanjang atau ellips bentuk lanset, dengan pangkal meruncing dan ujung runcing, 1,5-12 kali
1-5 cm. Selain itu, daun cabai agak kaku, berwarna hijau sampai hijau tua dengan tepinya rata.
Daun tumbuh pada tunas-tunas samping secara berurutan, sedangkan pada batang utama daun
tunggal tersebut tersusun secara spiral. Daun berbulu lebat atau jarang, tergantung pada
spesiesnya.

Bunga cabai umumnya bersifat tunggal dan tumbuh pada ujung ruas, serta merupakan
bunga sempurna (hermaprodit). Bunga sempurna adalah bunga yang memiliki putik dan benang
sari dalam satu bunga. Mahkota bunga berwarna putih atau ungu tergantung kultivarnya, helaian
mahkota bunga berjumlah lima atau enam helai. Pada dasar bunga terdapat daun buah yang
berjumlah lima helai yang kadang-kadang bergerigi. Tabung kelopak berusuk bentuk lonceng,
gundul, tinggi 2-3 mm. Mahkota bentuk roda, berbagi 5 dalam, tinggi tabung 2 mm, tepian
terbentang, luas, garis tengah 1,5-2 cm, taju runcing. Setiap bunga mempunyai satu putik
(stigma), kepala putik berbentuk bulat. Benang sari berjumlah lima sampai delapan helai benang
sari dengan kepala sari yang berbentuk lonjong, berwarna biru keunguan. Pada saat bunga
mekar, kotak sari masak dan dalam waktu relatif singkat tepung sari keluar mencapai kepala
putik dengan perantara serangga atau angin.

Ukuran buah cabai beragam dari pendek sampai panjang, sedangkan ujungnya runcing
atau tumpul. Bentuk buah umumnya adalah memanjang. Kedudukan buah adalah buah tunggal
pada masing-masing ruas (ketiak daun), atau kadang-kadang ‘fasiculate’(bergerombol).
Permukaan kulit dan warna buah bervariasi dari halus sampai bergelombang, warna mengkilat
sampai kusam, hijau, kuning, coklat atau kadang-kadang ungu pada waktu muda dan menjadi
merah kalau matang. Lebar buah mencapai 8 mm sedangkan panjangnya berkisar 0,8-30 cm
(asumsi buah lurus).

Biji cabai terletak di dalam buah. Melekat di sepanjang ‘placenta’, berjumlah 140 biji per
gram. Biji mempunyai kulit yang keras. Di dalam biji terdapat ‘endosperm’ dan ‘ovule’. Biji C.
annuum berwarna kuning jerami, hanya biji C. pubescens yang berwarna hitam.

Cabai dapat hidup pada daerah yang memiliki ketinggian antara 01.200 m dpl. Berarti
tanaman ini toleran terhadap dataran tinggi maupun dataran rendah. Jenis tanah yang ringan
ataupun yang berat tak ada masalah asalkan diolah dengan baik. Namun, untuk pertumbuhan dan
produksi terbaik, scbaiknya ditanam pada tanah berstruktur remah atau gembur dan kaya bahan
organik. Sedang pH tanah yang dikehendaki antara 6,0-7,0.

Benih Benih cabai dapat diperoleh dari buah yang tua dan bentuknya sempurna, tidak
cacat, serta bebas hama dan penyakit. Benih dapat diperoleh dengan cara buah cabai dibelah
secara memanjang, dikeluarkan bijinya, dijemur, dan dibiarkan hingga kering. Biji seperti ini
bisa langsung disemai. Apabila ingin disimpan lama sebaiknya buah cabai dibiarkan tetap utuh
dan dijemur hingga kering. Bila sudah ingin disemai, biji yang kering dikeluarkan. Apabila benih
terlanjur lama disimpan maka sebelum disemaikan direndam dahulu dalam air hangat. Biarkan
sebentar. Nanti akan terlihat sebagian biji terendam dan sebagian mengapung. Biji yang
mengapung dibuang karena biji tersebut sudah rusak dan bila dipaksakan ditanam akan sulit
tumbuh. Biji yang terpilih untuk ditanam sebaiknya mengalami perlakuan benih dahulu. Benih
direndam dalam larutan kalium hipoklorit 10 % sekitar 10 menit. Tindakan ini sebagai penangkal
penyakit virus yang sering terdapat pada benih. Benih juga dapat direndam dalam air hangat
(suhu 50°C) selama semalam. Tujuan perendaman agar benih cepat tumbuh.

Kebutuhan benih cabai per hektar ialah antara 200-500 g. Untuk cabai hibrida sebaiknya
memakai benih yang langsung dibeli di toko. Bila mengambil benih dari buah yang ditanam
sendiri maka hasil panen beirikutnya akan jauh berkurang. Tanaman cabai sebaiknya ditanam
dalam bentuk bibit. Untuk itu diperlukan persemaian. Persemaian sederhana dengan atap daun
kelapa, daun pisang, atau alang-alang bisa dipakai. Pada daerah dataran tinggi atau daerah yang
sering ditiup angin kencang, sebaiknya dibuat atap yang kekuatannya memadai. Misalnya, atap
plastik yang lumayan kokoh. Arah bedengan persemaian dibuat menghadap ke timur. Tanah
bedengan diolah agar gembur, lalu ditambahkan pupuk kandang dengan dicampur merata. Biji
cabai ditebarkan dan disiram dengan sprayer halus agar tumbuh baik. Penyiraman dilakukan
secara teratur. Setelah berumur 30-40 hari setelah semai bibit siap ditanam di lahan.

Penanaman Cabai bisa di tanam di lahan sawah atau tegalan. Bila ditanam di lahan sawah
sebaiknya di akhir musim hujan sehingga jumlah air di lahan tidak berlebihan. Sedangkan bila
ditanam di tegalan saat yang tepat adalah musim hujan. Pemilihan musim ini penting agar
kebutuhan air tanaman cabai tersedia dengan tepat. Tanah dibersihkan dari gulma dan dicangkul
atau dibajak agar gembur. Bila pH tanah kurang dari 5,5, tambahkan kapur. Untuk satu hektar
tanah asam dibutuhkan 1-1,5 ton kapur. Kapur akan memberikan pengaruh terbaik bila diberikan
1 bulan sebelum tanam. Cabai dapat ditanam dengan sistem baris tunggal (single row) atau
sistem beberapa baris pada bedengan. Sistem baris tunggal banyak dipakai petani cabai dataran
tinggi serta dataran rendah yang tergolong medium karena cocok dengan tanah yang bertekstur
ringan atau sedang. Sistem beberapa baris pada bedengan lebih umum digunakan petani dataran
rendah karena sistem tanahnya yang bertekstur liat hingga berat. Jarak tanam yang digunakan
pada sistem baris tunggal adalah 60-70 cm x 30-50 cm. Sedangkan untuk sistem bedengan, jarak
tanamnya 40-50 cm x 30-40 cm. Pada setiap titik dibuat lubang tanaman. Ukuran lubang tak
perlu besar yang penting bisa memuat benih sapihan beserta tanah yang membalut perakarannya.

Pemeliharaan Benih sapihan biasanya tumbuh terus dengan baik. Bila ada tanaman yang
mati, sebaiknya segera disulam. Tujuannya agar pertumbuhan tanaman susulan tidak terlalu jauh
berbeda dengan yang lebih dahulu tumbuh baik. Tindakan pemeliharaan lain untuk tanaman
cabai yang penting adalah penyiangan, penggemburan, dan pengairan. Penyiangan dilakukan
dengan kored atau dengan langsung mencabut. Penyiangan dengan kored berfungsi juga sebagai
penggembur tanah. Pengairan dilakukan terutama pada awal penanaman atau pada saat air hujan
tak mencukupi kebutuhan tanaman.

Kebutuhan pupuk kandang untuk setiap hektar lahan cabai adalah sekitar 20 ton. Selain
itu pupuk buatan juga diberikan. Pupuk yang biasa diberikan adalah Urea dengan dosis 225
kg/ha, TSP dengan dosis 100-150 kg/ha, dan KCl dengan dosis 100-150 kg/ha. Pupuk Urea
diberikan tiga kali. Sepertiga bagian di awal tanam, sepertiga berikutnya di bulan pertama dan
kedua. Sebaiknya pupuk diberikan dengan cara ditugal. Pemupukan pertama merupakan
gabungan dari Urea, TSP, dan KCI.

Panen Cabai dataran rendah lebih cepat dipanen dibanding cabai dataran tinggi. Panen
pertama cabai dataran rendah sudah dapat dilakukan pada umur 70-75 hari. Sedang di dataran
tinggi panen baru dapat dimulai pada umur 4-5 bulan. Setelah panen pertama, setiap 3-4 hari
sekali dilanjutkan dengan panen rutin. Biasanya pada panen pertama jumlahnya hanya sekitar 50
kg. Panen kedua naik hingga 100 kg. Selanjutnya 150, 200, 250, ..., . hingga 600 kg per hektar.
Setelah itu hasilnya menurun terus, sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak produktif lagi.
Tanaman cabai dapat dipanen terus-menerus hingga berumur 6-7 bulan. Cabai yang sudah
berwama merah sebagaian berarti sudah dapat dipanen. Ada juga petani yang sengaja memanen
cabainya pada saat masih muda (berwarna hijau). Kriteria panennya saat ukuran cabai sudah
besar, tetapi masih berwama hijau penuh.

Kacang Panjang (Vigna sinensis)

Tumbuhan kacang panjang telah dikenal luas oleh masyarakat kita. Bahkan sehari-hari
kita sering menjadikannya santapan baik untuk sayuran maupun lalapan. Mungkin sebagian dari
kita telah mengetahui, pernah melihat sayuran kacang panjang.

Kacang panjang merupakan tanaman semak, menjalar, semusim dengan tinggi kurang
lebih 2.5 m. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna hijau dengan permukaan licin.
Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8 cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal
membulat, ujung lancip, pertulangan menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan
berwarna hijau.
Bunga tanaman ini terdapat pada ketika daun, majemuk, tangkai silinder, panjang kurang
lebih 12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu, berwarna putih
keunguan,kuning atau biru, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm, berwarna putih,
kepala sari kuning, putilk bertangkai, berwarna kuning, panjang kurang lebih 1 cm, dan berwarna
ungu. Bunga kacang panjang mulai tampak pada umur 4-6 minggu setelah kecambah muncul
dan mekar pada pagi hari.

Buah tanaman ini berbentuk polong, berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Polong
menggantung, ramping, biasa digunakan seperti seperti kacang buncis. Bijinya lonjong pipih,
berwarna coklat muda. Panen sering dimulai sekitar 70 hari setelah tanam dan dapat
berlanjut selama 25-30 hari.

Umur simpan kacang panjang pendek. Hal ini disebabkan oleh tingginya respirasi dan
cepat layu. Walaupun penyimpanan suhu rendah dapat dapat memperpanjang umur simpan
polong ya gtelah dipanen, kacang panjang peka terhadap kerusakan suhu rendah dan bahkan
rusak jika disimpan pada suhu dibawah 10oC selama beberapa hari.

Akarnya tunggang berwarna coklat muda (Hutapea etal 1994). Tanaman tumbuh baik
pada tanah Latosol atau lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik
dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering,
curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.

Kacang panjang dapat diperbanyak dengan biji. Biji yang dijadikan bibit hendaknya
diambil dari buah yang masak di pohon. Tanaman yang diambil benihnya adalah tanaman yang
tumbuh sehat. Polong yang bijinya dijadikan benih adalah polong yang sehat dan mulus. Polong
tersebut dibiarkan sampai kulit luarnya mengering. Kacang panjang yang masak di pohon ini
harus sehat dan mulus. Untuk satu hektar lahan, dibutuhkan benih sekitar 15-20 kg. Benih
kacang yang disimpan sering dirusak hama gudang sehingga perlu perlakuan benih dengan
menggunakan Sevin atau Ridomil. Untuk setiap kg benih dibutuhkan 1-2 g pestisida tersebut
yang dilarutkan dalam satu liter air. Benih direndam sekitar tiga menit dalam larutan, lalu
diangin-anginkan dan disimpan.

Penanaman dilakukan setelah lahan diolah dan digemburkan, lalu dibuat lubang tanam
dengan tugal. Jarak tanam antarbaris 75 cm, dan jarak antar tanaman 25 cm. Masukkan 2-3 butir
benih ke dalam lubang: Kemudian lubang ditutup dengan tanah tipis-tipis tanpa dipadatkan.
Kacang panjang tidak harus ditanam dalam bedengan. Bila ingin membuat guludan dalam
barisan cukup dengan menaikkan tanah di kiri-kanan tanaman sehingga barisan menjadi lebih
tinggi.
Pemeliharaan Kacang panjang tipe merambat perlu diberi rambatan. Bila tidak maka
pertumbuhan tanaman akan menumpuk tak menentu. Posisi polongnya juga akan berserakan di
tanah. Ajir dibuat dari bambu yang panjangnya kurang lebih 2 m. Ajir dipasang saat tinggi
tanaman mencapai 25 cm. Agar pertumbuhan tanaman teratur maka antar tonggak dipasang tali.
Tali ini penting untuk sulur cabang-cabang yang tumbuh kemudian. Pemangkasan diperlukan
bila tanaman terlalu subur daunnya. Daun dikurangi agar pertumbuhan generatifnya baik.
Pemupukan Tanaman kacang panjang membutuhkan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha.
Pupuk ini diberikan bersamaan dengan tahap pengolahan tanah. Pupuk dicampur dengan tanah
dan disebarkan secara merata pada tanah lapisan atas. Sedangkan pupuk anorganik yang
dibutuhkan adalah Urea sebanyak 50 kg/ha, TSP sebanyak 100 kg/ha, dan KCl sebanyak 100
kg/ha. Urea diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama pada waktu tanam dan kedua pada waktu
tanaman berumur 3 minggu. Setiap pemberian dosisnya setengah dari jumlah dosis total. Sedang
jenis pupuk yang lain dapat diberikan sekaligus. Soal pupuk urea ada juga yang berpendapat
bahwa pemberiannya cukup setengah dosis saja. Hal ini karena kacang panjang adalah tanaman
yang dapat mengikat unsur nitrogen bebas dari udara melalui bintil akamya yang mengandung
Rhizobium. Oleh karena itu, bila tanah gembur dan bindl akar yang tumbuh banyak maka
Ureanya cukup setengah dosis saja.

Penyakit yang banyak menyerang antara lain bercak daun akibat serangan jamur
Cercospora sp Gejalanya berupa bercak-bercak pada daun yang diikuti dengan kerusakan daun
hingga rontok. Selain itu penyakit karat daun dan busuk polong sering terlihat pada tanaman
kacang panjang yang diserang cendawan (Colletotrichum)

Panen Tanaman kacang panjang bisa dipanen beberapa kali. Panen untuk sayur dilakukan
mulai umur. 50-60 hari. Polong yang tepat untuk sayuran segar wamanya hijau segar dan
polongnya masih padat. Polong yang tak padat lagi, isinya mengeras dan kulitnya berserat, tak
cocok untuk sayur. Oleh karena itu, panen perlu tepat waktu. Lain halnya untuk polong yang
memang disiapkan untuk benih. Untuk keperluan tersebut, polong baru dipanen setelah benar-
benar tua. Interval panen dilakukan seminggu sekali. Ini bisa berjalan sampai masa produktif
terhenti atau setelah tanaman berumur sekitar 4 bulan.

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu
Praktikum dasar-dasar hortikultura dilaksanakan di kebun percobaan Cikabayan.
Praktikum ini dilaksanakan setiap Selasa mulai tanggal 11 Maret 2009 hingga 10 Juni 2009.
Praktikum ini dilakukan pada pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.
Bahan dan Alat

Alat yang digunakan pada praktikum Dasar-Dasar Hortikultura adalah cangkul, kored,
penggaris, ember, gelas bekas, box panen, dan timbangan. Sedangkan bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah benih kangkung, benih cabe, benih bayam, benih tomat, benih
caisim, benih kacang panjang, dan pupuk kocor. Selain alat- alat dan bahan yang telah
disebutkan, kami juga menggunakan ajir, raffia, komoditas buah tropis, green house.
Metode Pelaksanaan

Lahan yang akan digunakan diolah terlebih dahulu dengan cara dicangkul. Pencangkulan
dilakukan agar tanah lebih gembur. Menggemburkan tanah dapat juga dilakukan dengan
menggunakan cangkul dan dibantu dengan garpu. Setelah tanah gembur, maka tanah dibentuk
bedengan-bedengan dengan ukuran panjang 20 m dan lebar 0,8m. Untuk mengukur panjang dan
lebar bedengan dapat menggunakan meteran. Kegiatan ini dilakukan oleh pegawai kebun,
sehingga praktikan tinggal menggunakannya.
Setiap anggota kelompok diwajibkan memelihara tanaman dengan baik dan membuat satu buku catatan
yang digunakan untuk mencatat berbagai macam keperluan, seperti: penggunaan sarana produksi, tenaga
kerja, serta data percobaan dan buku catatan ini akan diperiksa secara rutin oleh asisten.

Teknik budidaya yang telah dipelajari terfokus pada tanaman sayur-sayuran antara lain
kangkung, caisim, bayam, tomat, cabe, dan kacang panjang. Tanaman yang langsung bisa
ditanam (direct planting) pada lahan dengan cara ditugal (kangkung dan kacang panjang), dan
ditebar (bayam dan caisim) sedangkan tanaman yang memerlukan persemaian dan
pemindahan sebelum dibudidayakan pada bedengan yang tersedia (indirect planting) adalah
tomat dan cabe.

Setiap kelompok mendapat 3 bedengan dengan ukuran bedeng masing-masing 0,8 m x 15


m. Bedengan yang akan kami gunakan Pada bedeng pertama ditanam kangkung, bedeng kedua
ditanam caisin, dan bedeng ketiga ditanam bayam.
Kangkung (Ipomoea reptans)

Penanaman kangkung dilakukan pada tanggal 10 Maret 2009. Kangkung yang ditanam
adalah Chia Tai Seed Cap Kapal Terbang. Kangkung ditanam dengan jarak tanam 20 x 20 cm
sebanyak 4 baris dan jumlah tanaman perbaris adalah 100 lubang. Tiap lubang berisi 4 benih
kangkung dan Furadan 3G dengan perkiraan benih per bedeng 1600 benih dan kedalaman 3 cm
per lubang. Cara tanam dilakukan dengan cara direct seeding. Lalu memberi pupuk dasar dengan
dosis Urea 10 g/m2, SP-36 10 g/m2, KCL 10 g/m2, dan pupuk kandang 2 kg/m2. Pupuk dasar ini
diberikan pada alur.

Pada satu minggu setelah tanam menentukan sepuluh tanaman contoh, penyulaman, dan
menghitung daya berkecambah. Jumlah lubang yang disulam sebanyak 27 lubang, sehingga
benih yang digunakan untuk menyulam sebanyak 108 benih. Daya kecambah yang diperoleh
adalah sebesar 74,01 %.
Setiap minggu dilakukan penyiangan, pembersihan lahan, dan mengamati pertumbuhan
vegetatif. Pertumbuhan vegetatif yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah
cabang. Pembubunan dilakukan setiap tiga minggu sekali.

Panen dilakuan pada tanggal 7 April 2009, tepatnya empat minggu setelah tanam.
Tanaman yang di tengah pemanenan dilakukan dengan cara dicabut sampai akar- akarnya, dan
tanaman pinggir dipanen dengan cara dipetik dan ditinggalkan 2- 3 ruas batang kangkung.
Setelah dipanen, dilakukan penghitungan bobot total kangkung, bobot akar, bobot tanaman tanpa
akar, bobot tanaman contoh, tinggi dan jumlah daun tanaman contoh, dan bobot marketable.
Caisim

Penanaman caisim dilakukan pada tanggal 10 Maret 2009. Caisim yang ditanam adalah
benih Sinar Bumi Cap Mendut. Caisim ditanam dengan jarak tanam dialur masing-masing 20 cm
yang terdiri dari 4 baris jumlah benih perbaris adalah 2 gr/m baris, kedalamannya 3 cm. Cara
tanamnya dilakukan dengan cara direct seeding, perkiraan benih/bedeng adalah 60
gr/benih/bedengdan Furadan 3G. Lalu memberi pupuk dasar dengan dosis Urea 10 g/m2, SP-36
10 g/m2, KCL 10 g/m2, dan pupuk kandang 2 kg/m2. Pupuk dasar ini diberikan pada alur.

Pada satu minggu setelah tanam menentukan sepuluh tanaman contoh, penyulaman, dan
menghitung daya berkecambah. Daya kecambah caisin hanya 5%, sehingga dilakukan
penanaman ulang. Setelah dilakukan penanaman ulang, daya kecambahnya juga masih 5%. Oleh
karena itu, penanaman caisin dinyatakan gagal dan diganti dengan tanaman kangkung dengan
cara tanam seperti diatas.
Bayam (Amaranthus spp. L. )

Penanaman bayam dilakukan pada tanggal 10 Maret 2009. Bayam yang ditanam adalah
Alabama dari PT Sang Hyang Seri. Bayam ditanam dengan jarak tanam dialur masing-masing 20
cm yang terdiri dari 4 baris jumlah benih perbaris adalah 2 gr/m baris, kedalamannya 3 cm. Cara
tanamnya dilakukan dengan cara direct seeding, perkiraan benih/bedeng adalah 60
gr/benih/bedeng dan diberi Furadan 3G. Lalu memberi pupuk dasar dengan dosis Urea 10 g/m2,
SP-36 10 g/m2, KCL 10 g/m2, dan pupuk kandang 2 kg/m2. Pupuk dasar ini diberikan pada alur.

Pada satu minggu setelah tanam menentukan sepuluh tanaman contoh, penyulaman, dan
menghitung daya berkecambah. Daya kecambah yang diperoleh adalah sebesar 75 %.

Setiap minggu dilakukan penyiangan, pembersihan lahan, dan mengamati pertumbuhan


vegetatif. Pertumbuhan vegetatif yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah
cabang. Pembubunan dilakukan setiap tiga minggu sekali.
Panen dilakuan tiga minggu setelah tanam. Pemanenan bayam dilakukan dengan cara
dicabut sampai akar- akarnya. Setelah dipanen, dilakukan penghitungan bobot total bayam, bobot
akar, bobot tanaman tanpa akar, bobot tanaman contoh, tinggi dan jumlah daun tanaman contoh,
dan bobot marketable.

Tomat (Lycopersicon esculentum)

Penanaman bibit tomat dilakukan pada bedeng yang sebelumnya ditanami kangkung.
Apa yang kami lakukan adalah salah. Seharusnya tomat ditanam pada lahan bekas caisim.
Penanaman tomat dilakukan secara indirect seeding. Awalnya kami menanam benih tomat pada
tray. Penanaman ini dilakukan pada tanggal 10 Maret 2009. Tray yang kami gunakan memiliki
lubang sebanyak 105 lubang dengan tiap lubang 1 benih. Daya kecambah benih tomat dalam tray
adalah 95,23%.

Penanaman tomat dilapang dilaksanakan pada tanggal 7 April 2009. Bibit tomat yang
ditanam sebanyak 80 bibit dan ditanam diantara baris tanaman kangkung dengan jarak tanam 50
x 50 cm. Lalu memberi pupuk dasar dengan dosis Urea 5 g/m2, dan SP-36 20 g/m2. Pupuk dasar
ini diberikan mengelilingi tanaman.

Pada satu minggu setelah tanam menentukan sepuluh tanaman contoh, penyulaman, dan
menghitung daya tumbuh. Jumlah bibit yang harus disulam sebanyak 9 tanaman, sehingga daya
tumbuh tomat sebesar 88,75%.

Memberi pupuk pada 3 dan 6 MST dengan melingkar (dosis SP36 dan Urea masing-masing 5
g/tanaman). Pengajiran dilakukan pada 4 minggu setelah tanam, pembubunan pada 3 minggu
setelah tanam, dan pemberian Dekamon pada 2,4,6 MST.

Setiap minggu dilakukan pembersihan gulma, memberi pupuk kocor, pembersihan lahan,
mengamati pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif. Pertumbuhan vegetatif, meliputi
pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang, sedangkan mengamati
pertumbuhan generatif, meliputi saat berbunga, jumlah bunga, jumlah buah rontok, jumlah
tandan.

Panen dilakukan tanggal 9 Juni 2009. Panen dilakukan dengan menghitung bobot total,
bobot akar, bobot tanaman tanpa akar, bobot tanaman contoh, tinggi dan jumlah daun tanaman
contoh, bobot marketable, jumlah buah per katagori, dan jumlah bobot buah per katagori.
Cabai ( Capsicum annum)

Penanaman bibit cabai dilakukan pada bedeng yang sebelumnya ditanami caisim. Apa
yang kami lakukan adalah salah. Seharusnya cabai ditanam pada lahan bekas kangkung.
Penanaman cabai dilakukan secara indirect seeding. Penanaman ini dilakukan pada tanggal 10
Maret 2009. Tray yang kami gunakan memiliki lubang sebanyak 105 lubang dengan tiap lubang
1 benih. Daya kecambah benih cabai dalam tray adalah 51,43%.

Penanaman cabai dilapang dilaksanakan pada tanggal 7 April 2009. Bibit cabaiyang
ditanam sebanyak 50 bibit dan ditanam diantara baris tanaman kangkung dengan jarak tanam 50
x 50 cm. Lalu memberi pupuk dasar dengan dosis Urea 5 g/m2, dan SP-36 20 g/m2. Pupuk dasar
ini diberikan mengelilingi tanaman.

Pada satu minggu setelah tanam menentukan sepuluh tanaman contoh, penyulaman, dan
menghitung daya tumbuh. Jumlah bibit yang harus disulam sebanyak 11 tanaman, sehingga daya
tumbuh tomat sebesar 78%.

Memberi pupuk pada 3 dan 6 MST dengan melingkar (dosis SP36 dan Urea masing-masing 5
g/tanaman). Pengajiran dilakukan pada 4 minggu setelah tanam, pembubunan pada 3 minggu
setelah tanam, dan pemberian Dekamon pada 2,4,6 MST.

Setiap minggu dilakukan pembersihan gulma, memberi pupuk kocor, pembersihan lahan,
mengamati pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif. Pertumbuhan vegetatif, meliputi
pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang, sedangkan mengamati
pertumbuhan generatif, meliputi saat berbunga, jumlah bunga, jumlah buah rontok, jumlah
tandan.

Panen dilakukan tanggal 9 Juni 2009. Panen dilakukan dengan menghitung bobot total,
bobot akar, bobot tanaman tanpa akar, bobot tanaman contoh, tinggi dan jumlah daun tanaman
contoh, bobot marketable, jumlah buah per katagori, dan jumlah bobot buah per katagori.

Kacang panjang (Vigna sinensis)

Penanaman kacang panjang dilakukan pada tanggal 7 April 2009. Kacang panjang
ditanam dengan jarak tanam 50 x 20 cm sebanyak 2 baris. Tiap lubang berisi 2 benih kangkung
dan Furadan 3G. Benih yang kami gunakan sebanyak 348 benih. Cara tanam dilakukan dengan
cara direct seeding. Lalu memberi pupuk dasar dengan dosis SP-36 10 g/tanaman.

Pada satu minggu setelah tanam menentukan sepuluh tanaman contoh dan menghitung
daya berkecambah. Daya kecambah yang diperoleh adalah sebesar 74,01 %.

Setiap minggu dilakukan penyiangan, pembersihan lahan, pemberian pupuk kocor dan
mengamati pertumbuhan generatif. Pembubunan dilakukan setiap tiga minggu sekali. Pemberian
pupuk pada 3 dan 6 MST dengan melingkar (dosis SP36 dan Urea masing-masing 5 g/tanaman).
Pengajiran pada 2 MST.
Panen dilakuan pada tanggal 2 Juni 2009. Setelah dipanen, dilakukan penghitungan bobot
polong kacang panjang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kangkung (Ipomea reptans)

Penanaman kangkung dilakukan pada tanggal 10 Maret 2009 secara serempak. Kangkung
yang ditanam adalah Chia Tai Seed Cap Kapal Terbang dan Grand. Penanaman
kangkung dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak tanam 20 x 20 cm sebanyak 4 baris dan
jumlah tanaman perbaris adalah 100 lubang. Tiap lubang berisi 4 benih kangkung dan Furadan
3G dengan perkiraan benih per bedeng 1600 benih dan kedalaman 3 cm per lubang. Cara tanam
dilakukan dengan cara direct seeding. Lalu memberi pupuk dasar dengan dosis Urea 10 g/m2,
SP-36 10 g/m2, KCL 10 g/m2, dan pupuk kandang 2 kg/m2. Pupuk dasar ini diberikan pada alur.

Pada kenyataannya kami, kelompok enam hanya mampu membuat 76 lubang per baris
dan total benih yang ditanam adalah 1216 benih. Hal ini terjadi karena kesalahan praktikan
dalam mengukur jarak tanam, sehingga jarak tanam yang kami ukur terlalu lebar.

Daya berkecambah yang paling tinggi adalah Grand, sedangkan daya berkecambah
paling rendah juga Grand. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan kandungan unsur hara yang
ada dalam tanah, sehingga menyebabkan daya berkecambah berbeda- beda. Berdasarkan
pengamatan pertumbuhan kangkung, Grand memiliki pertumbuhan yang bagus. Terlihat dari
pertumbuhannya yang paling tinggi dan jumlah cabang paling banyak. Produktivitas Grand lebih
tinggi dari Chia tai. Bahkan produktivitas paling tinggi adalah Grand dan produktivitas paling
rendah adalah Chia tai. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa kualitas Grand lebih
bagus daripada Chia tai.

Berdasarkan literatur yang kami peroleh, kangkung sangat toleran dalam kondisi apapun.
Sementara itu, lahan yang kami gunakan untuk menanam kangkung merupakan lahan sisa
penanaman komoditas lain yang tanpa diberakan dan dipupuk terlebih dahulu. Sehingga tingkat
kesuburannya rendah, dan tentu saja kurang mendukung pertumbuhan benihkankung, tetapi
kangkung dapat tumbuh dengan subur.

Caisim

Pada praktikum ini, varietas caisin yang dipergunakan adalah varietas Mendut dan
varietas Tosakan. Pada tabel hasil pengamatan caisin, dapat dilihat bahwa dari semua kelompok
yang menanam caisin varietas tosakan (kelompok 1-6) daya berkecambahnya lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok yang menanam caisin varietas mendut (kelompok 7-13). Hal
tersebut dimungkinkan terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya :
1. Kualitas benih yang digunakan dari masing-masing varietas;
2. Kondisi pH tanah/lahan tanam yang tidak optimum (pH 6 – pH 7);
3. Unsur hara yang terkandung dalam tanah dan struktur fisik tanah yang kurang cocok;
4. Cara pemeliharaan yang kurang tepat.

Pada tabel tersebut, juga dapat dilihat bahwa daya berkecambah tertinggi didapat oleh kelompok
10 yang menanam caisin varietas tosakan dengan daya berkecambah sebesar 95,43
%. Pengamatan pada tanaman caisin ini dilakukan pada 10 tanaman terpilih yang kemudian akan
digunakan sebagai tanaman contoh. Pada saat 3 MST caisin ini memiliki tinggi 14,45 cm dengan
4 buah cabang dan pada saat 4 MST memiliki tinggi 21,95 cm dengan 6 buah cabang untuk rata-
rata 10 tanaman contoh tersebut. Saat panen, bobot rata-rata 10 tanaman contoh yang diukur
bersama dengan bagian akar tanamannya adalah sebesar 11,7 gram dan bobot rata-rata 10
tanaman contoh yang diukur dengan membuang akar tanamannya adalah sebesar 10,84 gram.

Untuk tanaman caisin yang ditanam oleh kelompok kami (kelompok 6) hanya memiliki daya
berkecambah sebesar 5% dan dapat dikatakan rendah. Hal ini dimungkinkan oleh faktor-faktor
yang telah disebutkan diatas yang mempengaruhi tanaman caisin sehingga tanaman tersebut
tidak tumbuh optimal.
Bayam (Amaranthus spp. L. )

Penanaman bayam tidak melalui persemaian, penanaman dilakukan dengan menaburi


benih pada bidang alur yang telah dibuat. Berdasarkan hasil yang kami peroleh ternyata tujuan
praktikum tidak tercapai. Hal ini disebabkan setelah 1 MST, benih yang seharusnya
berkecambah ternyata mengalami stagnasi yang cukup lama bahkan mengalami kematian. Ada
beberapa kemungkinan/ faktor yang mempengaruhi kematian benih di lapang, antara lain tingkat
kesuburan tanah, rendahnya mutu benih, dan kondisi lingkungan tumbuh.

Berdasarkan literatur yang kami peroleh, tanaman bayam menghendaki tanah yang gembur dan
subur untuk pertumbuhannya. Sementara itu, lahan yang kami gunakan untuk menanam bayam
merupakan lahan sisa penanaman komoditas lain yang tanpa diberakan dan dipupuk terlebih
dahulu. Sehingga tingkat kesuburannya rendah, dan tentu saja kurang mendukung pertumbuhan
benih bayam.

Pada praktikum kali ini, benih bayam yang tidak berkecambah tidak hanya dialami oleh
kelompok kami saja, bahkan hampir sebagian besar kelompok lain juga mengalami hal yang
sama. Hal ini dimungkinkan karena rendahnya mutu benih yang kami peroleh atau lamanya
penyimpanan benih sehingga sudah mengalami viabilitas benih bayam.

Faktor lingkungan tumbuh sangat mempengaruhi proses perkecambahan benih. Meskipun


tanaman bayam dapat tumbuh kapan saja, baik pada waktu musim hujan ataupun musim
kemarau namun tanaman ini membutuhkan air yang cukup banyak sehingga paling tepat ditanam
pada awal musim hujan, yaitu sekitar bulan Oktober-November. Sementara itu, pada praktikum
kali ini penanaman bayam dilakukan pada bulan Februari-Maret, sehingga ketersediaan air
menjadi kurang. Hal ini mungkin dapat teratasi dengan penyiraman yang dilakukan setiap hari.
Akan tetapi, mayoritas penyiraman yang dilakukan hanya bergantung pada saat hujan
turun (penyiraman alami) sehingga tanaman menjadi merana dan mengalami krisis air.

Dapat dilihat di tabel bayam bahwa persentase rata-rata daya berkecambah sekitar 69.519
% sedangkan benih yang baik minimal mempunyai daya berkecambah sekitar 75 %. Jika dilihat
antara varietas Alabama dan Maskot, varietas Maskot lebih memiliki daya berkecambah yang
lebih baik dibandingkan dengan varietas Alabama. Tinggi tanaman pada tanaman bayam
Alabama mengalami penurunan mungkin dikarenakan adanya kesalahan dalam pengukuran. Dan
jika dibandingkan bobot total panen antara varietas Alabama dan Maskot lebih besar Maskot
karena pada varietas Maskot masih memiliki viabilitas benih yang tinggi.

Tomat (Lycopersicon esculentum)

Tomat merupakan buah buni berdaging yang memiliki banyak manfaat. Tomat biasanya
dimanfaatkan dalam keadaan segar atau telah dimasak. Tomat memiliki botani sebagaiberikut.
Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Lycopersicon (Lycopersicum)
Species : Lycopersicon esculentum Mill.

Pada praktikum ini tomat yang dibudidayakan adalah tomat sayur. Tomat ini dibudidayakan
dahulu di main nursery. Populasi rata-rata dari persemaian adalah 65,9. Rata-rata populasi ini
tidak diketahui berapa maksimal populasi tanaman tomat dalam satu tray. Populasi tertinggi ada
pada kisaran 93 tanaman. Data rata-rata populasi tersebut tidak lengkap, karena beberapa
kelompok tidak mengumpulkan data.

Bibit yang ditanam di persemaian, pada waktunya akan dipindahkan ke lapang. Untuk
memindahkan ke lapang diperlukan teknik khusus agar tanaman tidak mengalami pelukaan.
Persentase bibit yang dapat tumbuh di lapang atau bibit siap salur disebut dengan persentase
daya tumbuh. Rata-rata persentase daya tumbuh adalah 90,5%. Daya tumbuh rata-rata ini besar,
karena daya tumbuh bibit yang telah disebar di lapang harus sebesar 90 % .
Pertumbuhan vegetative dari tanaman tomat dapat diidentifikasi melalui tinggi tanaman dan
jumlah daunnya. Pengamatan vegetative tersebut diamati dari 1MST hingga 6MST. Dalam
rentang umur 1 hingga 4 MST merupakan fase awal dari pertumbuhan tanaman tomat. Fase yang
lebih berkembang dari awal hidup tanaman tomat adalah fase vegetative.

Pada pengamatan tomat didapatkan hasil bahwa tinggi tanaman tomat bertambah dengan
meningkatnya umur tanaman tomat. Pada percobaan semua kelompok rata-rata tanaman
tomatnya bertambah tinggi 8 cm setiap minggu. Pengamatan jumlah daun pada minggu keenam
setalah tanam mengalami pengurangn. Pengurangan jumlah daun ini disebabkan oleh kering atau
matinya daun primer yang berada di bagian pangkal batang, sehingga tidak dihitung.
Berdasarkan pengamatan data, pertumbuhan vegetative tomat di lapangan tergolong normal,
walaupun terdapat hampir sebagian besar tomat terkena penyakit busuk layu.

Tanaman tingkat tinggi memerlukan fase generative untuk melanjutkan hidupnya. Selain itu,
manfaat dari adanya fase genratif adalah sumber energy yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk
makanan. Pada tanaman tomat, identifikasi fase perkembangan generative dilihat dari jumlah
bunga dan jumlah buah. Perkembangan bunga merupakan fase awal dari perkembangan genertif
tanaman. Awal pembungaan dimulai dari inisiasi pembungaan. Pada tanaman tomat
perimbangan fase generative dan vegetative sama.

Pada umur 5 dan 6 MST tanaman tomat dapat diamati perkembangan generatifnya melalui
jumlah bunga dan jumlah buah. Berdasarkan data, terjadi peningkatan jumlah bunga dan jumlah
buah. Jumlah bunga lebih banyak karena tidak semua bunga menjadi buah. Dalam pengamatan
generatif tanaman tomat ini, terdapat beberapa buah yang hilang. Hal ini disebabkan karena buah
tomat terkena penyakit busuk layu sehingga tidak dapat dihitung. Jumlah bunga dan buah
tanaman tomat cukup sedikit apabila dibandingkan dengan tanaman tomat yang di tanam di
daerah lain. Penampakan tanaman tomat kurus dan tidak segar. Hal ini dapat mengganggu
perkembangan generatif tanaman, karena suplai makanan tidak mencukupi untuk perkembangan
generatif tanaman.

Bobot rata-rata sepuluh tanaman adalah 47.25. Tanaman Contoh pada beberapa ladang budidaya
terkena penyakit layu dan terserang pendemi serangga. Berbagai serangan OPT tersebut
mempengaruhi bobot rata-rata sepuluh tanaman contoh. Sebagian besar tanaman contoh pada
beberapa kelompok mati. Berat bobot total panen adalah 298,68. Hasil panen yang diperoleh
kecil, terserang hama penyakit. Oleh karena itu, hasil panen sedikit.

Tanaman tomat yang berada di lapang telah terkena busuk layu tanaman. Gejala yang menyerang
adalah tanaman tomat layu dimulai dari batang utama yang berada di bawah dan menyebar
hingga ke pangkal tanaman. Ciri-ciri tanaman menjadi busuk, layu berwarna hitam kecoklatan.
Penyakit ini menginfeksi sebagian besar tanaman, sehingga hasil yang di[eroleh sedikit. Busuk
layu ini menjalar dari satu tanaman ke tanaman lain sehingga menjadi pendemik di lahan
percobaan Cikabayan untuk tanaman tomat. Penyakit ini diduga merupakan penyakit tular tanah.
Hal ini mungkin juga disebabkan oleh cuaca yang tidak mendukung seperti intensitas hujan yang
tinggi. Intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan penyebaran penyakit seperti inokulum
cendawan yang tinggi. Tomat yang ditanam pada musim hujan lebih subuur tetapi kendalanya
banyak. tanaman tomat tidak tahan terhadap genangan air dan mudah terserang penyakit layu
buah dan daun.

Tanaman tomat di kebun percobaan juga terserang oleh hama seperti ulat buah tomat (Heliothis
armigera) dan ulat penggerek batang tomat.gejala yang ditimbulkan adalah buah tomat menjadi
berlubang karena ulat memekan buah yang belum matang. Ulat ini berwarna hijau kekuningan.
Penyakit dan hama tersebut menyebabkan has il menurun sehingga hasil panen tidak optimal.
Selain itu, panen buah yang didapatkan kecil-kecil dan sebagian buah belum matang. Tanaman
tomat tersebut belum layak panen. Pemanenen dilakukan lebih cepat karena tanaman 80%
terserang hama dan penyakit, sehingga tidak mungkin untuk dipertahankan. Tanaman tomat
keseluruhan dicabut agar tanaman lain tidak terinfeksi.
Cabai ( Capsicum annum)

Persemaian dilakukan pada 26 Februari sampai 2 Maret 2009. Persemaian cabai rawit
dilakukan karena ukuran benih cabai rawit cukup kecil. Persemaian biasanya dilakukan pada
komoditas yang masa perekambahannya sangat dipengaruhi lingkungan. Ukuran benih cabai
yang kecil akan menyulitkan dalam perkecambahan. Bila dikecambahkan secara langsung di
lapangan, Kemungkinan benih akan terbawa air ketika hujan, dimakan serangga tanah, atau
mendapat cekaman lingkungan yang akan mengganggu perkecambahannya.

Penanaman cabai dilapang dilaksanakan pada tanggal 14-15 April 2009. Bibit cabe yang
ditanam sebanyak 50 bibit dan ditanam dengan cara ditugal. Cabai ditanam diantara baris
tanaman kangkung dengan jarak tanam 50 x 50 cm. Sistem penanaman ini dilakukan agar
pemakaian lahan efektif. Sambil menunggu tanaman kangkung siap panen atau selesai dipanen,
lahan yang sudah kosong ditanam cabai rawit. Sistem ini dapat diterapkan kerena tanaman
kangkung yang ditanam sebelum cabai tidak mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan
cabai untuk pertumbuhannya.

Setelah ditanam dilakukan pemupukan. Pupuk yang diberikan adalah pupuk dasar dengan
dosis Urea 5 g/m2, dan SP-36 20 g/m2. Pupuk dasar ini diberikan mengelilingi tanaman.
Pemupukan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman terutama N dan P pada
awal penanaman. Pada 3 MST dan 6 MST dilakukan pemupukan susulan Urea dan KCL dengan
dosis masing-masing 5 g/tanaman. Urea dan KCL diberikan secara bertahap karena unsur
tersebut bersifat sangat mobil dan mudah hilang dari tanah
Pada komoditi cabai juga dilakukan pemupukan dengan cara dikocor. Pupuk kocor
sebenarnya sama dengan pupuk biasa, pada pemupukan dengan cara dikocor, pupuk dicampur
dengan air, 1 g/tanaman dicampur dengan 250 ml air. Pengocoran dilakukan setiap minggu
sampai cabai siap panen. Pemeliharaan yang dilakukan cukup sederhana. Setiap minggu
dilakukan penyiangan gulma. Populasi akhir yang tetap hidup hanya 38 dari populasi awal
sebesar 50 tanaman. Panen tidak dilakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Jumlah
buah yang siap panen pun sangat sedikit.

Dari 13 kelompok yang melakukan praktikum, daya berkecambah cabai rawit yang
paling rendah adalah 54,8 % dan yang paling tinggi sebesar 94%. Rata-rata daya berkecambah
cabai rawit yaitu sebesar 78,99%. Pada pengukuran tinggi tanaman, terjadi pertambahan tinggi
yang cukup besar pada 3-5 MST. Namun terdapat 2 data tinggi yang jauh menurun yaitu pada 5
dan 6 MST. Pada data tinggi ke-6 dan 12 terjadi penurunan tinggi. Hal ini bukan berarti terjadi
menunjukkan terjadi penurunan tinggi batang. Kesalahan ini mungkin terjadi karena kesalahan
dalam pengukuran atau kesalahan dalam melihat tanaman contoh.

Pertambahan jumlah daun berlangsung dengtan baik. Ini menunjukkan pertuimbuhan


vegetatif yang baik. Pertambahan jumlah daun yang cukup besar terjadi pada 5-6 MST. Rata-rata
jumlah bunga tanaman contoh sebanyak 3 bunga. Namun rata-rata jumlah bunga yang menjadi
buah hanya sebanyak 2 buah.

Jumlah ini terlalu sedikit untuk dalam sistem budidaya. Bahkan untuk konsumsi sehari-
hari pun tidak mencukupi. Pertumbuhan generatif yang tidak baik ini mungkin disebabkan oleh
keadaan tanah yang tidak mendukung pertumbuhannya. Keadaan tanah pada lahan penanaman
cabai mungkin memang kurang baik. Walaupun sudah dilakukan pepupukan dan pemeliharaan,
namun hasilnya sangat rendah.

Kacang Panjang (Vigna sinensis)

Sebelum ditanami, lahan dilakukan pembajakan dan digaru, untuk memperoleh struktur
tanah yang gembur dan remah. Bibit ditanam di atas bedengan yang berukuran 0,8m x 2m. Ada
beberapa jenis varietas kacang panjang yang dipakai dalam praktikun ini yaitu yard, loong,
green, been, brenero. Kebutuhan benih kacang panjang 21 - 23 kg/ha. Sebelum penanaman
dilakukan terlebih dahulu dibuatkan lubang tanam dengan cara ditugal dengan jarak dalam
barisan 25 cm dan antar barisan 1 m. Perlubang tanam diisi 2 biji, hal ini dimaksudkan dalam
satu lanjaran maksimal 4 tanaman. Setelah itu biji ditanam, ditutup dengan tanah/pupuk kandang
yang sudah lembut/remah atau bisa juga dengan abu.

Sebelum dilakukan pemupukan terlebih dahulu dilakukan penyiangan atau dilakukan


sewaktu-waktu saat gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman.Pemupukan pertama ( I )
dilakukan umur ± 12 hari dengan dosis ZA = 50 kg/ha, SP-36 = 100 kg/ha, KCL = 50 kg/ha.
Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal, jaraknya 5 cm dari lubang tanam. Kemudian ditutup
dengan tanah. Pemupukan kedua ( II ) dilakukan umur ± 28 hari dengan pupuk NPK = 200 kg/ha
dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. Pemupukan ketiga ( III ) dilakukan umur ± 40 hari juga
dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam.

Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk kocor. Pemasangan ajir dilakukan 10-15 hari
setelah tanam ( hst ), kira-kira tinggi tanaman 15-25 cm. Pemasangan ajir diantara 2 lubang
tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm. Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat,
dengan cara dipasang silang. Pemasangan ajir ini membantu merambatkan bertujuan untuk
mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman.
Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong
tidak tergeletak di tanah.

Pemeliharaan dilakukan setiap satu minggu sekali. Pemeliharan antara lain mencakup
membersihakan bedengan dari gulmu yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman serta
dilakukan pemupukan. Hal ini juga dapat berguna untuk mencegah tanaman terserang hama dan
penyakit. Berikut beberapa contoh hama dan penyakit yang menyerang tanaman kacang panjang
serta dampaknya pada tanaman tersebut:

1. Thrips

Thrips menyerang bagian pucuk tanaman sehingga tanaman menjadi keriting dan kering,
sering juga menyerang tunas atau pucuk, sejak tanaman masih kecil hingga besar. Ciri tanaman
dewasa dapat berakibat kerontokan pada bunga dan serangan terjadi pada musim kemarau.
Pengendalian thrips dengan menggunakan pestisida Winder, Promectin, Agrimec, Confidor dll
dengan dosis sesuai anjuran.
2. Tungau (Mites)

Tanaman yang terserang tungau akan tampak dari daun-daun yang menggulung ke
bawah, dan warnanya hijau kehitaman. Dalam kondisi parah, tanaman dapat mengalami
kerontokan daun. Pengendalian dengan menggunakan Samite, Omite, Mitac dengan dosis sesuai
anjuran.

3. Aphids sp

Serangan Aphids sp. hampir sama dengan serangan thrips, hanya, bedanya jika pada
serangan Aphids, daun menjadi hitam karena tumbuh jamur jelaga yang tumbuh pada kotoran
Aphids. Apids dapat dikendalikan dengan Winder, Supracide dll, dengan dosis sesuai anjuran.

4. Ulat Polong.
Hama ulat bunga menyebabkan kerontokan pada bunga. sedangkan ulat polong
menyebabkan kerusakan pada bagian polong. Kerusakan ini menimbulkan pembusukan bagian
tersebut akibat aktifitas mikoorganisme yang berasal dari kotoran ulat tersebut. Hama-hama ini
dapat dikendalikan dengan menggunakan Winder dengan dosis sesuai dengan rekomendasi.

5.Penyakit layu

Penyakit ini bias disebabkan oleh jamur Pytium maupun oleh bakteri Pseudomonas sp.
Penyakit ini dapat dicegah dengan kocor dengan Kocide 77, maupun dengan semprot. Sedangkan
pengendalian bakteri dengan kocor Bactomycin atau Agrimycin dengan dosis sesuai anjuran.

Dari data tercatat bahwa rata rata daya kecambah kacang panjang ini cukup baik diatas
75%, hanya keompok 3 yang rata ratanya 73% serta yang paling tinggi adalah kelompok 6 dan 8
yaitu 93,6%. Setiap masing masing kelompok memilih 10 tanaman contoh dan dilakukan
pengamatan pada 7, 8 dan 9 MST, dari hasil diperoleh data bobot yang tertinggi pada 7 MST
adalah kelompok 12 sebanyak 29,96. Pada 8 MST dan 9 MST yang tertinggi adalah kelompok 6
sebanyak 75,84 dan 75,84. Secara keseluruhan hasil yang diperoleh yang paling tinggi adalah
kelompok 8 yang juga merupakan daya berkecambahnya paling tinggi. Tercatat bahwa kelompok
8 menghasilkan bobot 10,45 kg. dari data dapat kita simpulkan bahwa varietas dan sifat tanah
sangat mempengaruhi hasil dari penanaman kacang panjang disamping pemberian unsur unsur
lain yang dapat membantu pertumbuhan.

Panen dilakukan setelah polong berwarna coklat dan umur tanaman sekitar 60-70 hari.
Panen dilakukan dengan memetik polong yang sudah tua dan biji sudah mulai megeras.
Kemudian dijemur diatas terpal atau dibuatkan para-para ditempat yang panas. Setelah kering
dipipil dengan alat perontok, biji juga dengan cara manual yaitu dupukul/digebug. Biji hasil
pipilan dikeringkan lagi dan disortir, untuk memisahkan biji yang baik dengan biji yang jelek
(berlubang, kepeng, kecil).

KESIMPILAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari praktikum budidaya tanaman hortikultura (sayuran) ini adalah
budidaya tanaman hortikultura melalui tahap pre nursery, main nursery, dan lapangan. Walaupun
tidak semua komoditas melalui tahapan-tahapan tersebut. Tanaman yang melalui tahapan
budidaya secara lengkap adalah tomat dan cabai. Selain itu, pemeliharaan tanaman hortikultura
membutuhkan perawatan yang intensif. Hampir sebagian besar panen tanaman praktikum sedikit
dan mempunyai kualitas yang menengah ke bawah. Hal ini diakibatkan oleh serangan hama
penyakit dan tanah yang tidak subur, komoditas yang tidak cocok terhadap cuaca di lahan, serta
perawatan yang kurang intensif

Saran

Lahan percobaan sebaiknya perlu dilakukan system bera untuk mendapatkan lahan yang
optimum. Perawatan tanaman budidaya seharusnya dilakukan dengan intensif, tidak hanya
mengandalkan factor alam saja. Persiapan bibit dan alat-alat pertanian seharusnya disiapkan dan
harus ada dalam jumlah yang cukup. Selain itu, diperlukan pelatihan pengendlian hama dan
penyakit yang terpadu

BAB II

KUNJUNGAN NURSERY DAN PEMBUATAN MEDIA

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Indentifikasi tanaman pembibitan berlokasi di Kebun Percobaan Cikabayan Bawah IPB


Darmaga. Identifikasi tanaman dan pengambilan data dilakukan pada hari Selasa tanggal 24
Maret 2009 pukul 07.00 WIB sampai dengan 10.00 WIB.

Metode Pelaksanaan
Identifikasi tanaman dilakukan dengan metode observasi dan pencatatan data. Data yang
dicatat antara lain adalah:

1. Syarat tumbuh tanaman


Berisi keterangan tentang syarat tanaman agar dapat tumbuh seperti ketinggian tempat,
jenis tanah, curah hujan dan suhu.

2. Teknik perbanyakan tanaman


Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain:
 Okulasi: Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman
yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan
tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka
sambungan atau tautannya.
 Stek: Setek (cutting atau stuk) atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau
potongantanaman, sehingga menjadi tanaman baru.
 Cangkok: Tehnik perbanyakan vegetatif dengan cara pelukaan atau pengeratan cabang
pohon induk dan dibungkus media tanam untuk merangsang terbentuknya akar. Pada
tehnik ini tidak dikenal istilah batang bawah dan batang atas.

3. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan tanaman yang dilakukan adalah penyiangan gulma, penyulaman,
penyiraman dan pemupukan.

4. Pemberian Insektisida dan Pestisida


Untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal diperlukan kondisi tanaman yang jauh
dari hama dan penyakit (OPT). Oleh karena itu diperlukan kegiatan yang dapat mengusir
hama dan penyakit, yaitu pemberian insektisida dan pestisida.

5. Panen
Pada kegiatan pemanenan, yang perlu diperhatikan adalah umur panen dan cara panen.
Perhatian yang diberikan pada umur panen dan cara panen bertujuan untuk menjaga mutu
hasil panen.umur pemanenan yang tepat serta cara pemanenan yang tepak akan menjaga
kualitas dan mutu produk.

6. Pasca panen
Kegiatan yang umum dilakukan pasca panen adalah pengumpulan hasil, penyortiran dan
penggolongan (keseragaman ukuran, kesehatan, bentuk dan kerusakan), penyimpanan (untuk
melindungi produk dari pengaruh lingkungan dan kerusakan fisik sebelum produk dijual atau
disalurkan), pengemasan (untuk melindungi produk dari pengaruh lingkungan dan kerusakan
fisik dan sebagai daya tarik bagi konsumen) dan pengangkutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebagian besar tanaman yang berada di pre nursery merupakan tanaman yang dapat
dikonsumsi manusia. Tanaman-tanaman yang ditanam di pre nursery adalah rambutan rapiah,
jambu biji, jambu air citra, jambu air cincalo merah, jeruk siam Pontianak, jeruk navel, jeruk
valensia, kenanga, manglet, pinus, manggis, nangka, jeruk keprok, kumkuat, srikaya, dan sawo
kecik.

Berdasarkan hasil pengamatan, tanaman pada pre nursery memiliki karakteristik


morfologi serta teknik budidaya yang berbeda dan beraneka ragam tiap tanamannya.
1. Rambutan Rapiah
Karakter Morfologi : Buah berbentuk bulat dan mempunyai ciri khas yaitu adanya pelat
pada kulitnya. Warna buah hijau kekuningan dengan rambut yang sangat pendek, kasar, agak
jarang, dan berwarna hijau dengan ujung kemerahan. Daging buah tebal, putih, agak kering,
kenyal, ngelotok, dan kulit bijinya agak melekat. Rasanya manis agak renyah dan aromanya
tidak tajam. Bijinya kecil, berbentuk bulat, dan mempunyai pelat.
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : -
2. Jambu Biji
Karakter Morfologi : Ukuran buahnya yang besar. Diameter buahnya sekitar 15 cm dengan
berat setiap buah dapat mencapai sekitar 1.200-1.700 g. Selain keunggulan tersebut, buah
jambu ini memiliki daging buah yang tebal dan rasanya enak. Warna daging buah putih
kekuningan. Namun, buah yang terlalu masak rasanya tidak enak dan kurang manis. Oleh
karena itu, yang sering dicari ialah yang daging buahnya masih agak keras.
Teknik Pembiakan : Cangkok
Keterangan : tanaman merupakan hasil seleksi
3. ]Jambu Air Citra
Karakter Morfologi : Ukurannya sangat besar, dengan bobot 120-170 gram atau rata-rata
136,70 gram. Setiap kilogram berisi 6-9 buah. Rasanya lebih manis dan mantap, karena
kandungan fruktosanya mencapai sembilan persen.
Tekstur dagingnya memang lebih kering, karena kandungan airnya rendah.
Teknik Pembiakan : Okulasi
Keterangan : Varietas citra juga paling kaya vitamin C
4. Jambu Air Cincalong Merah
Karakter Morfologi : Bentuk buah jambu ini memanjang seperti lonceng dan di bagian
tengahnya agak gemuk membulat. Ukuran buahnya memang lebih kecil, yaitu panjangnya
hanya sekitar 7 cm dan diameternya 6 cm. jambu ini merupakan jenis jambu yang tidak
berbiji.
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : -
5. Jambu Air Kancing
Karakter Morfologi : Ukuran buah kecil, berwarna merah
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : -
6. Jeruk Siam Pontianak
Karakter Morfologi : kulit buahnya berwarna hijau kekuningan, mengilat, dan
permukaannya halus. Ketebalan kulitnya sekitar 2 mm. Berat tiap buah sekitar 75,6 g. Bagian
ujung buah berlekuk dangkal. Daging buahnya bertekstur lunak dan mengandung banyak air
dengan rasa manis segar. Setiap buah mengandung sekitar 20 biji
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : Jeruk yang memiliki kandungan kalsium yang sedikit
7. Jeruk Sunkist
Karakter Morfologi : Daun lebih lebar dibanding jeruk siam Pontianak.
Warna daun cerah. Buah memiliki tekstur yang halus
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : Terdiri dari buah jeruk Sunkist valencis dan navel
8. Jeruk Sunkist Navel
Karakter Morfologi : Ciri-cirinya hampir mirip dengan orange valensia, bahkan sulit
dibedakan. Rasa daging dan air buah orange navel lebih manis dan kebanyakan dijumpai
tanpa biji.
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : Banyak dikonsumsi sebagai buah potong atau diperas untuk diambil air buah
9. Jeruk Sunkist Valensia
Karakter Morfologi : Rasa daging buahnya manis dan sedikit agak asam. Warna buah
oranye terang, ada yang berbiji, ada juga yang tanpa biji.
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : air buahnya pas untuk diminum saat panas
10. Jeruk Kumkuat
Karakter Morfologi : Buahnya bertipe buah buni, berbentuk bulat telur, agak tebal,
berdaging, berbau harum, berwarna jingga cerah atau kuning keemasan; daun pertamanya
berbentuk bundar telur lebar, letaknya berhadap-hadapan. Kandungan Buah kumkuat kaya
akan pektin dan vitamin C. Kadar pektinnya tertinggi pada kulit bagian dalam, mencapai
10% dari berat basah, sesaat setelah buah matang; kadar pektin daging buahnya kira-kira
set:engahnya dari kulitnya. Kandungan vitamin C buah yang tertinggi terdapat pada kulitnya
juga, tetapi daunlah yang merupakan sumber yang terbaik daripada pada buahnya. ukuran
sangat mungil, hanya sedikit lebih besar dari buah zaitun dan berwarna oranye tua. Buah
yang berasal dari China ini kulitnya tipis. Biasanya dimakan langsung bersama kulitnya.
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : -
11. Jeruk Keprok
Karakter Morfologi : Buahnya berbentuk bulat pendek atau agak bulat dengan ukuran rata-
rata 5,7 x 6,3 cm. Kulit buah matang berwarna kuning dan permukaannya halus. Ujung buah
berlekuk dalam. Buah jeruk ini tidak berpusar buah. Ketebalan kulitnya sekitar 2,3 mm.
Daging buah bertekstur lunak dengan rasa manis. Buahnya mengandung banyak air. Berat
buah rata-rata 123,3 g per buah. Bijinya berwarna krem dan berbentuk oval.
Teknik Pembiakan : okulasi
Keterangan : -
12. Kenanga
Karakter Morfologi : berbatang besar sampai diameter 0,1-0,7 meter dengan usia puluhan
tahun. Tumbuhan kenangan mempunyai batang yang getas (mudah patah) pada waktu
mudanya. Tinggi pohon ini dapat mencapai 5-20 meter. Bunga kenanga akan muncul pada
batang pohon atau ranting bagian atas pohon dengan susunan bunga yang spesifik. Sebuah
bunga kenanga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning serta dilengkapi
3 lembar daun berwarna hijau. Susunan bunga tersebut majemuk dengan garpu-garpu. Bunga
kenanga beraroma harum dan khas.
Teknik Pembiakan : okulasi dengan batang bawah manglit
Keterangan : Manglit memiliki batang yang kuat sehingga dipilih sebagai batang bawah.
Tetapi tidak bisa berbunga
13. Pinus
Karakter Morfologi : Pinus merupakan tanaman angiospermae yang mempunyai daun-daun
kecil yang selalu hijau.
Teknik Pembiakan : biji
Keterangan :
14. Manggis
Karakter Morfologi : Buah manggis berbentuk bulat dengan kulit tebal, lumk, dan bergetah
kuning. Pada waktu masih muda kulit buahnya berwarna hijau, setelah tua berubah menjadi
merah tua sampai ungu kehitaman. Daging buahnya tersusun dalam beberapa segmen atau
juring, berwarna putih bersih, Ian rasanya manis segar sedikit asam. Jumlah juringnya
biasaqya dapat diperkirakan dari jumlah "celah" yang terdapat pnda ujung buah. Biasanya
dalam sebutir buah terdiri dari 7 juring. Bijinya berukuran kecil, berwarna kecokelatan, dan
biasanya berjumlah I-2 dalam setiap buah.
Teknik Pembiakan : biji
Keterangan : Sumber biji dari Jasinga. Penyakit yang rentan adalah penyakit hawar dan
bercak
15. Nangka
Karakter Morfologi : Daging buah besar, tebal, rasanya sangat manis, dan kandungan
airnya sedikit sehingga terasa renyah. Warna daging buah kuning cerah. Kelebihan yang lain,
ukuran daminya besar dan rasanya manis. Warna dami ada yang kuning dan ada yang putih.
Berat buah antara 7-15 kg, tetapi ada yang lebih dari 20 kg. Produktivitas ratarata. 20
buah/pohon/musim. Buah yang besar, memiliki proses pertumbuhan yang cukup lam
(tanaman tahunan)
Teknik Pembiakan : biji
Keterangan : Sulit untuk dicangkok karena adanya getah yang menghambat pertumbuhan
akar
16. Srikaya
Karakter Morfologi : Buah merupakan buah semu yang berbentuk bulat atau bentuk
kerucut, berdiameter 5-10 cm, terbentuk atas daundaun buah yang berlekatan secara longgar
atau hampir tidak bersinggungan, ujungnya yang membundar itu menonjol, sehingga
permukaannya kelihatan berbisul; kulit luar berwarna kuning kehijauan dengan bintik-bintik
menyerbuk; daging buahnya berwarna putih berbintik kuning. Bijinya berwarna coklat tua.
Teknik Pembiakan : biji
Keterangan : Pada umur satu tahun srikaya bisa dipindah ke lapang
17. Sawo Kecik
Karakter Morfologi : Warna buah matang oranye, bercabang horizontal
Teknik Pembiakan : biji
Keterangan : Berperan sebagai tanaman lansekap, Berdasarkan keterangan tanaman di atas,
tanaman yang ada di pre nursery Kebun Percobaan Cikabayan memiliki keanekaragaman
morfologi dan lainnya yang beraneka ragam. Tanaman tersebut rata-rata mendapatkan suplai
air dan hara dari proses drip irrigation (irigasi tetes) dimana terdapat selang berwarna hitam
yang di dalamnya mengalir unsur hara dan air yang dibutuhkan oleh tanaman. Selang
tersebut dimasukkan ke tanah sampai beberapa cm sehingga memudahkan pengelola untuk
memberikan air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Jambu biji yang ada di wilayah pre-nursery tersebut merupakan jambu biji merah. Pembibitan
pohon jambu biji dilakukan melalui sistem pencangkokan dan okulasi, walaupun dapat juga
dilakukan dengan cara menanam biji dengan secara langsung. Jika ingin melakukan pembibitan,
benih yang diambil biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh masyarakat atau
konsumen yang merupakan bibit unggulan seperti jambu bangkok. Bibit yang baik antara lain
yang berasal dari buah yang sudah cukup tua, buahnya tidak jatuh hingga pecah, dan pengadaan
bibit lebih dari satu jenis untuk menjamin kemungkinan adanya persarian bersilang. Benih yang
ingin dijadikan bibit hendaknya difermentasikan terlebih dahulu dengan direndam air dan larutan
asam yang memiliki perbandingan 1:2. Adapun larutan asam yang diberikan adalah HCl dan
H2SO4. Benih yang telah direndam disemai di bedengan yang telah diatur dengan jarak tertentu
sehingga perkecambahan yang terjadi adalah optimal dan penyerapan cahaya matahari bagi
benih tersebut maksimal. Pembibitan dilakukan dengan pencangkokan ataupun okulasi.

Jambu air memiliki 2 jenis yang banyak dianam, yaitu jambu air besar dan jambu air kecil.
Jambu air besar antara lain yaitu jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel dan
Cincalo (kedua-duanya memiliki warna merah, hijau, ataupn putih). Adapun yang termasuk
jambu air kecil antara lain jambu Camplong (Bangkalan), Kancing, Mawar (jambu keraton),
Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng (super lebat) dan manalagi (tanpa biji). Jambu
air merupakan tanaman yang cukup tergantung pada angin. Hal ini disebabkan angin berfungsi
dalam membantu penyerbukan pada bunga. Pembibitan pada jambu air memerlukan persyaratan
bagi benih atau bibit yang akan dipakai. Biji berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15
tahun, produktif dan produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yang besarnya normal
dan mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh agar mengurangi kadar air dan
mengurangi tingkat serangan cendawan. Bibit yan dipakai untuk sambungan yang terbaik adalah
sambungan celah. Batang bawah berasal dari bibit hasil perbanyakan dengan bii yang berumur
10 tahun, sedangkan pucuk berasal dari pohon induk unggul. Setelah disambung bibit dipelihara
2-3 bulan.

Tanaman sawo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: sawo liar atau sawo
hutan serta sawo budidaya. Sawo liar atau sawo hutan antara lain seperti sawo kecik yang biasa
dimanfaatkan sebagai tanaman hias atau tanaman peneduh halaman. Tinggi pohon mencapai 15-
20 meter, merimbun dan tahan kekeringan. Selain sawo kecik, terdapat pula jenis sawo lain yaitu
sawo tanjung yang memiliki buah kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, jarang dimakan,
sering digunakan sebagai tanaman hias dan peneduh jalan. Sedangkan sawo budidaya adalah
sawo yang ditujukan untuk dikonsumsi buahnya oleh manusia. Rasanya manis, bentuknya
lonjong, daging buahnya tebal, dan bergetah banyak. Pembibitan pada sawo memiliki
persyaratan seperti asal bibit dari cangkok. Sebab, bibit yang berasal dari biji biasanya lambat
dalam menghasilkan buah. Bibit yang berasal dari biji sebenarnya memiliki keunggulan dan
kelemahan. Keunggulan yang dimiliki yaitu bibit memiliki perakaran yang kuat dan dalam.
Sedangkan kelemahannya, bibit memberikan keturunan yang berbeda dengan induknya karena
adanya pencampuran sifat kedua tetua atau terjadi proses segregasi genetis.

Jeruk memiliki cukup banyak keanekaragaman varietas seperti yang telah disebutkan di atas.
Pembibitan jeruk yang berhasil sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bibit yang bermutu.
Adapun persyaratan bibit jeruk yaitu bibit jeruk berasal dari perbanyakan vegetative berupa
penyambungan tunas pucuk. Bibit yang baik adalah yang bebas penyakit, mirip dengan
induknya, subur, diameter 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut banyk, akar tunggang
berukuran sedang dan memiliki sertifikasi penangkaran bibit.

Metode pembiakan pada fase pembibitan dari tanaman tersebut memiliki peranan yang penting
untuk keberlangsungan pertumbuhan tanaman tersebut. Dalam aplikasinya, diperlukan
keterampilan untuk memilih serta menggabungkan sifat-sifat yang menguntungkan. Hal ini
dilakukan seperti pada tanaman kenanga yang memakai bahan batang bawah berasal dari
tanaman manglit. Hal ini dikarenakan tanaman manglit memiliki perakaran kuat dan batang yang
kokoh. Tetapi, untuk bagian atas tanaman kenanga, tidak memakai bahan dasar manglit karena
tanaman manglit tidak dapat menghasilkan bunga.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pre nursery merupakan kegiatan pembibitan tanaman yang dilakukan untuk


meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman yang dikembangkan atau di tanam. Teknik
pembibitan yang dilakukan pada pre nursery yaitu okulasi, cangkok dan biji. Pada praktikum ini
tanaman yang dibudidayakan di pre nursey ini adalah rambutan rapiah, jambu biji merah, jambu
air citra, jambu air cincalong, nangka, jeruk siam pontianak, jeruk Sunkist navel dan valensia,
jeruk keprok, jeruk kumkwat, pinus, kenanga, manggis, srikaya, dan sawo kecik.

Pengadaan dan penyediaan bibit yang baik dan sehat selama di pembibitan awal (Pre
Nursery) berpengaruh besar bagi pertumbuhan, perkembangan dan kualitas tanaman yang akan
dihasilkan atau diproduksi nanatinya. Maka dari itu, pembibitan awal (Pre Nursery) sangat
penting untuk dilakukan karena kegiatan pre nursery menjaga mutu dan kualitas tanaman.

Saran

Saran untuk praktikum Pengantar Dasar-dasar Hortikultura dan Dasar-dasar Hotikultura ke


depannya adalah kegiatan nursery dari awal hingga akhir dilakukan oleh mahasiswa a sehingga
praktikan lebih dapat memahami semua kegiatan praktikum tersebut dan dapat menerapkannya
dengan benar dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Masih banyak kekurangan dalam praktikum ini, diantaranya adalah tidak diajarkannya
pengolahan tanah dan media pre nursery, pemasangan pupuk kandang, persemaian cabe dan
tomat. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh pegawai yang ditunjuk sehingga mahasiswa tidak
bisa mengaplikasikannya.

BAB III

KUNJUNGAN GREEN HOUSE

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu
Kunjungan Green house dilaksanakan di green house kebun percobaan Cikabayan.
Kunjungan dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2009 pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.
Bahan dan Alat

Alat yang digunakan pada praktikum Dasar-Dasar Hortikultura adalah alat tulis.
Metode Pelaksanaan

Kunjungan ke Green House dilakukan melalui observasi dan wawancara.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pre nursery merupakan kegiatan pembibitan tanaman yang dilakukan untuk


meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman yang dikembangkan atau di tanam. Teknik
pembibitan yang dilakukan pada pre nursery yaitu okulasi, cangkok dan biji. Pada praktikum
ini tanaman yang dibudidayakan di pre nursey ini adalah rambutan rapiah, jambu biji merah,
jambu air citra, jambu air cincalong, nangka, jeruk siam pontianak, jeruk Sunkist navel dan
valensia, jeruk keprok, jeruk kumkwat, pinus, kenanga, manggis, srikaya, dan sawo kecik.
Pengadaan dan penyediaan bibit yang baik dan sehat selama di pembibitan awal (Pre
Nursery) berpengaruh besar bagi pertumbuhan, perkembangan dan kualitas tanaman yang
akan dihasilkan atau diproduksi nanatinya. Maka dari itu, pembibitan awal (Pre Nursery)
sangat penting untuk dilakukan karena kegiatan pre nursery menjaga mutu dan kualitas
tanaman.

Saran

Saran untuk praktikum Pengantar Dasar-dasar Hortikultura dan Dasar-dasar Hotikultura ke


depannya adalah kegiatan nursery dari awal hingga akhir dilakukan oleh mahasiswa a
sehingga praktikan lebih dapat memahami semua kegiatan praktikum tersebut dan dapat
menerapkannya dengan benar dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Masih banyak kekurangan dalam praktikum ini, diantaranya adalah tidak diajarkannya pengolahan
tanah dan media pre nursery, pemasangan pupuk kandang, persemaian cabe dan tomat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh pegawai yang ditunjuk sehingga mahasiswa tidak bisa
mengaplikasikannya.

BAB III

KUNJUNGAN GREEN HOUSE

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu


Kunjungan Green house dilaksanakan di green house kebun percobaan Cikabayan. Kunjungan
dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2009 pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.

Bahan dan Alat

Alat yang digunakan pada praktikum Dasar-Dasar Hortikultura adalah alat tulis.

Metode Pelaksanaan

Kunjungan ke Green House dilakukan melalui observasi dan wawancara.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Green house atau rumah kaca adalah sebuah bangunan tempat budidaya tanaman
yang paling intensif. Budidaya tanaman dalam Green House disebut “plant forcing”. Bangunan
ini akan menjadi panas karena radiasi elektromagnetik yang datang dari matahari. Tidak hanya
bangunan saja yang menjadi panas, seluruh komponen yang ada di dalam bangunan tersebut
juga menjadi panas. Komponen yang terdapat dalam Green House adalah tanah, tanaman, dan
lain- lain. Kaca yang digunakan bekerja sebagai medium transmisi yang dapat memilih
frekuensi spectral yang berbeda- beda dan efeknya adalah untuk menangkap energi di dalam
rumah kaca, yang memanaskan tumbuhan dan tanah di dalamnya yang juga memanaskan
udara dekat tanah dan udara ini dicegah naik ke atas dan mengalir keluar. Oleh karena itu,
rumah kaca bekerja dengan menangkap radiasi elektromagnetik dan mencegah konveksi.
Rumah kaca sering kali digunakan untuk mengembangkan bunga, buah dan tanaman
tembakau. Lebah bumble adalah polinator pilihan untuk banyak polinasi rumah kaca, meskipun
tipe lebah lain juga digunakan, dan juga polinasi buatan.
Selain tembakau, banyak sayuran dan bunga juga dikembangkan di rumah kaca pada
akhir musim dingin atau awal musim semi, yang kemudian dipindahkan ke luar begitu cuaca
menjadi hangat. Ruangan yang tertutup dari rumah kaca mempunyai kebutuhan yang unik,
dibandingkan dengan produksi luar ruangan. Hama dan penyakit, dan panas tinggi dan
kelembaban, harus dikontrol, dan irigasi dibutuhkan untuk menyediakan air. Rumah kaca
menjadi penting dalam penyediaan makanan di negara garis lintang tinggi. Kompleks rumah
kaca terbesar di dunia terletak di Leamington, Ontario (dekat tempat paling selatan Kanada) di
mana sekitar 200 "acre" (0.8 km²) tomat dikembangkan dalam gelas. Rumah kaca melindungi
tanaman dari panas dan dingin yang berlebihan, melindungi tanaman dari badai debu dan
"blizzard", dan menolong mencegah hama. Pengontrolan cahaya dan suhu dapat mengubah
tanah tak subur menjadi subur. Rumah kaca dapat memberikan negara kelaparan persediaan
bahan makanan, di mana tanaman tak dapat tumbuh karena keganasan lingkungan. Hidroponik
dapat digunakan dalam rumah kaca untuk menggunakan ruang secara efektif.
Penanaman pada Green House menghasilkan kualitas produksi yang lebih baik
dengan penggunaan pestisida seminimal mungkin daripada budidaya konvensional yaitu
dengan media tanah. Meskipun biaya produksi budidaya pada Green House lebih mahal
daripada budidaya konvensional, harga jual produk tanaman yang dihasilkan Green
House relatif lebih mahal dibandingkan produk hasil budidaya konvensional.

Pada kebun percobaan cikabayan terdapat Green House tipe single unit yang idealnya
memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Akan tetapi konstruksi bangunannya belum
memenuhi standar Green House yang baik seperti ventilasi yang terlalu sedikit atau kecil.
Selain itu Green House tipe ini memerlukan biaya pengaturan suhu lebih mahal. Budidaya
tanaman dilakukan menggunakan sistem hidroponik dengan irigasi tetes. Adapun sistem
media atau substrat yang digunakan yaitu bag culture berupapolybag berwarna hitam.
Pemberian larutan hara dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan head unit irigasi.

Pemberian unsur hara dilakukan bersamaan dengan sistem penyiraman yang


dilakukan secara otomatis sistem drip irrigation (irigasi tetes) langsung pada tanaman
sebanyak 3 kali sehari pada komoditas melon dengan volume terukur menggunakan gelas
ukur. Dengan cara ini produksi bisa ditingkatkan sampai 30% dan lebih praktis dibandingkan
dengan penyiraman secara manual.

Pembangunan Green House harus memperhatikan struktur fisik yaitu structure,


glazing, polylock system, horticultural consideration, ground cover, sealing the greenhouse,
dan adjacent facilities. Pertimbangan lingkungan desain Green House juga harus
diperhatikan yang meliputi energy exchange, heat loss, ventilation, evaporate
cooling, horizontal air flow fans, dan CO2 injection. Fasilitas pendukung Green House terdiri
atas bangunan tanam, program persemaian, instalasi irigasi, program pemupukan, program
pengendalian HPT, dan program pemasaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dalam praktikum mengenai pengenalan green house ini
adalah greenhouse digunakan untuk menunjang pembudidayaan tanaman. Pada awalnya
greenhousre digunakan untuk memanipulasi iklim dan cuaca di dalam rumah kaca.
Greenhouse pada kebun percobaan cikabayan adalah tipe single unit yang idealnya memiliki
ventilasi dan pencahayaan yang baik. Akan tetapi konstruksi bangunannya belum memenuhi
standar Green House yang baik seperti ventilasi yang terlalu sedikit atau kecil.
Sistem budidaya dalam greenhouse ini adalah system hidroponik dengan drip irrigation

Saran

Greenhouse seharusnya dibangun dengan memperhatikan struktur fisik yang mendukung untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang optimum. Selain itu, pembangunan
greenhouse harus memperhatikan lingkungan desain, energy exchange, heat
loss,ventilation, evaporate cooling, horizontal air flow fans, dan CO2 injection.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Budidaya Bayam. http://cerianet-agricultur.blogspot.com. [7 April 2009]

Anonim. 2009. Cabai. http://iptek.net.id. [18 Mei 2009]

Anonim. 2009. Kacang Panjang. http://iptek.net.id. [18 Mei 2009]

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. Inovasi Teknologi Pertanian: Seperempat Abad
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Oleh Indonesia.Jakarta: Departemen Pertanian, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1998 Catatan: vol. 2
Cahyono B. 2002. Tomat, Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.

Direktorat Jendral Hortikultura.2006. Buku Tahunan Hortikultura Seri Tanaman Sayuran. Departemen
Pertanian.

Hadisoeganda W A.1996. Bayam Sayuran Penyangga Petani Indonesia. Bandung: Balai Penelitian
Tanaman Sayuran.

Margiyanto, E. 2007. Budidaya Tanaman Sawi. http://cerianet-agricultur.blogspot.com. [7 April


2009]

Nazarudin.1999. Budidaya dan Pengantaran Panen Sayuran Dataran Rendah.Jakarta:Penebar


Swadaya

Haryanto, Eko, Tina, dan Rahayu, Estu. 1995. Budi Daya Kacang Panjang. Jakarta: Penabar Suadaya.

Inggah, N. dan Mansur. 2009. Paket Teknologi Budidaya Kangkung Lahan Sawah
Irigasi.http://ntb.litbang.deptan.go.id. [7 April 2009]

Pitoyo S. 1998. Penangkaran Benih Tomat. Yogyakarta: Kanisius

Pracaya. 1999. Bertanam Tomat. Yogyakarta:Kanisius

Pudjiatmoko. 2009. Budi daya tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Atani Tokyo[terhubung
berkala] [16 Juni 2009]

Rukmana, Rahmat. 1995. Bertanan Kacang Panjang. Yogyakarta: Kanisius.

Soesanto L. 2000. Penyakit Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius

Susilo, A.D. 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Bogor. Departemen Agronomi dan Hortikultura,
Fakultas Pertanian, IPB.

Tugiono H. 1999. Bertanam Tomat. Jakarta: Niaga swadaya

http://shantybio.transdigit.com/?Biologi__Taksonomi:Edible_Amaranth_Article_-
_Artikel_Tentang_Bayam(6 Juli 2009)

http://zhi3.files.wordpress.com/2009/06/bayam.jpg (7 juli 2009)

http://www.ristek.go.id
http://ayobertani.wordpress.com/2009/04/20/budidaya-jambu-air/

http://www.warintekjogja.com/warintek/warintekjogja/warintek_v3/datadigital/bk/sawo.pdf

http://www.benss.co.cc/budidaya-tanaman/jeruk/Page-3

LAMPIRAN 1

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Daya Berkecambah Kangkung

Grafik 2. Tinggi Tanaman Kangkung


Grafik 3. Jumlah Cabang Kangkung

Grafik 4. Rata- rata Bobot Sepuluh Tanaman Contoh Kangkung


Grafik 5. Total Bobot Kangkung

Grafik 6. Daya Berkecambah Caisin


Grafik 7. Tinggi Tanaman Caisim

Grafik 8. Jumlah Cabang Caisim


Grafik 9. Rata- rata Bobot Sepuluh Tanaman Contoh Caisim

Grafik 10. Total Bobot Caisim


Grafik 11. Daya Berkecambah Bayam

Grafik 12. Tinggi Tanaman Bayam


Grafik 13. Jumlah Cabang Bayam

Grafik 14. Rata- rata Bobot Sepuluh Tanaman Contoh Bayam


Grafik 15. Total Bobot Bayam

Grafik 16. Daya Tumbuh Tomat


Grafik 17. Tinggi Tanaman Tomat

Grafik 18. Jumlah Daun Tomat


Grafik 19. Rata- rata Bobot Buah Sepuluh Tanaman contoh Tomat

Grafik 20. Total Bobot Buah Tomat


Grafik 21. Daya Tumbuh Cabai

Grafik 22. Tinggi Tanaman Cabai


Grafik 23. Jumlah Daun Cabai

Grafik 24. Daya Berkecambah Kacang Panjang


Grafik 25. Rata- rata Bobot Polong Sepuluh Tanaman Contoh Kacang Panjang

Grafik 26. Total Bobot Polong Kacang Panjang


LAMPIRAN 2

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Populasi Tomat dan Pertumbuhan Generatif Tomat

Generatif

Kelompok Populasi Waktu Jumlah Bunga Jumlah Buah

5 6 5 6
M M M M
S S S S
Berbunga T T T T

1 12 Mei 2009 3 2 2 1

2 77 12 Mei 2009 5 4 2 2

3 80 5 Mei 2009 2 2 2 2

4 12 Mei 2009 2 2 1 2
5 62 12 Mei 2009 2 2 2 -

6 81 12 Mei 2009 2 2 1

7 93 12 Mei 2009 2 2 1 2

8 90 12 Mei 2009 - 4 - 1

9 10 12 Mei 2009 - - - -

10 20 12 Mei 2009 5 4 1 1

11 76 12 Mei 2009 2 1 1 1

12 12 Mei 2009 9 14 2 5

13 70 Mei 2009 5 5 2 3

Tabel 2. Populasi Cabai dan Pertumbuhan Generatif Cabai

Generatif

Kelompok Populasi Waktu Jumlah Jumlah

Berbunga Bunga Buah

1 21 Mei 2009 3 2

2 44 12 Mei 2009 2 3

3 44 12 Mei 2009 4

4 38 19 Mei 2009 3 2

5 36

6 52 12 Mei 2009 1 1

7 40 12 Mei 2009 3 2

8 42 12 Mei 2009 4 1

9 36 12 Mei 2009 4 3

10 40 26 Mei 2009 7
11 42 12 Mei 2009 3 1

12 12 Mei 2009 3 2

13 43 12 Mei 2009

Tabel 3. Jumlah Polong dan Jumlah Bunga Kacang Panjang Yard Long Green Been Brenero

Jumlah Jumlah

Kelompok Polong Bunga

per
per Ta
Tan na
am ma
an n

1 5

2 3 1

4 2 4

5 2 1

6 4 3

7 3 2

8 3 1

9 3 2

10 1 1

11 4 1

12 2 1

13
LAMPIRAN 3

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Panen Bayam Gambar 2. Bedeng Kangkung

Gambar 3. Kangkung Gambar 4. Bedeng Kacang Panjng

Gambar 5. Tanaman Kcng Pnjang Gambar 6. Tanaman Cabai


Gambar 7. Busuk Layu Tomat Gambar 8. Tanaman Tomat

Gambar 9. Bedengan Tomat Gambar 10. Bedeng Bayam

Gambar 11. Tanaman Contoh Bayam

I.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Hortikultura berasal dari kata “hortus” (= garden atau kebun) dan “colere” (=
tocultivate atau budidaya). Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha
membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias,sehingga hortikultura
merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran
dan tanaman hias. Dalam GBHN 1993-1998 selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias,
yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat-obatan.
Ditinjau dari fungsinya, tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai
sumber vitamin, mineral dan protein (dari buah dan sayur) serta memenuhi kebutuhan rohani,
karena dapat memberikan rasa tenteram, ketenangan hidup dan estetika (dari tanaman
hias/bunga).
Peranan hortikultura adalah : a). Memperbaiki gizi masyarakat, b) memperbesar devisa
negara, c) memperluas kesempatan kerja, d) meningkatkan pendapatan petani dan e) pemenuhan
kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan. Dalam membahas masalah hortikultura perlu
diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hasil hortikultura, yaitu : a). Tidak dapat disimpan
lama, b) perlu tempat lapang (voluminous), c) mudah rusak (perishable) dalam pengangkutan, d)
melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang lain dan e) fluktuasi harganya
tajam .Setelah mengetahui manfaat serta sifat-sifatnya yang khas dalam pengembangan
hortikultura agar dapat berhasil dengan baik, maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam
terhadap permasalahan hortikultura tersebut.
Hortikultura adalah komoditas yang masih memiliki masa depan relatif cerah ditilik dari
keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian
Indonesia pada waktu mendatang, sehingga perlu mulai mengembangkannya sejak saat ini,
sebagaimana negara-negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura, antara
lain : Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok, Belanda dengan
bunga Tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel dari gurun pasirnya kini telah
mengekspor Apel, Jeruk dan Anggur.
Pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan
rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas
hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Apabila dilihat dari data selama Pelita
V pengembangan hortikultura yang lebih ditekankan pada peningkatan keragaman komoditas
telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu pada periode 1988 s/d 1992 telah
terjadi peningkatan produktivitas sayuran dari 3,3 ton/ha menjadi 7,7 ton/ha dan buah-buahan
dari 7,5 ton/ha menjadi 9,9 ton/ha.
Terjadinya peningkatan tersebut dapat dikatakan bahwa petani hortikultura merupakan
petani yang responsif terhadap inovasi teknologi berupa : penerapan teknologi budidaya,
penggunaan sarana produksi dan pemakaian benih/bibit yang bermutu. Tampak di sini bahwa
komoditas hortikultura memiliki potensi untuk menjadi salah satu pertumbuhan baru di sektor
pertanian. Oleh karena itu pada masa yang akan datang perlu ditingkatkan lagi penanganannya
terutama dalam era pasar bebas abad 21.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah agar mahasiswa mengerti bagaimana budi daya tanaman
Hortikultura yang baik dan benar dan dapat mengembangkannya di masyarakat.

II.Tinjauan Pustaka

2.1 Budidaya Cabai


Tanaman cabai ( Capsicum annum L) berasal dari dunia tropis dan subtropis Benua Amerika,
khususnya Kolombia, Amerika Selatan, dan terus menyebar ke Amerika Latin. Bukti budidaya
cabai pertama kali ditemukan dalam situs galian sejarah Peru dan sisaan biji yang telah berumur
lebih dari 5000 tahun SM didalam gua di Tehuacan, Meksiko. Penyebaran cabai ke seluruh dunia
termasuk negara-negara di Asia, seperti Indonesia dilakukan oleh pedagang Spanyol dan
Portugis (Dermawan, 2010).
Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama
ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke
negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Cabai mengandung
kapsaisin, dihidrokapsaisin, vitamin (A, C), damar, zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin,
zeasantin, kriptosantin, clan lutein. Selain itu, juga mengandung mineral, seperti zat besi, kalium,
kalsium, fosfor, dan niasin. Zat aktif kapsaisin berkhasiat sebagai stimulan. Jika seseorang
mengonsumsi kapsaisin terlalu banyak akan mengakibatkan rasa terbakar di mulut dan keluarnya
air mata. Selain kapsaisin, cabai juga mengandung kapsisidin. Khasiatnya untuk memperlancar
sekresi asam lambung dan mencegah infeksi system pencernaan. Unsur lain di dalam cabai
adalah kapsikol yang dimanfaatkan untuk mengurangi pegal-pegal, sakit gigi, sesak nafas, dan
gatal-gatal.
Di Indonesia cabai merupakan bahan sebuah masakan sehingga cabai sangat dibutuhkan oleh
sebagian besar ibu ramah tangga sebagai pelengkap bumbu dapur. Di pasar-pasar tradisional
seperti Jakarta setiap hari membutuhkan buah cabai setiap sebanyak 75 ton dan di pasar
tradisional Bandung membutuhkan 32 ton per hari. Umumnya cabai dikumpulkan oleh para
pedagang kolektor dari petani di sekitar daerah sentra. Selain untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi di dalam negeri, cabai juga diekspor meskipun jumlahnya masih relatif kecil. Untuk
itu, diperlukan adanya penerapan tehnik budidaya yang tepat sehingga produksi yang dihasilkan
tinggi dan berkualitas
Salah satu tehnologi untuk meningkatkan keberhasilan produksi cabai dengan penggunaan
penambahan pupuk kandang. Hal ini disebabkan karena pupuk kandang memang dapat
menyediakan unsur hara tanaman dan memiliki pengaruh yang positif terhadap sifat fisik dan
kimia tanah serta mendorong jasad renik (Sutedjo, 2002).
Sejak peradaban paling awal, pupuk kandang dianggap sebagai sumber hara utama. Di
Amerika 73% dari kotoran ternak yang dihasilkan dalam kandang (157 juta ton) diberikan dalam
tanah sebagai pupuk. Taksiran total N, P, dan K masing-masing sebesar 0,787; 0,572; dan 1,093
juta ton diberikan setiap tahun, yang setara dengan 8, 21, 0,572% kebutuhan pupuk setiap tahun
sebagai pupuk komersial (Power dan Papendick, 1997).
Pupuk kandang merupakan campuran kotoran padat, air kencing, dan sisa makanan
(tanaman). Dengan demikian susunan kimianya tergantung dari: (1) jenis ternak, (2) umur dan
keadaan hewan, (3) sifat dan jumlah amparan, dan (4) cara penyimpanan pupuk sebelum dipakai.
Sebagian dari padatan yang ada dalam pupuk kandang terdiri dari senyawa organik, antara lain
selulosa, pati dan gula, hemiselulosa dan lignin seperti yang di jumpai dalam humus ligno-
protein. (Brady, 1990).
Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tanaman) tanaman cabai termasuk kedalam:
Divisi: Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledoneae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae
Genus: Capsicum
Spesies: Capsicum annum L
1. Akar
Menurut (Harpenas, 2010), cabai adalah tanaman semusim yang berbentuk perdu dengan
perakaran akar tunggang. Sistem perakaran tanaman cabai agak menyebar, panjangnya berkisar
25-35 cm. Akar ini berfungsi antara lain menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta
memperkuat berdirinya batang tanaman. Sedangkan menurut (Tjahjadi, 1991) akar tanaman
cabai tumbuh tegak lurus ke dalam tanah, bekerja sebagai penegak pohon yang memiliki
kedalaman ± 200 cm serta berwarna coklat. Dari akar tunggang tumbuh akar-akar cabang, akar
cabang tumbuh horisontal didalam tanah, dari akar cabang tumbuh akar serabut yang berbentuk
kecil-kecil dan membentuk masa yang rapat.
2. Batang
Batang utama cabai menurut (Hewindati, 2006) tegak dan pangkalnya kayu dengan panjang
20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabangan berwarna hijau dengan panjang
mencapai 5-7 cm, diameter batang percabangan mencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat
dikotomi atau menggarpu, tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan. Sedangkan
menurut (Anonim, 2009), batang cabai memiliki Batang berkayu, berbuku-buku, percabangan
lebar, penampang bersegi, batang muda berambut halus berwarna hijau. Menurut (Tjahjadi,
1991) tanaman cabai berbatang tegak yang bentuknya bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh
setinggi 50-150 cm, merupakan tanaman perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas
yang dibatasi dengan buku-buku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2 cm.
3. Daun
Daun cabai menurut (Dermawan, 2010) berbentuk hati, oval, matau agak bulat telur dengan
posisi berselang-seling. Sedangkan menurut (Hewindati, 2006), daun cabai berbentuk
memanjang oval dengan ujung meruncing atau diistilahkan dengan oblongus acutus, tulang daun
berbentuk menyirip dilengkapi urat daun. Bagian permukaan daun bagian atas berwarna hijau
tua, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda atau hijau terang. Panjang daun
berkisar 9-15 cm dengan lebar 3,5-5 cm. Selain itu daun cabai merupakan Daun tunggal,
bertangkai (panjangnya 0,5-2,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur sampai
elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, petulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm,
lebar 1-5 cm, berwarna hijau.

4. Bunga
Menurut (Hendiwati, 2006), bunga tanaman cabai berbentuk terompet kecil, umumnya bunga
cabai berwarna putih, tetapi ada juga yang berwarna ungu. Cabai berbunga sempurna dengan
benang sari yang lalu tidak berlekatan. Disebut berbunga sempurna karena terdiri atas tangkai
bunga, dasar bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin betina.
Bunga cabai disebut juga berkelamin dua atau hermaphrodite karena alat kelamin jantan dan
betina dalam satu bunga. Sedangkan menurut (Anonima, 2007) bunga cabai merupakan bunga
tunggal, berbentuk bintang, berwarna putih, keluar dari ketiak daun. (Tjahjadi, 2010)
menyebutkan bahwa posisi bunga cabai menggantung. Warna mahkota putih, memiliki kuping 5-
6 helai, panjang 1 - 1,5 cm, lebar 0,5 cm, warna kepala putik kuning.

5. Buah dan Biji


Buah cabai menurut (Anonim, 2010), buahnya buah buni berbentuk kerucut memanjang, lurus
atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung, permukaan licin mengkilap,
diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna
hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah. Sedangkan untuk bijinya biji yang masih muda
berwarna kuning, setelah tua menjadi cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Rasa
buahnya yang pedas dapat mengeluarkan air mata orang yang menciumnya, tetapi orang tetap
membutuhkannya untuk menambah nafsu makan.

2.2 Stek

Dalam bidang pertanian, kita bukan hanya dituntut untuk menjadi petani saja, kita dituntut
mampu membawa pertanian masa ini lebih maju lagi dan dapat mengejar ketertinggalan kita dari
Negara lain yang pertaniannya begitu maju. Yang diharapkan nantinya kita bisa memanfaatkan
tanaman yang ada di sekitar kita agar bisa lebih bermanfaat buat kita yang terkadang juga dapat
bernilai ekonomis, menjaga kelestariannya dengan menggunakan teknologi dan cara-cara
pengembangbiakan yang relatif cepat.
Ada 3 macam metode perkembangbiakan, yaitu secara generatif, vegetatif dan generatif-
vegetatif. Perkembangbiakan generatif adalah perkembangbiakan yang berasal dari biji, dimana
biji tersebut berasal dari proses penyerbukan. Perkembangbiakan vegetatif adalah
perkembangbiakan yang menggunakan bagian tanaman baik daun, tunas (selain daripada biji).
Perkembangbiakan generatif-vegetatif adalah perkembangbiakan dengan menggunakan biji
terlebih dahulu, kemudian setelah biji tumbuh disambung dengan tanaman yang memiliki sifat
unggul.
Untuk memperoleh bibit yang unggul sebaiknya perbanyakan dilakukan dengan cara pembiakan
vegetatif. Hal ini disebabkan pada pembiakan vegetatif akan diperoleh hasil yang yang mewarisi
seluruhsifat iduk tanaman, sehingga kinerja genotipe unggul yang terdapat pada pohon induk
akan diulangi secara konsisten pada keturunan.
Bermacam-macam cara pembiakan tanaman secara vegetatif diantaranya adalah memperbanyak
tanaman dengan cara menyetek. Perbanyakan tanaman ini juga diperoleh tanaman baru yang
mempunyai sifat seperti induknya. Antara lain ketahanan terhadap serangan penyakit, rasa buah,
warna dan keindahan bunga dan sebagainnya.
Menyetek merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang memperlakukan beberapa
bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun dan tunas dengan maksud agar organ-organ
tersebut membentuk akar yang selanjutnya menjadi tanaman baru yang sempurna. Menyetek
bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang sempurna dengan akar, batang dan daun dalam
waktu relative singkat serta memiliki sifat yang serupa dengan induknya, serta dipergunakan
untuk mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta mempercepat
perbanyakan tanaman. Setiap jenis tanaman mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam
pembentukan akar meskipun setek dalam kondisi yang sama.
Peranyakan tanaman dengan cara setek merupakan perbanyakan tanaman dengan cara menanam
bagian-bagian tertentu dari tanaman. Bagian tertentu itu bisa berupa pucuk tanaman, akar, atu
cabang. Proses penyetekan tanaman itu sendiri cukup mudah. Kita tinggal memotong tanaman
yang terpilih dengan menggunakan pisau yang tajam untuk menghasilkan potongan permukaan
yang halus. Pemotongan stek bagian ujung sebaiknya berada beberapa milliliter dari mata tunas.
Sedangkan pemotongan stek bagian pangkal harus meruncing. Ketika membuat potongan
meruncing. Hendaknya kita usahakan potongan itu sedikit menyentuh again mata tunas, dengan
demikian nantinya stek yang diharapkan akan berhasil ( Aak, 1991 ).
Perbanyakan dengan cara stek adalah perbanyakan tanaman dengan menumbuhkan
potongan/bagian tanaman seperti akar, batang atau pucuk sehingga menjadi tanaman baru. Stek
pucuk umum dilakukan untuk perbanyakan tanaman buah-buahan. Dengan kata lain setek atau
potongan adalah menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru
(Yustina, 1994).
1. Keuntungan bibit dari setek adalah:
Tanaman buah-buahan tersebut akan mempunyai sifat yang persis sama dengan
induknya, terutama dalam hal bentuk buah, ukuran, warna dan rasanya. Tanaman asal setek ini
bisa ditanam pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tanaman asal setek tidak
mempunyai akar tunggang.
Perbanyakan tanaman buah dengan setek merupakan cara perbanyakan yang praktis dan
mudah dilakukan.Setek dapat dikerjakan dengan cepat, murah, mudah dan tidak memerlukan
teknik.khusus seperti pada cara cangkok dan okulasi.
2. Kerugian bibit dari setek adalah:
Perakaran dangkal dan tidak ada akar tunggang, saat terjadi angin kencang tanaman
menjadi mudah roboh.
Apabila musim kemarau panjang, tanaman menjadi tidak tahan kekeringan (Frasiskus,
2006).
Penyetekan adalah suatu perlakuan atau pemotongan beberapa bagian dari tanaman seperti akar,
batang, daun, dan tunas dengan maksud agar organ-organ tersebut membentuk akar yang
selanjutnya menjadi tanaman baru yang sempurna dalam waktu yang relative cepat dan sifat-
sifatnya serupa dengan induknya. Pembiakan dengan cara stek ini pada umumnya dipergunakan
mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta mempercepat perbanyakan
tanaman (Anonim, 1985).
Hal semacam ini biasanya banyak dilakukan oleh orang perkebunan buah-buahan dan tanaman
hias. Alasannya, karena bahan untuk membuat setek ini hanya sedikit, tetapi dapat diperoleh
jumlah bibit tanaman dalam jumlah banyak. Tanaman yang dihasilkan dari setek biasanya
mempunyai dalam ukur, ukuran tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan sifat-sifat lainnya.
Selain itu juga diperoleh tanaman yang sempurna yaitu tanaman yang telah mampunyai akar,
batang , dan daun dalam waktu yang relatif singkat. Setek sangat sederhana, tidak memerlukan
teknik yang rumit, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja (Erry, 2006).
Ada beberapa perlakuan untuk mempercepat pertumbuhan akar pada setek antara lain :
1. Pengeratan (girdling) pada batang
Penimbunan karbohidrat pada cabang pohon induk yang akan dijadikan setek dapat dilakukan
dengan cara pengeratan kulit kayu sekeliling cabang dibuang secara melingkar. Lebar lingkaran
sekitar 2 cm. Jarak dari ujung cabang ke batas keratan kirakira 40 cm. Biarkan cabang yang
sudah dikerat selama 2-4 minggu. Pada dasar keratan akan tampak benjolan atau kalus. Pada
benjolan inilah terjadi penumpukan karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber tenaga pada saat
pembentukan akar dan hormon auksin yang dibuat di daun. Setelah terlihat benjolan barulah
cabang bisa dipotong dari induknya. Bagian pangkal cabang sepanjang 20 cm bisa dijadikan
sebagai setek.
2. Penggunaan hormon tumbuh
Hormon auksin bertindak sebagai pendorong awal proses inisiasi atau terjadinya akar.
Sesungguhnya tanaman sendiri menghasilkan hormon, yaitu auksin endogen.Akan tetapi
banyaknya auksin yang dihasilkan belum cukup memadai untuk mendorong pembentukan
akar.Tambahan auksin dari luar diperlukan untuk memacu perakaran setek.
3. Persemaian setek
Setek yang sudah diberi perlakuan hormon penumbuh akar siap untuk disemaikan. Untuk itu kita
perlu menyediakan tempat yang kondisinya sesuai. Usaha untuk menumbuhkan setek perlu
dilakukan pada lingkungan yang mempunyai cahaya baur atau terpencar (diffuse light).
Kelembaban udara sebaiknya tinggi, sekitar 70-90%, Suhu mendekati suhu kamar, 25-27oC.

2.3 Vertikultur
Teknik Vertikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempatkan
media tanam dalam wadah-wadah yang disusun secara vertical, atau dapat dikatakan bahwa
vertikultur merupakan upaya pemanfaatan ruang ke arah vertical. Dengan demikian penanaman
dengan system vertikultur dapat dijadikan alternative bagi masyarakat yang tinggal di kota, yang
memiliki lahan sempit atau bahkan tidak ada lahan yang tersisa untuk budidaya tanaman.
Jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan biasanya adalah tanaman yang memiliki nilai
ekonomi tinggi, berumur pendek atau tanaman semusim khususnya sayuran (seperti seledri,
caisism, pack-choy, baby kalian, dan selada), dan memiliki system perakaran yang tidak terlalu
luas.
Beberapa rancangan wadah media yang umum digunakan adalah :
 Kolom wadah media disusun secara vertical. Setiap wadah disusun dalam posisi
tegak/berdiri dan diberi lubang pada permukaannya sebagai tempat terbuka atau sebagai lubang
tanam.
 Kolom wadah media disusun secara horizontal. Setiap wadah dibuat dalam bentuk kolom
secara mendatar (pot, polybag, kresek) yang kemudian disusun dalam rak-rak kea rah vertikal
 Wadah media gantung. Wadah media disusun saling berhubungan lalu digantung,
sehingga menyerupai pot-pot gantung.

Langkah – langkah Pengerjaan Budidaya Tanaman secara Vertikultur :


 Memperhatikan kondisi lahan yang akan digunakan untuk budidaya tanaman (luas lahan)
 Penyiapan wadah media tanam sesuai dengan kondisi yang ada (dapat berupa bambu,
pipa paralon/PVC, talang air, pot plastic, kaleng bekas, polybag, plastik kresek, dll)
 Pembuatan bangunan vertikultur
 Penyiapan media tumbuh tanaman (pupuk organic + tanah)
 Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, tergantung kepada besar tajuk
tanaman, kebutuhan sinar matahari, dan wadah yang dipilih sebagai tempat penanaman. Ke-3
faktor ini harus diperhitungkan jika dalam satu unit bangunan vertikultur dibudidayakan
beberapa jenis tanaman sekaligus.
 Budidaya tanaman (Persemaian, Pembibitan, Pemeliharaan, Panen dan Pasca Panen)

III. Bahan dan Metoda

3.1 Waktu dan Tempat


a. Tanaman Cabe
Pratikum ini di mulai pada tanggal 2 Februari 2013 di Kebun Percobaan Fakultas
Pertanian,Unand.Pada pukul 12.00 WIB sampai selesai.

b. Perbanyakan Tanaman Vegetatif secara Stek


Pratikum ini di lakukan pada tanggal April 2013 di Kebun Kawat Fakultas
Pertanian,Unand,pada pukul 14.00 sampai selesai.

3.2 Bahan dan alat-alat


a. tanaman cabe
Bibit tanaman cabe sebanyak 100 batang tanaman cabe,pupuk kandang 1 karung dan
pupuk urea.

b.Stek
Tanaman yang akan di stek (seperti jambu air,mangga dll), 15gr rooting powder spectra
dalam 100 ml air,pisau dan polibag.

3.3 cara kerja


a.tanaman cabe
1. Pengolahan lahan dengan membentuk bedengan lebar 350 x 290 cm dan tinggi 30
cm.Bedengan di cangkul dan di beri pupuk kandang sebanyak 1 karung.Diamkan selama 1
minggu.
2. Pemilihan bibit yang sehat,seragam,kuat dan tumbuh mulus. Bibit memiliki 5-6 helai daun
(umur 21 - 30 hari).
3. Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.Jarak tanaman 60 x60 cm dengan 20
lubang.

4. Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika
dirasa kering.
5. Tinggi tanaman,lebar dan panjang daun di hitung setiap hari.Di lakukan pengamatan pada tiap
tanaman,apakah terkena hama dan penyakit tanaman.
6. Pada minggu ke-3 dilakukan penyemprotan pestisida pada tanaman disebabkan tanaman di
serang hama kutu daun dan penyakit kerdil,daun menguning pada tanaman cabe.
b.Stek
1.Pilih bagian tanaman yang ingin di stek.Pada pratikum kali ini di lakukan stek batang.Bagian
batang tanaman di potong,dimana bagian tersebut tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.
2.Potong bagian tanaman tersebut dengan kemiringan 750 atau 450.Daun tanaman disisakan
dengan 3-4 helai daun.
3.Larutkan zat pengatur tumbuhan (zpt) akar sebanyak 15 ml dalam 100 ml air.ZPT tersebut
merupakan rooting powder spectra.ZPT tersebut di aduk rata,kemudian bagian tanaman tersebut
di celupkan selama beberapa detik.
4.Segera tanaman bagian tanaman yang di stek di dalam polibag. Siram tanaman tersebut setiap
hari.
IV. Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil
Denah penempatan tanama cabai pada bedengan
A5 A7 A9 A14
A4 B3 B6 A13
A3 B2 B5 A12
A2 B1 B4 A11
A1 A6 A8 A10

Sama dengan :
5 10 15 20
4 9 14 19
3 8 13 18
2 7 12 17
1 6 11 16

a. Tabel data tinggi tanaman cabai

No Tinggi (cm)
Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 17,5 22,3 24,1 26,0 35 36 37 38 39
2 17,5 18,6 18,0 20,0 26 27,8 37,9 38 39
3 16,3 20,3 20,9 25,1 34,5 41,5 45,6 46 40
4 20,4 21,4 21,6 24,2 25 27,5 27,8 28 27,5
5 13,4 18,4 21,4 24,0 38 44,4 48,2 58 65
6 29,2 30,3 34,9 38,0 49 58 63,5 65 68
7 14,0 15,5 17,6 18,5 28 29 34,1 34,5 35
8 19,2 19,4 21,4 20,5 25,5 27,5 32,8 35 41
9 15,2 18,0 21,4 21,0 23 24 24,8 25 26
10 19,6 22,1 26,6 27,5 34 37,3 44 46 51
11 24,0 25,5 32,0 35,2 37 45 46 35 64,5
12 15,0 19,5 20,6 20,0 24 24,1 28,2 mati
13 16,0 19,0 21,2 17,6 23 23,2 30,7 37 39
14 18,3 22,6 23,6 23,5 35 45,3 54,8 61 63
15 21,5 25,4 28,9 29,1 37 48,2 56,1 58 59
16 17,3 18,2 22,7 22,8 32 34,4 36,6 38 42
17 25,8 27,7 29,8 26,0 36 48,5 51,5 53 61
18 18,0 20,4 24,6 27,0 36 42,7 49,9 63 64
19 11,5 15,4 14,9 16,0 21 28 37,5 44 54
20 13,6 13,4 15,5 15,5 20 25,6 34,7 42 45

b. Tabel data panjang daun tanaman cabai

No Panjang Daun (cm)


Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 4,5 4,4 5,1 6,0 6,7 7 6,3 6,1 6,5
2 5,5 6,2 5,7 6,6 8 8,9 9,3 5,2 8
3 6,4 6,7 7,5 7,0 8,2 9,2 8,5 8,3 11
4 3,8 5,6 6,3 6,2 6,5 7 6,9 7 6
5 4,8 5,4 4,9 5,0 6 5,8 5 5 5,5
6 6,0 6,3 6,9 6,5 9,5 10 10,7 11,2 12,5
7 3,4 4,0 4,6 5,3 6,5 6,5 7 3,2 5
8 4,8 5,3 6,0 4,2 4,5 5,6 5,8 4,2 4
9 5,8 6,2 6,3 6,5 5,5 5,2 3,9 4 3,5
10 5,7 6,0 6,5 7,0 4,5 6,6 7,3 7 4,5
11 6,3 6,1 6,6 7,3 10 8,7 9 8,5 7
12 4,8 5,1 5,0 2,8 3 3,7 3,9 mati
13 4,6 5,1 5,0 5,2 5 3,7 4,3 4 4,2
14 5,4 5,8 5,5 6,8 7,5 8,2 7,7 5,2 8,5
15 5,6 5,5 6,3 7,5 8 9 9 5,5 9
16 4,0 4,4 5,4 6,5 8,6 9,2 9 4 4
17 6,0 6,0 6,2 6,7 6,5 7,7 7,9 5,5 5
18 5,4 6,1 6,3 7,3 7,4 7,9 7,2 3,5 5
19 3,0 3,0 3,9 4,2 5,5 6,6 8,4 9 6,5
20 3,4 3,0 4,4 4,5 5 7,7 6,3 9 9
c.Tabel data lebar daun tanaman cabai

No Lebar daun (cm)


Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 2,0 2,0 2,0 2,3 2,5 2,5 2,5 2 2,3
2 1,9 2,4 2,3 3,5 2,8 3,1 3,2 1,9 2,1
3 2,7 2,3 3,0 2,9 3,3 3,7 2,7 3,1 3
4 1,8 2,2 2,3 2,4 2,4 2,5 2,2 2,7 2,1
5 2,1 2,3 2,2 2,1 2,2 2,3 1,9 1,7 2
6 2,3 2,4 2,6 2,7 3,3 3,7 3,7 3,9 3
7 1,8 1,4 2,1 2,5 2,9 2,8 3,1 1,4 2
8 1,9 2,1 2,3 1,7 1,6 1,9 2,1 1,7 1,6
9 2,4 2,2 2,8 2,9 2,1 2,3 1,4 1,7 1,8
10 2,8 2,4 3,0 3,4 1,8 2,2 2,4 2,5 2,1
11 2,2 2,4 2,4 3,0 3,6 3,3 2,8 3 2,4
12 1,9 1,4 1,6 1,1 1 1 1,6 mati
13 1,8 1,4 2,0 1,8 1,6 1,4 1,6 1,7 1,8
14 2,4 2,8 2,5 2,1 2,4 2,6 2,9 2,1 3,1
15 2,1 2,3 1,9 2,5 2,8 2,8 2,5 2,5 2,5
16 2,0 2,1 2,2 2,7 3,3 3,7 3 1,3 1,4
17 2,5 2,5 2,6 2,7 3 2,8 3 2,5 1,9
18 2,6 2,8 2,3 3,1 3,1 3,3 3,1 1,3 1,7
19 1,2 1,4 1,4 1,7 2 2,4 2,6 3,3 2,4
20 1,5 1,4 1,9 1,9 1,5 2,8 3,2 3,5 3,5

c. Jumlah buah tanaman cabai

No Jumlah Buah
Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 2 3 3
2 Zero 0 4 9
3 10 10 12
4 0 3 2
5 3 12 15
6 2 12 21
7 2 1 0
8 0 3 5
9 0 0 0
10 0 10 25
11 0 7 23
12 0 mati
13 0 5 9
14 2 20 30
15 0 16 35
16 0 0 0
17 2 12 10
18 0 1 3
19 3 9 14
20 0 0 1

d. Tabel data panjang buah tanaman cabai

No Buah
Tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 6 8,9 7,5
2 0 8,4 9
3 1,2 10 9
4 0 4,5 7
5 5,5 10 10,5
6 1,9 10 0
7
8 Zero 1,6
0 7,2
1 10
8,5
9 0 0 6,6
10 0 2,5 9
11 0 8,5 0
12 0 mati
13 0 8,5 9,5
14 0,2 8 10
15 0 9 7,5
16 0 0 0
17 0,4 7 7
18 0 0,5 1,5
19 0,4 8,5 7,5
20 0 0 1

Pengamatan 1 : 16 Februari 2013


Pengamatan 2 : 23 Februari 2013
Pengamatan 3 : 1 Maret 2013
Pengamatan 4 : 7 Maret 2013
Pengamatan 5 : 15 Maret 2013
Pengamatan 6 : 23 Maret 2013
Pengamatan 7 : 30 Maret 2013
Pengamatan 8 : 13 April 2013
Pengamatan 9 : 20 April 2013

4.2 Pembahasan
Dari data di atas dapat dilihat bahwa penyinaran yang sedikit ternyata pertumbuhan
tanaman cabai lebih cepat di bandingkan dengan tanaman yang berada di luar, namun pada
bagian dalam tubuh tumbuhan yang optimal adalah tanaman yang berada di luar yang memiliki
penyinaran matahari yang penuh.
Dilihat dari pertumbuhannya, pertambahan panjang tanaman cabai diakibatkan oleh
pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan
simpodial. Cabang primer akan membentuk percabangan sekunder dan cabang sekunder
membentuk percabangan tersier terus- menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan
terbentuk sekitar 11 – 17 percabangan pada satu periode pembungaan.
Tanaman cabai tidak senang terhadap curah hujan lebat, tetapi pada stadia tertentu perlu
banyak air. Di daerah yang iklimnya sangat basah tanaman mudah terserang penyakit daun
seperti bercak hitam (Antraknosa). Oleh karena itu tanaman cabai sangat baik ditanam pada awal
musim kemarau. Pada musim hujan tanaman juga mudah mengalami tekanan (stress), sehingga
bunganya sedikit, dan banyak bunga yang tidak mampu menjadi buah. Kalaupun bisa berbuah,
buahnya akan mudah sekali gugur karena tekanan air hujan yang lebat. Curah hujan yang baik
untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai berkisar antara 600 – 1200 mm/tahun
dengan jumlah bulan basah 3-9 bulan. Walaupun demikian apabila pada waktu berbunga
tanaman cabai kekuranga air, maka banyak bunganya yang akan gugur tidak mampu menjadi
buah. Pada umumnya tanaman cabai lebih senang ditanaman di daerah yang terbuka.
Suhu udara yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai berkisar
antara 210C – 280C. Suhu harian yang terlalu terik, yakni di atas 320C menyebabkan tepung
sari tanaman cabai tidak berfungsi untuk melakukan pembuahan. Selain itu juga suhu harian
yang terik dapat menyebabkan bunga dan buahnya terbakar. Suhu tanahpun juga berpengaruh
terhadap penyerapan unsur hara terutama N dan P. Apabila pada waktu berbunga suhu turun di
bawah 150C, maka pembuahan dan pembijiannya terganggu. Pada suhu ini, unsur mikro yang
penting untuk pertumbuhan buah sukar diserap oleh tanaman cabai sehingga terjadi buah
tanpa biji atau parteokarpi. Suhu udara yang rendah, menyebabkan banyak cendawan penyakit
daun menyerang tanaman cabai, teutama apabila disertai dengan kelembaban tinggi.
untuk meningkatkan keberhasilan produksi cabai dengan penggunaan penambahan pupuk
kandang. Hal ini disebabkan karena pupuk kandang memang dapat menyediakan unsur hara
tanaman dan memiliki pengaruh yang positif terhadap sifat fisik dan kimia tanah serta
mendorong jasad renik. pupuk kandang dianggap sebagai sumber hara utama. Di Amerika 73%
dari kotoran ternak yang dihasilkan dalam kandang (157 juta ton) diberikan dalam tanah sebagai
pupuk. Taksiran total N, P, dan K masing-masing sebesar 0,787; 0,572; dan 1,093 juta ton
diberikan setiap tahun, yang setara dengan 8, 21, 0,572%.
Keberhasilan budidaya cabai merah selama ini tidak lain karena dukungan program
intensifikasi seperti penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian hama dan penyakit, dan
adopsi teknologi-teknologi baru. Disamping itu, peningkatan jumlah produksi cabai merah
sangat dipengaruhi oleh penggunaan kultivar-kultivar yang tahan dengan daya hasil yang tinggi.
Namun demikian agar tetap berproduksi tinggi tanaman cabai merah tetap membutuhkan
pasokan unsur hara yang tinggi bagi pertumbuhan dan perkembangannya.Untuk menghasilkan
produksi yang tinggi, kualitas dan kuantitasnya, maka pemeliharaan tanaman sejak persemaian,

V.Penutup

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari kegiatn pratikum ini adalah:
Bila diusahakan tanaman cabai ini akan menambah usaha keluarga. Dengan harga yang relative
tinggi diharapkan usaha tanaman cabai ini dapat mendtangkan keuntungan yang banyak.
5.2 Saran
 Tempat pembibitan harus bersih dan bebas dari gulma.
 Gunkan bibit yang unggul untuk menghasilkan tanaman yang bagus.

Daftar Pustaka

Aak, 1991. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.


Anonim, 2010. Menanan Budidaya Cabai
Merah.http://rivafauziah.wordpress.com/2009/02/02/menanam-budidaya-cabai-merah/.
Brady, 1990. he Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Co., New York.
Dermawan, 2010. Budidaya Cabai.Gramedia. Jakarta.
Erry, 2006. Mencangkon, Menyetek, dan Mengokulasi Tanaman. Jakarta Bhratara Karya
Aksara
Frasiskus, harum. 2006. Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah.
Bogor : World Agroforestry Centre (ICRAF) & Winrock International.
Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Hewindati, Yuni Tri dkk. 2006. Hortikultura. Universitas Terbuka. Jakarta.
http://www.tanindo.com/budidaya/ cabe/cabehibrida.htm.
Power, J.F. and Papendick, R.I. (1997) Sumber-sumber organik hara. In Tenologi Dan.
Penggunaan Pupuk, (Eds Engelstad O.P) (Transl. Didiek Hadjar Goenadi), pp. 752-
778. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sutedjo, 2002.Teknologi Budidaya Cabai.Gramedia.Yogyakarta
Tjahjadi, Nur. 1991. Bertanam Cabai. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Yustina, 1994. Membuat Cangkok, Stek, dan Okolasi. Jakarta : Penebar Swadaya.
Http://www.worldagroforestrycentre.org/sea.

Lampiran Gambar