Anda di halaman 1dari 3

PROSES PENEMUAN MASALAH

Penemuan permasalahan penelitian adalah salah satu tahap yang penting dalam sebuah
penelitian. Dalam penelitian sebuah permasalahan bisa diidentifikasikan sebagai sebuah
kesenjangan antara harapan dengan fakta, antara keinginan perkembangan dengan tren
perkembangan, antara ide dengan kenyataan.

Oleh Sutrisno Hadi (1986, 3) mengidentifikasikan kalau sebuah permasalahan sebagai


perwujudan dari “kelangkaan, ketiadaan, ketertinggalan, ketimpangan, kemrosotan, ketidak
serasian, kejanggalan, dan sejenisnya”.

Cara untuk menemukan permasalahan ini, sudah diamati Buckley dkk. (1976) yang
memberitahukan kalau penemuan permasalahan bisa dilakukan secara “formal” dan bisa juga
secara “informal”.

Penemuan permasalahan secara formal dapat melibatkan prosedur yang menuruti metodologi
penelitan tertentu, dan bila penemuan masalah secara informal akan bersifat subjektif serta tidak
rutin. Menurut metodologi penelitian cara-cara formal dalam menemukan masalah penelitian
bisa dilakukan melalui alternatif-alternatif sebagai berikut:

Penemuan Masalah Penelitian Secara Formal

Menurut metodologi penelitian cara-cara formal dalam menemukan masalah penelitian bisa
dilakukan melalui alternatif-alternatif sebagai berikut:

 Cara penemuan masalah penelitian rekomendasikan dari suatu riset. Biasanya sebuah
laporan penelitian di bab terakhir dimuat kesimpulan dan juga saran. Umumnya Saran
direkomendasikan menunjukan kemungkinan penelitian lebih lanjut atau penelitian yang
lain yang berhubungan dengan kesimpulan yang diperoleh. Bisa dikaji kalau saran ini
sebagai arahan untuk menemukan permasalahan.
 Cara penemuan permasalahan penelitian secara analogi. Yaitu penemuan masalah
penelitian dengan cara “mengambil” pengetahuan yang berasal dari bidang ilmu lain
kemudian diterapkan pada bidang yang sedang diteliti. Pada hal ini, disyaratkan kalau
kedua bidang itu harus sesuai pada setiap hal-hal yang penting. Sebagai contoh dalam
permasalahan yang telah ditemukan melalui cara analogi ini, Misalkan: “Apakah proses
dari perancangan software komputer bisa diterapkan dalam proses perancangan
arsitektural” (seperti yang telah diketahui kalau perencanaan perusahaan serta
perencanaan arsitektural memiliki tingkat kesamaan dalam hal pembuatan keputusan.
 Cara penemuan masalah penelitian dengan cara renovasi. Cara renovasi bisa digunakan
untuk mengganti komponen yang tidak cocok lagi dari sebuah teori. Cara ini tujuannya
yaitu untuk memperbaiki serta meningkatkan kemantapan sebuah teori. Sebagai contoh
sebauah teori mengungkapkan “ Secara signifikan ada korelasi arah pengembangan
bangunan rumah tipe tertentu padda perumahan sub – dengan tipe bangunan rumah asal
penghuninya” bisa direnovasi menjadi permasalahan “seberapa korelasi antara arah
pengembangan bangunan rumah tipe tertentu pada perumahan sub – inti dengan tipe
bangunan rumah asal penghuninya dengan tingkat pendidikan penghuninya yang
berbeda. Pada contoh tersebut, kondisi “umum” diubah dengan kondisi yang spesifik
yaitu tingkat pendidikan yang tidak sama.
 Penemuan masalah penelitian dengan cara dialetik. Dalam hal ini dialetik berarti
sanggahan atau tandingan. Melalui cara dialetik, peneliti bisa mengusulkan untuk dapat
menghasilkan sebuah teori yang menjadi sanggahan atau tandingan terhadap teori yang
telah ada.
 Penemuan masalah dengan cara Ekstrapolasi yaitu menemukan masalah dengan membuat
tren permasalahan yang dihadapi atau tren sebuah teori.
 Penemuan masalah penelitian dengan cara morfologi. Morfologi itu maksudnya sebuah
cara yang dapat digunakan untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan kombinasi yang
terkandung pada sebuah permasalahan yang kompleks dan rumit.
 Penemuan masalah penelitian dengan cara dekomposisi adalah cara pemerincian atau
penjabaran sebuah permasalahan ke dalam komponen-komponennya.
 Penemuan masalah penelitian dengan cara agregasi. Melalui cara agregasi ini peneliti
bisa mengambil teori dari beberapa bidang penelitian atau dari hasil-hasil penelitian serta
“mengumpulkannya” untuk membentuk sebuah permasalahan yang lebih kompleks dan
rumit.
Penemuan Masalah Penelitian Secara Informal

Penemuan masalah penelitian dapat dilakukan secara informal (subyektif) dengan alternatif-
alternatif sebagai berikut.

 Penemuan masalah penelitian ditemukan secara Konjektur (naluriah). Yaitu penemuan


masalah penelitian tanpa adanya dasar-dasar secara jelas. Jika selanjutnya, latar belakang
atau dasar- dasar permasalahan tersebut bisa dijelaskan, maka penelitian secara ilmiah
bisa diteruskan. Perlu diketahui kalau naluri adalah fakta apresiasi individu kepada
lingkungannya. Menurut Buckley, dkk., (1976, 19) naluri adalah alat yang berguna untuk
memproses penemuan permasalahan.
 Penemuan masalah penelitian dengan cara fenomenologi. Suatu permasalahan baru dalam
peneltitian bisa ditemukan berhubungan dengan fenomena (perkembangan, kejadian)
yang bisa diamati. Contoh: fenomena penggunaan komputer sebagai alat bantu analisis
bisa dihubungkan untuk menemukan permasalahan. Misalkan: Dalam proses
perancangan arsitektural, seperti apakah pola dasar pendeknya penggunaan komputer.
 Penemuan masalah penelitian secara konsensus. Sebagai contoh adanya konsensus kalau
kemiskinan tidaklah menjadi masalah untuk Indonesia, namun kualitas lingkungan yang
menjadi masalah yang butuh untuk diatasi. (Hal seperti ini adalah sebuah konsensus
nasional).
 Penemuan masalah penelitian dari pengalaman. Tidak perlu diragukanlagi, karena
pengalaman adalah sumber untuk menemukan permasalahan. Dari adanya pengalaman
kegagalan maka akan terdorong untuk menemukan masalah penyebab kegagalan tersebut.
Selain itu pengalaman dari kesuksesan atau keberhasilan akan memberikan dorongan
dalam studi perumusan sebab-sebab dari keberhasilan tersebut. Misalkan, umpan balik
dari klien, penelitian akan mendorong untuk merumuskan komunikasi yang lebih baik
antara arsitek dengan klien.