Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cedera kepala masih menjadi permasalahan kesehatan global sebagai
penyebab kematian, disabilitas, dan defisit mental. Cedera kepala menjadi penyebab
utama kematian disabilitas pada usia muda. Cedera kepala adalah trauma yang
mengenai calvaria dan atau basis cranii serta organ didalamnya dimana kerusakan
disebabkan gaya mekanik dari luar sehingga timbul gangguan fisik dan kognitif serta
berhubungan dengan atau tanpa penurunan kesadaran (Masjoer, 2011). Cedera kepala
dapat menimbulkan berbagai kondisi, dari gegar otak ringan, koma sampai kematian.
Kondisi paling serius disebut dengan istilah cedera otak traumatik (Traumatic Brain
Injury {TBI}) (Smeltzer, Susan C, 2013).
Secara umum cedera kepala diklasifikasifan menurut skala Gasglow Coma
Scale (GCS) dikelompokkan menjadi tiga : (1) Cedera Kepala Ringan (GCS 13-15)
dapat terjadinya kehilangan kesadaran atau amnesia selama kurang dari 30 menit,
tidak ada kontusio tengkorak, tidak adanya fraktur serebral, hematoma (2) Cedera
Kepala Sedang (GCS 9-12) hilangnya kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit
namun kurang dari waktu 24 jam, bisa mengalami terjadinya fraktur tengkorak, (3)
Cedera Kepala Berat (GCS 3-8) dapat kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia
apabila lebih dari 24 jam meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma
intrakranial (Amien & Hardhi, 2016)
Pada pasien trauma kepala yang tidak ditangani dengan baik, selain terjadi
cedera otak primer kecenderungan terjadi cedera otak sekunder (Secondary Brain
Injury) (Soemitro et all, 2011). Cedera otak sekunder meliputi hematoma intrakranial,
edema serebri, dan peningkatan tekanan intrakranial (Setyanegara, 2014).
Peningkatan tekanan intrakranial (intracranial pressure, ICP) didefinisikansebagai
hasil dari sejumlah jaringan otak, volume darah intrakranial, dan cairan serebrospinal
(CSS) didalam tengkorak pada satu satuan waktu (Smeltzer, Susan C., dan Brenda G.
Bare, 2001). Peningkatan tekanan Intrakranial (TIK) ini merupakan kasus gawat
darurat dimana cedera otak irrevesibel atau kematian dapat dihindari dengan
intervensi tepat pada waktunya (Hisam, 2013).
WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa kematian pada cedera
kepala banyak diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas. WHO mencatat 2500 kasus
kematian yang disebabkan karena kecelakaan lalu lintas pada tahun 2013. Di Amerika
Serikat, kejadian cedera kepala setiap tahun diperkirakan mencapai 500.000 kasus
dengan prevalensi kejadian 80% meninggal dunia sebelum sampai rumah sakit, 80%
cedera kepala ringan, 10% cedera kepala sedang dan 10% cedera kepala berat dengan
rentang kejadian berusia 15-44 tahun. Persentase dari kecelakaan lalu lintas tercatat
sebesar 48-58% diperoleh dari cedera kepala, 20-28% dari jatuh dan 3-9% disebabkan
tindak kekerasan dan kegiatan olahraga (WHO, 2013).
Di Indonesia saat ini, cedera kepala merupakan penyebab hampir setengah
dari seluruh kematian akibat trauma. Hal ini dikarenakan kepala merupakan bagian
yang tersering dan retan terlibat dalam suatu kecelakaan. Distribusi kasus cedera
kepala lebih banyak melibatkan kelompok usia produktif, yaitu 15-44 tahun (dengan
usia rata-rata sekitar 30 tahun), dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki
dibandingkan dengan perempuan. Penyebab cedera kepala tersering adalah
kecelakaan lalu lintas (49 %) dan kemudian disusul dengan jatuh terutama pada
kelompok anak-anak (Satyanegara, 2014).
Berdasarkan hasil RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013,
prevalensi cedera nasional adalah sebanyak 8,2 % dimana hasil tersebut meningkat
dari tahun 2007 yang prevalensinya 7,5 %. Sedangkan presentasi penyebab cedera
karena kecelakaan transportasi darat berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 terjadi
peningkatan yang cukup tinggi, dari sebelumnya pada tahun 2007 25,9 % menjadi
47,7 % pada tahun 2013. Berdasarkan data yang didapatkan di IRD BRSU Tabanan,
dari bulan Juli 2018 - Januari 2019 terdapat sebanyak 30 pasien dengan kasus cedera
kepala.
Penanganan kegawatdaruratan pada pasien cedera kepala adalah melakukan
pengontrolan TIK yaitu dengan memberikan posisi kepala. Posisi elevasi kepala
merupakan tindakan keperawatan tradisional, pemberian posisi kepala flat (00) dan
posisi elevasi kepala (300) (Sunardi, 2011).
Beberapa tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi
peningkatan tekanan intrakranial dengan melakukan pengaturan posisi head up 30
derajat (Hudak, dan Gallo, 2011) dan pemberian posisi kepala flat (00) yaitu suatu
bentuk tindakan keperawatan yang rutin dilakukan pada pasien cedera kepala, stroke
dengan hipertensi intrakranial. Teori yang mendasari elevasi kepala ini adalah
peninggian anggota tubuh di atas jantung dengan vertical axis, akan menyebabkan
cairan serebro spinal (CSS) terdistribusi dari kranial ke ruang subarahnoid spinal dan
memfasilitasi venus return serebral (Sunardi, 2011) yang dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah sistemik, mungkin dapat dikompromi oleh tekanan perfusi
serebral dan pada akhirnya akan menurunkan ICP (Intracranial Pressure)
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengkajian gawat darurat pada pasien dengan Cedera Kepala
Sedang ?
2. Bagaimana merumuskan analisa data pada pasien dengan Cedera Kepala
Sedang ?
3. Bagaimana merumuskan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien
dengan Cedera Kepala Sedang ?
4. Bagaimana merumuskan intervensi keperawatan pada pasien dengan Cedera
Kepala Sedang ?
5. Bagaimana melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan Cedera
Kepala Sedang ?
6. Bagaimana melakukan evaluasi tindakan pada pasien dengan Cedera Kepala
Sedang ?

C. Tujuan Penulisan
1. Umum
Tujuan umum dari kaya tulis ilmiah ini adalah memberikan pengalaman yang
nyata kepada penulis dalam pelaksanaan dan pendokumentasian asuhan
keperawatan pada pasien dengan cedera kepala
2. Khusus
a) Melakukan pengkajian pada pasien dengan cedera kepala
b) Melakukan analisa data pada pasien dengan cedera kepala
c) Merumuskan diagnosa keperawatan
d) Merumuskan intervensi keperawatan
e) Melakukan tindakan keperawatan
f) Melakukan evaluasi tindakan

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Sebagai pengembangan bahan masukan atau pengkajian baru khususnya ilmu
keperawatan
2. Manfaat Praktis
a) Manfaat bagi institusi
Kepada institusi, makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan literature atau
referensi pembuatan makalah selanjutnya
b) Manfaat bagi mahasiswa
Kepada mahasiswa diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi
dalam membuat dokumentasi asuhan keperawatan.