Anda di halaman 1dari 3

Heriyadi

030735564
Ekonomi Manajerial Diskusi 6

1. Jika diketahui untuk memproduksi suatu produk perusahaan harus mengeluarkan biaya
sebesar Rp 30.000 dengan komposisi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya
overhead dan lainnya. Tentukan harga jual yang tepat untuk produk tersebut jika
menggunakan mark up 50%.
2. Jelaskan mengenai penggunaan peak load pricing dan berikan contohnya!
3. Jelaskan perbedaan two part tarif dan diskriminasi harga derajat satu?

Jawaban 1 :

P= AC (1+ mark –up )


Rp 30.000 (1+50 %)
Rp30.000 (1+0.5)
Rp 30.000(1.5)
Rp 15.000
Mark-Up = P-AC
AC
=15.000-30.000= Rp 15.000
30.0000

Jawaban 2 :

Peak-Load Pricing

Beberapa produk mempunyai permintaan yang bervariasi menurut waktu. Jasa kereta api
pada pagi dan sore hari meningkat besar dibanding waktu-waktu lainnya. Pada saat permintaan
dalam kondisi peak, kapasitas jasa kereta api diasumsikan tidak bisa ditingkatkan. Pada saat
permintaan tinggi, perusahaan jasa kereta api bisa menaikkan harga tiketnya. Sebaliknya, pada
saat permintaan rendah, perusahaan jasa kereta api bisa menurunkan harga tiketnya. Pricing ini
disebut peak load pricing

Gambar Peak Load Pricing

Gambar diatas menggambarkan peak load pricing. Diasumsikan bahwa ongkos marjinal
sama dengan dua hingga output sama dengan 8. Kapasitas maksimal produsen adalah 8.
Diasumsikan bahwa kapasitas tidak dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, ongkos marjinal pada
kapasitas maksimal berbentuk vertikal. Jadi, pada saat kapasitas maksimal, harga hanya
bergantung pada permintaan (DH). Harga pada permintaan tinggi adalah 6. Jadi, apabila
permintaan tidak tinggi, harga output adalah 3. Apabila permintaan tinggi (peak), harga produk
sama dengan 6. Jasa parkir mobil dan pesawat mengadopsi peak-load pricing.

Peak load pricing berbeda dengan diskriminasi harga derajat tiga. Variasi besarnya
permintaan (segmentasi pasar) dalam peak load pricing terjadi karena perbedaan waktu,
sedangkan variasi permintaan dalam diskriminasi harga derajat tiga terjadi berdasarkan
perbedaan geografis.

Jawaban 3 :

Pricing satu harga untuk semua produk menyisakan surplus konsumen. Monopoli dapat
menangkap semua surplus konsumen yang tersisa tersebut dengan teknik dua harga (two part
tariff). Teknik dua harga adalah menghargai sebuah produk dengan dua harga. Harga pertama
memberikan hak kepada pembeli untuk membeli produk, sedangkan harga kedua adalah harga
produk per satuannya.

Gambar dibawah ini menunjukkan teknik two-part tariff pricing. Secara umum, harga
pertama adalah sebesar surplus konsumen yang ada apabila harga per satuan produk sama
dengan harga kedua, sedangkan harga kedua adalah sebesar ongkos marjinal produknya. Untuk
kasus di atas, harga pertama sebesar 32, harga kedua adalah 2. Prosedur penentuan dua harga
adalah menentukan harga kedua terlebih dahulu (misalnya 2), kemudian menentukan harga
pertama, yaitu sebesar surplus konsumen apabila harga sama dengan ongkos marjinalnya (yaitu
32).

Two-Part Tariff
Dengan two-part tariff, produsen mengambil semua surplus konsumen sehingga two-part
tariff mengakibatkan surplus konsumen menjadi sama dengan nol.

Kasus two-part tariff ini mirip dengan kasus diskriminasi harga derajat satu. Perbedaannya
adalah bahwa dalam two-part tariff seorang konsumen membeli lebih dari satu produk pada
diskriminasi harga tingkat satu, seorang konsumen hanya membeli sebuah produk. WTP
konsumen dalam kasus two- part tariff seragam sehingga dapat diwakili dengan sebuah kurva
permintaan individual yang mewakili semua konsumen, sedangkan pada kasus diskriminasi
harga derajat satu, konsumen mempunyai WTP yang berbeda. Kurva yang ada pada diskriminasi
harga derajat satu adalah kurva permintaan pasar, sedangkan kurva permintaan pada kasus two-
part tariff adalah kurva permintaan individual.

Anda mungkin juga menyukai