Anda di halaman 1dari 3

Heriyadi

030735564
Ekonomi Manajerial Diskusi 7

1. Apa yang dimaksud dengan National Procurement dan mengapa pemerintah


melakukannya?
2. Jelaskan pemahaman anda mengenai Non Tarief Barries yang meliputi

1. Export Subsidy
2. Export Credit Subsidy
3. Import Quota
4. Voluntary Export Restraints

Jawaban 1 :

National procurement adalah jaminan dari pemerintah untuk membeli produk-produk


domestik. Dengan jaminan tersebut, pemerintah bisa mengarahkan suatu produk untuk
diproduksi secara domestik, meskipun produk tersebut akan lebih murah apabila diimpor.
Instrumen ini bisa memberikan proteksi kepada produsen pada tahap awal seperti pada kasus
infant industry. Dampak awal dari instrumen tersebut adalah naiknya harga jual produk karena
proses produksinya belum mencapai kapasitas optimal. Atau, harga bisa rendah, apabila
regulator bersedia memberikan subsidi pada produk tersebut.

Jawaban 2 :

1. Export Subsidy

Subsidi ekspor (export subsidy) adalah pemberian subsidi oleh regulator kepada produsen
yang melakukan ekspor.2 Subsidi ekspor memberikan insentif kepada produsen untuk
memproduksi produk tradable (produk yang bisa diperdagangkan secara internasional).
Akibatnya, sektor non-tradable (misalnya, jasa tukang cukur dan warteg) menyusut.

Produsen akan lebih memilih mengekspor produknya dibanding dengan menjual produknya
ke pasar domestik. Kondisi ini menyebabkan persediaan barang di pasar domestik berkurang
dan mengakibatkan kenaikan harga domestik. Produsen akan mau memasok pasar domestik
asalkan harga produk di pasar domestik memberikan keuntungan yang sama dengan yang ada
di pasar ekspor, yaitu sebesar harga ekspor ditambah subsidinya. Kondisi keseimbangan akan
terjadi yang diindikasikan dengan kenaikan harga produk di pasar domestik hingga mencapai
harga internasional ditambah subsidinya. Proses yang menyamakan harga domestik dan
internasional ini merupakan proses alamiah dalam perekonomian.

Subsidi ekspor ini lebih distortif dibanding tarif karena subsidi ekspor mengakibatkan distorsi
konsumsi, distorsi produksi, dan regulator tidak mendapatkan pendapatan seperti dalam kasus
tarif. Dalam kasus tarif, tarif mendistorsi konsumsi dan produksi, namun regulator mendapatkan
pendapatan dari tarif. Oleh karena itu, dead weight loss yang dimunculkan oleh subsidi melebihi
yang diakibatkan oleh tarif.

Subsidi ekspor biasanya muncul jika suatu negara mengadopsi strategi export promotion
yang bias ke sektor ekspor. Subsidi ekspor diharapkan mampu menstimulir tumbuhnya sektor
tradable. Namun, tentu saja ongkosnya adalah kemerosotan sektor-sektor lainnya karena terjadi
overinvestment di sektor subsidi ekspor, mengakibatkan underinvestment di sektor-sektor non-
subsidi-ekspor.

Seperti tarif, subsidi ekspor juga cenderung menghasilkan produsen yang terlatih untuk
melakukan praktik rent-seeking untuk mendapatkan subsidi. Keahlian lobi ini didapat dengan
mengorbankan keahlian dalam proses produksi. Dengan demikian, proses produksi sektor
subsidi bisa menjadi lebih tidak efisien, bahkan subsidi ekspor menstimulasi orang untuk
melakukan ekspor fiktif untuk mendapatkan subsidinya

2. EXPORT CREDIT SUBSIDY

Subsidi kredit ekspor adalah pinjaman/kredit kepada pembeli (pengimpor) untuk mengimpor
suatu barang. Pemberi kredit biasanya institusi pemerintah, yaitu bank ekspor-impor (bank Exim)
suatu negara. Subsidi kredit ekspor ini pada prinsipnya adalah memberikan insentif kepada
pembeli internasional (dalam bentuk harga “murah”) untuk membeli produk ekspor suatu negara
yang kurang atau tidak laku. Instrumen ini muncul biasanya karena suatu negara memaksakan
untuk memproduksi barang yang negara tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif di
produk tersebut.

3. Import Quota

Kuota impor adalah batasan jumlah impor barang. Batasan impor ini membatasi jumlah
batasan persediaan produk di pasar domestik. Gambar dibawah ini menggambarkan kuota impor
sebesar 40.

Gambar Kuota Impor

Harga produk autarky adalah 10. Harga produk dalam perekonomian terbuka adalah 5. Kuota
sebesar 20. Harga produk domestik adalah 7,5. Pada harga 7,5 produsen domestik menyediakan
90. Perhatikan bahwa efek kuota sebesar 20 sama dengan efek tarif sebesar 2,5. Apabila
demikian, regulator bisa menjual lisensi kuota dengan harga 50, sama dengan pendapatan tarif
sebesar 2,5.
Dalam realita, pemerintah menjual lisensi dengan lelang. Namun, implementasi
pendistribusian lisensi bisa hanya dengan “diberikan” kepada orang tertentu dengan ongkos
kurang dari 50. Lisensi kuota amat potensial mengundang aktivitas rent seeking. Rent seeker
akan melobi regulator untuk menjual lisensi kuota dengan harga yang lebih rendah dari 50.

Dengan lisensi kuota, importir bisa mengimpor produk dengan harga 5 dan menjualnya
sebesar 7,5. Keuntungan importir adalah 50.

4. Voluntary Export Restraints

Voluntary export restraints (VER) adalah kuota yang “dipasang” sendiri secara suka rela
(voluntarily) oleh negara pengekspor, bukan pengimpor. Jepang secara suka rela membatasi
ekspor mobil ke AS. Mengapa? Jepang lebih memilih VER dibanding jika AS menerapkan praktik
NTB yang lebih distortif dari VER, misalnya red-tape barriers yang lebih menghambat ekspor
mobil Jepang ke AS.

VER untuk menghindari hambatan perdagangan yang lebih distortif.

Anda mungkin juga menyukai