Anda di halaman 1dari 8

Abstrak

Konjungtivitis bakteri adalah penyebab paling umum kedua dari konjungtivitis infeksi.
Sebagian besar kasus meningitis bakteri tanpa komplikasi dapat disembuhkan dalam waktu 1
hingga 2 minggu. Hampir semua kasus konjungtivitis bakteri sembuh sendiri dan tidak
menyebabkan morbiditas yang signifikan. Konjungtivitis bakteri dapat terkena semua
kelompok umur. Tanda dan gejala klasik adalah mata merah dengan sekret purulen yang
terjadi sepanjang hari. Tingkat morbiditas okular dan sistemik yang tinggi disebabkan oleh
Chlamydia Trachomatis dan Neisseria pada kasus konjungtivitis bakteri kronis dan hiper
akut. Wajib untuk mengobati konjungtivitis Gonococcal dan Chlamydia dengan antibiotik
sistemik. Organisme lain yang menyebabkan konjungtivitis bakteri dapat diobati secara
empiris dengan antibiotik topikal. Pasien dengan masalah rumit seperti nyeri mata yang
parah, penglihatan berkurang, penggunaan lensa kontak, kornea yang tampak kabur, dan
respons yang buruk terhadap pengobatan empiris perlu dirujuk ke dokter spesialis mata
konsultan.
Kata kunci: Diagnosis; Konjungtivitis bakteri; Streptococcus pneumoniae; N. Gonorrhoeae

Pendahuluan
Konjungtivitis didefinisikan sebagai peradangan bulbar dan/atau konjungtiva palpebra.
Konjungtivitis, juga dikenal sebagai "mata merah muda," adalah penyakit mata yang paling
umum, terutama pada anak-anak di seluruh dunia. Agen penyebab konjungtivitis adalah
bakteri, jamur, dan virus yang berbeda, serta racun dan alergi.
Bakteri gram positif seperti Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus,
Corynebacterium biasanya menyebabkan konjungtivitis yang lebih ringan dibandingkan
dengan bakteri gram negatif.
Kasus yang lebih ringan sebagian besar jinak dan dapat sembuh sendiri dan perlu dimonitor
secara teratur. Kasus-kasus seperti itu biasanya tidak memerlukan perawatan apa pun atau
dapat diobati dengan mudah dengan antibiotik. Konjungtivitis bakteri yang diakibatkan
karena bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenzae, Pseudomonas aeruginosa,
Moraxella, Serratia marcescens, N. gonorrhoeae dan C. trachomatis biasanya virulen dan
menyebabkan infeksi parah dan perforasi okular dalam 24-48 jam infeksi. Konjungtivitis
bakteri yang parah dapat menyebabkan kebutaan dan dapat menandakan penyakit sistemik
yang mendasari parah.
Konjungtivitis bakteri sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang memiliki gejala
mata merah. Dalam sebagian besar, kasus itu sembuh sendiri, namun masih menggabungkan
terapi antimikroba yang tepat untuk membantu dalam resolusi cepat dan pengurangan
komplikasi. Sangatlah penting untuk membedakan antara konjungtivitis bakteri dari jenis
konjungtivitis lain dan kondisi yang mengancam penglihatan yang lebih serius sehingga
pasien dirawat dengan tepat. Jika diperlukan, pasien harus dirujuk ke konsultan dokter mata
sesegera mungkin.
Dalam makalah ini diagnosis dan manajemen konjungsi bakteri diringkas secara singkat.

Penyebab Konjungtivitis tergantung pada usia


Inflamasi atau infeksi konjungtiva dikenal sebagai konjungtivitis dan ditandai oleh dilatasi
vena konjungtiva, yang mengakibatkan hiperemia dan edema konjungtiva, biasanya disertai
dengan keluarnya sekret. Hal ini disebabkan oleh berbagai agen infeksi (bakteri, virus, atau
jamur) dan penyebab tidak menular (misalnya, alergi, bahan kimia, dan mekanis). Sekitar
30% pasien dari perawatan primer dengan infeksi konjungtivitis dikonfirmasi akibat
konjungtivitis bakteri, walaupun 80% telah diobati dengan antibiotik yang berbeda. Bakteri
penyebab tersering bergantung pada keadaan geografis dan usia, tetapi bakteri yang paling
umum seperti Staphylococcus, Streptococcus, Haemophillus, Pseudomonas, spesies Moraella
dan Coryneacterium.
Bakteri yang menjadi penyebab konjungtivitis bakteri cenderung berbeda tergantung pada
usia (Tabel 1)
Neonatus Chlamydia trachomatis
Staphylococcus aureus
Haemophillus influenza
Streptococcus pneumoniae
Anak-anak H. influenza
S. pneumoniae
S. aureus
Dewasa S. aureus
Coagulase negative Staphylococci
H. influenzae
S. pneumoniae
Spesies Moraxella

Pada neonatus, patogen yang paling sering menyebabkan konjungtivitis adalah bakteri, dan
bakteri yang paling sering adalah Chlamydia trachomatis. Konjungtivitis akibat Chlamydia
biasanya terlihat sekret purulen unilateral atau bilateral beberapa minggu setelah kelahiran
bayi dengan ibu yang mengalami infkesi Chlamydia cervical. Beberapa infant yang
mengalami konjungtivitis akibat Chlamydia disebabkan Chlamydia pneumonitis: 50% infan
dengan Chlamydia pneumonitis memiliki konjungtivitis rekuren atau riwayat konjungtivtis
yang baru saja dialami.
Konjungtivitis pada neonatus jarang disebabkan oleh Neisseria gonorea. Timbulnya
konjungtivitis gonokokal agak lebih awal dari pada konjungtivitis klamidia, yaitu pada
minggu pertama hidup, dan organisme ini secara klasik menyebabkan konjungtivitis
“hiperakut” parah dengan sekret yang lebih banyak dan hal itu mungkin akibat keterlibatan
kornea dan perforasi. Pemberian rutin antibiotika profilaksis pada kelahiran telah
menunjukan pengurangan dalam kejadiannya dan komplikasi. Bakteri patogen lain yang
dapat menyebabkan konjungtivits neonatal seperti S. aureus, H. Influenza, dan S.
pneumoniae.
Pada anak-anak, konjungtivitis bakteri umumnya disebabkan oleh H. Influenza, atau S.
pneumoiae, masing- masing menyebabkan sekitar 29% dan 20% dari kasus, dalam studi
prospektif yang dilakukan di Israel. Pasien imunisasi terhadap H. influenzae tidak jelas dalam
penelitian. Konjungtivitis karena H. influenzae menyebar dengan mudah di sekolah dan
rumah tangga. Telah ditunjukkan bahwa terkait dengan bersamaan dengan infeksi sistem
pernapasan atas dan otitis media (konjungtivitis-otitis sindroma): 45% sampai 73% dari
pasien dengan konjungtivitis purulen juga memiliki ipsilateral otitis media [5]. Penyebab
kedua paling umum bakteri konjungtivitis pada anak-anak adalah S. pneumonia. Umumnya
menyebabkan wabah epidemi di antara dewasa muda. Baru saja ditelaah pneumokokkus
strain tanpa enkapsulasi menyebabkan wabah pada 92 orang di Sebuah fasilitas Latihan
militer dan 100 siswa di Universitas Dartmouth[6]. S. pneumonia juga terkait dengan
konjungtivitis-otitis sindroma, terbukti sekitar 23% dari kasus. Diantara bakteri spesies
Moraxella, S. aureus, coagulase negative Staphylococci adalah penyebab bakteri
konjungtivitis yang kurang umum pada anak-anak.
Pada orang dewasa, patogen penyebab tersering pada konjungtivitis bakteri adalah H.
Influenzae dan S. aureus. Konjungtivitis yang disebabkan oleh S. aureus lebih sering rekuren
da berhubungan dengan blefarokonjungtivitis kronis (inflamasi pada palpebra dan
konjungtiva). Pada konjungtiva orang dewasa sehat terdapat koloni S. aureus sekitar 3.8%
hingga 6.3% [10-12]. Selain itu, sekitar 20% pada orang normal terdapat koloni S. aureus
pada saluran nasal, dan pada beberapa saluran-saluran lain; pada kedua kasus, bakteri
merupakan reservoir terjadinya rekurensi infeksi ocular. Organisme lain yang dapat menjadi
penyebab tersering konjungtivitis pada orang dewasa adalah S. pneumoniae, coagulase
negative staphylococci dan Moraxella dan spesies Acitenobacter.
Konjungtivitis didapat dari rumah sakit
Dalam literatur tidak banyak yang dipublikasikan mengenai konjungtivitis didapat dari rumah
sakit. Sebuah studi menunjukkan bahwa pada ruangan NICU, organisme tersering yang
banyak terisolasi pada pasien dengan konjungtivitis adalah coagulase negative staphylococci,
S. aureus, dan spesies Klebsiella. Selain itu telah ditunjukkan pada pasien yang ditemukan
memiliki konjungtivitis yang disebabkan oleh Staphylococcus, tingkat resistensi metisilin
lebih tinggi jika dirawat di rumah sakit lebih dari 2 hari dibandingkan dengan mereka yang
dirawat di rumah sakit kurang dari 2 hari. Ini jelas menunjukkan bahwa bakteri patogen yang
terisolasi dirawat di rumah sakit anak-anak dengan konjungtivitis berbeda dari mereka yang
terisolasi dalam rawat jalan.

Gambaran Klinis Konjungtivitis Bakteri


Sering disebut "mata merah muda," konjungtivitis adalah penyakit mata yang umum,
terutama pada anak-anak. Ini dapat mempengaruhi satu atau kedua mata. Beberapa bentuk
konjungtivitis sangat menular dan dapat dengan mudah menyebar sekolah dan di rumah.
Meskipun konjungtivitis biasanya berupa infeksi mata minor, kadang-kadang dapat
berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Pasien biasanya mengeluh perasaan berpasir di satu atau kedua mata, sensasi gatal atau
terbakar pada satu atau kedua mata, air mata yang keluar berlebihan, sekret dari satu atau
kedua mata, bengkak pada kelopak mata, perubahan warna merah muda pada satu atau kedua
mata, fotofobia dan buram penglihatan. Peradangan pada konjungtiva menyebabkan injeksi
(pelebaran pembuluh darah konjungtiva) dan dalam beberapa kasus menyebabkan kemosis
(edema konjungtiva). Sekret mungkin terlihat di virus, bakteri, atau alergi konjungtivitis.
Sekret bervariasi dari ringan sampai parah di bakteri konjungtivitis, tapi biasanya muncul
purulen dan tetap ada sepanjang hari. Sekresi kelenjar meibom pada canthus medialis yang
terakumulasi selama tidur dan tidak ada sepanjang hari jangan menjadi pembingung terhadap
sekret yang sebenarnya. Klasifikasi tersering konjungtivitis bakteri yang dipakai berdasarkan
gambaran klinis: hiperakut, akut dan kronis.
Konjungtivitis bakteri hiperakut muncul dengan onset injeksi konjungtiva yang cepat, edema
kelopak mata, parah, terus menerus, dan keluarnya cairan purulen, kemosis, dan
ketidaknyamanan atau nyeri. N gonorrhoeae adalah penyebab konjungtivitis hiper akut yang
sering terjadi pada pasien yang aktif secara seksual; pasien biasanya juga menderita infeksi
genital N gonorrhoeae, yang sering tanpa gejala. Konjungtivitis N. gonore juga terjadi pada
neonatus, seperti yang telah dijelaskan di atas. Kornea sering terlibat, dan jika tidak diobati
kasus dapat berkembang dalam beberapa hari menjadi perforasi kornea. Tidak seperti jenis
konjungtivitis kebanyakan lainnya, konjungtivitis gonokokal harus diperlakukan sebagai
penyakit sistemik, dengan terapi antibakteri sistemik dan topikal [3].
Konjungtivitis bakteri akut biasanya muncul secara tiba-tiba dengan mata merah dan drainase
purulen tanpa nyeri mata yang signifikan, ketidaknyamanan, atau fotofobia. Ketajaman visual
tidak khas berkurang kecuali kalau jumlah sekret berlebihan yang dapat mengaburkan
penglihatan beberapa saat.
Konjungtivitis bakteri kronis, yaitu mata merah dengan cairan bernanah bertahan untuk lebih
lama dari beberapa minggu, umumnya disebabkan oleh Chlamydia trachomatis.

Tatalaksana
Terdapat 3 tujuan dalam pengobatan konjungtivitis:
1. Meningkatkan kenyamanan pasien.
2. Mengurangi perjalanan infeksi atau inflamasi.
3. Mencegah penyebaran infeksi konjungtivitis.

Tatalaksana Sistemik untuk infeksi gonococcal dan chlamydia


Tatalaksana terdiri dari pengobatan antibiotik topikal dan oral. N. gonore berhuungan dengan
tingginya resiko terjadi perforasi kornea. Center for Disease Control and Prevention
merekomendasikan tatalaksana konjungtivitis gonokokkal dengan ceftriaxone 1g dosis
tunggal intramuscular ditambah lavage saline topikal pada mata. Dianjurkan agar pasangan
seksual pasien harus dirujuk untuk evaluasi dan perawatan, sebagaimana juga para ibu
neonatus yang terkena dampak dan pasangan seksualnya.
Trakoma disebabkan oleh C. trachomatis subtipe A ataupun C yang dapat menyebabkan
kebutaan, menyerang 40 juta penduduk di dunia yang berada pada daerah dengan higienitas
yang buruk. Tanda dan gejala yang muncul pada kondisi ini yaitu sekret mukopurulen, dan
rasa tidak nyaman pada mata. Komplikasi yang dapat muncul seperti jaringan parut pada
palpebra, konjungtiva dan kornea dan bisa berujung pada hilangnya penglihatan.
Konjungtivitis klamidial juga diobati dengan antibiotik sistemik. Pengobatan dengan
azitromisin (20 mg/kg) dosis tunggal secara oral dapat efektif. Pasien juga diobati dengan
antibiotik topikal selama 6 minggu (eritromisin atau tetrasiklin). Alternatif antibiotik sistemik
lain yang dapat digunakan selain azitromicin yaitu tetrasiklin atau eritromisin untuk 3
minggu. Pada neonatus, pengobatannya sama dengan pneumonia yang diakibatkan karena C.
Trachomatis: eritromisin diberikan oral selama 14 hari. Telah direkomendasikan oleh
beberapa penulis bahwa konjungtivitis H. Influenzae juga harus diobati dengan antibiotik
sistemik, seperti yang sering terjadi terkait dengan otitis media bersamaan.

Antibiotik topikal mempercepat penyembuhan


Beberapa tipe lain dari konjungtivitis biasanya sembuh spontan: studi terkontrol plasebo telah
menunjukkan bahwa lebih banyak dari 70% kasus konjungtivitis bakteri sembuh dalam 8 hari
[21] Namun, pengobatan dengan agen antimikroba menghasilkan lebih cepat penyembuhan
klinis [22] dan mengurangi kesempatan terjadi komplikasi [23] dan dari mentransmisikan
infeksi. Banyak topikal antibiotik efektif untuk mengobati bakteri konjungtivitis (tabel 2),
tetapi tidak ada aturan tegas tentang yang mana yang akan digunakan karena tidak ada
perbedaan signifikan yang ditemukan dalam hasil klinis dengan mikroba yang berbeda.
Faktor-faktor seperti harga, data resistensi antibiotik lokal, dan efek merugikan harus
dijadikan pertimbangan.

Apakah kultur diperlukan?


Kultur tetap menjadi gold standar untuk diagnosis konjungtivitis bakteri. Namun, seperangkat
organisme yang dapat diprediksi untuk sebagian besar kasus konjungtivitis bakteri dalam
pengaturan rawat jalan, jadi sebagian besar dokter memulai terapi empiris tanpa
membiakkannya. Tetapi di rumah sakit pengaturan organisme dan pola resistensi antimikroba
lebih bervariasi, jadi sebelum memulai kultur konjungtiva terapi spektrum luas mungkin
diperlukan[16]. Untuk sebuah rawat jalan dengan mungkin hiper akut konjungtivitis, masuk
akal untuk melakukan pewarnaan Gram jika fasilitas ada, tetapi itu tidak penting karena
rujukan mendesak ke Konsultan ophthalmologist diwajibkan terlepas dari hasilnya untuk
mengesampingkan keterlibatan kornea.
Sayangnya, peningkatan resistensi antibiotik telah didokumentasikan bahkan di antara pasien
rawat jalan. Mengkhawatirkannya adalah dari yang paling umum patogen penyebab pada
okular terhadap antibiotik menurun secara dramatis: S. aureus dan S. pneumonia memiliki
rate yang tinggi terhadap resistensi[26]. Penelitian terbaru menampilkan bahwa pengobatan
dengan topikal antibiotik ophthalmic dapat menyebabkan resistensi bakteri di non okuler
[27]. Suatu penelitian dilakukan di dua desa dari Nepal yang tersebar luas pengobatan
sistemik dengan azitromisin atau tetrasiklin untuk pengendalian endemik trakoma
mengakibatkan peningkatan tingkat resistensi antibiotik S. pneumoniae di nasofaring. S.
aureus menjadi resisten terhadap metisilin dan fluoroquinolon, seperti levofloxacin[28,29].
Diperkirakan sekitar 3% hingga 64% dari infeksi ocular oleh stafilokokus adalah disebabkan
oleh konjungtivitis S. aureus resisten terhadapa metisilin; keadaan ini menjadi lebih umum
dan organisme resisten terhadap lebih banyak antibiotik[30]. Pasien dengan curiga kasus
harus dirujuk kepada seorang dokter mata dan diobati dengan vankomisin[31]. Tapi
fluoroquinolones adalah masih efektif melawan kebanyakan bakteri penyebab konjungtivitis
atau keratitis, dan karena mereka menembus kornea dengan baik, mereka harus digunakan
jika gambaran klinis menyarankan keterlibatan kornea. Harus diingat mayoritas pasien pulih
tanpa pengobatan bahkan jika organisme sudah resisten terhadap antibiotik[24].

Edukasi Pasien
Edukasi pasien adalah salah satu aspek penting dalam mencegah konjungtivitis bakteri,
edukasi pasien didalamnya harus termasuk higiene yang baik (mencuci tangan dan
menggunakan sabun atau alkohol) dan mencegah menyentuh mata, terutama setelah
bersentuhan dengan pasien terinfeksi. Pasien harus dijelaskan untuk mengerti bahwa higiene
yang baik adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah penyebaran konjungtivitis. Pasien
harus disarankan untuk membuang kosmetik mata, terutama maskara dan tidak untuk mata
orang lain kosmetik atau barang perawatan mata pribadi. Pasien dengan konjungtivitis bakteri
yang memakai lensa kontak harus diinstruksikan untuk untuk sementara berhenti
mengenakan lensa mereka. Seorang ophtalmologist dapat memberikan panduan jika ini perlu.
Jika seseorang konjungtivitis mengenakan kontak lensa, dokter mata mungkin sarankan
beralih jenis kontak yang berbeda lensa atau solutio disinfeksi. Seorang ophtalmologist dapat
menyarankan merubah resep lensa kontak ke lensa yang dapat diganti lebih sering. Hal ini
dapat membantu untuk mencegah konjungtivitis dari rekurensi.
Pasien yang menderita konjungtivitis bakteri harus disarankan untuk tidak menyentuh mata
mereka dengan tangan. Untuk mencegah transmisi dari penyakitnya itu sangat penting untuk
mendidik pasien tentang infeksi yang mereka alami dan pentingnya menghabiskan antibiotika
yang diberikan. Pasien juga harus ganti handuk mereka dan mencuci pakaian setiap hari dan
seharusnya tidak berbagi dengan yang lainnya. Pasien harus mengikuti instruksi
ophtalmologist mereka.

Kesimpulan
Edukasi pasien adalah aspek penting dalam mencegah konjungtivitis bakteri. Konjungtivitis
bakteri adalah kondisi menular hingga mata tidak merah dan tidak ada lagi sekret, sehingga
pasien diinstrusikan cara kebersihan yang baik dan mencuci tangan. Sangat penting untuk
anak-anak dan orang dewasa yang dengan konjungtivitis harus jauh dari sekolah, lingkungan
anak-anak atau lingkungan kerja hingga terjadi perbaikan. Sangat penting untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air setelah menyentuh anak-anak, memakai tisu sekali pakai dan
tidak membagi handuk dengan yang lain. Mayoritas kasus akut konjungtivitis bakteri adaah
sembuh sendiri dan akan pulih dalam 10 hari tanpa pengobatan. Pasien harus disarankan
untuk menggunakan kompres dingin dan air mata buatan dua-enam kali sehari sebagai
pendukung terapi untuk konjungtivitis. Pengobatan antibiotik akan menurunkan durasi gejala
dan mempercepat eliminasi berbagai mikroorganisme dari permukaan konjungtiva.