Anda di halaman 1dari 3

AA : “Selamat sore pak.


Pasien : “Sore mbak.”
AA : “Ada yang bisa saya bantu pak?”
Pasien : “Saya mau beli obat yang lebih bagus dari ini, ada tidak mbak?”
Pasien sambil menunjukkan obat yang dibawa, kemudiaan AA melihat obat tersebut, yang
ternyata obat untuk rematik yaitu Piroxicam.
AA : “Apakah bapak sakit rematik?”
Pasien : “Iya mbak, saya terkena rematik sejak 6 bulan yang lalu, setiap kambuh saya
minum obat ini, sembuh, tapi sekarang kok obatnya kurang manjur ya mbak?”
AA : “Apakah bapak sudah periksa ke dokter sebelumnya?”
Pasien : “Belum pernah mbak, saya malas untuk ke dokter, sebelum-sebelumnya saya
konsultasinya di apotek.”
AA : “Oh begitu, apa yang bapak rasakan saat ini?”
Pasien : “Kaki saya linu-linu dan nyeri terutama di bagian ibu jari, 2 hari yang lalu tidak
bisa jalan mbak, kakinya terasa kaku.
AA : “Oohh...” (Sambil menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti) “Apakah
sebelumnya bapak pernah cek kadar asam urat?”
Pasien “Belum pernah mbak, memang kenapa?”
AA “Dilihat dari gejala yang bapak rasakan, bisa jadi kadar asam urat bapak tinggi.
Saya sarankan bapak cek kadar asam urat. Di apotek sini menyediakan cek
kadar asam urat, bagaimana pak?”
Pasien : “Tidak usah mbak, tidak perlu dicek, saya mau beli obat yang lebih bagus dari
ini saja mbak.”
Pasien sambil melihatkan obat yang dibawanya.
AA : “Sebentar pak saya panggilkan apoteker dulu, beliau yang lebih paham agar bisa
dijelaskan lebih lengkapnya.”
Pasien : “Baik mbak.”
AA menemui apoteker dan menceritakan permasalahan pasien. Kemudian apoteker
mendatangi pasien.
Apoteker : “Selamat sore bapak. Perkenalkan nama saya Syasya, apoteker yang bertugas di
apotek Harapan Kita, bagaimana pak ada yang bisa saya bantu?”
Pasien : “Begini mbak, saya punya sakit rematik, bila kambuh saya sudah terbiasa
minum obat ini, rematik saya sembuh, tapi sekarang kok obatnya tidak manjur
ya?”

Pasien sambil menyerahkan contoh obat yang dibawanya ke apoteker.


Apoteker : “Oh ini pak, iya benar ini obat rematik, kalau boleh tahu yang bapak rasakan
apa?”
Pasien : “Awalnya bahu, leher dan pinggang saya terasa nyeri mbak, pegel-pegel juga.
Akhir-akhir ini kurang lebih 3 hari yang lalu kaki saya linu, nyeri dan terasa
kaku terutama di ibu jari kaki, 2 hari yang lalu sempet tidak bisa jalan, sampai
saya tidak masuk kerja.”
Apoteker : “Oh begitu ya pak, apakah kaki bapak bengkak?”
Pasien : “Tidak mbak, hanya terasa kaku saja.”
Apoteker : “Ehm…maaf kalau boleh tahu akhir-akhir ini bapak sering mengkonsumsi
makanan apa?”
Pasien : “Saya sering makan jeroan dan suka nyemil emping mbak, itu makanan favorit
saya.”
Apoteker : “Ooohh… Dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan keluhan yang bapak
ceritakan, kemungkinan kadar asam urat bapak tinggi. Bapak tidak akan
mengetahui rasa nyeri yang dirasakan karena asam urat atau rematik jika tidak
dilakukan pemeriksaan kadar asam urat, saya sarankan bapak cek kadar asam
urat saja, bagaimana pak?”
Pasien : “Oooh gitu ya…ya sudah dicek saja mbak agar lebih jelas.”
Apoteker : “Baik pak…tunggu sebentar ya pak, biar dicek sama Asisten saya.”
Pasien “Ya mbak.”
Apoteker “Mbak Sari tolong ya, bapak ini dicek kadar asam uratnya.”
AA : “Baik bu”
AA mempersiapkan alat untuk mengecek kadar asam urat pasien.
AA : “Boleh saya mulai ngeceknya pak?”
“Saya ambil darahnya ya, di ujung jari tangan.”
“Bapak yang rileks, supaya darahnya mudah diambil. (Dilakukan proses
pengecekan kadar asam urat)
“Ini sudah pak, ditunggu sebentar untuk mengetahui hasilnya.”
AA menyerahkan hasil pengecekan asam urat ke apoteker. Kemudian apoteker melihat hasil
pengecekan kadar asam urat dan menjelaskan ke pasien.
Apoteker : “Ini hasilnya kadar asam urat bapak tinggi, yaitu 9 mg/dL, sedangkan nilai
normal untuk asam urat 3-7 mg/dL. Dari hasil ini bapak jelas mengalami asam
urat.”
Pasien “Oh begitu ya mbak, kira-kira penyebabnya apa ya mbak?”
Apoteker “Salah satu penyebabnya yaitu dari makanan yang biasa bapak konsumsi, yaitu
jeroan dan emping.”
Pasien “Ooo…”
“Jadi, obat apa yang harus saya minum mbak? Supaya kakinya tidak nyeri, linu-
linu dan kaku?”
Apoteker : “Akan saya kasih obat untuk menurunkan kadar asam urat dan untuk
menghilangkan rasa nyeri pada sendi bapak. Maaf apakah bapak punya riwayat
penyakit lain?”
Pasien : “Alhamdulillah tidak mbak.”
Apoteker : “Baiklah pak, tunggu sebentar saya siapkan dulu obatnya.”
Apoteker menyuruh AA untuk menyiapkan obat Alofar tablet 100 mg sebanyak 1 blister isi 10
tablet dan Voltadex tablet 50 mg 2 blister isi 20 tablet beserta etiket cara penggunaanya. Tak
lama kemudian apoteker kembali sambil membawakan obat-obat tersebut.
Apoteker : “Bapak ini obatnya, ini Alofar untuk menurunkan kadar asam uratnya, diminum
1x sehari tiap pagi sesudah makan. Ini Voltadex untuk menghilangkan rasa
nyeri pada sendi, diminum 2x sehari sesudah makan, obat yang ini (Voltadex)
diminum saat bapak mengalami nyeri dan linu-linu saja ya.”
Pasien : “Iya mbak, obat yang ini kira-kira diminumnya pagi jam berapa?”
(Pasien sambil melihatkan obat Alofar ke apoteker)
Apoteker : “Bapak kalau sarapan biasanya jam berapa?”
Pasien : “Ehm biasanya sekitar jam 6.30 pagi sebelum saya berangkat kerja mbak.”
Apoteker : “Gini saja, bapak sebaiknya minum obat ini setiap jam 7 pagi setelah sarapan.”
Pasien : “Oh iya, baik…baik…mbak.”
“Ehmm…kalau yang ini diminum 2x sehari tepatnya jam berapa ya mbak?”
Pasien sambil melihatkan obat Voltadex ke apoteker.
Apoteker : “Agar bapak mudah mengingat, sama seperti Alofar, Voltadex diminum pagi
jam 7 setelah sarapan dan diminum jam 7 malam setelah makan, bapak jangan
lupa ya. Obat yang ini diminum bila bapak mengalami nyeri saja, jadi jika bapak
sudah tidak merasakan nyeri obat ini dihentikan saja. Bapak ini obatnya saya
beri untuk 10 hari ya, setelah 10 hari bapak bisa ke apotek lagi untuk kontrol
kadar asam uratnya.”
Pasien : “Oh begitu, baik mbak. Kira-kira ada pantangan makanan tidak mbak?”
Apoteker : “Ada pak, sebaiknya bapak mengurangi makanan favorit bapak tadi yaitu
jeroan, emping, kurangi juga makan udang, melinjo, kacang-kacangaan,
kangkung, bayam. Perbanyak makan buah-buahan yang mengandung vitamin C
seperti jeruk dan pepaya. Oh iya pak, jangan lupa minum air putih yang cukup,
kurang lebih 8 gelas tiap hari.”
Pasien : “Oh begitu iya mbak, insyaallah akan saya jalani.”
Apoteker : “Bagimana bapak sudah mengerti apa yang saya jelaskan barusan? Mengenai
aturan pemakaian obat dan makanan yang perlu dihindari?”
Pasien : “Iya mbak saya mengerti.”
Apoteker : “Bisa tolong diulangi apa yang saya katakana tadi pak?”
Pasien “Ini Alofar diminum tiap jam 7 pagi setelah sarapan dan yang ini Voltadex
diminum tiap jam 7 pagi dan 7 malam setelah makan, bila nyeri saja.”
Apoteker : “Iya benar pak.”
“Untuk makanan yang perlu dihindari tolong benar-benar diperhatikan ya pak.”
Pasien : “Iya mbak, saya mengerti. Jadi, berapa yang harus saya bayar mbak?”
Apoteker : “Total biaya untuk obat + cek asam urat Rp 26.000 pak.”
Kemudian terjadi transaksi pembelian obat antar apoteker dan pasien tersebut.
Apoteker : “Ini pak obat dan kembaliannya, ada yang ingin ditanyakan lagi?”
Pasien : “Saya rasa cukup mbak.”
Apoteker : “Baik pak, terima kasih atas kunjungannya di Apotek Harapan Kita dan semoga
lekas sembuh.”
Pasien : “Iya mbak, terimakasih juga atas informasi yang diberikan.”
Apoteker : “Sama-sama pak.”
Keduanya saling tersenyum dan pasien tersebut berjalan meninggalkan apotek untuk pulang
menuju rumahnya.